Lakon Wayang Part 34


Kresna, Dibalik Keadilan Yang Kontraversi
Perang besar Baratayudha telah berlangsung dengan serunya. Tidak sedikit prajurit dari kedua belah pihak yang gugur membela masing-masing pihaknya. Peraturan yang adil tetapi ketat diterapkan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. bertindak sebagai pengatur laku sekaligus hakim perang adalah Kresna yang tidak segan-segan memberi peringatan kepada pelanggar tanpa pilih bulu siapun orangnya dan dari golongan mana.

Dalam perang itu Kresna bertindak seblaku penasehat perang Pandawa setelah melalui referendum. Sebelumnya ia diminta kaum Kurawa untuk menjadu penasehat di pihaknya tetapi sebenarnya akan dimanfaatkan kesaktiannya untuk memukul hancur kaum Pandawa. Tetapi niat licik itu telah terbaca dan Kresna tetapi pada pendiriannya hanya bersedia menjadi penasehat tanpa terilbat secara fisik dalam perang, hinggu akhirnya Kurawa menarik kembali permintaanya. Sebalikany Pandawa lebih tanggap bahwa justru petunjuk itu yang lebih berharga, karena Kresna adalah seorang ahli strategi dan mampu mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi sedangkan Kurawa mendapat pakar-pakar perang seperti Bisma, Dorna, diperkuat Prabu Salya yang dapat mendatangkan ribuan bala tentara dengan Aji Chandra Birwayanya.

Tindakan tegas kresna dalam mengawal jalannya perang dibuktikan ketika menyaksikan Arya Bisma perang secara membabi buta membantai bala tentara Pandawa hingga banyak menimbulkan korban. Dengan lantang ia mencaci: “hei Bisma, ternyata engkau ksatria yang tidak tahu atuan perang, membabi buta membantai prajurit yang bukan tandinganmu. Tidakkah lebih pantas engkau bertanding dengan sesama satria. Aku tahu kau sukar dilawan dewa maupun manusia. Sekarang ayo lawan aku. Keluarkan semua kepandaian dan senjata andalanmu, ayo maju,” tantangnya penuh emosi. Bisma kget lalu tergopoh-gopoh turun dari keretanya menghampiri Kresna seraya memberi hormat dan berucap: “Duh Sang Kesawa, hamba mengaku salah bertanding tanpa pilih lawan.

Karena itu hukumlah hamba. Mati ditangan awatara Wisnu amat membahagiakan. Lepaskan senjata pusaka paduka bagi kematian hamba,” ujarnya pasrah. Di saat situasi menegangkan datanglah Arjuna merangkul kaki Kresna seraya memohon agar Kresna menepati janji untuk tidak terlibat langsung dalam perang. Akhirnya Kresna sadar dan berlalu. Begitulah kresna mengawasi jalannya perang dengan tindak tegas tanpa pilih bulu.

Tetapi pada bagian lain keadilan yang dilakukan menimbulkan masalah ketika Antareja putra Bima dari Saptapertala datang ingin bakti diri serah nyawa membantu Pandawa melawan Kurawa. Tentu saja kehadirannya seharusnya diterima dengan senang hati karena akan menambah kekuatan di kubu Pandawa. Tetapi tidak demikian, Kresna mempunyai catatan matinya seseorang dalam perang, termasuk Baladewa, saudara yang sangat dihormati justru akan mati di tangan si anak Bima itu. Tentu saja hal itu membuat resah hatinya dan berniat untuk mencari jalan keluarnya. Dasar Kresna berpikiran cerdas pandai mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi, manakala ia mengetahui bahwa Antareja memiliki senjata berupa Taring yang amat berbahaya yang tidak boleh dalam perang. Janganpun terkena taringnya, terlanggar bayangnya saja orang bisa mati seketika. Maka entah apa yang terjadi apabila putra Bima itu dibiarkan terjun dalam perang. Jelas, Kurawa akan hancur sebelum waktunya. Bagaimanapun, ini bertentangan dengan perikeadilan.

Untuk mencegah Antareja terjun dalam kancah peperangan, tidak ada pilihan lain kecuali nyawanya harus dikorbankan dengan cara halus. Maka dengan pura-pura memuji keampuhan senjati taringnya, Kresna minta Antareja memperlihatkan senjata itu kepada ayahnya. Dengan bergengsot ia menyerahkan senjata itu kepada ayahnya. tetapi baru saja senjata itu berada di tangan Bima, Kresna membaca aji “Pelumpuhan” hingga tangan Bima mendadak lemas dan terjatuhlah senjata yang mematikan itu menimpa tubuh anaknya hingga tewas seketika. Mengkaji tindakan Kresna ditinjau dari satu sisi, matinya cucu Hyang antaboga itu merupakan pengorbanan suci demi tegaknya keadilan sehingga kaum Kurawa akan terhindar dari kehancuran yang tidak semestinya.

Hukum keadilan tidak berarti salah satu pihak yang sedang perang tidak harus lebih cepat mengalami kekalahan, tetapi juga tidak dibenarkan pihak yang akan unggul harus lebih awal meraih kemenangan. Akan tetapi ditinjau dari sisi lain, tindakan Kresna itu jelas merupakan pembunuhan yang direncanakan secara halus, bahkan tidak berperikemanusian karena matinya Antareja meminjam tangan ayahnya sendiri, selain memanipulasi matinya Baladewa oleh Antareja. Secara hukum, setiap perbuatan menghilangkan nyawa seseorang, meski hal itu berdalih demi keadilan, tetap harus mendapat hukuman.

Walaupun kedudukan Kresna sebagai pengatur jalannya perang dan pengendali keadilan, tidak berarti dirinya kebal terhadap hukum keadilan itu sendiri. Maka dalam kisah Baratayudha, hukuman terhadap Kresna pun berlaku, karena kutukan Dewi Anggandari (ibunya Kurawa) yang menuduh Kresna telah mengadu domba Kurawa dan Pandawa hingga kedua golongan yang masih bersaudara itu ludas. Hukuman itu akan terbukti dimana kelak leluhuh dan keturunannya akan saling membunuh hingga ludas dan tak bersisa.

Dua belas tahun (menurut Mahabarata 35 tahun) telah berlalu setelah perang usai dengan Pandawa sebagai pemenangnya. Ini berarti tugas Wisnu akan segera berakhir dan kematian Kresna pun akan segera tiba. Ketika itu Kresna sedang beristirahat sambil bersemedi di semak belukar di dalam hutan. Sementara itu Ki Daruka (nama lain, Ki Jara) yang sedang menunggu tuannya datang ketempat itu. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam semak, penglihatannya seperti seekor rusa. Tak ayal lagi kusir yang gemar berburu itu melepas senjata panahnya dan tepat mengenai dada Kresna hingga roboh. Sang kusir kaget dan mohon ampun telah salah penglihatan, tetapi Kresna malah berterima kasih karena dengan demikian telah memberi “jalan” bagi sang Wisnu untuk kembali ke tempat asalnya.

Sementara itu di angkasa terdengar suara gemuruh para dewa dan bidadari menyambut yang akan kembali. Kendaraan Wisnu, Garuda Kencana, telah tiba dan keluarnya Wisnu dari tubuh Kresna. Yang tinggal hanya raga tak berdaya. Gagah sakti punjul agung telah sirna. Kresna seorang besar dan berwibawa dengan sejuta kesaktian bukan mati di tangan seorang raja bukan pula oleh seorang ksatria, tetapi ia mati hanya oleh seorang rakyat kecil berpangkat kusir. Di mata Tuhan semua makhluk adalah “sama” tanpa mengenal tinggi rendahnya martabat atau golongan.

Asal Usul Candrabirawa 1
Bermula sejak jaman Arjuna Sasrabahu dari riwayat Sumantri / Patih Suwanda. Patih Suwanda sebenarnya adalah anak Resi Wisanggeni bernama Sumantri dan mempunyai seorang adik yang berbadan kontet dan bermuka seperti raksasa bernama Sukrasana. Resi Wisanggeni adalah kakak Resi Bhargawa yang melanglang buana mencari Ksatria untuk bertarung dengan dalih mencari kematian bagi dirinya sendiri — pada akhirnya Resi Bhargawalah yang membunuh Arjuna Sasrabahu dan dikemudian hari gugur ditangan Rama. Sumantri menjelma menjadi seorang ksatria yang sakti gagah perkasa berkat ajaran Resi Wisanggeni, sementara Sukrasana biarpun berbentuk seperti raksasa mempunyai budi pekerti yang sangat luhur.

Suatu ketika, Sumantri dan Sukrasana sedang berjalan didalam hutan. Sukarsana yang bertubuh kecil merasa cape dan minta istirahat. Ketika beristirahat, Sukarsana tertidur pulas dan saat itu juga datanglah sebuah raksasa lapar yang ingin memakan Sumantri dan Sukarsana. Sumantri dengan sigap membopong adiknya yang tertidur lelap dan melarikan diri kedalam hutan. Setelah cukup jauh, Sukarsana dibaringkan di tempat yang aman sementara Sumantri berusaha menghadang raksasa tersebut. Walau bertarung sekuat tenaga, Sumantri tidak bisa mengalahkan raksasa tersebut. Sumantri hampir kehabisan tenaga ketika Betara Indra datang dan mempersembahkan panah Cakrabiswara kepadanya. Sumantri segera melepas panah itu kearah sang raksasa dan dalam sekejap raksasa tersebut mati. Setelah berhasil membunuh raksasa, Sumantri teringat pada adiknya dan segera mencari Sukarsana. Sumantri sangat terkejut melihat binatang2 buas di dalam hutan ternyata berkumpul disekililing Sukarsana demi menjaga keselamatannya. Sumantri bertanya kepada Sukarsana ajian apa yang dimiliki olehnya sehingga bisa menguasai binatang2 buas. Sukarsana menjawab bahwa ia tidak memiliki ajian apapun, hanya selama hidupnya dia tak pernah menganggu ataupun melukai binatang2 sekecil apapun. Kedua bersaudara kemudian pulang ke padepokan untuk menceritakan kejadian ini kepada Resi Wisanggeni. Oleh sang resi diceritakan bahwa orang yang memiliki Cakrabiswara merupakan kekasih Betara Wisnu, sementara yang dilindungi binatang2 liar artinya adalah orang yang berbudi luhur dan merupakan kekasih Betara Dharma.

Tak lama setelah itu, Sumantri bertanya kepada Resi Wisanggeni mengenai kesaktian ilmunya. Sang resi berkata bahwa Sumantri telah menjadi ksatria yang gagah perkasa dan hanya beberapa orang yang bisa melawan kesaktiannya. Sumantri kemudian berkata bahwa ilmunya harus digunakan untuk melayani sesama umat manusia dan dia meminta ijin kepada Resi Wisanggeni untuk meninggalkan padepokannya. Dengan berat hati Resi Wisanggeni memberi ijin, tapi Sumantri diharuskan mengabdi kepada Raja Mayaspati/Maespati – Prabu Arjuna Sasrabahu yang terkenal adil bijaksana. Karena kesian pada adiknya, Sumantri sengaja tidak mengajak Sukarsana karena takut dia akan dicemooh akibat bentuknya. Sumantripun berangkat menuju Mayaspati ketika Sukarsana sedang tidur.

Ketika bangun, Sukarsana bingung karena kakaknya telah menghilang. Sukarsana bertanya kepada Resi Wisanggeni kemana kakaknya menghilang. Ketika diberitahukan, Sukarsana tidak rela berpisah dengan kakaknya dan memutuskan untuk mencari kakaknya di Mayaspati. Dalam perjalanannya, Sukarsana merasa capai dan berisitrahat di sebuah pohon besar yang teduh. Tiba2 dia dikejutkan oleh suara besar dari dalam pohon itu. Suara itu berasal dari Candra Birawa yang sedang menunggu kedatangan kekasih Betara Dharma supaya dirinya bisa menitis kedalam tubuh Sukarsana. Sukarsana menjadi bingung dan bertanya mengenai asal usul Candra Birawa. Candra Birawa pun menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diciptakan dari gabungan raksasa2 yang menyerang Swargaloka. Raksasa2 itu punah dikalahkan oleh para dewata tapi oleh Betara Guru dihidupkan kembali menjadi satu badan dan diberi nama Candra Birawa. Tapi Candra Birawa tidak boleh sembarangan berkeliaran di mayapada, dia diharuskan bersatu dengan kekasih/keturunan Betara Dharma karena di tangan orang yang salah, Candra Birawa sangat berbahaya dan bisa menimbulkan kekacauan di mayapada. Setelah dijelaskan asal usulnya, Sukarasana masih sangsi untuk memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk berdiam dalam tubuhnya. Candra Birawa kemudian menjelaskan bahwa jika tubuhnya menjadi satu, Sukarsana akan menjadi lebih sehat dan kuat, selain itu jika dalam kesulitan Sukarsana tinggal singkep memangil Candra Birawa dan dirinya akan segera muncul untuk membantu. Dalam pertarungan, Candra Birawa sangat sakti karena setiap tetes darahnya akan menjadi Candra Birawa baru. Sukarsana pun setuju dan memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk ke dalam tubuhnya. Dalam hatinya, Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa ini lebih cocok jika diberikan kepada saudaranya Sumantri.

Sementara itu, Sumantri telah mengabdi kepada Arjuna Sasrabahu dan berhasil merebut Dewi Citrawati. Sumantri juga sempat bertarung dengan Arjuna Sasrabahu dan yakin bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan raja yang gagah sakti tanpa tandingan (Sumantri sempat seri melawan Arjuna Sasrabahu tapi langsung ketakutan begitu sang prabu menjadi marah dan bertiwikrama, ini merupakan bukti bahwa Arjuna Sasrabahu merupakan titisan Betara Wisnu). Dewi Citrawati kemudian mempunyai permintaan kepada Arjuna Sasrabahu, yaitu untuk memindahkan taman Sri Wedari dari swargaloka ke dalam Mayaspati. Tanpa berpikir panjang, Sumantri mengiakan permintaan Dewi Citrawati. Kemudian Sumantri ditinggal oleh Arjuna Sasrabahu dan Dewi Citrawati kedalam istana. Sumantri menjadi bingung, karena jangankan memindahkan taman Sri Wedari, letaknya saja dia tak tahu. Dalam keadaan linglung, Sumantri bertemu dengan adiknya Sukarsana yang sedang mencari dirinya. Sumantri bahagia melihat adiknya tapi kaget bahwa adiknya bisa sampai ke Mayaspati dengan selamat karena perjalannya jauh dan juga berbahaya. Oleh Sukarsana diceritakan mengenai Candra Birawa yang bersemayam di dalam dirinya. Sumantripun bahagia mendegar cerita adiknya tapi ketika teringat janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari dia kembali muram. Sukarsana sangat mengerti kakaknya, dalam sekejap dia tahu bahwa kakaknya sedang kepikiran sesuatu. Ketika ditanyakan, Sumantri menceritakan janjinya untuk memindahkan taman Sri Wedari. Sukarsana berpikir bahwa Candra Birawa bisa membantu abangnya untuk menyanggupi permintaan itu. Dengan singkep sebentar, Candra Birawa segera tampil dihadapan Sukarsana dan Sumantri. Sukarsana memberitahukan kesusahan kakaknya kepada Candra Birawa. Candra Birawa segera tahu bahwa yang meminta taman Sri Wedari pastilah titisan istri Betara Wisnu. Candra Birawa berkata bahwa dia bisa melakukan tugas tersebut tanpa masalah, Sukarsana dan Sumantripun diminta singkep menutup seluruh panca indra sementara Candra Birawa memindahkan taman tersebut. Dalam sekejap Candra Birawa menjadi ribuan dan taman Sri Wedari pun dipindahkan dari swargaloka ke Mayaspati.
Setelah berhasil, Sukarsana berniat untuk ikut dengan kakaknya mengabdi di Mayaspati. Sumantri kembali tidak tega dan menyuruh Sukarsana kembali ke padepokan. Tapi Sukarsana tetap bersikeras, Sumantripun mengeluarkan Cakrabiswara untuk menakut nakuti adiknya. Tanpa disangka2, Sukarsana tersandung dan tubuhnya tertusuk Cakrabiswara. Sebelum meninggal Sukarsana berkata pada kakaknya bahwa dia tidak sempat memberikan Candra Birawa kepada Sumantri dan memohon kepada dewata agar di kehidupan selanjutnya Sukarsana bisa kembali dekat dengan kakaknya.

Di kemudian hari, Sumantri menitis kepada Narasoma (Prabu Salya) sementara Sukarsana (+ Candra Birawa) menitis kepada Resi Bagaspati yang juga berbentuk seperti raksasa hanya tidak kontet.

Asal Usul Candrabirawa 2
Resi Bagaspati mempunyai seorang putri bernama Dewi Pujawati, suatu ketika Narasoma sedang berburu dan ketika melihat Dewi Pujawati langsung terkesima oleh kecantikannya. Narasomapun mengikuti Dewi Pujawati untuk bertemu Resi Bagaspati. Ketika keduanya ditanya oleh Resi Bagaspati, mereka berkata bahwa telah mencintai satu sama lain. Narasoma dan Pujawati pun dinikahkan saat itu juga oleh Resi Bagaspati. Narasoma sangat sayang pada istrinya Pujawati, tetapi ketika ditanya seperti apa cintanya kepada Pujawati, Narasoma berkata bahwa cintanya seperti beras putih yang bersih. Kemudian Narasoma menambahkan bahwa sayang beras putih pun ada gabahnya. Pujawati sangat bingung oleh perkataan Narasoma dan dia bertanya kepada Resi Bagaspati. Sang resi yang bijaksana segera tahu bahwa yang dimaksud oleh Narasoma ialah dirinya, karena tidak mungkin seorang pangeran penerus tahta kerajaan mempunyai mertua seorang raksasa. Sang resi menenangkan Pujawati dan menyuruhnya untuk memanggil Narasoma. Ketika Narasoma menghadap Resi Bagaspati, dijelaskan bahwa dalam tubuh Resi Bagaspati bersemayam Candra Birawa sebuah mahkluk berbadan halus yang sangat sakti. Karena Narasoma kini bertanggung jawab akan keselamatan Pujawati, Resi Bagaspati akan memberikan Candra Birawa kepadanya. Mereka berdua kemudian bersemedi dan terlihat Candra Birawa pindah dari Resi Bagaspati ke tubuh Narasoma. Sang resi kemudian lanjut semedinya dengan menahan napas, tak lama kemudian tubuh Resi Bagaspati menghilang dari pandangan. Pujawati yang melihat kejadian ini menjadi kaget dan menangis. Sementara itu Narasoma mendegar suara sang resi yang menjelaskan bahwa dia sebenarnya adalah titisan Sukarsana yang ingin dekat pada kakanya Somantri yang menitis pada tubuh Narasoma. Resi Bagaspati bersemedi untuk mendapat anak perempuan yang bisa dijodohkan dengan dirinya dan juga supaya bisa mewariskan Candra Birawa tapi sayang pada akhirnya Narasomapun telah berbuat salah kepada Resi Bagaspati seperti Somantri bersalah kepada Sukarsana. Narasoma kemudian diwanti2 bahwa mulai saat itu dia harus berhati2 kepada titisan/kekasih betara Dharma yang berikutnya karena pada saat itu dia akan gugur. Narasoma kemudian perganti nama menjadi Prabu Salya setelah menjadi raja.

Dalam perang Bharatayuda, Prabu Salya diangkat menjadi panglima perang Hastina sebagai pengganti Karna (urutannya: Bisma,Dorna,Karna,Salya).
Begitu melihat Prabu Salya turun ke medan danalaga, Sri Kresna segera mawas bahwa dia akan menjadi lawan yang berbahaya. Seluruh pasukan Pandawa diwanti2 supaya jangan gegabah melawan ksatria yang satu ini. Bimapun dengan sombongnya berkata bahwa Prabu Salya sudah tua dan kesaktiannya berkurang bisa dikalahkan oleh dirinya. Sri Kresna segera menceritakan kepada Bima dan Arjuna bahwa Prabu Salya memiliki Candra Birawa yang sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.
Ketika perang dimulai, Bima segera menggasak tentara Kurawa. Prabu Salya sebagai panglima perang memajukan dirinya untuk mencegah Bima. Prabu Salya kewalahan melawan kekuatan Bima dan memutuskan untuk memanggil Candra Birawa. Bimapun bertarung dengan Candra Birawa tapi semakin lama Bima menjadi capai sementara Candra Birawa tetap mengganas. Arjuna yang melihat kakaknya dalam bahaya segera melepas panah. Sayangnya panah Arjuna melukai Candra Birawa, dan setiap tetes darahnya menjadi Candra Birawa baru. Bima semakin kewalahan melawan ratusan Candra Birawa, dan barisan pasukan Pendawa juga semakin hancur diobrak abrik.
Melihat kejadian ini Sri Kresna segera mendatangi Arjuna dan mencegahnya untuk memanah Candra Birawa. Kemudian Sri Kresna bergerak ke garis belakang untuk bertemu Yudistira. Sri Kresna berkata bahwa Yudistira harus maju ke medan perang untuk mengalahkan Prabu Salya demi kemenangan Pendawa karena hanya Yudistiralah yang bisa mengalahkannya sebagai titisan Betara Dharma. Yudistira yang dikusiri oleh Nakula segera memasuki medan perang dan bertemu langsung dengan Prabu Salya. Yudistira segera memohon ampun kepada Prabu Salya atas kelancangannya berani melawan Prabu Salya. Prabu Salya menjawab bahwa dalam medan perang tidak perlu merasa lancang karena ini merupakan tugas Yudistira sebagai raja untuk membela tentaranya. Yudistira pun menjawab bahwa seumur hidup dia tidak bisa melukai orang, dia rela mengorbankan dirinya asalkan Candra Birawa ditarik kembali kedalam tubuh Prabu Salya. Sayangnya Candra Birawa tidak bisa ditarik kembali sebelum tugasnya selesai yaitu memusnahkan tentara Pendawa. Yudistira dengan berat hati mengambil busur dan panah. Tapi Yudistira tidak berani mengarahkan panahnya kepada Prabu Salya, panahnya kemudian diarahkan ke bawah. Dengan ajaib, panah Yudistira yang menyentuh tanah langsung memantul dan mengenai Prabu Salya. Prabu Salyapun gugur, sesuai dengan yang dikatakan Resi Bagaspati.

Sekedar tambahan, sebenarnya Candra Birawa pernah sekali ditarik sebelum tuntas tugasnya. Kejadiannya ketika Narasoma bertarung melawan Pandu untuk memperebutkan Dewi Kunti. Pandu telah memenangkan sayembara dan Narasoma menantang Pandu dengan taruhan Dewi Madrim adiknya menjadi istri Pandu jika Narasoma kalah. Ketika bertarung, Narasoma kewalahan melawan kesaktian Pandu dan memanggil Candra Birawa. Akibatnya Pandu menjadi terdesak karena keris pusakanya tidak mempan terhadap Candra Birawa dan malahan menambah jumlah Candra Birawa. Pandu kemudian mengejek bahwa Narasoma tidak bisa bertarung sendiri perlu minta bantuan. Narasoma dengan sombongnya berkata bahwa Pandu juga bisa meminta bantuan kedua sodaranya, bahkan mengejek bahwa Dasarata disuruh maju kedepan biar diinjak2 oleh Candra Birawa. Mendengar ejekan Narasoma, Dasarata menjadi marah dan menyuruh Widura untuk menuntunnya kearah pertarungan. Setelah ditutun, Dasarata segera menyuruh Widura untuk menyingkir dan kemudian berteriak kepada Pandu supaya datang ke arah Dasarata. Pandu yang cerdas segera tahu rencana kakaknya itu dan segera melesat ke arahnya. Ketika Candra Birawa mengejar Pandu ke arah Dasarata, Pandu segera berdiri di belakang kakaknya dan Dasarata segera mengeluarkan Ajian Kumbalageni. Ajian Kumbalageni merupakan ajian dashyat yang membuat apa saja yang disentuh oleh Dasarata hancur menjadi debu. Candra Birawa tidak kuat melawan kesaktian ini dan kembali kedalam tubuh Narasoma. Pandu pun bergerak secepat kilat menyerang Narasoma, pukulan Pandu menyebabkan Narasoma terpental. Narasoma akhirnya mengaku kalah kepada Pandu dan berangkat menjemput Dewi Madrim untuk diberikan kepada Pandu.

Sakuni
Nama Sakuni cukup dikenal sebagai seorang pejabat kerajaan Astina. Ia beperan penting membentuk watak dan prilaku kaum Kurawa. Tetapi sifatnya tidak mencerminkan seorang pendidik yang baik. Hatinya buruk, dengki tapi pengecut dan licik, Ia selalu melakukan manuver politik memburuk-burukan nama baik kaum Pandawa dengan tujuan tahta kerajaan tidak jatuh ke tangan Yudhistira melainkan kepada Duryudana keponakannya.

Setelah Prabu pandu wafat, atas keputusan Dewan sesepuh tahta kerajaan Astina untuk sementara dipercayakan kepada Destarata dan harus diserahkan apabila yudhistira telah dewasa. Tetapi di saat itu pula usaha Sakuni semakin meningkat. Berbagai cara di lakukan untuk merubah karakter kaum Kurawa memutar balikan fakta sejarah, bahwa sesungguhnya Kurawalah yang paling berhak atas tahta kerajaan Astina, usahanya berhasil menanamkan perasaan benci terhadap Pandawa. Sejak itu sering terjadi konflik fisik antara kedua golongan yang masih bersaudara itu.

Siapa Sakuni? Sebenarnya ia tinggal di nagara Trigan Talpati. Istrinya bernama Sukesti. Suatu waktu ia mendengar berita bahwa di negara Mandura sedang diadakan sayembara memperebutkan Dewi Kunti yang cantik jelita. Ia berangkat bersama kakaknya Dewi Anggandari. Tapi malang sayembara telah berakhir dengan pandu sebagai pemenangnya serta memboyong Dewi Kunti ke negeri Astina.

Karena sifatnya serakah dan merasa dirinya gagah, di perjalanan ia ingin merebut Putri Mandura itu dari tangan Pandu. Tetapi usahanya gagal setelah tidak mampu mengungguli kesaktian pandu. Sebagai imbalan atas kekalahannya, ia serahkan Tunggandari untuk dijadikan permaisuri Prabu Pandu. Penyerahan itu merupakan taktik agar ia mendapat kedudukan terhormat di kerajaan itu. Namun taktik itu gagal karena Pandu menolak pemberian gratis tanpa perjuangan. Akhirnya Gandari diserahkan kepada Destarata yang buta matanya. Sejak itulah timbul obsesi itu terpuaskan setelah ia berhasil mendudukkan Duryudana sebagai raja Astina. Keberhasilannya itu karena taktik liciknya Sakuni yang mengalahkan pandawa dalam permainan judi. Lebih tragis lagi Pandawa harus dibuang selama 13 tahun merana di hutan belantara.

Masa pmbuangan telah berakhir dan Pandawa menuntut dikembalikannya tahta kerajaan. Tetapi Duryudana menolak keras sehingga perang besar sesama keturunan Barata tak terhindarkan. Akibatnya seluruh keluarga Kurawa ludas tandas dalam perang itu dan Sakuni sendiri harus menebusnya dengan kematian yang amat mengerikan.

Arya Bima melampiaskan dendam kesumatnya. Sakuni dijungkirbalikan, duburnya dihujani senjata, mulutnya dirobek-robek akibat kata-katanya yang jahat hingga mengakibatkan banyak orang menderita. Kulitnya dikupas disayat-sayat sebagai pembalasan atas keserakahan dan kerasukan yang dilakukannya. Demikianlah perbuatan jahat harus dibayar dengan rasa sakit yang luar biasa hingga ajalnya sangat mengenaskan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s