Lakon Wayang Part 22


Peksi Anjaliretna (2)
Raden Arya Jayadrata, menerima laporan dari raden Abirawa dan Atmasubala, bahwasanya gagal mereka menunaikan tugas mencari patah ksatria yang rupawan. Dilaporkannya , ditengah hutan bertemu dengan ksatria rupawan, karena perselisihan pendapat terjadi peperangan, malahan ksatria tersebut menantangnya, dan menyatakan dirinya sebagai raden Nilawarna, putra patih Banakeling, Atmagatra. Raden arya Jayadrata sangat marah mendengarnya, patih Atmagatra setelah dihajar, bersama istrinya diusir dari kerajaan Banakeling.

Raja Widarba, prabu Citradenta menerima laporan Kyai Togog dan sarawita, bahwasanya wadyabala Widarba yang ditugaskan pergi melacak ke Banakeling, ditengah hutan diganggu, dan dibunuh oleh ksatria bernama Nilawarna. Prabu Citradenta sangat murka, segenap wadyabala diperintahkan berangkat menuju ke Banakeling.

Manakala prabu Citradenta mengerahkan wadyabala pergi ke Banakeling, raden Nilawarna yang mengubah dirinay sebagai abdi kinasih raja, berdatang sembah ke permaisuri prabu Citradenta, ialah deri Retna Hagnyarini, bahwasanya sang puteri bersama puteri Dewi Kumalarini, dipersilakan datang ke Banakeling, sebab peksi (burung) Anjaliretna, telah ditemukan kembali. Berangkatlah mereka bersama-sama diiringkan raden Nilawarn, yang bersandi sebagai abdi kinasih, ke Banakeling, dengan perasaan sukacita.

Raden Jayadrata sangat sedih hatinya , mengingat hanya satu persyaratan lagi yang belum dipenuhinya, ialah patah ksatria rupawan. Manakala sedang merenung- renung , wadyabala ;lapor, bahwasanya musuh dari kerajaan Widarba , dengan rajanya Prabu Cittadenta datang menyerang. Raden Jayadrata beserta wadyabala menyongsong kedatangan musuh dari kerajaan Widarba, banyak sudah wadyabala Banakeling dipukul mundur, raden Jayadrata maju, bertempur melawan prabu Citradenta, kalah jua. Patih Atmagatra yang mengetahui bahwasanya rajanya kalah perang, berusaha menolongnya, tetapi dapat pula dikatakan oleh prabu Citradenta. Kedua-duanya melarikan diri, mencari keselamatan. Konon, Dewi Hagnyanawati telah bersiap-siap dengan putranya raden Atmabala, beserta para punggawa untuk berangkat ke kerajaan Dwarawati. Demikian pula raden jayadrata berpasangan dengan Patih Atmagatra, beserta patahnya ialah raden Nilawarna, berangkat juga naikkereta, tak lupa Dewi Kumalarini dengan menggendong burung Anjaliretna, mengiringinya.

Raden Werkudara dari Pamenang, mendengar berita, bahwasanya raden Jayadrata telah diberangkatkan ke kerajaan Dwarawati dengan segala kelengkapannya persyaratan perkimpoiannya. Kepada putranya, yang bernama raden gatotkaca diperintahkan untuk segera pergi ke Dwarawati, melapor ke raja Dwarawati, bahwasanya ramandanya ialah raden Werkudara akan menghadap.

Di kerajaan Dwarawati, sri Kresna dihadap oleh putra mahkota raden arya Samba, Setyaki dan patih Udawa disamping datang pula prabu Baladewa, raja Mandura. Tal lama datanglah raden Werkudara, raden gatotkaca , kepada Si Kresna arya Werkudara meminta keterangan , kapan timbulnya Arjuna, dijawab hendaknya bersabar terlebih dahulu, tak lama lagi tentu akan timbul. Datanglah iring-irinagn temanten lelaki, ialah raden Arya Jayadrata beserta pengiring-pengiringnya. Setelah segala sesuatunya siap, raden arya Samba diperintahkan oleh sri Kresna untuk menerima penyerahan peksi (burung) Anjaliretna. Sri Baladewa, mempersilakan kepada sri Kresna, untuk segera mempertemukan temanten lelaki dengan temanten puteri , ialah Dewi Subadra. Arya Samba segera mengawal raden jayadrata ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk upacara. Masuklah terlebih dahulu raden samba dengan membawa peksi Anjaliretna, segera diserahkan kepada Dewi Subadra. Setelah diterima mundurlah raden Samba, burung Anjaliretna ditangan Dewi Subadra, berubah menjadi raden Janaka. Pertemuan mereka sangat menyenangkan, masuklah raden Jayadrata untuk menemui Dewi Subadra, dicegah oleh raden gatotkaca, menyusulah raden Nilawarna. Raden Jayadrata dapat diundurkan, raden Nilawarna kalah perangnya dengan Gatotkaca, berubah menjadi raden Angkawijaya.

Raden Jayadrata, setelah kalah perangnya dengan gatotkaca, datang melapor ke kadipaten. Prabu Baladewa yang menerima laporannya sangat marah., segera keluar untuk mencari Gatotkaca, belum lagi ketemu yang dicarinya, raden arya Werkudara datang mengajak berkelahi. Sri Baladewa, kalah perangnya dengan Werkudara. Wadyabala juga tak dapat menang bertanding dengan Werkudara. Sri Kresna dengan dihadap oleh raden arya Werkudara, Janaka, gatotkaca, Angkawijaya, samba, setyaki patih Udawa dan segenap naraprajanya, merayakan kemenangan prajurit-prajurit Dwarawati. Seisi istana Dwarawati dan para kawulanya sungguh berbangga hati, bersyukur telah terhindar dari marabahaya peperangan.

Dan Langit Pun Menangis (1)
Padang luas itu masih mengepulkan sisa-sisa asap pertempuran. Bau darah yang anyir membekas kuat, seakan mengingatkan hadirnya mayat bergelimpangan yang memenuhi tempat itu. Senjata, pedang berbagai ukuran, anak-anak panah yang telah patah, topi-topi prajurit berserakan, meminta dikembalikan kepada tuan-tuan mereka, baik yang telah memperoleh kemenangan maupun yang tinggal kenangan. Mati diterjang ujung senjata lawan.

Sosok itu berdiri mematung di sisa-sisa senja. Wajahnya dingin dan tak perduli. Panca inderanya sudah mati. Ya, sudah mati! Betapa tidak? Anak lelaki kebanggaannya, yang paling ia harapkan menjadi penerusnya, kini harus bernasib sama dengan onggokan tulang belulang di Kurusetra. Tubuhnya yang gagah, hancur diterjang puluhan panah yang mengantar lelaki muda itu menemui penciptanya.

Arjuna masih mematung. Sungguh, ia benar-benar telah kehabisan air mata untuk mengungkapkan kesedihannya. Perang ini tidak pernah ia kehendaki. Lelaki itu masih lebih memilih menjadi pengelana hutan daripada kehilangan semua anak-anaknya.Anak-anak dari berbagai ibu, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak pernah merasakan asuhannya, tiba-tiba datang dan menyatakan ingin membantu Pandawa memenangkan perang.

Masih segar dalam ingatan Arjuna masa kecil yang terpatri begitu dalam di hati dan benaknya. Itulah kebahagiaan sempurna yang bisa didapat seorang anak tanpa ayah, dengan status putra raja yang tak kunjung diberikan.

Ada sosok lain lagi yang berjalan mendekat. Tubuh hitam kelam dengan pakaian kebesaran seorang raja. Sengaja sosok itu berdiri agak jauh, mengamat-amati saudara sepupunya yang sudah seperti adiknya sendiri, bahkan lebih. “Menyesali perang ini lagi, adikku?”

Arjuna menoleh. Cepat-cepat ia berjalan mendekati sosok titisan Batara Wisnu itu dan memberi penghormatan. “Kalau saya berkata jujur, kanda. Tentu saya tak ingin perang ini terjadi.”

“Dan membiarkan angkara murka berkuasa di muka bumi?” Suara Kresna tetap tenang. Arjuna terdiam. Dia selalu saja kehilangan segala kata-kata di depan tokoh yang ia kagumi ini.

Sang Dananjaya menatap Prabu Kresna dengan ragu-ragu dan berkata perlahan. “Kalau saja Bharatayudha tidak terjadi, kita tidak akan kehilangan eyang Bisma, guru Dhorna, anak-anak Pandawa dan ribuan prajurit yang tidak berdosa.” Arjuna berkeras, masih berusaha mendebat walaupun keyakinan di hatinya mulai goyah.

Kresna mendehem. “Apakah kau sadar bahwa perang ini adalah takdir? Kita tidak akan pernah tahu apa maksud sebenarnya peperangan ini. Bukankah kau mengaku ksatria, Arjuna?! Mana tanda-tanda kesatriaanmu? Apakah kau kira dengan pakaian senopati, membawa senjata dan berkereta kuda, kau seorang ksatria? Jangan buat malu para dewa yang sudah membekalimu kesaktian selama ini!”

“Apakah membunuh itu dharma ksatria, Kanda?” Arjuna mencoba mendebat lagi, melawan segala kesedihan yang sudah menghancurkan hatinya. “Kau membunuh untuk kebenaran. Dan segala yang terjadi pada perang ini adalah jalan karma bagi setiap manusia. Resi Bhisma sudah rela untuk memberikan nyawanya demi menebus segala dosanya. Apa kau pikir kalau ia dibiarkan hidup ia akan bahagia, Arjuna? Pergunakanlah otakmu! Jangan memakai hatimu untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Arjuna berlutut dan mengambil sepotong anak panah yang telah patah. “Kanda, benarkah benda ini yang telah mengantar anakku ke akhirat? Mungkinkah pasopatiku pun akan kugunakan untuk cara yang sama? Mengantar seseorang yang menjadi tumpuan harapan orangtuanya ke alam baka?” Arjuna menggigit bibirnya. “Lebih baik saya kembalikan saja pasopati ke Hyang Indra.”

Batara Kresna menghela nafas. “Ayolah adikku, kita segera kembali ke perkemahan. Tak ada gunanya berdiam terus disini dan menyalahkan dirimu sendiri.” Cepat raja besar itu memutar tubuhnya dan meninggalkan sang Dananjaya yang masih berdiri termangu-mangu di keheningan Kurusetra, ditemani teriakan burung pemakan bangkai yang siap berpesta pora.

***

“Ananda Kresna, bagaimana strategi yang paling tepat untuk menyelesaikan perang ini? Korban semakin banyak berjatuhan. Hari ini telah banyak pula yang mati. Dan kita tidak tahu siapa yang akan menyusul besok. Eyang sangat ingin perang ini segera diakhiri.” Prabu Wirata itu terbatuk. Raut wajahnya yang memancarkan wibawa dan kebijaksanaan tampak diliputi garis-garis kesedihan yang mendalam.

Prabu Kresna menghaturkan sembah. “Sebaiknya kita segera mengangkat senopati baru, Kakek Prabu. Hamba dengar pihak Astina sudah siap mengangkat senopati baru. Sebaiknya kita juga mengangkat senopati baru sebagai tandingan.” Suara Kresna yang jelas dan bening mengisi keheningan ruang pertemuan itu.

Di pintu masuk tampak Bima yang berdiri menjaga, wajahnya diliputi kesedihan, yang hampir tak pernah membayang sebelumnya. Arjuna hanya duduk termangu-mangu, tidak mendengarkan. Para raja dan sekutu mereka duduk dengan khidmat, sesekali berbicara pada rekan di sebelahnya.

“Saya setuju dengan usul Anda, Batara Kresna.” Seorang raja mengangkat tangannya dan berdiri untuk berbicara. “Tapi siapakah senopati baru Astina, dan siapa senopati tandingan dari pihak kita?” Batara Kresna tersenyum puas, mengangkat sebelah tangannya untuk memberi isyarat agar raja sahabat itu duduk, sementara ia sendiri berdiri untuk menjawab. “Kakek Prabu Matswapati dan hadirin sekalian yang saya hormati, menurut pendapat saya, pihak Astina pasti akan mengangkat Adipati Karna sebagai senopati agung, dan lawannya tidak lain adalah adik saya, Arjuna!”

Suara Prabu Kresna yang lantang membuat Arjuna terkesiap. Suasana ruang itu agak gaduh sejenak, sementara Prabu Kresna tersenyum puas, senang akan keputusannya barusan.

“Saya tidak bersedia, Kanda!” Suara Arjuna yang biasanya lembut berubah keras dan gugup. “Kenapa adikku? Jangan kau bilang kalau kau takut menghadapi Karna.” Prabu Kresna tetap tenang. Sebaliknya, Arya Werkudara yang memang tidak sabaran mulai naik darah.

“Jelamprong adikku, apa kau takut menghadapi Karna? Ayolah, kau bukan anak kemarin sore yang masih harus disusui ibunya!”

“Saya tidak takut, Kanda. HanyaÂ… Saya masih dalam keadaan berkabung karena kematian Angkawijaya. Sementara, saya tidak ingin berperang, apalagi menghadapi Kanda Karna.” Wajah Arjuna yang tampan memerah. Arya Werkudara menggeram. Mendung mulai bergayut kembali di wajahnya. Teringat akan sang Gatotkaca yang pergi mendahului ayah bundanya.

“Sudahlah, Arjuna, kalau kau tidak bersedia, kau boleh pergi dan menenangkan diri sekarang. Kresna anakku, siapkanlah senopati cadangan, kalau-kalau adikmu benar-benar tidak bersedia menghadapi Karna.” Prabu Matswapati menengahi. Ia tidak menginginkan suasana memanas. “Baiklah Eyang, semua saya serahkan kepada Eyang.” Kresna berkata hormat, sementara Arjuna menghaturkan sembah dan lekas pergi, menyendiri, jauh dari segala hiruk pikuk dentingan pedang dan desingan panah.

Arjuna memasuki hutan rimba yang lebat di sisi Kurusetra. Tubuhnya menggigil. Bukan karena takut, karena bagi Arjuna hutan rimba yang lebat dan penuh dengan setan, jin, iblis, genderuwo dan segala jenis makhluk halus lainnya sudah seperti rumah keduanya. Ia lebih sering bersama 4 punakawannya mondar-mandir keluar masuk hutan daripada berada di Madukara.

Bayangan Karna berkelebat di depannya. Ah, dia bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya kepada laki-laki itu. Rasa benci? Sayang kepada saudara? Marah? Atau menyesali keputusan Karna untuk membela pihak musuh?

Arjuna tetap merasa bahwa apapun pilihan Karna bukanlah urusannya. Tapi lain akibatnya bila mereka berdua harus berhadapan sebagai sesama senopati. Arjuna merasa telah banyak mengalami kehilangan, dan kehilangan Karna bukanlah pilihan terbaik yang ia inginkan.

Bagaimanapun Karna adalah saudara seibu, yang sedari kecil bahkan belum pernah merasakan belaian tangan dan air susu Kunti, ibunya sendiri. Arjuna merasa ia jauh lebih beruntung dari saudaranya itu, setidaknya dapat merasakan indahnya masa kecil, yang diliputi kasih sayang ibu dan saudara-saudaranya.
Dan Langit Pun Menangis 2

Masih segar dalam ingatan Arjuna, bagaimana Karna dapat menyamai kepandaian memanah yang ia pamerkan dalam adu ketangkasan antara Pandawa dan Kurawa ketika mereka masih remaja dahulu. Dan bagaimana ia dan kakaknya Bima telah menghina Karna dengan menyebutkan keturunan putra dewa surya itu.
Memang, Karna adalah anak angkat kusir Adirata, tapi apakah ia dan Bima pantas menghina lelaki itu? Arjuna menutup wajahnya dengan kedua belah tangan, menahan air matanya yang hendak menetes jatuh.

***

“Akhirnya kau datang juga adikku.” Bibir Karna menyunggingkan seulas senyuman melihat sosok gagah di atas kereta kuda yang dikusiri Prabu Kresna yang agung. Hati Karna mendadak seperti ditoreh oleh sebilah pisau tajam.

Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya melihat adik yang nyaris tak pernah menghabiskan waktu bersama dengannya tiba-tiba harus ia hadapi. Dan bahkan ia musnahkan untuk mencapai kemenangan.

“Ya, ini saya, Kanda.” Arjuna berkata dengan kaku. Suaranya bergetar. Prabu Kresna menoleh dan tersenyum pada sang Palguna untuk menyemangatinya. Dengan lihai titisan Wisnu itu memacu kuda-kudanya mendekati kereta kuda Karna.

“Cepatlah kau lepas panahmu Arjuna! Makin cepat kau lepas panahmu, makin cepat pula aku bisa menggunakan panahku untuk mengakhiri hidupmu!” Karna berteriak menantang, mencoba menandingi teriakan-teriakan dalam hatinya sedari tadi. Kuda-kuda dari kereta yang dikusiri mertuanya turut meringkik-ringkik, seakan mendukung setiap perkataan penumpangnya.

Kresna tersenyum. Raja besar yang arif itu tahu betul apa yang berkecamuk di dada kedua saudara seibu itu. Tapi inilah tugasnya. Untuk mengobarkan Bharatayudha dan menumpas bibit angkara di muka bumi. Tugas yang harus diembannya sebagai titisan Wisnu.

Waktu di Kurusetra seakan terhenti. Para prajurit yang ratusan ribu jumlahnya, meletakkan pedang, perisai, dan senjata apapun yang mereka pegang untuk menonton pertandingan akbar itu. Tidak ada yang bergerak. Semuanya berdiri, menonton dengan perasaan tegang, dan hati masing-masing memanjatkan doa, berharap agar gusti mereka memenangkan pertempuran itu.

Kresna berpaling pada saudara sepupu sekaligus iparnya itu. “Ayo Arjuna, lepas panahmu! Apa kau akan membiarkan senja turun dan pertempuran harus berlanjut esok?”

Arjuna menggigit bibir, mengambil sebatang panah dan melepasnya. Karna tersenyum, melepas sebatang panah pula untuk mengatasi panah Arjuna, kemudian dengan sigap ia mematahkan panah itu menjadi dua.

“Arjuna! Apa hanya ini senjatamu? Mana hasil bertapamu? Alangkah sayangnya waktu yang kaugunakan untuk bertapa dan berguru, kalau hanya ini hasilnya!” Karna tersenyum mengejek. Dilepasnya sebatang panah lagi, kali ini seolah memamerkan keahliannya. Panah itu berdesing, dan seakan berjiwa, mengarah tepat ke dada Arjuna. Tapi kesigapan Kresna mengendarai kudanya telah menyelamatkan lelanang ing jagad yang tengah berkecamuk hatinya itu.

Kuda-kuda pengendara kereta itu pun seakan berubah menjadi kuda-kuda binal yang siap menerkam siapa saja. Langkah kaki mereka mengepulkan debu yang memperpanas suasana Kurusetra.

Arjuna menengadah ke langit, melihat kehadiran dewa-dewa, dewi-dewi istrinya dan segala penghuni kahyangan yang hadir hanya untuk menyaksikannya. Ribuan helai bunga telah mereka taburkan untuk menambah semangat juang Arjuna, meredam gejolak hatinya yang meningkah tajam.

Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah sosok Abimanyu di kejauhan, yang di matanya terlihat berlari-lari, memanggil-manggilnya ayah. Seakan-akan ia mendekati ayahnya, dan membisikkan kata-kata agar Arjuna terus maju, memenangkan pertempuran ini dan membalaskan dendam kematiannya.

Arjuna terperangah. Tangannya telah bergerak, hendak membelai kepala putra tertuanya. Tetapi mendadak bayangan Abimanyu lenyap, terbawa angin yang menerbangkan debu-debu ke atas.

“Ada apa, Arjuna?” Prabu Kresna menoleh, keheranan melihatnya terpaku. “Tidak, Kanda. Seakan-akan tadi saya melihat Angkawijaya disini.” Arjuna masih tak percaya. Tatapan matanya menerawang jauh.

Prabu Kresna tertawa. “Kau lihat, Arjuna? Bahkan putra kesayanganmu pun telah rela menjadi perantara malaikat maut untuk membalas kematiannya.” Arjuna masih tertunduk, raut wajahnya sulit diterka.

“Nah, kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang Arjuna? Tetap diam dan membiarkan dirimu mati konyol ditembus panah Karna? Atau melawan dan memperoleh kemenangan?” Prabu Kresna menatap adiknya dengan seulas senyum di bibirnya.

Arjuna menggigit bibir sambil merapal doa. Diliriknya sekali lagi wajah legam saudara ipar sekaligus sepupu yang sangat ia hormati itu. Diambilnya Pasopati andalannya, sembari bersiaga menarik temali busur. Segenap penghuni Kurusetra menahan nafas, waktu yang hanya beberapa detik seakan beberapa abad. Kresna memiawik keras, “Sekarang, Arjuna!”

Sesaat setelah itu, Pasopati melaju lincah, merenggut jiwa senopati Hastinapura. Memisahkan kepala bermahkota itu dari tubuh yang berhiaskan pakaian kebesaran senopati. Serentak terdengar hiruk pikuk dari barisan Pandawa maupun Kurawa. Barisan Pandawa karena gembira, sedangkan barisan Kurawa karena sedih dan kecewa. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi terompet, menandakan perang hari itu telah berakhir. Prabu Salya yang mengusiri kereta hanya termangu memandangi tubuh menantunya tanpa kepala, sebelum sadar apa yang harus ia lakukan. Cepat dihelanya kereta kuda itu menuju garis belakang.

Prabu Kresna pun memacu kudanya ke garis belakang. Siap memberikan laporan pertempuran hari itu dan merancang strategi selanjutnya. Matanya sempat melirik ke arah sepupunya. Arjuna tengah tertunduk dengan tubuh bermandikan keringat. Prabu Kresna tidak berkomentar, terus mengendarai kudanya dengan tenang. Ia melayangkan pandangan ke langit senja itu, sedikit terkejut karena langit yang tadi cerah mendadak gelap. Seolah-olah turut bersedih, langit senja itu pun menangis, mengiringi kepergian sang putra matahari.

***

Sinopsis : Musuh terkuat adalah diri sendiri, yang selalu mengintai dan mempertanyakan tentang masa lalu dan masa depan. Bahkan Seorang pria yang disebut-sebut lelanang ing jagad (lelakinya dunia) pun bisa menjadi lemah dan tak berdaya. Di Kurusetra, disaksikan jutaan pasang mata, haruskah Arjuna takluk di tangan Karna? Atau haruskah ia menaklukkan Karna dengan segenap upayanya? Sementara untuk menaklukkan dirinya sendiri pun ia tak sanggup.

Telaga Ajaib
Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang melakukan perjalanan menjelajahi hutan dalam masa-masa akhir pengasingannya, mereka bertemu dengan seorang brahmana. Brahmana tersebut lalu meminta bantuan kepada Pandawa untuk menangkap seekor kijang yang telah melarikan tempat pedupaannya. “Wahai Pandawa, kijang itu membawa lari pedupaanku. Tolonglah aku, aku tidak mampu mengejar binatang itu”, kata brahmana itu.

Pandawa kemudian memburu kijang itu beramai-ramai dan mengepungnya dari berbagai arah. Tetapi, rupanya itu bukanlah seekor kijang biasa. Ia berhasil menghindar dari kejaran Pandawa dan terus berlari menjauh. Ia selalu berhasil lolos dari kepungan Pandawa. Hingga tanpa sadar Pandawa telah jauh masuk ke dalam hutan dan seakan kijang itu hilang ditelan rimba raya. Pandawa yang lelah, menghentikan pengejaran dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang besar dan rindang.

Nakula mengeluh, “Alangkah merosotnya kekuatan kita sekarang. Menolong seorang brahmana dalam kesulitan sekecil ini saja kita tidak bisa. Bagaimana dengan kesulitan yang lebih besar ?”

“Engkau benar. Ketika Drupadi dipermalukan di depan orang banyak, seharusnya kita bunuh saja manusia-manusia kurang ajar itu. Tetapi, kita tidak berbuat apa-apa. Dan sekarang inilah akibatnya.” kata Bhima sambil memandang Arjuna.

Dengan sikap membenarkan, Arjuna berkata, “Ya, benar. Aku juga tidak berbuat apa-apa ketika dihina oleh anak sais kereta itu. Inilah upahnya sekarang”.

Yudhistira merasakan kesedihan hati saudara-saudaranya. Mereka kehilangan semangat juang mereka. Untuk mengalihkan pikiran, ia berkata kepada Nakula, “Adikku, panjatlah pohon itu. Lihatlah baik-baik, barangkali di dekat-dekat sini ada sungai atau telaga. Aku haus sekali”.

Nakula lalu naik ke pohon yang tinggi. Setelah melihat sekelilingnya, ia berteriak, “Di kejauhan kulihat ada air tergenang dan burung-burung bangau. Mungkin itu telaga”.
Yudhistira menyuruhnya turun dan pergi untuk mengambil air.

Nakulapun pergi dan memang menemukan sebuah telaga. Karena sangat haus, ia berpikir untuk minum dulu sebelum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia hendak mencelupkan tangannya ke dalam air, tiba-tiba terdengar suara, “Janganlah engkau tergesa-gesa. Telaga ini milikku, hai anak Dewi Madrim. Jawablah dulu pertanyaanku. Jika kau bisa menjawab, barulah kau boleh minum”. Nakula sangat terkejut mendengar suara itu, tetapi karena sangat haus, ia tidak memperdulikannya. Ia langsung mencedokkan tangannya, mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia jatuh tidak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Nakula tidak juga kembali, Yudhistira menyuruh Sadewa mencarinya. Setelah mencari-cari beberapa lama, Sadewa terkejut melihat Nakula yang terbaring tak sadarkan diri di tepi telaga. Tetapi karena merasa sangat haus, ia memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara tadi terdengar lagi, “Wahai Sadewa, telaga ini telagaku. Jawab dulu pertanyaanku, baru engkau boleh menghilangkan dahagamu”. Sadewa tidak peduli. Ia mencedokkan tangannya mengambil air yang jernih dan segar itu. Begitu minum seteguk, ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Bingung memikirkan kedua saudaranya yang belum kembali, Yudhistira menyuruh Arjuna mencari Nakula dan Sadewa. “Tetapi jangan lupa untuk kembali membawa air”, katanya kepada Arjuna.

Arjuna pergi berlari dan menemukan kedua saudaranya terbaring tak sadarkan diri. Ia sangat terkejut dan mengira mereka tewas dianiaya musuh. Ia marah dan ingin menghancurkan siapapun yang telah membunuh saudara-saudaranya. Tetapi karena haus, Arjuna memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara itu terdengar lagi, “Jawab dulu pertanyaanku, sebelum engkau minum air telaga ini. Telaga ini punyaku. Kalau engkau tidak mau menurut, engkau akan mengalami nasib yang sama dengan kedua saudaramu itu”.

Arjuna sangat marah mendengar suara itu dan berteriak, “Hai, siapa engkau ? Tunjukkan dirimu !. Jangan pengecut ! Kubunuh kau !”. Sambil berkata demikian, Arjuna membidikan panahnya ke arah datangnya suara itu. Suara itu tertawa mengejek, “Panahmu hanya akan melukai angin. Jawab pertanyaanku dulu, baru kau boleh memuaskan dahagamu. Bila engkau minum tanpa menjawab pertanyaanku, engkau akan mati”.

Arjuna senang karena bisa berhadapan dengan pembunuh adik-adiknya. Tetapi ia tak kuasa menahan rasa hausnya. Iapun minum seteguk air telaga itu. Seketika itu iapun jatuh tak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Arjuna tak kunjung kembali, Yudhistira berkata kepada Bhima, “Arjuna belum juga datang. Sesuatu yang aneh mungkin saja terjadi. Carilah mereka dan bawakan air untukku. Aku haus sekali”.

Begitu mendapat perintah dari Yudhistira, Bhima segera berangkat. Sampai di tepi telaga, ia sedih melihat ketiga saudaranya terbaring tak bergerak. “Ini pasti perbuatan para jin dan raksasa jahat”, pikirnya. “Akan kumusnahkan mereka ! Tetapi aku sangat haus. Setelah minum, akan kutamatkan pembunuh itu”. Lalu ia turun ke tepi telaga.

Suara gaib itu terdengar lagi, “Hati-hatilah, hai Bhima. Engkau boleh minum setelah menjawab pertanyaanku. Engkau juga akan mati jika tidak mau mendengar kata-kataku”.
Mendengar itu Bhima berteriak, “Siapa engkau ? Berani benar memerintah aku !”.
Lalu ia minum air telaga itu. Seketika itu juga otot dan tulang Bhima yang liat bagai kawat baja dan keras bagai besi menjadi lemas. Seperti saudara-saudaranya, ia jatuh tak sadarkan diri.

Yudhistira menunggu dengan cemas. Dahaganya serasa tak tertahankan. Terbayang dalam pikirannya, “Apakah mereka terkena kutukan ? Apakah mereka lenyap ditelan rimba dan tak tahu jalan kembali ? Apakah mereka mati karena kehausan ?”. Kemudian Yudhistira bangkit dan berjalan mengikuti jejak-jejak kaki saudara-saudaranya. Ia memperhatikan setiap semak yang dilaluinya dengan teliti. Ia melihat jejak kijang dan babi hutan, semuanya menuju arah yang sama. Ia menengadah melihat burung-burung bangau beterbangan, pertanda ada bentang air di dekat situ.

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan di tepi telaga itu ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya satu persatu, dirabanya kaki, tangan, dahi dan denyut jantung mereka. Yudhistira berkata dalam hati, “Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani ? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari kesengsaraan”.

Menatap wajah Nakula dan Sadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini terbujur dingin tak bergerak, hati Yudhistira sedih. “Haruskah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku ? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati ? Untuk apa aku hidup ? Aku yakin ini bukan peristiwa biasa”, pikir Yudhistira. Ia tahu, tak seorang ksatriapun akan mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat. “Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai”. Hatinya terus bertanya-tanya. “Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib. Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhana ? Mungkinkah Duryodhana telah meracuni air telaga ini ?”.

Telaga Ajaib (2)
Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, “Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan hausmu. Telaga ini milikku”.
Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya mati. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemudian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu, “Silahkan ajukan pertanyanmu”.

Suara gaib itu mulai mengajukan pertanyaan kepada Yudhistira.
“Apa yang dapat menolong manusia dari semua marabahaya ?”
Yudhistira menjawab, “Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya”.
Suara gaib: “Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini ?”
Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini”.
Suara gaib : “Apa yang lebih tinggi dari langit ?”
Yudhistira : “Bapa”
Suara gaib : “Apa yang lebih kencang dari angin ?”
Yudhistira : ” Pikiran”
Suara gaib : “Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas ?”
Yudhistira : “Hati yang menderita duka dan menyimpan dendam”
Suara gaib : “Apakah kebahagiaan itu ?”
Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik”
Suara gaib : “Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih ?”
Yudhistira : “Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan”
Suara gaib : “Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya ?”
Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya”
Suara gaib : “Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya ?”
Yudhistira : “Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya”

Demikianlah suara gaib itu memberikan pertanyaan-pertanyan kepada Yudhistira. Dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan oleh suara gaib itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.

Suara gaib : “Wahai Yudhistira, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih ? Dia akan hidup kembali “.

Yudhistira terdiam dan berpikir sesaat, lau menjawab, “Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati”.

Suara gaib itu belum puas akan jawaban Yudhistira, dan iapun bertanya lagi, “Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya lebih besar dari kekuatan gajah ? Lagipula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu ? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula !”

Yudhistira pun menjawab, “Dewi Kunti dan Dewi Madrim adalah istri ayahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarlah Nakula, putra dewi Madrim, hidup bersamaku”.

Suara gaib itu puas sekali demi mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Ternyata, kijang dan suara gaib itu adalah penjelmaan dari dewa Yama, dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin Yudhistira. Batara itupun lalu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira.

Lalu di hadapan Pandawa, batara Yama berkata, “Beberapa hari lagi masa pengasingan kalian di hutan rimba akan selesai. Di tahun ke tigabelas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itupun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuhpun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini “.
Setelah berkata demikian, batara Yama menghilang.

Sena Rodra
Sri Batara Kresna yang bergelar Sang Padmanaba dari Dwarawati membicarakan Werkudara yang sedang menyebarkan ajaran yang didapatnya dari Barat, dan yang berganti nama menjadi Bagawan Senarodra. Ia menyebarkan ajarannya di Unggul Pawenang, dan banyak orang berguru kepadanya, termasuk Satyaka. Para dewa merasa tidak senang karena merasa disamai dan menganggap Senarodra akan memberontak terhadap para dewa. Menurut Batara Kresna Senarodra hanya ingin agar manusia itu berpandangan luas, mendapat kesempurnaan hidup, dan jangan mendapat kepapaan. Sri Kresna ingin mengunjungi dan melihat sendiri keadaannya, dan menyuruh Setyaki berangkat mendahuluinya.

Di Tunggulmalaya Batari Durga dihadap oleh para makhluk halus dan juga Dewasrani, anaknya. Dewasrani melaporkan bahwa banyam orang mengikuti ajaran Sena rodra sehingga tidak menghaormati para Dewa lagi. Batari Durga lalu pergi ketempat Bahgawan Senarodra dan memerintahkan agar para makhluk halus itu mengganggu orang-orang yangh sedang berguru. Di tengah jalan ia bertemu dengan Batara Kresna. Ketika ditanya keperluannya Batari Durga mengatakan akan menyadarkan Senarodra karena telah mengajarkan agar orang-orang membelakangi para dewa. Batara Kresna tidak sependapat, oleh karenanya minta agar Batari Durga mengurungkan niatnya. Namu ia tidak mau, karenanya terjadi pergulatan antara keduanya. Ketika Batari Durga hampir dikalahkan, ia marah sekali dan memperlihatkan taringnya. Hal ini diimbangi oleh Batara Kresna yang lalu tiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Batari Durga ketakutan dan karenanya akan memenuhi kemauan Sri Kresna.Mereka lalu berpisah. Namun Batari Durga ternyata masih melanjutkan usahanya dengan cara menyuruh anak buahnya yang berupa makhluk halus untuk mengganggu mereka dengan pergi ke Zjodipati, karena disitulah sumber dari perkumpulan orang-orang Jawa. Batari Durga sendiri pergi ke Suranadi untuk melaporkan tindakan Senarodra ke Hyang Pramesti Guru.

Di Jodipati Bagawan Senarodra dikelilingi oleh anak-anaknya dan orang-orang Jawa yang ingin mendapatkan ilmu dari Barat tersebut, berupa Ilmu Kesempurnaan Hidup. Dengan mempelajari ilmu itu hilanglah sifat angkara murka. Mareka hidup layak dan tenteram, di pekarangannya dibangun masjid kecil yang di bawahnya terdapat tempat berwudhu. Setyaki yanga datang menyatakan leinginnannya mendapat ajaran baru itu.Dikatakan oleh Begawan Senarodra bahwa ada empat hal yang penting,yaitu : syarat, tarekat, hakekat, dan makrifat. Syariat adalah bagian dari Rukun Islam, yaitu : syahadat, solat, puasa, memberi zakat, dan naik haji. Syariat adalah ‘ tindakan badaniah’, tarekat’tindakan batiniah’. Sifat-sifat manusia dilambangkan oleh empat warna, yaitu hitam, merah, kuning. Melawan yang putih; aluamah, amarah, supiyah melawan mutmainah. Aluamah berarti nafsu angkara murka, amarah berarti hati yang mudah berang, supiah keinginan barang yang bagus-bagus, sedangkan mutmainah berterimakasih atas apa yang didapat. Hakekat artinya mengetahui adanya Tuhan yang mempunyai sifat dua puluh. Sedangkan makrifat artinya mengetahui adanya dua hal yang menyatu, yaitu persatuan antara kawula dan Gusti, sehingga orang yang telah sampai makrifat dapat mengatahui hal-hal yang jasmaniah maupun yang rohaniah, baik yang kasar maupun yang halus.

Atas pertanyaan Setyaki begaimana cara mendapatkannya, karena ia merasa bodoh sekali. Bagawan Senarodra menjawab ia tak usah memaksakan diri, lebih baik berada di di tengah-tengah. Sebagai seorang satriya secara lahiriah ia harus menjalankan tugas sebagai menjaga negara, secara batiniah ia harus dapat menguasai nafsunya.

Batara Guru yang mendengar bahwa Bagawan Senarodra mengajarkan ilmu kesempurnaan Hidup merasa khawatir kekuasaan para dewa akan berkurang. Karenanya ia memerintahkan Yamadipati untuk mengambil Senarodra, tetapi karena belum waktunya mati maka agar Senarodra dimasukkan ke dalam cupu Retna Dumilah yang berisi gambar sorga. Sena rodra patuh ketika diminta memasuki Retna Dumilah, saudara-saudaranya mengikutinya, juga Batara Kresna, semar, Gareng dan Petruk.

Di Nusakambangan, raja raja raksasa Kala Srenggi memerintahkan patih Kala Srenggini dan Kala Srenggana bersiap-siap untuk menyerang Suralaya dengan maksud meminta semua bidadari agar menjadi isterinya. Ia juga meminta raja Astina tunduk kepadanya dan ikut menyerang Suralaya. Dalam pertempuran semua dewa-dewa dikalahkan oleh pasukan Kala Srenggi. Atas pertanyaan Hyang Pramesti siapa yang kiranya dapat melawan raksasa tersebut. Narada mengusulkan agar para Pandawa yang dikurung dalam Retna Dumilah dikeluarkan dan diminta melawan perusuh yang datang. Hyang Pramesti menyetujui namun masih minta jaminan bahwa Senarodra tidak akan mengajarkan ilmunya yang dapat menurunkan wibawa para dewa. Maka Hyang Narada membuka Retna Dumilah dan minta agar Pandawa melawan para penyerang Suralaya itu. Mereka segera berangkat meskipun mereka mengatakan bahwa sebenarnya sudah merasa nikmat berada di dalam Retna Dumilah, karena tidak merasakan lapar dan haus atau pun susah.

Ketika para raja Jawa mengetahui bahwa lawannya adalah para Pandawa, mereka mengundurkan diri dan kembali ke negara masing-masing; tinggallah para raksasa dan pemimpinnya.

Danaraja maju ke medan perang dengan naik kereta, Senarpdra hanya berjalan kaki dengan membawa gadanya Rujakpolo. Kala Srenggini dan Kala Srenggana dapat dipanah oleh Dananjaya, dan seketika berubah menjadi Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih, sedangkan Kala Srenggi berubah menjadi Sanghyang Tunggal. Melihat hal itu para Pandawa segera bersujud di hadapan mereka. Sanghyang Tunggal menyampaikan bahwa perbuatannya itu karena tindakan para dewa sudah dianggap melanggar aturan yang berlaku.Setelah menyampaikan nasehat kepada Hyang Pramesti dan minta agar Senarodra diijinkan tetap mengajarkan ilmunya, maka Sanghyang Tunggal menghilang. selanjutnya para dewa menyampaikan terimaksih kepada para Pandawa yang telah berhasil mengatasi keributan di Suralaya.

Suryaputra Rabi 1
Syahdan raja Mandraka prabu salya duduk di singgasana dihadap oleh putra mahkota raden Rukmarata dan patih praja bernama Tuhayata. Raja membicarakan perihal perkimpoian putra-putrinya yang bernama Dewi surtikanti dan prabu Jayapitana dari kerajaan Astina.

Selagi mereka berbincang-bincang, datanglah patih Astina Arya Sakuni. Kepada raja dilaporkan perihal persiapan Prabu Jayapitana mengenahi akan perkimpoiannya dengan putra-putri raja, dan berdatang sembah memohon kapan kiranya temanten lelkai dapat diarak untuk dipertemukan dengan calon temanten perempuan. Raja menjawanya, bahwasanya sebelum dipertemukan, prabu Jayapitana harus melaksanakan permintaan syarat perkimpoian puterinya, ialah diadakan patah (pengiringtemanten) temanten, ialah seorang ksatria rupawan , dan tiada lagi cacat pada dirinya. Manakala persyaratan telah diwujudkan, setiap saat prabu Jayapitana akan dipertemukan dengan Dewi Surtikanti. Banyak para tamu yang menyaksikannya, antara lain prabu Baladewa raja Mandura, raja Amarta prabu Puntadewa beserta sudara-sudaranya, ialah raden arya Werkudara, raden Pinten dan Tansen. Setelah raja bersabda, mundurlah patih skauni kembali ke praja Astina. Raja pun segera kembali ke dalam kraton, menemui prameswari Dewi Setyawati. Kepadanya diuraikan apa yang telah terjadi dipasewakan, usai raja berbincang-bincang, lajulah ke sasana pambojanan, diiringkan oleh permaisuri, tak ketinggalan putra-putrinya Dewi Banowati.

Para tamu bersinggah dipemondokan mandraka, yang dipersiapkan oleh patih Tuhayata.

Di praja Petapralaya, prabu Radeya mengadakan perembugan dengan putranya yang bernama raden Suryanirada, Dewi Suryawati dan patih praja ialah Druwajaya. Masalahnya berkisar perihal lolosnya putra sulung raja, yang bernama raden Suryaputra, sebab kepadanya pernah diajukan saran, hendaknya mempersiapkan diri untuk dikimpoikan. Agaknya raden Suryaputra pergi meninggalkan praja Petapralaya, dengan alasan tidak atau belum berkehendak dikimpoikan oleh ayahanda raja. Kepada patih Druwajaya diperintahkan untuk melacak kepergian raden Suryaputra, sekaligus menemukan membawanya kembali ke praja. Patih segera memohon diri, untuk segera melaksanakan tugasnya.

Tersebutlah raja yaksa bernama prabu Kalakarna, negaranya bernama Awangga. Raja yaksa sangat jatuh hati kepada putra-putrinya raja Mandraka Dewi Surtikanti. Semula raja bermaksud akan pergi sendiri ke praja Mandraka Dewi Surtikanti. Semula raja bermaksud akan pergi sendiri ke praja Mandraka, tetapi pengasuh raja yang setia bernama Kidanganti menyarankan, sebaiknya mengirimkan duta terlebih dahulu, sekaligus untuk menyampaikan surat lamaran raja. Prabu kalakarna menyetujuinya, dan kepada yaksa Kalakurenda, beserta teman-temannyaa Kalamamrang, Kalagutaka, diperintahkan untuk segera berangkat. Dalam perjalanannya bertemulah para yaksa dengan wadyabala Mandraka, terjadilah perselisihan dan peperangan, tetapi kedua-duanya berusaha menghindarkan diri sehingga kedua-duanya melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Resi Abiyasa dipertapaannya Wukir Retawu, dihadap oleh cucundanya bernama raden pamadi, tak lupa turut serta Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Resi Abiyasa menyarankan kepada raden Pamadi untuk segera kembali ke praja dikarenakan akan besar manfaatnya. Kembalilah raden Pamadi diikuti oleh panakawan, ditengah hutan bertemu dengan para yaksa dari Awangga, sehingga terjadilah peperangan. Raden Pamade dapat mebunuhnya, dan lajulah raden Pamade menuju Amarta.

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Hyang Girinata yang sedang dihadap oleh para dewa, tampak hadir resi Narada, sa
g Hyang Brahma, Hyang Panyarikan. Hyang Girinata bersabda kepada Narada, hendaknya segera turun ke Marcapada untuk meberikan anugerah pusaka yang bernama Kunta kepada raden Pamade. Turunlah Narada ke Madyapada dengan membawa senjata Kunta, untuk dianugerahkan kepada raden Pamade.

Di kaki gunung Jamurdipa, raden Suryaputra yang sedang bertapa, didatangi resi Narada, yang mengiranya raden Pamade. Kepada Raden Suryaputra yang dikira raden Pamade , resi Narada menguraikan maksudnya, bahwa kedatangannya tak lain diutus oleh Hyang Girinata untuk menemuinya dan memberikan anugerah dewa senjata sakti berwujud Kunta, namanya Wijayadanu. Setelah raden Suryaputra menerima pemberian dewa, kepada resi Narada mengakulah bahwasanya dia bukan raden Pamade, melainkan putra raja Petapralaya, dan dia sendiri bernama raden Suryaputra. Resi Narada merasakan kekeliruannya, dan berusaha minta kembali saenjata skti berwujud panah tersebut. Raden Suryaputra mempertahankan sehingga hanya tempatnya saja yang dapat direbut oleh narada, selanjutnya kembalilah sang resi ke Kahyangan Jonggringsalaka untuk melapor kepada Hyang Girinata. Raden Suryaputra bertemu dengan patih Druwajaya, dan mereka melanjutkan perjalannya.

Patih sakuni melapor kepada prabu Kurupati yang disaksikan pula oleh para kurawa, yakni raden Dursasana, Durmagati Citraksa dan Citraksi, bahwasanya raja Mandraka mengajukan persyaratan kelengkapan temanten laki, adanya patah temanten seorang ksatriya yang rupawan dan lagi pula harus tampa cacat sedikitpun. Prabu Kurupati mendengarkan dengan penuh perhatian, tak ada upaya lain kecuali mengusahakannya. Kepada patih sakuni diperintahkannya Pamade dijadikan patahnya. Berangkatlah raden Sakuni beserta para Korawa menuju ke praja Amarta.
Dewi Kunti yang tinggal di istana Amarta, menerima kedatangan raden Pamade beserta para Pnaakawannya. Tak lama datang pula Sakuni, setelah berdatang sembah diuraikannya maksud dan kehendak prabu Kurupati, bahwasanya raden Pamade dimohon bantuannya untuk bersedia dijadikan patah bagi calon temanten laki, yang tak lain prabu Kurupati. Dewi Kunti memperkenankannya, arya Sakuni memohon diri, kembali ke praja Astina diikuti oleh raden Pamade, dan para Panakawannyaa.

Suryaputra Rabi 2
Kedatangannya patih arya Sakuni dengan mebawa pula raden Pamade sangat melegakan hati prabu Kurupati. Segera diperintahkan, untuk mempersiapkan keberangkatannya ke praja Mandraka, tak lupa raden Pamade diikutsertakan sebagai patah.

Di kerajaan mandraka, prabu salya menerima para tamu, ialah prabu Baladewa raja Mandraka, prabu Puntadewa raja Amarta, arya Bratasena, Pinten dan tansen. Raja menerima laporan bahwa pesanggrahan tempat untuk calon temanten laki dan rombongannya telah selesai.

Tak lama datanglah rombongan temanten laki dari Astina, raja Salya menerima calon temanten laki. Kepadanya dan rombongan dari Astina, dan para tamu lainnya segera dipersilahkan untuk beristirahat di pesanggrahan, raden Pamade dibawa langsung menuju ke kradenayon, diserahkan kepada Dewi Banowati.

Dewi Banowati sebenarnya jatuh cinta kepada raden Pamade, demikian pula raden Pamade melayaninya. Kepada Raden Pamade Dewi Banowati menceritakan, bahwa di tempat peraduan kakaknya ialah Dewi Surtikanti terlihat ada seorang ksatriya, yang sengaja ulah asmara dengan sang dewi, tindakan tersebut tak ubahnya sebagai pencuri asmara saja. Raden Pamade yang menerima laporan berusaha untuk mebuktikannya, dan seteklah sampai di kamarnya Dewi Surtikanti, tak ayal lagi memang benar bahwasanya ditempat peraduan sang dewi terlihat ada bayangan manusia berusaha melarikan diri, yang tak lain raden Suryaputra. Raden Pamade segera mengejarnya diikuti oleh raden Bratasena, dan Prabu Baladewa. Peperangan terjadi antara raden Bratasena dan pengikut raden Suryaputra ialah patih Druwajaya, dan raden Suryanirada bertemu dengan prabu Baladewa, akhirnya mereka menghindarkan diri untuk berkumpul dengan raden Suryaputra.

Konon raden Pamade mengejar raden Suryaputra langsung ke praja Petapralaya, diterima oleh Prabu radeya, diskasikan oleh putra-putri raja Dewi suryanawati. Sang Dewi tidak menyangka akan raden pamade yang disangkanya raden Suryaputra. Dengan alasan sudah rindu kepada saudaranya segera dipeluknaya, demikian pula raden Pamade menimbanginya. Kepada raja Radeya, raden Pamade melaporkan bahwasanya sang raden telah memboyongi putri Mandraka, bernama Dewi Surtikanthi sekarang dalam perjalanan ke praja Petapralaya. Raden Pamade mengutarakan maksudnya, untuk menemani sang dewi, dewi Suryanawati dimintakan izin kepada prabu radeya. Raj radeya memperkenankan dan dibawalah sang dewi bersama-sama meninggalkan praja Petapralaya.

Seusai raden Pamade bermohon diri, datanglah raden Suryaputra, tentu saja sang raja terheran-heran, mengapa sang raden cepat kembali. Lebih terheran-heran lagi raden Suryaputra dalam hatinya sudah menyangka bahwasanya tak lain tentu ulah raden Pamade. Kepada ayahandanya diceritakan segala permasalahannya yang menimpa dirinya, dan bermohon diri untuk mengejar raden Pamade. Bertemulah raden Suryaputra dengan raden Pamade yang membawa Dewi Suryanawati, peperangan terjadi. Raden Suryaputra dapat dilukai pelipisnya oleh raden Pamade, selagi mereka berperang rame-ramenya Hyang Narada turun ke bumi untuk melerainya. Kepada mereka dijelaskan, bahwa raden Suryaputra sebenarnya masih saudaranya sendiri, malahan dia yang tertua dari keluarga Pandawa, terlahir satu ibu dari Ibu Kunti. Pada waktu bayi dihanyutkan di samodra, ditemukan oleh Prabu radeya, selanjutnya diangkat sebagai putra pribadi. Kepada raden Pamade diminta bantuannya untuk menyelesaikan perkimpoian saudara tuanya, ialah raden Suryaputa yang akan mempersunting putri Mandraka benama Dewi Surtikanthi, dan rtaden Pamade menyanggupkan diri, keduanya berangkat, resi Narada kembali ke kahyangan.

Dewi Surtikanthi yang sendirian ditempat peraduannya dengan didampingi oleh emban malihan ialah raksasa bernama Kidanganti, yang segera mnyergapnya membawa lari snag dewi. Seisi kraton geger, mencari hilangnya sang Dewi Surtikanthi, salah satu inang pengasuhnya segera melapor pada praja perihal hilangnya sang dewi.

Selagi inang melapor, raja sedang menerima kedatangan raden Pamade beserta Surayputra, segera raja memerintahkan kepada Pamade untuk menagkap pencuri dan membawanya kembali Dewi Surtikanthi, raden Pamade menyanggupkan diri dengan permohonan, nantinya jika telah kembali sang dewi dimohonkannya untuk diperjodohkan dengan raden Suryaputra, raja Salya memberikan kesanggupannya, raden Pamade berangkat mencari penyandera sang dewi, diikuti oleh saudara tuanya raden Suryaputra dan raden Burisrawaa.

Datanglah Ditya wanita Kidanganti, Dewi Surtikanthi sgerera diserahkan kepada raja Awangga prabu Kalakarna, sang raja sangat bersukacita menerima Dewi Surtikanthi, segera diperintahkan untuk segera diistirahatkan di iostana kraton Awangga. Akan halnya raden Pamade, raden Suryaputra dan raden Bratasena lebih dahulu berada di Kraton Awangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s