Lakon Wayang Part 5


Kidung Malam (9)
Murid Pilihan
Niat Patih Sengkuni, Duryudana, Dursasana dan Kurawa lainnya berubah. Jika semula mereka menginginkan hari segera pagi, namun dengan adanya cahaya kebiru-biruan, mereka bermaksud menghentikan gelap, sebelum dapat menemukan apa yang menjadi sumber cahaya tersebut. Karena di dalam gelap mereka dapat dengan jelas melihat sinar kebiru-biruan itu, sehingga dengan mudah dapat menemukan tempat cahaya itu berasal.

Di pinggir hamparan tanah pategalan, tepatnya di sebuah sumur tua, awal dari cahaya itu. Secara bebarengan mereka mendekati sumur melongok di dalamnya. Mata mereka berkilat-kilat melihat benda yang menjadi sumber dari cahaya. Hampir bersamaan mereka berucap “Cupu Lenga Tala.” Betapa senang hati mereka melihat benda yang dicarinya ada di depan mata dalam keadaan utuh. Maksud hati ingin segera mengambilnya, namun mereka kebingungan bagaimana caranya? Sumur yang tidak begitu luas itu amat dalam. Dinding sekelilingnya penuh lobang, ditumbuhi semak belukar. Tampaklah di antara rimbunnya semak, beberapa ekor ular berbisa dengan badannya yang mengkilat tertimpa cahaya. Melihat keadaan sumur yang menyeramkan, diantara mereka tidak ada yang punya nyali untuk masuk ke dalam sumur. Beberapa lama mereka mondar-mandir di seputar sumur, tanpa berbuat sesuatu.

Bersamaan dengan merekahnya fajar di ujung Timur, Bimasena, Harjuna dan saudara-saudaranya datang. Sengkuni menyapanya dengan amat manis. “Anak-anakku Pandawa, kebetulan kalian datang. Hampir saja kami putus asa tidak dapat menemukan Cupu Lenga Tala. Sekarang cupu telah diketemukan di dalam sumur tua ini. Namun di antara kami tak ada berani mengambil. Hanya kalianlah yang kami harapkan dapat mengambilnya, untuk kemudian dibagi dengan adil.” Bimasena dapat menangkap dibalik kata-kata manis, ada tipu muslihat yang kotor. “Aku tidak mau! biarlah Cupu Lenga Tala tenggelam di dasar sumur, dari pada jatuh ke tangan orang-orang durhaka.”

Bimasena dan saudara-saudaranya ingin segera pergi, tanpa berniat melongok sumur tua itu. Namun langkah mereka terhenti ketika melihat kelebatnya seseorang. Dengan langkahnya yang ringan orang tersebut menuju sumur tua. Ia membawa rumput kalanjana yang telah disambung-sambung. Semua mata menatapnya. Walaupun badannya cacat, mata orang itu tajam bagai elang. Kewibawaan memancar kuat darinya. Sesampainya di bibir sumur, sembari menebarkan pandangan ke arah Kurawa dan Pandhawa, ia berkakata. “Apa yang kalian inginkan dariku?” “Ambilkan benda itu untuk kami!.” Teriak para Kurawa. “Baiklah! Lihatlah!” Seperti mendapatkan aba-aba, para Kurawa berebut merapat di bibir sumur, ingin melihat apa yang akan dikerjakan orang asing tersebut. Dengan penuh keyakinan ia menurunkan rangkaian rumput kalanjana ke dalam sumur. Ditanganya, sambungan rumput-rumput itu berubah bagaikan seekor naga kecil yang ganas, menyergap Cupu Lenga Tala, dan mengangkatnya ke permukaan sumur. Dalam sekejap Cupu Lenga Tala telah berada dalam genggamannya. Para kurawa bersorak gembira. Bagaikan anak-anak kecil yang mendapatkan kembali mainan kesukaannya. Mereka saling berdesakan, berebut menjulurkan tangannya, untuk mendapatkan Cupu Lenga Tala.

Orang asing tersebut mengerutkan keningnya, ia nampak tidak senang atas perilaku para Kurawa. “Tidak sembarang orang yang mempunyai benda istimewa ini. Aku ingin bertemu dengan pemiliknya untuk mengembalikan padanya.” Dalam hati mereka bertanya-tanya. siapakah orang ini? Apakah dia kenal dengan Begawan Abiyasa, pemiliknya?. Namun mereka tidak berani menanyakan hal tersebut. Ada rasa getar dan takut menyaksikan kesaktian yang telah ditunjukkan. Oleh karena itu para Kurawa tidak berani memaksakan kehendak untuk mendapatkan Cupu Lenga Tala. Mereka menyerahkan kepada Patih Sengkuni yang dipercaya mempunyai banyak siasat untuk mendapatkan cupu dari tangan orang asing tersebut.

Sementara itu para Pandhawa justru lebih tertarik kepada perilaku orang asing tersebut yang dipercaya mempunyai segudang ilmu tingkat tinggi, dari pada Cupu Lenga Tala. Bagi para Pandhawa yang sejak kecil gemar berguru, bertemu dengan orang berilmu tinggi merupakan kesempatan yang tidak boleh sia-siakan. Maka dengan tak segan-segan mereka menghampirinya. Harjuna bersimpuh menyembahnya dan Bimasena mengangkat orang itu di atas kepala wujud lain dari sembah Bimasena. Keduanya hampir bersamaan berucap: “Perkenankanlah aku menjadi muridmu ya maha guru.” Orang itu terharu karenanya.. Sejak awal ia mengamati Bimasena dan Harjuna. Matanya yang tajam dapat melihat kejujuran, kepatuhan, kesetiaan dan bakat yang luar biasa dibalik ketampanan Harjuna dan kegagahan Bimasena. Gayungpun pun bersambut. Sesungguhnya penggembaran orang asing tersebut hingga sampai ke tempat ini dalam upaya mencari murid terbaik. Dan saat ini telah ditemukan dalam diri Harjuna dan Bimasena.. Siapa namamu bocah bagus?
Nama hamba Harjuna
Dan kau bocah gagah perkasa?
Bimasena
Baiklah Harjuna dan Bimasena mulai hari ini kalian aku angkat menjadi muridku”

Kidung Malam (10)
Kumbayana
Orang sakti bertubuh cacad itu telah mengangkat murid baru, Bimasena dan Harjuna, dan disusul Puntadewa, Nakula dan Sadewa. Dalam pernyataan awal mereka berlima berjanji akan selalu patuh kepada guru. “Ha, ha, ha, bagus-bagus! Aku tidak menyangka bertemu kalian berlima yang terkenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Dengan suka hati aku bersedia menjadi gurumu”

Patih Sengkuni gusar. Orang asing yang berhasil mengambil Cupu Lenga Tala, telah mengangkat murid Pandhawa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Lenga Tala akan diberikan Pandhawa. Apalagi setelah mengetahui bahwa para Kurawa telah merebut paksa dari tangan Begawan Abiyasa. Namun sebelum kemungkinan paling buruk terjadi, Patih Sengkuni segera mendekatinya, dengan penuh hormat ia memperkenalkan diri. “Namaku Sengkuni, patih Hastinapura, dan yang berada di sekitar sumur itu adalah putra-putra raja. Jika diperbolehkan aku akan memanggilmu Kakang, seperti layaknya sebutan untuk saudara tua. Kebetulan Sang raja butuh guru sakti bagi putra-putranya. Untuk itu kakang, sekarang juga engkau aku ajak menghadap raja. Aku akan meyakinkan kesaktianmu, sehingga raja berkenan mengangkatmu menjadi guru resmi istana.”

Sebenarnya orang asing tersebut tidak membutuhkan murid, selain Pandhawa lima. Namun tawaran Patih Sengkuni perlu dipertimbangkan. Karena dengan menjadi guru istana, ia dapat memanfaatkan kekuatan dan kebesaran Hastinapura untuk tujuan-tujuan pribadi. “Baiklah Adhi Sengkuni, aku terima tawaranmu, asalkan anakku Aswatama dan Pandhawa lima boleh masuk ke istana untuk bersama putra-putra raja mendapatkan ilmu dariku.”

Sengkuni keberatan dengan syarat itu. Ia tidak suka Pandhawa tinggal di istana. Bahkan beberapa waktu lalu Patih Sengkuni berhasil membujuk raja untuk mengusir Pandhawa, dengan alasan bahwa Pandhawa telah menghasut rakyat untuk memusuhi raja. “Jika kalian keberatan dengan syarat itu, akupun keberatan untuk masuk istana. Maaf! Selamat tinggal! Ayo murid-muridku, ikutilah aku!”

“Adhuh celaka! Lenga Tala dibawa! Para Kurawa kejar dia!!”

Ketika Kurawa bergerak untuk mengejar mereka, tiba-tiba kabut tebal menghadang jalan. Orang sakti dan Pandawa lima lenyap di balik putihnya kabut.

Siapakah sesungguhnya orang sakti itu? Ia menuturkan riwayatnya kepada Pandawa Lima sebelum mengajarkan ilmu di Padepokan tempat tinggalnya.

Namaku Durna atau Kumbayana, artinya bejana air. Nama itu dipilih untuk mengingatkan peristiwa kelahiranku. Ketika ayahku bertapa, ia tergoda oleh seorang bidadari bernama Dewi Grahitawati, yang sedang mandi di telaga. Karena tidak kuasa menahan nafsu, maka air kama ayah jatuh ke telaga. Air kama itulah kemudian di tempatkan di dalam bejana air yang kemudian menjadi anak manusia, dan diberi nama Kumbayana.

Ayahku adalah raja di Hargajembangan, bernama Prabu Baratwaja. Sebagai anak tertua, aku disiapkan menjadi raja. Semula Hargajembangan merupakan kerajaan kecil, namun semenjak Rama Baratwaja menyimpan keris Pulanggeni pinjaman Begawan Abiyasa, guru Ramanda dari tanah Jawa, Hargajembangan menjadi sebuah negara besar. Kerajaan-kerajaan di bumi Atasangin tunduk kepada Hargajembangan. Aku tahu bahwa Ramanda Prabu berilmu hebat, namun menurutku kebesaran tahta Hargajembangan bukan karena kehebatan ramanda, melainkan karena kesaktian Pulanggeni. Bagaimana jadinya jika tanpa Pulanggeni? Apakah negara-negara Bumi Atasangin masih tetap tunduk dibawah Hargajembangan? Jika tiba saatnya nanti aku menggantikan Ramanda dengan Pulanggeni, tentunya akupun dapat menjadi raja besar. Tetapi aku heran, mengapa Begawan Abiyasa membiarkan keris Pulanggeni bertahun-tahun berada di Hargajembangan? Apakah di padepokannya masih tersimpan puluhan pusaka sekelas Pulanggeni. Betapa beruntungnya jika aku dapat bertemu dan berguru kepadanya.

Sore itu, Hargajembangan memamerkan ke kesuburannya. Tanaman padi umur lima pekan menghampar hijau bak permadani menyelimuti sebagian besar bumi Hargajembangan. Hingga sore merambat malam, para petani enggan beranjak, sebelum mereka mendengar gemericiknya air mengaliri tanamannya. Karena bagi mereka suara gemericik dari ujung petak sawahnya bagaikan kidung malam yang menghantar ke tempat peraduan, untuk berbaring tidur dalam kelegaan.

Jauh dipusat Kota, di malam itu juga, Ramanda Prabu memanggil aku dan adikku Sucitra. Rupanya ada hal yang begitu penting. Aku berdebar menghadapnya.

“Kumbayana, karena usia yang mendekati senja, kesehatanku semakin menurun, dan gampang lelah. Pada siapa lagi tahta kuserahkan, kalau bukan padamu. Oleh karenanya matangkanlah ilmumu untuk bekal menjadi raja.”

“Kapan Ramanda?”

“Lebih cepat lebih baik.”

Inilah saat yang kutunggu Dengan Pulanggeni aku akan menjadi raja besar, menguasai raja-raja di Bumi Atasangin. Namun belum reda getar suka-citaku, Ramanda Prabu mengambil keris Pulanggeni dan menyerahkannya kepada Sucitra “Kembalikan keris ini kepada Bapa Guru Abiyasa dan mohon doa restunya untuk penobatan Kumbayana.” Debar suka citaku berhenti seketika. Menyusul keringat dingin ketakutan.

Kidung Malam (11)
Pergi ke Tanah Jawa
Perasaan takut menyelinap di dalam hatiku, setelah keris Pulanggeni berada di tangan Sucitra dan segera akan dikembalikan pemiliknya di Tanah Jawa. “Rama Prabu, kalau boleh, keris Pulanggeni jangan dikembalikan terlebih dahulu, aku sangat membutuhkannya sebagai ‘sipat kandel’ menjadi raja.”

“Kumbayana, pengembalian pusaka tidak mungkin untuk ditunda. Aku sudah berjanji kepada Bapa Guru Abiyasa, jika Hargajembangan telah menjadi besar, keris Pulanggeni segera aku kembalikan. Tidakkah engkau melihatnya sekarang? Bumi Atasangin telah menjadi satu di bawah Hargajembangan. Engkau tinggal memelihara dan mempertahan-kan kebesaran negeri ini.”

“Ampun Ramanda Prabu, memelihara dan mempertahankan lebih berat dari pada merintis dan membangun.”

“Kumbayana, memelihara dan mempertahankan memang butuh kesabaran dan welas asih. Hal itu bukan berarti lebih berat dibandingkan dengan merintis dan membangun. Baik itu membangun atau pun memelihara, keduanya mempunyai kesulitannya masing-masing. Namun yang lebih penting bahwa engkau jangan salah mendudukan pusaka dalam hidupmu! Untuk menjadi raja yang terutama adalah ilmu dan kesiapan lahir batin.

“Ampun Ramanda, jika Ramanda telah mengambil tuah dari pusaka Pulanggeni untuk merintis dan membangun, apa salahnya aku menginginkan Pulanggeni untuk memelihara negri yang Ramanda wariskan.”

“Kumbayana, ada hal yang belum kau mengerti, bahwa Bapa Guru Abiyasa memberikan pusaka Pulanggeni untuk mengangkat wibawa, menebarkan rasa segan dan takut bagi yang berniat jahat dan membahayakan kelangsungan Hargajembangan. Karena dengan demikian orang akan mudah ditundukan dan diatur. Bukanlah hal tersebut telah terbukti? Namun sekarang, para raja Bumi Atasangin telah tunduk kepada kita. Mereka bukan musuh kita lagi. Mereka adalah sahabat-sahabat yang bersama-sama dengan Hargajembangan menjaga keutuhan Bumi Atasangin. Apakah engkau tega menebar rasa takut kepada para sahabat kita?”

“Jika demikian Ramanda, biarlah aku yang mengembalikan Keris Pulanggeni ke tanah Jawa, siapa tahu karena kebaikan Begawan Abiyasa, aku diberi pinjaman pusaka sekelas Pulanggeni untuk kepentingan yang berbeda, yaitu menjaga kebesaran Hargajembangan dan persatuan Bumi Atasangin.

“Kumbayana, perjalanan ke Tanah Jawa membutuhkan waktu yang tidak pendek, terlebih letak Padepokan Saptaarga yang berada di puncak gunung ke tujuh, tidak cukup ditempuh selama satu bulan. Itu artinya engkau akan membuang waktu yang seharusnya dipergunakan untuk mempersiapkan dirimu menjadi raja?”

Rama Prabu Baratwaja bergeming pada perintah semula, pengembalian keris Pulanggeni dipercayakan Sucitra.

Pada hari yang disepakati, pagi-pagi benar, Sucitra membawa Keris Pulanggeni, meninggalkan Hargajembangan. Firasatku mengatakan bahwa wahyu keraton telah hilang dari Bumi Atasangin. Kewibawaan Hargajembangan akan menjadi surut. Raja-raja di Bumi Atasangin yang selama ini tunduk kepada Hargajembangan akan berontak, dan yang terkuat akan menguasai Hargajembangan.

Aku menjadi takut dinobatkan, dan tidak mau menjadi raja sebelum mendapat pusaka sekelas Pulanggeni.

Maka aku berniat meninggalkan tanah tumpah darahku, Negara Hargajembangan di bumi Atasangin.

Aku pamit melalui selembar surat.

“Ramanda Prabu yang aku hormati,

Ketika Pulanggeni dibawa pergi Sucitra, ada sesuatu yang lepas dari Negara Hargajembangan. Oleh karena itu Ramanda dengan terpaksa aku meninggalkan Bumi Atasangin untuk mencari pusaka pengganti Pulanggeni di tanah Jawa.

Jika aku ditakdirkan menjadi raja, kelak aku pasti akan kembali di Bumi Atasangin. Maafkan Ramanda Prabu dan selamat tinggal.”

Putranda yang durhaka
Kumbayana

Pada tengah malam aku tinggalkan Bumi Atasangin. Niatku pergi ke tanah Jawa, menemui Begawan Abiyasa.

Semakin jauh Negara Hargajembangan aku tinggalkan, semakin sedih rasanya.

Tidak terasa kedua pipiku basah oleh airmata. Berat juga berpisah dengan Ibunda Ratu dan Ramanda Prabu, yang sejak kecil mengasuh, mendidik dan mencintaiku.

Perjalanku terhenti di tepi Samodra. Suasana hening sepi. Berhadapan samodra luas, disertai deburan ombak besar bergulung susul menyusul, kesaktianku tidak berarti.

Apakah adikku Sucitra menyeberangi samodra ini? Bagaimana caranya?

Bagaimana aku dapat sampai ke tanah Jawa? Oh Dewa tolonglah aku.

Hanya Dewalah yang dapat menolong.

Jika Orang, pasti keturunan Dewa.

Namun jika binatang, tentu kendaraan Dewa.

Kalaupun ada yang dapat menolongku, jika wanita akan aku peristri, jika laki-laki, aku angkat menjadi sahabat.

Tiba-tiba di angkasa ada benda putih terbang menuju tempat aku berdiri.

Semakin dekat, semakin jelas. Seekor Kuda Bersayap!

Binatang yang hanya aku kenal dalam dongeng tersebut, mendarat tepat di depanku.

Ke empat kakinya ditekuk, sayapnya dikibas-kibaskan, ia memberi isyarat dengan kepalanya agar aku duduk di punggungnya.

Apakah binatang ini dikirim dewa untuk menolong aku? Menyeberangkan aku ke tanah Jawa? Tanpa pikir panjang, aku naik di punggungnya.

Tiba-tiba sayapnya dikepakan.

Aku dibawa terbang. Tinggi dan semakin tinggi.

Kidung Malam (12)
Batari Kuda Bersayap
Isyarat kuda bersayap itu jelas, aku diminta duduk di punggungnya.

Aku coba menuruti keinginannya. Siapa tahu aku diterbangkan ke tanah Jawa.

Sejenak setelah duduk dipunggungnya, sayapnya digepakan, ia terbang melintas samodra. Aku terkejut, berpegang lehernya erat-erat, takut akan jatuh. Kuda Bersayap mengurangi kecepatan. Ia tahu, aku ketakutan.

Beberapa waktu kemudian, aku mulai tenang, dan berani menebarkan pandangan. Oh betapa indahnya pemandangan di atas awan.

Mega berarak laksana kapas putih terbang ditiup seribu bidadari jelita. Air laut bagaikan beludru biru, selimut para Dewa.

Dari kejauhan aku melihat daratan. Itulah tanah Jawa, tempat Begawan Abiyasa tinggal. Semakin dekat tampaklah, bahwa daratan itu sangat subur.

Tanpa aku perintah, Kuda bersayap mulai merendahkan terbangnya, dan mendarat dengan lembut di tanah Jawa.

Benar-benar aneh, ia tahu tujuanku.

Aku heran dengan kejadian yang baru saja aku alami. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak! Ini alam nyata. Aku telah berdiri di tanah Jawa. Dan kuda bersayap itu telah menolongku. Tampaknya Kuda bersayap itu tidak peduli.bahwa aku masih keheranan, ia berjalan meninggalkan aku.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti dan menoleh kepadaku.

Aku mulai mengerti isyaratnya, bahwa aku diminta mengikutinya. Aku penasaran, akan ku ikuti ke mana ia melangkah. Apa yang diinginkannya?

Ku perhatikan dari belakang, langkahnya gemulai, bak putri raja. Ooh! kuda itu betina

Tidak lama kemudian kami sampai di tengah taman aneka bunga indah. Tempat ini sangat romantis. Siapa pun orangnya akan merasa nyaman berada di tempat ini, terutama bagi sepasang remaja.

Ah jika aku ditemani seorang bidadari, alangkah bahagianya.

Aku dapat memadu kasih sepuasnya tanpa ada yang menggangu.

Selagi aku mengkhayal layaknya seorang jejaka yang kesepian, mulut kuda betina menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Aku terkejut. Kutarik tanganku cepat-cepat. Kuda betina kecewa dengan perlakuanku. Dari sorot matanya tampak kesedihan itu. Aku menyesal telah melakukannya dengan kasar. Seharusnya aku elus-elus dahinya, seperti yang aku lakukan terhadap kuda-kudaku di Hargajembangan.

Aku dekati kuda bersayap tersebut. Aku elus dahinya, kepalanya dan lehernya dengan lembut. Matanya yang sedih menjadi berbinar penuh kebahagiaan.

Hari-hari berlalu tanpa ada niatan meninggalkan tempat itu. Aku semakin akrab dengannya.

Pada suatu malam antara sadar dan mimpi, di sebuah taman bunga nan elok indah, sayup-sayup terdengar suara kidung malam yang menghanyutkan. Ada suasana romantis, sakral, agung berbaur menjadi satu. Aku tidak dapat menceritakannya dalam wujud kata-kata keelokan malam itu. Di tempat tersebut, aku bertemu dengan seorang batari jelita, Wilutama namanya. Kami berdua saling mencurahkan kasih.

Kasih antara sepasang pria dan wanita.yang jatuh cinta.

Kasih antara suami dan istri.

Ketika kami puas meneguk kenikmatan.

Aku tersadar. Tidak jauh dariku, mata kuda bersayap itu menatapku.

Berdesir hatiku melihat sorot matanya. Benarkah sorot mata Batari Wilutama?

Apa yang terjadi dengan diriku dan Kuda bersayap?

Aneh, gaib, penuh misteri.

Semenjak peristiwa tersebut, aku semakin menyayangi Kuda bersayap. Karena di dalam sorot matanya aku diingatkan kepada Sang Batari Wilutama.

Tanpa pernah aku tahu kapan mengandungnya. Tiba-tiba secara ajaib kuda bersayap itu melahirkan seorang bayi, wajahnya mirip aku.

Anakku kah ini?

“Benar. Itu anak kita.”

Aku terkejut mendengar suara lembut merdu.

Astaga! Batari Wilutama? Mimpikah aku?

“Akulah Kuda bersayap itu. Bertahun-tahun aku menjalani kutukan dewa. Aku akan pulih menjadi Batari, jika dapat melahirkan manusia. Pertemuan kita merupakan akhir penantianku yang panjang. Aku menjadi bathari seperti semula.”

“Wilutama, aku mencintaimu. Kita akan membangun rumah tangga yang tentram damai, untuk bersama-sama mendampingi anak kita.” Maafkan kakang, kita tidak mungkin bersatu. Aku segera kembali ke kahyangan. Karena jika tidak, pasti aku mendapat hukuman yang lebih berat.”

“Mengapa pertemuan kita hanya sekejap, seperti mimpi?

“Sesungguhnya, hidup ini adalah sebuah mimpi. Memang hanya sekejap, namun sangat berarti. Pertemuan ini telah melahirkan sejarah baru, Seorang bayi buah cinta kita. Namakan ia Aswatama. Jika ada kesulitan dengan anak ini, sebut namaku dan aku akan menolong.”

“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”

Terimalah tusuk konde ini, sebagai tanda cintaku. Jika engkau rindu padaku kecuplah benda ini, maka rindumu akan terpuaskan.”

Sekejap kemudian, setelah aku terima benda pusaka pemberiannya, Batari Wilutama lenyap secara gaib.

Sedih, kecewa, menyesal bercampur menjadi satu.

Sang Batari telah merampas cintaku.

Sebagai jejaka belia aku tak kuasa menanggungnya.

Apakah aku kuwalat terhadap orang tua?

Oh Aswatama, menangislah keras-keras agar ibumu mengurungkan niatnya meninggalkan kita.

Aku berteriak keras, Wilutamaaa…!

Aku gendong anakku, aku kudang sepanjang jalan .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s