Lakon Wayang Part 27


Kidung Malam 47
Purucona
Pesanggrahan Bale Sigala-gala yang indah megah, tak mampu bertahan lama dari amukan api. Purucona seorang undagi atau ahli bangunan terkemuka di Hastinapura. termasuk juga menjadi korban keganasan api. Ia dipaksa untuk menyulut Bale Sigala-gala yang ia bangun dengan bahan yang mudah terbakar. Ketika api mulai ganas menyala, Purucona dilemparkan ke dalam api oleh beberapa pengawal yang telah dipersiapkan. Sungguh malang nasibnya si Purucona. Ia sengaja dijadikan tumbal untuk rencana besar ini. Awal tragedi Purucona adalah ketika Patih Sengkuni menemui dirinya dan memerintahkan untuk membangun sebuah pesanggrahan yang indah menawan. Kepercayaan langsung dari Patih Hastinapura kepada dirinya membuat Purucona benar-benar merasa bangga dan gembira. Oleh karena kepercayaan yang diberikan kepadanya Purucona ingin menunjukkan bahwa dalam waktu yang relatif pendek ia mampu menciptakan sebuah karya bangunan yang indah.

Konsep bangunan pesanggrahan Bale Sigala-gala adalah ‘Pradah’ artinya ruang-ruang yang ada dibuat terbuka. Dengan desain yang sedemikian rupa Purucona menginginkan setiap ruangan yang ada mampu mempunyai daya undang bagi siapa saja untuk masuk. Setelah mereka masuk, mereka akan dimanjakan dengan ruangan yang nyaman, udara yang segar dan hidangan yang lezat. Sehingga semua orang yang datang, masuk ruangan dan menikmati hidangan yang disajikan akan menjadi lupa terhadap beban hidup yang berat.

Semula tidak terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa pada akhirnya bangunan itu dibuat demi sebuah sarana untuk melenyapkan Pandhawa lima dari muka bumi. Para Pandawa diundang masuk menikmati hidangan pesta agar menjadi lupa, sehingga meninggalkan kewaspadaan dan akhirnya tidak tahu akan datangnya bahaya api yang meluluh-lantakan semuanya.

Maka pada malam itu Purucona menjadi shock setelah mengetahui bahwa Bale Sigala-gala karyanya akan dijadikan sarana untuk membunuh Pewaris tahta Hastinapura yang sah. Sekarang semuanya telang berlangsung amat cepat. Arsitek nomor satu di Hastinapura benar-benar tekah luluh lantak menjadi arang dan abu, bersama dengan karya terakhirnya yang sebelumnya sangat mempesona. Selain Purucona, ada enam orang yang mengalami nasib seperti Purucona. Mereka ditemukan di depan pintu ruang belakang.

Siapa lagi kalau bukan Kunthi dan ke lima anaknya.

Ketika matahari mulai meninggi, bukit letak pesanggrahan Bale Sigala-gala dibangun, penuh sesak. Orang-orang pada datang untuk memastikan apakah Raden Yudhisthira dan saudara-saudaranya dan juga Ibunya dapat menyelamatkan diri?

“Inilah mayat Kunthi, walaupun sudah menjadi arang, masih kelihatan bahwa ini adalah mayat seorang wanita. Dan yang lima ini adalah anak-anaknya, yaitu: Yudhisthira, Bimasena, Herjuna, Nakula dan Sadewa.”

Dengan penuh kelegaan Sengkuni menyakinkan bahwa ke enam mayat yang ada, adalah Kunthi dan Pandhawa lima. Dan rupanya keyakinan Sengkuni tersebut tak terbantahkan, karena ada bukti yang ditunjukan. Para rakyat bersedih. Para kawula menangis, melihat ke enam mayat yang diyakinkan Sengkuni adalah mayat Kunthi dan anak-anaknya. Tidak ada yang menyuruh, para kawula pedesan yang datang, bersimpuh mengelilingi keenam mayat tersebut. Rasa hormat dan rasa cinta yang begitu tinggi yang ditunjukkan oleh rakyat Hastinapura kepada Pandawa, walaupun sudah menjadi abu, membuat Sengkuni dan Para Kurawa panas hatinya. Maka segeralah Patih Sengkuni memberikan perintah untuk membubarkan para kawula pedesaan itu. Satu persatu mereka meninggalkan puing-puing Bale Sigala-gala dengan kepala tunduk. Tanpa disadari kaki mereka menginjak-injak abu Purucona sang Arsitek yang malang.

Kidung Malam 48
Meninggalkan Kotaraja
Para kawula yang diusir Patih Sengkuni menjauh dari puing-puing kebakaran, namun mereka enggan untuk meninggalkan halaman Bale Sigala-gala. Jika pun ada yang keluar halaman, mereka berpencar tidak jauh dari pagar halaman Bale Sigala-gala. Diantara para kawula Hastinapura yang masih berada disekeliling Bale Sigala-gala, terdapat istri dan anak Purucona.. Ibu dan anak tersebut datang dari kotaraja ingin menyaksikan secara langsung keindahan Pesanggrahan Bale Sigala-gala, hasil karya Purucona. Sampai di tempat pesta isteri dan anak arsitektur nomor satu negara Hastinapura tersebut memandang kagum Bangunan pesanggrahan Bale Sigala-gala. Kekaguman mereka tidak sendiri. Karena hampir sebagian besar para tamu undangan yang hadir mengagumi karya Purucona.

Namun keindahan bangunan tersebut dalam sekejap berubah dengan cepat. seperti mimpi rasannya. Kini pesanggrahan yang indah telah hangus terbakar. Tak terbayangkan bahwa pesanggrahan yang dibangun ayahnya siang malam dengan susah payah tak kenal lelah, telah lenyap dalam seketika. Bahkan Purucona ikut lenyap bersama bangunan karyanya.

Rasa cemas dan kawatir semakin memuncak, ketika sampai siang hari, ibu dan anak tersebut tidak mendapati orang yang amat disayangi.

Tidak! Purucona tidak mati! Ia masih hidup pada waktu yang amat panjang.. Buktinya bahwa karya bangunan yang dihasilkan tersebar di seluruh penjuru negeri Hastinapura. Ilmu-ilmunya tentang bangunan sudah diberikan kepada murid-muridnya, anak buahnya, tukang-tukangnya. Lihatlah banyak bangunan yang berdiri di kotaraja Hastinapura yang disebut gaya Purucanan. Dan kemudian ilmu-ilmu arsitektur Purucanan tersebut telah tumbuh dan berkembang bahkan hingga ke manca negara.

Ibu dan anak itu berusaha menyangkal bahwa Purucona tidak mati hangus bersama bangunan karyanya. Mereka masih mengharapakan bahwa Purucona hidup dan tinggal bersama-sama dengan keluarga dalam damai, dan penuh kasih sayang.

Namun harapan tersebut semakin tipis. Purucona sudah tidak tampak lagi. Menurut dua tamu yang hadir pada malam pesta, mereka menyaksikan, ketika ada api berkobar dan langsung menjadi besar, empat perajurit menghalangi Purucona yang hendak menyelamatkan diri dari kobaran api. Bahkan yang lebih mengerikan, keempat perajurit tersebut melemparkan Purucona ke dalam kobaran api. Purucona menjerit keras-keras. Namun suara jeritannya tenggelam oleh suara ledakan tiang-tiang yang berisi sendawa.

“Ayah! Betapa malang nasibmu. Engkau dipakai sebagai alat konspirasi tingkat tinggi. Awalnya ia diberi kesempatan untuk berjalan di depan tetapi kemudian ditusuk dari belakang. Patih Sengkuni, si jahanam akan kubunuh engkau.”

“Jangan anakku! Jangan! jika kau lakukan, ibarat sulung masuk api, tak ada gunanya. Engkau akan mati sia-sia. Aku tidak mau kehilangan engkau.”

Anak Purucona tidak meneruskan niatnya. Benar apa yang dikatakan ibunya. Jika ia menuruti emosinya dan berusaha membunuh Patih Sengkuni, entah berhasil ataupun tidak, maka akibatnya ia sendiri yang akan dibunuh. Dan jika hal itu yang terjadi, ibunya pasti akan lebih menderita. Sudah kehilangan suami dan kemudian kehilangan anak satu-satunya.

“Ibu kita tinggalkan tempat ini dengan segera”.

Peristiwa Bale Sigala-gala menjadi sejarah hitam-pekat bagi keluarga Purucona. Walaupun di kotaraja mereka mempunyai rumah besar, megah dan asri, mereka tidak mau lagi kembali ke Hastinapura. Bagi mereka negaranya tidak dapat diandalakan untuk mengayomi warganya. Para penguasa negeri itu bersikap arogan. Ambisi pribadi dikedepankan. Kekuasaan dipakai sebagai alat untuk menguasai. Kedudukan hanya menjadi sarana untuk menginjak-injak rakyat dan memperlakukan rakyat sesuka hatinya. Jika untuk kepentingan diri sendiri, yang benar dapat disalahkan dan yang lurus diadili.

“Huh! Tidak sudi lagi aku menginjakan kakiku di kotaraja, sebelum Patih Sengkuni dan begundalnya lengser dari jabatannya.

Anak Purucona dan Ibunya berjalan tanpa tujuan. Mereka mempunyai hasrat yang sama, yaitu menjauhi Kotaraja Hastinapura, tempat para penguasa memperlakukan dan membunuh ayahnya sedemikian keji.

Kidung Malam 49
Peristiwa Bale Sigala-gala sangat menggemparkan seluruh kawula Hastinapura. Bukan karena bangunan yang elok asri itu ludes terbakar, tetapi terutama karena Anak-anak Pandudewanata calon raja yang didambakan rakyat menjadi korban. Pandita Durna yang pada waktu kejadian belum berperan banyak selain sebagai guru dari warga Pandawa dan warga Korawa, ikut prihatin dan bersedih, pasalnya karena dua murid terbaiknya yakni Bimasena dan Herjuna menjadi korban.

Jika oleh banyak orang peristiwa Bale Sigala-gala dicatat sebagai tragedi pilu umat manusia, namun tidak oleh Patih Sengkuni. Ludesnya Bale Sigala-gala sama artinya dengan sirnanya penghalang yang merintangi ambisinya untuk mendudukan Doryudana di tahta Hastinapura. Oleh karenanya patut disambut dengan sukaria. Tetapi benarkah Sengkuni berhasil menyingkirkan para Pandawa? Memang sementara ini kawula Hastinapura mempercayai bahwa warga Pandawa telah mati.

“Telah Mati!? Ucapkan sekali lagi Sengkuni dengan sejelas-jelasnya!

“Ampun Kakanda Prabu, memang benarlah adanya. Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Api terlalu cepat berkobar dan menghabiskan Pesanggrahan Bale-Sigala se isisnya. Termasuk Kakang Mbok Kunthi, dan ananak-anaknya, juga Purucona sang arsitek itu.’

Destarastra menyesali dirinya yang dilahirkan buta. Karena dengan tidak dapat melihat, banyak kendala-kendala yang dihadapi dalam memerintahkan negara besar seperti Hastinapura ini. Ia selama ini hanya mengandalkan laporan-laporan yang sering tidak sesuai dengan kenyataannya. Bahkan tidak jarang yang merah dilaporkan hijau dan yang kuning dilaporkankan putih. Tergantung dari kepentingan yang melaporkan. Sedih rasa menjadi raja tidak dapat mengerti kondisi yang sebenarnya dari rakyatnya. Kalau tidak karena rasa cintanya kepada Pandu adiknya, sesungguhnya ia tidak mau menduduki tahta Hastinapura. Jika pun dirinya berambisi menjadi raja, tentunya sebagi anak sulung laki-laki dari Prabu Kresnadwipayana, raja Hastinapura sebelumnya. ia akan bersikeras menduduki tahta. Namun karena menyadari keterbatasannya, dengan tulus ia merelakan tahta Hastinapura kepada adiknya.

Namun yang terjadi selanjutnya adalah bahwa tahta kembali pada dirinya. Pandu telah wafat akibat kutukan Resi Kimindama. Destarastra memerintah negara Hastinapura dengan segala keterbatasannya. Satu hal yang masih dipegang teguh oleh Destarastra, yaitu bahwa tahta Hastinapura ini adalah titipan Pandu untuk diwariskan kepada anak-anaknya. Tinggal menunggu waktu. Yamawidura adik bungsu Destarastra ditugaskan untuk mendampingi anak-anak Pandu dan mempersiapkan lahir batin, agar pantas menjadi raja.

Selang waktu mulai dari meninggalnya Pandudewanata hingga sampai para Pandhawa tumbuh dewasa dan siap menjadi raja inilah yang dimanfaat oleh Patih Sengkuni dan Gendari. Mereka menyusun rencana untuk mendudukan Duryudana menjadi raja. Salah satunya usaha yang dilakukan mereka adalah menjebak Destarastra dengan undang-undang kerajaan yang berbunyi bahwa setiap anak sulung laki-laki raja yang usianya sudah mencukupi, wajib diwisuda menjadi Putra Mahkota. Destarastra menolak. Ia tahu kelicikan Patih Sengkuni dan Gendari, isterinya. Jika Destarsatra mewisuda Duryudana sebagai Putra Mahkota, sama halnya dengan menjilat ludahnya sendiri, menarik tahtanya dari Pandu dan memberikannya kepada Duryudana anaknya.

Cara kasar pun pernah dilakukan, yaitu dengan meracun Bimasena yang menjadi kekuatan Pandawa. Namun gagal. Dan sekarang dengan cara yang lebih kasar dan keji, yaitu dengan membakar para pandawa dalam arena pesta.

Oleh karenanya Destarastra dapat menangkap kelicikan dan kepalsuan melalui laporan Patih Sengkuni peri hal tragedi Bale Sigala-gala. Destarastra marah besar. Ia tak kuasa mengendalikan dirinya ketika mendengar kabar kematian Kunti dan Pandawa. Destarastra tak kuasa mengeluarkan kata-kata, badannya bergetar, giginya gemeretak. Dari kedua tangannya muncul asap tipis berwarna merah.

“Lebur Sekethi!” Sengkuni gemetar ketakutan, ia bergeser menjauh dari Prabu Destarastra. Para Abdi, Kerabat, Punggawa, Senapati dan Permaisuri panik ketakutan. Telapak tangan Prabu Destarastra yang telah berisi aji Lebur Sekethi diarahkan ke tempat Patih Sengkuni duduk.

“Dhuaaarr”

Suara menggelegar menggema di sitihinggil. Kursi kepatihan lebur jadi debu, dan menyisakan lobang di lantai yang cukup besar dan dalam

Semua diam, tak ada yang berani mengeluarkan suara. Prabu Destarastra tersengal napasnya. Ia duduk lemas di kursi raja, kursi yang banyak direbutkan orang. Pandangannya seakan menerawang jauh dan jauh sekali. Benarkah Kunthi dan anak-anaknya telah mati? Rasanya tidak mungkin. Bukankah masih ada tugas yang harus dikerjakan? Diantaranya adalah menyeimbangkan negara Hastinapura dari perilaku yang tidak baik dan perilaku yang baik

Gendari tahu persis bagaimana harus mendampingi Destarastra. Setelah cukup lama Sang Prabu dibiarkan terbang dengan pikirannya dan menyelam dalam perasaannya, Gendari mendekati Sang Prabu dan meraba dadanya dengan penuh kelembutan.

“Sang Prabu, hari menjelang senja, perlulah kiranya Sang Prabu mandi agar badan menjadi segar dan pikiran menjadi dingin.”

Destarastra tidak menolak, ketika dirinya dituntun oleh isterinya yang walaupun tidak suka dengan perilakunya, namun sebenarnya sangat ia sayangi.

Kidung Malam 50
Berjumpa dengan Kekasih Hati
Tidak seperti kabar yang tersebar luas di negara Hastinapura dan sekitarnya, Kunthi dan anak-anaknya selamat dari kobaran api, berkat Kanana dan terowongan yang dibuatnya. Mereka menyusuri lorong terowongan yang sempit dan gelap, mengikuti cahaya putih kemilau. Semakin lama terowongan itu semakin lebar dan terang, sehingga cahaya putih yang semula nampak jelas, semakin lama semakin menjadi tidak jelas.

Ketika perjalanan mereka sampai di alam terbuka yang terang benderang, mereka tidak melihat lagi cahaya itu. Jika semula Kunthi dan Pandhawa mengira bahwa cahaya putih itu adalah Kanana, nyatanya bukan. Bahkan Kanana sendiri melihat bahwa cahaya Putih itu adalah Batara Narada, Dewa yang bertubuh bulat pendek. Lalu siapa cahaya putih yang menuntun di dalam kegelapan tadi?

Kunthi, Pandawa Lima dan Kanana saling berpandangan. Mereka heran dengan apa yang baru saja mereka alami. Berawal dari peristiwa kebakaran di Bale Sigala-gala, kemudian mereka dibukakan pintu terowongan oleh Kanana, kemudian Bima menggendong mereka dan membawa masuk ke pintu terowongan. Di terowongan mereka mengikuti cahaya putih dan akhirnya selamat sampai di tempat terbuka yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

Tempat yang asing tersebut merupakan halaman pintu gerbang kerajaan. Kerajaan manakah ini. Pintu gerbangnya megah perkasa, dihiasi dengan ukiran bermotif binatang dan tumbuh-tumbuhan yang mempesona. Seperti kerajaan besar lainnya, pintu gerbang tersebut dijaga oleh beberapa perajurit yang mengawasi orang yang keluar masuk kerajaan. Jika dirasa perlu para penjaga tersebut berwenang memeriksa dan menggeledah tamu yang ingin masuk ke kerajaan. Kunti, Pandawa Lima dan Kanana disambut oleh kepala perajurit jaga dengan penuh hormat. Kemudian mereka dikawal beberapa perajurit untuk masuk menuju kedaton, kecuali Kanana yang memilih tinggal bersama perajurit jaga.

Kunthi dan Pandawa heran, para prajurit di kerajaan ini berkulit kasar saperti sisik, baunya amis seperti ular. Mereka membawa Kunti dan anak-anaknya kepada yang dikenalkan sebagai putra raja, bernama Nagatatmala. Orangnya gagah pakaiannya gemerlap ia juga bersisik seperti perajurit-perajurit yang lain. Nagatatmala memberi hormat dan bertanya mengenai keselamatan mereka. Nagatatmala mempersilakan mereka beristirahat di tempat yang sudah disediakan, sebelum ketemu raja. Seorang gadis cantik dikenalkan oleh Nagatatmala, sebagai adiknya bernama Nagagini.

Kunthi dan Pandawa terpesona melihat kecantikan Nagagini. Kulitnya halus bersinar tidak seperti kakaknya dan para perajurit, yang berkulit kasar bersisik. Hamper tak berkedip, para Pandawa memandang Nagagini yang berperangai lembut dan menawan. Nagagini memberi salam hormat kepada Kunti dan kepada Puntadewa, Bimasena, Herjuna, Nakula dan Sadewa. Tidak ada yang tahu bahwa ketika Nagagini memberi salam hormat kepada Bimasena, Nagagini bergetar gugup. Detak jantungnya berdegup keras. Bimasena adalah sosok yang pernah ia jumpai dalam mimpinya. Bahkan di dalam mimpi tersebut Bimasena dan Nagagini telah saling memadu kasih.

“Oh Raden Bima”

Nagagini berkeluh pendek dan segera meninggalkan ruangan tempat Kunti dan para Pandawa berada, takut jika gejolak hatinya terbaca. Gejolak hati yang tak karuan ketika berjumpa dengan kekasih hatinya. Bagi Nagagini sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Karena mimpinya belum lama ini menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s