Lakon Wayang Part 42


Kidung Malam 64
Puncak Korban
Sitihinggil Ekacakra penuh dengan asap korban bakaran. Prabu Dwaka mulai merasa lapar mencium bau asap dari daging yang dibakar. Terlebih ketika melihat Bima yang diberi bumbu bothok, ia mengarahkan langkah dan pandangannya menuju korban yang di sajikan dari Giripurwa. Selangkah demi selangkah kaki yang besar dan berat itu menginjak bumi, dan menimbulkan getar disekitarnya. Bimasena, Arjuna, Lurah Sagotra, Rara Winihan, Rawan dan para pengiring mulai meningkatkan kewaspadaan. Kecuali Bima dan Arjuna, jantung mereka berdetak semakin cepat merasakan getar tanah yang ditimbulkan oleh langkah Prabu Dwaka, hawa dingin mulai mengalir dari ujung kaki dan telapak tangan mereka. Prabu Dwaka semakin tidak kuasa menahan lapar, melihat sosok Bima yang berbadan tinggi besar, berotot kuat dan kencang, berlumuran bumbu bothok kesukaannya. Karena tertariknya dengan sosok Bima, Prabu Dwaka tidak memperhatikan rangkaian korban yang lain yang telah disiapkan oleh Rara Winihan di dalam sebuah gerobak. Tangan Prabu Dwaka yang besar kuat, penuh dengan bulu, mendulit bumbu bothok di tubuh Bima.

“Hmm enaaak”

Bima tidak gentar menghadapi Prabu Dwaka. Sejak ia sanggup menjadi korban untuk menggantikan Rawan, ia sudah siap lahir batin. Ditatapnya Prabu Dwaka dihadapannya dengan ketajaman mata laksana burung hantu. Otot tubuh yang menjadi daya kekuatan Bimasena mulai dikencangkan.

Prabu Dwaka tidak sabar, dengat cepat ia menyahut Bima. Jika pada korban sebelumnya, baik yang bulanan maupun yang tahunan, korban hanya dapat menjerit dan kemudian diam, kali ini tidak ada jeritan. Bima mampu menepis tangan Prabu Dwaka dengan kekuatan yang lebih besar. Prabu Dwaka terkejut bukan kepalang, merasakan kekuatan besar yang keluar dari calon koorbannya. Ulah Bima yang belum pernah dilakukan oleh para korban sebelumnya, justru meningkatkan selera Prabu Dwaka. Ia dengan tawa sinisnya mengelilingi Bima, ingin mempermainkan calon korbannya sebelum disantapnya.

Namun yang apa yang terjadi sungguh mengejutkan, terutama bagi Prabu Dwaka. Bima dengan cepat dan tiba-tiba melayangkan kakinya ke dada Prabu Dwaka. Prabu Dwaka senggoyoran hampir jatuh. Ia baru sadar, bahwa korban yang disajikan kali ini bukan orang sembarangan. Prabu Dwaka menatapnya Bima dengan kemarahan puncak. Bima tidak mau kalah, ia balas menatapnya sembari berdiri teguh, seteguh batu karang. Dengan menghimpun kekuatan, Prabu Dwaka menerkam Bima. Kali ini Bima menghindar. Prabu Dwaka semakin marah. Dan sebentar kemudian terjadilah pertepuran yang dahsyat. Dikarenakan keduanya tidak merasa leluasa bertempur di pelataran sitihinggil, maka tanpa kesepakatan pertempuran bergeser keluar dari sitihinggil menuju ke alun-alun.

Korban besar tahunan menjadi kacau. Para pelaku korban, petugas jaga, para perajurit dan pengawal raja, menghentikan aktifitasnya. Mereka bersama-sama menyaksikan pertepuran langka. Bahkan orang-orang mulai berdatangan ke alun-alun untuk menyaksikan pertempuran dahsyat sepanjang abad.

Para pajurit yang setia kepada raja, ikut geram kepada Bimasena. Namun dibalik kegeramannya, mereka mengakui keberanian Bima untuk melawan raja mereka. Karena selama mereka mengabdi kepada Prabu Dwaka, belum pernah ia menjumpai seseorang yang berani kepada raja mereka. Barulah sekarang untuk yang pertamakali ia menyaksikan ada orang yang berani melawan raja mereka dengan tidak menampakkan ketakutannya.

Walaupun diantara mereka pernah menyaksikan dan merasakan kesaktian Bima ketika menolong para pengungsi, mereka semakin tergetar keberaniannya menyaksikan kehebatan Bima saat melawan Prabu Dwaka.

Sementara itu, bagi mereka, baik para perajurit atau kawula Ekacakra yang selama ini tidak senang dengan raja mereka, sangat berharap agar Bima berhasil memenangkan pertempuran.

Hari semakin siang, matahari telah hampir berada di tengah. Pertempuran berlangsung semakin seru. Keduanya saling mengeluarkan ilmu-ilmu andalan. Debu mengepul, mengelilingi dan menutupi Prabu Dwaka dan Bimasena. Para penonton tidak dapat lagi melihat keduanya dengan jelas. Namun melalui suara yang ditimbulkan mereka dapat ikut merasakan bahwa pertempuran tersebut semakin dahsyat. Oleh karenanya para penonton semakin mundur dengan perasaan cemas, sehingga tempat bertempur pun menjadi semakin luas.

Beberapa saat kemudian, debu yang membumbung perlahan-lahan pergi dibawa angin. Dari kejauhan, tampaklah Bimasena dan Prabu Dwaka berdiri berhadapan. Rupanya mereka sepakat untuk beristirahat sejenak sambil mengatur napas mereka masing-masing. Tidak beberapa lama kemudian, pertempuran dilanjutkan kembali.

Prabu Dwaka yang lapar karena belum berhasil menyantap korban, bertempur dengan membabi buta. Ia ingin segera mengakhiri pertempuran. Namun lawannya bukanlah orang sembarangan, ia mempunyai ilmu tingkat tinggi yang jarang ada tandingannya. Oleh karenanya, Prabu Dwaka menjadi frustasi karena tidak dapat segera mengalahkan Bimasena. Sebaliknya, Bimasena menjadi semakin tenang dan mantap. Sehingga dengan demikian ia dapat dengan jelas melihat kelemahan daya pertahanan lawannya. Pusaka Kuku Pancanaka andalan Bimasena telah disiapkan. Dan pada saat yang tepat, Bimasena berhasil menyarangkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Dwaka.

Terdengar suara teriakan menggelegar dan disusul dengan robohnya tubuh Prabu Dwaka yang tinggi besar. Sorak membahana gemuruh menyambut kemenangan Bimasena. Beberapa pengawal yang setia Raja mengarahkan mata tombaknya ke dada Bimasena, namun sebelum Bimasena luka, Arjuna dengan tangkas menarik busur dan melepaskan anak panahnya dalam jumlah banyak. Maka berjatuhanlah mereka. Pengawal yang lain tergetar hatinya, melihat kesaktian Arjuna dalam memananh.. Mereka mengurungkan niatnya membela rajanya, dan meyerah dihadapan Bimasena.

Setelah dipastikan bahwa Prabu Dwaka sudah gugur, para kawula Ekacakra memohon agar badan Prabu Dwaka yang sudah tidak bernyawa dipisahkan, yang satu ditanam di gunung gamping barat yang satu ditanam di gunung gamping Timur. Menurut kepercayaan, hal tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan energi negatif yang akan ditimbulkan oleh raga Prabu Dwaka.

Pada puncak korban tahunan kali ini, tidak ada lagi kawula yang dikorbankan, melainkan Prabu Dwaka sendiri dan beberapa pengawalnya yang menjadi korban.

Kidung Malam 65
Hari Bersejarah
Prabu Baka atau Prabu Dwaka yang menjadi sumber ketakutan kawula Ekacakra telah dihancurkan oleh Bimasena. Para pejabat, pengawal perajurit dan pengikut yang selama ini berada di lingkaran pusat kekuasaan merasa terancam keberadaannya. Pengawal raja lapis pertama yang mengandalkan insting jika rajanya ada dalam bahaya dengan cepat menyerang Bima yang telah mencelakai tuannya, namun dengan cepat pula dilumpuhkan oleh panah Arjuna.

Walaupun tenaganya belum pulih, setelah mengalahkan Prabu Dwaka, Bima sendiri juga telah bersiaga untuk menghadapi para pengawal dan pengikut Prabu Dwaka yang tidak terima akan kematian Rajanya. Namun tidak ada lagi yang menyerang Bima setelah serangan pengawal lapis pertama gagal total. Mereka keder juga menyaksikan kesaktian Bima yang menggetarkan.

Ditambah lagi bahwa rombongan pembawa korban dari Giripurwa terdapat orang sakti selain Bima, yang ahli menggunakan senjata panah. Kesaktiannya dalam memanah telah ditunjukkan ketika membendung serangan para pengawal raja lapis pertama yang hendak mengeroyok Bimasena. Orang sakti tersebut adalah adik Bimasena yang bernama Arjuna. Ia memang sengaja mennunjukan kesaktiannya agar yang lain jera, sehingga dengan demikian akan mengurangi korban.

Kesaktian memanah yang ditunjukan Arjuna dengan melumpuhkan puluhan korban dalam waktu sekejab merupakan ilmu terbaik Sokalima. Ditambah pula dengan pusaka ali-ali ampal dari Prabu Ekalaya raja Paranggelung, membuat ilmu memanah Arjuna tidak tertandingi. Maka jika pun pengawal lapis dua berniat melawan Bima dan Arjuna dapat dipastikan nasibnya akan sama seperti pengawal lapis pertama yang dalam sekejap roboh bersamaan.

Untung saja gebrakan awal Arjuna berhasil membuat nyali para pengawal raja menciut, sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk melawan Bima dan Arjuna. Karena sudah tidak punya nyali untuk melawan, para pejabat, pengawal dan pengikut setia Prabu Dwaka kini sudah tidak setia lagi, mereka meletakan senjata dan menyerah.

Sorak sorai membahana. Kawula Ekacakra merayakan kemenangan. Korban bakaran yang sedianya diperuntukan untuk kehormatan dan kekuasaan raja menjadi korban sukacita dan pesta kemenangan rakyat Ekacakra. Bimasena dielu-elukannya dan juga Arjuna. Hal yang lebih membanggakan dirasakan oleh rombongan korban dari Giripurwa. Karena berawal dari Bima yang hadir di wilayahnya dan bersedia menjadi silih korban menggantikan Rawan, akhirnya mampu menumbangkan angkaramurka dan menanamkan ketamakan Prabu Baka di gunung Gamping yang beku.

Gugurnya Prabu Baka membuat keadaan negeri Ekacakra secara keseluruhan berbalik 180 derajat. Jika sebelumnya rasa takut dan suasana mencekam melanda setiap hati kawula Ekacakra, kini setelah Prabu Baka gugur, suasana berubah menjadi sukacita dan lepas bebas dari takut dan cemas. Seluruh rakyat menjadi tenteram karenanya.

Dengan perubahan itu, beberapa bebahu desa Kabayakan teringat akan kata-kata Rara Winihan yang memberikan pengharapan, bahwa tidak lama lagi desa Kabayakan akan terbebas dari rasa cemas takut. Bahkan Desa ini akan mendapat anugerah yang begitu besar.

Tanda akan datangnya anugerah besar itu di sampaikan oleh Hyang Widi Wasa lewat mimpinya. Pada dini hari tadi, Rara Winihan bermimpi sedang melakukan perjalanan ke dusun-dusun, bersama Ki Lurah Sagotra, Para Bebahu, dan beberapa orang yang dituakan. Sesampainya di setiap dusun yang mereka kunjungi, para warga mengelu-elukan rombongan Lurah Sagotra. Suasana kunjungan tersebut mirip sebuah perjalanan pesiar. Diakhir perjalanannya, rombongan Lurah Sagotra memasuki jalur sungai. Keanehan terjadi, mereka berjalan di atas sungai dan kakinya tidak menyentuh air.

Dan benarlah, makna yang terselubung dalam mimpi, bahwa jika orang yang bermimpi berjalan di atas air, akan mendapat kabegjan anugerah yang luar biasa. Kini mimpi Rara Wunihan telah menjadi kenyataan.

Selain Bima dan Arjuna nama Rara Winihan menjadi semakin berkibar. Banyak kawula Giripurwa menginginkan Ibu Lurah tersebut menempati jabatan yang lebih tinggi lagi. Namun Rara Winihan menolaknya. Ia justru menjadi malu, karena sesungguhnya ia hanyalah seorang yang tidak berarti dibandingkan dengan Bimasena dan Arjuna, atau dengan Ibu Kunthi. Ia hanyalah istreri Lurah Sagotra, Kanca Wingking yang seharusnya hanya berada di wilayah belakang.

Ambisi para bebahu yang ingin mengangkat dirinya menduduki jabatan yang lebih tinggi, justru telah menyadarkan dirinya, bahwa langkah yang ia jalankan selama ini telah kemajon, atau terlalu ke depan dibandingkan dengan peran yang seharusnya ia jalani, yaitu sebagai isteri Lurah, tidak lebih.

Pada keesok harinya ketika semuanya berkumpul di Rumah Resi Hijrapa, tak satupun rasa takut menyusup di hati dan pikiran mereka. Sehingga yang nampak adalah wajah-wajah ceria yang terbebas dari kecemasan. Dalam kesempatan tersebut, Resi Hijrapa, Rawan, Lurah Sagotra dan Rara Winihan mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Kunthi, Bimasena dan Arjuna. Selain itu Resi Hijrapa dan kemudian diikuti oleh Rawan, Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan menyatakan diri, jika kelak terjadi perang besar antara Pandhawa dan Korawa yang disebut Bharatayudha mereka siap membantu Pandhawa sebagai tawur awal pada perang tersebut. Kunthi dan Pandhawa sangat terharu merasakan ketulusan yang dinyatakan mereka untuk siap berkorban bagi Pandhawa.

Sepeninggal Prabu Dwaka, kerajaan Ekacakra komplang, tanpa raja. Untuk sementara sebelum sampai kepada orang yang paling berhak menduduki tahta, kebijaksanaan kerajaan dipasrahkan kepada Prabu Durpada yang memerintah di negara Pancala. Karena wilayah Ekacakra bergandengan dengan wilayah Pancala.

Karno Tanding
Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Pra*bu Kresna, dihadap oleh Bima, Arjuna, Na*kula, Sadewa, Drestajumena dan Setyaki. Me*reka masih bersedih dengan gugurnya Gatot*kaca oleh senjata Kunta milik Adipati Karna. Prabu Matswapati menasehati keluarga Pan*dawa, hendaknya rasa sedih itu harus sece*patnya dihilangkan, sebah Bharatayuda belum selesai. Yang harus dipikirkan sekarang, ialah menetapkan siapa yang akan diangkat menja*di senapati perang Pandawa menghadapi Adi*pati Karna besok. Prabu Kresna kemudian mengusulkan Arjuna sebagai Senapati perang Pandawa menggantikan Gatotkaca. Arjuna menerima mengangkatannya sebagai senapa*ti perang, dan tetap akan menggunakan gelar perang Garuda Nglayang, dengan senapati pendamping Bima dan Dretajumena.
Dewi Drupadi menyambut kedatangan Prabu Puntadewa. Menjawab pertanyaan De*wi Drupadi tentang hasil pertemuan hari itu, Prabu Puntadewa menjawab, keluarga Panda*wa telah menenerapkan Arjuna sebagai sena*pati perang yang menggantikan Gatot*kaca. Mereka kemudian masuk ke sanggar pe*mujaan untuk memohon anugrah Dewata agar keluarga Pandawa menang dalam perang Bharatayuda.
Sadewa mengadakan pertemuan dengan Sentyaki, Udawa dan Pragota. Sadewa meminta agar mereka tetap meningkatkan kewaspadaan, sebab mendekati saat-saat yang menentukan dalam perang Bharatayuda, tidak menutup ke*mungkinan lawan menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk bisa memenangkan pe*perangan.

Prahu Ajibanjaran mengadakan pertemu*an dengan patih Kalagupita dan para pungga*wa lainnya. Prahu Ajibanjaran mengemuka*kan niatnya untuk membantu keluarga Kura*wa dalam peperangan melawan keluarga Pan*dawa, sebagai balas dendam atas kematian sau*dara seperguruannya, Dursala putra Dursasana yang mati dalam peperangan melawan Gatot*kaca dulu. Prabu Ajibanjaran kemudian me*merintahkan patih Kalagupita untuk menge*rahkan pasukan Goabarong menyerang per*kemahan Pandawa dimalam hari, karena ba*ginya tidak terikat dengan aturan peperangan.
Peperangan terjadi antara Setyaki, Udawa dan Pragota melawan prajurit dari Goabarong pimpinan patih Kalagupita, Ketika pajuritnya banyak yang mati, Kalagupita menyuruh sisa prajuritnya menarik mudur dari peperangan.

Prabu Biswarna dihadap oleh patih Triba*sata dan para pungawa lainnya. Prabu Biswar*na merasa sangat menyesal karena baru seka*rang ia mendengar kabar kalau perang Bhara*tayuda antara keluarga Pandawa melawan ke*luarga Kurawa telah lama berlangsung di Ku*rusetra, padahal sudah sejak semula ia ingin membantu keluarga Pandawa. Prabu Biswarna kemudian memerintahkan patih Tribasata me*nyiapkan segenap prajuritnya untuk menyer*tainya ke Kurusetra, bergabung dengan kelu*arga Pandawa.
Prabu Duryudana, Prabu Salya dihadap patih Sakuni dan Adipati Karna, Prabu Salya berusaha menghibur Prabu Duryudana yang masih larut dalam kesetlihan akibat gugurnya Dursasana dan Wikataboma serta beberapa anak-anak Kurawa lainnya. Namun demikian Kurawa harus merasa sedikit lega, sebab de*ngan matinya Gatotkaca, maka kekuatan Pan*dawa mengalami kerugian yang sangat besar. Dalam pertemuan itu Prabu Duryudana juga sedikit meminta pertanggungan jawab Adipati Karna, kenapa membuang kesempatan untuk membunuh Bima, padahal dengan matinya Bima, berarti mati semua keluarga Parnlawa sesuai sumpah mereka. Adiparti Karna men*jelaskan, sebagai satria apalagi senapati perang, ia harus taat pada peraturan peperangan. Saat itu ia tidak langsung membunuh Bima, walau kesempatan itu ada, karena ia telah mende*ngar suara sangkakala tanda perang selesai. Namun Adipati Karna berjanji ia akan meng*habisi keluarga Pandawa dalam peperangan berikutnya.

Adipati Karna memanggil patihnya, Adi*manggala, dan menyuruhnya kembali ke Awangga mememui Dewi Surtikanti, memin*takan sedah (sirih) sebagai bekal dalam pepe*rangan melawan Arjuna besok..
Dewi Surtikanti menerima kedatangan Adimanggala yang menyampaikan pesan Adipati Karna. Tapi celaka, Adimanggala salah mengucapkan kata-kata. Seharusnya ia meng*ucapkan “Adipati Karna minta sedah (sirih)” tapi yang terucap “Adipati Karna minta pejah (mati)”. Akibat salah ucap itu, Dewi Surtikanti yang mengira Adipati Karna suaminya telah gugur di medan perang, tanpa pikir panjang lagi langsung bela pati, bunuh diri dengan menancapkan keris pusakanya ke dalam perutnya. Kajadian itu mengejutkan Adimang*gala yang segera lari kembali ke Astina mene*mui Adipati Karna.
Adimanggala menemui Adipati Karna dan menceritakan kejadian yang menimpa Dewi Surtikanti. Adipati Karna yang marah dan menganggap kematian istrinya akihat kesalahan Adimanggala, langsung menghunus keris Kiai Jalak dan menancapkan langsung ke perut Adimanggala yang mati seketika.
Batara Guru dihadapan Batara Narada, Indra, Yamadipati dan dewa lainnya, mendengarkan besok akan berhadapan kedua satria tangguh kesayangan dewa. Batara Guru kemudian memerin*tahkan Batara Narada untuk mengerakan para dewa dan bidadarl menyaksikan pertandingan kedua satria tersehut sambil membawa air setaman dan bunga-bunga sorga untuk pengormatan mereka yang gugur.
Prabu Biswarna yang akan, menuju perkemahan Pandawa bertemu dengan Adipati Karna. Terjadi peperangan yang berakhir dengan tewasnya Prabu Biswarna.

Peperangan terjadi antara pasukan Kura*wa melawan pasukan Pandawa. Puncaknyn, Adipati Karna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Salya, berhadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan sais Prahu Kresna. Perang herlangsung seru dan lama, keduanya saling mengeluarkan ilmu andalan*nya masing masing. Adipati Karna mengelu*arkan Aji Kalakupa, maka munculah raksasa ganas langsung menyerang Arjuna, yang lang*sung dilayani Arjuna dengan Aji Mayabumi. Sehingga raksasa itu menjadi lemas tak berte*naga. Ketika Adipari Karna mengeluarkan Aji Naracabala, Arjuna mengeluarkan Aji Tung*gengmaya. yang meluluhkan semua daya ke*kuatan Aji Naracahala. Karena tak ada lagi pusaka yang bisa digunakan untuk membu*nuh Arjuna, Adipati Karna kemudian me*ngeluarkan panah Wijayacapa yang langsung diimbangi Arjuna dengan panah Pasopati. Keadaan menjadi sangat tegang karena haik Adipati Karna maupun Arjuna telah siap untuk membunuh lawannya. Pada saat yang me*nentukan itu berlakulah kutukan Resi Para*surama terhadap Adipati Karna. Adipati Karna mendadak lupa dengan bacaan mantranya, akibatnya panah Wijayacapa meluncur tanpa kendali, hingga meleset dari sasaran, hanya menyerempet sedikit mahkota Arjuna. Bersa*maan dengan lepasnya panah Wijayacapa, Ar*juna melepaskan panah Pasopati, yang melesat cepat, tepat menebas putus leher Adipati Kar*na. Dan gugurlah senapati perang Kurawa.

Prahu Matswapati, Prabu Puntadewa, Pra*bu Kresna dihadap keluarga Pandawa serta Dewi Drupadi. Prabu Puntadewa mengemu*kakan rasa duka citanya atas gugurnya Adipati Karna, Karena meski ia berperang untuk Ku*rawa, namun ia masih saudara tua Pandawa. Prabu Matswapati kemudian mengajak mere*ka semua untuk berdoa bersama, memohon kepada Dewata agar kejayaan selalu menyertai keluarga Pandawa.

Banjaran Karna 1
KARNA, yang lebih terkenal dengan sebutan Adipati Karna adalah lawan utama Arjuna dalam Baratayuda. Padahal kedua ksatria itu sama-sama putra Dewi Kunti.
Basukarna adalah putra sulung, sedangkan Arjuna anak yang ketiga. Dalam dunia pewayangan Basukarna merupakan profil tokoh wayang yang otodidak, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarga. Ia juga menjadi perlambang bagi karakter manusia yang tahu membalas budi, sekaligus rela berkorban bagi menangnya kebenaran, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan jiwa dan bahkan juga nama baiknya.
Basukarna adalah anak buangan. Ibunya adalah Dewi Kunti alias Dewi Prita, putri bungsu raja Mandura, Prabu Basukunti. Waktu masih berusia remaja, Dewi Kunti mencoba-coba menggunakan Aji Adityarhedaya, yakni ilmu untuk mendatangkan seorang dewa yang dikehendakinya. Ilmu dipelajarinya dari gurunya, Resi Druwasa, yang sengaja didatangkan Prabu Basukunti ke Keraton Mandura untuk mendidik Dewi Kunti.
Ternyata ilmu ajaran Resi Druwasa itu benar-benar ampuh. Dengan mem-baca mantra Aji Adityarhedaya, Dewi Prita alias Kunti berhasil mendatangkan Batara Surya. Tetapi kedatangan Batara Surya yang tampan itu membuat Dewi Kunti mengandung, padahal ia masih gadis. ***) Setelah Prabu Kuntiboja mengetahui perihal musibah yang menimpa putrinya, ia amat marah dan segera memanggil Resi Druwasa. Guru Besar itu dipersalahkan telah mengajarkan ilmu tingkat tinggi pada gadis yang belum dewasa. Resi Druwasa mengaku bersalah dan bersedia menjamin keperawanan Dewi Kunti. Tetapi pertapa itu juga menjelaskan, bahwa kelak Dewi Kunti akan memerlukan ilmu itu.
CATATAN KAKI =***) Dewi Prita mempunyai kebiasaan buruk, sering bangun siang. Manakala hari telah terang, dan matahari sudah naik, ia masih tergolek di tempat tidurnya. Sinar terang matahari yang masuk ke kamarnya membuatnya kagum. Tanpa sadar ia mengamalkan Aji Adityarhedaya sambil membayangkan ketampanan Batara Surya.
Dengan ilmunya yang tinggi, sesudah masa kehamilannya cukup, Druwasa mengeluarkan jabang bayi yang dikandung melalui telinga Dewi Kunti. Alasannya, ilmu itu masuk dan diresapi oleh Kunti melalui telinganya. Itulah sebabnya, ia diberi nama Karna – yang artinya telinga. Nama lain baginya adalah Talingasmara. Dalam pewayangan ia juga disebut Suryaputra, atau Suryatmaja, karena anak Kunti itu memang benar hasil pertemuan ibunya dengan Batara Surya. Dua nama yang terakhir ini digunakan oleh sebagian besar dalang untuk menyebut Karna sewaktu masih muda.
Setelah lahir, Prabu Basukunti segera memerintahkan agar bayi itu dibuang. Maka, bayi Karna pun ditaruh dalam sebuah peti dan dihanyutkan di Sungai Gangga. Sebelum bayinya dibuang Dewi Prita alias Kunti sempat memperhatikan, di telinga bayi itu terdapat Anting Mustika yang memancarkan sinar kemilau. Bayi yang malang itu kemudian ditemukan dan dirawat dengan baik oleh Adirata, seorang sais kereta kerajaan di Keraton Astina. Yang memerintah Astina saat itu adalah Prabu Krisna Dwipayana. Bayi itu lalu diaku anak dan dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh Adirata dan istrinya yang bernama Nyai Nanda (Dalam Mahabarata Nyai Nanda disebut Radha. Itulah sebabnya, Basukarna juga disebut Radhea atau Ara-dea). Kebetulan mereka memang tidak punya anak.
Tahun berganti tahun, dan takhta Astina diduduki oleh Prabu Pandu Dewanata,
menggantikan Prabu Krisna Dwipayana yang mengundurkan diri karena hendak menjadi pertapa. Ketika Prabu Pandu me-ninggal dalam usia muda, Drestarastra menggantikannya untuk sementara waktu, sebagai wali para Pandawa yang saat itu masih kecil-kecil.
Menjelang masa remaja, Basukarna sering ikut ayah angkatnya ke Keraton Astina.
Di sana ia selalu mengintip dan mencuri dengar dengan penuh perha-tian segala yang diajarkan oleh Resi Krepa dan Begawan Drona kepada murid-muridnya, yaitu para Kurawa dan para Pandawa. Dengan demikian segala sesuatu yang diajarkan oleh kedua mahaguru itu diketahui dan dipahami dengan baik oleh Karna. Minat dan semangat Basukarna untuk belajar amat tinggi. Suatu hari ia
memberanikan diri menjumpai Begawan Drona dan minta agar guru besar itu mau menerima dirinya sebagai murid. Namun permohonan itu ditolak, karena Drona terikat aturan istana: hanya boleh mengajar para pangeran, yakni putra-putra Drestarastra, Pandu, dan Yama Widura. Resi Krepa, guru besar lainnya juga bersikap sama dengan Begawan Drona. Dengan penolakan itu Basukarna tetap hanya bisa belajar dengan cara mengintip dan mencuri dengar.
Untuk mengetahui sampai di mana tingkat kemajuan ilmu dan keterampilan para Pandawa dan Kurawa, secara berkala Begawan Drona dan Resi Krepa mengadakan
uji keterampilan bagi mereka. Pada acara ujian seperti itu ternyata Pandawa selalu unggul. Lebih-lebih Arjuna. Pada setiap pertandingan ksatria remaja yang tampan ini selalu mendapat angka tertinggi. Keunggulan ini membuat Arjuna lalu bersikap sombong.
Basukarna yang sejak semula menyaksikan acara itu, merasa panas hati melihat kesombongan dan keangkuhan Arjuna. Walaupun ayah angkatnya telah berusaha mencegah, dengan nekad Karna lalu menantang Arjuna untuk adu tanding dalam ketrampilan keprajuritan dengan dirinya. Tantangan Karna ini ditolak Arjuna, karena sebagai seorang putra raja Arjuna merasa dirinya tidak pantas melayani tantangan Karna yang hanya anak seorang sais kereta.
Tantangan Karna itu memang mengejutkan semua orang, termasuk para Kurawa. Duryudana, si Sulung dalam keluarga Kurawa segera memanfaatkan peristiwa itu.
Dengan pengaruh yang dimilikinya selaku putra Prabu Drestarastra, saat itu juga Duryudana mengangkat Basukarna sebagai adipati di Kadipaten Awangga. ***) Dengan kedudukan Karna sebagai seorang adipati, tidak ada lagi alasan bagi Arjuna untuk menolak tantangan itu. Adu tanding pun dimulai. Dan ternyata keduanya sama kuat dan sama mahirnya. Resi Krepa dan Begawan Drona akhirnya
memberikan penilaian tidak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Keduanya seimbang sama kuat.
Dewi Kunti yang menyaksikan acara pertandingan itu, saat itu sudah yakin benar bahwa Karna sesungguhnya adalah anak sulungnya, yang belasan tahun sebelumnya dihanyutkan di sungai. Selain wajahnya yang amat mirip dengan Arjuna, gerak-gerik Karna boleh dibilang sama dengan Ksatria Panengah Pandawa itu. Lagi pula. dari telinga Karna memancar sinar kemilau Anting Mustika yang telah menempel sejak dilahirkan. Namun untuk segera mengakuinya sebagai anak, Dewi Kunti merasa tidak menemukan alasan yang tepat. Dewi Kunti tercekam oleh perasaan antara yakin dan ragu. Yakin, karena baik raut wajah maupun bentuk tubuh Karna seolah bayangan Arjuna, dan Anting Mustika itu pernah dilihatnya belasan tahun yang lalu. Namun Kunti juga ragu, apakah jika ia tiba-tiba mengakui Karna sebagai anak akan membuat situasi menjadi baik, ataukah sebaliknya.
Selain berguru secara tidak langsung pada Begawan Drona dan Resi Krepa yakni hanya dengan mendengar dan melihat dari kejauhan, Karna sempat pula berguru pada seorang brahmana sakti bernama Rama Parasu alias Rama Bargawa. Ini dilakukan setelah permohonan Karna untuk diterima menjadi murid resmi Begawan Drona dan Resi Krepa, ditolak.
CATATAN KAKI = ***) Menurut pewayangan, Karna menjadi Adipati di Awangga bukan karena hadiah atau diangkat oleh Duryudana, tetapi karena hasil usahanya sendiri. Karna memperoleh negeri itu setelah me-ngalahkan Prabu Karnamandra, yaitu raja penguasa di Awangga. Untuk dapat berguru pada brahmana yang kesaktiannya tidak tertandingi siapa pun di dunia ini, Karna harus menyamar sebagai brahmana. Penyamaran itu terpaksa dilakukan karena Rama Bargawa amat membenci golongan ksatria. Dari gurunya yang ini Basukarna antara lain mendapat ilmu Bramastra, yakni ilmu ketrampilan memanah. ***)
Sesudah mewariskan berbagai ilmunya, barulah Rama Bargawa sadar bahwa Karna sebenarnya bukan dari golongan brahmana, melainkan seorang ksatria. Penyamaran Basukarna ini terbongkar manakala Rama Bargawa tidur berbantal paha muridnya. Saat itu seekor ketonggeng, sejenis kalajengking berbisa, menyengat paha Basukarna. Namun untuk menjaga jangan sampai gurunya terbangun, dengan sekuat tenaga Karna menahan rasa sakit yang alang kepalang itu, sehingga keringatnya bercucuran. Rama Bargawa justru terbangun ketika peluh Karna menetes ke wajahnya. Sewaktu tahu apa yang terjadi, sadarlah Sang Guru bahwa muridnya itu tentu berasal dari golongan ksatria. Hanya seorang ksatria yang tangguh sanggup menahan rasa sakit yang demikian hebat. Karena merasa ditipu, dengan marah Rama Bargawa mengucapkan kutukannya: Kelak dalam Baratayuda, pada saat yang genting yang menentukan hidup atau mati, Karna akan lupa bunyi mantera ilmu Bramastra. Dan, kelak ternyata, kutukan itu akan terbukti.
Basukarna menikah dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, raja Mandraka. Pernikahan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Prabu Salya, yang telah merencanakan akan menikahkan Surtikanti dengan Duryudana. Saat itu Duryudana sudah berkedudukan sebagai Prabu Anom, atau raja muda. Oleh sebab itu Karna diam-diam lalu sering masuk ke Istana Mandraka dan secara sembunyi-sembunyi memadu kasih dengan sang Dewi, bahkan kemudian melarikan Dewi Surtikanti, sehingga mereka terpaksa dinikahkan. Sejak itu timbullah kebencian Prabu Salya terhadap Karna, walaupun telah menjadi menantunya.
Prabu Anom Duryudana sendiri sebenarnya amat sakit hati pada tindakan Karna melarikan Dewi Surtikanti, justru pada saat raja muda Astina itu sedang menyiapkan lamarannya pada Prabu Salya. Namun karena keluarga Kurawa sangat memerlukan tenaga Basukarna, terutama pada saat menghadapi Baratayuda kelak, masalah Dewi Surtikanti itu tidak diperpanjang lagi. Apalagi kemudian Prabu Salya menjanjikan akan menikahkan Duryudana dengan Dewi Banowati, adik Surtikanti.

Banjaran Karna 2
CATATAN KAKI = ***) Sebagian dalang menyebut ilmu itu Aji Kunta Bramasta.
Karena perkimpoiannya dengan Dewi Surtikanti itu, Karna mempunyai dua orang raja besar sebagai ipar, yakni Prabu Anom Duryudana, dan Prabu Baladewa yang sebelumnya telah menikahi Dewi Erawati, putri sulung Prabu Salya. Adipati Awangga itu memiliki sifat pantang berkhianat, tahu membalas budi, percaya diri, teguh dalam pendirian, dan membenci orang yang terlalu mengagungagungkan kebangsawanannya. Karena selalu diperlakukan dengan baik dan dihargai oleh Kurawa, Adipati Karna merasa berhutang budi pada Duryudana dan adik-adiknya. Itu pula yang me-nyebabkan ada sebagian pecinta wayang menggolongkan Basukarna sebagai tokoh yang berpihak pada kejahatan dan mabuk akan derajat serta kedudukan.
Selain seimbang kesaktiannya, penampilan dan wajah Basukarna amat mirip dengan Arjuna. Itulah sebabnya Batara Narada pernah keliru menganggap Arjuna tatkala akan memberikan senjata Kunta Wijayandanu. Senjata pusaka pemberian dewa itu seharusnya diberikan kepada Arjuna untuk memotong tali pusar Gatotkaca yang baru lahir. Dalam perja-lanannya mencari Arjuna, Batara Narada yang secara kebetulan berjumpa dengan Basukarna, salah lihat, mengira bertemu Arjuna dan memberikan senjata Kunta Wijayandanu pada Karna. ***) Arjuna kemudian berusaha merebut kembali senjata pusaka itu, tetapi gagal. Yang berhasil direbut hanyalah warangkanya (sarung) saja. Dalam pewayangan, kisah mengenai senjata Kunta ini diceritakan dalam lakon Lahirnya Gatotkaca.
CATATAN KAKI = ***)Dalang ternama, Ki Nartasabda, dalam lakon Banjaran Karna menceritakan bahwa Batara Surya yang tahu rencana perjalanan Batara Narada memberitahu Karna agar mencegat dewa itu, dan mengaku sebagai Arjuna. Jadi, perjumpaan Karna dengan Narada bukan suatu kebetulan. Meskipun sebelumnya telah tahu, tetapi baru tiga hari sebelum pecah Baratayuda, Basukarna yakin benar bahwa ia sesungguhnya adalah putra sulung Dewi Kunti. Berarti ia adalah saudara tua yang seibu dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna. Yang meyakinkan adalah penjelasan yang diberikan oleh ayahnya sendiri, yaitu Batara Surya. Waktu itu Batara Surya datang menjumpainya dan menceritakan siapa sebenarnya Basukarna sesungguhnya. Batara Surya juga memperingatkan agar Karna waspada, sebab Batara Endra, ayah Arjuna akan datang menemuinya dan membujuknya dengan berbagai cara guna melemahkan Karna. “Ingatlah Karna, dari aku sejak lahir engkau telah kuwarisi Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Anting Mustika berkhasiat akan mengingatkan engkau bilamana ada bahaya mengancam, sedangkan dengan Kotang Kerei Kaswargan engkau akan kebal terhadap senjata apa pun. Jangan sampai kedua pusaka itu lepas dari tanganmu, siapa pun yang memintanya.” Ketika itu Basukarna menjawab: “Ayahanda, … itu tergantung pada siapa yang memintanya. Jika seorang brahmana datang meminta, sebagai seorang ksatria tentu pantang bagi hamba untuk menolaknya, walaupun yang diminta itu langsung menyangkut keamanan jiwa hamba …” Apa yang diperingatkan oleh Batara Surya memang terjadi. Esok harinya, dua hari menjelang Baratayuda berlangsung Batara Endra datang menjumpainya dalam ujud seorang brahmana tua. Seperti yang diduga oleh Batara Surya, saat itu brahmana tua yang sebenarnya penjelmaan Batara Endra meminta Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan. Tanpa menanyakan, apa alasan brahmana itu memintanya, dengan hati teguh dan ikhlas Karna menjawab: “Bilamana Bapa Brahmana memang menginginkan, ambillah. Namun hamba tidak memiliki kemampuan melepaskan kedua pusaka pemberian Ayahanda Batara Surya ini dari tubuh hamba. Hanya seorang dewa saja yang akan sanggup melepaskannya …” Brahmana tua itu menjawab: “Jangan khawatir, ksatria mulia. Hamba sendiri yang akan melepaskannya.”
Karena brahmana itu memang penjelmaan dewa, dengan mudah ia melepaskan kedua pusaka andalan Basukarna. Namun, pada saat itu sebenarnya hati kecil Endra terharu dan heran menyaksikan ketulusan hati Karna. Rasa simpati itu menyebabkan Batara Endra – yang masih dalam ujud brahmana, berkata: “Karna, engkau sungguh seorang ksatria sejati yang berbudi luhur. Sudah sepantasnya jika ksatria agung seperti Tuanku memiliki senjata pamungkas yang ampuh. Karenanya, sebagai ganti barang yang hamba ambil, terimalah pemberian hamba berupa anak panah Wijayacapa.”
Basukarna: “Hamba telah menyerahkan dengan ikhlas kedua barang yang Bapa Brahmana minta. Bilamana Bapa Brahmana juga memberikan senjata pamungkas itu dengan ikhlas, dengan senang hati hamba akan menerimanya.” Demikianlah, hari itu Karna kehilangan dua pusaka yang merupakan perisai dirinya, tetapi mendapat pusaka pengganti sebuah senjata pamungkas. Sehari menjelang Baratayuda, beberapa saat setelah Prabu Kresna sebagai duta yang gagal kemudian dikroyok para Kurawa sehingga terpaksa melakukan triwikrama, terjadi peristiwa sebagai berikut:
Sebelum pulang ke Kerajaan Wirata untuk me-laporkan hasil perundingannya pada pihak Pandawa, Kresna secara khusus datang menemui Karna. Pada pertemuan empat mata, raja Dwarawati itu berusaha membujuk Karna agar bersedia menyeberang ke pihak Pandawa. Saat itulah terjadi perdebatan dan adu pendapat di antara mereka.
Karna menolak bujukan itu dengan alasan, bahwa sebagai ksatria sudah selayaknya ia harus tahu membalas budi. Kurawa telah memberikan kemuliaan duniawi dan derajat kepangkatan kepadanya. Kini, tibalah saatnya bagi Karna untuk membalas budi baik para Kurawa.
Kresna: “Dinda Karna, Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan perang kecil. Perang itu me-rupakan pertarungan antara pihak yang benar dengan pihak yang salah. Antara kebaikan dan keadilan me-lawan keserakahan kebatilan. Jadi, dalam hal ini soal balas budi bukanlah hal yang mutlak harus dilakukan, karena membela kebenaran bagi seorang ksatria lebih mutlak harus dilaksanakan.” Karna: “Kakanda Kresna, sebagai seorang titisan Wisnu mestinya kakanda maklum, jika Adinda berpihak pada para Kurawa dan berperang melawan adik- adikku para Pandawa, bukan berarti Adinda berpihak pada keangkaramurkaan. Adinda berperang di pihak mereka semata-mata hanya menjalani darma ksatria, membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Itu adalah kewajiban Adinda. Jika Adinda harus berperang melawan adik-adik para Pandawa, bukan berarti Adinda berperang melawan kebaikan dan kebenaran, melainkan juga hanya karena menjalani darma ksatria. Soal kalah atau menang bagi Adinda bukan lagi merupakan hal yang penting. Yang penting, sebagai ksatria Adinda harus menjalankan kewajiban sebagai prajurit menghadapi lawannya.”
Kresna: “Tetapi, Dinda Karna. Dengan adanya Adinda di pihak Kurawa, tentu akan menyulitkan para Pandawa untuk memenangkan Baratayuda.”
Karna: “Kakanda Kresna. Adinda tahu benar, adik-adikku para Pandawa bukan ksatria yang takut dan enggan menghadapi kesulitan.”
Kresna: “Saya memahami hal itu. Namun, jika Adinda Karna mau menyeberang ke pihak Pandawa, tentu Kurawa tidak akan meneruskan niatnya menempuh jalan perang, sehingga Baratayuda dapat dicegah.”
Karna: “Justru Adinda yang sebenarnya sangat menginginkan Baratayuda segera terjadi.”
Kresna: “Mengapa? Peperangan akan selalu membawa penderitaan bagi banyak orang. Bilamana Adinda Karna dapat mencegahnya, mengapa itu tidak Adinda lakukan? Apa alasannya?”
Karna: “Kakanda Kresna yang bijaksana, … Adinda telah mengenal para Kurawa, satu persatu secara pribadi sejak mereka masih kecil, sejak masih remaja. Adinda mengenal benar tabiat dan watak mereka, pendirian mereka. Adinda tahu benar akan keserakahan mereka, sifat iri, culas, dan dengki mereka. Rasanya, mereka memang dilahirkan sebagai manusia-manusia pembawa sifat buruk yang tidak lagi dapat diperbaiki. Bahkan Maharesi Bisma, Kakek Abiyasa, Begawan Drona, Resi Krepa, yang tinggi wibawanya pun tidak sanggup memperbaiki sifat-sifat buruk mereka.
Tidak satu pun saran dan nasihat baik dari para pini sepuh Astina yang mereka dengar. Mereka hanya mengikuti hasutan jahat dari Paman Sengkuni dan Ibunda Dewi Gendari. Kakanda Kresna, Adinda berpendapat tidak ada cara lain untuk memberantas keangkaramurkaan dan kebatilan yang telah belasan tahun terjadi di Astina, kecuali dengan meniadakan keberadaan mereka di dunia ini. Itulah sebabnya, bagaimana pun, Barata-yuda harus segera terjadi. Saya berketetapan hati untuk memihak Kurawa, saya sengaja membakar-bakar semangat Adinda Duryudana, saya bujuk mereka agar jangan takut berperang, … itu semua agar Baratayuda dapat segera terjadi sebagaimana seharusnya.”
Kresna: “Adinda Karna. Kakanda benar-benar menaruh hormat akan pendirian Adinda yang teguh itu. Namun dengan adanya Dinda Basukarna di pihak Kurawa, bagaimana pun, Baratayuda tentu akan berlangsung lebih lama dan korban di kedua pihak akan lebih banyak. Tidakkah hal ini Dinda pertimbangkan?”
Karna: “Adinda memahami hal itu. Namun, bu-kankah jer basuki mawa beya? Kakanda Prabu Kresna tentu sudah faham benar, Baratayuda adalah peristiwa yang menjadi sarana untuk memusnahkan segala yang jahat dan yang angkara. Untuk mencapai masyarakat dunia yang tenteram dan damai, selalu harus ada yang menjadi korban, dan selalu harus ada yang dikor-bankan. Itu sudah merupakan hukum alam yang berlaku pada zaman apa pun.
Adinda tahu, bahwa menurut takdir pada Baratayuda nanti Adinda harus berhadapan dengan Arjuna. Entah siapa yang akan kalah, dan siapa yang akan unggul, kita semua belum tahu. Seandainya Adinda yang gugur, maka Adinda ikhlas sebab pe-ngorbanan Adinda adalah untuk kemenangan adik-adik para Pandawa dan itu berarti pengorbanan Adinda adalah untuk tegaknya kebenaran dan keadilan.

Banjaran Karna 3
Demikian pula, seandainya Adinda yang menang, Arjuna pun sebagai ksatria harus ikhlas karena pengorbanannya tentu tidak sia-sia.”
Kresna: “Adinda Karna, cobalah Adinda renungkan sekali lagi. Pengorbanan Adinda Karna dengan pengorbanan Adinda Arjuna, jelas berbeda. Jika Adinda Basukarna gugur dalam Baratayuda nanti, sejarah akan mencatat Adinda Karna gugur karena berperang di pihak yang salah. Adinda Basukarna tewas karena membela pihak angkara. Sedangkan jika Dinda Arjuna yang gugur, maka ia akan dianggap sebagai pahlawan pembela keberaran. Coba renungkan hal itu.”
Karna: “Itu pun Adinda pahami. Namun, bukankah sebagai ksatria kita tidak boleh memperhitungkan untung rugi dalam menjalankan darmanya? Adinda berperang di pihak Kurawa karena menjalankan darma Adinda sebagai ksatria. Hamba tidak peduli lagi tentang bagaimana sejarah akan mencatat nama Adinda. Biarlah sejarah mencatat Adinda sebagai pembela nafsu angkara pihak Kurawa. Biarlah nama baik Adinda hancur karena sikap Adinda dalam menjalankan darma. Karena nama baik itu pun telah Dinda ikhlaskan sebagai pengorbanan demi tegaknya kebenaran dan keadilan ..”
Prabu Kresna tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan penuh haru dipeluknya putra sulung Kunti itu erat-erat.
“Semoga Yang Maha Mengetahui selalu memberikan berkah kepadamu, Dinda Basukarna …” kata titisan Wisnu itu.
Setelah pertemuannya dengan Prabu Kresna, lewat tengah hari, Adipati Karna pergi ke Sungai Gangga hendak mensucikan dirinya. Hati kecilnya merasa, ia akan gugur dalam perang besar antarke-luarga Barata itu. Karenanya, sebelum menghadap pada Sang Pencipta, anak pungut Sais Adirata itu ingin lebih dahulu mensucikan tubuhnya.
Di tepi sungai yang dianggap suci itu, secara kebetulan Karna bertemu dengan Dewi Kunti yang juga baru saja selesai mensucikan tubuhnya. Sekali lagi, sebagaimana perjumpaanya dengan Prabu Kresna, kali ini Dewi Kunti juga berusaha membujuk Adipati Karna agar mau menyeberang ke pihak Pandawa. “Basukarna anakku, … sebenar-benarnyalah bahwa engkau itu anak sulungku. Para dewa dapat menjadi saksi. Hanya karena keadaan, engkau terpaksa berpisah dengan adik-adikmu para Pandawa. Hanya karena keadaan yang membuatmu terpaksa bergabung dengan pihak Kurawa.
Namun, perang besar akan terjadi esok hari. Aku, ibumu ini, sangat berharap engkau tidak berdiri di pihak yang berlawanan dengan adik-adikmu. Bergabunglah engkau bersama kelima adikmu. Jika harapanku ini engkau kabulkan, berarti engkau membahagiakan wanita yang pernah melahirkanmu.” Dengan penuh hormat Karna menjawab: “Ibunda Dewi Kunti yang amat hamba hormati. Hamba mengerti, keadaan telah membuat hamba terpaksa berpisah dengan adik-adik hamba. Hamba juga mengerti bahwa karena keadaan pula hamba sekarang berdiri di pihak Kurawa yang merupakan lawan para Pandawa, adik-adik hamba.
Namun, bukankah kita tidak dapat hanya menyalahkan keadaan? Bilamana Ibunda Dewi Kunti mengharapkan agar hamba menyeberang ke pihak Pandawa dan meninggalkan Kurawa, maka itu berarti hamba menyalahi darma hamba sebagai seorang ksatria. Hamba akan menjadi pengkhianat bagi Kurawa yang selama ini telah memberikan derajat dan kemuliaan pada hamba. Hamba akan menjadi manusia yang tidak tahu membalas budi, yang membalas kebaikan orang dengan pengkhianatan. Baratayuda yang akan dimulai esok hari, bukan alasan bagi hamba untuk mengecewakan harapan para Kurawa yang mengandalkan kekuatan hamba…”
Kunti: “Karna, Anakku. Ibunda mengerti, engkau adalah prajurit sejati. Engkau seorang ksatria utama. Namun, cobalah engkau renungkan barang sejenak. Selain harus menjalani darmamu sebagai seorang ksatria, engkau pun mempunyai kewajiban menjalankan darmamu sebagai seorang putra terhadap ibumu. Tidak adakah keinginanmu untuk membahagiakan wanita yang telah melahirkanmu?”
Karna: “Ibunda Dewi Kunti, junjungan hamba. Tentu saja hamba ingin membahagiakan Ibunda Dewi. Hamba ingin agar Ibunda Kunti dapat merasakan kebahagiaan serta bangga, bilamana hamba dapat menjalankan darma hamba sebagai seorang ksatria.”
Kunti: “Tetapi …, Karna Anakku. Engkau tentu juga tahu, dalam Baratayuda nanti besar kemungkinan engkau akan berhadapan dengan adikmu, Arjuna. Tidak bisa tidak, salah satu dari kalian berdua akan menjadi korban kekejaman perang besar itu. Dapatkah engkau membayangkan, betapa remuknya hati seorang ibu, manakala ia tahu dua orang putranya saling ber-hadapan di medan perang dengan tekad akan saling membunuh? Dapatkah kau bayangkan itu, anakku?”
Kunti tidak lagi dapat menahan air matanya. Basukarna pun terharu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh wanita yang dulu melahirkannya itu. Namun, dengan menguatkan hati, Basukarna berkata dengan lembut: “Ibunda Dewi Kunti yang hamba hormati. Hamba yang hina ini memahami benar kepedihan hati Ibunda Dewi. Namun hamba mohon, …. anggaplah kepedihan itu sebagai pengorbanan Ibunda untuk ketentraman dan kedamaian masyarakat banyak. Ibunda tentu juga tahu, bahwa Baratayuda adalah salah satu sarana dan jalan untuk membebaskan dunia dari keangkaramurkaan yang selama ini dilakukan oleh para Kurawa. Semua orang yang melangkah pada jalan darmanya harus ikut berkorban demi ketentraman dunia. Ada yang ditakdirkan harus mengorbankan jiwanya, ada yang harus mengorbankan suaminya, mengorbankan orang yang disayanginya, dan tentunya tidak terkecuali Ibunda Dewi.
Bilamana ternyata dalam Baratayuda nanti Adinda Arjuna yang terpaksa menjadi korban, maka ia akan gugur sebagai pahlawan. Ibunda Dewi dapat membanggakannya, walaupun tentu dalam kesedihan seorang ibu yang kehilangan putra. Demikian pula, bilamana hamba yang tewas dalam perang tanding itu, Ibunda Dewi pun boleh merasa bangga karena hamba tewas dalam menjalankan darma hamba sebagai seorang prajurit, sebagai ksatria. Jika hamba gugur, maka hamba bukan mati sebagai pengkhianat” Kunti merasa, tidak akan ada manfaatnya ia membujuk Karna lebih lanjut.
Sekarang ibu para Pandawa itu tahu benar keteguhan hati anak sulungnya itu. Karena itu, Kunti lalu berkata: “Anakku, Karna. Aku tidak lagi dapat merangkai kata-kata. Kesedihanku sebagai seorang ibu, membuat tenggorokanku serasa tersumbuat. Tetapi, … kumohon kepadamu, izinkan aku memelukmu, anakku. Puluhan tahun, sejak engkau masih berujud bayi merah, aku telah kehilangan engkau. Aku tidak berkesempatan merawat, memelihara dan mengasihimu. Untuk itu, maafkanlah Ibumu ini. Biarlah aku memelukmu barang sejenak, anakku ….” Dengan air mata bercucuran Dewi Kunti memeluk anak sulungnya, menciumi ubunubunnya, sambil berkata terisak di sela tangisnya: “Restuku untukmu, anakku. Doaku untukmu, buah hatiku ….”
Pertimbangan Karna dalam mengambil keputusan itu adalah, karena sebagai ksatria ia harus tahu membalas budi kepada Kurawa yang sudah memberinya kedudukan, kemuliaan, derajat dan pangkat. Tanpa bantuan Suyudana dan keluarga Kurawa lainnya, ia akan tetap dikenal sebagai anak sais kereta Adirata. Pertimbangan yang lain adalah, jika ia tidak ikut beperang, mungkin Baratayuda akan gagal, batal, tidak terlaksana, karena bisa jadi Duryudana akan memilih jalan damai. Dan, jika ini terjadi berarti kesewenangan di dunia akan tetap berjalan terus.
Sikap Basukarna yang siap untuk mati dalam perang juga dibuktikan ketika ia menolak tawaran bantuan Naga Ardawalika yang diam-diam akan ikut menyerang Arjuna. Walaupun tawaran bantuannya ditolak, ketika tahu bahwa Adipati Karna gugur, Ardawalika atas inisiatifnya sendiri langsung menyerang Arjuna, tetapi ksatria Pandawa itu pun berhasil membunuhnya. Dalam Baratayuda, Basukarna sebagai panglima perang di pihak Kurawa, pada hari ke-15 berhasil membunuh Gatotkaca dengan senjata Kunta Wijayandanu. Penggunaan senjata pamungkas ini sebenarnya sama sekali di luar rencananya.
Sejak ia menerima Kunta dari tangan Batara Narada, ia merencanakan penggunaan senjata sakti yang hanya dapat sekali digunakan itu untuk menghadapi Arjuna. Hati kecil Basukarna memang menaruh dendam pada Arjuna sejak ksatria Pandawa itu menghinanya di hadapan umum dengan menolak mengadu ketrampilan dengannya.
Namun sewaktu Gatotkaca memporakporandakan barisan prajurit Kurawa dan membunuh beberapa adik Duryudana, penguasa Astina itu mulai khawatir. Di tengah pertempuran Duryudana mencari Basukarna dan memintanya untuk menghadapi Gatotkaca. Semula Adipati Karna menolak karena ia sedang mencaricari Arjuna. Duryudana lalu meng-ingatkan, bahwa perang ini bukan perang pribadi. Ia minta agar Basukarna melupakan dulu dendam pribadinya, dan lebih memikirkan kemenangan bagi seluruh Kurawa. Karena desakan Duryudana ini, Basukarna terpaksa menghadapi Gatotkaca. Putra Bima itu memang berhasil dikalahkannya, namun dengan demikian ia kehilangan Kunta Wijayandanu.
Waktu berperang tanding melawan Arjuna, Basukarna sudah tidak lagi memiliki senjata andalan. Supaya dirinya sederajat dengan Arjuna, ia minta agar mertuanya Prabu Salya bersedia menjadi saisnya. Alasannya, kereta perang Arjuna dikemudikan Sri Kresna, raja Dwarawati. Agar seimbang dan tampak sederajat, kereta perangnya juga harus dikendalikan seorang raja, dan menurut anggapannya, yang paling tepat adalah Prabu Salya. Permintaan ini amat menyakitkan hati Prabu Salya dan serta merta raja Mandraka itu mendampratnya, dan mengatakannya sebagai menantu yang tidak tahu diri. Duryudana dengan cepat melerai, kemudian membujuk Prabu Salya. Hanya karena bujukan Duryudana, akhirnya Salya mau menuruti permintaan Basukarna. Peristiwa itu menambah kebencian raja Mandraka itu pada menantunya itu. Di medan perang Karna menggunakan kereta perang bernama Jatisura, sedangkan kereta perang Arjuna bernama Jaladara. Kedua kereta perang yang berisi dua ksatria utama itu seolah menjadi primadona pertempuran.

Banjaran Karna 4
Pada suatu kesempatan Basukarna melepaskan panah pusakanya Wijayacapa, dibidikkan tepat ke leher Arjuna. Namun, pada saat yang tepat Prabu Salya menarik tali kekang kuda, sehingga kereta perang yang dikendarainya tergoncang. Panah Wijayacapa meluncur deras, tetapi bidikannya tidak tepat lagi. Panah sakti itu hanya menyambar mahkota gelung rambut Arjuna. Sesaat berikutnya Arjuna me-lepaskan anak panah pusaka Pasopati dan tepat menebas leher Basukarna. ***)
Karna yang berperang dengan sepenuh hati akhirnya gugur sebagai ksatria utama dalam Baratayuda, sebagaimana dikehendakinya. Ia telah mendarmabaktikan jiwanya pada Kerajaan Astina yang telah mengangkat derajatnya dari kedudukan anak sais menjadi seorang adipati. Ia juga telah merelakan jiwanya untuk membahagiakan Dewi Kunti, ibu kandung yang tidak pernah menyusui, mengasuh, dan mengasihinya. Karena jika bukan dia yang gugur, maka Arjunalah yang harus tewas dalam perang tanding itu. Dan, bila ini terjadi tentu akan membuat ibunya lebih berduka.
Sementara itu, ketika tubuh Karna roboh ke bumi, keris Kyai Jalak Kaladite yang disandangnya lepas dari warangkanya (sarung keris) dan melayang, melesat ke arah dada Arjuna. Tetapi Arjuna yang selalu waspada segera menangkis serangan keris itu dengan gendewa pusakanya.
Basukarna, seorang anak yang terbuang sejak bayi, seorang anak pungut sais kereta bernama Adirata, gugur dalam keyakinan untuk menjalankan darmanya sebagai ksatria utama.
CATATAN KAKI = ***) Menurut salah satu versi Ma-habarata di India, Basukarna gugur karena siasat licik Kresna. Waktu itu salah satu roda kereta perang Karna terperosok ke dalam lumpur. Karna lalu melepaskan seluruh senjatanya, turun dari kereta, kemudian mencoba mendorong kereta itu untuk membebaskan roda kereta yang terbenam di lumpur. Pada saat itu Kresna memberi isyarat, agar Arjuna melepaskan anak panahnya. Jadi, Karna terpanah dalam keadaan tidak bersenjata; sesuatu yang sebenarnya terlarang dalam Baratayuda.
Dari perkimpoiannya dengan Dewi Surtikanti, putri Prabu Salya, Basukarna mendapat dua orang putra, yaitu Warsasena dan Warsakusuma. Kelak Warsakusuma kimpoi dengan Dewi Lesmanawati, putri Prabu Anom Duryudana. Dengan demikian, hubungan Basukarna dengan Duryudana, selain sebagai ipar, ia juga merupakan besan.
Dewi Surtikanti meninggal karena bunuh diri. Pada saat Baratayuda berlangsung, ia selalu mengikuti berita dari medan perang yang disampaikan oleh Patih Adimanggala, yakni patih Kadipaten Awangga. Suatu hari, patih Kadipaten Awangga itu menyampaikan be-rita yang tidak jelas, sehingga Dewi Surtikanti salah mengerti. Ia mengira suaminya gugur di palagan Baratayuda. Tanpa piker panjang Surtikanti bunuh diri dengan mencabut patrem (keris kecil) lalu menusukkannya ke dadanya sendiri. Kematian Dewi Surtikanti membuat Adipati Karna amat marah. Ia mempersalahkan Adimanggala. Tanpa banyak bicara Karna segera membunuh Patih Adimanggala.
Tetapi versi lain menyebutkan, Patih Adimanggala gugur bersama (sampyuh – Bhs. Jawa) ketika ia bertempur melawan Patih Udawa, abang satu ibu lain ayah.
Perkimpoian Basukarna alias Basusena dengan Dewi Surtikanti sebenarnya dapat berlangsung dengan bantuan Arjuna.
Kisahnya begini:
Suatu ketika Keraton Mandraka geger karena Dewi Surtikanti dilarikan oleh seorang ksatria muda yang tampan. Mulanya ksatria itu memasuki keputren dan berasyikmasyuk dengan Dewi Surikanti. Ketika mereka dipergoki para dayang istana dan terjadi keributan, ksatria itu segera lari membawa sang Dewi. Para prajurit yang berusaha menghalanginya, tidak sanggup menghadapi kesaktian ksatria tampan itu. Kejadian ini membuat marah Prabu Salya dan Prabu Anom Duryudana, karena sebenarnya Dewi Surtikanti akan dikimpoikan dengan raja muda Astina itu. Dari keterangan para dayang, yang menyebut bahwa pria yang melarikan sang Putri itu sangat tampan, Prabu Salya dan Duryudana langsung menuduh Permadi (nama panggilan Arjuna selagi muda) sebagai pelakunya. Permadi mencoba membantah, namun tidak seorang pun yang percaya.
Resi Bisma lalu mengambil kebijaksanaan: Permadi harus mencari pelaku penculikan atas Dewi Surtikanti dalam waktu tiga hari. Bila dalam waktu itu Permadi tidak berhasil, maka ia akan dijatuhi hukuman sebagai si Penculik. Permadi sanggup.
Dalam waktu singkat, Permadi menemukan Dewi Surtikanti di Istana Awangga. Karenanya, ksatria Pandawa itu minta agar Basukarna menurut dibawa ke Mandraka sebagai tertuduh. Karna menolak, dan terjadilah perang tanding. Adu ketrampilan dan kesaktian di antara keduanya begitu seru sehingga kahyangan goncang karenanya. Batara Narada lalu turun ke dunia untuk melihat apa yang menjadi penyebabnya. Setelah tahu apa yang terjadi, dewa itu segera melerainya. Narada menjelaskan bahwa sebenarnya keduanya bersaudara. Diterangkan, Karna sebenarnya adalah putra sulung Dewi Kunti yang ketika masih bayi dibuang ke Sungai Gangga dan ditemukan oleh Adirata. Sedangkan Permadi adalah anak Kunti yang keempat. Dengan penjelasan itu mereka pun berdamai. Basukarna bersedia membawa kembali Dewi Surti-kanti ke Mandraka, karena Permadi menyanggupi akan memintakan maaf pada Prabu Salya, sekaligus membujuknya agar Karna diterima sebagai menantu. Usaha Permadi ini berhasil. Basukarna diakui oleh Prabu Salya
sebagai menantu, walaupun hati kecilnya masih tetap tak menyukai Karna, yang
dianggapnya telah memberikan malu kepadanya. Sedangkan Duryudana yang amat kecewa karena gagal kimpoi, terpaksa menerima kenyataan itu. Lagi pula, Duryudana juga berusaha tetap memelihara persahabatannya dengan Karna, yang diharapkan bantuannya pada saat pecah Baratayuda kelak.
Dalam pewayangan di Indonesia, mengenai peran Basukarna dalam memantik api perang Baratayuda ada dua versi.
Sebagian dalang menceritakan bahwa Basukarna sengaja menyulut api perang dengan maksud agar angkara murka keluarga Kurawa cepat hancur punah dengan terjadinya perang besar itu. Ia tahu benar kekuatan Kurawa dan sekutunya tidak akan sanggup menandingi para Pandawa, namun ia membesar-besarkan hati dan membakar semangat Prabu Anom Duryudana, sehingga penguasa Astina itu memilih jalan peperangan daripada perdamaian. Guna menyirnakan angkara murka, ia sanggup mengorbankan jiwanya, dan bahkan juga nama baiknya.
Sebagian dalang yang lain menyebutkan, sikap Basukarna menyulut api peperangan disebabkan karena dendamnya pada para Pandawa, terutama pada Arjuna yang dinilainya angkuh.
Gambaran tentang pribadi Basukarna dalam pewayangan pada umumnya memang sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tergambar dalam Kitab Mahabarata.
Dalam Mahabarata, selain dendam pada Arjuna, Adipati Awangga itu juga sangat membenci Dewi Drupadi. Kebencian Basukarna pada Dewi Drupadi disebabkan karena peristiwa berikut ini:
Ketika Prabu Drupada, raja Pancala (di pewayangan Pancala disebut Cempalaradya) hendak men-carikan jodoh bagi Dewi Drupadi, Basukarna adalah salah seorang pesertanya. Setelah para peserta lain gagal mengangkat gendewa pusaka, Karna ternyata sanggup.
Namun pada saat itu Dewi Drupadi berseru dengan nyaring: “Saya adalah putri raja besar, tidak akan mungkin saya menikah dengan pria berdarah sudra (orang biasa, bukan bangsawan).”
Kata-kata Dewi Drupadi ini amat menyakitkan hati Basukarna. Tanpa bicara apa pun ia lalu berjalan keluar istana.
Kelak, ketika Pandawa kalah main dadu dan Drupadi sebagai barang taruhan dipanggil untuk diper-malukan oleh para Kurawa, Basukarna berkesempatan membalas sakit hatinya. Waktu itu Adipati Karna sengaja memanas-manasi Dursasana agar menelanjangi Dewi Drupadi di hadapan umum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s