Lakon Wayang Part 48


Bambang Manonbawa
Prabu Dewasrani dari Tunggulmalaya ingin membinasakan Pandawa, tetapi niatnya itu belum tercapai, maka ia menghimpun kekuatan dan menyusun strategi. Untuk itu ia bersekutu dengan Prabu Suyudana dengan senang hati raja Astina menerima ajakan itu. Batari Durga memerintahkan agar Dewasrani merubah ujudnya menjadi Kresna serta pergi ke Madukara, sedangkan ia sendiri akan mengikutinya dan bersembunyi dalam bibirnya.

Sementara Arjuna di Madukara menerima kedatangan Kresna palsu. Bersamaan itu juga datang Bambang Manon Manonton dari Andong Purnama, ia mengaku anaknya Arjuna dengan Dewi Purnama Sidi putri Begawan Sidi Wacana. Kresna palsu memperhatikan pemuda itu dan nampaknya ia khawatir bilamana kedoknya terbongkar, maka memberikan nasehat kepada Arjuna agar berhati-hati.

Sebelum diterima sebagai putra Arjuna, ia harus diuji lebih dahulu, maka Arjuna menyerahkan masalah itu kepada Kresna palsu. Kresna membawa Manon Manonton ke alun-alun dan diperintah untuk menunjukkan kebolehannya memanah.

Permintaan itu dapat dilaksanakan dengan memanah daun yang dapat menembus beberapa daun pohon beringin yang berada di alun-alun. Percobaan kedua, diminta mendatangkan hujan tanpa awan dan petir, segera ia dapat mendatangkan hujan lebat. Percobaan yang ketiga, ia diminta bunuh diri, maka seketika itu Manon Manonton mati.

Semar, Nala Gareng dan Petruk melihat majikannya mati segera pergi Amarta untuk melaporkan apa yang terjadi. Ia bertemu dengan Prabu Yudistira dan Prabu Kresna menceritakan peristiwa di Madukara. Setelah mendengar laporan dari Semar, Kresna memerintahkan Bima untuk menangkap Kresna palsu yang berada di Madukara.

Gatotkaca yang mendahului ayahnya dan berhasil membawa Kresna palsu ke Amarta bersama Arjuna. Mereka semua masuk istana sehingga terdapat dua Kresna dan Arjuna keheranan.

Atas usul Kresna yang asli agar supaya diadakan perlombaan, yaitu siapa yang dapat menghidupkan kembali Bambang Manon Manonton yang telah mati, itulah Kresna yang sesungguhnya. Ternyata hanya Kresna yang asli yang dapat menghidupkan manon Manonton, tetapi Kresna palsu tidak menyerah dan terjadi perang tanding yang hebat antara kedua Kresna itu, yang akhirnya berubah ujud menjadi Dewasrani.

Selanjutnya Manon Manonton mengusirnya. Batari Durga akan menolong anaknya, tetapi dapat dicegah oleh Semar.

 

Banjaran Bima
Prabu Pandudewanata bersedih hati, karena putra keduanya lahir dalam keadaan terbungkus kulit yang tidak dapat dipecahkan dengan senjata apa pun.

Atas nasihat Begawan Abiyasa, sesuai dengan petunjuk dewa, bayi bungkus itu dibawa ke hadapan gajah Sena. Pada saat itu Batara Bayu menyusup ke dalam tubuh Gajah Sena, yang menendang bungkus bayi itu hingga pecah.

Bersamaan dengan itu datanglah badai yang menerbangkan bungkus bayi itu, hingga sampai ke Kerajaan Sindureja, dan jatuh di pangkuan Begawan Sapwani. Bungkus bayi itu dicipta menjadi seorang ksatria perkasa, dan diberi nama Jayadrata.

Sementara itu Bima tumbuh menjadi ksatria bertubuh tinggi dan besar. Ia sering bertengkar dan berkelahi dengan para Kurawa, terutama dengan Duryudana dan Dursasana.

Pada suatu saat Kurawa hendak mecelakakan Bima dengan cara meracuni makanannya. Setelah tidak sadarkan diri, Bima diangkat beramai-ramai, dimasukkan ke dalam Sumur Jalatunda, yang penuh dengan ular berbisa. Namun, Bima bukan mati, melainkan justru bertambah kuat dan tahan segala macam racun.

Atas hasutan Patih Sengkuni, Kurawa kemudian berniat membunuh seluruh Pandawa dan Dewi Kunti, dengan membakar Bale Sigala-gala. Bima menyelamatkan semua, dan setelah peristiwa itu Bima kawin dengan Dewi Nagagini. Perkimpoian ini membuahkan seorang putra yang diberi nama Antareja.

Bima kemudian juga kawin dengan Dewi Arimbi, dan berputra Gatotkaca, raja Pringgadani.

Pada suatu saat Bima disuruh gurunya, Resi Drona, untuk mencari air suci Tirta Prawita Sari. Berbekal tekad yang bulat, Bima berkelana menunaikan perintah gurunya itu. Berbagai halangan serta cobaan ia lalui, sampai akhirnya ia bertemu dengan Dewaruci, seorang dewa kerdil. Dari Dewaruci, Bima mendapat ajaran Ilmu Sejati.

Bima juga pernah teribat dalam perkelahian menghadapi Suratimantra dan Rajamala, semuanya untuk membantu yang berada di pihak yang benar.

Pada waktu pecah Baratayuda, Bima banyak mengalahkan musuh-musuhnya. Di antaranya Bima membunuh Patih Sengkuni dengan mengulitinya hidup-hidup terlebih dahulu. Ia juga membunuh Dursasana dan menghirup darahnya guna dipakai berkeramas oleh Dewi Drupadi.

Terakhir Bima membunuh Duryudana pada hari terakhir Baratayuda, setelah sebelumnya meremukan paha kiri lawannya dengan gada Rujakpolo.

 

Seri Cerita Ramayana
Banjaran Kumbakarna
Lakon banjaran ini dimulai dari kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Begawan Wisrawa dan istrinya, Dewi Sukesi, karena anak mereka yang kedua juga lahir dalam bentuk raksasa. Anak ini diberi nama Kumbakarna. Sedangkan anak sulung mereka yang bernama Dasamuka juga berujud raksasa.

Demikian pula anak ketiga, perempuan, ujudnya juga raseksi. Anak ini dinamakan Sarpakenaka. Barulah anak yang keempat, yang bungsu berujud ksatria tampan, dinamani Gunawan Wibisana.

Menjelang dewasa, keempat bersaudara itu pergi bertapa di hutan dengan tujuan yang berbeda-beda. Seperti saudaranya yang lain, Kumbakarna bertapa sampai bertahun-tahun. Akhirnya, datanglah Batara Narada menemuinya. Kepada dewa itu Kumbakarna mula-mula menyatakan keinginannya untuk hidup seribu tahun agar dapat lama menikmati nikmatnya makanan di dunia ini. Narada bersedia memenuhi permintaan itu, tetapi mengingatkan bahwa makin panjang umur seseorang, akan makin banyak pula kesempatan berbuat dosa. Lagi pula orang berumur panjang bukan berarti tidak bertambah tua. Dan makin tua seseorang, tubuhnya akan makin lemah dan akan berkurang kemampuan lidahnya untuk menikmati rasa makanan.

Mendengar hal itu Kumbakarna sadar, lalu mengubah permintaannya. Ia ingin agar dapat tidur lama sepuas-puasnya dan hanya bangun manakala ia ia menghendakinya. Batara Narada mengabulkan permintaan itu.

Sewaktu Prabu Dasamuka menculik Dewi Sinta, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana berusaha menyadarkan abangnya bahwa perbuatan itu salah. Mereka menyarankan agar Dasamuka segera membebaskan Dewi Sinta serta mengembalikan putri itu pada suaminya, Ramawijaya. Mendengar saran ini Dasamuka marah.

Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dimaki-maki. Karena tidak tahan akan makian abangnya, Kumbakarna pulang ke rumahnya di Kasatrian Pangleburgangsa, lalu tidur. Ia tidak bangun sampai pecah perang antara balatentara Alengka dengan prajurit kera yang membantu Ramawijaya.

Sesudah banyak prajurit dan senapati Alengka yang gugur, Prabu Dasamuka menyuruh putranya, Indrajit, untuk membangunkan Kumbakarna. Ternyata tidak mudah membangunkan Kumbakarna. Baru setelah Indrajit mencabut bulu yang tumbuh di jempol kakinya (wulucumbu, bhs. Jawa), Kumbakarna terbangun. Indrajit mengatakan, Kumbakarna diminta menghadap Prabu Dasamuka.

Sebelum datang ke istana, Kumbakarna lebih dahulu melahap seribu buah nasi tumpeng dan delapan ingkung daging gajah.

Setibanya di istana, Dasamuka ternyata minta agar Kumbakarna maju ke gelanggang perang menghadapi serbuan prajurit kera. Kumbakarna menolak, karena perang itu terjadi hanya karena sifat angkara murka Dasamuka.

Prabu Dasamuka yang marah, segera mencaci adiknya dan menyebutnya hanya hidup sebagai tukang makan, tak pernah bekerja dan tidak peduli pada nasib negara.

Mendengar hal itu, dengan kesaktiannya Kumbakarna memuntahkan segala apa yang pernah dimakannya dalam keadaan utuh dan segar. Setelah itu ia berkata, akan berangkat ke medan perang, tetapi bukan karena alasan membela ulah Dasamuka yang angkara murka. Saya pergi berperang untuk tanah airku, Alengka, menghadapi musuh yang datang menyerbu, katanya.

Dengan mengenakan pakaian serba putih Kumbakarna berperang dengan sungguh-sungguh. Cukup banyak korban di pihak prajurit kera yang ditimbulkan karena amukan Kumbakarna. Karena Kumbakarna sulit ditandingi, terpaksa Ramawijaya dan Laksmana sendiri yang turun ke gelanggang. Mereka berdua menghujani raksasa itu dengan anak panah. Mula-mula kedua tangan Kumbakarna buntung terkena panah pusaka Rama dan Laksmana. Namun, tanpa peduli rasa sakit yang diderita Kumbakarna masih tetap meminta banyak korban. Kedua kakinya menyepak dan menendang lalu menginjak-injak banyak prajurit kera. Rama dan Laksmana meneruskan serangan anak panah mereka. Maka, buntunglah kedua kaki Kumbakarna. Namun, raksasa ini tidak juga menyerah. Dengan mengguling-gulingkan tubuhnya yang kini tanpa tangan dan kaki, ia masih berhasil membunuh banyak prajurit kera. Maka, terpaksa Rama dan Laksmana mengarahkan anak panah mereka pada leher Kumbakarna. Sesaat kemudian, gugurlah Kumbakarna sebagai pahlawan pembela tanah kelahirannya .

Istri Kumbakarna seorang bidadari bernama Dewi Aswani. Dasamukalah yang memberikan bidadari itu pada Kumbakarna untuk diperistri. Dari perkawinan ini Kumbakarna mendapat dua orang putra, yakni Aswani Kumba dan Kumbakumba. Seperti ayah mereka, kedua anaknya ini juga gugur sewaktu menghadapi prajurit kera anak buah Ramawijaya.
Kematian Kumbakarna secara aniaya ini disebabkan karena kutukan Jambumangli pada ayahnya, Begawan Wisrawa. Empat puluh tahun sebelumnya, Begawan Wisrawa membunuh Jambumangli secara aniaya. Kedua tangan dan kakinya dipotong. Waktu itu Jambumangli mengutuk, bahwa salah seorang anak Wisrawa kelak juga akan mati secara aniaya seperti dirinya.

Setelah kematiannya, arwah Kumbakarna ternyata tidak dapat menemukan pintu sorga. Setelah bertahun-tahun, akhirnya ia dapat menemui adiknya yang telah menjadi pertapa.

Kepada Gunawan Wibisana, Kumbakarna minta ditunjukkan jalan ke arah kesempuraan. Wibisana mengajurkan agar arwah Kumbakarna bersemayam di paha kiri Bima.

Pada hari terakhir Baratayuda, sewaktu Bima berperang tanding dengan Duryudana, paha Bima dihantam gada Suyudana. Pada saat itulah arwah Kumbakarna melesat lepas menuju kesempuraan.

Seri Cerita Ramayana
Banjaran Ramaparasu/Ramabargawa
Lakon ini megisahkan perjalanan hidup Ramabargawa, anak Resi Jamadagni dengan Dewi Renuka. Kisah ini diawali dari konflik keluarga Resi Jamadagni akibat dari penyelewengan yang dilakukan Dewi Renuka dengan Prabu Citrarata. Resi Jamadagni bermaksud menghukum istrinya itu dengan menyuruh anaknya untuk membunuh ibunya itu.

Di antara kelima anaknya hanya Ramaparasu yang bersedia melakukannya tetapi dengan syarat segala permintaannya dikabulkan ayahnya. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain karena menolak perintah ayahnya terkena kutukan menjadi seekor hewan.

Selanjutnya Ramaparasu dengan senjata kampaknya telah membunuh ibunya hingga tewas, setelah itu ia mohon kepada ayahnya untuk menghidupkan kembali dan saudara-saudaranya diberi ampunan sehingga kembali ke ujudnya semula sebagai manusia. Karena sudah terlanjur berjanji akhirnya Jamadagni mengabulkan segala permintaannya, maka hiduplah kembali Dewi Renuka.

Selang beberapa waktu saat Ramaparasu sedang bepergian ke hutan, tiba-tiba tempat tinggalnya diserbu Prabu Citrarata sehingga Resi Jamadagni tewas.

Setelah mengetahui peristiwa itu Ramaparasu bersumpah akan menumpas seluruh ksatria di dunia, sebagai pelampiasan dendamnya.

Maka mulailah ia mengembara atau melanglang buana membunuh ksatria yang dijumpainya sehingga akhirnya bertemu dengan Prabu Arjuna Sasrabahu raja Maespati yang akhirnya juga tewas dibunuhnya.

Selanjutnya Ramaparasu bertemu dengan Ramawijaya yang baru saja berhasil memenangkan sayembara di negara Mantili dan memboyong Dewi Sinta, bermaksud akan pulang ke Ayodhya.

Di tengah perjalanan rombongan Ramawijaya dihadang Ramaparasu sehingga terjadi adu kekuatan dan kesaktian. Akhirnya Ramaparasu tewas terkena panah Guwawijaya milik Rama, dan oleh para dewa Ramaparasu diangkat menjadi Dewa bernama Ramabargawa.

 

Banjaran Sengkuni
Lakon banjaran ini mengisahkan riwayat Sengkuni alias Harya Suman. Kisahnya dimulai dengan pengusiran Batara Dwapara dari kahyangan oleh Sang Hyang Tungal.

Karena sifatnya yang selalu siri, berhati dengki dan berakal busuk, Batara Dwapara harus menjalani hidup di dunia, sebagai manusia.

“Di dunia, kamu boleh melampiaskan sifat busukmu sepuas-puasnya,” kata Sang Hyang Tunggal.

Ketika Batara Dwapara turun ke dunia, permaisuri raja Awu-awu Langit atau Kerajaan Gandara, sedang bersalin. Batara Dwapara segera merasuk ke dalam tubuh bayi yang diberi nama Harya Suman alias Sengkuni itu.

Setelah Dewasa, Sengkuni mengabdi pada Prabu Pandu Dewanata, raja Astina. Pada saat inilah Sengkuni memfitnah Patih Gandamana, sehingga Gandamana mengundurkan diri dari jabatan patih Astina. Hal ini menggembirakan Sengkuni, karena jabatan itu akhirnya diberikan kepadanya.

Sewaktu Pandu Dewanata wafat, Begawan Abiyasa berencana akan membagikan minyak sakti Lenga Tala warisan Pandu, untuk kekebalan para Kurawa dan Pandawa. Namun, saat pembagian itu terjadi keri-butan, karena Kurawa ingin merampas minyak itu. Begawan Abiyasa yang terdesak sampai terjengkang jatuh, dan Dewi Kunti pingsan. Minyak itu jatuh di rerumputan.

Patih Sengkuni segera menanggalkan seluruh pakaiannya, dan dengan bertelanjang bulat ia berguling-guling di rumput yang basah karena minyak itu. Dengan demikian seluruh tubuh Sengkuni menjadi kebal, kecuali bagian dalam mulut dan duburnya.

Setelah itu, karena melihat Dewi Kunti tergeletak pingsan, Patih Sengkuni lalu mendekatinya dan menarik semekan (kain penutup dada)nya, tetapi sebelum ia berbuat lebih jauh, Dewi Kunti siuman. Saat itu juga Dewi Kunti berujar, tidak akan memakai semekan, jika tidak terbuat dari kulit Sengkuni. Sejak itu, Dewi Kunti hanya mengenakan jubah Lorodan (bekas pakai) milik Begawan Abiyasa.
Setelah menjabat sebagai patih Astina, perilaku sirik dan jahat Sengkuni makin berkembang. Ia menghasut para Kurawa untuk membunuh Pandawa dan Dewi Kunti dalam peristiwa Bale Sigala-gala.

Patih Sengkuni juga berhasil memperdaya Pandawa, dengan mengajaknya bermain judi. Pada perjudian itu Sengkuni mewakili Korawa, sedangkan Yudhistira mewakili Pandawa. Akibat kecurangan Sengkuni, Pandawa kehilangan segalanya. Selain kehilangan kerajaan dan seluruh kekayaannya, Pandawa harus hidup sebagai orang buangan selama 12 tahun.

Ketika pecah Baratayuda, Sengkuni dapat ditangkap Bima, kuku Pancanaka yang kanan dimasukkan ke dalam mulut Sengkuni, sedangkan yang kiri ke duburnya. Bagian tubuh itulah yang tidak kebal. Setelah itu, Sengkuni dikuliti hidup-hidup, dan setelah itu baru dapat dibunuh.
Sisa kulit Sengkuni kemudian digunakan sebagai semekan Dewi Kunti.

 

Bima Birawa
Prabu Bima Birawa dari Tunggul Pawenang bermimpi bertemu dengan Dewi Werkudara dan merasa terpikat. Karenanya ia memerintahkan patih Kalamurti agar mempersiapkan pasukan untuk melamar ke Amarta. Para bawahannya, baik Patih Kalamurti, Tumenggung Tambak Winaya, maupun Togog – punakawannya – memberitahukan bahwa Werkudara itu pria, tetapi sang prabu tidak mempercayainya.

Sementara itu di Amarta Prabu Darmakusuma dan keempat adiknya, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, menerima kadatangan Batara Kresna dari Dwarawati, Batara Kresna menerangkan mimpinya bahwa sebentar lagi di Amarta akan terjadi keributan.

Tidak lama lemudian datanglah Prabu Bima Birawa bersama bala tentaranya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Ia langsung mengutarakan lamarannya terhadap Dewi Werkudara.

Werkudara yang merasa terhina karena dianggap wanita menjadi marah dan Prabu Bima Birawa dipegangnya dan ditarik keluar, dibawanya ke tengah lapangan didepan istana dan dihajarnya. Terjadi perkelahian yang seru, namun verakhir dengan kekalahan Werkudara yang dikatakan anak Batara Bayu, dalam keadaan payah tersebut mendapat kiriman angin segar dari kahyangan, sehingga pulih kembali kekuatannya . Segera ia bangkit dan menangkap Prabu Bima Birawa dan dipukulinya. Prbu Bima Birawa merasa tidaka kuat menghadapi pukulan-pukulan itu dan karenanya merasa sudah waktunya meninggalkan dunia ini. Ia menghilang , namun jiwanya masuk ke dalam tubuh Werkudara. Werkudara yang kehilangan musuh merasa menang, dan balatentara Tunggul Pawenang melarikan diri dari Amarta. Kemudian Pandawa beserta keluarganya bersuka cita.

Bogadenta Gugur
Bogadenta salah seorang raja taklukan Astina yang memihak keluarga Kurawa dalam Baratayuda. Ia adalah raja muda dari Kerajaan Pragnyatisa.Sebagai salah seorang senapati Korawa, Bogadenta tampil di gelanggang Kurusetra dengan menunggang Gajah Murdaningkung diiringi srati (pawang) Murdaningrum, yang berwajah cantik dan bertubuh molek.

Setelah membunuh banyak prajurit Pandawa, Bogadenta berteriak-teriak menantang Arjuna. Karena panas hatinya Arjuna langsung melayani tantangan itu. Namun setiap kali Arjuna hendak melepaskan panah, srati Murdaningrum melempar senyum sehingga konsentrasi Arjuna terganggu. Kelengahan Arjuna memberi kesempatan bagi Bogadenta untuk melepaskan anak panah pusakanya, Wastrasewu. Untuk meng-hindari serangan itu, Arjuna terpaksa melompat jauh ke luar gelanggang perang.

Kini, sadarlah Arjuna bahwa Murdaningrum sengaja membuatnya lengah. Segera ia melepaskan anak panah pada srati cantik itu, tepat mengenai dadanya. Murdaningrum tewas seketika.

Gajah Murdaningkung, setelah mengetahui sratinya tewas segera menghampiri mayatnya dan menangis. Air matanya menetes ke tubuh wanita cantik itu, dan seketika itu Dewi Murdaningrum bangkit hidup kembali.

Arjuna lalu melepaskan anak panah ke arah Gajah Murdaningkung, dan matilah binatang itu. Namun ketika Bogadenta menangisinya, gajah itu hidup kembali. Begitu pula waktu Bogadenta mati, ia hidup kembali berkat air mata Murdaningrum. Begitu halnya silih berganti.

Arjuna bingung.
Atas nasihat Ki Lurah Semar, Arjuna lalu melepaskan anak panah Trisula yang bermata tiga. Maka, dengan anak panah sakti itu ketiga lawannya tewas seketika.

BOMANTAKA
Prabu Kresna raja Dwarawati, menerima kedatangannya prabu Baladewa raja Mandura, menghadap pula raden Setyaka dan raden Setyaki. Sri Kresna membicarakan, kehendak putra mahkota Dwarawati, raden arya Samba, untuk dijodohkan dengan Dewi Hagnyanawati. Datanglah utusan prabu Boma raja Trajutrisna, raksasa bernama Mahudara menghaturkan surat yang isinya prabu Boma sangat merindukan putra mahkota raden arya Samba, untuk memenuhinya putra mahkota diundangnya kekerajaan Trajutrisna. Sri Kresna mengijinkan, demikian raden arya Samba tidak berkeberatan, berangkatlah mereka bersam-sama menuju kerajaan Trajutrisna.Akan halnya keberangkatan raden arya Samba, sri Kresna di kraton memberitakan pula kepada para permaisurinya, Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Setyaboma.

Setelah keberangkatan Mahudara beserta raden arya Samba, di paseban luar Dwarawati, tampak prabu Baladewa memerintahkan kepada patih Pragota,Prabawa beserta segenap waduabalanya, untuk berjaga-jaga, mengadakan pengamatan keamanan batas kerajaan Dwarawati. Mereka segera berangkat, menunaikan tugasnya.

Konon, raksasa Mahudara yang menjadi utusan prabu Boma Trajutrisna,setelah sampai di tengah hutan, raden arya Samba tak luput dari naksud semulanya, dihajar, disakiti. Sangat sedihlah raden arya Samba tak mengira bahwa kedaan dirinya akan menemui keruwetan.

Patih Udawa yang diberi tugas khusus oleh prabu Baladewa, telah menghadap raden Janaka di praja Madukara, disampaikan pesan prabu Baladewa, bahwa raden arya Samba diundang ke kerajaan Trajutrisna oleh prabu Boma, telah berangkat dengan dutanya raksasa bernama Mahudara. Raden Janaka merasa bahwa ada gelagat yang tidak baik, segera mnyusul kepergian raden arya Samba. Di tengah hutan, bertemulah raden Janaka dengan raksasa Nahudara, kepadanya dititipkan surat tantangan dari raden Janaka kepada Prabu Boma, akan halnya raden arya Samba diajaklah kembali menghadap ke kerajaan Dwarawati.

Kedatangan raksasa Mahudara, datang melapor kepada prabu Bomanarakasura, bahwasanya tugas selesai, di tengah hutan raden Janaka memaksanya raden arya Samba, bahkan kepadanya dititipi surat tantangan dari raden Janaka,untuk dihaturkan kepada prabu Bomanarakasura. Seisi kerajaan Trajutrisna, tampak hadir para narapraja, patih Pancadnyana, raksasa Yayahgriwa, Ancakugra, dan Winisuda, mereka kesemuanya kelihatan meluap amarahnya, setelah mendengar isi surat tantangan raden Janaka. Prabu Boma meledak amarahnya, segera mengutus raksasa wadyabalanya, untuk pergi meminta bantuan ke kerajaan Astina, pula utusan dikirimkan lagi ke karajaan Awu-awu, raja Durbala diminta kesediaanya membantu Trajutrisna, menghadapi tantangan raden Janaka.

Di kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa, menerima kedatangan raden Janaka, yang membawa serta raden samba, Sri Kresna setelah mendengar laporan raden Janaka segera mengutus r ad en Arya Setyaki untuk memberikan kabar kepada raja Kumbina dan diharapkan kedatangannya di kerajaan Dwarawati., demikian pula raden Setyaka diutus ke kerajaan Amarta, untuk menyampaikan pesan sri Kresna, memohon kehadirannya prabu Puntadwa di Dwarawati . Berangkatlah mereka menunaikan tugasnya masing-masing.

Prabu Duryudana raja Astina, dihadap oleh pandita praja Dahyang Durna, path sakuni, dipati Karna, para Korawa raden arya Dursasana, raden arya Kartamarma, raden arya Citraksa, citraksi, menerima utusan dari kerajaan Trajutrisna, raksasa-raksasa bernama Yayahgriwa dan Ancakugra. Surat raja Bomanarakasura disampaikan, Prabu Duryudana telah memahaminya, bahwasanya bantuannya sangat diharapkan oleh raja Trajutrisna, dalam rencana menyerang kerajaan Dwarawati. Seundurnya utusan Trajutrisna, Prabu Duryudana segera memerintahkan kepada dipati Karna sebagai panglima perangnya beserta Kurawa, untuk membantu kepada kerajaan Trajutrisna, dan berangkatlah bala bantuan Astina.

Raden Arya Setyaki, berdatang sembah kepada raja Kumbina, prabu Bismaka, menyampaikan harapan sri Kresna untuk dimnta kehadiran di kerajaan Dwarawati. Berangkatlah prabu Bismaka beserta adiknya prabu Setiajid raja Lesanpura menuju kerajaan Dwarawati, diringkan oleh raden Arya Setyaki.

Konon, prabu Bomanarakasura telah mengerahkan wadyabalanya, beserta bala bantuan dari Astina, dan kerajaan Awu-awu Langit, segera berangkatlah menuju kerajaan Dwarawati.

Prabu kresna, telah berembug dengan Baladewa disamping tampak pula Bismaka, Prabu setyajid. Datanglah melapor wadya dwarawati, bahwasanya Trajutrisna telah datang menyerang, wadyabala kerajaan dwarawati menyongsongnya, mereka terlibat dalam kancah peperangan yang rame dan seru.

Agaknya Prabu Boma denagn naik kendaraan perangnya, bernama garuda Wilmuna, datang mengamuk dalam peperangan. Raden Gunadewa disambarnya mati demikian pula raden Samba dan raden Janaka. Prabu Kresna meluap amarahnya melihat kebuasan tindakan prabu Boma, segera dilepasinya denagn senjata sakti cakra, matilah Prabu Boma, akan tetapi memang sudah takdir dwa, selama Boma masih disangga bumi, hidup lagi. Segera prabu Kresna memerintahkan wadyabala untuk mempersiapkan penyangga, Boma dicakra lagi, sekarang matilah Boma tidak mencium bumi, sebab disangga oleh anjang-anjang. Raden werkudara mengamuk sisa wadyabala Trajutrisna dikalahkan semua.

Bondan Peksajandu
Berkatalah raja negara Astina, prabu Suyudana kepada patih Sakuni, Paman, terlaksanalah sudah maksud kami untuk membunuh Jayalaga (Bratasena), sebaiknya sisa Pandawa dibunuh sekaligus, untuk itu sekarang baiklah pamanda patih sakuni pergi ke negara Amarta, Yudistira bawalah kemari, bikinlah dalih untuk menghadiri penobatan Jayalaga menjadi prabuanom, berangkatlah sakuni menuju Amarta. Yudistira menerima kedatangan Nakula dan sadewa, yang melaporkan hasil diutusnya ke negara Astina, dieritakan tertundanya penobatan Jayalaga, dikarenakan para sesepuh belum sepakat untuk menghadirinya. Tak lama datanglah patih sakuni, diaturkanya maksud kedatangannya di negara Amarta, tak lain prabu Suyudana berkenan mengundang atas kehadiran Yudistira beserta para Pandawa, untuk menghadiri penobatan Jayalaga menjadi prabu Anom, berangkatlah mereka diiring oleh patih sakuni ke negara Astina.Sekembalinya raden Arjuna dari menghadap kakeknya bagawan Abiyasa di Ratawu, telah diingatkan, seyogyanya langsung menuju ke negara Astina, dipertengahan jalan di tengah hutan, bertemulah dengan raksasa, terjadilah perang. Mereka akhirnya babar wujud semula yakni HyangAsmara serta Dewi Pujawati, diberitahukan kepada Arjuna, bahwasanya kakaknya Jayalaga sudah mati dibunuh oleh Kurawa, dan sekarang dibuwang ke dalam sumur Jalatunda. Dengan menghunus keris, Arjuna berangkat ke negara astina, untuk menuntut balas kematian kakaknya Bratasena diiring oleh Semar, Gareng dan Petruk

Di negara Astina prabu Suyudana mendapatkan kesukaran untuk membunuh Yudistira, Nakula dan Sadewa kepada Ptih sakuni diperintahkan mencari upaya, terlaksananya maksud tersebut, disamping kedatangan Arjuna pun telah menggagalkan maksud pembunuhan tersebut. Selagi para Pandawa dipersilahkan beristirahat, patih sakuni telah dating membawa si anak kecil bernama Bondanpeksajandu, cucu dari Batara Dawangnala. Anak tersebut diperintahkan untuk mengangklat gada Jayalaga, terangkatlah pusaka gada , dan diperintahkan oleh Durna segera untuk membunuh Yudistira. Setelah berhadapan si anak kecil Bondanpeksajandu beralih wujud menjadi raden Werkudara. Mengamuklah Werkudara, para kurawa dihajara olehnya, kemarahan Werkudara dapat dilerai oleh Kresna, yang dating dari negara Dwarawati, mencari para Pandawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s