Lakon Wayang Part 24


Pancawala Rabi
Lamaran pancawala anak dari puntadewa diterima oleh arjuna. pancawala akan dinikahkan dengan putrinya pergiwati di kesatrian madukara. hal yang masih berupa pembicaraan keluarga ini disepakati akan diresmikan. maka segeralah ngamarta mengirim orang untuk melakukan lamaran resmi. sedianya yang akan melakukan lamaran adalah sri bhatara kresna mewakili baginda raja punta dewa.

kabar beredar juga ke hastina. di hastina drona membikin suatu strategi. dia mengajukan sebuah usulan agar melamar pergiwati dan disandingkan dengan lesmana mandrakumara putra mahkota hastinapura. sang prabu duryodana setuju. maka berangkatlah utusan dari hastina pura, yaitu resi drona, baladewa dr mandura dan karna raja ngawangga.

utusan dari hastina tiba, lalu karena pakewuh singkat cerita arjuna menerima lamaran dari hastina. dan bersiaplah pesta diadakan antara lesmana mandakumara dengan pergiwati. sementara itu untuk memberitahu ke ngamarta arjuna mengirim petruk dan punakawan untuk menyampaikan berita bahwa lamaran pancawala dan ngamarta di tolak.

punakawan sampe di ngamarta, rombongan penglamar sudah siap berangkat. mereka kaget ketika menerima kabar bahwa lamaran di tolak. werkudoro sangat marah karena menilai penolakan adalah suatu kekurangajaran arjuna kepada kakaknya, puntadewa. werkudoro dilerem oleh punta dewa. ahirnya kresna dan werkudoro ke madukoro untuk ikut menghadiri undangan pernikahan pergiwati dan lesmana.

pancawala merasa sedih, dan dihibur punakawan. punakawan berjanji akan membantu. lalu mereka segera pamit dr siti hinggil ngamarta dan pergi ke madukoro untuk mengupayakan agar pergiwati mau untuk menikah dengan pancawala. sementara puntadewa mengundurkan diri dr siti hinggil dan menemui drupadi. berkata bahwa arjuna menolak lamaranya. drupadi sangat marah dan sedih. lalu meminta agar punta dewa mau membalas penghinaan arjuna. sangkin gmenahan emosi sudah lama, tak kuat lagi. puntadewa seketika menjadi raksasa yang menggetarkan jagad. segera pergi ke madukoro akan memangsa harjuna.

di taman kaputren madukoro. pancawala masuk ketemu pergiwati. sebenarnya ke 2 orang ini saling suka. tapi saling malu malu. dengan sedikit intrik intrik pancawala memeriksa kesetiaan pergiwati. ahirnya pergiwati mennagis dan mengaku menerima lamaran lesmana karena takut ayahnya. ahirnya pancawala dan pergiwati bercumbu ditaman. ketahuan, lalu geger. dengan bantuan antasena, antaredja dan gatotkaca para penghantar penganten kurawa bisa dipukul mundur.

arjuna marah mendengar kabar ini, tapi sebelum arjuna sempet mengatasi kerusuhan di kaputren, madukoro kedatangan raksasa luar biasa besar. arjuna kewalahan menghadapinya. sampe lari dan bersimpuh dibawah kaki kresna. disana kresna berkata apakah arjuna sadar kesalahanya kepada puntadewa?arjuna mengaku salah. lalu dusuruh oleh kresna untuk memakai baju putih putih bersama pergiwati dan pancawala untuk datang bersujud di kaki raksasa.

raksasa menjadi terharu dan berubah wujud kembali menjadi punta dewa. dan ahirnya pernikahan pancawala dan pergiwati dilangsungkan.

Baratayuda: Kala Kalabendana Menjemput 1
Sesungguhnya Dursasana waktu mendapat tugas dari kakaknya sudah enggan segera berangkat ke istana. Namun kematian Burisrawa kawan karibnya yang hanya bisa ia saksikan dari jauh, sebab ia sudah menyanggupi kembali ke Astina, menjadikan ia terpicu untuk segera berangkat malam kemarin. Keengganan yang berkepanjangan memaksa dirinya menunda keberangkatannya, namun kini ia terpaksa kembali ke peperangan dengan hati yang panas terluka.
Tak disangka oleh siapapun tadinya, malam kemarin itu sepeninggal Dursasana ternyata menjadi malam yang mengerikan. Prabu Salya yang terluka hatinya karena kematian putra kebanggaannya, satria Madyapura Arya Burisrawa, memarahi orang orang disekelilingnya. Sesabar-sabarnya Prabu Salya, kematian putra lelakinya yang terakhir kalinya ini, membuat ia betul-betul kehilangan kendali diri. Kemarahan melebar hingga lagi-lagi murka itu menyerempet kepada Adipati Karna. Tidak terima menjadi tumpuan kemarahan, Adipati Karna segera menyatakan madeg senapati malam itu juga. Dua kali ia telah dikenai hatinya oleh mertuanya dan sekali oleh resi Krepa, membuat ia kembali bergolak kemarahannya. Kemarahan yang tidak dapat dilampiaskan sebagaimana ia melampiaskan kepada Krepa, membuatnya ia memilih jalan lain untuk melampiaskan kekesalan hatinya.
Adipati Karna adalah seorang adipati dengan pengaruh kuat terhadap negara negara jajahannya, segera ia menyusun barisan yang berisi prajurit jajahan Awangga. Tak peduli lagi tentang tata krama perang yang berlaku, dengan menyalakan obor beribu-ribu ia menggerakkan pasukannya yang berujud para raksasa dari negara Pageralun yang dipimpin oleh Prabu Gajahsura, negara Pagerwaja yang dipimpin oleh Kelanasura dan negara Pagerwatangan dengan Lembusaka.
Majunya Adipati Karna sebagai senapati dan akan menggempur lasykar Randuwatangan malam itu benar benar tanpa tata krama, barisan raksasa membakari beberapa pasanggrahan garis depan dengan tiba tiba. Arya Drestajumna dan Wara Srikandi serta Setyaki yang lelah siang tadi bertarung sudah harus kembali menahan serangan musuh. Berita serangan itu akhirnya sampai ketelinga penghuni Randuwatangan.
Arjuna yang dari tadi duduk tenang segera menggeser duduknya. Panasnya hati mendengar kejadian yang tidak lazim, membuat ia menawarkan diri untuk menandingi majunya senapati Kurawa malam itu “Kanda Prabu, perkenankan adikmu ini hendak menandingi kesaktian kanda Basukarna. Bagi kami, kanda Adipati adalah jodoh kami dalam perang. Hamba mohon sekarang kami diijinkan. Inilah saat yang hamba nantikan kanda Prabu”.
“Arjuna, bila majunya Karna ada pada waktu yang benar, maka aku ijinkan kamu untuk menandinginya. Tapi sekarang yang terjadi adalah perang dengan tidak menggunakan tata aturan perang yang sudah disepakati. Perang waktu malam adalah tindakan yang bukan watak satria. Tenanglah lebih dulu, jangan terbawa oleh hawa kemarahan”.
“Werkudara, bila anakmu aku wisuda jadi prajurit untuk menghadapi musuh malam ini, apakah kamu setuju ?” Kresna yang dihadapi oleh Werkudara malam itu menanyakan kerelaannya.
“Anakku dilahirkan memang sebagai prajurit. Sudah semestinya peristiwa malam ini menjadi harapan bagi anakku untuk diberi kehormatan sebagai senapati. Tetapi kenapa harus Gatutkaca yang harus menjadi senapati malam ini ?”. Sahut Werkudara.
“Anakmulah yang mempunyai mata Suryakanta, yang dapat awas diwaktu malam, dan kotang Antrakusuma yang menyorot hingga dapat menerangi sekelilingnya”. Kresna menjelaskan dengan menyembunyikan kenyataan yang ia telah ketahui dari kitab Jitapsara. Saat inilah Gatutkaca harus pergi untuk menghadap hyang widi wasa.
“Apakah bila anakku ada apa-apanya, kamu bertanggung jawab atas penunjukanmu atas Gatutkaca ?” Kembali Werkudara dengan rasa was-was, naluri seorang ayah, menanyakan kepada Kresna.
“Aku adalah manusia yang mungkin dapat melakukan kesalahan, tetapi bila sampai anakmu gugur nanti, itu adalah mati dalam membela negara, mati sempurna sebagai kusuma bangsa, bukan mati sia sia. Kejadiannya akan tercatat dalam lembar sejarah dengan nama harum yang tak kan pernah tersapu oleh angin jaman. Masihkah kamu ragu ?” kembali Kresna meyakinkan hati adik iparnya yang masih saja ragu.
“Aku menurut apa kata katamu “ Werkudara akhirnya merelakan.
“Baik, adikku Drestajumna, panggil keponakanmu Gatutkaca menghadapku. Sekarang juga ”.
Segera menghadap Raden Gatutkaca kehadapan uwaknya, yang mengatakan bahwa kesaktian Gatutkaca-lah yang mampu membendung serangan Adipati Karna. Begitu mengetahui ia diberi kehormatan untuk menjadi senapati untuk berhadapan dengan Sang Arkasuta-Karna. Bangga hati Gatutkaca. Raden Arjuna-pun ikut memuji kesaktiannya yang dimiliki sang keponakan. Tersenyum lega hati dan gembira sang Gatutkaca setelah penantiannya, kapan ia akan diwisuda menjadi senapati dalam peperangan besar, segera malam ini terlaksana.
“Uwa Prabu, Rama Kyai, dan semua sesepuh, perkenankan hamba hendak berpamitan untuk maju ke medan pertempuran. Walaupun dalam dada ini tersimpan kemantapan diri yang besar, namun kesaktian uwa adipati Karna memang tidak dapat dianggap enteng. Dan tugas yang diberikan oleh para sesepuh dan orang tua kami, menjadikan rasa hamba bagaikan diberi kehormatan yang demikian tinggi, sejajar dengan derajat dari uwa Adipati Karna. Dan juga pemberian kesempatan sebagai senapati ini, putramu mengupamakan, sebagai hendak meraih bongkahan inten permata didalam taman surga”. Pamit Sang Purbaya kepada Prabu Kresna dan para sesepuh yang menyatakan sebagai meraih kebahagian sorga. Ia telah tidak sengaja berkata bagaikan pengucapan kata pamitan terakhir kalinya.
Kaget sang paman, Arjuna yang mendengar kata kata keponakannya itu. Kata kata terakhir ucapan Garutkaca, dalam pikiran Arjuna seperti halnya pamitan seseorang yang hendak mati. Segera dirangkulnya pundak Gatutkaca dengan air mata yang mulai menetes dikedua belah pipinya.
“Aduh anakku, kepergian adikmu Abimanyu sudah aku relakan. Ketika melihat sifat dan kesaktian yang kamu miliki, seakan tergantikan semua yang ada pada diri anakku. Namun dengan pernyataanmu tadi, aku merasakan adanya keanehan dalam ucapanmu tadi”.
“Permadi, tidak layaklah seorang satria memberi bekal tangis serta mengucapkan kata kata seperti itu kepada seorang senapati ketika ia hendak menunaikan tugasnya. Minggirlah, biar aku kalungi rangkaian melati buyut Prabu, sebagai tanda, bahwa sekaranglah saatnya Gatutkaca aku wisuda menjadi senapati”. Kata kata yang diucapkan Prabu Matswapati mau tidak mau membuat Arjuna menyisih memberikan kesempatan untuk eyangnya mengalungkan bunga sebagai tanda senapati.
Tak diceritakan persiapan prajurit Pringgandani, yang digerakkan oleh paman paman dari Raden Gatutkaca, Brajawikalpa, Brajalamatan dan para braja yang lain. Maka malam itu, campuh perang begitu mengerikan. Kedua pasukan yang berujud raksasa saling serang dengan suara raungan sebagaimana para raksasa. Suaranya terdengar bagai auman singa lapar dipadang rumput yang sedang berpesta bangkai kijang. Obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan mobat mabit membuat suasana perang menjadi begitu lain dari biasanya. Gemerlap pedang yang memantul dari cahaya merah obor berkilat bagai petir yang menyambar nyambar. Obor yang terpental jatuh seiring jatuhnya prajurit raksasa yang menjadi pecundang, tak urung membuat tanah yang mulai tergenang merah darah menjadi semakin merah. Bagaikan banjir api! Dan diangkasapun terang obor dimedan Kuru seakan menelan sinar sang hyang wulan.
Tandang sang Gatutkaca tak kalah membikin giris siapapun yang melihatnya. Gerakannya bagai kilat hingga yang terlihat adalah ujud Gatutkaca seribu. Sigap tangannya menyambar nyambar kepala lawan. Yang lunak ditempelengnya hingga hancur, sedangkan yang liat dipuntirnya kepala hingga terlepas.
Ketiga sraya dari negara taklukan Awangga tak berdaya. Kelumpuhannya tinggal menunggu waktu kapan ia didekati oleh sang Gatutkaca, maka kepalanya akan segera lepas dari lehernya.
Benarlah, tanpa perlawanan berarti ketiga sraya itu berhasil disudahi oleh tangan kekar Gatutkaca.

Baratayuda: Kala Kalabendana Menjemput (2)
Tetapi tidak hanya musuh yang tewas, kecepatan gerak dengan terbatasnya pandangan karena gelap malam dan sama sama berujud raksasa, para braja paman Gatutkaca ikut tewas oleh trengginasnya gerakannya yang begitu cepat.
Adipati Karna tidak dapat berbuat sesuatu lagi, selain harus menghadapi Gatutkaca sendiri. Maju ia setelah melihat prajuritnya banyak berkurang.
Segera Raden Gatutkaca dan Adipati Karna saling berhadapan. Adu kesaktian dan kekuatan saling dikeluarkan untuk melumpuhkan lawannya. Babak pertama Karna yang merasa keteter segera menerapkan ajiannya, Kalalupa. Ujud raksasa keluar dari tapak tangan Adipati Karna semakin banyak, menambah jumlah para raksasa yang dari ketiga negara jajahan Awangga. Dikerubut oleh makin banyak raksasa dengan perawakan yang sama, akhirnya membuat Gatutkaca keteteran. Segera serangan balik dilancarkan. Aji Narantaka warisan sang guru sekaligus buyut, Resi Seta, segera dirapal. Kobaran api menyembur dari kedua tapak tangan sang senapati, berkobar makin hebat padang Kurusetra oleh nyala api tambahan dari aji Narantaka. Semburan api dengan gemuruh keras membasmi raksasa jadian dari telapak tangan Karna. Mundur sang Adipati ngeri melihat semburan dahsyat api yang keluar dari ajian Narantaka senapati Pringgandani.
Terpesona Prabu Karna, dengan kesaktian sang Gatotkaca. Namun hal ini membawanya mengubah cara perangnya dengan menaiki kereta Jatisura, dengan kusirnya, yang juga patih Awangga, Patih Hadimanggala.
Malam yang sudah mencapai sunyi lewat tengah malam dihari lain, malam ini tidak berlaku. Geriap para raksasa yang sedang bertempur dengan geramannya masih membuat susana malam bagai terserang angin ribut. Kali ini ditambah dengan perbawa kesiur angin lesatan kereta Adipati Karna.
Diatas kereta, sang Adipati menyiapkan senjata Kunta Druwasa. Pusaka dewata yang dahulunya hendak dihadiahkan kepada Arjuna untuk memutus tali pusat Jabang Tetuka, bayi Gatutkaca, Atas keculasan Suryatmaja, nama Karna muda, pusaka itu jatuh ketangannya. Sedangkan Arjuna hanya mendapat sarungnya. Sarung itulah yang akhirnya bersemayam dalam puser sang Gatutkaca, ketika tali pusar berhasil diputus.
Waspada sang Gatutkaca ketika melihat Adipati Karna menghunus senjata Kunta Druwasa, dan bersiap melepaskan anak panahnya itu. Adipati Karna diuntungkan dengan sinar kutang Antrakusuma yang menyorot melebihi pijar sinar purnama didada musuhnya. Gatutkaca menghindari dengan naik lebih tinggi terbangnya, bersamaan lepasnya senjata Kunta. Ia melesat keatas awan, dengan harapan taklah panah Kunta berhasil mencapainya.
Syahdan, Kala Bendana, paman sang Gatutkaca, si raksasa boncel yang berhati bersih. Ia yang terbunuh tidak sengaja oleh keponakannya ketika bersaksi atas menduanya Abimanyu dalam beristri, dalam peristiwa Gendreh Kemasan, Ia masih tetap setia menunggu sang keponakan di alam madyantara.
Rasaksa lucu yang kini berujud sukma setengah sempurna itu, hendak menjemput sang keponakan pada waktunya, ketika perang besar Baratayuda berlangsung. Saat inilah yang ditunggu. Maka ia bersiap berkeliling diatas arena tegal Kuru malam itu.
Maka ketika melihat lepasan sang Kunta Druwasa, disambarnya anak panah yang sebenarnya tak kuat sampai di sasaran diatas awan itu dan dibawanya menghadap Gatutkaca.
Kaget sang Gatutkaca ketika melihat sang paman datang keatas awan dengan membawa Kyai Kunta Druwasa sambil menyapa.
“Anakku Gatutkaca, sudah sampai saatnya pamanmu menjemputmu, Mari anakku, aku gandeng tanganmu menuju sorga “.
Takzim Gatutkaca menghormat pamannya.“Oh, paman . . . Aku tidak mengelak akan kesediaanku sesuai dengan janjimu. Putramu ikhlas, mari paman. Tapi perkenankan anakmu meminta sesuatu darimu”. Tak dapat menolak Gatutkaca atas ajakan pamannya. Ia telah pasrah dan mengaku segala kesalahannya dimasa lalu. Ia minta sesuatu sebagai permintaan terakhir terhadap pamannya.
“Dengan senang hati, anakku. Apa permintaanmu ?” senyum sang paman menanyakan permintaan keponakannya.
“Kematianku harus membawa korban dipihak musuh sebanyak banyaknya, hingga perang malam ini berakhir”. Jawab Gatutkaca mantap.
“Baik aku bisa melakukannya !”
Maka diarahkannya pusaka Kunta itu ke arah pusar sang Gatutkaca yang tersenyum menerima takdirnya. Melayang sukma Raden Gatutkaca ketika pusaka Kyai Kunta Druwasa masuk kedalam sarungnya. Dengan rasa kasih, digandengnya tangan kemenakannya menuju swarga tunda sanga. Penantian panjang sang paman akan keinginannya pergi berbarengan ke suarga bersama kemenakan tersayang, hari ini berakhir.
Bersatunya Kunta Druwasa kedalam sarungnya, menimbulkan akibat yang hebat. Sejenak kemudian diiringi suara mendesing, kemudian disusul suara gelegar hebat bagai suara meteor, raga Gatutkaca melesat menuju medan peperangan dibawah sana. Kecepatan lesatan raga Gatutkaca tak terkira cepatnya menimpa kereta perang Adipati Karna beserta sang kusir Hadimanggala. Tewas seketika sang patih. Remuk kereta Jatisura terkena tubuh sang Gatutkaca yang meledak menggelegar, menimbulkan lubang besar bertumbak-tumbak luasnya.
Begitu pula dengan putra Adipati Karna, Warsakusuma yang ikut ayahnya dalam peperangan juga tewas. Namun Adipati Karna berhasil menghindar.
Akibatnya, arena bagai terkena bom dengan daya ledak tinggi, hingga menewaskan banyak barisan prajurit. Gelombang kejut yang terjadi dari ledakan tubuh sang Gatutkaca menimbulkan hawa panas yang dahsyat hingga mampu meleleh luluh lantakkan apapun yang ada disekitar jatuhnya raga. Jangankan tubuh manusia, hewan tunggangan dan para raksasa, persenjataan yang terbuat dari logam-pun, cair meleleh, kemudian menjadi abu. Dan seketika perang terhenti !
Berhenti perang meninggalkan luka dalam dihati Werkudara. Segera dicarinya Adipati Karna yang lari tinggalkan gelanggang peperangan.
Segera Sri Kresna menghentikan tindakan Werkudara. Disabarkan hati adik iparnya agar menunda dendamnya. “Lebih baik beritahu istrimu lebih dulu mengenai kejadian yang berlangsung malam ini. “Mari kita datang bersama dengan saudaramu yang lain untuk menghibur hatinya”.
“Kalau mau pergi ke Pringgandani, pergilah ! Aku tidak tega melihat apa yang akan terjadi disana !”. Werkudara pergi sendirian kearah tak tentu dengan hati yang kosong. Kerasnya baja perasaan sang Bimasena tidak kuasa untuk membayangkan, lebih jauh lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa hancur perasaan istri yang sangat dicintainya. Istri sakti yang tindakannya dimasa lalu berbuah jasa yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya, bahkan bagi kelangsungan hidup dan kejayaan seluruh keluarga Pandawa.
Kedatangan para Pandawa di sisa malam tanpa suaminya, membuat Dewi Arimbi terkesiap hatinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang terjadi terhadap suami atau terlebih lagi bagi anaknya. Maka begitu diberitahu akan peristiwa yang terjadi malam tadi, ia berkeputusan untuk mengakhiri hidup dengan bakar diri dalam api suci. Demikan juga dengan Dewi Pregiwa, keduanya sepakat untuk bersama sama mengiring kepergian anak dan suami mereka. Semua saudara ipar dan Prabu Kresna tidak kuasa untuk membendung keinginannya. Maka upacara segera dimulai.
Dengan busana serba putih, sang Arimbi naik ke agni pancaka, menggandeng menantunya. Ia telah memutuskan pilihannya, tetap bersama suami atau mendampingi anak tunggal kekasih hatinya.

Baratayuda: Drupadi telah meluwar Janji 1
Kembali seorang dari saudara Pendawa terkena tekanan jiwa karena kematian anak tercinta. Padahal mereka tahu, kematian bagi seseorang yang masuk dalam arena pertempuran pilihannya adalah mukti atau mati. Tetapi tetap saja terjadi, setelah kematian Abimanyu anak Arjuna yang menjadikan Arjuna kehilangan pegangan diri, kali ini Sang Bima Sena-pun mengalami hal yang sama.
Tidaklah ia menyalahkan siapapun, Prabu Kresna, Karna atau dirinya sendiri. Kerelaannya melepas kepergian anaknya menjadi senapati malam itu adalah atas niat suci. Namun kenyataan yang terjadi tidak urung membuat perasaannya yang teguh sedikit banyak telah terguncang. Ketiga anak lelakinya telah mendahuluinya meraih surga. Yang pertama ketika mengikhlaskan Antareja menjadi tawur atas kejayaan trah Pandawa sebelum pecah perang waktu lalu . Kemudian berita telah sampai pula ditelinganya, ketika Antasena juga telah merelakannya akhir hidupnya atas keinginannya untuk tidak menyaksikan dan mengalami perang Barata, asalkan para orang tuanya unggul dalam perang itu. Ia dengan sukarela tersorot mata api yang tajam Batara Badawanganala, hingga lebur menjadi abu.*)
Maka ketika anak lelaki keduanya tersambut rana dalam peperangan, maka remuk redam hatinya tanpa dapat mengalirkan air mata. Dengan pikiran yang kosong Werkudara berjalan menjauhi arena peperangan. Tak terasa langkahnya sampai dipinggir bengawan Cingcingguling ketika waktu belum lagi menjelang siang. Rasa lelah semalaman dalam menghadapi barisan raksasa dari Pagerwaja, Pageralun dan Pagerwatangan, membebani raga sang Bima, ditambah jiwa yang terluka menganga, merana ditinggalkan semua anak tercintanya. Walau amuknya semalam telah menelan korban kedua adik dari Patih Sengkuni, Anggabasa dan Surabasanta, namun tetap ia tidak puas sebelum membalas kematian terhadap Adipati Karna. Rebahlah dibawah randu hutan dipinggir bengawan, sang Bima melepas lelah.
Satu bingkai demi bingkai bayangan peristiwa masa lalu mengalir bagai kejadian yang baru saja terjadi. Dibayangkannya sosok sang istri yang begitu menyayanginya dengan segenap jiwa dan raga. Wanita yang sesuai dengan angan angan ketika ia memilih istri. Wanita yang lembut namun perkasa dan sakti mandraguna.
Berkelebat bayangan kejadian pahit manis perjalanan kasih, hidup dan perjuangannya dengan sang istri. Saling bahu membahu dengannya ketika membangun Negara Amarta dari asal hutan Wisamarta yang demikian angker dengan penunggu para lelembut sakti. Para Drubiksa penghuni hutan yang ternyata mereka adalah pemilik negara maya dalam hutan itu, bahkan telah menyatu dalam jiwa masing masing pribadi para Pandawa. Terpesonanya diri ketika melihat perubahan ujud raseksi Arimbi yang begitu perkasa dan sakti, menjadi sedemikian cantik karena sabda sang ibu, Prita-Kunti Talibrata, ketika menyaksikan Arimbi yang demikian cantik budi perilakunya dalam membantu anak anaknya, sehingga tercetus kata mantra Sabda Tunggal Wenganing Rahsa ke telinga Arimbi.
Istri yang telah memberikan warna hidup hingga lebih cerah ketika ia melahirkan seorang putra yang walau masih ujud bayi merah, Jabang Tetuka, tetapi oleh olah para Dewata, anaknya itu dibuat cepat dewasa dengan kekuatan bagaikan berotot kawat tulang besi. Ia telah berhasil membebaskan Kahyangan Jonggring Saloka dengan mengenyahkan Prabu Kalapercona dan para punggawanya yang sedemikian sakti. Putra yang sangat ia banggakan dengan sosok yang dambaan yang melekat pada angan angannya. Putra sempurna yang merajai negara tinggalan dari orang tua ibunya, sekaligus musuh Pandu, orang tuanya, yaitu Prabu Trembuku. Itulah Negara Pringgandani.
Tetapi belum semua kelebat bayangan masa lalunya usai, angan angannya itu buyar, ketika terdengar suara berisik yang dikenalinya. Warna suara itu, suara teriakan sesumbar itu. Itulah suara sesumbar dari Dursasana.
Manusia berangasan yang sedang panas hatinya sekembali dari taman Kadilengeng di istana Astina, nyerocos sepanjang jalan. Tantangan dari iparnya, Banuwati, untuk mengalahkan Arjuna, serta hinaan kepadanya yang dituduh sebagai manusia yang takut darah, menjadikannya ia sangat bernafsu untuk segera menaklukkan Pandawa.
Sekarang hati Werkudara menjadi gembira bukan main, seakan ia menjadi anak kecil yang mendapat mainan baru. Dalam hatinya mengatakan, inilah pelampiasan dendam atas kematian anaknya tadi malam.
Bangun ia dari rebahannya, segera diketatkan segala pakaian yang melekat ditubuhnya siap untuk bertempur kembali. Kelelahan jiwa raga yang mendera, berganti dengan kesegaran yang mengalir dari dalam rasa hati. Melompat sang Bima menuju kearah suara yang nyerocos sesumbar tak henti hentinya.
Demikan juga dengan Dursasana yang merasa sangat senang, ketika melihat Werkudara menghadang langkahnya. Tidak disangka, belum sampai dimedan peperangan, orang yang dicari muncul lebih cepat dari pada yang ia bayangkan.
“Hee . . .Wekudara, kamu ternyata ada disini ! Tidak usah repot repot mencarimu ditengah banyaknya manusia yang sedang menyabung nyawa ! Sekalian aku hendak membalaskan kematian anakku Dursala karena ulah anakmu Gatutkaca ! kalimat yang terucap disertai tawa yang mengalir dari mulutnya tanda kegembiraan karena keinginannya akan segera terwujud.
“Apa maumu ?!” Bimasena menyahut sekenanya.
“Sekarang atau nanti, di Palagan Kurusetra atau disini sama saja. Sekaranglah waktunya untuk kita mengadu kesaktian, satu lawan satu, siapakah sebenarnya yang mempunyai kaki yang lebih kokoh, lengan yang lebih kekar dan tenaga yang paling kuat diantara kita berdua !” yakin Dursasana kali ini dapat menjadi pahlawan ketika nanti ia dapat merobohkan tulang punggung trah Pandawa ini.
“Waspadalah, ayo kita mulai !” Siaga Werkudara setelah ia berhenti berucap.
Maka tanding antara tulang punggung kedua bersaudara Pandawa dan Kurawa mulai berlangsung. Kaki kanan Dursasana mengayun ke dada Werkudara dielakkan dengan sedikit memiringkan badan. Merasa tidak akan bisa mengenai sasaran, segera Dursasana menarik kembali serangannya, kemudian ganti tangan kirinya hendak menyapu pundak Bima. Gerakan Dursasana yang lurus menyerang pundaknya segera ditangkis dengan tangan kanan, benturan kedua tangan terjadi. Sentuhan tangan keduanya memulai kontak tenaga sebagai penjajakan atas kekuatan diantara keduanya. “He he he . . . . bagus juga kekuatanmu, jangan keburu senang dengan berhasil menghindari serangan pertamaku. Ayolah sekarang ganti kamu yang menyerang, aku tidak akan mengelak seberapapun kekuatan yang hendak kau kerahkan”
“Jangan banyak mulut, terimalah kerasnya tapak kakiku !”
Kembali keduanya siap dengan kuda kudanya. Kali ini kaki kanan Werkudara diangkat mengarah dada Dursasana yang mencoba menahan dengan kedua tangannya yang bersilang didepan dadanya. Ketika kaki Werkudara beradu dengan tangan Dursasana, segera Werkudara menambah daya kedut pada kakinya hingga Dursasana terpaksa menahan. Sejenak kemudian kekuatan kaki Werkudara telah mendesak tahanan serangan Dursasana yang terpaksa menggulingkan diri. Werkudara mencecar dengan hendak menginjaknya, namun waspada Dursasana yang segera menyapu gerakan kaki Werkudara sambil meloncat bangun. Benturan kaki keduanya terjadi dengan kerasnya dilambari dengan kekuatan ajian masing masing.

Baratayuda: Drupadi telah meluwar Janji (2)
Terlempar keduanya beberapa langkah kebelakang dengan mulut masing masing mendesis menahan nyeri tulang kering mereka. Kemudian mulut Dursasana mengalirkan sumpah serapah seperti kebiasaanya.
Kembali Dursasana mengayunkan kaki mengarah ke lambung Werkudara yang sudah siap dengan kuda kudanya. Tetap dengan mulut yang tak mau diam dengan caci makinya. Kaki beradu kaki berulang terjadi, berganti kanan kiri diselingi sambaran kepalan tangan dari keduanya. Saling serang dan elak berlangsung seimbang pada mulanya. Tanding keduanya bagaikan perkelahian seekor gajah dengan seekor harimau. Gerak sentosa Werkudara yang kokoh maju setapak setapak menahan dan menyerang balik Dursasana yang berkelahi bagai seekor singa. Hutan pinggir sungai bagai terbabat oleh sabetan tangan dan kaki kedua musuh abadi itu. Tanaman perdu patah rata tanah, sedangkan yang besar besar batangnya bertumbangan bahkan ada yang rungkat beserta akarnya.
Tapi yang berkembang kemudian adalah akibat dari jejak laku dari keduanya. Werkudara yang telah tertempa secara fisik dan telah menyerap segala kesaktian dari Ajian Bandung Bandawasa, Blabag Pengantol-antol hingga menyatunya saudara tunggal bayu serta kekuatan raksasa Kumbakarna yang ia peroleh di sekitar hutan Kutarunggu. Ketika itu Kresna yang menyamar menjadi Begawan Kesawasiddi dan memberi wejangan Hastabrata kepada Arjuna, sehingga Werkudara mendapat tambahan kekuatan selagi ia mencari keberadaan Kresna dan Arjuna. Usaha “tarak brata” inilah yang membuat ia lama kelamaan menjadikannya Werkudara unggul telak daripada Dursasana yang jarang melakukan usaha peningkatan ilmu kesaktian dengan lebih enak tinggal di istana.
Ketika Dursasana gagal mengungguli dengan kekuatan tangan kosong, berganti ia mencoba menggunakan limpung dan kemudian gada. Werkudara melayani kemauan Dursasana dengan kuku pancanaka dan batang gada Lukitasari. Dengan langkah mantap, Werkudara melayani serangan bertubi tubi dari Dursasana. Namun tetap saja, walau Dursasana mengerahkan segala kesaktiannya, keteguhan Werkudara tetap tak tergoyahkan.
Merasa keteteran dengan tandang Werkudara, Dursasana mencoba mencari akal lain dengan berusaha menguras tenaga lawan. Ia berlari dan melawan dengan berulang ulang kemudian melompati kali Cingcingguling.
“Werkudara . . . . Ayuh kejar aku keseberang! Kamu tunjukkan seberapa kuat tenaga seribu gajah yang kamu miliki ! “ Ia berharap sebelum kaki Werkudara menapak tebing seberang ia sudah kembali menyerang sehingga lawannya kehilangan keseimbangan kemudian serangan beruntun dilancarkan hingga lawan dengan mudah disasarnya.
Ketika perkelahian itu berlangsung, Prabu Kresna yang kehilangan adiknya, segera melacak jejak Werkudara. Pengalaman ketika ia kehilangan jejak Arjuna ketika adiknya itu terkena tekanan jiwa atas kematian Abimanyu, membuat intuisi Kresna segera menemukan dimana adanya Werkudara yang mengalami kesamaan peristiwa seperti Arjuna ketika itu.
Maka ketika dilihatnya yang dicari sedang bertempur diarena yang tidak resmi dan ia berketapan hati Dursasana akan dikalahkannya, maka diutusnya seseorang untuk menjemput Drupadi.
Dan memang benar. Tak lama kemudian usaha Dursasana dalam mengubah strategi menjadi tak berarti karena kalah unggul kekuatan dan kesaktiannya. Tambahan lagi, ketika campur tangan pihak ketiga juga ikut bermain. Sarka dan Tarka, kedua arwah tumbal yang tak rela atas kematiannya masih juga melanglang di alam madyantara juga hendak menuntut balas atas kematiannya.
Maka begitu kesempatan itu datang, juntaian akar pohon tepi sungai menjadi sarana atas dendam keduanya. Kaki Dursasana yang diperkirakan menginjak tebing sungai dengan mulus, tersandung akar dan goyah langkahnya. Kesempatan ini digunakan sepenuhnya oleh Werkudara yang dengan sigap menjambak rambut lawannya, dan kakinyapun mengunci gerak lawannya. Dengan tenaga penuh dipuntirnya tubuh Dursasana bagaikan seekor buaya memutar mangsanya, Werkudara memperlakukan tubuh musuhnya.
Pucat pasi wajah Dursasana ketika sudah terkunci tak bisa bergerak lagi dengan tulang yang sudah patah pada beberapa bagian. “ Adikku Werkudara, lepaskan aku ! Berikan kakakmu sedikit rasa kemanusiaanmu. Kendurkan pitinganmu, aku mengaku kalah, ampuni aku, berikan aku hidup. . . . . . . .” Memelas kata kata permohonan ampun meluncur dari mulut Dursasana.
“Tutup mulut buayamu yang kotor ! Kamu harus ingat ketika kamu masih dalam keadaan jaya, tingkah lakumu sungguh sangat membuat jengkel saudara sepupumu. Sekarang waktunya kamu menuai tindakanmu dahulu yang selalu mencari kematian kami semua bersaudara anak Pandu. Bahkan kakak iparku Drupadi hendak kau buat malu ketika kamu menang dalam judi dadu, hingga sumpahnya harus aku luwar, agar ia dapat kembali bergelung”. Mendengar permohonan ampun tidak digubris, dengan muka yang memerah marah dan gemetar, kemudian berubah pucat pasi tanda keputus asaan mendera dadanya.
Maka takdir menjemput akhir hidup manusia yang selalu berjalan dalam kepongahan itu dengan sumpah serapah yang masih membuncah dari mulutnya. Kekesalan Bima terlampiaskan dengan memelintir anggauta tubuh lawannya hingga tercerai berai. Tidak puas juga, bagian anggauta badan Dursasana yang sudah tercerai berai dilemparkan kesegala penjuru.
Memang demikian, Dewi Drupadi, ia pernah mempunyai janji, ia tak kan pernah bergelung rambutnya apabila ia belum berkeramas dengan darah Dursasana. Janji itu terucap ketika ia hendak dipermalukan oleh Dursasana di arena judi dadu. Janji itu terucap disaksikan oleh semua yang hadir dalam arena itu termasuk Prabu Kresna. Walaupun ia tak dapat dipermalukan karena pertolongan dewa, kain yang menutup tubuhnya tak dapat dilepas seakan tiada berujung. Maka kesempatan itu tak hendak dilalukan. Bima yang teringat akan sumpah kakak iparnya segera menyedot darah Dursasana dengan mulutnya hingga kumis dan jenggotnya tergenang merah darah. Sampai ditempat kakak iparnya Draupadi, dituangkannya darah Dursasana dari mulut dan perasan darah dari jenggot dan kumisnya, yang kemudian dipersembahkan dihadapan Drupadi yang dengan senang hati menjadikannya luwar atas janjinya ketika itu.

*). Pada versi pedalangan Banyumasan, ada empat anak Werkudara. Satu yang hampir tak pernah disebut, yaitu Raden Srenggini. Sedangkan pada masa lalu, pedalangan gaya Surakarta menyatakan Antasena dan Antareja adalah sosok yang sama.

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri
Sejenak kita kembali kepada saat padang Kurusetra bergejolak, atas kehendak Adipati Karna dalam menjalankan perang di waktu malam. Kita beralih ke tempat yang lain namun dalam waktu yang bersamaan, di hutan Minangsraya. Ditempat ini terlihat bentangan suasana alam nan luas. Suasana yang tergelar samar dan muram, seperti halnya cahaya kunang kunang. Tak berdaya sinarnya, kalah tertelan oleh cahaya bulan purnama di awang awang. Ketika itu pranata mangsa telah menunjuk pada musim kemarau dan awan tipis berarak di kaki langit, menjadikan terpesona yang melihatnya. Bahkan juga mahluk seisi hutanpun ikut terpana, batang pohon kayu besar-pun terbakar.
Gambaran suasana yang ada di hutan Minangsraya ini, saat Pandita Durna yang terlunta lunta dan sakit hati, dijatuhi murka sang Duryudana. Duduk bersila dibawah pohon baniyan, resi Durna mengheningkan cipta. Semua pancaindriya dimatikan, hanya rasa jati yang dimunculkan. Terseret sukma sang begawan kedalam alam layap leyep, alam samar. Dan pesatlah laju suksma sang Pandita melesat keharibaan sang gurunadi, guru sejati, Ramaparasu.
Kaget sang Ramaparasu melihat datangnya Kumbayana yang menampakkan wajah murung.
Sembah bakti telah dihaturkan ke haribaan Ramaparasu atau Ramabargawa. Kemudian Kumbayana menyampaikan segala isi hatinya.
“Guru, hamba telah kehilangan harta yang tak bernilai harganya. Bahkan seluruh raga ini telah terasa bagai terseret runtuhan gunung Mahameru. Luluh lantak sudah tak berujud lagi”
“Apa sebab kamu merasa demikian, segala kesaktian, guna kawijayan kanuragan, kasantikan telah kau terima dariku waktu lalu, bagaikan telah tertuang habis mengalir kepadamu. Dan bila kamu merasa telah kehilangan harta yang tak ternilai seperti yang kau sebutkan tadi, segera jelaskan apa maksudnya.” Rama Bargawa menanyakan, namun dalam hatinya ia tidak syak lagi, bahwa didepan telah menjelang peristiwa besar yang menanti garis perjalanan Kumbayana muridnya.
“Bapa Guru, hamba telah kehilangan kepercayaan dari junjungan hamba Prabu Duryudana dalam mengemban tugas sebagai seorang senapati. Inilah yang hamba anggap kehilangan yang terbesar dalam hidup. Kehilangan kepercayaan yang berturut turut terjadi, setelah putra kesayangan hamba satu satunya Aswatama, telah diusir jauh dari pandangan mata junjungannya. Dan kini kehilangan kepercayaan dari seorang raja mengenai kegagalan hamba dalam melakukan tugas, adalah, bagai runtuh dan leburnya harga diri. Sekali telah runtuh, banyak waktu dan usaha yang teramat sulit untuk mendirikannya kembali, malah mungkin tak kan pernah lagi terbangun kepercayaan itu lagi” sedih Kumbayana memuntahkan isi hatinya, mukanya tertunduk dalam, menanti jawab sang guru yang apapun ucapannya nanti, dalam niatnya ia akan menjalankan sepenuh hati.
“Jadi apa maksudmu sekarang ? Apalagikah yang harus aku berikan untuk mengatasi masalahmu ?” sang guru sebenarnya berwatak keras sepanjang hidupnya, namun sekarang tersentuh hatinya menanyakan maksud Kumbayana.
“Berilah hamba pencerahan. Krisis kepercayaan yang terjadi pada diri hamba sekarang, telah menutup nalar hamba terhadap segala pertimbangan dan keputusan yang harus hamba ambil. Sekali lagi mohon pencerahannya bapa guru.” Memohon dengan seribu hormat Kumbayana kepada sang guru.
“Sekarang kamu sedang menimbang perkara apa ?” Kembali Ramaparasu menegaskan pertanyaannya.
“Haruskah hamba meneruskan peran yang sedang hamba pikul dipundak ini, apakah cukup disini riwayat Kumbayana, dan kemudian beban itu kami letakkan ? Kemudian hamba minta kerelaan paduka guru, agar hamba dapat menjadi abdi paduka guru selama lamanya !” Kumbayana mengakhiri kalimat itu dengan kesan mendalam bagi sang guru bahwa ia benar benar ada dalam keputus asaan yang berat.
“Kumbayana, pantang bagi manusia sepertimu yang walaupun pada kenyataanya kamu adalah seorang pandita, namun dalam jiwamu masih bersemayam jiwa satria yang kuat. Seharusnya kamu tidaklah meletakkan beban yang disandangkan ke punggungmu, bila belum memperoleh kata perintah berhenti dari yang memberi beban. Apalagi menyerah kemudian memilih pergi ke alam kesejatian”. Sejenak Rama Parasu berhenti berbicara, ia mengamati perubahan air muka Kumbayana. Lanjutnya “Bila alam kesejatian yang hendak kau raih, jalan kearah itu janganlah dilalui melewati keputus asaan. Segeralah kembali ke medan Kurusetra. Tak perlulah kamu kembali kehadapan Duryudana, tapi segeralah kerjakan apa yang menjadi tugasmu. Menang atau kalah itu adalah darma satria. Menang kamu harus meneruskan darmamu, dan bila kalah, jalan kesejatianlah itulah benar yang seharusnya kau lalui menuju tepet suci. Itu adalah seharusnya jalan utama bagi seorang kesatria yang harus dilalui ”
“Baik, hamba akan menuruti segala sabda paduka Guru.” Mengangguk Kumbayana, mengerti yang dimaksudkan oleh gurunya.
“Terimalah bekal sarana sakti dalam menuntaskan tugas itu. Bulu merak ini mampu membuatmu tak kan terlihat dengan mata telanjang. Syaratnya adalah kamu tidak boleh bicara ketika menggunakannya. Tetapi bila anak anakmu Pandawa kuasa untuk mengantarmu kealam abadi nanti, itu pertanda bahwa merekalah yang sebenarnya berlaku benar dan pantas memenangi perang, atau sebaliknya.”
Kembali ke raga, sukma sang Kumbayana, setelah mendapatkan pembekalan dari sang gurunadi. Langkah ringan Pandita Durna diayun kembali ke Kurusetra. Ia telah menimbang nimbang tentang hal dihadapannya. Mukti dan mati sekarang terlihat bagai hanya tersekat oleh lembaran setipis kulit bawang. Ketidak percayaan akan kemampuannya sebagai senapati, akan ia balikkan menjadi keberhasilan bagi negara tempat ia mengayom, bagi dirinya sendiri dan terpenting bagi anak turunnya Aswatama. Itulah tekad yang menguat di hatinya. Apapun kejadiannya nanti, telah tidak menjadi beban lagi baginya.
Malam tinggal sepotong. Malam yang ditempat lain, di padang Kurusetra baru saja terhenti persabungan nyawa, prajurit Pringgandani melawan prajurit dari negara Awangga dan segenap jajahannya. Malam dengan pemandangan dan peristiwa yang mengerikan. Namun ditempat ini, langkah Pandita Durna seakan diberkati alam semesta. Pemandangan alam yang dilalui menampakkan asrinya hamparan keindahan bagai sebuah tamasya. Bulan lepas purnama mengambang dilangit, sinarnya terbias oleh air telaga bening bagai bayangan seekor kura kura yang mengambang. Sementara sisa gelap malam masih mengelipkan bintang bintang yang menyebar bagai terpencarnya sari bunga tertiup angin. Ayam hutan berkokok merdu dari arah ladang pegagan, ketika sang Pendita telah sampai dipinggir hutan menjelang terang fajar.
*****

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri (2)
Dan ketika semburat merah matahari kembali menerangi hamparan perdu pinggir hutan Minangsraya, dilihatnya Patih Sangkuni berjalan diiring oleh anak terkasihnya Aswatama. Dapat akal ia untuk menguji ilmunya, segera ajian Laring Merak dirapal menurut petunjuk sang guru. Dicolek patih Sangkuni dengan gaya kocak kebiasaan mereka berdua yang sering bercanda.
“Aswatama, kamu mencolek colek aku, ada apa ?!” Sangkuni yang terheran, menanyakan ke Aswatama ketika punggungnya merasa ada yang menyentuh.
“Hamba tidak melakukan itu paman” sanggah Aswatama.
“Lha kalau begitu, pasti disini banyak jin setan periprayangan yang kerjaannya mengganggu manusia !” Sangkuni setengah berbisik mengatakan kepada Aswatama.
“Tapi hamba tak diganggunya. Mungkin hamba orang yang tidak banyak dosa jadi tidak diganggu.” Jawab Aswatama sekenanya.
“Kalau begitu aku ini manusia yang banyak dosa, begitu ?” kembali Sangkuni menegaskan.
“Ya begitu, memang kenyataannya !” terkekeh Pandita Durna menyahut. Maka tampaklah sosok Durna dihadapan keduanya.
Gembira Patih Sangkuni segera merangkul Pandita Durna. Kemudian berganti sang Pandita merangkul anak tunggal kesayangannya, Aswatama.
“Lha Wakne Gondel, sudah dua malam aku mencarimu, ayolah kakang, Sinuwun sudah mengharapkan wakne Gondel untuk meneruskan peran andika sebagai senapati. Sinuwun Prabu Duryudana menyampaikan rasa sesal yang tak terkira. Maklumlah, beliau banyak beban dipunggungnya yang kian berat. Apalagi kematian putra lelaki satu satunya, telah meruntuhkan moral perangnya. Tugas wakne Gondel sekarang adalah, mengangkat kembali moral sinuwun Prabu Duryudana.”
“ Ya aku sanggupi. Hari ini sebelum matahari tenggelam, aku sanggup menyelesaikan perang dengan kemenangan !“. Pendeta Durna menjanjikan.
“ Anakku Aswatama, untukmu aku pesankan, jangan dulu kamu ikut dalam pertempuran ini, pergilah menjauh dari arena. Kalau aku sudah dapat membuktikan kerjaku, pasti sinuwun Duryudana akan mengampuni kesalahan kamu “.
Berita kembalinya Pandita Durna telah memberi bahan bakar semangat baru bagi prajurit Kurawa. Prabu Duryudana gembira mendengar kedatangan kembali agul agul sakti sebagai senapati. Melebihi kegembiraan ketika malam tadi, kakak iparnya, Adipati Karna telah berhasil membunuh Gatutkaca.
Walaupun sang Pendita tidak langsung menghadap, namun kesediaannya kembali mengatur peperangan yang disampaikan oleh pamannya, Sangkuni, telah menjadikannya Duryudana bangkit kepercayaan dirinya lagi.
Perang campuh pun kembali berlangsung siang itu. Telah tersedot habis tenaga dalam peprangan malam kemarin, sisa prajurit Kurawa yang selamat dari kehancuran perang malam telah kembali bertarung mengadu peruntungan siang ini.
Melihat kelelahan yang mendera para prajurit Bulupitu, sang Senapati tidak tega. Maka diambil alihlah kendali peperangan dengan peran utama ada pada tangan Pandita Durna sendiri. Amukan sang Senapati tua, yang kembali dari pengasingan diri kemarin hari, membawa korban sedemikian besar bagi para prajurit Amarta. Senjata Jayangkunang ditangannya dengan ajian laring merak yang membuatnya tidak kasat mata. Mengerikan bagai seberkas api ndaru braja berkobaran ditengah palagan peperangan, menghanguskan siapapun yang berani menghadang gerakannya. Gerakannya yang kadang mematikan nyala kerisnya dan berpindah posisi amukannya membuat lawan kerepotan dalam menentukan dimana arena amukannya akan terjadi.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi prajurit Amarta, Drestajumna segera menghadap Sri Kresna dan Arjuna.
“Dhuh para sekti, kami meminta pertimbangan kepada paduka, apakah yang harus kita lakukan agar dapat menghentikan amukan senapati yang tak terlihat dengan mata para prajurit”.
“Adimas Drestajumna, sudah aku pikirkan sebelum dimas sampai dihadapanku. Aku akan mengutus kakakmu Arjuna, untuk menghentikan jatuhnya korban dari tangan Pandita Durna”. Tenang Prabu Kresna memberikan ketegaran hati kepada sang senapati Pandawa.
“Adikku Arjuna, hanya kamulah yang dapat menghentikan amukan gurumu Resi Kumbayana. Hanya pesanku, jauhkan rasa yang mengatakan itu adalah gurumu yang harusnya kamu hormati dan patuhi semua perkataannya. Ingatlah kata kataku waktu lalu, yang mengatakan, ini adalah perang dimana tidak ada balas budi antara guru dengan muridnya. Yang ada hanyalah perang dimana tempat itu adalah arena untuk meluwar segala janji dan memetik yang kita tanam”. Kresna mengulangi pesan yang pernah ia sampaikan ketika perang baru saja berlangsung. Ketika itu ragu hati Arjuna menyaksikan lawannya adalah para saudara sendiri, paman, eyang, bahkan gurunya sendiri, hingga membuat semangatnya luluh dan ia jatuh terduduk dengan badan yang gemetar.
“Kata kata kanda Prabu akan kami junjung tinggi dan akan hamba laksanakan. Mohon petunjuk kanda Prabu selanjutnya” Mantap Janaka menjawab.
“Baiklah. Sarana untuk melihat keberadaan lawanmu adalah rumput Sulanjana yang kamu miliki sejak lama, pergunakanlah untukmu sendiri dan orang orang yang kamu percayai dalam membantu usahamu, adimas”. Pesan Prabu Kresna mengakhiri pembicaraan.
Maka beranjaklah Arjuna mengatur barisan dan menggunakan sarana agar dapat melihat dimana adanya musuh yang tidak terlihat itu. Sementara Kresna memberi pesan juga, agar mengulur waktu karena dirinya hendak mencari keberadaan Werkudara yang meninggalkan Tegal Kuru tanpa pamit hendak kemana.
Prabu Drupada yang mendapatkan jatah rumput sulanjana segera menghadang gerakan Pandita Durna. Ia merasa masih punya ganjalan dengan teman karibnya dahulu. Setengah memaksa kepada Arjuna dan anaknya Drestajumna, agar ia dapat melayani senapati Bulupitu itu.
Maka ketika sari rumput sulanjana sudah diteteskan pada matanya, Drupada dengan mudahnya mendapati dimana Begawan Durna berada.
“Heh Kumbayana, tak ada gunanya kamu bersembunyi dalam ajianmu. Ayolah kita menentukan siapa sejatinya yang lebih benar dalam persoalan trah Barata ini”.
“Ooh . . kakang Sucitra, baik aku layani segenap kesaktian yang kamu miliki. Lupakan saat dahulu ketika bersama sama berguru. Lupakan saat kita sudah melewati simpang jalan dan kamu sudah mukti wibawa di Pancalaradya, yang mengakibatkan kamu kurang berkenan, karena aku kurang tata susila ketika aku menemuimu. Peristiwa yang membuat marah adik iparmu Gandamana dan membuat cacat seluruh ragaku. Tapi dalam pertemuan ini, persahabatan kita harus berakhir dalam permusuhan. Salah satu dari kita harus berakhir masa pengabdiannya sebagai tokoh yang membawa kebenaran dalam sudut pandang kita masing masing”.
Maka bersiaplah kedua tokoh tua itu. Serangan demi serangan segera mengalir gencar. Pada mulanya anggauta tubuh sang Drupada yang lebih lengkap ditambah dengan ajiannya Lembu Sekilan mampu mendesak posisi sang Pandita yang hanya bertangan fungsi tunggal. Namun pandita Durna adalah seorang guru yang setiap kali menurunkan ilmunya bukan menjadi berkurang, tetapi malah semakin matang. Sementara Prabu Drupada adalah seorang raja yang walaupun sakti pada masa mudanya, tetapi kehidupan istana yang lebih menjanjikan kemewahan pelayanan membuat ia kurang terasah kemampuan fisiknya.
Maka kembali lelaku pengasahan ilmu yang berkesinambungan-lah yang unggul. Hal ini yang membuat Durna berada diatas angin. Apalagi ketika ada kesempatan terbuka, sang pandita mampu menancapkan senjatanya. Tembus dada sang Sucitra tua hingga kejantungnya.
“Kumbayana, aku mengakui kesaktianmu lebih unggul dariku, dan rasanya sudah dekat ajalku . . . . . “ terpatah kata kata Sucitra yang sudah roboh ditanah yang bersimbah darah. Ia menyampaikan isi hati dihadapan Kumbayana yang masih berdiri mematung. Dengan nafas yang makin satu satu keluar dari mulut yang berlumur darah, Drupada lirih melanjutkan, “namun . . . persahabatan kita hendaknya tidak berhenti . . . . sampai disini. Aku akan sabar menungguimu kembali ke alam kelanggengan bersamamu . . . mudah mudahan waktu tunggu . . . . ini tak akan lama”
Termangu sang Kumbayana ketika melihat teman seperguruan tewas ditangannya. Seketika tersadar ketika sorak sorai membahana mengabarkan tewasnya Prabu Drupada.

Baratayuda: Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri (3)
Di lain pihak, sesal sang Arjuna melihat mertuanya tewas. Tetapi itu tak lah berguna. Kehendak keras Prabu Drupada yang memintanya agar diberi kesempatan bertarung dengan teman lamanya, ternyata adalah saat ia mengantarkan jiwanya menuju keabadian.
Tak ada pilihan lagi bagi Arjuna-Dananjaya untuk mengatasi runtuhnya moral prajuritnya, karena gugurnya Prabu Drupada. Maka majulah ia kehadapan gurunya.
“Sembah baktiku kami haturkan kehadapan Bapa Guru” Dananjaya mengaturkan sembahnya.
“Ya, aku terima. Betapapun kamu sebagai musuhku, kamu tidak lupa akan suba sita. Inilah yang aku kagumi dari watak para anak Pandu” Durna terkesima dengan apa yang terjadi dihadapannya.
Lanjutnya “Lain dari itu, kesaktian anak Pandawa tidak aku ragukan lagi. Ajian Laring Merak yang aku banggakan tidaklah ada artinya dihadapanmu. Marilah kita mengakhiri cerita masa lalu. Sudah saatnya Baratayuda menentukan, mana pakarti kita sebelumnya yang harus dipanen pada saat ini”.
Sekali lagi Arjuna melakukan sembahnya dan bangkit untuk melakukan kewajiban sebagai seorang prajurit yang tak lagi mengenal status sebagai guru dan murid.
Pertempuran tangan kosong telah dimulai. Arjuna yang masih ada perasaan sedikit segan terhadap gurunya, bertempur dengan setengah hati. Pukulan dan gerak yang dilancarkan tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka tak lama kemudian punggungnya terkena sabetan kaki gurunya hingga ia merasa kesakitan. Tersengat rasa Arjuna yang berubah menjadi panas karena rasa sakit yang mendera bagian tubuh yang dikenai oleh Pandita Durna, kali ini ia bersungguh sungguh. Kesempurnaan raga dan timbunan kesaktian yang ditambah dengan tenaga yang lebih baik karena faktor usia, membuat ia mendesak sang Pandita.
Mundur Durna sejenak dan mencipta api berkobar dari senjatanya. Kobaran dahsyat api dari ajian guntur geni melanda medan Kurusetra membuat lari tunggang langgang prajurit Amarta.
Waspada sang Dananjaya, segera mencipta mendung pekat melayang diatas palagan. Seketika hujan deras disertai prahara melanda medan Kuru memadamkan kobaran api. Itulah ajian guntur wersa-prahara dari gurunya sendiri yang disempurnakan oleh Batara Indra. Adu kesaktian pengabaran berlangsung silih berganti. Segala bentuk kesaktian yang diciptakan Pandita Durna berhasil dipunahkan Arjuna, bahkan mendesak balik pertahanan Durna.
Ketika ilmunya dapat dipunahkan, segera Kumbayana melolos keris kecilnya Cis Jayangkunang dan kembali perang tanding senjata keris berlangsung seru. Perimbangan pertempuran berlangsung mengagumkan dengan keris Pulanggeni ditangan Arjuna, hingga banyak prajurit dari kedua pihak berhenti menonton tanding senjata itu.
Kematangan Sang Begawan dalam menggunakan ilmu kesaktiannya menjadikan peperangan berlangsung dengan seimbang. Hingga Kresna kembali dari pencarian terhadap Werkudara yang berhasil membunuh Dursasana, pertempuran masih tetap berlangsung sengit. Maka yang terjadi selanjutnya adalah perang strategi. Bila secara wajar pertempuran akan memakan waktu dan berlarut larut, maka segera ia menyusun strategi.
“Werkudara, ketahuilah, bahwa gurumu itu dalam bertempur mempunyai tujuan tertentu”.
“Apa maksudmu ? Werkudara menukas.
“Nanti dulu, aku akan menunjukkan kepadamu sesuatu. Ingatlah, beberapa hari ini gurumu meninggalkan peperangan karena sakit hati atas ketidak percayaan Duryudana kepada anak bapak Sokalima. Misi dari gurumu sekarang, tidak lain adalah mengembalikan harga dirinya dan sekaligus mengembalikan kepercayaan junjungannya kepada anak tercintanya, Aswatama. Semua yang ia lakukan adalah bermuara kepada kemukten bagi anak yang dicintainya itu”. Sejenak Kresna diam dan menyelidik, apakah kata katanya dimengerti oleh adik sepupunya itu.
Yang dipandanginya mengangguk setengah mengerti. “Teruskan dongengmu, biar aku tidak setengah setengah menelan omonganmu”
“Kamu lihat siapa yang menaiki gajah dan berperan sebagai senapati pendamping ?” Kresna bertanya, namun kembali ia meneruskan “Itu adalah raja dari negara Malawapati, Prabu Permeya”.
“Terus apa hubungannya dengan reka dayamu ?” Kembali Bima memotong.
“Gajah yang dinaiki itu bernama Hestitama, bunuh prabu Permeya dengan gajahnya sekalian, kemudian kabarkan pada semua prajurit agar mereka mengatakan Aswatama telah tewas !”
Melompat Werkudara dengan menimang gada Rujakpolo. Dihampiri Permeya yang duduk pongah diatas gajahnya. Terkejut Permeya ketika dihadapannya telah berdiri dengan teguh sosok Werkudara. Terkesiap darahnya ketika melihat gada ditangan Bima-Werkudara berputar mengancam dirinya. Tak pelak lagi mentalnya jatuh. Memang demikian, kesaktian Permeya memang tak sebanding dengan Werkudara. Maka disertai mental yang telah runtuh, tak sulit Werkudara menebas keduanya, Permeya beserta tunggangannya, gajah Estitama. Tanpa bisa mengaduh, keduanya tewas dengan isi kepala terburai.
Seperti direncanakan oleh Sri Kresna, geger para prajurit meneriakkan Aswatama telah tewas. Dan berita itu tak lama kemudian sampai ditelinga Begawan Durna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s