Lakon Wayang Part 28


Baratayuda: Siasat Sang Pecundang
Kita tinggalkan malam di Mandaraka. Ditempat yang lain, Aswatama dengan kebulatan tekad telah memasuki Taman Kadilengeng di lepas sore itu. Dan di taman itu, Dewi Banuwati tengah duduk didampingi oleh para dayang dayang-nya. Mereka dengan setia memberikan bermacam hiburan yang ditujukan agar junjungannya dapat melupakan kemelut yang sedang menyelubungi negaranya. Ketika Aswatama masuk ke Taman Kadilengeng, suasana hingar bingar mendadak terhenti. Hampir semua mata menuju kearah kedatangan Aswatama. Semua menerka nerka, pasti ada sesuatu yang sangat penting hendak disampaikan oleh sang tamu. Sosok tamu yang semua sudah mengenalnya sebagai anak Pedanyang Sokalima, anak dari Sang Pujangga Astina.
Begitu pula dengan Dewi Banuwati, yang memendam seribu tanya. Ada apakah gerangan berita yang dibawa dari peperangan. Dalam suasana perang yang sudah berhari hari berlangsung, maka pastilah kejadian demi kejadian akan cepat berganti waktu demi waktu dan segala kemapanan pasti goyah dengan cepat. Tidak menunggu lama, diperintahkan oleh Dewi Banuwati para dayang dayang-nya untuk segera menjauh darinya. Berita mengenai segala perubahan di peperangan hendak ia bicarakan empat mata saja dengan Aswatama.
Sembah bakti Aswatama telah dihaturkan. Basa basi telah diucapkan oleh keduanya. Bagi Aswatama, kebiasaan pada waktu waktu yang telah lampau, tetap ia lakukan demi siasat yang hendak ia jalankan. Kebiasaan yang masih berlaku hormat kepada istri Prabu Duryudana. Walau dalam hatinya ia mengatakan bahwa ia tak akan lagi menjadi abdi negara Astina, tetapi pesona kecantikan Sang Dewi masih membuat dirinya juga tak berdaya dihadapan Banuwati.
Pada masa lalu, kekagumannya kepada kecantikan Banowati dipendamnya dalam-dalam. Karena dalam pikirannya, tidak sepantasnyalah ia mengagumi kecantikan dari junjungannya. Padahal dalam hatinya yang paling dalam, senyum Banuwati telah lama mengguncangkan hatinya. Setiap kali ia menyaksikan kemanjaan sikap dari Banuwati, ketidak berdayaannya atas keinginannya untuk memiliki Sang Dewi semakin menindih perasaannya. Tidak pantaslah juga, ia mengidam idamkan Banuwati yang cantik, Banuwati yang manja, Banuwati yang sorot matanya menyinarkan pesona bagi siapa saja yang menapnya. Tapi bagi Aswatama, tidak ada keberanian baginya untuk menatap mata itu. Ketika itu, keberaniannya hanya sebatas memandang pesona itu dari sudut matanya saja.
Tetapi saat ini sekuat tenaga ia hendak meruntuhkan tabu tabu atas masa lalu. Dan pada saat yang dipandang tepat nanti, ia ingin mereguk dengan segenap isi jiwanya, pesona yang terpancar dari sosok seorang Banuwati.
“Aswatama, apakah perang sudah usai?” Itulah yang setiap kali diucapkan Sang Dewi ketika ada seseorang yang kembali dari peperangan. Kembali pertanyaan itu diucapkan. Aswatama dengan getar di dadanya mendengarkan ucapan dari bibir merah Banuwati masih dengan angan angannya. Sangat jarang Aswatama berhadapan langsung dengan Sang Dewi, bisa dikatakan tak lebih dari hitungan jari sebelah tangannya. Maklumlah jabatan yang ia sandang tidak memungkinkan sering bertemu, walau ia sudah berada di istana sejak dari muda. Pertanyaan Banuwati dengan nada yang kenes, sesuai sifat dasarnya, membuat runtuh jantung Aswatama yang berdentang keras. Begitu kuat ternyata pesona yang terpancar dari sosok Banuwati dari dekat. Hal inilah yang membuat kata-kata yang disusun sebelumnya, menjadi berantakan tak karuan.
Tetapi gugupnya Aswatama dimata Dewi Banuwati dartikan lain. Dimatanya, kegugupan itu mengisyaratkan telah terjadi sesuatu hal dalam peperangan yang menentukan yang kehidupan negara selanjutnya. Dan Aswatama merasakan kesan yang memancar dari mata Banuwati itu. Maka timbullah keberaniannya untuk segera melakukan tindakan yang semula dirancangnya. Kembali ia dikejutkan dengan pertanyaan Banuwati mengulang.
Serta merta Aswatama menjawab, setelah terkaget dengan ulangan pertanyaan itu.
“Memang ada yang hamba akan laporkan Sang Dewi, mengenai kejadian penting di palagan peperangan.”
“Cepat katakan, Aswatama! “ Tak sabar Banuwati segera menyahut.
“Apakah Paduka Ratu berkenan dengan apa yang hendak hamba katakan?”.
“Ya ya. . . segera katakanlah.”
“Saat sekarang kekuatan Kurawa sudah dapat dikatakan lumpuh, dan tinggal menunggu saat saat terakhir perlawanan. Maka Baginda Prabu Duryudana memerintahkan kepada hamba untuk membawa Paduka Sang Dewi, keluar dari taman Kadelengeng”.
Oooh begitukah? Biarkan saja aku tetap di Keputren ini. Tak akan ada sesuatu yang membuat aku khawatir akan keselamatan diriku. Datar saja ucapan Dewi Banuwati, tak ada sedikitpun kecemasan membayang di wajahnya oleh sebab dari berita yang disampaikan Aswatama. Berita kekalahan Kurawa, sepertinya adalah hanya merupakan masalah kecil baginya. Aswatama hanya mengangguk anggukkan kepalanya, dan ia tidak terlalu heran dengan sikap Banuwati.
Sejenak Aswatama terdiam, kemudian otaknya kembali bekerja. Katanya kemudian.
“Tetapi ini adalah perintah dari Gusti Prabu Duryudana. Hamba akan bersalah bila tidak menjalankan titah yang telah digariskan”.
“Kembalilah ke Kurusetra. Katakan kepada kanda Prabu. Bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang keselamatanku. Musuh Kurawa pada perang Baratayuda adalah para Pandawa. Mereka itu adalah para kesatria yang tahu bagaimana memperlakukan musuh, mereka tak akan mungkin mencelakakan aku. Apalagi sifat dimas . . . . “ Terhenti ucapan yang sudah ada dikerongkongannya dan segera ditelan kembali. Dan warna merah dadu menghiasi wajah Sang Dewi atas ketelanjurannya, walau terputus. Namun Aswatama segera tahu apa yang hendak Banuwati ucapkan. Dan ini telah membuat otak Aswama seketika terang benderang
“Tetapi perkenankan hamba berterus terang. Gusti Prabu Duryudana sudah berada di suatu tempat. Mereka sudah menunggu jemputan ini. Disana sudah menunggu pula ayahnda Paduka Prabu Salya beserta Para Pandawa. Atas kehendak ayahanda Paduka Sang Dewi, perdamaian diantara yang sedang berperang hendak diselenggarakan. Dan diperkenankan Gusti Ratu sebagai saksi atas perdamaian itu. Dari pihak Kurawa akan langsung dipimpin oleh Gusti Prabu Duryudana, sedangkan dari Pihak Pandawa akan dipimpin oleh Raden Arjuna.” Sengaja Aswatama menyebut nama Arjuna untuk memancing kenangan terhadap kekasih gelapnya.
“Ah . . .”, Banuwati berdesah, senyum dibibirnya hampir saja terkembang, tetapi segera dipalingkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dari sudut matanya, Aswatama mencuri pandang terhadap raut muka Sang Dewi Banuwati yang dengan susah payah hendak menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dihatinya. Namun senyum sekilas tadi telah mengembangkan sejuta asa di hati Aswatama. Dalam hatinya mengatakan, “Inilah saatnya!” .
Sejenak hening disekitar mereka. Aswatama membiarkan saja perasaan Banuwati melayang layang. Namun Aswatama sudah tahu, apa pikiran yang membayang di rongga kepala Banuwati.
Tetapi tak lama suasana itu hening itu berlangsung, kemudian Banuwati memecahkan kesunyian.
“Bila begitu yang akan terjadi, apapun yang menurut rama Prabu Salya lakukan, hendaknya dilakukan. Tetapi yang aku sesalkan, kenapa baru sekarang kanda Prabu hendak berdamai setelah kekalahan nampak dipelupuk matanya. Perdamaian yang sebelumnya telah membawa banyak korban!” Sejenak Dewi Banowati terdiam, kemudian ia menyambung. “Tetapi baiklah, Aswatama, kapan kita hendak berangkat?”
“Sinuwun Prabu Duryudana tidak mau membuang-buang waktu lagi. Malam ini juga hamba dititahkan untuk segera mengantarkan Kusuma Dewi ke hadapannya”. Jawab Aswatama setelah menarik napas panjang. Kelegaan memenuhi dadanya, setelah sekian lama merasa tertindih beban yang begitu berat.
“Kita perlu pengawal untuk perjalanan malam ini Aswatama!”
“Tidak perlu Gusti Ratu, ini akan memperlambat perjalanan kita. Sedangkan malam terus berjalan dan akan semakin larut bila waktu dibuang untuk mempersiapkan segala sesuatu. Toh kita besok sudah kembali lagi ke Astina”. Berpikir tangkas Aswatama segera menolak usul yang disampaikan Dewi Banuwati.
“Baiklah Aswatama, kita pergi sekarang!”.
Maka dengan persiapan singkat, Dewi Banuwati berganti busana dan segera menaiki kuda. Dan Aswatama menaiki kudanya pula. Tak kecurigaan apapun ketika mereka melewati penjagaan demi penjagaan, pengawalan terakhirpun telah melepasnya. Dan tak terasa malam makin merambat dan perjalanan mereka semakin cepat.

Baratayuda: Siasat Sang Pecundang (2)
Batas negara telah terlewat dan sawah kemudian ladang pegagan sudah mereka lalui. Hujan yang turun sore tadi telah lama reda,langit hanya menyisakan awan bergumpal di sana sini. Namun sebagian, masih menampakkan bintang bintang yang berkelipan malu malu. Kemudian tibalah mereka di padang perdu dan kemudian hutan dengan tumbuhan kayu besar yang makin pepat. Dan malam semakin merambat larut, sementara perjalanan terus berlanjut.
“Aswatama, apakah tempat itu masih jauh?” tanya Banuwati yang merasa curiga dengan perjalanan malam yang seperti tak berujung.
“Tinggal beberapa yojanya kita akan sampai?” Aswatama berkilah
“Benarkah? Aku lihat kita malah berputar putar arah tidak karuan bahkan kita memasuki hutan dan jurang yang curam di kanan kiri kita!” tanya Banuwati ketika sampai pada tempat yang lapang ditumbuhi beberapa pohon pohon perdu ditepi jurang.
“Mhmm . . . , baiklah! Sekarang aku tidak lagi hendak menyembunyikan apa sejatinya yang kulakukan terhadapmu”. Sejenak Dewi Banuwati bagai terhenti jantungnya. Ia mendengar ucapan Aswatama yang bernada lain dari biasanya. Tetapi sekuat tenaga ditenangkan hatinya. Doa akan keselamatannya ia panjatkan untuk mengatasi kejadian yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Dilain pihak, Aswatama yang sudah sekian lama bersikap hormat sebagai anak Pedanyangan, ketika mengabdi pada Prabu Duryudana, kini berusaha bersikap tegak. Secara naluri Banuwati menjauhkan kudanya dari kuda tunggangan Aswatama.
Aswatama turun dari kudanya dan menambatkan di sebatang pohon. “Tempat yang agak lapang ini memungkinkan aku berterus terang terhadap Banuwati.”, demikian pikirnya dengan debar dada yang masih bergemuruh. Tetapi setelah diingat bahwa ia hanya berdua saja dengan Banuwati, dan apalah artinya wanita tanpa pendamping dihadapan lelaki yang terkodrat lebih kuat. Maka jebol-lah keraguan yang semula melimputi dirinya. Dipandangnya Banuwati dari ujung rambut hinggga ke ujung kaki dengan mata nyalang. Senyum aneh tersungging di bibir Aswatama bagai orang yang mabuk tuak.
Banuwati yang dipandang seperti itu merasa risih, dan ketakutan mulai membayang diwajahnya. Kembali hatinya dibesarkan, walau degup jantungnya masih juga tidak hendak reda. Setelah menarik nafas dalam dalam, ia menanya, dengan tetap duduk diatas punggung kuda.
“Sekarang katakan apa sebenarnya yang kamu kehendaki, Aswatama?” bergetar bibir Banuwati menanyakan maksud Aswatama. Padahal sebenarnya pertanyaan itu telah diketahui jawabnya. Namun ia masih menunggu jawab Aswatama yang masih dengan senyum kemenangan dibibirnya. Kemudian dilihatnya Aswatama berdiri didepan kuda, dan berkata dengan dada tengadah.
“Didunia ini tidak genap dua hitungan jumlah perempuan yang memiliki pesona yang begitu hebat. Pesona yang kamu miliki itu! Raja Astina yang begitu agung-pun bertekuk lutut. Menurut apa yang kamu perintahkan dengan tidak ada suatu katapun yang bernada menentang. Bahkan suatu contoh, bila keinginanmu untuk ketemu Arjuna tidak diturut, hanya sedikit kata rayuan dan seribu alasan, permintaan itu akhirnya dikabulkan. Benar benar Prabu Duryudana bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Dan pesona dari dirimu tidak urung telah menebar keseluruh lingkunganmu. Pesonamu juga telah menyusup menembus dalam dijantungku. Setiap dirimu lewat didekatku, terasa dadaku hendak pecah. Ya, terus terang saja! Sudah lama aku memendam perasaan ini terhadapmu, Banuwati. Perasaan cinta yang tadinya hampir tak mungkin kesampaian karena aku dulu mengabdi kepada Prabu Duryudana! Dan sekarang, Duryudana ada dalam keadaan sekarat. Daripada keduluan yang lain, terimalah takdirmu bahwa Aswatama adalah pemilik yang sah dari Banuwati untuk selanjutnya he he he . . . . ! Masih dengan ketawanya, Aswatama mendekat dan memandang dengan nyalang sosok Banuwati yang tertegun duduk diatas kuda. Tanpa berkedip, di kegelapan yang hanya tersinari bintang, sosok siluet Banuwati dikeremangan itu makin mempesona dimata anak Pedanyangan yang dimabuk keberhasilan itu. Hilang kewaspadaannya, dan tidak terpikir bahwa suatu saat, kuda itu dapat dilecut hingga lari dan tak dapat dikejar.
Sementara di dalam otak Banuwati berputar mencari celah untuk dapat melarikan diri. Tanpa sesadarnya kuda diarahkan mundur kembali menjauhi Aswatama yang selalu mengikuti langkah kemana saja kuda Banuwati bergerak.
Banuwati yang lambat laun bisa menguasai dirinya, kemudian berusaha tersenyum. Ia sudah dapat melihat dengan jelas, langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang menjepit dirinya.
“Ooh . . . begitukah? Siapapun, termasuk kamu dapat saja menjadi suamiku bila ia memiliki kecekatan berpikir. Dan gerak cepatmu telah membawamu untuk memboyong aku kemana kamu suka. Bawalah aku ke Timpuru atau ke Atasangin, kesanalah kita akan mukti wibawa meneruskan kejayaan Astina! Lihat bintang bintang dilangit adalah saksinya!”
Sang Dewi mengatakan sambil menunjuk ke langit dimana bintang-bintang masih bergelayutan.
Tanpa sadar bagai tersihir, Aswatama juga ikut mendongak ke langit. Dan saat yang sedikit itu digunakan dengan sempurna oleh Banuwati. Secepat kilat ditariknya kendali dan dipacu kuda itu tanpa menoleh kanan kiri. Kaget setengah mati Aswatama dan terlanggar kuda Banuwati. Bergulingan ia menahan sakit didadanya, dan merah padam mukanya oleh perasaan marah yang tidak terkirakan. Segera ia menuju kearah kudanya dengan tertatih tatih, dilepaskan ikatannya dengan terburu buru. Sumpah serapah membuncah dari mulutnya. Terlambat sedikit, kuda yang ditunggangi Banowati telah menghilang dikelebatan hutan dan pekatnya malam. Derap kaki kuda yang bergulung gulung menggema diantara tebing telah memperlambat usaha Aswatama dalam menelusuri jejak Banuwati. Sementara kabut telah turun setelah malam menjadi dingin menjelang pagi. Sempurnalah kesulitan Aswatama dalam melacak jejak buruannya.
Dewi Banuwati yang terlepas dari tangan Aswatama ternyata tidak mahir mengendalikan kudanya. Terpental pental ia diatas punggung kuda yang menjadi liar menyelusup diantara pepatnya pepohonan hutan. Walau sekuat tenaga Banuwati bergayut, namun tetap ia tak berhasil menguasai keseimbangan badan diatas pelana. Ia terhempas dan terperosok ke dalam kelebatan perdu yang tumbuh menyebar ditebing jurang.

Baratayuda : Jujurlah, Pinten, Tangsen!
Bayangan jingga belum lagi terbias diantara mega mega di langit timur, ketika Aswatama telah berada jauh jaraknya dalam pencarian jejak Banuwati. Kelamnya hutan dan kabut menjelang pagi amat mempersulitnya dalam melacak lari kuda yang ditumpangi Banuwati. Jejak kaki kuda dan patahan ranting yang masih baru kadang masih dapat terlihat sebagai tanda lacaknya, namun sejatinya kuda itu telah lama kehilangan penumpangnya yang terperosok jatuh di tempat yang sudah jauh tertinggal.
“Keparat Banuwati, kau telah membuat dendamku makin dalam! Ya, tidak ada yang dapat aku katakan, belum akan mati dengan dada lapang Aswatama, jika aku belum berhasil membunuh perempuan celaka yang berlindung dibalik kecantikan parasnya!” Perasaan sesal dan dendam melonjak lonjak dalam dada Aswatama. Segenap sisi hutan telah ia selusuri meneliti dengan seksama tanda tanda dimana adanya Dewi Banowati, namun Sang Dewi seolah ditabiri oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.
Sementara itu di Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.
Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.
“Pinten, Tangsen, duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasihSang Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.
Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa basi.
“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.
“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam kepengin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian saja”.
Yang diajak bercerita masih diam sambil sesekali mengangguk anggukkan kepalanya. Dibiarkannya uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali kali ia dengar dari mulut uwaknya, Prabu Salya.
“Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dengarkan ya”. Prabu Salya menyambung, “Ibumu, Madrim, ternyata meniru tindakan Istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu, tetapi cinta Batara Guru terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri Kaelasa”.
Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil. “Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki lembu Andini. Tak lah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa berdua ada punggung Lembu Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka melakukan olah asmara diatas punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kama salah, jatuh kelautan dan menjelma menjadi raksasa yang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang suci-bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan”.
“Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah mentah oleh ayahmu, Pandu. Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa bagi Kahyangan. Ayahmu lupa bahwa ia telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh Kahyangan, Prabu Nagapaya. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala. Bahkan ayahmu telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati dan rasa cinta terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya”.
Walau mereka berdua telah berkali kali mendengar cerita tentang kedua orang tuanya, tetapi tidak urung Nakula dan Sadewa telah meruntuhkan air matanya. Kali ini uwaknya menceriterakan kembali peristiwa yang mengiringi riwayat kejadian atas diri mereka berdua.
“Perlukah aku ceritakan bagaimana kematian kedua orang tuamu? “ Sejenak Nakula Sadewa terdiam. Mereka teringat, kedatangan mereka sebenarnya adalah dalam tugas negara. Seperti perintah yang diberikan oleh Prabu Kresna, mereka diberikan kewajiban untuk bagaimana melululuhkan hati uwaknya, agar dalam perang di terang hari nanti, uwaknya akan merelakan hidupnya untuk kejayaan Para Pandawa. Kresna telah mengetahui, bila tidak ada usaha untuk membuat Prabu Salya merelakan kematiannya, maka Para Pandawa tak akan dapat mengalahkan senapati bentukan Prabu Duryudana kali ini, yaitu Prabu Salya.
Maka Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan untuk mengulur perasaan Prabu Salya, agar nanti dengan gampang masuk mengutarakan maksudnya. Mereka pun menjawab, “ Uwa Prabu, kami akan mendengarkan apa yang hendak Uwa Prabu ceriterakan”
“Baiklah. Ketika kamu dikandung ibumu menjelang kelahiranmu, terjadi pemberontakan oleh sebuah negara yang ada dalam bawahan Negara Astina. Negara Pringgondani yang dipimpin oleh Prabu Trembuku hendak memisahkan diri dari kekuasaan Astina. Prabu Trembuku yang merasa sudah kuat dan mampu mengalahkan ayahmu telah dengan berani melakukan pememberontakan. Dalam perang tanding antara ayahmu dan Prabu Trembuku, ayahmu dapat mengalahkan kesaktian Prabu Trembuku yang kala itu menggunakan pusaka berujud keris yang bernama Kala Nadah. Sekali lagi kukatakan, ayahmu adalah orang yang tinggi hati. Prabu Trembuku, oleh ayahmu, sudah dianggap tak berdaya, hingga ayahmu Pandu lengah. Ketika sesumbar atas kemenangannya, ayahmu melangkah hendak berdiri diatas tubuh Kala Trembuku, sebagai tanda atas kemenangannya. Namun Trembuku ternyata masih kuat untuk menusukkan senjata keris Kala Nadah ke telapak kaki ayahmu. Berhari hari Keris Kyai Kala Nadah mengeram dikakinya. Tak ada seorangpun yang mampu mencabut keris Kala Nadah, hingga membuat kesehatan ayahmu menurun hari demi hari. Dan akhirnya, ketika kamu berdua terlahir kedunia, yang disertai kematian ibumu karena kehabisan darah, ayahmu juga ikut wafat setelah memberi nama buat kamu berdua”.
Sebentar prabu Salya membenahi tempat duduknya dan bergeser duduknya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Kegaiban terjadi, ketika kedua orang tuamu telah wafat, tiba tiba saja jasad keduanya telah hilang tak berbekas. Sudah menjadi suratan takdir bahwa kematian kedua orang tuamu adalah menuai apa apa yang mereka tanam. Janji ayahmu Pandu untuk sanggup menjadi kerak Neraka Yomani, telah berbuah. Ucapan orang tuamu ketika meminjam Lembu Andini, sanggup mukti waktu itu, dan sanggup sengsara kemudian telah menjadi kenyataan”.
“Keris perenggut nyawa ayahmu diberikan oleh pamanmu,Yamawidura, kepada Arjuna kakakmu. Sejak saat kamu berdua menghirup udara dunia, kamu sudah ada dalam asuhan ibu dari Puntadewa, Werkudara dan Arjuna, ya Kunti itulah yang memberi perlindungan atasmu sebagaimana ia memperlakukan kasihnya terhadap anak kandungnya.

Baratayuda : Jujurlah, Pinten, Tangsen! (2)
Maka itu Pinten, Tangsen, perlakukan ibumu, Kunti, dengan kasih yang sepenuh hati. Perlakukan ibumu Kunti, seperti saudara saudaramu tua menyayangi ibunya”.
“Semua titah Uwa Prabu sudah hamba lakukan, sebagaimana Ibu Kunti dengan tak membeda bedakan kasihnya antara kami berdua dengan saudara saudara kami yang lahir dari rahim ibu Kunti”. Jawab Nakula dan Sadewa serentak dengan suara yang sedikit serak, ketika uwaknya menghentikan ceritanya sesaat.
“Baik”, sekali ini Prabu Salya kembali menghela nafas panjang dengan senyum puas, “Selain dari pada itu anak anakku, kamu berdua hendaklah tidak pernah menyerah dalam menjalani Perang Baratayuda ini. Tetaplah ada pada kedekatan jarakmu dengan kakakmu Puntadewa. Aku lihat kamu sekarang malah datang kehadapanku di Mandaraka. Apa yang hendak kau sampaikan Pinten, Tangsen”.
Kedua bersaudara kembar itu saling berpandangan. Keduanya merasa pintu telah terbuka. Kemudian bersepakat dengan sinar matanya, siapakah yang hendak menyampaikan hal penting sebagai utusan dari Prabu Kresna. “Siapakah diantara kami Para Pandawa yang tidak merasa khawatir, sebab kami telah mendengar bahwa terang tanah hari ini, Uwa Prabu sudah diangkat wisuda sebagai senapati perang Astina. Tak lain yang akan dihadapi adalah kami semua saudara Pandawa”.
Berdebaran dada Nakula yang hendak menyatakan inti dari maksud kedatangannya. Kembali dengan suara parau ia mengatakan, “Maka Uwa Prabu, dari pada memperpanjang cerita, yang tidak urung nanti Para Pandawa akan runtuh di medan Kuru, maka kami akan menyerahkan kematian kami sekarang juga, Uwa. Dan akan jelaslah bahwa kematian kami, kemenakan Paduka Uwa Prabu, adalah atas tangan Paduka Uwa Salya”.
Terkaget sejenak Prabu Salya mendengarkan uraian kedua kemenakannya, dengan suara meninggi ia mengatakan, “ Heh . . . apa yang kamu ucapkan? Sedari tadi aku menceriterakan bagaimana keperwiraan orang tuamu, Pandu, juga dengan segala kelemahannya. Bagaimana orang tuamu yang semua orang di jagat ini telah tahu, ternyata ia juga adalah bagaikan seekor harimau yang sangat ditakuti. Kesaktian dan kewibawaan orang tuamu ibarat bisa menunduk-runtuhkan gunung Himawan. Tetapi apa yang terjadi terhadapmu, tidaklah membekas apa yang ada pada Pandu yang melekat pada dirimu. Harimau itu ternyata hanya beranak dua ekor tikus!”
Hening melimputi suasana sanggar pamujan, dengan pikiran berputar putar pada rongga kepala ketiga manusia didalam sanggar itu. Namun sejenak kemudian dengan suara berat Salya bertanya kepada kedua kemenakannya, “Baratayuda itu sebenarnya siapa yang berperkara?”
Hampir serempak kedua satria itu menjaawb, “Itu perkara hamba Para Pandawa dan Kurawa”.
“Bila benar begitu, kenapa perkara itu justru merembet kepada para pepundenmu, para orang tua orang tua yang seharusnya kamu beri kemukten. Kamu berikan kebahagian. Malah orang tua orang tua itu telah kamu jadikan korban. Dan bila kamu adalah manusia manusia yang berakal, tentunya kamu tidak akan menghadapku dan menyatakan minta aku bunuh disini. Itu seperti halnya kamu sudah melihat hal yang sudah pasti, sehingga kamu telah mengambil kesimpulan.” Kata Prabu Salya dengan kalimat yang bertekanan.
“Kalau kamu berdua datang bukan kepada Prabu Salya, maka tentu yang kau datangi sudah menumpahkan rasa iba. Tapi bagiku, kedatangan kamu berdua hanya merupakan gambaran dari betapa kamu berdua adalah sebetul betulnya manusia yang berjiwa kerdil”. Ketus Prabu Salya menyambung.
“Werkudara kakakmu, adalah seorang manusia yang teguh bukan hanya tergambar dari kewadagannya, tetapi keteguhannya merasuk jauh hingga ke lubuk hati dan jiwanya yang paling dalam. Aku telah menjadi saksi, betapa dengan keteguhannya, dengan segala kekuatannya ia berrenang dalam banjir darah yang ia ciptakan. Arjuna yang begitu titis dalam olah panah, sehingga sudah begitu banyak para sraya Prabu Duyudana yang tumbang oleh ketepatan olah warastra. Mereka adalah sebenar benarnya anak Pandu Dewanata. Dan tak kalah dari orang tuanya, orang muda Pandawa seperti Abimanyu dan Gatutkaca, telah bersimbah darah, dengan gagah berani mereka telah merelakan jiwanya, gugur menjadi kusuma bangsa”.
Lho sedangkan kamu itu apa? Datang berdua ke Mandaraka menyerahkan jiwa! Kamu takut menjalani peperangan heh?
“Terserahlah yang Uwak katakan . . . .” Nakula menjawab dengan lesu.
“Pinten, Tangsen, bukan Prabu Salya, bila menjadi samar dengan segala ulahmu. Dari aku mendengar berita kedatanganmu, melihat sosok kamu berdua, melilhatmu mencium kaki dengan air mata yang berlinangan; aku sejatinya sudah tahu. Itu bukan gambaran sosok anak Pandu !!
Keheningan kembali menyungkup. Hanya pandangan mata tajam Prabu Salya menghujam kearah kedua kemenakannya berganti ganti. Namun sebentar kemudian Prabu Salya mengatakan dengan nada tinggi hal yang membuat kedua satria kembar itu terhenyak, “Kedatanganmu kemari adalah ada yang menyuruhmu, iya apa iya . . ?! “
Menohok rasa kalimat tanya yang dilontarkan Prabu Salya, tak ada kata lain, Sadewa kali ini yang menjawab setelah terbungkam beberapa saat, “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya Uwa Prabu . . . . .”
“Tidak . . , aku tidak akan memberimu maaf. . !” Masih dengan suara tinggi Prabu Salya menjawab ketus. Ia kecewa dengan kedua kemenakannya.
“Harus bagaimana hamba berdua Uwa Prabu?” Tanya Sadewa.
“Kamu berdua harus mengaku dulu, kamu sebetulnya disuruh seseorang untuk berbuat seperti itu?” Prabu Salya masih bersikeras.
“Ini hal yang sebenar-benarnya hamba lakukan atas kemauan kami sendiri . . .” Nakula dan Sadewa masih mencoba ingkar.
“Tidak . . . . tidak mungkin!! Kenyataan yang terjadi sekarang adalah macan yang beranak tikus. Ooooh Pandu, apa yang terjadi dengan anak kembarmu. Apakah bila kamu sudah berlinangan air mata dihadapanku, maka Salya akan larut. Ketahuilah, dalam perang nanti, siapa yang menjadi musuh Duryudana, ia akan menjadi musuh Salya pula!” Prabu Salya masih mencoba mengancam
“Silakan Uwa memarahi kami berdua . . . Tetapi biar bagaimanapun, silakan uwa Prabu untuk membunuh hamba berdua, sekarang juga di Mandaraka ini”. Sadewa tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun pembekalan dari Prabu Kresna ketika ia hendak pergi ke Mandaraka telah ia coba lakukan dengan sepenuh kekuatan untuk memenuhinya.
“Ketahuilah Pinten, Tangsen, aku masih berharap besar kepadamu berdua sepeninggal kakakmu Burisrawa dan Rukmarata. Aku masih berharap akan ada sejumput ketenteraman yang bisa kau berikan kepada uwakmu ini, sebab kamu berdua adalah masih darah dagingku sendiri”.
“Dari tata lahirku, aku ada di pihak Kurawa. Tapi tertanam dalam dalam dihati ini, Pandawa adalah kebenaran sejati dalam perang Barata ini”.
“Hmm . .” Prabu Salya menggeram menahan pepatnya rasa hati. Akhirnya dengan nada datar ia mengatakan kepada kedua kemenakannya. Kalimat yang ia reka dan akan ia katakan inilah yang seharusnya Nakula dan Sadewa katakan terus terang kepada dirinya. “Sekarang katakan kepadaku, begini, Pinten, Tangsen. Tirukan kata kataku: Uwa Prabu, bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina, kami para Pandawa minta kepada Uwa, hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawanya; Ayo katakan itu kepadaku . . . !“

Baratayuda: Salya dan Bunga Cempaka Mulia 1
Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.
Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam. “Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”
“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan”. Jawab Sadewa.
“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.
Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”
“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu
Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula
“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.
Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.
“Uwa Prabu . . “
“Uwa Prabu”, tiru Nakula
“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”
“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”
“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”
“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “
“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”
Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.
Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.
“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.
Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi “Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.
Kemudian Prabu Salya melanjutkan, “Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu akan aku berikan tugas sebagai raja yang menangani urusan di dalam negara. Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan di luar negara. Yang saya maksudkan adalah, Sadewa, melakukan hubungan ketatanegaraan denga raja raja diluar Mandaraka. Sedangkan Nakula, lakukan penggalangan dengan raja raja jajahan yang ada dalam lingkup Negara Mandaraka”.
“ Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan bekal uang dan barang barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.
“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.
“Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya.”.
“Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas kepercayaan masing masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayan kepada yang Maha Tunggal oleh negara, ini akan mengakibatkan kapercayan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan; jangan kalimat dalam kitab suci mereka, dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.
“Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”.
“Bila itu yang kau lakukan, maka kamu sudah bersifat Adigang, Adigung dan Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang mengandalkan dirimya yang paling besar dan kuat sedangkan ular yang sombong mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara dengan berlandaskan rasa keadilan. Kedilan yang sebenar benarnya adil dan dapat dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”.
Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil bila sang uwak memandangnya meminta apakan ia memahami apa yang dikatakannya.

Baratayuda: Salya dan Bunga Cempaka Mulia 2
“Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru. Bisalah kamu berdua menyatukan antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang menguasai imu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata dunia yang tentram tertib dan adil ”.
Sampai disini Prabu Salya diam dan memandang kembali kedua kemenakannya. Yang dipandang hanya mengangguk tanda mengerti.
Lanjutnya“Sedikitnya empat hal inilah yang kamu harus penuhi ketika kamu menjadi raja.“Sekarang kembalilah. Kembalilah ke pesanggrahan Hupalawiya. Terang tanah yang sebentar lagi datang, aku sudah akan datang kembali ke medan Kurukasetra sebagai seorang senapati perang”.
“Baiklah Uwa Prabu, kami berdua undur diri, hendaklah kejadian nanti di Medan Kuru tidaklah menjadi timbulnya dosa baru bagi kami sendiri atau Para Saudara kami Pandawa nanti”. Serempak keduanya memohon diri setelah dianggap cukup semua peristiwa yang akan menentukan masa depan keduanya, uwaknya Prabu Salya serta saudaranya Para Pandawa.
“Ya, ya anakku, semoga semua akan berjalan baik. Puja keselamatan aku panjatkan kepada yang Maha Adil untuk kejayaan Para Pandawa”.
Undur diri Nakula dan Sahadewa dengan perasaan campur aduk. Kebesaran hati sang uwak telah mengusik ketidak tegaan kemenakannya. Terpikir bagaimana saudara saudaranya harus menyingkirkan rasa tega terhadap orang tua yang sebenarnya tidak condong dalam mengayomi Para Kurawa, walau uwaknya itu telah menyatakan kesanggupannya menyerahkan jiwa untuk kemenangan Para Pandawa.
Prabu Salya yang ditingalkan oleh kedua kemenakannya segera beranjak dari Sanggar Pemujaan. Ia teringat dengan kewajibannya bahwa hari ini harus segera kembali ke medan Kurukasetra. Ketika ia menengok kedalam tilam sari, dilihatnya istrinya Dewi Setyawati masih tertidur pulas memeluk guling. Termangu Prabu Salya memandang tubuh istrinya yang tergolek bagai boneka kencana. Ragu dalam hati Salya meninggalkan tempat istrinya berbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur. Tetapi ia segera menetapkan diri akan kewajiban dan kesanggupannya terhadap menantunya, Prabu Duryudana. Tanpa membuang waktu lagi, bergegas ia berganti busana pamujan ke busana keprajuritan. Diperhatikan pusakanya seksama dengan perasaan yang tidak menentu. Berangkatlah Prabu Salya dengan tanpa pamit dengan istrinya. Namun perasaan bersalah menghentak dalam dadanya. Ia telah meninggalkannya dengan sembunyi-sembunyi. Sepucuk surat telah ia letakkan di sisi pembaringan.
Kereta yang ditumpangi Prabu Salya yang melaju pesat di dini hari yang masih berembun. Semilir angin pagi yang menusuk tulang namun memberi kesegaran baru. Segala yang dilalui seakan akan bergerak cepat kearah belakang bagai scene cerita yang berkeradapan bingkai demi bingkai. Gambaran masa lalu, ketika ia pertama kali ketemu dengan istri tercintanya, Setyawati. Tidaklah mengherankan bahwa masa lalu itu terlintas, kegalauan hati masih berkecamuk ketika ia meninggalkan sang istri, telah membawanya mengenang masa lalu ketika dirinya masih muda.
Bingkai gambar itu dimulai saat pertama kali tatapan mata Salya muda itu saling bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati, nama muda Setyawati. Kejadian di Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk suruk meninggalkan kerajaan Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya, Prabu Mandrakesywara. Ayahnya yang kecewa dengan perintah kepada dirinya agar segera menikah telah ditolaknya dengan halus. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu itu, agar ketika ayahndanya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah bertaut dengan seorang wanita. Namun dirinya yang waktu itu masih bernama Narasoma, mengajukan syarat, bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir dirinya hingga terlunta lunta sampai di Pertapaan Argabelah.
Tumbukan sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan mengobarkan asmara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun terbakar api itu, diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!
“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?” Begawan Bagaspati menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban ayahnya, Begawan Bagaspati menanyakan kepada Narasoma.
“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.
“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?”, Sifat tinggi hati Salya muda tak mau kalah.
“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.
“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrakesywara. Namaku Narasoma”. Kata Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak. Mandrakesywara adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.
“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini”. Bagaspati menjelaskan.
“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”
“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati anakku?”. Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.
Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku dengan wanita yang menjadi pujaan hati. “Baiklah, aku mempunyai syarat agar putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki dariku. Sanggupkah?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s