Lakon Wayang Part 38


Kidung Malam 55
Meredam Permusuhan
Ketika matahari mulai menampakan sinarnya kemerah-merahan, terdengar suara gamelan mengalun dari di pusat kotaraja Saptapertala. Dari kejauhan suara gamelan tersebut terdengar menyatu dengan suara serangga-serangga malam yang saling bersaut-sautan. Perpaduan aneka suara tersebut bagaikan sebuah komposisi musik para dewa tatkala sedang melakukan pujaasmara.

Malam itu ibu kota Kahyangan Saptapertala berhias dengan keindahan. Bak gadis dewasa yang sedang bersolek manja. Disetiap sudut kota dipasang umbul-umbul serta rontek, dan dipadu dengan penjor-penjor berhiaskan janur kuning. Hiasan-hiasan tersebut ditancapkan ke pinggir jalan dengan sudut kemiringan enampuluh derajat, sehingga seakan menunduk memberi salam hormat kepada siapa saja yang melewati jalan itu. Kawula Saptapertala yang hampir sebagian besar berkulit kasar seperti sisik, berduyun-duyun menuju pusat koata raja. Di dunia bawah tanah pada lapis ke tujuh yang disebut Kahyangan Saptapertala ini kehidupannya tidak jauh berbeda dengan kehidupan di atas dunia atau di marcapada, yang membedakan adalah orang-orang di Saptapertala berkulit kasar seperti sisik.

Menjelang tabuh tujuh, alun-alun Kotaraja berubah menjadi lautan manusia mereka datang dari penjuru negeri, ingin menyaksikan peristiwa yang amat bersejarah, yaitu perkimpoian antara bangsa manusia dan keturunan dewa ular. Perkimpoian antara Raden Bimasena dan Dewi Nagagini.

Sebelum kedua Calon Penganten dipertemukan dalam upacara Panggih, di pendapa induk yang terletak di pinggir alun-alun, diadakan tarian sakral lingga-yoni yang melambangkan perkimpoian agung antara Dewa Siwa dan Dewi Uma. Konon tarian tersebut diadakan, adalah untuk ritual penghormatan kepada dewa Siwa. Namun saat ini tarian tersebut dipentaskan untuk menyambut dan menghormat calon pengantin berdua. Selain itu tarian Lingga-yoni juga merupakan doa pengharapan agar bumi Saptapertala mengalami kesuburan dan kesejahteraan.

Setelah tari Lingga-yoni selesai, mengumandanglah kidung malam yang berisi sebuah mantra untuk mengingatkan agar semua makhluk, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan saling menempatkan diri pada tempatnya, sesuai dengan demensi mereka, sehingga diantara mereka tidak saling mengganggu.

Singgah-singgah kala singgah
pan suminggah durga kala sumingkir
sing aama sing awulu
sing asuku sing asirah
sing atenggak kalawan sing abuntut
padha sira suminggah
muliha mring asal neki

Hening suasana, semua yang hadir diam. Mereka mencoba mengikuti dan menghayati tiap kata yang ditembangkan dengan telinga dan hatinya hingga sampai dengan nada terakhir. Maka legalah batin mereka, setelah tembang singgah-singgah usai. Mereka berkeyakinan bahwa upacara panggih pengantin akan lancar dan baik adanya.

Seperti apa yang direncanakan dan dilaksanakan, semuanya berjalan dengan baik Raden Bimasena dan Dewi Nagagini telah resmi dipersatukan sebagai suami istri. Hyang Antaboga amat gembira menyaksikan pasangan Raden Bimasena dan Dewi Nagagini. Bagi Dewa penguasa bumi ini, perkimpoian antara Raden Bimasena dan Dewi Nagagini tidaklah merupakan perkimpoian pada umumnya. Perkimpoian mereka bagaikan symbol bersatunya antara bangsa manusia dan bangsa ular yang selama ini tidak saling bersahabat. Atau juga dapat dimaknai sebagai upaya untuk membangun kembali keharmonisan alam. Namun yang lebih penting dan sangat disyukuri oleh Dewi Kunthi dan Sang Hyang Antaboga adalah bahwa perkimpoian tersebut telah mengalihkan perhatiannya Bimasena khususnya atas kejahatan Sengkuni dan Korawa yang telah mencelakai para Pandhawa.

Seandainya saja Bimasena tidak berjumpa dengan Dewi Nagagini, tentu saja panas hatinya akan semakin menjilat tak terkendali dan membakar Sengkuni dan para Korawa. Namun syukurlah sebelum semuanya terjadi Dewi Nagagini telah menyiram hatinya dengan kelembutan dan kesejukan. Sehingga malam itu Bimasena tak mampu lagi melepaskan pelukan Nagagini yang menentramkan.

Raden Barata
Raden Barata adalah anak Raja Ayodya, Prabu Dasarata dari istri Dewi Kekayi. Meski sesungguhnya bukan putra mahkota, namun ia diusulkan oleh ibunya untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Bagaimana kisahnya?

Tersebutlah di negara Ayodya. Meski rajanya, Prabu Dasarata sudah beristri cantik Dewi Kausalya (Ragu), namun masih ingin mempersunting wanita lain. Memang, mula-mula sang raja begitu gusar karena sudah bertahun-tahun menikah, belum juga dikaruniai keturunan. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum kunjung berhasil.

Hidup menjadi raja dengan disanding istri cantik, pertama-tama memang menyenangkan. Namun, karena belum punya anak maka hidupnya terasa hampa. Padahal, menurut tabib istana, Prabu Dasarata dan Dewi Ragu sama-sama sehat dan tidak mandul. Saking pusingnya, sang raja sering pergi jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.

Secara kebetulan, Prabu Dasarata bertemu dengan Dewi Kekayi, salah seorang putri negara tetangga. Perasaan hampa sang prabu terasa terisi oleh kecantikan dan senyum manis sang dewi. Tak hanya perasaan simpatik yang menyelimutinya. Tapi juga cinta yang begitu mendalam. Meski Dewi Kekayi setengah jual mahal, namun wanita ini juga memberikan ‘tanda lampu hijau’ pada Prabu Dasarata.

Dewi Kekayi pun menuruti keinginan Prabu Dasarata. Namun, putri jelita ini memasang jerat (jebakan). Sebab, ia bersedia menjadi istri Prabu Dasarata dengan syarat kalau punya keturunan, anaknya itulah yang harus menggantikan Prabu Dasarata sebagai Raja Ayodya. Tanpa sadar, Prabu Dasarata pun menyanggupinya.

Akhirnya, jadilah Dewi Kekayi sebagai istri kedua Prabu Dasarata. Putri cantik jelita yang kemayu ini pun diboyong ke istana Kerajaan Ayodya. Meski menjadi istri kedua, diam-diam ia ingin selalu tampil dan mendapat perhatian lebih ketimbang Dewi Kausalya.

Nyaris Lupakan Janji

Selang beberapa tahun, ternyata para istri dan selir Prabu Dasarata mengandung dan melahirkan. Dari Dewi Kausalya lahir bayi laki-laki diberi nama Raden Rama. Dari Dewi Kekayi lahir bayi laki-laki diberi nama Raden Barata. Dari istri-istri yang lain lahir juga bayi laki-laki, diberi nama Raden Laksmana Widagdo dan Raden Satrugna.

Setelah anak-anaknya dewasa, Prabu Dasarata merasakan usianya sudah semakin tua (lanjut). Ia bermaksud untuk lengser keprabon (mengundurkan diri) dan menyerahkan tahta kepada anaknya yang tertua dari permaisuri (istri pertama) yakni Raden Rama yang terlahir dari Dewi Kausalya.

Semua punggawa dan keluarga kerajaan pun menyetujuinya. Apalagi, kini Raden Rama sudah punya istri, Dewi Sinta, putri dari Kerajaan Mantili. Dengan demikian, sudah sangat pantas untuk dinobatkan sebagai raja. Apalagi, Raden Rama tidak saja dikenal tampan dan berbudi pekerti luhur. Tapi juga, sangat sakti, ahli berperang dan sangat memahami ilmu ketatanegaraan.

Menjelang penobatan Raden Rama menjadi raja, tiba-tiba muncul Dewi Kekayi yang melakukan aksi protes. Dengan lantang dan sangat berani, Dewi Kekayi membeberkan masa lalunya bersama Prabu Dasarata. Padahal, ketika itu di tengah-tengah pasewakan (pertemuan) agung kerajaan. Sesuai janji Prabu Dasarata, maka Barata yang lebih berkah menjadi raja.

Betapa terkejutnya Prabu Dasarata mendengar protes Dewi Kekayi. Rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Dengan penuh keterpaksaan, Prabu Dasarata mengabulkan protes itu. Di luar dugaan, ternyata Dewi Kekayi masih minta syarat tambahan. Apa itu? Menurutnya, belum cukup aman jika keputusannya hanya menobatkan Barata menjadi raja. Kalau Rama masih di istana kerajaan, maka dia bisa mengganggu. Karena itu, ia minta agar Rama dan istrinya diusir dan dibuang ke hutan selama 13 tahun. Setelah itu, barulah boleh kembali pulang ke istana.

Keketusan Dewi Kekayi terasa menghantam hati Prabu Dasarata yang sudah tua. Penyakit jantungnya pun langsung kambuh. Sang raja lanjut usia itu pun jatuh pingsan. Hingga akhirnya tak bangun-bangun, karena menghembuskan nafas yang terakhir alias mangkat. Seluruh keluarga Ayodya pun meratapi kematiannya.

Ternyata, Raden Barata tidak bersedia dinobatkan menjadi Raja Ayodya. Ia tahu diri, bahwa dirinya bukan putra mahkota. Ia tidak sependapat dengan ibunya. Sebab, yang sesungguhnya putra mahkota adalah Raden Rama. Maka, meski Raden Rama dan istrinya, Dewi Sinta, yang dikawal Raden Laksmana menjalani hidup sebagai orang buangan di hutan belantara, Raden Barata tetap menyusulnya. Secara khusus ia minta kepada Raden Rama untuk kembali ke istana dan dinobatkan menjadi raja. Tapi, Raden Rama menolaknya. Raden Barata pun sungkem dan menangis di pangkuan kakak sulungnya itu. Barulah Raden Rama melontarkan sebuah kebijakan: memberikan sepasang terompahnya sebagai simbol (wakil) dirinya menjadi ‘raja’ yang diemban oleh Raden Barata. Barulah Raden Barata menerima dan kembali ke istana Ayodya.

Batara Kala Lahir
Pada suatu saat kahyangan geger kena pengaruh Batara Kanekaputra, cucu Sang Hyang Nurrada yang sedang bertapa sambil menggenggam Cupu Retna Dumilah. Batara Guru segera memerintahkan para dewa untuk menghentikan tapa Sang Hyang Kanekaputra. Namun, para dewa gagal menunaikan tugas itu karena kalah sakti.

Akhirnya, terpaksa Batara Guru turun tangan. Sewaktu keduanya sedang berperang tanding, datang Sang Hyang Nurada melerai mereka. Diambil kese-pakatan, Batara Guru harus mengakui Kaneputra sebagai saudara tua, sedang Kanekaputra harus membantu tugas-tugas Batara Guru. Agar cucunya itu berhasil dalam tugasnya, Sang Hyang Nurrada lalu menyatu dengan Kanekaputra. Selanjutnya, Kane-kaputra lebih dikenal dengan nama Batara Narada.

Sesudah kesepakatan itu, ternyata Batara Guru masih menginginkan Cupu Retna Dumilah yang dipegang Kanekaputra. Cupu itu dimintanya, tetapi Kanekaputra tidak memberikannya, malahan membuang cupu itu jauh-jauh. Para dewa lalu berusaha menemukan cupu itu, sampai ke bumi lapis ketujuh yang dikuasai Sang Hyang Antaboga. Terjadi perang antara para dewa dengan Sang Hyang Antaboga. Para dewa kalah, dan kembali ke kahyangan.

Ketika para dewa sedang melaporkan kega-galannya pada Batara Guru, datanglah Sang Hyang Antaboga menghadap dan menyerahkan Cupu Retna Dumilah. Namun, sebelum cupu itu sampai ke tangan Batara Guru, para dewa telah lebih dahulu mem-perebutkannya, sehingga cupu itu jatuh, pecah menjelma menjadi seberkas cahaya indah berkemilau. Cahaya itu kemudian berubah ujud lagi menjadi tiga bidadari cantik, masing-masing bernama Dewi Widowati alias Tisnawati, Dewi Sri, dan Dewi Lokati alias Dewi Rumingrat. Walaupun mereka bertubuh tiga, tetapi berjiwa satu, yang kemudian disebut Hapsari Triwati.

Suatu ketika, Batara Guru memeriksa keadaan alam raya, didampingi istrinya, Dewi Uma. Mereka mengendarai Lembu Andini.
Saat senja itu tiba-tiba Batara Guru menyaksikan betis istrinya, langsung timbul birahinya. Batara Guru mengajak istrinya berolah asmara di punggung Lembu Andini. Dewi Uma menolak, padahal saat itu nafsu birahi Batara Guru sudah hampir sampai pada puncaknya. Maka jatuhlah kama benih dewa itu ke permukaan samudra.
Peristiwa ini menyebabkan mereka bertengkar hebat. Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi raseksi (raksasa perempuan) dan diganti namanya dengan Durga, sedangkan Dewi Uma mengutuk suaminya sehingga bertaring.

Sementara itu kama benih Batara Guru yang jatuh di samudra menjelma menjadi makhluk ganas dan rakus, yang ujudnya mengerikan. Makhluk itu segera pergi ke kahyangan dan minta pada Batara Guru agar diakui sebagai anaknya. Tuntutan itu dipenuhi, dan makhluk itu diberi nama Batara Kala. Untuk mengurangi kerakusan Batara Kala, Batara Guru memotong taring anaknya dan dari dua taring itu diciptanya senjata ampuh: Kaladite dan Kalanadah.

Bogadenta dan Tetesan Air Mata Kehidupan
Bogadenta adalah salah satu Sata Kurawa yang terkemuka. Ia juga kadang disebut sebagai Bogadatta, atau juga Bhagadatta. Ia adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dari negara Gandaradesa. Bogadenta terjadi dari tali pusar Suyudana yang hilang saat lahir. Tali pusar itu ditemukan oleh Resi Rasakumala di Padepokan Colomadu yang baru kesepian setelah ditinggal mati istrinya. Oleh Resi Rasakumala, tali pusar itu dicipta menjadi bayi yang diberi nama Raden Trigatra.

Bogadenta dalam wayang Gagrag (gaya) Yogyakarta tergolong tokoh gagahan dengan posisi langak dengan mata thelengan, hidung bentulan, mulut salitan dengan kumis, jenggot dan cambang. Ia memakai mahkota pogag dengan hiasan turida, jamang, sumping, mangkara, dan gelapan utah-utah pendek dengan ukuran yang besar serta memakai rembing. Badannya gagahan dengan ulur-ulur naga mamongsa, memakai praba sebagai lambang kebesaran sebagai raja. Rambut ngore odhol, posisi kaki jangkahan raton dengan dua pasang uncal kencana, sepasang uncal wastra, dodot bermotif parang rusak. Ia memakai kelatbahu naga parangrang, dan gelang calumpringan.

Bogadenta memperoleh kesaktian dari Resi Rasakumala, sampai kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan Padepokan Colomadu. Saat sampai di Astina, seekor Gajah mengamuk dan mengejar seorang putri. Ia berhasil menolong putri tersebut dan menundukkan sang gajah dengan meloncat ke atas leher, menunggangi dan menekan kepala sang Gajah hingga tak berdaya. Gajah itu kemudian menjadi kendaraan Bogadenta dan diberi nama Murdaningkung, sedang sang putri yang bernama Murdaningsih menjadi srati atau pawang.

Dalam perang Bharatayudha, bersama pasukan dari Turilaya, Bogadenta menjadi panglima perang Kurawa yang berani dan mampu mengobrak-abrik pertahanan Pendawa. Bogadenta bersama gajah Murdaningkung, dan srati Dewi Murdaningsih menjadi pasangan yang menakutkan lawan dan tak terkalahkan. Uniknya, kesaktian mereka terletak pada tetesan air mata. Bila salah satu diantara mereka mati, maka tetesan air mata dari yang lain akan membuat yang mati hidup kembali. Sebuah kesaktian yang tercipta dari kesatuan rasa dan cinta.

Semar Membangun Kahyangan
Alkisah dinegara Amarta Prabu Yudistira ya Prabu Puntadewa,bersama saudara saudaranya sedang membahas sebab kegagalannya dalam membangun negaranya yang selalu longsor dan ditimpa bencana,tiba tiba datanglah Radja Dwarawati yaitu Betara Kresna yang menanyakan ketidak hadiran Semar dalam keraton Amarta dan menyatakan bahwa itulah yang menjadi sebab kegagalan tersebut. Untuk itu diperintahkanlah Arjuna untuk memanggil Semar dari Karangkabujutan untuk menghadap ke Amarta.

Namun belum sempat Arjuna berdiri datanglah Petruk menghadap dalam pertemuan tersebut yang memberitahukan bahwa dia diperintahkan Semar untuk mengundang kelima Pendawa untuk menuju Karangkabuyutan dengan membawa tiga pusaka kerajaan untuk membantu Semar membangun kahyangan.

Mendengar hal ini Kresna melarang Para Pandawa untuk berangkat ke Karang kabuyutan,sehingga terjadilah perdebatan dengan Petruk yang hanya sebagai pembawa perintah menolak untuk kembali ke Karangkabuyutan oleh Kresna,dia hanya mau kembali apabila mendapat titah dari Pandawa sehingga Keluar kata kata yang tidak etis oleh Kresna.Akhirnya Petruk disuruh menunggu diluar paseban guna menanti keputusan rapat para Pandawa.

Diluar Paseban Petruk bertemu dengan Antasena putra Bima yang ketiga,dan menceritakan seluruh kejadian dalam paseban tadi,Antasena yang bijaksana berjanji akan membantu Petruk dalam menghadapi tindakan Kresna.

Kresna yang mendengar kalau Semar akan membangun kahyangan mengajak Arjuna ke Suralaya untuk melapor kepada Betara Guru namun juga memerintahkan Gatotkaca,Antareja dan Setyaki untuk mengusir Petruk kembali ke Karang Kabuyutan

Adapun Prabu Yudistira bersama Bima Nakula dan Sadewa,merasa bimbang tidak mengabulkan permintaan Semar segera menuju Keetempat Pusaka Kraton atas usul dari Sadewa untuk mencari petunjuk.Mendadak ketiga Pusaka Kraton Amarta melesat hilang menuju Karangkabuyutan.

Melihat kejadian tersebut Keempat saudara ini segera menyadari dan secara diam diam berangkat ke Karangkabuyutan lewat pintu belakang istana. Adapun Setyaki,Antareja dan Gatotkaca yang diperintahkan Kresna mengusir Petruk ternyata tidak mampu menghadapi Petruk yang telah bersatu dengan Antasena didalam tubuhnya,baru ketika menerima titah dari Arjuna Petruk mau mematuhinya pulang terbang ke Karangkabuyutan dibantu Antasena.bersama Gatotkaca,Antareja dan Abimanyu

Setiba di Suralaya Kresna menghadap Betara Guru melaporkan rencana Semar membangun Kahyangan menyaingi Suralaya,mendengar laporan ini Betara Guru memerintahkan Betari Durga dan Betara Kresna untuk menghalangi rencana Semar tersebut.

Di Karangkabuyutan Semar menerima kedatangan Prabu Yudistira,Bima Nakula dan Sadewa bersama ketiga Pusaka Kraton Amarta yang telah tiba terlebih dahulu bersama Petruk dan putra putra Pandawa.Semar agak kecewa karena kedatangan Pandawa hanya Empat orang namun segera melakukan upacara ritual dengan memasukkan keempat bersaudara tersebut menjadi satu kedalam tubuh Semar.

Ternyata didalam tubuh Semar tersebut bersemayam Sanghyang Wenang yang memberikan petunjuk wejangan hidup dan ilmu yang sangat berarti bagi para Pandawa,dan memerintahkan untuk bertapa selama sepuluh hari kepada keempat saudara tersebut.

Adapun Putra Pandawa bersama Petruk dan Bagong dan Gareng yang menjaga,diganggu makhluk halus Maling sukma menjadi saling bunuh,namun segera diatasi oleh Semar dan diberikan mantra untuk menghadapi segala kejahatan yang datang.

Kresna yang menyamar menjadi Raksasa sebesar bukit ternyata tidak mampu menghadapi mantra tersebut demikian pula Arjuna yang menyamar menjadi harimau yang sangat besar menjadi lemas dan tertangkap oleh para Putra Pandawa serta meminta ampun kepada Semar,

Kresnapun mendapat marah dari Semar karena sebagai raja tidak waspada dan melakukan tindakan tanpa memeriksa terlebih dahulu duduk perkaranya.

Bahkan Semar marah kepada Betara Guru sehingga berangkat ke Suralaya,serta mengobrak abrik Suralaya tidak ada satupun senjata yang mampu melumpuhkan Semar sehingga Betara Guru melarikan diri ke Karangkabuyutan,namun kemarahan Semar tidak dapat dihindari dimanapun Batara Guru bersembunyi selalu ditemukan oleh Semar,hingga Betara Guru meminta Perlindungan para Pandawa dan meminta ampun kepada Semar atas segala kesalahannya.

Setelah kemarahan Semar mereda dan mengampuni Betara Guru maka kembalilah Betara Guru ke Suralaya

Wahyu Makutharama
Duryodana raja Ngastina duduk di atas singgasana, dihadap oleh Baladewa raja Mandura, Basukarna, Pendeta Drona, Patih Sakuni dan beberapa pegawai kerajaan Ngastina. Mereka membicarakan wahyu yang akan turun ke dunia. Raja Duryodana ingin memperoleh wahyu itu, lalu minta agar Adipati Karna bersedia mewakili untuk mencarikannya. Adipati Karna bersedia, lalu pergi bersama Patih Sakuni dan beberapa warga Korawa meninggalkan istana. Prajurit Korawa ikut mengawal perjalanan mereka.

Kresna menjadi pertapa bernama Bagawan Kesawasidi, bertempat di pertapaan Kutharunggu. Sang Bagawan dihadap oeh Anoman, Resi Maenaka, Yaksendra dan Gajah Setubanda. Adipati Karna dan Patih Sakuni datang menghadap sang Bagawan, minta Wahyu Makutharama yang sekarang ada pada Bagawan Kesawasidi. Bagawan Kesawasidi mengaku bahwa wahyu tidak ada pada dirinya. Adipati Karna tidak percaya, maka terjadilah perselisihan. Adipati Karna menyerang, tetapi dilawan oleh Yaksendra dan Yajagwreka. Bagawan Kesawasidi tidak senang melihat pertengkaran itu, maka Resi Anoman diminta melerainya. Adipati Karna melepas panah Wijayandanu, tapi panah ditangkap oleh Resi Anoman. Panah diserahkan kepada Bagawan Kesawasidi. Adipati Karna putus asa, tidak melanjutkan perkelahian. Bagawan Kesawasidi menyalahkan sikap Anoman. Resi Anoman merasa salah, lalu minta petunjuk. Resi Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Resi Anoman kemudian kembali ke Kendhalisada.

Arjuna dan panakawan menjelma menjadi seorang begawan, dan sekarang ingin bersatu dengan Hyang Suksma Kawekas. Selama bersamadi ia mendapat petunjuk agar menemui Bagawan Kesawasidi. Bagawan Wibisana menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Ia minta penjelasan cara mempersatukan diri dengan Hyang Suksma Kawekas. Bagawan Kesawasidi keberatan untuk menjelaskannya, lalu terjadi perkelahian. Bagawan Kesawasidi dipanah Wibisana dengan panah pemberian Ramawijaya. Seketika Bagawan Kesawasidi berubah menjadi raksasa besar dan dahsyat. Bagawan Wibisana menghormat dan minta ampun. Bagawan Kesawasidi kembali ke wujud semula, lalu bersamadi. Bagawan Wibisana ikut bersamadi. Setelah selesai, Bagawan Kesawasidi minta agar Bagawan Wibisana membuka jalan untuk air suci. Bagawan Wibisana mendapat air suci, lalu akan kembali ke sorga. Di tengah perjalanan ia melihat penderitaan suksma Kumbakarna. Suksma Kumbakarna mengganggu suksma Wibisana. Maka suksma Kumbakarna disuruh mencari Wrekodara di Marcapada.

Wrekodara mencari saudara-saudaranya. Di tengah jalan ia digoda oleh suksma Kumbakarna. Wrekodara marah, mengamuki Kumbakarna yang kadang-kadang tampak, kadang-kadang hilang. Akhirnya suksma Kumbakarna masuk ke betis Wrekodara sebelah kiri. Kemudian Wrekodara pun melanjutkan perjalanan.

Arjuna menghadap Bagawan Kesawasidi di Kutharunggu. Bagawan Kesawasidi tahu bahwa Arjunalah yang pantas ditempati Wahyu Makutharama. Bagawan Kesawasidi memberi nasihat dan menyampaikan ajaran Rama kepada Wibisana yang disebut Hasthabrata. Setelah selesai memberi wejangan dan ajaran, Bagawan Kesawasidi menyerahkan senjata Kunta kepada Arjuna. Arjuna menerima Kunta, menghormat, lalu pergi mendapatkan Karna.

Arjuna menemui Karna, menyerahkan senjata Kunta. Karna menerima senjata, kemudian berkata ingin memiliki Wahyu Makutharama. Arjuna mejelaskan makna wahyu itu, dan berkata bahwa dirinya yang memilikinya. Karna ingin merebut wahyu tersebut, maka terjadilah perkelahian di antara mereka. Karna merasa tidak mampu lalu mengundurkan diri. Arjuna kembali ke pertapaan Kutharunggu. Wrekodara telah datang menghadap Bagawan Kesawasidi. Tiba-tiba datang dua kesatria bernama Bambang Sintawaka dan Bambang Kandhihawa. Mereka ingin menaklukkan Bagawan Kesawasidi dan Arjuna. Akhirnya terjadi perang tanding. Bagawan Kesawasidi melawan Bambang Sintawaka, Arjuna melawan Bambang Kandhihawa. Bagawan Kesawasidi berubah menjadi Kresna, Bambang Sintawaka menjadi Sembadra, dan Bambang Kandihawa menjadi Srikandi.

Mereka senang dapat bertemu dan bersatu kembali, kemudian kembali ke negara, berkumpul di Ngamarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s