Lakon Wayang Part 18


Kidung Malam 31
Antara Hidup dan Mati
Kedatangan Durna di tengah-tengah mereka memaksa pertikaian antara Harjuna dan Ekalaya berhenti sementara.

“Aku dapat merasakan apa yang kalian rasakan. Sebagai seorang ksatria, perang tanding merupakan cara penyelesaian pamungkas yang terbaik. Kecuali jika salah satu di antara kalian mau mengalah atau mengaku kalah sebelum bertanding. Itu pun tidak mungkin kalian lakukan. Pasti! Karena aku tahu watak keduanya. Maka jangan salah sangka jika aku melarang kalian ber perang tanding. Silakan berperang tanding, asalkan jelas alasannya.”

“Ampun Bapa Guru, orang ini telah membunuh anjing pelacakku.”

“Ampun Sang Maha Resi, aku telah meminta maaf.”

“Bagus! Sisi lain dari seorang ksatria adalah mau mengakui kesalahannya.”

“Bagaimana dengan pihak yang tidak melakukan kesalahan, tetapi pihak yang dirugikan?”

“Itu tergantung orangnya. Jika yang dirugikan seorang Brahmana tentunya ia akan memaafkan, karena yang bersangkutan telah mengakui kesalahannya. Jika yang dirugikan seorang raja, ia akan memberi ampun tetapi bersyarat. Syaratnya bisa hukuman, denda atau yang lain. Jika yang dirugikan adalah seorang Ksatria, ia dapat memilih di antara keduanya, seperti raja atau seperti brahmana.”

“Ampun Bapa Guru, bolehkah saya tidak memilih di antara keduanya?”

“Boleh! Boleh! Apa yang kau pilih Harjuna?”

“Cara Ksatria sejati. Perang tanding!”

“Bagaimana Ekalaya?”

”Perang tanding untuk apa? jika untuk anjing yang mati aku tidak mau. Lebih baik aku mengaku kalah dan minta maaf.”

Harjuna terdiam. Ia kebingungan. Sesungguhnya untuk apa perang tanding? Yang pasti tidak untuk seekor anjing, melainkan untuk sebuah martabat dan harga diri.

“Bagaimana jawabmu Harjuna?”

Durna melemparkan pertanyaan Ekalaya.

“Sebagai saudara tua seperguruan aku ingin menjajal ilmu Ekalaya.”

“Bagus Harjuna! Sesungguhnya aku pun ingin menjajal seberapa tinggi tingkat ilmu seorang lelananging jagad.”

Darah muda Ekalaya mulai panas. Ia mulai tidak senang, bahkan cenderung muak melihat sikap ksatria besar seperti Harjuna bersifat arogan, meremehkan sesamanya. Maka ia sengaja membakar hati Harjuna yang sudah membara. Seperti dikomando, keduanya melakukan sembah kepada Sang Guru Durna dan memberi hormat kepada Aswatama, Anggraeni, Puntadewa, Bimasena, Nakula, Sadewa dan para cantrik-mentrik.

Maka mulailah mereka bertempur. Keduanya sama-sama sakti dan mempunyai bekal ilmu yang cukup. Jurus demi jurus mereka keluarkan. Ilmu demi ilmu mereka benturkan, namun keadaan masih berimbang. Mereka yang menyaksikan tegang berdebar menyaksikan kedua orang sakti beradu ilmu. Beberapa di antaranya menjadi pusing menyaksikan gerakan-gerakan Harjuna dan Ekalaya. Maka mereka lebih memilih menjauhi arena pertempuran dan duduk di bibir pendapa.

Hari menjelang sore, pertempuran belum berakhir. Keduanya sama-sama muda, sama-sama sakti, sama-sama tampan-rupawan, dan sama-sama menggunakan ilmu-ilmu Sokalima.

“Luar biasa, ternyata ilmu-ilmu Sokalima sangat dahsyat. Tetapi mengapa aku yang sudah belasan tahun menjadi cantriknya tidak dapat seperti mereka ya?” celetuk seorang cantrik.

“Lha iya jelas, wong kamu kalau diajari malah tidur,” timpal cantrik yang lain.

Karena hari mulai gelap dan keduanya sudah kehabisan tenaga maka Durna menghentikan pertempuran. Dengan wajah cemas Anggraeni memapah suaminya, diajak masuk ke bilik untuk kemudian dirawat dengan penuh kasih dan kesetiaan. Sedangkan di pihak Harjuna, Nakula dan Sadewa yang cemas sejak awal pertempuran berlari mendapati Harjuna untuk diajak berjalan memasuki salah satu bilik yang biasa ditempati Harjuna. Sementara Aswatama dan para cantrik-mentrik meninggalkan arena pertempuran untuk menceritakan kepada sanak saudara tentang pengalaman luar biasa yang baru sekali disaksikan sepanjang hidup mereka.

Suasana memang menjadi sangat sepi. Durna masih duduk sendirian, tidak ada satu cantrik pun yang berani mendekat. Tampaklah garis-garis wajahnya semakin dalam, sedalam kesenduan hatinya, menyaksikan kedua murid pilihan bertaruh antara hidup dan mati. Jika saat ini keduanya masih hidup, tentunya pada saatnya nanti hanya ada satu yang hidup. Ekalaya atau Harjuna.

Kidung Malam 32
Antara Hidup dan Mati
Sejatinya yang menjadi harapan Durna, pertikaian antara Ekalaya dan Harjuna tidak usah dilanjutkan. Keduanya sama-sama sakti, ibarat dua sayap Sokalima yang perkasa. Mereka dapat membawa terbang nama Sokalima tinggi-tinggi, ke segala penjuru dunia. Sangat disayangkan jika satu di antaranya gugur pada medan harga diri. Namun itu tidaklah mungkin, karena di antara keduanya masih menyisakan bara api didadanya. Dinginnya malam di Sokalima tak kuasa mendinginkan hati mereka yang bertikai.

Dari masing-masing bilik yang ditempati Harjuna dan Ekalaya memancar energi yang saling bertemu sehingga bagi para cantrik yang kebetulan lewat di antara kedua bilik tersebut, pasti akan terkejut, dikarenakan ada sengatan hawa panas yang tidak mengenakkan.

Walau di dalam komplek padepokan Sokalima ada perbawa hawa panas, di depan pintu gerbang padepokan menebar energi lembut penuh kedamaian lewat kidungan cantrik jaga yang terbawa angin. Jika yang sedang bertikai mau membuka jendela hati dan membiarkan kidungan malam itu menyusup ke relung-relungnya, niscaya tidak mustahil pertempuran lanjutan yang tentunya lebih dahsyat tidak akan pernah terjadi.

Tidak peduli didengar atau pun tidak didengar, dirasakan maupun diabaikan, kidung malam tetap mengalun dari bibir cantrik tua yang berkulit kehitam-hitaman.

Ana kidung rumeksa ing wengi
ngreksa jiwa nala ingkang papa
ingkang ringkih sakabehe
saking rasa kumingsun
ngongasake diri pribadi
ngegungake priyangga
kebak watak umuk
tan gadhah ambeg welas
marang sapada-padhaning dumadi
tan purun angalaha.

Tidak beberapa lama kemudian, cantrik tua yang menjadi sumber suara kidungan tak kuasa menahan kantuknya, ia berbaring di gardu jaga. Akhirnya kidung malam yang mengingatkankan bahwa manusia ini lemah tak berdaya tetapi congkak dan tinggi hati, tak mau mengakui kelemahannya, hilang tak berbekas, tertutup suara burung hantu kutu-kutu walang ataga atau serangga-serangga malam yang saling bersahutan. Dengan demikian daya kidungan tersebut tak pernah menembus bilik mereka yang bertikai. Bilik hati Harjuna dan Ekalaya

Malam kian larut, tidak ada lagi senda gurau di antara para cantrik yang jaga, tidak terdengar lagi kidung malam. Hari menjelang dini hari, tidak seperti biasanya Guru Durna duduk sendirian di ruang tengah. Disorot lampu temaram, tampaklah bahwa ia sedang berduka, duka yang sangat dalam. Baru kali ini sebagai guru besar ia tak kuasa menghentikan pertikaian kedua muridnya. Yah walaupun secara resmi Ekalaya tidak diangkat menjadi muridnya, tetapi jujur saja secara batin Durna telah mengangkat Ekalaya sebagai muridnya. Apalagi diperkuat dengan adanya patung Durna di Sanggar Ekalaya yang dijadikan pusat konsentrasi dalam mempelajari ilmu-ilmu Sokalima.

Selagi masih ada kesempatan, Durna berusaha mencegah kemungkinan yang paling buruk yaitu kematian salah satu di antara keduanya. Namun usaha Durna hanya mampu menunda saatnya. Karena permasalahannya sudah merambah pada harga diri, hal yang paling berharga bagi seorang kesatria. Dan penyelesaiannya hanya satu yaitu perang tanding. Dua hari lagi di saat bulan purnama mereka akan berperang tanding antara hidup dan mati.

Kabar tentang perang tanding antara Harjuna dan Ekalaya telah tersebar tidak hanya di wilayah padepokan Sokalima, tetapi jauh di luar Sokalima. Di tanah lapang yang biasanya menjadi tempat pendadaran murid-murid Sokalima, malam itu menjadi istimewa. Sejak sore hari ribuan orang mulai berdatangan. Mereka ingin meyaksikan lanjutan pertandingan maha dahsyat di abad ini.

Di tengah kerumunan orang yang jumlahnya mencapai ribuan, Durna berdiri tegar di antara keduanya, Harjuna dan Ekalaya. Detik-detik purnama telah muncul di ufuk timur. Harjuna dan Ekalaya telah mempersiapkan diri. Demi sebuah harga diri, mereka telah siap menghadapi kemungkinan yang paling buruk, yaitu kematian.

Sebentar kemudian perang tanding dimulai. Bayangan keduanya tidak dikenali lagi yang mana Ekalaya dan yang mana Harjuna. Seperti pertandingan pertamanya, sebagian besar dari mereka pandangannya kabur dan kepalanya menjadi pusing.

Sebelum menyadari apa yang terjadi tiba-tiba Harjuna terlempar ke luar arena. Sorak membahana dari penonton menambah bara api di dada Harjuna menjadi semakin menyala. Ia mulai tak sabar, tangannya manyambar busur yang telah disiapkan di pinggir arena. Bruull! Ribuan anak panah keluar dari busurnya. Dengan tenang Ekalaya menyambut hujan panah yang diluncurkan Harjuna. Hanya hitungan detik patahan anak panah jatuh berserakan di antara Harjuna dan Ekalaya.

Perang adu kesaktian ilmu memanah berlangsung lama. Pada akhirnya Harjuna mengeluarkan pusaka andalan Sokalima yang diwariskan Guru Durna kepadanya yaitu pusaka Gandewa. Pusaka tersebut memancarkan cahaya berkilau yang menyilaukan mata.

Reketek!! Pusaka gandewa ditarik oleh Harjuna. Durna sangat terkejut, ia ingin mencegahnya namun terlambat. Dari pusaka gandewa telah meluncur ribuan anak panah yang tak habis-habisnya, mengarah pada Ekalaya. Semua penonton tercengang memandangnya. Sungguh luar biasa.

Kidung Malam 33
Keduanya Tidak Berdaya
Aswatama yang pernah kecewa karena Rama Durna telah mewariskan pusaka dahsyat kyai Gandewa kepada Harjuna, mencemaskan keselamatan Ekalaya sahabatnya yang dihujani ribuan anak panah yang muntah dari busur Gandewa. Wah gawat!! Namun setelah menyaksikan bagaimana Ekalaya menyambut hujan panah yang dilontarkan Harjuna, dengan busur pusaka yang tak kalah dahsyatnya dengan pusaka Gandewa, kecemasan Aswatama berkurang. Namun ketegangan justru semakin bertambah. Tidak saja bagi Aswatama, tetapi juga dirasakan oleh mereka yang menyaksikan ribuan anak panah saling beradu dan meledak-ledak di angkasa Sokalima.

Malam bulan purnama semakin bercahaya karena dihiasai oleh percikan-percikan api warna-warni akibat beradunya ribuan anak panah yang dilontarkan Harjuna dan Ekalaya. Kejadian yang luar biasa tersebut membuat Kahyangan Jonggring Saloka gonjang-ganjing. Ada hawa panas menebar di seluruh wilayah para dewa tersebut, di tempat Batara Guru bertahta. Karena terusik kenyamanannya diutuslah Patih Narada untuk melerai pertikaian antara Harjuna dan Ekalaya. Dalam perjalanan menuju ke Marcapada, Hyang Narada tertegun melihat pemandangan di depannya, tepat di atas langit Soka Lima. Ada percikan cahaya api warna-warni silih berganti. Sampai sehebat inikah kesaktian keduanya? Layak jika pengaruhnya sampai ke Kahyangan Jonggring Saloka. Maka tanpa membuang waktu, Dewa nomor dua di Kahyangan Jonggring Saloka tersebut segera turun ke arah yang sedang bertikai. Namun niat Patih Narada terhalangi oleh asap hitam pekat yang muncul tiba-tiba menyusul suara ledakan menggelegar. Awan hitam tersebut semakin tebal bergulung-gulung menyelimuti langit Soka Lima. Bersamaan dengan suara ledakan dahsyat, Batara Guru diiringi para Dewa dan Dewi turun dari Kahyangan ingin menyaksikan apa yang terjadi di Marcapada.

Suasana menjadi sangat mencekam. Malam bulan purnama yang sebelumnya semakin mempesona dengan adanya percikan-percikan api warna-warni kini menjadi gelap gulita dan sepi mencekam. Tidak ada lagi sorak sorai dan tepuk tangan dari para penonton yang menyaksikan perang-tanding antara Ekalaya dan Harjuna. Melihat keadaan yang semakin tidak nyaman, Batara Guru memerintahkan agar para Dewa-Dewi menaburkan bunga-bunga dengan aroma nan wangi untuk menyingkirkan asap hitam yang menyelimuti Soka Lima. Sekejap kemudian hujan bunga telah mengguyur Soka Lima. Daya dan aromanya mampu menyibak asap hitam yang menutupi kejadian besar yang ada di Soka Lima. Pelan tapi pasti, asap hitam pekat yang menutupi padepokan Soka Lima berangsur-angsur menghilang. Malam bulan purnama menjadi sempurna kembali. Malam menjadi mempesona. Ribuan penonton perang tanding yang sejak sore berdatangan di Soka Lima belum beranjak dari tempatnya. Mereka yang telah menumpahkan perhatiannya dengan segenap rasa-perasaan dan emosinya di dalam perang tanding tersebut semakin dibuat terheran-heran dengan kejadian berikutnya.

Tanah lapang di Soka Lima, tempat Harjuna dan Ekalaya bertanding, kini penuh bertaburan bunga warna-warni dengan aroma keharumannya masing-masing. Asap tebal yang muncul akibat ledakan yang ditimbulkan karena beradunya kedua busur pusaka milik Harjuna dan Ekalaya kini telah berganti dengan para Dewa-Dewi yang mengiringi Batara Guru yang menyusul Batara Narada untuk menghentikan yang sedang bertikai.

“Kang! Bermimpikah aku?”

“Coba aku cubit lenganmu”

“Aduh! Sakit kang.”

“Itu namanya kamu tidak sedang bermimpi. Kau dan aku berada di dalam alam sadar.”

“Tetapi lihatlah itu kang, langit di sekeliling kita penuh dengan gambar para dewa yang sangat mempesona dan para dewi yang amat jelita.”

“Ssst..! Jangan keras-keras dan gumunan isteriku, itu adalah para Dewa dan para Dewi yang mengiringi Batara Guru dan Batara Narada, ingin melerai perang tanding antara Harjuna dan Ekalaya.”

Sepasang suami isteri tersebut tidak memperpanjang pembicaraannya. Mereka bersama-sama ribuan penonton yang lain lebih memilih memusatkan perhatiannya dengan apa yang akan dilakukan Batara Guru dan Batara Narada terhadap Harjuna dan Ekalaya yang tergeletak tak berdaya. Dikarenakan mereka berdua telah menguras tenaga dan ilmunya untuk memuntahkan puluhan ribu anak panah melalui busur pusakanya masing masing. Pada puncaknya Busur Gandewa milik Harjuna dan busur pusaka milik Ekalaya saling menyedot dan beradu. Maka terjadilah ledakan amat dahsyat disertai asap hitam pekat yang bergulung-gulung, menggulung kedua busur pusaka hingga hilang tak berbekas.

Durna tergopoh-gopoh menyembah rajanya dewa serta pengiring yang menginjakkan kakinya di Soka Lima. Setelah menanggapi sembah Durna dan juga sembah dari ribuan orang yang hadir, Batara Guru didampingi Batara Narada mendekati Ekalaya dan Harjuna untuk kemudian memercikkan air kehidupan kepada mereka. Setelah itu didekatinya orang nomor satu di Soka Lima sembari bersabda:

“Durna selesaikan pertikaian di antara muridmu dengan adil.”

Sekejap kemudian Batara Guru dan seluruh pengiringnya meninggalkan Soka Lima. Malam pun pulih seperti malam purnama sebelumnya, sebelum ada pertikaian yang menimbulkan hawa panas ke seluruh alam semesta dan mengusik kenyamanan alamnya para Dewa-Dewi. Soka Lima berangsur-angsur pulih seperti hari-hari biasa yang tenang dan damai jauh dari mereka yang bertikai.

Orang-orang mulai melangkah pulang dengan perasaan yang sulit digambarkan dan terlalu banyak untuk diceritakan. Namun di masing-masing hati masih tersisa pertanyaan bagaimanakah akhir dari pertikaian antara hidup dan mati. Dan kalau boleh mereka berharap bahwa pertikaian akan berubah menjadi perdamaian dan persahabatan.

Memang benar, di sisa malam itu Soka Lima boleh menikmati ketenangan dan ketentraman, dikarenakan yang bertikai terbaring tak berdaya. Bahkan mungkin jika Sang Hyang Guru tidak memercikkan air kehidupannya di raga mereka yang lemah, tidak ada kehidupan lagi. Dengan demikian tentunya akan tamatlah pertikaian mereka bersama kerapuhan raganya.

Kidung Malam 34
Cincin Mustika Ampal
Sepekan telah berlalu sejak perang tanding yang belum menampakkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Keadaan Ekalaya dan Harjuna semakin membaik. Itu artinya bahwa tidak lama lagi perang tanding untuk yang ketiga kali akan dilanjutkan, sampai ada satu di antaranya yang kalah.

Seiring dengan pulihnya kekuatan mereka, bara di hati keduanya mulai membara kembali. Malam bergeser sangat lambat. Durna berjalan modar-mandir di antara bilik Harjuna dan bilik Ekalaya yang letaknya kurang lebih berjarak 300 meter. Masih terngiang di telinga sang guru Sokalima sabda Sang Hyang Guru

“Durna selesaikan pertikaian di antara muridmu dengan adil.”

Memang seharusnya Durna dapat menghentikan pertikaian mereka. Karena jika pertikaian terjadi lagi, kahyangan akan gonjang-ganjing. Para Dewa-Dewi akan pada lari kepanasan.

Tidaklah salah jika diperlukan tindakan tegas dan sedikit memaksa bagi seorang guru dalam menghadapi muridnya yang tidak mengindahkan perintah sang Guru. Bahkan bagi murid yang melanggar aturan perguruan pantas diberi sanksi atau pun hukuman yang setimpal. Tetapi siapa yang pantas mendapat teguran dan sanksi selaras dengan pelanggarannya? Apakah Ekalaya? Tidak! Bukankah Ekalaya belum secara resmi menjadi muridnya? Tetapi jika bukan kepada Ekalaya, mungkinkah Harjuna yang dihukum? Wah sungguh amat berat. Kayaknya tidak mungkin. Karena Harjuna adalah orang yang pertama kali melakukan sembah dan mohon menjadi muridnya sebelum disusul oleh saudara-saudaranya Pendawa dan warga Kurawa. Dan oleh karena daya tariknya kepada Harjuna dan juga Bimasena Durna berkenan mengajarkan ilmu-ilmunya, maka kemudian berdirilah Padepokan yang semakin hari semakin besar, Sokalima namanya. Belasan tahun berlalu, Sokalima masih megah bertahan. Ratusan murid telah dihasilkan. Mereka menyebar di seluruh penjuru negeri. Dengan kenyataan yang ada, tidaklah mudah untuk menjatuhkan sanksi atau pun menghukum kepada Harjuna, murid berprestasi, murid kesayangan, murid yang amat patuh dan sekaligus murid cikal-bakal padepokan Sokalima.

Maka ketika sang guru Durna bersikeras bahwa pertikaian harus dihentikan, dan bagi yang tidak tunduk dengan perintahnya akan diberi sanksi, maka secara tidak sadar Durna melangkah kakinya ke bilik Ekalaya.

“Ekalaya, tahukah engkau apa yang sedang menggelisahkan pikiranku?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan saya, sesungguhnya yang membuat Bapa Resi gelisah karena pertikaianku dengan Harjuna.”

“Bagus Ekalaya! Engkau anak yang cerdas. Jika demikian tentunya hanya satu jalan untuk dapat menghilangkan rasa gelisahku yang berlebihan, yaitu pertikaian dihentikan. Sanggupkah engkau Ekalaya?”

“Sejak awal aku memang berniat untuk berdamai dengan Harjuna dengan meminta maaf atas kelancangannku membunuh anjing kesayangan. Namun Harjuna menginginkan penyeselsaian perkara tersebut dengan cara kesatria. Jika sekarang aku menyerah dan mengaku kalah artinya saya mengulangi tawaran awal yang tidak dimaui Harjuna.”

“Ekalaya, sebagai seorang guru, tentunya aku tidak pernah menginginkan kehilangan salah satu murid-murid terbaik Soka Lima. Aku tahu apa yang diinginkan Harjuna dan apa yang kau inginkan. Harjuna menginginkan kemenangan dan itu mutlak. Jika tidak, lebih memilih mati. Sedangkan engkau masih bisa ditawar antara menang dan mengalah. Oleh karenanya supaya pertikaian segera berakhir dan keduanya selamat, pada pertempuran yang ketiga nanti engkau berpura-puralah kalah di hadapan banyak orang yang menyaksikan. Ekalaya, aku percaya kepadamu bahwa kamu akan dapat menyelesaikannya dengan baik dan selamat.”

“Maafkan aku Bapa Resi, hal itu tidak mungkin dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berpura-pura untuk kalah. Karena ketika tangganku telah menarik busur dan memegang anak panah, ada daya luar biasa yang terhimpun dengan sendirinya di seluruh budi, pikiran dan sekujur tubuhku serta otot bebayuku, guna menghadang serangan musuh.”

“Oo lole, lole blegudhug monyor-monyor prit gantil buntute bedhug. Lalu ilmu apa yang engkau gunakan?“

“Maafkan aku Bapa Resi Durna, pada tataran luar aku menggunakan ilmu Sapta Tunggal, ilmu andalan Soka Lima, tetapi tenaga dalamnya berasal dari pusaka Mustika Ampal.”

“Mustika Ampal?”

”Bapa Resi, Mustika Ampal adalah pusaka pemberian Sang Hyang Wenang, wujudnya adalah cincin. Menurut Ramanda Prabu Hiranyandanu, cincin Mustika Ampal dianugerahkan ketika Ramanda sedang melakukan tapa guna memohon agar anak yang ada dalam kandungan sang prameswari kelak dapat memimpin Negara Nisada dengan adil dan bijaksana. Ramanda juga mengisahkan bahwa cincin Mustika Ampal mempunyai daya sangat luar biasa dan ketepatan yang akurat pada saat digunakan untuk menarik busur dan melepaskan anak panah. Sehingga sudah menjadi kehendakNyalah Mustika Ampal dianugerahkan kepada calon raja di Negara Nisada, di mana seluruh rakyatnya terampil menggunakan panah.

Bapa Resi, dikarenakan Cincin Mustika Ampal dikenakan di ibu jariku sejak bayi, hingga sekarang setelah aku menjadi raja di Negara Nisada atau Paranggelung menggantikan Ramanda Prabu yang telah wafat, cincin tersebut telah berada di bawah kulit dan di luar daging, menyatu dengan ibu jari tanganku. Oleh karena Cincin Mustika Ampal itulah aku tidak mungkin untuk berpura-pura kalah. Kecuali jika serangan musuh lebih dahsyat daripada kekuatan Cincin Mustika Ampal.”

Pantas, pusaka Gandewa dapat dihadang dengan kekuatan Mustika Ampal. Bahkan pusaka pemberian Dewa Indra yang baru saja diwariskan kepada Harjuna tersebut hancur lebur musnah tak berbekas.

Tiba-tiba hati Pandita Durna terusik. Ilmu-ilmu yang digunakan Ekalaya tidak murni ilmu Sokalima, tetapi telah dipadukan dengan sipat kandel pribadi yang didapat sejak masih bayi. Walaupun Harjuna juga menimba ilmu di banyak tempat, ilmu-ilmu yang digunakan dalam perang tanding adalah ilmu-ilmu yang diajarkan di Sokalima.

Membandingkan di antara keduanya sang Guru besar tersebut tak kuasa lagi berdiri di tengah secara adil. Ia mulai berpihak kepada Harjuna, murid mula pertama yang patuh berbakti dan telah mengangkat nama Sokalima melambung tinggi berkat ilmu-ilmu yang selalu digunakannya. Tak terkecuali ketika berperang tanding melawan Ekalaya.

“Ekalaya, jika niatmu tidak berubah, mau mengalah dengan cara berpura-pura kalah dalam perang tanding, ada cara yang dapat ditempuh, yaitu jika Cincin Mustika Ampal tersebut dilepas untuk sementara.”

“Ampun Bapa Resi Durna, bagaimana bisa dilepas, Mustika Ampal telah jadi satu dengan ibu jari tangan kananku.”

“Ekalaya, apakah engkau tidak percaya bahwa aku dapat melakukannya?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan aku yang bodoh ini, maafkan aku.”

Dengan tergopoh-gopoh Ekalaya menyembah Sang Resi Durna, beringsut mendekat, sembari mengulurkan ibu jari tangan kanannya, tempat Cincin Mustika Ampal berada.

Kidung Malam 35
Tangis Anggraeni
Sang Guru bertanya kepada muridnya,

“Tidak percayakah engkau padaku Ekalaya?”

“Ampun Bapa Resi, bukan maksudku untuk tidak mempercayai kemampuan Bapa Resi Durna. Aku percaya, Bapa Resi mampu melakukannya. Silakan Bapa Resi, ambilah cincin Mustika Ampal ini dari ibu jari tanganku.”

Pandita Durna ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah guru yang mumpuni dan menguasai berbagai ilmu tingkat tinggi. Sehingga tidak akan kesulitan dalam melepas Cincin Mustika Ampal, walaupun sudah manjing menjadi satu dengan ibu jari tangan kanan Ekalaya.

Ekalaya memberikan tangan kanannya kepada seorang yang sangat ia hormati. Tangan itu bergetar tanpa dapat dicegahnya. Dengan amat perlahan Durna mencoba mengeluarkan cincin Mustika Ampal itu.

Satu kali, dua kali usaha Durna belum berhasil. Cincin tersebut masih terpendam rapat di antara kulit dan daging. Walaupun tidak kelihatan mencolok, Durna telah mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya, sehingga keringatnya susul menyusul meninggalkan dahinya yang semakin berkerut. Dikarenakan tangan Ekalaya bergetar, Durna menganggap bahwa Ekalaya telah menghimpun energi untuk menghalangi pengambilan Mustika Ampal

“Ekalaya, jangan berusaha menahan cincin Mustika Ampal.”

“Ampun Bapa Resi, aku tidak menahannya. Tangan ini bergetar dengan sendirinya.”

Durna mencoba lagi. Kali ini ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Tangan Ekalaya dan tangan Pandita Durna bergetar semakin cepat dan semakin kuat. Pusaran hawa panas memancar dari kedua tangan tersebut.

Panas, panas dan semakin panas.

“Aduh! ”

Tiba-tiba Ekalaya mengeluh pendek. Kemudian terkulai di lantai bilik.

Mendengar bahwa suaminya dalam bahaya, Anggraeni segera masuk ke biliknya,

“Kangmaaass…!”

Anggraeni menubruk Ekalaya yang tergeletak tidak sadarkan diri. Sungguh amat mengejutkan, ibu jari Ekalaya telah tiada. dan meninggalkan luka memilukan. Anggraeni tahu bahwa di ibu jari itulah pangkal kesaktian suaminya. Jika sekarang ibu jari tersebut telah tiada, artinya bahwa kesaktiannya telah lenyap.

Cincin Mustika Ampal yang diambil paksa oleh Durna merupakan tragedi seorang murid yang memilukan. Sosok guru yang jauh-jauh dicari dan diharapkan dapat menambah keilmuannya ternyata malah tega merampas harta ilmu yang telah dimiliki si murid. Ekalaya telah terhempas dari harapannya. Ia menjadi tumbal ambisi Durna yang tidak menginginkan ilmu-ilmu Sokalima berada setingkat lebih rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu dari luar Sokalima.

Dengan kejadian tersebut, Durna dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa pusaka Gandewa yang diandalkan dan ilmu-ilmu Sokalima tingkat tinggi yang dikuasai Harjuna belumlah cukup untuk menandingi Cincin Mustika Ampal.

Namun sekarang Cincin Mustika Ampal yang telah mempecundangi nama besar Sokalima di hadapan orang banyak berada dalam genggamannya. Apa yang dapat kau lakukan, Ekalaya, menghadapi Harjuna tanpa Cincin Mustika Ampal. Tiba-tiba hati Durna telah dibakar oleh sakit hatinya, karena ilmu-ilmu Sokalima yang diperagakan dengan sempurna oleh Harjuna, murid kesayangannya, tak mampu mengalahkan Ekalaya.

Durna menimang-nimang Cincin Mustika Ampal, menuju bilik Harjuna. Namun sebelum tangan Durna mengetuk pintu, Harjuna telah membukakannya.

“Silakan masuk Bapa Guru Durna.”

“Harjuna, aku membawa pusaka dahsyat, namanya Cincin Mustika Ampal. Dengan pusaka ini engkau dapat mengalahkan Ekalaya dengan mudah. Kenakanlah pusaka ini pada ibu jari tangan kananmu, serta tunjukkan kepadanya dan kepada banyak orang bahwa ilmu Sokalima tak terkalahkan.”

Harjuna menyembah, kemudian memberikan tangan kanannya. Pandita Durna segera mengenakan Cincin Mustika Ampal di ibu jari Harjuna sebelah kanan.

Sungguh ajaib!

Dengan masih menyisakan rasa herannya, Durna dan Harjuna mengamati keajaiban itu. Jari tangan Harjuna bertambah satu, sehingga jumlahnya menjadi enam.

“Dimanakah Cincin Mustika Ampal yang disebut-sebut Bapa Guru?”

“Ada di dalam ibu jari yang baru itu Harjuna.”

Harjuna juga ingin membuktikan daya kekuatan dari Cincin Mustika Ampal. Maka segeralah satria Panengah Pandawa tersebut menyahut busur serta anak panahnya, lalu pergi keluar dari biliknya. Di tengah gulita malam, Harjuna melepaskan anak panahnya ke arah pohon beringin yang berdiri angker di sudut halaman komplek bilik-bilik siswa Sokalima. Jari tangan yang berjumlah enam menjadi sangat pas untuk membidikan anak panah. Bagai suara ribuan kumbang, anak panah itu telah melesat meninggalkan busurnya. Sekejap kemudian, luar biasa akibatnya, ribuan sulur pohon beringin putus berserakan menumpuk di tanah. Sehingga pohon yang semula dinamakan beringin wok, pohon beringin yang mempunyai brewok itu, menjadi bersih tanpa brewok lagi.

Harjuna tertegun atas daya luar biasa yang ditimbulkan oleh pusaka Cincin Mustika Ampal pemberian Bapa Guru Durna. Segera setelahnya, Harjuna memberi sembah dan mengucap terimakasih yang tak terhingga atas pusaka dahsyat pemberian sang guru besar Sokalima itu. Kemudian Harjuna berjanji akan mengalahkan Ekalaya pada pertemuan yang ke tiga kalinya nanti, dengan ilmu-ilmu Sokalima yang dilambari Cincin Mustika Ampal.

Waktu belum bergeser jauh dari tengah malam, di biliknya Ekalaya mulai pulih kesadarannya. Aswatama yang sejak tadi membantu Anggraeni merawat Ekalaya merasa iba terhadap tragedi yang menimpa sahabatnya.

“Kakang Mbok Anggraeni sudahlah, janganlah kau habiskan air matamu di bilik yang sempit ini. Bukankah dengan demikian hatimu akan bertambah sesak?”

“Dhimas Aswatama, sesungguhnya tangisku bukanlah tangis yang menyesakkan dada, tetapi tangis yang membebaskan. Bebas dari kekhawatiran setelah tidak mempunyai Cincin Mustika Ampal. Aku terharu karena masih diperkenankan mendampingi Kakangmas Ekalaya yang saat ini sudah mulai sadar. Batinku mengatakan bahwa hidup suamiku jauh lebih berharga dibandingkan dengan Cincin Mustika Ampal. Bagiku peristiwa ini bukan tragedi nasib kami berdua, melainkan wujud dari belas kasih-Nya.

Kidung Malam 36
Selamat Tinggal Sokalima
Aswatama bermaksud membesarkan hati Anggraeni dan Ekalaya yang sedang berada dalam keterpurukan. Ia menggarisbawahi pendapat Anggraeni, bahwa hidup yang dianugerahkan jauh lebih berharga dibandingkan dengan pusaka andalan Paranggelung yang dimiliki Ekalaya sejak bayi. Walaupun kini pusaka yang diandalkan itu telah lepas dari dirinya dan Ekalaya menjadi orang biasa yang tidak berilmu dahsyat, Anggraeni mengalami suka cita ketika didapati suaminya mulai sadar dan lukanya berangsur-angsur pulih.

Ekalaya bangkit untuk duduk. Ia memandangi tangannya yang luka. Dan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Ia melihat Anggraeni yang berada sangat dekat dengan dirinya. Juga Aswatama yang berada tidak jauh dari dirinya. Ya, di bilik inilah ia telah mempersembahkan pusaka andalannya kepada Sang Guru Durna.

“Terima kasih Anggraeni, terima kasih Aswatama. Kalian telah merawat aku. Mungkin saat ini adalah saat akhir kita saling bertemu. Karena apa yang berharga dalam hidupku telah hilang, aku persembahkan kepada Guru Durna.”

“Jangan berkata begitu Kangmas, bukankah yang paling berharga dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri? Dan Kangmas Ekalaya masih memilikinya?”

“Engkau benar isteriku. Namun hidup tanpa ilmu dan kesaktian tidak lebih berharga dibandingkan dengan daun jati kering.”

“Tidak demikian Kangmas Ekalaya, engkau sangat berharga bagiku, karena cinta dan.kebijaksanaan masih ada padamu.”

“Anggraeni, engkau tahu ketika kita pergi berguru, rakyat Paranggelung berjubel mengantar kita hingga tapal batas negaragung Paranggelung. Harapannya adalah, kelak ketika Sang Raja pulang kembali tentu kesaktiannya akan semakin dahsyat. Tetapi apa yang terjadi? Yang terjadi adalah sebaliknya.. Bukan raja berilmu dahsyat yang didapat, tetapi raja yang lemah tak berdaya tidak mempunyai kesaktian apa-apa. Tentu saja rakyat akan kecewa.”

“Menurutku tidak demikian Kangmas, karena kejadian ini bukan kehendak kita dan bukan salah kita. Jika kita ceritakan dengan jujur, rakyat tentu akan menerimanya, dan bahkan bangga mempunyai raja bijaksana dan penuh cinta. Karena sesungguhnya dua hal itulah yang paling dibutuhkan rakyat.”

Mata Ekalaya berkaca-kaca. Dari kata-kata yang telah diungkapkan isterinya, ia mampu melihat cahaya harapan di tengah tragedi hidup yang gelap pekat.

Walaupun berat, Ekalaya berusaha membangunkan sikap batin untuk bangkit menyongsong masa depan dengan penuh semangat.

“Yah! Memang benarlah, aku masih mempunyai kebijaksanaan serta masih mencintai rakyatku. Anggreni, aku mau pulang ke Paranggelung. Ingin segera mengabarkan kepada rakyatku bahwasanya aku telah terperdaya oleh sosok guru yang aku hormati dan aku kagumi.”

“Baik Kangmas, aku siapkan segala sesuatunya. Namun sebaiknya, di sisa malam ini Kangmas beristirahat sejenak, nanti sebelum wajar menyingsing kita akan mengucapkan selamat tinggal kepada bumi Sokalima.”

Ekalaya mengangguk perlahan. Matanya mulai dipejamkan. Sebelum benar-benar terlelap, sayup-sayup terdengar kidung malam yang lembut menusuk kalbu.

Nalikanira ing dalu
wong agung mangsah semedi
sirep kang bala wanara
sadaya wus sami guling
nadyan ari sudarsana
wus dangu nggenira guling.

Kukusing dupa kumelun
ngeningken tyas sang apekik
kawengku sagung jajahan
nanging sanget angikipi
sang Resi Kanekaputra
anjog saking wiyati

Kidung Kinanthi yang dikumandangkan dari samping Pendopo Agung Sokalima oleh Bekele Gandok tersebut menceritakan kebiasaan Prabu Rama Wijaya, Raja Pancawatidenda ketika malam mulai tiba. Pada saat balatentara kera telah lama terlelap dalam tidur, termasuk juga Lesmana Widagda adiknya, sang raja melakuan meditasi, untuk kemudian membakar dupa dan berdoa, memohon kepada Sang Hyang Wenang, agar seluruh balatentara dan rakyat yang termasuk dalam wilayah kekuasaannya mendapatkan berkah ketenteraman, keselamatan, serta terhindar dari segala marabahaya. Dari syair kidung yang ditulis, doa Prabu Ramawijaya dikabulkan, yang ditandai dengan turunnya Resi Kanekaputra untuk memberikan anugerah. Oleh karena sikap Prabu Ramawijaya, rakyat Pancawatidenda merasa tenteram dan bahagia mempunyai sosok raja yang memperhatikan dan mencintai rakyatnya. Bahkan dalam suasana perang pun, yaitu ketika balatentara kera yang dipimpin Prabu Ramawijaya sedang mendirikan perkemahan di Swelagiri untuk menyerang Alengkadiraja, rasa tenteram dan bahagia tidak lepas dari hati mereka.

Benar juga kata Anggraeni. Sesungguhnya hal utama yang dibutuhkan rakyat adalah dicintai dan diperlakukan dengan adil. Prabu Rama telah memilih yang terbaik untuk diberikan kepada balatentara dan kawulanya di seluruh wilayah jajahannya.

Ekalaya merasa bangga mempunyai isteri Anggraeni, yang mampu membesarkan hatinya dalam ketidakberdayaan. Memberikan cahaya ketika gelap gulita melanda jiwanya. Oleh karenannya Sang Ekalaya masih mampu menggenggam ketenteraman dan menumbuhkan semangatnya dalam keadaan yang paling terpuruk. Buktinya, ia segera terlelap tidur, sesaat setelah kidung malam dikidungkan.

Pagi-pagi benar, seorang cantrik yang bertugas membersihkan bilik Ekalaya mendapati ruangan bilik telah kosong. Di atas meja bambu ditemukan selembar daun lontar yang bertuliskan:

Bapa Resi Durna aku mohon pamit, walaupun Bapa Resi tidak akan pernqh menyesalkan kepergian kami, Bapa Resi akan terkejut karena putranda Aswatama ikut bersama kami. Maafkan kami, seperti kami pun juga memaafkan Bapa Resi.
Selamat tinggal. Ekalaya

“Adhuh Ngger Aswatama anakku, jangan tinggalkan bapamu ya Ngger!”

Sokalima menjadi geger. Durna kebingungan. Ia berjalan ke sana-kemari, memasuki bilik yang satu ganti bilik yang lain, untuk mendapatkan Aswatama. Guru Besar Sokalima tersebut berperilaku seperti anak kecil, ia tidak percaya bahwa Aswatama benar-benar telah meninggalkan Sokalima.

Aswatama, Aswatamaa!
Cantriiik!
Cekeeel!
Geluntunggg!
Ulu-guntunggg!
Indung-indunggg!
Dimana Aswatamaaa!
“Oh Ngger anakku, mengapa engkau sungguh tega meninggalkan Bapamu sebatang kara ini?”

Resi Durna teramat takut kehilangan putranya. Karena sejak isteri tercinta Batari Wilutama meninggalkan dirinya, kasih dan perhatiannya tercurah kepada Aswatama, satu-satunya anak hasil hubungannya dengan sang Batari Wilutama.

Catatan:
Sebutan yang berkaitan dengan tugas pekerjaan di lingkungan Padepokan
Cantrik : pembantu umum
Cekel : petugas yang mengurusi tanaman
Geluntung : petugas yang mencari kayu dan air
Ulu-guntung : petugas yang membagi tugas sesuai dengan pekerjaannya
Indung-indung : magang atau calon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s