Pelajaran dari Thaif


Rasulullah Saw dan Zaid baru saja meninggalkan rumah tempat pertemuan dengan Abdi Yalel, Kbubaib, dan Mas’ud – ketiganya tokoh masyarakat Bani Tsaqif di kota Thaif – ketika tak lama kemudian penduduk kota yang berjarak sekitar 50 mil dari Mekkah itu, seperti air bah berhamburan keluar dari rumah mereka, menyoraki mencaci maki, dan berteriak teriak menghina Rasul. Semua tumpah ruah.  Kaum dewasa dan bahkan juga anak-anak mereka, mulai melempari keduanya  dengan batu-batu dan apa saja. Zaid berusaha melindungi Rasulullah Saw. Lemparan batu terus beterbangan dan akibatnya, darah pun bercururan dari tubuh keduanya. Rasulullah Saw dan Zaid terus berlari menjauhi, dikejar dan diusir amarah keberingasan penduduk Thaif. Akhirnya mereka tiba di suatu tempat bernama Qarnis-Tsa’alib.

Di angkasa, sekumpulan awan seperti meneduhi keduanya yang sudah letih berlari menyelamatkan nyawa dan risalah. Saat itulah Rasulullah Saw mendengar ucapan salam seseorang dari atas sana. Seketika ia menengadahkan kepalanya – nun di atas sana, Jibril A.s bertitah : “Wahai Muhammad. Sesungguhnya Allah Swt telah mendengar apa yang dikatakan kaum Tsaqif serta jawaban mereka atas ajakan engkau. Bersamaku ini adalah malaikat penjaga bukit yang diutus Allah Swt untuk engkau. Maka perintahkanlah apa saja yang Engkau kehendaki. Seandainya Engkau ingin dia menghimpitkan bukit Abu Qubais dan bukit Ahmar ke tubuh dan seluruh perkampungan mereka, niscaya dia akan melakukannya!”.

Sesaat kemudian, Malaikat penjaga bukit muncul dan memberikan salam kepada Rasulullah Saw. Malaikat bukit ini meyakinkan apa yang telah dikatakan oleh Malaikat Jibril A.s tadi. “Perintahkanlah aku. Seandainya engkau menghendaki kedua bukit ini dihimpitkan kepada mereka, niscaya akan aku lakukan dengan segera!”, ujarnya.

Apa jawaban Rasulullah Saw ?
Lelah yang luar biasa dan sakit dari luka akibat lemparan batu masih perih beliau rasakan. Namun Rasulullah Saw menolak tawaran malaikat penjaga bukit untuk membalas menghancurkan musuhnya. Beliau Saw bahkan memanjatkan do’a kepada Allah Swt agar penduduk Thaif diberi hidayah: “Allahummahdii Qawmii Fainnahum Laa Ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam.
Rasulullah Saw bahkan tak  lupa mendo’akan agar keturunan mereka nanti menyembah Allah Swt semata. Tidak akan mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Subhanallah !

Saat itu kondisi di Mekah memang sudah sangat luar biasa kerasnya menolak dakwah Rasulullah Saw. Dua orang yang sangat dicintai oleh Rasul, yang sekaligus merupakan duo ‘benteng’ perjuangan, telah berpulang. Abu Thalib, sang paman – putera petinggi urusan politik, hukum, dan keamanan penguasa Quraisy Abdul  Muthalib yang selama ini selalu mampu menjadi ‘tameng’ Rasulullah Saw dari kebengisan kaum musyrikin Quraisy, baru saja meninggal dunia. Disusul pula dengan wafatnya isteri beliau tercinta, Khadijah R.ha, belahan hati dan tambatan jiwa dalam suka duka perjuangan menegakan risalah illahi. Selalu dikala Rasulullah Saw menghadapi berbagai kesulitan, wanita mulia inilah yang  memberikan semua dukungan, baik moral maupun materil. Kini keduanya telah tiada.

Dengan ketiadaan sang isteri dan paman tercinta, hari demi hari makin terasa intensitas kekejaman orang-orang musyrikin Makkah, semakin naik memuncak. Tekanan dan penyiksaan terhadap pengikut Muhammad makin meningkat. Kondisi dakwah di Mekah sudah sangat jauh dari kondusif sehingga basis baru harus dicari. Dan kota Thaif yang memang taklah jauh dari Makah itu adalah salah satu calon basis tersebut.

Ke sanalah, dengan berusaha tak terdeteksi oleh intelijen penguasa Makkah – ditemani Zaid, Rasulullah Saw berangkat dalam suatu missi rahasia. Beliau ingin menemui tiga  pemuka Thaif, sembari berharap bahwa Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas’ud akan berbaik hati. Kepada ketiga pemimpin kota ini, Rasulullah Saw menjelaskan tentang visi dan missi serta wawasan keselamatan bangsa, menjelaskan kondisi kaum Muslimin yang terkubur dalam kemungkaran di seluruh pelosok negeri. Beliau Saw sekaligus menanyakan kemungkinan Thaif untuk dijadikan sebagai basis dakwah serta berharap kaum Tsaqif akan memberikan perlindungan kepada dakwah Rasullullah Saw.

Dan Rasulullah Saw pun tak lupa memohon, seandainya para pembesar Tsaqif tersebut menolak permintaannya, ia berharap mereka untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang pertemuan rahasia itu. Namun apa mau dikata, harapan tidaklah selalu berbuah keindahan. Reaksi para pemuka kota Thaif sungguh sangat diluar keinginan Rasulullah Saw. Ketiga tokoh itu mengumumkan pertemuan rahasia tersebut ke masyarakat luas di seantero kota. Mereka bahkan tak sekedar menolak dakwah Rasul. Tak hanya itu. Mereka kemudian berteriak teriak melecehkan Rasul dengan mencaci maki umpatan kata kata kotor. Konon, dengan nada sinis, seorang dari mereka berteriak bertanya mengapa Allah kok sudah begitu lemah sehingga harus mengutus seorang seperti Muhammad, meminta-meminta perlindungan kepada kaum Tsaqif !

Belajar dari peristiwa Thaif, kita melihat bagaimana sebuah akhlaq sempurna telah ditunjukkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi kedzaliman disaat beliau belum punya kekuatan fisik, kendati pun Rasul mendapat tawaran dari ‘atas’ untuk melakukan perhitungan dengan penduduk kota Thaif. Rasulullah Saw telah membuat monumen percontohan untuk kita semua dalam menghadapi perlakuan orang-orang yang bengis dan dzalim.

Coba kita refleksikan  sekiranya kita berada dalam posisi Rasul, disiksa, dihina, dicaci maki, disoraki, difitnah, bahkan disumpahin sebagai sesat. Siksaan badan dan terlebih-lebih hati yang terluka sangat dalam. Kemudian ada seseorang yang sangat kuat menawarkan jasa untuk membuat perhitungan dengan kaum dzalim tersebut. Mungkin kita akan langsung menerima tawaran tersebut. Namun tidak demikian dengan Rasulullah !

Pandangan beliau senantiasa tertuju kepada masa depan. Itulah pemimpin visioner. Melihat asas kemanfaatan ke masa depan didasarkan atas rasa kasih sayang yang sangat besar kepada kaum dan bangsa. Kepada kemanusiaan. Muhammad berharap dari kota Thaif suatu masa kelak akan lahir generasi Ilahiyah, generasi yang akan membela perjalanan menuju masa hadapan kelak. Seandainya kota Thaif dihancurleburkan – sebagaimana negeri kaum Luth – tentu harapan do’a tersebut taklah akan bisa jadi kenyataan.

Ada kisah lain pada masa awal dakwah beliau di ibukota Makkah, tentang dua orang pejabat tinggi pemimpin koalisi Quraisy. Umar bin Khattab, dan Abul Hakam bin Hisyam alias Abu Jahal, yang sedang naik daun dengan kekuasaannya. Keduanya begitu benci terhadap Muhammad dan pengikutnya. Keduanya punya karakteristik yang hampir mirip, yaitu kharisma yang besar dan kedudukan politik dan militer yang sangat kuat, bahkan ditakuti oleh banyak orang. Kabarnya, yang takut kepada Umar saat itu tak hanya manusia saja. Syetan juga akan lari menepi manakala Umar berjalan ke arahnya.

Melihat potensi tersebut Rasulullah Saw mendo’akan agar minimal salah satu dari mereka menjadi pengikut. Do’a Rasulullah Saw terkabul. Sejarah kemudian – bahkan sampai saat ini, mencatat nama Umar ibn Khattab R.a dengan goresan tinta emas peradaban. Karena itu marilah kita membangun peradaban dengan semangat Tuhan ketika mengatakan : “Siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari (kekuatan) kuda-kuda yang ditambat untuk berjuang, yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh, musuhmu dan orang selain mereka yang tidak mengetahui sedang Allah Swt mengetahui. Apa saja yang kamu programkan  pada jalan-Nya, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan tidak akan di aniayakan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s