Lakon Wayang Part 45


Kelahiran Yudhisthira
Pertemuan di istana Ngastina, Pandhu dihadap oleh Dhestharata, Widura dan Patih Jayaprayitna. Mereka membicarakan kandungan Kunthi yang telah sampai bulan kelahirannya belum juga lahir. Tengah mereka berunding, Arya Prabu Rukma datang memberi tahu, bahwa negara Mandura akan diserang perajurit dari negara Garbasumandha. Raja Garbasumandha ingin merebut Dewi Maherah. Raja Basudewa minta bantuan. Arya Widura disuruh pergi ke Wukir Retawu dan ke Talkandha, supaya mohon doa restu demi kelahiran bayi. Raja Pandhu akan ke Mandura untuk membantu raja Basudewa dalam menahan serangan musuh.

Raja Pandhu menemui Dewi Kunthi yang sedang berbincang-bincang dengan Dewi Ambika, Dewi Ambiki dan Dewi Madrim. Setelah memberi tahu tentang rencana kepergiannya ke Mandura, Pandhu lalu bersamadi. Kemudian berangkat ke Mandura bersama Arya Prabu Rukma, Dhestharata menunggu kerajaan Ngastina.

Yaksadarma raja Garbasumandha dihadap oleh Arya Endrakusuma, Patih Kaladruwendra, Togog, Sarawita dan Ditya Garbacaraka. Raja berkeinginan memperisteri Dewi Maherah isteri raja Mandura. Ditya Garbacaraka disuruh melamar, Togog menyertainya, Patih Kaladruwendra dan perajurit disuruh mengawal perjalanan mereka.

Perajurit Garbasumandha bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, tetapi perajurit Garbasumandha menyimpang jalan.

Raja Basudewa dihadap oleh Patih Saraprabawa, Arya Ugrasena dan hulubalang raja. Mereka menanti kedatangan Arya Prabu Rukma. Arya Prabu Rukma datang bersama Pandhu. Setelah berwawancara, raja Basudewa masuk ke istana akan menjumpai para isteri. Namun Garbcaraka telah masuk ke istana lebih dahulu, dan berhasil melarikan Dewi Maherah. Dewi Mahendra dan Dewi Badraini kebingungan. Basudewa dan Pandhu datang, Basudewa minta agar Pandhu segera mencarinya. Pandhu segera berangkat meninggalkan kerajaan Mandura.

Pandhu berhasil mengejar Garbacaraka dan merebut Dewi Maherah, lalu dibawa kembali ke Mandura. Setelah menyerahkan Dewi Maherah, Pandhu minta pamit, kembali ke Ngastina, Raja Basudewa mengikutinya.

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bersenda gurau, kemudian menghadap Begawan Abiyasa. Bagawan Abiyasa sedang berunding dengan Resi Bisma tentang kehamilan Kunthi. Arya Widura datang dan minta sarana untuk kelahiran bayi yang dikandung oleh Kunthi.

Arya Widura disuruh berangkat kembali ke Ngastina, Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma segera mengikutinya. Perjalanan Arya Widura dihadang oleh raksasa Garbasumandha. Arya Widura mengamuk, perajurit raksasa banyak yang gugur dan melarikan diri.

Bathara Guru mengadakan pertemuan di Suralaya, dihadiri oleh Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Bathara Dharma dan Bathara Bayu. Mereka berbicara tentang kehamilan Kunthi. Bathara Narada disuruh turun ke marcapada bersama Bathara Dharma, Bathara Panyarikan dan Bathara Bayu. Mereka disuruh memberi pertolongan kepada Dewi Kunthi.

Perjalanan raja Basudewa dan Pandhu berjumpa dengan Patih Kaladruwendra. Terjadilah perkelahian, Kaladruwendra terbunuh ole panah Pandhu.

Raja Yaksadarma dan Endrakusuma menanti kedatangan Garbacaraka. Garbacaraka datang bercerita tentang hasil yang diperoleh, tetapi direbut oleh raja Pandhu. Cerita belum selesai, tiba-tiba kepala Kaladruwendra jatuh dihadapan raja. Yaksadarma marah, lalu mempersiapkan perajurit, akan menyerang negara Ngastina.

Raja Pandhu berbicara dengan Arya Prabu Rukma, Ugrasena, raja Basudewa dan Arya Widura. Arya Widura memberi tahu tentang kesanggupan Bagawan Abiyasa dan Resi Bisma. Tengah mereka berbincang-bincang, Bagawan Abiyasa dan resi Bisma datang. Setelah mereka berdua disambut, lalu diajak masuk ke istana. Bathara Narada dan Bathara Darma datang. Raja Pandhu dan Basudewa cepat-cepat menyambut kedatangan para dewa. Bathara Narada memberi tahu tentang tujuan kedatangannya. Bathara Narada menyuruh agar Bathara Darma merasuk kepada Dewi Kunthi, membimbing kelahiran bayi. Bathara Darma merasuk, bayi dalam kandungan Dewi Kunthi segera lahir. Bayi lahir laki-laki. Bathara Narada memberi nama Puntadewa, dan mendapat sebutan Darmaputra. Semua yang hadir menyambut kelahiran sang bayi.

Raja Yaksadarma dan para pengikutnya datang menyerang negara Ngastina. Raja Yaksadarma mati oleh Pandhu, Endrakusuma mati oleh Arya Widura, Garbacaraka mati oleh Arya Ugrasena. Bathara Bayu menghalau semua perajurit raksasa.

Yudhisthira Rabi
Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sakuni, Dursasana, Kartamarma, Jayadrata, Citraksa dan Citraksi. Pada kesempatan tersebut Raja mengungkapkan niatnya, ingin mengawinkan pendeta Durna. Senyampang ada sayembara untuk merebutkan putri Cempalareja yang bernama Dewi Drupadi Jayadrata ditugaskan untuk mengikuti sayembara di Pancalareja atau Cempalareja atas nama pendeta Durna. Setelah selesai perundingan, raja membubarkan pertemuan, lalu masuk istana.

Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri dan ibunya. Raja bercerita tentang rencana perkimpoian pendeta Durna. Mereka makan bersama Patih Sakuni mengumpulkan para Korawa, mereka diberitahu tentang kepergian ke Pancalareja dan pembagian tugas. Setelah siap mereka berangkat bersama perajurit untuk mengikuti sayembara.

Di negara Umbul Tahunan sang raja Prabu Kala Kuramba juga ingin mengikuti sayembara dan memperisteri Drupadi, putri raja Pancalareja. Raja menugaskan Kala Gragalba untuk menyampaikan surat lamaran. Kala Gragalba disertai Kala Gendhing Caluring, Kala Palunangsa, Wijamantri dan Tejamantri berangkat ke Cempalareja. Perjalanan Kala Gragalba bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang, Kala Gragalba dan perjuritnya terdesak, mereka menyimpang jalan.

Yudisthira dihadap oleh Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menemui Bagawan Abyasa. Begawan Abyasa memberi tahu, bahwa raja Drupada mengadakan sayembara. Yudisthira disuruh mengikuti sayembara itu, Bima diminta mewakilinya. Para Pandhawa menyetujuinya, Arjuna disuruh berangkat lebih dahulu. Arjuna berangkat bersama panakawan. Perjalanan Arjuna bertemu barisan raksasa. Terjadilah perkelahian, perajurit raksasa musnah.
Kakrasana raja muda di Mandura berunding dengan Patih Pragota dan Patih Prabawa. Patih menyetujuinya, Kakrasana segera berangkat.
Di Pancalareja, Prabu Drupada dengan Trusthaketu, sedang membicarakan persiapan sayembara. Patih Sakuni datang, minta ijin untuk mengikuti sayembara, dan akan diwakili oleh Jayadrata. Raja menyuruh agar peserta sayembara hadir di alun-alun. Kemudian raja menyuruh agar Trusthaketu menemui Gandamana memberi tahu, bahwa telah datang peserta sayembara. Gandamana segera pergi ke alun-alun. Jayadrata telah siap menanti. Gandamana dengan sigap menarik Jayadrata, kemudian dibanting. Jayadrata pingsan tidak berdaya, lalu ditarik mundur oleh para Korawa.

Selanjutnya datang Kakrasana yang menyamar sebagai pertapa. Gandamana menghadapi dengan tenang. Kakrasana digertak, terpental jauh dan jatuh terjepit batu. Kakrasana berteriak kesakitan, memanggil-manggil Narayana. Kebetulan Narayana lewat, mendengar panggilan atas dirinya. Batu penjepit diminta kembali, narayana meneruskn perjalanan , hendak menyaksikan sayembara.

Yudisthira sesaudara menghadap Prabu Drupada. Ia minta diperkenankan mengikuti sayembara. Raja merelakan Drupadi untuk diperisteri Yudisthira tanpa harus melalui sayembasara, tetapi Gandamana tidak merelakannya. Bima juga tidak ingin perkimpoian tanpa menempuh sayembara.

Bima datang dialun-alun, Gandamana siap melawannya. Mula-mula Bima dapat disergap kuat-kuat,sehingga tidak berdaya. Melihat Bima terdesak, Arjuna dari jauh memberi isyarat agar Bima menggunakan kuku Pancanakanya. Gandamana ditusuk dengan kuku Pancanaka dan jatuh tak berdaya. Sebelum meninggal Gandamana memberikan ilmu kesaktian dan pesan kepada Bima.

Narayana menggugat kemenangan sayembara untuk Yudisthira. Ia bertengkar dengan Arjuna. Trusthajumena datang melerainya, dan mengatakan jika yang bertikai berhasil membunuh Naga yang berada dipohon beringin dialah yang berhak memboyong Drupadi. Mereka mencoba membunuh seekor Naga. Narayana tidak dapat membunuhnya. Panah Arjuna berhasil memusnahkan Naga. Narayana masih belum terima, ia mengajak beradu kesaktian dengan Arjuna. Dan Arjuna meladeni tantangan Narayana. Narayana dipanah oleh Arjuna, terpental jauh, jatuh di luar kerajaan Pancalareja.

Prabu Drupada menyerahkan Drupadi kepada Yudisthira. Upacara perkwinan dan pesta besar akan dilaksanankan di kerajaan Pancalareja. Tiba-tiba raksasa Kala Karamba datang bersama perajurit raksasa. Bima ditugaskan untuk melawan musuh. Raja raksasa mati dan perajurit raksasa musnah tak bersisa. Prabu Drupada dan para Pandhawa mengadakan pesta perkimpoian di istana Pancalareja.

Seri Cerita Ramayana
Subali Gugur
Lakon ini mengisahkan keculasan Prabu Dasamuka, raja Alengka. Setelah berguru pada Resi Subali, dan memperoleh Aji Pancasonya, ia mencari akal agar gurunya itu mati, sehingga di dunia ini hanya Dasamuka seorang yang memiliki ilmu sakti itu.

Untuk mencapai tujuannya Prabu Dasamuka mengutus Kala Marica untuk berubah rupa menjadi dayang pengasuh Dewi Tara, dan kemudian menghasut Resi Subali.

Kepada Resi Subali, emban dayang yang sebenarnya adalah Kala Marica itu mengadu, bahwa Dewi Tara kini hidup menderita karena sering disiksa Prabu Sugriwa. Hasutan ini termakan oleh Subali, sehingga resi berujud kera itu segera pergi ke Guwakiskanda untuk menghajar adiknya, Sugriwa. Sugriwa kalah, tubuhnya dijepit di dahan pohon kamal.

Sementara itu, Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta, dibawa terbang ke Alengka. Dalam perjalanan, seekor burung raksasa melihat peristiwa itu dan mencoba menolong Dewi Sinta. Namun, Dasamuka lebih sakti. Terkena pedang Candrasa, Jatayu luka berat dan jatuh ke bumi.

Rama dan Laksmana yang mencari Dewi Sinta menemukan Jatayu yang sedang sekarat. Sebelum ajal, Jatayu sempat memberitahukan bahwa Dewi Sinta diculik Dasamuka dan dibawa ke Alengka. Rama dan Laksamana kemudian bertemu dengan Sugriwa yang sedang tersisa dijepit dua buah dahan. Sugriwa ditolong. Sebagai rasa terima kasih Sugriwa menyatakan kesanggupannya membantu Rama dalam usahanya membebaskan Dewi Sinta.

Sugriwa kemudian menantang Subali. Namun, dalam perang tanding itu Sugriwa kalah lagi. Rama lalu menyuruh Sugriwa mengenakan janur kuning di lehernya.

Ketika kakak beradik itu berperang tanding lagi, Rama memanah Subali. Sebelum ajal, Subali bertanya pada Rama, mengapa ia mencampuri urusan orang lain.

Rama menjawab, bahwa ia terpaksa membunuh Subali sebagai hukuman karena Subali mengajarkan ilmu Pancasonya pada Rahwana.

Seri Cerita Ramayana
Ayodhya Bedah
Lakon ini menceritakan Prabu Banaputra dan permaisuri Dewi Kukilawati di Ayodya yang sedang merawat putrinya Dewi Raguwati alias Suksalya, karena sakit lumpuh. Berkat bantuan raja pertapa bernama Begawan Rawatmaja dan raja burung raksasa bernama Sempati, Dewi Raguwati dapat disembuhkan. Setelah sembuh Raguwati diserahkan kepada Rawatmaja dan dibawa ke pertapaannya.

Sementara itu Prabu Rahwana dari Alengka marah, karena karena merasa keingiannya mempersunting Raguwati mendapat halangan, segera mengejar Rawatmaja.

Ketika Rahwana dan Rawatwaja berperang tanding, Dewi Ragu pergi melarikan diri ke Hutan Dandaka dan bertemu dengan Dasarata serta Begawan Yogisrawa. Dasarata memuja bunga menjadi Dewi Ragu tiruan dan diberikan Rahwana. Dewi Raguwati selamat. Namun, ketika Rahwana tahu bahwa dirinya tertipu, ia marah dan pergi ke Kahyangan Suralaya.

Sesudah Rahwana mengamuk, Batara Endra memberinya tiga orang bidadari cantik sebagai gantinya yakni: Dewi Tari, Dewi Kiswani, dan Dewi Triwati. Dengan memiliki tiga bidadari ini kerinduan terhadap Raguwati dapat terlupakan. Beberapa waktu kemudian Dewi Kiswani diberikan pada Kumbakarna, Dewi Triwati diberikan kepada Gunawan Wibisana, sedangkan Dasamuka hanya memperistri Dewi Tari.

Seri Cerita Ramayana
Benggala Runtuh
Ini adalah lakon versi lain dari perkkawinan Prabu Dasarata dengan Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati.

Lakon ini dimulai dari jejer Keraton Alengka. Prabu Dasamuka memerintahkan Patih Prahasta untuk melamarkan Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati, putri Prabu Kusumaraja dari Kerajaan Benggala atau Bindarata.

Prabu Kusumaraja mengadakan sayembara, siapa yang dapat mengalahkan Somalawan, keponakan raja, ia berhak mempersunting Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati. Yang dapat mengalahkan Somalawan ternyata adalah Prabu Dasarata, raja Ayodya. Dengan demikian, Dasarata memperistri kakak beradik putri Benggala itu.

Namun, rupanya, Somalawan juga menginginkan kedua putri itu. Karena itu, setelah kalah dari Prabu Dasarata, Somalawan lari mengadu pada ayahnya Resi Kala dari Pertapaan Taksikenda.

Sang Resi, mengdapat pengaduan itu segera be-angkat ke Benggala untuk menghajar Prabu Dasarata. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Patih Prahasta, yang ternyata juga akan melamar Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati. Keduanya lalu berperang tanding. Prahasta kalah dan lari pulang ke Alengka.

Prabu Dasamuka yang mendapat laporan Prahasta, langsung berangkat ke Benggala. Ia mengamuk, menghancurkan negeri itu dan membunuh Prabu Kusumaraja, Resi Kala, dan Somalawan.

Setelah itu ia memburu Prabu Dasarata, tetapi setelah bertemu, Dasarata dapat menipunya. Raja Ayodya itu mengatakan bahwa Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati kini berada di Pertapaan Kutarungu untuk menambah ilmu. Prabu Dasamuka puas dengan keterangan itu dan pulang ke Alengka, sedangkan Dasarata pulang ke Ayodya.

Seri Cerita Ramayana
Bukbis
Bukbis, yang berujud makhluk mengerikan, adalah salah seorang anak Prabu Dasamuka, raja Alengka. Ia mempunyai saudara tunggal ibu, yakni Trigangga yang berujud kera. Mereka dilahirkan oleh Dewi Sayempraba dan tinggal di Kadipaten Kutawindu, bersama ibunya.

Ketika sudah dewasa keduanya menghadap ke Istana Alengka, tetapi Dasamuka tidak mengakuinya sebagai anak, kecuali bila dapat membunuh Rama dan Laksmana.

Bukbis dan Trigangga lalu menyusup ke Pesangrahan Suwelagiri, menggunakan Aji Panyirep, dan menculik Rama serta Laksmana, dibawa ke Kutawindu. Anoman mengejar, tetapi dihalangi Trigangga. Terjadi perang tanding. Mereka lalu dilerai oleh Batara Narada, yang kemudian menjelaskan bahwa sesungguhnya Trigangga adalah anak kandung Anoman.

Anoman dan Trigangga ini lalu bahu membahu melawan Bukbis. Namun ketika Bukbis mengenakan ‘topeng waja’, Anoman dan Trigangga kewalahan, karena dari mata topeng waja itu keluar sinar sakti yang dapat menghanguskan lawannya.

Atas nasihat Gunawan Wibisana, Anoman melawan Bukbis sambil membawa sebuah cermin besar. Dengan cermin itu ia membalikkan sinar sakti Bubis, sehingga makluk itu binasa.

Rama dan Laksamana kemudian dibebaskan, dan Trigangga selanjutnya berjuang di pihak Rama.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s