Lakon Wayang Part 30


Baratayuda: Babak Akhir Baratayuda Jayabinangun 1
Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.
Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!
“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.
“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.
Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.
Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.
Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.
Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.
Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!
Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.
Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.
Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para Pandawa. Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.
Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.
Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.
Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana yang mungkin saja terjadi.
“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi sebenarnyalah ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit dagingnya!”
Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu. Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!
Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa yang menghadang.
“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman . . . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh lawannya yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih Gandamana. Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.
Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.
“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu, Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah, tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”
Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.
Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.

Baratayuda: Babak Akhir Baratayuda Jayabinangun 2
Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.
Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.
Malam itu di Pesanggrahan Pandawa Mandalayuda, Prabu Puntadewa masih duduk di bangunan yang dirupa sebagai pendapa. Diantaranya duduk Prabu Matswapati dan Prabu Kresna.
“Eyang Baginda, tak ada rasa sedih seperti yang terjadi pada saat ini. Kemenangan demi kemenangan telah kami dapatkan hari demi hari disepanjang Perang Baratayuda Jayabinangun ini. Namun kemenangan demi kemenangan telah dibeli dengan jatuhnya tawur para saudara, orang tua, guru, dan semua orang yang sepantasnya hamba beri kemukten. Puncaknya, hari ini, tangan hamba telah mengantarkan Uwa Prabu Salya ke tepet suci. Sekecil ujud debupun, hamba tidak mengira, bahwa gerak tangan hamba ini akan menjadi lantaran perginya Uwa Mandaraka”.
Prabu Matswapati menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Prabu Puntadewa adalah hal yang sangat dipahaminya. Sesal sekecil apapun pasti membekas di dada Puntadewa yang begitu teguh memegang kesucian diri. Maka sejurus kemudian ia berkata, “Cucu Prabu, sebagaimana telah terjadi pada trah Matsya, tumpasnya anak anak lelaki yang aku punyai Seta, Utara dan Wratsangka pada mulanya telah membuat sesal dan sedih. Tetapi semoga cucu Prabu menjadikan contoh dari perasaanku terhadap takdir. Semua kejadian yang telah terjadi hendaknya dipasrahkan saja kepada Yang Maha Mengatur. Berikanlah jiwa ini keringanan beban, serahkan segalanya kembali kepada-Nya, sehingga kita menjadi ringan dalam melangkahi hari hari didepan.
Kalimat yang dikatakan Eyangnya yang sangat dihormati telah sedikit memberi pencerahan di hati Prabu Puntadewa yang segera mengatakan isi hatinya yang masih terpendam “Sabda Eyang Baginda Matswapati sedapat mungkin akan hamba akan lakukan. Tetapi Eyang, masih ada beberapa saudara kita Kurawa termasuk Kanda Prabu Duryudana masih belum kelihatan dalam perang hari ini. Maka perkenankan hamba mohon kepada Kanda Prabu Kresna, mumpung dalam pertemuan ini juga hadir, agar besok hari untuk bersama sama membimbing saudara saudara kami Pandawa, untuk mencari keberadaan kanda Prabu Duryudana. Ajaklah kanda Prabu untuk kembali ke Astina”.
Sejenak Prabu Puntadewa terdiam, seakan ada sesuatu yang penting hendak disampaikan; “Eyang, hamba akan pasrahkan seutuhnya Negara Astina untuk membangun kembali diatas reruntuhan yang terjadi dalam perang. Hamba bersaudara telah mengambil keputusan untuk hanya menempati Negara yang kami bangun dengan keringat dan darah kami sendiri, Negara Indraparahasta atau Amarta!”
Tersenyum Prabu Matwapati, sangat mengerti ia akan keluhuran budi cucu yang satu itu. Keputusan yang sebenarnya telah disampaikannya pada sebelum korban berjatuhan dan menjadi luluh lantak. Walau kemenangan sudah dikatakan telah ada di tangan, tetapi keputusan semula masih saja ia pegang “Cucu Prabu Punta, begitu luhur budimu. Untukmu kaki Kresna, segera setelah sidang sore ini terlaksana, bersiaplah untuk mencari keberadaan Prabu Duryudana. Eyangmu sangat setuju dengan putusan yang diambil oleh cucu Puntadewa, yang hanya mengambil Negara yang dibangun atas landasan hutan Mertani ketika itu.
Maka ketika cerah mentari pagi telah menerangi hari, Prabu Kresna telah berada diluar Medan Kuru yang hari itu menjadi demikian sepi. Hiruk pikuk peperangan yang telah berlangsung sejak delapan belas hari telah menyisakan pemandangan yang begitu mengerikan.
Namun Prabu Kresna teringat akan ucapannya ketika Prabu Baladewa yang disisihkan dengan tipu dayanya, agar tidak ikut ikutan dalam perang, dan harus bertapa di Grojogan Sewu atau air terjun dengan seribu alur. Tetapi ia berjanji bahwa walaupun hanya sekejap sajapun, kakaknya diberi waktu untuk menyaksikan perang itu.
Disitu Prabu Baladewa bertapa memuja ke hadapan Dewa, agar diberikanlah kerukunan antara saudara saudaranya Kurawa dan Pandawa. Ketika itulah Kresna sudah sampai di tempat Prabu Baladewa bersemedi.
“Dosa besarlah namanya, Werkudara, bila seseorang membangunkan orang yang sedang bertapa. Tetapi kali ini ada hal yang tidak dapat ditunda lagi. Mari dinda, bantu aku mengheningkan cipta untuk membangunkan kanda Baladewa dengan aji Pameling”. Kata Kresna kepada Werkudara setelah berada di hadapan Prabu Baladewa yang selalu dijaga putranya Raden Setyaka.
Segera Prabu Kresna bersemadi membisikkan aji Pameling kearah telinga hati Prabu Baladewa. Demikianlah pesat cipta Prabu Kresna telah mampu mengubah jalannya waktu. Terkena aji Pameling, Prabu Baladewa seketika terbangun dari tapa. Bagai bangun dari tidur dengan mimpi yang nggegirisi, dihadapannya telah berdiri Kresna dan Werkudara.
“Dinda kamulah yang aku tunggu, apakah Baratayuda sudah dimulai. Atau bahkan perang sudah selesai?”
“Kurawa sudah tumpas hari ini kanda Prabu. Tetapi ada satu yang masih kita cari, Prabu Duyudana”. Jawab Kresna.
“Jagad dewa batara, ternyata tragis akhir hidup para Kurawa. Sudahlah, sekian saja Werkudara, cukup sampai disini kita menyudahi pertengkaran yang membawa kehancuran. Kamu harus ingat bahwa Pandawa dan Kurawa adalah berasal dari satu turun. Turun dari Eyang Wiyasa. Betapapun pasti Eyang Wiyasa sangat sedih melihat apa yang sudah terjadi”.
“Sudah aku ingatkan kanda Prabu Duryudana sejak semula tapi itulah yang terjadi” Jawab Werkudara.
“Mari Kanda, kita cari dimana dinda Duryudana sekarang berada. Dinda Punta sudah merelakan Negara Astina tetaplah menjadi milik Kurawa”. Ajak Kresna
Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali dengan mengerahkan ketajaman insting Kresna. Tak lama kemudian terlihat seekor gajah yang dengan tenangnya merumput.
“Lihat kanda, kita bertemu dengan gajah yang tidak asing lagi. Gajah Kyai Pamuk. Tetapi lihat lagi, dipunggung gajah itu terlihat busana dari Prabu Duryudana, serta bermacam senjata. Hamba pikir di telaga itulah Prabu Duryudana bersembunyi dibawah rimbunnya tanaman teratai merah yang mengambang”.
“Aku juga berpikir begitu. Biarlah aku akan memanggil Prabu Duryudana. Betapa kangennya rasa hati ini walau tidak sampai sebulan aku telah terpisah. Dan akan aku tebus tapaku untuk kedamaian antara saudara saudaraku Pandawa dan Kurawa”. Baladewa menimpali.
Dengan lantang kemudian Baladewa memanggil manggil Prabu Duryudana , “Dinda Prabu, ternyata dinda ada disini. Sudah kangen rasa ini untuk bertemu dengan dinda Prabu Duryudana. Saya kakakmu Prabu Baladewa. Dinda, perkenankan dinda keluar dari air telaga walaupun hanya sebentar. Kita dapat berbicara dari hati kehati”.
Suara itulah yang ditunggu tunggu Prabu Duryudana. Walau sayup suara Prabu Baladewa karena lebarnya telaga, namun ia telah yakin, yang ditunggu sudah tiba. Keluar dari tempat persembunyian ditengah telaga dan segera mendekati arah Prabu Baladewa. Berrangkulan keduanya tanpa menghiraukan sekelilingnya.
“Terimakasih kanda telah bersusah payah mencari kami, kanda. Kandalah yang selama ini hamba tunggu. Bukannya hamba lari dari tanggung jawab, ngeri atau pengecut, tetapi hamba ingin melawan musuh hamba dengan olah gada. Olah gada yang kanda Prabu ajarkan. Selayaknya kanda Prabu menjadi saksi ketrampilan olah gada yang aku tekuni. Sepantasnya guru menjadi saksi kesaktian muridnya”.Duryudana berkilah.
“Oooh dinda, kami datang bukan untuk menantang perang. Tetapi justru kami datang dengan ajakan berdamai. Telah banyak para orang tua tua kita yang menjadi tawur perang! Kami beserta para Pandawa telah bersepakat untuk mengajak paduka dinda untuk kembali ke Astina, dan melupakan kejadian yang telah lalu, yang sejatinya kita bisa jadikan pelajaran kita melangkah kedepan”. Baladewa mencoba memberikan penjelasan.
“Para Pandawa sudah menerima bahwa mereka rela menyerahkan Negara Astina dan hanya meminta negara Amarta yang mereka bangun dengan jerih payah sendiri”.

Baratayuda: Babak Akhir Baratayuda Jayabinangun 3
Namun jawaban Prabu Duryudana tidak menjadikannya persoalan selesai “Tidak, tidak kanda! Kanda telah mengecilkan hamba. Prajurit kami telah gugur berribu ribu jumlahnya. Apa gunanya hamba yang tinggal sendirian takut mati. Tidak! Hamba adalah raja besar. Raja yang sudah bertahun tahun hidup dalam kemuliaan. Tidak selayaknya hamba melepaskan begitu saja tanggung jawab itu”.
Dibiarkannya Prabu Duryudana menumpahkan rasa hatinya oleh Baladewa, sesat kemudian Duryudana menyambung “Kalah atau menang, Pandawa akan kecewa. Seumpama saya yang menang itu sudah menjadi kewajiban kami untuk membangun kembali kemuliaan kami, dan kemuliaan Prabu Duryudana akan menyudul hingga kelangit tujuh. Tetapi bila Pandawa yang menang, mereka akan kecewa. Negara Astina sudah hancur. Mereka hanya akan merawat anak anak yatim dan janda janda korban perang. Mereka hanya akan menemukan reruntuhan demi reruntuhan”.
Menarik nafas panjang Prabu Baladewa yang kemudian menggelengkan kepala lemah, katanya “Keterlaluan dinda Duryudana yang mempunyai watak gunung. Tak bisa diperlakukan rendah. Baiklah sekarang kanda akan menuruti kemauan dinda Prabu”.
“Paduka Kanda Prabu Baladewa hendaknya menjadi saksi, kami minta perang tanding gada dengan salah seorang Pendawa, yang mempunyai sosok seimbang”. Jawab Duryudana.
Demikianlah, setelah selesai mengenakan kembali busana keprajuritan yang terletak dipunggung gajah, maka Duryudana telah berhadapan dengan Werkudara. Satu lawan satu! Kresna mendekati Werkudara sebelum perang tanding dimulai dengan membisikkan sesuatu yang disusul anggukan kepala Werkudara penuh arti.
Ketika Prabu Duryudana bergeser, maka Werkudara-pun bergeser pula. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa Duryudana itu sudah siap untuk meloncat menyerangnya.
Tetapi Werkudara-pun sadar, bahwa Duryudana mulai serangan gadanya dengan menjajagi kemampuannya, sebagaimana juga akan dilakukan oleh Werkudara.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Duryudana meloncat menyerang dengan penggada tepat kearah dada. Namun seperti yang diduga oleh Werkudara, Duryudana belum mempergunakan tataran ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian namun pukulan itu seakan-akan telah meluncur secepat lidah api dan melontarkan angin yang keras mendahului gerak tangan Duryudana yang terjulur itu.
Werkudara bergeser selangkah menyamping. Meskipun ia tahu bahwa lawannya belum menyerang dengan sepenuh kemampuan, namun Werkudara tidak mau merendahkannya. Karena itu, sejak awal ia telah mulai mengetrapkan ilmu kebalnya Bandung Bandawasa. Ilmu yang dapat melindungi ujud wadagnya, meskipun ia masih belum yakin jika serangan lawannya cukup kuat dengan lambaran ilmu yang sangat tinggi, hingga serangan itu akan dapat menyusup, dan memecahkan perisai ilmu kebal itu.
Berapa saat, pertarungan berjalan semakin seru.Tetapi baik Werkudara maupun Duryudana tidak mau tergesa-gesa. Justru karena masing-masing melihat kelebihan lawannya, mereka harus mebuat perhitungan yang sebaik-baiknya dalam pertempuran itu. Bagaimanapun mereka tidak boleh membuat kesalahan yang akan dapat menjerumuskan mereka kedalam kesulitan yang gawat.
Serangan-serangan Duryudana itu semakin cepat menyambar nyambar Werkudara dari segala arah. Langkahnya seakan-akan sama sekali tidak diberati oleh bobot tubuhnya. Seperti seekor burung sikatan Duryudana itu meloncat menyambar dan sekali sekali mematuk dengan gadanya.
Sengitnya perang tanding masih diawasi dengan tegang oleh Prabu Kresna dan Baladewa. Sebentar sebentar mimik muka keduanya menegang, sebentar kemudian kembali cair. Terasa kesiur angin panas dari ayunan gada mulai menampar tubuh keduanya dan memaksanya sedikit menjauh dari arena pertempuran. Sementara pukulan gada keduanya dari waktu ke waktu semakin dahsyat. Keduanya telah sampai pada tataran teringgi kemampuannya. Kekuatan yang bagaikan taufan saling menghantam badan keduanya, tetapi mereka adalah manusia manusia pilihan yang telah tertempa oleh pengalaman berguru dan pengalaman tempur yang panjang.
Duryudana melontarkan gelombang-gelombang pukulan gada yang dahsyat beruntun susul menyusul. Namun Werkudara dengan ajian Blabak Pengantol antol dan dibantu sukma Kumbakarna yang menyatu selagi Werkudara ada di lereng gunung Kutarunggu, sangat sulit ditaklukkan. Sementara tamparan serangan itupun mulai terasa bagaikan panasnya uap air yang sedang mendidih menyengat tubuhnya. Arena perang tanding telah menjadi hangus bagai terkena sengatan halilintar. Bahkan suara gelegar benturan kedua gada pusaka terdengar membahana bagai sejuta guruh dilangit berpetir.
Namun kekuatan Duryudana adalah kekuatan simbol dari angkara murka yang tidak begitu saja dapat diatasi oleh laku kebaikan. Maka perang tanding itu sudah seharian tanpa ada kelihatan siapa yang bakal unggul. Setingkat demi setingkat Duryudana itu meningkatkan ilmunya yang nggegirisi. Kekuatan angin yang melanda Werkudara oleh kesiur gadanya menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian angin itu mulai berputar, Werkudara mulai merasa dirinya dihisap oleh pusaran angin yang begitu panas. Seolah-olah pusaran air yang mempunyai kekuatan tidak terbatas telah menghisapnya keatas. Sedangkan udara panas semakin lama menjadi semakin panas menerpa kulitnya. Namun aji Blabak Pangantol antol telah menerapkan dirinya bagai terpaku dalam tanah. Dalam satu kesempatan ketika Duryudana melompat menyerang, maka dikenai pahanya sebelah kiri Prabu Duryudana dengan penggada yang bagai bobot gunung Semeru. Dengan keluh terahan, disusul kata kata kotor, ambruk Prabu Duryudana!
Tetapi begitu Duryudana mencoba bangkit, sekali dua kali, tiga kali gada Werkudara masih saja menggempur tubuhnya. Remuk rempu tubuh Duryudana tak berujud lagi.
Prabu Baladewa murka melihat Prabu Duryudana yang sudah tidak berdaya terkena hajaran gada Werkudara. Walau ia mengerti bahwa kekuatan Duryudana tiada tara namun kekuatan gada Werkudara yang bagai bobot gunung Mahameru pasti akan menghancurkan sosok Duryudana.
“Keparat Werkudara ayoh tandingi aku Baladewa. Jangan mentang mentang kamu menang, sehingga kamu berlaku sia sia terhadap pihak yang kalah. Duryudana sudah tidak berdaya kamu perlakukan seperi layaknya binatang buruan! Ayoh tandingi Baladewa!”
Kresna yang dari tadi siaga menjaga agar tidak ada peristiwa yang mengkhawatirkan terjadi, telah menyongsong gerak Prabu Baladewa, “Sabar kanda, sabar. Hamba sudah bilang sebelumnya, kemauan hati tak lah kuasa untuk membelokkan takdir. Baratayuda dalah peristiwa luwarnya kaul atau janji, itu hal yang pertama. Kedua adalah arena tagih menagih antara yang menghutangi dan yang diberi hutang, baik dalam hal rasa ataupun budi pekerti. Dan ketiga adalah, syarat bagi hilangnya angkara murka. Hilangnya angkara itu kanda, tidaklah bisa sirna bila tidak bersamaan dengan yang menyandangnya”.
Kresna yang melihat di mata kakaknya sudah surut kemarahannya segera menyambung, “Mestinya ada banyak peristiwa yang tentunya kanda Prabu sudah mengerti bahwa Prabu Duryudana juga mempunyai hutang budi, hutang pati dan hutang seribu malu yang disandang manusia manusia yang telah ia hutangi. Maka kanda, ikhlaskan kematian Prabu Duryudana. Marilah kita bersama melangkah kedepan dalam satu tindakan bersama sama para saudara kita Pandawa, yang telah terbukti menjadi sarana hilangnya angkara”.
Hari kembali buram di sore itu sewaktu perang tanding berakhir. Kembali langit membiaskan layung senja yang entah kapan sore berlayung itu akan berakhir. Demikianlah, setelah merawat jenazah Duryudana maka ketiganya telah kembali menghadap Baginda Matswapati di Hupalawiya.
Golongan Kurawa, Kartamarma dan Aswatama masih berkeliaran. Namun Perang Dunia ke empat ini praktis telah berakhir . . . .Surak surak manengker gumuruh
Swaraning wadya surak gambira
Unggul Baratayuda para Pandawa
Labuh Negara Astina balane
Kurawa gugur tengahing palagan
Pandawa . . . Pandawa ungguling prang Baratayuda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s