Etika Imam dan Makmum


Dari Kitab Bidayatul Karangan Imam Ghozali :

1. Sebaiknya imam sholat meringankan sholatnya.
Sahabat Anas bin Malik ra berkata: “Aku tidak pernah sholat di belakang sesorang yang lebih ringan dan lebih sempurna dari sholat Rasulullah Saw.”
Janganlah memulai takbir sebelum muadzin menyelesaikan adzan dan iqamahnya.
Jangan pula kamu mulai sholat sebelum barisan lurus.
Setelah itu imam membaca takbir dengan suara keras, sedangkan makmum dengan suara lirih yang hanya didengar oleh dirinya.
Imam harus niat menjadi imam agar memperolah keutamaan.
Kalau imam tidak niat menjadi imam dan makmum niat makmum maka sah sholat makmum dan memperoleh keutamaan berjamaah.

2. Imam sebaiknya membaca do’a ifititah dengan lirih begitu juga ketika membaca Ta’awwudz, tetapi membaca keras pada bacaan Fathihah dan surah pada semua rakaat sholat Shubuh, dua rakaat pertama sholat Maghrib dan Isya’, begitu juga hukum ini berlaku pada mereka yang sholat sendirian.
Di sunnahkan membaca “Ameen” dengan suara keras pada sholat yang disunnahkan membaca keras, baik bagi imam maupun makmum.
Sebaiknya bacaan “Ameen” imam dan makmum serentak dan berbarengan.
Setelah ameen, sebaiknya imam diam sejenak, pada saat itu makmum membaca Fatihah pada rakaat yang di sunnahkan membaca keras agar makmum bisa mendengarkan saat imam membaca surah.
Makmum tidak membaca surah pada rakaat yang dibaca keras kecuali apabila makmum tidak mendengar bacaan imam.

3. Imam sebaiknya tidak melebihi tiga kali dalam bacaan tasbih saat rukuk dan sujud. Imam tidak perlu menambahi do’a setelah tasyahud awal setelah bacaan sholawat.

4. imam pada dua rakaat yang trakhir cukup membaca Fatihah.
Sebaiknya imam tidak memperpanjang sholat yang berlebihan.
Imam juga tidak perlu memperpanjang doanya pada Tasyahhud akhir.
Kemudian imam niat mengucapkan salam kepada jamaah saat membaca salam penutup sholat dan makmum berniat menjawab salam imam.

5. Seusai salam, imam berdiam sejenak lalu menghadapkan mukanya ke arah makmum. Apabila ada makmum perempuan maka imam tidak menghadapkan muka ke makmum.

6. Sebaiknya makmum tidak berdiri sampai imam berdiri.
Sebaiknya imam meninggalkan tempat dengan menghadap arah kanan, meskipun arah kiri juga diperbolehkan.

7. Ketika berdoa, imam harus menggunakan redaksi kami, seperti pada saat do’a Qunut Shubuh, imam membaca “Allahummahdina” dengan suara keras.
Sedangkan makmum membaca ameen dan tidak mengangkat tangan karena tidak ada hadist yang menunjukkan.
Selanjutnya makmum membaca qunut sendiri mulai dari bacaan: إنك تقضي ولا يقضى عليك

8. Makmum tidak tidak diperbolehkan berdiri sendiri, tetapi dia masuk ke dalam barisan atau menarik salah satu makmum lain.
Makmum tidak boleh mendahului imam dalam hal gerakan atau sama dengan imam, tetapi harus sedikit setelah imam.
Makmum tidak boleh rukuk sebelum imam betul-betul telah rukuk.
Begitu juga makmum tidak sujud sebelum jidat imam menyentuh bumi untu sujud.

Dari kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Ghozali:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s