Lakon Wayang Part 26


Baratayuda : Saat Saat Terakhir 1
Aswatama segera pergi ke istal. Melepas kuda terbaik dari dalamnya, melepas tali yang mengikat ke toggak, kemudian ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh meninggalkan percikan lumpur kotor. Ia seakan ingin membuang segala keruwetan yang mendera dadanya. Beban yang menindihnya, seakan hendak ia angkat dan campakkan, dengan cara memacu kuda itu sekencang kencangnya bagai dikejar setan. Tujuan yang semula telah ia rancang dengan rasa was-was, saat ini tidak lagi mendera dadanya. Sepenuh hati rencana telah digenggamnya tanpa keraguan sedikitpun.
Banuwati, ya, Banuwati!
Ia hendak menuju ke hadapannya. Ia adalah anak dari Prabu Salya dan istri dari Prabu Duryudana. Setelah kejadian di balairung tadi, sebuah rencana yang tertanam dari hari hari terakhir kemarin telah tumbuh subur. Dihatinya juga telah timbul tekad bahwa ia tak lagi merasa sebagai bawahan Prabu Duryudana. Junjungannya dimasa lalu yang telah menilai kecil perannya selama ini. Ia merasa sadar sekarang bahwa dimasa lalunya ia telah dikerdilkan dengan hanya diberi derajat yang hanya dipandang sebelah mata. Kekesalan yang terpendam mencapai puncaknya ketika ia telah dibobot ringan dengan pengusiran yang kedua kali terhadap dirinya.
Dendam membara juga berkobar dalam dadanya kepada Prabu Salya, orang tua Banowati. Ia hanya bisa berkata dalam hati, jangankan kepada menantunya Prabu Salya tega, kepada mertuanya-Resi Bagaspati pun ia sampai hati menghabisi hidupnya hanya karena perasaan malu mempunyai mertua berujud raksasa. Tapi kata katanya tersekat pada korongkongan, tak terlahirkan oleh perasaan tidak enak kepada Prabu Duryudana. Maka ia hanya dapat mendendam, kepada Banuwati-lah ia hendak lampiaskan. Dan malam dengan hujan rintik itu telah membawanya menuju taman Kadilengeng. Malam ketika melintas kutaraja Astina, ia tak menemui kesulitan apapun. Semua prajurit tunggu istana telah mengenal Aswatama dengan baik. Dan taman Kadilengeng telah ada didepan mata.
Sementara itu di balairung Bulupitu, sepeninggal Aswatama, perasaan marah dan setengah dipermalukan oleh Aswatama., masih mendekam didalam hati Prabu Salya. Hingga ia tak lagi berminat mengatakan sesuatu apapun. Suasana hening melimputi suasana sidang. Mereka yang hadir seperti terpaku ditempatnya. Hanya dalam pikiran masing masing yang berputar putar menanggapi peristiwa yang baru saja terjadi. Ketika kesunyian itu masih saja terjadi, Prabu Duryudana akhirnya berkata kepada pamannya.
“Paman Harya Sengkuni, sungguh tidak masuk akal apa yang dikatakan oleh Aswatama. Seorang ayah menegakan kematian anaknya, walau itu hanya anak menantu.
Apakah ia hanya bercerita atas karangan ia sendiri?
Apakah ada di dunia peristiwa semacam itu Paman?
Patih Sengkuni kemudian mengangkat wajahnya. Dipandangi wajah Prabu Duryudana dengan perasaan ragu. Ia hendak menyelami apa sesungguhnya kehendak keponakannya dengan mengatakan demikian. Tapi ini memang menjadi watak Sengkuni, bahkan dengan nada meyakinkan ia mengipaskan kembali suasana yang sudah mengendap dengan jawabannya, “Ooooh Sinuwun, ada saja! Jangankan mertua yang tega atas menantunya, sebaliknya menantu yang melakukan pembunuhan terhadap mertuanya juga juga ada. Bahkan ia telah membunuh mertuanya dengan tangannya sendiri.”
“Dimana peristiwa itu terjadi Paman?
Siapakah orang yang telah tega berbuat demikian?
Prabu Duryudana kembali terbawa oleh arus pembicaraan Pamannya. Ia telah tahu apa yang dikehendaki pamannya.
Dan jawaban Patih Harya Sangkuni dengan tidak lagi ragu Tidak jauh dari sini, bahkan . . .
“Cukup . . . . . ! Kali ini Prabu Salya menukas dengan ketus. Bara kemarahan yang belum sempurna padam kini sudah kembali berkobar. Bahkan ia sudah tak lagi dapat mengendalikan nalarnya. Maka tak lagi ia berpikir panjang dan segera menyambung kata katanya, Jangan lagi sandiwara seperti yang kau ucapkan tadi itu diteruskan. Aku sudah mengerti arah pembicaraan itu, Suman!
Bukankah engkau hendak mengatakan bahwa pada masa lalu aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri?
Itukah yang kamu maksudkan dan kamu hubungkan dengan kematian anakku Basukarna?
Sudahlah.., aku ini sudah tahu arah tujuan dengan kata katamu. Kamu hendak memanasi aku kembali, agar aku mau maju ke Medan Kurukasetra !
Tanpa kamu panasi dengan kata kata itupun aku sudah mempunyai tekad, besok aku akan maju ke palagan peperangan. Lihatlah, esok anak anak Pandawa akan aku kirimkan ke alam kelanggengan. Aku ulangi, tidak perlu mamakan waktu lama, tak sampai setengah hari semua keinginanmu akan terwujud!
“Lho Sinuwun Prabu Salya, bukan maksud kami menceritakan tentang Paduka Prabu Salya, tapi bila paduka merasakan itu, yaa silakan saja Patih Sangkuni menjawab dengan nada merendah. Tetapi dalam hatinya ia tertawa terbahak bahak, menyaksikan pancingannya berhasil diasambar sasarannya.
Sesak didalam dada Prabu Salya mendengar Patih Sangkuni yang masih saja memberi jawaban. Namun kini yang bicara adalah paman dari Prabu Duryudana. Maka ia tidak bisa gegabah menyalurkan kemarahan sebagaimana dilakukan terhadap Aswatama. Tidak hendak berlarut larut dalam kemarahan, ia menghela nafas panjang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan bara yang membakar hatinya. Karena ia tak lagi mau termakan provokasi Sangkuni, ia berkata kepada Prabu Duryudana dengan berusaha setenang yang ia bisa.
“Baiklah anak Prabu Duryudana, saya meminta waktu sekejap saja. Aku ingin kembali dulu menemui ibumu, Setyawati. Rasa kangenku terhadap ibumu tak lagi dapat ditahan. Mohon jangan bergerak dulu ke medan Kuru sebelum aku kembali dari Mandaraka.
“Baiklah Rama Prabu, doa kami menyertai kepulangan Rama Duryudana melepaskan kepulangan sementara Prabu Salya dengan rasa keraguan yang tetap menekan dadanya. Bahkan dalam hati kecilnya rasa frustrasi telah menuntunnya ke tindakan seorang pengecut.
“Paman Harya Sangkuni, segala merah hijaunya perang dan jalannya pertempuran aku serahkan kepada si paman untuk besok hari. Ikuti segala perintah dari Rama Prabu Salya. Besok aku tidak akan ikut campur urusan perang yang sudah aku berikan sepenuhnya kepada si paman dan Rama Prabu Salya.
Malam itu juga kereta kebesaran Prabu Salya bergerak kencang menuju ke keputren Mandaraka. Prabu Salya pulang ke Mandaraka dengan hati masgul.
Dan kedatangan Prabu Salya pada saat lepas sore itu benar benar mengejutkan Prameswari Mandaraka, Dewi Setyawati.
“Sinuwun kanda Prabu, kaget dan gembira rasa hati ini, ketika melihat Paduka Sinuwun telah berada kembali di Mandaraka. Apakan perang sudah selesai?
Siapakah yang unggul dalam perang yang pasti melelahkan jiwa dan raga itu?
“Pastilah kedatanganku membuat kamu berdua menjadi kaget. Dan perlu dinda Setyawati, bahwa perang belumlah benar benar selesai. Kedatanganku sesungguhnya hanya melepas kangen, sebab, aku merasa sudah terlalu lama, sejak pecah perang, baru kali ini aku kembali ke Mandaraka meninggalkanmu. Ketahuilah, bahwa esok hari aku akan menjadi senapati perang. Dan sebagai seorang senapati, ibaratnya adalah seperti orang yang siap bepergian. Karena rasa sayangku terhadapmu, bila aku pergi nanti, maka kita harus pergi berdua. Secara kebetulan, bahwa kita berdua adalah orang yang punya hari lahir yang sama, maka bila kita pergi, sebaiknya juga kita pergi juga bersama-sama.

Baratayuda : Saat Saat Terakhir (2)
Mendengar kata kata suaminya, Dewi Setyawati nampak tertegun. Sebagai seorang wanita anak Resi Bagaspati, yang tidak lain seorang pandita yang tak diragukan kewaskitaanya, ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap apa yang dikatakan suaminya. Ia telah merelakan anak anak lelakinya habis dalam peperangan itu, tapi kali ini, ia tidak akan lagi rela melepas suaminya menjadi bebanten perang seperti yang terjadi pada anak anaknya. Maka ia bangkit dari duduknya dan bergelayut pada selendang suaminya. Prabu Salya yang melihat tingkah istrinya itu, kemudian tersenyum kepadanya.
“Apa yang menjadi kekhawatiranmu Dinda Ratu, aku akan mendengarkan apa yang menjadi isi hatimu”, kata Salya masih dengan senyumnya.
“Kanda, anak anak lelaki kita, satu demi satu sudah gugur dalam membela Negara Astina. Bahkan anak perempuan kita Surtikanti juga telah bela pati atas kematian suminya Basukarna. Terlepas dari siapakah yang benar dalam perang itu, hamba sudah pasrah. Tapi, untuk kali ini, hamba tidak akan melepas kepergian paduka kemedan perang. Cukuplah sudah pengorbanan kita untuk mukti wibawa anak kita Banuwati. Malah bila mungkin, mintalah anak mantu kita menyudahi pertempuran, dan anak kita sekalian diminta untuk kembali ke Mandaraka. Negara Mandaraka sudah tidak lagi mempunyai Pangeran Pati, biarkan anak mantu Prabu Duryudana-lah yang sekiranya dapat kita turunkan negara ini untuknya. Dan kita sudah saatnya untuk menikmati hari tua ini di Pertapaan Argabelah dengan memasrahkan diri kepada dat yang maha kasih. Mohon maaf kanda Prabu untuk kelancangan hamba memberikan pilihan kemungkinan yang tak lagi mengorbankan seorangpun.

Masih dengan senyumnya, Prabu Salya malah berkata memuji. Makin rapat sang istri memeluk suaminya. Prabu Salya pun membalas dengan memegang tangan istrinya “Itulah kenapa dari dulu aku menyayangimu, seorang anak gunung, yang jauh dari keramaian kota dan tata krama kerajaan. Tetapi dalam dirimu yang dikaruniai kecantikan yang sempurna, yang telah mampu merampas segenap sukmaku. Sampai sekarang walaupun engkau sudah berputra putri dewasa, kecantikan itu tidak pudar dimakan oleh waktu, malah semakin bersinar. Dan tak kalah dari yang telah aku ucapkan tadi, adalah mengenai sosok dirimu secara keseluruhan. Dasar pemikiran cemerlang yang kamu punya itu, selalu muncul setiap kali aku merasa buntu dalam menjalankan tata kenegaraan. Hingga segala pertimbangan atas buah pikiranmu selalu menuntun aku keluar dari masalah pelik. Maka, walaupun kita dikatakan tidak pernah terpisah sejengkalpun seumpamanya, dari muda hingga rambut kita sudah dua warna, tetapi ketika aku berpisah walau sekejap, rasa kangen ini selalu saja memenuhi dadaku. Dan bukan oleh karena permintaan rama Resi Bagaspati, bila aku memperistrimu aku tidak boleh menduakan dinda Setyawati. Tetapi memang tidak ada gunanya aku menduakanmu. Dari dirimu, semua rasa tentram, rasa bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, rasanya sudah dinda berikan tanpa henti hari demi hari, tahun demi tahun. Jangan lagi dipikirkan yang akan terjadi besok, lihat, malam ini suasana sangat indah! Kenapa kita tidak menikmati karunia yang telah dewata limpahkan?
Jatuh kedalam pelukan mesra, Dewi Setyawati ke dada suaminya. Sanjungan suaminya yang dikenalnya sejak lama dan selalu saja dengan nada yang romantis telah berkali-kali ia dengar. Tapi kali ini sungguh ia dibuat terbang sukmanya. Dibimbingnya sang istri ke peraduan. Sudah tidak muda lagi keduanya, tetapi kemesraan diantaranya tetap terjalin waktu demi waktu. Tidak heran, bahwa lima orang putra putri telah lahir dari buah kasih mereka. Dan nama Setyawati adalah benar-benar sebagai ujud dari nama Endang Pujawati semasa gadisnya. Mereka berdua adalah manusia manusia yang dikaruniai kasih setia yang dalam satu sama lain.
Dipandangnya wajah istrinya ketika ia sudah terlelap terbuai mimpi indah. Dalam hatinya tak dapat dipungkiri, ia sangat mencintai istrinya. Dan Prabu Salya sangat memanjakan istrinya dengan berlaku setia penuh. Mungkin ia hendak membayar kesalahan yang telah dilakukan atas permintaannya dulu ketika rasa malunya mempunyai mertua berujud raksasa. Tetapi sesampainya di Mandaraka ketika memboyong istrinya, ia malah mendapat murka dari ayahnya, Prabu Mandrapati. Ia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi atas mertuanya, tetapi ia tidak mengetahui bahwa Resi Bagaspati adalah saudara seperguruan ayahnya. Diusirlah Narasoma, Salya muda, ketika itu, yang diikuti oleh Madrim adiknya. Dari situlah ia menyerahkan Dewi Madrim dan Dewi Kunti ke tangan Pandu, atas pengakuan kekalahannya. Padahal ia telah memenangkan sayembara pilih dan berhak memboyong Kunti puteri Mandura. Kenangan masa lalu Salya terhenti ketika ia memutuskan sesuci dan masuk ke sanggar pamujan, meninggalkan sang istri yang masih terlelap tidur.
Kokok ayam yang pertama di pagi buta telah lama berlalu. Matahari di hari belum lagi bersiap menerangi semesta dengan cahaya merah diufuk timur. Dalam balutan busana putih di sanggar itu, Prabu Salya dikejutkan dengan kedatangan seorang utusan yang mengatakan telah menunggu dua orang tamu yang hendak menghadap.

Pandawa Gugat
negara hastinapura sedang dilanda pagebluk. ibarat kata pagi sakit sore mati. sore sakit pagi mati. sedang gelap suasananya. karena merasa susah maka di sitinggil kerajaan hastina dipanggilah pendeta dari pertapaan soka lima. yaitu begawan drona. bengawan drona berkumpul menghadap jaka pitana aka prabu duryodana yang di dampingi prabu baladewa dari mandura dan patih sengkuni dari ploso jenar. maka dimulailah paseban agung yang membicarakan keadaan negeri hastinapura.

prabu jaka pitana menjelaskan keadaan kerajaan hastina yang sedang dilanda pagebluk dan meminta petunjuk pada sang begawan drona. begawan drona menyatakan bahwa sebelum dipanggil telah menerima wangsit dewata jika sebenarnya pagebluk terjadi karena hawa dari tapa para pandawa di tegal kurusetra. begawan drona meyebutkan bahwa pandawa sengaja bertapa untuk kecelakaan para kurawa. hal ini segera menjadi perdebatan karena prabu baladewa menyanggah dan berkata sebaiknya dilihat dahulu keadaan di lapangan sebelum mengambil kesimpulan.

prabu suyudana mengambil keputusan untuk melihat keadaan di tegal kurusetra. untuk itu maka diminta prabu baladewa menjadi saksi. sementara yang memimpin wadya bala ke Tegal Kurusetra adalah patih sengkuni. setelah keputusan dibuat maka sang prabu membubarkan paseban dan masuk ke sanggar pamujaan. Begawan Drona diminta untuk menyertai sang prabu untuk manekung memohon kepada dewa agar pagebluk bisa segera diangkat. dan ketentraman kembali ke negeri Hastina.

Patih Sengkuni segera keluar Paseban dan menemui para kurawa. para kurawa langsung datang menyambut untuk mengetahui ada apa di paseban dan apa keputusan raja Suyudana. diantara pentolan kurawa tampak adipati Ngawangga Basukarna, Tirtanata dari Wonokeling dan Burisrowo dari Mandaraka. kemudian patih sengkuni menjelaskan bahwa misi para kurawa adalah segera berangkat ke tegal kurusetra untuk melihat apakah para pandawa benar benar yang menyebabkan keadaan pagebluk di kerajaan Hastina.

maka pasukan segera diberangkatkan. pasukan Hastina lengkap dengan senjata perang. dipimpin oleh Basukarna dan patih sengkuni. diiringi oleh para kurawa, Burisrowo dan Tirtanata. sementara prabu baladewa ikut sebagai saksi sekaligus mengawasi apakah bener pandawa melakukan tindakan yang mengakibatkan pagebluk. hati kecil Prabu Baladewa sangsi. oleh karena itu Prabu Baladewa berangkat untuk melihat langsung bagaimana kejadian dilapangan. pasukan pun diberangkatkan….!!!!

di alas dekat tegal kurusetra berkumpulah pendawa. tampak bimasena ditengah kemudian Puntadewa, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, juga tampak Gatotkaca, Antaredja. sementara di luar terlihat sejumlah pasukan menjaga yang dipimpin oleh patih Yodipati patih Gagak Bongkol.

Werkudoro membuka pembicaraan setelah semua sama sama mengajukan pambagya. Werkudoro berkata dengan suara yang berat, Apakah kalian tahu kenapa kalian saudara saudaraku aku panggil untuk berkumpul di tegal kurusetra ini?.
Prabu Puntadewa dan para pandawa lainya mengaku mereka tidak tahu maksud Werkudoro memanggil mereka. mereka hanya datang karena memenuhi panggilan dari Werkudoro. maka Werkudoro menjelaskan bahwa sanya beberapa waktu lalu telah menerima wangsit dari dewata yang menyatakan bahwa ayahnya Pandu Dewanata swargi dikabarkan dimasukkan ke dalam neraka karena segala kesalahanya di dunia.

Maksud Werkudoro adalah untuk mengadakan tapa brata bersama agar arwah ayah mereka Pandu bisa diterima di surga dan dilepaskan dari neraka. mendengar hal itu maka para pandawa lainnya pun menyetujui untuk melakukan tapa brata demi memohon agar para dewata mau mengampuni dosa dan kesalahan pandu selama hidup. sedang dalam keadaan pembicaraan berlari lari datang menghadap patih Gagak Bongkol. Werkudoro bertanya ada apa kenapa patih berlari lari tanpa adanya panggilan dari sang Werkudoro. disebutkan bahwa pasukan penjaga telah melihat pasukan besar kurawa lengkap dengan senjata mendekati tegal Kurusetra.

Maka segeralah Antaredja dan Gatotkaca serta patih Gagak Bongkol maju ke depan menemui pasukan besar kurawa. sementara itu Werkudoro berpamitan untuk mengawasi kedua anaknya tersebut. Puntadewa mengingatkan agar Werkudoro tidak cawe-cawe karena sedang dalam keadaan tapa brata. tak boleh menurutkan hawa emosi di dalam diri. Werkudoro dengan sante berkata aku sudah dewasa tak perlu diingatkan. dan bergegas berjalan mengawasi kedua anaknya dan patih Gagak Bongkol yang telah memapaki pasukan kurawa.

Tampak patih Sengkuni dan adipati Karna maju ketika mereka melihat Gatotkaca maju. terjadi pembicaraan dan perdebatan. Adipati Karna minta agar para pandawa membubarkan tapanya terlebih dahulu agar hawa pagebluk di hastina bisa hilang. sementara Gatotkaca mengatakan tapa dilakukan untuk menswargakan Pandu kakeknya dan lumrahnya tak ada orang tapa teru dipindah itu. dan Gatotkaca menyangkal bahwa pagebluk di hastina disebabkan oleh karena tapa brata para pandawa.

Karena saling bersengketa dan dipanasi oleh patih Sengkuni maka terjadilah perkelahian antara adipati Karna dan Gatotkaca. Perkelahian paman keponakan itu sangat seru. beberapa kali Gatotkaca terlempar kena pukulan ajian adipati Karna. demikian juga sebaliknya adipati Karna beberapa kali terjatuh terkena sambaran pukulan Gatotkaca dari atas awan. ahirnya patih Sengkuni berhasil memanas manasi adipati karna untuk lebih marah lagi. sampe adipati Karna maju menghunus panah pusaka Ngawangga. panah ini bernama panah sakti Kala Dede yang segera dilepaskan ke tubuh Gatotkaca.

Antaredja melihat hal ini segera mengambil tindakan. sebelum adipati Karna sempat melepaskan pusaka Antaredja menarik adipati karna ke dalam bumi. disana adipati Karna menyerah kalah dan minta dikeluarkan dari dalam bumi. Antaredja mau mengeluarkan jika adipati Karna bener-bener mau berjanji untuk balik ke ngawangga dan tidak meneruskan pertengkaran. adipati menyanggupi. dan setelah dikeluarkan maka adipati memenuhi janjinya. adipati Karna pulang ke ngawangga meninggalkan pasukan kurawa.

Perang tanding berlanjut. Gatotkaca melawan Tirtanata dan Borisrawa. dalam waktu singkat ke dua pamanya itu berhasil dikalahkan oleh Gatotkaca. Patih Sengkuni kebingungan lalu menyampaikan provokasi kepada raja mandura Baladewa bahwa Gatotkaca berteriak menantang raja mandura. Prabu Baladewa yang cepat marah tersulut emosinya, dan dengan senjata Nenggala ditangan maju ke medan peperangan. mengetahui prabu Baladewa yang maju maka Gatotkaca, Antaredja dan patih Gagak Bongkol memilih mundur. karena jika Baladewa dilayani maka akan semakin naik emosinya dan bisa berbahaya. Prabu Baladewa terus mengejar.

Prabu Baladewa dihadang oleh Werkudoro. Werkudoro menjelaskan kenapa para pandawa mengadakan tapa hanyalah untuk maksud meminta agar ayahnya Rama prabu Pandu swargi bisa dimasukan ke dalam surga. Prabu Baladewa lerem emosinya dan malah berjanji akan membantu para pandawa. Bala pasukan kurawa disuruh balik oleh Baladewa. Kemudian prabu Baladewa ikut manekung bersama para pandawa meminta agar prabu Pandu bisa dikeluarkan dari neraka dan dimasukan surga.

khayangan suralaya goncang, pagebluk terjadi karena hawa panas tapa brata pandawa. prabu pr dewa bhatara guru mengumpulkan dewa dewa. kemudian prabu bhatara guru mengadakan rapat. bhatara guru berkata kepada patih narada bahwa semua ini karena polah para pandawa. patih narada berkata bahwa adalah wajar jika para anak ingin berbakti kepada orang tuanya. tetapi karena bhatara guru terlalu dipengaruhi istrinya durga maka bhatara guru memutuskan akan memasukan para pandawa ke kawah candradimuka bersama dengan pandu sekalian jika mereka tak mau menghentikan tapanya.

patih narada menolak dan protes akan keputusan ini. karena protesnya maka bhatara guru menyopot kedewaan bhatara narada. bhatara narada disuruh turun ke ngarcapada dan hidup sebagai manusia biasa. bhatara narada pun rela melepaskan posisinya dan turun ke dunia. tapi dalam hati bhatara narada berjanji akan membela pandawa yang dalam posisi yang benar. sementara itu bhatara guru mengeluarkan perintah agar bhatara indra dan yamadipati segera turun ke kurusetra untuk mengehentikan tapa pandawa. jika tak mau maka segera dicabut nyawanya dan cemplungkan ke kawah candra dimuka. berangkatlah bhatara indra dan yamadipati turun ke ngarcapada dikuntit oleh bhatara narada.

sementara itu bhatara guru membuat titah kepada durga untuk memangsa semua anak turun dan mereka yang mempunyai hubungan dengan pandawa. karena dianggap berani melawan dewa. bhetari durga segera menyuruh anaknya wisrawadewa meimimpin pasukan baju barat yg terdiri dari gandarwa, jin, pocongk, balung engklek engklek, banaspati, setan untuk turun ke bumi. dan menghabiskan semua yang ada hubunganya dengan pandawa sebagai hukuman karena berani menentang dewata. berangkatlah pasukan besar baju barat ini ke ngaracapada.

Pandawa Gugat (2)
di tengah alas tampak sri prabu kresna dr dwarawati sedang murung. disertai dengan patih setyaki. sri baginda merasa resah karena pandawa menghilang tanpa pamit. bahkan dengan ilmu kaca paesan tak mampu untuk mengetahui dimana pandawa berada. telah berhari hari sri kresna mencari resi yg bisa ditanya dimana para kadang pandawa. ternyata tak ada yang mengerti. maka sri baginda kresna pun memutuskan untuk bertapa di tengah hutan itu. patih setyaki diminta menjaga selama prabu bhatara kresna bertapa.

sementara itu wisrawa dewa masuk alas yang sama disertai oleh bilung dan togog. lalu bertemulah dengan setyaki. segera wisrawa dewa menyerang setyaki dengan asumsi bahwa setyaki pendukung pandawa. beberapa gebuk berkali kali prabu wisrawa dewa dijatuhkan. togog menyampaikan saran agar wisrawa dewa segere balik mundur saja sebelum terjadi apa apa karena setyaki sangat kuat dan tak akan mungkin menang. tapi wisrawa dewa ngotot. maka setyaki mengeluarkan gada wesi kuningnya dan babak belurlah wisrawa dewa. dengan sisa tenaganya larilah wisrawa dewa diiringi oleh togog dan mbilung.

hawa hawa tapa dr pandawa dan juga dr sri baginda bhatara kresna menimbulkan hawa panas yang sangat. menandakan segera dimulainya goro goro. bencana terjadi dimana mana. angin puting beliung, gempa bumi, hujan salah musim. di kayangan bhatara guru mnyiram air cupu manik untuk menenngakan alam. goro goro hanya reda ketika mendengar nyanyian dan suka cita cecandaan dari punakawan. para punakawan berkumpul dihutan. bernyanyi menembang dan berhumor. mereka mendampingi srikandi dan sembadra yang sedang bersedih dan lelaku tirakat masuk hutan mencari jawaban. karena mereka mendapati pendawa kususnya suami mereka arjuna hilang tanpa meninggalkan pesan.

di alas mereka dimomong ki semar badranaya. ki semar selalu menyampaikan agar sembadra dans rikandi berbakti kepada suami dan banyak tirakat. tiba tiba datanglah gandarwa baju barat. lalu terjadi peperangan antara gandarwa dan srikandi. ribuan gandarwa baju barat tewas. punakawan juga berperang dan semakin banyak gandarwa yang tewas. tapi namanya gandarwa baju barat walo mati sehari 7 kali tak jadi masalah karena begitu ketetesan embun mereka akan hidup lagi. mereka ketakutan dan berlari menjauh dr rombongan srikandi dan punakawan. laku tirakat di lanjutkan kembali.

di kurusetra turunlah bhatara endra. disambut oleh para pandawa. mereka merasa senang karena bhatara ada turun ke bumi. pasti ada kabar. ternyata kabar buruk. mereka disuruh mengahiri tapa mereka. tetapi pandawa menolak dan lebih memilih yaitu masuk kawah candra dimuka menemani arwah pandu ayahnya. maka dibawalah para pandawa dan prabu baladewa ke kayangan oleh bhatara indra dan yamadipati. untuk dicemplungkan ke kawah candra dimuka. gatotkaca dan antaredja kaget diberitahu patih gagak bongkol jika pepundenya dibawa ke kayangan untuk dimasukan kawah. mereka segera mencari prabu bhatara kresna untuk meminta “nasehat” menghadapi hal ini.

sementara bhatara narada yg menguntit 2 bhatara td semnejak di kayangan segera mencari kakang semar badranaya. bhatara ismaya. tak berapa lama dalam hutan bhatara narada ketemu dengan bhatara ismaya semar badranaya dengan punakawan dan srikandi serta sembodro. singat cerita di ceritakanlah semua kejadian oleh bhatara narada. semar merasa ga terima dan segera pergi ke kayangan. semar bermaksud masuk ke kawah candra dimuka dahulu agar tak membahayakan para paadawa. karena kawah candradimuka dayanya abyar tak membawa celaka jika bhatara ismaya berada di dalamnya.

sementara itu bhatara narada memberikan cincin kepada sembadra dan manjing dalam tangan srikandi. lalu srkandi dan sembodro berubah jadi raksesi. bernama raksesi bodro yakso dan kandi yakso. mereka pergi ke kayangan untuk menuntut keadilan. diiringi oleh punakawan. di kayangan pandawa nyemplung ke kawah. mereka tak terluka sedikitpun karena kawah sudah dimasuki oleh bhatara ismaya ki semar. malah disana ketemulah antara pandawa dengan arwah prabu pandu dan ibu madrim. maka terjadilah dialog lepas kangen antara ayah dan anak. mereka begitu bahagia mengetahui anak anaknya sangat berbakti.

geger memuncak di kayangan. dua raksesi mengamuk. sementara itu gatotkaca dan antaredja ketemu dengan sri baginda kresna dan memberitahukan masalah yg terjadi. bhatara kresna terbang ke khayangan sementara 2 satria tadi disuruh menunggu kabar di dunia. di khayangan bhatara guru menyambut kresna dan meminta segera menghadapi 2 raksesi yang mengamuk itu. karena khayangan mengalami banyak kerusakan dan kehancuran. para dewa tak ada yang mampu menghadapi amukan raksesi.

kresna mau menghadapi raksesi dengan satu sarat yaitu pandawa dibebaskan dr hukuman. bhatara guru setuju dan bersama kresna segera masuk dlm kawah. disana mereka bertemu dengan pandawa, ki semar, baladewa, dan arwah pandu. karena merasa bersalah maka bhatara guru ahirnya melepaskan hukuman pandawa. dan pandu diberi anugerah surga.

arjuna disuruh menghadapi 2 raksesi bukanya dengan senjata tapi disuruh ngerayu. arjuna manteg aji asmaragama sambil merayu dan badarlah 2 raksesi kembali jd sembadra dan srikandi. mereka lalu bersama pulang ke ngarcapada. di ngracapada gatotkaca dan antaredja menghajar sisa sisa baju barat. durga ngacir lari karena mengetahui semar akan datang. durga memerintahkan semua baju barat kembali ke istana durga di sentra gondo mayit.
Pertemuan Agung

Pandawa tidak lagi hidup dalam pengasingan dan persembunyian. Tigabelas tahun telah mereka lewatkan dengan penuh penderitaan. Tigabelas tahun yang memberi mereka banyak pengalaman berharga. Mereka meninggalkan ibu kota Negeri Matsya dan tinggal di suatu tempat yang bernama Upaplawya, yang masih terletak di wilayah Negeri Matsya. Dari sana mereka mengirim utusan untuk menemui sanak dan kerabat mereka.

Dari Dwaraka datang Balarama, Kresna, dan Subadra, istri Arjuna, serta Abimanyu, putra mereka. Mereka diiringkan oleh para ksatria keturunan bangsa Yadawa, antara lain Setyaki.
Selain itu, datang pula Raja Kasi dan Raja Saibya, dengan diiringkan oleh panglima masing-masing.
Begitu pula Drupada, Raja Pancala, ayah Drupadi. Ia datang dengan membawa tiga pasukan perang yang masing-masing dipimpin oleh Srikandi, Drestadyumna dan anak-anak Drupadi.
Banyak raja dan putra mahkota yang datang ke Upaplawya untuk menyatakan persahabatan dan simpati kepada Pandawa.

Dalam pertemuan maha besar itu, pernikahan Abimanyu dengan Dewi Uttari dilangsungkan. Upacara pernikahan dilangsungkan di balairung istana Raja Wirata. Kresna duduk di samping Yudhistira dan Wirata, sementara Balarama dan Setyaki duduk dekat Drupada.
Di samping upacara pernikahan Abimanyu dan Dewi Uttari, pertemuan agung itu juga merupakan pertemuan para Penasehat Agung untuk merundingkan penyelesaian yang bisa mendamaikan Pandawa dan Kurawa.

Setelah upacara pernikahan selesai, para Penasehat Agung bersidang di bawah pimpinan Kresna. Semua mata memandang dengan penuh khidmat ketika Kresna bangkit untuk memulai perundingan.
“Saudara-saudara semua pasti tahu”, kata Kresna dengan suara lantang dan berwibawa. “Yudhistira telah ditipu dalam permainan dadu. Yudhistira kalah dan kerajaannya dirampas. Dia, saudara-saudaranya, dan Drupadi harus menjalani pembuangan di hutan belantara. Selama tigabelas tahun putra-putra Pandu dengan sabar memikul segala penderitaan demi memenuhi sumpah mereka. Dharmaputra tidak menginginkan sesuatu yang tidak patut dituntut. Ia tidak menginginkan apapun, kecuali kebaikan dan kedamaian. Ia tidak mendendam meskipun putra-putra Drestarastra telah menipunya dan membuatnya sengsara. Kita belum mengetahui apa keputusan Duryodhana. Kita berharap Duryodhana mau mengembalikan separo kerajaan kepada Yudhistira. Menurutku, kita harus mengirimkan utusan yang tegas dan jujur serta mampu mendorong Duryodhana untuk berkemauan baik demi selesainya masalah ini secara damai”.

Setelah Kresna berbicara, Balarama berdiri dan menyampaikan pendapatnya. “Saudara-saudara, aku setuju dengan pendapat Kresna, karena itu baik bagi kedua pihak, baik Duryodhana maupun Dharmaputra. Jika putra-putra Kunti bisa memperoleh kembali kerajaan mereka secara damai, tak ada yang lebih baik bagi mereka dan bagi Kurawa. Yudhistira, yang mengetahui resiko bertaruh dalam permainan dadu telah mempertaruhkan kerajaannya. Meskipun tahu tak akan mungkin mengalahkan Sakuni yang ahli bermain dadu, Yudhistira terus bermain. Karena itu, sekarang ia tidak boleh menuntut. Ia hanya boleh meminta kembali apa yang menjadi haknya. Saudara-saudara, aku ingin kalian mengadakan pendekatan dan berdamai dengan Duryodhana. Dengan segenap kemampuan kita, kita hindari pertentangan dan adu senjata. Peperangan hanya menghasilkan kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat. Utusan yang akan kita kirim, hendaknya jangan orang yang haus perang. Ia harus sanggup berdiri tegak, bagaimanapun sulitnya, untuk mencapai penyelesaian secara damai”.

Setyaki tersinggung setelah mendengar pendapat Balarama. Ia bangkit berdiri dan berkata lantang, “Menurutku pendapatku, Balarama sama sekali tidak bicara sedikitpun tentang keadilan. Dengan kecerdikannya, seseorang bisa memenangkan suatu perkara. Tetapi kecerdikan tidak selalu bisa mengubah kejahatan menjadi kebajikan atau ketidakadilan menjadi keadilan. Aku hanya menegaskan bahwa Kurawa memang sengaja berbuat demikian dan telah merencanakan semuanya. Mereka tahu, Yudhistira tidak ahli bermain dadu. Karena terus dibujuk dan didesak, akhirnya Yudhistira tidak bisa menolak untuk menghadapi Sakuni, si penjudi licik. Akibatnya, ia menyeret saudara-saudaranya ke dalam kehancuran. Kenapa sekarang ia harus menundukkan kepala dan meminta-minta di hadapan Duryodhana ? Yudhistira bukan pengemis. Dia tidak perlu meminta-minta. Ia telah memenuhi janjinya. Duabelas tahun dalam pengasingan di hutan dan duabelas bulan dalam persembunyian. Tetapi, Duryodhana dan sekutu-sekutunya tanpa malu dan dengan hina tidak mau menerima kenyataan bahwa Pandawa berhasil menjalankan sumpah mereka”.
Dengan berapi-api, Setyaki melanjutkan, “Akan aku tundukkan manusia-manusia angkuh itu dalam pertempuran. Mereka harus memilih, minta maaf kepada Yudhistira atau menemui kemusnahan. Jika tidak bisa dihindari, perang berdasarkan kebenaran tidaklah salah, begitu pula membunuh musuh yang jahat. Meminta-minta kepada musuh berarti mempermalukan diri sendiri. Duryodhana tidak akan membiarkan pembagian wilayah tanpa peperangan. Jika Duryodhana menginginkan perang, ia akan memperolehnya. Kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri “.
Akhirnya Satyaki berhenti bicara karena napasnya tersengal-sengal akibat terlalu bersemangat.

Drupada senang mendengar kata-kata Setyaki yang tegas. Ia berdiri dan berkata, “Setyaki benar. Kata-kata lembut tidak akan membuat Duryodhana menyerah pada penyelesaian yang wajar. Mari kita lakukan persiapan. Kita susun kekuatan untuk menghadapi perang. Jangan buang-buang waktu. Segera kita kumpulkan sahabat-sahabat kita. Kirimkan segera berita kepada Salya, Drestaketu, Jayatsena dan Kekaya. Kita juga harus mengirim utusan yang tepat dan cakap kepada Drestarastra. Kita utus Brahmana, pendita istana Negeri Pancala yang terpercaya, pergi ke Hastinapura untuk menyampaikan maksud kita kepada Duryodhana. Dia juga harus menyampaikan pesan kita kepada Bhisma, Drestarastra, Kripa, dan Drona”.

Setelah semua selesai menyampaikan pendapatnya, Kresna alias Basudewa berkata, “Saudara-saudara, apa yang dikatakan Drupada sungguh tepat dan sesuai dengan aturan. Baladewa dan aku, punya ikatan kasih, persahabatan dan kekeluargaan yang sama terhadap Kurawa maupun Pandawa. Kami datang untuk menghadiri pernikahan Abimanyu dan sidang agung ini. Sekarang kami mohon diri untuk kembali ke negeri kami. Saudara-saudara adalah raja-raja yang besar dan terhormat. Drestarastra juga menghormati saudara-saudara sekalian. Drona dan Kripa adalah sahabat sepermainan Drupada di masa kanak-kanak. Pantaslah kita mengutus Brahmana yang kita percaya untuk menjadi utusan kita. Apabila utusan kita gagal dalam usahanya meyakinkan Duryodhana, kita harus siap menghadapi perang yang tak dapat dihindari “.

Sidang agung itu lalu ditutup. Kresna kembali ke Dwaraka bersama kerabat dan pengiringnya. Begitu pula Baladewa, kakaknya.
Sepeninggal mereka, Pandawa mulai mengirim utusan-utusan kepada sanak saudara dan sahabat-sahabat mereka. Mereka juga mempersiapkan pasukan perang dengan sebaik-baiknya.

Sekembali dari pertemuan agung itu, Raja Drupada memanggil pendita Negeri Pancala dan berkata kepadanya, “Engkau mengetahui jalan pikiran Duryodhana dan sikap Pandawa. Pergilah menghadap Duryodhana sebagai utusan Pandawa. Kurawa telah menipu Pandawa dengan sepengetahuan ayah mereka, Raja Drestarastra yang tidak mau mengindahkan nasehat Resi Widura. Tunjukkan kepada raja tua yang lemah itu, bahwa ia telah diseret anak-anaknya ke jalan yang salah. Engkau bisa bekerja sama dengan Resi Widura. Mungkin dalam tugasmu engkau akan berbeda pandangan dengan para tetua di sana, yaitu Bhisma, Drona dan Kripa. Begitu pula dengan para panglima perang mereka. Andaikata itu yang terjadi, maka dibutuhkan waktu lama untuk mempertemukan berbagai pendapat yang berbeda. Dengan demikian, Pandawa mendapat kesempatan baik untuk mempersiapkan diri. Sementara engkau berada di Hastinapura untuk merundingkan perdamaian, persiapan Kurawa akan tertunda. Syukur kalau Pendita bisa kembali dengan penyelesaian yang memuaskan kedua pihak. Tetapi menurutku, Duryodhana tidak dapat diharapkan akan mau menyetujui penyelesaian seperti itu. Namun demikian, mengirim utusan merupakan suatu keharusan”.

Demikianlah, Raja Drupada mengirim Brahmana kepercayaannya ke Hastinapura untuk menjadi utusan yang mewakili Pandawa dalam mencari penyelesaian secara damai dengan Kurawa.

Purbodjati 1
negeri hastinapura yang permai. kekayaan melimpah. sayang sekali rajanya prabu duryodana tak pernah tenang. karena menuruti hawa nafsu ingin melenyapkan seteru duri dalam daginya. yaitu para pandawa. siang itu paseban dibuka dengan hadirnya dan menghadapnya 2 orang begawan. yang pertama adalah begawan drona dr pertapan soka lima dan panembahan wiso sejati dari talang gantungan. bengawan drona menceritakan bagaimana keskatian panembahan wisno sejati pada sang prabu joko pitono. saat itu di paseban hadir juga patih sengkuni dari ploso jenar dan prabu baladewa dari kerajaan mandura.

prabu jaka pitana mengutarakan mengapa keadaan dirinya sering dalam keadaan gelisah selalu. sang panembahan menjelaskan bahwa karena sang baginda selalu memikirkan kekuatiran bahwa para pandawa akan merebut dampar kerajaan. karena itu sang panebahan menawarkan untuk ikut berbakti dengan mengupayakan kematian para pandawa. sang prabu jaka pitana sangat gembira sekali dan menerima usulan dari sang panembahan. sang panembahan mengatakan bahwa pandawa itu kekuatanya dari sri bhatara kresna karena itu untuk memudahkan membunuh pandawa maka harus dilenyapkan dahulu sang bhatara kresna. sang panembahan menanyakan apakah sang prabu menyetujui akan usulan dr dirinya.

sang prabu jaka pitono memberikan isyarat beliau sangat setuju terhadap usulan panembahan. bahkan meberikan suatu harapan bagi panembahan agar bisa membantunya melenyapkan para pandawa. tetapi sang panembahan kemudian berkata bahwa di dlm istana hastina ada mata mata pandawa. yaitu sang prabu baladewa yang dianggap adalah mata mata karena beliau pasti tak akan setuju dengan usulan untuk membunuh sri bhatara kresna. mendengar itu sang prabu baladewa menahan amarahnya dan berkata, sebaiknya sang prabu joko pitono berpikir ulang. agar wening pikiranya. tidak hanya memusatkan pada keinginan membunuh para pandawa saja. tetapi usulan itu tidak diperhatikan sang prabu jaka pitana. bahkan resi drona menyumbari akan membantu penuh teman barunya itu dalam mengupayakan kematian sri kresna dan pendawa.

sang prabu jaka pitana menyetujui hal tersebut dan meminta segera dilaksanakan perbuatan tersebut secara nyata. maka sang panembahan memanggil muridnya dr ngeri talang gantungan yaitu prabu dosokendro. prabu doso kendro datang menghadap dan berkata sanggup untuk menjadi jago kurawa dalam membunuh sri kresna. setelah direstui sang prabu maka berangkatlah rombongan. dengan dikawal oleh patih sengkuni, resi drona dan para korawa. setelah rombongan berangkat prabu baladewa pamit pulang dengan lasan istrinya sakit. tetapi sang prabu sebenarnya sangat marah dan berniat mencegat rombongan prabu dosokendro.

paseban dibubarkan. lalu sang prabu joko pitono masuk ke dalam istana. berganti baju serba putih dan masuk sanggar pemujaan. niat minta kepada dewata agar niatnya berjalan lancar. disanggar pamujaan gangguan banyak terjadi. karena niat sang prabu yang jelek dan tak direstui dewa. kemenyan yg dibakar tak nyala nyala. bahkan cuma menetes mematikan apinya. kukus kemenyan berwarna hitam dan bolak balik membuat sang prabu bangkis bangkis dan mata merah perih. marah sang prabu duryodana. kemenyan ditendang sampe mencelat jauh ke pelataran. lalu sang prabu keluar saggar pamujaan. ratu banowati yg tau suaminya lg marah menyambutnya dengan senyuman. dan luluhlah marah sang prabu, mereka pun berasmara ria. tak peduli lg dengan niatan membunuh pandawa….

prabu dasakendra diiringi oleh togog dan mbilung. mereka jalan didepan mendahuli begawan drona dan panembahan wisno djati yg berjalan di belakang. lalu di belakangnya lg agak jauh patih sengkuni dengan para kurawa mengawasi. sementara lg enaknya berjalan prabu dasa kendra menanyaan pd togog apa sih kelebihan prabu bhatara kresna itu?. lalu togogo menjelaskan agar sang prabu jangan berani melawan sri kresna karena beliau adalah titisan wisnu, memiliki senjata chakra dan bisa tiwikrama menjadi raksasa sebesar jagad. tapi dasar kesombongan memenuhi dada dasa kendra sehingga tak mau mendengar penjelasan dari togog dan memilih terus berjalan akan membunuh sri kresna.

belom jauh melangkah jalan dihadang oleh prabu baladewa. yang kemudian menantang dasakendra. boleh membunuh sri kresna jika bisa melangkahi bangkai baladewa kata raja mandura itu sangat marah. perkelahian pun terjadi. prabu baladewa mengamuk sejadi jadinya. dasa kendra dihantam dipukul dan diinjak injak. sampe babak belur klenger. kemudian mundurlah dasa kendra dan bertemu dengan rombongan resi drona dan panembahan wisno djati. sengkuni menyusul dan dengan mengejek dia berkata kepada resi drona. kakang drona, ini jagoanmu?masa belom apa apa saja sudah babak belur begini?. drona sesumbar bahwa itu baru awal.

prabu dasa kendra mengeluarkan pusaka kemlandingan putih. yang dilempar ke arah prabu baladewa yang segera mebentuk tali yang mengikat tangan ratu mandura. marahlah prabu baladewa meledak ledak suaranya. sambil mencabut senjata saktinya neggala. neggala membuat pusaka kemlandingan putih hancur berantakan dan dasa kendra jadi bulan bulanan dan hampir saja tewas kalo tidak melarikan diri. oleh panembahan dsuruh agar melanjutkan jalan dan jangan ngurusi baladewa. resi drona lalu menggunakan cara licik dengan mencipta agar dasa kendra bisa salin rupa sama persis dengan hyang kaneka putra bhatara narada. karena nesehat dr panembahan bahwa kresna itu tak takut apa apa. dia cuma takut kepada bhetara.

oleh panembahan kaneka putra palsu ini disuruh ke dwarawati dan meminta mustika wijaya kesuma. dengan prediksi kresna tak akan bisa mati jika mustika wijaya kesuma masih ada ditangan sri kresna. karena mustika wijaya kesuma dikenal mampu membangunkan orang mati separah apapun lukanya. maka berangkatlah narada palsu ke dwarawati. sementara itu drona dirubah oleh panembahan salin rupa jadi prabu kresna. untuk pergi ke ngamarta dan meminta layang kalimasada dari prabu puntadewa. karena ga mungkin minta paksa dan mengetahui pandawa cuma patuh pd kresna maka drona salin rupa jd kresna. cuman panembahan mengingatkan agar hati hati pada sadewa. karena sadewa itu yg paling waspada dan akan mengetahui jika ada yg pake ilmu salin rupa.

juga diperintahkan agar membawa arjuna dan werkudro untuk diperdaya dengan sebuah asumsi bahwa benteng pandawa ya cuma bima dan arjuna yang paling sakti. maka berangkatlah sri kresna palsu ke ngamarta. merasa belom aman panembahan memanggil buto yg tak tampak karena ahli panlimunan, bernama yaksa kala jambe rupekso. diperintahkan dengan halimunan selalu mengikuti resi drona aka krena palsu. jika ada yang mau menyusul untuk menggagalkan jalan sri kresna palsu ditugaskan pada buto tersebut untuk menghadapi sang pengganggu siapapun itu. maka berangkatlah sang raksasa, yang wujudnya tak terlihat. ibarat kata hanya suara tanpa wujud karena ahlinya dlm halimunan.

baladewa mencari lari kemana musuhnya. tiba tiba saja menghilang. hatinya merasa sangat tak enak. kemudian segera bladewa melaju ke dwarawati. untuk mengingatkan bahwa bahaya sedang mengancam adiknya prabu bhatara kresna. kisah berpindah ke ngamarta. kerajaan ngamarta aka indraprasta mengalami masa suram. terkena pagebluk karena hawa hilangnya pamomong pandawa yaitu aki semar badranaya. ibarat kata keadaan morat marit. banyak penyakit. pagi sakit sore mati, sore sakit pagi mati. dan para pandawa merasa sangat sangat prihatin sekali.

di paseban para pandawa tampak murung. tiba tiba datanglah sri kresna palsu resi drona yang langsung masuk sitinggil. sri kresna palsu di sambut dengan bahagia. para pandawa merasa bahagia karena dengan kehadiran sri kresna dianggap akan mampu memberikan jawaban atas apa yang terjadi di negeri ngamarta. sri kresna menyampekan jangan sedih dan konyol, semar itu wong cilik bodoh dan ga bs apa apa jangan dimulia muliakan katanya. lalu sri kresna meyampekan ada topo yang gede banget penguwasanya. namanya panembahan wisno djati. dan menganjurkan pandawa berguru padanya. sri kresna mengatakan bahwa pandawa mengalami pagebluk karena kurang paham isi layang kalimasada. dan sri kresna menganjurkan agar layang kalimasada diberikan padanya dan arjuna wkudoro agar ikut untuk diwejang sang panembahan. hal ini disetujui oleh prabu puntadewa. maka berangkatlah rombongan sri kresna palsu dan layang kalimasada disertai harjuna dan werkudoro.

Purbodjati (2)
sadewa merasa curiga dan tau bahwa sri kresna bukanlah sri kresna asli. melainkan jelmaan orang lain. dia berkata kepada prabu puntadewa untuk menyusul dan merebut jamus kalimasada. tetapi dilarang oleh prabu puntadewa. sadewa pun dengan cerdiknya pamit memeriksa pasukan di luar. prabu mengijinkan sambil tetep merasa agak kuwatir sadewa akan menyusul sri kresna. tetapi sadewa menyakinkan sang prabu bahwa dirinya cuma akan keluar ke pelataran liat prajurit. di luar sadewa mengumpulkan gatotkaca, antaredja, antasena untuk diajak rembugan. mereka sadar bahwa sri kresna yg tadi itu palsu dan hanya jelmaan dan bertekad untuk merebut kembali layang jamus kalimasada.

gatotkaca bagi tugas, di angkasa gatotkaca akan menyusul. antaredja liwat tanah dan antasena mengawasi di belakang rupanya buto panglimunan jambe rupekso mengetahui. berniat menghalangi tindakan para putra yodipati. buto gandrwo ini lalu merasuk ke dalam tubuh antaredja sampe antaredja kesurupan dan memukul gatotkaca sampe pingsan. gatotkaca bangun dan bertanya kenapa kakanya memukulnya. antaredja yg kesurupan mengatakan bahwa sadewa sedeng karena berani melawan sri kresna. lalu berantemlah keduanya. sampe pukulan gatotkaca telak menjatuhkan antaredja saat itu jin kolo jambe mencelat keluar dr tubuh antaredja. dan antaredja bingung kenapa kok dipukul oleh gatotkaca. datanglah antasena. mereka lalu rembugan apa yg sih yg sebenrnya terjadi. mereka lalu waspada. ada yg ga beres disini kata antasena.

antasena meminta gatotkaca menggunakan pemberian bhatara guru berupa mustika rumput suket kalanjana. dioleskan ke mata sanggup liat ghoib. tampalah buto gandarwa kolo jambe. pertarungan terjadi antasena dan antaredja menggunakan suket kalanjana juga sehingga bisa ikutan berantem. dlm pertempuran ini raksasanya kewalahan. karena tandang dr ke 3 putra yodipati. gatotkaca menyerang dr atas, antaredja dr dalam tanah dan antasena menendang langsung tubuh raksasa itu sehingga seperti bola sepak. karena kewalahan maka raksasa itu memilih mundur sambil menebar kabut.

kembalilah ke 3 satria yodipati karena ga berhasil mengejar kresna palsu. dan juga ga berasil nangkep gandarwa td. menghadap sadewa, oleh sadewa diminta antasena antaredja menjaga ngamarta sementara gatotkaca diminta terbang di udara. jika ada sorot terang segera turun ke bumi. semoga itu jawaban dr masalah. dan sadewa segera ke dwarawati mengadukan masalah yg terjadi kepada sri baginda bhatara kresna. maka berangkatlah sadewa dan gatotkaca dengan tugas masing masing.

keraton dwarawati, prabu sri kresna tampak murung dipaseban bersama patih udawa dan setyaki. prabu bhatara memikirkan tentang keadaan pagebluk yg menimpa dwarawati. tiba tiba datanglah baladewa dan sadewa secara bersamaan. maka sang prabu pun menyambut tamu saudara saudaranya ini. prabu baladewa mengingatkan sri bhatara kresna agar waspada. karena ada yang mau membunuh sri bhatara kresna. sedang sadewa menyampaikan kabar bahwa sri kresna asli menyuri jimat kalimasada serta membawa arjuna dan werkudoro tanpa diketahui akan dibawa kemana.

geger tiba tiba bhatara narada palsu datang. semua menghaturkan sembah. bhatara narada berkata bahwa ada perintah bhatara guru untuk meminta kembang wijayakusuma. tapi karena kecerdikan sri kresna maka sri kresna menolak secara halus. tetapi bhatara narada palsu berkata akan merebut sendiri liwat perang jika kembang wijaya kusuma tak diberikan. sri rkesna erasa janggal dan tau kalo ini bhatara narada palsu. segera memanggil senjata chakra dan dihantamkan ke leher bhatara narada. seketika terbuka kedoknya balik ke wujud asal yaitu prabu dasa kendra yg segera lari ke luar sitinggil. yg lain akan mengejar tapi di cegah sri kresna. ini musuhku kalian disini jaga baik baik kerajaan berkata sri kresna. dan segera sri kresna mengejar dasa kendra.

pertempuran terjadi. anehnya setiap terkena chakra tewaslah prabu dasa kendra terkena tanah hidup lagi, terus begitu ahirnya larilah prabu kresna. pertapaan wukir retawu kedatangan tamu. yaitu pangeran ongkowidjoyo aka abimanyu dan punokawan dr kesatrian plongkowati. kedatangan untuk meminta begawan abyasa memberikan pencerahan dimana lurah semar berada. oleh begawan abyasa disuruh cari ke kaki pegunungan di sebelah timur. maka berangkatlah rombongan dihadang oleh raksasa baju barat. terjadilah perang tanding. dan saat berperang gatotkaca melihat dr angkasa adiknya dikeroyk banyak raksasa. segera turun membantu menumpas para raksasa. segera setelah semua raksasa berlarian maka gatotkaca ikut dlm rombongan abimanyu mencari kaki semar badranaya.

cerita beralih ke kayangan ondar andir. tempat sang hyang wenang. sang hyang wenang lg ada tamu, ismaya ki semar. kisemar mengadu kenapa kejahatan meraja lela. sang hyangw enang bilang ini ujian untuk pembela kebajikan. lalu diberikan trisoro oleh sang hyang wenang kepada ismaya. untuk melawan kejahatan dan hanya boleh digunakan oleh mereka yang memiliki jika senopati. kembalilah ismaya ke ngarcapada setelah berterimakasih kepada sang hyang wenang.

di kaki gunug ditimur jazad ki semar ditunggu oleh hanoman. datanglah abimanyu gatotkaca dan punokawan. mereka diberi tahu semar sedang menghadap hyang wenang. maka mereka menunggu disisi tubuh semar. masuklah sang hyang ismaya. ki semar segera bangkit sadar. lalu segera meminta rombongan menuju suatu tempat yang telah diketahui untuk menyelamatkan pusaka jimat kalimasada dan arjuna serta werkudoro.

sri kresna palsu membawa arjuna dan werkudoro ke sebuah pertapan. ketemu dengan panembahan wisno jati. diberi air untuk membersihkan jiwa. air yg diracun. karena percaya saja arjuna da bima meminumnya. dan lumpuh lemaslah keduanya. lalu di bawa ke dalam penjara. sri kresna palsu diminta kembali ke pandawa untuk mengambil putadewa dan sisa pandawa. sementara jin jambe disuruh memasukan arjuna dan bima ke penjara. saat itu datang rombongan semar. hanoman dengan seluruh kesaktianya memukul sampe hancur berantakan tubuh dr jin jambe. gandarwa kala jambe tewas seketika. lalu penjara di hantam pusaka trisoro yg diberikan semar kepada gatotkaca.lebur penjara itu, bima dan arjuna ditolong keluar.

datanglah prabu kresna asli dikejar oleh dasa kendra. semar meminta hanoman menghadapi dasa kendra sementara kresna diminta merebut jamus kalimasada dari kresna palsu. pertarungan terjadi dan hanoman berhasil mengenali dasa kendra sebagai sukma dosomuka yg lari dr gunung pangukuman argokiloso. setelah berantem seru maka terpeganglah sukma dasamuka dan dikembalikan ke penjara. sri kresna asli terdesak oleh sri kresna palsu. oleh semar gatotkaca diminta menghantamkan senjata trisoro. dan badar sri kresna palsu kembali ke wujud drona. drona menyerah dan mengembalikan kembali jamus kalimasada.

sementara panembahan wisno jati dihadapi semar. setelah perang tanding badar wujud panembahan menjadi bhetari durga. bhetari durga meyerah dan mohon diampuni. oleh semar diampuni dan bhetari kembali ke khayangan sentra gondo mayit. semua pasukan baju barat dan penyakit yg menyatroni ngamarta dan juga dwarawati ditarik. dan keadaan kembali tenang. senjata trisoro itulah purbodjati yg diberikan sang hyang wenang kepada ismaya untuk melenyapkan ke angkara murkaan.

Srikandi Dhaup
negara pancala dipenuhi oleh kadang pandawa. karena pancala atau cempala mengadakan sayembara. bahwa srikandi akan menikah dengan siapa saja yang sanggup membuat atau memperbaiki taman mowokoco. saat itu semua dr pandawa tahu bahwa arjuna menginginkan bersanding dengan srikandi. tetapi rupanya hal ini membuat cemburu larasati istri ke 2 arjuna. sebenernya larasati disuruh oleh sembadra istri pertama arjuna untuk menguji srikandi dalam olah kaprigelan. ternyata kemampuan srikandi dan larasati sama dan sebanding. karena tidak menginginkan geger berlanjut maka dibuatlah sayembara tersebut.

rupanya sayembara ini membuat kerajaan ceti mengirimkan dutanya. duta tersebut berwujud raksasa datang ke paseban agung dan menyatakan ingin melamar srikandi. belum memutuskan raja drupada raja agung cempala, sudah ditengahi oleh drestajumna saudara srikandi. drestajumna menantang kepada duta tersebut agar balik ke cethi dan mengurungkan niatnya. lalu terjadilah saling adu emosi yang berahir tantang menantang. raksasa keluar diiringi drestajumna. rupanya prabu drupada merasa sangat kuatir dan meminta gatotkaca, setyaki dan antaredja yg hadir untuk mendampingi drestajumna.

perang terjadi dan drestajumna berhasil sementara waktu menang. lalu dilanjutkan perang dengan setyaki, gatotkaca dan antaredja. duta itu walo berkali kali kalah tetep memaksa maju. sampai ahirnya dengan nasehat dr togog sang duta memilih pulang. karena serangan gabungan dari gatotkaca di udara dan antaredja di bumi membuat bingung sang duta. kembalilah duta raksasa tersebut kenegeri cethi. alkisah di negeri cethi baginda raja supala sedang muram. karena adiknya supali menginginkan menikah dengan srikandi. sedangkan baginda supala sangat membenci kresna. dia tau cempala sangat dekat dengan pandawa, dan pandawa itu dekat dengan sri kresna. kembali baginda supala memberikan nasehat agar supali mengurungkan niat menikah dengan srikandi.

datanglah sang duta menyatakan lamaran ditolak bahkan dia dikerubut oleh 3 satria pandawa. karena merasa emosi kembali prabu supala berkata agar supali mengurungkan niatnya. supali tiba tiba menjadi nekad. dan berkata akan merebut srikandi dengan cara mencurinya dr kerajaan cempala. lalu supali segera melesat meninggalkan paseban. supala geleng geleng kepala. dia mengutus patihnya dan pasukanya untuk menyusul ke cempala. dan melihat serta mendengar kabar disana. kalo sampe ada berita kemalingan dan malingnya ga ketemu, berarti supali selamat. tp kalo ada berita kemalingan dan malingnya ditangkap. maka intruksi supala jelas. patih harus berperang menyelamatkan supali.

di tengah alas arjuna sedang bertirakat dibarengi oleh punakawan. arjuna menjelaskan ke ki semar kalo dirinya merasa bingung bagaimana cara membangun taman mmowo koco tersebut. karenanya arjuna menggelar laku prihatin dengan masuk alas dan bertirakat minta petunjuk dewata. punakawan menghibur dengan gending dan juga guyonan guyonan. lalu tiba tiba saja datanglah raksasa. raksasa ini sebagian pasukan dr patih negera cethi. terjadi pertarungan seru dan sebagian pasukan raksasa tumpas. yang lain lari kocar kacir. sementara itu turunlah betara kamajaya. beliau memberi hormat kepada semar ayahnya dan memebrikan air kehidupan dalam cupu kepada arjuna. kasiatnya bisa menghidupkan kembali apapun yg musnah. disuruhnya untuk menyiramkan di taman mowo koco pada hari anggara kasih pas bulan purnama. dan setelah itu betara kamajaya balik. sementara arjuna dan punakawan bergegas ke cempala. karena waktu yg ditentukan sudah dekat.

sementara itu para para pandawa menuju ke hastina. karena mereka akan minta bantuan danyang drona. karena dlm perkiraan mereka hanya danyang drona yang akan bisa membantu. kasak kusuk terjadi ketika prabu duryodana menerima sri kresna dan pandawa. mereka merencanakan sebuah siasat licik. dan menerima permintaan pandawa tadi. lalu bersama prabu baladewa kurawa bergegas menuju cempala. sementara danyang drona kebingungan karena ga ngerti sebenernya bagaimana menghidupkan kembali taman murwo koco itu.

arjuna sampe di cempala langsung ke kaputren dan ketemu dengan srikandi bermadu kasih. lalu arjuna ke taman dan menaburkan air kehidupan. sehingga taman bener bener indah luar biasa. sementara itu kurawa sampe di cempala. lalu beristirahat. tanpa dinyana ketika tidur karena kecapekan supali berhasil mengambil senjata neggala prabu baladewa. tak berapa lama gegerlah cempala dan drestajumna mengambil keputusan siapa saja yang memiliki senjata nenggala akan dijatuhi hukuman mati. sementara itu supali berhasil menyusup masuk ke taman hendak nyolong srikandi. ketemulah dia dengan arjuna.

arjuna melihat senjata neggala berhati hati. dan mengatakan kepada supali bahwa dia cuma seorang juru taman. lalu arjuna meminta senjata di tangan supali. diserahkan karena supali tak mengerti kehebatan nenggala. lalu oleh arjuna ditusukan ke dada supali. dan tewaslah supali. oleh arjuna mayat supali di terbangkan dengan sepi angin ke neegra asalnya. datanglah tergopoh gopoh petruk. dia berkata bahwa ada woro woro siapa memegang nenggala akan dijatuhi hukuman mati. arjuna tertuduh karena memegang senjata neggala. maka bingunglah arjuna.

kebetulan di sekitar situ datanglah werkudoro dan punta dewa. lalu petruk mengajak arjuna ketemu 2 kakaknya tersebut. arjuna menceritakan apa yang terjadi pada 2 kakanya. puntadewa tak bisa ambil keputusan. ahirnya werkudoro mengambil nenggala dan menusukan ke dada arjuna. tewaslah arjuna. petruk protes kenapa arjuna dibunuh. werkudoro cuma bilang agar petruk nantinya menurut saja kalo disuruh jd saksi. lalu kentongan tanda bahaya di tabuh.

datanglah raja cempala prabu drupada, drestajumna, sri baginda kresna, sri baginda baladewa, mereka datang ke tempat kentongan ditabuh. lalu mereka bertanya ada apa, dan kenapa arjuna bisa terbunuh. werkudoro bilang tadi ada suara gedebuk, lalu pas dilihat ternyata arjuna sudah mati. maka disepakati melihat senjatanya. dr senjatanya nanti bisa diketahui siapa pembunuhnya. ketika dilihat senjatanya nenggala, maka werkudoro berpura pura menuduh baladewa membunuh arjuna. baladewa ketakutan dan bilang dia baru aja kecurian.

ahirnya drpada ribut maka sri kresna diminta menghidupkan arjuna untuk ditanyain ada apa sebenernya. sebelum dihidupkan werkudoro minta peraturan kalo kedpatan nenggala akan dihukum mati supaya dicabut. prabu drupada sedia mencabut putusan drestajumna dan sekaligus menegur drestajumna agar tidak sembarang mengeluarkan keputusan. dengan kembang wijaya kesuma kresna menghidupkan arjuna. arjuna menceritakan kejadianya. arjuna ga jd dihukum mati. tetapi diminta membuktikan keberadaan mayat supali. arjuna segera berangkat ke negeri cethi.

nah disana mayat supali diterbangkan ajian mendarat di negeri cethi. supala sangat marah dan berniat menyerbu cempala. lalu dipapak oleh arjuna terjadi perkelahian dan supala bisa dibekuk. lalu dibawa ke cempala. disana cempala mengakui suplai adiknya yg mau menyolong dewi srikandi. didepan prabu drupada dan arjuna supala memaki maki kresna. keresna tak menjawab dan meminta kepada prabu drupada supala dibebaskan. ketika ditanya kenapa prabu kresna tak menjawab ketika dimaki maki maka prabu kresna menjawab selama supala tak menghinaku di depan 100 orang tak akan kubunuh. karena supala masih saudara denganku. supala dilepas dan wadya balanya kembali ke negeri cethi (supala dichakra kepalanya oleh sri kresna di lakon rajasuya karena menghina kresna didepan 100 orang).

srikandi pun ahirnya didaupkan dengan arjuna. pernikahan dilakukan di cempala. sementra romobongan hastina kembali tanpa pamit karena malu. karena danyang drona rupanya karena malu diam diam tanpa pamit kembali ke soka lima. dia merasa ga mampu membangun taman morwa kaca. dan karena arjuna yang berhasil membangun, maka arjuna dinikahkan dengan srikandi.

Wahyu Makuta Rama
Prabu Suyudana mengutus Adipati Karna, Patih Sengkuni dan para Kurawa pergi ke Gunung Kutarunggu atau Pertapaan Swelagiri, karena dewa memberikan penjelasan bahwa barang siapa memiliki makuta Sri Batararama akan menjadi sakti, serta akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa.

Dalam perjalanannya Adipati Karna pergi ke Pertapaan Duryapura Dimana Anoman, saudaranya Kesaswasidi bertempat di situ yang ditemani raksasa Gajah. Wreksa, Garuda Mahambira, Naga Kuwara dan Liman Situbanda. Karma mengutarakan maksudnya tetapi di tolak Anoman sehingga terjadi peperangan. Karena terdesak Karna melepaskan panah Wijayadanu tetapi dapat ditangkap Anoman dan dibawa ke Swelagiri.

Pihak Pandawa sang Arjuna juga mencari Makutarama, ia dating di Gunung Swelagiri bertemu dengan Kesaswidi menerangkan maksudnya dan oleh sang Begawan dijelaskan bahwa Makutarama itu sebenarnya bukan barang kebendaan, tetapi merupakan pengetahuan budi pekerti bagi raja yang sempurna atau ajaran yang disebut Astabrata. Lebih jauh Begawan Kesaswidi menjelaskan bahwa kelak cucunya yang bernama Parikesit akan berkuasa sebagai raja besar di Jawa dan ia akan menjelma kepadanya. Sedangkan Anoman diperintah untuk meneruskan bertapa di Kendalisada dan kelak pada pemerintahan Prabu Jaya Purusa dari kediri ia akan naik surga.

Arjuna kembali dengan membawa panah Wijayadanu untuk diserahkan Adipati Karna.
Dewi Subadra yang sangat khawatir kepergian suaminya lalu mengembara mencari Arjuna, dan diperjalanan bertemu Batara Narada yang memberikan busana pria, maka Dewi Subadra berubah ujud pria bernama Bambang Sintawaka kemudian ia pergi ke pesanggrahan Kurawa dan sanggup membantu melawan Ajuna.

Bima dan Gatotkaca juga mencari Ajuna di perjalanan mereka dihadang Kumbakarna. Menurut nasihat Wibisana Kumbakarna harus menjelma pada Bima maka terjadi perkelahian yang seharusnya Kumbakarna merasuk pada paha kiri Bima.

Kurawa yang dibantu Sintawaka menentang Arjuna dan peperangan terjadi. Arjuna dapat mengenali musuhnya itu adalah istrinya dan akhirnya kembali ke ujud semula, Dewi Subadra. Para Kurawa menyerang tetapi dapat dihalau Gatotkaca.

Wisanggeni Lahir
Tersebutlah dewi dresnala dewi cantik yang dihadiahkan pada ahrjuna beserta keenam dewi lainya karena arjuna berhasil membunuh raja raksasa yang meminta dewi supraba sebagai istrinya. rupanya anak betari durga dewa srani menginginkan juga dewi cantik dresnala ini. tapi apa lacur?sang dewi beserta 7 dewi laninya telah mengandung bibit benih arjuna. dan kayaknya arjuna sayang juga terhadap sang dewi, arjuna sering menyambangi dewi cantik ini di kayangan.
tersebutlah sang dewa srani mengadu kepada ibunya betari durga, ibunya kemudian berkata, menghadaplah kepada betara guru aku akan mencoba untuk membantumu, maka berangkatlah dewa srani diiringi oleh sang ibu betari durga ke paseban agung tempat bhetara guru dan para dewa bertemu.

Di paseban agung ahdir dewa dewa dan terutama bhatara guru sebagai rajanya para dewa, lalu bhatara narada sebagai patihnya para dewa, dan bhetara penyarikan, bhetara indra, bhetara kamajaya dan bermacam macam dewa hadir dalam pertemuan agung itu. nah saat itu menghadaplah dewa srani, mengutarakan maksudnya untuk “mengawini” dewi dresnala, dengan didampingi betari durga yang juga ikut melobi kepada bhatara guru.

Seperti biasa bhetara guru termakan omongan betari durga dan dewa srani, maka betara guru mengeluarkan titah untuk mengusir arjuna dan kayangan (kebetulan arjuna sedang di kayanan mengunjungi dewi dresnala), menggugurkan semua kandungan bidadari yg bersal dari benih harjuna, dan mengawinkan dresnala dengan dewa srani.

Bhatara narada dan kamajaya berusaha mencegah, tapi malah diberi pidana dengan dilepas pangkat dan kedudukanya sebagai dewa, bhatara narada marah dan turun ke bumi bersama kamajaya. sementara itu pasukan dewa dibawah pimpinan betara penyarikan dan batara indra segera diutus untuk menjalankan perintah, menggugurkan semua kandungan bidadari, mengusir harjuna dari kayangan dan membawa paksa

Terkisahkan pasukan dewa sampai di kediaman dewi dresnala, harjuna diusir dengan kasar dan kembali ke ngarcapada dengan sedih. dewi dresnala dipaksa untuk ikut ke kediaman dewa srani, sangking sedihnya dewi dresnala berteriak nyaring, lalu lahirlah jabang bayi dari perutnya bersamaan dengan teriakan itu.

Sementara di ngarcapada semar dilapori harjuna kejadian yang terjadi, apalagi pasukan baju barat dari sentra gandamayit kediaman dewi durga sempet menghambat langkah arjuna, untung bisa dimusnahkan. semar naik darah dan pergi ke khayangan untuk melihat apa yang terjadi.
bayi yg masih orok itu anak dresnala seharusnya dilihat dengan penuh kasih sayang, tapi tidak dengan pasukan dewa. mereka justru memukuli bayi merah itu. anehnya bukanya mati, justru bayi merah itu jadi bisa merangkak. bahatara indra dan bhatara penyarikan bingung, maka disiapkanlah pusaka. dihantamkanya ke bayi merangkak tadi. keajaiban kembali terjadi, bayi itu berubah jadi anak kecil yang bisa berjalan. kehilangan akal sehatnya bayi itu dimasukan kedalam kawah candradimuka.

Semar melihatnya dengan penuh gregetan, dia dah gak sabar pengen manampar dewa dewa tanpa rasa kasihan itu, lalu semar turun dan berdiri di samping kawah candradimuka. tiba tiba keluarlah anak muda dari dalam kawah dengan tubuh berwarna merah api. dia kemudian menghampiri semar dan bertanya siapa dirinya dan siapa ayah ibunya.

Semar memberi nama wisanggeni kepadanya. begitu diberi nama wisanggeni si pemuda ini menjadi sehat badanya, segar dan penuh dengan kekuatan. dia berterimakasih kepada semar. lalu olehs emar disuruh untuk bertanya kepada pasukan dewa siapa ayah ibunya. bagaimana kalo tak dijawab?kata si wisanggeni, gebuki aja kata semar.

Wisanggeni menghadang pasukan dewa, dan seperti disinyalir, pasukan dewa gak tau siapa ayah ibu anak ini, maka wisanggeni mengamuk dan dihajarlah pasukan dewa sampai kocar kacir, dan alri menghadap ke bhatara guru. wisanggeni mengikuti ke hadapan bhatara guru diiringi oleh semar dari jauh.

Batara guru marah, semar menyuruh wisanggeni berbuat sama pada bhatara guru, bertanya siapa ayah ibunya kalo gak dijawab gebuki. dan bhatara guru bertanding melawan wisanggeni, dan kalah. cis di tangan kanan kirinya tak mampu menembus kulit wisanggeni. bhatara guru melarikan diri ke dunia….

Wisanggeni mengikuti larinya bhatara guru ke dunia. di dunia bhatara guru menemui arjuna yang lagi bersedih bersama werkudoro. dia dibarengi oleh 2 orang petapa yang membimbing arjuna. bhatara guru datang dan meminta bantuan. bahwa ada anak setan yang mengacak acak khayangan. walo arjuna sedih akrena diperlakukan buruk oleh para dewa, dia siap maju. tapi werkudoro mencegah dan maju terlebih dahulu.

Wisanggeni melihat ada satria tinggi besar bertanya pada semar, siapa itu?dijawab ole semar, satria yodipati werkudoro. ketika akan dihajar oleh wisanggeni, semar melarang dan menyuruh wisanggeni menghantam kuku pancanaka werkudoro, akrena itu kelemahanya. dan benar, setelah tantang menantang terjadilah perkelahian antara wisanggeni dan werkudoro. werkudoro mundur ketika wisanggeni menghantam kukunya. sambil menahan sakit werkudoro menyuruh arjuna maju.

Melihat ada satria bagus maju bertanya wisanggeni siapa dia?maka dijawab oleh semar itu ayahmu, janganlah melawanya. dan wisanggeni pun berkelahi tanpa kekuatan, dia hampir dikeris oleh arjuna, tapi dihalangi semar. semar berkata lebih baik bunuh saya,karena dia itu anakmu, dan berangkulanlah dua orang ayah anak itu sambil menangis.

Bima ngamuk ngamuk setelah tau bhatara guru salah, dia berkata pantas saja aku kalah, la aku mbela orang yg salah. 2 pertapa berubah jadi kamajaya dan narada setelah gak kuat berhadapan dengan semar.bhatara guru minta maaf pada semar, bhatara narada dan juga arjuna wisanggeni. dan ebrjanji gak akan mengulangi.

Wisanggeni melabrak tempat kediaman dewa srani, dewa srani digebuki oleh wisnaggeni, dewi dresnala diajak pulang, sementara ibunya bhetari durga di hadapi semar, maka lunglailah sang betari, dia gak ebrani melawan semar.pasukan baju barat yg tadinya mengacau dibawa balik setelahs emar meaafkan si betari durga. ahirnya berkumpulah, dresnala, arjuna, wisanggeni.

Prasetya Basukarna
[Ketika mendekati Setyaki yang tengah duduk bersila di tempat kusir kereta Kyai Jaladara, Sri Kresna melihat Raja Awangga lewat. Maka ia segera mengejarnya sampai ke tepi bengawan Yamuna.]

“Adik Basukarna, saya yang datang, Dik.”

“Wah, silakan Kakak Prabu, hamba menghaturkan selamat Paduka telah berhasil menyebabkan para Kurawa gemetar ketakutan, Kakak Prabu. Hamba menghaturkan takzim…”

“Wee lha, belum-belum diriku ini sudah disindir oleh Raja Ngawangga… hehehe… tidak, Adik hendak pergi ke mana?”

“Kakak Prabu, karena pengabdian hamba sudah tidak diperlukan, hamba akan mengheningkan cipta di tepi Bengawan Yamuna, Kakak Prabu. Seperti yang sudah-sudah. Hamba akan bersamadi di tempat dahulu Ibunda Rada mengangkat kotak mulia yang berisi jabang bayi bernama Suryatmaja, Kakak Prabu.”

“O, begitu… ya sudah, silakan… Tapi boleh ‘kan saya mengiringkan Adik Prabu, sambil berbicara mewakili adik-adikku para Pandawa?”

“Pembicaraan yang bagaimana lagi? Bukankah yang jelas adik-adik hamba para Pandawa nanti akan memperoleh kemuliaan kembali dalam bentuk negara Ngastina Separuh?”

“Ya, sekehendakmulah… mari saya temani naik kereta Kyai Jaladara ini….”

[Kedua orang besar itu pergi ke tepi sungai Yamuna, dikusiri oleh Harya Setyaki. Di tempat yang biasa, Prabu Basukarna segera duduk ditemani oleh Sri Kresna.]

“Mohon maaf, adik-adik hamba Pandawa ingin berbicara bagaimana, Kakak Prabu? Apakah ingin memberikan kehormatan kepada diri hamba dengan bersemayam di salah satu kasatriyan atau wilayah perdikan Ngastina Separuh nanti, Kakak Prabu?”

“Lho, ‘kan nekat saja. Yang mau membelah dua Ngastina itu siapa?”

“Lha, tadi tentu Adik Kurupati gemetar ketakutan menyaksikan Raksasa Kesawa, lalu bersedia menandatangani Surat Pernyataan, begitu ‘kan, Kakak Prabu?”

“Wee lha, Adik ini kebablasan menghujat orang tua. Tidak ada Surat Pernyataan, Dik…. Ternyata Perang Barata akan segera berkecamuk. Oleh karena itu kakak ini mendapat pesan titipan dari Adik Darmakusuma, apabila tugasku sebagai duta gagal, agar Adik bersedia hijrah ke Wirata. Bersatu dengan adik-adik dari ibu yang sama, Dik. Adik Aji tidak tega dan tidak bersedia berperang melawan saudara tua.”

“Wah, hmmm… namanya sudah terlanjur, jadi seperti ini nasib Basukarna. Harus tega memutuskan persaudaraan secara lahiriah … Duh, Kakak Prabu, izinkan hamba menyampaikan … juga ini sebagai pesan bagi Adik Samiaji dan adik-adik hamba para Pandawa… Hamba tidak dapat memenuhi kehendak Adik Puntadewa, Kakak Prabu.”

“Lho, apa sebabnya, Dik?”

“Kakak Prabu, bila saya bersatu dengan Pandawa, saya percaya Kurupati akan membatalkan Bharatayuda. Karena, terus terang, keberanian Kurupati itu justru saya yang mengobori …”

“Lho, alasannya?”

“Hamba hanya ingin menepati janji hamba kepada yang dapat mengangkat saya ke dalam golongan kesatria. Oleh karena dulu hamba ini cuma dianggap ‘anak kusir’. Memang, hamba tidak bisa menyalahkan siapa pun; mungkin ini adalah karma yang harus hamba sandang, Kakak Prabu.”

“Oh, janji? Janji yang bagaimana, Dik?”

“Hamba ingin menepati janji dan membayar semua hutang budi hamba. Hamba bisa menjadi adipati di Ngawangga oleh karena diangkat sebagai saudara oleh Kurupati. Jadi hamba harus menjaga orang yang sudah memberi budi kepada hamba, Kakak Prabu. Juga hamba harus menepati darma ksatria untuk membasmi angkara murka …”

“Weelah …. nanti dulu. Adik ingin membalas hutang budi itu memang benar, tapi prasetyamu untuk membasmi angkara murka yang menyatu dengan Kurawa itu penalarannya bagaimana, Dik?”

[Basukarna tersenyum … merasa dipojokkan oleh Sri Kresna. Maka ucapnya …]

“Kakak Prabu, Kurawa itu gudangnya angkara, hampir setiap orang tahu. Sampai hamba sendiri terseret-seret dianggap pelindung angkara; ya tidak dapat hamba pungkiri, karena kenyataannya hamba ini orang Kurawa, dan juga melindungi mereka….”

“Lha, mengapa begitu?”

“Terus terang saja, Kakak Prabu … Hamba ini sudah tidak mampu mengalahkan angkara murkanya Kurawa. Tetapi hamba ini orang dalam. Yang dapat hamba lakukan tiada lain ialah mengharapkan pecahnya Baratayuda….”

“Wee lha, kalau begitu Adik tega terhadap adik-adikmu? Apa karena niatmu memang ingin perang tanding melawan Permadi?”

“Kakak Prabu, kalau perang tanding tadi mewujudkan sarana bagi janji hamba menepati ksatria hamba, di mana salahnya?”

“Apakah Adik tidak menyadari dan tahu bahwa Pandawa itu tidak berani cperang tanding melawan Adik?”

“Seribu maaf … Derajat Basukarna itu apa dibandingkan Sang Mahatma Bisma…. Padahal apabila Baratayuda pecah, mau tidak mau Mahatma Bisma, Guru Drona, Kripa, juga akan berhadap-hadapan dengan para Pandawa, Kakak Prabu…. Apakah Kakak Prabu mengkhawatirkan bahwa Pandawa akan kalah perang melawan hamba?”

“Ah, siapa yang tidak tahu akan kesaktianmu, Dik…. Apa ada senjata yang mampu menembus tubuhmu?”

“Yah, berkat kewaskitaan Kakak Prabu dalam hal Aji Tirai Baja [kere waja] ini yang menyebabkan hamba mengharap-harap pecahnya Baratayuda…. Yah, oleh karena Kakak Prabu menjagoi Pandawa, hamba memastikan bahwa Baratayuda ini menjadi sarana bagi hamba mencapai swarga…. Melalui tangan Permadi itulah hamba dapat menemukan swarga, Kakak Prabu. Coba Paduka lihat, tubuh hamba ini memakai perlindungan apa?”

“Aaah … Adikku, Adikku …. Basukarna…! Begitu luhur budimu terhadap adik-adikmu pribadi yang sayangnya tidak memahami dirimu…. Duh, Dik….sungguh berat karmamu …. Saya hanya turut memohonkan kasih sayang dewata agar terlaksana prasetyamu, Dik…. Kakak mohon pamit….”

[Berlinang air mata Sri Batara Kresta ketika melihat Basukarna sudah tidak mengenakan busana ‘Tirai Baja’.]

Kidung Malam 41
Pesanggrahan Pramanakoti
Bukti nyata bahwa kemampuan Pandawa dalam menyerap ilmu Sokalima lebih baik dibanding dengan warga Kurawa, dapat ditengarai ketika diadakan pendadaran murid-murid Sokalima. Dalam ketrampilan berolah aneka senjata keluarga Pandawa lebih unggul. Demikian juga ketika Durna menguji murid-muridnya untuk menundukkan Raja Durpada dan Patih Gandamana. Yang berhasil menundukkan mereka adalah keluarga Pandawa. Oleh karena alasan tersebut warga Kurawa merasa terancam atas keberadaan keluarga Pandawa yang lebih sakti dan lebih unggul. Maka disusunlah sebuah rencana untuk menyingkirkan warga Pandawa. Bima yang secara fisik mempunyai kekuatan yang luar biasa, tetapi lugu dan sederhana dalam pola pikir, dijadikan target utama dan pertama untuk disingkirkan. Patih Sengkuni dan Duryudana menyusun rencana untuk membunuh Bima. Maka dibuatlah sebuah pesanggrahan yang nyaman dan indah di hutan Pramanakoti, di pinggir Sungai Gangga.

Bimasena diundang pesta di pesanggrahan tersebut. Makanan dan minuman tersedia melimpah. Bimasena datang sendirian memenuhi undangan Duryudana yang dianggap sebagai saudara tua yang dihormati. Sengkuni, Duryudana, Dursasana, dan warga Kurawa lainnya menampakkan rasa persahabatan penuh keakraban dalam menjamu Bimasena. Tanpa perasaan curiga, Bimasena menikmati hidangan yang disajikan.

Berkali-kali Duryudana menambah tuak ke dalam bumbung minuman di tangan Bima. Entah mengapa, Bima tak kuasa menolak tawaran warga Kurawa. Apakah ia takut akan menyakiti hati para Kurawa jika menolak tawarannya. Walau sesungguhnya Bimasena telah merasakan kepalanya berat dan pusing karena kebanyakan minum tuak, toh ia selalu meneguknya tatkala minuman yang ada di bumbungnya ditambah Duryudana.

Sekuat apa pun Bima bertahan memaksakan diri untuk menuruti kehendak para Kurawa, akhirnya sampailah pada batas daya tahan Bimasena. Selanjutnya Bimasena tidak kuat lagi dan jatuh di lantai. Sebagian besar warga Kurawa terkejut melihat Bima jatuh begitu cepat. Namun tidak banyak yang tahu kecuali Sengkuni dan Duryudana, bahwasanya tuak yang khusus diminum Bimasena telah dicampuri dengan racun yang mematikan. Bima terkulai tak berdaya, dari mulutnya keluar busa berwarna putih. Sengkuni segera memerintahkan warga Kurawa segera mengikat badan Bimasena dengan akar-akar pohon. Setelah diikat kuat-kuat, lalu diberi bandul batu yang sangat besar, Bimasena dilemparkan ke sungai Gangga yang membentuk kedung dengan kedalaman lebih dari 12 meter. Warga Kurawa bersorak gembira, bak tumpukan batu bata yang roboh membarengi deburan air sungai Gangga yang memecah ditimpa Bimasena.

Sebentar kemudian permukaan air sungai Gangga menutup kembali untuk menyembunyikan apa yang sesungguhnya terjadi dengan diri Bimasena. Puluhan pasang mata warga Kurawa tak kuasa menembus kedalaman sungai Gangga lebih dari satu meter. Namun semua yang ikut pesta mempunyai anggapan yang sama, bahwa Bimasena akan segera mati.

Kedung Sungai Gangga terkenal sangat gawat, karena dihuni oleh ribuan ular ganas yang dirajai oleh raja ular bernama Aryaka. Ular-ular ganas tersebut tidak membuang-mbuang waktu. Mereka bergerak amat cepat menyambut benda asing yang masuk ke dalam air. Beratnya tubuh Bima ditambah dengan beratnya batu mengakibatkan tubuh Bimasena tenggelam semakin cepat menuju ke dasar sungai. Ribuan ular beracun mematuki tubuh Bima.

Eloknya terjadi peristiwa yang tak terbayangkan manusia. Patukan ular-ular beracun tersebut tidak membuat Bimasena mati lebih cepat. Racun yang telah masuk di tubuh Bima lewat minuman yang disajikan, tidak mempunyai daya pembunuh lagi, bahkan telah menjadi tawar ketika bereaksi dengan racun akibat patukan ribuan ular. Dengan sangat cepat tubuh Bimasena berangsur-angsur pulih kekuatannya. Bimasena kemudian sadar, tetapi tidak diberi kesempatan untuk mengingat kejadian yang menimpa dirinya, karena sekujur badannya dipatuk oleh ribuan ular berbisa. Ia mengamuk membunuh ribuan ular yang menyerangnya. Raja ular Aryaka mendapat laporan bahwa ada orang mengamuk di dasar sungai, dan telah membunuh ribuan ular. Raja Aryaka mendekatinya, dan tahulah dia bahwa orang itu bukan orang sembarangan. Bima adalah anak Dewa Bayu, dewanya angin.

Dengan keramahan kebapakan. Naga Aryaka mendekati Bimasena. Dan redalah kemarahan Bimasena. Kemudian Bimasena melakukan penghormatan kepada Naga Aryaka dan meminta maaf atas kelakuannya karena telah membunuh ribuan rakyatnya. Setelah segalanya menjadi baik, termasuk ular-ular yang telah dibunuh dihidupkan kembali oleh Naga Aryaka, Bima ingat akan semua kejadian yang menimpanya sejak awal hingga akhir, dan menceritakannya kepada Naga Aryaka.

Kidung Malam 42
Rencana Baru
Naga Aryaka mendengarkan cerita Bima dengan seksama. Ada ungkapan syukur dari Naga Aryaka bahwasannya Bima akhirnya lolos dari ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Patih Sengkuni dan Duryudana. Sebagai tanda rasa syukur itu Naga Aryaka memberi anugerah kepada Bima berujud minum Tirta Rasakundha. Setelah meminum Tirta Rasakundha, Bima tidak merasakan bahwa dirinya berada di dalam air di dasar Bengawan Gangga. Tidak ada bedanya dengan di atas daratan, napasnya lancar, badan serta pakaiannya tidak basah. Naga Aryaka menghendaki agar beberapa hari Bima berada di dasar Bengawan Gangga untuk memperoleh ilmu darinya.

Dengan senang hati Bima memenuhi permintaan Naga Aryaka yang telah berperan dalam menyelamatkan dirinya. Berbagai ilmu tentang hidup di wejangkan kepada Bima. Setelah dianggap cukup, Naga Aryaka berpesan.

”Bima, janganlah engkau membalas kejahatan saudara tuamu dengan kejahatan pula, karena hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Serahkan masalahmu kepada Sang Hyang Tunggal penguasa alam semesta. Serahkan kepada Dia perbuatan jahat Sengkuni dan Kurawa. Jika pun ada hukuman, birlah Dia yang menghukumnya.” Bima berjanji akan mentaati nasihat Naga Aryaka, dan mohon diri meninggalkan Bengawan Gangga untuk kembali ke Panggombakan.

Sesampainya di Panggombakan, Bima disambut oleh paman Yamawidura, Ibunda Kunthi, Puntadewa serta adik-adiknya dengan sukacita. Karena beberapa pekan sejak diundang pesta di pesanggrahan alas Pramanakoti, Bima belum kembali. Kepada mereka diceritakannya apa yang dialami Bima dari awal sampai akhir. Sungguh mengharukan tetapi juga membahagiakan. Bima lolos dari maut, bahkan memperoleh ilmu dan Tirta Rasakundha dari Naga Aryaka.

Kabar kepulangan Bima di Panggombakan dalam keadaan segar bugar membuat Sengkuni, Duryudana dan warga Korawa kelimpungan. Mereka sudah terlanjur mengabarkan kepada Raja Destrarasta bahwa Bima jatuh tenggelam di kedung Bengawan Gangga sewaktu berpesta pora di Pesanggrahan Alas Pramanakoti. Karena lama tidak muncul Bima dianggap telah mati disantap naga-naga ganas penghuni kedung bengawan Gangga. Tetapi ternyata, Bima belum mati, ia menjadi semakin perkasa. Dengan mendapat kesaktian baru yang memungkinkan ia dapat hidup di dalam air seperti layaknya berada di atas daratan

”Sengkuni! aku mendengar bahwa Bima kembali dalam keadaan selamat., benarkah itu?”

”Ampun Sang Prabu Destrarasta, apa yang paduka dengar benar adanya. Bima masih hidup. Untuk itu kami mohon ampun atas praduga hamba sebelumnya yang mengatakan bahwa Bima telah mati. Karena lebih dari sepekan warga Kurawa menunggu disekitar kedung bengawan Gangga, tempat Bima tenggelam, namun Bima tidak muncul. Kami beranggapan bahwa tidak ada seorang manusia yang dapat bertahan hidup di dalam air, selama berhari-hari. Jika ternyata ia masih hidup, hamba sendiri cukup heran, dengan ilmu sihir macam apa yang digunakan Bima.”

”Cukup Sengkuni! panggil Bima dan saudara-saudaranya, aku ingin mendengar kisahnya.”

”Baik Sang Prabu, perintah paduka segera aku laksanakan.”

Dengan terbata-bata Sengkuni segera undur diri. Prabu Destarastra menarik napas panjang. Ia dapat merasakan kepatuhan Sengkuni dan juga Gendari isterinya adalah kepatuhan semu. Walaupun telah dibungkus dengan kata-kata manis, suasana yang damai menentramkan, toh kebusukan hatinya tercium juga. Jika dapat memilih ia lebih senang tidak menjadi raja di Hastinapura. Percuma saja ia memerintah. karena aturan, wewenang, keputusan dan kebijakan raja selalu diselewengkan demi kepentingan Isteri dan Patihnya.

Sengkuni gelisah, apa jadinya jika Bima berkisah tentang penganiayaan yang dilakukan warga Kurawa. Walaupun Sengkuni dan Gendari menganggap remeh Destrarastra karena kebutaan matanya, mereka miris juga kepada aji Lebur Sakethi yang dimiliki Destarastra. Namun kegelisahan Sengkuni tak berkepanjangan. Ia segera mendapat akal, untuk menghadapi cerita Bima. Yang penting menjaga agar Destarastra tidak marah.

Usaha membunuh para Pandawa yang dilakukan oleh Sangkuni, Gendari dan para Kurawa berkali-kali gagal. Namun berkali pula ia lolos dari tuduhan Sang Raja. Dan itu tidak membuat jera. Bahkan semakin terbakar hati mereka untuk segera menyingkirkan Pandawa.

Diilhami oleh sebuah peristiwa kebakaran, Sengkuni mendapat gagasan baru untuk menyingkirkan Pandawa. Ya dengan cara dibakar akan sulit dilacak penyebabnya. Gagasan tersebut disetujui oleh Gendari, Duryudana dan para Kurawa. Kemudian diteruskan kepada Purucana, seorang ahli membuat bangunan yang cepat dan indah. Maka mulailah dibangun sebuah bale di Waranawata, yang letaknya jauh dari kotaraja Hastinapura.

Kidung Malam 43
Bale Sigala-gala
Di hadapan sang raja, Bimasena tidak mengisahkan peristiwa yang sebenarnya menimpa dirinya di kedung Sungai Gangga wilayah hutan Pramanakoti. Hal tersebut dilakukan semata-mata agar tidak ada dendam yang tersisa di hatinya. Ia teringat nasihat Naga Aryaka ”Bima, janganlah engkau membalas kejahatan saudara tuamu dengan kejahatan pula, karena hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Serahkan masalahmu kepada Sang Hyang Tunggal penguasa alam semesta. Serahkan kepada Dia perbuatan jahat Sengkuni dan Kurawa. Jika pun ada hukuman, biarlah Dia yang menghukumnya.” Dan Bimasena telah berjanji untuk mentaati nasihat Naga Aryaka, dewa penguasa sungai telah menolong, menyelamatkan dan bahkan memberikan anugerah Tirta Rasakundha kepada dirinya.

Prabu Destarastra tahu bahwa ada sesuatu kejadian buruk yang disembunyikan Bimasena, maka pada kesempatan lain Deatarastra memanggil beberapa orang terdekat tanpa kehadiran Bimasena dan saudara-saudaranya. Pada kesempatan tersebut, Sang Prabu Destarastra melampiaskan amarahnya kepada Sengkuni.

“Sengkuni, Sengkuni, sampai kapankah engkau akan mempermainkan aku? Berapa kali engkau telah meniupkan kabar bohong kepadaku yang adalah raja Hastinapura.”

“Ampun Sang Prabu Destarastra, waktu itu memang benar, saya melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa seusai pesta, mungkin karena saking banyaknya minum tuak, Bimasena jalan sempoyongan dan masuk ke kedung sungai Gangga. Para perajurit berjaga-jaga di pinggir sungai, dan siap menolong jika sewaktu-waktu Bimasena timbul dari kedung tersebut. Namun hingga sampai dengan hari ke tiga, anak ke dua dari Pandudewanata tersebut tidak muncul juga. Salahkah jika kemudian aku menyimpulkan bahwa Bimasena telah mati? Adakah seseorang yang mampu bertahan di dalam air selama tiga hari?”

“Sengkuni! Nyatanya engkau salah! Bimasena masih hidup!!!

Bentakan Destarastra membuat semua yang ada di pisowanan tersebut tertunduk diam. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan kata-kata. Destarastra sendiri nampaknya sudah tidak ingin lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan ia memberi isyarat kepada Gendari agar dituntunnya meninggalkan pisowanan terbatas.

Sengkuni semakin terbakar atas nasib baik yang dialami Bimasena. Api kebencian yang menyala-nyala di hati Sengkuni memang ingin sungguh-sungguh diwujudkan untuk membakar, tidak hanya Bimasena tetapi juga Kunti dan ke lima anaknya.

Untuk sebuah rencana besar tersebut, Sengkuni tidak mau gagal lagi. Ia memerintahkan Purucona, arsitek nomor satu di Hastinapura untuk membuat sebuah bangunan peristirahatan yang indah dan nyaman di atas pegunungan di luar kotaraja Hastinapura. Bangunan semi permanent tersebut dirancang kusus. Tiang-tiang bangunan diisi dengan sendawa dan gandarukem, bahan sejenis mesiu dan minyak yang mudah terbakar.

Kunti dan Anak-anaknya memang bukan tipe pendendam. Di hati mereka telah diajarkan bagaimana senantiasa menumbuhkan sikap nan tulus untuk mengasihi kepada siapapun tak terkecuali, termasuk kepada mereka yang telah menganiaya dirinya. Karena dengan demikian hatinya tidak ditumbuhi dendam yang menggerogoti dan meracuni hidupnya.

Oleh karenanya, sekali lagi, bujuk rayu Sengkuni dan Duryudana berhasil mengajak Ibu Kunti, Puntadewa, Bimasena, Herjuna, Nakula dan Sadewa untuk merasakan nyamannya rumah peristirahatan yang bernama Bale Sigala-gala di puncak pegunungan.

Dua pekan lagi, saat purnama sidhi, Kunti dan ke lima anaknya berjanji akan memenuhi undangan Sengkuni dan para Kurawa dalam acara andrawina di Bale Sigalgala. Mendengar rencana tersebut Sang Paman Yamawidura, orang yang mempunyai kelebihan dalam hal membaca kejadian yang belum terjadi, merasakan firasat buruk yang harus dihindari. Maka ia memanggil Kanana abdinya, yang ahli membuat terowongan. Kanana diperintahkan untuk menyelidiki Pesanggrahan Bale Sigala-gala dan secepatnya membuat terowongan untuk jalan penyelamatan jika terjadi sesuatu atas pesanggrahan tersebut.

Kanana segera melaksanan perintah rahasia Yamawidura dengan sebaik-baiknya, serapi-rapinya dan secepat-cepatnya. Ia tahu bahwa sosok Yamawidura adalah titisan Bathara Dharma, dewa keadilan dan kebenaran. Ia mempunyai kelebihan dan tak tertanding di negara Hastinapura dalam hal membaca kejadian yang akan terjadi. Raja Sendiri mengakui kelebihan adiknya yang sangat disayanginya itu. Maka Kanana meyakini bahwa bakal terjadi huru-hara besar, dan terowongan yang ia buat atas perintah Yamawidura, benar-benar akan menjadi sarana untuk jalan penyelamatan. Kurang dari dua pekan Terowongan yang panjangnya lebih dari 400 langkah tersebut telah selesai. Kanana benar-benar menunjukan kualitasnya.

Pada malam menjelang pesta di Balai Sigala-gala, tepat pada tabuh ke sebelas Yama Widura mengidungkan mantra-syair yang isinya mengingatkan agar setiap orang selalu waspada dan berjaga-jaga dalam doa dan pujian, untuk memohon keselamatan, jauh dari segala yang jahat.

Kunti dan Bima belum tidur. Mereka terhanyut oleh syair-syair yang dikidungkan Yamawidura. Batin yang cerdas dapat menangkap bahwa melalui Kidung malam tersebut Yamawidura ingin mengingatkan agar Kunti dan Anak-anaknya yang besok sore akan memenuhi undangan para Kurawa di Bale Sigala-gala jangan menanggalkan kewaspadaan dan selalu berdoa mohon terhindar dari segala mara bahaya.

Lewat tengah malam, Yamawidura menyelesaikan pembacaan mantra yang di kidungkan. Hampir bersamaan, Kunti dan Bimasena terlelap dalam tidur, menyusul Puntadewa, Herjuna, Sadewa, Nakula dan juga Padmarini isteri Yamawidura dan kedua anaknya Sanjaya dan Yuyutsuh.

Malam merambat pelan dilangit Panggombakan. Seakan enggan menemui pagi. Mungkin karena ia tidak sampai hati menyaksikan tragedi besar yang akan terjadi di rumah indah dan asri yang bernama Bale Sigala-gala.

Kidung Malam 44
Detik-Detik menjelang Tragedi
Kicau burung bersautan di pagi itu. Langit Panggombakan biru cerah. Tak ada sedikit pun awan yang menggelantung. Kunthi dan anak-anaknya merasakan pula cerahnya hari itu. Secerah hati mereka yang tidak pernah terhalang awan dendam dan kebencian, kendati mereka menjadi sasaran irihati. Seperti yang terjadi belum lama ini, para Kurawa gagal membunuh Bimasena di hutan Pramanakoti. Dikarenakan dari pihak Pandawa mudah melupakan perbuatan jahat yang dilakukan Sengkuni dan para Kurawa maka Pandawa tidak menaruh curiga seikitpun atas undangan pesta di Bale Sigala-gala nanti sore. bahkan bagi Pandhawa kesempatan tersebut dapat menjadi sarana untuk merekatkan hubungan persaudaraan.

Lain yang dirasakan para Pandhawa, lain pula yang dirasakan Yama Widura. Sejak Kunthi dan para Pandhawa merencakan akan datang pesta memenuhi undangan warga Korawa di Bale Sigala-gala, Yama Widura, paman dari para Pandhawa itu gelisah. Semalaman ia tidak dapat tidur. Kidung mantra tulak bala, memohon keselamatan mengalun hingga tenggah malam. Sementara malam yang tersisa digunakan untuk berdoa di sanggar pamujan. Apa yang telah dilakukan Yama Widura, termasuk juga pembuatan terowongan yang dikerjakan oleh Kanana, adalah semata-mata demi keselamatan Kunti dan para Pandhawa.

Pagi itu, Yama Widura menerima Kunthi dan anak-anaknya yang hendak berpamitan pergi ke gunung Waranawata menghadiri undangan pesta di Bale Sigala-gala

“Kakang Mbok Kunti dan anak-anakku Pandawa, kemeriahan pesta dapat dengan mudah membuat orang lupa. Oleh karenanya jangan tinggalkan kewaspadaan. Bimasena engkau orang yang paling perkasa diantara Ibu dan saudara-saudaramu. Padamulah aku titipkan keselamatan Ibu dan saudara-saudaramu.”

Dihantar oleh tatapan cemas Yamawidura. Kunthi dan ke lima anaknya meninggalkan Panggombakan.

Sejak pagi Bale Sigala-gala menampakan kesibukannya. Aneka bunga dan umbul-umbul menghias halaman dan ruangan. Sebagian besar warga Kurawa telah hadir di situ. Bale Sigala-gala nampak indah mempesona. Purucona dengan bangga melihat karyanya yang istimewa. Semua yang melihat bangungan tersebut selalu berdecak kagum. Nama Purucona yang sudah dikenal menjadi semakin terkenal.

Namun tiba-tiba hati Purucona berdesir tatkala membayangkan bahwa nanti malam Bale yang indah menawan akan berubah menjadi kobaran api. Dan api tersebut akan membakar Kunti dan anak-anaknya.

“Purucona!!! Engkau harus mencegah agar Bale Sigala-gala tidak menjadi alat untuk membunuh orang yang tak berdosa.”

Puruncona merasa bersalah. Ia gelisah sepanjang hari. Hingga menjelang pesta kegelisahan Purucona semakin menjadi-njadi. Satu persatu tamu yang datang menambah rasa bersalah semakin berat menekan hati sang arsitek nomor satu di Hastinapura.

Ketika sayup terdengar bunyi kenthongan tujuh kali, tamu undangan telah memenuhi ruangan pesta. Namun Patih Sengkuni, Duryudana, Dursasana dan para Kurawa belum menampakan kelegaan. Dikarenakan tamu istimewa yang ditunggu-tungu belum datang, yaitu Kunti dan anak-anaknya. Jika para Pandawa tidak datang apalah artinya pesta yang menelan biaya sangat banyak ini?.

Kunthi dan Pandhawa seharusnya sudah sampai di tempat pesta, namun sebelum memasuki lokasi pesta mereka ditemui oleh Kanana, utusan Yamawidura. Ada pesan rahasia disampaikan khususnya kepada Bimasena, seperti yang telah diisyaratkan Jamawidura; “Jangan tinggalkan kewaspadaan! Bimasena engkau orang yang paling perkasa diantara Ibu dan saudara-saudaramu. Padamulah aku titipkan keselamatan mereka” Bimasena meminta Kanana untuk berterus terang apa yang akan terjadi dan tindakan apa yang seharusnya aku lakukan. Namun Kanana tergesa untuk pergi, karena takut diketahui oleh Patih Sengkuna dan warga Kurawa.

Sejak Kanana menyelesaikan terowongan rahasia yang berada di ruang paling belakang, ia menyamar sebagai tenaga kasar yang ikut mempersiapkan perlengkapan pesta. Hal tersebut dilakukan supaya ia dapat menjaganya agar keberadaan terowongan rahasia teresebut tidak diketahui oleh para Kurawa.

Menjelang tabuh ke delapan, Kunti, Puntadewa, Bimasena, Arjuna dan si kembar Sadewa dan Nakula datang. Duryudana mendekati Sengkuni sambil berbisik. Sengkuni menolehkan mukanya kegerbang masuk. Patih Sengkuni dan Duryudana tergopoh-gopoh menyambut mereka.

Keramahtamahan Sengkuni memang berlebihan, membuat risi tamu-tamu yang hadir, selain warga Kurawa. Namun tidak untuk Kunti dan Pandawa sikap Sengkuni dan warga Kurawa dirasakan merupakan perhomatan khusus sesama saudara.

Pesta itu sungguh meriah. Para petugas yang mengurusi makanan, minuman dan acara pesta, menjalankan tugasnya dengan baik dan rapi. Aneka hidangan pesta mbanyu mili, mengalir tak pernah henti. Demikian juga acara yang dipentaskan, berganti-ganti penuh variasi.

Suasana gembira, acara meriah dan makanan melimpah, menyihir para penikmat pesta untuk terhanyut dalam suasana memabukan. Satu persatu kewaspadaan mereka hilang, Para Kurawa kecuali Patih Sengkuni, Duryudana dan Dursasana sudah tidak dapat mengontrol diri sendiri. Melihat suasana yang semakin memabukan, pemuka pesta terpaksa menghentikan satu acara yang masih tersisa, karena sudah tidak mendapat perhatian.

Keadaan menjadi lebih hening. Yang tersisa tinggal beberapa suara gemelintingnya gelas minuman dan piring makanan. Karena sebagian besar yang lain sudah menghentikan makannya karena sudah tidak ada sedikitpun ruang perut yang kosong.

Jika semula pesta ini dirancang untuk membawa Kunti dan anak-anaknya terhanyut dalan suasana pesta yang memabukan dan lupa akan dirinya, sehingga mudah diperdaya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Justru para Kurawa yang seharusnya berpura-pura, malah lebih dahulu terhanyut dalam haru birunya pesta.

Sengkuni menjadi binggung. Bagaimana akan melaksanakan rencananya. Dalam keadaan mabuk, ia kesulitan membawa warga Kurawa keluar dari Bale Sigala-gala.

Kidung Malam 45
Terowongan Rahasia
Suasana berangsur-angsur hening. Dentingan perkakas yang saling beradu diantara sendok dengan gelas, mangkuk dan piring, sudah tidak terjadi lagi. Para petugas yang mengontrtol makanan dan minuman sudah berhenti melakukan panambahan hidangan. Dikarenakan makanan memang masih cukup ada, masih cukup untuk tamu yang ada. Bahkan mereka mulai mencicil untuk menyingkirkan aneka perkakas yang sudah kotor oleh sisa-sisa makanan dan minuman. Bersamaan dengan itu, datanglah rombongan petapa yang sengaja mampir untuk meminta makanan. Jumlahnya enam orang lima orang putra dan satu orang putri. Kedatangannya disambut hangat oleh para Pandawa, mereka dipersilakan menikmati makanan yang masih terhidang dengan leluasa.

Sementara itu Sengkuni dan Duryudana dibuat geram. Warga Kurawa telah gagal melaksanakan tugasnya. Semula diharapan warga Kurawa ikut berpesta tersebut hanya untuk membuat suasana pesta meriah. Dengan berpura-pura ikut makan dan minum sebanyak-banyaknya, agar para Pandhawa terpancing untuk ikut makan dan minum sampai mabuk dan tak sadarkan diri, sehingga dengan mudah Sengkuni dapat melaksanakan rencananya yaitu membakar Bale Sigala-gala beserta Kunthi dan para Pandhawa

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Para warga Kurawa lah yang tidak dapat menahan diri. Mereka terlalu banyak makan dan minum sehingga menjadi mabuk Perilaku warga Kurawa tersebut secara tidak sadar telah menghambat rencananya sendiri, rencana warga Kurawa yang diprakarsai oleh Patih Sengkuni. Tentunya tidaklah mungkin untuk menunggu mereka yang mabuk sadar kembali. Sengkuni dan Duryudana harus berpacu dengan waktu. Jangan sampai fajar mulai merekah diufuk Timur, Bale-Sigala-gala masih utuh berdiri.

Maka dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi Kunthi dan anak-anaknya, Duryudana dibantu oleh para hulubalang dan tenaga kasar yang lain, memapah keluar para pemabuk yang tak sadarkan diri. Setelah semua warga Kurawa dan beberapa orang yang mabuk di amankan di tempat yang jauh dari Bale Sigala-gala, Sengkuni mempersilakan Kunthi dan Nakula untuk beristirahat dan tidur di ruang yang telah disediakan, tepatnya di belakang ruang pesta, menyusul Bimasena, Arjuna dan Sadewa. Ketika Kunthi dan Nakula menuju ke ruang belakang, mereka melihat ke enam Petapa tidur nyenyak sekali di lantai, tidak seberapa jauh dengan pintu ruang belakang. Mereka sangat kecapaian. Dewi Kunthi menyapa lembut, dengan tanpa mengharap balasan. “Selamat malam sang petapa, selamat beristirahat dan sampai jumpa di esok hari.”

Malam merambat menuju pagi. Dari kejauhan, terdengar suara kentongan yang berbunyi dua kali, mengisyaratkan bahwa waktu telah menunjukan pukul dua dini hari. Sampai di ruang belakang Kunthi melihat Bimasena, Arjuna dan Sadewa masih terjaga. Yang mengejutkan Kunthi bahwa diantara mereka ada seorang abdi dari Panggombakan, orang terdekatnya Yamawidura yang ahli membuat terowongan, bernama Kanana. Ada apa dengan Kanana?

Dengan wajah serius Kanana memohon agar diberi kesempatan menjelaskan hal rahasia dengan tanpa didengar oleh orang lain selain Dewi Kunthi dan dan anak-anaknya. Pintu ruangan ditutup perlahan sekali, mereka memusatkan perhatian dan pandangannya pada Kanana yang akan membeberkan hal penting penuh rahasia.

“Mohon maaf sebelumnya, Ibu Kunthi dan para Putra, beberapa pekan lalu, saya diperintahkan untuk membuat terowongan rahasia sebagai jalan penyelamatan jika sewaktu-waktu terjadi bencana di pesta Bale Sigala-gala. Terutama kepada Raden Bimasena, Bapa Yamawidura mengingatkan agar selalu waspada dan bertindak cepat untuk menyelamatkan Ibu Kunthi beserta saudara-saudaranya, sewaktu bencana yang di kawatirkan benar-benar terjadi. Inilah pitu terowongan itu.

Kunthi dan para Pandawa ternganga. Mereka tidak menyangka bahwa lantai yang beralas permadani di ruang itu dapat dibuka dengan mudah. Setelah dibuka oleh Kanana ternyata dari lobang tersebut ada tangga yang menuju ke pintu terowongan. “Jika terjadi sesuatu, terowongan inilah yang akan membawa kita sampai di bawah bukit dengan selamat”

Baru saja Kanana akan menutup pintu terowongan kembali, mereka dikejutkan oleh cahaya merah yang tiba-tiba saja menjadi besar. Hawa panas dengan cepat merambat ke seluruh tubuh mereka.

“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!

Kunthi teringat kepada ke enam petapa yang tidur tidak jauh dari pintu ruangan ini. Tetapi ketika akan membuka pintu, ternyata pintu tersebut telah dikancing dari luar. Kunthi sempat berteriak “ Selamat malam Sang Petapa” Kunthi berusaha untuk membuka pintu, namun sebelum berhasil ia telah disaut oleh Bimasena dan bersama para Pandhawa dibawa masuk ke pintu terowongan. Kanana bergerak cepat menutup pintu, setelah Kunthi dan anak-anaknya dipastikan telah masuk terowongan.

Kidung Malam 46
Terowongan yang Menyelamatkan
Kunthi bersama lima anaknya telah masuk terowongan rahasia, menyusul peristiwa kebakaran hehat di Bale Sigala-gala. Namun pikiran dan hatinya masih tertinggal di ruangan tempat ke enam petapa tidur. Ia membayangkan bahwa keenam brahmana yang tidur nyenyak, tidak akan mampu menyelamatkan diri dari kepungan api yang merambat teramat cepat. Betapa dahsyatnya kebakaran itu. Hawa panasnya mampu menembus beberapa langkah dari mulut terowongan. Bima menggendong Nakula dan Sadewa berjalan paling belakang menyusuri terowongan, menjauhi pintu trowongan yang terasa semakin panas. Mereka mengikuti cahaya putih yang berjalan paling depan. Bima berusaha menenangkan Ibu dan saudara-saudaranya, terutama si kembar Nakula dan Sadewa yang menangis ketakutan.

Siapakah cahaya putih di depan itu? Dialah Kanana? abdi Paman Yamawidura yang ahli membuat terowongan? Pertanyaan Dewi Kunthi dan anak-anaknya rupanya tidak membutuhkan jawaban. Bagi mereka yang penting adalah bahwa cahaya putih itu akan menuntunnya keluar dari terowongan ini menuju tempat yang aman, jauh dari kobaran api Bale Sigala-gala, api yang dinyalakan dari kobaran hati yang penuh dendam dan kebencian.

Sebenarnya apa yang terjadi di Bale Sigala-gala? Bale artinya bangunan rumah, Gala adalah jabung. bahan yang bisa menjadi keras seperti semen, namun mudah terbakar. Itulah alasan Patih Sengkuni menggunakan jabung sebagai bahan utama untuk membuat bangunan. Ditambah lagi dengan tiang-tiang penyangga bangunan, yang telah diisi dengan sendawa dan gandarukem, bahan sejenis mesiu yang bisa meledak. Dengan demikian jadilah pesanggrahan “Bale Sigala-gala” yang siap dibakar dan diledakan. Sengkuni yakin, bahwa Bale Sigala-gala akan mampu mengubah tulang daging Kunthi dan Pandawa menjadi abu dan arang.

Purucona cepat bakar! bakar! Bakar!!! Perintah tersebut terdengar keras, namun walaupun begitu tidak ada seorang pun diantara Kunthi dan para Pandhawa yang bisa menyelamatkan diri keluar dari Bale Sigala-gala. Apalagi ruangan yang ditempati Kunti dan anak-anaknya telah dikancing dari luar. Sehingga dipastikan bahwa mereka terbakar di dalam ruangan.

Api berkobar ganas, disusul suara ledakan ledakan keras dari tiang-tiang bangunan yang diisi sendawa dan gandarukem. Malang bagi Purocana, undagi nomor satu di Hastinapura tersebut sengaja dijadikan tumbal untuk peristiwa Balesigala-gala ini Ia, setelah menyulut Bale Sigala-gala dilempar paksa ke dalam api oleh beberapa perajurit yang ditugaskan Senkuni. Karena jika tidak, dikhawatirkan Purucona akan membeberkan rekayasa kebakaran di Bale Sigala-gala.

Patih Sengkuni, Duryudana, Dursasana dan para Korawa yang lain, serta para perajurit dan pekerja pesta, dari kejauhan memandangi lidah-lidah api yang menimbulkan asap hitam pekat. Tanpa berkedip Patih Sengkuni memandangi Bale Sigala-Gala yang dibakar, untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun diantara Kunthi dan anak-anaknya menyelamatkan diri, keluar dari kobaran api. Artinya bahwa Kunthi dan ke lima anaknya hangus terbakar. Karena memang hanya tinggal enam orang yang masih berada di dalam bangunan Bale Sigala-gala, karena yang lainnya telah diajak keluar sebelum kebakaran terjadi. Yah tinggal enam orang. Kunthi, Puntadewa. Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Dan pasti tubuh mereka telah menjadi arang dan abu. Demikian pikir Sengkuni

Wajah Sengkuni dan warga Kurawa nampak lega dan senang. Karena dengan tewasnya para Pandawa, tidak ada lagi yang menghalangi Duryudana menduduki tahta Hastinapura.

Namun bagi yang tidak tahu menahu rencana dibalik semua itu, termasuk para pekerja pesta, peristiwa kebakaran di Bale Sigala-gala itu sungguh mengherankan. Pasalnya bahwa warga Kurawa dan perajuritnya. tidak berusaha untuk memadamkan api Juga perihal evakuasi. Semua warga Kurawa yang mabuk, telah dibawa keluar dari Bale Sigala-gala sesaat sebelum kebakaran terjadi. Sepertinya ada rencana sebelumnya bawa Bale Sigala-gala sengaja dibakar. Tanda-tanda adanya kesengajaan dalam peristiwa kebakaran tersebut semakin dikuatkan ketika menjelang deti-detik terjadinya kebakaran, terdengar teriakan ‘cepat bakar!’

Lepas dari sekenario yang dilakukan, peristiwa kebakaran Bale Sigala-gala merupakan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Rakyat pedusunan yang berada dibawah bukit pesanggrahan terbangun karenanya. Mereka tidak tahu-menahu latar belakang dan penyebab kebakaran Bale Sigala-gala. Namun mata hati mereka menatap pilu api yang berkobar menjilat angkasa pada dini hari itu. Dibenak mereka muncul gambaran yang memilukan. Adhuh, Dewi Kunthi dan para Pandawa ada di sana. Tadi siang lewat di dusun ini. Dielu-elukan oleh warga dusun. Disambut sebagai calon raja pengganti Pandudewanata. Rakyat berharap, pada saatnya nanti, ketika Raden Puntadewa menjadi raja akan mampu merubah nasib mereka.

Namun saat ini, ketika api telah membakar Bale Sigala-gala, mereka menangis. Para Pandhawa yang mereka cintai dan mereka harapkan akan menjadi raja yang adil bijaksanan telah hangus terbakar. Seperti harapan mereka akan kesejahteraan dan ketenteraman. Telah lenyap ditelan asap.

Dini hari yang naas itu akan segera berlalu, dan kidung malam pun tak terdengar lagi, namun rupanya fajar masih enggan menyinarkan cahayaNya, sebelum yang bertikai membuka cedela hati.

Kidung Malam 38
Menuju Kesempurnaan
Tidak seperti malam ini, Anggraeni yang biasanya kuat, tegar tak mengenal takut, tiba-tiba hatinya berdesir cemas.

“Ada apa Kakangmas?”

“Harjuna menantangku melalui daya aji Pameling.”

“Harjuna?!”

Ekalaya mengangguk lemah.

“Ia tidak ingin melibatkan rakyat Paranggelung, cukup Aswatama yang dijadikan saksi.”

“Apakah Kakangmas akan memenuhi tantangan itu?”

“Ya, sebagai seorang ksatria.”

“Dengan kondisi lemah tak berdaya?”

“Iya Anggraeni. Apakah menurutmu lebih baik aku bersembunyi, tidak memenuhi tantangannya?”

Anggraeni menggeleng lemah.

“Memang seorang ksatria lebih memilih memenuhi tantangan daripada bersembunyi. Tetapi memenuhi tantangan dengan kondisi yang tak berdaya bukankah sama halnya dengan bunuh diri?”

“Aku tidak memilih bunuh diri Anggraini, aku akan berperang tanding.”

“Perang tanding? Dengan Harjuna yang sakti mandraguna?”

“Iya Anggraeni, perang tanding dengan Harjuna yang sakti mandraguna dan tampan!”

“Oh, bukan maksudku…”

Anggraeni tersadar bahwa kata-katanya telah membuat Ekalaya cemburu.

“Maafkan aku Kakangmas, aku telah salah bicara. Aku tidak bermaksud mengunggulkan Harjuna, tetapi bukankah saat ini Kakangmas Ekalaya belum mampu menarik anak panah dari busurnya.”

“Aku tidak takut Anggraeni.”

“Aku percaya bahwa Kakangmas Ekalaya tidak pernah merasa takut, tetapi bukankah Kakangmas juga mempunyai perhitungan yang cermat dan matang terhadap calon lawannya.”

Ekalaya bimbang. Dari luar ia kelihatan diam seribu bahasa, namun di dalam hatinya ramai akan berbagai macam pertimbangan yang harus dipilih. Bersembunyi atau berperang tanding. Jika bersembunyi apa alasannya, namun jika memenuhi tantangan apa andalannya. Lama keduanya terdiam. Anggraeni memberi kesempatan sepenuh-penuhnya kepada suaminya untuk memutuskan langkah.

Permenungan Ekalaya menukik masuk ke jagad jati diri Ekalaya yang paling dalam. Di sana tergambar sebuah peristiwa yang menakjubkan.

“Di sebuah padang rumput hijau segar dengan ditumbuhi bunga seribu warna dan kolam yang jernih airnya yang berbatas cakrawala, aku berjumpa dengan makhluk bercahaya putih kemilau, di depan gapura megah menjulang ke langit. Suasananya sejuk tanpa semilirnya angin, dan terang tanpa sinar matahari.

“Selamat datang Ekalaya, tugasmu telah aku anggap selesai. Aku menyambutmu dengan suka cita. Maukah engkau tinggal bersamaku sekarang juga dan untuk selamanya?” sambut makhluk bercahaya putih itu sembari tangannya menunjuk pada pintu gerbang di belakangnya. Aku tercengang dibuatnya karena tiba-tiba saja makhluk bercahaya putih kemilau itu lenyap dari hadapanku. Tinggallah aku sendirian di tempat itu.

Walaupun sebelumnya yang ada di sekitarku, seperti rumput, aneka bunga, air mega dan yang lainnya pernah aku lihat, saat ini suasananya berbeda sama sekali Aku merasa damai tenteram tinggal dalam suasana seperti itu. Lama ditunggu, makhluk bercahaya tersebut tidak muncul lagi. Aku mencoba bangkit berdiri menuju pintu gerbang nan indah menjulang. Karena aku berkeyakinan bahwa makhluk bercahaya tersebut ada di dalamnya.

Aku beranikan diri naik di tangga gerbang. Wouw! Luar biasa! Dengan apa aku harus menceritakan suasana indah yang demikan eloknya? Rasa penasaran mendorongku untuk melangkah ke tangga yang lebih tinggi lagi sehingga akan semakin jelas pemandangan apa yang ada di dalamnya. Namun sebelum kakiku menginjak tangga berikutnya, tiba-tiba ada cahaya terang benderang menerpa wajahku. Aku tak kuat memandangnya, dan terhempas seperti melayang, untuk kemudian sadar dari permenunganku.”

Anggraeni memeluk Ekalaya erat-erat dan tak hendak melepaskannya.

“Maafkan aku Anggraeni, terima kasih atas kesetianmu.”

“Ada apa denganmu, Kakangmas?”

“Diajeng, tugasku telah dianggap selesai, dan aku akan tinggalkan Paranggelung untuk selamanya.”

“Kangmas!”

Ekalaya bangkit berdiri menyahut gandewa pusaka, melangkah keluar menembus kegelapan malam. Aggraeni menyadari bahwa ia tidak mungkin untuk mencegahnya, karena apa yang dilakukan Ekalaya sepertinya bukan atas kehendaknya sendiri. Maka yang dilakukan adalah mengikuti ke mana suaminya melangkahkan kaki.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah Ekalaya di perbatasan Paranggelung. Ekalaya menebarkan pandangannya ke segala arah. Dan tampaklah tubuh ringan berkelebat mendekati Ekalaya.

“Harjuna!”

“Engkau memenuhi tantanganku Ekalaya.”

Kemudian tanpa bicara lagi, keduanya mengambil jarak, bersiap untuk berperang tanding.

Harjuna sebagai sang penantang mempersilakan Ekalaya melepaskan senjata terlebih dahulu. Segeralah Ekalaya memasang anak panah dan menarik gandewanya. Gandewa pusaka itu bercahaya, menerangi sekelilingnya. Harjuna memandang tajam, memusatkan kesaktiannya menghadapi serangan Ekalaya. Namun Harjuna heran dengan apa yang dilihatnya. Tangan Ekalaya bergetar tak beraturan, sehingga menyebabkan arah bidikannya kurang tepat sasaran.

“Ekalaya, jangan meremehkan aku, seranglah aku dengan sungguh-sungguh.”

“Jika aku meremehkanmu aku tidak mungkin datang memenuhi tantanganmu dalam keadaanku yang seperti ini,” jawab Ekalaya sembari menunjukkan tangan kanannya yang tanpa ibu jari.

“Apa yang terjadi dengan ibu jari tanganmu?”

“Bapa Durna telah memotongnya.”

Bagai disambar geledhk Harjuna terkejut mendengar jawaban Ekalaya.

“Jadi.. jadi ibu jari yang menempel di ibu jari tanganku ini ibu jarimu?!”

Harjuna menunjukkan jari tangannya yang berjumlah enam.

Ekalaya tak kalah terkejutnya. Ia tidak mengira bahwa pusaka Cincin Mustika Ampal yang dipersembahkan dengan tulus kepada Sang Guru Durna telah menempel pada musuh bebuyutannya.

“Baiklah Harjuna! Kini saatnya telah tiba, giliranmu menyerang aku. Aku semakin mantap bahwa pusakaku Mustika Ampal pemberian Sang Hyang Pada Wenang itulah yang akan mengantar aku ke pangkuanNya. Harjuna, engkau adalah musuhku, engkau adalah sesamaku, dan engkaulah yang mendapat tugas untuk menyempurnakan hidupku. Terima kasih Harjuna. Lakukanlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s