Semar


Dikalangan spiritual jawa sosok  Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbolis tentang Ke-Esa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Ilahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

– Bebadra = Membangun sarana dari dasar
– Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (Karang = gersang) Dempel =keteguhan jiwa, Rambut semar “Kuncung” (Jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : Akuning Sang Kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Illahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ), yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parang Kusumo Rojo : perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia), agar Memayuhayuning Bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi

Ciri sosok semar adalah

* Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua.
* Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan.
* Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa.
* Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok.
*Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam di tanah Jawa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa . Semar (pralambang ngelmu ghaib) – kasampurnaning pati.

Gambar Semar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika – artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

FILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan Mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming Samar-Samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya menunjuk ke atas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal”.
Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika Manik Astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

1. Tidak pernah Lapar
2. Tidak pernah Mengantuk
3. Tidak pernah Jatuh Cinta
4. Tidak pernah Bersedih
5. Tidak pernah Merasa Capek
6. Tidak pernah Menderita Sakit
7. Tidak pernah Kepanasan
8. Tidak pernah Kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Bathara Semar, Bathara Ismaya, Bathara Iswara, Bathara Samara, Sang Hyang Jagad Wungku, Sang Hyang Jatiwasesa, Sang Hyang Suryakanta.
Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Bathara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani puteri dari Sang Hyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sang Hyang Bongkokan, Batara Siwah, Bathara Wrahaspati, Bathara Yamadipati, Bathara Surya, Bathara Candra, Bathara Kwera, Bathara Tamburu, Bathara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Bathara Wungkuam atau Sang Hyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel, dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Sapta Arga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Sapta Arga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Sapta Arga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Kedua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperisteri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi isteri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Sapta Arga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdo’a, mengurangi tidur, dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikkan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaan abadi lahir bathin.

Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandu dewanata, dan sampai Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Bathara Semar.

Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Bathara Semar atau Bathara Ismaya.

Karena Bathara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai Wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatu yang tidak jelas /tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Bathara Semar, namun ia bukan Bathara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol, berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.

Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Bathara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri, dengki, congkak, dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi, dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (Karang = gersang & Dempel = keteguhan jiwa).
Rambut semar “kuncung” (Jarwadasa/peribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : Akuning Sang Kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliyah sesuai dengan sabda illahi. Semar berjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawanya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha, dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang Ke-Esa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi, dan pengertian tentang illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber-keTuhanan yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas, dimengerti, dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat illahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya berbunyi :

Semar (pralambang ngelmu ghaib) – Kasampurnaning Pati.
Bojo Sira Arsa Mardi Kamardikan, Ajwa Samar Sumingkiring Dur-Kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.

Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (Ora Kebanda Ing Kadonyan, Ora Samar Marang Bisane Sirna Durka Murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa (Sesuno, 1988 : 188) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara  (Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa  (Brandon dalam Suseno, 1988 : 188).
Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” (menjadi manusia) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia (Geertz 1969 : 264). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya (Suseno 1988 : 190).
Ia merupakan pamong yang “Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan “Memayu Hayuning Bawana ” menjaga kedamaian dunia (Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193)

Dari segi etimologi, joinboll (dalam Mulyono 1978 : 28) berpendapat bahwa Semar berasal dari Sar yang berarti sinar ” cahaya “. Jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nur Cahya atau Nur Rasa (Mulyono 1978 : 18) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula (Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto (1969 : 31) berpendapat dan menggambarkan (dalam bentuk kaligrafi) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” Pimpinan Rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih (timoer, tt : 13). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” (timoer 1994 : 4), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaan-Nya yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebathinan Sapta Dharma (Mulyono 1978 : 35)

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuannya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 (Cermomanggolo 1995 : 5).
Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono (Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10).

Dikemukan oleh Arum (1995:10) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati “Kawruh Sangkan Paraning Dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan Kawruh Sangkan Paraning Dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer (1994:4) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra Dentawyanjana.
Bahkan jika mengacu pendapat Warsito (dalam Ciptoprawiro 1991:46) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka

JAMAN KALABENDU

GEJALA MASYARAKAT YANG KEHILANGAN ARAH
Oleh : Ki Ageng Mangir

Kondisi masyarakat bangsa Indonesia saat ini sungguh sangat menyedihkan, dengan kondisi yang boleh dikatakan anarki. Aparat keamanan sama sekali tidak dianggap, tidak lagi mampu mengendalikan keadaan, tidak lagi merupakan lembaga yang kredibel bagi rakyat minta perlindungan. Di-kota-kota besar, juga dijalanan antar kota para preman dan kriminal berkeliaran mencari korban pemerasan tanpa rasa takut, setiap orang merasa was-was yang setiap saat bisa menjadi korban kriminalitas atau pun kekerasan dijalanan baik pada saat naik kendaraan maupun berjalan kaki.

Kita mulai mempertanyakan apa yang telah dan sedang terjadi dengan bangsa Indonesia yang membanggakan dirinya sebagai bangsa yang ramah tamah dan banyak senyum ?
Apa jawaban dari gejala pertanda zaman ini ?
Mungkin kita bisa melakukan analisa dan mencoba mencari penyebabnya dan mungkin bisa menemukan obat mujarab untuk mengobati masyarakat bangsa Indonesia yang sedang sakit. Bahwa bangsa Jawa dengan warisan Budayanya pernah melukiskan suatu masa yang mirip dengan kondisi saat ini mungkin hanyalah suatu kebetulan ataukah suatu prediksi yang akurat bahwa kondisi seperti saat ini akan dialami oleh bangsa Jawa / Indonesia.

Penulis berulang kali membaca Serat Centhini pada bagian tentang ramalan Jayabaya dan mencoba untuk mengerti maknanya dan relevansinya dengan zaman ini, terutama yang menjelaskan tentang masa yang dinamakan masa Kalabendu.

Note :
Serat Centhini adalah buku dalam bahasa Jawa (aslinya ditulis memakai huruf Jawa) dalam bentuk tembang ‘Macapat’ yang disuruh tulis oleh Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi raja Surakarta – Sunan Pakubuwana V (1820 – 1823) pada kira-kira tahun 1814 yang terdiri dari dua belas jilid yang berisi kisah pelarian dari kedua putra dan satu putri dari Sunan Giri ketika kerajaan Giri di Jawa Timur dijatuhkan oleh Sultan Agung dari Mataram dan kisah perjalanan ini yang merekam banyak kisah, cerita, legenda, kepercayaan, tata-cara budaya Jawa dari ujung ke ujung Pulau Jawa yang meliputi banyak daerah pedalaman maupun pinggiran yang kadang-kadang tidak terpengaruh oleh kekuasaan kerajaan Mataram. (Sumber penulisan artikel ini adalah Serat Centhini yang sudah diterjemahkan dalam dalam bentuk huruf latin, tapi masih menggunakan bahasa Jawa madya).

Ramalan Jayabaya.
Banyak ramalan atau prediksi masa depan bangsa Jawa dan semua ramalan dinamakan ramalan
Jayabaya, penulis sendiri tidak tahu mana yang asli dan mana yang hanya sekedar dari mulut kemulut.

Satu-satunya sumber yang menjadi referensi penulis adalah yang tertulis dalam Serat Centhini pada akhir Jilid III pupuh 256 dan Jilid IV pupuh 257 dan 258.
Pada awal Pupuh 256 dikatakan :
“Kalanira sang Prabu, Jayabaya Kadhiri ngadhatun, katamuan pandhita saking Rum nagri, nama Molana Ngalimu, Samsujen tahu kinaot.”

Jadi ramalan yang dikemukakan oleh Prabu Jayabaya berasal dari ajaran Maulana Syekhh Ngali Samsujen yang dalam pupuh selanjutnya berdasarkan Kitab Musarar.
Selanjutnya dalam ramalan yang bermula dari tarih Masehi membagi zaman menjadi masing-masing tujuh ratus tahun yaitu zaman : Kaliswara, Kaliyoga, dan Kalisi- Ngareki.

Masing-masing 700 tahun dibagi menjadi tujuh seratus tahunan sedangkan seratus tahunan dibagi menjadi tiga 33 tahunan.
Dengan pembagian tahun hanya sampai dengan tiga kali 700 tahun, Jayabaya seolah-olah meramalkan bahwa akhir zaman akan terjadi pada abad ke 21.

Sedangkan ramalan yang terjadi pada empat abad terakhir tentang tanah Jawa adalah pada pupuh 256, tembang 44 s/d 47 sebagai berikut (yang merupakan bagian dari tujuh abad zaman Kalisangireki) :

1. Kaping pat aranipun, jaman Kalabendu werdinipun, estu Bebendu wahananeki, keh jalma saluyeng rembug, dumadya prang lair batos.

2. Ping  lima  aranipun, jaman  Kalasuba tegesipun, jaman suka wahananira keh jalmi, antuk kabungahan estu, rena lejar sakehing wong.

3. Kaping  nem  aranipun, jaman Kalasumbaga puniku, werdi zaman Misuwur wahanineki, keh jalma gawe misuwur, mrih kasusra ing kalakon.

4. Kasapta aranipun, jaman Kalasurata rannipun, werdi jaman Alus wahananoreki, akeh jalma sabiyantu, ing budining karahayon.

Jadi setelah bangsa Jawa/Indonesia melewati zaman Kalabendu akan mengalami tiga abad zaman keemasan dan kemahsyuran sampai dengan akhir zaman. Cuma kalau menurut perhitungan Jayabaya zaman Kalabendu adalah periode tahun 1800-1900, sedangkan sampai saat ini tanda-tanda zamannya masih seperti zaman Kalabendu (yang mungkin periode 1900-2000) dan setelah melewati tahun 2000 sampai dengan akhir zaman bangsa Jawa/Indonesia akan mengalami masa kejayaannya.

Selanjutnya pada pupuh 257, Jayabaya meramalkan akan ada tujuh kerajaan dimulai dari kerajaan Pejajaran di tanah Jawa dan setelah itu tanah Jawa tidak lagi ada kerajaan, yang terjadi pada saat zaman Kalabendu.

Interpretasi tujuh kerajaan adalah: Pejajaran, Majapahit, Pajang, Demak, Mataram, Surakarta, Yogyakarta dan masa kemerdekaan yang tidak ada kerajaan lagi di Indonesia.

Dalam Pupuh 257 tembang 23 tercermin peralihan dari zaman kerajaan sebagai berikut :
Sirnaning kang, kadaton jalaranipun, wawan-wawan lawan, bangsa sabrang kulit kuning, Mawa Srana Tatunggul Turun Narendra.
Yang bisa diterjemahkan bahwa kedatangan bangsa sebrang kulit kuning (Jepang) sebagai sarana tidak ada lagi kerajaan di Jawa / Indonesia.

Zaman Kalabendu.

Pada pupuh 257 tembang 24 sampai dengan 44 dijelaskan secara terperinci tanda-tanda zaman Kalabendu. Penulis sendiri belum pernah membaca Serat Kalatidha karangan R.Ng. Ranggawarsita, yang kelihatannya telah disadur dan dimasukkan dalam bagian dari Serat Centhini pada bagian ini – ini sangat mungkin terjadi karena penulisan Serat Centhini terjadi pada satu masa dengan masa kehidupan R. Ng. Ranggawarsita, bahkan pembukaan Serat Centhini jilid 5, dibuat oleh beliau.

Kemungkinan lain kenapa masa Kalabendu mendapat porsi yang lebih banyak dalam Serat Centhini :

1. Interpretasi bahwa Kalabendu adalah zaman periode tahun 1800-1900 dimana saat penulisan Serat Centhini.
2. Serat Kalatidha yang disadur kedalam Serat Centhini pupuh 257 adalah sekedar ilustrasi apa yang sedang terjadi pada zaman itu oleh Ranggawarsita dan sama sekali bukan ramalan.

Ilustrasi apa yang terjadi pada masa Kalabendu sangat mirip dengan apa yang sedang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini, oleh karena itu terbuka suatu interpretasi bahwa masa Kalabendu adalah periode yang akan berakhir pada tahun 2000. Pertanda zaman sama sekali belum terlihat tanda-tanda bahwa kita memasuki zaman Kalasuba yaitu suatu periode setelah zaman Kalabendu berakhir (seperti yang di prediksi oleh Jayabaya).

Barangkali kita bisa mencoba melihat ilustrasi dari masa zaman Kalabendu yang dimulai dari tembang 28 s/d 44 pupuh 257 Serat Centhini jilid IV :

1. Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
Artinya: Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.

2. Keh wahyuning eblis laknat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.
Artinya : Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.

3. Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
Artinya : Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin ber-aneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.

4. Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.
Artinya : Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan/perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.

5. Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.
Artinya : Alam pun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.

6. Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.
Artinya: Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram dihati.

7. Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.
Artinya : Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.

8. Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.
Artinya : Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.

9. Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak cakrak.
Artinya : Para pemimpin mengatakan se-olah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.

10. Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.
Artinya : Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan ber-beda-beda tingkah laku / pendapat orang senegara.

11. Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.
Artinya : Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda2 yang tersembunyi dalam peristiwa ini. (kelihatanya ini adalah ungkapan hati pembuat tembang ini).

12. Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.
Artinya : Berupaya tanpa pamrih.

13. Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.
Artinya : Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan (peringatan dari R.Ng. Ranggawarsita).

14. Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.
Artinya : Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.

15. Yen  tan  melu,  anglakoni  wus  tartamtu,  boya  keduman,  melik  kalling  donya  iki,  satemahe kaliren wekasane.
Artinya : Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.

16. Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya : Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).

17. Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.
Artinya : Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.

Kalau kita perhatikan ilustrasi zaman Kalabendu adalah sangat mirip dengan ‘bebendu’ atau ‘kekalutan’ yang sedang terjadi saat ini yang kelihatannya tidak satupun pemimpin yang mampu mengatasi (baik yang formal yang sedang mejalankan roda pemerintahan maupun pimpinan informal diluar  pemerintahan – bahkan pimpinan ABRI yang punya senjata pun tidak mampu mengatasi masalah – bahkan cenderung seperti orang bingung / linglung – yang se-mata-mata terpengaruh oleh perbawa zaman Kalabendu yang tidak mungkin bisa dihindari).

Zaman Kalasuba.

Pada pupuh 258, dimulai suatu  perubahan dari zaman Kaladuka ke zaman Kalasuba yang lebih baik seperti pada tembang 1 s/d 6 sebagai berikut :

a. Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.
Artinya : Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murka pun mereda.

b. Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
Artinya : Kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama. (note : yang diterjemahkan banyak pihak sebagai ‘satria piningit’).

c. Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
Artinya: Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.

d. Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
Artinya : Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (note : penulis tidak tahu apa maksudnya, perlu interpretasi tentang nama ini), tidak ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan terhadap Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah se-mata-mata zikir, musuh semua bisa dikalahkan (note: suatu indikasi bahwa pemimpin yang akan muncul adalah seorang Muslim yang sangat taat beragama, yang semata-mata iman yang sangat tebal kepada Allah SWT yang membimbingnya dan menjadi kekuatannya).

e. Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun uwiha.
Artinya : Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima. (note : suatu indikasi bahwa kejujuran, kesederhanaan, dan tidak mau melebihi apa yang menjadi penghasilannya – tidak kurang tidak lebih – menjadi ciri utama dari pemimpin yang baru. Dalam tembang ini sangat jelas dilukiskan kelemahan pemimipin adalah sikap berlebih-lebih-an yang pada posisi sebagai pimpinan cenderung tidak menerima apa yang secara murni diberikan oleh negara sebagai penghasilannya sehingga menimbulkan banyak ‘kreativitas’ untuk mendapatkan ‘tambahan’ penghasilan yang sulit dikontrol batas-batas-nya yang merugikan rakyat banyak yang contoh nyatanya adalah situasi kehidupan para pimpinan/pejabat pemerintahan selama 32 tahun rezim Soeharto berkuasa dan juga sampai dengan saat ini).

f. Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
Artinya : Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.

g. Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
Artinya: Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.

Kesimpulan.
Ilustrasi zaman Kalabendu adalah mirip dengan kondisi bangsa Indonesia pada saat ini sebagai pertanda zaman dimana masyarakat kehilangan arah yang merupakan tahap akhir sebelum bangsa Indonesia bisa mengatasi dengan kedatangan pemimpin yang adil dan bijaksana. Bisa saja hal ini adalah sekedar suatu ‘angan-angan’ atau suatu harapan apabila suatu bangsa atau masyarakat mengalami tekanan kesulitan yang sangat sulit diatasi seperti pada saat ini sehinga harapan akan munculnya Ratu Adil (Satria Piningit) adalah sekedar suatu pelampiasan sumbat sosial agar masyarakat masih menaruh harapan akan datangnya suatu perbaikan.

Waktulah yang akan membuktikan bahwa apa yang menjadi ilustrasi dari budaya Jawa baik oleh Prabu Jayabaya dari Kediri maupun R. Ng. Ranggawarsita adalah sekedar ilustrasi pada masanya yang kebetulan berulang pada saat ini dan bisa saja berulang lagi dimasa yang akan datang atau merupakan prediksi yang mungkin bisa terjadi yang kita mengalami masa Kalabendu tahap akhir yang akan menuju masa Kalasuba yang penuh harapan.

Tujuan tulian ini adalah :

Mengemukakan suatu ilustrasi zaman sesuai dengan referensi budaya Jawa.
Mengingatkan kembali bahwa dalam menghadapi kesulitan, kebingungan, kekhawatiran yang amat sangat pada saat ini, peringatan R. Ng. Ranggawarsita adalah sangat relevan untuk kita cermati kembali ‘luwih begja kang eling lan waspada’ yaitu kunci keselamatan agar kita tetap mampu mengontrol tingkah laku kita untuk tidak ikut-ikutan gila / edan walaupun dalam kesulitan seberapa pun besarnya untuk menjaga perbuatan kita agar tetap menjaga sifat budi luhur tidak ikut-ikutan korupsi, tidak ikut-ikutan menjarah, tidak ikut-ikutan merampok dijalanan, tidak ikut-ikutan merusak, menyerahkan semuanya dengan ikhlas kepada Allah SWT yang hanya atas izinnya semata semua kejadian akan bisa berlaku apakah seseorang mendapat suatu kesulitan / musibah ataupun dipermudah jalannya. (Walaupun tidak mudah bersikap seperti ini pada zaman ini – dan ini nyata-nyata cobaan buat diri kita semua – dan tidak semua orang mampu lulus ujian melewati zaman Kalabendu dengan selamat kecuali ‘yang eling lan waspada’).
Memberikan harapan bahwa keadaan akan lebih baik bila zaman Kalabendu berakhir dan perbawa (kewibawaan) pemimpin bisa kembali dengan datangnya zaman Kalasuba.

Note: Terjemahan dari tembang Jawa kedalam Bahasa Indonesia adalah berdasarkan interpretasi pribadi penulis dengan banyak keterbatasan pemahaman bahasa Jawa madya.
Penulis menyilahkan kalau ada pembaca yang ingin memberikan koreksi untuk terjemahan/interpretasi yang lebih akurat.

KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI

KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI
WECAN TUNJUNG SETA
TUMEKA KAKI SEMAR
GINUBAH DENING  : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA

dandang gulo
1.
INGSUN MELING MRING SIRA KALIHNYA
KANG DADYA SESENGGEMANE
NGIRIDA GUNG LELEMBUT
BALA SILUMAN NUSA JAWI
KABYANTOKNA SANG NATA
H E R U C A K R A P R A B U
NATA TEDHAKING BARATA
WIJILIRA ING KETANGGA SONYARURI
SAJRONING ALAS PUDHAK

2.
DUK TIMURNYA BABARAN SURANDHIL
INGKANG IBU TEDHAKING MATARAM
KANG RAMA TRAHING RASULE
G I N A I P  M I Y O S I P U N
SANG TUNJUNG SETA JEJULUK NEKI
DUK SIH KINEKER MARANG HYANG
KESAMPAR KESANDUNG
JALMA SAMYA KATAMBUHAN
TAN WIKAN MRING PUDHAK SINUMPET SINANDI
DEWA MANGEJAWANTAH

Paradoks Semar

PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.

Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Bathara Guru, Maya itu Semar. Bathara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).

Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.

Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.

Bathara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah.
Bathara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Bathara Semar penguasa keos.
Bathara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Bathara Semar sepenuhnya urakan.
Bathara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata.
Bathara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan – kebijaksanaan.
Bathara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).
Bathara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.

Bathara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria.
Bathara Guru selalu hidup di lingkungan yang “wangi”, sedang Semar suka kentut sembarangan.
Bathara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.

Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Bathara Guru dan Bathara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih “tua”? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).

Ketika Bathara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya “ada” itu “tidak ada”, sedangkan yang “tidak ada” diterka “bukan”, yang “bukan” diterka “ya”.

Dengan demikian Bathara Semar lebih “tua” dari adiknya Bathara Guru. Semar itu “kakak” dan Bathara Guru itu “adik”, suatu pasangan kembar yang paradoks pula.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidak tahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidak tahuan kita mengenai Tuhan.

Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.

Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.

Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Bathara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.

Semar adalah kakak lebih tua dari Bathara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.

Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh “yang lain”.

Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Bathara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Bathara Lengser.

Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi “turun”. Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahan-bawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.

Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.

Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.

Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.

Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.

Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.
Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.

Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan

3.
WUS PINASTI KANG MURBENG DUMADI
SANG TUNJUNG SETA KINARYA DHUTA
JUMENENG PARANPARANE
N G A D I L I  N U S A N I P U N
NGASTHA DARMANING UMUM’
KALIS ING MAYANE NDOYA
WUS WINELEG MUKTI WIBAWANING DIRI
ING KETANGGA SILUMAN

4.
SATRU MUNGSUH SAMYA HANGEMASI
TUMPES TAPIS KATAMAN PRABAWA
KASEKTEN SABDA CIPTANE
NGGEGIRISI BALANIPUN
WUJUD KALABANG KALAJENGKING
S I R U L L A H  A J I N I P U N
P R A J U R I T  L E L E M B U T
IKU KANG WEKAS INGWANG
SIRA NDEREK ANGEMONG ING TEMBE WURI
SANG NATA BINATHARA

5.
WONG CILIK SAMYA SUKA ING ATI
GUMUYU MURAH SANDHANG LAN TEDHA
GUYUB RUKUN SESAMANE
SAMYA MADHEP SUMUJUD
NGARSENG HYANG WIDHI LAN NJENG GHUSTI
W E D I   W E W A L A T I R A
WINGITING SANG RATU
MANANGKA JAMAN KENCANA
KAKANG SEMAR GYA TINDAKNA WELING MAMI
NGIRIDTA GUNG LELEMBUT

6.
MANANGKA WELINGE SANG AJI
SRI JAYABAYA NATA BINATHARA
MRING SANG PAMONG KALIHE
KAKANG SEMAR UMATUR
PUKULUN JAYABAYA AJI
PUN KAKANG WUS ANAMPA
KABEH SABDANIPUN
DADYA PASEKSENING JANGKA
MANGEJA WANTAHIRA PADUKA AJI
SANG NATA BINATHAR

7.
JUMENENGIRA GUSTHI PRIBADI
LAMUN JANGKANING NUSA TUMEKA
NORA ENDHAS LAN BUNTUTE
PUN KAKANG WUS SUMAGGUH
NGEMONG SANG TUNJUNG SETA AJI
LAN NGIRID BYANTOKNA
S A G U N G I N G  L E L E M B U T
SINEGEG WAWAN SABDANYA
SRI JAYABAYA LAN PAMONGNYA KEKALIH
MECA JANGKANING NUSA

SERAT SABDO PALON

Prabu Nata Aji Jayabaya

Sinom
Pada sira ngelingana
Carita ing nguni-nguni
Kang kocap ing serat Babad
Babada nagari Mojopahit
Nalika duking nguni
Sang-a Brawijaya Prabu
Pan samya pepanggihan
Kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabda Palon Naya Genggong rencangira.
Sang-a Prabu Brawijaya
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng punakawan
Sabda Palon paran karsi
Jenengsun sapuniki
Wus ngrasuk agama Rasul
Heh ta kakang manira
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya.
Sabda palon matur sugal
Yen kawula boten arsi
Ngrasuka agama Islam
Wit kula puniki yekti
Ratuning Dang Hyang Jawi
Momong marang anak putu
Sagung kang para Nata
Kang jumeneng ing tanah Jawi
Wus pinasthi sayekti kula pisahan.
Klawan Paduka sang Nata
Wangsul maring sunya ruri
Mung kula matur petungna
Ing benjang sakpungkur mami
Yen wus prapta kang wanci
Jangkep gangsal atus taun
Wit ing dinten punika
Kula gantos agami
Gama Budha kula sebar ing tanah Jawa.
Sinten tan purun nganggeya
Yekti kula rusak sami
Sun sajakken putu kula
Berkasakan rupi-rupi
Dereng lega kang ati
Yen durung lebur atempur
Kula damel pratandha
Pratandha tembayan mami
Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
Ngidul ngilen purugira
Nggada banger ingkang warih
Nggih punika wedal kula
Wus nyebar agama budi
Merapi janji mamai
Anggereng jagad satuhu
Karsanireng Jawata
Sadaya gilir gumanti
Boten kengingkalamutu kaowahan.
Sanget-sangeting sangsara
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sinengkalan tahunira
Lawon Sapta Ngesthi Aji
Upami nyabarang kali
Prapteng tengah-tengahipun
Kaline banjir bandhang
Jeronne ngelebna jalmi
Katahah sirna manungsa prapteng pralaya.
Bebaya ingkang tumeka
Warata sa Tanah Jawi
Ginawe kang paring gesang
Tan kenging dipun singgahi
Wit ing donya puniki
Wonten ing sakwasanipun
Sedaya pra Jawata
Kinarya amertandhani
Jagad iki yekti ana kang akarya.
Warna-warna kang bebaya
Angrusaken Tanah Jawi
Sagung tiyang nambut karya
Pamedal boten nyekapi
Priyayi keh beranti
Sudagar tuna sadarum
Wong glidhik ora mingsra
Wong tani ora nyukupi
Pametune akeh sirna aneng wana.
Bumi ilang berkatira
Ama kathah kang ndhatengi
Kayu katahah ingkang ilang
Cinolong dening sujanmi
Pan risaknya nglangkungi
Karana rebut rinebut
Risak tataning janma
Yen dalu grimis keh maling
Yen rina-wa kathah tetiyang ambengal.
Heru hara sakeh janma
Rebutan ngupaya anggering praja
Tan tahan perihing ati
Katungka praptaneki
Pageblug ingkang linangkung
Lelara ngambra-ambara
Warding saktanah Jawi
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.
Kesandhung wohing pralaya
Kaselak banjir ngemasi
Udan barat salah mangsa
Angin gung nggegirisi
Kayu gung brasta sami
Tinempuhing angin agung
Katahah rebah amblasah
Lepen-lepen samya banjir
Lamun tinon pan kados samodra bena.
Alun minggah ing daratan
Karya rusak tepis wiring
Kang dumunung kering kanan
Kajeng akeh ingkang keli
Kang tumuwuh apinggir
Samya kentir trusing laut
Sela geng sami brasta
Kabalebeg katut keli
Gumalundhung gumludhug suwaranira.
Hardi agung-agung samya
Huru-hara nggegirisi
Gumleger swaranira
Lahar wutah kanan kering
Ambleber angelebi
Nrajang wana lan desagung
Manungsanya keh brasta
Kebo sapi samya gusis
Sirna gempang tan wonten mangga puliha.
Lindhu ping pitu sedina
Karya sisahing sujanmi
Sitinipun samya nela
Brekasakan kang ngelesi
Anyeret sagung janmi
Manungsa pating galuruh
Kathah kang nandhang roga
Warna-warna ingkang sakit
Awis waras akeh klang prapteng pralaya.
Sabda Palon nulya mukswa
Sakedhap boten kaeksi
Wangsul ing jaman limunan
Langkung ngungun Sri Bupati
Njegreg tan bisa angling
Ing manah langkung gegetun
Kedhuwung lepatira
Mupus karsaning Dewadi
Kodrat iku sayekti tan kena owah.

SERAT SABDA PRANAWA

Angitanipun R.Ng. Ranggawarsita
– 01 –
Rasaning tyas kayungyun ngayati, lukitaning sekar dhandhanggula, linalar srana wengane, krentek osiking kalbu, katarbuka weninging budi, kang nedya maharjeng tyas, sarwi weh pitutur, sumingkir mring para-cidra, myang mirangrong murang ing reh krama-niti, tinilar ing jro cipta.
Sabda = pangandika, pranawa = padhanging manah, dados tegesipun: Pangandika ingkang ndadosaken padhanging manah. Menggah gathukipun kaliyan wasitaning ngelmi, makaten wau winastan: Pangandikaning Allah. Dados wosipun nerangaken bilih karangan serat Sabda-pranawa (= jangka), punika mendhet wewaton saking dhawuh pangandikaning Allah. Dene ‘Sabda-pranawa’ wiwit pada 1 suraosipun makaten:
Larasing panggalihipun Sang Pujangga kasengsem ngadani badhe medharaken sasmitaning jaman, kanthi rinengga (kaanggit) ing sekar Dhandhanggula, menggah tuwuhing sasmita wau sampun kalimbang-limbang ngantos dumugi kabukaning raos, krentek saha osiking manah ingkang sampun tinarbuka manjing kaweningan sarta padhang pikiranipun anggening badhe sumedya nata karahayoning budi, sarana piwulang sageda sumingkir saking tindak para-cidra, punapa malih pandamel piawon, ingkang nyimpang saking patrap kasusilan, sadaya wau sampun ngantos sumimpen ing manah.

– 02 –
Den anedya amituhu maring, gaibing Hyang jroning jaman edan, iku wus dadi karsane, Gusti Hyang Mahaagung, anggung maweh atising kapti, tata-tataning gesang, kataliwar mawut, ruwete saya andadra, dipun sami nyenyuda ardaning budi, ulah titising sedya.
Ing salebetipun jaman ewah, kawontenanipun tetiyang kathah ingkang remen goroh ngapus-apusi sarta bedhangan, kathah tiyang ingkang kuwalik panganggepipun, pratingkah awon anggepipun sae, tuwin sapanunggilipun. Mugi nggadhahana sedya ingkang tumemen anggening ngestokaken kaparenging Pengeran ingkang taksih sinengker, amargi tuwuhing jaman wau, sampun kinodrat (pinasthi) dening Gusti Ingkang Maha agung, mila tansah tuwuh lelampahan ingkang damel atising kekajengan, tumraping pranatan wajibing gesang sampun mawut ketula-tula, kisruhing lelampahan saya adadra, awit saking punika dipun sami nyenyudaa kekajengan ingkang ngambra-ambra, lajeng kaparenga nggegulang pratitising tekadipun.

– 03 –
Ngajap maring rahayu ngayemi, ngayomana samining tumitah, ngendhak arda kamurkane, ngendhangken tindak dudu, den dawaa tumibeng tebih, bablas kentas anatas, tyasing pra tumuwuh, katarbuka mung anedya, tumindak mring rahayu anrusing budi, dumadi yogya tama.
Mangesthiya dhateng karahayon ingkang nyrambahi damel asreping manah, sarta ngayomana sasamining tumitah, punapa malih ngendhakna osiking manah ingkang adreng tuwin kamurkaning hawa-nepsu ingkang ndadosaken pepeteng, nyingkiraken tindak ingkang nyimpang ing kaleresan, kaduaa ngantos dhumawah ing tebih, bablas lebur sadayanipun. Lejeng sagung dumados manahipun sami tinarbuka, lair batosipun namung sumedya tumindak dhateng karahayon, ing wasana kawontenanipun dados prayogi sarta utami.

– 04 –
Beda lan kang pangajaping kapti, ngaji pupung mupung dadi gesang, sadina-dina den tutke, rubedaning tyas ngumbruk, gung kininthil mung atut wuri, riwut mawut ing nala, arawat dahuru, korup kaserung tyas growah, wahanane gorohnya saya andadi, sadaya mung yun cidra.
Beda kaliyan ingkang pangestunipun remen ngaji pupung, mupung taksih geseng ing sadinten-dinten dipun tutaken rubedaning manah, warna-warni ngantos mgumbruk kathah sanget, tansah kininthil, namung tut wingking kemawon, tumindakipun riwut ngantos mowat-mawut gesangipun, manahipun kebak reresah, ketarik saking korup kadhesek cupeting budi ngagengaken para-cidra, sadaya sami pinter goroh.

– 05 –
Hang nglayang budayaning urip. Tanpa bayu weyane ndaluya, sacipta-ciptaning tyase, mung sarwa gidhuh, mbebayani samining urip, budine saya rusak, padone tan payu, ajine wus ora ana, analutuh pakewuhe saya ndadi, dumadi kasangsara.
Budi-dayanipun kabur ical, badan cape, sepen ing panggraita, ciptaning manah saben jumedul namung tansah damel gidhuh, lajeng dados ama ingkang bebayani tumrap sasamining gesang, amargi budinipun saya risak, rembagipun boten pajeng (awis ingkang pitados), ajining badan sampun boten wonten, jalaran kepatuh ing piawon, mila pakewedipun sangsaya ndados, ing temahan gesangipun manggih sangsara.

– 06 –
Rongeh rungkat utamaning urip, ringa-ringa kari ura-ura, dhandhanggula mrih agawe, lejar enggaring kalbu, angleluri leluhur nguni, abote dadi gesang, saking dennya wayuh, wayuh wahyu paringing Hyang, ya bok donya kalawan embok rijeki, kang sami awratira.
Ing jaman wau manahipun tetiyang sami rongeh (bingung), ical tabeting kautamen, amung rangu-rangu (samar) kantun ura-ura sekar dhandhanggula kangge nglelipur supados saged damel pepadhang saha senenging manah, sarana nggegesang pamanggihipun para leluhur ing kina, saking awratipun dumados gesang, jer sampun kinodrat dening Pangeran, kedah saged wayuh garwa kekalih, inggih punika Bok Donya lan Bok Rijeki, punika sami awratipun.
(Katrangan: Bok Donya ibaratipun kasugihan, kadosta: raja-brana sandhang-pangangge, raja-darbe, garwa putra, tuwin sanes-sansipun. Bok Rijeki ngibaratipun: Tedha)

– 07 –
Garapannya langkung gawat rungsit, sami datan kena yen katilar, nanging ta panggupitane, Ki Pujangga tyasipun, anggung mangu-mangu tan sipi, kalintuning pamawas, wawasaning kalbu, mring arja mulyaning gesang, saking sruning kataman ing tyas prihatin, tansah muleting prana.
Garapanipun pancen langkung gawat sarta rungsit, amargi sandhang tuwin tedha punika boten kenging manawi katilar salah satunggal. Mila panganggitipun Kyai Pujangga ing panggalih tansah sumelang sanget, bokmanawi kalintu ing pamawasipun dhateng karahayon sarta kamulyaning gesang amargi katarik saking sangeting nandhang prihatos, ingkang tansah nggubel ing panggalih.

– 08 –
Wartanira pra ambek linuwih, wawasaning nala wus tetela, miturut ing kahanane, ran jaman woah tuhu, keh ngowahi sagung pakarti, pakewuh saya ndadra, sadaya tumuwuh, mung ewuhaya tyasira, ngeres macek sesambate tanpa uwis, uwas kaworan maras.
Miturut pangandikanipun para linangkung, mendhet saking wawasaning panggalih jumbuhipun kaliyan kawontenan sampun saged cetha saestu, nerangaken bilih badhe tuwuhing jaman, kawastanan jama ewuh, tegesipun ing jaman wau tumindakipun tiyang kathah ingkang maleset cidra ing janji, lajeng tuwuhipun pakewed saya ndadra manahipun sagung dumados namung tansah ewuhaya badhe tumindakipun, kanthi raos ngeres atis sanget kaliyan sesambat melas-asih.

– 09 –
Sinasaban rahayuning budi, nging dukane jaman sangsayarda, nglimputi sakeh panggawe, kang maring mbek rahayu, krana saking uwus tan keni, sinirep kabudayan, budiman martarum, yen durung kala masanya, malah saya maweh sangsara ngranuhi, wus karsaning Hyang Suksma.
Sanadyan dipun aling-alingana alusing bebuden, nanging katarik jamanipun saweg kenging deduka, dados tuwuhipun inggih malah sangsaya sanget nglimputi sakathahing pandamel ingkang tumuju dhateng karahayon, mila inggih boten kenging kaendhaaken sarana kalangkunganing budi sarta berbudi ambek paramarta, sadaya wau manawi dereng dumugi ing kala mangsanipun malah mewahi sangsara kanthi atis, amargi sampun pinasthi karsaning Pangeran.

– 10 –
Tatanane mung anggung anggili, panutane ambek angkararda, pikantuk kala mangsane, wengane sedyanipun, saya cetha nglela kaeksi, limut mring kautaman, riwut ngawut-awut, watak candhala andadra, udreg-udregan kalawan tyas jail drengki, weh wimbuh kasangsara.
Tatananing praja tansah lumintu tumrap anggenipun ngagengaken kamurkan kanthi pameksa, tumindakipun saged kalampahan jalaran nyarengi ing kala mangasanipun, mila osiking sedyanipun boten mawi ewed pakewed, langkung cetha tanpa tedheng aling-aling, kesupen dhateng kautamen, tumindakipun para tiyang sami riwut ngowat-awut tetanggelanipun. Ingkang watek budi candhala makaten wau lajeng kathah panunggilipun, tansah rame pasulayan udreg-udregan, kaliyan ingkang watek jail tuwin drengki, jalaran saking meri, ing wasana malah nambahi kasangsaranipun.

– 11 –
Ing antara laju saya keksi, lelamuking jaman katingalan, rupak rumpil kahanane, saya dreng weh wulangun, panguripan amorat-marit, sirna tentreming nala, wong udrasa manggung, gawangan saenggonira, nyenyet samun sesunare sukeng kapti, tansah kapilet susah.
Kalampahanipun ngantos sawatawis lami saya katingal lamuking jaman, lelampahaning tiyang langkung mepet tambah rumpil (riwil) tumindakipun, amargi saya nesek tansah keraos-raos, lampahing panggesangan boten kanten-kantenan, ical katentremanipun, ing saenggen-enggen kathah tiyang nangis salebeting batos, anggening tansah gawang-gawangan (katingal cetha) kagubel ing kasusahan, sadaya katingal nyenyet sepi samun boten wonten semunipun tiyang seneng.

– 12 –
Kekah kukuh tan kena den ungkih, sangsaraning sagung pra ngagesang, kehing srana tanpa gawe, kemat isyarat lebur, bubur bubar tan andayani, angles kekesing nala, sangsaya anglantur, tumutur saparan-paran, mahanani tidhem – tandhaning dumadi, begjane sing den uja.
Kasangsaranipun kekah boten kenging dipun angkah murih ical, inggih punika ingkang tumrap tetiyang kathah. Sakathahipun sarana kangge ngicali sangsara wau sampun tanpa damel, kemat (pengasihan) isyarat sami lebur ing bubur tanpa daya, dhateng manah ngantos angles kekes, saya dangu saya ngantur ngetutaken sapurug-purug, wahananipun lajeng damel ical (sirna) sipating kamanusanipun, begjanipun tiyang ingkang saweg jinurung.

– 13 –
Dhungkar maring gunung giri-giri, ingkang geneng padha jinugrugan, tan pisan ana kang nyruwe, wedi yen dipun sretu, yekti kabur kabuncang tebih, wit lagi winong Dewa, widigdaya punjul, sasaminira tumitah, singa mawas mesthi lebur tanpa dadi, ndlarung sakarsa-karsa.
Dhungkar gunung giri-giri sarta njugrugi ingkang geneng-geneng, punika ibaratipun para luhur (priyantun ageng) dipun risak darajatipun utawi panguwaosipun, sarta ingkang hartawan dipun keruk, ewa dene boten pisan wonten ingkang nyaruwe, amargi ajrih manawi dipun sertu mesthi kabucal dhateng tanah ingkang tebih, lah tiyang saweg winongwong ing Jawata, dhasar langkung digdayanipun ngungkuli para tumitah, sinten kemawon ingkang ngulat-ulataken badhe damel pakewed mesti lebur tanpa dados, mila ndlarung sakarsa-karsa.

– 14 –
Sanadyan kasaranipun boten wonten ingkang wani ngebah-ebah punapa malih ngentasaken, pancen kekah santosa yektos, mila para prikonca kantun ngraosaken ngenesing manahipun, ing batos namung gumun, miturut piwulangipun tiyang saged, kedah ingkang mulat anggenipun ningali tuladan utami, ajrih asiha dhateng Pangeran ingkang kuwaos nitahaken bumi lan langit, dipun suwuna supados luntur sihipun.

– 15 –
Supayantuk awas lawan eling, nitekena lelejeming jaman, kang bakal linakon tembe, yeku sajroning taun, windu kuning kono kaeksi, wewe putih amawa, gaman tebu wulung, yun kinarya amrajaya, wedhon ingkang idune kaliwat mandi, dadya esuh sirnanya.
Pinaringan awas lawan enget, sarta nyatitekna dhateng sulak utawi keclaping jaman ingkang badhe linampahan ing tembe, inggih punika salebeting tahun: windu kuning (windu kencana = jaman kencana, inggih punika jamanipun manusa sami jejeg adil netepi jejering kasatriyan. Dene menggah seneng lan nikmatipun kita boten saged nggambaraken ing angen-angen, namung bangsa ingkang sampun ngraosaken leginipun jaman kencana kemawon ingkang saged kojah klawan gamblang lan ceples. Kangge kita kados dene ing masa wau, ing sapunika sampun wiwit katingal trontong-trontong kados siratipun Sanghyang Sumorot ing wanci bangun (enjing), ing ngriku badhe katingalipun: Wewe putih, mbekta dedamel tebu wulung, badhe mrajaya (natoni) wedhon ingkang idunipun ampuh, temahan ndadosaken lebur tuwin sirna.
(Katrangan: wewe putih = memedi, damelipun ngajrih-ajrihi; putih = suci; tebu wulung = mbokmanawi: wuluhing sanjata; wedhon = bangsa pethak; idu ampuh = parentah ingkang mesti kelampahanipun, utawi mesti dipun gega, saminipun = idu geni, punika tiyang ingkang saweg dipun gega cariyosipun).

– 16 –
Rasanira wus karasa yekti, kesuk saking panguwasnira, Hyang Mahamulya kang gawe, ala kalawan ayu, sadayaning tinitah urip, wahyune gya tumiba, barkahe Hyang Agung, tyasira sagung agesang, kukuh bakuh mbek arja lulus lestari, salamet pra tumitah.
Tetiyang sampun sami kraos lan rumaos kedhesek dening karsaning Pangeran, inggih punika ingkang kuwaos damel awon saening tumitah, nunten wahyu dhumawah sarta angsal barkahing kang Mahaagung, mila manahipun tetiyang sami santosa sanget, sumedya ambek rahayu, lestari kalampahan wilujeng sadayanipun para tumitah.

–17 –
Karkating tyas mung nuju maring, sreping nala samining kawula, yuwana sapiturute, lyan praja samya sayuk, rumeksa mring sakehing urip, mirut larut suranya, saenggon-enggon mangguh, kajen keringan ing angga, gegarane padha rahayu ning budi, dumadi arja mulya.
Krenteking manah namung tumuju dhateng kaayeman (katentreman) ing sasaminipun kawula, tuwin kayuwanan sapiturutipun, liyan praja sami sayuk anggenipun rumeksa ing gesangipun, kuwanenipun (mengsah) sirna larut, ing saenggen-enggen manggih hormat, kajen keringan; pawitanipun sami rahayuning budi, lajeng ndadosaken wilujeng tuwin mulya.

– 18 –
Tatu-tatu samya tuntum sami, lelarane waluya suh sirna, tyas kang mung prihatin bae, ginantyan sukeng kalbu, saparan gung weh seneng kapti, tanana ambek arda, ngantuk nemu kethuk, kang isi dinar kawuryan, suka-suka sagunging para dumadi, begjane wuwuh prapta.
Tetiyang ingkang ketaton (kecuwan) sami pulih, sakiting manah ical, ingkang tansah prihatos santun dados bingah, sapurug-purugipun namung damel seneng kemawon, ambek angkara murka boten wonten, bebasan ngantuk nemu kethuk, tegesipun: manggih begja boten nyana, warni dinar = raja brana, damel bingahing manahipun para tumitah (Tetiyang Kathah), kebegjanipun tansah wewah-wewah.

– 19 –
Amung padha tinumpukan sami, bandha dunya tanna rinareksa, rerusuh wus sirna entek, dadya sadayanipun, rajakaya cinancang njawi, tan srana dipun tengga, salamet lestantun, tan ana kang munasika, durtaning rat wus larut mirut angisis, sumingkir langkung tebah.
Kasugihanipun bandha namung dipun tumpuk wonten ing griya tanpa dipun tengga, (dening kertaning jaman), reresah sampun boten wonten (telas), rajakaya sami kacancang ing njawi tanpa tinengga, ewadene wilujeng boten wonten ingkang munasika (ganggu damel), piawoning jagad sampun larut sami sumingkir, langkung tebih.

– 20 –
Diraning tyas pra durjana juti, sirna gempang gampang gya gumiwang, wewangsone mung agawe, ayem tentreming kayun, kayuwanan sagunging urip, rep-sirep ardeng driya, dayane kayungyun, ngayomi ayuning budya, kang budyarja marjaya mring ambek nisthip, cinuthat tibeng tebah.
Kadibyan (peng-penganipun) durjana tuwin piawon-piawon sirna, gampil maliking panggraita, namung nedya badhe damel ayem lan tentreming manah, kayuwanan sadaya ingkang tinitah gesang, kamurkan sirep, kadayan anggenipun manah adreng kapengin memayu ayuning budi, dende ingkang pancen sampun sae (rahayu) manahipun sami merangi ingkang gadhah manah nistha, kasingkiraken dhumawah ing tebih.

– 21 –
Ninggal maring pakarti lan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansap saregep mring gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, boya ana cengil-cinengil, tut-runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraja kabeh mung arjanti, titi mring reh utama.
Nilar saking pandamel awon, manah teteg (santosa), kanthi tata anggenipun bekti dhateng pamarentah, sregep nyambut damel, jumbuh (cocog) ngandhap lang nginggilipun, boten wonten cengil-cinengil, atut-runtut sagolong ing karsa (tunggal karep) tumrap sadaya titah, wantunipun sampun binuka (angsal wewengan), tetiyang sapraja sadaya manahipun namung nedya wilujeng tuwin titi dhateng kautaman.

– 22 –
Ngratani mring saindenging bumi, keh ing para manggalaning praja, nora kewran nandukake agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh-teguh, tanggon rabarang sinedya, datan pisan ngucira ing lair batin, kang kesthi mung reh aria.
Waradin ngebeki saisining jagad, sakathahing para pangageng nagari ugi boten kewran nandukaken pandamel agal tuwin remit, dados pulih kados nalika jaman rumiyin, manahipun tetiyang sanagari, sami teteg-teteg, teguh tanggon, samubarang ingkang sinedya boten pisan-pisan tilar gelanggang colong playu (medhot banyon), nanging mantep sanget lair dumugining batos, ingkang kaesthi namung dhateng tindak tata raharja.

SERAT SABDA TAMA

Pupuh Gambuh

1. Rasaning tyas kayungyun
Angayomi lukitaning kalbu
Gambir wanakalawan hening ing ati
Kabekta kudu pitutur
Sumingkiring reh tyas mirong
Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal yang salah.

2. Den samya amituhu
Ing sajroning Jaman Kala Bendu
Yogya samyanyenyuda hardaning ati
Kang anuntun mring pakewuh
Uwohing panggawe awon
Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada kerepotan.
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.

3.Ngajapa tyas rahayu
Nyayomana sasameng tumuwuh
Wahanane ngendhakke angkara klindhih
Ngendhangken pakarti dudu
Dinulu luwar tibeng doh
Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

4. Beda kang ngaji mumpung
Nir waspada rubedane tutut
Kakinthilan manggon anggung atut wuri
Tyas riwut ruwet dahuru
Korup sinerung agoroh
Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

5. Ilang budayanipun
Tanpa bayu weyane ngalumpuk
Sakciptane wardaya ambebayani
Ubayane nora payu
Kari ketaman pakewoh
Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.
Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

6. Rong asta wus katekuk
Kari ura-ura kang pakantuk
Dandanggula lagu palaran sayekti
Ngleluri para leluhur
Abot ing sih swami karo
Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu kala,
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.

7. Galak gangsuling tembung
Ki Pujangga panggupitanipun
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti
Tinanggap prana tumambuh
Katenta nawung prihatos
Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan kekurangannya.
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.

8. Wartine para jamhur
Pamawasing warsita datan wus
Wahanane apan owah angowahi
Yeku sansaya pakewuh
Ewuh aya kang linakon
Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.

9. Sidining Kala Bendu
Saya ndadra hardaning tyas limut
Nora kena sinirep limpating budi
Lamun durung mangsanipun
Malah sumuke angradon
Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

10. Ing antara sapangu
Pangungaking kahanan wus mirud
Morat-marit panguripaning sesami
Sirna katentremanipun
Wong udrasa sak anggon-anggon
Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan disana-sini.

11. Kemang isarat lebur
Bubar tanpa daya kabarubuh
Paribasan tidhem tandhaning dumadi
Begjane ula dahulu
Cangkem silite angaplok
Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya dapat makan.

12. Ndhungkari gunung-gunung
Kang geneng-geneng padha jinugrug
Parandene tan ana kang nanggulangi
Wedi kalamun sinembur
Upase lir wedang umob
Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.
Bisa racun ular itu bagaikan air panas.

13. Kalonganing kaluwung
Prabanira kuning abang biru
Sumurupa iku mung soroting warih
Wewarahe para Rasul
Dudu jatining Hyang Manon
Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

14. Supaya pada emut
Amawasa benjang jroning tahun
Windu kuning kono ana wewe putih
Gegamane tebu wulung
Arsa angrebaseng wedhon
Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning (Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).

15. Rasa wes karasuk
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor
Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.

16, Karkating tyas katuju
Jibar-jibur adus banyu wayu
Yuwanane turun-temurun tan enting
Liyan praja samyu sayuk
Keringan saenggon-enggon
Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati dimanapun.

17. Tatune kabeh tuntun
Lelarane waluya sadarum
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki
Wong ngantuk anemu kethuk
Isine dinar sabokor
Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)
yang berisi emas kencana sebesar bokor.

18. Amung padha tinumpuk
Nora ana rusuh colong jupuk
Raja kaya cinancangan angeng nyawi
Tan ana nganggo tinunggu
Parandene tan cinolong
Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang dicuri.

19. Diraning durta katut
Anglakoni ing panggawe runtut
Tyase katrem kayoman hayuning budi
Budyarja marjayeng limut
Amawas pangesthi awon
Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik. Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang jelek.

20. Ninggal pakarti dudu
Pradapaning parentah ginugu
Mring pakaryan saregep tetep nastiti
Ngisor dhuwur tyase jumbuh
Tan ana wahon winahon
Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak ada yang saling mencela.

21.Ngratani sapraja agung
Keh sarjana sujana ing kewuh
Nora kewran mring caraka agal alit
Pulih duk jaman runuhun
Tyase teteg teguh tanggon
Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala. Semuanya berhati baja.

 

– SERAT SABDO JATI –

1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umat-Nya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Dzuhur, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).
seratanipoen Raden Ngabehi Ronggowarsito

 

Konsep Ketuhanan Jawa Menurut Eyang Ismaya (SEMAR)..

Konsep Ketuhanan Jawa With Sang Hyang Ismaya (SEMAR).. Biar Mbah Gendut bergaya dikit.. hehehe.. Masyarakat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan “Tatanan Paugeraning Urip” atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.

Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab.

Mengenai Gusti Kang Murbeng Dumadi, Sang Hyang Ismaya (SEMAR) mengatakan:
“Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan, jaman, bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi”

atau dengan kata lain
“ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali. oleh semua agama dan kepercayaan. Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakannya hanya cara menyembah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

Sang Hyang Ismaya (SEMAR) berkata sesungguhnya ada Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu :

  1. Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo Seliro” artinya bila kita merasa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.
  3. Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain “Ojo Seneng Mekso” seperti apa bila kita memiliki suatu pakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

 

Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada Khaliknya yaitu Manusia harus mengetahui Tujuh Sifat Kang Murbeng Dumadi, yaitu:

a) Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi”

b) Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.

c) Tuhan Itu ada dimana-mana. ”Dadi Ojo Salah Panopo,Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga
“Nang awakmu ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga.Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.
”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti” maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.

d) Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi. dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.

e) Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satu pun kata hilaf dan lalai.

f) Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang. maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.

g) Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya,

Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

“Manungso Urip Ngunduh Wohe Pakertine Dhewe Dhewe” maksudnya manusia kaa menerima apa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan dia terima.

Manusia hidup pada saat ini adalah hasil /proses dari hidup sebelumnya. atau”Manungso Urip Tumimbal Soko Biyen, Nek Percoyo Marang Tumimbal”
ada petuah yang mengatakan “ Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang”

“Manungso Urip Nggowo Apese Dhewe Dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri, dengki, tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan menguntungkan kita.

Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:”
maka Manusia hiduplah “Sak Madyo” dan tak perlu “Nggege Mongso”.
ada petuah mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga”

Maka dalam hal ini Sang Hyang Ismaya (SEMAR) Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan ”Eling lan Percoyo, Sumarah lan Sumeleh lan Mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan Sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bahwa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

Sumeleh : artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

Mituhu : artinya patuh taat dan disiplin.

I. Tatanan Paugeraning Urip.

Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi
Kehidupannya di alam fana ini :
a) Eling Lan Bektimarang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa. dimana Allah yang Esa telah memberikan kesempatan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.
b) “Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.
c) “Setyo marang Khalifatullah utowo Penggede Negoro”: maksudnya sebagai manusia yang tingal di suatu wilayah, maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarkan pemimpinnya yang baik dan bijaksana.
d) “Bekti marang Bhumi Nusontoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini wajib dan wajar untuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.
e) “Bekti Marang Wong Tuwo” : maksudnya Manusia ini tidak dengan semerta-merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah, muliakanlah orang tua yang telah merawat kita .
f) “Bekti Marang sedulur Tuwo” : Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti daripada kita, baik dalam umur, pengetahuan, maupun kemampuannya.
g) “Tresno marang kabeh kawulo Mudo” : maksudnya menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.
h) “Tresno marang sepepadaning manungso” : maksudnya semua manusia itu sama, hanya membedakan warna kulit dan dan budaya saja. Maka hormatilah sesama manusia dimana mereka memiliki harkat dan martabat yang sama dengan manusia lainnya.
i) “Tresno marang sepepadaning Urip” : maksudnya semua yang diciptakan Allah adalah mahluk yang ada karena kehendak Allah yang Kuasa. memiliki fungsi masing masing. dengan menghormati semua ciptaan Allah maka kita telah menghargai dan menghormati kepada penciptanya.
j) “Hormat marang kabeh agomo “ : maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya.
k) “Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Allah menurunkan kehidupan, Allah juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hukum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai,
l) “Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menepatkan diri di hadapan Allah, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat-Nya dalam menjalani Hidup dan kehidupan ini.

Tatanan Paugeraning Urip yang 12 di atas di ringkas menjadi tiga konsep:
1) Hubungan Manusia dengan Allah/Tuhan Yang Maha Esa
2) Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
3) Hubungan Manusia dengan Alam Semesta.

Kesemua tatanan di tersebut di atas adalah kaitannya dengan konsep “tatanan Menembah”

1. Sangkan Paraning Dumadi : yaitu Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi dimana maksudnya adalah agar manusia mengetahui dari mana dia berasal dan mau kemana dia akan kembali.

2. Manunggaling Kawulo lan Gusti : yaitu manunggaling kawulo dengan Gusti adalah dengan melakukan semua perintahnya, melakukan dan menuruti peraturan peraturan yang di perintahkan dengan sebaik-baiknya.

3. Kasedan Jati : yaitu dimana posisi kesadaran manusia sampai kepada tatanan sangat menyadari dan telah melakukan atau menjalani kehidupan yang disebutkan di atas sehingga semua telah menuruti kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan istilah “Hidup sekali dan mati pun sekali “

II. Tuntunan Sikap terhadap Paugeraning Urip

Kaki Semar menuntunkan sikap terhadapt Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah “OJO DUMEH,ELING LAN WASPODO” karena :

1. “Ojo dumeh, Eling lan waspodo” adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinya sendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti” serta untuk “Hamemayu Hayuning Bawono”.

2. “Ojo dumeh, Eling lan Waspodo” adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat ”Rahayu”, tidak mudah panik dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya.

3. “Ojo Dumeh, Eling lan Waspodo” sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.

OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatu peringatan agar manusia tidak larut dengan apa yang dimiliki atau dijalaninya, sehingga cenderung menjalani keputusan hidup yang negatif seperti :
Mentang-mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat dibeli dengan uang,
Mentang-mentang Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya.

Siapa yang “mentang mentang” maka suatu saat akan menjadi sebagaimana dalam pribahasa Jawa :
Sopo sing Dumeh bakal keweleh
Sopo sing adigang bakal keplanggrang
Sopo sing Adigung bakal kecemplung
Sopo sing Adiguno bakal ciloko
Sopo sing Becik bakal ketitik
Sopo sing salah bakal seleh
Sopo sing Temen bakal Tinemu

Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dan Waspada.
Ingat yang dijalani adalah ingat dalam kaitan Menyembah kepada Tuhan, ingat akan karunia-Nya, Rahmat-Nya, Nikmat-Nya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada-Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi pekerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulian kepada manusia dan lingkungan sekitarnya.

Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita. sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini.

Ojo Dumeh, Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia diharapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana, sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.”

Dengan “Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo”, maka dalam bahasa Jawa disebutkan ..
Ono Luwih,Luwih soko Ono
Kang Kebak,Luwih dening kebak
Kang suwung,Luwih dening Suwung
Kang Pinter, Luwih dening Pinter
Kang Sugih, Luwih dening Sugih..

Sang Hyang Ismaya (SEMAR) selalu memberikan petunjuk dan petuah dengan penuh kesabaran.. setiap perkataannya adalah Budi Pekerti yang Luhur.. itu adalah masih sebagian ajaran beliau..
Satu kata sederhana yang jika didefinisikan menjadi panjang sekali dan jika kita mulai terapkan dalam kehidupan kita sehari hari akan membuat kita menjadi manusia berbudi pekerti yang luhur Memayu Hayuning Bawono.. ciri ciri manusia manusia sejati.. manusia pilihan..

Misteri Satria langlang Jagad [Dharmaning Kasatria Memuntut Turunnya Wahyu Tanah Jawa 4 ]

Terangnya suasana menambah ketenangan bathin menyatu pada Illahi. Perintah Eyang Bung Petung saat melaksanakan untuk mensucikan satria penerima Aji Narantaka, dan Eyang Aji Jangka Jayabaya sendiri yang mensucikan malam itu, wedaran Eyang Aji Jangka Jayabaya pada satria sangat menyentuh perasaan bahkan sampai menggugah semangat yang mungkin  tidak akan pernah padam.

Detik, waktu dan saat pun berlalu, datanglah Sang Hyang Bathara Surya menegaskan perintahnya untuk tetap taat menanti penggodogan alam di Kawah Candradimuka Bengawan Bogowonto. Saat suasana dikeheningan waktu Rama Sunan Kalijaga memberikan ajaran jurus-jurus kanuragan dari Aji Narantaka, sungguh hebatnya jurus-jurus tersebut sehingga terlupakan waktu dan terdengarlah kokok ayam pertanda hari mulai pagi, segeralah satria beserta penderek bergegas menuju kasatrian Garuda Cakra di Lereng Menoreh.

Mendung bergelayut teriring gemericik arus Bengawan Bogowonto mengalir dengan derasnya, tatkala satria sampaikan mantera penghantar do’a, meluap air Bengawan Bogowonto dan munculah seekor Naga hijau ternyata Eyang Naga Raja menghadap satria dan bersabda:
“Angger jeneng sira sumadiya den sucek-na dening Kyai Badranaya supaya sampurna”.
(nak kamu bersedialah untuk disucikan oleh Kyai Badranaya supaya sempurna).

Dengan wedaran Kyai Badranaya
“Angger satria jeneng sira kang mengku lakon kudu suci ing lahir lan bathinmu, mula jeneng Badranaya bakal nyuceni lan mbuang sengkala marang jeneng sira”
(Nak satria kamu yang mendapatkan tugas suci di dalam lahir dan bathinmu, maka Badranaya bakal mensucikan dan membuang sialmu).

Terpaan angin bersama badai dan disertai hujan rintik makin deras menyambut pensucian satria disaksikan Sang Hyang Bathara Indhra turun dan bersabda:
“Angger satria jeneng sira kang bakal mengku Wahyu Cakraningkrat kang wektu titi wanci iki dumunung jroning klapa gading Soka purug-ira, ing dina Sukra Kasih sak mengko bakal tumiba mula den wening marang semadi-ira”
(Nak satria kamu yang bakal mendapatkan Wahyu Cakraningrat yang saat sekarang ini bersemayam didalam sebuah kelapa gading di daerah Soka keberadaannya, di hari Selasa Kliwon nanti bakal turun maka supaya tenang dalam semadimu),

dari pernyataan tersebut satria mohon pada ketegasan alam
“Dhuh Gusti menawi Wahyu Cakraningkrat bakal satria tampi ing ari Sukra Kasih, satria nyuwun panegas kanti pertanda jawah saya banter lan deres”
(Dhuh Allah kalau Wahyu Cakraningrat bakal satria terima di hari Selasa Kliwon, satria minta penegas hujan semakin cepat dan deras).

Dan ternyata benar hujan tiada dapat dibendung yang disertai kilatan cahaya halilintar yang menerjang pertapan,
Ya Allah matur nuwun
(Ya Allah terima kasih) kata satria.

Dari lamunan satria tentang  Wahyu Cakraningkrat itu seperti apa, tergugahlah oleh Sang Hyang Antaboga
“Angger wis enggal kondur marang padepokan-ira”.
(Nak sudahlah segera pulang ke padepokanmu)

Dentuman hujan mengguyur lacak jalan tengah malam disertai badai halilintar menerjang kegelapan malam. Tatkala satria persembahkan pada Dewata terdengarlah debur ombak Bengawan Bogowonto dan hujanpun semakin derasnya, dari kejauhan berkelebat bayangan hitam berkilat-kilat hadirlah Sang Hyang Antaboga dan bersabda:
“Angger satria tatagna niat lan kekarepan jeneng sira laku suci ngemban dawuhing Gusti”.
(Nak satria tabahkanlah niat dan keinginanmu, bahwa kamu mendapatkan tugas suci menjalankan perintah-NYA Allah).

Tak lama Eyang Ismaya beserta Rama Sunan Kalijaga datang dan nampaklah sepercik sinar kuning terpantul dari selatan temyata Ibu Ratu Mas Segara Kidul, sesaat Kyai Badranaya memberi perintah kepada satria:
“Angger satria suwunen pusaka tanah jawa kang durung tumiba”.
(Nak satria mintalah pusaka tanah jawa yang belum turun).

Dengan segera satria sampaikan pesan Kyai Badranaya kepada Ibu Ratu Mas Segara Kidul dan Ibu menjawab:
” Angger kabeh iku kudu nunggu wektu aja jeneng sira nggege mangsa, sabar angger”
(Nak semua itu harus menunggu saat jangan kamu memaksa, sabar ya nak).

Kyai Badranaya mendengar ucapan Ibu Ratu Mas Segara Kidul tidak tahan lalu segeralah beliau menghadap Sang Hyang Wenang yang disertai dengan satria.
Dan sampilah pada alam Kadewatan, Kyai Badranaya segera matur:
“Dhuh  pikulun Hyang Maha Wenang paring tadhah cadong deduka kula suwun wahyu tanah jawa enggal tumiba, paringana welas dateng kawula sami cintraka”.
(Dhuh Allah berilah maaf atas kesalahanku aku mohon wahyu tanah jawa segera turun, berilah kasih sayang pada rakyat yang bersedih).

Sang Hyang Wenang bersabda:
“Kyai Badranaya uga Syang Hyang Ismaya wahyu tanah jawa isih ana 3 kang durung tumiba, mula jeneng sira angger satria tungkanen lan tunggunen”.
(Kyai Badranaya juga Syang Hyang Ismaya wahyu tanah jawa masih ada 3 yang belum turun, maka kamu satria songsong dan tunggulah).

Segeralah Kyai Badranaya dan satria pamit turun ke Marcapada (bumi). Sampai di alam kamanungsan disambut Rama Sunan Kalijaga yang segera menyuruh satria untuk pulang ke Padepokan karena hari telah berlalu hampir pagi.

Terangnya suasana malam yang mencekam terdengarlah desah angin sepoi menghantar kepergian satria menghadang malam. Tatkala satria persembahkan doa pada Gusti kang Murbeng Dumadi, (Tuhan Yang Maha Esa) datanglah Kyai Badranaya, Rama Sunan Kalijaga menyambut satria yang kemudian disusul oleh Eyang Aji Jangka Jayabaya, Eyang Naga Raja beliau bersamaan berucap “Berhati-Hatilah Satria”.

Derap deru ombak Bengawan Bogowonto dan berkelebatlah sesosok bayangan hitam berkilat-kilat, ternyata raksasa hitam dan seorang putri bertaring warna serba putih terurai rambutnya, dia memperkenalkan diri namanya Gandarwa putra dan Wewe Putih dari gunung Petarangan berkehendak ingin berupaya mendapatkan Wahyu Cakraningkrat dengan cara paksa mengusir satria dari pertapan dan terjadilah adu mulut yang akhirnya perkelahian tak dapat dihindarkan, hanya dengan sabetan Aji Garuda Cakra maka Gandarwa putra hancur musnah entah kemana, sedangkan Wewe Putih dari Gunung Srandil berkeinginan berdampingan dan ingin selalu dekat dengan satria, maka terjadilah perdebatan serta tolakan secara halus dari satria namun Wewe Putih tidak terima murkalah dia dan rasa tak sabar satria dengan sabetan Aji Garuda Cakra lenyaplah mereka. Lenggangnya malam terdengar bisik Sang Hyang Antaboga
“Satria jeneng sira bakal dicoba dening Bethari Indra Ayu Sekar Wangi kang bakal mancalo awujud ratu indah sulistya ing warni aran Dyah Ayu Endang Ratnaningsih saka Gua Kiskenda”.
(Nak kamu bakal dicoba oleh Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi yang bakal menyamar berwujud Ratu yang indah rupanya bernama Dyah Ayu Endang Ratnaningsih dari Gua Kiskenda).

Putri tersebut merayu merengek dan terkadang dengan tangis memelas ingin berupaya selalu bersanding dan ingin dipersunting satria. Karena satria telah tahu sebelumnya bahwa putri tersebut hanyalah godaan, maka dengan pusaka Cundrik Pleret Emas yaitu Kyai Jalak Sangu Tumpeng Cunduk Kembang Melati Sari Sumping Senjata Cakra di hadapkan pada Dyah Ayu Endang Ratnaningsih seketika itu lenyap dan berganti wujud yang sesungguhnya yaitu seorang bidadari bernama Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi putri dari Syang Hyang Bathara Indhra yang kelak akan mendampingi dan selalu ada dan menyatu dengan satria, sukma sejati inilah yang kelak bakal manunggal dengan calon istri setia pendamping satria untuk selama-lamanya. Hinggaplah hari menjelang pagi satria bersama penderek segera pulang ke padepokan.

Terangnya suasana malam ini tatkala kulangkahkan kaki ke alam pertapan pinggir kali, terdengarlah debur ombak Bengawan Bogowonto dan datanglah Sang Hyang Antaboga menyambut satria, tak lama Kyai Badranaya beserta Rama Sunan Kalijaga.

Lenggangnya suasana Kyai Badranaya mendekat dan mendekap satria sambil menanti waktu, malam ini di isi wejangan oleh Rama Sunan Kalijaga tentang keimanan dan olah rasa. Pada saat tiba pukul dua, angin semarak datang berayun disertai kilatan cahaya kecil ternyata hadirlah Sang Hyang Bathara Narada dan bersabdalah:
“Angger jeneng sira diutus sowan marang Sang Hyang Wenang kekanten pikulun ayo enggal budal”
(Nak kamu disuruh menghadap pada Sang Hyang Wenang bersama dengan AKU ayo segera berangkat),

dengan Aji Kasampurnan Tingkat Tiga satria menuju ke alam kedewaan. Dihadapan Sang Hyang Wenang satria bersujud dan beliau bersabda:
“Angger satria ngadepi ing dina Selasa Wage jeneng sira bakal sun arsa ngagem busana jawa Metaraman”
(nak satria menghadapi di hari Selasa Wage kamu bakal KU suruh memakai pakaian jawa adat Mataraman).

Dalam kesempatan itu satria menegaskan kembali tentang gugatan yang telah diperjuangkan dan akhirnya diterima dengan disaksikan dua gebyaran kilat cahaya, terlenalah satria dan segera disuruh pulang ke marcapada (dunia), di alam pepadang satria disambut Sang Hyang Antaboga sambil melilit tubuh satria dan berucap:
“Slamet ngger enggal kondur marang kasatrian”
(selamat nak segera pulang ke kasatrian).

Badai berarak begitu hebatnya menghantarkan iringan halilintar diawal petang menyambut Wahyu Cakraningrat turun dari Khayangan. Tatkala kulangkahkan kaki bersama sembilan pendamping lakon mengiringi langkah satria menuju tepi Bengawan Bogowonto. Dengan bendera merah putih beserta perlengkapan lainnya, satria haturkan sembah pada Dewata Agung dengan kepul damar yang terus menerus berkepul tiada hentinya menandai panyuwunan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Dan akhirnya Kyai Badranaya, Sang Hyang Antaboga, Rama Sunan Kalijaga, Eyang Aji Jangka Jayabaya, Eyang Mayangkara, Eyang Naga Raja dan penguasa tanah perdikan Loano yaitu Ki Buyut Singgelo dan disertai iringan kereta kencana beserta pasukan Ibu Ratu Mas Segara Kidul, beliau datang menyaksikan satria menerima anugerah dari Allah Yang Maha Agung. Dengan pertanda suara  “Gledhugh”  bumi bergoncang tiga kali disertai semburan sinar memancar, Syang Hyang Wenang turun ke bumi menghaturkan Wahyu Cakraningrat pada satria dengan perintah berdiri dengan dikalungkannya ronce kembang melati getar tubuh satria dan seketika kepala rasanya mau pecah.

Upacara selesai tepat pada jam satu kemudian Sang Hyang wenang segera perintah pada Panji Sekar Kusuma pendamping lakon satria untuk membagikan sembilan kembang kanthil kepada para darah Bharata. Seketika Kyai Badranaya menadahkan kedua tangannya untuk menyimpan wahyu yang telah diterima satria. Selesai pembagian segeralah satria mengajak para pendamping lakon untuk pulang menuju Padepokan Agung Garuda Cakra.

Gerimis menitik derap hawa dingin mengalun disertai angin mengusik ketenangan dalam kegelapan. Tatkala satria langkahkan kaki menuju pertapan pinggiran kali, sambutan Rama Sunan Kalijaga disertai Kyai Badranaya yang tak lama disusul oleh Eyang Naga Raja, Eyang Mayangkara berucap selamat tak lama gerombolan barisan dari utara dan selatan saling bentrokan riuh gemuruh ramai sekali memancing amarah satria. Sang Hyang Antaboga bersabda:
“Angger satria jeneng sira enggal sowan marang Sang Hyang Giri Nata sakperlu nyuwun priksa lan tanda dene Wahyu Cakraningrat wis bener-bener jeneng sira tampa lan Selasa Wage syarat apa kang perlu kanggo ubarampe anyengkuyung ing sakmangke”
(Nak satria kamu segera datang pada Sang Hyang Giri Nata guna keperluan minta penjelasan dan tanda keagungan bahwa Wahyu Cakraningrat sudah benar-benar kamu terima dan hari Selasa Wage syarat apa yang mesti dipersiapkan untuk kelengkapan).

Dengan berbekal pamit pada Kayai Badranaya, Rama Sunan Kalijaga dan Sang Hyang Antaboga satria mencapai kasampurnan tingkat tiga menuju alam kadewatan dan bertemulah dengan Sang Hyang Giri Nata disertai Sang Hyang Bathara Narada disertai Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi yang selalu dikawal oleh Bathara Indhra. Sabda Sang Hyang Giri Nata:
“Angger satria Wahyu Cakraningrat wus sira tampa ing dina Selasa Wage purwa kawitan tanah jawa rengka kanti prahara bajur bakal tumata, iku Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi minangka pendamping-ira”
(Nak satria Wahyu Cakraningrat  sudah kamu terima pada hari Selasa Wage sebagai permulaan tanag jawa pecah dengan berbagai bencana kemudian bakal tertata, itu Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi sebagai pendampingmu).

“Matur Sembah Nuwun Sang Hyang Giri Nata Satria Nyuwun Pertanada Alam Menawi Paduka Atur Ingkang Saktuhu Leres”
(Terima kasih Sang Hyang Giri Nata satria mohon pertanda alam kalau paduka berkata benar).

Dengan seketika rembulan kalangan dilingkari bulatan pelangi, semakin lama semakin jelas dan akhirnya bersinar terang. Terlenalah para pengawal satria akan keanehan yang baru saja terjadi itu yang akhirnya di sapa oleh Rama Sunan Kalijaga:
“Angger Wayah Putuku Kabeh Enggal Jeneng Sira Pada Kondur Marang Padepokan-Ira”
(Anak cucuku semua segeralah kamu pulang menuju padepokanmu).

Saat kulangkahkan kaki menuju pertapan begitu terangnya suasana namun jalan becek penuh lelumpuran. Dengan berbagai perlengkapan untuk “Upacara Wiwitan”, tumpeng megana (Marga ana), tebu ireng, bendera merah putih dan janur kuning, satria berpakaian kejawen lengkap adat Mataraman. Tatkala kupersembahkan upacara doa dan mantera-mantera untuk memboyong Wahyu Cakraningkrat dan memboyong Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi serta wisuda gelar “Wahyu Manunggal”. Datanglah rintik hujan tipis disertai semilirnya angin yang tak diduga sebelumnya, itulah pertanda bahwa Sang Hyang Batara Indra disertai Sang Hyang Bayu Jagad hadir menghantar putrinya yaitu Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi untuk mendampingi satria.

Untuk sementara karena satria belum ada pendamping yang berwujud fisik manusia yang cocok, maka terpaksalah Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi masuk bersemayam di dalam Pusaka Kyai Jalak Sangu Tumpeng Cunduk Kembang Melati sari Sumping Senjata Cakra, satria berucap: “Dhuh Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi Satria Namung Lare Redi Ingkang Kirang Tata Trapsila Ing Suba Sita, Sumangga Menawi Punika Kersa Jawata Jeng Andika Namung Nderek Minangka Jatukromo, Kersa Ing Sakmangke Manunggal Marang Satunggaling Pawestri Ingkang Lembah Ing Manah, Tuhu Bekti Laki Lan Ingkang Dados Pilihan Satria”
(Dhuh Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi satria hanya anak dari gunung yang kurang sopan didalam pergaulan, terserah kalau hal ini kehendak Allah hanya aku menurut sebagai jodohnya, kelak supaya bersatu pada seorang wanita yang lemah lembut dan baik hati, setia pada suami dan yang menjadi pilihan satria).

Tidak lama datanglah Sang Hyang Wenang berdiri diatas kibaran bendera merah putih dan bersabdalah:
“Angger Satria Jeneng Sira Enggal Sumadia Bakal Kawisuda Minangka Satria Pangembaning “Wahyu Manunggal” Semana Uga Wahyu Cakraningrat Boyongen Bebarengan Pangiring-Ira Yaiku Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi Kang Bakal Ngembani Laku-Ira”
(Nak satria kamu segera bersedialah bakal diwisuda sebagai satria pemangku “Wahyu Manunggal” demikian juga Wahyu Cakraningkrat boyonglah bersama pendampingmu yaitu Bethari Indhra Ayu Sekar Wangi yang bakal mendampingi tugasmu).

Kyai Badranaya pun sudah siap dengan wadahnya untuk menyimpan dan memepersatukan semua wahyu tanah jawa yang telah kembali pada asalnya. Seketika hujan semakin deras disertai sambaran kilat diatas kepala satria, hanya dengan permohonan bila kejadian yang baru saja terjadi ini benar adanya dan merupakan kehendak Allah dan bakal terjadi (Allahualam) satria hanya memohon pertanda “hentikan hujan ini”. Dan benar-benar hujan terhenti dengan seketika, segera satria perintahkan pada para penderek untuk makan tumpengan. Untuk tanda kemenangan satria tanam pohon kenanga jawa sebagai purwa kawitan ambabar bumi tanah jawa. Selangkah tangan menengadah terlenalah bahwa hari semakin pagi satria segera pulang mmenuju Padepokan Agung Garuda Cakra di Lereng Menoreh.

Kulamunkan angan di malam yang pekat menghantar gerimis terasa dingin mencekam, datanglah Sabda Palon dan Nayagenggong di Padepokan Agung Garuda Cakra beliau bersabda:
“Angger Satria Ing Wengi Iki Kang Prayitna Lan Ngati-Ati Bakal Ana Bebaya, Dadung Awuk Saka Gunung Slamet Bakal Ngrebut Wahyu Cakraningkrat, Mula Gawanen Sapu Regel Kanggo Sirnaning Bebaya”
(Nak satria dimalam hari ini yang waspada dan berhati-hati akan ada bahaya, Dadung Awuk bakal merebut Wahyu Cakraningkrat, maka bawalah  sapu lidi untuk melenyapkan bahaya).

Kulangkahkan kaki menuju pertapan Bengawan Bogowonto, ternyata suasana lain dari biasanya dan terasa sangat angker serta menakutkan sekali. Rama Sunan Kalijaga menyambut bersama Kyai Badranaya dan Sang Hyang Antabaga bersabda:
“Angger Awas Kang Waspada Bajul Putih Bakal Tumeka”
(Nak awas yang waspada dan berhati-hatilah Bajul Putih bakal datang),

Ternyata benar berarak pasukan Bajul Putih menyergap satria. Tanpa pikit panjang dan rasa ampun sedikit pun satria patahkan dengan kekuatan Aji Garuda Cakra yang disatukan dengan sapu regel / lidi / senjata sewu, seluruh pasukan bubar pasar berantakan lari tunggang langgang tanpa arah. Dan berkelebatlah bayangan serba hitam disela gerumbulan semak liar, mereka menentang dan ingin merebut Wahyu Cakraningrat dari tangan satria namun dengan Aji Garuda Cakralah semuanya dapat teratasi. Kyai Badranaya segera menyuruh agar satria segera pulang menuju padepokan.

Suram-suram suasana malam disertai kepulan kabut asap yang begitu dingin mencekam, datanglah segerombolan Raja-Raja Jin Syaetan Peri Perayangan disertai pantulan sinar kuning keemasan tidak lain kereta kencana Ibu Ratu Mas Segara Kidul. Beliau menghadap satria dan bersabda:
“Angger Satria Ibu Marak Bakal Nyuwu-Ke Pangapura Marang Para Raja Jin Syaetan Periperayangan Kalawan Gandarwa Kang Wus Pada Manungkul, Kanti Iku Kabeh Bakal Pada Nyengkuyung Lan Ngayom Marang Jeneng Sira Ing Sakmengko” Matur Nuwun Nuwun Ibu.
(Nak satria ibu datang bakal memintakan maaf pada raja jin syaetan peri perayangan dan Gandarwa yang sudah menyerah, dengan itu semua bakal mendukung dan mohon perlindungan pada kamu kelak), terima kasih ibu.

Suara Gemlegar alam merestui dan menyaksikan semua pernyataan makluk-Nya sebagai pertanda lakon “SINGGASANA TAHTA WAHYUNING TANAH JAWA” telah tersimak oleh alam dan Kadewatan sebagai kendalinya. Disinilah Satria menanggung beban berat untuk menyatukan tanah jawa (maksudnya Nusantara) menjadi negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Titi Tentrem Tur Raharja, Adil makmur Hambek Paramarta”
kanthi sesandi “Hamemayu Hayuning Bawana” Insya Allah semoga Tuhan merestui segala upaya demi bangsa dan negara.

14 Prinsip Hidup Jawa

1. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan, atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

2. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

3. Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi)

4. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
(Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

5. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

6. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka; dan Barang siapa yang ragu-ragu akan binasa atau merugi).

7. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).

8. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).

9. Sing Sabar lan Ngalah Dadi kekasih Allah
(Yang sabar dan mengalah akan jadi kekasih Allah).

10. Sing Prihatin Bakal Memimpin
(Siapa berani hidup prihatin akan menjadi satria, pejuang dan pemimpin).

11. Sing Resik Uripe Bakal Mulya
(Siapa yang bersih hidupnya akan hidup mulya).

12. Urip Iku Urup
(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat).

13. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
(Keberanian, kekuatan dan kekuasaan dapat ditundukkan oleh salam sejahtera).

14. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).

BEBERAPA KEAJAIBAN SEMAR
Legenda dan cerita tentang Semar berjumlah banyak sekali. Setiap kali beliau muncul dalam pertunjukan wayang, dengan caranya yang periang, beliau akan selalu memberi pelajaran bagi penonton dan nasehat kepada tokoh lain dalam cerita itu. Oleh sebab itu, Semar dan ajarannya dikaji secara seksama dan sudah banyak upaya menjelaskan sosok Semar dan arti dari ucapannya. Di sini kami hanya membidik segelintir cerita yang sangat populer untukmencerminkan kecerdasan Semar yang sebenarnya serta beberapa keajaiban Semar yang menunjukkan betapa mengagumkan (dan membingungkan) nalurinya.

Pada awal:

Pada awal, Sang Hyang Tunggal, Tuhan yang Maha Esa, menciptakan cahaya dan mengarah cahaya itu mengambil bentuk sebagai telur . (Catatan: dengan demikian, terjawablah sudah masalah lama siapa dulu, telur atau ayam) Telur , sebagaimana kita mengetahui, terdiri dari tiga bagian, intinya yang kuning, lapisan yang putih, dan kulitnya. Saat telur itu ditetaskan, muncul tiga dewa muda, yaitu pertama Sang Hyang Antaga (Togog) dari kulitnya, lalu Sang Hyang Ismaya (Semar) dari bagian putih dan terakhirSang Hyang Manikmaya (Batara Guru atau Syiwa) dari bagian kuning.

Sayangnya, masing-masing menganggap diri sebagai pewaris yang sah dari tahta Sang Hyang Tunggal dan tidak bersedia tunduk kepada saudaranya. Mengamati keadaan ini, Sang Hyang Tunggal menantang mereka menelan Gunung Mahameru, gunung yang paling suci di dunia dan lambang alam semesta, lalu memuntahkannya kembali. Sesiapa yang pertama kali melaksanakan tugas ini akan dianggap pewaris yang sah. Sebagai anak tertua, Sang Hyang Antaga (Togog) tergesa-gesa mencoba melakukannya, tapi biar bagaimanapun usahanya, ia tidak bisa membuka mulutnya cukup lebar untuk menelan gunung itu, dengan akibat mulutnya tersobek dan bibirnya dilonggarkan lebar-lebar. Lantas, anak kedua, Sang Hyang Ismaya (Semar), juga buru-buru maju ke depan dan berhasil menelan seluruh gunung itu, tapi biar bagaimanapun usahanya, ia tidak bisa memuntahkannya kembali. Sebagai akibat, gunung yang raksasa itu turun ke dalam pantatnya dan tidak bisa dikeluarkan, baik ke arah depan maupun ke arah belakang. (Catatan: mungkin ini sebabnya pantat Semar luar biasa gede, dan, kalau diperhatikan bahwa Gunung Mahameru berupa gunung api, mungkin ini dapat juga menjelaskan letusan gas berbau busuk yang sering keluar dari perut Semar). Oleh karena gunungnya telah hilang, anak ketiga dan termuda, Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru) tidak dapat mencoba menelannya.
Tersinggung dengan gerak-gerik Togog dan Semar dan terkesan dengan kesabaran Batara Guru, Sang Hyang Tunggal menobati Batara Guru sebagai pewaris tahtanya yang sah. Semar disuruh turun ke bumi untuk memimpin dan melayani orang dengan iktikad baik, sedangkan Togog disuruh turun ke bumi untuk memimpin dan melayani buta-buta dan orang dengan iktikad kurang baik. (Catatan: Togog juga merupakan tokoh yang kompleks: beliau akan selalau berusaha memberi nasehat yang baik kepada orang yang dibantu, tapi ditakdirkan bahwa mereka tidak akan menghiraukan nasehatnya; lalu beliau memperuncing masalah dengan memuji dan menyanjung-nyanjung mereka, mendorong mereka lebih jauh ke arah yang salah).

Dalam versi lain dari asal-usul Semar, ada ibu dari tiga saudara tersebut, yang dikenal sebagai Dewi Rakti atau Dewi Rakatawati. (Catatan: kalau begitu, mungkin masalah ayam dan telur masih belum terjawab). Dan, dalam versi lain lagi, Sang Hyang Antaga (Togog) diciptakan dari cahaya merah waktu senja, Sang Hyang Ismaya (Semar) diciptakan dari kekosongan alam semesta (maya), Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru) diciptakan dari sinar batu permata, dan dewa muda yang keempat, Sang Hyang Nurada (Batara Narada), diciptakan dari cahaya (nur).Mereka berempat merupakan penghuni dunia yang pertama.

Dalam beberapa legenda, sebelum kahyangan ditinggalkan untuk mengasuh tugasnya didunia, Batara Ismaya (Semar) sempat kawin dengan Dewi Kanastren dan mereka dikaruniakan sepuluh anak, yaitu:

  • Sang Hyang Bongkokan atau Wungkuam —Dewa halilintar dan petir
  • Sang Hyang Patuk – Utusan dewa-dewa (dengan Batara Temboro)
  • Batara Kuwera – Dewa kekayaan
  • Batara Candra – Dewa bulan
  • Batara Mahyati – Dewa kearifan
  • Batara Yamadipati – Dewa kematian dan penjaga gerbang neraka, dengan kepala buta raksasa
  • Batara Surya – Dewa matahari
  • Batara Kamajaya – Bersama dengan istrinya, Batari Kamaratih, simbol cinta sejati
  • Batara Temboro – Utusan dewa-dewa (dengan Sang Hyang Patuk)
  • Dewi Darmastuti – Istri dari Begawan Bagaspati, buta raksasa yang juga merupakan resi

Versi lain mendaftarkan Batara Wrahaspati atau Batara Siwah sebagai anaknya ketimbang Sang Hyang Patuk. Terdapat tumpang tindih yang menarik antara daftar anak Semar ini dengan daftar delapan dewa yang menjiwai Astabrata, delapan jurus kepemimpinan yang berhasil, yaitu: Agni, Anila/Bayu, Baruna, Candra, Indra, Kuwera, Surya danYama.

Cara Semar menemukan anak angkatnya :

Semar biasanya didampingi oleh paling sedikit tiga anak angkat, Gareng, Petruk, dan Bagong , yang bersama-sama dikenal sebagai Punakawan (teman atau pembantu yang serba tahu). Terdapat banyak cerita tentang cara Semar bergabung dengan tokoh-tokoh periang yang unik tersebut.

Dalam satu cerita, Semar kesepian dan minta agar Sang Hyang Tunggal menciptakan temannya. Sang Hyang Tunggal menjawab saja bahwa temanmu terbaik adalah bayanganmu. Semar berpaling melihat bayangannya dan menemukan bahwa bayangannya telah hidup sebagai versi kecil dari Semar sendiri. Bayangan yang hidup ini menjadi anak angkat Semar, bernama Bagong . Walaupun Bagong merupakan anak angkat yang pertama, oleh karena sifatnya yang selalau kanak-kanakan, Bagong sering diperlakukan sebagai anak bungsu. Untuk memperoleh anak lain, Semar membentuk orang dari gumpalan getah kering dari pohon damar, yang diberi nama Nala Gareng atau Gareng . Anak ketiga merupakan pangeran yang ayahnya gagal mengasuh dan minta agar Semar mengangkatnya. Semar setuju dan memberi nama Petruk .

Dalam cerita lain, dua kesatria yang tampan, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan, saling beradu otot untuk membuktikan siapa yang paling tampan, tapi tiada yang dapat mengalahkan yang lain. Lalu muncul seorang gendut, berbentuk cacat dan aneh bernama Lurah Janggan Smarasanta (kepala kampung yang jiwanya dikuasai oleh Semar). Mereka sepakat orang ini dapat menjadi hakim yang baik untuk memutuskan siapa diantaranya yang paling tampan. Semar tertawa dan, dengan mengherankan mereka, memberitahu mereka bahwa sama sekali tidak ada di antara mereka yang tampan. Oleh Semar mereka disuruh melihat dirinya di cermin. Begitu lihat wajahnya di cermin, mereka sadar dengan sangat menyesal bahwa mereka telah menghancurkan ketampanannya masing-masing dan sekarang boleh dikatakan cacat juga. Untuk menghibur hati mereka, Semar mengajar mereka bahwa sumber keindahan sebenarnya letak dalam jasa kepada orang lain dan bukan dalam ciri-ciri fisik. Terkesan dengan kebijaksanaan dan kecerdikan Semar, kedua kesatria tersebut minta Semar mengangkat mereka sebagai anak angkat. Semar setuju dan memberi nama Gareng dan Petruk kepada mereka.

Di Cirebon , kota pelabuhan dan bekas kesultanan di pantai barat laut Pulau Jawa, Semar dikenal mempunyai delapan anak angkat, yaitu Dawala (Petruk), Gareng, Bagong, Bitarota, Ceblok, Cungkring, Bagalbuntung, dan Curis . Bersama-sama, Semar dan anaknya berjumlah sembilan, yang di Cirebon dikaitkan dengan Wali Sanga, sembilan orang alim yang membawa Agama Islam ke Jawa.
Di bagian Jawa Barat yang lain, terutama di daerah pegunungan dekat kota Bandung, anak angkat Semar dikenal sebagai Cepot Astrajingga, yang tertua, Dawalaatau Petruk , anak kedua, dan Gareng sebagai yang paling bungsu. Dipercaya bahwa Cepot muncul dari tongkat Semar, yang menurut Semar sudah hilang tapi ternyata tersembunyi dalam bayangannya. Di dalam Wayang Golek Purwa Sunda, Cepot sering mempunyai satu kaki yang dapat keluar dari sarongnya untuk mendepak wayang yang lain.

 Ciri-ciri Semar :

  • Semar juru bicara rakyat biasa
  • Pengarahan Semar selalu membawa kemenangan
  • Semar merupakan pembantu yang juga cendekiawan
  • Semar selalu mengucapkan kebenaran yang paling hakiki
  • Semar berwujud dari maya, kekosongan yang gelap dari alam semesta
  • Semar mengemban tugas memperbaiki kesalahan dewa-dewa dan raja-raja
  • Semar merupakan pengayom yang harus sering memberi pelajaran kepada orang yang dilindunginya
  • Dualitas dan Ambiguitas Semar
  • Semar ada sekaligus tidak ada
  • Semar orang kasar dikagumi orang halus
  • Semar sedang berdiri tapi kelihatan berjongkok
  • Semar beraga cacat fisik tapi berjiwa sempurna
  • Semar merupakan dewa tapi menjadi orang biasa
  • Semar tidak nampak tapi dapat berwujud manusia
  • Semar berada di dunia tapi melancong di kahyangan
  • Semar merupakan badut yang memberi pelajaran serius
  • Semar tidak ada tempat tinggal tapi tinggal di mana-mana
  • Semar merupakan seorang pelawak tapi bukan pendaya muslihat
  • Semar tidak mempunyai seorang anak tapi mempunyai banyak anak lelaki
  • Semar selalu menyatakan yang benar tapi mengucapkannya dalam kata teka-teki
  • Semar berair mata berlinang, biarpun ia sedang tertawa, tapi tidak pernah menangis
  • Semar banyak dikenal dan dicintai tapi sekaligus tidak dapat dikenal dan selalu sendiri
  • Semar memberi inspirasi dari keindahan hatinya walaupun mempunyai beberapa kecacatan
  • Semar mempunyai kuncung seperti anak kecil tapi warnanya putih seperti rambut seorang tua
  • Semar seorang lelaki yang mirip wanita, seorang perempuan yang mirip lelaki atau bukan dua-duanya
  • Semar berperan dalam cerita yang berlangsung di alam kahyangan tapi ia dianggap simbol kehadiran Tuhan yang Maha esa di bumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s