Lakon Wayang Part 14


Dewa Ruci
Arya Sena berguru kepada Dahyang Durna. Iia disuruh menceri tirtamarta untuk mensucikan dirinya. Ia meinta diri kepada saudara-saudaranya, meskipun mereka menahan agar sena tidak berangkat, namun ia berangkat juga. Tidak ada yang menemaninya, kecuali angin ribut. Ia minta diri kepada Dahyang durna, yang diberi ansehat bila ia mendapatkan air itu maka akan mempunyai pengetahuan yang sempurna, menonjol di dunia dan akan melindungi orang tuanya yang dihormati karena dirinya. Dikatakan oleh dahyang durna air itu ada di hutan Tikbrasara, di gadamadana pada lereng gunung Candramuka. Suyudana (pura-pura) menahan kepergian Werkudara, namun Werkudara berangkat juga.

Setelah sampai di gunung Candramuka, dibongkarnya gunung itu namun ia tidak mendapatkan iar yang dicari, tetapi bertemu dengan raksasa Rukmuka dan rukmalkala, yang ketika melihat Werkudara amat marah sehingga kelihatan seperti Batara Berawa yang akan menggempur bumi. Werkudara membanting kedua raksasa itu di batu hingga hancur luluh. Tiba-tiba muncul Hyang Indra dan Hyang Bayu yang menyatakan terima kasih kepada Werkudara karena telah meruwatnya. Mereka kena tulah Hyang Pramesti sehingga berupa raksasa. Ia mendengar suara dari Hyang Indra dan Bayu) yang memberitahukan bahwa iar kehidupan itu memang ada tetapi tempatnya bukan di gunung Candramuka. Ia disuruh minta penjelasan kepada dahyang Durna lagi.

Ketika kembali ke Astina dahyang durna mengatakan bahwa ia hanya diuji keteguhan hatinya dan baktinya kepad agurunya, lalu diberitahu bahwa iar itu ada di pusat samudra.

Sebelum berangkat lagi ia lebih dahulu pergi ke Amarta. Ia menolak permintaan saudara-saudaranya agar mngurungkan niatnya dan ia segera berangkat. Setelah sampai di pinggir samudera lalu terjun ke laut. Ia ingat bahwa mempunyai Aji Jalasengara. Ia bertemu dengan seekor naga besar yang membelitnya, naga itu ditusuk dengan kuku Pancanaka hingga tewas.

Karena saudara-saudara Werkudara amat bersedih, Kresna menenangkannya dengan mengatakan bahwa Werkudara tidak akan mati, bahkan akan mendapat anugerah dewata, ia akan kembali dalam keadaan suci.

Werkudara naik ke sebuah pulau dan bertemu dengan mahkluk kecil yang menyerupai dirinya, dan yang mengatakan bernamma Dewaruci. Setelah berdialog, karena kekagumannya ia minta diberi wejangan. Ia disuruh masuk ke perun Dewaruci melalui telinag kirinya. Di dalam perut Dewaruci ia melihat laut amat luas, seolah-olah tidak bertepi. Ketika ditanya apa yang dilihatnya, ia menjawab bahwa ia merasa bingung sehingga tidak jelas penglihatannya. Tiba-tiba ia telkah berhadapan dengan Dewaruci, lalu ia dapat melihat Timur, Barat, selatan dan Utara atas dan bawah. Di dalam dunia yang terbalik (jagad walikan) ia juga melihat matahari. Ketika ia disuruh melihat lainnya, ia melihat empat macam warna yaitu hitam, merah kuning dan putih. Dewaruci mengatakan bahwa warna merah, kuning, merah dan putih itu menjadi penghalang tindakannya yang baik, yang menuju ke penyatuan dengan Hyang Suksma. Bila ketiga hal itu dapat dihilangkan ia akan dapat bersatu dengan Hyang illahi. Putih menunjukkan kesucian dan kesejahteraan, hanya yang putihlah yang dapat menerima petunjuk ke arah kesatuan antara manusia dengan Tuhan (pamoring Kawula Gusti). Bila warna yang empat itu telah menghilang akan terlihat atu nyala dengan delapan warna yaitu kesatuan sejati (sejatining tunggal). Selanjutnya dikatakan bahwa semua warna itu ada dalam dirinya, berupa isi bumi yang digambarkan sebagai badannya, dan bahwa jagad besar dan jagad kecil itu tidak ada bedanya. Bila semua wwarna itu telah menghilang yang tinggal adalah bentuk yang sebenarnya. Ketika Werkudara melihat sebuah boneka putih, ia bertanya apakah itu zat yang sedang ia cari. Dijawab oleh Dewaruci bahwa bukan itu yang dicari. Yang dicari itu tak dapat dilihat, tak berwujud, tak berwarna, dan tak bertempat tinggal. Ia hanya dapat dilihat oleh orang yang telah jernir pandangannya. Yang kelihatan itu disebut Pramana, yang ada dalam tubuhnya.

Werkudara minta diberi ajaran sampai tuntas, dan ia tidak mau keluar dari perut Dewaruci, karena disitu ia merasa nikmat. Namun Dewaruci tidak mengijinkannya, Karen ahanya dengan kematian hal itu dapat dicapai. Ia diberi busana berupa cawat kain poleng bang bintulu yang sebenarnya telah diterimanya dari Hyang Guru sejak masih berada di dalam bungkus. Cawat poleng bang bintulu itu akan menyebabkan ia mampu menghilangkan kesombongan.

Akhirnya Werkudara kembali ke Amarta.

Bima Suci
Di Kerajaan Astina, prabu Duryudana mengkhawatirkan keamanan negaranya dengan adanya pendeta baru di perbatasan Astina (Sumur Jalatunda/Gunung Argakelasa) yang bernama Begawan Bimasuci. Semakin hari semakin banyak rakyat Astina yang berguru pada pendeta tersebut. Hal ini dipandang Duryudana akan mengurangi kewibawaan bahkan bisa dianggap merongrong kedudukannya. Kekawatiran ini didukung Sengkuni yang selanjutnya menyalahkan Pandita Drona. Karena sudah bisa diketahui bahwa Begawan Bimasuci tidak lain adalah Werkudara yang merupakan murid Drona. Kenapa Drona yang bersedia mencelakakan Bima tapi justru sebaliknya, Bima telah berhasil mendapatkan ilmu kasampurnan dan setelah itu tidak langsung kembali ke Amarta tapi justru mendirikan pertapaan di wilayah Astina. Semua tuduhan Duryudana maupun Sengkuni dibantah oleh Drona, bahwa keberhasilan Bima mendapatkan ilmu kasampurna adalah berkat ketekunan dan ketabahan Bima dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan hal ini lain dengan Kurawa. Sedang kenapa Bima tidak langsung kembali ke Amarta dan justru mendirikan pertapaan di wilayah Astina ini merupakan strateginya, satu sisi ini justru menguntungkan Astina karena Bima berperan ikut mendidik dan membina moral rakyat Astina disisi lain untuk meringkihkan negara Amarta. Karena kekuatan Pandawa terletak pada Bima, kalau Bima tidak berada di kerajaan berarti kerajaan Amarta kehilangan kekuatannya sehingga akan mudah dihancurkan. Maka untuk menunjukkan kebenaran pendapatnya dan kesetiaannya pada raja, Drona memanggil siswa barunya untuk datang dan membantu menyerang Amarta. Sedang dirinya justru akan menemui Bima supaya selalu tekun tetap berada di pertapaan. Duryudana menyetujuinya, selanjutnya memerintahkan Sengkuni membawa para Kurawa membantu Raja sabrang untuk menyerbu Amarta.

Di Kerajaan Amarta, Pandawa dirundung kesedihan karena kepergian Bima yang sehabis mendapatkan ilmu kasampurna tidak kembali ke kerajaan tapi malah menghilang entah dimana keberadaannya disamping itu juga disusul kepergian Arjuna yang tampa pemberitahuan saudara-saudaranya pergi entah kemana. Hal ini akan membahayakan keselamatan negara. Tidak lama kemudian datanglah Patih Tambak Ganggeng yang melaporkan adanya musuh yang akan menyerang Negara Amarta. Selanjutnya Puntadewa memerintahkan para putra-putra Pandawa untuk menghadapi serangan musuh.
Dalam peperangan para putra-putra Pandawa kewalahan menghadapi raja sabrang yang didukung prajurit Astina, semua dibentak jadi terlempar entah kemana jatuhnya. Sedang prajurit lainya kocar-kacir menyelamatkan diri.

Di Kahyangan Jonggring Saloka, Batara Guru mengkawatirkan keberadaan Bimasuci yang mengajarkan ilmu kasampurnan. Hal ini akan mengurangi eksistensi keberadaan dan kedudukan para dewa. Karena dengan mendalami ilmu kasampurnan, manusia tidak lagi mau menyembah dan berbakti pada Dewa. Untuk itu Batara Guru memerintahkan para prajurit Dewa untuk mengusir Bimasuci dari pertapaannya. Yang menerima perintah selanjutnya sama berangkat yang dipimpin Batara Bayu, Brama, Endra dll.

Ditengah hutan Arjuna merasa sedih mencari keberadaan Bima yang sehabis memperoleh ilmu kasampurnan tidak pulang tapi justru menghilang pergi entah kemana keberadaannya. Atas saran Semar Arjuna disuruh pergi ke wilayah negara Astina nanti akan menemukan dimana Bima berada.

Di Gunung Argakelasa/Sumur Jalatunda Bima sedang menerima kedatangan Anoman, niat awal Anoman mengingatkan Bima untuk segera pulang ke Amarta namun setelah tahu kedudukan Bimasuci sebenarnya justru Anoman malah berguru kepadanya. Tidak lama kemudian datanglah Drona, dengan maksud menyanjung dan mendorong Bima untuk tetap berada di pertapaan. Tak lama kemudian datang juga Arjuna yang bermaksud juga mengingatkan kakaknya untuk segera pulang ke Amarta, karena kalau ditinggal terlalu lama akan membayakan keselamatan negara. namun setelah menerima alas an dan wejangan dari Bima, Arjuna justru berguru sama Bimasuci dan ingin tetap tinggal bersama di pertapaan.

Untuk sementara Drona, Anoman dan Arjuna diminta meninggalkan tempat oleh Bimasuci karena akan kedatangan para dewa. Batara Bayu, Brama, Endra datang ingin mengusir Bima karena lewat perdebatan para dewa kewalahan selanjutnya para dewa menjatuhkan guntur api, angin, air namun semuanya dapat diatasi Bimasuci. Karena para prajurit Dewa tidak berhasil mengusir Bimamsuci, Batara Guru menghadapi sendiri. Terjadilah Bantah tentang kedudukan dan eksistensi para dewa sebenarnya yang dikaitkan dengan ketauhitan. Batara Guru kewalahan menghadapi Bimasuci dan mengetahui siapa sebenarnya yang sedang bersemayan dalam jiwa Bima suci yang tidak lain adalah Sang Hyang Wenang. Setelah bertobat akhirnya pergi Batara Guru pergi mmeninggalkan Bimasuci. Setelah itu Sang Hyang Wenang keluar dari dalam tubuh Bima kembali ke Kahyangan.

Arjuna, Anoman, Drona menghadap Bimasuci kembali, tak lama kemudian datanglah Kresna yang mengingatkan Bimasuci, bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan tidak harus dengan laku ibadat yang terus meninggalkan keduniaan. Tapi juga dengan darma dengan kehidupan sehari-hari . Siapa yang berbuat baik ikut memayu hayuning bawana ddilandasi dengan rasa iklas dan pasrah pada Tuhan maka insya Allah amalnya akan diterima dan akan mencapai kesempurnaan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Selanjutnya Kresna juga mengingatkan bahwa Kerajaan Amarta sekarang dalam bahaya karena mendapat serangan dari musuh untuk itu Bima diminta segera pulang ke Amarta menyelamatkan negara dan rakyatnya menuju kedamaian dan ketentraman yang abadi. Tiba-tiba Gatutkaca, Antarja tiba (jatuh) tanpa sadarkan diri, setelah disadarkan Bima, mereka melaporkan keadaan negara Amarta yang porak poranda diserbu Musuh. Bima segera tergugah hatinya segera berangkat ke Amarta dengan para putera-puteranya.

Setelah tiba di Amarta, Bima, Arjuna dan para putra-putra Pandawa segera mengusir para musuh. Namun untuk menghadapi raja sabrang semua kewalahan akhirnya Semar yang menghadapinya. Raja sabrang dapat ditundukkan dan kembali ke wujudnya asli yakni Batara Kala. Tujuan Batara Kala menyamar lalu membuat onar tidak lain adalah ingin mengingatkan Bima supaya segera kembali ke Amarta. Para Kurawa merasa malu terus mengamuk namun dapat diusir Bima.

Para pandawa bersyukur dengan kembalinya Bima dan bersatunya kembali Pandawa, sehingga ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan dapat hidup kembali di bumi Amarta.

Usaha Perdamaian
Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya, bahwa Pendita dari Negeri Pancala telah dikirim ke Hastinapura untuk membawa pesan perdamaian dari Pandawa. Pendita utusan raja Drupada itu tiba di istana Raja Drestarastra dan diterima dengan upacara penghormatan.

Setelah memperkenalkan diri, Pendita itu berkata, “Drestarastra dan Pandu adalah putra Wicitrawirya. Menurut tradisi, keduanya berhak mewarisi harta peninggalan ayah mereka. Berlawanan dengan kelaziman ini, putra-putra Drestarastra menyatakan bahwa seluruh kerajaan Hastina adalah hak mereka. Putra-putra Pandu dinyatakan tidak memiliki warisan apa-apa. Hal ini tidaklah adil”.

Kemudian Pendita itu melanjutan, “Wahai keturunan bangsa Kuru yang saya muliakan, Pandawa menginginkan perdamaian. Mereka bersedia melupakan semua penderitaan yang mereka alami selama di pengasingan. Mereka tidak menghendaki peperangan sebab mereka sadar bahwa peperangan tidak akan membawa kebaikan, melainkan hanya kemusnahan. Karena itu, berikanlah apa yang patut mereka miliki”.

Tiba-tiba saja Karna menyela, “Wahai Brahmana, apakah yang kau katakan itu adalah sesuatu yang baru ? Tak ada gunanya mengulang cerita lama. Yudhistira tak berhak menuntut miliknya yang sudah dipertaruhkannya di meja judi, karena ia kalah. Kalau ia masih ingin memiliki bagian dari kerajaannya, dia harus memintanya sebagai pemberian.

Tetapi nyatanya, dengan sombong ia menuntut sesuatu yang bukan haknya sebab ia merasa kuat berkat dukungan sekutu-sekutunya, terutama dati Matsya dan Pancala. Baiknya aku jelaskan di sini bahwa tidak sesuatu apapun akan diperolehnya dari Duryodhana karena telah terbukti dalam tahun ke tigabelas seharusnya Pandawa bersembunyi sebaik-baiknya. Jangan sampai keberadaan mereka diketahui. Tetapi, nyatanya mereka ketahuan sebelum bulan keduabelas dari tahun ketigabelas berakhir. Menurut perjanjian seharusnya mereka menjalani pengasingan lagi selama dua belas tahun”.

Bisma yang bijaksana berkata, “Karna, jangan engkau berkata demikian. Kalau kita tidak mendengarkan pesan yang disampaikan utusan itu, perang akan pecah. Ketahuilah, kita pasti kalah dan musnah”.

Raja Drestarastra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kemudian berdiri dan dengan dituntun oleh Sanjaya, pembantu dan penasehat setianya, ia naik ke mimbar dan berkata, “Demi keselamatan kita semua dan kesejahteraan Pandawa, aku putuskan untuk mengirim Sanjaya berunding dengan Pandawa. Pulanglah wahai sang duta. Sampaikan hal ini kepada Yudhistira”.

Kemudian Drestarastra memberikan pesan-pesan kepada Sanjaya, “Pergilah menemui putra-putra Pandu. Sampaikan salam kasihku kepada mereka dan salam hormatku kepada Kresna, Setyaki dan Wirata. Pergilah atas namaku dan berundinglah dalam suasana kekeluargaan untuk menghindari peperangan”.

Maka berangkatlah Sanjaya ke Upaplawya dengan membawa pesan perdamaian. Dalam pertemuan khusus yang diadakan untuk menyambut kedatangannya, Sanjaya berkata singkat, “Dharmaputra, merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagiku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan putra-putra Pandu. Engkau dikelilingi sanak saudara dan sahabat-sahabatmu. Itu membuatku merasa lega. Raja Drestarastra mengutusku untuk menyampaikan salam kasih dan doa restunya bagimu. Ia tidak menginginkan perang. Ia menginginkan persaudaraan, persahabatan dan perdamianan dengan Pandawa”.

Mendengar kata-kata Sanjaya, dengan senang hati Yudhistira menjawab, “Kalau memang demikian, berarti putra-putra Drestarastra telah sadar. Kita semua bisa tenang. Kalau kerajaan kami dikembalikan, kami bersedia melupakan segala perselisihan kita dan kepahitan yang kami alami di masa lalu”.

Sanjaya berkata lagi, “Yudhistira, janganlah berharap bahwa putra-putra Drestarastra akan sadar. Mereka tidak seperti yang kau bayangkan. Mereka tetap menentang ayah mereka dan menginginkan perang. Tetapi kuharap engkau tidak kehilangan kesabaran. Yudhistira, engkau selalu bertindak adil dan jujur serta bersikap tegas dalam menjunjung kebenaran.

Mari kita hindari peperangan. Pandawa mungkin mampu menaklukkan dunia tanpa batas. Tetapi apa gunanya memiliki kerajaan dengan jalan membunuh sanak kerabat sendiri ? Duryodhana dan saudara-saudaranya memang jahat dan serakah, tetapi janganlah sampai engkau terbawa nafsu dan hilang kesabaran. Walaupun mereka tidak mau mengembalikan kerajaanmu, janganlah engkau tinggalkan jalan kemuliaan”.

Yudhistira menjawab, “Sanjaya, apa yang engkau katakan itu benar. Memegang kebenaran adalah harta terbaik. Tapi, bukankah kami tidak melakukan kejahatan ? Kresna tahu akan hakikat kebenaran. Ia pasti mengharapkan kita, kedua belah pihak, selamat dan sentosa. Aku akan minta pendapatnya”.

Kresna lalu berkata, “Aku menginginkan kesejahteraan bagi Pandawa. Aku juga mengharapkan Drestarastra dan putra-putranya bahagia. Ini sulit. Aku pikir, mungkin aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan pergi sendiri ke Hastinapura. Kalau kita bisa mencapai persetujuan yang tidak merugikan Pandawa, aku senang. Kalau aku berhasil berbuat demikian, berarti Kurawa dapat diselamatkan dari kemusnahan. Kalau dengan jalan perdamaian Pandawa bisa memperoleh apa yang mereka kehendaki, mereka akan tetap menaruh hormat kepada Drestarastra. Tetapi kalau perang tak dapat dihindari, Pandawa siap menghadapinya. Dari dua kemungkinan ini, silahkan Drestarastra memilih. Perang atau damai. Damai atau perang”.

Akhirnya Yudhistira berkata kepada utusan Raja Drestarastra, “Wahai Sanjaya, kembalilah ke Hastinapura dan sampaikan pesanku ini kepada Paman Drestarastra”.
“Bukankah berkat ketulusan hati Paman, kami memperoleh sebagian wilayah kerajaan sebagai warisan ketika kami masih muda ? Paman pernah menjadikan aku sebagai raja dan Paman seharusnya mengakui hak kami sebagai pewaris yang sah. Paman seharusnya tidak mengusir kami, hingga kami terpaksa hidup seperti pengemis yang menggantungkan nasib pada belas kasihan orang. Paman yang kami hormati, sesungguhnya kerajaan kita cukup luas untuk dibagi dua. Karena itu, mari hindari permusuhan di antara kita”.

“Demikian hendaknya engkau sampaikan pesanku kepada Raja Drestarastra. Sampaikan salam hormat dan kasihku kepada kakek Bisma dan mohon restunya agar semua cucunya hidup bahagia dan bersatu, tanpa permusuhan. Salam juga untuk Widura. Ia adalah orang yang paling bisa melihat dengan lurus dan dapat memberi nasehat dengan adil”.

Kemudian Yudhistira melanjutkan lagi, “Tolong sampaikan pesanku ini kepada Duryodhana”
“Saudaraku tercinta, engkau telah menyebabkan kami, putra-putra pamanmu, hidup mengembara di hutan dan mengenakan pakaian kulit kayu. Engkau menghina dan menyeret istri kami di depan orang banyak. Kami terima semua itu dengan sabar. Kini, kembalikan milik kami yang sah. Kami ini berlima, setidak-tidaknya kembalikan lima desa kepada kami. Dan marilah kita berdamai. Sambutlah uluran tangan kami dengan hati yang ikhlas”.

“Ya, Sanjaya, sampaikan ini kepada Duryodhana. Kami siap menempuh jalan damai, tapi jika Kurawa menghendaki, kamipun siap menempuh jalan perang”.

Demikianlah, Sanjaya kembali ke Hastinapura dengan membawa pesan penting untuk Drestarastra dan Duryodhana.

Durna Tapa (1)
Syahdan raja Astina prabu Kurupati berkenan memerintahkan kepada adipati Karna dan wasi Aswatama putra pendita Durna , untuk segera berangkat menjaga keamanan pendita Durna yang mendapatkan tugas dari raja untuk bertapa, demi terlaksananya maksud prabu Kurupati.

Konon prabu Suyudana menginginkan wadyabalanya hendak unggul di medan laga kelak kemudian hari dalam perang Baratayuda, apalagi sekarang dirasanya paran Pandawa mendapatkan sekutu yang kuat dari raja-raja lain negara, untuk itulah pendita Durna bertapa di hutan pagedangan.

Dipati Karna dan wasi Aswatama segera bermohon diri untuk menunaikan tugasnya, diiringi oleh segenap para Korawa, tampak patih arya Sakuni, raden arya Dursasana, raden Kartamarma, raden Durmagati, raden Citraksa dan raden Citraksi.

Di kerajaan Jurangparang, tersebutlah seorang raja bergelar prabu Kalakalpika, jatuh asmara dengan putri raja Astina, Dewi Lesmanawati. Kepada embannya yang bernama Cantekawerdi raja menyampaikan maksudnya, emban mengusulkan sebaiknya utusan terlebih dahulu menyampaikan surat lamaran kepada raja Astina. Usul diterima, kepada yaksa Kalabangcuring, Kalakarumba, Kalakalapa, kyai Togog dan Sarawita ditugaskan untuk segera berangkat membawa surat lamaran ke negara Astina, mereka segera bermohon diri untuk berangkat ke karajaan Astina.

Di pertengahan perjalanannya mereka bertemu dengan wadyabala Astina, terjadilah perselisihan dan peperangan. Kedua-duanya berusaha untuk mengindarinya, sehingga akhirnya mereka meneruskan perjalanannya masing-masing.

Resi Abyasa di pertapaan wukir Retawu menerima kedatangan cucundanya raden Angkawijaya beserta para punakawan, mereka Nalagareng dan Petruk. Raden Ankawijaya menyampaikan maksud kedatangannya yang tak lain diutus oleh ayahandanya yalah raden Janaka untuk memohon saran, dikarenakan kyai lurah Semar sakit, usaha apakah kiranya yang harus diperuntukkannya. Resi Abyasa menjelaskan tiada satu obatpun yang menjadi sarana kesembuhannya, namun segala hal ihwal dan sebab musababnya kepada raden Angkawijaya sang Pendita telah membuka takbirnya. Bermohon dirilah raden Angkawijaya dikuti oleh Nalagereng dan Petruk, dalam perjalanannya di tengah hutan bertemu dengan para yaksa dan praja Jurangparang, dan terjadilah peperangan. Para raksasa dapat dibunuhnya, kayai Togog dan Sarawita dapat menghindarkan diri dan melarikan diri kembali ke praja untuk melapor kepada raja.

Di kahyangan Jonggringsalaka hyang Guru mengadakan pertemuan dengan hyang Kanekaputra, hyang Bayu, hyang Yamadipati dan hyang Kuwera. Masalah yang dibicarakan tak lain huru-hara di dunia, dilaporkan kepada hyang Guru bahwasanya kesemuanya itu terjadi dikarenakan bagawan Lanabrata atau pendita Durna menggentur tapa di hutan padedangan, permohonannya tak lain hendak kyai Semar sebagai botohmya para Pandawa dikelak prang Barayuda, mati terlebih dahulu. Hyang Guru bersabda kepada hyang Yamadipati, untuk segera turun ke mretyapada dalam rangka tugas mencabut nyawa kyai lurah Semar, adapun hyang Bayu diperintahkan untuk bertindak mencabut nyawa begawan Durna. Keduanya segera bermohon diri turun ke bumi, untuk menunaikan tugas mereka masing-masing.

Begawan Lanabrata kelihatan sedang bertapa brata dengan khusuknya, lama sudah sang begawan berdiam di hutan pagedangan, seluruh anggota badannya penuh dengan penyakit, sangat menyedihkan keadaan sang begawan Lanabrata. Para Korawa yang meninjau begawan sangat iba hatinya, apalagi putra sang begawan yang bernama wasi Aswatama dengan menangis mendekati ayahandanya sambil meratapinya, bermohon hendaknya jangan diteruskan lagi menggemtur tapa.Namun sang begawan tak sedikit pun terusik dengan keadaan disekitarnya. Hyan Bayu yang ditugaskan untuk mencabut nyawa
Begawan Lanabrata segera mendekati diarah kepala sang begawan, mengenai kedatangannya tak seorang pun yang melihatnya, hanya sang begawan menyadri namun tak kusa lagi untuk, berucap, hanya kelihatan tangannya saja meraba-raba,mulutnya berkumat-kumit. Segera tubuh begawan Lanabrata dibawa hyang Bayu ke kahyangan, para Korawa menyaksikan terngkatnya badan begawan Lanabrata, segera mengejarnya dan terus mengikuti, demikian pula wasi Aswatama juga mengejarnya. Sampailah sudah para Korawa dihadapan pintu masuk ke kahyangan Jonggringsalaka, namanya kori Selamatangkep dijaga oleh hyang Cingkarabala. Para Korawa dicegah untuk masuk ke kahyangan, terjadilah peperangan para Korawa dapat diundurkan oleh hyang Cingkarabala. Namun wasi Aswatama dapat meloloskan diri dari amukan hyang Cingkarabala, mengikuti terus perjalanan hyang Bayu yang membawa begawan Lanabrata.

Di Madukara, raden Janaka ditemani oleh wara Sumbadra, Dewi Srikandi dan niken Larasati menunggui kyai Semar yang sedang sakit. Mereka menangisinya, sangat dirundung malang keadaan kyai Semar, keadaannya sangat parah.

Selagi mereka menangisi jyai lurah Semar, datanglah sri Kresna diiringkan prabu Puntadewa, raden arya Wrekodara, raden Nakula, raden Sadewa. Mereka pun sangat iba hati melihat manyaksikan keadaan kyai lurah Semar, tak lama datang pula raden Angkawijaya yang diiringkan oleh Nalagareng dan Petruk. Kepada Prabu Puntadewa, sri Kresna dan para Pandawa raden Angkawijaya melapor bahwa mengenai sakitnya kyai lrah Semar, eyang Abyasa bersabda tak ada obatnya, akan tetapi tidak menjadikan ajalnya, namun akan terjadi huru-hara yang akan menimpa para Pandawa. Sri Kresna dan para Pandawa sangat prihatin dengan sabda begawan Abyasa. Selagi mereka berbincang-bincang, datanglah hyang Yamadipati mendekati kyai lurah Semar, tak seorang pun yang menyaksikan kedatangannya, kyai lurah Semar berkomat-kamit, tanganya digerak-gerakkan, namun tak seorang juapun yang tanggap akan gerak-gerik Semar. Hyang Yamadipati segera membawa kyai lurah Semar menuju kahyangan, para Pandawa menyaksikan hilangnya kyai lurah Semar sangat bingung, segera tampak hyang Yamadipati membawa serta kyai Semar, diikutinya.

Durna Tapa (2)
Di tengah perjalanan bertemu dengan hyang Kuwera, para Pandawa dipersilahkan kembali, menolak. Hyang Kuwera segera mengeluarkan kesaktiannya, batu sebesar gunung-gunung dan angin ribut keluar memalang menghalang para Pandawa, hanya kyai Petruk saja yang dapat lolos dari amukan ajinya hyang Kuwera, diikutinya hyang Yamadipati.

Di kahyangan Jonggringsalaka hyang Guru dihadap oleh hyang Endra, hyang Brama, hyang Panyarikan, hyang Kuwera, hyang Patuk dan hyang Temboro. Datanglah menghadap hyang Bayu dengan membawa serta pandita Durna yang sudah kembali sehat walafiat, kepadanya ditanyakan gerangan apakah yang menjadikan menggentur tapa di hutan pagedangan. Durna melapor bahwasanya dia menginginkan matinya kyai Semar, sebab selama kyai lurah Semar tidak mati terlebih dahulu, para Korawa dalam prang Baratayuda tak akan dapat mengalahkan para Pandawa, apalagi para Korawa hanya dijagoi oleh seorang saja ialah pandita Durna.

Kepada pandita Durna, ditanyakan akan bersedia bertanding dengan hyang Asmarasanta, dan disanggupinya. Datanglah hyang Yamadipati membawa kyai lurah Semar, demikian pula keadaannya sudah kembali sehat, kepadanya segera ditanyakan apakah bersedia diadu dengan pandita Durna, yang menyebabkan sakitnya Semar tadi, disanggupinya.
Demikian pula wasi Aswatama mendukung akan kelangsungannya, apalagi Petruk menjagoi pula bapaknya, kyai Semar. Bertandinglah kyai Semar dengan pandita Durna, Petruk dengan wasi Aswatama, sangat seru dan rame. Kedua pasangan serba bertanding dengan aji kesaktiannya, bergelut bergumul berguling-guling sehingga mereka lupa bahwasanya sudah terbenam di kawah siksaan Yomani, musnahlah mereka kesemuanya ditelan lumpur Yomani. Tak lama muncullah sepasang ksatriya rupawan dari kawah Yomani,agaknya ksatriya yang berjalan dahulu kelihatan lebih wibawa diiringkan ksatriya yang kemudian sedikit takut-takutan, wasi Aswatama dan Petruk mengiringkan pula kedua ksatriya tadi dari belakang, wasi Aswatama kelihatan pucat dan sangat takut.

Mereka segaera menghadap hyang Girinata, ksatriya yang satu bernama Cahyandadari dan dibelakangnya tak lain Kumbayana, kepada hyang Girinata Kumbayana berjanji tak berani lagi kepada kyai Semar, mundurlah sudah mereka dari hadapan hyang Girinata, kembali turun ke bumi.

Di praja Amarta, prabu Puntadewa dan Sri Kresna membicarakan sirnanya kyai lurah Semar, mereka yang mendengarkan termasuk arya Wrekodara, raden Janaka, raden Nakula dan Sadewa sangat sedih hatinya.
Tak lama berita terdengarm bahwasanya diluaran ada tampak ksatriya mengamuk, para Pandawa yang bertugas menghadapinya kalah, raden Janaka maju melayaninya. Ksatriya rupawan yang bernama Cahyandadari dipanah,babar kyai Semar.Adapun ksatriya Kumbayana ketika dipanah, babar pandita Durna. Dihadapan para Pandawa, kyai Semar bercerita dari awal sampai akhir perihal keadaannya, demikian pula Petruk yang turut hilang dengan kyai Semar, telah melapor pula. Keadaan pendita Durna meski sudah sehat, kelihatan kurus kering. Para Pandawa sangat iba hatinya, kepada Raden Janaka dan raden arya Wrekodara ditugaskan untuk mengawal mengantarkan kembali pandita Durna kekediamannya. Wasi Aswatama yang selalu setia kepada ayahandanya, tak turut ketinggalan, segera bermohon diri.

Di kerajaan Astina, prabu Suyudana dihadap oleh patih arya Sakuni dan adipati Wangga Karna. Kepada raja mreka melapor bahwasanya pandita Durna dibawa serta ke kahyangan oleh hyang Bayu, meski para Korawa telah berusaha untuk mencegahnya dan membawanya kembali, namun di pintu utama selamatangkep, mereka diubdurkan oleh hyang Cingkarabala. Selagi berbincang-bincang datanglah pandita Durna, diantar oleh raden arya Wrekodara dan raden Janaka.

Pendita Durna dihadap raja Suyudana, dan para Korawa menceritakan dari awal sampai akhir segala lelakonnya, manakala dewa telah bersabda kepadanya, jangan sampai memberanikan diri lagi mengusik kyai Semar, dan Sri Kresna. Selanjutnya jalan kerukunan sajalah yang harus ditempuh oleh para Korawa terhadap para Pandawa. Selagi mereka dengan asyiknya mendengarkan laporan pandita Durna, tersiarlah berita musuh dari Jurangparang datang, Janaka keluar memapakan raja yaksa Kalakalpika, terjadilah peperangan yang sangat rame. Prabu Kalakalpika dilepasi panah oleh raden Janaka, mati. Arya Wrekodara mengamuk, seluruh wadyabala Jurangparang dapat dimusnahkannya.

Di pendapa Astina, diadakan pesta pora memperingati kembalinya pandita Durna, dan tersingkirnya sudah marabahaya yang mengancam kerajaan Astina, disaksikan oleh prabu Suyudana, dipati Karna, arya Sakuni, raden Wrekodara, raden Janaka, dan segenap keluarga Korawa.

Irawan Maling
Irawan dan Antasena setelah menyaksikan kematian Bambang Jenggala terus mengembara. Dalam pengembaraannya mereka datang di Astina, masuk ke istana dengan sangat berani.

Irawan melarikan kuda kendaraan raja dan Antasena membawa gajah milik Duryudana dan bendera Astina. Dengan hasil rampokannya itu mereka kembali ke Pertapaan Yasarata, tempat kediaman Bambang Irawan.

Para Kurawa berusaha menangkapnya tetapi sia-sia karena para pencuri itu terlalu pandai. Untuk menutupi kegagalannya, Begawan Drona melaporkan kepada Suyudana bahwa pencurinya dapat dikenali yakni Gatotkaca dan Angkawijaya. Sebagai hukuman lebih baik diserahkan pada Prabu Yudistira.

Sementara Prabu Yudistira setelah menerima pengaduan dari Adipati Karna ia mengutus Nakula untuk pergi ke Madukara. Sedangkan Arjuna pada waktu menerima laporan Nakula sangat terkejut sebab pada waktu peristiwa itu terjadi, Angkawijaya dan Gatotkaca tidak pergi dan berada di kasatrian.

Arjuna kemudian memerintahkan kedua ksatria itu mencari pencurinya. Di perjalanan mereka bertemu dengan Irawan dan Antasena dari Pertapaan Yasarata, mereka berusaha menangkapnya tetapi keduanya dapat meloloskan diri.

Selanjutnya Irawan masuk ke Istana Gajah Oya, di keputren ia mengadakan hubungan gelap dengan putri raja yang bernama Tisnawati putrinya Prabu Jayadimurti yang sedang dilamar Suyudana. Pada waktu Jayadimurti masuk ke keputren, dengan gesit Irawan meloloskan diri, dan Sang Raja memberitahukan kepada Suyudana.

Setelah meninggalkan Gajah Oya, Irawan belum puas, ia masuk ke kedaton Astina dan berhubungan asmara dengan Lesmanawati putri Suyudana. Pada waktu akan ditangkap, lagi-lagi ia dapat meloloskan diri. Maka Suyudana memutuskan akan menyerang Amarta sebab yakin bahwa pencurinya adalah Angkawijaya.

Sementara Angkawijaya yang disertai Semar, Gareng, dan Petruk tertidur kecapaian karena mengejar pencuri.

Tiba-tiba Irawan datang dan mencuri keris Angkawijaya, tetapi kali ini ia sial karena setelah membawa keris ia jatuh pingsan dan dibawa lari Antasena kembali ke Pertapaan Yasarata. Angkawijaya yang kehilangan keris meminta Semar untuk mencarinya, maka abdinya itu segera datang di Yasarata dan menjelaskan kepada Resi Kanwa yang selanjutnya keris diambil kembali oleh Semar.

Pada waktu keris dibawa, Irawan sembuh kembali dan mengejar Semar. Akibatnya peperangan terjadi antara Irwan yang membawa panah Saratama melawan Angkawijaya membawa panah Pasopati. Kedua panah saling bertemu di udara, tiba-tiba Kresna datang memberitahukan bahwa keduanya masih saudara satu ayah lain ibu, putra Arjuna dan diminta menghentikan peperangan.

Kurawa datang menyerang Amarta tetapi dapat diusir Arjuna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s