4 Nabi yang masih hidup dan tetap diberi rizqi dari khazanah Allah Swt


Mereka adalah golongan yang dikhususkan oleh Allah swt.

2 Nabi Ada dibumi yaitu Nabi Khidir A.s. & Nabi Ilyas A.s.

Ditempatkan di bagian bumi yang khusus yang Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui tempat itu

2 Nabi ada di langit yaitu Nabi Isa A.s. & Nabi Idris A.s.

Ditempatkan di bagian langit yang khusus yang Allah Yang Maha Tahu yang mengetahui tempat itu.

Untuk menjelaskan hal ini, kami jelaskan 5 peringkat Hayah (kehidupan)

Satu pandangan Bediuzzaman Said Nursi di dalam Maktubat, Al-Maktub Al-Awwal, dari koleksi Rasail Al-Nur. Nursi menjawab satu soal… Apakah Sayyidina Khidir masih hidup..?

Nursi menjawab ya…karena ‘Hayah’ itu 5 peringkat. Nabi Khidir A.s di peringkat kedua.

Lima Peringkat itu ialah:

  1. Kehidupan kita sekarang yang banyak terikat pada masa dan tempat.
  2. Kehidupan Sayyidina Khidir A.s & Sayyidina Ilyas A.s. Mereka mempunyai sedikit kebebasan dari ikatan seperti kita. Mereka boleh berada di banyak tempat dalam satu masa. boleh makan dan minum bila mereka mau. Para Aulia’ dan ahli Kasyaf telah meriwayatkan secara Mutawatir akan wujudnya ‘Hayah’ di peringkat ini. Sehingga di dalam maqam ‘Walayah’ ada dinamakan maqam Khidir.
  3. Kehidupan Sayyidina Khidir A.s & Sayyidina Ilyas A.s. Mereka mempunyai sedikit kebebasan dari ikatan seperti kita. Mereka boleh berada di banyak tempat dalam satu masa. boleh makan dan minum bila mereka mau. Para Aulia’ dan ahli Kasyaf telah meriwayatkan secara Mutawatir akan wujudnya ‘Hayah’ di peringkat ini. Sehingga di dalam maqam ‘Walayah’ ada dinamakan maqam Khidir.
  4. Peringkat ketiga ini seperti kehidupan Nabi Idris A.s & Nabi Isa A.s. Nursi kata, peringkat ini kehidupan nurani yang menghampiri Hayah malaikat
  5. Peringkat ini pula…ialah kehidupan para Syuhada’. Mereka tidak mati, tetapi mereka hidup seperti disebut dalam Al-Qur’an. Ustadz Nursi sendiri pernah Musyahadah peringkat kehidupan ini.
  6. Dan yang tingkat Hayah ini atau kehidupan rohani sekalian ahli kubur yang meninggal

Wallahhua’lam. Subhanaka La ‘Ilma Lana Innaka Antal ‘Alimul Hakim

Berikut ini kami nukilkan kisahnya :

 

1. Nabi KHIDIR A.s

Bukhari, Ibn Al-Mandah, Abu Bakar Al-Arabi, Abu Ya’la, Ibn Al-Farra’, Ibrahim Al-Harbi dan lain-lain berpendapat, Nabi Khidir A.s. tidak lagi hidup dengan jasadnya, ia telah wafat. Yang masih tetap hidup adalah ruhnya saja,

sebagaimana firman Allah Swt:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Kami tidak menjadikan seorang pun sebelum engkau (hai Nabi), hidup kekal abadi.” (Q.S Al-Anbiya’: 34)

Hadist Marfu’ dari Ibn Umar dan Jabir R.a menyatakan:

Setelah lewat seratus tahun, tidak seorang pun yang sekarang masih hidup di muka bumi.”

Ibn Al-Salah, Al-Tsa’labi, Imam Al-Nawawi, Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani dan kaum Sufi pada umumnya; demikian juga Jumhurul-‘Ulama’ dan Ahl Al-Salah (orang-orang shaleh), semua berpendapat, bahwa Nabi Khidir A.s. masih hidup dengan jasadnya, ia akan meninggal dunia sebagai manusia pada akhir zaman. Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fath Al-Bari menyanggah pendapat orang-orang yang menganggap Nabi Khidir A.s telah wafat, dan mengungkapkan makna hadist yang tersebut di atas, yaitu uraian yang menekankan, bahwa Nabi Khidir A.s masih hidup sebagai manusia. Ia manusia Makhsus (dikhususkan Allah), tidak termasuk dalam pengertian hadist di atas.

Mengenai itu kami berpendapat:

  • Kekal berarti tidak terkena kematian. Kalau Nabi Khidir A.s dinyatakan masih hidup, pada suatu saat ia pasti akan wafat. Dalam hal itu, ia tidak termasuk dalam pengertian ayat Al-Qur’an yang tersebut di atas selagi ia akan wafat pada suatu saat.
  • Kalimat di muka bumi yang terdapat dalam hadist tersebut, bermaksud adalah menurut ukuran yang dikenal orang Arab pada masa itu (dahulu kala) mengenai hidupnya seorang manusia di dunia. Dengan demikian maka Nabi Khidir A.s dan bumi tempat hidupnya tidak termasuk bumi yang disebut dalam hadist di atas, karena bumi tempat hidupnya tidak dikenal orang-orang Arab.
  • Yang dimaksud dalam hal itu ialah generasi Rasulullah Saw terpisah sangat jauh dari masa hidupnya Nabi Khidir A.s Demikian menurut pendapat Ibnu Umar bin Khattab, yaitu tidak akan ada seorang pun yang mendengar bahwa Nabi Khidir A.s wafat setelah usianya lewat seratus tahun. Hal itu terbukti dari wafatnya seorang bernama Abu al-Thifl Amir, satu-satunya orang yang masih hidup setelah seratus tahun sejak adanya kisah tentang Nabi Khidir A.s.
  • Apa yang dimaksud ‘yang masih hidup’ dalam hadist tersebut ialah: tidak ada seorang pun dari kalian yang pernah melihatnya atau mengenalnya. Itu memang benar juga.
  • Ada pula yang mengatakan, bahwa yang dimaksud kalimat tersebut (yang masih hidup) ialah menurut keumuman (Ghalib) yang berlaku sebagai kebiasaaan. Menurut kebiasaan amat sedikit jumlah orang yang masih hidup mencapai usia seratus tahun. Jika ada maka jumlah mereka pun sangat sedikit dan menyimpang dari kaidah kebiasaaan; seperti yang ada di kalangan orang-orang Kurdistan, orang-orang Afghanistan, orang-orang India dan orang-orang dari penduduk Eropa Timur.

Nabi Khidir A.s masih hidup dengan jasadnya atau dengan jasad yang baru.

Dari semua pendapat tersebut, dapat disimpulkan: Nabi Khidir A.s masih hidup dengan jasad dan ruhnya, itu tidak terlalu jauh dari kemungkinan sebenarnya. Tegasnya, Nabi Khidir A.s masih hidup atau ia masih hidup hanya dengan ruhnya, mengingat kekhususan sifatnya.

Ruhnya lepas meninggalkan Alam Barzakh berkeliling di alam dunia dengan jasadnya yang baru (Mutajassidah). Itu pun tidak terlalu jauh dari kemungkinan sebenarnya. Dengan demikian maka pendapat yang menganggap Nabi Khidir A.s masih hidup atau telah wafat, berkesimpulan sama; yaitu: Nabi Khidir A.s masih hidup dengan jasadnya sebagai manusia, atau, hidup dengan jasad ruhi (ruhani). Jadi, soal kemungkinan bertemu dengan Nabi Khidir A.s atau melihatnya adalah benar sebenar-benarnya. Semua riwayat mengenai Nabi Khidir A.s yang menjadi pembicaraan Ahlullah (orang-orang bertaqwa dan dekat dengan Allah Swt) adalah kenyataan yang benar terjadi.

Banyak sekali riwayat-riwayat tentang nabi khidir A.s dalam kitab-kitab yang Mu’tabar. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Nabi khidir A.s masih hidup dan mati ditangan Dajjal.

Dajjal akan menangkap seorang pemuda beriman. Kemudian dajjal menyuruhnya untuk menyembahnya, tapi pemuda itu pun menolak dan tetap beriman pada Allah Swt. Lalu Dajjal membunuhnya dan membelahnya menjadi dua. satu bagian dilempar sejauh mata memandang dan satu bagian dilempar sejauh mata memandang kesebelah lainnya. Kemudian Dajjal menghidupkan kembali pemuda itu. Dajjal menyuruhnya agar beriman kepadanya karena ia telah mematikannya  lalu menghidupkannya. Maka pemuda itu tidak mau dan tetap beriman kepada Allah Swt. Pemuda itu bahkan mengatakan “Kamu benar-benar Dajjal!!”.

Lalu Dajjal mewafatkannya lagi.

Ada riwayat yang mengatakan pemuda beriman ini adalah Nabi Khidir A.s

(wallahua’lam).

 

2. Nabi ILYAS A.s

Ketika sedang beristirahat datanglah malaikat kepada Nabi Ilyas A.s. Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Ilyas A.s menjadi sedih dan menangis.

“Mengapa engkau bersedih..?” tanya malaikat maut.
“Tidak tahulah.” Jawab Ilyas A.s.

“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut?” tanya malaikat.

“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh lagi berdzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berdzikir memuji Allah,” jawab Ilyas A.s.

Saat itu Allah Swt lantas menurunkan wahyu kepada malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas A.s berdzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas A.s ingin terus hidup semata-mata karena ingin berdzikir kepada Allah Swt. Maka berdzikirlah Nabi Ilyas A.s sepanjang hidupnya.

“Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti.” Firman Allah Swt.

 

3. Nabi IDRIS A.s.

Diriwayatkan Nabi Idris A.s telah naik ke langit pada hari senin. Peristiwa naiknya Nabi Idris A.s ke langit ini, telah dijelaskan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an.

Firman Allah Swt:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah, Idris yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”

(Q.S Maryam: 56-57)

Nama Nabi Idris A.s yang sebenarnya adalah ‘Akhnukh’. Sebab beliau dinamakan Idris, karena beliau banyak membaca, mempelajari (Tadarrus) kitab Allah Swt.

Setiap hari Nabi Idris A.s menjahit Gamis (baju kemeja), setiap kali beliau memasukkan jarum untuk menjahit pakaiannya, beliau mengucapkan kalimat Tasbih. Jika pekerjaannya sudah selesai, kemudian pakaian itu diserahkannya kepada orang yang memesannya tanpa meminta upah. Walau demikian, Nabi Idris A.s masih sanggup beribadah dengan amalan yang sukar untuk digambarkan. Sehingga Malaikat Maut sangat rindu berjumpa dengan beliau.

Kemudian Malaikat Maut memohon kepada Allah Swt, agar diizinkan untuk pergi menemui Nabi Idris A.s. Setelah memberi salam, Malaikat pun duduk.

Nabi Idris A.s mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Ketika waktu berbuka puasa telah tiba, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan Nabi Idris A.s dan beliau menikmati makanan tersebut.

Kemudian baginda beribadah sepanjang malam. Pada suatu malam Malaikat Maut datang menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris A.s menikmati makanan itu. Kemudian Nabi Idris A.s berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama.”

Tetapi Malaikat itu menolaknya.

Nabi Idris A.s lantas melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris A.s merasa heran melihat sikap Malaikat itu. Kemudian beliau berkata: “Wahai tuan, maukah tuan berjalan-jalan bersama saya untuk melihat keindahan alam sekitar..?”

Malaikat Maut menjawab: “Baiklah Wahai Nabi Allah Idris A.s.”

Maka berjalanlah keduanya melihat alam sekitar dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun, maka Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris A.s:

“Wahai Idris, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan..?”

Nabi Idris A.s pun menjawab: “Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mau memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mau memakan yang haram..?”

Kemudian Malaikat Maut dan Nabi Idris A.s meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa oleh mereka bahwa mereka telah berjalan-jalan selama empat hari. Selama mereka bersahabat, Nabi Idris A.s menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeda dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris A.s tidak dapat menahan hasrat rasa ingin tahunya itu. Dan kemudian beliau bertanya: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang sebenarnya…?”

Saya adalah Malaikat Maut.” Jawab malaikat maut

“Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk…?” tanya Nabi Idris A.s

“Benar ya Idris” Jawab malaikat maut

“Sedangkan tuan bersama saya selama empat hari, adakah tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk…?” tanya Nabi Idris A.s

“Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.” Jawab malaikat maut

“Wahai Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku…?” tanya Nabi Idris A.s

“Saya datang untuk menziarahimu dan Allah Swt telah mengizinkan niatku itu.” Jawab malaikat maut

“Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, yaitu agar tuan mencabut nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah Swt agar Allah Swt menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah Swt setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Maut pun menjawab: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan izin dari Allah Swt.”

Lalu Allah Swt mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Idris A.s. Maka dicabutnya nyawa Idris A.s saat itu juga. Dan Nabi Idris A.s pun merasakan kematian saat itu.

Ketika Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris A.s itu, maka menangislah ia. Dengan perasaan iba dan sedih ia memohon kepada Allah Swt supaya Allah Swt menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah Swt mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris A.s pun dihidupkan oleh Allah Swt kembali.

Kemudian Malaikat Maut memeluk Nabi Idris A.s, dan ia bertanya: “Wahai saudaraku, bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu…? “

“Bila seekor binatang dilepas kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu seribu kali lebih sakit daripadanya.

“Padahal kelembutan yang saya lakukan ketika mencabut nyawa terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum pernah saya lakukan terhadap siapa pun sebelum tuan.” Jawab malaikat maut

“Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, yaitu saya sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada Allah Swtlebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka itu.”

“Wahai Idris saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah Swt.” Jawab malaikat maut

Akhirnya Allah Swt mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris A.s ke dalam Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris A.s dapat melihat semua yang diciptakan Allah Swt untuk menyiksa musuh-musuh-Nya. Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, kala, api yang membara, timah yang mendidih, pokok-pokok yang penuh berduri, air panas yang mendidih, dan lain-lain.

Setelah merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi Idris A.s berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, yaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah Swt bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah Swt.

Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga, tanpa perintah dari Allah Swt.” Jawab Malaikat Maut.

Lalu Allah Swt pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris A.s masuk ke dalam Syurga.

Kemudian pergilah mereka berdua hingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka berhenti di pintu tersebut.

Dari situ Nabi Idris A.s dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris A.s dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah Swt untuk para wali-wali-Nya. Berupa buah-buahan, pokok-pokok yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dan lain-lain.

Kemudian Nabi Idris A.s berkata: “Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka maukah tuan memohonkan kepada Allah Swt untukku, agar Allah Swt mengizinkan aku memasuki Syurga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api Neraka…?”

Maka Malaikat Maut pun memohon kepada Allah Swt. Dan kemudian Allah Swt memberikan izin kepadanya untuk memasuki Syurga tapi kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris A.s pun masuk ke dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu ia keluar kembali dari Syurga.

Setelah beliau berada di luar, Nabi Idris A.s berkata kepada Malaikat Maut:
“Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan sandalku di dalam Syurga.”

Malaikat Maut pun berkata: “Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil sandal tuan.”

Maka masuklah Nabi Idris A.s, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah..!”.

Tidak, wahai Malaikat Maut, karena Allah Swt telah berfirman: “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Q.S Ali-Imran: 185)

Sedangkan saya telah merasakan kematian. Dan Allah Swt berfirman yang bermaksud: “Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu.”

(Q.S Maryam: 71)

Dan saya pun telah mendatangi Neraka itu. Dan firman Allah lagi yang bermaksud: “… Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya (Syurga).”

(Q.S Al-Hijr: 4)

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut itu: “Biarkanlah dia, karena Aku telah menetapkannya di Azalli, bahwa ia akan bertempat tinggal di Syurga.”

Allah menceritakan tentang kisah Nabi Idris A.s ini kepada Rasulullah Saw dengan firman-Nya:

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang tersebut di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Q.S Maryam: 56-57)

 

4. Kisah Nabi ISA A.s.

Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam Al-Qur’an ialah Isa A.s. Baginda di utus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an, Nabi Isa A.s disebut dengan empat panggilan yaitu Isa, Isa putera Maryam, putera Maryam, dan Al-Masih.

Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah Swt. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, “Dan ketika malaikat-malaikat berkata, ‘Wahai Maryam, Allah memilih kamu, dan membersihkan kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam'” (3:42).

Maryam, ibu Nabi Isa A.s, telah menempuh satu ujian yang amat berat dari Allah Swt. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.

Kelahiran Nabi Isa A.s merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapak. Kisahnya diceritakan di dalam Al-Qur’an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Maryam atas perintah Allah Swt. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat. Kemunculan malaikat membuat Maryam menjadi takut lalu berkata:

Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)..!”

Dia (malaikat) berkata, “Aku hanyalah seorang rasul yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki yang suci.” (19:18-19)

Pada ayat yang lain, diceritakan bahwa malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah Swt, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan. Ayatnya berbunyi:

“Wahai Maryam, Allah menyampaikan kepada kamu berita gembira dengan satu Kata daripada-Nya, yang namanya Al-Masih, Isa putera Maryam, terhormat di dunia dan di akhirat, daripada orang-orang yang didekatkan.” (3:45)

Kemudian Maryam bertanya,

“Bagaimanakah aku akan ada seorang anak lelaki sedang tiada seorang manusia pun menyentuhku, dan bukan juga aku seorang jalang…?” (19:20)

Malaikat menjawab,

“Dia (Allah) berfirman, ‘Begitulah; Pemelihara kamu telah berkata, ‘Itu mudah bagi-Ku; dan supaya Kami membuat dia satu ayat (tanda) bagi manusia, dan satu pengasihan daripada Kami; ia adalah perkara yang telah ditentukan'” (19:21).

Maka lahirlah Isa putera Maryam lebih enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan. Allah Swt membuat Nabi Isa A.s dan ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, yaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya (23:50).

Isa A.s adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul. Baginda dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah Swt daripada rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan derajad, dan bagi Isa A.s, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh Suci. Firman-Nya:

“Dan rasul-rasul itu, sebagian Kami melebihkan di atas sebahagian yang lain. Sebagian ada yang kepadanya Allah Swt berkata-kata, dan sebagian Dia menaikkan derajad. Dan Kami memberikan Isa putera Maryam bukti-bukti yang jelas, dan Kami mengukuhkan dia dengan Roh Qudus (Suci).” (2:253)

Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah Swt untuk membeda-bedakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi,

“Katakanlah, Kami percaya kepada Allah Swt, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan Ishak, dan Yaakub, dan puak-puak, dan apa yang diberi kepada Musa, dan Isa, dan apa yang diberi kepada Nabi-Nabi daripada Pemelihara mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun antara mereka, dan kepada-Nya kami muslim.'” (2:136)

Akibat membeda-bedakan Nabi atau Rasul dapat dilihat pada hari ini, yaitu Nabi Isa A.s dipercayai oleh sebagian pihak sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan Nabi Muhammad Saw, dianggap macam Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.

Oleh karena Isa A.s adalah seorang Nabi maka baginda diberi sebuah Kitab, yaitu Injil, yang mengandung petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain menyeru kepada Bani Israil untuk menyembah Allah Swt dengan menaati Injil, baginda juga mengesahkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya. Dua firman Allah Swt menjelaskannya di sini, berbunyi:

“Dan Kami mengutus, menyusuli jejak-jejak mereka, Isa putera Maryam, dengan mengesahkan Taurat yang sebelumnya; dan Kami memberinya Injil, di dalamnya petunjuk dan cahaya,” (5:46) dan,

“Aku (Isa) hanya mengatakan kepada mereka apa yang Engkau memerintahkan aku dengannya: ‘Sembahlah Allah Swt, Pemelihara aku, dan Pemelihara kamu.'” (5:117)

Turut disebut di dalam Injil (dan Taurat) ialah berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau Ummiy (7:157), dan janji dikaruniakan Taman atau Syurga bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah Swt (9:111). Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan Al-Qur’an.

Ketika baginda diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelas apa yang sedang diperselisihkan.

Firman Allah Swt:

“dia (Isa) berkata, Aku datang kepada kamu dengan kebijaksanaan, dan supaya aku memperjelaskan kepada kamu sebahagian apa yang dalamnya kamu memperselisihkan; maka kamu takutilah Allah, dan taatlah kepadaku.'” (43:63)

Baginda juga memberitahu tentang kedatangan seorang rasul selepas baginda, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya berbunyi:

“Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku (Isa) rasul Allah kepada kamu, mengesahkan Taurat yang sebelum aku, dan memberi berita gembira dengan seorang rasul yang akan datang selepas aku, namanya Ahmad (dipuji).” (61:6)

Seperti Nabi atau Rasul yang lain, baginda mempunyai pengikut-pengikut yang setia dan juga yang tidak setia atau yang menentang. Pengikut-pengikutnya yang setia percaya kepada Allah Swt dan kepadanya. Mereka adalah muslim.

Firman Allah Swt:

“Dan ketika Aku mewahyukan pengikut-pengikut yang setia, Percayalah kepada-Ku, dan rasul-Ku; mereka berkata, Kami percaya, dan saksilah Engkau akan kemusliman kami.'” (5:111)

Pengikut-pengikut yang setia pula menjadi penolong-penolong, bukan baginya tetapi bagi Allah Swt.

Firman-Nya:

“Berkatalah pengikut-pengikutnya yang setia, Kami akan menjadi penolong-penolong Allah Swt; kami percaya kepada Allah Swt, dan saksilah kamu akan kemusliman kami.'” (3:52)

Begitu juga bagi pengikut-pengikut setia Nabi-Nabi lain, termasuk Muhammad Saw. Semuanya menjadi penolong-penolong Allah Swt, untuk melaksanakan dan menyampaikan pesan-Nya.

Firman Allah Swt:

“Wahai orang-orang yang percaya, jadilah kamu penolong-penolong Allah, sebagaimana Isa putera Maryam berkata kepada pengikut-pengikut yang setia, Siapakah yang akan menjadi penolong-penolong aku bagi Allah Swt? Pengikut-pengikut yang setia berkata, kami akan menjadi penolong-penolong Allah Swt.” (61:14)

Walau bagaimana pun, pengikut-pengikut Nabi Isa A.s yang setia memerlukan bukti selanjutnya untuk mengesahkan kebenarannya dan supaya hati mereka menjadi tenteram. Untuk itu mereka memohon sebuah meja hidangan dari langit. Kisahnya berbunyi begini:

“Dan apabila pengikut-pengikut yang setia berkata, ‘Wahai Isa putera Maryam, bolehkah Pemelihara kamu menurunkan kepada kami sebuah meja hidangan dari langit?’

Dia (Isa) berkata, ‘Kamu takutilah Allah Swt, jika kamu orang-orang mukmin.’

Mereka berkata, ‘Kami menghendaki untuk memakan daripadanya, dan hati kami menjadi tenteram, supaya kami mengetahui bahwa kamu berkata benar kepada kami, dan supaya kami adalah antara para saksinya.'” (5:112-113)

Justru itu, baginda memohon kepada Allah Swt,

“Ya Allah, Pemelihara kami, turunkanlah kepada kami sebuah meja hidangan dari langit, yang akan menjadi bagi kami satu perayaan, yang pertama dan yang akhir bagi kami, dan satu ayat (tanda) daripada Engkau. Dan berilah rezeki untuk kami; Engkau yang terbaik daripada pemberi-pemberi rezeki.” (5:114)

Allah Swt mengabulkan permintaannya. Lantas, meja hidangan yang turun menjadi satu lagi mukjizat bagi Nabi Isa A.s. Dan ia juga menjadi nama sebuah surat di dalam Al-Qur’an, yaitu surat kelima, Al-Maidah.

Selain daripada kelahiran yang sangat luar biasa dan meja hidangan, Nabi Isa A.s telah dikaruniai dengan beberapa mukjizat lain. Ayat berikut menjelaskannya:

“Ketika Allah Swt berfirman,

‘Wahai Isa putera Maryam, ingatlah akan rahmat-Ku ke atas kamu, dan ke atas ibu kamu, apabila Aku mengukuhkan kamu dengan Roh Qudus (Suci), untuk berkata-kata kepada manusia di dalam buaian dan setelah dewasa …..

Dan apabila kamu mencipta daripada tanah liat, dengan izin-Ku, yang seperti bentuk burung, dan kamu menghembuskan ke dalamnya, lalu jadilah ia seekor burung, dengan izin-Ku,

Dan kamu menyembuhkan orang buta, dan orang sakit kusta, dengan izin-Ku,

Dan kamu mengeluarkan orang yang mati, dengan izin-Ku’ …..

lalu orang-orang yang tidak percaya antara mereka berkata, ‘Tiadalah ini, melainkan sihir yang nyata.'” (5:110)

Walaupun Nabi Muhammad Saw hanya diberi satu mukjizat, manusia dicegah dari berkata bahwa Nabi Isa A.s adalah lebih mulia daripada Nabi Muhammad Saw. Karena, seperti yang sudah diketahui bahwa amalan yang berupa membeda-bedakan para Nabi dan Rasul adalah dilarang oleh Allah Swt.

“Ketika Allah Swt berfirman, ‘Wahai Isa, Aku akan mematikan kamu, dan menaikkan kamu kepada-Ku, dan Aku membersihkan kamu daripada orang-orang yang tidak percaya …..'” (3:55)

“Dan aku (Isa) seorang saksi atas mereka selama aku di kalangan mereka; tetapi setelah Engkau mematikanaku, Engkau Sendiri adalah penjaga atas mereka; Engkau saksi atas segala sesuatu.” (5:117)

Akan tetapi, sebagian dari kaum Bani Israil mengatakan bahwa mereka telah membunuhnya dengan cara di salib. Namun Allah Swt mengatakan yang sebaliknya. Dengan apa yang terjadi hanyalah satu kesamaan saja.

Firman-Nya:

“ucapan mereka, ‘Kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, rasul Allah.’ Tetapi mereka tidak membunuhnya, dan tidak juga menyalibnya, tetapi hanya satu kesamaan yang ditunjukkan kepada mereka.

Orang-orang yang berselisih mengenainya benar-benar dalam keraguan terhadapnya; mereka tidak ada pengetahuan mengenainya, kecuali mengikuti sangkaan; mereka tidak membunuhnya, yakinlah.” (4:157)

Di akhir zaman nabi Isa A.s akan turun kembali ke bumi, bukan sebagai nabi tapi sebagai ummat nabi Muhammad Saw. (mengikut syariat nabi Muhammad Saw). akan berdakwah mengajak ummat kristiani untuk masuk islam, menghancurkan salib-salib, membunuh Dajjal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s