Lakon Wayang Part 15


JALADARA RABI (1)
Syahdan raja Mandraka prabu Salya, berkehendak akan menjodohkan putrinya yang bernama Dewi Erawati dengan prabu anom Kakrasana atau wasi Jaladara. Pada suatu waktu, di praja Mandraka prabu Salya menerima kedatangan Prabu Kurupati dari kerajaan Astina, beserta patih Sakuni, tak lain yang dibicarakan juga masalah perkimpoian Dewi Erawati. Prabu Kurupati menyarankan kepada raja Mandraka prabu Salya, hendaknya dalam perkimpoian sang Dewi, kepada ca;on penganten laki, ditetapkan adanya upeti, syarat-syarat perkimpoian, adanya perlengkapan putri-putri remaja berjumlah 40, pengiring temanten hendaknya diiringi tetabuhan gamelan Lokananta, sepasang kembar-mayang yang berasal dari swargaloka. Prabu Mandraka sangat sedih hatinya mendengar usulan prabu Kurupati, namun dengan penuh kebijaksanaannya, diutusnyalah raden Rukmarata, untuk menyampaikan kelengkapan persyaratan perkimpoian temanten laki, ke praja Mandura, dan berangkatlah dengan diiringi raden Burisrawa, patih Tuhayata menunaikan tugas tersebut.

Prabu Kurupati beserta patih Sakuni, kembali ke praja Astina, raja Salya masuk ke dalam kraton, kepada permaisuri raja bercerita pula bahwasanya putranya, raden Rukmarata ke praja Mandura, menyampaikan usulan kelengkapan persyaratan temanten laki. Dewi Setyawati, dengan putri-putrinya Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, dan Dewi Banowati segera mengiringkan raja Salya masuk ke ruangan bersantap di istana .

Konon, ada orang raja di kerajaan Giridasar, namanya prabu Rudradarimuka, jatuh cinta kepada putri Mandraka, Dewi Erawati. Diputuskannyalah oleh raja, mengutus menyampaikan surat peminangan kepada sang raja. Dan wadya yaksa yang diduta setelah menerima surat tersebut segera berangkat menuju praja Mandraka. Di pertengahan jalan wadyabala Giridasar bertemu dengan wadyabala dari Mandraka. Terjadilah perselisihan pendapat, dan peperangan. Untunglah bagi mereka tidak terlalu dalam melibatkan dalam pertempuran, sehingga kedua-duanya berusaha menghindarkan diri dari keterlibatan yang lebih dalam, sehingga kedua-duanya berusaha untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Di praja Mandura, prabu anom Kakarsana menerima kedatangan raden Rukmarata, yang menyampaikan titah raja Salya, bahwasanya kepada calon temanten laki, dibebani untuk kelengkapan perkimpoiannya, pengiring temanten nantinya para remaja putri berjumlah 40, diiringi dengan tetabuhan gamelan Lokananta, beserta sepasang kembar mayang yang berasal dari swargaloka. Prabu anom menyanggupkan diri, raden Rukmarata mengundurkan diri, kembali ke praja Mandraka. Kepada adiknya yang bernama raden Narayana, dan pula kepada patih Pragota diperintahkan untuk mencarikannya. Mereka bermohon diri, berangkat menuju Gandamadana.

Di tengah hutan, raden Pamade sedang duduk bersusah hati, merenungkan nasibnya. Raden Pamade sangat bersedih hati, manakala maksudnya akan memperistri rara Ireng, belum terlaksana juga,panakawan kayia Semar, Nalagareng dan Petruk berusaha melipur raden Pamade.

Setelah agak terhibur hatinya, raden Pamade segera meneruskan perjalanannua diikuti oleh para panakawan, ditengah-tengah hutan mereka berjumpa dengan wadyabala yaksa dari praja Giridasar, dan terlibatlah dalam peperangan, wadyabala raksasa dari Giridasar dapat ditumpas oleh raden Pamade. Dalam kelanjutan perjalanannya, sampailah di hutan yang sangat berbahaya, namanya Krendawahana. Agaknya penunggu hutan, yang menjadi wadyabala batari Pramuni, menggodanya. Raden Pamade tak kuasa digoda, akhirnya hyang Pramuni menemuinya, dan bertanya apa sebab susah hatinya. Raden Pamade menguraikan isi hatinya dari awal sampai akhir, hyang Pramuni sangat berkenan dalam hati, segera raden Pamade didandani menjadi seorang putri, dengan nama Endang Wrediningsih. Kyai Lurah Semar, Nalagareng dan Petruk dibusanani pula secara wanita, dengan berganti nama nyai Melik, Melok dan nyai Jagaplok. Kepada mereka diperintahkan untuk menuju ke praja Mandura, di mana hyang Pramuni menegaskan, itulah sarana yang harus ditempuh untuk bertemu dengan rara Ireng, mereka bermohon diri, melanjutkan perjalanannya. Di tengah jalan, Endang Wrediningsih beserta pengiring-pengiringnya bertemu dengan patih Pragota, kepada mereka dijalaskan maksud untuk dijadikan pengiring temanten, dan Endang Wrediningsih menyanggupkan diri, segera mereka berangkat menuju praja Mandura.

Di pertapaan Gandamadana, Kapijembawan beserta iatrinya Dewi Trijata,dihadap oleh putrinya bernama Dewi Jembawati, menerima tamu dari Mandura, raden Narayana beserta patih Udawa. Kepada Kapijembawan, raden Narayana menyampaikan maksud kedatangannya, yang tak lain mohon diperkenankan membawa Dewi Jembawati, utnuk dijadikan kelengkapan persyaratan perkimpoian kakanya wasi Jaladara, dijadikan patah pengiring temanten, dan Kapijembawan meluluskan permintaan raden Kakarsana, kepada raden Narayana Dewi Jembawati diserahkan, segera mereka bermohon diri, untuk kembali ke praja Mandura.

Raden Rukamarata setelah sampai di praja Mandraka, melapor keayahandanya prabu Salya, bahwasanya prabuanom Kakarsana menyanggupkan diri, untuk memenuhi segala persyaratan perkimpoian. Raja Salya sangat berkenan dihati, namun prabu Kurupati yang sudah hadir pula seakan-akan tidak mempercayainya, kalau prabu Mandura Baladewa kuasa mengadakan sarana-sarana perkimpoiannya. Sang raja Salya segera bertitah kepada anandanya raden Rukmarata, untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya, khususnya terhadap diri Dewi Erawati sudah dimasukkan dalam pengawasan yang ketat, dalam menjelang perkimpoiannya.

Oleh raja Salya, yang telah berembug pula dengan permaisuri Dewi Setyawati, putrinya Dewi Erawati dimasukkan dalam sengkeran, disimpan ke dalam cincin saktinya, untuk menjaga keselamatan sanga putri menjelang hari-hari perkawainannya.

JALADARA RABI (2)
Namun apa yang sebenarnya terjadi, yang masuk ke dalam kraton tadi bukan prabu Salya yang sebenarnya, hal ini baru diketahui setelah Rukamrata yang mengemban perintah ayahandanya menemukan di dalam kraton, bahwasanya Dewi Erawati sebenarnya telah disandera, dilarikan maling aguna (sakti). Laporlah kepada Raja, yang kebetulan masih pula berbincang-bincang dengan prabu Kurupati, gegerlah seisi istana.

Kepada raden Rukmarata segera diutus untuk menyampaikan kejadian tesebut ke praja Mandura, sekaligus memberitahukannya bahwasanya kepada raden Kakarsana hanya diwajibkan menemukan kembali Dewi Erawati, yang disandera dan dilarikan maling aguna, perihal sarana kelengkapan-kelengkapan lainnya tidak usah diadakan, berangkatlah raden Rukmarata untuk melapor ke praja Mandura.

Di praja Mandura, raden Kakrasana menerima laporan patih Pragota yang menyerahkan patah wanita remaja, bernama Endang Werdiningsih. Kepada Pragota, diperintahkan untuk menyerahkan Endang Werdiningsih kepada rara Ireng. Bersukacitalah rara Ireng, menerima penyerahan Endang Werdiningsih, beserta wanita-wanita lainnya. Kepada mereka diajarkan budi-pekerti, dan segala tatakrama yang baik. Menjelang rara Ireng akan tidur, kepada Endang Werdiningsih diperintahkan untuk memijatinya, apa hendak dikata manakala berdua di dalam ruang praduan, Endang Werdiningsih babar dalam wujudnya semula, menjadi raden Permadi, demikian pula wanita-wanitanya semula lainnya, babar menjadi Semar, Nalagareng dan Petruk. Tentu saja Ireng sangat terperanjat, dan malu, larilah sambil menjerit-jerit, di dalam kraton ada maling aguna.

Raden Kakrasana menerima laporan adiknya rara Ireng, setelah dibuktikan ke dalam ruang peraduan adiknya, benarlah yang menjadi maling, tak lain raden Pamade. Kepada adiknya yang di kadipaten, ialah raden Narayana, diberitakan bahwa sanya adiknya rara Ireng menakala sedang beranjak diperaduan, telah diganggu oleh seorang lelaki, tak ubahnya dia itu maling aguna. Namun setelah dijelaskan bahwasanya raden Pamadelah yang menjadi maling aguna, kesepakatan terjadi, sebaiknya raden Pamade saja dipanggil dan diberi pengertian. Menghadaplah raden Pamadem,dan kepadanya telah diberitakan, bahwasanya rara Ireng, kelak kemudian hari akan menjadi jodohnya.

Selagi mereka berbincang-bincang, datanglah raden Rukmarata, menjelaskan maksud kedatangannya, yang tak lain menyampaikan pesan prabu Salya, bahwasanya Dewi Erawati hilang disandera maling aguna, yang berwujud raksasa. Kepada raden Kakrasana diwajibkan untuk menemukan kembali, manakala hal tersebut dapat dipenuhi, jadilah perkimpoiannya, akan halnya sarana-sarana kelengkapan perkimpoian lainnya, tak usah diadakan. Jelaslah sudah bagi raden Kakrasana, setelah raden Rukmarata mengundurkan diri, kepada raden Narayana dan raden Pamade si raden Kakrasana menyerahkan terlaksananya tugas tersebut mereka menyanggupkan diri, dan berangkat.
Raden Narayana telah mengetahui dengan pasti, bahwasanya Dewi Erawati, disandera di dalam kraton Giridasar, tak ayal lagi mereka menuju ke sana.
Konon, utusan raja orabu Rudradarimuka, raksasa yang berhasil membawa lari Dewi Erawati, telah berdatang sembah, dan mengeluarkan Dewi Erawati dari cincin saktinya, diterima oleh prabu Rudradarimuka. Di dalam kraton, berusahalah prabu Darimuka menghimbau Dewi Erawati untuk melayani maksudnya, tetapi manakala prabu Rudradarimuka masuk ke dalam kraton, tempat penyembunyian Dewi Erawati, bertemulah dengan raden Pamade dan raden Narayana. Segera perkelahian terjadi, raden Pamade menempeleng prabu Rudradarimuka, mati. Gegerlah wadyabala dari Giridasar, mereka segera mengamuk akan membela kematian rajanya. Para raksasa dari Giridasar dapat dikalahkan kesemuanya, oleh raden Pamade dan raden Narayana.

Di praja Mandura prabu Kakrasana menerima laporan raden Narayana dan raden Pamade, dan penyerahan Dewi Erawati. Segeralah oleh raden Kakrasana diperintahkan mempersiapkan segala sesuatunya bagi iring-iringan temanten laki, menuju ke praja Mandraka, Selagi mereka bersiap-siap, datanglah hyang Narada dari kahyangan diiringi para dewa Suralay dan bidadari, membawa segala kelengkapan temanten, laki kereta kencana, kembar mayang Dewandaru, gamelan Lokananta. Kepada raden Kakrasana oleh hyang Narada, diberinya busana raja, beserta senjata sakti yang bernama Alugora, kendaraan berwujud gajah bernama Puspadenta, diberinya nama pula, prabu Baladewa. Atau Balarama, iring-iringan temanten laki, berangkat menuju ke praja Mandraka. Raden Pamade mendahuluinya, membawa serta Dewi Erawati, untuk diserahkan kepada raja Salya, dan telah diterima, demikian pula segala sesuatu mengenai akan keberangkatan temanten, juga telah dilaporkannya. Prabu Salya, dan para tamu lainnya, ialah prabu Puntadewa, raden arya Bratasena, Pinten dan Tangsen segera menerima calon temanten lelaki, prabu Baladewa. Hyang Narada segera bertitah untuk secepat mungkin temanten dipertemukan, setelah selesai, kembalilah para dewa ke kahyangan.

Di samping suasana yang riang gembira di dalam istana Mandraka, terjadi lagi kerusuhan yang ditimbulkan oleh sri Kurupati beserta Kurawanya, raden arya Bratasena segera maju, dan para Korawa dapat diundurkan kesemuanya. Kembali seisi istana Mandraka bersuka ria, bersabda bersama-sama.

Pamade = Arjuna
Jaladara = Baladewa
Kangsa Adu Jago

Syahdan, putra prabu Basudewa, yang lahir dari Dewi Maerah, dan bernama Raden Jakamaruta atau Raden Kangsa, berdatang sembah ke hadapan sang raja,”Ayahanda, prabu Basudewa, perkenankanlah ananda mengadakan aduan jago. Tetapi bukannya jago hewan yang akan ananda adu, tetapi jago manusia. Kadipaten nantinya akan mengeluarkan jago, pamanda Suratimantra. Terserah pada ramanda prabu, siapa yang akan melawannya.”Usul tersebut meski berat, disetujui juga oleh raja. Kangsa memohon diri kembali ke kadipaten.

Raja memerintahkan kepada Arya Prabu Bismaka untuk pergi ke Widarakandang. Arya Ugrasena diperintahkan untuk mencari jago melawan Suratimantra. Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi, yang diserahi prabu Basudewa untuk membesarkan dan mendidik Raden Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng, pada waktu ditanya Prabu Bismaka ke mana dan dimana kedua putera keponakannya, tak dapat menjawab. Marahlah prabu Bismaka lalu dihajarlah Kyai Angopa sebab kelalaiannya. Kepadanya juga ditanyakan, mengapa sampai kadipaten Sengkapura telah mendengar tentang Rara Ireng. Inilah yang nantinya akan menjadi pangkal huru-hara di Mandura.

Raden Kakrasana yang mengetahui Kyai Antagopa dihajar oleh Arya Prabu Bismaka, segera memberikan bantuan. Arya Prabu dilawan, kalah mengundurkan diri, segera pula Kakrasana minta diri, untuk bertapa di gunung Argasonya.

Belum selesai masalah yang satu, disusul datangnya prajurit dari kadipaten, utusan Jakamaruta. Mereka mengetahui adanya seorang puteri cantik putera Nyai Sagopi. Diminta dengan paksa, tetapi permintaan ditolak. Terjadilah huru-hara lagi di Widarakandang. Rara Ireng dapat dilarikan oleh Nyai Sagopi, menuju ke hutan.

Para yaksa, prajurit kadipaten, mengejarnya ke hutan. Raden Parta, beserta panakawannya, Semar, Nalagareng, dan Petruk, yang sedang berada di hutan, bertemu dengan Rara Ireng dan Nyai Sagopi. Kepada Raden Parta telah disampaikan segala hal ihwalnya. Jelasnya mereka dikejar-kejar yaksa Kadipaten, untuk itu dimintainya bantuan, sanggup. Prajurit dari kadipaten banyak yang terbunuh oleh raden Parta, manakala mereka sedang bertempur, Nyai Sagopi yang mengira Raden Parta kalah, melarikan diri bersama rara Ireng, menuju ke praja Mandura. Akhirmya Parta menyadari dan pergi untuk mencari rara Ireng.

Diceritakan Raden Narayana yang sedang berguru pada Bagawan Padmanaba di pertapaan Ardi Liman. Ia diberi bunga Jayakusuma dna senjata Cakra. Setelah itu, bagawan Padmanaba minta Narayana untuk menyempurnakan diri Begawan Padmanaba. Senjata cakra dilepaskan pada begawan Padmanaba, matilah beliau. Jenazah dibakar, Padmanaba menitis ke Narayana.

Demikian pula Raden Kakrasana yang bertapa di Argasonya, ditemui Hyang Brahma, diberi pusaka nanggala, dan dianjurkan untuk pergi ke Mandura.

Ditengah perjalanan , Kakrasana bertemu dengan Narayana, demikian pula rara Ireng tak lama juga bertemu dengan mereka. Raden Partapun datang kemudian, sehingga berkumpullah mereka. Maksud mereka akan pergi ke Mandura, untuk melihat aduan jago manusia, berangkatlah mereka, tak lupa Rara Ireng turut serta kakandanya, raden Narayana.

Raden Arya Ugrasena, sekembalinya dari Amarta telah membawa Raden Bratasena, untuk dijadikan jago, di adu dengan jago kadipaten Suratimantra.

Di Mandura, telah dipersiapkan peraduan jago, Mandura dengan jago Bratasena, Sengkapura jagonya Suratimantra. Diadulah sudah kedua jago tersebut, ramai sekali perangnya. Pada kalanya Suratimantra melihat, bahwa diantara penonton ada yang berkulit putih, tak lain adalah Raden Kakrasana, segera meninggalkan peperangan, beralih segera menangkapRaden Kakrasana, tetapi akhirnya Kakrasana dapat juga membunuh Suratimantra. Jakamaruta (Kangsa) mengetahui matinya Suratimantra oleh Kakrasana, segera akan membunuh Kakrasana, Narayana yang melihat gelagat ini segera melepaskan senjata cakranya, demikian pula Kakrasana mengayunkan nenggalanya ke arah Kangsa, lebur-luluhlah Kangs amati.

Prabu Basudewa, segera merayakan kemenangan putera-puteranya terhadap musuh negara Mandura, matinya Jakamaruta (Kangsa) terhindarlah negara Mandura dari ancaman-ancaman bahaya.

Baratayuda: Rekadaya Durna, Sang Senapati Tua (1)
Bagai tersaput kabut suasana dalam sasana Bulupitu. Gelap pekat dalam pandangan Prabu Duryudana. Kesedihan yang teramat dalam dibarengi dengan kekhawatiran akan langkahnya kedepan setelah gugurnya Resi Bisma, membuat Duryudana duduk tanpa berkata sepatahpun. Sebentar sebentar mengelus dada, sebentar sebentar memukul pahanya sendiri. Sebentar kemudian mengusap usap keningnya yang berkerut. Hawa sore yang sejuk menjelang malam, tak menghalangi keluarnya keringat dingin yang deras mengucur dan sesekali disekanya, namun tetap tak hendak kering. Dalam hatinya sangat masgul, malah lebih jauh lagi, ia memaki maki dewa didalam hati, kenapa mereka tidak berbuat adil terhadapnya.
Tak sabar orang sekelilingnya dalam diam, salah satunya adalah Prabu Salya. Dengan sabar ia menyapa menantunya. Ngger, apa jadinya bila pucuk pimpinan terlihat patah semangat, bila itu yang terjadi, maka prajuritmu akan terpengaruh menjadi rapuh sehingga gampang rubuh bila terserang musuh”.
Terdiam sejenak Prabu Salya mengamati air muka menantunya. Ketika dilihat tak ada perubahan, kembali ia melanjutkan, “Jangan lagi memikirkan apa yang sudah terjadi. Memang benar, kehilangan senapati sakti semacam Resi Bisma, eyangmu itu, tak mudah untuk digantikan oleh siapapun. Namun tidakkah angger melihat, aku masih berdiri disini. Lihat, raja sekutu murid-murid Pandita Durna, yang disana ada Gardapati raja besar dari Kasapta. Disebelah sana lagi ada Prabu Wersaya dari Negara Windya, sedangkan disana berdiri Raja sentosa bebahunya, Prabu Bogadenta dari Negara Turilaya, Prabu Hastaketu dari Kamboja, Prabu Wrahatbala dari Kusala, disebelah sana ada lagi Kertipeya, Mahameya, Satrujaya, Swarcas *) dan tak terhitung raja raja serba mumpuni olah perang lainnya yang aku tidak dapat disebu satu persatu. Para manusia sakti mandraguna masih berdiri disekelilingmu. Belum lagi gurumu Pandita Durna masih berdiri dengan segudang kesaktian dan perbawanya. Ada kakakmu Narpati Basukarna. Dan jangan remehkan juga pamanmu Sangkuni, manusia dengan ilmu kebalnya. Masih kurangkah mereka menjadi penunjang berdirinya kekuatan Astina?”
Sekali lagi Prabu Salya mengamati wajah menantunya yang sebentar air mukanya berubah cerah, mengikuti gerakan tangan mertuanya menunjuk para raja dan parampara yang ada di balairung.
Sejenak kemudian, pikiran dan hati Prabu Duryudana mencair, tergambar dari air mukanya yang menjadi cerah.
Tak lama kemudian, sabda Prabu Duryudana terdengar “ Rama Prabu Mandaraka, Bapa Pandita Durna, Kakang Narpati Basukarna dan para sidang semua, terliput mendung tebal seluruh jagatku, tatkala gugurnya Eyang Bisma, seakan akan patah semua harapan yang sudah melambung tinggi, tiba-tiba tebanting di batu karang, remuk redam musnah segalanya”.
Sejenak Prabu Duryudana terdiam. Setelah menarik nafas dalam dalam, ia melanjutkan “Namun setelah Rama Prabu Salya membuka mata saya, bahwa ternyata disekelilingku masih banyak agul agul sakti, terasa terang pikirku, terasa lapang dadaku!. Terimakasih Rama Prabu, paduka telah kembali membangkitkan semangat anakmu ini”.
“Ngger anak Prabu, sekarang anak Prabu tinggal memilih, siapakah gerangan yang hendak diwisuda untuk menjadi senapati selanjutnya. Silakan tinggal menunjuk saja. Ssemua sudah menanti titah paduka, angger Prabu”. Pandita Druna memancing dan mencadang tandang dan mengharap menjadi senapati pengganti.
“Baiklah, besok hari, mohon perkenannya Paman Pandita Durna untuk menyumbangkan segala kemampuan gelar perang, mengatur strategi bagaimana agar secepatnya para Pandawa tumpas tanpa sisa”
Gembira Pandita Durna terlihat dari wajahnya yang berseri seri. “Inilah yang aku harap siang dan malam, agar menjadi pengatur strategi yang nyatanya sudah aku mengamati dari hari kehari, apa yang seharusnya aku lakukan untuk kejayaan keluarga Kurawa”.
“Sukurlah kalau demikan, ternyata tak salah aku memilih Paman Pandita yang sudah mengamati bagaimana cara menumpas musuh. Perkenankan Paman Pandita membuka gelar strategi itu”. Kali ini senyum Prabu Duryudana makin lebar.
“Begini ngger, seperti yang sudah pernah diutarakan oleh Resi Bisma, kekuatan Pendawa itu sebenarnya ada pada Werkudara dan Arjuna. Nah, sekarang mereka menggelar perang dengan formasi Garuda Nglayang, dengan sayap kiri ditempati oleh Werkudara, sedangkan di sayap kanan ada di pundak Arjuna”.
“Bila kedua sayap itu dibiarkan utuh, maka kita akan keteteran menghadapi serangan kedua orang itu. Cara satu satunya adalah bagaimana kita melepas tulang sayap itu sehingga kekuatannya akan menjadi hilang. Satu hari saja mereka dipisahkan dari barisan, segalanya akan berjalan mulus untuk kemenangan kita”. Sejenak Pandita Durna menghentikan beberan strategi. Matanya mengawasi para yang hadir didalam balairung. Setelah yakin bahwa semua penjelasan awal dimengerti, terlihat dari anggukan hadirin, Durna meneruskan.
“Sekarang bagaimana caranya?” kembali ia berhenti. Matanya kembali menyapu satu demi satu hadirin dengan percaya diri sangat tinggi. Lanjutnya “Nak angger, untuk memuluskan langkah kita melolosi kekuatan Pandawa satu demi satu, besok hari akan digelar barisan dengan tata gelar Cakrabyuha. Gelar ini diawaki ruji-ruji terdiri dari Prabu Salya, Nak Mas Adipati Karna, Adipati Jayadrata, Yayi Resi Krepa , Kartamarma, Prabu Bogadenta, Dursasana , Aswatama, Prabu Haswaketu, Kertipeya serta Wrahatbala. Semuanya membentuk lingkaran, sedangkan dalam poros adalah anak Prabu Duryudana”.
Merasa tidak disebut, Prabu Gardapati dan Prabu Wresaya berbareng mengajukan pertanyaan, Adakah kekurangan kami sehingga kami tedak dipercaya terlibat dalam susunan gelar?”
Terkekeh tawa Pandita Durna mengamati mimik muka ketidak puasan yang terpancar dari kedua Raja Seberang ini. Jangan khawatir, justru kamu berdua akan aku beri peran yang cukup besar untuk gelar strategi perang esok hari ! sambungnya sambil memainkan tasbih yang selalu melekat ditangannya.
Wajah wajah yang tadinya menampakkan rasa kecewa, wajah Prabu Gardapati dan Prabu Wersaya kembali sumringah Apakah peran kami berdua ? Sebesar apa sumbangan yang bisa kami berikan agar jasa kami selalu dikenang dibenak saudara-saudara kami Kurawa? Tak sabar Gardapati mengajukan pertanyaan.
“Naaa . . . Begini Gardapati, Wersaya, besok secara pelan dan pasti, pancing kedua sayap kanan dan kiri Werkudara dan Janaka untuk mejauh dari barisan utama dan ajaklah mereka bertempur hingga ke pinggir hutan pinggir pantai. Anak Prabu Gardapati dan Wersaya, segera tancapkan senjata saktimu ketanah berpasir, bukankah senjata pusakamu dapat membuat pasir menjadi hidup dan berlumpur, mereka terperosok masuk dalam perangkap pasir itu. Semakin kuat mereka bergerak, pasir hidup itu akan menarik mereka kedalam. Pasti keduanya akan segera tewas”.
******
Sementara itu di Pesanggrahan Randuwatangan, Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa dan Prabu Kresna serta segenap para prajurit utama juga mengadakan pertemuan membahas langkah yang dituju untuk mencapai posisi unggul di esok hari.
Namun sebelumnya, mereka mengadakan upacara pembakaran jasad Resi Bisma secara sederhana, namun dilimputi dengan suasana tintrim dan khidmad. Walau sejatinya Resi Bisma adalah senapati lawan, namun kecintaan para Pandawa terhadap leluhurnya taklah menjadi sekat terhadap rasa bakti mereka.
Prabu Punta yang duduk berdiam diri dengan rasa sedih atas kematian Resi Bisma, tak juga memulai sidang. Namun Prabu Kresna segera memecah kesunyian, menyapa Prabu Punta. Tetapi yang terlontar dari jawaban Prabu Puntadewa, adalah penyesalan diri. Mengapa perang terjadi sehingga menyebabkan tewasnya Resi Bisma.
Kembali Kresna menasihati adik-adiknya. Semua diuraikan lagi, mengapa perang ini harus berlangsung dan intisarinya perang Baratayuda sesungguhnya apa.
Cair kebekuan hati Prabu Punta, segera inti pembicaraan sidang ditanyakan kepada Prabu Puntadewa.“Yayi Prabu, sidang sudah menanti titah paduka untuk langkah yang akan kita arahkan besok hari. Adakah yang perlu yayi sampaikan dalam sidang ini ?”
“Terimakasih kakang Prabu yang selama ini sudah membimbing kami semua, pepatah mengatakan kakang Prabu dan kita semua, sudah terlanjur basah, alangkah lebih baik kita mencebur sekalian” Prabu Puntadewa sejenak terdiam. Dalam pikirannya masih diliputi dengan peristiwa yang sore tadi berlangsung. Selain itu dalam hal strategi, siapa yang tak kenal dengan Raja Dwarawati yang diketahui memiliki ide-ide cemerlang. Maka tidak ragu lagi Prabu Punta melanjutkan. ”Selanjutnya, segala pengaturan langkah, silakan kakang Batara untuk mengatur langkah kita dibawah perintah paduka “.
“Dhuh yayi, kehormatan yang diberikan kepadaku akan aku junjung tinggi, segala kepercayaan akan kami jalankan demi kejayaan kebenaran”.
“Senapati yang kemarin belum akan diganti, masih ada ditangan Adimas Drestajumna. Kemarilah lebih mendekat, yayi Drestajumna, Paparkan semua strategi gelar yang akan dimas terapkan besok hari. Prabu Kresna mulai mengatur kekuatan langkah.
Segera Drestajumna maju menghaturkan sembahnya Kanda Prabu, segala tata gelar yang kemarin dijalankan, ternyata ampuh untuk mengusir dan mendesak majunya prajurit Kurawa. Dari itu kanda, besok, gelar itu masih saya pertahankan”
“Bagus! Kali ini berhati-hatilah, mereka masih punya banyak orang sakti. Prabu Kresna mengingatkan.
Dengan tegas Drestajumna melanjutkan Saya harap, semua para satria yang ada pada posisi penting, jangan sampai keluar dari tata baris yang digariskan. Hal ini penting agar kekuatan kita merata sehingga sentosa menghalau serangan musuh.
*****

Baratayuda: Rekadaya Durna, Sang Senapati Tua (2)
Demikianlah. Cakrabyuha dan Garuda Nglayang berbenturan pagi itu, selagi matahari masih belum menuntaskan basahnya embun. Ringkik kuda dan sorak prajurit yang bertenaga segar di pagi itu memicu semangat tempur semua lasykar yang sudah berhari-hari terperas keringatnya. Kali ini, para generasi muda mulai menampakkan kematangannya setelah pengalaman hari hari kemarin. Pancawala anak Prabu Puntadewa mengamuk disekitar Raden Drestajumna. Tandangnya trampil memainkan senjata membuat banyak korban dari Pihak Kurawa semakin banyak berguguran.
Sementara tak kalah pada sayap seberang, krida pemuda bernama Sanga-sanga, putra Arya Setyaki, bersenjata gada, juga mengamuk membuat giris lawan. Gerakan dan perawakannya yang bagai pinang dibelah dua dengan sang ayah, hanya beda kerut wajah membuat banyak lawan tertipu. Kedua orang ini sepertinya nampak ada dimana-mana.
Tak hanya itu, dibagian lain terlihat dua satria yang kurang lebih sama bentuk perawakan dan kesaktiannya, Raden Gatutkaca dan Raden Sasikirana, kedua orang bapak anak tak mudah dibedakan caranya berperang membuata terperangah prajurit lawan. Tak kurang ratusan prajurit Astina tewas ditangan keduanya termasuk patih dari Negara Windya dan Giripura.
Sementara di sayap gelar garuda nglayang, Werkudara segera dihadang oleh Gardapati. Setelah bertempur sekian lama, kelihatan bahwa Gardapati bukanlah tanding bagi Bimasena. Khawatir segera dapat dibekuk, Gardapati segera bersiasat sesuai yang dipesankan oleh Pandita Durna “Werkudara! Ternyata perang ditempat ramai seperti ini membuat aku kagok. Ayoh kita mencari tempat sepi, agar kita tahu siapa sesungguhnya yang memang benar benar sakti. Kejar aku..!!”
Lupa pesan panglima perang, Werkudara menyangupi “Ayo. .! Apa maumu akan aku layani. Dimanapun arenanya, aku akan hadapi kamu”.
Gembira Gardapati sambil terus bercuap sesumbar, memancing langkah lawannya menuju ketempat yang ditujunya.
Disisi sayap lain Wersaya menjadi lawan tanding Arjuna. Sama halnya dengan Gardapati, Wersaya mengajak Janaka pergi menyingkir menjauh dari arena di Kurusetra.
Diceritakan, sepeninggal kedua pilar kanan kiri barisan, angin kekuatan berhembus di pihak Kurawa. Semangat yang tadinya kendor oleh amukan para satria muda Pendawa, kembali berkobar. Tak sampai setengah hari, Garuda nglayang dibuat kucar-kacir oleh barisan Cakrabyuha Kurawa. Kali ini banyak prajurit Hupalawiya yang menjadi korban amukan dari sekutu Kurawa. Haswaketu, Wrahatbala dengan leluasa mengobrak abrik pertahanan lawan. Dursasana dan Kartamarma serta Jayadrata demikian juga. Ketiganya segera merangsek maju hingga mendekati pesanggrahan para Pandawa. “Maju terus, kita sudah hampir mendekati pesanggrahan Randuwatangan” teriak prajurit Kurawa.
Disisi lain, teriakan dari dalam barisan membahana memecah langit “Bakar pesanggrahan Randu watangan kita akan terus melaju”. Tanpa adanya kedua kekuatan di kedua sayap, Garuda nglayang bagaikan garuda lumpuh. Keadaan barisan Randuwatangan makin kacau, mereka berlarian salang tunjang tanpa ada yang dapat mengatur ulang barisan yang makin terpecah belah.
Murka sang Drestajumna melihat barisannya terdesak hebat. Segera dicari tahu sebabnya. Dipacu kereta perangnya melihat apa yang terjadi. Begitu sudah ketemu sebab musababnya, segera ia memacu kembali kereta kearah Prabu Kresna.
“Duh kakang Prabu, lebih baik saya melepas gelar senapati. Akan aku lepas kalungan bunga tanda senapati ini bila kejadiannya seperti ini”. Ucap Drestajumna memelas.
“Bila saya sudah tidak dianggap lagi, perintah saya kepada kakang Arjuna dan Werkudara dianggap bagai angin lalu, saya sudahi saja peran saya sampai disini” sambungnya sambil bersiap melepas kalungan bunga tanda peran senapati.
“Lho . . ! nanti dulu. Ada rembuk kita rembuk bersama”. Kresna tetap tersenyum tanpa terpengaruh kisruh yang menimpa prajurit Randuwatangan atau Mandalayuda, meredakan kisruh hati Raden Drestajumna.
Katanya lagi “Tidaklah pantas bagi satria sakti semacam Drestajumna, satria pujan yang terjadi dari api suci yang ketika ayahmu Prabu Drupada bersemadi meminta seorang putra sakti mandraguna. Karana yang lahir terdahulu adalah selalu anak perempuan” sejenak Prabu Kresna berhenti, menelan ludah “Tidaklah pantas seorang yang telahir sudah bertameng baja didada dan punggungnya menggendong anak panah, melepas tanggung jawab yang sudah diberikan”.
Tersadar Sang Senapati dengan apa yang sudah terjadi “ Aduh kakang Prabu, seribu salah yang telah aku perbuat, kiranya kakang Prabu dapat memberi pintu maaf seluas samudra. Apakah yang harus aku perbuat untuk memulihkan kekuatan, kakangmas”.
“Baiklah. . ! Bila satu rencana gagal, tentu rencana cadangan harus kita terapkan. Kita panggil satria lain sebagai pilar pengganti dan kita ubah gelar yang sesuai dengan keadaan saat ini”. Kresna membuka nalar Drestajumna.
Siapakah menurut kakanda yang pantas untuk keadaan seperti saat ini?” Sambar Drestajumna.
“Tak ada lain, keponakanmu, anak Arjuna, Abimanyu. Segera kirim utusan untuk menjemput dia” Sri Kresna memberi putusan
******
Syahdan. Ksatrian Plangkawati, Raden Abimanyu atau Angkawijaya sedang duduk bertiga. Ketika itu ia diminta pulang ke Plangkawati terlebih dulu menunggui kandungan Retna Utari yang sedang menjelang kelahiran putranya. Disamping kiri kanannya duduk putri Sri Kresna, Dewi Siti Sundari. Sedang disisi lain Dewi Utari yang tengah mengandung tua. Kedua tangan Dewi Siti Sundari dan Dewi Utari tak hendak lepas dari tangan sang suami.
“Mimpiku semalam sungguh tidak enak kakangmas, siang ini jantungku merasa berdebar tak teratur. Gelisah kala duduk, berdiri berasa lemas kaki ini. Apa gerangan yang akan terjadi” demikian keluh Utari kepada suaminya.
“Utari, jangan dirasa rasa. Mungkin itu bawaan dari anakmu didalam kandungan. Aku sendiri tidak merasai apapun” hibur Abimanyu.
Siti Sundari juga tak juga diam, pegangan tangannya semakin erat menggelendoti suami tercintanya. “Akupun begitu, malah dari kemarin, banyak perabot yang aku pegang, terlepas pecah. Aku punya firasat buruk kakang”. Semakin menggelayut pegangan Siti Sundari.
“Aku tidak mengandung seperti keadaan eyang Utari, apakah ini tanda tanda aku juga mau hamil kakang”.Tambah Siti Sundari yang menyebut madunya masih dengan garis keturunan, eyang.
“Mudah mudahan dewata menjadikan ucapanmu menjadi nyata” hibur Abimanyu sambil tersenyum kearah Siti Sundari. Senyum itulah yang membuat anak dari Prabu Kresna itu, rela menerjang tata susila, ketika kunjungan Abimanyu ke Dwarawati selalu diajaknya Abimanyu kedalam keputren, hingga mereka segera dikimpoikan.
Terpotong pembicaraan suami dengan kedua istrinya, ketika Raden Gatutkaca sampai dengan cepat, setelah diberi perintah oleh Sang Senapati. Dengan terbang di angkasa, tanpa membuang waktu sampailah ia di Plangkawati.
“Adimas, mohon maaf atas kelancanganku mengganggu kemesraan kalian bertiga. Sesungguhnya kedatanganku, adalah sebagai utusan dari para sesepuh yang sedang dalam kesulitan di arena peprangan. Dimas diminta sumbangan tenaganya untuk bergabung dengan kami di Kurusetra”.
Gatutkaca mencoba mengawali pembicaraan. Dalam hatinya ia sangat tidak enak karena mengganggu kemesraan mereka, karena kedua istri adiknya dilihatnya tengah menggelayut dipundak sang adik.
Kaget seketika para istri Abimanyu. Seketika itu juga, pecahlah tangis mereka.
Namun lain halnya dengan Abimanyu sendiri. Tersenyum sang Angkawijaya. Wajahnya cerah bagai kanak-kanak mendapat mainan baru. “Sudahlah Utari, Siti Sundari istriku, tak ada yang perlu kamu berdua khawatirkan atas keselamatanmu, aku akan menjaga diriku baik-baik”.
Seribu ucapan Abimanyu menjelaskan arti dari tugas negara disampaikan kepada istrimya, namun tangis keduanya malah be tambah tambah.
Semakin erat kedua istri Angkawijaya memegangi lengan suaminya. Ketika Angkawijaya berdiri hendak pergi, keduanya masih juga memegangi erat selendang sang suami. Tanpa ragu, diirisnya selendang hingga keduanya terlepas. Dengan cepat ia berjalan memanggil Raden Sumitra, saudara seayah. Sesampai Angkawijaya ke istal, kandang kuda, diajaknya serta saudaranya itu.
Sekelabatan lenyaplah kuda sang Angkawijaya yang bernama bernama Kyai Pramugari yang berlari kencang, diiringi tangis kedua isterinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s