Lakon Wayang Part 21


Baratayuda: Akhir Dendam yang Terpendam
Hari telah berganti lagi, pagi baru menjelang. Kekosongan senapati membuat putra Mandaraka, Burisrawa, adik Banuwati, tanpa diperintah telah mengambil alih peran Pandita Durna. Segera ia menyusun barisan tanpa pola menyerang maju ke padang Kuru dengan ampyak awur awur, serabutan membabi buta.
Ketika dilapori bahwa hari itu pasukan Bulupitu datang dengan pimpinan Burisrawa, Werkudara yang sedang berjaga di garis depan, pesanggrahan Randugumbala segera bersiap menghadang.
Tetapi Setyaki, yang dari dulu sudah menjadi musuh bebuyutan, segera menyelonong kehadapan Arya Werkudara.
“Kanda Arya, ini yang aku tunggu dari kemarin ! Sekaranglah waktunya yang tepat untuk menuntaskan dendam berkepanjangan antara aku dengan Burisrawa” ingatan Setyaki berbalik ke masa masa lalu, yang berkali kali gagal menuntaskan permusuhan bebuyutan dengan Burisrawa. Terakhir kali ingatnya, ia bertempur sewaktu mengikut Prabu Kresna ketika didaulat menjadi kusirnya sebagai duta terakhir sebelum pecah perang.
“Bungkik, apa yang menjadi bekal kamu dalam menghadapi Burisrawa yang berbadan lebih besar dan kekuatan bagaikan orang hutan” Tanya Werkudara meyakinkan tekad Setyaki.
“Yang paling utama adalah tekad !” jawab Setyaki yakin.
“Tekad tidak cukup !” kembali Werkudara menjawab
“Jadi harus bagaimana ?” tanya Setyaki memancing.
“Sebelum kamu maju menghadapi Burisrawa, akan aku uji dulu kekuatanmu !“ Werkudara menawarkan cara
“Silakan kanda Arya !” Setyaki bersiap diri.
“Angkat Gada Lukitasari punyaku, bila kau sanggup mengangkatnya, kamu pantas menghadapi Burisrawa”. Ujian pertama ditawarkan.
Segera disorongkan batang gada kehadapan Setyaki, dengan sekali usaha, terangkat gada super berat Arya Bimasena.
“Bagus , kamu memang pantas menyandang nama Bima Kunting !” . Bima Kunting artinya adalah Bima dengan tubuh kecil. Dijuluki demikian, Setyaki tetap bangga.
“Tapi itu belum cukup ! Satu lagi, bila kamu bisa kuat menerima pukulan gadaku ini, kamu boleh berangkat sekarang !.” Kembali ujian kedua ditawarkan.
“Silakan kanda.” Kembali Setyaki bersiap diri.
Dipukulnya Setyaki dengan gada Rujakpolo. Gelegar suara benturan badan Setyaki dengan batang gada bahkan menggetarkan tanah tempat Setyaki berpijak. Gelegar suara itu bagai menerpa batang baja. Setyaki tetap bergeming. Gembira Werkudara menyaksikan kekuatan adik misannya.
“Ayoh berangkat akan aku awasi dari jauh !” Werkudara memberi aba aba
Bangga Setyaki lulus dalam ujian yang tidak ringan itu.
Semakin percaya diri Setyaki menghadapi Burisrawa. Iapun sesumbar. “Nanti siapapun yang kalah, tak ada seorangpun yang boleh membantu !”
Maka berhadapanlah kedua satria yang sudah lama saling mendendam. Bara dendam memercikkan semangat untuk saling mengalahkan dalam arena resmi ini. Mereka berdua bertekad untuk menyelesaikan adu kekuatan dengan kemenangan.
“Heee Setyaki yang datang menjemput aku, sudah bosan rasanya aku melihat kamu lagi. Kali ini adalah kali yang terakhir. Aku tak mau melihat tampangmu lagi. Biar aku tekuk kamu sekarng ! Tidak mungkin kamu mengalahkan aku !”
“Apapun katamu, sekarang tak ada lagi yang bakal menunda kematianmu !”.
“Apa yang kamu andalkan ? Besarnya badan, lebih besar aku. Kekuatan pasti lebih kuat aku. Majulah kemari orang kecil, terkena sambaran kakiku lunas nyawamu !”
“Jangan banyak mulut, serang aku sekarang juga !”
Adu kekuatan mulanya berjalan seimbang. Pukulan tangan kosong dada Setyaki dilancarkan Burisrawa. Berkelit sambil memiringkan badan Setyaki menghindar sambil mengayunkan sapuan kaki kanannya. Tak mau terkena sasaran kaki Setyaki, Burisrawa meloncat. Sambil berbalik badan, kakinya mengarah ke leher Setyaki.
Kali ini benturan tak dapat dielakkan lagi, Setyaki merunduk sambil mengerahkan kekuatan ditangannya, kaki Burisrawa ditebas dengan tangan berkekuatan penuh. Benturan keras terjadi. Sementara tangan Setyaki kesemutan, Burisrawa mendaratkan kakinya dengan terpincang pincang.
Kembali adu kekuatan kaki dan tangan keduanya berlangsung silih berganti. Saling serang dengan kekuatan raksasa, diselingi dengan ketangkasan beradu gada.
Setengah hari telah berlalu. Lama kelamaan kekuatan tenaga dari kedua satria itu makin dapat ditebak keseimbangannya. Walaupun Setyaki bertenaga raksasa penjelmaan raksasa Singa Mulangjaya, namun Burisrawa adalah anak raja Mandaraka yang hampir tak pernah betah tinggal di istana. Ia lebih suka berkelana dihutan hutan hingga kesisi lautan. Berguru pada berbagai orang sakti, hingga Batari Durga dan Betara Kala sekalipun pernah menjadi gurunya. Tak heran ia menjadi manusia dengan kekuatan gorila, karena rajinnya ia mencari kesaktian dan menyadap kekuatan alam.
Maka pada suatu saat, Setyaki terkunci oleh gerak pitingan Burisrawa. Setyaki mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi bagai terjepit ragum baja raksasa, rontaannya tak sanggup ia lepas dari jepitan kekuatan raksasa Burisrawa.
Bangga Burisrawa akan usahanya menjepit Setyaki “Disini akhir hidupmu Setyaki. Akan aku patahkan tulang belulangmu sedikit demi sedikit, agar kamu tahu, betapa sakitnya berani beraninya melawan Burisrawa !”.
Belas kasih Prabu Kresna melihat adik istrinya, Setyaboma, terjepit oleh kekuatan raksasa Burisrawa. Tapi di awal sudah ada perjanjian antar keduanya, bahwa peperangan tanding itu tidak boleh dibantu oleh siapapun. Tak kurang akal, Kresna memanggil Arjuna hendak melakukan sandiwara agar adik iparnya itu dapat ditolong.
“Arjuna, aku masih ragu terhadap trauma atas kematian anak anakmu. Apakah jiwamu sudah penuh kembali seperti semula atau belum ! Karena masih banyak para sakti yang masih bermukim di pesanggrahan Bulupitu. Ujian akan aku berikan, hingga aku tahu sampai dimana kembalinya pemusatan pikirmu. Sekarang aku uji pemusatan pikiranmu, dengan memanah sehelai rambut yang ada ditanganku ini, kenai dengan panahmu Kyai Pasopati . . !”
“Marilah kanda Prabu, akan aku buktikan kembalinya kekuatan jiwa ragaku” mantap Arjuna menerima tantangan ujian itu.
Terlepas panah Pasupati memutus rambut yang terpegang Prabu Kresna, tetapi sejatinya, arah yang diharapkan Prabu Kresna adalah searah dengan keberadaan Burisrawa yang tengah memiting Setyaki. Maka tak ayal lagi terserempet Kyai Pasupati, lengan Burisrawa terputus, tergeletak jatuh ketanah.
Merasa pitingan lawan kendor, disertai raungan kesakitan Burisrawa, Setyaki punya kesempatan meraih gadanya. Dipukul kepala Burisrawa berkali kali, tewas seketika Burisrawa.
Bangga Setyaki melihat lawannya tergeletak tak bernyawa lagi. “Huh Burisrawa . . . ! Sumbarmu bagai hendak memecahkan langit ! Kepentok kesaktianku, mati kamu sekarang !” berkacak pinggang Setyaki didepan jasad Burisrawa.
“Setyaki siapa yang membunuh Burisrawa ?” Kresna yang menyusul kearah Setyaki menjajagi rasa bangga Setyaki.
“Tentu saja adikmu yang gagah sentosa ini !” kebanggaan Setyaki belum habis juga
“Coba lihat sekali lagi, apa penyebab kamu bisa lepas dari pitingan lawanmu ?” tanya Kresna.
“Oooh . . . . . jadi lengannya telah putus lebih dulu sebelum hamba pukul kepalanya ?”
“Makanya jadi orang jangan pandir, hayuh minggir , lihat ayah Burisrawa, Prabu Salya tidak terima !” Buru buru Setyaki diseret Prabu Kresna agar menjauhi jasad Burisrawa.
Memang yang terjadi adalah Prabu Salya hendak maju kemedan perang. Tapi tak tega Prabu Duryudana segera memegangi Prabu Salya, agar berlaku sabar terlebih dulu. Duryudana merasa belum saatnya sang mertua untuk bertindak walaupun tahu betapa sedihnya hati orang tua itu tatkala melihat anaknya lelaki yang tinggal satu itu, setelah kematian kakak Burisrawa, Rukmarata, maka yang tertinggal adalah ketiga anak perempuannya, Erawati, Surtikanti dan Banuwati.

Baratayuda: Mahalnya Sebuah Harga Diri (1)
Kembali kita ke taman Kadilengeng. Siang belum lagi menjelang, Dewi Banowati mencoba menyenangkan hati dengan berjalan jalan ditaman sari. Taman yang jalur jalannya lajur demi lajur dihampar batu akik hijau merah biru putih dan keemasan. Diterpa sinar matahari yang belum naik sempurna memancarkan sinar semburat bagai warna pelangi. Disuatu tempat yang menjadi kesukaannya, sang Dewi duduk diatas batu marmer putih mengkilap yang direka pokok kayu. Terpesona sang Dewi memandang taman yang asri itu dengan berbagai macam tanaman. Tanaman hias dalam jambangan yang ditata teliti, berpasang pasang, serasi warnanya dengan paduan bunga bunga yang harum mewangi. Tidak hanya dalam jambangan, bunga bunga perdu juga menghias hamparan taman bergerombol disela sela rumput lembut.
Bertambah indah suasana taman dengan terbangunnya rekaan telaga yang berair biru bening dengan berbagai macam ikan warna emas, merah, putih dan warna tembaga yang ditebar. Bila diterpa sinar matahari, seakan ikan ikan itu bagaikan bintang bintang malam yang saling bertukar tempat.
Tersenyum puas sang Dewi dengan kerja para abdi dalem yang setiap waktu memelihara dengan penuh cinta. Sejenak ia melupakan keresahan hati memikirkan perang yang belum juga usai. Resah hati yang membawanya setiap malam membakar sesaji dengan pedupaan yang bertumpuk tumpuk. Dalam setiap pemujaan sang Dewi selalu berharap, agar segeralah selesai perang yang sedang berkecamuk. Untuk kemenangan siapa, hanya Dewi Banowati saja yang tahu.
Belum puas Sang Dewi menikmati indahnya suasana, kali ini ia kembali kaget dengan kedatangan adik iparnya, Raden Dursasana. Ketika diketahui yang datang adalalah adik ipar yang tidak ia senangi, yang bertingkah laku mirip dengan adiknya sendiri, Burisrawa, setengah malas ia melambaikan tangannya agar iparnya itu segera mendekat. Dursasana segera menyampaikan sembahnya, kemudian duduk dengan takzim.
Terheran Dewi Banowati dengan kedatangan adik iparnya bergantian dengan suaminya yang hari hari kemarin datang. Dalam hatinya ia bertanya, ada kejadian apa lagi di peperangan. Siapa lagikah korban peperangan yang hendak dilaporkannya. Mudah mudahan hati ini kuat mendengar apapun yang terjadi. Atau ada sesuatukah yang sangat perlu, hingga adik iparnya yang dikenal sebagai manusia yang penuh kekerasan meninggalkan peperangan yang keras itu, tetapi malah datang ke taman sari. Tempat indah penuh kelembutan. Seribu tanya ia simpan sejenak.
Basa basi sang Dewi bertanya, “Baik baik sajakah kedatanganmu, adikku ?”.
“Sembah hamba kehadapan kakanda Banowati”. Dursasana menghaturkan baktinya.
“Apakah perang sudah selesai ?” tak sabar sang Dewi ingin mengetahui apa yang terjadi.
Dursasanapun mulai mengawali menceriterakan kenapa ia diminta untuk kembali ke istana.
“Pertama, kami mengabarkan kepada kanda Dewi, bahwa adik paduka Arya Burisrawa telah tewas dalam peperangan”.
Dewi Banuwati kembali hanya terdiam sesaat, seperti yang pernah terjadi ketika putranya, Lesmana Mandrakumara, tewas. Ia hanya melihat kedepan dengan tatapan kosong, tak ada rasa sedih yang terbersit dari wajahnya.
Banuwati dan Burisrawa, walaupun kakak beradik, dan pada kesehariannya keduanya sering bersama ada di Astina. Tetapi keduanya tidaklah seperti kakak beradik yang dekat dihati satu sama lain. Banuwati malah lebih dekat kepada adiknya yang jauh, dan lebih senang bersama ayah ibunya di Mandaraka, Arya Rukmarata, yang kini juga telah tewas.
Sama seperti adik iparnya, Dursasana, Burisrawa adalah manusia yang liar dan cenderung ugal ugalan. Kesamaan itu yang membuat Burisrawa dekat dengan Dursasana. Mereka hanya renggang bila Burisrawa sudah bosan dengan suasana resmi istana, dan kabur ke hutan hingga berbulan bulan, baru ia kembali lagi ke Astina. Apalagi setelah Burisrawa gagal mempersunting Wara Sumbadra kala itu, hingga ia bersumpah, tak akan ia pulang ke Mandaraka, bila ia belum bisa mempersunting dewi impiannya yang gagal, atau memperistri wanita yang mirip dengan Sumbadra, seperti yang pernah diceriterakan.
Akhirnya setelah diam sebentar, kata pasrahlah yang terucap dari bibir Banuwati “Perang itu, kalau tidak kalah ya menang. Kalau tidak membunuh, ia akan dibunuh. Kalau Burisrawa terbunuh, itu adalah bagian dari kodrat perang itu sendiri”
Mahfum dengan watak kakak iparnya, Dursasana kembali melanjutkan, “Yang kedua, adikmu diutus kanda Prabu, untuk kembali ke istana”.
“Dan hal inilah yang saya tidak mengerti, kenapa saya sebagai pangeran sepuh yang sekarang dijadikan pangeran pati sekaligus, harus disingkirkan, dan harus dikembalikan ke istana. Terus terang saja, kali ini saya ditugaskan oleh kakanda Prabu, untuk menjagai keberadaan paduka kanda Banowati”.
“Kalau begitu, kanda Prabu sebenarnya sedikit banyak mempunyai rasa curiga terhadap aku, begitukah ? Banuwati mulai kesal dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pikirnya, apakah ini buntut dari kericuhan kemarin ketika suaminya datang ?
“Ya, kira kira begitu. Saya juga tidak pernah bertanya lebih jauh kepada kanda Prabu, karena saya ini apalah. Hanya sebagai adiknya dan hanya sebagai abdinya. Dititahkan apapun hamba tidak akan sanggup menolak”. Dursasana sudah mulai jengah. Inilah suasana yang sudah ia ia bayangkan sebelumnya. Suasana yang paling tidak senangi, bergaul dengan wanita, apalagi wanita itu adalah kakak iparnya yang walau cantik, namun dimatanya ada sinar yang warna cahayanya sebagai sorot warna ndaru braja, komet berracun. Hal inilah yang membuat Dursasana menjadi serba salah duduknya. Bergeser geser mencari posisi yang enak, namun tak juga ia menemukan posisi duduk yang nyaman. Gerah rasa seluruh tubuhnya, walau angin pagi masih tersisa bertiup membawa uap embun yang baru saja kering. Tak urung keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.

Baratayuda: Mahalnya Sebuah Harga Diri (2)
“ Menungguiku, apaku yang ditunggui. Katakan ! Kamu itu jadi seorang satria kok begitu bodoh, begitu dungunya ! “ berubah menjadi galak Dewi Banuwati. Suasana indahnya taman sudah hilang dari perasaannya.
“Apa sebabnya, saya yang hanya diperintah, kenapa saya dibodoh-bodohkan, didungu dungukan. Silakan kanda Dewi menjelaskan . . ” Dursasana menyabarkan diri. Mungkin bila ini bukan istri kakaknya ia sudah berdiri marah atau bahkan tangannya sudah melayang. Tabiat Dursasana yang tidak sabaran sebenarnya sudah mencapai ambang batas kekuatan menahan, namun rasa hormat kepada kakak sulungnya, tak pelak lagi mengorbankan habis sifat urakan yang menjadi ciri dari lahir. Bahkan gerakan tangannya yang biasanya tak pernah diam seakan terkunci ketat erat.
“Sebenarnya kamu itu sedang dicoba oleh kakakmu itu. Satria itu seharusnya berperang. Tetapi kakakmu mengatakan kamu harus kembali ke istana. Kenapa kamu menerima perintah itu dengan begitu lugunya. Apakah itu bukan dikatakan sebagai satria bodoh yang penakut dan jeri akan tumpahnya darah !” Menuding nuding sang Dewi sambil bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. Panas hatinya dicurigai akan berbuat yang tidak tidak.
“Bukan itu kanda Dewi, yang memerintah tidak salah, yang diperintah juga tidak salah. Tetapi kenapa hamba yang diperintah dimarahi seperti ini ? Tapi terus terang kemarahan ini menjadi bahan pelajaran dimasa datang. Dan takut hamba terhadap kemarahan paduka kanda Dewi, hamba lebih takut akan kemurkaan kanda Prabu Duryudana”. Masih mencoba sabar Dursasana. “Dan bila hamba disuruh maju perang, maka betapapun saktinya lawan, akan hamba laksanakan titah kanda Prabu dengan senang hati”.
“Duh . . Sumbarmu ! Seperti bisa memecahkan balok besi, menjilat panasnya besi membara ! Sinis dewi Banawati berkata.
“Dapat hamba buktikan ! Bila kanda Dewi mengatakan hamba ini satria bodoh yang takut perang, hal itu adalah sebaliknya. Dan bila hamba diperintah untuk menjagai wanita, yang terjadi sebenarnya adalah . . . . . , kanda Prabu itu orang yang kelewat sabar . .”. Berhenti sejenak Dursasana ragu mengatakan, namun sejurus kemudian ia melanjutkan. “Tidak ada orang yang sabar didunia ini melebihi kanda Prabu. Walaupun di istana ini sebenarnya terdapat tanaman yang sangat berbisa, yang selalu tumbuh dan tumbuh dengan subur, yang pada akhirnya akan membuat gatal orang senegara. Tapi karena besarnya cinta kanda Prabu terhadap tanaman itu, maka yang terlihat, hanya bentuk dan rupanya yang cantik saja, sementara bisa racunnya tidak dihiraukan . . . “.
Kamu mengatakan begitu, aku ini kamu anggap apa ? bagaikan mendidih, darah diubun ubun dewi Banuwati, yang merasa dikenai hatinya.
“Nanti dulu . . , kalaupun hamba mengatakan perumpamaan terdapat tanaman berbisa yang dipelihara kanda Prabu, terus terang saja kanda Banowati, yang sebagai istri kanda Prabu, sebenarnya, paduka kanda Dewi tidak cinta lahir batin kepada kanda Prabu Duryudana. Kalau dilihat sepintas, perilaku kanda Dewi terhadap kanda Prabu itu seperti cinta yang sebenar benarnya. Tetapi hal itu hanya terhenti dalam tata lahir, dan dalam hati kanda Dewi yang sebenarnya, orang dinegara Astina ini sudah tahu semuanya. Termasuk hamba sendiri”. Keterus terangan Dursasana makin menjadi-jadi, ia memuntahkan seluruh isi hatinya. Ia melampiaskan belenggu rasa yang dari tadi menjerat erat
“Bagaimana ? Apa yang kamu ucapkan tadi itu, dihatiku cinta sama siapa ?” Banuwati menantang. Walaupun jawaban yang akan diucapkan oleh adik iparnya itu sebenarnya dirasa mudah untuk ditebak jawabannya, tapi ia masih hendak mencoba mencocokkan dengan perkiraannya.
“Terus terang tadinya hamba tidak akan mengatakan sampai kesitu, tapi karena kanda Dewi sendiri yang menantang, akan hamba buka yang sebenarnya terjadi. Kanda pasti tahu, sesuatu yang tersimpan dihati kelamaan akan menjadi penyakit, sekarang sebaiknya hamba keluarkan unek unek dihati hamba”.
Dibawah sorot mata tajam kakak iparnya ia melanjutkan curahan isi hatinya. Terlanjur basah, mandi sajalah sekalian, pikirnya. Masalah ada aduan yang sampai kepada kakak sulungnya, itu soal nanti. Sekarang sekarang, nanti ya nanti. Kebiasaannya dalam berpikir pendek, menjadikannya ia meneruskan kata katanya dengan lancar.
“Saya memperhatikan setiap kali ada perang tanding antara Kurawa dan Pandawa, bila ada warga Pandawa yang menang, paduka bergembira dengan membagi bagikan hadiah kepada abdi dalem dan siapapun. Itu salah satu buktinya. Sebaliknya ? Contoh terakhir, ketika putra Paduka, Lesmana Sarojakusuma tewas, paduka menyalahkan kanda Prabu dan putra paduka sendiri, tetapi ketika Abimanyu yang tewas, paduka menangis histeris. Itu kejadiannya !
Maka pada setiap semedi, paduka kanda Dewi selalu memohon dewata, kapan kiranya Baratayuda berakhir dan Kurawa kalah serta musnah. Dengan demikian kanda Dewi dapat segera melaksanakan keinginan kanda Dewi untuk menjadi keset Arjuna. Iya kan ? Habis sudah, tumpah ruah segala kesah hati Dursasana tercurah.
“Keparat kamu Dursasana ! Kamu megucapkan sesuatu tanpa perhitungan. Ketahuan kamu sebagai satria yang takut darah, malah menguak rahasia orang lain. Kalau memang kamu sebagai satria sejati, dan kalau aku diberi wewenang untuk menjagokan, kamu aku adu dengan Arjuna, berani kamu ? Habis kesabaran Banuwati. Kebanggaanya akan Arjuna dimunculkan dengan tidak malu malu lagi.
“Jangankan Arjuna, Pendawa lima maju bersama tak akan hamba mundur sejangkah !” Kembali Dursasana sesumbar. Panas hatinya sudah semakin membakar perasaannya. Bahkan tempat yang didudukinya sudah terasa bagai beralaskan paku membara.
“Sumbarmu ! Tetapi kamupun bisa menang bila aku adu kamu dengan Arjuna, bila sudah terjadi kodok memakan liang nya !” Banuwati yang sudah terkena dengan telak isi hati dan kelakuan dibelakang suaminya serta bosan dengan kericuhan yang terjadi segera berbalik badan meninggalkan Dursasana yang tertawa senang sekaligus panas hatinya karena kata kata kakak iparnya.
Berdiri Arya Dursasana, setelah ditinggalkan Banuwati, lega rasanya seakan ia sudah terbebas sangkar yang mengurungnya. Dipandanginya kepergian Banuwati dengan berkacak pinggang dan muka yang ditengadahkan. Puas tetapi panas.
“Kena kamu Banuwati ! lagakmu seperti orang yang suci, tidak menengok ke tengkuk sendiri menuduh orang yang tidak tidak. Aku buka rahasiamu, mencak mencak seperti orang kalap. Kamu anggap aku ini apa ? Kalau kamu bukan istri kakakku sudah aku . . . . . . . Huhh . . ! Apakah aku kelihatan seperti orang yang bergelung malang dengan bibir berpoles gincu, diberi bedak tebal mukaku dan dipakaikan kemben tubuhku ? Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membuktikan kata kataku.
Hari ini tak usah aku meminta ijin dari kanda Prabu, akan aku penggal kepala Arjuna, sekaligus semua saudaranya”. Panas hati Dursasana
membawa keputusannya untuk kembali melangkah ke hamparan padang Kuru.

Kumbayana
Syahdan prabu Kurupati mengadakan pembicaraan dengan para Korawa, tampak hadir patih Sakuni, raden arya Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Surtayu, Citraksa dan Citraksi. Masalahnya berkisar pada kehendak raja untuk mendapatkan pusaka mendiang prabu Pandudewanata ( Gandawastra ) yang bernama cupu Madiwara, konon berisi lisah (minyak) tala, sangat sakti dan bertuah. Barang siapa yang dapat memilikinya, akan terkabul segala permintaannya, sayang sekali pusaka tersebut sekarang jauh di dalam sumur Jalatundha. Kehendak raja tiada berubah untuk memilikinya, patih arya Sakuni beserta para Korawa ditugaskan oleh raja untuk pergi ke sumur Jalatundha mendapatkan cupu Madiwara tersebut, maka berangkatlah mereka menunaikan tugasnya.

Raja pun segera pergi melapor kepada ayah dan ibundanya, ialah bagawan Dastarastra dan Dewi Anggendarim bahwasanya hari itu telah mengutus arya Sakuni dan para Korawa pergi ke sumur Jalatundha untuk mendapatkan cupu Madiwara yang berisi lisah Tala. Bagawan Dastarastra beserta permaisuri sangat bersukacita mendengarnya.

Di kerajaan Bulukatiga, prabu Krepaya berputra dua orang, yang tertua bernama raden Krepa, dan yang muda adiknya bernama Dewi Krepini, yang sudah dewasa juga. Prabu Krepaya berkehendak akan mengawinkan anaknya raden Krepa, patih Dendapati mendukung akan maksud raja. Raja bersabda pula bahwasanya tersiar berira, di seberang daratan negara tetangga, ada suatu kerajaan namanya Cempalareja, raden arya Gandamanalah yang memerintahnya. Pada waktu ini raden Gandamana mengadakan sayembara prang, barang siap yang dapat mengalahkannya dalam pertempuran dengan raden Gandamana, akan mendapat putri boyongan adiknya, yang bernama Dewi Gandawati, lagipula akan dinobatkan menjadi raja di kerajaan Cempalareja.

Kepada raden Krepa, ayahandanya menanyakan apakah bersedia dikimpoikan dengan Dewi Gandawati, dijawab bersedia. Selanjutnya raja bertitah kepada wadyabala raksasanya, utnuk memasuki sayembara prang, kelak jika mereka menang, kepadanya akan diberikan hadiah dan penghargaan. Berangkatlah utusan raja, wadyabala rotadanawa terdiri dari Kalasaramba, Kalasarana, Kalakardana, dan pandu jalannya kyai Togog dan Sarawita, berangkat menuju Cempalareja. Dipertengahan jalan, mereka bertemu dengan wadyabala Astina, sehingga terjadi peperangan.Mereka masing-masing berkehendak untuk melibatkan lebih jauh dalam perselisihan, sehingga kedyua-duanya pun melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Di pertapaan Retawu begawan Abyasa duduk di sanggar pemujaan dihadap cucundanya raden Pamade, beserta para panakawan kyai lurah Semar, Nalagareng, dan Petruk. Telah putus segala ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan keperwiraan yang diberikan begawan Abyasa kepada cucunya raden Pamade, kepadanya diperintahkan pada hari itu juga harus cepat-cepat kembali ke praja Amarta. Selanjutnya diberitakan pula, bahwasanya bagawan Abyasa mendapat petunjuk dewata, bahwasanya akan datang di tanah Jawa, pandita yang sangat arif dan bijaksana, lagipula pandita tersebut sangat menguasai segala ilmu dan aji kawijayan. Kepada Para Pandawa ditugaskan untuk mendekati begawan pandita tersebut, dan kepadanya hendaknya yang berisi lisah (minyak) Tala, konon cupu Madiwara tersebut milik prabu Pandudewanata yang dibuwangnya kedalam sumur Jalatunda. Radem Pamade setelah menerima segala sabda sang begawan Abyasa, segera bermohon diri, untuk segera menuju praja Amarta, tak ketinggalan kyai lurah Semar, Nalagareng dan Petruk turut mengiringkannya. Dalam perjalanan menuju Amarta, di tengah hutan bertemu dengan raksasa, terjadilah peperangan, raden Pamade dapat membunuhnya.

Ada seorang raja ‘namanya Baratmeja, sangat arif dan bijaksana , algipula sang raja juga seorang resi dan padanya sifat-sifat kepanditaannya sangat menonjol, terkenallah sudah dengan sebutannya raja pandita gunung Jebangan, di tanah Atasangin.Pada suatu ketika raja pandita Baratmeja berkenan berbincang-bincang dengan putranya, yang bernama Bambang Kumbayana, dia tak ubahnya dengan sang raja pandita, muda bijaksana dan sangat sakti memiliki segala ilmu keprajuritan, lagi pula rupawan dan baik hati. Kepadanya raja pandita Baratmeja menyampaikan keinginannya, Bambang Kumbayana diharapkan dengan sangat untuk mencari jodoh, manakala pula sudah waktunya mempersunting kenya. Agaknya Bambang Kumbayana tak dapat memenuhi anjuran ayahandanya untuk segera mencari pasangan hidupny, kepadanya diceritakan pula oleh sang raja pandita bahwasanya di kerajaan Cempalareja tersiar kabar diadakan sayembara prang. Maksud sayembara prang. Maksud sayembara tersebut, barang siapa dapat bertanding dan mengalahkan ksatriya Cempalareja yang bernama Gandamana, si pemenang akan dirajakan di Cempalareja, lagipula akan diperjodohkan dengan saudara tuanya yang bernama retna Gandawati, raja pandita selanjutnya menjelaskan bahwasanya banyak raja-raja yang menginginkan retna andawati, malahan keponakannya sendiri, ialah raden Sucitra malahan telah mendahului pergi memasuki sayembara, Bambang Kumbayana segera diseyogyakan untuk menyusul keberangkatan raden sucitra.Setelah jelas segala yang dipesankan oleh ayahandanya, berangkatlah Bambang Kumbayana ke kerajaan Cempalareja.

Dalam perjalanannya, sampailah sudah Bambang Kumbayana di tepian bengawan yang baru pasang airnya, sangat susahlah Bambang Kumbayana menghadapi keadaan yang demikian itu, sehingga tercetuslah ungkapan janjinya, barang siapa saja yang dapat membawanya ke seberang, kalau lelaki akan dijadikan saudaranya, dan kalau wanita akan dijadikan jodohnya. Janji Bambang Kumbayana didengar pula oleh para Dewa, maka muncullah seekor kuda betina dihadapan Bambang Kumbayana. Sangat senang Bamabng Kumbayana menemukan seekor kuda tinggangan, segera dinaikinya dan dibawanya menyeberang. Manakala sedang di atas kuda, Bambang Kumbayana melamun akan keindahan paras Dewi Gandawati, sehingga dengan tak disadarinya keluarlah airmaninya.

Airmani yang jatuh berubah menjadi buih-buih, k uda betina menjilatinya buih-buih tadi, selama dalam penyeberangan, sudah menjadi kehendak Dewa kuda betina mengandung. Sampailah sudah di seberang bengawan. Bamabng Kumbayana turun dari punggung kuda, namun kuda yang telah dileas, tak mau juga untuk pergi menjauh. Berjkali-kali diusir, sekian kali mendekat pula. Bambang Kumbayana ingat akan janji yang telah diucapkannya, menjadari tindakan kuda betina sangat mencurigakan, jika sekiranya bukan kuda tentu saja gerak-geriknya mengajak untuk bermain asmara. Sangat malu Bambang Kumbayana melihat kejadian tersebut, diunusnya kerisnya dan ditikam, mati.
Keluarlah dari bekas goresan keris yang diperut kuda seorang bayi menangis merengek-rengek, namun bangkai kuda hilang tak berbekas. Bamabng Kumbayana terheran-heran, bayi didekatinya. Tak lama tampaklah seorang bidadari amat cantik turun ke bumi mendekati Bambang Kumbayana, namanya Dewi Wilutama. Sang Dewi mengata-katai Bambang Kumbayana, di mana sudah ingkar akan janjinya. Sadar akan kekeliruannya, Bambang Kumbayana segera memungut bayi, dan menamakan Bambang Aswatama, melanjutkan perjalannya.

Prabu Krepaya, raja dari kerajaan Bulukatiga yang sedang dihadap oleh petihnya yang bernama Dendapati, menerima laporan inang karaton. Bahwasanya putra raja bernama Dewi Krepini, tak sadarkan diri, apa yang menyebabkan inang pengasuh tadi tak dapat melaporkan, tentu saja raja sangat gugup mendengar laporan tersebut, segera raja pergi ke tempat parduan putrinya di dalam kraton.

Setelah raja bertemu dengan permaisuri ialah Dewi Astuti, segera dilaporkannya bahwa putri raja telah sadarkan diri, dan bahwasanya putri raja dalam tidurnya telah bermimpi bertemu dengan seorang ksatriya yang sangat rupawan bernama Bambang Kumbayana, berasal dari Atasangin. Mendengar laporan permaisuri, raja bertekad menemukan Bambang Kumbayana , dan kepada permaisuri raja bersabda akan pergi sendiri, kepada putrinya diperintahkan untuk bersuci diri, memandikan seluruh anggota badannya dengan Wewangian.

Bambang Kumbayana yang merasa dirinya sangat letih menggendong bayi Bambang Aswatama, beristirahat di bawah pohon yang rindang di tengah hutan. Datanglah prabu Krepaya, setelah dipersilahkan duduk, mereka terlihat dalam percakapan-percakapan yang menarik. Bambang Kumbayana setelah memperkenalkan diri, kepadanya diajukan pengusulan apakah bersedia dijodohkan dengan putri prabu Krepaya yang bernama Dewi Krepini, Bambang Kumbayana menolak. Akhirnya terjadilah peperangan, Bambang Kumbayana dapat ditundukan, dan dibawanya ke kerajaan Bulutiga. Sesampai di istana, Bambang Kumbayana diperintahkan menunggu di luar kadhataon, prabu Krepaya menemui Dewi Astuti sang permaisuri dan putrinya Dewi Krepini, kepada mereka dijelaskan bahwasanya Bambang Kumbayana telah berada di luar kedhaton. Raja memutuskan mereka segera dijodohkan, Dewi Krepini menjadi istri Bambang Kumbayana. Pada suatu malam penganten, Bambang Kumbayana terpaksa menerangkan kepada istrinya ialah Dewi Krepini, bahwasanya bayi yang dibawanya adalah putra Bambang Kumbayana, Dewi Krepini menyadarinya, kepadanya segera disarankan untuk mengambil putra dan untuk disusui bayi bayi Bambang Aswatama, sudah menjadi kehendak dewa. Bayi yang tidak terlahir dari rahim Dewi Krepini, namun keluar juga air susuibu dari Dewi Krepini. Seluruh istana, para kawula praja, prabu Krepaya dan permaisuri Dewi Astuti, sangat bergembira mendapatkan cucu seorang bayi rupawan, menganggapnya sebagai putra pujan (ciptaan). Bambang Kumbayana, pada suatu malam, dikala seluruh isi penghuni istana lelap tidur, pergi meninggalkan istri dan istana Bulutiga, untuk melanjutkan perjalanannya, tak seorangpun yang tahu kemana perginya.

Kumbayana (2)
Raden arya Gandamana, dihadap patih Trustaketu dan wadyabalanya menerima kedatangan ksatriya rupawan dari Atasangin, bernama Bambang Sucitra. Setelah diketahui bahwa kedatangannya tak lain akan memasuki sayembara prang, segera radem arya Gandamana memerintahkan kepada patih Trustaketu untuk mempersiapkan papan laga di alun-alun, di mana keduanya segera memasuki arena pertarungan. Raden arya Gandamana dan Bambang Sucutra bertarung dengan segala kekuatan, mengadu segala kesaktian, namun dengan gada sakti Bambang Sucitra, dan selanjutnya hendaknya dinobatkan menjadi raja menggantikan arya Gandamana, tak lupa segeralah dijodohkan dengan Dewi Gandawati. Jadilah sudah Bambang Sucitra menjadi raja di kerajaan Cempalareja, beristrikan Dewi Gandawati, adapun radem arya Gandamana lolos dari kerajaan pergi menurutkan kehendak hatinya, melanglang bumi.

Dalam perjalanannya, di tengah jalan bertemu dengan Bambang Kumbayana, dan setelah kedua-duanya menjelaskan nama beserta asal lagi pula maksud dan tujuannya, raden arya Gandamana bangkit kemarahannya kepada Bambang Kumbayana, dipukulnya dihajar habis-habisan Bambang Kumbayana . Kadua lengannya dibengkokan, Bambang Kumbayana mengaduh kesakitan, dan jatuh tak sadarkan diri. Bambang Kumbayana segera dilempar jauh-jauh oleh raden arya Gandamana, konon jatuh di bawah pohon Soka yang jumlahnya 5 buah. Hyang Narada dan hyang Bayu turun ke bumi, mendekati Bambang Kumbayana, dan dirinya segera ditetesi air Kamandanu, seketika bangkit dari ketidaksadarannya, akan tetapi sebagian anggota tubuhnya masih teta[ cacadm kaki hidung tangan dan lengan kesemuanya tak sempurna lagi. Bambang Kumbayana setelah menyadari bahwa para dewa mendatanginya, segera memohon kepadanya lebih baik dibunuh saja, daripada cacad diri. Akan tetapi hyang Narada dan hyang Bayu tak mengijinkan Bambang Kumbayana untuk bunuh diri, kepadanya disabdakan bahwa kelak kuasa dewa menjadikannya sebagai guru besar dari para ksatriya di seluruh bumi, lagi pula kepadanya diberi nama Durna, diperkenankan melestarikan tempat di mana dia jatuh sebagai pasramannya, dengan nama Sokalima, bergelarkan pandita, setelahnya para dewa kembali ke kahyangan. Seungkurnya para dewa, para Pandawa yang terdiri dari prabuanom Puntadewa, raden arya Bratasena, raden Pamade, Pinten dan Tangsen menghadap pandita Durna. Sang resi sangat suka hatinya, dan berkenan pula mengajarinya segala ilmu keprajuritan dan kesaktian.

Pada suatu hari, para Pandawa memaksa kepada gurunya sudilah kiranya mengambilkan cupu Madiwara yang berisi lisah Tala, yang konon milik Prabu Pandudewanata almarhum, yang masih merupakan orang tuanya sendiri, sang resi menurutinya untuk mengambilkan cupu Madiwara, mereka segera berangkat menuju sumur Jalatunda.

Dalam perjalanannya menuju sumur Jalatunda, bertemulah mereka dengan prabu Kurupati besrta para Korawa dan patih Sakuni, di mana para Korawa sesuai dengan pertunjuk ayahnya ialah prabu Destarastra, bahwa kelak kemudian hari cupu Madiwara dapat diangkat dari sumur Jalatunda oleh pandita asal dari Atasangin. Bak pucuk dicinta ualam tiba, prabu Kurupati dan adik-adiknya Korawa segera mengaku guru juga kepada pandita Durna, dan sang panditapun menerima mereka sebagai siswa-siswanya. Lajulah mereka menuju ke sumur Jalatunda, mengiringkan kepergian sang pandita Durna. Para Korawa dan Pandawa berdiri berjajar-jajar ditepian sumur Jalatunda, segera pandita Durna memuja mengeluarkan senjata saktinya, berwujud panah barawakan burung, namanya Sarutama. Resi Durna memerintahkan kepada Sarutama utnuk masuk ke dalam sumur mengambil cupu yang di dalam, segera burung Sarutama terbang meluncur ke dalam sumur masuk di air keluar paruhnya sudah memagut membawa serca cupu sakti Madiwara, diterima oleh resi Durna.

Korawa dan Pandawa keduduanya bersikeras untuk mendapatkan cupu Madiwara, resi Durna sangat repot putusannya, sehingga diperintahkan kepada mereka untuk bersabar terlebih dahulu. Pandawa mengusulkan seyoganya cupu diberikan kepada mereka , sebab para Korawa telah diberinya duluan Pandawa tak rela, mengajukan persyaratan sebaiknya sekarang mana lagi yang berat merekalah yang memilikinya Para Korawa diperintahkan oleh prabu Kurupati menyelesaikan timbangan raksasa, para Korawa menikmatinya daya upaya yang sedemikian itu, tentu saja Pandawa yang hanya berjumlah 5 orang akan kalah kalau di timbang dengan Korawa yang berjumlah 100 jumlahnya. Raden arya Bratasena yang mengetahui saudara-saudaranya susah dan menangis segera bangkit kemarahannya, dan timbangan yang telah dimuati oleh 100 orang Korawa, dan timbangannya yang diperuntukan Pandawa, segera dinaiki sendiri oleh raden arya Bratasena, entah dukarenakan apa kemungkinan raden arya Bratasena mengumpulkan segala kekuatannya timbangan yang telah memuat 100 orang Korawa, Akhirnya tak dapat mengimbangi berat badan raden Bratasena, malahan pada waktu raden arya Bratasena naik timbangan, Korawa kocar-kacir terpelanting jatuh semuanya.

Setelah kejadian tersebut. Para Korawa masih mendesakkan maksudnya hendaknya pandita Durna berkenan meluluskan permintaan Korawa memiliki cupu Madiwara, Durna menjawabnya, ” Kalian anak-anakku. Korawa dan Pandawa, saya akan menyucikan diri, hendaknya kalian membuatkan sungai yang jernih airnya. Siapa yang terlebih dahulu selesai, kepadanya cupu Madiwara kuberikan,” para Korawa serempak bekerja membuat sungai yang diharapkan nantinya akan segera mewadahi dan mengalirkan air guna susuci pandita Durna, malahan sungai hampir selesai dibuat oleh para Korawa. Para Pandawa, terutama prabu Yudistira, raden Pamade, Pinten dan Tangsen bertangisan, dalam hati mereka mana bisa 5 orang akan menandingi kecepatan 100 orang Korawa, tentu saja cupu Madiwara akan doperoleh orang-orang Korawa, Raden Arya Bratasena merasa dirinya dihina oelh para Korawa kepada saudara-saudaranya diseyogyakan berdiam diri jangan menangis,dia sendiri yang akan melebur para Korawa. Semar yang mengetahui kesusahan para Pandawa segera bersemadi, dipujanya seorang wanita yang sangat cantik, kepada wanita itu diperintahkan untuk berjalan kian kemari dihadapan raden arya Bratasena , seakan-akan meledeknya.

Malahan ditegaskan kepadanya, hendaknya bertingkah apa saja sehingga nantinya raden Bratasena dapat bangkit kebirahiannya. Sudah menjadi kehendak dewa, agaknya raden arya Bratasena memang terlena melihat tingkah laku wanita yang berjalan mondar-mandir dihadapannya dengan penuh membangkitkan selera napsunya. Tak disadarinya keluarlah air maninya,jatuh membasahi bumi tenggelam ke dalam , membentur sumber air yang di dalam bumi, air jernih segera tersembul mancur keluar bak banjir, terjadilah sudah bengawan yang airnya sangat jernih. Pandita Durna yang mengetahui bengawan buatan para Korawa meski sudah jadi tetapi belum mengeluarkan air, segera merendam diri menyucikan diri di bengawan buatan para Pandawa, sesudah selasai segera naik ke darat, selanjutnya bengawan tersebut dinamakan kali Sarayu. Agaknya sudah menjadi kehendak para dewa kalau Korawa selalu mengakali para Pandawa akan selalu menemui kegagalan. Kepada para Korawa dan Pandawa, begawan Durna meminta kesediaannya yang terakhir, barang siapa yang dapat mengalahkan membunuh raden Gandamana, dialah yang berhak akan cupu Madiwara. Korawa setelah menerima pernyataan tersebut segera berangkat mencari raden Gandamana, demikian pula para Pandawa mengikuti keberangkatan para Korawa.

Bertemulah sudah para Korawa dengan raden Gandamana yang sesungguhnya masih pamandanya sendiri. Kepada raden Gandamana prabu Kurupati menyampaikan maksud yang sebenarnya, demikian halnya raden Gandamana menanggapinya dengan marah, dan terjadilah peperangan, Korawa dapat dipukul mundur. Para Pandawa yang mengetahui para Korawa dapat dikalahkan oleh raden Gandamana, akhirnya mendekati raden Gandamana, dan dengan segala kerendahan hatinya mereka menyampaikan maksud kedatangan nya, tak lain diutus oleh begawan Durna untuk membunuhnya, sebab jika hal tersebut terlaksana kepada mereka akan diberikan cupu Madiwara yang berisi lisah tala, yang konon milik almarhum orang tua mereka sendiri saja Pandudewanata. Raden Gandamana dengan asyik mendengar uraian para Pandawa, dan iba hatinya kepada mereka.

Kepada arya Bratasena raden Gandamana menyarankan seyogyanya dia yang menandingi dalam adu kesaktian, jadilah sudah mereka bergelut disaksikan oelh begawan Durna. Berkatalah begawan Durna kepada arya Bratasena, ” Wahai anakku Bratasena, lekas bunuhlah si Gandamana.”

Arya Bratasena pura-pura membunuhnya, dengan jalan dilemparkannya jauh-jauh raden Gandamana, dan segera melapor bahwa dia telah membunuh raden Gandamana, begawan Durna senang hatinya mendengar laporan arya Bratasena.

Cupu Sarutama dihadiahkan kepada raden Pamade, kembalilah sabg begawan kepertapaan Sokalima, para Pandawa kembali pula ke tempat masing-masing. Korawa masih juga mengamuk, manakala mengetahui cupu Madiwara diberikan kepada raden arya Bratasena, namun dapat dikalahkan.

PANDAWA APUS ( DIPERDAYAKAN)
Prabu Suyudana, dari negara astina menerima kedatangan saudara-saudaranya Pandawa, prabu Yudistira raden Wrekudara, Arjuna Nakula dan Sadewa. Mereka diundang untuk suatu keperluan pesta-pora di Astina, tetapi maksud yang sebenarnya kedatangan mereka di Astina, akan dibunuh kesemuannya. Terlaksanalah maksud prabu Suyudana, setelah minuman dan makanan diedarkan dan diminum, disantap oleh para Pandawa, matilah mereka. Prabu Suyudana segera memerintahkan, untuk melabuh jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa ke gua Srigangga, jenazah Wrekudara ke sumur Jalatunda, Arjuna jenasahnya dilabuh ke samudra.

Syahdan Hyang Baruna menemukan jenazah raden Arjuna, segera dihidupkan kembali, kepadanya dipertemukan dengan puterinya Dyah Suyakti, dan dianjurkan untuk segera pergi ke gua Srigangga untuk menemui Dewi Suparti istri Hyang Anantaboga, berangkatlah Raden Arjuna ke gua Srigangga.

Di tengah hutan, bertemulah dengan sepasang yaksa, terjadilah peperangan, akhirnya mereka ditewaskan oleh Raden Arjuna, sehingga jenazah sepasang raksasa tersebut, kelihatanlah Hyang Kamajaya dan Dewi ratih. Arjuna diberi penjelasan-penjelasan yang perlu dan kepadanya dipersilahkan melanjutkan perjalanannya ke gua Srigangga.

Di Saptapratala, Hyang Anantaboga menerima kedatangan Dewi Nagagini, yang membawa jenazah Raden Werkudara. Segera oleh Hyang Anantaboga dihidupkan kembali dan kepadanya diberitakan untuk segera berkumpul dengan saudara-saudaranya di gua Srigangga sebab semuanya telah selamat. Berangkatlah Werkudara menuju gua Srigangga.

Raden Arjuna yang telah menghadap Dyah Suparti, memohon hendaknya berkenan menghidupkankembali ketiga jenasah saudara-saudaranya, sang dewi menyanggupinya, segera mereka dihidupkan kembali. Dyah Superti segera bersabdakepada mereka, “ wahai puteraku Pandawa, pergilah kalian kembali ke negaramu Amarta, sebab dipati Karna telah merampas Amarta,” sebelum mereka memohon diri, randen Sena pun telah menghadap mereka kesemuanya memohon diri.

Di Amarta, Karno bersepakat dengan Patih Arya Sakuni dan para Korawa untuk membawa Dewi drupadi dan para wanita di istana Amarta, sebelum maksudnya terlaksana, Gatotkaca dan Antasena masuk istana, terjadilah peperangan. Dipati Karna maju, karena merasa para Korawa kalah perangnya dengan Gatotkaca, dilepasinya Gatotkaca dengan senjata panah Wijayadanu, matilah Gatotkaca, bangkainya terbuang jauh.

Diperjalanan, ditengah hutan, Prabu Yudistira menemukan jenasah kedua kemenakannya raden gatotkaca dan Antasena. Melihat bahwasanya kedua putera kemenakannya telah tewas, marahlah semuanya, bertekad bulad akan membalsa kematianmereka, akan membunuh para Korawa. Bertemulah mereka dengan para Korawa, terjadilah peperangan, Korawa kalah, Adipati Karna berlaga dengan raden Arjuna, rame sekali. Resi Abiyasa, segera meniup dari akasa, melerai peperangan antara Arjuna dan Adipati Karna, belum masanya mereka bertempur mati-matian. Segera resi Abiyasa membawa semua cucunya ke Saptaarga. Dipati Karna yang mengetahui campur tangan resi Abiyasa,, merasa dirugikan segera mngerahkan prajurit Kurawa, untuk segera menyusulnya ke Saptaarga.

Terjadilah peperangan di Gnung Saptaarga, Korawa dapat diundurkan Rwerkudara dam Arjuna. Banyak petuah-petuah yang diberikan Abiyasa kepada para Pandawa, kepada mereka selalu diingatkan hendaknya selalu merendahkan diri, ingat kepada Hyang Sukmakawekas, berhati-hati dalam segala ucap dan langkah.

Para Pandawa kesemuanya menyanggupkan diri menaati petuah Resi abiyasa, demikian pula jenasah Antasena telah diserahkan kepada Hyang Antaboga untuk dihidupkan kembali. Selesai peperangan ereka merayakan dengansenang hati, sebab terhindar dari malapetaka yang menimpanya.
Pandawa Pitu

Duryudana, sangat kecewa karena Prabu Baladewa akhir-akhir ini lebih sering menyatu dengan para Pandawa, seperti juga Prabu Kresna.

Dengan demikian, Pandawa bukan hanya lima, tetapi tujuh (pitu – Bhs. Jawa).

Di Keraton Amarta, Prabu Baladewa, Prabu Kres-na dan kelima Pandawa memang sedang berkumpul. Mereka mendengarkan wejangan Bima, mengenai ilmu Kawruh Panunggal.

Penyebaran ilmu itu membuat para dewa marah, sehingga Batara Guru menugasi Batara Narada untuk memanggil Bima ke kahyangan untuk dijatuhi hukuman. Bima bersedia dihukum, tetapi para Pandawa lainnya dan Prabu Baladewa serta Kresna setia kawan. Mereka juga ikut ke kahyangan untuk menerima hukuman.

Sementara itu di Kerajaan Tunggulmalaya, Batari Durga memberitahukan tentang Pandawa yang pergi ke kahyangan untuk menerima hukuman. Ia menyuruh Dewasrani menaklukkan Amarta, agar Dewasrani dapat menjadi Jagoning dewa menggantikan Arjuna. Namun, serbuan Dewasrani berhasil ditumpas para putra Pandawa.

Di Kasatrian Madukara, Dewi Dewi Subadra dan Dewi Srikandi sangat sedih dan marah karena para Pandawa akan mendapat hukuman dari dewa. Mereka lalu triwikrama, berubah ujud menjadi brahala, Badrayaksa dan Kandiyaksa.

Kedua rakseksi itu pergi ke kahyangan untuk menuntut dipulangkannya para Pandawa.

Tak lama kemudian, di kahyangan, para Pandawa berbantah dengan Batara Guru. Karena murka, oleh Batara Guru para Pandawa akan dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka. Sementara itu ketika Arjuna akan masuk ke Kawah Candradimuka, semua bidadari akan ikut mencebur pula.

Pada sat itu, Badrayaksa dan Kandiyaksa telah sampai di kahyangan, dan langsung mengamuk. Para dewa tak ada yang sanggup menandingi.

Atas seizin Batara Guru, Batara Narada lalu minta agar Pandawa menghadapi kedua brahala yang mengamuk itu. Jika berhasil, Pandawa akan dibebaskan dari hukuman. Bima tidak mau. Dia dan saudara-saudaranya baru akan turun ke gelanggang perang, kalau Pandu Dewanata dan Dewi Madrim dikeluarkan dari neraka dan dipindahkan ke sorga. Tuntutan itu dipenuhi.

Setelah para Pandawa berperang tanding dengan Badrayaksa dan Kandiyaksa, kedua brahala itu beralih ujud kembali menjadi Dewi Subadra dan Srikandi.

PANDAWA PUTER PUJA
Syahdan Raja Astina Parbu Suyudana hadir di pasewakan dihadap oelh putra mahkota Raden Lesmana Mandrakumara, pendita praja Astina Dhahyang Drona, Patih Sakuni, Adpati Awangga Karna dan segenap para Korawa, Raden Arya Dursasana, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citraksa, dan Raden Citraksi. Pokok perembugan raja berkisar pada sabda jawata yang diterimanya, bahwasanya sang Raja diperintahkan untuk mengadakan semadi di laladan luar istana Astina, jika akan mencapai terlabulnya cita-cita. Raja berkebulatan hati untuk melaksanakan puter puja, kepada Pandita Durna diperintahkan turut serta. Adapun Patih Arya Sakuni, dan para Korawa ditugaskan tinggal di istana menjaga tata-tirtib keamanan selama raja melaksanakan hajatnya.

Permaisuri raja Dewi Banowati tak ketinggalan diberitahu juga oleh raja, demikian pula putri raja yang bernama Dewi Lesmanawati. Seluruh istana Astina berharap semoga puter puja yang dilaksanakan oleh raja akan lulus selesai tak ada aral yang merintanginya. Setelah segala sesuatu persiapan selesai, berangkatlah raja diiringi Pandita Praja Dhahyang Drona menuju hutan Krendawahana, suatu tempat terkenal keganasannya dikarenakankahyangannya Batari Dirga.

Di kerajaan Nungsakambang, Prabu Jayabirawa dihadap oleh Patih Siwanda dan beberapa wadyabala yaksa. Raja Nungsakambang berkenan mengutarakan isi hatinya, bahwasanya tersiar berita pada waktu ini ratu-ratu di tanah Jawa sedang tekun mengadakan puter puja bertempat di hutan Krendayana, Kepada Patih Siwanda dijelaskan pula, usaha raja-raja tanah Jawa mengadakan puter puja itu harus dihalangi jangan sampai terlaksana, sebab akan berbahaya bagi raja Nungsakambang. Wadyabala raja yang berujud siluman si Jaramaya, Sadumiya, dan Doramiya diperintahkan oleh raja untuk segera berangkat ke hutan Krendayana mencari raja yang sedang puter puja, tugas utamanya mengoda dan menghalangi terlaksananya usaha tersebut. Lengkaplah sudah wadyabala Nungsakambang yang akan melaksanakan tugas, dalam perjalanannya menuju ke hutan Krendayana bertemu dengan prajurit-prajurit dari Astina. Ternyata kedua-duanya tak dapat menghindarkan diri dari peperangan, namun tak sampailah peperangan itu meluas. Sehingga kedua pasukan merasa perlu untuk melanjutkan tugasnya masing-masing.

Di pertapaan Retawu Resi Abyasa dihadap oleh cantrik, tan jauh dari sang Resi kelihatan pula cucu sang Begawan ialah Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca, yang selalu diikuti oleh Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Masalah pokok yang dibicarakan mengenai permohonan mengenai permohonan doa restu kepada para pepunden Pandawa yang sedang mengadakan puter puja. Resi Abyasa setelah memberikan restunya, Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca segera diseyogyakan untuk kembali. Lajulah kedua satriya tadi dalam perjalanannya diikuti oleh ketiga panakawan, Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Sekembalinya para satriya sanga Bagawan segera masuk ke dalam sanggar pamujan, memohon kepada dewata semoga cucundanya Pandawa yang sedang mengadakan puter puja dalam keadaan selamat.

Tersebutlah dtya seluman utusan dari Prabu Jayabirawa Nungsakambang dalam tugasnya menuju ke hutan Krendayana, dipertengahan perjalanannya bertemu dengan Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca. Kedua ksatriya setelah mengetahui bahwasanya mereka itu tak lain pra-aditya yang akan mengganggu lulusnya para Pandawa mengadakan puter puja, terlihat dalam percecokan akhirnya memuncak menjadi peperangan. Kadua-duanya bertempur dengan segala akal dan kekuatan, namun kedua ksatriya tersebut tak kuasa menandinginya. Meski para dtya tadi tidak dapat mati, namun dirasakan juga berlaga menghadapi kedua kesatriya ini pun tak semudah apa yang diduga. Sehingga ajhirnya kemarahan mereka timbul, segeralah mereka mempergunakan aji panglimunannya, serta melepaskan aji kemayan dan lisah(minyak) Muksala. Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca setelah kedua-duanya terkena aji kemayan, barulah mereka menjadi arca. Kyai Semar, Nalagareng dan Petruk yang mengetahui kedua Gusti mereka berubah wujudnya menjadi arca segera meninggalkan medan laga untuk segera melapor ke praja Madukara.

Konon Parabu Suyudana yang menjalankan hajat mengadakan puter puja telah sampai di hutan Krendayana, dengan ditemani oleh Pendita Astina Dhahyang Drona. Para Korawa yang mengantarkan telah diperintahkan untuk segera kembali ke Astina. Prabu Suyudana dan Dhahyang Drona di dalam hutan Krendayana bertemu dengan seorang pertapa yang menjalankan tapanya dengan cara membisu. Sang Raja bertanya kepada Begawan Lanowa, ” Hai sang Begawan, apakah kiranya tapa anda itu mempunyai maksud-maksud tertentu. Jika anda tidak berkeberatan, sudilah kiranya kepada kami diberitakannya “, namun sang Begawan Lanowa tetap membisu, tak sepatah kata pun terucap. Pandita Drona yang telah mengetahui keadaan sang Begawan Lanowa, segera menghimbaunya dan menerangkannya panjang-lebar kepada Begawan Lanowa. Bahwasanya kedatangannya di hutan Krendayana, tak lain mengantarkan Raja Suyudana melaksanakan pesan jawata mengadakan puter puja. Kepada Begawan yang membisu, pertanyaan terucap dari Dhahyang Drona, ” Sang Begawan, apakah gerangan yang menjadi tujuan anda bertapa di dalam hutan Krendayana yang sangat berbahaya dan gawat ini ?” Begawan Lanowatertegun sejenak, dan sudi menjawabnya,” Wahai para pendatang, ketahuilah bahwasanya yang menjadi tujuan bertapa di dalam hutan Krendayana ini, bukanlah semata-mata bertapa untuk keperluanku pribadi. Melainkan aku menggentur tapa ini, untuk anak menantu saya yang bernama Raden Arjuna.” Prabu Suyudana yang mendengarkan jawaban dan keterangan Begawan Lanowa teramat marahnya, akhirnya Begawan Lanowa dibunuh. Namun Prabu Suyudana, ” Hai Prabu Suyudana, apalah salahnya orang tua yang sangat mengasihi anak menantunya, menapakannya. Kathuilah, kematianku ini akan kutuntut balas kepadamu, besuk kelak jika sekiranya waktu telah datang mengskala Baratayuda terjadi.” Setelah bersuara muksalah badan sang Begawan Lanowa, Raja Suyudana dan Pandita Durna tertegun sejenak mendengarkan ancaman Begawan Lanowa, namun tiada berapa lama segeralah Raja Suyudana melanjutkan hajatnya menunaikan puter-puja dengan didampingi oleh Pandita Durna.

Dipraja Madukara Raden Arjuna dihadap oleh para istrinya, Dewi Subadra dan Dewi Srikandi. Selagi mereka berbincang-bincang masuklah Kyai Semar sambil menangis, tersendat-sendat ucapnya melapor kepada Raden Arjuna, ” Raden, ketahuilah putramu Raden Angkawijaya sekembalinya dalam perjalanannya pulang, dengan putramu Raden Arya Gatutkaca telah disergap oleh raksasa-raksasa yang sangat tangguh dan ampuh. Terbukti dalam peperangan itu, putra-putramu telah dikalahkan dan kesemuanya telah berubah ujud menadi arca. Raden akan hal ini terserah Raden saja bagaimana jalan sebaiknya untuk mengatasi keadaan yang gawat ini.” Raden Arjuna yang dengan tekun mendengarkan laporan panakawannya Kyai Semar, tak terkendalikan lagi amarahnya.Kepada kedua istrinya berpamit akan menyelesaikan masalah Raden Angkawijaya dan Raden Arya Gatutkaca. Kadua istrinya sangat bersyukur, dan memanjatkan doa semoga apa yang dilakukan suaminya dapat berhasil, dijauhkan dari aral yang melintang. Raden Arjuna segera laju mencari putra-putranya diiringkan oleh Semar,Nalagareng, dan Petruk.

Namun dalam perjalanannya menuju ke hutan Krendayana, belum lagi sampai baru menginjak di hutan tarataban, bertemulah sang Arjuna dengan Hyang Batari Durga yang telah merubah wajahnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik wajahnya, bernama Dewi Talimendang. Pada pandangannya yang pertama Raden Arjuna sudah sangat tertarik dengan Dewi Talimendang, tidaklah mengherankan cita-citanya harus tercapai. Namun ketika Dewi Talimendang dikejar-kejar oleh Raden Arjuna, berubahlah Dewi Talimendang menjadi ujud semula ialah Hyang Batari Durga. Raden Arjuna diumpatinya disumpah-sumpah, ” Hai anaku Arjuna, tingkah-lakumu tidak senonoh, ksatriya bagaikan seekor banteng.” Abda Hyang Batari kepada Raden Arjuna merubah keadaan Raden Arjuna dari seorang satriya menjadi wujud binatang banteng. Manakala berubah wujudnya menjadi seekor banteng Hyang Batari Durga masih diburunya, namun manakala pula tampak olehnya wajahnya berubah wujudnya menjadi wujud binatang banteng, Raden Arjuna sangat sedih hati dan menghentikan pemburuannya terhadap Hyang Batari Durga. Kyai Semar Nalagareng, dan Petruk yang merasa ketinggalan oleh kepergiaannya Raden Arjuna segera kembali, adapun si banteng sendiri laju menuju ke kerajaan Dwarawati.

PANDAWA PUTER PUJA (2)
Di Kerajaan Dwarawati Prabu Kresna menerima laporan dari Patih Udawa, bahwasanya di luar kraton tampak olehnya seekor banteng mengamuk. Sri Kresna segera tanggap sasmita dan meninggalkan pendapa kraton. Segera menuju ke luar untuk menyongsong banteng yang sedang mengamuk. Setelah tampak olehnya, agaknya banteng pun merasa dirinya tidak asing lagi dengan Sri Kresna. Di dekatinya Sri Kresna, tingkah-lakunya si Banteng menunjukkan iba hatinya Sri Kresna. Segeralah Sri Kresna merubah dirinya menjadi seprang anak bajang (pendek dan kecil keadaan tubuhnya) dengan nama Jaka Sungkana. Kepada banteng yang sedang mencium-cium kaki Sri Kresna seakan-akan banteng menghaturkan sembahnya, Sri Kresna yang telah merubah dirinya menjadi anak bajang bernama Jaka Sungkana mengajaknya untuk pergi. Banteng sekarang bernama Andini, dengan gembalanya anak bajang bernama Jaka Sungkana laju melesat menuju ke Kerajaan Nungsakambang.

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa berkata kepada adiknya Raden Arya Wrekodara, ” Duhai adik-adikku kesemuanya, Arya Wrekodara, Nakula, dan Sadewa. Kiranya hari ini waktu yang baik sekali bagi kita semua untuk melakukan hajat semadi, melaksanakan puter puja. Kalian kesemuanya menyertaiku “, segeralah Prabu Puntadewa diiringi oelh adik-adiknya pergi menuju ke hutan Krendayana untuk melaksanakan puter puja.

Di tengah hutan Krendayana Prabu Puntadewa bersama-sama adiknya dalam perjalanannya menemukan arca, berbentuk seekor gajah. Konon arca yang berbentuk gajah putih tersebut, menunjukkan tempat bekas Raden Gajahhoya. Di tempat itulah Sri Puntadewa dan adik-adiknya memulai samadi, tak lama turunlah Hyang Narada dan Hyang Endra dari Suralaya mendekati Sri Puntadewa dan adik-adiknya. Berkatalah Hyang Narada, ” Wahai Kaki Puntadewa, kedatanganku adalah diutus oleh Hyang Girinata untuk menjelaskan membaritahukan kepada hal-hal sebagai berikut. Bahwasanya kaki Puntadewa dikehendaki oleh dewa untuk menjadi raja di Pulau Jawa, selanjutnya para Pandawa besuk akan keluar sebagai pemenang dalam perang Bratayuda, lagi pula segala peraturan-peraturan undang-undang yang telah aku jelaskan kepadamu sebagai penetap agama hendaknya ditaati,” Sri Yudhistira dan adik-adiknya sangat bersyukur kepada dewa atas karuniah yang telah dilimpahkan kepadanya dan saudara-saudaranya. Setelah bertemu agak lama, kembalilah Hyang Narada dan Hyang Endra ke Suralaya. Sri Puntadewa dan adik-adiknya kembali manuju ke pura Amarta.

Prabu Birawa raja Nusakambang sedang menerima kedatangan Hyang Batari Durga, di samping Patih Siwanda. Diberitakan oleh Batari Durga bahwasanya Raden Arjuna sekarang telah mati, suka-citalah Prabu Birawa mendengarkannya. Setelah menjelaskan hal tersebut, kembalilah Batari Durga ke kahyangannya. Di alun-alun Nungsakambang terlihat banteng mengamuk dengan penggembalanya seorang anak kecil, yang tiada lain Jaka Sungkana dengan banteng Andini. Keadaan menjadi kacau oleh amukan banteng, raja Birawa menerima laporan perihal tersebut. Keluarlah sang Raja dari istana, menuju ke alun-alun dengan maksud akan menghalau banteng tadi. Oleh kesaktiannya Patih Siwanda merubah dirinya menjadi seekor harimau dan bertanding dengan banteng Andini, terjadilah pertarungan seru dan sengit.

Demikian pula Raden Jaka Sungkana bertanding melawan Prabu Birawa,lama-kelamaan banteng Andini kembali berujud Raden Arjuna, Raden Jaka Sungkana kembali ujudnya menjadi Sri Kresna. Sadarlah Sri Kresna lawan apa yang dihadapinya, segera senjata sakti berujud cakra dilepaskan, Prabu Birawa terkena babar kembali menjadi Hyang Kala. Adapun Patih Siwanda kembali ujud mulanya menjadi Hyang Kalayuwana. Kedua-duanya setelah babar kembali ujud semulanya, laju ke kahyangannya amsing-masing.Sri Kresna dan Raden Arjuna segera melanjutkan usahanya untuk menemukan saudara-saudara Pandawa lainnya. Sampailah mereka di hutan tarataban, dilihatnya ada sepasang arca bagus-bagus rupanya. Menyadari ada hal-hal yang janggal, Sri Kresna segera mendekati kedua arca tersebut dan bersemadi untuk memohon ruwatnya (hilangnya gangguan) kedua arca tersebut. Dewata mengabulkan, kedua arca teruwat kembali asalnya. Berujud Raden Angkawijaya dan Raden Gatutkaca. Setelah mereka melapor dari awal sampai akhir kepada Sri Kresna dan Raden Arjuna, kembalilah mereka bersama-sama menuju ke praja Amarta. Selagi mereka dalam perjalanannya menuju ke praja Amarta, bertemulah dengan Sri Puntadewa, Raden Arya Wrekodara, Raden Nakula dan Raden Sadewa. Agak lama pertemuan itu terjadi, saling melepaskan kerinduannya masing-masing. Akhirnya bersepakat kesemuanya kembali ke praja Amarta.

Prabu Suyudana dan Dhahyang Drona berembug dengan Patih Sakuni dan para Korawa perihal gagalnya raja mengadakan puter puja, dan hal-hal yang mengkhawatirkan raja dikarenakan telah dibunuhnya seorang pendeta yang tidak berdosa bernama Begawan Lanowa. Apa lagi raja sangat menyesalinya mengingat akan kutukan-kutukan sang Begawan keoada raja, bahwasanya besok akan kalah perangnya dalam Bratayuda. Tresiarnya berita bahwasanya para Pandawa telah berhasil mendapatkan perlindungan-perlindungan dari para dewa, terbukti para Pandawa kelihatan berhasil pula dalam menjalankan puter pujanya di hutan Krendayana. Raja sangat mengiri kepada para Pandawa, diperintahkanya para Korawa untuk segera menyerang dan menghancurkan para Padawa. Wadyabala Astina laju menuju ke pura Amarta, dengan segala kekuatanya.

Sekembalinya Sri Yudhistira dan adik-adiknya, beserta Sri Kresna di Amarta tiada lain yang dibicarakan perihal berhasilnya para Pandawa melaksanakan puter puja, di hutan Krendayana. Sebaliknya Sri Kresna pun menguraikan dari awal sampai akhir segala kejadian yang dialaminya menghadapi Kerajaan Nungsakambang. Selagi mereka berbincang-bincang mengenang pengalaman masing-masing, tersiarlah berita bahwasanya di lur ramai dibicarakan para wadyabala datangnya para Korawa yang mengamuk. Sri Puntadewa memerintahkan kepada adiknya Raden Arya Wrekodara untuk menanggulangi para Korawa yang akan merusak menyerang praja Amarta, dikarenakan tidak senang melihat para Pandawa berhasil dalam melakukan puter pujanya di hutan Kredayana. Arya Wrekodara tampil ke depan berhadapan dengan para Korawa, perang seru dan ramai terjadi. Namun para Korawa yang terdiri dari pemuka-pemukanya, tampak antaranya Raden Arya Dursasana, Raden Arya Jayadrata, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citraksa, Raden Citraksi dengan segenap prajuritnya dapat dipukul mundur oleh Raden Arya Wrekodara. Kembalilahpara Pandawa berkumpul, utnuk berucap syukur kepada dewa dikarenakan telah terhindar dari aral yang melintang ,berhasil dalam melakukan hajat puja. Amanlah sudah Kerajaan Amarta, para kawula praja turut bersuka-cita.

Pandu Papa
Di balairung negeri Astina, raja Pandu sedang memperbincnagkan rencananya hendak berburu. Patih Jayayitna dan para pembantunya lalu bersiap-siap. Kepada patih Samarasanta raja Pandu memerintahkan supaya merubah tata hias istana Astina, disesuaikan dengan tata hias Endrabawana. Kedua patih menyatakan kesanggupannya. Pandu lalu kembali ke Adstina.

Setibanya di dalam istana, Pandu lalu duduk bersama kedua permaisurinya yakni Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Setelah menjelaskan apa yang diperintahkan kepada kedua patihnya, Pandu lalu masuk ke dalam pemujaan.

Di luar, yakni di paseban, kedua patih Astina membagi tugas. Patih Jayayitma mempersiapkan segala keperluan untuk berburu ke hutan. Sedangkan patih Smarasanta memerintahkan Arya Sakata untuk melakukan segala persipan dalam tugasnya merubah tata hias istana Astina.

Tersebutlah di bukit Mestri, Resi Metreya baru saja selesai bersemedi. Ia mendapat anugerah dewata berupa mantra yang dapat mendatangkan apa saja yang ia minta. Melihat istrinya yang tampak sedih karena melaratnya, resi Metreya menghibur, agar tidak bersedih karena sudah ada isyarat yang dapat menghilangkan kesedian. Akan tetapi ternyata yang diminta oleh Endang Basusi, demikian nama istri Resi Metreya, bukanlah harta, melainkan agar dirinya yang sudah tampak tua lagi jelek, dapat berubah menjadi muda kembali serta cantik jelita. Keinginannya dikabulkan. Endang Basusi menjadi wanita mudalagi sangat cantik parasnya. Hal ini menjadikan dirinya menjadi sangat terkenal sehingga banyak sekali orang laki-laki yang datang melihatnya, dan tidak jarang di antara mereka yang datang itu menggodanya. Tentu saja hal itu membuat resi Metreya cemburu. Bagi Endang Basusi sendiri pun hal itu tidak menyenangkan. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya agar istrinya kembali menjadi jelek. Demikian jeleknya hasil mantra resi Metreya, karena istrinya menjadi mirip seekor anjing. Manusia mirip anjing ini pun menjadi tontonan orang. Hal ini membuat Endang Basusi beserta Metreya sangat malu. Mantranya hanya tinggal sekali lagi saja dapat ia pakai. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya, dengan permohonan agar istrinya kembali ke rupa asalnya semula. Kedua suami istri itu mohon ampun kepada dewa, dan akhirnya mendapat anugerah lagi, yakni mantra yang dapat merubah sesuatu benda menjadi emas. Dengan emas hasil mantra itu kehidupan Resi Metreya dapat tertolong. Dari kehidupan yang sangat melarat nberubah menjadi kecukupan.

Begawan Sapwani di Giyacala dengan tekun memohon kepada dewata agar dikaruniani anak. Permohonannnya lalu dikabulkan. Tak lama kemudian istrinya mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, yang setelah besar menjadi pemuda gagah. Begawan Sapwani selalu memohon kepada dewa agar anaknya selalu mendapat lindngan dewa.

Di Astina patih Jayayitna melapor bahwa p[ersiapan untuk berburu telah selesai,. Raja Pandu sangat gembira lalu segera berangkat ke Hutan perburuan.

Para dewa hendak menghukum raja Pandu yang telah berani merubah tata hias Astina menjadi kesupa dengan Endrabawana. Untuk itu dewa menurunkan putra Batara Yama ke bukit Kisasa. Anak dewa Yama menjadi pendeta di Kilasabergelar Resi Suhatra. Resi Suhatra jatuh cinta kepada anak empu Dwara yang bernama Ragu, namun empu Dwara tidak memberikannya karena Suhatra berujud raksasa yang menakutkan. Resi Suhatra akhirnya memanggil rara Rgau dengan daya ciptanya, Rara Ragu dan Suhatra berubah duirinya menjadi dua ekor kijang jantan betina, kemudian masuk ke dalam hutan dan leluasa kasih-kasihan. Empu Dwara yang kehilangan anaknya lelu berangkat mencarinya dibantu oleh sanak keluarganya.

Di tempat perburuan raja Pandu, Kijang penjelmaan Ragu dan Suhatra terperangkap ke dalam perangkap. Kijang betina berkeluh kesah seperti layaknya manusia, sehingga menarik perhatian Pandu. Ketika Pandu mendekat, kijang jantan segera mengata-nngatai Pandu dengan ucapan-ucapan yang membangkitkan amarah. Raja Pandu marah dan kedua kijang itu segera ia panah sampai mati. Kijang jantan musnah, sedangkan kijang betina berubah menjadi mayat seorang wanita. Mayat Ragu diserahkan kepada Empu Dwara dengan memberikan uang duka secukupmnya.

Di Suralaya, Indra sedang membicarakan laknat yang akan dijatuhkan kepada raja Pandu. Keputusannya, raja Pandu akan dicabut nyawanya, dan beserta raganya akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Yang diberi tugas adalah batara Yama.

Di Astina, raja Pandu tiba-tiba sakit parah. Segala macam obat tidak ada yang mampu mengurangi penyakitnya. Resi Abiyasa menasehati Dewi Kunti supaya bersabar dan pasrah, karena sudah takdirnya raja Pandu akan sampai ajalnya, bersama-sama Dewi Madrim. Ketika jiwa dan raga raja Pandu sudah dibawa oleh batara Yama ke Suralaya dan akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka datanglah resi Abiyasa ke kahyangan, minta kepada para dewa mengampuni Pandu. Hukuman atas semua kekeliruan-kekeliruan Pandudewanata, untuk itu resi Abiyasa akan menebus kesalahannya, dengan jalan, keturunan prabu Pandudewanatalah (Pandawa) yang nantinya akan menebus segala kesalahannya.
Hyang Surapati berkenan dihatinya, dan memerintahkan prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim untuk selanjutnya dimasukkan di surga, tidak dikawah Candradimuka, tempat menghukum para manusia yang dianggap berdosa terhadap dewa.

Resi Abyasa segera memohon diri, di Astina segera bersabda kepada resi Bisma, “Mulai sekarang, hendaknya disaksikan, bahwasanya kakak prabu Pandudewanata, prabu Dretarastra, akan menggantikan kedudukannya, menjadi raja di Astina, dengan gelar prabu Dretanagara.” Selanjutnya, segala pusaka antara lain pusaka Kalimasada, minyak tala yang dahulunya dimiliki oleh prabu Pandudewanata, sekarang dihimpun oleh resi Abyasa, dengan penjelasan, dikelak kemudian hari akan dibagi-bagikan kepada siapa yang berhak menerimanya.

Resi Abyasa dengan membawa Dewi Kunti, pula cucunya dan para sesepuh abdi prabu Pandudewanta ke gunung Saptaarga. Tentramlah kerajaan Astina, dibawah pemerintahan prabu Dretarastra, atau prabu Dretanagara.

Semar Kuning
Prabu Kresna yang ingin menikahkan Siti Sundari anaknya dengan Abimanyu, anak Arjuna. Karena Prabu Kresna tahu bahwa Abimanyu mendapatkan wahyu raja yang akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa. Namun perkimpoian itu ditentang Semar karena karena saat itu Arjuna sedang bepergian dan supaya menunggu terlebih dahulu.

Tapi nasehat Semar ini ditolak Kresna bahkan Semar dituduh menentang kebijaksanaan raja, dan atas perintah Kresna, Abimanyu berani meludahi kuncung (rambut kepala yang berada di depan).

Hal ini manimbulkan kekecewaan dan kepri-hatinan Semar, sehingga ia pergi dari istana.Perlakuan sewenang-wenang raja Dwarawati terhadap Semar ini menimbulkan kemarahan para dewa. Para dewa kemudian menimpakan bencana di Kerajaan Dwarawati baik kerusuhan, kebakaran, bahkan banjir yang disertai angin besar menimpa di istana, rakyat menjadi kacau balau, sehingga raja Dwarawati sampai meng-ungsikan diri dan mencari perlindungan ke Kerajaan Amarta.

Semua bencana yang terjadi di Kerajaan Dwarawati ini bisa redam setelah Prabu Kresna yang disertai para Pandawa menemui Semar dan meminta pengampunan. Semar yang saat itu sedang bersemedi dirasuki Sang Hyang Wenang sehingga tubuhnya memancarkan cahaya kekuning-kuningan menerima kedatangan para Pandawa dan Kresna. Dengan kearifan Semar mengampuni kesalahan Prabu Kresna, tetapi mengatakan bahwa perkimpoian Abimanyu dengan Siti Sundari tidak akan membuahkan keturunan (anak), dan kembalilah kedamaian dan ketentraman di dunia.

Arjuna Sasrabahu Lahir
Prabu Kartawirya alias Partawirya mengundang Bambang Suwandageni, saudara sepupunya, untuk hadir pada upaca siraman, karena permaisurinya, Dewi Danuwati telah mengandung tujuh bulan.

Sesaat setelah upacara itu selesai, datanglah utusan dari Kerajaan Lokapala, bernama Gohmuka, yang menyampaikan pesan agar Dewi Danuwati boleh dibawa ke Lokapala untuk dijadikan permaisuri Prabu Wisrawana alias Danaraja.

Mendengar permintaan itu Suwandageni marah dan menghajar Gohmuka, yang lalu lari pulang ke negaranya. Setelah melaporkan kegagalan tugasnya, Prabu Danaraja lalu menyiapkan bala tentaranya untuk menyerbu Maespati. Ia juga minta bantuan seorang brahmana sakti yang berujud raksasa, bernama Begawan Wisnungkara.

Sementara itu di kahyangan, Batara Wisnu diperintahkan oleh Batara Guru untuk turun ke dunia guna memelihara ketentraman. Batara Wisnu dengan senjata Cakra lalu merasuk ke janin bayi yang dikandung oleh Dewi Danuwati.

Beberapa saat kemudian, Dewi Danuwati melahirkan seorang putra, yang oleh Prabu Kartawirya diberi nama Arjunawijaya, alias Arjuna Sasrabahu. Anehnya, bayi itu lahir dengan menggenggam senjata Cakra.

Sementara itu balatentara Kerajaan Lokapala yang dipimpin oleh Prabu Danaraja telah sampai di tapal batas Maespati. Prabu Kartawirya bersama Suwandageni berangkat untuk menghadang musuh. Senjata Cakra yang digenggam putranya yang baru lahir dibawa ke medan perang.

Dalam perang tanding antara Begawan Wisnungkara dengan Suwandageni berlangsung seru. Prabu Kartawirya lalu meminjamkan senjata Cakra pada Suwandageni. Dengan senjata itu Begawan Wisnungkara tak bisa berbuat apa-apa. Badannya hancur lebur terkena senjata Cakra.

Prabu Danaraja yang berhadapan dengan Prabu Kartawirya yang bersenjatakan Cakra, seketika luluh semangatnya. Prabu Danaraja sadar bahwa ia berhadapan dengan senjata sakti dari kahyangan. Karena itu ia segera lari pulang ke Lokapala.

Parikesit Lahir
Lakon ini menceritakan tentang peristiwa setelah Suyudana setelah gugur, Aswatama, Resi Krepa, Kartamarma, dan Dewi Banowati berada di Kerajaan Tirtatinalang. Pada suatu hari Dewi Banowati menghilang dan ternyata pergi menggabungkan diri dengan Arjuna. Aswatama. Krepa dan Kartamarma lalu pergi secara sembunyi-sembunyi ke Astina untuk menyelidiki.

Sementara Utari melahirkan putra dan diberi nama Parikesit, dan rencananya kelak akan diangkat menjadi raja di Astina.

Dewi Banowati merawat bayi itu dan membantu Drupadi dan Utari. Karena lelah, Dewi Banowati istirahat di Taman Kadilengleng. Tiba-tiba Aswatama dan pengikutnya menemukan Dewi Banowati dan membunuhnya, karena dianggap berkhianat pada Kurawa.

Aswatama, Kartamarma dan Krepa lalu masuk istana secara diam-diam dan menemukan Parikesit, mereka berpikir kelak bayi ini menjadi pewaris takhta Astina. Aswatama hendak membunuhnya tetapi sang Bayi menjerit dan kakinya menendang-nendang. Panah pusaka Pasopati, yang diletakkan Arjuna di pembaringannya tertendang, mental mengenai dada Aswatama dan tewa seketika.

Kartamarma dan Krepa bersembunyi di taman tetapi kepergok dan ditangkap Bima lalu dibanting ke tanah, tewas seketika. Jiwa mereka berubah menjadi brengkutis (kewangwung, serangga pemakan kotoran).

Arjuna sangat sedih atas kematian Dewi Banowati, maka Kresna berusaha menghiburnya dan ditawari putri yang amat mirip dengan Banowati yaitu Dewi Citrahoyi, istri Prabu Arjunapati dari Kerajaan Sriwedari.

Arjunapati bersedia menyerahkan istrinya kepada Arjuna, tetapi harus melangkahi mayatnya lebih dahulu. Akhirnya Arjunapati terbunuh oleh Kresna, sehingga Dewi Cintrahoyi dapat dipersunting Arjuna.

Parikesit Grogol
Parikesit setelah naik takhta di negara Astina bergelar Prabu Kresnadipayana menggantikan Yudistira. Pada suatu hari sang Raja memutuskan untuk menyaksikan dari dekat bagaimana cara berburu babi hutan dan ia juga ingin turut berburu. Oleh karena itu memerintahkan abdinya agar membuat rumah sementara (pesanggrahan) di tengah hutan guna melihat dari dekat para abdinya yang menangkap hewan tanpa senjata.

Patih Dwara, Patih Danurweda, Sukarta, Sumarma, Suhtrasta dan Subala berangkat ke hutan untuk membuat persiapan serta pesanggrahan untuk raja. Di dalam hutan Dwara bertemu dengan anak perempuan yang keluar dari semak belukar serta mengaku bernama Rara Suyati, maka anak tersebut diangkat sebagai anaknya dan dibawa pulang ke rumahnya. Setelah pesanggrahan selesai maka Prabu Parikesit yang diikuti Semar, Nala Gareng dan Petruk masuk ke dalam bangunan rumah yang telah disediakan dan melihat para abdinya melawan binatang buas yang digiring kehadapan sang Raja.

Pada suatu malam hari Prabu Parikesit ke luar dari kamarnya tanpa sepengetahuan siapapun ia masuk ke dalam hutan. Kepergian sang Raja itu diketahui oleh Semar dan dilaporkan kepada Patih Dwara maka sang Patih berusaha mencarinya ke dalam hutan. Ia tersesat masuk ke taman sari Manikmaya di mana Begawan Sidiwacana dalam keadaan cemas karena kehilangan putrinya Rara Suyati. Semar dan anak-anaknya juga mencari ke dalam hutan dan dapat menemukan Prabu Parikesit, tetapi sang Raja enggan kembali ke pesanggrahan dan terus melanjutkan perjalanannya yang diikuti abdi setia Semar, Gareng, dan Petruk.

Dipayana tiba di puncak Gunung Lodra melihat seorang pertapa keras, berdiri tegak tanpa bergerak dan berbicara juga tidak menjawab pertanyaan sang Raja, maka hilang kesabaran raja, pertapa itu ditusuk dengan senjata. Setelah jenazahnya hilang muncullah Batara Basuki yang mendidik Sang Raja serta memberi pengalaman baru dan memberi nama Dipayana atau Yudiswara.

Selanjutnya sang Raja melanjutkan perjalanannya, ia bertemu orang naik sapi liar dan memberi isyarat kepadanya, maka sang Raja marah dengan melepaskan anak panahnya, dan berubahlah menjadi Batara Gana yang memberikan pengalaman tentang keberanian serta memberi nama baru Mahabrata. Setelah Gana menghilang datanglah burung garuda yang besar dihadapkan sang Raja. Dibunuhlah burung itu dan tampak Batara Sambu, yang memberikan pendidikan tentang keberanian serta memberi nama baru Darmasarana. Dalam meneruskan perjalanan Prabu Parikesit menyelamatkan orang yang dikejar ular besar, orang itu adalah Prabu Praswati dari Gilingwesi, yang mempunyai putri bernama Dewi Sritatayi. Putri ini bermimpi kimpoi dengan Dipayana. Setelah Praswati mengutarakan maksudnya maka sang Raja menerima. Selanjutnya bertemu dengan Sritatayi dan dikawin.

Pertemuan dan bulan madu dengan istrinya, Dewi Sritatayi telah berlangsung lama, sang Raja segera meninggalkan istana dan masuk ke hutan dan ia bertemu Prabu Yasakesti dari Mukabumi yang mempunyai putri Dewi Niyata. Putri itu jatuh cinta dengan Parikesit. Semula sang Raja menolak untuk diajak Yasakesti tetapi akhirnya Parikesit mengawini Dewi Niyata. Juga disini Dipayana dengan cepat meninggalkan istrinya yang muda, mengembara di hutan lagi. Pada suatu hari ia bertemu dengan raksasa Srubisana dari Manimantaka yang diutus Prabu Niradakawaca untuk membalas dendam pada Parikesit atas kematian ayahnya Niwatakawaca yang terbunuh oleh Arjuna.

Maka terjadi peperangan tetapi Parikesit dapat dilempar ke udara dan jatuh di Pertapaan Manikmaya ditemukan oleh Begawan Sidiwacana serta putrinya yang bernama Rara Setapi. Prabu Parikesit tertarik panah milik Rara Setapi dan menginginkannya dan oleh yang punya dijawab bahwa barang siapa mengambil panah itu harus harus juga mengambil yang empunya.
Karena putri itu jelek maka Parikesit menolak tetapi sang Putri dapat dirubah wajahnya menjadi cantik oleh ayahnya, maka sang Raja tidak keberatan mengambilnya. Setelah lama berada di pertapaan akhirnya Parikesit kembali ke Astina.

Dalam perjalanannya ia bertemu raksasa Begawan Sukanda yang mempunyai putri, sukandi dan Sukanda mengatakan bahwa putrinya mimpi bertemu Prabu Parikesit. Namun usul itu tidak diperhatikan oleh sang Raja. Tiba-tiba datang dihadapannya musuh yang ditakuti yakni Srubisana, ia terkejut dan tidak senang mengulangi peperangan lagi, maka Parikesit mene-mukan akal, ia berjanji kepada Begawan Sukanda bahwa akan mengambil putrinya asalkan sang Begawan dapat membunuh Srubisana.

Dalam tempo yang singkat Sukanda dapat dibunuhnya, tetapi sekarang Dipayana menyesal pada janji yang telah diucapkan dan menolak turut serta dengan Begawan Sukanda. Dengan mantranya Parikesit tertidur dan segera dibawanya dan dipertemukan dengan putrinya. Setelah melihat kecantikan Dewi Sukandi, maka rasa berat Parikesit hilang seketika dan mengawininya.

Pada hari berikutnya Dipayana melanjutkan perjalanannya kembali ke Astina dan negeri tersebut mendapat serangan dari Manimantaka Prabu Ni-radakawaca. Prabu Baladewa memimpin pertempuran itu tetapi tidak kuat menahan kesaktian raja raksasa, sehingga negara Astina porak poranda.

Tiba-tiba Dipayana datang dan menghadapi musuh yang menyerang Astina, akhirnya raja raksasa itu dapat dibunuh oleh Prabu Kresna Dipayana.

Peksi Anjaliretna
Syahdan, raja Dwarawati sri Kresna, menerima kedatangan kakandanya ialah prabu Mandura, raja Dwarawati segera membuka pembicaraan, berkisar perihal lolosnya ipar raja, raden janaka. Demikian pula, prabu Dwarawati melaporkan, bahwasanya raden arya jayadrata melamar Dewi Subadra. Setelah prabu Baladewa menerima laporan, bahwasanya raden arya jayadrata melamar Dewi subadra. Setelah prabu Baladewa menerima laporan, bahwasanyaksatriya banakeling raden arya Jayadrata mengajukan lamara, disetujuinya. Perihal persyaratannya, bahwasanya Subadra meminta kelengkapan perkimpoian sebagai upeti, ialah diwujudkannya burung (peski) Anjaliretna, beserta pengiring temanten (patah) nya harus ksatria yang rupawan, disanggupi akan disampaikan kepada ksatriya Banakeling.

Sri baladewa segera mengundurkan diri, akan menyampaikannya kepada raden arya jayadrata yang sedang menunggu jawaban di pasanggrahan. Sri Kresna segera memerintahkan kepada para narapraja yang menghadap, untuk segera membubarkan diri. Raja menuju ke dalam kraton bertemu dengan permaisuri-permaisurinya, ialah Dewi Jembawati, Dewi Rukmini dan Dewi setyaboma. Kepada permaisuri, telah diuraikan perihal putusan raja, terhadap lamaran raden arya Jayadrata, mereka menyetujui akan maksud kehendak raja.

Terlihatlah di paseban luar, sri Baladewa dihadap segenap wadyabala ialah putra mahkota raden Wisata, raden arya Samba, Setyaki, patih Udawa, patih Pragota dan patih Prabawa. Kepada raden Wisata, prabu baladewa memerintahkannya untuk menyampaikan segala pesan persyaratan kelengkapan perkimpoiannya dengan Dewi Subadra, kepada ksatriya Banakeling, pamandanya raden arya Jayadrata. Sri Baladewa segera menuju ke pesanggrahannya, yang bernama randugumbala. Berangkatlah raden arya Wisata menunaikan tugasnya, menyampaikan pesan ke Mandura, ke Banakeling diikuti wadyabala mandura.

Konon, raja Widarba prabu Citragada, mempunyai seorang putri bernama Dewi Kumalarini. Pada suatu ketika , burung kesayangannya hilang tak berbekas. Raja Citradenta yang pada waktu itu sedang mengadakan pasewakan, membicarakannya dengan patih Dendabahu, bahwasanya laporan permaisuri raja bernama dewi hagnyarini, mengatakan burung Anjaliretna milik putrinyaDewi Kumalarini hilang. Raja juga menegaskan, bahwasanya tersiar berita, burung itu sekarang berada ditelatah kerajaan Banakeling. Prabu Citradenta segera memerintahkan kepada wadyayaksanya, bernama kalagodaka dan Kalakutila, untuk segera berangkat ke wilayah Banakeling, mencari jejak dan menemukan kembali, burung Anjaliretna yang dapat bertingkah selayaknya manusia. Bearngkatlah wadyabala Widarba, dengan pimpinan ditya Kalagodaka, dan Kalakutila beserta pandu jalannya Kyai Togog dan Kyai Sarawita. Di pertengahan perjalanan, mereka berjumpa dengan wadyabala Mandura, sehingga terjadi perselisihan , dan peperangan. Kedua-duanya berusaha tidak melibatkan terlalu lama dan jauh dalam peperangannya, sehingga mereka pun berusaha untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Raden Jayadrata, ksatriya Banakeling sedang mengadakan pasewakan, dihadap oleh patih Atmagatra, dan Atmasubala, Abirawa. Sedang mereka berbincnag-bincang, masuklah raden Wisata menemui pamandanya raden Arya Jayadrata, menyampaikan pesan Baladewa, bahwasanya perihal maksud perkimpoianya Jayadrata dengan Dewi Subadra, dipersyaratkan adanya kelengkapan perkimpoian, ialah adanya burung Anjaliretna yang dapat bertingkah laku selayaknya manusia, beserta patah ksatriya rupawan. Setelah laporan diterima, raden Wisata segera mengundurkan diri, raden jayadrata memerintahkan kepada wadyabalanya untuk mempersiapkan patyah ksatria yang rupawan, sebab burung Anjaliretna telah dimiliki raden Jayadrata. Mereka segera mengundurkan diri untuk melaksanakan tugas.

Patih Atmagatra sebelum menunaikan tugasnya, kembali terlebih dahulu ke kepatihan, menemui istrinya Dewi Diwati. Kepada sang Dewi, patih Atmagatra berkata, raja sedang mencari kelengkapan persyaratan perkimpoianya dengan Dewi Subadra seorang patah ksatriya yang rupawan. Putra patih Atmagatra, terkenal sangat rupawan, apalagi ksatria, bernama raden Nilawarna, itulah yang ditakutkan, jangan-jangan raden jayadrata, memaksanya menyerahkan Raden Nilawarna, bagi kelengkapan perkimpoiannya nanti, untuk itu kepada Dewi Retna Diwati, diperintahkan untuk mengamankan menyembunyikan raden Nilawarna, datanglah dsang dewi Retna Diwati menemui putranya, segala maksud patih Atmagatra dijelaskan, raden Nilawarna menyadari akan maksud ibunya, segera pamit untuk menyembunyikan diri, lajulah raden Nilawarna menuju ke hutan, diiringi oleh para panakawannya, Kyai Semar, nalagareng dan Petruk.

Di tengah hutan, raden Nilawarna bertemu denga wadyabala yaksa dari Widarba, terjadilah peperangan, yaksa dapat dimatikan. Kyai Togog dan sarawita dapat menyelamatkan diri, segera meninggalkan hutan, untuk segera melapor kepada raja Citradenta. Selagi melangkah maju , bertemu pula raden Nilawarna, dengan wadyabala dari banakeling, yang dipimpin oleh raden Abirawa dan raden Atmasubala. Kepada raden Nilawarna, mereka mengajukan usul, apakah bersedia dijadikan patah temanten lelaki, ditolaknya. Peperangan terjadi, wadya Banakeling dapat diundurkan, dengan kata-kata yang tegas dan menantang, raden Nilawarna memberitakan, bahwasanya dia adalah putranya patih Banakeling, ialah raden Atmagatra. Terperanjatlah mereka, segera mengundurkan diri, untuk melapor kepada raden Jayadrata. Adapun raden Nilawarna, meneruskan perjalanannya menuju kerajaan Widarba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s