Lakon Wayang Part 31


Antareja Takon Bapa
Di kerajaan Astina Prabu Nagabagendo, Begawan Durna menghadap Prabu Duryudana, oleh Begawan Durna dikatakan bahwa anak muridnya yang bernama Nagabagendo bersedia menjadi duta untuk membinasakan Pandawa. Setelah semua mufakat, berangkatlah Begawan Durna diiringi Prabu Nagabagendo menuju negeri Amarta, namun diperjalanan bertemu dengan R. Sentyaki dan R. Udawa kesatria dari Dwarawati.

Setelah mengetahui bahwa Prabu Nagabagendo akan menjadi perusuh dan membahayakan keluarga Pandawa, kedua satria tersebut lalu berperang dengan Prabu Nagabagendo dam kedua satria digertak Prabu Nagabagendo, R. Udawa jatuh dilapangan negeri Amarta dan R. Sentyaki jatuh di negeri Amarta. Begitu R. Sentyaki mendapat dirinya berada di negeri Amarta, segera melaporkan akan mara bahaya yang akan menimpa pihak Pandawa, belum selesai melaporkan kejadian yang dialami pihak Pandawa, datang Prabu Nagabagendo untuk merebut kekuasaan Amarta, maka terjadilah peperangan dan pihak Pandawa tak ada yang dapat mengalahkan kesaktian Prabu Nagabagendo.

Akhirnya berdasarkan saran Prabu Kresna, bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Nagabagendo adalah kesatria yang berkulit sisik seperti ular, maka R. Angkawijaya ditugaskan untuk mencari satria yang dimaksud. Sementara itu di sumur Jalatunda, R. Pudak Kencana menghadap kakeknya, Sang Hyang Hanantaboga untuk diberitahu siapa sebenarnya ayahnya dan dimana berada.

Oleh Sang Hyang Hanantaboga diberitahu bahwa ayahndanya ada di negeri Amarta bersemayam di Kasatrian Jodipati. Dengan diiringi kakeknya, R. Pudak Kencana pergi menuju kasatrian Jodipati dan di tengah jalan bertemulah ia dengan R. Angkawijaya yang sedang mencari jago untuk melawan Prabu Nagabagendo. Sesampainya di negeri Amarta, R. Pudak Kencana bertemu dengan R. Werkudara, namun R. Werkudara akan mengakui sebagai anaknya bila mampu membinasakan Prabu Nagabagendo. Akhirnya R. Pudak Kencana berperang melawan Prabu Nagabagendo dan binasa, oleh kakeknya R. Pudak Kencana dapat dihidupkan kembali dengan air kehidupan yang disebut Tirta Kamandanu serta R. Pudak Kencana diberi kesaktian Ajian Upas Onto.

Dengan kesaktian Upas Onto, R. Pudak Kencana dapat membinasakan Prabu Nagabagendo dan bala tentara Kurawa dapat dikalahkan oleh Pandawa beserta putra-putranya.

Dengan kematian Prabu Nagabagendo negeri Amarta menjadi aman, tentram dan damai serta R.Pudak Kencana menjadi bagian keluarga besar Pandawa dan beralih nama R.Antareja.

Antasena Rabi
Prabu Duryudana, Prabu Baladewa, patih Sangkuni dan R.Tirtanata sedang bersidang di Balairung istana Astina untuk membahas pelaksanaan perkimpoian putra mahkota negeri Astina R. Suryakusuma dengan Dewi Janaka yang telah dipersuntingkan dan dipertunangkan dengan R. Antasena putra R. Werkudara.

Prabu Duryudana percaya dengan kelihaian Pendeta Durna bahwa pertunangan Dewi Janakawati dengan R. Antasena dapat digagalkan yang akhirnya Dewi Janakawati akan dipersandingkan dengan R. Suryakusuma. Prabu Kresna sedang bingung atas permintaan putranya Samba untuk dikimpoikan dengan Janakawati, mengingat Dewi Janakawati telah dipertunangkan dengan R. Antasena putra Werkudara. Prabu Dasa Kumara raja negeri Krenda Bumi juga tergila-gila dengan Dewi Janakawati dan ingin memperistri, maka dengan diikuti adiknya Prabu Dewa Pratala beserta bala tentaranya pergilah Prabu Dasa Kumara menuju Kasatrian Madukara.

R. Janaka menghadapi banyaknya pelamar yang ingin mempersunting putrinya Dewi Janakawati, akhirnya diadakan sayembara bertanding, dengan ketentuan siapa yang kalah dipersilahkan pulang kenegeri asalnya, dan barang siapa berbuat curang dinyatakan pihak yang kalah. Maka R. Samba, R. Suryakusuma, Prabu Dasa Kumara dan R. Antasena saling berhadapan mengadu kesaktian. Yang akhirnya R. Antasena memenangkan sayembara untuk memiliki Dewi Janakawati.

Melihat R. Antasena yang tidak berhias dan bersehaja, Dewi Janakawati tidak mau dipersandingkan, akhirnya R. Janaka dengan senjata Kyai Pamuk menhajar R. Antasena dan keanehan terjadi bahwa R. Antasena tidak binasa dan luka terkena senjata R. Janaka justru sebaliknya menjadi kesatria yang tampan, gagah dan perkasa sehingga Dewi Janakawati bersedia dipersandingnya perkimpoian Dewi Janakawati dengan R. Antasena, Prabu Dewa Pratala mengamuk di kesatrian Madukara sebab kakandanya Prabu Dasa Kumara telah ditolak lamarannya memperistri Dewi Janakawati tetapi hal ini bisa ditangani oleh putra Pendawa. Prabu Dewa Pratala yang mengamuk dapat dikalahkan R. Antasena dan melarikan diri sambil menculik Dewi Pergiwati istri Gatotkaca yang akhirnya terjadilah saling kejar mengejar diangkasa dan Prabu Dewa Pratala dapat dibinasakan R. Gatotkaca.

Dengan binasanya Prabu Dewa Pratala negeri Amarta menjadi tenang dan R.Suryakusuma beserta pengiringnya kembali ke negeri Astina, Prabu Kresna dan R.Samba juga kembali ke negeri Dwarawati.

Arjuna Papa
Di istana Astina, dihadapan patih Sakuni, prabu Suyudana berkata, “Pamanda patih Sakuni, sesudahnya adinda Arjuna mati diracun, iba rasa hatiku, sekarang kuperintahkan, kepada ratu sabrang prabu Jayasutikna hendaknya dapat memusnahkan para Pandawa, jika terlaksana, akan kupenuhi permintaannya meminang ananda Dewi Lesmanawati”, berangkatlah patih Sakuni, resi Durna, dan para Kurawa untuk menyampaikan pesan prabu Suyudana.

Hyang Baruna beserta puterinya retna Suyakti, iba rasa hatinya melihat Arjuna terapung-apung disamudera, berkatalah, “Wahai, raden Arjuna, kusembuhkan raden dari perbuatan para Kurawa yang meracuni raden, baiklah raden segera berangkat ke Sigrangga. Adapun putramu Abimanyu dan Irawan, telah berada di Astina”, sembuhlah raden Arjuna dari keracunannya, sambil mengucapkan terimaksih, berangkatlah Arjuna ke gua Srigangga.

Pula telah berkumpul, Sri Kresna dengan prabu Yudistira, Nakula, Sadewa dan Werkudara, kesemuanya akan menuju ke istana Astina, tak lain akan mencari Arjuna, demikian pula Gatutkaca, Anantasena, kesemuanya telah berangkat untuk mencari pamandanya Arjuna.

Dewi Banowati terperanjat hatinya melihat raden Arjuna sudah ada di kamarnya, setellah berbincang-bincang, masuklah raden Abimanyu dan Irawan, dengan isyarat darii ayahandanya, diseyogyakan menuju ke ruangan lain, lajulah raden Abimanyu ke gupit Mandragini, dan bertemulah dengan puteri ratu sabrang, Dewi Sutiknawati. Para inang pengasuh dari puteri tersebut, sangat terheran-heran melihat tindak-tanduk sang puteri Dewi Sutiknawati dan raden Abimanyu, takut jika dipersalahkan oleh prabu Jayasutikna, lajulah para inang untuk melapor.

Sri Suyudana, prabu Jayasutikna dan para Kurawa lengkap di istana sedang mereka berbincang-bincang, masuklah inang Dewi Sutiknawati, melaporkan, bahwasanya di gupit Mandragini terdapat pencuri, tak ada lain, mencuri asmara Dewi Sutiknawati. Marahlah Suyudana, demikian pula Jayasutikna, majulah mereka dengan maksud akan menangkap si pencuri, ikut serta pula para Kurawa dibelakangnya.

Perang terjadi sangat ramai, Prabu Jayasutikna akhirnya mati terbunuh oleh raden Arjuna, Suyudana akhirnya meminta maaf, Pandawa bersedia pula memaafkannya.

Prabu Duryudana, Druna dan Patih Sengkuni membuat kesepakatan akan mengundang Pandawa ke Astina untuk jamuan makan. Namun dibalik itu sebenarnya Pandawa akan diracuni agar mati semua. Pandawa datang di Astina memenuhi undangan serta tidak menduga akan adanya akal busuk yang dirancang Sengkuni. Para Kurawa gembira akan kedatangan Pandawa dan setelah menyantap makanan para Pandawa jatuh ke tanah dan mati.

Suyudana memerintahkan agar jenazah Bima dibuang ke sumur Jalatunda, lalu jenazah Arjuna dilempar ke tengah samudera, sedangkan jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa dimasukkan ke Gua Sigrangga.

Jenazah Arjuna yang terapung-apung di lautan terlihat oleh Sang Hyang Baruna dan putrinya yakni Suyakti (istri Arjuna) pada waktu Arjuna membunuh raja raksasa Kala Roga dari Kerajaan Guadasar. Sebagai balas jasa maka Arjuna dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Baruna dan diperintah untuk pergi ke Gua Sigrangga. Arjuna segera menuju ke Gua Sigrangga dan di sana bertemu dengan Dewi Suparti istri Sang Hyang Antaboga yang sedang menunggui jenazah Yudistira, Nakula, dan Sadewa.

Arjuna meminta agar saudara-saudaranya dihidupkan kembali dan permohonan itu dikabulkan. Tidak lama Bima juga datang di tempat itu setelah dihidupkan kembali oleh Hyang Antaboga pada waktu ia berada di sumur Jalatunda.

Berdirinya Negara Botono Kawarso
Dinegara Giridahono Sang Raja Prabu Giri Angkoro beserta Patih dan seluruh punggawa kerajaan sedang membahas keinginan Sang Prabu untuk balas dendam atas kematian mendiang ayahndanya yang konon ceritanya telah dibunuh oleh Raden Werkudoro dar Negara Amarta.

Tiba – tiba kedatangan Patih Haryo Sengkuni dari Negara Astina yang mengemban perintah Prabu Duryudana agar meminta bantuan kepada Sang Prabu Giri Angkoro untuk kesediaannya bersama – sama membunuh para Pandawa. Rencana tersebut disetujui dan didukung sepenuhnya oleh Prabu Giri Angkoro, sehingga seluruh prajurit dari dua negara tersebut bergabung dan bersama – sama menuju negara Amarta.

Raden Sumbo dengan disertai Patih Udowo dan Raden Setiaki yang akan menghadap Prabu Puntodewo di negara Amarta dalam perjalanan bertemu dengan para putra Pandawa yaitu Raden Gatutkaca, Raden Antasena, Raden Antareja dan Raden Abimanyu serta Raden Bambang Irawan bersepakat untuk berangkat bersama – sama.

Namun demikian tiba – tiba berpapasan dengan barisan prajurit gabungan dari negara Astina dan Giridahono yang dipimpin oleh Patih Haryo Sangkuni, karena berselisih paham maka terjadilah pertempuran, sehingga akhirnya Raden Sombo segera mengambil keputusan langkah untuk mengarahkan rombongannya sendiri mencari jalan lain menuju negara Amarta.

Sekembalinya dari menghadap Sang Resi Wiyasa di Pertapaan Wukir Retawu Raden Janoko dengan diikuti para punokawan Semar, Gareng, Petryk, Bagong di tengan hutan dikagetkan oleh munculnya para prajurit pengaman negara Giridahono, karena meraka sengaja menghambat perjalanan Raden Janoko maka terjadilah pertempuran yang akhirnya menewaskan para prajurit Giridahono tersebut, Raden Janoko melanjutkan perjalanan kembali ke negara Amarta.

Di negara Amarta kedatangan Prabu Kresna, Prabu Baladewa dan para putra sedang membahas mimpi yang dialami oleh Prabu Puntadewa bahwa seolah – olah negara Amarta kejatuhan bulan purnama dalam hal tersebut Prabu Puntadewa telah memerintahkan Raden Janoko untuk memohon penjelasan kepada Sang Kakek Resi Wiyasa di Pertapaan Wukir Retawu.

Kedatangan Raden Janoko yang telah kembali dari Wukir Retawu membawa pesan dari Resi Wiyasa bahwa negara Amarta akan menerima nugraha dari Dewa namun apabila terjadi sesuatu agar sementara urusan diserahkan kepada Prabu Kresna. Tiba – tiba turnlah Sang Batara Narodo dar kahyangan Suroloyo untuk menyampaikan NUGROHO dari Batara Guru dengan memberikan sebutan negara Amarta sebagai negara BOTONO KAWARSO, setelah memberikan petunjuknya maka Sang Batara Narodo segera kembali ke Suroloyo. ‘

Pada saat berlangsungnya rangkaian acara wisudha kepada Prabu Puntadewa yang diselenggarakan oleh Prabu Kresna dan Ibu Kunti, datanglah Prabu Giri Angkoro yang akan menuntut balas untuk membunuh Raden Werkudoro, namun hal tersebut dapat segera diatasi berakhir dengan tewasnya Prabu Giri Angkoro, maka prajurit Astina mengndurkan diri kembali ke negaranya dengan tangan hampa. Setelah menerima NUGROHO tersebut maka Prabu Puntadewa bersama – sama Prabu Kresna menghaturkan syukur kepada Tuhan YME, melaksanakan perintahNya, melestarikan segala sesuatu yang sudah diterima dengan hati – hati, tidak ceroboh, selalu waspada dengan sesanti : Mari bersama- sama Ngrekso, Ngrenggo dan Ngregani untuk tetap tegaknya negara kesatuan yang kita cintai ini. Demikian cerita dari lakon tersebut semoga dapat menjadikan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s