Sa’ad Bin Abi Waqash, Sang Panah Maut Islam


Diantara dua pilihan. Itulah mungkin kata yang tepat mewakili awal kisah dari Sa’ad bin Malik za-Zuhri alias Sa’ad bin Abi Waqash, ini adalah sebuah kisah tentang seorang sahabat yang pada masa Rasulullah Saw, dikenal sebagai prajurit pilihan.

Menurut Sa’ad bin Abi Waqqash, mencintai orang tua bukan berarti harus mengorbankan prinsip hidup.

Itu dilakukannya saat dia telah menerima Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, kemudian dia yakini, bahwa hanya Islamlah yang bisa membuat dirinya dan hidupnya bahagia ketimbang kembali menyembah berhala.

Lihatlah statementnya, yang sering dijumpai di sirah-sirah “Duhai bunda, meskipun ada seratus nyawa dalam diri bunda, dan terurai nyawa itu satu per satu, aku akan tetap pada agamaku. Sekarang terserah bunda, apakah hendak meneruskan perbuatan bunda atau hendak makan.”

Ibu Sa’ad yang sangat mencintai Sa’ad juga, merasa kehilangan ketika anaknya lari meninggalkan sesembahan nenek moyang, dan menyembah Allah Swt dan mentaati Rasulullah Saw.

Untuk meluluhkan hati Sa’ad, ibundanya mengambil sikap untuk mogok makan, tapi nyatanya tak berkutik sedikitpun sikap Sa’ad untuk meninggalkan Agama Islam yang dibawa Rasulullah Saw, mesikipun ia juga mencintai Ibundanya.

Selain itu, Sa’ad juga dikenal sebagai anggota pasukan berkuda yang lihai dan gagah berani. Soal memanah, dia adalah nomor satu.

Ada dua peristiwa yang menjadikan Sa’ad selalu dikenang dan istimewa, pertama dialah yang pertama melepas anak panah untuk membela Agama Allah Swt, sekaligus orang pertama yang tertembus anak panah dalam membela Agama Allah Swt.

Kedua, Sa’ad adalah satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah Saw dengan jaminan kedua orang tua beliau. Sabda Rasulullah Saw., pada saat perang Uhud : “Panahlah hai Sa’ad ! Ibu Bapakku menjadi jaminan bagimu ….”

Dalam setiap peperangan siapapun panglimanya jika ada Sa’ad didalamnya maka pasukan akan merasa tenang. Bukan hanya karena kehebatannya dalam peperangan yang menciutkan hati musuh, tapi juga ketaqwaanya yang luhurlah, yang menjadi hati sahabat lain menjadi tenang.

Pada saat perang Qadishiyyah, Amirul mukminin Umar bin Khatthab R.a mengangkat Sa’ad sebagai Panglima perang untuk melawan adidaya Persia pada saat itu, ketika Sa’ad mengirim utusan untuk berdiplomasi dengan Rustum (panglima perang persia) yang akhirnya negoisasi itu berlangsung alot, dan muncullah pernyataan dari delegasi kaum muslimin.

“Sesungguhnya Allah Swt telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dari pemujaan berhala kepada pengabdian kepada Allah Swt, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan dari kedhaliman penguasa kepada keadilan Islam. Maka siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediannya dan kami biarkan mereka. Tapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah Swt ..!”

“Apa yang dijanjikan oleh Allah Swt itu?” tanya Rustum, “Surga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi kami yang hidup”. Sa’ad pun bangkit dan menggelorakan semangat jihad kaum muslimin, peperanganpun terjadi Rustum dan pasukannya menuai kekalahan, Persia yang adidaya itu akhirnya jatuh juga di tangan kaum muslimin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s