Seberkas Sinar Awal Mula Kenabian Muhammad Saw


Awal Mula Diturunkannya Wahyu…

Al-Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih mereka mencantumkan sebuah kisah agung yang sarat dengan pelajaran dan Ibrah, bersumber dari Ummul Mukminin Aisyah R.ha, dia bercerita bahwa:
“Awal mula diturunkannya wahyu kepada Rasulullah Saw adalah dengan diperlihatkannya kepada beliau Saw mimpi yang baik. Dan tidaklah beliau Saw bermimpi melainkan mimpi itu seperti terangnya waktu shubuh. Lalu timbul kesenangan untuk berKhalwah (menyepi), maka beliau pun menyendiri di Gua Hira’.

Beliau beribadah beberapa malam di sana sebelum kembali kepada keluarganya dan meminta bekal secukupnya, setelah itu beliau pun kembali kepada Khadijah R.ha dan berbekal kembali secukupnya sampai datang Al-Haq kepadanya ketika beliau berada di Gua Hira’.

Maka datanglah seorang malaikat seraya mengatakan, “Bacalah..!!”
Beliau Saw menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”
Lalu dia (malaikat) menarikku dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan, lalu ia melepasku. Kembali ia mengatakan, “Bacalah..!!”
Beliau Saw menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”
Lalu dia (malaikat) menarikku untuk kedua kalinya dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan lalu ia melepaskanku. Dia tetap memerintahkan, “Bacalah..!!”
Beliau Saw menjawab, “Saya tidak bisa membaca.”
Lalu dia (malaikat) menarikku untuk ketiga kalinya dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan, lalu melepaskanku kemudian mengatakan,
“Bacalah dengan (menyebut) Nama Robb-mu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Robb-mulah yang Maha pemurah.”

Kemudian beliau Saw pulang dalam keadaan hatinya gemetar ketakutan. Beliau Saw menemui Khadijah binti Huwailid R.ha seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.”
Maka beliau pun diselimuti hingga hilang dari diri beliau rasa takut tersebut. Beliau Saw pun bercerita kepada Khadijah R.ha tentang kejadian yang di alaminya, beliau Saw mengadukan: “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku,”
Jawab khodijah R.ha menenangkan: “Demi Allah Swt, janganlah engkau merasa khawatir, Allah Swt tidaklah akan merendahkanmu selamanya, sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung tali silaturahmi, engkau telah memikul beban orang lain, engkau suka membantu seorang yang kesulitan, engkau menjamu para tamu, dan selalu membela kebenaran.”

Lalu ia mengajak Rasulullah Saw menemui Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza anak paman Khadijah, dan beliau adalah seorang Nasrani pada masa jahiliyyah.
Waroqoh pandai menulis kitab dengan bahasa Ibrani, maka Ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Waroqoh adalah seorang yang telah lanjut usia lagi buta, maka Khadijah R.ha berkata kepada beliau: “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh anak saudaramu (keponakan) ini,”
Lalu Ia mengatakan: “Wahai keponakanku, kejadian apa yang telah engkau lihat?
Lalu Rasulullah Saw menceritakan semua peristiwa yang beliau alami..

Mendengar penuturan itu lantas Waroqoh mengatakan: “Sesungguhnya dia adalah Namus yang dahulu juga telah mendatangi Musa. Aduhai seandainya di saat-saat itu aku masih muda, dan seandainya kelak aku masih hidup tatkala engkau diusir oleh kaummu.”
Lantas Rasulullah Saw mengatakan: “Apakah mereka akan mengusirku..?!!”
Ia menjawab, “Benar, tidaklah datang seorang pun yang membawa ajaran seperti apa yang engkau bawa melainkan ia akan diusir, dan seandainya aku menjumpai hari itu, aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.”
Tidak berselang lama Waroqoh pun meninggal dunia, dan wahyu tengah terputus.

Takhrij
Dalam timbangan para pakar hadist, hadist ini termasuk hadist mursal, karena Aisyah R.ha tidak atau belum mendapati masa-masa tersebut. Namun demikian telah mapan dalam kaidah ilmu hadist bahwa mursal sahabat hadistnya adalah sah dan dapat diterima. Karena tidaklah mungkin Aisyah R.ha menceritakan hal tersebut kecuali beliau mendengarnya langsung dari Rasulullah Saw atau beliau mendengar dari para shahabat yang lain. Para ulama sepakat bahwa semua para shahabat adalah Udul (adil).
Dengan ini maka kisah tersebut adalah sebuah kisah shahih yang telah terjadi pada diri panutan kita penutup para nabi dan rasul yaitu nabi Muhammad Saw.
Wallahu a’lam.

Pelajaran Kisah
Sebelum diturunkannya wahyu kepada Nabi kita Muhammad Saw, maka terlebih dahulu diperlihatkan kepada beliau mimpi yang benar. Dalam riwayat lain, mimpi baik yang demikian untuk meneguhkan jiwa beliau sebelum datang wahyu Allah Swt kepadanya.

Al-Qodhi berkata, “Sebelum diturunkannya wahyu, maka dimulailah dengan adanya mimpi-mimpi yang baik. Yang demikian agar nantinya beliau tidak merasa kaget tatkala didatangi malaikat dan agar cahaya kenabian tidak datang secara spontan, hingga jiwa manusia merasa berat dan akan tergoncang. Maka dimulailah dengan salah satu perangai dan karomah kenabian berupa kebenaran dalam hal mimpi. Dan juga sebagaimana telah datang keterangan dalam hadist-hadist yang lain seperti beliau melihat cahaya terang, mendengar suara dan salamnya batu, pohon, serta yang selainnya dari tanda-tanda kenabian. (Syarh Shahih Muslim, 1:349)

Kemudian setelah itu timbul rasa kesenangan untuk ber-Kholwah (menyepi), dan Kholwah adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang shaleh dan hamba Allah Swt yang senantiasa ingat kepada-Nya.

Abu Sulaiman al-Khottobi R.a berkata, “Timbul kesenangan untuk berkholwah pada diri Rasulullah Saw karena dengan hal tersebut akan timbul ketenangan hati, memudahkan dalam berfirkir, dan hal itu pula berarti meninggalkan kebiasaan buruk kebanyakan manusia, serta akan menjadikan hati menjadi Khusyu’.” (Syarh Shahih Muslim, 1:349)

Maka beliau Saw pun berkholwah di sebuah gua yang dikenal dengan Gua Hira. Gua Hira adalah sebuah gua di suatu bukit yang terletak kurang lebih 3 mil dari kota Mekah.

Setelah beliau Saw berkholwah dan beribadah di Gua Hira selama beberapa hari, datanglah Jibril A.s membawa wahyu Allah Swt seraya mengatakan “Bacalah!”.
Namun beliau adalah seorang yang ummi yang tidak bisa baca dan tulis. Oleh karena itu, beliau Saw menjawab “Saya tidak dapat membaca.”
Kemudian Jibril A.s mendekapnya dengan erat dan memerintahkan agar beliau Saw membaca kembali.

Hikmah dari dekapan Jibril A.s sebagaimana dijelaskan para ulama adalah untuk memusatkan perhatian Rasulullah Saw dan agar beliau berkonsentrasi dengan menghadirkan hati sepenuhnya terhadap apa yang akan dibacakan kepadanya. Jibril A.s mengulanginya tiga kali, hal itu menunjukkan kesungguhan dalam menggugah perhatiannya. Dari sini selayaknya bagi seorang Mu’aliim (pengajar) sebelum ia mengajarkan ilmu, hendaklah benar-benar mengkondisikan para muridnya untuk memperhatikan pelajaran dan menghadirkan hati dengan sepenuhnya.
Wallahu a’lam.

Setelah beliau Saw mendapatkan pengajaran dari malaikat Jibril A.s, maka beliau Saw pulang dalam keadaan gemetar ketakutan dan meminta kepada sang pendampingnya yaitu Khadijah R.ha untuk menyelimuti hingga hilang rasa takutnya tersebut.

Al-Qodhi berkata, “Gemetar dan ketakutannya Rasulullah Saw tidak berarti beliau ragu terhadap apa yang telah Allah Swt turunkan kepadanya, akan tetapi karena beliau khawatir tidak kuasa mengemban perkara tersebut dan tidak mampu membawa amanat wahyu Allah Swt tersebut sehingga bergetar jiwanya.” (Syarah Shahih Muslim, 1:350)

Kemudian Khadijah R.ha membawanya menemui anak pamannya yaitu Waroqoh bin Naufal bin Asad dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi pada diri suaminya. Waroqoh pun menanggapi bahwa dia adalah Namus yang juga telah datang kepada Musa A.s.

Kata Namus artinya pembawa rahasia kebaikan sedangkan Jasus artinya pembawa rahasia kejelekan. Adapun yang dimaksud oleh beliau adalah Jibril A.s sang pembawa wahyu Allah Swt.

Al-Harawi berkata, “Beliau (Jibril A.s) dinamakan dengan demikian karena Allah Swt telah mengkhususkannya sebagai pembawa wahyu dan perkara ghaib.” (Syarh Shahih Muslim, 1:350)

Kemudian Waroqoh memberi semangat Rasulullah Saw untuk tetap tegar di atas jalan yang telah dilalui oleh nabi Musa A.s dan para nabi yang lainnya. Dia mengatakan: “Seandainya pada hari tatkala engkau telah diutus menjadi seorang rasul dan tatkala kaummu mengusirmu sedangkan aku masih gagah dan berusia muda, atau sekurang-kurangnya apabila aku masih hidup, maka aku akan menolongmu mati-matian.”

Namun takdir Allah Swt menentukan lain, Waroqoh meninggal dunia setelah waktu berlalu dan wahyu Allah Swt tengah berhenti. Semoga Allah Swt merahmati kita semua dan juga Waroqoh bin Naufal bin Asad.
Wallahul Muwaffiq.

Mutiara Kisah
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah:

Selayaknya bagi seorang pengajar untuk menggugah perhatian para murid dan memerintahkan untuk menghadirkan hati dan tidak lalai dari ilmu yang disampaikan. Seperti yang dilakukan oleh malaikat Jibril A.s kepada Rasulullah Saw tatkala mendekap dan mengulang-ulang perintahnya untuk membaca.
Kisah ini sangat jelas menunjukkan bahwa ayat yang pertama kali diturunkan adalah ayat-ayat di awal surat al-Alaq sebagaimana telah disepakati oleh para ulama salaf dan khalaf dan tidak sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa yang pertama diturunkan adalah surat al-Mudatstsir.
Dalam kisah di atas nampak beberapa akhlak Rasulullah Saw di masa-masa sebelum beliau Saw diangkat menjadi nabi seperti menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang lain yang kepayahan, membantu orang yang kesulitan, menjamu tamu, dan lain sebagainya dari akhlak-akhlak terpuji Rasulullah Saw.

Kebaikan akhlak seseorang merupakan sebab terjaganya diri dari perkara-perkara jelek yang akan menimpanya. Sebagaimana hiburan yang disampaikan Khadijah R.ha kepada Rasulullah Saw tatkala beliau mengkhawatirkan dirinya.
Dibolehkan memuji seseorang langsung di hadapannya bila yang demikian mengandung maslahat. Seperti yang dilakukan Khadijah tatkala ia menyebutkan kebaikan-kebaikan yang selama ini dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam rangka untuk meneguhkan hati beliau yang tengah dirundung ketakutan.

Kisah di atas menunjukkan kesempurnaan dan kecerdikan Khadijah R.ha, kemapanan jiwa, ketegunan hati, dan mengetahui kondisi dan keadaan, sehingga beliau Saw menjadi pendamping hidup yang selalu memberikan dorongan di kala sang suami membutuhkannya.
Maka perhatikanlah dengan baik wahai para isteri, dan semoga Allah Swt senantiasa meneguhkan kita semua di atas jalan yang Haq.

Merupakan adab, apabila seorang yang lebih muda memanggil orang yang lebih tua maka dengan panggilan “Ya Ammi” (wahai paman), untuk menghormati dan memuliakannya. Sebagaimana hal itu adalah kebiasaan baik yang dilakukan oleh masyarakat Arab bahkan sebelum datang cahaya Islam menerangi dunia ini.
Kebenaran tetap harus dipegang sekalipun kebanyakan manusia meninggalkannya. Oleh karenanya, kita jangan terperdaya dengan banyaknya manusia yang tersesat dan jangan berkecil hati dengan sedikitnya pengikut kebenaran. Di awal mula diutusnya Muhammad Saw sebagai nabi, banyak manusia yang mengingkarinya bahkan mengusir beliau. Namun, kebenaran tersebut suatu saat akan nampak dan manusia akan mengakui kebenaran tersebut.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s