Lakon Wayang Part 39


Antarja Lair
Di negara Saptapratala, Hyang Anantaboga, resi Abiyasa, para Pandawa, berkumpul untuk menunggu Dewi Nagagini yang akan melahirkan putera, berkatalah resi Abiyasa,”Hyang Anantaboga perkenankanlah
nagagini saya bawa ke negara Amarta, jika bayi telah lahir, akan saya serahkan kembali .” Hyang Anantaboga menyetujuinya, dan berangkatlah Resi Abiyasa dengan Dewi Nagagini beserta pada Pandawa kembali ke Amarta. Sesampainya di Amarta telah hadir pula Hyang Kanekaputra dan para bidadari, berkatalah Hyang Narada,”gara-gara telah terjadi , tak lain dan tak bukan, titahku resi Abiyasa akan menurunkan ke-alusan-nya Gandamana, lagipula aku datang di Amarta atas nama Hyang guru, untuk menyaksikan kelahiran bayi Nagagini”. Tak lama setelah Hyang Narada bersabda, lahirlah bayi dari kandungan Dewi Nagagini.
Resi Abiyasa diberitahu oleh Hyang Kanekaputra, bahwa Hyang Guru berkenan memberi nama kepada si bayi: Senaputra, Antarja, lagipula diberi wahyu kesaktian racun hru pada gigi taringnya si bayi. Untuk mendapatkan kelemasan ototototnya, diseyogyakan si bayi diadu perang, dikemudian hari bayi akan menjadi jagonya para dewa. Setelah Hyang Narada selesai bersabda, kembalilah ke Suralaya diiring pada bidadari . Negara Amarta pada waktu yang bersamaan , dikepung oleh musuh, raja dari Paranggumiwang, bernama Prabu Salksadewa, datang akan menuntut balas dendam kematian ayahnya prabu Kaskaya, yang dibunuh oleh prabu Pandudewanata, ayah dari Prabu Yudistira dari negara Wanamarta.
Berkatalah Hyang Anantaboga,”Biarlah si Antarja menghadapi musuh dari Paranggumiwang, Werkudara bimbinglah puteramu ke medan laga”. Prabu Saksadewa mati oleh Anantareja, prajurit Paranggumiwang, patih Kalasudarga, emban Saksadewi tak dapat pula menandingi Antarja, mati kesemuanya oleh putera Raden Arya Werkudara, Antareja. Seluruh istana besukacita merayakan kemenangan, Hyang Ananboga membawa cucunya Raden Anatareja kembali ke Saptapratala.

Arjuna Lair
Syahdan Hyang Siwahbuja, menerima Hyang Narada dan mendengarkan laporannya, bahwasanya gara-gara terjadi, dikarenakan Dyah Maerah permaisuri raja Mandura dan Dyah Kuntinalibrata permaisuri prabu Pandudewanata dari kerajaan Astina, keduanya mereka mengandung dan sudah masanya bayi lahir, akan tetapi hal tersebut hanya menunggu sabda Hyang Siwahbuja.
Kepada Hyang Narada, Hyang Guru bersabda,”Wahai kakanda Hyang Narada, sampaikanlah pesanku kepada Hyang Wisnu dan Sri, bahwasanya kepada mereka saya perintahkan untuk menitis kepada Dyah Maerah dan Dyah Kuntinalibrata. Wisnu, seyogyanya kehalusannya nanti pada Pandawa, yaitu bayi yang akan terlahir berilah nama raden Arjuna, juga Pamadi, kewadagannya nantinya pada bayi yang akan terlahir dari Dyah Maerah, berikan nama raden Narayana, juga Kesawa. Sri juga demikian, kehalusannya
pada Dyah Wara Subadra, dan kewadagannya pada Dyah Jembawati berikan juga nama Dyah Nawangsasi.”, mundurlah Hyang Narada, dan setelah kepada mereka dijelaskan perintah Hyang Padawinenang, keduanya dibawa oleh Hyang Narada, turun ke bumi, bukan lagi berujud dewa, akan tetapi dalam bentuk cahaya.
Prabu Basudewa, raja Mandura, mendapatkan wisik dewata, bahwasanya kelak Dewi Maerah permaisuri raja, akan melahirkan bayi “gundangkasih”, satu nantinya berwujud putih dan satu hitam, pula dewa bersabda nantinya yang putih adalah penjelmaannya Hyang Basuki, adapun yang hitam Hyang Wisnu.
Adapun permaisuri yang muda, Dewi Badrahini, akan melahirkan seorang puteri, itu pula besok akan ada bidadari, Dewi Sri yang menjelmanya kepada sianak yang akan terlahir.
Terdengar berita, bahwasanya Dewi Kuntilanibrata, permaisuri raja Astina, Pandudewanata sudah masanya akan melahirkan bayi, akan hal itu sang prabu Basudewa berkehendak akan menghadirinya ke Astina. Di Astina Pandudewanata menungguhi Dewi Kuntinalibrata melahirkan bayinya. Hayu-hayu, bersabdalah Hyang Narada kepadanya dengan diiring para bidadari, dengan mengheningkan cipta, suatu cahaya berlalu sudah masuk ke kandungan Dyah Kunti, terlahirlah bayi dari kandunagn Dewi Kunti, dengan disaksikan pula bagawan Kresnadipayana, demikian pula Hyang Endra. Seorang bayi terlahir lelaki, oleh Hyang Endra bayi diangkat menjadi putera, diberinya nama Endratanaya, pula diberi senjata yang berupa panah bernama Bramasta. Hyang Endra dan Hyang Narada setelah selesai menunaikan tugasnya segera kembali ke kahyangan.
Pada kalanya prabu Pandudewanata menjamu prabu Basudewa, prabu Bismaka, dengan dihadap pula para punggawa kerajaan, seorang prajurit juga melaporkan kepada sang prbau, musuh dari negara Srawantipura, prabu Ardawalika datang, maksud akan membalas dendam kematian bapaknya dari Palasara.
Prabu Pandudewanata memerintahkan kepada segenap wadya supaya menanggulangi musuh yang datang, resi Abiyasa memerintahkan kepada Arya Widura, dan Arjuna supaya dibawa pula dalam medan peperangan melawan Ardawalika.
Prabu Ardawalika dapat dibunh Arjuna, dan mengancam,”Hai Arjuna, akan kubalas kematianku pada kalanya Baratayuda”’ sang Arjuna menjawabnya,”Besok ataupun sekarang, bagiku siap menanggulanginya.”
Widura dan patih Arya Gandamana memunahkan musuh-musuh dari Srawantipura, bala yaksa mati terbunuh kesemuanya. Seluruh istana Astina, sangat bersenang hati, musuh telah sirna, mereka merayakannya dengan segenap anggota keluarga istana.
Arjuna Terus 1
Raja Astina Prabu Suyudana berkenan duduk di singgasana kerajaan, dihadap oleh Pandita Praja Dhahyang Durna, Adipati Karna, Patih Sakuni, saudara-saudara raja tampak juga Raden Arya Dursusana, Raden Arya Kartamarma, Raden Arya Jayadrata, Raden Arya Durmagati, Raden Arya Citraksa dan Raden Arya Citraksi.
Konon di pasewakan Prabu Suyudana menguraikan keheranannya perihal berita yang tersiar bahwasanya saudaranya Pandawa mengalami keelokan-keelokan kehidupannya, yang tak lain tentu atas perkenan dewa. Untuk jangan sampai raja selalu dirundung keheranan, dikeluarkanlah perintah untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Tugas diberikan kepada Patih Arya Sakuni, Dipati Karna beserta para Korawa. Selesai perintah raja, pertemuan di pasewakan pada waktu itu segera dibubarkan. Raja meninggalkan pasewakan, selanjutnya berkenan bertemu dengan permaisuri Dewi Banowati. Kepada sang Permaisuri dijelaskan, bahwasanya atas kehendak raja telah diutus Patih Sakuni, Dipati Karna dan para Korawa pergi ke praja Amarta, untuk menyatakan kebenaran berita, bahwasanya Pandawa mengalami keelokan-keelokan dalam kehidupannya.
Konon Sri Kresna raja di negara Dwarawati sangat rindu kepada adik-adiknya Pandawa, kepada mereka yang menghadapnya, yalah putra mahkota Raden Arya Samba, Raden Arya Setyaaka dan Raden Arya Setyaki, Patih Udawa diperintahkan untuk tetap berada di istana. Sesuai titah raja, segera Sri Kresna melaju ke praja Amarta.
Di Kerajaan Guwamiring, Prabu Jatayaksa sedang mengadakan perembukan dengan Patih Jataketu, dan emban raja bernama Jatayaksi. Permasalahan berkisar kepada tersiarnya berita, bahwasanya raja dari Kerajaan Srawantipura bernama Prabu Sukendra berputra-putri bernama Dyah Sarimaya yang teramat elok parasnya. Raja Guwamiring berketetapan diri untuk melamarnya, kepada punggawa praja ialah dtya tertua bernama Kalameru diserahi tugas menyampaikan surat lamaran ke hadapan raja Srawantipura. Setelah diterima perintah raja, bermohon dirilah Kalameru untuk melaksanakan tugas raja. Kepergiannya disertai wadyabala Kerajaan Guwamiring parjurit andalan raja kesemuanya berwujud raksasa si Kalayaksa, Kalanindita, Kalakarawu. Di pertengahan perjalanannya mereka bertemu dengan wadyabala dari Kerajaan Astina, terjadilah perselisihan rembug sehingga memuncak menjadi peperangan. Wadya yaksa terpaksa mundur tak tahan menghadapi wadyabala Astina, namun kedua-duanya menyadari tak perlunya dilanjutkan perselisihan tersebut, sehingga kedua-duanya pun melanjutkan perjalanannya masing-masing.
Di Gunung Retawu, bermukimlah seorang pertapa yang suci bernama Begawan Abiyasa. Konon pada suatu hari dipacrabakan pertapaan Begawan Abyasa menerima kedatangan cucunya yang bernama Raden Angkawijaya. Ditanyailah Raden Angkawijaya, berdatang sembah menceriterakan bahwasanya kedatangannya di pertapaan diutus ayahandanya ialah Raden Arjuna dengan maksud mohon doa restu terkabulkanlah apa yang dicita-citakan ayahandanya. Seetlah sang Begawan memberikan jawaban seperlunya, kepada Raden Angkawijaya dipersiapkan segara meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, untuk segera kembali diiringikan Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk.
Di Kerajaan Srawantipura Prabu Sukendra membicarakan perihal keadaan putra-putrinya yang bernama Dyah Sarimaya dengan Patih Kalakismaya. Raja bersabda, ” Wahai Kakanda Patih Kalakismaya, alangkah sedihnya keadaan saya ini. Bukanlah aib yang kusandang,melihat putriku Dyah Sarimaya mengandung tak tetntu ayahnya? Justru keadaan ini lebih mempersulit lagi, sebab banyak sudah para ratu lain negeri yang mengajukan lamaran, bagaimana sikapku menghadapi mereka Paman Patih?.” Patih Kalakismaya mempersilakan, sebaiknya kepada putri Sarimaya ditanyai saja, bagaimana duduk perkara sebenarnya. Raja menerima usul Patih Kalakismaya, segera menemui putrinya di dalam kraton.
Kepada Dyah Sarimaya raja bertanya,” Wahai buah hatiku, Anakku Sarimaya, cobalah berterus-terang ceritakanlah kepada aku, bagaimana asal-mulanya anakku mengandung? Dan siapakah gerangan yang telah berbuat denganmu itu?.” Dyah Sarimaya dengan berterus-terang melaporkan keadaan dirinya dari awal sampai akhir, bahwasanya sampai dalam keadaan mengandung, sebab bertemu dengan seorang satriya Madukara bernama Raden Arjuna. Agaknya keterangan yang jujur dari putri Sarimaya tak dapat begitu saja diterima oleh Prabu Sukendra. Tampak raja sangat meluap amarahnya, kepada putranya bersabdalah sang Raja, ” Wahai Anakku Mayakusuma, coba perhatikan kejadian kakakmu itu, sudah mengandung tak keruan lagi lakinya. Bagiku hidup di dunia ini sudah tak ada gunanya lagi, aib yang kuderita. Tak pantaslah bagi seorang raja yang disegani oleh para raja negeri lain, berputra tak keruan tingkah-lakunya, sebaiknya aku tak suadi melihatnya saja,” kepada Raden Mayakusuma dan Patih Kalakismaya diperintahkan untuk segera menghukum Dyah Sarimaya, dengan jalan dibakar hidup-hidup. Perintah segera dilaksanakan, Dyah Sarimaya tampak terbakar di api unggun, namun tak mati. Kelihatan Raden Arjuna di dalam api unggun itu bertemu dengan istrinya ialah Dyah Sarimaya. Setelah berpesan kepada Dyah Sarimaya, Raden Arjuna kembali ke praja Madukara.
Di Kearajaan Amarta, Prabu Puntadewa menerima kedatangan raja Dwarawati Prabu Kresna, tampak juga hadir Raden Arya Wrekodara, Raden Nakula, dan Sadewa. Pembicaraan berkisar perihal Raden Arjuna yang sudah sekian lamanya tak tampak sowan ke praja Amarta. Selagi mereka berbincang-bincang masuklah Adipati Karna dan Patih Arya Sakuni diiringi pula oleh para Korawa. Raden Arya Dursasana, Raden Arya Kartamarma, Raden Arya Durmagati, Raden Arya Jayadrata, Raden Arya Citraka, dan Raden Arya Citraksi.
Seluruh yang hadir membulatkan tekad untuk menemui Raden Arjuna di praja Madukara.
Arjuna Terus 2
Raden Arjuna yang bergelar Sang Prabu Arjuna sedang duduk dihadap oleh putra-putranya, Raden Arya Gatutukaca, Raden Angkawijaya, Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Hari itu Prabu Arjuna berkenan memberikan perintah, ” Wahai Putra-pitraku, hari ini siapa saja yang berkunjung ke Madukara, hendaknya tak melambung keris (senjata),” para putra mengiyakan perintah, pamandanya. Segera Prabu Arjuna masuk kedalam kedaton, para putra berjaga-jaga kalau ada tamu berkunjung ke Madukara. Tak lama datanglah Sri Kresna dan Raden Arya Wrekodara, Raden Arya Gatutkaca berdatang sembah kepada kepada ayahandanya Raden Arya Wrekodara menyampaikan pesan Prabu Arjuna, jika hendak masuk ke Madukara keris harap ditanggalkan. Peringatan yang disampaikan oleh putranya Raden Arya Gatutkaca dianggap oleh Raden Wrekodara agak janggal, tak layak lagi seorang ksatriya menanggalkan kerisnya, apa lagi kelengkapan sopan- santun berbuasana. Dalam benaknya Raden Wrekodara mengguman,” Ah, ada-ada saja Arjuna ini “, segera segala peringatan tak diindahkannya, masuklah Raden Arya Wrekodara ke dalam ruangan tamu di praja Madukara. Namun apa yang terjadi, selagi melangkahi pintu utama, Raden Arya Wrekodara sudah berubah warna, berganti menjadi wujud seorang wanita. Menyadari dirinya telah berubah jenis, undurlah Raden Arya Wrekodara mengurungkan niatnya. Disusul kemudian oleh Sri Kresna, Raden Angkawijaya menyongsongnya, dan berdatang sembah sambil berkata. ” Uwa Prabu Kresna, Ramanda Arjuna berpesan semua tamu yang masuk ke dalam praja Madukara, mohon senjata ditinggalkan”‘ namun Prabu Kresna pun tak menuruti permintaan Raden Angkawijaya. Selagi memaksa masuk ke dalam, berubah pula keadaan Prabu Kresna menjadi wanita. Sri Kresna menyadarinya, agaknya merasa malu tak mengindahkan permohonan Raden Angkawijaya, baliklah Sri Kresna dengan tak mengucap sepatah kata pun kepada Raden Angkawijaya. Namun dalam hatinya sangat masgul, apakah gerangan yang terjadi dengan adiknya Arjuna bertingkah sedemikian rupa. Untuk meyakinkan keadaan tersebut, lajulah Sri Kresna terbang menuju ke tempat Dewa Suralaya. Tak lain akan mencari sebab-musabab kejadian tersebut.
Di kadewatan Suralaya, Hyang Girinata berembug dengan Hyang Narada, sabda Hyang Girinata. ” Kakanda Narada, apakah gerangan yang menjadikan gara-gara (huru-hara) di lingkungan Suralaya ini?”. Hyang Narada melapor pada Hyang Girinata, bahwasanya Suralaya, bahwasanya Suralaya dalam keadaan garagara tak lain dikarenakan Prabu Kresna naik ke kadewatan. Belum usai Hyang Narada melapor, menghadaplah Sri Kresna kepada Hyang Girinata menceriterakan bahwasanya diretyapada Arjuna sedang mempertontonkan kesaktiannya, yang tak ubahnya seperti lalaning jagat. (Lalaning Jagad dapat diartikan bahwasanya Janaka menjadi jagonya para dewa, dikarenakan kesaktiannya ). Hyang Siwah setelah mendengar laporan Sri Kresna amat murka, Hyang Narada diutusnya kemretyapada untuk menemui
Arjuna, dan berangkatlah Hyang Narada melakukan tugas tersebut. Sampailah sudah di praja Madukara, Raden Arya Gatutkaca menyongsong kedatangan Hyang Narada, tak ketinggalan Raden Angkawijaya.
Dengan segala kerendahan hati kedua ksatriya memberitakan perihal segala peraturan tata cara yang dipesankan oleh ramandanya Prabu Arjuna, ialah barang siapa yang akan memasuki praja Madukara tak diperkenankan membawa serta senjata pada dirinya. Hyang Narada tentu saja tak dapat menerima perlakuan peraturan yang sedemikian itu, apa lagi merasa dirinya sebagai seorang dewa dan menjadi utusan Hyang Girinata. Murkalah Hyang Narada kepada kedua istrinya tersebut, memaksakan dirinya untuk masuk melangkahi pintu gapura utama Madukara. Apa yang terjadi, tak ubahnya seperti yang terdahulu, barubah pulalah rupa dari dirinya sudah berubah menjadi wanita segera meninggalkan pura Madukara, kembali melapor ke Suralaya. Adapun Sri Kresna bersama-sama Raden Arya Bima, hanya tertegun saja melihat keadaan demikian itu.
Di Kerajaan Amarta, Sri Yudistira menerima kadatangan Adipati Karna beserta Patih Arya Sakuni dan para Korawa. Tampak tak jauh dari Sri Yudistira, Raden Nakula, Raden Sadewa. Agaknya setelah tugas penyelidikan Adipati Karna dan Patih Arya Sakuni cukup membawa bukti-bukti, bermohon dirilah mereka balik ke nagara Astina.
Konon Sekermbalinya Hyang Narada dari Madukara, Hyang Siwah segera turun kemretyapada untuk menemui Arjuna, tak lupa Hyang Narada tutut serta mengiringinya. Di pura Madukara Raden Arjuna yang sedang dihadap oleh Raden Gatutkaca,, Raden Angkawijaya menerima kedatangan Hyang Siwah dan Hyang Narada. Setelah bertatap muka dengan Arjuna, Hyang Siwah menyadarinya bahwasanya bukan Arjuna, yang dihadapinya, malainkan Sang Hyang Jati wisesa. Bersujudlah Hyang Siwah di hadapan Sang Hyang Jatiwisesa, dan setelah diberi uraian dan penjelasan, bermohon dirilah Hyang Siwah untuk kembali ke kahyangan Suralaya beserta Hyang Narada. Sri Kresna dan Raden Wrekodra yang hadir pula di pura Madukara diberitahu oleh Sang Hyang Jatiwisesa, bahwasanya sesungguhnya Raden Arjuna menjadi
lelananging jagat jagonya para dewa dalam membrantas kejahatan-kejahatan di dunia ini. Setelah berpesan, Hyang Jatiwisesa meninggalkan tubuh Arjubnam kembalilah dalam keadaan sebenarnya. Para keluarga merangkul Raden Arjuna, seisi pura Madukara diliputi kebahagiaan. Namun suasana yang hanggarbinggar itu tak berlangsung lama. Justru para Korawa yang dipimpin oleh Adipati Karna mengadakan pembakaran. Banyak bangunan di Madukara yang terbakar, Raden Arya Gatutkaca dan Raden Angkawijaya diperintahkan untuk mengundurkan musuh yang ternyata mereka saudara sendiri, dari Korawa. Kadua ksatriya mengamuk bagaikan banteng yang terluka, para Korawa tak tahan menghadapi ulah kedua ksatriya tersebut dalam medan laga. Ajhirnya mundurlah mereka kembali ke negara Astina.
Kembalilah pura Madukara diliputi kesenangan, Sri Kresna setelah melepaskan rindunya kepada Raden Arjuna berkenan mohon diri kembali ke negara Dwarawati. Raden Arya Wrekodara pergi ke praja Amarta untuk melapor kepada Raja Yudistira, perihal kejadian-kejadian tersebut.
Aryapabu Rabi
Syahdan, Suralaya terancam ketentramannya oleh Prabu Sasradewa , raja dari negaa Guwamiring, yang
berkehendak mempersunting bidadari kahyangan, yang bernama Dewi Rumbini, apalagi setelah bala
tentaranya yang dipimpin oleh Kalasaramba, sama sekali tak mendapatkan hasil, segenap wadyabala
Guwamiring dikerahkan untuk menggempur ka-Endran, dan mendaratlah mereka digunung Jamurdipa.
Hyang Girinata, bersabda kepada Hyang Narada, hanya Arya Prabulah yang jago para dewa, untuk mengundurkan wadyabala dari Guwamiring, untuk membawanya arya Prabu ke kahyangan, berangkatlah Hyang Narada mencarinya. Setelah didapatnya, dan menyatakan kesanggupannya, maka Arya prabu dibawa Hyang Narada ke Suralaya dimedan laga tak ayallah telah banyak berkumpul prajurit-prajurit dari Guwamiring, Arya Prabu untuk kali ini bisa dikalahkan oleh Sasradewa, dengan kesaktian raja Guwamiring, Arya Prabu dihembus melayang jatuh sangat jauh, Dikala Prabu Pandudewanata, raja Astina sedang mengadakan perburuan hewan-hewan dihutan Jatirokeh, didapatkannya adiknya Arya Prabu jatuh dari akasa, tak sadarn diri lagi Arya Prabu. Demikian pula Hyang Narada juga sudah berada disekitar tempat kejadian tersebut, Arya Prabu disembuhkan oleh Hyang Narada dan kepadanya pula oleh Pandudewanata dipesan banyak-banyak, yang akhirnya kmebali ke medan laga, Hyang Narada kembali terlebih dahulu.
Tak ayal lagi, Prabu Sasradewa, dapat dibunuh oleh Arya Prabu, demikian pula patihnya, Kalayaksa juga mati terbunuh, sisa prajurit dari Guwamiring melarikan diri. Oleh Hyang Girinata, kepada Hyang Narada diperintahkan untuk mengawinkan Arya Prabu dan Dewi Rumbini, dengan restu Hyang Endra terlaksanalah perkimpoian tersebut. Arya Prabu diperintahkan untuk segera kembali ke Mandura, dan mohon dirilah Arya Prabu beserta istrinya, Dewi Rumbini.
Prabu Basudewa, raja Mandura dihadap oleh adiknya Raden Arya Ugrasena, menerima laporan Patih saragupita, bahwasanya tugas untuk menemukan adik rajanya, Arya Prabu gagal . Tak lama, muncullah Arya Prabu beserta istrinya Dewi Rumbini, dilaporkankanlah mulai awal sampai akhir dari perjalanannya,
sukacitalah seluruh isi istana Mandura.
Musuh dari Guwamiring datang, untuk membalas dendam, oleh Prabu Basudewa, Ugrasena diperintahkan untuk mengundurkankannya, dan terlaksanalah, prajurit dari Guwamiring dapat dikalahkan.
Bima bungkus
Anak Pandu dan Kunti yang lahir dalam bungkus dibuang ke hutan Krendawahana, karena tidak ada senjata yang mampu membuka bungkus itu. Destarata menyuruh para Kurawa untuk memusnahkan dengan cara berpura-pura membantu membuka bungkus itu, namun tidak berhasil.
Di pertapaan Rhatawu Bagawan Abiyasa mendapat pertanyaan dari cucunya, Raden Premadi, yang menanyakan keadaan kakaknya yang terakhir dalam bungkus, yang telah beberapa tahun belum juga dapat dibuka. Abiyasa mengatakan kepada Arjuna bahwa saudaranya sedang menjalani kamarnya, ia akan lahir menjadi satria utama, dan akan mendapat wahyu jati.
Keadaan itu menyebabkan adanya kegoncangan di dunia yang terasa pengaruhnya sampai di kahyangan.
Untuk menghentikan kegoncangan itu Batara Guru menyuruh Gajahsena, anaknya yang berupa gajah, memecah bungkus yang akan melahirkan Manusia Sejati, dan memerintah Dewi Umayi agar memberinya teman berupa empat macam warna yang akan melindunginya . Dewi Umayi juga memberi ajaran tentang tujuh macam hal mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sebagai calon Manusia ia harus sanggup mengerjakannya.Diberitahukannya juga bahwa sekarang ia masih berada dalam taraf mertabat Akhadiyat, artinya pada tingkat pertama. Masih jauh perjalanannya menuju martabat Insan Kamil yang merupakan tingkatan Manusia Sempurna. Dalam perjalanannya ia melalui’martabat terakhir’ (martabat wuntat) yaitu permulaan menjadi benih (manusia). Pada martabat Akhadiyat ia diberi nafsu mutmainah yang berwarna putih, selanjutnya diberi bnafsu amarah yang berwarna merah. Ketika memasuki alam jisim (alam jasad) ia telah mempunyai wujud jasmaniah, karenanya mempunyai keinginan makan minum dan bersanggama, tidak berbeda dengan hewan. Bedanya, ia akan diberi budi luhur; namun bila ia menolaknya, ia tidak dapat masuk sorga, ia akan mengembara pada akyan sabiyah. Ketika telah berada pada alam misal diberi nafsu aluamah. Kemudian akan melalui alam arwah karena telah dimasuki roh. Ada sembilan macam roh yang masuk, yaitu : roh ilapi. Roh Robbani, roh Rokhani, roh Nurani, Rohulkudus, roh Rahmani, roh jasmani, roh nabati, dan roh Rewani. Semua itu tadi merupakan badan Hyang Guru yang menggerakkan (tindakan) manusia. Dalam alam Kabir ia telah bersatu dengan sembilan roh (Hyang Guru), ia dipakai sebagai sarana (penampilan Hyang Guru) di dunia. Semuanya telah tertulis dalam Lohkilmakpul yang berupa Ngelmi Kadim.
Setelah selesai diberi ajaran, Dewi Uma memberinya busana berupa cawat kain bang bintulu berwarna merah, hitam, kuning, putih, pupuk, sumping , gelang, porong, dan kuku Pancanaka. Kemudian Dewi Uma minta diri dengan mengatakan bahwa sebenarnya ia telah menyatu dalam dirinya.
Gajahsena turun dari sorga lalu membuka bungkus yang merupakan anak Pandu. Setelah bungkus itu pecah, karena terkeju keduanya lalu berkelahi, Gajahsena dipegang oleh Bratasena dan dibantingnya, jasadnya musna tetapi roh hewaninya masuk ke dalam dirinya.
Ia menanyakan kepada orang yang ada didekatnya siapa dirinya. Orang tersebut, Hyang Narada, mengatakan bahwa ia adalah anak Pandu yang terlahir dalam bungkus. Hyang Narada memberinya nama Bratasena dan diberitahu bahwa neskipun di hadapan Batara Guru ia tidak boleh duduk di bawah dan menyembah, karena ia penjelmaan Hyang Maya dan disayangi Hyang Manon.
Penampilan Bratasena terlihat menakutkan, tinggi besar dan gagah, jika ia berbicara suaranya menggelegar seperti geledek, (kadang-kadang) mengaum seperti singa kelaparan.
Kemudian atas permintaan raja Tasikmadu Bratasena diminta mengalahkan raja raksasa Kala Dahana, patih Kala Bantala, Kala Maruta, dan senapati Kala Ranu. Setelah mereka dikalahkan, roh mereka masuk ke dalam Bratasena . Dengan demikian sifat-sifat unsur alam yang empat yaitu, bumi, api, angin. Dan air telah menyatu dalam dirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s