Al-Ma’mun, Sang Tiang Penopang Ilmu Pengetahuan Islam


Di era kepemimpinannya, Ke khalifahan Abbasiyah menjelma sebagai adikuasa dunia yang sangat disegani.

Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tem bok Besar Cina di Timur. Dalam dua dasawarsa kekuasaannya, sang khalifah juga berhasil menjadikan dunia Islam sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan peradaban di jagad raya.

Khalifah Abbasiyah ketujuh yang meng antarkan dunia Islam pada puncak penca paian itu bernama Al-Ma’mun. Ia di kenal sebagai figur pemimpin yang dianuge rahi intelektulitas yang cemerlang. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Kemampuan dan kesuksesannya mengelola pemerintahan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Berkat inovasi gagasannya yang brilian, Baghdadibu kota Abbasiyah menjadi pusat kebudayaan dunia.

Sang khalifah sangat menyokong perkembangan aktivitas keilmuan dan seni. Perpustakaan Bait Al-Hikmah yang didirikan sang ayah, Khalifah Harun Ar-Rasyid disulapnya menjadi sebuah universitas virtual yang mampu menghasilkan sederet ilmuwan Muslim yang melegenda.

Khalifah yang sangat cinta dengan ilmu pengetahuan itu mengundang para ilmuwan dari beragam agama untuk datang ke Bait Al-Hikmah. Al-Ma’mun menempatkan para intelektual dalam posisi yang mulia dan sangat terhormat. Para filosof, ahli bahasa, dokter, ahli fisika, matematikus, astronom, ahli hukum, serta sarjana yang menguasai ilmu lainnya digaji dengan bayaran yang sangat tinggi.

Dengan insentif dan gaji yang sangat tinggi, para ilmuwan itu dilecut sema ngatnya untuk menerjemahkan beragam teks ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa seperti Yunani, Suriah, dan San sekerta. Demi perkembangan ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mengirim seorang utusan khusus ke Bizantium untuk mengumpulkan beragam munuskrip termasyhur yang ada di kerajaan itu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Ketika Kerjaan Bizantium bertekuk lutut terhadap pemerintahan Islam yang dipimpinnya, sang khalifah memilih untuk menempuh jalur damai. Tak ada penjarahan terhadap kekayaan intelektual Bizantium, seperti yang dilakukan peradaban Barat ketika menguasai dunia Islam. Khalifah Al-Ma’mun secara baikbaik meminta sebuah kopian Almagest atau al-kitabu-l-mijisti (sebuah risalah tentang matematika dan astronomi yang ditulis Ptolemeus pada abad kedua) kepada raja Bizantium.

Pada era kekuasaannya, beragam peralatan observasi astronomi telah digunakan secara besar-besaran. Proyek penelitian astronomi pun dilakukan di Baghdad di zaman itu. Serangkaian proyek dalam bidang astronomi itu menjadi cikal bakal berdirinya universitas modern atau Madrasah di Baghdad.

Sumbangsih dan dedikasi sang khalifah dalam mengembangkan Astronomi diabadikan dalam sebuah kawah yang bernama Almanon atau Al-Ma’mun. Pemerintahan Al-Ma’mun menerapkan sistem kekuasaan terpusat. Khalifah juga secara berkala melakukan pergantian kepemimpinan di berbagai provinsi yang dikuasai Abbasiyah. Tak heran jika wilayah kekuasaan Dinasti Abbasiyah terus meluas. Saat Al-Ma’mun berkuasa, pemberontakan Hidun di Sindh dapat diredam.

Sebagian besar wilayah Afghanistan tunduk pada pemimpin Abbasiyah yang berada di Kabul. Kawasan pegunungan Iran juga dikuasai pemerintahan Abba siyah. Kawasan Turkistan pun mengakui kekuasaan Abbasiyah. Sebagai seorang khalifah, Al-Ma’mun juga turun ke medan perang saat bertempur dengan Kerajaan Bizantium di Asia Kecil. Nyawanya nyaris terenggutsaat memimpin sebuah ekspedisi di Sardis. Ia pun menjadi pemim pin panutan yang dicintai rakyatnya.

Meski begitu, pada masa kekuasaannya para ulama melakukan gerakan penentangan terhadap kebijakan Al-Ma’mun yang menerapkan mihna. Mihna merupakan upaya dari Khalifah Al-Ma’mun pada tahun 218 H/833 M untuk memaksakan pandangan teologisnya. Salah satu kebijakan yang termasuk dalam mihna adalah ujian keagamaan, sumpah setia dan lainnya.

Lalu seperti apa sosok Khalifah Al- Ma’mun itu? Sejarawan Muslim, Al-Tabari menggambarkan sosok Al-Ma’mun sebagai pria yang bertubuh jangkung, tampan, corak kulitnya bercahaya, dan memiliki jenggot yang panjang. Sang khalifah juga dikenal amat dermawan dan pandai berorasi meski tanpa persiapan. Dia juga seorang Muslim yang taat dan pemimpin adil yang hobi berpuisi.

Sejatinya, Khalifah Al-Ma’mun memiliki nama lengkap Abu Jafar Al-Ma’mun bin Harun. Orang Barat memanggilnya dengan sebutan Almamon. Ia terlahir pada 14 September 786 M. Sang khalifah bergelar Abu Al-Abbas. Ayahnya adalah Khalifah Harun Ar-Rasyid. Sedangkan ibunya adalah seorang bekas budak yang bernama Murajil.

Lantaran sang ibu bukan dari keturanan Abbasiyah, maka pada tahun 802 M sang ayah mewariskan singgasana kekhalifahan kepada puteranya yang lain bernama Al-Amin. Sedangkan, Al- Ma’mun ditunjuk sebagai Gubernur Khurasan dan sebagai khalifah setelah Al- Amin. Setelah sang ayah wafat pada tahun 809 M, hubungan dua bersaudara berlainan ibu itu memburuk.

Konflik itu semakin memburuh setelah Al-Amin yang menjadi khalifah memecat Al-Ma’mun dari posisi gubernur Khurasan. Al-Amin menunjuk puteranya untuk menggantikan posisi pamannya di Khura san. Al-Ma’mun menganggap keputusan itu sebagai pelanggaran terhadap wasiat sang ayah Harun Ar-Rasyid. Keduanya lalu berperang. Dengan bantuan pasukan Khurasani pimpinan Tahir bin Husain Al-Ma’mun berhasil mengalahkan kekuatan Al-Amin.

Mulai tahun 813 M hingga 833 M, Al- Ma’mun menjadi khalifah. Setelah dua dekade memimpin Abbasiyah, Al- Ma’mun meninggal pada 9 Agustus 833 M di dekat Tarsus. Jabatannya lalu digantikan Al-Mu’tasim. Dedikasi dan kontribusinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hingga tetap diakui sepanjang masa.

Bait Al-Hikmah di Era Sang Khalifah

Sejatinya Bait Al-Hikmahdidirikan pada era kekuasaan Khalifah Harun Ar- Rasyid. Namun, lembaga yang awalnya berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penerjemahan yang berada di Baghdad itu berkembang pesat di era Kekhalifahan Al-Ma’mun. Pengganti Harun Ar-Rasyid itu mengembangkan Bait Al-Hikmah menjadi sebuah perguruan tinggi virtual pada zamannya.

Lembaga pengetahuan itu pun menjelma menjadi tempat para ilmuwan Muslim mela kukan penelitian dan menimba ilmu. Pada era kekuasaan Al-Ma’mun, Bait Al- Hikmah pun dilengkapi dengan observatorium. Seja rah mencatat, pada era itu tak ada pusat studi di belahan dunia mana pun yang mampu menandingi dan menyaingi kehebatan Bait Al-Hikmah.

Di Bait Al-Hikmah, segala macam ilmu pengetahuan dikaji, diteliti dan dikembangkan oleh para ilmuwan. Studi yang berkembang pesat di lembaga itu antara lain; mate matika, astronomi, kedokteran, zoologi, serta geografi. Sebagai khalifah yang dikenal sangat inovatif, Al-Ma’mun meminta para ilmuwan Muslim tak hanya menguasai pengetahuan hasil transfer dari peradaban lain saja.

Ia mendorong para ilmuwan Muslim untuk melakirkan inovasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Upaya itu akhirnya tercapai. Baghdad pun menjelma menjadi kota yang paling kaya raya di dunia dan menjadi pusat pengembangan intelektual pada era itu. Saat itu, penduduk Baghdad mencapai satu juta jiwapopulasi terbesar saat itu. Selama kepemimpinannya, Bait Al-Hikmah telah melahirkan sederet ilmuwan Muslim terkemuka di dunia. Beberapa ilmu wan Muslim yang muncul di era kepemimpinan Al-Ma’mun itu antara lain:

Muhammad Ibn Musa Al-Khwarizmi
Al-Khwarizmi adalah matematikus, astronom dan geografer terkemuka di era kepimpinan Khalifah Al-Ma’mun. Ia dikenal sebagai pendiri beberapa cabang dan konsep dasar matematika. Menurut Sejarawan Barat, Philip K Hittti, Khwarizmi adalah matematikus yang sangat berpengaruh di antara matematikus lainnya di abad pertengahan.

Salah satu kontribusinya yang paling penting dalam matematika adalah Aljabar. Tak heran, bila kemudian Al-Khwarizmi dikenal sebagai ‘Bapak Aljabar’. Kitab yang paling berpengaruh yang ditulisnya adalah Kitab Aljabr. Dia juga berperan dalam menemukan cabang matematika Algoritma melalui kitabnya Hisab Al-Jabr wal Mugabalah.

Al-Kindi

Dia adalah farmakolog, musisi, penulis, filosof, astronom dan kaligrafer terkemuka di era kepemimpinan Kekhalifahan Al- Ma’mun. Al-Kindi ditunjuk Al-Ma’mun untuk memimpin Bait Al-Hikmahdi Baghdad.

Al-Farghani

Ilmuwan Muslim lainnya yang sangat terkenal pada era kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun adalah Al-Farghani. Dia adalah astronom yang sangat dibanggakan Khalifah Al-Ma’mun. Al-Farghani merupakan astronom Muslim yang mengkaji tentang astrolab dan menjelaskan teori matematika dibalik pembuatan astrolab. Sepeninggal Al-Ma’mun, Bait Al-Hikmah masih tetap berjaya di masa kepemim pinan Khalifah Al-Mu’tasim (833 M842 M) dan Khalifah Al-Wathiq (842 M847 M).

Namun, pamor Bait Al-Hikmah kian memudar pada zaman kekuasaan Khalifah Al-Mutawakil (847 M861 M). Meredupnya ‘obor pengetahuan’Bait Al-Hikmahterjadi lantaran Khalifah Al-Mutawakil mela rang berkembangnya paham Mu’tazilah. Dia lebih memilih menerapkan paham Islam ortodok.

Padahal, pada era Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim dan Al-Wathiq paham Mu’tazilah sudah menjadi semacam paham resmi kekha lifahan. Khalifah Al-Mutawakil memutus paham itu lantaran ingin menghentikan perkem bang an filsafat Yunani yang menjadi salah satu alat utama teologi Mu’tazilah.

Bait Al-Hikmahtelah menjelma sebagai sebuah universitas, meski pada waktu itu secara resmi belum dikenal yang namanya perguruan tinggi. Namun, aktivitas pendidik an laiknya perguruan tinggi sudah mulai berlangsung saat itu. Cikal-bakal universitas mulai berkembang di Baghdad pada abad waktu itu. Pada abad ke-11 M, Universitas Al-Nizamiyyah Baghdad didirikan Nizam al-Mulk  salah satu universitas pertama dan terbesar di abad pertengahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s