Lakon Wayang Part 46


Seri Cerita Lokapala
Lokapala Bedah
Lakon ini menceritakan keangkaramurkaan Prabu Rahwana raja Alengka, yang membuat prihatin Prabu Danaraja, raja Lokapala. Karena itu Danapati mengutus Gohmuka untuk mengantarkan surat peringatan sekaligus nasehat kepada Rahwana.

Rahwana membaca surat Danapati sangat murka, Gohmuka dibunuhnya; kemudian segera menyusun kekuatan menyerang Lokapala.

Peperangan antara pasukan Alengka dan Lokapala pun terjadi. Rahwana bertanding dengan Danapati, keduanya sama-sama sakti. Namun, peperangan belum selesai, dewa telah menjemput kematian Danapati, untuk dinobatkan sebagai pelengkap caturlokapala (keempat dewa penguasa dunia). Karena itu Rahwana gugat kepada dewa, minta agar Danapati dihidupkan kembali. Batara Guru tidak mengabulkan, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi umur panjang.

Ketika Rahwana kembali dari kahyangan, ia bertemu dengan Widawati. Rahwana jatuh cinta, namun ditolak, bahkan Widawati bunuh diri ke dalam api, sehingga Rahwana mabuk asmara.

Seri Cerita Kadewatan
Wisnu Rabi
Sang Hyang Pramesti Guru, akan mengawinkan Batara Wisnu dengan Dewi Pratiwi, putri Batara Ekawara dari Kahyangan Ekapratala. Untuk melaksanakan niat tersebut Batara Guru mengutus Batara Narada untuk menjemput Dewi Pratiwi. Namun ternyata Dewi Pratiwi menolak jemputan itu karena ia mempunyai permintaan atau syarat, ia hanya akan kimpoi dengan pria yang dapat membawakan bunga Wijayakusuma.
Sementara itu pada suatu malam Endang Sumarsi putri Begawan Kesawasidi dari Pertapaan Argajati – bermimpi kimpoi dengan Batara Wisnu.

Pagi harinya ia minta kepada ayahnya agar mencarikannya orang yang menjadi idamannya itu. Sang Begawan menuruti permintaan putrinya, pergi mencari. Tak berapa lama kemudian Begawan Kesawasidi bertemu dengan Batara Wisnu yang diiringi oleh Semar, Gareng dan Petruk. Kesawasidi mengutarakan maksudnya, tetapi ternyata Batara Wisnu menolak. Baru setelah dengan kekerasan, Wisnu menuruti kehendak Kesawasidi.

Setelah tiba di Pertapaan Argajati, Batara Wisnu segera dikimpoikan dengan Endang Sumarsi. Setelah beberapa hari tinggal di pertapaan, Batara Wisnu mengatakan kepada mertuanya bahwa ia mencari bunga Wijayakusuma dan minta pertapa itu membantunya. Sang Kesawasidi yang memiliki bunga itu tidak keberatan dan memberikan Wijayakusuma sebagai sarana untuk mengawini Batari Pratiwi.

Setelah Batara Wisnu mendapatkan bunga Wijayakusuma, segera menuju Ekapratala.
Sementara itu Prabu Wisnudewa, raja raksasa dari Garbapitu juga melamar Batari Pratiwi. Setelah mendengar laporan patihnya bahwa calon mempelai putri menginginkan bunga Wijayakusuma, ia sangat bergembira, sebab sang Raja mempunyai banteng yang berwarna biru hitam pada lehernya terdapat cangkok/cabang dari bunga Wijayakusuma.

Karenanya ia segera berangkat ke Kahyangan Ekapratala. Namun, betapa kecewanya karena setelah tiba di Kahyangan Ekapratala, ternyata Batari Pratiwi
telah dikimpoikan dengan Batara Wisnu. Hal ini membuat Prabu Wisnudewa murka.

Bersama bala tentaranya, Prabu Wisnudewa menyerang serta berusaha merebut Batari Pratiwi. Peperangan terjadi, Prabu Wisnudewa dan banteng yang aneh dapat dibunuh Wisnu dan keduanya menyatu (merasuk) pada tubuh Wisnu. Demikian pula, Cangkok Wijayakusuma akhirnya menyatu dengan bunganya.

Seri Cerita Kadewatan
SRI MAHA PUNGGUNG
Raden Sadana, di Dukuh Medhangagung, dengan dihadap oleh pengasuhnya: kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang, sedang menerima kedatangan kakandanya, Dewi Sri. Berkatalah Dewi Sri, Duhai, dinda Srisadana, istana Medhangkamulan kutinggalkan, sebab ayahanda Srimahapunggung murka kepadaku, karena menolak kehendak beliau akan mengawinkan aku dengan dengan prabu Pulagra dari kerajaan Medhangkumuwung. Memang sudah menjadi tekadku, tidak akan melayani priya, jika sekiranya tidak sebanding dengan keadaan dinda sendiri. Selanjutnya juga diberitahukan bahwa prajurit-prajurit dari Medhangkumuwung masih mengejarnya, untuk itu kepada Srisadana diperintahkan untuk bersiap-siap menghadapinya. Musuh yang mengejar Dewi Sri, sesampai di dukuh Medhangagung, dapat dikalahkan oleh Raden Sadana. Dewi Sri juga menyejui kehendak adiknya untuk bertempat tingal di hutan Medhangagung. Untuk itu Raden Sadana perlu pergi menemui buyut Sondang di dhukuh Medhanggowong. Pergilah Raden Srisadana diikuti oleh ketiga abdinya, kyai buyut Tuwa, kyai empu Cukat, dan kyai Wayungyang.

Sesampainya di dhukuh Medhanggowong, pesan Dewi Sri disampaikan kepada buyut Sondang. Ki buyut diharap datang di Medhangagung dengan membawa bekal benih palawija, bibit kelapa, lombok dan terong. Kepada buyut Sondhang, Raden Srisadana mengatakan akan melanjutkan perjalanannya menuju ke Medhangtamtu, ke tempat kyai buyut Wangkeng.

Setelah siap semuanya buyut Sondhang berangkat dengan isteri dan segenap buyut-buyut Medhanggowong, menuju ke Medhangagung. Dewi Sri menerima kedatangan Raden Sadana, yang melaporkan tugas untuk membebaskan ki Wangkeng telah diselesaikan. Buyut Wangkeng dan isterinya pun telah bersama-sama menghadap sang Dewi Sri. Juga buyut Sondhang, istrinya, dan lain-lainnya telah berada di Medhangagung. Para prajurit yang dikalahkan oleh raden Sadana kembali lagi di bawah pimpinan rajanya sendiri, ialah prabu Plagra. Buyut Wangkeng, buyut Sondhang, dan semua warga dhukuh Medhangagung berusaha mengalahkannya, perang terjadi sangat ramainya. Hyang Narada, memerintahkan kepada Hyang Bayu untuk membunuh Prabu Pulagra. Terbunuhlah raja Medhangkumuwung. Kepada Dewi Sri, Hyang Narada bersabda, Hai, puteraku Dewi Sri, atas kehendak Hyang Girinata, jika kau menyetujuinya, maukah kau dikimpoikan dengan adikmu raden Sadana?, Oleh Dewi Sri saran Hyang Narada tersebut dengan rendah hati ditolak. Kembalilah para dewa ke kahyangan, bersuka citalah Dewi Sri.

Sri Mantuk
Syahdan beberapa negara dilanda malapetaka. Dewa bersabda kepada para raja negara- negara yang tertimpa kenistapaan bahwa mereka akan dapat terhindar dari bahaya dan menjadi subur makmur negaranya, jika dapat membawa Dewi Sri. Berkatalah Prabu Matswapati kepada para putra, Hai Seta, Wratsangka, dan Utara, pergilah kalian sekarang juga ke negara Astina. Sampaikanlah permintaanku, agar Prabu Kresnadipayana berkenan untuk datang ke negara Wirata. Itulah sabda dewa kepadaku, dan jangan lupa membawa Dewi Sri ke Wirata. Usahakan jangan sampai tak terlaksana”. Berangkatlah ketiga putra Prabu Matswapati ke Astina. Di negara Astina Prabu Kresnadipayana menerima ketiga putra Wirata. Datang juga di Astina Resi Nagatatmala, putra Hyang Anantaboga, dari Saptapretala. Berkatalahlah Prabu Kresnadipayana, Wahai adinda Seta, Wiratsangka dan Utara, sampaikanlah pesanku kepada Raja Wiratha, segala permintaannya kusanggupi. Segera pulanglah ketiga putra Prabu Matswapati ke Wiratha. Adapun Resi Nagatatmala dipesan oleh Prabu Kresnadipayana, Hendaknya putraku Nagatatmala, mencari, Dewi Sri, dan sesudah kau dapati bawalah dia ke negara Wiratha. Aku akan menemui ayahdamu di Saptapretala. Resi Nagatatmala mundur untuk mencari Dewi Sri, diiringkan oleh ketiga abdinya, Semar, Nalagareng dan Petruk.

Pratalaretna, dengan Rajanya Prabu Darmasara sedang dirundung malang, karena kehadiran Dewi Sri di negara tersebut mengundang kerumitan masalah. Banyak raja yang melamar Dewi Sri kalau ditolak, tak lain ancaman yang datang. Pada suatu hari, berkumpulah Prabu Darmasara, dengan istrinya, Dewi Darmawati, dan putranya Dewi Darmarini, serta Dewi Sri. Mereka sedang menerima untuk menyampaikan permintaannya tersebut kepada Raden Sadana. Berangkatlah Resi Nagatatmala menemui Raden Sadana, segala permintaannya diceritakan, namun oleh Raden Sadana ditolak, sehingga terjadilah perang. Raden Sadana dapat dikalahkan oleh Resi Nagatatmala. Kepada Dewi Sri, segala hal ihwal diceritakan, akhirnya Resi Nagatatmala diambil putra oleh Dewi Sri. Dewi Darmarini juga diambil putra, keduanya lalu dikimpoikan. Bersukacitalah Prabu Darmasara berserta istrinya, apalagi musuh yang mengancam negara Pratalaretna sudah dapat dikalahkan oleh Patih Jayalegawa. Dewi Sri, dengan diiringi oleh Raja Pratalaretna beserta istri berangkat ke Negara Wiratha. Resi Nagatatmala melanjutkan perjalananya ke Astina, untuk memboyong Prabu Kresnadipayana. Di Negara Wiratha Prabu Matswapati menerima banyak tamu: Dewi Sri bersama Prabu Darmasara dan istrinya, Dewi Darmarini istri Resi Nagatatmala, Prabu Kresnadipayana, dan juga Resi Kanekaputra, yang diutus oleh Hyang Girinata. Para putrapun telah menghadap raja. Berkatalah Hyang Narada, Kaki Prabu Matswapati, bahagialah anda beserta seluruh warga negara Wiratha, Dewi Sri telah berada di Wiratha, aku datang kemari, tak lain hanya membawa Resi Nagatatmala ke kahyangan. musuh telah mengancam. Raja Guwarejeng, Prabu Suryakumala, memaksakan diri meminta bidadari Dewi Warsini, untuk diperistri. Hyang Guru tak mengizinkannya. Sang Prabu Matswapati sangat bersukahati dapat membantu para dewa, direlakanlah Resi Nagatamala Ke kahyangan beserta resi Narada dan Hyang Bayu. Sepeninggal para dewa, laporan masuk ke istana Wiratha, musuh menyerang. Oleh sang raja diperintahkan segala prajurit menghadapinya. Ternyata prajurit dari Guwarejeng tumpas habis, Prabu Suryakumala dan Sasradewa mati oleh Prabu Kresnadipayana. Sisa prajurit dari Guwarejeng yang masih hidup melarikan diri. Bersukacitalah seluruh istana Wiratha merayakan kemenangan.

Alap-alap Banowati 1
Syahdan Prabu Kurupati berkehendak akan mempersunting Dewi Banowati, sang puteri mengajukan persyaratan perkimpoian, diwujudkan gajah berwarna putih beserta penggembalanya seorang wanita. Untuk mengusahakannya, prabu Kurupati memanggil Arjuna dari kasatriyan Madukara, kepadanya diminta bantuannya, untuk mewijudkan hal tersebut. Raden Arjuna menerima perintah prabu Kurupati, segera memohon diri. Kepada patih sengkuni , juga diperintahkan untuk mengusahakan persyaratan perkimpoian tersebut, beranfgkatlah sang patih beserta segenap wadyabala Korawa,.

Ibunda raja Dewi Anggendari, telah dilapori oleh prabu Kurupati, bahwasanya adinda ksatriya Madukara raden Arjuna diminta bantuannya mengusahan gajah putih beserta penggembalanya seorang wanita. Dewi Anggendari kelihatannya bersyukur dalam hati.

Tersebut raja yaksa bernama Kurandageni dari kerajaan Timbultahunan. Bermimpi bertemu dengan puteri kerajaan Tasikmadu bernama Dewi retna Juwita, jatuh hatilah sang prabu kepada puteri etrsebut. Untuk mencapai terlaksananya maksud tersebut, prabu Kurandageni mengirimkan utusan untuk melamarnya, ke negara Tasikmadu.

Di kerajaan Tasikmadu, maharaja Kasendra dihadapm oleh putranya bernama Raden Kasena. Tak lama datanglah utusan raja yaksa Timbultahunan menyampaikan surat pinangan dari rajanya. Raja Kasendra menerimanya, dan menjelaskan bahwasannya tak keberatan putrinya diinang raja Timbultahunan, akan tetapi persyaratannya harus dibayar dengan peperangan. Utusan raja Timbultahunan menyanggupkan diri akan memenuhinya, bermohon diri bersiap-siap menghadapi wadyabala kerajaan Tasikmadu, yang dipimpin oleh raden Kasena.

Bertemulah wadyabala Timbultahunan dan Tasikmadu, raden Kasena dan patih jayalukita memimpinnya, akan ettapi wadyabala Tasikmadu tak dapat menahan serangan wadyabala Timbultahunan, sehingga kocar-kacir. Akhirnya raden Kasena, diikuti Patih Jayalukita berdatang sembah melapor kepada raja Kasendra. Perintah dari raja Kasendra, mereka diperintahkan untuk mencari bantuan, berangkatlah mereka menunaikan tugasnya.

Di tengah hutan, raden janaka sedang beristirahat, dikelilingi oleh panakawannya, Kyai Semar, nalagareng dan Petruk. Tak jauh dari tempat peristirahatannya, kelihatan seekor taksaka (ular) dan harimau. Sang taksaka berkata kepada harimau, bahwasanya dia lapar,dan kebetulan tercium olehnya bau adanya manusia. Berangkatlah mereka mendekati tempat raden Janaka dan para panakawannya. Para panakawan yang mengetahui datangnya bahaya segera melarikan diri. Tinggalah raden Arjuna sendirian, tak mengira akan kedatangan bahaya, sehingga terperanjatlahpada waktu taksaka (ular) berusaha menyerangnya, akan tetapi segera dilepasi panah, taksaka mati. Harimau yang mengetahui taksaka mati segera menyerang Arjuna juga mati oleh panah Arjuna. Tampaklah sekarang Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih, itulah si takska dan harimau tadi. Kepadanya ditanyakan maksud dan tujuannya, Arjuna berdatang sembah menguraikan akan maksud mencari gajah berwarna putih beserta penggembalanya seorang wanita , untuk kelengkapan perkimpoian Prabu Kurupati. Hyang Kamajaya menjelaskan, sebaiknya pergi ke kerajaan Tasikmadu, sebab puteri raja Kasendra bernama retna Kasimparlah yang memilikinya, dia pun beradik lagi puteri juga bernama retna Juwita. Sesuai Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih bersabda kepadanya, mereka segera makahyangan. Arjuna laju meneruskan perjalanannya, diikuti oleh Kyai Semar, nalagareng dan Petruk.

Di pertengahan jalan Arjna bertemu dengan raden Kasena dan Patih Jayalukita, setelah diuraikan maksudnya, Arjuna bersedia membantu kesulitan raja Tasikmadu, dari ancaman musuh. Kepada patih Jayalukita diperintahkan untuk melapor kepada raja terlebih dahulu, dan minta dipersiapkan jemputan kendaraan bagi Raden Arjuna dan raden Kasena, patih berangkat. Setelah jemputan datang, berangkatlah raden Arjuna beserta raden Kasena, setelah datang di Kerajaan Tasikmadu, diterima oleh raja Kasendra. Arjuna menyanggupkan diri, dan mengaku dari kerajaan Astina. Sang raja Kasendra berpikir dalam hati , Arjuna sangat rupawan, sebaiknya dipertemukan terlebih dahulu dengan puterinya yang tertua, retna ksimpar. Sang retna pun setelah diberitahu oleh raja Kasendra beserta ibundanya Dewi Clekatana, segera diperjodohkan dengan raden Janaka. Setelah tiga hari mereka sebagai suami-istri, raden Janaka berkata kepada Retnaksimpar, bahwasanya dia berjanji kepada raja Kasendra, akan berperang demi kerajaan Timbultahunan, yang sekarang sedang mengepungnya. Semula istrinya tak mengijinkan, akan tetapi setelah Janaka berusaha menghibur retna Kasimpar, tertidurlah sang Retna. Kesempatan itu, dipergunakan untuk menghadap raja Kasendra. Sang raja mengijinkan raden Janaka untuk berperang, dengan didampingi oleh raden Kasena, beserta patih Jayalukita.

Wadyabala kerajaan Timbultahunan, bertempur dengan raden Janaka, kalah semuanya, sisanya yang masih hidup mengundurkan diri guna melapor pada rajanya. Raden Arjuna segera meninggalkan arena pertempuran, dengan meninggalkan pesan kepada raden Kasena, hendaknya melaporkan keadaan pertempuran kepada raja Kasendra. Di istana tersiarlah kabar, bahwasanya musuh dari Kerajaan Timbultahunan dapat dikalahkan oleh raden Janaka. Konon permaisuri raja sangat bersesal hati, dikarenakan mulanya sang permaisuri tak merelakan raden Arjuna, mempersunting salah satu puterinya. Tindakannya tak lain akan membunuh Retna Kasimpar, terlaksanalah maksudnya, Retna kasimpar dapat dibunuh, dan dimasukkan ke dalam sumur yang telah mati, ditimbuni dengan sampah-sampah. Kembalilah Dewi Clekatana ke kraton, dengan menghilangkan jejaknya, seluruh badannya diberi wangi-wangian.

Alap-alap Banowati 2
Retna Kasimpar yang mempunyai gajah yang berwarna putih, agaknya si gajah mengetahui tindakan ibundanya sang retna Dwi Clekatana, segera rantai yang membelenggunya dipatahkan dan lari mengamuk di luar istana, tujuannya mencari untuk melapor kepada raden Janaka. Setelah bertemu, seakan-akan si gajah memberitakan, bahwasanya retna kasimpar mati dibunuh oleh ibundanya ialah Dewi Clekattana. Segeralah si gajah merendahkan punggungnya, seakan-akan mempersilahkan raden Janaka untuk segera naik dipunggungnya. Arjuna sangat iba hatinya menyaksikan tingkah laku gajah tersebut, segera dinaikinya, gajah berlalu menuju tempat penguburan Retna Kasimpar, diikuti oleh Kyai Semar,Nalagareng fdan Petruk. Sesampainya dsumur tua , gajah putih segera mengangkat segala sampah yang menimbuninya, sesudahnya terangkatlah Retna Ksimpar dari dalam sumur tua yang telah mati itu. Raden Janaka sehgera menyambut istrinya, memondongnya untuk kemudian dihadapkan dengan raja Kasindra. Di Istana Timbultahunan , raja Kasendra sedang menerima laporan dari raden Kasena dan Patih jayalukita, perihal kemenangan wadyabala Tasikmadu yang dipimpin Raden Janakaa. Raja sangat senang hatinya, selagi mereka bersuka cita merayakan kemenangan, datanglah raden Janaka memondong istrinya , ialah Retna Kasimpar. Raja sangat terperanjat, melihat ulah raden Janaka. Setelah duduk bersimpuh dihadapan mertuanya, Janaka melapor bahwasanya gajah putih membawanya ke tempat sumur yang telah mati dan didalamnya terbukti terkubur istrinya, dan inilah jenazah putri raja. Raja sangat murka, tak seorangpun mengetahui yang mengetahui asal mula kematian Retna Kasimpar. Raja mengundangkan, barangsiapa yang dapat memberikan keterangan siapa pembunuhnya akan diberi hadiah, akan tetapi barang siapa dapat menangkap pembunuhnya, raja akan memakan hati si pembunuh , dan akan menyembelihnya. Raden Janaka yang mendengar sabda raja Kasendra, segera sukmanya meninggalkan raganya sendiri, tak lain yang dicarinya ialah sukma istrinya Retna Kasimpar. Masih dalam lindungan para dewa , sukma Janaka bertemu dengan sukma Retna Kasimpar, diajaknya kembali masuk ke dalam raga masing-masing. Tak ayal lagi raga Retna Kasimpar, bangkit kembali, hidup jadinya, Ayahandanya sangat sukacita, dan mendengarkan laporan retna Kasimpar, bahwasanya ibunya sendiri yang telah membunuhnya, manakala dia sedang tidur diperaduannya, itulah yang hanya dia ingat. Raja sangat murka, tak lain tindakan yang akan diambil akan membunuh istrinya, ialah Dewi clekatana. Setelah bertemu, ditanyalah sang permaisuri, namun tak diakuinya kalau membunuh retna Kasimpar, bahkan ucapnya meski sang dewi Clekatana bagi Retna Kasimpar merupakan ibu tiri, rasa hati tak ubahnya menganggapnya sebagai putra sendiri, sederajad dengan putrinya, ialah retna Juwita. Dewi Clekatana menyadari bahwa raja bersikeras akan menyudahinya, berkatalah kepada raja, Sinuhun, sebelum raja akan menjatuhkan hukuman mati kepada hamba, perkenankanlah hambamu berdatang sembah di kaki raja, permintaannya diterima, manakala Dewi Clekatana mencium kaki raja, tak ayal lagi dimantramkanya aji kasih- sayangnya kepada raja, bernama jarangoyang (kuda bergoyang). Raja terkena , seketika itu juga putusannya berubah, tak kuasa akan membunuh istrinya, mundurlah raja menemui raden Janaka, kepadanya diperintahkan untuk menyudahinya. Raden Janaka yang menerima perintah tersebut, segera menemui sang dewi, diikuti oleh kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Kepada kyai Semar, Janaka memerintahkan untuk membunuhnya Dewi Clekatana, dan Semar segera mendekatinya, akan membunuhnya sang dewi. Memang kenyataannya sang dewi sangat sakti, dilepaskannya aji saktinya, keluarlah setan-setan, menyerang kepada kyai Semar, pingsanlah. Nalagareng berusaha menolongnya, setan yang bernama Topeng-reges keluar dari tubuh kyai Semar, kembali ke masuk ke tubuh Nalagareng, demikianlah berganti-ganti Semar, Nalagareng, dan Petruk dimasuki si Topeng-reges, setan pemeliharaan Dewi Clekatana. Petruk sudah tidak sabar lagi melihat tingkah-laku para setan, segera dipanggilnya si Kendho. Dia adalah setan penjaga Petruk, kepadanya untuk mengusir setan-setan yang bernama Topeng-reges dan Klunthungwaluh, lari tunggang langgang lapor kepada Dewi Clekatana, akhirnya dari pelariannya, Dewi Clekatana dapat dipukul dengan pentung oleh Petruk, dan matilah. Jenazahnya segera dipersembahkan kepada raj Kasendra, dan diterima raja. Setelah permasalahannya jelas, raja merelakan putra menantunya raden Arjuna, untuk bermohon diri, dengan diikuti oleh Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Dewi Kasimpar pun tak ketinggalan, bersama raden Arjuna.

Mereka menuju kerajaan Astina, dengan naik gajag putih diikuti oleh para panakawan. Raja Astina, prabu Kurupati menyadari bahwa utusannya gagal dalam usahanya mencari gajah putih , namun sangat suka hatinya, menerima laporan bahwasanya raden Janaka datang di kerajaan Astina, dengan berkendaraan gajah putih. Raja sendiri menyambutnya, terharu hatinya melihat Janaka berhasil mendapatkan gajah putih, kepadanya diajak oleh raja bersantap bersama-sama, kepada patih sakuni diperintahkan untuk segera melaporkan keadaan tersebut ke hadapan raja Mandraka, bahwasanya temanten laki akan segera berangkat. Sangat panjang iring-iringan temanten Adstina, dengan segala kemegahan temanten laki, prabu Kurupati diterima oleh raja Mandra. Segera dipertemukan dengan Dewi Banowati, dengan disaksikan oleh prabu Baladewa raja Mandura, Prabu Yudistira dari Amarta, Bratasena, patih Sengkuni, Janaka dan para kawula praja. Seisi praja Mandraka merayakan perkimpoian Dewi Banowati dengan prabu Kurupati dari Astina, mereka berpesta pora, sungguh suatu perkimpoian agung, dan besar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s