Lakon Wayang Part 33


Karna Lahir
kehamilan Dewi Kunti berawal dari sebuah mantra yang disebut Aji Dipa pemberian resi Druwasa yang keampuhannya dapat mendatangkan seorang dewa yang dikehendaki. Tentu saja mantra itu tidak boleh dipergunakan di sembarang waktu, terlebih di saat sang surya sedang menyinarkan cahanya karena akan mendatangkan malapetaka kepada dirinya. Namun rupannya sang dewi merasa penasaran ingin mencoba sejauh mana keampuhan mantra itu. Dengan tidak memperdulikan larangan dan akibatnya, ia bersemadi dan membaca mantra justru di saat sang surya sedang berkuasa menyinari alam marcapada atau dunia manusia yang penuh dihuni berbagai makhluk hidup.

Di kala sang dewi sedang tenggelam dalam semadi, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang sangat terang masuk ke dalam kamar dan cahaya itu redup menjelma menjadi sosok tubuh laki-laki berwajah tampan yang tak lain adalah Dewa Batara Surya berdiri di hadapan sang dewi dan bersabda: “Wahai dewi, akulah dewa surya penguasa alam siang. Aku datang memenuhi panggilanmu, dan aku akan menanamkan benih suci di rahimmu. Tetapi engkau tak perlu khawatir, keperawananmu akan tetap terjaga dalam keadaan tetap suci,” ujarnya.

Kunti menyembah dengan ketakutan: “Oh, bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana tuan tiba-tiba ada disini? Hamba tak mengerti.”

Surya : “Hemmm, apa yang baru saja engkau lakukan, Kunti?”

Kunti : “Bersemadi, seperti yang dikatakan resi Druwasa, lalu hamba mencobanya. Itu saja.”

Surya : “Ya, itu sebabnya aku datang memenuhi panggilanmu.”

Kunti : “Tapi, tapi…..”

Surya: “Engkau telah mencobanya justru di saat yang dilarang oleh resi Druwasa. Dilarang tapi engkau tetap mencobanya. Itu sebabnya engkau akan mendapat hasilnya.”

Kunti : “Oh, tidak, tidak, hamba tidak bermaksud berbuat yang tidak baik. Hamba berusaha menjaga kesucian.”

Surya : “Engkau harus mengerti dan setiap wanita harus mengerti, bahwa ada sesuatu yang keluar dari rahimnya, dan kini engkau telah mencobanya melalui mantra suci, maka engkau akan tetap suci.”

Selanjutnya apa yang dilakukan oleh Dewa Surya terhadap Kunti, hanya Kunti yang tahu. Yang pasti Kunti telah berbuat, Kunti telah melakukan dan Kunti telah mengalami lewat kesucian mantra. Setelah itu Dewa Surya berlalu dan tak lama kemudian sang Dewi pun hamil.

Di saat sang dewi melahirkan terjadi sesuatu yang tak masuk akal. Anak itu lahir tidak melalui rahim, tetapi keluar dari telinga. Karena itu si anak diberi nama Karna yang artinya Telinga. Kunti masih tetap suci walau ia telah berputra.

Bagaimanapun, walau Kunti masih suci tetapi ada bukti seorang bayi. Sebagai wanita yang punya etika perasaan malu tetap ada. Ia takut menjadi bahan pergunjingan khalayak. Maka secara diam-diam si bayi dimasukkan ke dalam “Kandaga” kemudian dilarung ke sungai Aswanadi dan hanyut sampai ke tanah Angga (Awangga) serta ditemukan oleh seorang kusir bernama Adirata dan diakui sebagai anaknya.

Nasib baik telah menanti di saat dewasa ia diangkat menjadi bupati daerah Awangga oleh raja Duryudana yang berkuasa di negeri Astina. Pengangkatan itu bersifat politis, karena kegagahannya dapat diandalkan dalam perang melawan kaun Pandawa.

Karna Tidak Tergoyah Rayuan Ibunya
Namanya Cukup dikenal sebagai seorang Adipati yang gagah perkasa dari negeri Awangga bawahan kerajaan Astinapura. Ia memiliki sebuah senjata tumbak yang sangat ampuh bernama Konta. Karena ampuhnya senjata ini hanya dapat digunakan sekali saja, kemudian akan kmbali kepada pemiliknya yakni Batara Indra.

Ketika bayi ia diketemukan oleh Rada, istri Adirata kusir kereta serta diakui sebagai anaknya dan diberi nama Karna Radea, artinya Karna anak Rada.

Setelah dewasa Karna sering menonton Kurawa dan Pandawa berlatih menggunakan senjata panah dibawah asuhan gurunya, Dorna. Ia sangat tertarik dengan pelajaran ilmu menggunakan senjata panah dan sangat ingin menjadi siswa perguruan itu. Tetapi ia sadar bahwa itu tidak mungkin, karena ia hanya anak seorang kusir kereta, sedang Kurawa dan Pandawa adalah keluarga kerajaan.

Karena keinginan untuk menjadi seorang pemanah yang mahir tetap menggelora di dalam jiwanya, maka secara iam-diam ia menonton sambil mempelajari cara-cara melepas anak panah seperti diajarkan Dorna kepada siwa-siswanya. Berkat kemauan yang keras ditunjang kecerdasan yang luar biasa, akhirnya karna mahir menggunakan senjata, bahkan melebihi kepandaian kaum Kurawa atau sejajar dengan Arjuan yang merupakan siswa terbaik dalam perguruan itu.

Suatu hari perguruan mengadakan ujian praktik bagi siswa-siswanya, di mana kedua golongan yang masih bersaudara itu harus mengadu kemahiran menggunakan senjata panah. Ternyata dalam adu kemahiran itu, Pandawa tampak lebih unggul dari kaum Kurawa.

Waktu itu Sakuni adik Gandari ibunda Kurawa tengah berusaha menanamkan benih-benih kebencian kaum Kurawa kepada Pandawa mengenai hak pemilikan tahta kerajaan Astina agar tidak jatuh ke tangan Pandawa. Sedangkan udhistira telah ditetapkan oleh Dewa sesepuh kerajaan sebagai calon raja Astina. Karena itu kebencian Kurawa semakin menjadi manakala setiap adu kemahiran anak-anak Gendari itu selalu dikalahkan oleh anak-anak Kunti.

Karna yang waktu itu turut menonton sudah tidak tahan lagi ingin turut dalam pertandingan. Maka tanpa pikir panjang lagi, ia nyelonong masuk gelanggang minta kepada Dorna supaya diperkenankan ikut bertanding dan sanggup mengalahkan Arjuna. mendengar kata-kata sombong itu, Bima naik pitam dan mencaci maki karna: “Hei, kau anak yang tidak diketahu ibu bapaknya, tidak pantas ikut bertanding. Kau hanya anak pungut kusir kereta lebih pantas pgang cambuk dan memandikan kuda,” bentaknya. Caci maki itu sangat menyakitkan hatinya, hampir-hampir ia jatuh pingsan karena malu dicaci di hadapan orang banyak.

Karena itu Duryudana melihat potensi dan keberanian si anak kusir demikian hebat lalu dibelanya dan ketika itu juga Karna diangkat menjadi Adipati di negeri Awangga. Pengangkatan itu beresifat politis, karena potensi Karna dapat dijadikan andalan dalam menghadapi Pandawa, sekaligus menambah kekuatan dalam kampanye merebut tahta kerajaan Astina. Tentu saja si anak kusir itu sangat gembira dan dengan spontan di hadapan Duryudana ia bersumpah akan membela Kurawa samapi tetes darah yang penghabisan.

Sementara itu Dewi Kunti yang hadir mnyaksikan pertandingan hatinya senang bercampur seih melihat anak yang dulu dihanyutkan di sungai masih hidup dan telah menjadi seorang ksatria yang gagah dan tampan. Sedih karena tidak dapat menemui karena takut rahasianya diketahui. Yang lebih merisaukan hatinya, Kunti mendengar sumpah karna akan memebela Kurawa. Timbul kekhawatiran bahwa kedua anak kandungnya akan saling bermusuhan. Kekhawatiran itu menjadi kenyataan dengan akan terjadinya pertumpahan darah antara Pandawa dan Kurawa dalam perang Baratayudha. Segera Kunti berunding dengan Kresna untuk mencegah Karna terlibat memerangi saudara kandungnya sendiri. Satu-satunya jalan Kunti harus membuka rahasia kepada Karna, bahwa dialah ibunya dan Pandawa adalah saudara kandungnya. Maka bergegaslah Kunti menemui Karna, di mana sebelumnya Kresna pun telah menemui Adipati Karna.

Kunti : “Raden, engkau adalah anakku, darah dagingku yang ketika bayi ibu hanyutkan di sungai, hingga ibu menemukannya kembali, tatkala engkau masuk gelanggang pertandingan menantang Arjuna.”

Karna : “Hamba sudah mendengar dari kanda Kresna, bahwa ada seorang anak bernasib buruk dibuang oleh ibunya untuk menghindari malu.”

Kunti : “Maafkan ibu nak. Ketika itu tak ada jalan lain. Tetap ibu pun tidak mengerti mengapa harus melahirkan engkau. Semua itu rahasia Dewa,” kilahnya.

Karna : “Lho, mengapa ibu harus minta maaf kepada hamba? Antara kita tak ada hubungan sama sekali dengan peristiwa dibuangnya si bayi itu. Hama anak ibu Rada dan ayahanda Adira kusir kereta desa.”

Kunti : “Ibu memang tak ada hak atas dirimu. Tapi bagaimanapun engkau adalah darah dagingku, raden. Dan Pandawa adalah adik-adikmu sekandung. Hati ibu akan hancur menyaksikan anak-anak kandungku saling membunuh,” katanya dengan suara sendu.

Karna : “Andaikan benar hamba putra kandung ibu, mengapa ibu begitu tega membuang hamba bagai sampah tak berharga. Itu berarti ibu telah menyerahkan hamba kepada masa lalu dan tiadak hak memiliki hamba. Karena itu janganlah berharap keinginan ibu akan terpenuhi. Hamba telah bersumpah di hadapan Duryudana, bahwa hamba akan membela Kurawa hingga tetes darah yang penghabisan. Seorang satria harus memegang teguh kata-katanya.”

Kunti menangsi tersedu dengan penyesalan yang tiada hingga. Tetapi air mata tak mampu meluluhkan hati Karna. Dia seorang ksatria yang teguh memeggang janji dan sumpah. Sementara itu Karna pun tak kurang sedihnya melihat Kunti terluka hatinya. Kemudian dia berkata:

Karna : “Terlepas engkau ibu kandungku atau bukan, yang pasti hamba berterima kasih bila ibu mengakui hamba sebagai putra kandung ibu. Akan halnya hamba dibuang ketika masih bayi, itu adalah sudah kehendak Dewata semata-mata. Bukankah tadi ibu mengatakan tidak mengerti mengapa melahirkan hamba? Tetapi kini ibu masih dapat bertemu dengan hamba.”

Kunti : “Oh Raden, ibu gembira mendengar pengkauanmu dan harus dengan cara apa, ibu harus berterima kasih kepada ibu Rada dan bapak Adiratam hanya Dewatalah yang mampu membalas kebaikan mereka. Tapi satu hal yang masih mengusik hati ibu, ialah kau akan berperang dengan adik-adikmu Raden.”

Karna : “Apabila hamba harus lari dari kenyataan meninggalkan Duryudana yang telah berbaik hati kepada hamba, makan hamba akan tercatat sebagai orang yang berprilaku buruk , karena tidak menepati janji dan sumpahnya. Hamba mengakui bahwa hamba berada di pihak yang berwatak angkara, tetapi akan lebih buruk lagi diri hamba apabila ingkar janji, Dalam perang nanti, hamba akan merasa bahagia apabila mati di tangan adik-adik hamba sendiri. Pertarungan yang akan terjadi nanti, bukan pertarungan karena soal pribadi, melainkan kesemua itu telah diatur oleh pihak yang berkuasa yang tidak mungkin dapat ditarik kembali,” tukas Karna.

Ringkas cerita pertemuan itu berakhir dengan tidak tercapainya keinginan Kunti. Tetapi setidaknya Kunti merasa lega dengan pengakuan si anak yang hilang itu. Menurut Mahabharata baik Karna maupun Pandawa tidak saling mengetahui mereka masih saudara sekandung. Tapi setelah usai perang, barulah Pandawa mengetahui, bahwa karna adalah saudara kandungnya sendiri. Dalam perang itu, Karna gugur di tangan adiknya sendiri, Arjuna.

Duryudana Sekaratnya Tersiksa
Setiap wanita melahirkan bayi. Tetapi tidak demikian dengan Gandari istri Destarata. Ia melahirkan segelantung daging sebesarguling. Orang bertanya-tanya pertanda apa gerangan. Bisma segera mengundang Resi Abiyasa dari pertapaan Sapta Arga guna mempermaknakan kelahiran yang unik itu. Oleh Resi daging itu dikucuri air. Ajaib daging gelantung itu bercerai-berai menjadi berkeping-keping kemudians atu pesatu berubah menjadi bayi laki-laki, satu di antaranya perempuan.

Bayi pertama diberi nama Duryudana atau Suyudana, kedua Dursasana dan seterusnya hingga semua berjumlah seratus anak bayi. Sedan yang perempuan diberi nama Dusala atau Dursilawati. Sementara Pandu dari kedua istrinya, Kunti dan Madrim melahirkan lima orang anak laki-laki. Dari Kunti lahir Yudhistira, Bima dan Arjuna. Sedang dari Madrim, Nakula dan Sadewa. Kedua golongan itu masing-masing disebut Kurawa dan Pandawa dan merupakan inti cerita Mahabharata.

Karakter kedua golongan itu saling bertolak belakang. Kurawa berwatak angkara sedang Pandawa memiliki budi pekerti luhur dan ksatria. Duryudana sebagai ketua kelompok Kurawa budinya rendah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak mempunyai pertimbangan sendiri segala sesuatu bagaimana orang lain. Dalam hal ini Sakuni yang berwatak dengki dan licik mempunyai andil membentuk kepribadian anak Gandari pertama yang berwatak angkara itu. Dia selalu ingin disanjung tetapi tidak senang kalau ada yang menyaingi sehingga tidak pernah mau berkenalan dengan kebenaran.

Karena sejak kecil telah ditanamkan benih kebencian kepada Pandawa, setelah dewasa sering terlibat dalam perkelahian, tapi kemudian berkembang lagi menjadi permusuhan perebutan kekuasaan negara.

Sikap permusuhan semakin menjadi manakala usaha Sakuni berhasil mendudukkan Duryudana menjadi raja negara tersebut. Sedang golongan Pandawa yang lebih berhak malah terusir harus menjalani hukum buang selama 13 tahun lamanya merana di hutan belantara karena kalah bermain judi. Kesemua itu adalah hasil tak-tik liciknya Sakuni yang telah direncanakan sejak lama.

Melihat Pandawa diusir seorang Resi bernama Maitreja merasa iba karena dia tahu, bahwa itu terjadi semata-mata perbuatan liciknya Sakuni. Maka dia mengusulkan supaya Pandawa tidak diusir tetapi ditematkan di sebuah desa agar hidup tentram dan aman. Mendengar itu Duryudana sangat murka dan tak ayal lagi Resi Maitreja ditendang dan kepalanya diinjak-injak. Untung Arya Widura segera melerai hingga Resi MAitreja selamat dari kematian. Namun Resi Maitreja yang merasa ingin berbuat tetapi malah disiksa, mengutuk Duryudana: “Engkau Duryudana, aku memohon kepada Dewata, kelak bila engkau sedang sekarat kepalamu akan diinjak-injak dan mukamu tak henti-hentinya dijotos dan tubuhmu diluluh hingga engkau mati bagai binatang hina,” ujarnya. Semua yang hadir kaget mendengar kutukan resi yang amat mengerikan itu. Akhirnya Resi Maitreja meninggalkan negeri itu tak mau mengabdi kepada Raja yang laknat galak dan menyiksa tanpa alasan.

Ketika perang Barata hampir selesai selurunya keluarga Kurawa telah hancur tinggal Duryudana seorang, pikirannya tak karuan. Ia masih ingin hidup tetapi harus lari ke mana. Rasa takut semakin mencengkram terutama kepada Bima yang mengancam akan membunuhnya dalam perang itu. Saking bingungnya ia masuk merendam dalam sungai agar dingin pikirannya dan tak akan ada yang mengetahui. Tetapi Samiaji tahu serta dihampirinya Duryudana serta berkata: “Wahai raja Suyudana, tak pantas tuan bersembunyi mundur dari arena peperangan, sementara keluarga tuan telah membaktikan dirinya demi tuan.”

Suyudana menjawab: “Bukan aku tetapi aku ingat kepada keluargaku yang telah bela pati dan memohon kepada Dewata agar mereka dimasukkan surga. Mengenai engkau menginginkan kerajaan, aku rela memberikannya, sementara aku akan merantau ke tempat lain tidak akan tinggal di negeri ini,” kilahnya. “Akhh, tidak pantas tuan berkata begitu. Tuan harus perang tanding. Silahkan pilih siapa lawan tuan akan kami siapkan,” Yudhistira membesarkan hati Duryudana. Akhirnya raja Astina itu menurut dan memulihkan keberanian dan rasa percaya diri. Dan dia mengetahui siapa pun lawannya. Apabila dia menang, maka kerajaan Astina akan tetap menjadi miliknya. Akhirnya diputuskan oleh pengatur jalannya perang, bahwa lawan Suyudana adalah Bima.

Demikianlah perang tanding itu disaksikan banyak kalangan antara lain Prabu Baladewa yang berpendirian netral. Ternyata dalam perang tanding itu, Bima hampir-hampir tidak tahan menghadapi kelincahan Suyudana dan lupa di mana kelemahan lawannya itu. Kresna segera meminta Arjuna berpura-pura menepuk pahanya supaya dapat dilihat Bima. Bima pun waspada dan ia ingat bahwa kelemahan lawannya itu di pahanya. Ketika Bima hendak menggebuk punggunnya. Suyudana meloncat terlalu tinggi sehinga gada Bima mengenai paha kirinya dan tak ampun lagi seketika ia roboh tak berdaya. Saat itu lah kutukan resi Maitreja terjadi, maksud baik malah disiksa dan dihina. Walaupun Suyudana telah roboh tetapi Bima masih terus menghajarnya, kepalanya diinjak-injak, mukanya di jotos berulang kali tubuhnya diluluh bagaikan binatang. Walau Suyudana berteriak minta tolong tapi tak dipedulikan hingga penonton yang menyaksikan turut merasakan ngerinya siksaan itu.

Melihat adegan mengerikan Baladewa murka dan berteriak: “Hei Bima, kau melanggar aturan, musuh sudah kalah kau memukulnya terus. Dan kau bertanding curang memukul anggota badan dari batas udal ke bawah yang tidak diperbolehkan aturan perang,” teriaknya emosi. Dan saat itu pula Baladewa akan melepas jemparing ke arah Bima. Bima tak tingal diam ia akan menubruknya, tetapi dengan sigap pula Kresna menghadang di antara keduanya dan dengan nada lirih menerangkan, bahwa Bima menggebug paha Suyudana bukan dengan sengaja, melainkan suyudana meloncat terlalu tinggi hingga gada tepat mengenai paha kirinya. Sesuai sifatnya yang mudah marah tapi mudah pula baik, Baladewa pun mengerti dan berlalu.

Demikianlah akhir riwayat Duryudana yang penuh berlumuran dosa sekaratnya pun tersiksa tak mati seketika tetapi merasakan dahulu akibatnya tak berdaya seperti sakitnya orang-orang yang pernah disakiti olehnya.

Salya Membuka Rahasia Kematiannya
Waktu muda bernama Narasoma. Ia anak Prabu mandrapati raja Mandaraka. mempunyai adik perempuan bernama Madrim menikah dengan Pandu berputra kembar, Nakula Sadewa. Istrinya bernama Pujawati (Satyawati) putri Begawan raseksa Pinandita di padepokan Arga Belah.

Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. ia memiliki aji Candra airawa yang dapat menciptakan ribuan raseksa ganas pemangsa manusia. Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raseksa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raseksa-raseksa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu.

Menurut Kresna sekalipun Salya sakti tiada tanding gagah tak ada lawan, batinnya lebih menyayangi Pandawa. Berpihaknya kepada Kurawa karena terjebak kelicikan Sakuni. Padahal semula ia akan membantu Pandawa. Untuke mengetahui rahasia kelekmahannya, diutuslah nakula Sadewa menghadap uwaknya.

Demikianlah tatkala nakula Sadewa menghadap Salya, dengan nada sendu si kembar berkata: “Duh, uwak Prabu, kedatangan hamba menghadap paduka, anya untuk menyerahkan jiwa raga hamba berdua. Hamba malu oleh saudara-saudara hamba, apabila balatentara Pandawa dan saudara-saudara hamba akand engan mudah paduka hancurkan. Kesaktian paduka tiada tandingannya. Karena itu hamba berdua ingin didahulukan dibunuh sebelum paduka berhadapan dengan mereka,” ujarnya memelas.

Sejenak Salya berdiam diri wajahnya membersit perasaan haru yang mendalam. Ia melihat dan membayangkan adiknya, madrim yang telah tiada. ia introspeksi diri betapa rakusnya ia menghirup kelezatan duniawi, sementara yang muda harus segera mengakhiri hidupnya. Terbayang pula kejadian dahulu ia telah memaksa membunuh mertuanya yang baik hati dan berbudi luhur hanya karena berwajah raseksa. Ia mengakui bahwa Ia telah tertipu oleh perasaannya sendiri, bahwa bentuk luarnya yang buruk ternyata dalamnya berisikan emas.

Lalu ia bersabda: “Anakku, sebenarnya aku lebih menyayangi Pandawa. Hanya saja aku telah terjebak oleh kelicikan Sakuni yang memaksa aku berada di pihak Kurawa. Tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur kini aku harus berhadapan dengan mereka yang aku sayangi. Memang kesaktianku takkan ada tandingnya, kecuali oleh seseorang yang memiliki darah putih. Di tangan dialah rahasia kematianku. Sekarang kembalilah enkau ke kubumu dan sampaikan salam kasihku kepada mereka,” katanya.

Salya dengan sengaja telah membuka rahasia kematiannya kepada pandawa melalui Nakula Sadewa. Tetapi Salya punt idak mengetahui, adakah di antara para Pandawa yang memiliki darah putih.

Ketika hal itu disampaikan kepada Pandawa, Kresna langsung menunjuk Yudhistira sebagai lawan raja Mandaraka itu. Maka dengan hati yang amat berat terpaksa Yudhistira maju ke medan perang menghadapi kakak kandung ibu misannya (Madrim).

Ketika Salya telah berada di medan perang, ternyata ia pun tak sampai hati harus berhadapan dengan Yudhistira. Maka dengan berat hati pula terpaksa ia mmerintahkan ajiannya raseksa Candra Bairawa.

Sementara itu balatentara padnawa telah siap bertempur dengan raseksa. Tetapi kresna merasa khawatir atas keselamatan tentara Pandawa, karena prajurit-prajurit itu akan dengan mudah menjadi mangsa raseksa-raseksa ganas itu. Segera ia memerintahkan semua tentara membuka pakaian keprajuritannya, karena hanya orang-orang yang berpakaian prajurit saja yang akan menjadi sasarannya. Tetapi tidak demikian dengan Yudhistira, ia menolak membuka pakaian keprajuritannya, karena itu berarti telah menipu atau membohong yang sangat tabu baginya.

Maka dengan sekejap saja Yudhistira telah berada dalam lingkaran para raseksa siap untuk dimangsa. Tapi tiba-tiba raseksa itu terperanjat karena mencium bau darah putih seperti darah Bagaspati pemilik aji Candra Bairawa. Makand engan serempak si raseksa itu berkata: “WAhhh, dia gusti kita,” serunya berulang kali. Dan seketika itu musnahlah makhluk-makhluk itu masuk ke dalam tubuh Yudhistira.

Dari kejauhan Salya menyaksikan ajiannya telah menyatu dengan Yudhistira. Ia semakin yakin, bahwa kematiannya ada di tangan manusia berbudi luhur adil palamarta yang ternyata berdarah putih. Lalu ia berkata” “Anakku, lepaslah panahmu. Aku telah waspada engkaulah satu-satunya ksatria yang akan mengatarku ke alam asal,” ujarnya pasrah. Dengan memejamkan kedua matanya, Yudhistira melepas panah dan rebahlah raja mandaraka itu di atas kereta perangnya. Ia mati dengan tersenyum. Sebaliknya Yudhistira sangat pedih karena seumur hidup jangan pun membunuh, memukul pun tak pernah. Kresna segera menghibur dengan mengatakan, bahwa Yudhistira telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s