Lakon Wayang Part 40


Bima Swarga
Nararya Werkudara telah berada di surga, di Padang Bunga ditemani oleh kedua pelayanannya Twalen dan Mredah. Ia ingin mengeluarkan ayahnya, Pandu, yang dimasukkan ke neraka Aweci dalam Bejana Tembaga Yang Berkepala Sapi oleh Batara Yama.
Setelah Nararya Werkudara mengalahkan pasukan Kingkara yang diantaranya terdapat Suratma, Jogormanik, Dorakala dan Mahakala, – mereka adalah penjaga kerajaan Yama-, yang menyerang Wrekudara karena telah menyalahi janji. Werkudara hanya diperkenankan mengeluarkan tiga roh, namun yang dikeluarkan adalah semua roh yang dineraka, karena ketika mencari roh Pandu hampir-hampir tidfak diketemukan, maka bejana itu isinya dituangkannya keluar, roh Pandu diketemukan didasar bejana.
Menurut Werkudara mereka memang hanya merupakan tiga (macam) roh, yaitu laki-laki, wanita, dan banci.
Setelah ia mengeluarkan tulang-tulang Pandu, tulang-tulang itu disembah oleh Kunti dan saudara-saudara Werkudara, demikian juga Werkudara yang ditipu oleh Nakula sehingga memberi sembah. Pandu hidup lagi,
dapat berjalan, namun tidak dapat berbicara. Kunti minta kepada Werkudara agar mencari air suci yang berada di tempat kedudukan Siwa, untuk menyucikan Pandu. Air suci itu dijaga oleh dewa-dewa, Penjaga Dunia Yang Empat dan Sembilan Penjaga Arah Mata-angin, dan terutama Dewa Ludra, dikitari oleh ular, hantu-kepala dan hantu-perut, sedangkan pintunya merupakan roda yang berputar.
Citra Werkudara digambarkan oleh Twalen sebagai manusia kadua setelah Prama-Siwa, serupa dengan Dewa Bayu, dan ia amat mengenal akan hal-hal yang lahir bersamanya, yaitu air ketuban yang disebut Mrajapati terletak di sebelah Timur, bersama Anggapati di Utara, Banaspati di Barat, dan Banaspati-raja di Selatan.Ia mempunyai kemampuan yang besar karena ia adalah Dewa Kahidupan. Ia menguasai panca tanmatra yaitu daya penciuman, daya rasa, daya penglihatan, daya peraba, dan daya pendengaran. Ia menguasai pengetahuan. Ia seorang yang tidak peduli terhadap hidupnya, mati juga baik, demikian pula hidup juga baik. Ia mau mengorbankan dirinya untuk memenuhi permintaan ibunya yaitu mencari air suci.
Setelah sampai di kahyangan Batara Siwa, ia minta air suci tersebut. Dewa-dewa penjaga air suci itu marah dan menyerangnya, namun dapat dikalahkan oleh Werkudara. Mereka minta bantuan Dewa Bayu yang disebutnya Pramajnana, karena atas bantuannyalah Wrekudara lahir ke dunia. Bayu kemudian memerangi Wrekudara, Wrekudara bahkan menyerahkan gadanya, pemberian Kalamaya, anak arsitek Wismakarma yang dapat melarikan diri dari hutan Kandawa yang terbakar pada zaman dahulu ketika ia membangun Indraprasta. Wrekudara dipukulnya dengan gada,lalu mati. Namun Nawaruci yang cintanya kepada Werkudara tidak berkurang, menghidupkannya lagi. Setyiap kali ia dipulul hingga mati oleh Bayu, Nawaruci selalu menghidupkannya. Kemudian muncul Siwatma di atas Werkudara dan Nawaruci di atas Bayu.
Siwatma mengatakan kepada Bayu agar ia tidak memerangi Werkudara. Ia mengijinkan Werkudara mendapatkan air suci, meskipun hanya sedikit, dan memberinya dalam sebuah botol. Dan segera menyuruhnya pergi, karena manusia yang bertulang tidak boleh berada berada di kahyangan.
Twalen memujinya, hanya manusia seperti Werkudara-lah yang dapat melakukan pekerjaan ini secara sempurna, karena dia adalah anak dari Dewa Penguasa Kehidupan Di Tiga Dunia, anak dari Dewa Kehidupan, anak dari Bayu atau Prabancana.
Dengan mendapat air suci itu, Werkudara merasa terbebas, yang juga akan melepaskan Pandu dari neraka dan menghidupkannya.
Kidung Malam 56
Perpisahan

Kebahagian Bimasena juga menjadi kebahagiaan Puntadewa dan adik-adiknya. Tidak seperti yang dikhawatirkan Kunthi, bahwa Puntadewa sebagai saudara sulung akan merasa di langkahi oleh adiknya. Bimasena dan Dewi Nagagini menikmati masa bulan madu yang sungguh membahagiakan. Namun ada saat berjumpa dan ada saat berpisah. Waktu untuk menikmati sebuah kebahagiaan di dunia mana pun tidaklah abadi, bahkan dapat dikatakan terbatas. Demikian halnya dengan pasangan temanten baru Bimasena dan NagaginiMereka boleh puas menikmati waktu bercengkerama yang tidak genap satu tahun. Walaupun begitu, cinta diantara mereka telah membuahkan benih di rahim Dewi Nagagini. Berat rasanya untuk meninggalkan isterinya yang sedang hamil. Namun apaboleh buat tugas sebagai kesatria dan pelindung Ibu dan saudara-saudara berada di atas kepentingan pribadinya. Bahkan sebagai salah satu pewaris tahta Hastinapura, Bimasena bersama Pandhawa berkewajiban berjuang untuk mengembalikan kekuasaan yang sekarang dikuasai oleh warga Korawa. Bagi warga Pandhawa sesungguhnya bukan kekuasaan itu yang ingin dikuasai, melainkan sebagai bukti rasa baktinya kepada rakyat Hastinapura yang mempercayakan tahta Hastinapura kepada putra-putra Pandudewanata. Suara rakyat itulah yang menjadi energi perjuangan untuk meraih kekuasaan.

Dengan alasan itulah Sang Hyang Antaboga menyarankan agar Kunthi dan anak-anaknya, termasuk menantunya segera meninggalkan Kahyangan Saptapratala menuju Hastinapura, untuk menunaikan panggilannya sebagai pewaris tahta.

Pagi-pagi benar, Kunthi, Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula dan Sadewa dan juga Kanana seorang abdi dari Panggomabakan ahli membuat terowongan meninggalkan Kahyangan Saptapertala. Perpisahan yang mengharukan antara Dewi Nagagini dan Bimasena tidak dapat dihindarkan. Namun diantara mereka ada janji untuk saling bertemu kembali agar cinta mereka berdua semakin sempurnya adanya.

Mereka diantar oleh Sang Hyang Antaboga dengan pethitnya atau ekornya. Dan tiba-tiba saja mereka telah berada dipermukaan bumi, yang dipanasi dan diterangi oleh matahari. Semakin lama bumi Saptapertala semakin jauh ditinggalkan. Kunthi dan Para Pandhawa menuju jalan ke Hastinapura sedangkan Kanana menuju ke Panggombakan.

Dikisahkan perjalanan Kunthi dan Pandhawa sampailah di sebuah desa yang sangat subur tanahnya. Tetapi ada keganjilan yang dirasakan. Banyaknya rumah kosong tanpa berpenghuni menimbulkan dugaan ada hal yang tidak beres di desa tersebut. Kunthi dan anak-anaknya beristirhat di salah satu rumah besar yang tidak terurus. Rumput liar di halaman depan dan samping rumah mulai tumbuh lebat. Herjuna mengelilingi rumah tersebut, siapa tahu ada orang yang bisa ditanya perihal desa tersebut. Namun tidak ada satu pun orang yang nampak disekitar rumah. Sadewa dan Nakula merengek minta makan. Kunthi kebingungan. Disuruhnya Bimasena dan Harjuna mencari makan di dusun sebelah yang berpenghuni.

Sepeninggal Bima dan Harjuna dari tempat itu, Kunthi memasang telinganya. Alisnya berkerut, menandakan ada sesuatu yang didengarnya.

“Puntadewa ke sinilah, rupanya ada orang di dalam rumah ini. Coba dengarlah baik-baik. Tidak salahkah pendengaranku bahwa ada beberapa orang sedang berbicara?

Puntadewa mengangguk, menggiyakan pendengaran sang ibu Kunthi, bahwasanya di rumah yang tidak terurus ini masih ada penghuninya.

Siapakah mereka dan apa yang mereka bicarakan? Kunthi dan Puntadewa memasang telinga di dinding bambu yang membujur ke belakang rumah.

Bima, sudah jauh meninggalkan tempat di mana Kunthi, Puntadewa dan kembar berada, tetapi belum juga menjumpai seseorang yang dapat dimintai makan untuk kembar adiknya

Sementara itu sudah beratus langkah Harjuna berjalan belum ada orang yang dijumpai. Harjuna semakin heran. Jika ada perang yang menyebabkan orang di desa ini mengungsi ke luar desa, nyatanya tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat perang. Lalu apa yang menyebabkan desa ini seperti mati? Belum lagi Harjuna memikirkan hal lain, tiba-tiba ia melihat seorang wanita muda yang sedang mencari air di sendang.

Kidung Malam 57
Sagotra dan Rara Winihan
Harjuna sedikit lega, karena pada akhirnya ia mendapatkan seseorang di dusun yang sebelumnya dianggap tak berpenghuni. Dengan perasaan tidak sabar, Harjuna menunggu wanita yang sedang mengambil air, dan kemudian mengikutinya dari belakang. Mengetahui bahwa langkahnya diikuti seorang pria yang belum dikenal, wanita yang membawa kelenting dipinggangnya tersebut mempercepat langkahnya. Bagi Harjuna hal tersebut justru kebetulan, semakin cepat sampai di rumah akan semakin baik, karena dengan demikian, mudah-mudahan ada makanan di rumahnya dan sebagian boleh diminta untuk menolong adik kembarnya yang kelaparan.Setengah berlari wanita yang berwajah manis tersebut menuju pada sebuah rumah yang cukup besar, halamannya luas dan tertata rapi. Sesampainya di depan rumah, dengan tergesa, wanita tersebut membuka pintu yang tidak dikunci, setelah meletakkan kelenthing penuh air di atas amben kayu, wanita tersebut segera memeluk lelaki usia tiga puluhan yang berdiri dibalik pintu.

Rumah besar tersebut adalah Rumah Ki Sagotra, Lurah Desa Sendangkandayakan atau lebih sering disebut desa Kabayakan. Ki Lurah Sagotra masih terhitung pengantin baru, karena belum ada satu tahun ia menikah dengan wanita muda berparas manis yang bernama Endang Sumekti atau Rara Winihan. Namun semenjak menjadi isteri Sagotra, Rara Winihan belum mau memadu asmara. Sagotra pantas prihatin dan bersedih atas sikap isterinya. Namun karena cintanya yang begitu besar kepada Rara Winihan, Sagotra selalu bersabar dalam kesetiaan.

Maka sungguh mengejutkan dan mengherankan ketika tiba-tiba saja, pulang dari mencari air, isterinya mendekap erat-erat dan menyembunyikan wajahnya yang manis kedalam dada Ki Sagotra. Tidak dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ki Sagotra pada saat itu. Karena selama ini, jangankan saling berpelukan, didekati saja isterinya selalu menghindar.

“Kakang tolonglah!, aku takut, aku dikejar-kejar seorang lelaki.”

Wanita muda berparas manis tersebut menempelkan wajahnya di dada laki-laki yang adalah suaminya. Jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Mendapat pengaduan dari isterinya, Ki Sagotra seakan-akan menampakkan kemarahan terhadap lelaki yang sudah berani mengganggu isterinya. Namun sesunguhnya dilubuk hatinya yang paling dalam Ki Sagotra justru berterimakasih kepada lelaki yang telah mengganggunta. Pasalnya gara-gara lelaki tersebut, isterinya mau memeluk dirinya untuk meminta perlindungan.

Dhuh Gusti, beginilah rasanya dipeluk isterinya, dijadikan tempat untuk mengadu dan dijadikan tumpuan perlindungan oleh isterinya. Isterinya yang selama ini tidak menghirauakan dirinya. Ki Sagotra memang ingin menemui lelaki yang telah berani membuntuti isterinya, tetapi tidak untuk memarahinya, melainkan justru ingin mengucapkan terimakasih. Karena secara tidak langsung lelaki tersebut telah membantu menyadarkan isterinya untuk menempatkan suaminya sebagai mana seharusnya.

Ki Sagotra mengelus rambut Rara Winihan dengan penuh cinta, sambil menenangkan hatinya, untuk kemudian keluar menuju ke halaman rumah. Baru beberapa langkah meninggalkan pintu rumahnya, Ki Sagotra terkejut, lelaki yang mengganggu isterinya telah berdiri di halaman. Wajahnya amat tampan, walaupun memakai pakaian sederhana, kulitnya bersih dan bersinar. Seperti ada yang memerintahkan Ki Sagotra untuk menunduk hormat kepada lelaki tersebut. Dengan sikap bak seorang abdi kepada tuannya. Ki Sagotra bertanya mengenai nama, asal muasal dan keperluannya lelaki asing tersebut datang di Desa Kabayakan.

“Namaku Harjuna, anak Prabu Pandudewanata yang nomor tiga, aku datang tidak untuk mengganggu rumah tangga kalian, tetapi aku ingin memohon belaskasihan untuk mendapatkan dua bungkus nasi bagi adik kembarku yang kelaparan .

“Adhuh Raden, maafkan aku Lurah Sagotra dan isteriku Rara Winihan ini atas segala tindakan yang tidak pantas kami lakukan terhadap salah satu pewaris tahta Hastinapura.”

Ki Lurah Sagotra yang kemudian diikuti oleh Rara Winihan berjongkok dan menyembah Harjuna.

“Ki lurah Sagotra dan Rara Winihan jangan berlebihan memperlakukan aku, aku tidak membutuhkan perlakuan seperti itu, dua bungkus nasi bagiku sangat berarti untuk menolong saudara kembarku yang menangis kelaparan. Apakah kalian tidak keberatan memberikan dua bungkus nasi sekarang juga?”

“Jangankan hanya dua bungkus nasi, segerobakpun akan kami haturkan sebagai tanda bulu bekti kawula kepada raja.”

“Ki Sagotra, untuk sementara ini aku hanya membutuhkan dua bungkus nasi”

Ki Sagotra dan Rara Winihan segera menghaturkan dua bungkus nasi kepada Harjuna. Sebelum meninggalkan Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan, Harjuna berpesan bahwa sikap bakti antara kawula kepada rajanya tidak mengutamakan hasil bumi yang berupa makanan, melainkan hatilah yang diutamakan. Demikian pula seorang raja hendaknya juga berbakti kepada kawula denga hatinya. Artinya dengan seluruh akal budinya untuk menyejahterakan rakyatnya. Jika hati yang diutamakan niscaya, kesejahteraan yang berupa makanan dan hasil bmi bakal melimpah ruah.

“Jika demikian Raden, pada saatnya aku akan mengorbankan seluruh jiwa ragaku termasuk hatiku demi kejayaan junjungan kami, pewaris tahta Hastinapura yang sah.

“Terimakasih Sagotra, aku mohon pamit.

Kidung Malam 58
Malam Pertama
Ki Sagotra dan Rara Winihan tak pernah berkedhip memandangi Harjuna meninggalkan halaman rumah. Ketika Harjuna tidak kelihatan lagi, kedua pasang mata tersebut saling bertatap. Ada getar menyentuh kalbu. Oh betapa menjejukkan pandangan matamu kakang. kata Winihan dalam hati. Demikian pula Ki Lurah Sagotra pun merasa sesuatu yang istimewa. Mengapa tidak dari dahulu bola matamu kau biarkan telanjang dihadapanku? Keduanya menatap semakin dekat. Dan kemudian rara Winihan menempelkan badannya yang lunak dan hangat ke dalam pelukan Ki Lurah Sagotra. Keduanya berpelukan sangat erat, takut untuk berpisah. Mereka disadarkan, bahwa selama ini mereka telah menyia-nyiakan cinta yang dianugerahkan.“Kakang aku mencintaimu”

“Winihan”

Cukup hanya menyebut namanya saja, setelah itu Sagotra tak kuasa meneruskan kata-katanya. Kebahagiaannya melebihi keindahan kata-kata. Pelukan isterinya yang pasrah, membuat Lurah muda itu terharu. Terharu karena dirinya mulai dipercaya oleh isterinya untuk menjadi pelindung keluarga yang menentramkan.

Senja mulai merambat malam. Bulan separo tanggal telah menggelantung di langit untuk menemani bintang-bintang yang bertaburan menghias langit. Lampu-lampu minyak dan lentera mulai dinyalakan. Baik di dalam rumah maupun di sudut halaman, untuk menyisihkan pekatnya malam.

Di rumah induk bagian tengah sebelah kanan, ada kamar yang disebutnya dengan kamar pengantin. Namun sejak diset pertama kali yaitu pada waktu Sagotra dan Winihan diresmikan sebagai suami isteri hingga sekarang kamar tersebut belum pernah dipakai. Namun walaupun begitu, kamar tersebut selalu harum semerbak, rapi dan bersih. Jika bunga yang ada mulai layu, akan segera diganti dengan yang baru. Setiap hari Sagotra memasuki kamar tersebut dengan tujuan untuk sebuah harapan. Harapan yang selalu dihidupi dan diperbaharui setiap hari. Harapan sebuah kepastian, bahwa pada saatnya nanti ia dan isterinya dapat mengfungsikan kamar pengantin tersebut sebagai mana mestinya.

Malam itu, hari yang ke 369 sejak pernikahannya, Sagotra dan Winihan beriringan memasuki kamar pengantin. Ada tanda-tanda bahwa harapan Sagotra akan segera terwujud. Harapan untuk mengfungsikan kamar pengantin benar-benar sebagai kamar pengantin. Setelah keduanya memasuki kamar, sebentar kemudian suara pintu berderit lembut, dan kamarpun tertutup rapi. Tidak ada lagi sarana yang dapat menggambarkan betapa nikmat dan mulianya malam itu. Malam pertama bagi pasangan Sagotra dan winihan.di kamar pengantin yang telah diset lebih dari setahun lalu. Dan kidung malam pun menggema di dasar sanubari kedua insan yang sedang memadu kasih.

bagaikan anak kidang
haus akan telaga.
entah berapa waktu dapat bertahan
jikalau tak mendapatkan
seteguk pelepas dahaga

beruntunglah ketika kekeringan
belum benar-benar kering
air mata masih menetes
dan cinta pun masih tersisa
langit bermurah hati
mengguyur segar lingga dan yoni
dewa dan dewi kesuburan berdendang suka
membaca mantra asmara

dhuh Gusti …
nikmat-Mu adalah abadi
mengabadikan
nikmat kami
malam ini
malam pertama

“Rara Winihan, apa yang engkau inginkan?

“Anak laki-laki yang gagah dan sakti Kakang?

“Mengapa tidak menginginkan anak perempuan yang cantik?

“Siapakah nanti yang akan melindungi?”

“Tentu saja aku “

“Sungguh Kakang? Jika yang mengancam Prabu Dwaka?”

“E .. e… e….

Mendengar nama Prabu Dwaka atau lebih sering disebut Prabu Baka, Ki Lurah desa Sagotra tersebut mendadak kelu lidah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Badannya menjadi semakin dingin ketika angin pagi yang membawa embun mulai membasahi genteng dan dinding rumah lurah desa Kabayakan. Sagotra menyesali, kenaapa pada saat-saat yang sangat membahagiakan ini tiba-tiba saja pembicaraan mereka meski sampai kepada nama Prabu Baka? Tidak saja bagi Sagotra, nama Prabu Baka adalah nama yang mampu membuat banyak orang ketakutan. Terutama bagi rakyat di seluruh wilyah negara Ekacakra, termasuk desa Kabayakan.

Prabu Dwaka atau Baka adalah raja yang berkuasa di negara Manahilan atau Ekacakra. Ia bertulang besar, berkekuatan seribu gajah dan saktimandraguna. Namun sayang kedahsyatannya sang raja tidak diperuntukan untuk mengayomi kawula, tetapi justru untuk menancapkan sifat arogansi yang tidak manusiawi demi untuk memuaskan nafsu pribadinya. Perlu diketahui bahwa Prabu Baka mempunyai kebiasaan yang mengerikan dan sekaligus menjijikkan. yaitu, setiap bulan tua ia meminta disediakan satu orang manusia untuk disantap. Kebiasaan itulah yang telah menebar rasa takut dan kengerian yang berlebihan bagi setiap rakyatnya. Namun karena dia raja yang berkuasa, kuat dan sakti, tidak ada yang berani menentangnya, termasuk juga Ki Lurah Sagotra.

Ketidak beranian Lurah Sagotra untuk melindungi warganya itulah yang menyebabkan Rara Winihan dan warga Desa Kabayakan kecewa. Padahal sebelum Sagotra dipilih menjadi Lurah, ia dengan lantang berjanji akan melindungi serta membela warganya dari berbagai ancaman bahaya, baik dari dalam maupun dari luar negara.

Namun setelah dipilih dan diangkat oleh penduduk menjadi lurah desa Kabayakan, Sagotra tidak menepati janji. Lurah Muda tersebut tidak berani melindungi salah satu warganya yang diambil paksa oleh utusan Prabu Baka untuk dijadikan korban. Yang lebih memukul warga kabayakan adalah bahwa pengambilan paksa tersebut dilakukan pada saat warga Desa Kabayakan sedang punya gawe, yaitu malam midodareni perkimpoiannya Lurah Muda Sagotra dengan Rara Winihan. Atas kejadian tersebut, warga Desa Kabayakan sangat kecewa dengan sikap Lurah Sagotra yang membiarkan salah satu warganya ditangkap diikat dan dimasukan ke dalam gerobag, untuk kemudian dibawa ke Ekacakra..

Sepeninggal utusan Prabu Baka, desa Kabayakan berkabung Rangkaian Upacara Perkimpoian di rumah Rara Winihan tetap berlangsung, tetapi tidak ada suka cita di sana.. Rara Winihan yang mejadi pusat dan pelaku utama upacara perkimpoian justru menunjukan wajah yang gelap dan sedih. Dibanding Sagotra, Rara Winihan lebih dapat merasakan jeritan ketakutan warga Kabayakan. Ia sangat kecewa mempunyai seorang Lurah yang tidak dapat dijadikan pelinndung warganya. Apalagi Lurah tersebut sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lalu bagaimana jika nantinya dirinya yang terancam? Apakah ia berani melindungi? Aku tidak mau mempunyai seorang suami penakut, tidak berani melindungi isterinya dan tidak peduli dengan rakyatnya.

Oleh karena kekecewaan Rara Winihan atas diri Lurah Sagotra, ia berjanji dalam hati, tidak mau menjadi isteri Sagotra jika Sagotra tidak dapat membuktikan bahwa ia adalah pelindung bagi isterinya dan rakyatnya. Walaupun waktu itu, Rara Winihan tetap diresmikan menjadi Isteri Sagotra, lebih dari setahun ia tidak mau melayani Sagotra sebagai suami. Beruntunglah pada hari ke 369 sejak ia menikah dan sejak tragedi di Kabayakan, pertolongan datang. Ada sebuah peristiwa yang menjadikan Sagotra berperan sebagai pelindung atas Rara Winihan yang ketakutan dibuntuti Harjuna. Dan buahnya adalah: Malam Pertama.

Kidung Malam 59
Harapan Baru
Tidak seperti biasanya, pagi itu dusun kabayakan kelihatan masih sepi, khususnya di rumah kepala desa Kabayakan. Rara Winihan dan Lurah Sagotra belum bangun. Hanya ada dua orang sekabat atau pembantu Lurah yang sedang membersihkan meja kursi di pendapa. Baru setelah tabuh sepuluh, ada satu, dua orang yang mulai berdatangan untuk bertemu dengan Lurah Sagotra.Sementara itu perjalanan Bima dalam mencari dua bungkus nasi untuk adiknya Sadewa dan Nakula bertemu dengan para pengungsi. Dari para pengungsi itulah Bima mendapat keterangan bahwa daerah ini masih dibawah kerajaan Manahilan atau kerajaan Ekacakra. Yang bertahta adalah seorang raja bertulang besar dan bergigi tajam, bernama Prabu Dawaka atau Prabu Baka. Pada setiap bulan sekali Prabu Baka meminta kepada rakyatnya untuk menghidangkan hidangan istimewa berupa ingkung manusia (daging manusia utuh) Tentu saja hal tersebut membuat rakyatnya hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Banyak diantara mereka yang secara diam-diam mengungsi ke negara Pancala untuk meminta perlindungan. Suasana di Ekacakra semakin sepi. Di sana-sini banyak dijumpai rumah tak berpenghuni. Mengetahui keadaan yang seperti itu, Prabu Baka marah-marah. Ia menyerukan agar semua penduduk tidak boleh meninggalkan negara Manahilan. Bagi yang melanggar perintah tersebut akibatnya akan lebih mengerikan.

Sejak diberlakukan aturan itu suasana tambah mencekam. Para warga semakin ketakutan. Mau meninggalkan Ekacakra takut jika ketahuan oleh para perajurit. Tetapi jika tetap tinggal di negara Ekacakra juga takut karena akan mendapat giliran korban keganasan raja. Pantas saja Desa-desa di seluruh pelosok negeri bagaikan desa mati, yang tidak mengungsi lebih memilih bersembunyi.

Para pengungsi yang ketemu Bima disore itu adalah mereka yang mengambil langkah untung-untungan. Dari pada tinggal di Ekacakra hidup dalam kecemasan terus-menerus, lebih baik segera meninggalkan negeri ini. Mereka mencari celah-celah yang kemungkinan besar dapat lolos dari penjagaan perajurit.

Namun ternyata para pengungsi yang ketemu Bima tersebut belum beruntung. Walaupun telah memperhitungkan waktu dan tempat dengan cermat untuk dapat lolos dari pantauan perajurit, ternyata meleset. Ditikungan desa para pengungsi dihadang oleh beberapa perajurit. Walaupun jumlah mereka tidak lebih banyak daripara pengungsi, mereka membawa senja lengkap yang siap merajam atau jika memungkinkan menangkapnya hidup-hidup untuk dipersembahkan kepada Prabu Dwaka

Melihat dan merasakan penindasan dan penderitaan sesama, naluri Bima tergugah. Sebelum para perajurit menyerang para pegungsi yang ketakutan. Bima lebih dahulu menerjang perajurit yang rata-rata berbadan besar dan bergigi tajam. Para perajurit sangat terkejut menghadapi keberanian Bima. Belum pernah rakyat di negeri ini mempunyai keberanian seperti Bima. Terjangan Bima yang menyeruak diantara para pengungsi membuyarkan para perajurit. Beberapa pengungsi yang bernyali menyaksikan sepak terjang Bima dengan penuh takjub. Sedangkan pengungsi yang lain lari bersembunyi. Bima tidak membutuhkan banyak waktu untuk melumpuhkan para perajurit Ekacakra. Tidak ada satu pun yang mampu mengimbangi kesaktian Bima. Belum sampai lecet kulitnya, merela lari ketakutan.

Para pengungsi yang menyaksikan kesaktian Bima bersorak gembira. Sementara pengungsi yang lain keluar dari persembunyiannya. Ucapan terimakasih terlontar tanpa disuruh dari mulut mereka. Wajahnya yang penuh dengan garis-garis ketakutan mulai terurai. Hampir bersamaan, para pengungsi yang telah berkumpul itu menghaturkan sembah kepada Bima.

“Ampun Raden, hamba semua ini orang bodoh, sehingga tidak tahu bahwa pada hari ini, desa kami telah kedatangan tamu istimewa yang akan mengentaskan kami dari rasa ketakutan yang berkepanjangan. Maafkan hamba Raden atas kesalahan kami. Bolehkan kami mengetahui siapa sesungguhnya Raden ini?”

“Namaku Bima. Aku adalah anak Prabu Pandudewanata yang nomor dua.”

“Ooo Raden Bima? Pantas saja mempunyai kesaktian yang luar biasa. Sekali lagi maafkan hamba yang tidak menghormat pada awal berjumpa. Sungguh kami tidak tahu sebelumnya bahwa Raden adalah salah satu pewaris tahta Hastinapura.”

“Sudahlah kami maafkan semuanya, namun jangan menghormatiku secara berlebihan seperti ini. Aku sampai ditempat ini sesungguhnya mencari dua bungkus nasi untuk adik saya yang lelaparan.”

Dengan senang hati para pengungsi tersebut berebut menawarkan sebagian bekalnya untuk adik Bima yang kelaparan.

“Dimanakah adik Raden Bima berada?”

“Diujung desa yang berbatasan dengan Gunung?”

“Ooo di Giripurwa. Apakah di rumah Resi Hijrapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi rumah itu kosong tidak berpenghuni.”

Setelah menerima dua bungkus nasi, Bima segera meninggalkan para pengungsi yang mengagumi Bima tak berkesudahan.

Setelah Bima jauh meninggalkannya, para pengungsi tersebut kembali menyadari bahwa jiwa mereka belum bebas sepenuhnya dari ancaman. Ketakutan mulai merambati lagi. Dikhawatirkan para perajurit yang dikalahkan Bima akan mengejar mereka dalam jumlah yang lebih besar. Maka lebih baik mereka tidak meneruskan perjalanannya mengungsi ke Negara Pancala, tetapi mengikuti Bima menuju ke Giripurwa.

Siang itu, pendapa Kabayakan mulai menggeliat. Rara Winihan mendahului suaminya, menemui para warga yang butuh pelayanannya. Para warga yang datang pada intinya menyatakan keprihatinannya bahwa pada minggu ini, desa Kabayakan mendapat giliran untuk menyediakan korban bagi Prabu Dwaka. Mendapat pengaduan itu Rara Winihan tidak memperlihatkan kecemasan. Wajahnya berseri, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang tipis merah.

“Para bebahu Desa yang aku banggakan. Jangan khawatir akan hal itu. Prabu Baka boleh saja mengirimkan hulu-balangnya ke desa kita untuk mengambil korban manusia, tetapi kita juga punya hak untuk tidak menyediakan baginya.”

Rara Winihan memberikan pengharapan, bahwa tidak lama lagi desa Kabayakan akan terbebas dari rasa cemas takut. Bahkan Desa ini akan mendapat anugerah yang begitu besar.

Tanda akan datangnya anugerah besar itu di sampaikan oleh Hyang Widi Wasa lewat mimpinya. Pada dini hari tadi, Rara Winihan bermimpi sedang melakukan perjalanan ke dusun-dusun, bersama Ki Lurah Sagotra, Para Bebahu, dan beberapa orang yang dituakan. Sesampainya di setiap dusun yang mereka kunjungi, para warga mengelu-elukan rombongan Lurah Sagotra. Suasana kunjungan tersebut mirip sebuah perjalanan pesiar. Diakhir perjalanannya, rombongan Lurah Sagotra memasuki jalur sungai. Keanehan terjadi, mereka berjalan diatas sungai dan kakinya tidak menyentuh air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s