Lakon Wayang Part 50


Seri Cerita Wayang Purwa
Janggan Smarasanta
Lakon ini merupakan versi lain dari lakon Lahirnya Gareng dan Petruk.

Ketika Sang Hyang Ismaya diperintah oleh ayahnya, Sang Hyang Tunggal untuk turun ke dunia guna menjadi pamong ksatria berbudi luhur, ia mulanya menggunakan nama Janggan Smarasanta. Ia berkelana sendiri untuk mencari manusia berbudi luhur itu. Lama-lama ia merasa kesepian, karena tak seorang pun yang mengawaninya. Karena itu Janggan Smarasanta lalu mohon kepada Sang Hyang Tunggal, agar ia diberi kawan dalam perjalanannya untuk menemukan ksatria berbudi luhur itu.

Sang Hyang Tunggal berkata: Selama ini kamu sudah disertai kawanmu yang setia, yakni bayanganmu.”

Seketika itu juga bayangan Semar menjelma menjadi sesosok makhluk yang amat mirip dengan dirinya, tetapi lebih kecil. Janggan Smarasanta menamakannya Bagong, dan diakui sebagai anaknya.

Mereka berdua meneruskan perjalanan.
Tak lama kemudian , di tepi sebuah telaga, mereka melihat dua orang ksatria tampan sedang berkelahi dengan seru.

Janggan Smarasanta lalu menanyakan mengapa mereka berperang tanding. Keduanya menerangkan, bahwa masing-masing bernama Bambang Sukadadi dari Padepokan Bluluktiba, dan Bambang Precupa-nyukilan dari Padepokan Kembangsore.

Keduanya adalah ksatria yang amat tampan dan gagah. Kegemarannya juga sama, yaitu berkelana dari satu kerajaan ke kerajaan lainnnya, dari satu hutan ke rimba yang lain. Suatu saat kedua ksatria itu berjumpa. Karena masing-masing merasa dirinya paling tampan, mereka pun berkelahi. Ternyata, kesaktiannya pun sama. Akibatnya, perkelahian itu berlangsung selama berhari-hari, tanpa ada yang kalah dan yang menang.

Perkelahian yang berlarut-larut itu baru dapat dihentikan setelah Janggan Smarasanta datang melerai. Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan lalu sepakat memilih Smarasanta sebagai hakim yang menentukan siapa sebenarnya yang paling tampan di antara keduanya.

Janggan Smarasanta menjawab, tidak satu pun dari keduanya yang tampan. Keduanya lalu disuruh bercermin di telaga.

Dan, ternyata ujud mereka kini telah berubah, menjadi ujud yang aneh. Yang satu hidungnya panjang, tubuhnya jangkung; sedangkan yang lain bermata juling dan hidungnya seperti buah terong. Kedua ksatria itu pun menyesali perubahan ujud mereka, tetapi Smarasanta segera menghibur, bahwa yang penting bukan ketampanan dan kesaktian seseorang, melainkan bagaimana pengabdiannya pada sesama.

Karena kagum pada kebijaksanaan Smarasanta, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan minta agar orang bijak itu bersedia diaku sebagai bapak mereka. Mereka berjanji akan mengikuti kemana pun Smarasanta pergi. Janggan Smarasanta setuju, lalu mengganti nama keduanya menjadi Nala Gareng dan Petruk.

Mereka berempat, Janggan Smarasanta yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, lalu berkelana bersama untuk mengabdi pada ksatria yang berbudi luhur.

Kijing Wahana
Lakon ini dikisahkan terjadi sesudah Baratayuda. Prabu Sudarsono dari Kerajan Yawastina menuduh permaisurinya berlaku serong. Permaisurinya itu, Dewi Sutiknawati namanya, dikembalikan kepada abangnya, Patih Sutikna. Sang Patih lalu minta berhenti dari jabatannya.

Setelah Patih Sutikna pulang, Patih Danurdara diperintahkan oleh Prabu Su-darsono, untuk membujuk Patih Sutikna agar kembali menjadi patih. Namun bujukan itu tak berhasil, bahkan mereka berperang tanding. Patih Danurdara kalah, dan kembali ke istana.

Tak lama kemudian, Prabu Sudarsono pergi menghadap Begawan Anoman untuk memohon buah mangga Pratangga Jiwa untuk istri mudanya, Dewi Honi.

Mangga sakti itu lalu diberikan kepada Dewi Hoyi, tetapi Hoyi tidak memakannya sampai habis. Baru separuh, mangga sakti itu dibuang.

Ki Lurah Semar memungut sisa mangga itu lalu diberikan pada Dewi Sutiknawati, dan dimakan habis. Beberapa bulan kemudian Dewi Hoyi melahirkan seorang putri, sedangkan Dewi Sutiknawati melahirkan berbentuk kijing, semacam kerang air tawar yang dapat dimakan.

Sementara itu datang serangan dari Kerajaan Trajutrisna, dipimpin oleh Prabu Sarwaka, cucu Boma Narakasura. Setelah para senapati Yawastina kalah, kijing anak Dewi Sutiknawati maju ke gelanggang perang dan mengalahkan semua musuh dari Tra-jutrisna.

Setelah itu, kelopak kijing itu membuka, dan dari dalamnya keluar seorang ksatria muda. Anak muda yang keluar dari kijing itu lalu diaku anak oleh Prabu Sudarsana, dan diberi nama Kijing Wahana.

Kilat Buwana
Prabu Suyudana yang berkuasa di Kerajaan Astina kedatangan brahmana yang bernama Kilatbuwana. Pendeta itu mempunyai keinginan untuk menggagalkan perang Baratayuda antara Pandawa dan Kurawa dengan jalan mempersatukan kedua kubu tersebut.

Sang Brahmana sanggup menyatukan, tetapi ada syarat yang harus dilakukan yaitu Kilatbuwana menghendaki sesaji yang disertai tumbal (korban) orang bogasampir yaitu Kyai Semar. Suyudana menyetujui ide itu selanjutnya Brahmangkara dan Indrasekti, putra Kilatbuwana diperintahkan untuk mencari dan membunuh Semar. Sementara Prabu Kresna yang hadir di Astina menolak keinginan Kilatbuwana sehingga terjadi perdebatan dan perkelahian.

Prabu Yudistira yang menerima ajakan Kilatbu-wana, hatinya mangu-mangu maka memerintahkan Abimanyu pergi ke Pertapaan Sapta Arga guna minta nasehat Begawan Abiyasa. Sedangkan Arjuna diperintah Kilatbuwana untuk membunuh Semar dan setibanya di Klampisireng, Semar ternyata merelakan jiwanya demi majikannya. Ki Lurah Semar segera dibunuhnya dengan cara dibakar dan abunya dibawa ke Astina.

Sementara ada pendeta yang bermukim di Pertapaan Tawangrukmi yang bernama Begawan Jatiwasesa atau Begawan Tunggulmanik dihadap kedua anaknya yakni Suryaseti dan Suryamangkara menerima kedatangan Abimanyu yang ingin meng-abdi. Surya Mangkara diperintah ayahnya untuk menyampaikan surat penantang ke negeri Astina. Pada waktu itu Pandawa telah berada di Astina, demikian juga Arjuna telah tiba membawa abu jenazah Semar, tiba-tiba datangnya Suryamangkara yang menyampaikan surat tantangan.Kilatbuwana mempersiapkan perlawanan.

Perang terjadi saling menyerang, Jatiwasesa berhadapan dengan Kilatbuwana yang berubah menjadi Guru. Bramangkara dan Indraseti berubah menjadi Brahma dan Indra. Sedangkan Jatiwasesa berubah menjadi Semar, Suryasekti dan Surya Mangkara berubah ujud Gareng dan Petruk. Selanjutnya Batara Guru kembali ke Suralaya.

Kuntulwilaten
Prabu Jumanten, raja dari negara Gendhingkapitu, menerima kedatangan Sri Kresna, prabu Tudhistira, arya Wrekudara, dan para Pandhawa, di samping putra Prabu Jumanten : Janget Kekenceng, Gagak Bongkol, Dandang Winangsi. Berkatalah sri Kresna, “Prabu Jumanten, perkenankanlah kami atas nama Prabu Yudhistira melamar putra putri parbu Dewi Kuntulwilaten. Tak lain hanya dengan sarana inilah, praja Amarta kembali sejahtera.” Prabu Jumanten menerima lamaran tersebut, akan tetapi terlaksananya harus melalui peperangan sayembara dahulu. Untuk itu, arya Wrekudara dipilih untuk bertanding dengan putra-putra prabu Jumanten, semua putra prabu Jumanten dapat dikalahkan oleh arya Sena.

Dewi Kuntulwilaten akhirnya dikimpoikan dengan prabu Puntadewa, dan pada suatu ketika, berkatalah Dewi Kuntulwilaten kepadanya ” Berita yang kudengar kakanda mempunyai darah yang berwarna putih, untuk itu perkenankanlah dinda memilikinya”, hal tersebut diajukan oleh Dewi Kuntulwilaten sebagai syarat mutlak sebelum dipergaulinya oleh sang prabu Puntadewa. Segera sang prabu membuka, memperlihatkan badannya, sang Dewi menarik kerisnya, dan segera dihujamkan ke anggota badan sang prabu Puntadewa, darah putih mengalir keluar. Dewi Kuntulwilaten memohon untuk bersatu dengan prabu Puntadewa.

Terdengarlah laporan, Gendhingkapitu didatangi musuh, arya Wrekudara, dan segenap prajurit Gendhingkapitu melawan musuh. Prabu Lembusura dapat dibinasakan oleh arya Sena, sisa prajurit Guwabarang pun tak ada yang ketinggalan, semuanya dapat ditundukkan. Sri Kresna, meminta diri kepada prabu Jumanten, dan berangkatlah diiringi oleh para Pandhawa ke Amarta

Lambangkara
Syahdan Prabu Dewalengkara dari negara Tabelaretna bermimpi negara tabelaretna akan kembali mulia, jikadapat diberi sesaji darahnya prabu Yudistira, raja negra Amarta. Kepada patih Endrajala, dan Lambangkara, diperintahkan untuk melaksanakan tugas tersebut, dan berangkatlah mereka menuju Amarta. Di negara Amarta Prabu Yudistira sedang membicarakan perihal kepergian Raden Arjuna yang tidak tentu dimana sekarang berada. Prabu Kresna yang hadis juga dalam pertemuan itu berkata, Adinda Prabu Yudistira, aku sanggupi untuk menemukan Dinda Raden arjuna, tetapi jangan malam hari ini. Selanjutnya Kresna memesan kepada raden Wekudara, serta Gatotkaca, hendaknya berjaga-jaga pada malam hari itu. Menjelang larut malam, masuklah utusan prabu Dewalengkara, Patih Endrajalake Istana Amarta, menuju ke peraduan Prabu Yudistira. Patih Lambangkara menjaga di luar pintu peraduan Prabu Yudistira. Seluh istana Amarta , terkena aji sirep, kesemuanya jatuh pulas tertidur. Suatu ketika patih Endrajala merayap mendekat tempat peraduan Prabu Yudistira, pingsanlah ia. Prabu Yudistira terjaga dari tidurnya, dan ditanyailah patih Endrajala perihal maksud kedatangannya, berkatalah Yudistira,”Baiklah, jika ratumu menghendaki diriku untuk dijadikan sesaji di Tabelaretna, aku bersedia berangkat dengan kamu, dan Patih Endrajala segera m,embnawa Prabu Yudistira ke Tabelaretna.

Prabu Kresna segera memerintahkan kepada Raden Gatotkaca untuk mengejar Patih Endrajala. Diluar bertemu dengan Lambangkara, terjadilah peperangan, larilah Lambangkara, menghindari peperangan. Di Negara Tabelaretna, Prabu Dewalengkara menerima prabu Yudistira , segala maksudnya telah diutarakan. Namun demikian maksud semula dibatalkan karena tatkala Prabu Dewalengkara berusaha akan duduk sama tingginya dengan Prabu darmakusuma, pingsanlah ia. Oleh Yudistira disembuhkan, akhirnya prabu Dewalengkara mengakui Yudistira sebagai gurunya.

Raden Arjuna, ats petunjuk Begawan Abiyasa, akhirnya dapat menemukan parabu udistira dan dibawalah Prabu Yudistia ke s\istana Tabelaretna. Raden Angkawijaya turut serta bersama raden Arjuna. Prabu Dewalengkara menerima laporan di istna terjadi percurian, segera diperintahkan semua prajurit menuju ke negara Amarta.

Di pertengahan jalan, raden Arjuna bertemu dengan Sri Kresna, Werkudara, Nakula, dan Sadewa. Berangkatlah mereka untuk balik ke Amarta.

Musuh telah menanti di negara Amarta, demikian laporan Patih Tambak Ganggeng, para Pandawa menyongsongnya, keluar untuk bertempur.

Prabu Dewalengkara terbunuh oleh Raden Arjuna, Patih Endrajala dapat dimusnahkan oleh Raden arya Gatotkaca, patih Lambangkara berhadapan dengan Werkudar tak kuasa untuk melawan radn wekudara, akhirnya meminta ampun. Prabu Kresna berkata Hai Lambangkara, baliklah ke negara Tabelarena, kutugaskan engkau menjaga tete tenteramnya egara tersebut. Berangkatlah Lambangkara kembali ke Tabelaretna seluruh istana Amarta merayakan kemenangan.

Mayangkara
Di kerajaan Amarta kedatangan tamu dari Dwarawati Prabu Kresna, namun dari seluruh keluarga Pandawa, R. Janaka tidak mampu hadir, hal ini menjadi bahan pembicaraan akan perginya R. Janaka yang tanpa pesan. Pada saat Prabu Kresna dan keluarga Pandawa berbincang-bincang, datanglah utusan dari negara Astina Patih Sangkuni untuk meminta bantuan pihak Pandawa untuk menangkap pencuri yang sekarang ada di taman Kadileleng. Dengan berita itu maka Prabu Kresna yang diiringi Patih Sangkuni dan R. Werkudara pergi ke Taman Kadileleng. Sementara itu ditengah hutan R. Janaka mencari obat untuk Anoman yang sedang sakit, karena tidak jua diketemukan, lalu R. Janaka bersemedi untuk memohon Dewata agar diberi petunjuk kemana dan obat apa namanya agar dapat menyembuhkan Anoman yang sedang sakit. Ketika sedang bersemedi datanglah raksasa Kaladewa mengganggu R. Janaka, sang Raksasa Kaladewa bertarung dengan R. Janaka namun kalah dan dapat dibinasakan, melihat pasangannya binasa oleh tangan Janaka, Kaladewa lalu menuntut balas atas kematian suaminya dan Kaladewapun mati ditangan Janaka.Dengan kematian Kaladewa dan Kaladewi menjelmalah Batari Kamajaya dan Kamaratih dan menanyakan tujuan R. Janaka di hutan. Setelah diberi penjelasan maksud R. Janaka di hutan, Batara Kamajaya memberitahu bahwa obat Anoman ada di taman Kadileleng.

Setelah Batara Kamajaya dan Kamaratih kembali ke kahyangan, pergilah R. Janaka ke taman Kadileleng. Ternyata di taman Kadileleng ia berjumpa dengan perwujudan yang mirip dirinya, maka bertarunglah R. Janaka asli dengan R. Janaka samaran. R. Janaka yang asli kewalahan menandingi R. Janaka samaran. R. Janaka yang asli kalah dan melarikan diri keluar dan diperjalanan ia bertemu dengan Pandawa dan Prabu Kresna. Setelah memberitahu kekalahannya dengan orang yang ditaman, Prabu Kresna menyuruh R. Werkudara pergi ke Kendalisada untuk membawa Anoman. Anoman yang sedang sakit akhirnya dibawa Werkudara ke taman Kadileleng. Di Taman Kadileleng Anoman dijadikan jago, ia tidak akan mampu bertahan hidup sebab obat yang dicari tidak juga muncul. Setelah tahu yang menjadi pencuri di taman Kadileleng adalah Mayangkara, maka Mayangkara lalu merasuk ketubuh Anoman. Dengan tertangkapnya pencuri di taman Kadileleng adalah atas usaha dari pihak Pandawa, maka negara Astina menjadi tentram dan damai seperti sedikala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s