Percakapan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Athaillah


Berikut percakapan antara dua orang ulama masyhur dalam sejarah Islam. Yang pertama adalah Syeikhul Islam Ibnu Taimiah, seorang ulama ternama yang fatwa-fatwanya banyak diikuti oleh kaum muslimin. Yang kedua adalah Imam Ahmad Ibnu Athaillah As-Sakandari, seorang sufi penyair yang ajaran-ajarannya menginspirasi dan menjadi rujukan kalangan sufi. Yang pertama dilahirkan tahun 660 H di kota Harran, Syria (w. 728 H)[1], dan yang kedua dilahirkan sekitar tahun 658 H di kota Al-Iskandariah (Alexandria), Mesir (w. 709 H).[2]

Syahdan, suatu hari dari Alexandria Ibnu Taimiyah berangkat ke Kairo. Menjelang malam ia menuju masjid Al Ahzar untuk shalat maghrib yang waktu itu diimami Ibn Athaillah. Selepas shalat, Ibn Athailah terkejut menemukan Ibn Taimiyah sedang berdo’a di belakangnya. Sambil tersenyum, sang syaikh sufi itu menyambut ramah kedatangan Ibn Taimiyah seraya berkata: Assalamualaikum ya, Syaikhul Islam! Selanjutnya ia memulai pembicaraan dengan tamunya yang kesohor dan dikenal vokal mengkritisi praktik-praktik bengkok sebagian kaum sufi itu.

———————-

Ibn Athaillah: “Biasanya saya sholat di masjid Imam Husein dan sholat Isya’ di sini. Tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah Swt berlaku! Allah Swt menakdirkan sayalah orang pertama yang harus menyambut anda (setelah kepulangan anda ke Kairo). Ungkapkanlah kepadaku wahai sang faqih, apakah anda menyalahkanku atas apa yang telah terjadi?”

Ibn Taimiyah: “Aku tahu, anda tidak bermaksud buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan diantara kita tetap ada. Sejak hari ini, dalam kasus apapun, aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapa pun yang berbuat buruk terhadapku”.

Ibn Athaillah: Apa yang anda ketahui tentang aku wahai, syeikh Ibn Taimiyah?

Ibn Taimiyah : Setahuku anda adalah seorang yang shaleh, berpengetahuan luas, dan senantiasa berbicara benar dan tulus. Tidak ada orang sebagaimana anda, baik di Mesir maupun Syria yang lebih mencintai Allah Swt ataupun mampu meniadakan diri di (hadapan) Allah Swt atau lebih patuh atas perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Tapi bagaimanapun juga kita memiliki perbedaan pandangan. Apa yang anda ketahui tentang saya? Apakah anda atau saya sesat dengan menolak kebenaran (praktik) meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah Swt (Istighatsah)?

Ibn Athaillah: Tentu saja, rekanku, anda tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil Wasilah (perantara) dan meminta syafaat; dan bahwa Rasulullah Saw, adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan yang syafaatnya kita harapkan.

Ibn Taimiyah: Mengenai hal ini saya berpegang pada sunnah rasul yang ditetapkan dalam syariat. Dalam hadits berbunyi sebagai: “Aku telah di anugerahkan kekuatan syafaat”. Dalam ayat Al-Qur’an juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah Swt akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji (Q.S. Al Isra : 79). Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibunda khalifah Ali bin Abi Thallib R.a wafat, Rasulullah Saw berdo’a pada Allah Swt di kuburnya: “Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak pernah mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibunda saya Fatimah binti Asad, lapangkan kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusan-Mu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun”.

Inilah syafaat yang dimiliki Rasulullah Saw. Sementara mencari pertolongan dari selain Allah Swt, merupakan suatu bentuk kemusyrikan; Rasulullah Saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah Swt.

Ibn Athaillah : Semoga Allah Swt mengkaruniakanmu keberhasilan, wahai sang faqih! Maksud dari saran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar ia mendekatkan diri kepada Allah Swt tidak melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pemahaman anda tentang istighosah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah Swt, yang termasuk perbuatan musyrik, saya ingin bertanya kepada anda,” Adakah muslim yang beriman pada Allah Swt dan rasul-Nya yang berpendapat ada selain Allah Swt yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkan-Nya berkenaan dengan dirinya sendiri?”

”Adakah mukmin sejati yang meyakini ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah Swt ? Disamping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah sarana kemusyrikan. Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah Swt, sebagaimana jika anda mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”. Apakah dengan demikian makanan itu sendiri yang memuaskan selera anda? Ataukah disebabkan Allah Swt yang memberikan kepuasan melalui makanan?

Sedangkan pernyataan anda bahwa Allah Swt melarang muslim untuk mendatangi seseorang selain Diri-Nya guna mendapat pertolongan, pernahkah anda melihat seorang muslim memohon pertolongan kepada selain Allah Swt? Ayat Al-Qur’an yang anda rujuk, berkenaan dengan kaum musyrikin dan mereka yang memohon pada dewa dan berpaling dari Allah Swt. Sedangkan satu-satunya jalan bagi kaum muslim yang meminta pertolongan rasul adalah dalam rangka bertawasul atau mengambil perantara, atas keutamaan (Haq) rasul yang diterimanya dari Allah Swt (Bihaqqihi Inda Allah) dan Tashaffu atau memohon bantuan dengan syafaat yang telah Allah Swt anugerahkan kepada rasul-Nya.

Sementara itu, jika anda berpendapat bahwa Istighosah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah pada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan minuman keras, dan mengebiri laki-laki yang tidak menikah untuk mencegah zinah.

(Kedua syeikh tertawa atas komentar terakhir ini).

Lalu Ibn Athaillah melanjutkan: “Saya kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syaikh anda, Imam Ahmad, dan saya tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan syaitan” yang anda miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang anda pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun saya juga menyadari bahwa anda dituntut menelisik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung di balik kondisi harfiahnya. Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Anda harus menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini anda telah memperoleh dasar bagi pernyataan anda terhadap karya Ibn Arabi, Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dikotori oleh musuhnya bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah di ucapkannya, juga pernyataan-pernyataan yang tidak dimaksudkannya (memberikan contoh tokoh islam).

Ketika syeikh al islam Al Izz ibn Abd Salam memahami apa yang sebenarnya diucapkan dan dianalisa oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya dibalik ungkapan simbolisnya, ia segera memohon ampun kepada Allah Swt atas pendapatnya sebelumnya dan menokohkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.

Sedangkan mengenai pernyataan al Syadzili yang memojokkan Ibn Arabi, perlu anda ketahui, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari salah seorang murid Sadziliyah. Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan sebagian pengikut Sadziliyah. Dengan demikian, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri. “Apa pendapat anda mengenai khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.a?”

Ibn Taimiyah: Dalam salah satu haditsnya, Rasul Saw bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali bin Abi Thallib R.a lah pintunya”. Sayyidina Ali bin Abi Thallib R.a adalah merupakan seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau Fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah Swt membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah Al-Qur’an dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

Ibn Athaillah: Sekarang, apakah Imam Ali bin Abi Thallib R.a meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu faksi? Sementara faksi ini mengklaim bahwa malaikat Jibril A.s melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad Saw, bukannya kepada Ali bin Abi Thallib R.a! Atau pernahkah ia meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah Swt menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi Tuhan? Ataukah ia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh dimana pun mereka ditemukan?

Ibn Taimiyah: Berdasarkan fatwa ini saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun.

Ibn Athaillah: Dan Imam Ahmad- semoga Allah Swt meridhainya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko penganut kristen atau dimana pun mereka temukan), menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis-gadis penyanyi, dan menyerang masyarakat di jalan. Meskipun sang Imam tak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekwensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya. Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan dalih melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

Dengan demikian, Syeikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama. Sekiranya anda telah memahami hal ini?

Ibn Taimiyah: “Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah Swt? Diantara kalian, para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah Saw memberitakan khabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan memasuki surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam luapan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat Jibril A.s turun dari surga dan mewahyukan kepada Rasulullah Saw bahwa Allah Swt akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya Malaikat Jibril A.s mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah Swt. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya Fuqara atau kaum “papa”.

Ibn Athaillah: “Tidak semua sufi mengenakan jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang saya kenakan; apakah anda tidak setuju dengan penampilan saya?

Ibn Taimiyah: “Tetapi anda adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.”

Ibn Athaillah: “Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Ia mengamalkan fiqih, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, ia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati harus menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi gadungan yang anda sendiri telah mengecam dan menolaknya. Dimana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan sholat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidak pedulian, mereka telah mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu brutalnya tindakan mereka hingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah (Risalatul Qusyairiyah).

Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah Swt, yakni berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan mengamalkan laku spiritual.

Kelompok diatas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah Swt sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya pada Allah Swt dan rasul-Nya. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat, dan sentosa. Inilah jalan guna membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, semacam cinta harta, dan ambisi akan kedudukan tertentu.

Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah Swt agar memperoleh ketentraman beribadah. Sahabatku yang cendekia, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian anda terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan keshalehannya. Anda tentunya mengerti bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah orang-orang ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang menghantarkan rahasia mengenai fenomena yang tak tampak.

Ibn Taimiyah: “Argumentasi tersebut justru ditujukan untuk anda. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat pengikutnya melenceng dari jalan Allah Swt, ia segera mengambil langkah untuk membenahi mereka. Sementara apa yang dilakukan para syeikh sufi sekarang? Saya meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kita yang shaleh dan terdahulu: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filososf Yunani dan pengikut Buddha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah Swt (Hulul) atau menyatu dengan-Nya (Ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya/kesatuan wujud (Wahdatul Wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syeikh anda, teranglah itu perilaku atheis dan kafir”.

Ibn Athaillah: “Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang pahamnya selaras dengan metodologi anda tentang hukum islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorang Zhahiri (menerjemahkan hukum islam secara lahiriyah), metode yang ia terapkan untuk memahami hakekat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (Thariq Al Bathin), guna mensucikan bathin (Thathhir Al Bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar anda tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan anda mengenai Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya. Anda akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Ia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung Al-Qur’an dan sunnah, sama seperti hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan berfaedah.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah Swt adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah Swt berdasarkan keyakinan. Apakah anda setuju wahai faqih? Atau anda lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik R.a telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: “Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat: Cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar, atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya ahli sunnahlah yang menobatkan syeikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang cendekia secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al-Qur’an. Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang Mihrab atau sajadahnya menandai aspek bathin, bukan semata-mata ritual lahiriyah saja.

Karena apalah arti duduk berdirinya anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah Swt. Allah Swt memuji hamba-Nya dalam Al-Qur’an: ”(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”; dan Ia mengutuk dalam firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”. Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek bathin, bukan lahirnya”.

Seorang muslim takkan bisa mencapai keyakinan mengenai isi Al-Qur’an, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah Swt akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (hadapan) Allah Swt dengan mematuhi-Nya. Barangkali yang menyebabkan para ahli fiqih mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum kasus-kasus yang terjadi (aktual) dan kasus-kasus yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal belum terjadi).

Ibn Arabi mengkritik demikian karena ia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah Swt mengeluarkanmu karena telah menjadi salah satu dari mereka! Pernahkan anda membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa: ”Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.” “Adakah pernyataan yang seindah ini?”

Ibn Taimiyah : “Anda telah berbicara dengan baik, andaikan saja gurumu seperti yang anda katakan, maka ia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah anda kemukakan.” [3]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s