Lakon Wayang Part 23


Suyudana Rabi
Konon prabu Jayapitana dari kerajaan Astina berkehendak akan mempersunting putri Mandraka Dewi Banowati. Datanglah di istana Astina utusan raja Mandraka, ialah raden Rukmarata, menyampaikan pesan raja, bahwasanya hajad perkimpoian prabu Kurupati, harus diwujudkan dengan persyaratan kelengkapannya ialah patah penganten berwujud lelaki yang rupawan, beserta patah wanita dua jumlahnya yang rupawan juga. Akan halnya permintaan raja Mandraka tersebut, prabu Jayapitana menyanggupinya, setelah raden Rukmarata bermohon diri, sang prabu segera memerintahkan kepada patih sakuni, untuk segera berangkat menuju pertapaan wukir Ratawu, menghadap resi Abiyasa , memohon diperkenankannya cucundanya bernama raden Janaka untuk dijadikan patah dari perkimpoian Prabu Jayapitana, demikian pula utusan diperintahkan untuk menghadap raja Mandura prabu Baladewa, memohon diperkenankannya prabu Jayapitana meminjam raden Narayana dan wara Subadra, untuk dijadikan juga kelengkapan iringan temanten, menjadi patah.

Prabu Jayapitana di dalam kraton, bertemu dengan adiknya yang bernama Dewi Dursilawati, kepadanya dijelaskan bahwa sang dewi akan dijadikan patah, berpasangan dengan wara Subadra, adapun Janaka berpasangan dengan Raden Narayana. Sang Dewi Dursilawati, tidak berkebertaan akan kehendak kakandanya prabu Jayapitana.

Tersebutlah raja raksasa bernama Garbaruci dari Sindunggarba, bermimpi mempersunting putri Mandraka. Kepada patihnya bernama Garbasangkalya dan emban raja bernama Pracima disampaikan maksud raja akan pergi sendiri ke praja Mandraka, mereka mencegahnya. Usul mereka diterima, bahwasanya raja akan mengirimkan utusan melamarnya terlebih dahulu, segera wadyabala raksasa dipanggil, dan diperintahkannya pergi ke praja Mandraka, menyampaikan surat pinangan raja, mereka segera berangkat bersama-sama. Di pertengahan jalan, bertemu dengan wadyabala dari Astina, sehingga terjadilah perselisihan pendapat, dan peperangan. Mereka berusha menghindarkan keterlibatan peperangan yang dalam, sehingga redalah peperangan antar mereka, lajulah masing-masing meneruskan perjalanannya.

Kedatangan patih Sakuni di pertapaan wukir Retawu, diterima dengan senang hati oleh resi Abiyasa. Kepada sang Begawan, patih Sakuni menguraikan maksudnya, yang tak lain diutus Prabu Jayapitana, meminjam raden Arjuna bagi kelengkapan persyaratan perlawinannya dengan putri Mandraka, akan dijadikan patah temamten. Sang Begawan merelakan , dan kepada Arjuna diperintahkan untuk mengikuti. Mundurlah patih Arya Sengkuni dari hadapan Resi Abiyasa, diikuti oleh raden Permadi dan Kyai Semar, Nalagareng dan Petruk menuju kerajaan Astina, patih Sengkuni menuju praja Mandura. Perjalanan raden Arjuna di tengah hutan bertemu dengan para wadyabala raksasaa dari Sindunggarba, terjadilah peperangan. Para yaksa dapat ditumpas olehnya, raden Arjuna melanjutkan perjalanannya.

Di kerajaan Mandura, prabu Baladewa menerima kedatangan patih Sangkuni, menyampaikan pesan raja Kurupati, bahwasanya sang raja berkehendak memohon pinjam raden Narayanaa dan Wara Subadra, kedua-duanya akan dijadikan pasangan patah, bagi raden Arjuna dan Dewi dursilawati. Prabu Baladewa meluluskan permintaan Patih Sengkuni, kepada patih Pragota diperintah memberitahukan ke Widarakandang bersama-samma patih Sengkuni.

Di Widarakandang kedatangan patih Pragota diterima oleh raden Narayana, akan halnya kehendak prabu Kurupati yang menghendakinya dijadikan patah bersama pula retna Subadra, dapat disetujui. Mundurlah patih Pragota, dan patih Sengkuni, raden Narayana mempersiapkan diri untuk berangkat.

Datanglah sudah raden Rukmarata di istana Mandraka, melapor pada prabu Salya, bahwasanya segala kehendak raja dapat dipenuhi, raden Arjuna menyanggupkan diri. Raja sangat berkenan di hati, hadir pula di istana prabu Baladewa, sri Yudistira, bupati Awangga. Segera raja memerintahkan pada narapraja untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Akan halnya raden Narayana, telah pula mempersiapkan diri untuk segera berangkat, kepada adiknya War Subadra, disarankan untuk berbusna secara gadis taani, setelah selesai berangkatlah mereka berssama-sama.

Di kerajaan Astina, kelihatan kesibukan yang luar biasa. Prabu Kurupati telah mengenakan busana penganten, demikian pula patah-patahnya. Raden Premadi dan Retn Dursilawati telah selesai berdandan. Agaknya keakraban raden Premadi dan retna Dursilawati sangat menjadikan irihati raden Jayadrata dikarenakan Jayadrata menaruh hati dengan Dursilawati.

Perjalanan raden Narayana, retna Subadra diiringkan juga dengan patih Udawa, sudah sampai alun-laun kerajaan Mandraka. Sesampai mereka di dekat pohon beringin di tengah alun-alun, datanglah bahaya mengancam Retna Subadra, yang tak lain dari raden Burisrawaa. Agaknya kecantikan Subadra mendorongnya untuk menggoda, sehingga manakalla raden Burisrawa mengganggunya, Narayana segera turun tangan mengamankan adiknya, Raden Burisrawa ditempelengnya, lari terbirit-birit. Patih Tuhayata membelanya, dilayani oleh Patih Udawa , sehingga terjadilah huru-hara di pergelaran Mandraka.

Di pasewakan, kelihatan raden Rukmarata melapor kepada raja Salya kejadian di alun-alun Mandraka, Prabu Baladewa yang hadir pada waktu itu sudah menduga, tak lain mesti aadiknya sendiri, ialah raden Narayana yang telah membikin huru-hara. Keluarlah Prabu Baladewa akan menyaksikan keadaan tersebut, dan benar juga ditemuinya adiknya kedua-duanya, beserta patih Udawa. Prabu Baladewa sangat menyayangkan tindakan adiknya, dimana tidak dapat membedakan antara watak pribadi yang keras dan suka berkelahi, dan keadaan baru berjamu di kerajaan mandraka, apapun dalih yang diajukan oleh raden Narayana.

Kepada adiknya berdua, segera dibawanya menghadap prabu salya. Kedatangan raden Narayana disambut dengan mesra oleh Prabu salya, keadaan istana menjadi suka-cita. Segala sesuatunya sudah diperintahkan siap oleh raja, upacara perkimpoian akan segera dimulai. Prabu Suyudana didampingi oleh patah lelaki Arjuna, berjajar bersanding dengan patah wanita cantik ialah retna Dursilawati, raden Arya Jayadrata ditugaskan membawa payung kebesaran temanten, sekaligus memayunginya.

Di dalam keraton, Prabu salya dengan didampingi para tamu , tampak prabu Baladewa, Yudistiram, dan para tamu-tamu lainnya bersiap-siap menyongsong kedatangan temanten laki-laki. Terdengarlah pengumuman, bahwasanya temanten laki-laki telah menginjak di halaman istana, segenap prayagung istana Mandraka menyongsongnya, prabu Baladewa menggandeng temanten laki-laki, dibawanya menuju tempat pelaminan di pendapa, dilanjutkan ke tempat upacara pertemuan temanten. Segera perkimpoian dimulai, dan bertemulah sudah prabu Suyudana dengan temanten putri, Dewi banowati. Menjelang sore hari , para tamu beristirahat di pesanggrahan masing-masing, demikian pula raden Arjuna dan raden Narayana , Retna Subadra tak jauh tempatnya dengan Dewi dursilawati. Agaknya raden Jayadrata tak dapat menerima keakraban antara Arjuna dan Dewi dursilawati, dalam hatinya timbul was-was jangan-jangan Dewi Dursilawati direbut oleh Arjuna nantinya, tak ayal lagi raden Jayadrata berkehendak akan memperdayakan aArjuna malam itu juga.

Malam itu Arjuna dan Narayana beserta Subadra sedang berbincang-bincang, Jayadrata mempergunakan kesempatan tersebut, Arjuna yang duduk di dekat pintu pesanggrahan dengan Subadra dan Narayana, diserang oleh Jayadrata. Raden Janaka yang tidak menyangka adanya serangan dari jayadrata tentu saja tercengang-cengang,sheingga menjatuhkan Aarjuna ke pangkuan Subadra. Bagi yang tidak mengetahui memang tersiar berita, bahwasanya Arjuna mati di pangkuan Wara Subadra. Bratasena menerima laporan bingung dan menanyakan hal itu kepada prabu Baladewa, dan dijawab bahwasanya Arjuna tidak mati, adapun penylesaiannya prabu Baladewa akan menanggungnya.

Di istana Mandraka, prabu Duryudana memohon pamit kepada ayah mertuanya, ialah prabu salya. Sekaligus permaisuri nya ialah Dewi Banowati akan diboyongnya pula. Selagi iring-iringan temanten dipersiapkan, datang patih Mandraka Tuhayata, melapaor pada raja bahwasanya kerajaan Mandraka diancam bahaya, musuh dari kerajaan Sindunggarba datang menyerang. Di istana tampak pada waktu itu, prabu Baladewa, Yudistira adipati Awangga Karna, kepada merekalah dibebani tugas untuk menanggulangi musuh dan mereka menyanggupkan diri.

Balatentara Ssindunggarba, yang dipimpin sendiri oleh rajanya bernama Garbaruci bertanding dengan Baladewa, patih Garbasagka tanding dengan adipati Awangga Karna, musuh dapat ditumpas nya. Arya Bima mengamuk sehingga wadyabalaaa Sindunggarba lari kocar-kacir. Kembalilah prabu Baladewa, Yudistira dipati Awangga dan Bratasena menghadap prabu Salya, raja sangat berkenan di hati. Seluruh istana merayakan kemenangan mereka bersuka-ria, amanlah sekarang kerajaan Mandraka tiada gangguan satu apapun juga.

Wahyu Cakraningrat
Raja Suyudana menyuruh Lesmana Mandrakumara mencari Wahyu cakraningrat. Lesmana Mandrakumara pergi ke hutan Krendawahana, para prajurit mengawalnya, dipimpin oleh Patih Sengkuni, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi.

Batari Durga datang di Kerajaan Tunggul Malaya, emnyuruh agar raja Dewasrani bersemedi di Hutan Krendawahana. Dikatakannya sang Hyang Guru hendak m,enurunkan wahyu kerajaan. Dewasrani menurut perintah sang batari, lalu berangkat, dikawal Jaramaya dan Rinumaya.

Lesmana Mandrakumara bertemu Dewasrani . Karena sama tujuan terjadilah perang. Tetapi masing-masing menyimpang jalan.

Prabu Kresna menyuruh samba supaya pergi ke hutan Krendawahana mencari wahyu . Samba menunjung perintah Prabu Kresna , lalu berangkat, diiringi Patih Udawa.

Angkawijaya dan gatotkaca menghadap Begawan Abiaysa di wukir Ratawu, sang Begawan memberitahu bahwa dewa akan menurunkan wahyu. Angkawijaya dan Gatotkaca disuruh disuruh mencarinya. Mereka berdua berangkat , para panakawan mengawalnya. Ditengah hutan bertemu raksasa dari Tunggul Malaya. Terjadilah perang , prajurit raksasa habis binasa.

Sang Hyang Guru dihadap para dewa, Sang Hyang menyuruh agar Batara Cakraningrat turun ke dunia bersama Batari Widayat. Batara Cakraningrat agar merasuk kepada Angkawijaya , barati Widayat merasuk kepada Barati Utari. Batara Cakraningrat dan Batari Utari menjungjung perintah Sang Hyang Guru.

Dewasrani menerima laporan bahwa para prajurit raksasa mati dibunuh Angkawijaya. Dewasrani marah, lalu akan mencari Angkawijaya.

Batara cakraningrat bertemu Samba, dan bertanya maksud kedatangan Samba di Hutan. Samba menjawab, bahwa ia mencari wahyu. Batara Cakraningrat memberi saran, agar tidak mendekat perempuan selama empat puluh hari. Samba menurut saran batara Cakraningrat, tetapi ketika bertemu Batari Widayat samba jatuh cinta. Batari Widayat menolak . Tiba-tiba Batara Cakraningrat datang dan berkata, bahwa wahyu tidak mau masuk pada oranges eperti Samba. Kemudia telpak tangan Samba dirajah Batara Cakraningrat lalu disuruh kembali ke Dwarawati.

Samba bertemu dengan prajurit Kuarwa, Samba dikira telah memperolah wahyu cakraningrat, maka mereka meminta wahyu itu, terjadilah perang. Korawa kalah, lalu lapor kepada Suyudana.

Batara Cakraningrat memasuki Angkawijaya, batari Widayat ke Wirata, mencari Utari. Raja Dewasrani bersama prajurit datang hendak merebut wahyu. Gatotkaca melawan, prajurit Dewasrani lari ketakutan.

Lesmana Mandrakumara bersama Sengkuni datang di Astina seraya menangis. Sengkuni berkata, bahwa wahyu direbut oleh Samba, Suyudana marah, Pendeta Durna menyarankan agar Adipati Karna ke Amarta, minta wahyu, sebab keluarga Dwarawati dan Pandawa berkumpul di Amarta.

Angkawijaya dan Panakawan datang di Amarta disusul kedatangan Samba. Samba berkata, bahawa tidak bisa memperoleh wahyu . Kemudian Hyang Narada datang memberitahu bahwa Angkawijaya telah memperoleh wahyu, kelah keturunannya akan menjadi raja. Narada kembali ke kahyangan.

Adipati Karna dan prajurut Kurawa mengamuk. Arjuna datang melawan Karna. Arjuna datang melawan Karna, Werkudara mengamuk, prajurit Kurawa lari ketakutan . Keluarga Pandawa dan Dwarawati pesta besar atas karunia wahyu cakraningrat yang diperoleh oleh Angkawijaya.

Rajamala
Diam-diam Permadi telah sampai di Kerajaan Wirata dan menyaksikan pertempuran antara Rajamala dan Kakaknya Bratasena. Dia sengaja tidak menampakkan diri kepada kakaknya Bratasena atau pada Puntadewa atau si Pinten dan Tangsen dahulu agar hal ini juga tidak diketahui oleh musuh kakaknya yaitu ketiga ksatria sakti yang sombong itu. Demikian juga ia berpesan pada para punakawan agar menyamar menjadi rakyat biasa.

Pada suatu ketika setelah kakaknya mengalahkan Rajamala untuk yang kesekian kali Jagabilawa merobek perut Jagabilawa dan ususnya dihamburkan keluar. Permadi diam-diam mengamati mayat Rajamala yang ternyata oleh Raden Rupakenca dan Raden Kencakarupa dikumpulkan lagi semua usus dan jeroan yang sudah terburai itu dan dibawa lari ke suatu tempat pada saat hari sudah mulai gelap.

Permadi melesat mengikuti mereka, dan berhenti pada saat kedua orang itu sampai pada sebuah rumah. Mereka berdua menuju halaman belakang rumah. Permadi berlari memutar dan pergi kearah belakang rumah itu. Permadi menemui ada sebuah kolam kecil dibalik rerimbunan daun. Sesaat dilihatnya Kencakarupa dan Rupakenca bersama-sama menggotong tubuh Rajamala. Kemudian perlahan-lahan mereka meletakkan tubuh itu kedalam kolam.

Permadi terkejut ketika dilihatnya bahwa tubuh Rajamala dengan isi yang telah terurai keluar itu menyatu lagi dan sembuh seperti semual. Nampak Rupakenca dan Kencakarupa sedang menunggu proses penyembuhan dan penghidupan kembali sekutu mereka Rajamala sambil duduk bersemadi.

Setelah itu Permadi menjadi paham bahwa yang menghidupkan kembali Rajamala dari kematiannya adalah Kolam itu. Apa yang harus dilakukannya untuk membantu kakaknya.

Dia harus bertemu dengan kakak-kakaknya dan mengatakan hal itu.

Permadi bertemu dengan kakaknya, Puntadewa, Bratasena, dan adik-adiknya Pinten dan Tangsen. Permadi dan Punakawan diperkenalkan dengan Raja Prabu Matswapati dan anggota keluarganya.

Pandawa membuka samaran mereka
Kemudian akhirnya Puntadewa mengaku bahwa mereka sebenarnya adalah Pandawa dari Astina putra Prabu Pandudewanata.

Prabu Matswapati yang terkejut memohon maaf karena tidak begitu kenal dan meminta maaf apabila selama ini ia kurang sopan kepada Pendawa lima pewaris kerajaan Astina itu.

Permadi kemudian menjelaskan tentang Kolam yang mampu menghidupkan kembali si Rajamala itu.

Puntadewa meminta diri untuk bersemadi memohon petunjuk kepada Dewa. Dewa Hyang Brama yang pernah menyebabkan kematian Pandawa di sebuah sendang berkenan memberi petunjuk. Puntadewa diberi petunjuk agar setelah Rajamala mati oleh Bratasena, Permadi harus memasukkan panah sakti Bramastra yang pernah diberikan Dewa Hyang Brahma kepadanya, ke dalam kolam keramat milik Rajamala.

Puntadewa menjelaskan petunjuk yang diterima dari Dewa itu kepada adik-adiknya.

Kemudian terjadilah lagi pertempuran yang sengit. Sebenarnya Bratasena sudah hampir kehilangan keberanian menghadapi orang yang tidak bisa mati, karena sebenarnya mereka seimbang dalam hal kesaktian, namun karena Bratasena lebih kuat maka dia selalu dapat mengalahkan Rajamala. Namun bukannya tidak mungkin suatu ketika dia tidak dalam keaadan sekuat biasanya dan Rajamala bisa saja mengalahkannya maka dia sendiri yang nanti bakal menemui ajal.

Hari itu Bratasena bertarung sangat gigih apalagi setelah mendengar petunjuk dari Dewa Brama, maka dia meyakinkan diri bahwa setelah kemenangan ini dia akan menang seterusnya. Dan benar setelah bertarung dari siang hingga sore hari maka akhirnya Rajamala dapat dikalahkan, kemudian lagi-lagi perut Rajamala dirobek robek habis dengan kuku Pancanaka sehingga benar-benar menyeramkan apa yang dilihat oleh orang-orang yang sedang menyaksikan perkelahian itu.

Setelah Rajamala tewas, diam-diam Bratasena dan Permadi mundur dari arena perkelahian dan memberi kesempatan Kencakarupa dan Rupakenca untuk mengumpulkan ceceran tubuh Rajamala. Kemudian mereka mendahului kedua orang itu ke kolam keramat milik Rajamala.

Tepat pada saat kedua orang itu merendam tubuh Rajamala kedalam kolam, Permadi dari jauh memanah kolam itu dengan panah Bramastra pemberian Hyang Brahma si Dewa api dan saat itu juga kolam menjadi mendidih sangat panas. Rupakenca dan Kencakarupa terkejut bukan kepalang menyaksikan hal itu, apa lagi saat mereka melihat tubuh Rajamala bukannya menyatu dan sembuh namun semakin hancur luluh dan akhirnya tubuh itu sudah tidak berbentuk lagi. Mereka saling memandang berpikir tentang hal yang sama, ini berarti tamat sudah riwayat Rajamala andalan mereka. Mereka termenung dan tepekur apa yang harus dilakukan. Mereka berdua jelas tidak berani menghadapi Jagabilawa yang sangat kuat itu.

Dalam keadaan masih termangu di kegelapan malam itu tiba-tiba muncul si Jagabilawa yang berteriak-teriak memanggil mereka. Si Jagabilawa ditemani oleh seorang satria yang memegang senjata panah. Dengan hati galau dan marah, mau tidak mau mereka harus menghadapi dua orang itu. Kemudian terjadilah pertarungan yang sengit. Tidak berapa lama Bratasena telah berhasil mengalahkan Rupakenca sedang Permadi masih berkejar-kejaran dengan Kencakarupa, namun tidak lama kemudian terdengarlah teriakkan nyaring Kencakarupa yang terkena panah Permadi. Dua orang itu akhirnya menemui ajal di hari yang sama dengan Rajamala.

Rajamala yang tewas oleh Bratasena atau Jagabilawa itu sebenarnya adalah anak Begawan Palasara dengan Dewi Watari. Sedang Rupakenca dan Kencakarupa dua saudara kembar sebenarnya adalah saudara Rajamala, walaupun wajahnya berbeda mereka adalah putera Begawan Palasara juga namun dari Dewi Kekayi putri Prabu Kekaya di Kencakarupa.

Dalam pertandingan antara Jagabilawa melawan Rajamala, Raden Seta putera sulung Prabu Matswapati tidak hentinya mendukung Jagabilawa sedangkan Rupakenca dan Kencakarupa selalu menyemangati Kakaknya Rajamala.

Mendiang Rajamala, Rupakenca dan Kencakarupa memang berhati jahat, mempunyai keinginan yang jahat terhadap Prabu Matswapati, mungkin ingin menguasai tahta kerajaan Wirata, dan merasa tidak ada yang mampu menghadapi mereka.

Oleh sebab itu kematian Rajamala dan kedua adiknya itu membuat hatinya lega dan senang, juga membuat semua rakyat senang.

Penderitaan Bima
Suatu ketika para Kurawa mengadakan suatu acara selamatan di tepi sungai Gangga. Pihak Pendawa sebagai saudara diundang untuk hadir. Semua keluarga pedawa termasuk Dewi Kunti ibu pendawa datang juga.

Namun sebenarnya dibalik acara selamatan itu Suyudana telah mempunyai sebuah rencana yang jahat. Dia ingin membinasakan Bima. Hmmm bagaimana cara terbaik untuk mengalahkan si Bima itu. Kalau dengan adu kekuatan mungkin akan kalah.

Suyudana memanggil adiknya Dursasana, Citraksa dan Citraksi, serta adik-adiknya yang lain berkumpul. Saat itu Prabu Destarata sedang tidur. Dengan berbisik bisik Suyudana mengungkapkan rasa iri dihatinya. Tentang rencana ayah mereka yang akan memberikan tahta kerajaan kepada Puntadewa, tentang keinginannya menjadi raja, yang saat itu juga langsung di dukung oleh adik-adiknya.

Selain itu Suyudana memaparkan tentang peta kekuatan Pandawa dan Kurawa. Tentang kekuatan Bima yang tiada tandingnya. Akhirnya dia menanyakan kepada mereka adik-adiknya apa yang sebaiknya dilakukan.

“Ah Kakang, sebagaimana kakang ketahui bahwa ayah telah mengundang mereka untuk datang ke acara selamatan kita para Kurawa di tepi sungai Gangga” Dursasana mulai angkat bicara.

“Kita harus memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya untuk membinasakan Bima, kemudian adiknya Arjuna.” Sambung Citraksa

“Ah aku tahu kelemahan Bima adalah pada makanan, dia makan banyak sekali” Adiknya Citraksi menungkas.

“Apa yang engkau maksudkan Adikku Citraksi ?” tanya Suyudana penuh prhatian.

“Yang aku maksudkan adalah, Kita beri Bima makanan yang enak-enak”, tapi sebelumnya kita tambahkan racun agar dia pingsan”, Selanjutnya kita bisa tuntaskan rencana kita ” Jawab Citraksi.

“Hmmm usul yang bagus ” Sambung Suyudana, yang lain juga ikut mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian Suyudana berkata “Nah sekarang kita bagi tugas, aku sebenarnya ingin menyaksikan si Bratasena itu makan racun dihadapanku, tapi aku tidak akan pernah bisa mengajak makan si Bima itu satu Meja denganku karena sepertinya dia juga sudah merasa bahwa aku membencinya.”

“Ahh biar aku saja kakang” Dursasana menawarkan diri

“Atau kalau tidak biar Paman Arya Sakuni nanti aku mintai tolong, .. Aku yakin dia tidak pernah menolak apabila itu untuk kakang Suyudana” Ya… Ya… Ya…”

Semua yang hadir manggut-manggut.

“Citraksa dan Citraksi kamu berdua aku tugaskan untuk membuat racun dan mencampurnya pada makanan Bima”,

“Jangan sampai para ahli masak dan pegawai istana tahu akan perbuatanmu”

Kata Suyudana.

“Siap Kakang, akan kami laksanakan” Sahut Citraksi, sementara Citraksa mengangguk mengiyakan kalimat adiknya. Dalam benaknya dia telah merancang campuran bubuk dan getah pohon yang pernah dia coba pada kambing dan kambing itu langsung jatuh pingsan. Untuk Bima mungkin takarannya harus ditambah.

“Baiklah adik-adikku kita tunggu saja datangnya hari itu”

Tiba pada saat hari acara selamatan tiba, rombongan Pandawa telah hadir. Suyudana heran menyaksikan Bima yang berjalan kaki sementara saudaranya yang lain naik kereta bersama Ibu mereka Dewi Kunti. Ah sejauh itu dia kuat berjalan kaki, atau mungkin dia berlari? Memang kuat sekali Dia ini…
Tepat sebelum santapan pesta dihidangkan, Suyudana memberi tanda pada Citraksa dan Citraksi untuk mulai menjalankan rencana. Meja yang penuh dengan makanan yang disukai Bima telah disiapkan. Paman Arya Sakuni juga telah menyatakan kesanggupannya beberapa hari yang lalu. Suyudana memandang kearah pamannya itu, adik dari Ibunya Dewi Gendari. Pamannya mengedipkan mata tanda telah siap.

Suyudana segera menghampiri Puntadewa, mengajaknya berbicara dan berbasa-basi dengan orang yang akan menjadi sainganya dalam memperebutkan tahta kerajaan astina. Puntadewa yang berhati bersih menyambut saudaranya itu tanpa rasa curiga, hanya ia agak heran mengapa hari ini Suyudana mendadak menjadi ramah.

Ibu Dewi kunti berjalan berkeliling bersama Dewi Gendari.. sesaat dilihatnya Citraksa yang menggenggam sesuatu dalam sebuah wadah kecil… pikirannya menjadi tidak enak, hatinya resah.. ada sesuatu apakah yang akan terjadi ..Jiwanya yang peka semenjak masa mudanya dia gemar bertapa mengatakan ada sesuatu.

Namun karena ada Dewi Gendari disampinya Dewi Kunti menebar senyum kepada semua orang yang hadir.

Tadi dia telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan Prabu Dastarata dan mengingatkan tentang Sabda Prabu Abyasa tentang pesannya kepada Dastarata bahwa kepemimpinannya di Astina adalah sementara, dan segera setelah Puntadewa menjadi dewasa Tahta harus diserahkan kepada Puntadewa.

Sebenarnya Dewi Kunti kurang puas karena Dastarata hanya bergumam dan manggut-manggut, yang kurang jelas artinya apakah itu iya atau tidak. Seorang pemimpin seyogyanya tidak boleh ragu-ragu dan setengah-setengah dalam bersikap.

Sesaat kemudian dilihatnya putera kesayangannya Arjuna sedang duduk makan bersama dengan Anaknya yang lain Adipati Karna yang dilahirkannya melalui lubang telinga. ” Ah mereka telah tumbuh menjadi remaja-remaja yang sehat, gagah, kuat dan berwatak satria ”

“Ibu marilah kita makan ” Panggil Karna dari kejauhan. ” Ya anakku sebentar lagi ”
Sahut Dewi Kunti sambil melanjutkan berbincang-bincang dengan Dewi Gendari.

Di tempat lain Arya Sakuni adik Dewi Gendari telah berhasil mengajak makan Bima satu meja bersama dengan Citraksa dan Citraksi. Citraksa telah memberi tanda pada piring-piring yang beracun dengan meletakkan sobekan daun pisang yang terlihat sama ukurannya. Di piring-piring yang lain tidak diberi tanda.

Bratasena melihat ke seluruh Meja.. wah makanan ini kelihatannya nikmat sekali..

Penderitaan Bima (2)
“Ayolah Ananda Bima, kita makan segera, semua orang juga sudah makan” Kata Arya Sakuni memulai percakapan setelah mereka duduk di kursi menghadap meja di bawah pohon di tepi sungai Gangga.

“Ya paman memang nikmat sekali makan di tempat seperti ini” Sahut Bima

Citraksa dan Citraksi segera mengambil tempat, dan mulai mengambil makanan seolah semua makanan disitu layak untuk di makan.

“Ah makanan ini nikmat sekali, cobalah kakang Bima” Kata Citraksi mengulurkan makanan yang dimakannya. Bima mengambil makanan itu dan mencobanya..

“Ah betul memang enak sekali Dinda ” Bima menimpali. Selanjutnya mereka makan dengan lahap. Namun ketiga orang itu makan dengan memilih makanan dari piring yang tidak diberi tanda. Sedangkan Bima telah mencoba semua makanan yang dihidangkan.

Sesaat dirasakannya ada rasa agak pahit dan aneh pada salah satu makanan yang sedang dikunyahnya. Namun untuk menghormati tuan rumah yang menyediakan makanan, dia menelannya semua. Arya Sakuni melirik kepada Kedua keponakannya, mereka saling memandang sesaat, namun segera berpura-pura melanjutkan makannya.

Beberapa saat kemudian Bima merasa pandangannya berkunang-kunang “Hoooy apa yang terjadi dengan kepalaku paman? kenapa aku tiba-tiba pusing? ”

Ada Apa Bima, kamu kenapa ? Arya Sakuni berpura-pura datang menolong. Namun kalimat itu tidak dijawab oleh Bima karena dia telah terkulai di kursi makannya. Arya Sakuni memberi tanda kepada Citraksa dan Citraksi untuk berjaga jaga di sekitar meja itu jangan sampai ada yang melihatnya. Memang letak meja makan mereka agak terpisah dari meja lainnya.

Suyudana yang dari kejauhan menatap meja dimana Bima makan telah melihat bahwa Bima telah pingsan. Maka dia segera meminta diri kepada Puntadewa, bahwa dia mau menemui seseorang sebentar. Puntadewa yang tidak pernah mencurigai seseorang mengangguk. “Silahkan saudaraku” Jawab Puntadewa.

Suyudana bergegas menuju ke tempat dimana Arya Sakuni, Citraksa dan Citraksi berkumpul di tepi sungai Gangga. Datang kemudian Dursasana dan segera dia berbisik-bisik sebentar kepada saudara-saudaranya mencari akar-akar pohon yang liat namun kuat.

Setelah terkumpul Suyudana segera mengikat tubuh Bima yang kekar tapi sedang lemas tak berdaya itu dengan akar-akar hingga melilit tubuhnya dari bahu hingga kaki.

Suyudana dan Dursasana berdua mengangkat tubuh Bima namun masih kurang kuat juga akhirnya Citraksa dan Citraksi ikut membantu mengangkat tubuh Bima yang berat itu. Setelah diayun-ayun mereka berempat melemparkan tubuh Bima hampir ketengah sungai Gangga yang sedang deras mengalir.

Bima yang sesaat tersadar dari pingsannya pada saat terbawa arus mengalir melihat sekelompok orang, Kurawa!, nampak Suyudana tersenyum menyeringai dan Dursasana yang tertawa-tawa. Kemudian didengarnya suara-suara arus deras sungai Gangga, sesaat kemudian kepalanya terasa terbentur sesuatu yang keras. Kemudian semua menjadi gelap lagi. … Ah Duhai Para Dewa lindungilah aku … Jiwa Bima berbisik……

Suyudana yang merasa rencananya telah berhasil, berjalan kembali ke Meja Puntadewa. Sesaat Puntadewa melihat raut muka puas pada Suyudana, namun dia tidak tahu apa sebabnya. Dari tadi tidak dilihatnya si Bima adiknya……

Dari jauh Suyudana melihat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan para punggawa istana. Sedang para undangan lain juga sudah selesai dengan santapan mereka masing-masing. Nakula dan Sadewa sedang berjalan-jalan melihat sekitar Istana. Tidak lama setelah itu para undangan dan kerabat istana telah mulai meminta diri kepada Prabu Suyudana ayahnya.

Bagai disambar petir, Suyudana terkaget-kaget ketika ibunya Dewi Gendari bertanya: “Anakku Suyudana apakah kamu melihat Bima saudaramu?”
“Ah aku tadi melihatnya sedang makan dengan Paman Sakuni” jawab Suyudana
“Dari tadi ibunya menanyakan dan mencarinya, karena Pandawa dan Ibunya sudah mau berpamitan untuk kembali kerumah”.

“Cobalah tanya pada Paman Arya Sakuni ibu.” jawab Suyudana.

Sesaat kemudian Ibunya Dewi Gendari menemui Dewi Kunti Ibu Bima dan berbincang-bincang, kemudia mereka berjalan menuju tempat yang sama. “..Ah pasti mereka mencari Paman Arya Sakuni ” pikir Suyudana.

Ditengah jalan Dewi Kunti dan Dewi Gendari berpapasan dengan Puntadewa. ” Anakku Puntadewa, apakah kamu melihat adikmu Bima?” tanya Dewi Kunti

” Tidak Ibu, bahkan aku juga sedang mencarinya..” Jawab Puntadewa.

” Kalau begitu lanjutkanlah mencari, Ibu juga akan menanyakannya pada Paman Arya Sakuni ” Lanjut dewi Kunti

Dalam keadaan pesta yang baru usai, para undangan yang berpamitan, Dewi Kunti semakin gelisah.., Teringat lagi dia dengan penglihatannya yang melihat Citraksa yang memegang tempat wadah itu …. Apakah ada hubungannya ? Memang Pandawa dan Kurawa itu bersaudara, namun dia telah paham sifat-sifat anak Dastarata yang rata-rata tidak baik, pengiri, pendendam, usil dan jahat.

Sampai hampir sore Bima tidak diketemukan juga. Dewi Kunti mulai merasakan kebenaran perasaannya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Bima anaknya. Aku ibunya bisa merasakan apa saja yang terjadi dengan anak-anak ku. Desahnya dalam hati. Si Sakuni yang ditanya tadi hanya menjawab bahwa ia melihat Bima tertidur di bangku setelah kekenyangan makan. Selanjutnya dia tidak tahu apa-apa.

Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa telah berkumpul dan akhirnya si Sulung Puntadewa menghibur Ibunya dan berkata
“Ibu, mungkin adik Bima telah mendahului kita pulang ke rumah, dia tadi berangkat tidak bersama-sama dengan kita, dia berlari sampai ke tempat ini, sedang kita semua naik kereta. Barangkali dia telah bosan dengan suasana pesta dan ingin pulang lebih dahulu.”

“Ya ibu, sebaiknya marilah kita pulang dan memastikan hal itu” sambung Arjuna.

Dewi Kunti hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka segera meminta diri kepada Dastarata yang berjanji untuk membantu mencari Bima. Sambil menenangkan Dewi Kunti.

” Kakanda Mbakyu Kunti, dia kan sudah besar, pasti sudah bisa menjaga diri, dan dapat pulang ke rumah sendiri” Hibur Dastarata.

“….Ya semoga para Dewa melindunginya …” pikir Dewi Kunti dalam hati.

Selanjutnya mereka menaiki kereta yang akan membawa mereka pulang. Kereta itu berjalan pelan meninggalkan istana kerajaan Astina. Dari kejauhan nampak beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian mereka dengan was-was dan puas.

Dalam keadaan terapung dan terseret serta pingsan, Bima terbawa oleh arus sungai sampai pada suatu daerah yang tidak berpenghuni, semakin-lama semakin sunyi. Hampir semalaman Bima Pingsan dan terseret-seret, terbentur bentur, pingsan, sadar, pingsan lagi,sadar lagi namun hari telah gelap, hujan juga turun dengan derasnya dan tubuhnya terikat kuat.

Lama-kelamaan gesekan-gesekan akar dengan batu-batu kali sungai gangga sedikit melepaskan ikatannya.

Pengkhianatan Di Balai Sagala-gala
Pandawa mengetahui bahwa Suyudana telah diangkat menjadi raja.
Pandawa tenang dan sabar.
Kurawa khawatir kalau Pandawa kelak akan menuntut haknya.
Suyudana dan para kurawa dan merencanakan untuk membinasakan Pandawa
Prabu kurupati duduk dipaseban dihadap oleh Patih Arya Sakuni, Dursasana, Durmagati, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka membuat rencana jahat dengan mengundang Pandawa ke pesanggrahan batas kota yang disebut Balai Sagala-gala.

Pandawa diundang hadir ke Balai Sagala-gala untuk membicarakan pembagian negara Astina. Pesanggrahan tersebut dibuat seluruhnya dari bambu yang didalamnya diisi dengan obat sandawa. Dengan rencana bahwa bila Pandawa dalam keadaan berpesta dan mabuk-mabukan akan pesanggrahan itu akan di bakar.

Pandawa, terutama Puntadewa yang tidak menaruh curiga menghadiri acara itu.
Dewi Kunti was-was sejak terjadinya peristiwa Bima yang diceburkan di Sungai Gangga, dia tidak percaya lagi pada Kurawa, oleh karenannya dia merasa perlu ikut.

Didalam Pesanggrahan itu berlangsung pesta besar-besaran. Ada yang bermain Kartu adan yang bermain dadu ada yang mabuk-mabukan.

Hanya Bima atau Bratasena yang tetap waspada. Semenjak peristiwa dirinya diracun, dia tidak pernah percaya lagi pada Kurawa terutama pada Suyudana.
Bima yang waspada berpura-pura buang air, untuk menyelidiki rencana jahat apa yang akan dilakukan Kurawa.

Ditempat sepi Bima didatangi oleh Batara Narada secara diam-diam yang menyatakan kalau nanti ada seekor binatang garangan putih, agar diikuti saja kemana perginya, agar keluarga pendawa selamat.

Pandawa ditantang main Dadu oleh Kurawa. Prabu Kurupati melawan Suyudana
Taruhan judi adalah kalau Kurupati kalah ia akan memberikan negeri Astina, sedangkan kalau Puntadewa kalah ia harus menyerahkan nyawa.
Dalam permainan itu Prabu Kurupati berkali-kali kalah.

Patih Sakuni yang tahu keaadaan Suyudana rajanya dalam keadaan terdesak secara curang memutar dadu, hal ini diketahui oleh Dewi Kunti.
Dewi Kunti marah, Sakuni dikatakannya Setan.
Patih Sakuni mundur, marah dan dendam sekali.
Patih Sakuni melihat bahwa para Pendawa hampir semuanya dalam keadaan mabuk.
Patih Sakuni segera memerintahkan para kurawa untuk segera membakar uceng-uceng. Pesanggrahan Balai Sagalagala terbakar.

Setelah api menjalar para Kurawa yang bertugas menyelamatkan Prabu Suyudana segera bertindak mengamankan Prabu ketempat yang telah dipersiapkan.

Melihat pesanggrahan terbakar hebat Bratasena segera masuk dan memeluk ibunya, kakaknya dan adiknya untuk menyelamatkan diri dari amukan api. Arjuna dan Puntadewa dalam keadaan mabuk dan pusing.

Pandawa diselamatkan dari Balai Sagala oleh Batara Narada. Tiba-tiba Bratasena melihat ada binatang garangan putih. Sesuai dengan pesan Hyang Narada, Bratasena mengajak ibu dan saudara-saudaranya untuk mengikuti kemana perginya binatang itu. Binatang itu ternyata memasuki lobang tanah. Bratasena membawa ibu dan saudara-saudaranya memasuki lobang tersebut. Mereka selamat.

Pesanggrahan itu setelah terbakar hebat, maka roboh. Prabu Suyudana pura-pura menangis dan mengira semua Pendawa dan Ibunya telah tumpas, termasuk bibinya Dewi Kunti.

Prabu Salya Terjebak
Prabu Salya, adalah saudara Dewi Madrim, ibu dari Nakula dan Sadewa. Ia mendengar berita bahwa Pandawa berkemah di Upaplawya dan sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang yang akan datang. Prabu Salya lalu mempersiapkan balatentaranya dalam jumlah yang amat besar dan mengirim mereka ke tempat berkumpulnya pasukan perang Pandawa.

Berita keberangkatan Prabu Salya bersama balatentaranya sampai ke telinga Duryodhana. Ia memerintahkan sejumlah perwiranya untuk menyambut Prabu Salya dan memerintahkan pasukannya untuk membangun beratus-ratus tempat peristirahatan di sepanjang jalan yang akan dilalui balatentara Prabu Salya. Tempat peristirahatan itu dihias dengan sangat indah. Waktu beristirahat, balatentara Prabu Salya dijamu dengan aneka macam makanan dan minuman yang berlimpah dan dihibur dengan berbagai pertunjukkan kesenian yang memikat.
Seluruh balatentara Prabu Salya merasa senang dan puas menerima sambutan Duryodhana. Prabu Salya sendiri menemui salah seorang perwira tinggi pasukan Duryodhana dan berkata, “Aku ingin memberi hadiah kepadamu dan kepada mereka yang telah menyambut kami dengan ramah. Katakan kepada Duryodhana bahwa aku sangat berterima kasih kepadanya”.

Perwira itu lalu menyampaikan pesan Prabu Salya kepada Duryodhana. Mendengar hal itu, Duryodhana yang memang menunggu saat paling tepat untuk menemui Prabu Salya, segera menemui Raja tersebut. Dihadapan Prabu Salya, ia mengatakan betapa besarnya kehormatan yang diperolehnya karena Raja Salya merasa senang oleh sambutan pasukan Duryodhana. Tutur kata Duryodhana yang ramah benar-benar menyenangkan hati Prabu Salya yang sama sekali tidak punya prasangka apapun. Ia mengira semua itu merupakan ungkapan ketulusan Kurawa. “Alangkah hormat dan baik hatinya engkau kepada kami”, kata Prabu Salya yang terbuai oleh sambutan luar biasa dan keramahan pasukan Duryodhana. “Bagaimana aku bisa membalas budi baikmu ?” tanya Salya.
Duryodhana lalu menjawab, “Sebaiknya kau dan balatentaramu bertempur di pihak kami. Itulah yang kuharapkan sebagai balas budimu”.
Prabu Salya sangat kaget mendengarnya. Ia terdiam, terpaku. Maka sadarlah ia dengan siapa sebenarnya ia berhadapan.
Duryodhana melanjutkan, “Engkau sama berartinya bagi kami berdua. Kami adalah keponakanmu juga. Engkau harus penuhi permintaanku dan berikan bantuanmu kepadaku”.
Karena telah menerima pelayanan yang sangat baik dari anak buah Duryodhana selama beristirahat, dengan singkat Prabu Salya menjawab, “Kalau memang demikian keinginanmu, baiklah !”.
Duryodhana yang belum merasa yakin akan jawaban itu, mendesak Prabu Salya sekali lagi sebelum raja itu pergi.
Prabu Salya memandang Duryodhana dengan tajam sambil berkata, “Duryodhana, percayalah kepadaku. Aku berikan kehormatan ucapanku kepadamu. Tetapi aku harus menemui Yudhistira untuk menyampaikan keputusanku”.
Akhirnya Duryodhana berkata, “Pergilah menemui Yudhistira, tetapi kembalilah segera. Jangan ingkari janjimu”.
Salya hanya berkata, “Kembalilah ke istanamu dan peganglah kata-kataku. Aku tidak akan mengkhianatimu”.
Setelah berkata demikian, ia meneruskan perjalanannya menuju Upaplawya, tempat perkemahan Pandawa.

Pandawa menyambut paman mereka dengan gembira. Nakula dan Sadewa langsung menceritakan pengalaman pahit yang mereka alami selama hidup di pengasingan. Tetapi, ketika mereka mengharapkan bantuan Prabu Salya dalam peperangan yang akan datang, dengan sedih Raja itu berkata bahwa ia telah menjanjikan dukungannya kepada Duryodhana.

Yudhistira sangat terkejut dan menyesali dirinya sendiri karena sejak awal yakin bahwa Prabu Salya akan berpihak kepada Pandawa. Ia mencoba menutupi kekecewaannya dengan berkata, “Pamanku yang perkasa, engkau mempunyai kewajiban untuk memenuhi janjimu kepada Duryodhana. Kedudukanmu akan sama dengan Kresna dalam pertempuran nanti. Karna pasti akan mengharapkan Paman untuk menjadi sais keretanya waktu ia berhadapan dengan Arjuna. Apakah Paman akan menyebabkan kematian Arjuna atau Paman akan menghindarkannya dari maut ? Tentu saja aku tidak bisa memintamu untuk menjatuhkan pilihan. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku dan keputusan terletak di tangan Paman”.

Prabu Salya menjawab, “Anak-anakku, aku telah dijebak oleh Duryodhana. Aku telah berjanji akan membela dia. Ini berarti aku harus berhadapan dengan kalian. Tetapi, seandainya Karna memintaku menjadi sais keretanya dalam pertarungan melawan Arjuna, ia pasti gentar menghadapinya. Arjuna pasti menang. Segala penghinaan yang kalian terima dan diderita oleh Drupadi akan berubah menjadi kenangan indah bagi kalian. Kelak kalian akan hidup bahagia. Ingatlah, tak seorangpun dapat menghindari atau menghapus suratan nasib. Aku telah berbuat salah. Sepantasnyalah aku memikul akibatnya”.

Dorna Gugur
Kekuatan fisik dan keahlian bertanding ditopang dengan kesaktian yang tinggi, belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental dan kewaspadaan atin. Maha resi Dorna seorang pakar straegi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh berita provokasi hingga terpecah konsetrasinya melemah daya juangnya. Ini terjadi dalam perang barata ketika bertarung dengan Pandawa bekas muridnya.

Sebenarnya guru besar ilmu perang itu menaruh simpati yang dalam kepada Pandawa yang selama menjadi mahasiswanya, dinilai baik tingkah lakunya, penurut dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan pelajaran yang diberikan. Sebaliknya kaum Kurawa selain tingkah lakunya ugal-ugalan, juga rendah akhlaknya dan kurang memperhatikan pelajaran sehingga dalams egala hal Pandawa di nilai lebih unggul. Keberadaannya di pihak Kurawa adalah rekayasa politik Sakuni untuk memperkuat barisan Kurawa jika timbul perang dengan Pandawa.

Walau demikian Dorna masih berusaha membujuk Duryudana agar bersikap lebih lunak mau memenuhi tuntuan Pandawa untuk memperoleh tanah sesigar semangka sehingga perang dapat dicegah. Berkata Dorna:” Angger Prabu, redamlah kebencian itu. Kebencian timbul karena dirinya tidak mampu berpikirs ecara sehat. Karena itu bersikaplah lebih lunak agar tercipta perdamaian kedua belah pihak,” ujarnya menyarankan. “Jangan paman bicara soal perdamaian. Aku tidak berugur macam itu. Damai berarti rugi, perang pilihan terbaik,” jawabnya tegas. “Mereka menuntut keadilan bukan perang.” kilah Dorna. “Itu sudah merupakan keadilan yang digariskan Hyang Pasti. Kaum pengemis sudah terbiasa hidup sengsara. Karena itu mereka tidak patut memerintah negara,” kilahnya dengan nada menghina. “Angger masih anggap enteng Pandawa? Bukankah sudah terbukti mereka ungguls egala-galanya? Adipati karna yang dijagokan ajal di tangan Arjuna. lalu hari ini, esok atau lusa siapa lagi yang akan menyusul,” Dorna memberi peringatan. “Justru hari ini, esok atau lusa dan seterusnya giliran mereka yang akan binasa di tangan kaum Kurawa!” sergahnya. “lalu siapa orangnya yang sanggup menghancurkan pandawa?” desak sang resi ingin tahu. “Siapa lagi kalau bukan sampeyan yang sanggup dan harus menghancurkan Pandawa. Hari esok harus paman buktikan kesetianmu kepadaku. Ini perintah!” tegasnya.

Terhenyak sang resi mendengar perintah itu. Ia bukan takut perang, tetapi ia harus perang memerangi kebenaran. Sedang di sisi lain ia harus melaksanakan perintah raja. Begitulah keesokan harinya Dorna bertandang di medan laga. ia perang dengan sungguh-sungguh sehingga tidak sedikit korban di pihak Pandawa. Kesaktiannya tak tertandingi, hanya Arjuna yang sanggup menyaingi walau pasukannya tetap tak memperoleh kemajuan. Kresna yang mengawasi dari jauh cukup waspada, bahwa Dorna sulit ditandingi dengan cara biasa.

Satu-satunya cara untuk dapat melemahkan daya juangnya harus dibohongi, seolah-olah anak tunggalnya Aswatama yang sangat dikasihi telah mati di medan laga. Kebetulan ketika itu di medan perang Prabu Gardapati tengah bertarung dengan mengendari gajahnya yang kebetulan namanya Estitama. Segera Kresna menyuruh Bima membunuh raja dan gajahnya dan kemudian menyebarkan berita bahwa anaknya telah mati, tetapi tidak dengan nama Estitama melainkan dengan nama Aswatama mati.

Dengan demikian diharapkan si Resi yang sakti tak tertandingi itu akan terpecah konsentrasinya dan melemah daya juangnya. Demikianlah setelah Bima berhasil membunuh raja dan gajahnya, ia menyebarkan berita bahwa Aswatama telah mati. Berita itu digemakan pula oleh para prajurit dengan teriakan: “Aswatama mati… Aswatama mati!”. Gema berita itu sampai ke telinga sang resi dan seketika ia tersentak seraya berucap: “hah, anakku mati? Ah, tidak, tidak, tak mungkin, dia gagah sakti,” ucapnya setengah tak percaya.

Namun teriakan bergema lagi bahkan semakin santer sehingga ia menghentikan perangnya dan mengajak gencatan senjata kepada Pandawa, untuk mendapatkan kejelasan benar tidaknya anaknya telah mati. Baik Nakula maupun Sadewa sama-sama menjawa: “Estu Aswatama telah mati.” Meski mengiris hati tapi jawaban itu masih ngambang. Didatanginya Arjuna bekas murid kekasihnya: “Anakku, aku sengaja minta gencatan sehari ini, karena ada sesuatu yang penting yang ingin aku tanyakan kepadamu anakku.” “Apakah jawabannya akan dipercaya mengingat kita sedang bermusuhan, paman?” “Aduh anakku, meskipun kita sedang dalam perang, tetapi yang sedang perang itu kewajiban, bukan guru dan muridnya.

Karena itu tidak ada alasan untuk tidak percaya, anakku,” ujarnya menyaknkan. “Kalau begitu silahkan apa yang hendak paman tanyakan?” “Benarkah Aswatama anak paman telah mati,he?” “Oh, hama harus memberitahukan hal ini, sebab ini menyangkut nyawa seseorang, apalagi yang bertanya adalah ayahnya sendiri. Memang benar Aswatama sudah mati paman,” Arjuna coba menyakinkan. Hati siapa yang tidak hancur mendegar anaknya telah mati. Apa lagi bagi Dorna< style=”font-style: italic;”>sampeyan yayi,” desaknya. “Bertanggung jawab, bahkan membiarkan para pejuang hancur binasa, hanya karen ingin mempertahankan kepentingan diri pribadi. Layakkah seorang pemimpin bersikap demikian?” Hening sejenak masing-masing tenggelam dalam lamunan tetapi pikiran tetap bergerak mencari jalan yang terbaik.

Tiba-tiba Kresna yang memang ahli dalam berpolitik telah menemukanc ara untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Ia meminta Samiaji untuk mengatakan dengan kata “Esti” yang artinya gajah. Tetapi dalam mengatakan kata esti hendaknya tidak dengan nada yang keras. Belum sempat Samiaji menjawab, resi Dorna telah datang dan berkata: “Angger, bumi dan langit menjadi saksi, bahwa angger adalah mustikaning manusia yang anti untuk berbohong. Angger akan mengatakan putih pada yang putih, dan hitam pada yang hitam tanpa direkayasa apa pun. Nah, kini paman sangat membutuhkan jawaban yang murni semurni sikap dan watak angger dengan sebuah pertanyaan: “Benarkah anak paman Aswatawa sudah mati?” tanyanya harap-harap cemas.

Samiaji termenung terjadi perang sabild alam dirinya tapi kemudian ia menjawa: “Masihkan paman percaya kepada orang yang sedang paman musuhi?” “Olalala, paman tidak bertanya kepada musuh, tapi bertanya kepada manusia Samiaji yang tidak pernah mengingkari keteguhan imannya,” ujarnya memberi keyakinan. Maka dengan mengingatkan hati sang Pandu putra menjawab: “Paman, Esti Aswatama sudah mati.” Hanya dalam mengatakan Esti sangat perlahan hampir tidak terdengar, tetapi jawaban itu sudah cukup bagi resi Dorna untuk mempercayainya. Seketika itu ia terpaku bagai patung. Air mata meleleh menyusuri celah-celah pipi yang keriput seraya berucap tersendat: “Duh anakku, kini aku sadar, bahwa manusia itu ada tapi tidak sempurna. Memang kita berada di pihak yang salah dan salah akan kalah. Kini aku rela untuk mati menyusul engkau anakku,” ujarnya sangat memelas. lalu bagaimana dengan Samiaji. Ia tampak termenung karena, bagaimanapun juga, dia telah berbohong. Akibatnya kereta yang biasa ia kendarai sejengkal tidak menapak tanah, mendadak anjlok menapak bumi.

Tiba-tiba Drestajumena sesumbar menantang Dorna ingin membalas kematian ayahnya, Drupada. Sementara di angkasa Sukma Ekalaya juga siap akan memebalas atas kematiannya gara-gara jari kelingkingnya dipotong oleh Dorna, sewaktu adu ketangkasan melepas anak panah dengan Arjuna. Maka masuklah sukma Ekalaya ke dalam tubuh Drestajumena, hingga satria Pancala itu menjadi berignas.

Dan tak lama kemudian puluhan anak panah dilepas mengarah pada sang resi. namun hanya sebuah yang mengenai dada sang resi, sedang lainnya berhasil ditepisnya. Resipun tak tinggal diam, dilepasnya puluhan anak panah dan mengenai kuda serta keretanya hingga hancur berantakan, bahkan nyaris membinasakan satria Pancala itu jika tidak segera melompat dari keretanya. Menyaksikan perang yang tidak seimbang, Bima naik pitam dan memaki sang resi: “Hei, ternyata engkau brahmana licik perang seperti prajurit mencabut nyawa orang seenaknya. Padahal engkau tukang ibadah, anak sendiri mati tidak kau hiraukan, saksinya Samiaji orang yang pantang berbohong. Seperti itukah sikap seorang Brahmana?” Mendengar makian itu hati sang resi terasa pedih. Hati kecilnya membenarkan makian itu. Seketika gendawa dan jemparingnya ditaruh dan ia bersidakep sinuku tunggal meleng anteng mengheningkan cipta kepada Dewa Wisnu.

Tak lama kemudian dari tubuhnya keluar cahaya menyilaukan, sukmanya melayang munggah ke alam nirwana disambut dewa apsara dan dewi apsari sambil menaburkan wewangian. yang tinggal hanya jasadnya terpaku bagai patung. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa dia telah tiada. Tiba-tiba Drestajumena dengan pedang di tangannya menghampiri dan menebas kepala sang resi hingga menggelinding jatuh ke bumi. Para Pandawa sangat menyesalkan tindakannya. Tetapi Kresna menjelaskan, bahwa maha resi adalah manusia yang bijaksana dan banyak jasanya, tetapi tak lepas dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Mungkin kejadian itu sebagai hukumannya.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s