Lakon Wayang Part 44


Sumantri dan Sukrasana
Di tanah lapang itu, Sumantri tersungkur. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Tubuh anak muda itu setengah hancur. Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera melesak ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

Kita kenang perjalanan Sumantri sebelum menjadi Patih Suwondo. Sejak awal, anak muda ini memang telah menyiapkan masa depannya. Ia menuju Maespati untuk mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu. Sebab ia merasa mampu, juga pantas .

Pada pagi yang belum sempurna, ia melangkah ke utara. Ia tinggalkan Sukrosono, adiknya yang bocah bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan agak hitam itu. Dengan penampilan fisik semacam itu, mungkin Sumantri merasa adiknya hanya akan menjadi perintang. Meski ia tahu, kesaktian Sukrosono satu tingkat di atasnya. ”Aku sengaja pergi pagi-pagi benar pada saat kau masih lelap. Maafkan aku, adikku,” kata Sumantri pada hari kepergiannya.

Barangkali Sumantri memang laki-laki pilihan dewa. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Ia menang telak. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan; emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Harjuna Sasrabahu perang tanding. Ada kesombongan yang tiba-tiba melonjak. Juga ketidakpercayaan akan kekuatan dan kesaktian sang raja.

Setidaknya, ada dua tafsir tentang sikap itu. Pertama, Sumantri sekadar ingin lebih meyakinkan diri tentang kepatutan raja yang ia abdi. Kedua, ia tengah mabuk kemenangan. Apa pun alasannya, Sumantri akhirnya kalah melawan prabu Harjuna Sasrabahu , dan ia menerima hukumannya: untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa.

Namur disaat itu Sukrosono adiknya datang. Dengan kesaktiannya, tugas itu ia selesaikan dengan baik. Sayang, kehadiran Sukrosono yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrosono menolak. Hingga akhirnya Sumantri membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya.

Sakutrem Rabi
Syahdan raja Wirata, Prabu Basumurti berkehendak berburu binatang dan burung, terlaksanalah sudah banyak hasil perburuahannya, atas kehendak raja, diperintahkan kepada patih Wirata, Jatidenda, untuk mengadakan sedekah uang kepada orang-orang pedesaan.

Seorang cantrik bernama Janaloka sedang tekun menunggu pohon Sriputa, tak tergoyahlah hatinya untuk mengumpulkan uang sedekah raja yang berserakan disekitarnya. Raja Basumurti segera mengutus adiknya yang bernama raden arya Basukesti, untuk menanyainya, berkatalah, Hai, Janaloka, apa sebab kau tak sudi mengumpulkan uang sedekah raja?.
Dijawabnya, Raden, takut hamba akan singit dan wingit, raden arya Basukesti melanjutkan pertanyaannya, apa yang kau maksudkan dengan kata-katamu itu?.
Janaloka menerangkanya, Wahai raden arya Basukesti, hamba takut akan singitnya kayu Sriputa dan wingitnya sang raja segera raden arya Basukesti menebang kayu Sriputa, Janaloka segera berucap, Ketahuilah raden setelah tertebang kayu Sriputa, wajah raden kelihatan sangat bercahaya, sesungguhnya singit dan wingit sudah ada pada raden arya Basukesti. Kepada Janaloka, dipesan, Kelak, jika aku menjadi raja, Janaloka datanglah menghadap kepadaku.

Segera setelah prabu Basumurti (Basurata) kembali ke istana, mangkatlah beliau, adik raja, raden arya Basukethi dinobatkan sebagai penggantinya, dengan sebutan Prabu Basukethi raja Wiratha. Janakoka Memenuhi pesan raden arya Basukethi, oleh sang prabu Wiratha, diangkatlah sebagai warga istana, dengan gelar arya Janaloka. Kepada segenap empu dan pandai besi istana Wiratha, sang raja menginginkan dibuatnya macam ragam alat-alat bunyi-bunyian kelengkapan perang, yaitu: gurnang, thong-thong grit, gubar, puk-sur, teteg, gendhang, bendhe, gong dan beri. Patih Jatidhendha berdatang sembah, melaporkan, melaporkan muksanya Resi Brahmana Kestu, pula diceritakannya tampak sekarang ditempat kediaman Brahmakestu suatu keelokan, adanya Jamurdipa yang tumbuh. Sang raja segera menyaksikannya, Jamurdipa yang bercahaya bagaikan meraih angkasa segera hilang, tampak oleh sang raja cahaya pula yang terang benderang yang beralih diwajah sripaduka Basukethi.

Raja Wiratha, Basukesthi merasa dirinya sangat waskitha dalam segala hal lagi pula sangat arif dan bijaksana.

Sakutrem mempersunting Dewi Nilawati
Di pertapan Saptaarga, dengan dihadap oleh puthut Supalawa (kera putih), sang resi Manumayasa menerima kehadiran puteranya, Bambang Sakutrem. Berkatalah Sakutrem, Ayah, sepeninggal ananda dari wukir Retawu, dihutan telah ananda bunuh sepasang raksasa, bernama Haswana dan Haswani, di perjalanan hutan Silu, menuju wukir Retawu anannda bertemu dengan seekor naga, kami tewaskan pula. Hilangnya naga, tampak oleh anannda adanya bidadari, anannda kejar, tetapi ananda akhirnya tak dapat menemukan kemana perginya. Sang resi Manumayasa merasa bahwa puteranya Bambang Sakutrem telah jatuh cinta pada wanita, tak lama Hyang Narada berkenan berdatang dipertapan Saptaarga, berkatalah, Hai, resi Manumayasa, ketahuilah olehmu sesungguhnya wanita yang tampak oleh anakmu itu, adalah bidadari, yang berasal dari naga yang dibunuh oleh Sakutrem cucuku, sebaiknyalah kau pergi kegunung Pujangkara, Nilawati mengadakan sayembara, kepada siapa yang dapat meneguk air di kendi Pratola yang dihadapnya, dialah yang akan menjadi suaminya. Berangkatlah Bambang Sakutrem ke wukir Pujangkara, untuk memasuki sayembara yang diadakan Dewi Nilawati.

Syahdan, Begawan Dwapara bersama-sama kemenakannya prabu Drumanasa, raja Madhendha, juga berangkat ke gunung Pujangkara, untuk memasuki sayembara.

Bagawan Dwapara memulai meneguk isi kendhi Pratolo, mundurlah sang Begawan dikarenakan isi kendhi Pratala, mundurlah sang Begawan dikarenakan isi kendhi Pratala dirasa sangat panasnya, bergantian dengan prabu Drumanasa, juga tak tahan akan isi kendhi Pratala.

Bambang Sakutrem segera meneguk isi kendhi Pratala, dihabiskannya seluruh isi kendhi tersebut, Dewi Nilawati menyerahkan diri kepada Bambang Sakutrem sebagai pemenang seyembara, diajaklah sang dewi ke Pertapaan Saptaarga.

Sekembalinya dari gunung Pujangkara, sang bagawan merasa malu hatinya, dan berketatapan akan merebut Dewi Nilawati ke partapan Saptaarga. Berangkatlah sang Begawan diiringi oleh sang prabu Drumanasa dan segenap prajuritnya dari Badhendha. Perang terjadi di gunung Retawu, puthut Supalawa dan Bambang Sakutrem dapat menewaskan musuh-musuhnya.

Bambang Sakri Rabi
Syahdan, raja di negara Trebelasuket, prabu Partawijaya, menerima sasmita dewa, pulihnya keadaan negaranya yang terserang bencana hanya bisa tercapai apabila Prabu Partawijaya berguru ke Gunung Saptaarga. Sang prabu juga menerima permintaan putrinya Dewi Sati, untuk menemukan arti mimpinya, ialah menemukan teja yang bercahaya. Tak lain ialah Bambang Sakri, yang meninggalkan Saptaarga, karena diusir oleh ayahandanya sebab menolak perintahnya untuk dikimpoikan. Semula Bambang Sakri menolak permintaan Prabu Partawijaya untuk dijodohkan dengan putranya Dewi Sati. Setelah melalui peperangan, akhirnya menurutlah ia, dan pergilah mereka menuju ke Negara Trebelasuket. Bambang Sakri kemudian dijodohkan dengan Dewi Sati. Prabu Partawijaya berpesan kepada putra menantunya, hendaknya menjaga Negara Trabelasuket. Sang prabu sendiri akan pergi ke Saptaarga, dan pergilah Prabu Partawijaya. Dalam perjalanannya ke Sabtaarga., sang prabu telah tersesat, sehingga bertemulah beliau dengan Resi Dupara, musuh Resi Manumayasa dari Saptaarga. Semula Prabu Partawijaya tidak akan berguru kepada Resi Dupara tetapi karena kepadanya telah dipertunjukan kemujijadan, diakuilah Resi Dupara, sebagai gurunya. Setelah dianggap cukup akan kesetiaan dan kepandaiannya, oleh Resi Dupara ditugaskan untuk membunuh Resi Manumayasa. Berangkatlah Prabu Partawijaya ke Saptaarga. Di pertapaan Saptaarga, Begawan Sekutrem ditugaskan oleh Resi Manumayasa untuk mencari Bambang Sakri. Berangkatlah Bambang Sekutrem. Di tengah-tengah hutan beliau bertemu dengan Prabu Partawirya. Setelah berbincang-bincang tentang maksud dan tujuan masing-masing, Begawan Sekutrem menyarankan Prabu Partawijaya agar tidak memusuhi Resi Manumayasa, sebab beliau itu sangat arif dan bijaksana, lagi pula hatinya sangat suci. Terjadilah peperangan antara Prabu Partawijaya dan Resi Sekutrem. Prabu Partawijaya tak kuasa menandingi Sekutrem, apalagi setelah prabu Partawijaya berkali-kali disabdakan oleh Sakutrem. Semula wajah berubah menjadi seorang raksasa, dan yang terakhir menjadi seekor babi hutan. Tatkala prabu Partawirya menyadari dirinya berubah menjadi binatang, menangislah prabu Partawirya, dengan menyebut-nyebut putera menantunya, Bambang Sakri. Terkejutlah resi Sekutrem, mendengar puteranya ditangisi oleh Prabu Partawirya. Setelah ditanyai, jelaslah bahwa prabu Partawirya adalah ayah mertua puteranya sendiri, Sakri.

Dengan kesepakatan, prabu Partawirya berjanji akan membawa Bambang Sakri ke Saptaarga, dan memohon dirilah prabu Partawirya untuk menyelesaikan urusan dengan gurunya, resi Dupara di Atasangin.

Resi Dupara menerima kedatangan prabu Partawirya keheran-heranan, karena bukan selesainya tugas yang dilaporkan melainkan umpatan, cacimaki dari parabu Partawirya kepada Resi Dupara. Peperangan tak dapat dihindari lagi. Setelah puas prabu Partawirya melampiaskan kemarahannya kepada resi Dupara dan semua pengikut-pngikutnya, terbanglah prabu Partawirya menuju pertapaan Saptaarga.

Di Pertapaan Saptaarga, Resi Manumayasa menerima kedatangan resi Sakutrem. Segala hal ihwal telah dilaporkannya, tak lama datanglah Bambang Sakri bersama istrinya, kemudian prabu Partawirya. Bersukacitalah seluruh isi pertapaan Saptaarga.

Palasara Rabi
Prabu Basukiswara, raja Wirata mendengar sabda dewa bahwa, puterinya yang bernama Durgandini, akan sembuh dari keringatnya yang berbahu busuk, jika dibuang ke bengawan Silugangga. Patih Kiswata ditunjuk untuk melaksanakan pelarungan Dewi Durgandini, dan berangkatlah patih menunaikan tugas ini.

Syahdan, terjadilah gara-gara di dunia sebab Begawan Palasara tekun sekali bertapa. Hyang Guru dan hyang Narada turun ke bumi, berubah menjadi sepasang burung emprit dan membuat sarang di gelung Begawan Palasara. Lama kelamaan burung emprit bertelur, dan menetas. Begawan Palasara menjadi murka, sebab si anak emprit tak diberi makan oleh induknya. Dikejarlah burung emprit itu, ke mana saja terbangnya begawan Palasara membuntutinya. Untuk mengejar burung emprit yang sudah di seberang bengawan Silugangga adalah sukar. Kebetulan sekali terlihat oleh sang Begawan sebuah perahu beserta tukang satangnya. Dipanggilnya perahu itu dan datanglah ia. Di dalam perjalanan menyeberang bengawan, diketahuilah bahwa tukang satangnya seorang wanita yang sangat cantik. Pada tatapan pertama sang Begawan merasa jatuh cinta. Luapan asmara yang tak dapat dicegah itu, menjadikan sang begawan Palasara mengeluarkan airmaninya. Menyadari hal itu percikan air mani yang tertumpah sebagian diusapkannya di tepian kayu perahu, sebagian lagi menetes ke air bengawan, dan ditelan ikan Tambra dan kepiting. Heran sang Begawan mengetahui bahwa Dewi Durgandini berkeringat yang sangat busuk baunya. Setelah diceriterakan asal mulanya sang dewi dilarung di bengawan Silugangga, sang bersedia mengobatinya, dan sembuhlah sang dewi dari penyakitnya. Demikian pula mengenai teka-teki yang terutulis di perahu tersebut, sang Begawan tak merasa khawatir lagi. Dewi Durgandini lalu dapat diperistri oleh sang Begawan Palasara.

Naiklah keduanya ke darat, Begawan Palasara bersemedi. Dengan bersenjakan panah dibasmilah hutan sekitar tempat bersemedi itu, dan hutan Gajahoya, atas karunia dewa, berubah menjadi suatu negeri yang disebut Astina. Hutan yang berisi bermacam-macam binatang itu kemudian berubah menjadi hutan berisi manusia, dengan rajanya Andaka, Rajari, Rajamariyi. Kesemuanya itu menjadi kawula Begawan Palasara.

Perahu yang ditinggalkan oleh Dewi Durgandini dan Begawan Palasara pecah. Dengan hilangnya perahu timbullah manusia kembar, kepiting dan ikan tambra berubah menjadi manusia. Hyang Brama menjelaskan kepada mereka, dan bersabda, wahai, sebenarnya kau berempat ini puttra Palasara, ibumu adalah Dewi Durgandini, jika kamu sekalian ingin bertemu dengan ayah bundamu, pergilah ke Astina, ayahmu menjadi raja di negara tersebut. Kamu yang lahir lebih dahulu kunamakan Raden Kencakarupa dan Rupakenca. Yang lahir kemudian, yang berujud putrid, kunamai dewi Rekatawati, dan saudaramu itu kuberi nama raden Rajamala, lalu pergilah keempat putra Begawan Palasara ke Astina.

Sangat suka citalah Begawan Palasara, dengan kelahiran putranya dari Dewi Durgandini di Astina, diberi nama, Kresnadipayana, Biyasa adalah julukan nama dari ki lurah Semar.

Konon prabu Basukiswara, Raja Wiratha, menerima laporan tentang hilangnya sang Dewi Durgandini dari bengawan Silugangga , dan adanya suatu negara baru bernama Astina, di hutan Gajahoya, dengan rajanya bernama Begawan Palasara. Beliau amat murka. Putranya Raden Durgandana, diperintahkan untuk pergi ke Astina untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Setiba di negara Astina, Durgandana minta bertanding melawan Begawan Palasara putra-putra Palasara: Kencakarupa, Rupakenca, dan Rajamala tak kuasa mengundurkannya. Begawan Palasara bertanding sendiri dengan raden Durgandana. Kalahlah raden Durgandana. Di istana Astina diketahui bahwa Dewi Durgandini, diperistri oleh Begawan Palasara. Akhirnya dikimpoikan Raden Durgandana dengan Dewi Rekathawati. Sukacitalah seluruh istana Astina. Resi Sentanu yang sedianya akan menggempur negara Wiratha, memerangi dahulu negara Astina. Begawan Palasara ditantang bertanding. Ajakan Resi Santanu diluluskan, sangat ramai perangnya tak ada yang kelihatan kalah atau menang, sehingga dewa harus mencampurinya. Hyang Narada turun ke bumi melerai peperangan tersebut. Kepada resi Santanu dan Begawan Palasara diberikan teka-teki. Berkatalah Hyang Narada, Wahai kau Santanu, dan kau Palasara, pilihlah, apa yang kau senangi, sah atau sempurna. Sah dipilih oleh resi Santanu dan sempurna dipilih oleh Begawan Palasara. Hyang Narada menceriterakan, sudah menjadi kehendak dewata, kau Santanu akan menikmati kebahagiaan di dunia, adapun kau Palasara, akan menurunkan ratu-ratu di kelak kemudian hari, dan menikmati kehidupan langgeng dan sempurna di kelak kemudian hari juga. Setelah itu Hyang Narada kembali ke kahyangan. Begawan Palasara segera meninggalkan istana Astina dan permaisurinya Dewi Durgandini, untuk pergi bertapa di Saptarengga. Di negara Wiratha, prabu Basukiswara menerima kembali kedatangan Dewi Durgandini, akhirnya dijodohkan pula dengan resi Santanu, seluruh istana bersuka cita. Resi Santanu bertahta menjadi raja di Astina, Gajahoya.

CATATAN…. cerita Palasara Rabi diatas adalah versi jawa, perbedaan dg beberapa cerita dalam pewayangan jawa sangat mungkin, mengingat banyak sumber yg dipakai, terutama yang dari India.

Wahyu Tirta Manik Mahadi

Para Pandawa meninggalkan Amarta, Abimanyu diserahi mememgang pemerintahan.
Patih sangkuni mengambil kesempatan baik mengusulkan agar Suyudana menyuruh prajurit Astina untuk menguasai Amarta. Raja Suyudana setruju , tetapi Basukarna tidak menyetujuinya. Brahmana Kestu datang di Astina akan membatu rencana penyerangan negara Amarta. Basukarna panas hatinya. Brahmana Kestu ditarik dibawa ke alun-alun dan dihajarnya. Brahmana Kestu mengambil pusaka Manik maninten dipukulkan kepada Basukarna. Basukarna menjadi arca. Arca dibuang , jatuh di Amarta.
Prajurit Kurawa bersama Brahmana Kestu menyerang negara Amarta.
Patih Sengkuni bisa menemui para putra Pandawa (Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Wisanggeni, Prabakusuma). Sengkuni dengan gaya marah para Pandawa diminta menyerah dan akan dipenjara di Astina. Gatotkaca melawan, Sengkuni mundur ketakutan. Kartamarma melawan gatotkaca , terjadilah perang hebat. Brahmana Kestu tampil ke depan. Abimanyu, gatotkaca, Antarja, Prabakusuma dan Irawan berubah menjadimenjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Wisanggeni bisa meloloskan diri, lari ke hutan. Negara Amarta dikuasai Kartamarma dan dibantu Brahmana Kestu.

Wisanggeni tiba di Gua Windu bekas kerajaan Wisakarma. Di gua itu terdapat pakaian Hyang Guru. Pakaian disembah lalu dibawa pergi, di hutan berjumpa Arjuna di hutan. Arjuna menjawab, bahwa sedang mencari wahyu. Wisanggeni menyarankan agar Arjuna mau mengenakan pakaian Sang Hyang Guru yang dibawanya. Arjuna menurut anjuran Wisanggeni. Arjuna menyembah, lalu mengenakan pakaian sang Hyang Guru, dan naik tahkta di Kahyangan.

Wisanggeni mencari Puntadewa, Bima, Nakula dan sadewa. Mereka ditemukan di gunung Himawan. Mereka sedang berkumpul dan berunding akan mencari Wahyu Tirta manik mahadi (air manikam sangat indah). Wisanggeni menyarankan agar Puntadewa dan Bima pulang ke Amarta, sebab negara Amarta dikuasai Kartamarma. Para Pandawa telah menjadi arca. Mendenagr kata-kata Wisanggeni itu Bima bangkit marahnya.

Bima masuk istana Amarta dan mengamuk, tetapi kemudian menjadi arca karena kesaktian pusaka manik maninten. Puntadewa melihat sejumlah arca bangkit amarahnya seketika triwikrama berubah menjadi raksasa besar lagi dasyat, mengaku bernama dewa Amral. Brahmana Kestu dikejar hendak ditelannya. Brahmana Kestu hendak menggunakan pusaka, tetapi terlebih dahulu terkena aji gelap sayuta. Brahmana Kestu hanyut terbawa angin topan. Setelah jatuh ke bumi Brahmana Kestu akan bersembunyi ke guwa Windu, berganti pakaian. Tetapi pakaian telah tiada lalu kembali ke kahyangan.

Brahmana Kestu dikeroyok oleh para dewa. Brahmana Kestu tidak mampu melawan serangan para dewa, lalu turun ke dunia, berjumpa dengan Dewa Amral, dan pergi ke Dwarawati. Brahmana Kestu mionta tolong agar dimabilkan pakaiannya. Raja Dwarawati mau menolong bila diberi upah Tirta Manik Mahadi beserta kendi Pratala. Raja Dwarawati menyuruh agar Dewa Amral menolong. Dewa Amral bisa merebut pakaian Sang Hyang Guru. Arjuna menampakkan diri dan menghormat. Pakaian diberikan kepada Brahmana Kestu . Dewa Amral menerima tirta Manik Mahadi . Para putera Pandawa dan basukarna serta Bima disiram Tirta Manik mahadi dan kembali ke asal mula. Tirta Manik mahadi menyembuhkan orang sakit, menghapus rasa susah dan memberi ketentraman dunia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s