Apa itu Ilmu Laduni?
Sebagian orang mungkin belum pernah mendengar istilah Ilmu Laduni. Sementara sebagian lagi yang sudah pernah mendengarnya mungkin berpikir bahwa Ilmu Laduni tidak benar-benar ada.
Secara kasar, Ilmu Laduni adalah ilmu yang mempunyai manfaat menjadikan seseorang mendapatkan ilmu atau pengetahuan tanpa proses belajar. Pengertian tersebut seakan mustahil dan sulit di percaya. Inilah karunia Tuhan dalam berbagai bukti atas kekuasaan-Nya dengan menciptakan berbagai ilmu. Pastinya tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan meridhai.

Kata laduni (Ladunni), berasal dari bahasa Arab, akar kata dari Ladun/ Laday, yang berarti dekat/ pangkuan.
Banyak Ulama dan Sufi memberikan pengertian mengenai Ilmu Laduni, pengertiannya berbeda-beda namun, memiliki hakikat makna yang sama.
Beberpa pengertian ilmu laduni yang dimaksud adalah:

Menurut Abdul Qadir Al-Jaelani dan Al-Jilli memberikan pengertian ilmu laduni sebagai ilmu rohani dan pengetahuan hikmah (kebijakan) yang diperoleh melalui perbuatan kontinyu, dalam waktu lama dalam hal kebaikan dan ke-shalehan amal ibadah.

Pengertian Ilmu Laduni menurut imam Al-Ghazali adalah ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa proses belajar terlebih dahulu dan tanpa proses metode ilmiah. Menurutnya lahirnya ilmu laduni, melalui Kasyf atau ilham.

Ibn Arabi menjelaskan pengertian ilmu laduni dalam kitab Futuhat al-Makiyah, yaitu ilmu yang terpancar ke dalam hati manusia, tanpa di usahakan dan tanpa menggunakan argumentasi Aqliyah (argumentasi pikiran).
Pengertian ilmu laduni Ibnu Arabi, setidaknya memiliki kemiripan dengan pengertian ilmu Laduni menurut versi imam al-Ghazali, namun sifatnya lebih mendasar. Jika tak menggunakan argumentasi Aqliyah, bagaimana mungkin melahirkan proses pembelajaran.

Al-Qusyairi dan Al-Harawi memberikan pengertian Ilmu Laduni sebagai sesuatu yang diterima seseorang dengan jalan ekstase dan Kasyaf (ketersingkapan).
Dalam kitab karangan al-Harawi, Manazil As Sairin, disebutkan bahwa Ilmu Laduni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah Swt ke dalam hati tanpa sebab yang dilakukan seseorang hamba tanpa menggunakan dalil-dalil. Sebab yang dimaksud adalah sebab yang disengaja, atau usaha untuk mendapatkan ilmu Laduni.

Menurut Abu Hamzah As-Sanuwi, ilmu Laduni terbagi menjadi dua. Pertama, ilmu yang didapat tanpa proses belajar, biasa di istilahkan dengan ilmu Wahbiy. Kedua, ilmu yang didapat karena proses belajar, dan biasa di istilahkan dengan ilmu Kasbiy.

Adapun ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, yaitu ilmu Syari’at, dan ilmu Makrifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan Kasyaf.
Kasyaf inilah yang dikenal dengan julukan “ilmu Laduni” di kalangan ahli tasawwuf.

Sedangkan ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, adalah usaha mendapatkan pengetahuan seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, dan seterusnya.
Pengertian ilmu Laduni menurut penulis, berdasarkan pengertian ilmu Laduni tersebut, ilmu yang bersumber langsung dari Tuhan, di berikan pada manusia, melalui ilham dan tanpa perantara, dan didapatkan tanpa usaha yang disengaja total untuk mendapatkan ilmu tersebut.

Ilmu Laduni bukanlah jalan pintas bagi mereka yang ingin mendapatkan suatu pengetahuan secara instan. Justru sebaliknya, Ilmu Laduni diperuntukkan bagi mereka yang gemar mempelajari hal baru dan memaksimalkan apa yang telah dipelajarinya. Sebab pemilik Ilmu Laduni memiliki kreativitas dan kemampuan yang tinggi dalam mempelajari suatu hal secara cepat dan menghubungkan pikirannya dengan pengetahuan yang maha luas meski lewat proses pembelajaran yang sangat minim sekalipun. Artinya bagi siapapun Anda yang ingin memiliki Ilmu Laduni maka siap melakukan sebuah Riyadhah dan usaha secara spiritual dengan mengamalkan ajaran ilmu yang disampaikan guru pada Anda. Selain hal demikian Anda harus menata hati dan jiwa untuk bisa mencapai ikhlas dan tawakkal, pasrah apapun hasil yang di capai atau di peroleh setelah belajar menguasai Ilmu Laduni ini.

Jadi, orang yang dikaruniakan ilmu laduni atau ilmu ilham ini adalah orang yang mendapat khazanah dari lautan ilmu yang berasal langsung dari Allah Swt. Ada macam-macam ilmu dan setiap sesuatu ilmu itu mempunyai banyak pengertian dan tafsirannya. Jadi Allah Swt memberi pengertian dan tafsiran satu-satu ayat sesuai pada seseorang itu untuk menyelesaikan masalah di zamannya atau keperluan seseorang itu. Perkara itu pula kebanyakannya bukan pengertian mengenai hukum-hukum karena permasalahan itu sudah tetap dan tidak berubah untuk setiap zaman kecuali perkara Khilafiah.
Sebaliknya ilmu laduni ini kebanyakannya mengenai penguraian, falsafah, didikan, hal waktu, metode, dan kaedah saja. Perkara-perkara ini boleh berubah.

Jika ilmu wahyu disampaikan kepada rasul atau nabi, ilmu laduni atau ilmu ilham pula Allah Swt karuniakan kepada para wali dan orang-orang sholeh. Ilmu wahyu adalah syari’at baru yang menghapus syariat yang di amalkan sebelumnya manakala ilmu laduni akan membawa tafsiran atau makna baru kepada ilmu wahyu itu, sesuai untuk zamannya atau orangnya. Ilmu wahyu tidak dilupakan tetapi ilmu laduni atau ilham mudah dilupakan oleh orang yang menerimanya. Kalau yang menerima ilmu wahyu itu adalah rasul maka wajib ia sampaikan tetapi kalau dia seorang nabi, maka tidak wajib menyampaikannya. Sedangkan ilmu laduni baik disampaikan karena ia akan dapat menyelesaikan masalah-masalah semasa yang sedang dihadapi oleh masyarakat, sesuai untuk zamannya. Atau untuk mengetahui hikmah atau pengajaran sesuatu hukum itu.

Jika ilmu wahyu ditolak, maka seseorang itu akan jatuh murtad atau kafir dan di Akhirat akan terjun ke Neraka serta kekal selama-lamanya. Sebaliknya jika menolak ilmu laduni atau ilmu ilham, maka tidak menjadi kafir tetapi akan menghilangkan barokah dan tertutupnya pintu bantuan dari Allah Swt. Mungkin ada orang yang akan menolak pendapat ini tentang ilmu laduni ini dan payah untuk menerimanya terutama:

1. Orang yang tidak percaya adanya ilmu laduni atau ilham di dalam Islam.

2. Seseorang yang tidak memiliki ilmu ini dan tidak ada pengalaman mengenainya, sekalipun dia mempercayainya.

3. Seseorang yang tahu mengenai ilmu ini tetapi karena sifat hasad dengki, dia tidak senang dengan orang yang mendapat ilmu ini, maka dia pun menolaknya, sedangkan hatinya membenarkan.

Apa bukti ilmu laduni atau ilmu ilham ini wujud?
Buktinya, adalah berdasarkan  hujah berikut:

PERTAMA: Hujah Naqli (Nas)
1. Hujjah Al Qur’an

Dalam Al Qur’an ada dalil yang kuat sebagai bukti kewujudan ilmu ini.

“Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan ajar kamu.” (Al Baqarah: 282)

Dalam ayat ini sangat jelas Allah Swt mengatakan tentang orang-orang bertaqwa yang bersih dari sifat-sifat Mazmumah, Allah Swt akan beri ilmu secara Wahbiah, tanpa usaha ikhtiar, tanpa belajar, atau tanpa berguru.

2. Hujjah Hadis

Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang beramal dengan ilmu yang dia ketahui, maka Allah Swt akan berikan kepadanya ilmu yang dia tidak ketahui.” (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim)

Inilah buktinya. Artinya ilmu yang telah ada itu akan bertambah bila diamalkan. Yakni ia akan dapat ilmu baru dari hasil dipraktekkan ilmu itu. Proses ini juga berlaku secara Wahbiah.

Inilah yang dikatakan ilmu laduni atau ilmu ilham yang Allah Swt berikan melalui tiga cara:

i. Ilmu itu langsug Allah Swt jatuhkan ke dalam hati.

ii. Adakalanya Allah Swt perlihatkan ilmu itu yang boleh dilihat seolah-olah kita seperti menonton layar TV. Sedangkan orang lain yang ada bersamanya ketika itu sama sekali tidak dapat melihatnya.

iii. Atau mungkin mendengar suara yang membisikkan ke telinganya tetapi tidak nampak rupa makhluknya. Inilah yang dikatakan Hatif. Mungkin suara ini suara malaikat, jin yang sholeh, atau wali-wali Allah Swt.

KEDUA: Bukti Sejarah

Banyak kitab dahulu menceritakan bagaimana pengalaman salafussoleh, ulama-ulama besar dan pengarang-pengarang kitab sendiri yang mendapat ilmu-ilmu laduni ini. Ada kitab-kitab karangan ulama Muktabar yang menunjukkan pengarangnya mendapat ilmu laduni.
Di antara ulama yang memperoleh ilmu laduni atau ilmu ilham ini di samping ilmu melalui usaha ikhtiar ialah imam-imam mazhab yang empat, ulama-ulama Hadist seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, ulama-ulama tasawuf seperti Imam Al Ghazali, Imam Nawawi, Imam Sayuti, Syeikh Abdul Qadir Jailani, Junaid Al Baghdadi, Hassan Al Basri, Yazid Bustami, Ibnu Arabi, dan lain-lain lagi.

1. Imam Al Ghazali
Umurnya pendek saja yaitu sekitar 54 tahun. Beliau mulai mengarang setelah bersuluk di kubah Masjid Umawi di Syam (Syria). Umurnya waktu itu sekitar 40 tahun. Artinya dalam hidupnya dia mengarang sekitar 14 tahun. Dalam waktu yang pendek ini dia sempat mengarang sebanyak 300 buah kitab yang tebal-tebal, yang bermacam-macam jenis ilmu pengetahuan termasuklah kitab yang paling masyhur yaitu Ihya Ulumuddin, kitab tasawuf (dua jilid yang tebal-tebal) dan Al Mustasyfa (ilmu Ushul Fiqh yang agak susah difahami).

Coba anda fikirkan, bisakah manusia biasa seperti kita ini menulis sebanyak itu. Walau bagaimana genius sekalipun otak seseorang itu, tidak mungkin dalam masa 14 tahun bisa menghasilkan 300 buah kitab-kitab yang tebal, jika bukan karena dia dibantu dengan ilmu laduni yakni ilmu tanpa berfikir, yang terus jatuh ke hati dan lalu ditulis.
Dalam pengalaman kita kalau ilmu hasil berfikir dan mengkaji, sebagaimana profesor-profesor sekarang, dalam masa empat tahun saja baru dapat membuat satu tesis di dalam sebuah buku. Kalau satu buku mengambil masa empat tahun, artinya kalau 14 tahun baru dapat tiga buah buku. Terlalu jauh bedanya dengan Imam Ghazali yang mencapai 300 buah buku itu.

2. Imam Sayuti
Umurnya juga pendek, hanya 53 tahun. Beliau mulai mengarang sewaktu berumur 40 tahun dan dapat menghasilkan 600 buah kitab. Dalam kurun waktu hanya 13 tahun saja beliau dapat menghasilkan begitu banyak kitab. Artinya dia dapat menyiapkan sebuah kitab setiap dua minggu. Kitabnya itu pula tebal-tebal dan tinggi gaya bahasannya dalam bermacam-macam jenis ilmu.
Diantara kitabnya yang terkenal antara lain: Al Itqan fi Ulumil Quran, Al Hawi lil Fatawa (dua jilid), Al Jamius Soghir (mengandung matan-matan Hadis), Al Ashbah wan Nadzoir, Tafsir Jalalain, Al Iklil, dan lain-lain.
jika beliau menulis atas dasar membaca atau berfikir semata-mata, tentulah tidak mungkin dalam kurun waktu 13 tahun dapat menuliskan 600 kitab atau tidak mungkin dalam masa hanya dua minggu dapat tulis sebuah kitab. Inilah ilmu laduni. Tidak heranlah hal ini bisa berlaku karena dalam kitab Al Tabaqatul Kubra karangan Imam Sya’rani ada yang menceritakan bahwa Imam Sayuti bisa Yakazah dengan Rasulullah Saw sebanyak 75 kali dan dia sempat bertanya tentang keilmuan dengan Rasulullah Saw.

3. Imam Nawawi
Beliau adalah antara ulama yang meninggal sewaktu berusia muda, yaitu 30 tahun. Beliau tidak sempat menikah tetapi telah banyak menghasilkan kitab-kitab karangannya.
Di antara yang terkenal ialah Al Majmuk yakni kitab Fekah. Kalau ditimbang beratnya, kitab itu kurang lebih sekitar 3 Kg, yakni kitab Fekah yang sangat tebal.
Selain itu ada juga kitab Riyadhus Solihin, Al Azkar, dan lain-lain.
Untuk mengarang kitab Al Majmuk saja jika mengikuti kaedah biasa yakni atas dasar kekuatan otak, maka tidak mungkin dapat disiapkan dalam kurun waktu dua atau tiga tahun. Mungkin bisa memakan waktu 10 tahun. Ini berarti dia mulai mengarang ketika berumur 20 tahun.
Biasanya di umur ini orang masih belajar lagi. Tetapi di usia semuda itu Imam Nawawi sudah mampu mengarang bukan saja Al Majmuk, tetapi juga turut mengarang kitab-kitab besar yang lain. Ini luar biasa!
Biasanya seseorang menjadi pengarang kitab ketika telah mencapai di penghujung usianya. Ini membuktikan selain dari cara belajar, ada ilmu yang Allah Swt berikan tanpa proses belajar, tanpa usaha ikhtiar, dan tanpa berguru. Itulah dia ilmu laduni atau ilmu ilham.

Sesudah kita mengkaji kemampuan ulama-ulama dahulu, kita lihat pula ulama-ulama sekarang ini dan coba kita bandingkan. Berapa banyakkah buku-buku atau kitab yang telah ditulis oleh mereka, sekalipun mereka ada yang bertitel PhD?
Oleh karena itu, jika ulama-ulama dahulu mampu menulis kitab-kitab yang banyak dan tebal-tebal dalam masa yang relatif singkat, tentulah hanya bantuan dari Allah Swt yang luar biasa melalui ilmu laduni atau ilmu ilham yang bersifat Wahbi disamping ilmu Kasbinya.
Jelaslah sekarang ini sudah tidak ada lagi ulama yang bisa ilmu laduni. Ini karena kita semua sudah terjerat dengan kecintaan terhadap dunia dan berkarat dengan sifat Madzmumah. Lihatlah zaman sekarang ini, susah untuk kita dapati ulama yang mengarang buku atau kitab. Mereka tidak mampu mengarang karena kekeringan pikiran, sibuk dengan urusan duniawi, disamping perlu menggunakan otak, berfikir, membaca, banyak menelaah dan banyak referensi yang tentunya memakan waktu yang lama. Mereka tidak mendapati pula ilmu melalui saluran ilham. Maka inilah rahasia kenapa ulama sekarang tidak menulis atau kurang menulis.

FIRASAT
Firasat
ialah perasaan atau gerakan hati yang benar atau tepat karena mendapat pimpinan dari Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw:
“Takutlah olehmu firasat orang mukmin karena ia memandang dengan cahaya Allah Swt.” (Hadist Riwayat At Tarmizi)

Jika hati kotor, maka syaitanlah yang mengisinya yakni buruk sangka, keraguan, dan lain-lain lagi.

Apa itu kasyaf ?
Kasyaf artinya  ’singkap’ yakni tabir-tabir yang menjadi penghalang atau yang jadi Hijab pada mata bathin untuk melihat alam ghaib atau rohaniah itu sendiri, Allah Swt singkapkan. Allah Swt buka dan perlihatkan.
Tabir-tabir penghalang itu adalah sifat-sifat Madzmumah. Apabila tabir-tabir Madzmumah itu sudah terangkat, maka hatinya akan menjadi jernih dan terang-benderang, putih bersih laksana mutiara dan embun pagi. Sehingga mata akan mampu melihat makhluk-makhluk Allah Swt yang berlalu lalang di alam yang bukan alam benda atau material (alam ghaib) seperti melihat alam jin, malakut, dan alam barzakh. Juga dapat melihat sifat bathin manusia yakni jika seseorang itu berperangai seperti kuda, maka rupa orang itu memiliki rupa seperti kuda. Jika berperangai anjing, orang itu memiliki rupa seperti anjing. Allah Swt perlihatkan hakikat orang itu.

pembagian ilmu-ilmu dari Allah Swt di dalam islam dibagi menjadi 2 bagian, yakni:
Bagian pertama :

Bagian pertama ini, terbagi menjadi dua macam:

1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah Swt yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (Wahyu Tasyri’), baik yang langsung dari Allah Swt maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril A.s. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam A.s hingga nabi kita Muhammad Saw adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa A.s dari Nabi Khidir A.s .

Allah Swt berfirman tentang Khidir A.s:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا“

“Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidir A.s berkata kepada Nabi Musa A.s:
“Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya.
Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”

Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan di amalkan oleh setiap Mukallaf sampai datang ajal kematiannya.

2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan Kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau Ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan shalih.

Ilmu Kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu Laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

Bagian Kedua :
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah Swt yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan Kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir, dan lain sebagainya.

Dari ketiga ilmu ini (Syari’at, Ma’rifat, dan Kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru.
Ilmu Kasyf dan ilmu Kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam. [1]

Bagaimana Ilmu Laduni menurut orang-orang sufi ?

Ilmu Laduni menurut Sufi adalah sebagai berikut :

1/ “Ilmu Laduni” atau Kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah Swt kepada para wali sufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits, tidak bisa mendapatkannya.

2/ “Ilmu laduni” atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (Syari’at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidir A.s dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa A.s ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidir A.s adalah ilmu Kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan:
“Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany.”

3/ Ilmu syari’at (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan Hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Swt. Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode Kasyf, langsung didikte, dan diajari langsung oleh Allah Swt, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.

Untuk menafsirkan sebuah ayat atau untuk mengatakan derajat suatu hadits tidak perlu melalui metode Isnad (riwayat), namun cukup dengan Kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka ”Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku.” Atau ”Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun.”

Sehingga, akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, di shahihkan oleh ahli Kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli Kasyf (tasawwuf).

Ilmu Laduni yang juga disebut dengan Ilmu Mukasyafah adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang dari Allah Swt. Dengan demikian Ilmu Laduni bukanlah hasil mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara wajar, namun merupakan ilham yang diletakkan ke dalam jiwa orang mukmin yang bersih hatinya serta pilihan Allah Swt. Karena kemampuan untuk menangkap dan memahami suatu perkara hanya dapat dimiliki dengan hati yang bersih dan ikhlas serta ilmu yang ‘arif, sebab hati yang bersih serta ikhlas dapat berkomunikasi dengan sumber ilmu, yaitu Allah Yang Maha Pemilik Ilmu.

Secara umum Ilmu Laduni dibagi menjadi dua, yakni Ilmu Wahbiy dan Ilmu Kasbiy.
Ilmu Wahbiy adalah ilmu yang diperoleh tanpa proses belajar. Tergolong dalam ilmu ini adalah Ilmu Syariat dan Ilmu Makrifat (hakikat).
Ilmu Syariat adalah ilmu tentang perintah dan larangan Allah Swt yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu, baik secara langsung dari Allah Swt maupun melalui Malaikat Jibril A.s sebagai perantara.
Sedangkan Ilmu Makrifat adalah ilmu tentang segala sesuatu yang gaib melalui terbukanya tabir gaib atau melalui mimpi yang diberikan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Ilmu Makrifat dapat pula diartikan sebagai pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, suatu pengetahuan yang lebih tinggi dari ilmu yang bisa didapat orang-orang pada umumnya.
Sementara Ilmu Kasbiy adalah ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berpikir, sekolah, dan lain sebagainya.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa Ilmu Laduni bukanlah semata-mata mendapatkan suatu keahlian tanpa pernah mempelajari keahlian tersebut sama sekali, melainkan kemudahan dan kelancaran dalam mempelajari sesuatu yang ingin kita pahami dan kuasai. Walaupun terkadang juga bisa mendapatkan ilmu yang tanpa proses belajar ilmu apapun.

Dengan memiliki Ilmu Laduni, orang akan secara otomatis memiliki kemampuan dalam memudahkan proses belajar dan menerima pengetahuan dengan mata bathinnya. Sehingga pemilik Ilmu Laduni mempunyai pemahaman tinggi untuk menangkap kejadian yang sedang atau akan terjadi serta memudahkan mendapatkan sebuah ilham atau petunjuk langsung dari Allah Swt.
Maka tidak salah jika banyak orang menganggap manfaat lain Ilmu Laduni adalah agar manusia dapat menjaga dan mempersiapkan diri dari segala kemungkinan yang mungkin terjadi, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan di sekitarnya. serta sebagai ilmu pembuka berkah dan pembuka mata bathin secara khusus dan istimewa.

Sementara jika kita lihat dari sisi kejiwaan, akan muncul perasaan damai, senang, cinta dan bahagia dalam hati seorang pengamal Ilmu Laduni. Bisa berfikir dan bersikap bijaksana dan berhikmah layaknya guru ilmu hikmah. Selain itu dengan  meningkatnya kesadaran dan terbukanya mata bathin Anda, terwujudnya rasa damai, Ilmu Laduni juga bermanfaat untuk mengembangkan keistimewaan jiwa/ hati Anda yang menjadi pusat anugerah Allah Swt yang sangat luas. Bahkan jika di amalkan dengan kesadaran  yang benar, bukan tidak mungkin seorang pengamal Ilmu Laduni akan memiliki kemampuan telepati untuk melihat dari jarak jauh tanpa perantara apapun serta kemampuan mata bathin yang tinggi untuk membantu manusia lainnya.

Maka berbanding lurus dengan semakin tajamnya kemampuan kejiwaan dan mata batin seseorang, aktivasi Ilmu Laduni juga akan meningkatkan kualitas iman orang tersebut. Insya Allah, ia akan terhindar dari dosa besar, terbebas dari hawa nafsu yang menjerumuskan diri dan semakin baik pula akhlaqnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini semata-mata dikarenakan orang tersebut telah memiliki pemahaman yang benar akan ketentuan-ketentuan dan aturan agama yang dianutnya serta kesadaran dengan lapang jiwa berkah Ilmu Laduni ini.

Sekilas kisah pemilik Ilmu Laduni
Kami sampaikan beberapa kisah tentang orang-orang istimewa yang memiliki Ilmu laduni. Sejak zaman Rasulullah Saw sampai sekarang, Ada banyak orang yang tercatat memiliki Ilmu Laduni semasa hidupnya. Jika Anda tertarik untuk mengamalkan Amalan Ilmu Laduni, maka alangkah baiknya Anda membaca beberapa kisah-kisah mereka yang telah memiliki Ilmu Laduni sebelum Anda. Di antaranya yang kami sampaikan adalah berikut ini:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a.
    Tahukah Anda bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a menangis dan berduka ketika mendengar bahwa Islam telah disempurnakan?
    Kedukaan ini dirasakan Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a sebab dialah yang pertama kali menyadari bahwa sempurnanya Islam berarti telah dekatnya masa perpisahan umat muslim dengan Rasulullah Saw.
    Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a dianggap dapat melihat masa depan karena sejak jauh-jauh hari telah memahami perihal kembalinya Nabi Muhammad Saw di hadapan Allah Swt.
    Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a juga secara tepat menyebutkan jenis kelamin anak perempuannya yang masih berada dalam kandungan.
    Bukan hanya itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq R.a juga dikenal sebagai ahli tafsir mimpi. Salah satunya adalah mimpi Aisyah tentang tiga bulan sabit, mewakili tiga orang terbaik di muka bumi yang akan dikebumikan di kediamannya.
  • Umar bin Khattab R.a.
    Pernah suatu ketika, Umar bin Khattab R.a melihat pertempuran yang terjadi di daerah Nahawand, Teluk Persia. Padahal ketika itu Umar bin Khattab R.a tengah berada di Madinah yang jauhnya ribuan kilometer dari medan perang tersebut.
    Umar bin Khattab R.a juga pernah memperingatkan seseorang yang baru saja dikenalnya tentang musibah kebakaran yang menimpa keluarga orang itu. Peringatan tersebut ternyata benar adanya.
  • Abdullah bin Abbas R.a.
    Sepupu Nabi Muhammad Saw ini dikenal memiliki Ilmu Laduni atas kemampuannya melihat Malaikat Jibril A.s dalam dua kesempatan, sementara orang lain yang saat itu juga sedang bersama Rasulullah tidak bisa melihatnya.
  • Abdullah bin Mas’ud R.a.
    Ilmu Laduni yang dimiliki Abdullah bin Mas’ud muncul dalam wujud keteguhan, keberanian dan kemauan sekeras baja. Hal ini terbukti diantaranya ketika ia dengan lantang membaca Al Qur’an di tengah lingkungan orang-orang kafir Quraisy dan di tangannya pulalah Abu Jahal tewas dalam Perang Badar.
  • Syekh Abdul Qadir Jailani R.a.
    Syekh Abdul Qadir Jailani pernah bertemu sejumlah ulama Irak yang semuanya melontarkan berbagai pertanyaan dan persoalan secara bersamaan. Kemudian terpancarlah cahaya dari dadanya dan seketika itu dijawabnya seluruh pertanyaan tadi. Ulama-ulama Irak tersebut merasa heran atas kehebatan ilmu yang beliau miliki. Dari sinilah Syekh Abdul Qadir Jailani dipercaya memiliki Ilmu Laduni.

Mengingat berbagai manfaat dan keistimewaan Ilmu Laduni bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja kita dapatkan tanpa usaha, maka sudah sewajarnya jika Anda ingin memiliki Ilmu Laduni, alangkah bijaksana jika Anda mengamalkan Riyadhoh amalan keilmuan Ilmu Laduni dengan belajar dan dengan bimbingan oleh seorang Guru / Ustadz untuk membimbing.
Saran kami, apapun yang Anda dapatkan hasil manfaat setelah mengamalkan Amalan Ilmu Laduni adalah murni pemberian atau anugerah yang langsung dari Allah Swt, Anda tidak boleh menyombongkan diri dan Takabbur serta Kufur nikmat. Namun justru harus rendah hati, penyayang, bijaksana, peduli, dan mau membantu sesama dengan segala manfaatnya. Dan belajar untuk memiliki hati yang suci dan bersih serta pikiran yang tertata dengan benar.

Makna dan keadaan Hal
Secara sederhana perumpamaannya adalah sebagaimana keadaan seorang pemuda menyatakan cinta kepada kekasihnya. “Aku cinta padamu.”
Pernyataan ini akan menimbulkan getaran dan sensasi luar biasa bagi pemuda tersebut. Dan bagi gadis yang mendengarnya pun akan mampu menangkap getaran dalam nada suara dan bahasa tubuh pemuda tersebut.
Bagaimanakah hal keadaan (suasana) dalam dada pemuda tersebut saat menyatakan cintanya ?
Inilah perumpamaannya. Inilah yang di kaji dan diungkap, di rahsakan agar hati mampu menerima keadaan hal sebagaimana makna ayat, itulah hikmah yang luar biasa.  Bagaimanakah (suasana keadaan hal) dada orang beriman dan dada orang kafir ?.

Lebih mudahnya lagi saya ilustrasikan. Ketika kita sudah memiliki referensi akan buah jeruk, disebabkan kita pernah, melihat, memegang, mencium, dan memakannya, mengerti rahsanya, maka saat kita mengatakan “JERUK”.
Instrumen ketubuhan kita menerima kata tersebut dengan rileks saja. Jiwa dan raga pernah merasakan sensasi rahsa buah jeruk, akal, dan indera juga sudah menyaksikan secara benar. Maka jeruk kemudian menjadi realitas. Menjadi mudah saja kita untuk memahami dan mengenali sensasi ketika di sebutkan ‘JERUK’.

Maka ketika kita mengatakan. “Aku suka jeruk.” Semua instrument ketubuhan kita bekerja sinergis menerima, tidak ada penentangan apapun baik dari akal, indea, jiwa, ataupun raga kita. Kita akan mengenali sensasi (suasana) rahsanya. Semua difahamkan dan mengerti. Kita akan dalam keyakinan yang bulat saat mengatakan kalimat tersebut. Karena jiwa dan raga serta seluruh instrument ketubuhan kita dalam keadaan harmoni. Itulah perumpamaannya.

Namun sebaliknya jika kita belum memiliki referensi  perihal jeruk, instrument ketubuhan kita akan mendustakan apapun yang kita katakan tentang jeruk. Kita tidak akan memiliki keyakinan karena diri kita tidak memiliki referensinya. Meski kita paksakan untuk mengerti, kita tetap tidak akan menemukan realitas jeruk dalam diri kita. Meskipun kita paksakan dri kita untuk agar yakin, namun sejatinya kita hanyalah akan mendapatkan suatu keyakinan yang menipu (keyakinan semu).

Karena di dalam diri kita masih ada ruangan kosong untuk keraguan. Maka saat (ketika) kita berkata. “Aku suka jeruk.” Instrumen ketubuhan kita akan menolak, dan mengingkari, ada penentangan dalam hati. Sebab ada keraguan disana, ada kebohongan yang tersembunyi. Akibatnya jiwa tetap tidak tenang setelah mengatakan kalimat itu.

Semisal lainnya, saat (ketika) kita mendengar kabar perihal Taman Impian Jaya Ancol, banyak berita yang masuk kepada kita. Bagaimana keadaannya, serta apa saja wahana yang di tawarkan disana, penuh suka cita, pesona segala rupa, dan lainnya. Begitu banyak informasi yang kita dengar, sehingga tanpa mampu menolaknya kita meyakini bahwa berita itu adalah suatu kebenaran. Saking sukanya kita dengan berita-berita tersebut. Maka kemudian kita bahkan mampu menceritakan kepada kawan-kawan kita, dengan begitu antusiasnya, berikut sensasi dalam angan-angan kita. Masuklah imajinasi kita ke dalam cerita yang kita bawakan.

Begitu berurut, setiap orang melakukan kontruksi lagi atas berita yang di dengarnya, berdasarkan imajinasi dalam versinya masing-masing, cerita dari mulut ke mulut bersambung, di bawa dari sabang sampai merauke. Sehingga meski tanpa pernah datang kesana setiap orang akan mampu menceritakan bagaimana keadaan Taman Impian Jaya Ancol, berikut dengan sensasinya. Dengan serunya setiap orang kemudian berdebat tentang berita tersebut. Dengan versi kebenarannya sendiri tentunya. Begitulah keadaannya.

Namun sayangnya, hati tidak pernah bisa diajak kompromi, ketika kita menceritakan keadaan hal Taman Impian Jaya Ancol. Hati akan menghakimi kita. Ada kebohongan tersembunyi disana. Maka ketika kita mengatakan bahwa “Saya percaya atas berita tentang Taman Impian Jaya Ancol “.

Kemudian ketika kita berkata bahwa “Saya mencintai Taman Impian Jaya Ancol”. Seluruh instrument ketubuhan kita akan menolaknya. Dalam dirinya tidak ada realitas atas Taman Impian Jaya Ancol. Dia belum pernah kesana, belum pernah merasakan sendiri sensasinya. Maka ada keraguan dalam jiwanya. Jika semakin lama dia bercerita maka akan semakin dalam hijab yang menutupnya. Sehingga dia semakin jauh dari hakekat keadaan Taman Impian Jaya Ancol yang di maksud itu sendiri.

Dalam dirinya hanya penuh angan dan imajinasi yang menipu dirinya. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain untuk sebuah keyakinan, jiwa harus menemukan realitas Taman Impian Jaya Ancol, agar dia yakin seyakin-yakinnya. Tiada jalan lain selain dia harus datang, mengenal dan merasakan sendiri bagaimana keadaan  tempat tersebut.

Ilustrasi tersebut ingin menjelaskan bahwa ketika kita mengatakan. “Aku beriman kepada Allah.”
Padahal kita sendiri tidak pernah memiliki referensi kata “IMAN’.
Dan Kita sendiri juga tidak mengenal Tuhan “ALLAH”, maka pastilah instrument ketubuhan kita akan mengikari, ada keraguan disana, ada kebohongan tersembunyi. Inilah yang menyebabkan meskipun kita sudah beribadah sedemikian hebat, hati tetap tidak tenang.

Karena diri kita tidak memiliki referensi apapun atas kalimat yang kita ucapkan. Begitu pula kejadiannya, sama keadaannya (ketika) saat berdzikir dan dalam diri kita tidak memiliki referensi apapun atas rahsa dan keadaan hal sebagaimana di maksudkan lafadz yang kita dzikirkan. Maka sudah barang tentu kita tidak mampu berada dalam posisi keadaan sebagaimana maksud dalam kita ber dzikir.
Ketika kita tetap nekad, hantam kromo saja, di khawatirkan justru malahan Jin yang datang, terpanggil oleh energi dzikir kita, maka seringkali kita temukan seseorang yang banyak dzikir keadaan dirinya malahan diliputi para khodam, seakan-akan dia memelihara khodam yang selalu mengikuti apa saja maunya. Inilah jenis hijab lainnya. Dia akan sulit sekali masuk kepada hakekat “La Haula Wala Quwata illa Billah’.

Inilah yang menjadi sebab mengapa ketika kita ‘mengingat Allah’ hati kita tetap tidak  mampu tenang. Dan di posisi lain, diri kita tetap tidak mampu menikmati takdir kita dengan puas, ikhlas, dan ridho.
Padahal dalam ayat Al Qur’an jelas dikatakan “Dengan mengingat Allah maka hati akan tenang.”
Disinilah Ilmu Laduni akan memandu kita dalam menemukan hikmah atas makna ayat dalam Al Qur’an, secara benar, pada posisi jiwa yang benar. Sebagaimana yang dimaksud. Sehingga kita akan mampu mengatakan kalimat tersebut dengan keyakinan yang bulat. Sehingga karenanya, kita akan mampu kembali berdzikir dengan khusuk. Ke arah tujuan itulah hakekat keberadaan Ilmu Laduni.

Karena sekali lagi, sudah semestinya kita menyingkap hikmah atas keadaan hal dari setiap ayat, kemudian selanjutnya adalah bagaimana kita mampu mendapatkan posisi pada wilayah rahsa yang dimaksudkan. Keadaan yang dimaksudkan harus menjadi realitas bagi diri kita.

Sebagaimana ilustrasi buah jeruk tadi. Kita harus memiliki referensi atas setiap kata yang kita ucapkan. Kita harus mengenal rahsa yang menyingkap makna. Keadaan realitas yang sebenarnya, sehingga kita mampu mengucapkan kalimat (ayat) dengan khusuk. Ini adalah wilayah Rahsa (Dzauq) dan penyingkapan (Kasyaf). Suatu lintasan rahsa yang unik, sangat subyektif sifatnya.

Keadaan ini sungguh penting, dikarenakan dengan mengetahui keadaan ini, kita akan tahu bahwa saat itu, kita sedang melakukan penyembahan kepada siapa, kepada Allah Swt ataukah kepada selain Allah Swt. Disinilah Ilmu Laduni akan banyak membantu.

Meskipun setiap orang nantinya dalam kadar dan ukurannya masing-masing dalam hal ini, namun tidak seharusnya kemudian kita mengesampingkan realitas keadaan posisi jiwa dimana saat terkini. Mengetahui dimana jiwa dalam keadaan orbit yang semestinya.  Maka tidak selayaknya jika kita mengabaikan keberadaan Ilmu Laduni ini.

Hadits-hadits tentang ilmu mauhub/laduni

1.        Hadits Bukhari -Muslim :
Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2.        Hadits At Tirmidzi :
“Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar?
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi).

3.        Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib R.a:
Ilmu bathin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

4.        Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :
Nabi Muhammad Saw bersabda yang maksudnya : “Barang siapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam al hilyah).

5.        Hadits riwayat Imam Ahmad Dalam kitab  al-hikam
Nabi Muhammad Saw bersabda :” Barang siapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.

Imam Ahmad bin Hanbal R.a. Bertemu dengan Ahmad bin Abi Hawari, maka berkatalah Ahmad bin Hanbal R.a. “Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang pernah kau dapati dari gurumu Abu Sulaiman R.a. “.
Jawab Ibnu Hawari R.a : “Bacalah Subhanallah tanpa kekaguman”.
Setelah dibaca oleh Ahmad bin Hanbal R.a. : “Subhanallah”
Maka berkata Abil Hawari R.a. : “Aku telah mendengar bahwa Abu Sulaiman berkata : “ Apabila jiwa manusia benar-benar berjanji akan meninggalkan semua dosa, niscaya akan terbang ke alam malakut (di langit), kemudian kembali membawa berbagai ilmu hikmah tanpa berhajat pada guru”.
Imam Ahmad Bin Hanbal R.a. Setelah mendengar keterangan itu langsung ia bangkit bangun/berdiri dan duduk ditempatnya berulang tiga kali, lalu berkata : “Belum pernah aku mendengar keterangan serupa ini sejak aku masuk islam”.
Ia sungguh puas dan sangat gembira menerima keterangan itu, kemudian ia membaca hadits tadi.

(Tarjamah Kitab Al Hikam Syeikh Ibnu Athoillah, H Salim Bahreisy, Victory Agencie, Kuala Lumpur, 2001, pp 33-34., Hadits ini juga tertulis di Fadhilah Al Qur’an penjelasan hadist ke 18, hal 25-27, Syaikh Maulana Zakariyya, era ilmu kuala lumpur)

6.       Dalam hadits majmu (Himpunan) hadist qudsy
Allah Swt berfirman kepada Isa A.s: “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai Hilm (kemurahan hati) dan ‘ilm [1].”
Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa Hilm dan ‘ilm?”
Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilm-Ku dan ‘ilm-Ku.”

7.        Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).
Allah Swt mewahyukan kepada Isa A.s untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.”
Isa As. berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.”
Allah Swt berfirman kepada Isa A.s: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.”
Maka Allah Swt membuat para murid Isa A.s bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus

Perkara ini telah dijelaskan oleh sayyidina Ali R.a saat beliau menjawab pertanyaan orang ramai, “apakah beliau telah mendapatkan ilmu khusus atau wasiat khusus dari Rasulullah Saw yang hanya diberikan kepada beliau dan tidak kepada orang lain?”

Hazrat Ali R.a. menjawab : ”Demi Tuhan yang telah menciptakan surga dan jiwa-jiwa, aku tidak pernah mendapat apa-apa selain daripada ilmu yang Allah berikan kepada seseorang untuk memahami Al-Qur’an!”

ibnu abi dunya Rah. berkata bahwa pengetahuan dari Al-Qur’an dan apa-apa yang didapat dari Al-Qu’an begitu luas daripada Al-Qur’an.
Seorang pentafsir harus mengetahui 15 cabang ilmu yang disebutkan di atas. Tafsiran orang yang tidak mahir dalam ilmu-ilmu ini adalah termasuk tafsiran Bil-Rakyi (tafsir menurut fikiran sendiri) yang hal ini DILARANG OLEH SYARA’.
Para sahabat R.a mendapat ilmu bahasa arab secara tabi’i dan ilmu-ilmu lain mereka dapat langsung dari ilmu kenabian (nabi Muhammad Saw).

Nabi Muhammad Saw bersabda : “Barang siapa yang berfatwa dalam masalah agama, tanpa ada ilmu maka baginya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya ” (HR. Imam suyuti).

Jadi Ilmu laduni = ilmu dari Allah Swt sebab hasil amal…karena Allah Swt telah tunjukan cara mendapatkannya pada kita.

Cara mendapatkan ilmu dari Allah Swt.
ilmu laduni dan cara/jalan untuk mendapatkannya didalam Al-Qur’an dan Hadist :

1. Belajar
Termasuk bertanya dengan para ulama. Hendaknya belajar dengan guru mursyid yang menjaga dzikir dan sunnah Nabi Muhammad Saw.
An-Nahl (16) : 43

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

16.43. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama yang menjaga dzikir/mursyid) jika kamu tidak mengetahui,”

2. Takut Kepada Allah Swt
Kitab al Hikam, syeikh ibnu Athoillah Alasykandary (kepala madrasah alazhar-asyarif abad 7 hijriyah) menyebutkan nukilan ayat dari Al-Qur’anul Karim :

“Wataqullaha Wayu’alimukumullah” (Qs. Al baqarah ayat 282)

artinya : “Takutlah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian(Qs. Al Baqarah ayat 282)

Sifat takut/tunduk/patuh hanya kepada Allah Swt, sangatlah mulia. Bukan saja ilmu laduni yang Allah Swt beri, tapi Allah Swt akan tundukan semua makhluk padanya bahkan para malaikat pun akan berkhidmad dan senantiasa membantunya (atas izin Allah Swt), sebagaimana maksud dari hadits nabi Muhammad Saw :

Nabi Muhammad Saw bersabda : “Man Khofa Minallahi Khofahu Kulla Syai Waman Khofa Ghoirallah Khofa Min Kulli Syai”

artinya : “Barang siapa yang takutnya hanya kepada Allah Swt maka Semua makhuk akan takut/tunduk padanya. Barang siapa takut/tunduknya kepada selain Allah Swt maka semua makhluk akan (menjadi sebab) ketakutan baginya “

Lihatlah kisah-kisah salafushalih kita, bagaimana pasukan dakwah sahabat berjalan diatas air melintasi sungai Tigris di irak, pasukan dakwah sahabat yang berjalan melintasi laut merah, mu’adz bin jabal R.a shalat 2 rakaat maka gunung batu yang besar terbelah menjadi dua membuka jalan untuknya, para shahabat R.a terkemuka dapat mendengarkan dzikir benda-benda mati (roti dan mangkuk) .

Abu Dzar Al Ghifary R.a atas perintah khalifah Umar bin Khattab R.a, beliau ditugaskan untuk memasukan kembali lahar gunung berapi yang sudah keluar dari kawahnya. maka atas izin Allah Swt, lahar panas tersebut masuk kembali ke kawah gunung tersebut (Hayatushabat).

Abdullah At Thoyar R.a bisa terbang seperti malaikat yang punya sayap, maka ketika ditanya oleh Rasulullah Saw, apa yang menjadi sebab Allah Swt berikan karomah tersebut, maka beliau menjawab ”saya pun tidak tahu, tapi mungkin karena aku dari sebelum saya masuk islam sampai sekarang pun saya tidak pernah minum khamr, …dst”.

MENGAMALKAN ILMU YANG DIKETAHUI
sebuah hadits  menyebutkan bahwa nabi muhammad Saw bersabda :
“Man ‘Amila Bimaa ‘Alima Waratshullahu ‘ilma Maa Lam Ya’lam”

Artinya : ” Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui”

4. TIDAK MENCINTAI DUNIA
‘Alammah Suyuti Rah. berkata : “kamu menganggap bahwa ilmu Mauhub adalah diluar kemampuan manusia. Namun hakikatnya bukanlah demikian, bahkan cara untuk menghasilkan ilmu ini adalah dengan beberapa sebab. Melalui ini Allah Swt telah menjanjikan ilmu tersebut. Sebab-sebab itu adalah seperti : beramal dengan ilmu yang diketahui, tidak mencintai dunia, dan lain-lain….”

Sebagaimana dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda yang artinya : “Barang siapa yang zuhud pada dunia (tidak cinta dunia), maka akan Allah Swt berikan kepadanya ilmu tanpa Belajar” (Fadhilatushaqat).

5. Berdo’a
Semua itu datang bagi Allah Swt, maka Rasulullah Saw mencontohkan kepada kita agar senantiasa berdoa agar diberikan ilmu dan hidayah dari Allah Swt. Sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan :
“Wa qul rabbi zidnii ilma“

Artinya : Allah Swt. Berfirman : “Katakanlah  (hai Muhammad Saw.)  Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS Thaha [10] ayat 113)

Untuk menumbuhkan rasa takut pada Allah Swt dengan dzikir

Untuk menumbuhkan zuhud pada Allah Swt dengan Mujahadah

Sedangkan Do’a akan diterima jika kita ikhlash…..

Untuk itu kita harus belajar dan dibimbing oleh guru-guru yang mursyid.

6. Berdakwah
Jika kita berdakwah (amar bil ma’ruf wa nahya ‘anil munkar) atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka Allah Swt akan berikan kepada kita ‘ilm Wa Hilm (’ilmu dan kelembutan hati) langsung dari Qudrat Allah Swt.
Sebagaimana Dalam surat al-‘ankabut ayat terakhir :

“Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami (berjihad dan mendakwahkan agama) maka akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang ihsan (muhsinin)” (QS Al’ankabut [69] ayat 69).

Lafadz “ Subulana” atau “jalan-jalan kami” bermakna juga “jalan-jalan petunjuk dari Allah Swt” atau “jalan-jalan hidayah (ilmu-ilmu islam yang haq)”.

Sebagaimana juga dalam hadits Qudsi (kurang lebih maknanya) tatkala Allah Swt menceritakan keutamaan umat akhir zaman kepada Nabi Isa A.s,

Dari Abu Darda R.a berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa A.s. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan  hati) dan ‘ilm (ilmu) .”
Isa A.s bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?”
Allah Swt menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilm-Ku dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan Adzahaby menyepakatinya". I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits Syaikhul Hadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27,  Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa A.s dalam kisah-kisah literatur umat islam, Tarif Khalidi.

Mengenai kisah dakwah kaum hawariyyin (pengikut Nabi Isa A.s) :

-          Allah mewahyukan kepada Isa A.s untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.”
Isa A.s berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.”
Allah Swt berfirman kepada Isa A.s: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.”
Maka Allah Swt membuat para murid Isa A.s bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus.
(Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam  wafat 257 H).

ilmu Laduni adalah karunia khusus/khas bagi hambanya, terlebih bagi mereka yang telah ma’rifat. Orang yang telah ma’rifat akan mendapatkan segala-galanya karena tidak ada keinginan dunia dalam hatinya.

Nabi Muhammad Saw bersabda : “Man Wajadallah Wajada Kulla Syai, Man Faqadallah Faqada Kulla Syai”
artinya : “Barang siapa kenal kepada Allah maka ia akan mendapatkan segala-galanya
Barang siapa yang kehilangan Allah (tidak kenal Allah) maka ia kehilangan segala-galanya.”
( Kumpulan Khutbah jum’at romo kyai).

Dalam kitab Kimiyai Saadat, bahwa ada tiga jenis manusia yang tiadak akan bisa memahami Al-Qur’an :

* Pertama : Seorang yang tidak memahami bahasa arab
* Kedua : Orang yang berkekalan dengan dosa-dosa besar dan bid’ah. Ini karena dosa dan amalan bid’ah itu akan menghitamkan hatinya yang menyebabkan dia tidak mampu memahami Al-Qur’an.
* Ketiga : Orang yang yakin hanya terhadap makna-makna dhahir saja dalam hal-hal aqidah (mengambil makna dhohir dari ayat/hadits Mutasyabihat, aqidahnya bermasalah: Mu’tazillah, Mujasimmah dsb).
Perasaanya tidak dapat menerima apabila dia membaca ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan keyakinannya itu. Orang yang demikian tidak akan bisa memahami Al-Qur’an.

“Ya Allah Peliharalah kami daripada mereka!”

Batasan Ilmu Laduni
Ilmu Laduni adalah sebuah ke-niscaya-an, ilmu yang sebaiknya  dimiliki oleh umat Islam. Apakah terlalu berlebihan statement ini. Rasanya tidak. Seseorang yang telah memiliki iman dalam hatinya dan dia  bertakwa kepada Allah, akan dengan sendirinya  memiliki ilmu ini. Inilah ke-niscaya-an yang saya maksudkan. Pengetahuan akan penyingkapan hati, pengetahuan kasyaf , kemampuan seseorang dalam mengenali daya yang bekerja pada dirinya,  adalah sebuah kemampuan yang layak dimiliki.

Menjadi pertanyaan dalam kajian-kajian terdahulu, bagaimana kita mampu mengenali sebuah  daya yang bekerja pada diri kita adalah benar daya Allah, bukannya daya yang berasal dari proses induksi. Inilah pertanyaan kita selalu. Keyakinan bahwa daya yang bekerja pada diri kita adalah daya Allah, adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya dimiliki oleh kaum muslimin.

Sayangnya, mengenali sebuah daya dan kemudian menetapinya sebagai daya dari Allah Swt adalah sebuah persoalan tersendiri bagi umat Islam.  Mereka selalu merasa sudah benar dalam penyembahan mereka, mereka  enggan masuk ke dalam hatinya masing-masing mempertanyakan hal ini. Mereka dan kita semua sering tidak mau mempersoalkan lagi apakah daya yang kita pergunakan adalah benar daya Allah Swt atau bukan.

Sudah mampukah kita meniadakan daya-daya lain yang mencoba memperngaruhi diri kita dan berkata dengan yakin bahwa tiada daya upaya selain (daya) Allah Swt. Tanpa keyakinan yang benar, maka sesungguhnya kita tidak akan mampu mengatakan hal ini. Kita akan mengalami keraguan dan keraguan terus. Semua dalam kesulitan (ketika) saat ber-ikhsan. Hakekat bahwa Allah Swt melihat kita, dan hakekat bahwa (seakan akan) kita melihat Allah Swt. Inilah salah satu sebab mengapa umat muslim Indonesia mengalami kemrosotan akhlak yang akut.

Sebab ketika kita sudah yakin dan mampu mengenali daya tersebut, maka tenanglah hati dan jiwa kita. Inilah system bekerjanya ketubuhan kita.
Bagaimana mengenali daya tersebut jika kita tidak memiliki pengetahuan atas ini ?
Maka dengan ilmu (kasyaf) inilah diharapkan manusia akan dapat mengenali daya tersebut dan kemudian yakin atas ini. Pengetahuan ini bukanlah datang secara tiba-tiba, seseorang harus melakukan perjalanan sendiri-sendiri.

Pengetahuan ini bukan datang dengan cara membaca, ataupun belajar dari seorang guru. Pengetahuan ini langsung diajarkan oleh Allah Swt kepadanya. Maka seseorang yang menginginkan pengetahuan ini wajib melakukan perjalanan rohani, sampai nantinya  Allah  Swt akan menunjukan jalan kepada-Nya.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad) untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. “ (QS. Al Ankabut : 69)

Inilah janji Allah Swt, maka saya katakan bahwa Ilmu Laduni adalah sebuah ke-niscaya-an saja. Yaitu bagi setiap muslim yang mencari keridhaan Allah Swt dengan sungguh-sungguh maka kepadanya akan ditunjukkan jalan ini. Sebab dengan Ilmu ini dia akan mampu mengenali daya, dia akan mampu mengenali dualitas Rahsa, dia kemudian akan mengenali jalan-jalan-Nya.
Inilah ke-niscaya-an berikutnya, membedakan Rahsa-rahsa di jiwa, yaitu sebuah efek sensasi rahsa yang ditimbulkan oleh sebagai akibat penyembahan diri kita, apakah  kepada Allah Swt atau kepada selain Allah Swt.
Dirinya akan mengenali Rahsa tersebut, membedakannya, sehingga kemudian dia mampu melakukan koreksi dan bertaubat, meluruskan kembali niatnya, jika kita salah dalam penyembahan diri kita.

Dengan ilmu ini (kasyaf) dia akan mampu menghadapkan dirinya dengan keyakinan yang  benar kepada Tuhan (Allah Swt) Yang maha Esa bukan kepada  Tuhan yang sebatas dalam persepsi saja, bukan kepada Hantu yang  malah dianggapnya sebagai Tuhan.   Semua akan diketahuinya melalui penyingkapan hati, melalui sensasi rahsa yang tak sama. Akan ada efek dualitas rahsa yang akan mampu  dikenal dengan baik, sehingga dirinya tidak dibingungkan lagi oleh sensasi dualitas rahsa tersebut.

Saya ingin memisahkan pemahaman saya dengan pemahaman  bahwa Ilmu Laduni atau Ilmu Hikmah adalah sebuah ilmu yang dimaksudkan dan identik dengan kemampauan seseorang yang memilikii karomah, supranatural, atau kesaktian-kesaktian lainnya. Bukan itu yang saya maksudkan. Bukan atas pemahaman itu, kajian ini dituliskan dan bukan maksud dari kajian ini ke arah sana.

Saya akan membatasi pemahaman bahwa Ilmu Laduni , menurut pendapat saya  adalah sebuah ilmu mengenali rahsa (Dzauq), menyingkap hati, dan mengenal daya (kasyah) di dalam diri manusia sendiri. Ilmu yang akan mampu menyingkap hakekat diri manusia itu sendiri. Sehingga manusia akan mampu mengenali dirinya sendiri.

Ilmu Laduni adalah ilmu yang sangat spesifik dan unik. Setiap manusia akan diberikan ilmu ini, namun sayangnya ilmu ini  hanya bisa digunakan untuk dirinya sendiri saja. Inilah pemahaman saya, sehingga ilmu ini tidak mungkin dapat diajarkan kepada lainnya. Dia hanya bisa menggunakan ilmu tersebut hanya untuk mengenali dirinya sendiri, mengenali lintasan hati dan penyingkapannya.
Maka berhati-hatilah kepada orang yang mengatakan memiliki ilmu ini dan mengatakan  mampu mengajarkan Ilmu Laduni ini.
Dalam pemahaman saya Ilmu Laduni bukanlah sebuah ilmu tentang kesaktian manusia, ilmu ini adalah sebuah ilmu hikmah.

Hikmah apa yang perlu diketahui seseorang atas sesuatu hal, maka hanya Allah Swt dan dia saja yang tahu.
Allah Maha Tahu, yang  akan menyingkapkan rahasia hikmah apa saja untuk dirinya. Hikmah yang hanya pas untuk dirinya sendiri, tidak untuk orang lain. Hanya dia sendiri yang akan memetik hikmah pelajarannya. Maka pengajaran seperti apa, kurikulum yang  mana yang akan  pas untuk setiap manusia, hanya Allah yang tahu. Maka hubungan belajar dan mengajar ini  sangatlah spesifik sifatnya dan ‘privat’ sekali.

Mengenali rahsa (dzauq), mengenali daya (kasyaf), Ilmu yang mampu meyingkap rahasia hati, sehingga dengan ilmu ini seseorang akan memiliki keyakinan yang tidak akan menyisakan ruang bagi keraguan sedikitpun. Karena telah terbukanya hijab dan penyingkapan hati. Inilah hakekat dan batasan Ilmu Laduni yang saya maksudkan.

Dengan ilmu inilah seorang muslim akan dapat memahami hikmah dam hakekat kebenaran itu sendiri. Sehingga dia tidak akan dibingungkan lagi dengan versi kebenaran kelompok lainnya. Jikalau dalam penyingkapan hikmah, seseorang kemudian di pahamkan melalui cara-cara yang di luar nalar dan logika, (sehingga manusia menganggap sebagai karomah) itu sifatnya hanya individualistis, dan karena semua terserah kepada Allah Swt bagaimana memberikan pengajaran.

Pengajaran dalam mengenali daya, memang kadang sangat mempesona. Hampir semua yang penulis kenal yang sedang belajar hal ini tiba-tiba memiliki kemampuan yang tidak biasa. Kadang bisa menghentikan hujan, menghentikan dan membalikan arah  angin, dan juga kemampuan supranatural lainnya.
Banyak diantaranya yang kemudian mampu menyembuhkan penyakit non medis, yang di sebabkan makhluk ghaib, dan lain sebagainya.
Tersingkapnya hijab hati akan menyingkapkan ke-ghaib-an inilah konsekwensinya, maka dia akan mampu  berkomunikasi dengan makhluk ghaib, dan mengenali kesadaran-kesadaran lainnya, mengenal dari rahsa di jiwa.

Dirinya akan senantiasa di hadapkan kepada dua dunia, beserta dimensi-dimensinya. Dirinya dibenturkan kepada sebuah fakta untuk memaknai  manakah yang sebenarnya Realitas dan manakah yang Ghaib. Dualitas rahsa dalam kesadarannya. Karena semua menjadi seakan-akan sama saja. Tinggal dia mau memaknai seperti apa keadaannya dan sebagai apa. Apakah akan memaknainya sebagai hal ghaib ataukah sebagai realitas alam semesta saja, suatu kewajaran.
Sungguh mempesona. Namun hakekatnya itu hanyalah  pembelajaran saja kepadanya. Dia sedang diajarkan pelajaran mengenai daya yang sedang bekerja, daya yang bekerja di alam  dan dalam tubuh manusia itu sendiri. Di ajarkan siapakah dirinya, hakekat dirinya sendiri, hakekat tentang AKU.

Maka celakalah orang yang kemudian mengaku-aku memiliki daya ini. Celakalah orang yang mengaku aku memiliki Ilmu Laduni ini. Kemudian menganggul-anggulkannya, sebagai kesaktian, sebagai karomah, atau lainnya.
Karena hakekatnya ilmu ini berada di antara ada dan tiada, hikmah diantara realitas dan ghaib. Semua milik Allah Swt. Hasil yang benar jika seseorang memiliki ilmu ini adalah kebalikannya, dia akan menjadi merasa  tidak  memiliki ilmu sama sekali. Seseorang justru akan merasa tidak memiliki daya sama sekali, setelah belajar dan memahami hakekat ilmu ini. Inilah keanehannya.

Semua tergantung rahmat Allah Swt semata. Dia hanya menggantungkan hidupnya dari kemurahan Allah Swt, yang akan memberikan daya kepadanya atau tidak. Inilah hakekat hasil pembelajaran Ilmu Laduni.
Ilmu ini ada namun menjadi tiada, karena hakekatnya adalah kita kemudian meniadakan ilmu ini sendiri.  Ilmu ini berada dalam kesadaran realitas dan keghaiban itu sendiri.

Karenanya kita akan kesulitan jika mencari orang yang benar-benar memiliki ilmu ini, karena dia akan tersembunyi diantara manusia lainnya. Jika tersingkapkan, Ilmu ini menurutnya, hanya akan menjadi aib nya saja nanti. Begitu takutnya dia kepada Allah Swt, takut menjadi riya’ jika dirinya diketahui. Maka keberadaan orang-orang ini nyaris terabaikan, mungkin saja ada diantara kita semua, namun kita tidak tahu. Ciri-ciri seorang muslim sejati ada pada dirinya. Itulah tanda-tandanya.

Ini adalah ilmu ketiadaan, meniadakan  daya upaya kita,  dia hanya bisa pasrah  menggantungkan dirinya atas daya yang diberikan Allah Swt. Dia benar-benar merasa menjadi manusia yang tidak punya daya sama sekali. Benar-benar lemah, menjadi manusia biasa, sangat biasa.
Dia merasa tidak tahu apa-apa, karena semuanya seakan-akan hanya di tarok begitu saja. Dia akan menjadi tunduk, rendah hati, karena dia menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan lain lain, dan lain lain. Hingga pada gilirannya nanti sampailah dirinya kepada maqom kearifan tertinggi dalam dimensi manusia.

Jika tertarik belajar Ilmu ini, Ilmu Laduni, maka  menurut hemat saya tidaklah harus belajar kepada orang lain. Sebab begitu sulitnya jaman sekarang ini menemukan orang seperti itu. Belajarlah kepada Allah Swt. Bergurulah kepada Allah Swt.

Begitulah ke-khas-an Ilmu Laduni, dalam pemahaman saya, Bagaimana memulainya ?. Maka ini hanyalah sekedar sharing saja, sekali lagi hakekatnya hanya Allah Swt saja yang tahu, pengajaran seperti apakah yang pas buat diri kita masing-masing.

Dari mana mulai ?
Di awali dari sebuah pertanyaan yang di lontarkan.  Mengapa manusia menerima dengan sikap pasrah sebuah keyakinan  secara turun temurun, tanpa sedikitpun keraguan ?
Mengapa manusia tidak mau menggunakan bukti-bukti rasional sebagai dasar penerimaan itu ?.

Mengapa setiap kelompok meyakini paham mereka sebagai suatu kebenaran ?.
Bersikukuh mempertahankan keyakinan yang di dapat dari nenek moyang mereka secara  turun temurun, tanpa meragukan sedikitpun.
Mengapa Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Bathiniyah, dan lainnya tetap dalam pendapatnya itu. Sehingga pada gilirannya, membuat  mereka sendiri  menjadi sangat sensitif ketika diantara mereka mengalami benturan keyakinan dan bersinggungan paham.

Mengapakah hal ini tidak menimbul pertanyaan dan keraguan kepada kita, manakah diantara paham mereka sesungguhnya  yang benar.

Marilah kita telusuri mengapa keadaannya begitu. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya saja kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. “  (HR. Al Bukhari, Muslim, Malik, dan Ahmad).

Itulah keadaan real kondisi manusia, saat dia dilahirkan, dia sudah berada dalam kesadaran kolektif masyarakatnya. Dia tidak bisa memilih orang tuanya, lingkungannya, atau agamanya.

Jikalau begitu dapatkah dia disalahkan pada satu sisi itu saja, ketika dia memeluk agama Yahudi, Nasrani atau Majusi ?
Apakah orang tuanya yang salah ?
Ternyata tidak juga, karena ternyata orang tuanyapun mengalami nasib yang sama. Dia juga hanya menerima agama dari orang tuanya lagi. Dan seterusnya, dan seterusnya. Setiap manusia hanya menerima begitu saja paham dan keyakinan dari nenek moyang nenek moyang mereka.

Jikalau setiap manusia mengalami kejadian yang sama seperti itu,  kenapa mereka semua harus mewarisi juga sikap permusuhan nenek moyang-nenek moyang mereka semua ?
Menjadi permusuhan yang turun temurun lintas generasi, permusuhan yang tiada habis-habisnya.
Praduga dan persepsi di bangun atas cerita masa lalu. Tidakkah sebaiknya setiap golongan, setiap manusia duduk bersama mengkaji kebenaran masing-masing. Melakukan kontemplasi dalam diri sendiri mencari hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat kebenaran.

Yakinlah, manusia dahulunya adalah umat yang satu. Agama dahulunya adalah satu. Kemudian ada sebagian dari manusia yang di berikan pengetahuan menyimpangkannya, mengikuti hawa nafsunya. Pemahaman tersebut kemudian diturunkan, diikuti oleh keturunan keturunan mereka secara membuta. Sampailah kepada kita sekarang ini. Sesungguhnya manusia telah melalaikan keadaan yang sudah sekian lama begini, berabad abad lalu hingga melintasi jaman dan peradaban, sampailah kepada kita sekarang ini. Dinamika seluruh umat manusia dengan pelbagai macam keyakinan dan kebenaran versi masing-masing.

Kita seharusnya khawatir  dengan perkembangan agama Islam itu sendiri, kemudian mempertanyakan dengan keraguan, mengapa begitu banyak mahzab di dalam Islam, mengapa Islam juga terpecah-pecah. Manakah yang benar diantara mereka. Kita harus memiliki Ilmu yakin atas kebenaran yang di dalamnya tidak menyisakan sedikitpun ruang bagi keraguan. Keyakinan yang Haqul Yaqin yang tidak menyertakan kemungkinan salah dan praduga.

Sebuah keyakinan atas kebenaran yang tidak mungkin mampu di goyahkan sedikitpun oleh siapapun, meskipun sang pembantah memberikan emas sebesar gunung sekalipun. Dan selanjutnya kita mampu menyikapi atas  perbedaan yang tengah terjadi di dalam masyarakat itu dengan kearifan, sebab hakekat kebenaran datangnya dari Allah Swt.

Muncullah pemahaman bahwa hakekatnya setiap golongan hanya berada dalam makom mereka masing-masing. Tentunya  mereka semuanya nanti, jika  telah satu  dalam kebenaran Tuhan maka seluruh umat manusia akan menjadi  kembali bersatu lagi dalam dienul Islam. Itulah keyakinan Islam.

Sekali lagi, setiap mahzab, setiap golongan senantiasa melakukan klaim atas kebenaran mereka, namun kita tidak pernah tahu, diantara mereka manakah sesungguhnya  yang benar. Benar  dalam kebenaran Allah Swt.
Dimanakah rantai yang terputus ?
Dimanakah ‘missing link’ nya, sehingga kebenaran yang sampai kepada kita sudah terserak-serak, sudah tidak lengkap lagi.?

Kita harus menanyakan kepada diri kita melalui keraguan. Karena Al Qur’an telah mengisyaratkan demikian. Pada setiap peradaban mungkin ada saja nenek moyang kita yang lalai. Kita harus khawatir atas hal itu. Sehingga kitalah yang di harapkan mampu memutuskan mata rantainya, mencari dimanakah asal muaranya, mencari jalan penghubung atas ajaran nabi Ibrahim yang lurus (Milah Ibrahim).
Sehingga kita memliki keyakinan yang benar, yang selanjutnya dengan ini,  dapat kita wariskan kembali kepada anak cucu kita berikutnya. Menjadi generasi Islam yang wajahnya penuh senyum, yang senantiasa menjadi rahmat bagi yang lainnya. Islam adalah rahmat semesta alam.

Generasi yang melalaikan
“Yaa Siin. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah. Sungguh engkau (Muhammad) adalah seorang dari rasul-rasul. Diatas jalan yang lurus. (Sebagai wahyu) yang diturunkan (Allah) yang maha Perkasa, Maha Penyayang. Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sungguh, pasti berlaku perkataan terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. “  (QS. Ya sin 1-7)

Al Qur’an jauh hari sudah memperingatkan hal tersebut. Dalam setiap peradaban setiap abad akan terdapat suatu kaum yang nenek moyang-nenek moyang mereka lalai. Maka Al Qur’an kemudian  di turunkan, sebagai wahyu, memberikan peringatan kepada kita, atas kemungkinan tersebut dengan sebuah praduga bahwa diduga diantara  nenek moyang kita  terdahulu terdapat suatu generasi yang lalai.

Terjadilah ‘missing link’  mata rantai yang terputus. Sehingga sampai ke jaman kita, sudah  menjadi banyak versi kebenaran yang terserak diantara setiap golongan. Kitalah semua  yang harus mengkritisi, ke dalam diri kita masing-masing. Mengikuti petunjuk di dalam Al Qur’an. Mencari kebenaran itu sendiri.

Al Qur’an menuntut ke aktifan manusia dalam mencari kebenaran. Menguji kembali keimanan yang telah diwariskan kepada diri kita masing-masing. Meminimalisir kelalaian nenek moyang kita yang beranggapan bahwa diri mereka sudah benar, sehingga karenanya mereka lalai, dan karena  itu mereka tidak mau lagi mencari kebenaran. Sehingga kebenaran yang sampai kepada kita sudah tidak sempurna.

Kebenaran harusnya sampai kepada kita melalui jalan yang lurus (shirotol mustakim). Bukan melalui jalan orang yang sesat ataupun jalannya orang yang di murkai Allah. Maka kita wajib meyakinkan diri kita atas hal tersebut. Sehingga kita mampu mengamankan setidaknya jalan kita sendiri terlebih dahulu.

Pertanyaan-pertanyan tersebut layaknya terus di lontarkkan ke dalam hati. Sebagaimana yang dilakukan nabi Ibrahim A.s, ketika mencari hakekat Tuhan, sebagaimana juga yang di lakukan Rasulullah Saw dalam kontemplasinya sepanjang waktu dan di perkuat saat-saat di gua Hira’.

Begitu juga sebagaimana Hujatul Islam Imam Al Ghozali. Ini adalah pondasi dasar untuk melatih instrumen ketubuhan kita, mempersiapkan kondisi saat di susupkan contoh rahsa agar dikenali. Semua dimulai dengan pertanyaan, penuh keraguan atas suatu keadaan. Melihat ke dalam diri, mencari referensi atas sesuatu itu, dari dalam jiwa kita sendiri.

Pengajaran yang sederhana
Marilah kita masuki saja agar menjadi lebih jelas apa yang saya maksudkan. Kita mulai dari hal yang sederhana. Kita coba dari masalah yang paling banyak terjadi menimpa kita kaum awam adalah perihal sholat. Al Qur’an sudah memberikan solusi efektif  bagi kita kaum urban dalam menghadapi kesempitan dan tuntutan hidup.

Firman Allah Swt “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. “  (QS. Al baqoroh 45).
Perintah tersebut jelas tidak mungkin salah. Masalahnya adalah kita yang belum mampu. Maka mulailah kita bertanya dalam hati kita, berdialog dengan tajam dan dalam.

· Apakah sholat yang di ajarkan orang tua kita sudah benar, sehingga  sholat mampu menjadi penolong kita ?.

· Apakah ada yang salah, sehingga sholat belum dapat saya jadikan penolong ?.

· Mengapa sholat dapat di jadikan penolong ?. Bagaimana caranya ?

· Nyatanya berat bukan ?. Kenapa kok saya tidak bisa melakukan hal itu ?

· Hanya orang yang khusuk yang dapat melakukan itu ?

· Mengapa saya tidak bisa khusuk ?.

· Terus bertanyalah dan jawablah dengan jujur. Latih terus instrument ketubuhan kita.

· Kuatkan hati dan terus bertanya kepada Allah Swt. Bagaimana caranya agar kita mampu mengerti.

Begitu juga dalam mengenal Allah Swt, baiknya kita mulai dari ayat yang sering kita lafadzkan sehari-hari . Bisa dari “Bismillahi rohmani rohiem”. Pernyataan tersebut harus kita akui  pasti benar.

Maka kenalilah, bertanyalah terus, kasih sayang apakah yang telah diberikan kepada kita. Terlihat sederhana pertanyaan ini, namun seperti uraian dimuka, saat kita tidak memliki referensi apapun tentang sifat kasih dan sayang Allah Swt, kita tidak akan mampu mengucapkan ini dengan keyakinan.

Ketika kita tidak yakin dengan ini, maka kita juga akan sulit mengenal Allah Swt. Sebab dikarenakan kita tidak memiliki referensi sifat kasih dan sayang-Nya dalam diri kita.    Ketika kita tidak mampu mengenal Allah Swt, maka selanjutnya kita akan sulit khusuk dalam sholat.

Sungguh bagi sebagian orang, menemukan dan mencari referensi kasih sayang Allah Swt di dalam dirinya, merupakan perjuangan yang melelahkan, mendaki lagi sukar. Banyak kesadaran lain yang menghijab. Banyak sekali kesadaran lain yang ikut di dalam dirinya akan melakukan pengingkaran-pengingkaran,

Bahkan mungkin akal , mungkin jiwanya sendiri juga akan melakukan pengingkaran, sehingga hati sulit sekali mendapatkan hal atau keadaan seperti keadaannya. Yaitu keadaan rahsa di dada seperti dimaksud ketika Allah Swt melimpahkan kasih sayangnya.

Apakah kita mengerti dan memahami bagaimana keadaan tersebut ?
Tentunya kita harus belajar mengenali, belajar untuk mendapatkan contoh rahsanya, dengan suatu Mujahadah yang tak kenal lelah, agar nantinya tidak salah lagi.

Kita harus terus istiqomah, melewati fase-fase awal. Kesadaran-kesadaran yang berada dalam diri kita secara perlahan tapi pasti akan di singkap, bagai mengupas kulit bawang, selapis demi selapis.
Yakinlah, dengan mengenal Allah Swt melalui sifat kasih sayang-Nya saja kita sudah akan mampu menjalani kehidupan beragama dengan tenang, puas, dan ridho.
Inilah pengajaran yang sederhana namun tepat guna dan manfaat.

Bila orang tua kita hanya mengajarkan “Bismillah”, maka masuki saja lebih dalam. Insyaallah dengan ini, kita akan mampu mengerjakan dan mendirikan syariat dengan lebih ringan, lebih ikhlas, dan sabar.
Agama selanjutnya tidak menjadi beban kita lagi. Insya Allah beragama dan bekerja akan sejalan. Meskipun penguasaan agama kita hanya sedikit.

Berguru Kepada Allah Swt
Masih banyak yang harus disingkapkan, perihal bagaimana pengajaran Allah Swt, bagaimana keadaannya jika kita berguru kepada Allah Swt. Sungguh luar biasa pernyataan yang di usung Ustad Abu Sangkan.

Dalam bukunya Berguru Kepada Allah Swt. Meski menabrak logika berfikir umat Islam, dan mendobrak ‘mainstream’ yang begitu kuat. Nyatanya  pemahaman ini secara perlahan mampu diterima masyarakat. Meski pada awalnya banyak penentangan di sana-sini.

Lambat laun, masyarakat mampu melihat dengan jernih kemana muaranya. Pemahaman ini secara tidak langsung telah melahirkan paradigma baru dalam konsep berfikir tentang Islam itu sendiri. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya atas diri beliau. Amin

Dalam perjalanan Berguru Kepada Allah, manusia akan diperjalankan, dan di ajarkan bagaimana memahami dirinya sendiri terlebih dahulu.  Terutama adalah bagaimana manusia mampu memahami dualitas rahsa yang telah disusupkan oleh Allah Swt kepadanya. Rahsa pada jiwa yaitu kefasikan dan ketakwaan.

Manusia harus mengenalinya. Membedakannya bagaimana sensasi rahsa bila kita berada dalam makom kefasikan dan bagaimana juga keadaan sensasi rahsa di jiwa ketika kita berada di makom ketakwaan. Sungguh kita harus mampu membedakan keadaan ini. Agar kita tidak tertipu.

Manusia secara perlahan diminta mengenali rahsa takut, rahsa syukur, rahsa takwa, tawakal, iman, sabar, harap, dan lain-lain, dan berikut dengan dualitasnya, yaitu rahsa kebalikannya. Digulirkan juga rahsa senang dan sedih, gembira dan nestapa, sukses, dan kecewa, dan bagaimana memaknai hikmah diantara dua rahsa itu.  Kemudian bagaimana juga menetapinya, rahsa yang bagaimanakah yang bersumber dari daya Allah Swt.

Semua akan diajarkan satu persatu. Begitu dahsyatnya pengajaran itu, hingga sangat terasa di badan. Sebagaimana halnya sampai-sampai  pada dada Rasulullah Saw ketika sholat seperti bergemuruh, saking dahsyatnya, hingga terdengar oleh orang di belakangnya. Maka ketika kita diajarkan rahsa ini, sungguh kita  harus istiqomah dalam keyakinan kepada Allah Swt.

Gemuruh di dada dan bagaimana sensasinya begitu luar biasa, benar-benar  akan melumpuhkan dirinya. Bagai gelombang tsunami yang akan melemparkan apa saja. Bagai radiasi yang akan meluluh lantakkan  apa saja yang terpapar. Semua menimpa raganya. Maka bagi manusia hanya ada satu jalan, hanya kembali kepada Allah Swt . Tidak ada jalan kembali.
Apakah dia akan menjadi kafir setelah beriman ?
Itulah taruhannya. Jika dia berbalik, sungguh siksaan Allah Swt amatlah pedih.

Kemudian manusia juga akan diajari bagaimana membedakan sensasi bagaimana jika kita takut kepada Allah Swt dan bagaimana juga ketika kita takut kepada selain Allah Swt. Demikian juga untuk rahsa cinta.
Bagaimana sensasi rahsa ketika kita cinta kepada Allah Swt dan ketika kita mencintai selain Allah Swt.

Dengan mengenali sensasi rahsa ini  (dzauq), manusia akan mengenali daya (kasyaf) yang menimbulkan sensasi tersebut. Karena hakekatnya rahsa hanyalah sebuah efek atas bekerjanya sebuah daya saja.

Sebuah rahsa panas yang dirimbulkan oleh alat pemanas, atau bohlam lampu misalnya, akan terasa bedanya jika daya listrik yang menghidupkannya berasal dari daya  PLN ataukah bersumber dari daya  sebuah battery.  Jika dari PLN akan lebih konstan namun jika dari baterry dayanya semakin lama akan meredup sehingga nyalanya (panasnya) akan tak beraturan.

Sensasi ini terasa nyata dan akan beda sekali bagi yang mampu merasakannya. Inilah perumpamaannya.
Begitulah cara mengenali sebuah daya.
Apakah daya dari Allah Swt ataukah daya dari selain Allah Swt. Kita mengenali dari sensasi rahsanya (dzauq).

Kemudian setelah kita mengenalinya, maka kita akan mendapatkan referensi atas rahsa yang dimaksudkan. Allah Swt akan memberikan contoh rahsanya yang benar (hal). Bagaimana rahsa yang sungguh-sungguh benar.

Kita akan memiliki keyakinan yang kuat tentang kebenaran yang dimaksudkan-Nya. Tanpa rekayasa apapun. Betul-betul seperti di taruh saja.
Setelahnya, kemudian manusia harus mengupayakan dirinya agar menempati maqom tersebut, berdasarkan referensi yang sudah didapatkannya itu.

Inilah perjuangan yang terus menerus, hingga manusia mampu mencapai maqom yang dimaksudkan. Begitus  seterusnya sehingga tercapailah kearifan puncak. Menjadi manusia yang (menjadi) rahmat semesta alam.