Lakon Wayang Part 13


Kidung Malam 28
Ilmu Sapta Tunggal
Harjuna adalah seorang ksatria yang gemar ‘tapa ngrame’, selalu siap sedia menolong sesamanya yang membutuhkan, melindungi yang lemah, membela yang teraniaya. Ia senantiasa memperjuangkan kebenaran dan menentang yang durhaka. Maka tidak mengherankan, jika pada saat Sang Harjuna menyusuri jalan-jalan pedesaan, mereka berebut untuk menawarkan agar Harjuna berkenan singgah di rumahnya, untuk memberikan cunduk bunga melati, lambang dari cinta dan kasih sayang. Oleh karenanya bagi keluarga yang dikunjungi Harjuna menjadi berkah akan berkelimpahan.

“Hore! Hore! Hore! Sang Pekik datang, kita sambut dia, kita taburkan bunga mawar warna-warni. Ayo jongkok, ayo jongkok, jongkok. Beri sembah hormat kepadanya. Sang Pekik mampirlah di gubuk kami, mangga pinarak Raden, Raden Harjuna. Horeee!”

Suara suka-cita para kawula pedesaan yang terngiang di telinga berhenti seketika. Demikian pula suasana penuh kasih yang pernah singgah di sanubari lenyap tak berbekas. Ketika sang Harjuna melihat anjing kesayangannya tergeletak mati ditembus tujuh anak panah sekaligus. Yang ditinggal adalah sebuah kemarahan, yang semakin menjadi besar.

“Kurang ajar! Siapa yang berani menghina Harjuna, ayo keluarlah! Perang tanding melawan panengah Pandawa.”

Suasana hening sepi, tidak ada suara yang menanggapi tantangan Harjuna. Puntadewa cemas akan keadaan adiknya.

“Dinda Harjuna, mengapa jiwamu menjadi ringkih, engkau tidak dapat mengendalikan amarahmu ketika melihat panah luar biasa.”

“Karena anjing kesayanganku dibunuh.”

“Bukan Dinda Harjuna, bukan karena anjing kesayanganmu yang telah mati, tetapi karena pembunuhnya adalah orang yang sangat luar biasa dalam menggunakan senjata panah, melebihi kemampuanmu. Bukankah begitu Harjuna. Seharusnya engkau menjadari, bahwa di atas langit masih ada langit.”

“Kakanda Punta, bukankah langit di atasku adalah Bapa Guru Durna? Mungkinkah yang melakukan ini adalah Bapa Guru Durna? Karena hanya Bapa Guru yang mempunyai ilmu panah Sapta Tunggal yaitu melepaskan tujuh anak panah pada satu titik sasaran. Namun selama aku menjadi muridnya, Bapa Guru Durna belum pernah memberi contoh ilmu panah Sapta Tunggal sesempurna kali ini. Bapa Durna! Aku datang menghadap.”

Sembari membopong anjingnya yang telah mati, Harjuna diiring oleh Puntadewa, Bimasena, Nakula dan Sadewa menuju ke Padepokan Sokalima. Di balik rimbunnya pepohonan yang dilaluinya, ada dua pasang mata memandang tajam rombongan Pandawa. Mereka adalah Aswatama dan Anggraeni. Sejak Anggraeni dan Ekalaya tinggal di Sokalima, Aswatama menyarankan kepada mereka berdua agar selalu berusaha untuk tidak bertemu dengan murid-murid lain, baik itu para Pandawa atau para Kurawa. Dan saran Aswatama tersebut dipatuhi oleh Ekalaya dan Anggraeni. Demikian juga para cantrik padepokan selalu patuh kepada Aswatama, ikut merahasiakan kehadiran Ekalaya dan Anggraeni. Sehingga sampai memasuki tahun ketiga tidak ada seorang pun tahu bahwa di padepokan Sokalima ada seorang murid luar biasa yang melebihi murid-murid yang lain.

Kedahsyatan murid Sokalima yang tersembunyi ini, telah dirasakan oleh Harjuna. Diawali dari lolongan anjing pelacak yang sangat mengganggu laku semedi yang sedang dijalani, sehingga Ekalaya terpaksa melepaskan panahnya untuk menghentikan lolongan anjing yang ternyata adalah milik Harjuna.

Kedatangan Harjuna dan saudara-saudaranya disambut Pandita Durna dengan wajah berseri-seri. Maklumlah, Harjuna dan Bimasena adalah murid-murid kesayangan yang menjadi andalan Sokalima. Namun rupanya keceriaan wajah sang guru terhenti. Dahinya yang memang sudah keriput semakin keriput ketika ditatapnya Harjuna membawa anjing yang mati tertancap panah di dahinya dengan ilmu Sapta Tunggal.

Hatinya berdesir. Ia tahu siapa yang melakukannya, siapa lagi kalau bukan Ekalaya. Tetapi bagaimana jika Harjuna tahu tentang Ekalaya?

“Apakah Bapa Guru yang telah melakukan ini?”

Durna menggelengkan kepalanya

“Lalu siapa yang telah menguasai ilmu Sapta Tunggal, salah satu ilmu panah andalan Sokalima dengan sempurna?”

Durna berusaha untuk menyembunyikan nama Ekalaya terutama di hadapan Harjuna. Karena ia tahu jika Harjuna mengetahui bahwa ada murid Sokalima yang lebih pandai dibandingkan dirinya, akan fatal jadinya.

“Harjuna, akhir-akhir ini hutan di sekitar Sokalima sering didatangi pemburu asing, mungkin salah satu di antaranya yang telah melepaskan panah itu.”

“Ampun Bapa Guru, apakah ilmu Sapta Tunggal juga diajarkan di luar Sokalima?”

“Tidak Harjuna, tetapi ada ribuan ilmu memanah yang diajarkan di luar Sokalima. Dan bisa saja beberapa di antaranya mirip dengan ilmu Sapta Tunggal.

Kidung Malam 29
PATUNG DURNA
Lolongan anjing yang terus-menerus dirasa dapat mengganggu semedinya, maka Ekalaya melepaskan anak panah dari jarak jauh dan diarahkan ke suara anjing. Namun ternyata tindakan yang dilakukan Ekalaya tersebut berbuntut panjang. Pasalnya anjing yang terkena panah bukan anjing hutan, dan bukan pula anjing milik penduduk sekitar, seperti yang diduga oleh Ekalaya. Namun anjing tersebut ternyata anjing pelacak milik Harjuna.

Ketika Harjuna membawa bangkai anjingnya kepada Pandita Durna, dan menanyakan perihal panah yang menancap, Harjuna belum sepenuhnya lega atas keterangan Sang Guru Durna. Ia akan mencari sampai ketemu, siapa sesungguhnya orang berilmu tinggi yang telah membunuh anjingnya. Maka Harjuna segera mohon pamit untuk kembali ke hutan kecil di pinggiran Sokalima.

Melihat kegelisahan Harjuna, Aswatama yang sejak awal mengamati dari kejauhan, diam-diam mendahului Harjuna masuk ke tengah hutan untuk mengabarkan kepada Ekalaya dan Anggraeni. Demi keselamatan dua sahabatnya Aswatama menyarankan agar keduanya pergi ke tempat yang aman untuk sementara.

Sejatinya Ekalaya tidak gentar sedikit pun berhadapan dengan Harjuna, namun jika ia dan Anggraeni mau menyingkir ke tempat yang aman, tindakan itu merupakan penghargaannya kepda Aswatama sahabatnya. Tidak beberapa lama sejak kepergian Ekalaya dan Anggraeni, Harjuna sampai di sanggar Ekalaya.

Mata Harjuna teperanjat melihat ada patung Pandita Durna di tengah. Siapa yang membuat patung ini? Patung yang diletakkan sedemikian rupa itu sangat hidup. Mata dan senyum bibirnya akan membuat getar siapa pun yang memandangnya. Pandangan Harjuna ditebarkan mengamati tempat di sekitarnya. Dilihat dari kebersihan dan perlengkapan yang ada, tempat ini masih aktif digunakan untuk latihan memanah. Lalu siapa orangnya? Apakah ia yang memanah anjingku? Sembunyi di mana ia?

Harjuna, satria berbudi halus dan suka menolong tersebut, perlahan-lahan dirambati perasaan marah. Darahnya menghangat dan mulai mendidih.

“Kurang ajar! Jika engkau satria keluarlah! Hadapi aku, satria Madukara Raden Harjuna.”

Tantangan itu dilontarkan dengan menggunakan getar jarak jauh, sehingga mampu menyusup sampai ke tempat di mana Ekalaya berada. Ekalaya tidak terpancing oleh tantangan itu. Ia bersama Anggraeni dan Aswatama justru semakin menjauh dari tempat Harjuna berada.

Hari menjelang sore, Harjuna tidak menemukan orang yang membunuh anjing kesayangannya. Namun ada satu hal yang dicatat Harjuna tentang patung Pandita Durna dan sesorang yang belajar memanah. Dan hal tersebut sudah cukup bagi Harjuna untuk menarik kesimpulan bahwa ada saling keterkaitan antara panah di kepala anjingnya dan orang yang belajar memanah di depan patung Pandita Durna. Dan tentunya pula keberadaan Patung Pandita Durna menunjukan bahwa orang yang belajar memanah itu mempunyai hubungan dengan Pandita Durna.

“Ampun Bapa Guru, dengan kenyataan yang ada, lepas dari apakah ia yang membunuh anjingku atau bukan, tentunya Bapa Guru mengetahui siapakah orang yang telah mematungkan Bapa Guru di sanggar di tengah hutan itu.”

Durna tidak mungkin serta merta mengatakan bahwa orang yang dimaksud Harjuna adalah Ekalaya. Namun sebagai maha guru ia pun tidak mungkin berbohong. Oleh karenanya ia lebih memilih menyampaikan jawaban atas pertanyaan Harjuna itu dalam bentuk cerita.

Di sebuah negara besar bertahtalah raja muda yang tampan rupawan. Ia sangat dicintai rakyatnya karena berhasil memerintah dengan adil dan bijaksana. Di negara Paranggelung itulah semua kawula dewasa, baik laki-laki maupun perempuan diajari berolah senjata panah. Maka dapat dipastikan bahwa sang raja muda itu pandai berolah senjata panah. Namun dikarenakan kerendahan hatinya sang raja merasa bahwa ilmu panahnya belumlah apa-apa. Maka ia berusaha mencari guru panah yang sakti. Dan tibalah raja muda itu di sebuah padepokan tempat sang guru sakti mengajarkan ilmu memanah.

Kidung Malam 30
Dua Murid Berseteru
Harjuna adalah murid Pandhita Durna yang masuk kategori lantip, cerdas dan cepat tanggap akan sasmita perlambang yang diberikan gurunya. Oleh karenanya sebelum sang Guru Durna menyelesaikan ceritanya, Harjuna sudah mampu menangkap bahwa Gurunya secara tidak langsung telah mengangkat raja muda Paranggelung sebagai muridnya.

“Bapa Guru yang aku hormati, jika berkenan sebaiknya cerita mengenai raja muda yang rupawan, sakti dan rendah hati dicukupkan. Kami sesungguhnya tidak mempunyai hak untuk melarang sang Guru mengangkat murid baru. Demikian pula kiranya seorang Guru tidak berhak melarang muridnya berguru kepada guru yang lain. Tetapi bukankah selama ini pengangkatan murid-murid Sokalima selalu melibatkan saudara tua perguruan? Adakah kekhususan untuk murid yang satu ini? Adakah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh murid-murid yang lain?”

“Herjuna jangan terlalu jauh berprasangka. Jika engkau mau dengan sabar mendengarkan ceritaku sampai selesai, tentunya akan menjadi jelas bahwa prasangkamu mengenai diriku keliru. Berhubung engkau telah memotong ceritaku, maka aku tegaskan bahwa Raja muda itu telah tiba di Sokalima dan belajar ilmu-ilmu Sokalima, tetapi aku tidak mengangkatnya sebagai murid.”

“Ampun Bapa Guru, maafkan saya yang khilaf ini.”

Harjuna menyesal. Karena merasa dirinya diremehkan oleh orang lain, hatinya panas terbakar, sehingga tanpa sadar ia telah berani memotong cerita Sang Guru. Nampaknya Durna kecewa atas tindakan murid yang dikasihi tersebut. Ia tidak ingin memperpanjang suasana yang tidak mengenakkan ini. Maka segeralah ia masuk ke ruang dalam, meninggalkan Harjuna dan empat saudaranya.

Karena kedudukannya sebagai murid papan atas di Sokalima telah tergeser oleh murid lain, padahal keberadan murid tersebut tidak diketahui sebelumnya, dan tiba-tiba menjadi orang istimewa di Sokalima, Harjuna merasa kesulitan untuk mengendalikan emosinya, menjernihkan pikirannya dan mendinginkan hatinya. Oleh karenanya ia ingin segera bertemu dengan raja muda Paranggelung untuk membuktikan sejauh mana ketampanannya dan menakar seberapa tinggi ilmunya.

Jika pada awalnya Ekalaya atau juga sering disebut Palgunadi ingin menghindari Harjuna atas saran Aswatama, namun setelah mendengarkan cerita dari para cantrik ia tidak sampai hati membiarkan Sang Guru Durna dipojokkan oleh desakan Harjuna. Maka atas pertimbangan dan kesepakatan Ekalaya, Aswatama dan Anggraeni, mereka berniat menemui Pandita Durna untuk memohon agar sang Guru memperkenankan Palgunadi meladeni tantangan Harjuna.

Pada teriknya siang, mereka bertiga tiba di halaman padepokan Sokalima. Sebelum kaki-kaki mereka menapaki lantai pendapa induk untuk menemui Guru Durna, ada lima orang datang menghampiri. Sebelum mereka saling menyapa, Aswatama memperkenalkan Ekalaya dan Anggraeni kepada Harjuna, Puntadewa, Bimasena, Nakula dan Sadewa. Pada kesempatan tersebut, Ekalaya memohon maaf terutama kepada Harjuna, karena khilaf ia telah membunuh anjing pelacak milik Harjuna. Namun permintaan maaf yang tulus tersebut tidak menyelesaikan masalah. Karena sesungguhnya bukan itu permasalahannya. Nampaknya Harjuna gagal dalam mencoba mengendalikan gejolak hatinya yang sangat luar biasa.

Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa Ekalaya secara penampilan mampu mengimbangi dirinya yang selama ini mendapat julukan lelananing jagad dan lancuring bawana yang berarti laki-laki tampan yang mampu memberi warna keindahan bagi dunia. Apalagi ketika dilihatnya Anggreni, wanita yang mendampingi Ekalaya, darah Harjuna mengalir lebih cepat. Kecantikan dan kemolekan Anggraeni tidak kalah dibandingkan dengan isteri-isteri Harjuna. Bahkan pendamping Ekalaya ini mempunyai daya tarik sangat luar biasa yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain, termasuk isteri-isteri Harjuna. Keempat saudara Harjuna pun merasakan bahwa pasangan Ekalaya dan Anggraeni merupakan pasangan ideal yang mempunyai daya magnet kuat. Siapa saja akan merasa bangga mengenal dan mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan pasangan raja dan ratu dari Negara Paranggelung tersebut.

Tentunya dapat dimaklumi jika Harjuna tak kuasa menyiram bara api cemburu yang menyala di hatinya. Bahkan kesempurnaan Anggraeni sebagai isteri setia Ekalaya bak minyak yang memercik, maka sekejap kemudian bara api di hati Harjuna mulai menyala tak terkendali.

“Bocah Bagus aku ingin mengajakmu bertanding, seperti kebiasaan di Padepokan Sokalima yang belum pernah engkau jalani.”

“Maaf Kisanak, aku perlu mendapat ijin dari Bapa Guru Durna.”

“Jangan mengaku guru kepada seseorang yang tidak pernah mengangkatmu sebagai murid.”

“Aku tidak peduli! Siapa pun yang telah membantuku menuju kesempurnaan hidup, beliau adalah guruku. Demikian juga jika engkau dapat membantuku menerapkan ilmu-ilmu Sokalima dalam arena pertandingan, engkau pun menjadi guruku.”

“Baiklah, aku ajari engkau cara menarik panah dengan baik!”

Reeeet!! Dengan gerakan halus namun mengandung daya luar biasa Harjuna menarik busurnya dan diarahkan ke dada Palgunadi. Semua orang tegang melihatnya. Mereka dapat merasakan ada kemarahan besar di balik gemeretnya suara busur Harjuna. “Jangan Adinda, jangan lakukan itu.” pinta Puntadewa, saudara sulung Harjuna.

“Maaf Kakanda Punta, bukankah Kakanda juga pernah mengalami jiwa Ksatria yang terkoyak?”

Kata-kata Harjuna mengingatkan ketika Puntadewa menjelma menjadi raksasa putih sebesar gunung karena tak kuasa menahan amarahnya. Maka dibiarkannya adiknya memilih cara untuk mengatasi kemarahannya yang tidak mudah dikendalikan.

Busur Harjuna semakin melengkung tajam. Anak panahnya siap menembus dada Ekalaya yang dibiarkannya terbuka wajar. Tidak lebih dari lima hitungan maka panah Harjuna akan meninggalkan busurnya menembus dada Ekalaya tanpa perlawanan. Anggraeni memejamkam matanya dan menggigit bibirnya, tidak tega melihat suaminya ditembus anak panah Harjuna. Namun ia tidak berbuat apa pun, karena percaya bahwa suaminya akan mampu menyelamatkan diri.

Satu … dua … tiga…

Wuuuss, tiba-tiba Sang Guru Durna berdiri di antara Ekalaya dan Harjuna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s