Lakon Wayang Part 12


Kidung Malam 24
Aswatama
Aswatama sakit hati melihat haknya direbut oleh orang lain. Bagaimana tidak? Bukankah ia adalah anak semata wayang, satu-satunya pewaris dari sang Guru Durna, tetapi mengapa dengan enaknya, tanpa pembicaraan dan pemberitahuan lebih dulu, bapanya telah mewariskan mustikaning pusaka Gandewa pemberian Dewa Indra itu kepada Harjuna. Siapakah Harjuna itu? Bukankah ia hanyalah salah satu murid Sokalima? Tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Sang Guru Durna?

“Dhuh Dewa!!!” Aswatama merebahkan diri di lantai, air matanya akan menetes, namun tiba-tiba ditahannya, ketika ia mendengar langkah kaki yang tidak asing di telinga mendekati dirinya. Dengan segera ia bangkit. Panas hatinya telah mengeringkan air di matanya. Sebelum suara langkah kaki tersebut sampai ditempat itu, ia lari menembus kegelapan malam. Langkah Durna dipercepat agar dapat mengetahui kemana Aswatama mengarahkan larinya.

Di tanah lapang ujung dusun Aswatama menghentikan larinya. Ia berbaring terlentang dirumput yang mulai dibasahi embun malam. Walaupun malam itu bulan sedang tidak bertahta, langit tidak menjadi gelap-pekat karena bertaburnya berjuta bintang. Aswatama membiarkan rasa dingin mulai menyentuh kulit, merambat ke aliran darah menuju ke jantung dan meyebar ke hati, ke otak dan ke seluruh tubuh.

Proses pendinginan itulah yang kemudian membuat Aswatama tidak mampu lagi membendung air matanya. Ia menagis tersedu-sedu bukan karena pusaka Gandewa, tetapi lebih kepada bahwa keberuntungan tidak pernah berpihak padanya. Dhuh Sang Hyang Tunggal, tidakah Engkau cabut saja nyawaku, dari pada hidupku hanya akan menambah cacatan buruk bagi sejarah manusia.

Dalam keadaan seperti itu biasanya Aswatama mulai berimajinasi tentang ibunya yang adalah seorang bidadari bernama Wilutama. Dengan cara demikian maka semua persoalan hidup akan terlupakan. Yang ada adalah sebuah kerinduan untuk berjumpa dengan seorang ibu yang pernah melahirkannya.

Dicarinya wajah ibunya diantara bintang-bintang yang berserakan, namun tidak pernah ditemukan. Bahkan senyumnyapun tidak.

Malam mulai merambat pagi. Matanya mulai lelah, dan selanjutnya tertidurlah ia. Ketika hari telah berganti pagi, sebelum fajar merekah, Aswatama dikejutkan oleh datangnya sepasang manusia, yang sungguh sempurna sebagai manusia. Dengan ramah mereka datang menghampiri Aswatama untuk menanyakan letaknya padepokan Sokalima. Aswatama tidak segera menjawab. Dipandanginya ke dua orang tersebut secara bergantian, ia sangat terpana dengan wanita yang berada di depannya. Cantik sekali! Seperti inikah Batari Wilutama.

“Maaf kisanak, dimanakah padepokan Sokalima berada?” Aswatama tersadar. Untuk menutupi rasa malu, ia segera mengantarkan keduanya ke Padepokan Sokalima.

“Aku bernama Ekalaya seorang raja dari Paranggelung, dan ini adalah isteriku bernama Dewi Anggraeni. Kami berdua datang ke Sokalima untuk berguru kepada Begawan Durna.”

Berdesir hati Aswatama mendengar bahwa wanita yang cantik jelita bak bidadari tersebut akan berguru kepada bapa Durna. Itu artinya bahwa ia akan sering ketemu. Ah betapa bahagianya. Wajahnya berseri penuh keceriaan. Rasa sakit hati atas sikap bapanya karena telah mewariskan pusaka Gandewa kepada Harjuna untuk sesaat terlupakan.

Di Padepokan Sokalima Ekalaya dan Anggraeni diterima Pandhita Durna. Sebagai seorang yang berilmu tinggi Pandita Durna dapat menangkap dan merasakan bahwa Ekalaya mempunyai kemampuan yang luar biasa, seperti kemampuan yang dimiliki para dewa. Oleh karenanya jika Durna mau memerima murid istimewa tersebut maka tentunya Durna dapat berharap banyak kepadanya. Namun tidaklah sesederhana itu untuk mengangkat murid baru. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka dalam menunggu keputusan Pandita Durna, Ekalaya dan Dewi Anggraeni dipersilakan untuk tinggal sementara di Sokalima.

Itulah kesempatan yang paling diharapkan Aswatama. Karena dengan demikian ia dapat menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Dewi Anggraeni. Bagi Aswatama kehadiran mereka berdua terlebih Dewi Anggraeni, merupakan magnet yang sangat kuat sehingga mampu menyedot seluruh budi, pikiran yang ada dalam pribadi Aswatama.

Anggraeni, Anggraeni, mengapa aku menjadi tak berdaya karenamu? Sungguh kecantikanmu melebihi semua wanita yang pernah aku jumpai. Selayaknya engkau tidak hidup di bumi yang kotor dan jelek ini, tetapi hidup di kahyangan yang indah mulia.

Seperti itukah wajah seorang bidadari?

Seperti itukah ibuku Bidadari Wilutama?

Jika benar, beruntunglah aku.mempunyai ibu secantik Anggraeni.

Sepekan berlalu Durna belum memutuskan apakah Ekalaya diangkat murid atau ditolak. Memang pada umumnya seorang Pandita mempunyai kebebasan penuh dalam hal mengangkat murid. Namun apakah kebebasan tersebut masih di perolehnya setelah Durna resmi menjadi guru istana.

Memang ketika aku diangkat menjadi guru istana, Resi Bisma dan Begawan Abiyasa mengatakan bahwa selama mengajar Para Kurawa dan Pandawa, aku tidak diperkenankan mengangkat murid baru. Tetapi itu dulu. Sekarang secara resmi tugasku telah selesai. Semua ilmu telah aku ajarkan kepada Pandawa dan Kurawa. Walaupun begitu aku masih memberi kesempatan kepada mereka untuk sewaktu-waktu datang di padepokan guna menuntaskan, mematangkan dan mengembangkan ilmu yang telah aku berikan. Dan aku pikir sekarang aku boleh mengangkat murid baru

Kehadiran Ekalaya dan Anggraeni membuat padepokan Sokalima semarak. Banyak orang datang ingin menghaturkan sembah kepada Raja Paranggelung beserta prameswarinya yang sangat cantik jelita. kepada

Disore yang indah, ketika matahari segera berangkat ke peraduan, Durna memanggil Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama.

Kidung Malam 25
Hidup menjadi Indah
Ada perasaan menyesal menggelayut di dada Durna, ketika di pagi buta, pusaka Gandewa telah dibawa pergi oleh Harjuna. Walaupun langkah itu sudah digelar-digulung sebelumnya, toh kekecewaan masih juga menghampiri perasaannya. Ia membenarkan kata Aswatama, bahwa Harjuna tidak berhak atas pusaka Gandewa itu. Tetapi bagaimana lagi keputusan sudah dijalankan, dan pusaka telah dibawa Harjuna ke Panggombakan.

Perasaan bersalah kepada Aswatama itulah yang kemudian ingin ditebus dengan keinginannya untuk membahagiakan anak semata wayang. Melalui ketajaman naluri, Resi Durna mampu melihat bahwasanya semenjak kedatangan Ekalaya dan Anggraeni, Aswatama senantiasa memperlihatkan keceriaannya. Ekalaya, raja besar yang mewarisi kerajaan ayahnya, Prabu Hiranyadanu dari negeri Nisada, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Paranggelung. Melihat sikap Astatama, Sang Resi harus berpikir seribu kali untuk menolak Ekalaya. Karena jika hal itu dilakukan, tentunya Ekalaya dan Anggraeni segera angkat kaki dari bumi Sokalima. Akibatnya, Aswatama akan bersedih dan kecewa. Maka mau tidak mau, demi kebahagiaan anaknya, Durna harus menahan Ekalaya, khususnya Anggraeni, agar Aswatama tidak terpukul hatinya untuk yang ke dua kali.

Sang Resi sendiri mengakui bahwa Raja Paranggelung serta prameswarinya itu merupakan pasangan yang sempurna. Keduanya tampan dan cantik jelita, ramah, santun, rendah hati dan sangat menghormati sesamanya. Sehingga setiap orang yang berjumpa dan berbincang-bincang dengan mereka akan merasa berharga sebagai manusia.

Malam itu Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama memenuhi panggilan Sang Resi datang di pendapa induk padepokan. Sembah yang diberikan Ekalaya membuat Durna layak untuk berbesar hati. Lebih-lebih prameswarinya, Anggraeni, yang santun dan selalu memperlihatkan senyumnya, akan membuat siapa saja enggan meninggalkan sapaan lembut yang menyejukkan sanubari.

“Ekalaya, walaupun dalam pengamatanku engkau sudah menampakan kesungguhan berguru kepadaku, untuk saat ini aku belum akan mengangkatmu sebagai murid. Namun jangan berkecil hati, engkau aku beri kesempatan belajar pengetahuan tentang ilmu yang aku ajarkan kepada murid-muridku di Sokalima.”

Bagi Ekalaya, kesempatan yang diberikan oleh Pandita Durna sudah lebih dari cukup. Oleh karenanya Ekalaya berjanji ingin menggunakan kesempatan berharga tersebut dengan sebaik-baiknya.

Sejak awal, Ekalaya yang juga bernama Palgunadi, datang ke Sokalima untuk memperdalam ilmu memanah. Karena bagi Ekalaya, raja Nisada atau Paranggelung, ilmu dan ketrampilan memanah merupakan pelajaran wajib bagi seluruh rakyat di negeri itu. Maka ketika mendengar bahwa di Sokalima diajarkan ilmu memanah tingkat tinggi, Ekalaya berkeinginan memperdalam ilmu memanah kepada Resi Durna, Guru Besar di padepokan Sokalima.

Waktu berjalan cepat, tak terasa sudah hampir setahun Ekalaya belajar kepada Pandita Durna. Tidak peduli dengan predikat murid yang belum didapat, Ekalaya telah menyerap pengetahuan ilmu-ilmu Sokalima, termasuk ilmu memanah. Namun ilmu saja belum cukup, oleh karenanya Ekalaya ingin mempraktekkan ilmu yang didapat dari Pandita Durna, terutama ilmu memanah.

Suatu malam Ekalaya bermimpi sedang belajar memanah di sebuah taman asri di tengah hutan. Di sudut taman terdapat patung Pandita Durna yang sedang tersenyum, seakan-akan bangga melihat kemampuan muridnya. Bagi Ekalaya, belajar memanah di depan patung Pandita Durna tersebut terasa mendapat energi yang luar biasa sehingga dapat menggugah jiwa dan mengobarkan semangat dalam belajar.

Sejak mimpi itu, Ekalaya berkeinginan membuat tempat latihan seperti pada gambaran mimpinya tersebut. Dewi Anggraeni, sebagai isteri setia, menyetujui niat suaminya. Aswatama dengan penuh kebaikan melayani segala sesuatu yang dibutuhkan demi kelancaran Ekalaya dalam menuntut ilmu. Sehingga bagi Ekalaya dan Anggraeni, Aswatama mendapat tempat khusus di hati keduanya karena jasa-jasanya.

Pernah terlintas dibenak Ekalaya dan Anggraeni, kelak jika tugasnya di Sokalima telah selesai, mereka berkeinginan memboyong Aswatama ke Paranggelung untuk diberi kedudukan tinggi sebagai sahabat raja.

Waktu satu tahun selama perjumpaannya dengan Ekalaya dan Anggraeni khususnya, telah mampu menggeser semua sejarah hidup Aswatama yang sudah hampir mendekati 30 tahun. Hidup lama telah diganti hidup baru. Bagi Aswatama, pasangan Ekalaya dan Anggraeni telah mampu mengubah hidupnya secara luar biasa. Aswatama yang semula merasa lebih rendah atau tidak lebih berharga dibandingkan dengan para ksatria Pandhawa, ternyata ia sangat berharga di mata raja besar Paranggelung beserta prameswarinya. Jika selama ini Aswatama tidak percaya diri akan kemampuannya di hadapan orang tuanya, kini mulai menemukan banyak kelebihan dihadapan sang Raja sakti dari negara Nisada. Sungguh ajaib, perjumpaannya dengan Ekalaya dan Anggraeni yang penuh kasih dan rendah hati, membuat hidup Aswatama indah berseri bagai pelangi.

Keindahan malam itu, malam bulan purnama, menjadi semakin indah ketika dari bibir nan lembut indah, mengalun suara kidungan yang merdu menyusup kalbu.

“Anggraeni-Anggraeni, engkau manusia nan sempurna Karena kesempurnaanmu sebagai manusia, engkau bak bidadari yang turun ke dunia. Seperti ia kah ibuku Bidadari Wilutama?

Ibu, ibu, aku rindu padamu.

Kidung Malam 26
Bertepuk Sebelah Tangan
Ekalaya membuktikan tekadnya untuk belajar tuntas ilmu memanah dari Pandita Durna. Walaupun setahun lebih keberadaannya di Sokalima ia secara resmi belum diangkat menjadi murid, ia telah memanfaatkan pertemuannya dengan Pandita Durna untuk menyerap berbagai ilmu yang diajarkan di Sokalima. Bahkan mulai menginjak tahun kedua, Ekalaya dengan dibantu Anggraeni dan Aswatama dan beberapa cantrik padepokan telah membuat sanggar di tengah hutan kecil di pinggiran wilayah Sokalima. Di sanggar yang suasana dan penataannya disesuaikan dengan gambaran mimpinya, Ekalaya dengan tekun belajar praktek memanah.

Patung pandita Durna yang diletakkan di altar sanggar mampu memberikan energi yang luar biasa bagi Ekalaya untuk belajar dan terus belajar. Mata patung yang dipahat cekung ke dalam seakan-akan menatap penuh waspada manakala Ekalaya mulai menarik busurnya. Sudut bibir patung yang dipahat sedikit naik ke atas, sepertinya sang Guru tersenyum bangga menyaksikan anak panah si murid satu-persatu melesat cepat, tepat mengenai sasaran. Tangan patung sebelah kiri kelihatan seperti mempersilakan apa pun yang akan dicoba dan dilatih oleh sang murid. Sementara tangan patung sebelah kanan memegang tasbih, dapat diartikan bahwa sang guru senantiasa berdoa bagi muridnya agar dapat berhasil menuntaskan ilmu yang telah dipelajarinya.

Anggraeni tidak berani mengganggu suaminya yang sedang berkonsentrasi tinggi dalam usahanya menyempurnakan ilmu memanah. Namun sebagai seorang isteri ia tidak pernah melepaskan pendampingannya. Siang malam Anggraeni, sang prameswari paranggelung, berada di sanggar, selalu siap sedia sewaktu-waktu suaminya membutuhkan bantuan yang perlu segera dipenuhi. Kelancaran Ekalaya dalam proses penyerapan ilmu-ilmu Sokalima, khususnya ilmu berolah senjata panah serta segala fasilitasnya, tidak lepas dari peran Aswatama.

Sesungguhnya di balik kebaikan Aswatama terhadap keduanya, terkandung maksud yang hingga saat ini masih tersimpan rapat di hatinya. Sejak awal pertemuannya dengan Anggraeni khususnya, Aswatama telah jatuh hati. Ia ingin selalu bertemu dan berdampingan dengannya, bahkan lebih dari itu. Oleh karenanya Aswatama memakai berbagai cara dan straregi untuk dapat selalu bersama dengan Anggraeni.

Aswatama tidak menyadari bahwa kesempatan yang selalu memungkinkan untuk dapat bersama-sama dengan Anggraeni dan Ekalaya tidak lepas dari peran Pandita Durna. Keberadaan Ekalaya yang bertahan hingga tahun kedua di Sokalima, memang disengaja oleh Durna. Sebenarnya status Ekalaya di Sokalima masih menggantung. Dikatakan sebagai murid Sokalima, Durna belum mengangkatnya secara resmi. Namun jika tidak dianggap murid Sokalima, nyatanya ia telah menyerap sebagian besar ilmu-ilmu Sokalima. Hal tersebut memang tidak penting bagi Pandhita Durna, karena yang diutamakan adalah supaya Aswatama bergaul semakin akrab dengan Anggraeni. Karena ia tahu bahwa anaknya telah jatuh hati dengan prameswari Paranggelung tersebut.

Namun setelah menginjak tahun kedua, benih cinta Aswatama semakin mengakar kuat, dan rupanya hal tersebut justru menjadi semakin sulit dilepaskan. Ada penyesalan yang kemudian datang terlambat, mengapa Durna tidak menolak Ekalaya dan Anggraeni lebih awal.

Oh ngger anakku, mengapa kamu jatuh cinta kepada seseorang yang sudah bersuami?

Sebenarnya bukan hanya Aswatama, siapapun orangnya akan jatuh hati melihat keelokan paras Anggraeni. Terlebih lagi jika sudah bertatap muka, saling menyapa, bergaul akrab dengannya, dapat dipastikan akan menumpuk rasa kagum yang menggunung dan rasa terpana yang tak berkesudahan. Oleh karenanya Aswatama tidak bersalah jika di hatinya telah tumbuh pohon cinta yang semakin lebat, karena tanpa disadari, Anggraeni telah menyiraminya setiap hari.

Sesungguhnya Anggraeni tahu bahwasanya Aswatama jatuh hati kepada dirinya. Namun bagi Anggraeni itu adalah urusan Aswatama. Sedangkan urusan Anggraeni adalah menjaga kemurnian perkimpoiannya dengan Ekalaya, tanpa harus menyakiti orang lain. Itulah yang selama ini dilakukan oleh Anggraeni ketika harus bergaul dengan orang lain, tak terkecuali Aswatama. Maka jika rasa hormatnya karena Aswatama adalah anak dari guru suaminya, dan rasa terimakasihnya karena Aswatama telah banyak membantu usahanya diartikan lain, sekali lagi itu adalah urusan Aswatama.

Aswatama pun tahu bahwa wanita seperti Anggraeni tidak mungkin akan menodai perkimpoiannya dengan Ekalaya, ia lebih baik mati daripada mengingkari kesetiaannya. Keramahan, kebaikan, sendau-gurau dan rasa hormat yang diberikan Anggraeni sangat terukur, tidak pernah melebihi batas-batas yang telah dibuatnya. Kejelasan dan ketegasan Anggraeni yang menandai hubungannya dengan Aswatama seharusnya sudah cukup bagi Aswatama untuk menarik diri dan perlahan-lahan membiarkan pohon cinta di hatinya kering dan kemudian mati. Namun yang terjadi justru sebaliknya, sikap Anggraeni yang tegas, suci dan mulia itu justru membuat Aswatama semakin jatuh cinta. Memang berat rasanya bertepuk sebelah tangan. Namun tetap mengasyikkan untuk diteruskan.

Kidung Malam 27
Panah Misterius
“Bapa Pandita aku datang.”

Durna mempersilakan anaknya masuk ke ruang dalam dan duduk mendekat, dan sangat dekat. Matanya yang sudah sipit semakin disipitkan. Di balik pelupuk matanya, Durna memandangi anaknya tajam sekali.

“Aswatama dapatkah aku membantumu?”

“Tentu Bapa Pandita, aku sangat membutuhkannya.”

“Katakan anakku.”

Aswatama tidak segera mengatakan maksudnya. Mulutnya terasa berat untuk membuka, mengucapkan kata-kata yang sesuai dengan hatinya. Durna sengaja membiarkan Aswatama mengatasi gejolak hatinya sehingga mulutnya dapat menyampaikan maksud hati yang sesungguhnya.

Berat rasanya beban itu disimpan sendirian. Ia ingin berbagi kepada orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu Bapa Pandita Durna.

“Bapa Pandita, maafkan anakmu ini, karena aku telah jatuh cinta kepada Anggraeni.”

Pernyataan Aswatama tersebut tidak mengejutkan Durna. Namun keberanian Aswatama mengatakan ya

Semenjak ia bergaul akrab dengan Ekalaya dan Anggraeni, Aswatama mengalami kemajuan yang sangat pesat di dalam pengelolaan terhadap diri sendiri dan pandangan-pandangannya mengenai hidup dan kehidupan.

Pernyataannya bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Dewi Anggraeni, isteri Prabu Ekalaya, adalah bukti bahwa Aswatama berani berkata dari kejujurann hatinya. Walaupun ia menyadari bahwa Aswatama tidak mungkin meminang Aggraeni, kata hatinya harus diungkapkan bahwa ia telah jatuh cinta kepada Anggraeni.

“Aswatama anakku, apa yang engkau katakan kepadaku ini juga telah engkau katakan kepada Anggraeni?”

“Tidak Bapa, tidak ada gunanya aku mengatakan kepada Dinda Anggraeni, karena aku berkeyakinan bahwa sesungguhnya Dinda Anggraeni sudah tahu bahwa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya. Bahkan bisa jadi pernyataanku akan menjauhkan persahabatanku dengan mereka.”

“Bagus anakku, artinya engkau menyadari bahwa cinta antara pria dan wanita yang bergelora di hatimu tidak mendapatkan tempat di hati Anggraeni?”

“Benar Bapa, demikian adanya.”

“Oh ngger anakku Aswatama, aku tidak menyesalkan nasibmu yang kurang beruntung, tetapi aku mensyukurinya bahwa engkau mampu berpikir jernih. Sebagai titah yang lemah, engkau tidak kuasa menolak dorongan cinta yang kuat. Tetapi sebagai titah yang dicintai dewa, engkau diberi kekuatan untuk menghadapi semuanya itu. Aswatama anakku, mataku terbuka, engkau benar-benar telah dewasa.”

Aswatama mendekap lutut Pandita Durna erat-erat, dan Pandita Durna mengelus-elus kepalanya dengan penuh haru dan kasih sayang. Tanpa sengaja benak dan pikiran mereka mengingat pada sosok yang sama bernama Batari Wilutama. Durna dahaga akan kasih sayang isteri yang dengan kesejukannya mendampingi dalam membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera. Sedangkan Aswatama lebih membayangkan jika ia sejak kecil mendapatkan kasih sayang seorang ibu tentunya akan lain jadinya.

Beberapa saat kemudian, Durna dan Aswatama menuju sanggar pamujan. Mereka sepakat ingin mendapatkan kekuatan dan jalan keluar dari segala permasalahan yang membelenggu hidupnya.

Siang itu langit biru bersih tanpa awan. Sang surya bersinar dengan sempurna. Namun walaupun begitu panasnya tidak mampu menembus lebatnya pepohonan di hutan kecil yang berada di sekitar Padepokan Sokalima. Di ujung jalan setapak yang diapit oleh rimbunnya semak belukar, ada serombongan bangsawan sedang berburu binatang hutan. Salah satu di antaranya adalah Harjuna dengan membawa anjing pelacak. Tanpa seorang pun mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba si anjing menyalak dengan keras dan berlari menuju arah tertentu. Tanpa diberi aba-aba Harjuna dan saudara-saudaranya mengikuti anjing pelacak tersebut.

Cep! Langkah mereka terhenti, demikian juga nyalak anjing pelacak diam seketika. Perlahan-lahan Harjuna mendekati anjing kesayangannya yang sudah tidak bergerak. Hatinya berdesir, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Kesatria luar biasa, murid andalan Sokalima tersebut tak kuasa menahan gejolak hatinya. Kemarahan besar meledak-ledak di dadanya. Selama hidupnya belum pernah ia mendapat malu seperti saat ini. Sebagai satu-satunya murid Sokalima yang ahli berolah senjata panah telah dihadapkan kenyataan bahwa tingkat kemampuan menggunakan senjata panah yang dikuasai Harjuna masih berada di bawah seorang yang melepaskan anak panahnya ke kepala anjing pelacak tersebut. Dengan seksama Harjuna dan saudara-saudaranya meneliti panah yang tepat menancap di antara kedua mata anjingnya dengan sempurna. Ada tujuh anak panah yang menancap hampir bersamaan pada satu titik yang sama. Sehingga cukup menyisakan satu anak panah rangkap tujuh. Sangat luar biasa.

“Kurang ajar, siapa orang yang telah memanah anjing kesayanganku!?”

Bima, Puntadewa, Sadewa dan Nakula, lebih heran lagi dibandingkan dengan Harjuna. Mata mereka tidak melihat ketika ada tujuh panah yang hampir bersamaan menghujam otak si anjing pelacak yang hanya berjarak beberapa jengkal di depannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s