Lakon Wayang Part 47


Alap-alapan Dursilawati
Pada suatu hari Prabu Suyudana kehilangan adiknya putri yakni Dursilawati yang telah bertunangan dengan Jayadrata. Untuk itu sang Raja mengutus Adipati Karna yang diikuti Kurawa mencari putri itu. Di perjalanan bertemu dengan Kala Bancuring, Kala Mingkalpa dan Kala Pralemba utusan Prabu Kuranda Geni dari Tirtakadasar, yang ingin pergi ke Astina dan terjadi perkelahian.

Sementara Arjuna yang diikuti Semar, Gareng, Petruk sedang lewat di tengah hutan tiba-tiba mendengar tangis wanita yang berada di atas punggung gajah yakni Dursilawati. Tanpa pikir panjang Arjuna segera memberi pertolongan dengan melepaskan panah angin untuk mengusir gajah itu serta membebaskan sang Putri, yang selanjutnya akan dibawa ke Astina. Namun diperjalanan Arjuna diserang oleh Kurawa dan ditangkap, diikat kemudian ditahan di Astina.

Prabu Kurandageni yang mendengar berita bahwa bala tentaranya terbunuh maka ia mengutus emban Kepetmega untuk menculik Dursilawati. Perjalanan Kepetmega membuahkan hasil sehingga membuat gusar Prabu Suyudana. Untuk itu ia minta pertolongan Arjuna agar dapat menemukan kembali Dursilawati. Kali Arjuna sanggup tetapi ia minta Jayadrata mengikutinya dan kedua ksatria itu menuju Tirtakadasar.

Setelah tiba ditempat penyekapan Dewi Dursilawati, Arjuna mengajukan pertanyaan, apakah Dursilawati bersedia menjadi istri Jayadrata. Setelah mendapat jawaban yang pasti maka Jayadrata diminta membebaskan sendiri Dursilawati di ruang Prabu Kuranda Geni.

Akhirnya Arjuna dapat membunuh Kuranda Geni dan membebaskannya dan dibawa ke Astina. Maka Suyudana mengawinkan pasangan itu. Sedangkan gajah yang menculik Dursilawati datang tetapi dapat dibunuh Bima.

Alap-alapan Larasati
Kyai Antagopa yang bertempat tinggal di Widarakandang wilayah Mandura mempunyai anak Rarasati, serta mempunyai anak angkat Bratajaya dan Narayana. Rarasati telah dewasa dan cantik maka banyak pria yang melamar. Agar ia mendapatkan suami yang terhormat maka kakaknya, yakni Udawa mengadakan sayembara perang tanding, ia sendiri jagonya. Banyak para raja dan pangeran yang melamar termasuk Jayapitana putra mahkota dari Astina yang telah mendapat restu Drestarastra. Ia datang ke Widarakandang bersama Sengkuni, Dursasana, Jayadrata mencoba memasuki sayembara perang tetapi Suyudana kalah.

Sementara Arjuna diberitahu oleh Abiyasa bahwa Dewi Rarasati itu diperuntukan kepadanya, oleh karena itu ia diperintah untuk segera datang di Kademangan Wirakandang. Semar memberikan nasehat agar Rarasati dilarikan tetapi Arjuna menolak dan memutuskan akan mengikuti sayembara perang.

Setelah tiba di Widarakandang sebenarnya ia merupakan tamu yang ditungu-tunggu, tetapi Arjuna tetap akan mengadakan perang tanding. Narayana mentertawakan dan mengatakan bahwa sayembara itu hanya tipu muslihat Udawa agar supaya Dewi Rarasati tidak diambil orang lain, karena menurut dewa, Rarasati telah ditentukan sebagai istri Permadi.

Arjuna tidak senang mendengar keterangan itu dan ia tetap ingin perang tanding. Sekarang perang tanding dimulai dan akhirnya Udawa kalah dan Udawa me-nyerahkan Rarasati kepada Arjuna.

Arjunawiwaha
Menceritakan usaha Arjuna untuk memperoleh senjata sakti yang dapat diandalkan untuk menghadapi Baratayuda. Maka ia pergi meninggalkan keluarga dan saudara-saudaranya untuk bertapa di Gunung Indrakila.

Sebagai pertapa ia menggunakan nama Begawan Mintaraga atau Begawan Ciptoning. Berbagai godaan yang dilakukan oleh tujuh orang bidadari tercantik dari kahyangan tidak membuatnya goyah.

Sementara itu para dewa di kahyangan kebingungan karena tidak mampu menahan serbuan balatentara raksasa dari Kerajaan Manimantaka. Batara Guru lalu menyuruh Batara Endra untuk mencari manusia yang sanggup melawan Prabu Niwatakawaca dari Manimantaka.

Sesudah melakukan berbagai pengujian, Batara Endra akhirnya memilih Arjuna sebagai jago para dewa. Tiga orang bidadari diutus menjemput ke kahyangan. Di kahyangan Arjuna ditugasi membunuh Prabu Niwatakawaca dengan dibekali dengan anak panah pusaka Pasopati. Selain itu, ia juga ditemani salah seorang bidadari, yaitu Dewi Supraba.

Dengan bantuan Supraba akhirnya Arjuna berhasil membunuh Prabu Niwatakawaca. Sebagai hadiahnya, Arjuna diangkat sebagai raja para bidadari di kahyangan dengan gelar Prabu Kariti dan dibolehkan kimpoi dengan 40 orang bidadari yang dipilihnya.

Babat Wanamarta
Diwukir Retawu, Abiyasa menerima kedatangan utusan dari Wirata, Arya Seta , arya Utara dan patih Nirbita, demikian pula tak lupa menghadap Pandhawa, Puntadewa, Arjuna Naluka dan sadewa . Arya Seta berkata, “Duhai kakanda bagawan Abyasa, ramanda prabu Matswapati memohon kakanda Abyasa, berkenan merestui para Pandhawa yang telah diberi hutan Wanamarta, juga disebut Batanakawarsa atau, Cintakapura. Sabda dewa, siapa yang berkota di Wanamarta, kelak akan menjadi raja agung, dan menurunkan para ratu di tanah Jawa. Untuk itu, Arya Sena dan prajurit-prajurit Wiratha sedang menebang hutan Wanamarta. Kami pun segera akan menyusulnya ke Wanamarta”. Abyasa merestuinya, dan akan segera menyusul dengan para Pandhawa ke Wanamarta, Seta, Untara, Wratsangka dan patih Nirbita memohon diri.

Syahdan arya Sena, Seta,Untara, Wratsangka dan patih Nirbita bersedih hati, karena para pekerja mendapat gangguan dari jim-jim hutan Wanamarta tak ada lain upaya kecuali Arya Sena memeranginya dengan bersemadi, memohon kepada dewa, agar terhindarlah mereka dari marabahaya.

Tersebutlah gandarwa-raja, yang mendapatkan sabda dewa,bahwa ia akan mendapatkan anugerah sejati, jika dapat manuksma sejati dengan Arya Sena dari Pandhawa. Ia mengetahui bahwa di hutan Wanamarta Arya Sena sedang berusaha menebang hutan-hutan Wanamarta. Didekatilah ia, dan berkata,”Raden, perkenankanlah hamba, gandarwa-raja, bersatu suksma dengan raden, itulah sabda dewa yang kuterima”. Sebelum manunggal sejati, sang gandarwa-raja berusaha untuk menilai kesaktian arya Sena, dan terjadilah perang yang sangat seru dan ramai. Akhirnya gandarwa-raja dapat dikalahkan oleh Sena, dan berhasil pula manuksma sejati dengan Raden arya Sena.

Lajulah arya Sena, menuju ke sekitar Wringin kurung. Tak ayal lagi, pekerjaan menebang Hutan Cintakapura terhenti, terulang lagi gangguan-gangguan dari jim-jim Wanamarta. Raden Arjuna yang mengetahuinya, segera mendekat. Oleh arya Sena ia diperintahkan untuk menanggulanginya. Arya Prabu Kombangaliali, menerima laporan dari prajuarit – prajurit jim yang lari tunggang-langgang dari hutan Wanamarta karena kesaktian puja Arjuna, dan berkatalah Kombangaliali, Bahagia sekali aku dapat menemukan Raden ArJuna, wahai prajurit jim Wanamarta, aku yang akan menghadapi Arjuna”, berangkatlah Kombangaliali ke hutan Cintakapura.

Setelah berhadap-hadapan dengan Raden Arjuna, Kombangaliali berkata, “Tak ayal lagi, Paduka Raden Arjuna yang patut kumuliakan, Raden, tak ada yang melebihi, kebahagiaan hamba perkenankanlah hamba, sejiwa dengan Rden. Dewa telah bersabda kepada hamba, raden”raden Arjuna menolakny, terjadilah peperangan. Hyang Narada datang dan berkata,” Arjuna, Hyang Girinata bersabda, terimalah kakekmu sendiri si Kombangaliali, engkau Ajuna akan mendapatkan nugraha sejati. Dan kau Kombangaliali, lekaslah kau manuksma sejati dengan arjuna”, demikianlah akhirnya Kombangaliali bersatu sejiwa dengan Raden Arjuna dan kembalilah Hyang Narada ke kahyangan.

Di dekat Wringin sungsang, arjuna, Semar, Nalagareng dan Petruk, bertemu dengan seorang pandita, yang tak lain adalah Prabu Partakusuma, raja jim seluruh Jawa, dan yang bermaksud akan membawa Raden Arjuna ke negaranya untuk anaknya, dyah Partawati yang bermimpi bersuamikan raden Arjuna. Semula Arjuna menolak , terjadilah peperangan. Arjuna dapat dikalahkan oleh Pandita Partakusuma dan dibawa bersama-sama dengan panakawan nya ke warngin sungsang. Ditemukanlah Dyah Partawati dengan raden Arjuna dan menjadi suami-istri. Partakusuma, setelah menarik keris Pulanggeninya Arjuna, bunuh diri untuk bersatu suksmasejati dengannya.

Untuk mengenang kejadian-kejadian ini raden Arjuna, lalu bernama Arya Parta atau Kombangaliali.

Matswapati dihadap oleh Seta, Utara, Wratsangka dan para Pandawa, membicarakan maksud Matswapati menobatkan Puntadewa menjadi raja. Berkatalah Srinata,” Semua warga Wiratha, mulai saat ini cucuku Puntadewa kuangkat menjadi raja di Amarta dan bergelar Yudhistira atau Gunatalikrama. Undangkanlah hal ini,”. Selesai diundangkan penobatan raja Yudhistira terpetiklah berita tentang kedatangan musuh dari Nuswakambangan. Prabu Kalasambawa dengan para prajuritnya ingin menumpas Pandawa, sebagai balas dendam atas kematian ayahandanya prabu Pragangsa yang terbunuh oleh Palasara. Untuk itu seluruh keturunannya, termasuk Pandawa, harus dibunuh. Patih Nirbita diperntahkan oleh Prabu Matswapati untuk menanggulanginya. Arjuna pun menerima perintah dari begawan Kresnadwwipayana, dan musuh dari Nuswakambangan dapat dikalahkan. Prabu Kalasambawa mati terbunuh oleh Arjuna. Bersuka citalah Prabu Matswapati, para Pandawa terhindar dari serangan musuh.

Baka Lena
Pihak Pandawa yang selamat atas peristiwa terbakarnya Bale Sigala-gala, akhirnya hidup di hutan. Pada suatu hari Bima pergi untuk mencarikan makanan untuk adik-adiknya, kakaknya juga ibunya, tidak disadari perjalanan telah masuk kewilayah negeri Giri Purwa kediaman Prabu Baka.

Bima merasa heran, negeri Giri Purwa sepi, lenggang tak satupun penduduknya yang berani keluar rumah dikarenakan merasa takut kepada rajanya yang mempunyai kegemaran menyantap daging manusia. Disaat Bima sedang berpikir dan ingin menanyakan sesuatu kepada seseorang, tak satupun penduduk Giri Purwa yang menampakkan diri dan ketika Bima sedang termenung tiba-tiba ia didatangi dan bertemu dengan Resi Ijrapa yang saat itu berkewajiban menyerahkan anaknya Bambang Rawan sebagai santapan raja.

Mendengar penuturan Sang Resi, Bima ingin menggantikan kedudukannya Bambang Irawan sebagai santapan raja. Dengan diantar Resi Ijrapa Bima menhadap Prabu Baka untuk dijadikan santapan raja. Resi Ijrapa merasa terharu atas kesediaan Bima yang dengan sukarela bersedia menjadi korban menggantikan anaknya, tetapi rasa terharu itu cepat berganti dengan perasaan suka cita, sebab Prabu Baka yang mendapat hidangan berupa tubuh Bima tak mampu melahapnya, dan kejadiannya berbalik tubuh Prabu Baka yang binasa oleh kekuatan Bima.

Atas perjuangan Bima dapat membunuh Prabu Baka, negeri Giri Purwa menjadi aman, tentram, sejahtera dan rakyat tidak lagi dihinggapi rasa takut untuk pergi keluar rumah. Sebagai tanda terima kasih Resi Ijrapa dan Bambang Rawan kepada Bima, kelak bila perang Barata Yudha terjadi bersedia menjadi tawur demi kemenangan pihak Pandawa, sebelum Bima kembali menemui saudara-saudaranya juga ibunya, rakyat Giri Purwa memberi bahan makanan yang tidak akan habis dalam waktu dekat.

Setelah bertemu dengan adik-adiknya, kakaknya serta ibunya, Bima menceriterakan peristiwa yang dialaminya juga kesediaan Resi Ijrapa dan Bambang Rawan yang menyediakan dirinya sebagai tawur dalam perang Barata Yudha nanti.

Baladewa – Balarama
Lakon ini menceritakan tentang usaha Pandawa untuk mengadakan pemilihan senapati dalam menghadapi Batarayuda. Di antara orang-orang yang akan menentukan senapati tersebut adalah Prabu Baladewa, Prabu Matswapati.Tiba-tiba muncullah tiga orang yang semuanya mengaku sebagai Setyaki, yang secara bergantian menghadap Prabu Baladewa. Mereka semua mengaku Setyaki asli, dan semua minta dukungan kepada Baladewa supaya dapat dipilih menjadi senapatri Pandawa dalam perang Baratayuda. Maka dengan tanpa curiga Baladewa memberikan dukungan agar mepengaruhi Prabu Matswapati. Semuanya bertujuan agar dapat dipilih menjadi senapati.

Ahirnya, karena merasa bingung Prabu Baladewa akan mengkonsultasikan permasalahan ini kepada adiknya yakni Prabu Kresna. Namun betapa terkejutnya Baladewa karena begitu tiba di Dwarawati, ternyata di Dwarawati sudah ada Baladewa lain. Kedua Baladewa yang semuanya mengaku asli itu akhirnya berperang tanding.

Namun justru Prabu Baladewa yang asli dari Mandura kalah dan terpental jatuh di batu gilang. Baladewa kemudian ditolong Arjuna. Akhirnya berkat bantuan Semar semua misteri itu dapat terungkap bahwa sesungguhnya Baladewa yang ada di Dwarawati adalah penjelmaan Batara Kala, sedangkan ketiga Setyaki adalah anak-anak Batari Durga yang semua ini bertujuan ingin menjebak Prabu Kresna.

Sebagai titisan Wisnu, Prabu Kresna oleh Batari Durga dianggap sering berbuat tidak adil, karena terlalu berpihak pada Pandawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s