Lakon Wayang Part 1


Kumpulan Cerita Wayang

Daftar ISI

HALAMAN-1

Drupadi
Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan
Darah yang Bercahaya
Kidung Malam 1 – 14
HALAMAN-2
Brajadenta – Brajamusti
Gugurnya Salya
Kala Bendana Gugur
Gojali Suta
Kidung Malam 15 – 20
Aji Narantaka
Kidung Malam 21 – 23
Adipati Karna
HALAMAN-3
Baratayuda : Kresna Gugah
Baratayuda: Hari-hari Menjelang Pecah Perang
Baratayuda: Perang Besarpun Dimulai di Hari Pertama
Baratayuda: Hari-hari Panjang di Padang Kurusetra
Baratayuda : Akhir Perjalanan Sang Jahnawisuta
Kidung Malam 24 – 30
Dewa Ruci
Bima Suci

HALAMAN-4
Usaha Perdamaian
Durna Tapa
Irawan Maling
JALADARA RABI
Kangsa Adu Jago
Baratayuda: Rekadaya Durna, Sang Senapati Tua
Baratayuda: Lunaslah Janji Abimanyu
Baratayuda: Ricuh di Bulupitu
Baratayuda: Ricuh juga di Kadilengeng
Baratayuda : Sihir Sakti Sempani
Kidung Malam 31

HALAMAN-5
Kidung Malam 32 – 40
Pandu Lahir
Pandu Winisudha
Baratayuda : Terjerat Jerat Cinta, Arjuna-Murdaningsih

HALAMAN-6
Baratayuda: Teror Kepala Jayadrata
Baratayuda: Akhir Dendam yang Terpendam
Baratayuda: Mahalnya Sebuah Harga Diri
Kumbayana
PANDAWA APUS
Pandawa Pitu
PANDAWA PUTER PUJA
Pandu Papa
Semar Kuning

HALAMAN-7
Arjuna Sasra Lahir
Parikesit Lahir
Parikesit Grogol
Peksi Anjaliretna
Dan Langit Pun Menangis
Telaga Ajaib
Sena Rodra
Suryaputra Rabi
Suyudana Rabi
Wahyu Cakraningrat
Rajamala
Penderitaan Bima
Pengkhianatan Di Balai Sagala-gala
Prabu Salya Terjebak
Dorna Gugur

HALAMAN-8
Pancawala Rabi
Baratayuda: Kala Kalabendana Menjemput
Baratayuda: Drupadi telah meluwar Janji
Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri
Baratayuda: Palgunadi dan Janji Sang Guru
Baratayuda: Mimpi Besar Aswatama
Baratayuda: Atas Nama Darma Satria
Baratayuda : Ketika Rahasia itu Terungkap

HALAMAN-9
Baratayuda : Saat Saat Terakhir
Pandawa Gugat
Pertemuan Agung
Purbodjati
Srikandi Daup
Wahyu Makuta Rama
Wisanggeni Lahir
Prasetya Basukarna
Kidung Malam 41 – 46

HALAMAN-10
Kidung Malam 47 – 50
Baratayuda: Siasat Sang Pecundang
Baratayuda : Jujurlah, Pinten, Tangsen!
Baratayuda: Salya dan Bunga Cempaka Mulia
Sudamala
Baratayuda: Utang Piutang Bagaspati – Narasoma
Baratayuda: Babak Akhir Baratayuda Jayabinangun

HALAMAN-11
Antareja Takon Bapa
Antasena Rabi
Arjuna Papa
Berdirinya Negara Botono Kawarso
Gatotkaca Rabi
Bisma Gugur
Abimanyu Terjebak Perangkap Mahadigda
Yudhistira Lambang Manusia Sabar dan Adil
Karna Lahir
Karna Tidak Tergoyah Rayuan Ibunya
Duryudana Sekaratnya Tersiksa
Salya Membuka Rahasia Kematiannya
Kresna, Dibalik Keadilan Yang Kontraversi
Asal Usul Candrabirawa
Sakuni
Arjunasasrabahu 1-6

HALAMAN-12
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
Rahwana Lahir
Rama Wijaya 1-5
Sumantri dan Sukrasana
Kidung Malam 51-55
Raden Barata
Batara Kala Lahir

HALAMAN-13
Bogadenta dan Tetesan Air Mata Kehidupan
Semar Membangun Kahyangan
Wahyu Makutharama
Antarja Lair
Arjuna Lair
Arjuna Terus
Aryapabu Rabi
Bima bungkus
Bima Swarga
Kidung Malam 56-65

HALAMAN-14
Karna Tanding
Banjaran Karna
Garjendramuka
Anggada Balik
Kembang Dewaretna
Sinta Obong
Manumayasa Rabi
Sakutrem Rabi
Bambang Sakri Rabi
Palasara Rabi
Wahyu Tirta Manik Mahadi

HALAMAN-15
Kelahiran Yudhisthira
Yudhisthira Rabi
Subali Gugur
Ayodya Bedah
Benggala Runtuh
Bukbis
Lokapala Bedah
Wisnu Rabi
SRIMAHAPUNGGUNG
Sri Mantuk
Alap-alap Banowati
Alap-alapan Dursilawati
Alap-alapan Larasati
Arjunawiwaha
Babat Wanamarta
Baka Lena
Baladewa – Balarama
Bambang Manonbawa
Banjaran Bima

HALAMAN-16
Banjaran Kumbakarna
Banjaran Ramaparasu/Ramabargawa
Banjaran Sengkuni
Bima Birawa
Bogadenta Gugur
BOMANTAKA
Bondan Peksajandu
Brantalaras Rabi
Burisrawa Lena
Candrageni
Danasalira
Danumaya
Dewabrata Rabi
Gandamana Luweng
Janggan Smarasanta
Kijing Wahana
Kilat Buwana
Kuntulwilaten
Lambangkara
Mayangkara

HALAMAN-17
Batara Surya Krama
Bremana-Bremani
Batara Guru Krama
Mustakaweni
Narasoma
Palguna-Palgunadi
Pancawala Kalarung
Pregiwa – Pregiwati
Resi Seta Gugur
Sadewa – Krida
Samba Ngengleng
Sardula Buda Kresna
Sasikirana
Sawitri
Semar Mbarang Jantur
Semar Gugat
Semar Tambak
Sentanu Rabi

HALAMAN-18
Senawangi
Setyaki Rabi
Sindusena
Sitija Takon Bapa
Sri Mulih
Sri Pepitu
Sri Tanjung
Sridenta
Sucitra Krama
Sudamala
Sugatawati (Endrasekti)
Sugatawati Rabi
Tugu Wasesa
Ugrasena Rabi
Utara dan Wratsangka Rabi
Wahyu Dewandaru
Wahyu Jatiwasesa
Wahyu Jayaningrat
WAHYU KAYU MANIK IMANDOYO KUMOLO SARI
Wahyu Panca Budaya

HALAMAN-19
Kidung Malam 66-75
Wahyu Purbosejati
Wahyu Sumarsana Wilis
Wahyu Wasesa Tunggal
Watu Kurung
Wisanggeni Rabi
Wisnu Nitis
Yamawidura Krama
Yudayana Ical
Dasarata Rabi

HALAMAN-20
Wibisana Tundung
Rama Gandrung
Indrajid Lena
Rama Obong
Rama Tundung
Rama Tambak
Sayembara Mantili
Arjuna Wibawa
Bambang Jinggata
Bambang Partadewa
Basudewa Grogol
Bima Kacep
Bima Pupuk
Bima Tulak
Cekel Endralaya
Darmabirawa
Ganda Wardaya
Gandasasi
Gatokaca Rante

HALAMAN-21
Gatotkaca Winisuda
Jamurdipa
Kakrasana-Narayana Lahir
Kandihawa
Karna Tanding
Kenyawibawa
Kresna Kembang
Kunti Pilih
Lepen Serayu
Lesmana Mandrakumara Lair
Lesmana Mandrakumara Rabi
Merak Mas
Mustikadewi
Nirbita
Palgunajati
Pamuksa

HALAMAN-22
Pandawa Nugraha
MAHABHARATA: Cinta Dushmanta Terpaut di Hutan
MAHABHARATA: Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga
MAHABHARATA: Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma
MAHABHARATA: Amba, Ambika, dan Ambalika
MAHABHARATA: Ilmu Gaib Sanjiwini
MAHABHARATA: Kutukan Mahaguru Sukra
Kidung Malam 76-81

HALAMAN-23
Pandu Lahir
Pandu Muksa
Peksi Dewata
Pendadaran Siswa Sokalima
Petruk Nagih Janji
Pulung Retna Pusara Catur
Puntadewa Lair
Retna Paniti
Semar Boyong
Semar Mantu
Sesaji Rajasuya
Setyaki Lair
Sumitra Rabi
Korawa Lahir
Turanggajati
Wahyu Linggamaya
Wahyu Makutha Kencana
Wahyu Manik Imandaya
Wahyu Pandu Dados Ratu
Wahyu Pubalaras

HALAMAN-24
Gana Lahir
Guru Rabi
Kalingga (Sakutrem)
Mikukuhan
Kelahiran Yudhisthira

HALAMAN-25
Kidung Malam 82-93
MAHABHARATA: Yayati Tua Ingin Muda Kembali
MAHABHARATA: Mahatma Widura

HALAMAN-26
MAHABHARATA: Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti
MAHABHARATA: Pandawa Lahir di Hutan
MAHABHARATA: Bhima Menjadi Sakti karena Racun dan Bisa
MAHABHARATA: Karna, Anak Sais Kereta Kuda
MAHABHARATA: Drona, Seorang Brahmana-Kesatria
MAHABHARATA: Istana dari Papan Kayu
MAHABHARATA: Pandawa Terhindar dari Maut
MAHABHARATA: Bakasura Terbunuh
MAHABHARATA: Sayembara Memperebutkan Draupadi
Kidung Sudamala
Kelahiran Pandhawa

HALAMAN-27
Kelahiran Bima
Perkawinan Bima dengan Arimbi
Bima Suci
Kelahiran Arjuna
Perkawinan Arjuna dengan Sumbadra
Gatotkaca Kembar

Drupadi

SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”

Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”

”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.

Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?

Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.

”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”

Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.

SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”

Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”

”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.

Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?

Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.

”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”

Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s