Lakon Wayang Part 51


Seri Cerita Kadewatan
Batara Surya Krama
Lakon ini menceritakan yang Batara Surya yang bertempat tinggal di Kahyangan Ekacakra menerima dua bidadari kakak beradik sebagai istrinya yang bernama Dewi Ngruna dan Dewi Ngnini. Sementara putri Batara Wisnu yang bernama Dewi Kastapi dalam perkimpoiannya dengan burung Brihawan membuahkan dua telur. Kemudian atas perintah Batara Guru, dua telur itu diberikan kepada Dewi Ngruna dan Ngruni. Telur milik Dewi Ngruna setelah dierami oleh seekor ular, menetas menjadi dua ekor burung yang diberi nama Sempati dan yang muda diberi nama Jatayu. Sedangkan telur milik Dewi Ngruni menetas seekor ular besar yang diberi nama Naga Gombang, dan yang kecil diberi nama Sawer Wisa.

Anak-anak yang berupa burung dan ular itu ternyata sangat sulit untuk di awasi. Mereka semua I nakal. Kedua bidadari itu lalu mengadakan teka-teki, barangsiapa yang kalah akan menjaga anak-anak itu. Dewi Ngruni memberikan pertanyaan: Apakah yang terlihat di sana itu? Sapi jantan atau sapi betina?.
Ternyata Dewi Ngruni tidak dapat menebaknya, dan ia merasa malu karena kebodohannya. Ketika itu juga ular-ular datang dan membela ibunya dan segera menggigit kedua burung, dan sebaliknya burung-burung itu mematuk ular-ular sampai mati.

Karena marah oleh peristiwa itu, Dewi Ngruna mengutuk Ngruni. Katanya: Dinda Ngruni bertindak seperti raseksi (raksasa wanita), jika akan menolong anak-anaknya”.

Seketika itu juga Dewi Ngruni berubah ujudnya menjadi raseksi, dan setelah ia sadar apa yang terjadi ia segera lari menemui Batara Surya agar dapat mengatasi masalah yang dihadapinya itu. Atas saran suaminya, Dewi Ngruni diminta menemui Batara Wisnu yang merupakan kakeknya dari telur-telur tadi, agar dapat meruwatnya.

Setelah peristiwa itu Sempati yang disertai burung Jatayu pergi bertapa ke Gunung Windu, sedangkan ular-ular sangat terkejut melihat ibunya menjadi raseksi, mereka melarikan diri terjun ke samudera.

Sementara itu di kahyangan kehidupan para dewa tidak tentram karena menerima ancaman Prabu Sengkan Turunan dari Kerajaan Parangsari yang menginginkan Dewi Ngruna dan Ngruni untuk dijadikan permaisuri. Prabu Sengkan Turunan dengan balatentara raksasa menyerang Kahyangan Suralaya. Para dewa tidak dapat menandingi kesaktian para raksasa itu.

Batara Wisnu menyatakan kepada Dewi Ngruni bahwa ia akan meruwatnya sehingga kembali pada ujud semula tetapi Dewi Ngruni harus menculik putri Prabu Sengkan Turunan yang bernama Retna Jatawati.

Dibantu oleh garuda Jatayu, Dewi Ngruni akhirnya berhasil membawa Dewi Jatawati.

Sementara itu Jatayu juga berhasil menghancurkan para tentara raksasa. Prabu Sengkan Turunan sangat marah setelah mengetahui bahwa pasukannya hancur, segera menyerang Suralaya dengan membabi buta. Pertempuran seru terjadi dengan dahsyatnya tetapi kemudian akhirnya ia dapat dikalahkan oleh burung Jatayu.

Batara Wisnu sangat gembira atas kemenangan Jatayu itu. Sebagai pernyataan terima kasih, Batara Wisnu kemudian menganugerahkan Retna Jatawati sebagi istri Jetayu.

Sesuai dengan janjinya, Ngruni dirubah ujudnya menjadi bidadari yang cantik seperti semula dan tetap tinggal di Nguntarasegara. Setelah melihat istrinya menjadi bidadari. Batara Surya membujuk untuk kembali ke pangkuannya, tetapi Dewi Ngruni menolak. Baru setelah ada perintah dari Batara Guru, yang menjadi pemuka para dewa, akhirnya Ngruni bersedia menjadi istri Batara Surya kembali.

Seri Cerita Kadewatan
Bremana-Bremani
Kisahnya mengenai perka winan putra Batara Brama, yakni Bramana dan Bramani dengan Dewi Sri Unon, putri Batara Wisnu.

Pada mulanya Dewi Srihunon diperistri oleh Bambang Bremani, salah seorang putra Batara Brama. Dari perkimpoian itu Dewi Srihunon melahirkan putra tunggal bernama Bambang Parikenan, nenek moyang Pandawa dan Kurawa.

Setelah melahirkan Bambang Parikenan, Dewi Srihunon dikembalikan pada Batara Wisnu (mungkin, dalam istilah masa kini diceraikan), dan kemudian diperistri oleh Bambang Bremana, abang Bremani.

Ketika Dewi Srihunon hendak diperistri Bremana, mulanya wanita itu menolak. Namun, setelah dibujuk oleh bekas suaminya, yaitu Bremani, akhirnya Dewi Srihunon bersedia menjadi istri Bremana.

Dari perkimpoiannya dengan Prabu Bramana beberapa tahun kemudian Dewi Sri Unon melahirkan seorang putri cantik, Dewi Bremanawati, yang kemudian diperistri oleh Prabu Banjaranjali, raja Alengka.

Seri Cerita Kadewatan
Batara Guru Krama
Seorang saudagar bernama Omar an (Umaran), yang tidak punya tempat tinggal tetap karena selalu berkeliling dari kerajaan yang satu ke kerajaan lainnya. Istrinya yang bernama Dewi Nurweni adalah anak raja Gandarwa (jin). Mereka mempunyai anak bernama Uma.

Saat Uma Jahir dari rahim ibunya, ia bukan berupa bayi biasa, melainkan perujud segumpal cahaya merah yang segera melesat ke angkasa. Cahaya itu melayang ke sana kemari. Sang Ayah segera mengejar dan mencoba menangkapnya, tetapi selalu gagal.

Karenanya Umaran hanya bisa mengikutinya tanpa berhasil menangkapnya.

Akhirnya cahaya itu hinggap di puncak Gunung Tengguru, suatu tempat yang dikuasai para gandarwa. Di tempat itu saudagar Umaran lalu bersamadi, mohon pada Yang Maha Kuasa agar anaknya yang berujud cahaya itu dapat diujudkan menjadi bayi biasa. Namun, karena waktu itu ia tidak tahu, apakah anaknya yang berujud cahaya itu seorang lelaki atau perempuan, Umaran hanya memohon pengubahan ujud menjadi manusia, tidak peduli apakah lelaki atau perempuan. Do’anya terkabul. Cahaya ajaib itu menjelma menjadi bayi, tetapi memiliki kelainan. Bayi itu berkelamin ganda. Setelah berujud bayi. Saudagar Umaran membawanya ke Kerajaan Merut dan diberi nama Umayi yang artinya anak ibu. Meskipun prihatin dengan kelainan yang diderita anaknya, Umaran dan istrinya memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang.

Umayi ternyata tumbuh menjadi seorang gadis yang amat cantik, walaupun ia tetap berkelamin ganda. Sejak gadis remaja. Dewi Umayi yang dalam DEWI UMA, istri Batara, lebih sering disebut Dewi Uma, gemar menuntut berbagai ilmu, gemar pula bertapa, sehingga akhirnya ia memiliki kesaktian yang sulit dicari tandingnya. Karena kesaktian yang dimiliki inilah maka Dewi Uma kemudian ingin menjadi penguasa dunia.

Berita dan cerita mengenai kesaktian dan kecantikan Dewi Uma akhirnya terdengar oleh Batara Guru, penguasa kahyangan. Pemuka dewa itu mendatanginya, untuk menyaksikan sendiri gadis cantik yang telah didengar melalui berita orang itu. Namun, kedatangan Batara Guru telah diketahui sebelumnya oleh Uma.

Untuk menguji kesaktian Batara Guru, gadis itu mengubah ujudnya menjadi seekor ikan turbah dan terjun ke dasar samudra. Pada awalnya Batara Guru bingung karena tidak dapat segera menemukan gadis yang dicarinya. Namun setelah mengamalkan kesaktiannya, ia tahu bahwa Dewi Uma mempermainkan dirinya dengan mengubah ujud menjadi ikan di daiam samudra.

Batara Guru segera memburu ikan jelmaan Dewi Uma itu di lautan. Waktu nyaris tertangkap, ikan itu menjelma kembali menjadi gadis cantik yang melesat terbang ke angkasa. Batara Guru menyusulnya. Teijadi kejar-mengejar di angkasa. Namun, setiap kali hendak tertangkap. Dewi Uma selalu saja dapat meloloskan diri karena kulit tubuhnya yang halus itu amat licin bagaikan belut. Dengan begitu, usaha Batara Guru meringkus gadis cantik yang lincah dan sakti itu selalu gagal.

Karena kesal dan penasaran, Batara Gum lalu mohon pada kakeknya, Sang Hyang Wenang, agar ia diberi tambahan sepasang tangan supaya dapat menangkap Dewi Uma. Permohonannya terkabul. Seketika itu juga tumbuh dua tangan baru di bahu Batara Gum, sehingga sejak itu dewa itu bertangan empat. Setelah bertangan empat, barulah Dewi Uma dapat ditangkap.

Sebagai hukuman, karena merasa kesal Batara Guru mencabut semua kesaktian yang dimiliki Dewi Uma. Batara Guru lalu meruwat gadis itu sehingga alat kelamin prianya hilang, dan hanya tersisa alat kelamin wanitanya saja.

Sesudah menjadi wanita yang sempurna, Batara Guru kemudian memperistrinya.

Mustakaweni
Kekuasaan besar Prabu Yudistira terletak pada jimat Kalimasada, maka sering musuh-musuh Pandawa berusaha mencurinya. Pada suatu ketika Dewi Mustakaweni adik Prabu Bumiloka dari Manimantaka datang di Amarta untuk balas dendam Pandawa, atas nasehat pertapa Begawan Kala Pujangga dari Guwa Dumung. Ia menyamar sebagai Gatotkaca untuk mendapatkan Kalimasada. Pada waktu itu Pandawa sedang sibuk memugar Candi Saptarengga dan yang bertindak sebagai pengawas adalah Sadewa dan Gatotkaca, tetapi pagi hari dikerjakan pada sore harinya candi menjadi berantakan. Oleh karena itu mereka akan meminta Prabu Kresna datang di Saptarengga atau Saptaarga. Setelah Kresna datang di Amarta maka kedua raja itu menuju Pertapaan Sapta Arga.

Sementara Dewi Drupadi berada di Istana Amarta dihadap Dewi Subadra dan Srikandi, tiba-tiba datangnya Gatotkaca palsu yang melaporkan bahwa di utus Prabu Yudistira untuk mengambil Kalimasada. Tanpa menaruh curiga Drupadi memberikan jimat itu kepada Gatotkaca yang kebetulan pada saat itu Srikandi baru ke belakang.

Gatotkaca baru saja meninggalkan istana, Srikandi masuk ruangan dan menerima keterangan apa yang baru saja terjadi dan ia berpikir itu adalah suatu penipuan maka me-mutuskan untuk mengejar pencuri itu. Setelah bertemu Gatotkaca, peperangan terjadi maka Gatotkaca palsu berubah ujud menjadi Mustakaweni terus mengudara.

Dalam perjalanan Srikandi bertemu dengan pemuda yang bernama Priyambada dari pertapaan Glagahwangi, ia diperintah kakeknya Sidi Waspada untuk mencari ayahnya yakni Arjuna. Srikandi sanggup membantunya, tetapi sebelumnya ia diminta mengejar Mustakaweni yang membawa jimat Kalimasada dan Priyambada menyanggupi.

Setelah tiba di Manimantaka, Kalimasada segera diberikan kepada Prabu Bumiloka. Ternyata yang menyamar sebagai Prabu Bumiloka itu adalah Priyambada, dengan cara tipu muslihat itu ia dapat membawa dengan mudah Kalimasada dan segera pergi ke Saptaarga menyerahkan jimat itu kepada Prabu Kresna. Namun, sekarang gilirannya ia tertipu, yang menyamar Kresna adalah Mustakaweni, maka Priyambada tidak tinggal diam, perang tanding terjadi dan Priyambada melepaskan panahnya tepat pada sasaran dan menelanjangi Mustakaweni, maka ia takluk, segera dibawa ke Amarta.
Setibanya di kerajaan, Kalimasada diserahkan kepada Prabu Yudistira dan Mustakaweni dikimpoikan dengan Priyambada. Sedangkan Prabu Bumiloka dapat diusir Pandawa.

Narasoma
Syahdan putri Prabu Kuntiboja yang bernama Dewi Kunti mengadung tak berbapa, sang prabu Basuketi sanagt murung dan susah hatinya. Pada suatu hari berkatalah sang dewi kepada prabu Kuntiboja, Ayah, sebenarnya kami telah bertemu denagn seorang Begawan, Druwasa namanya, yang telah memberi aji wekasing tunggal kepada saya, tetapi karena larangan sang Begawan saya langgar, kejadian inilah yang menimpa diri saya. Dengan melalui aji dupa papanggil Begawan Druwasa didatangkan Dewi Kunti, berkatalah sang Begawan, Sang prabu, hamba bernama Druwasa dari padepokan Jagadwetan. Perihal kandungan Dewi Kunti janganlah sang prabu kawatir, akan hamba usahakan mengeluarkannya”. Dengan batang bawang lanang, telinga sebelah kiri Dewi Kunti dimasukinya, dan keluarlah melalui lobang telinga sang dewi, seorang bayi laki-laki, diberi nama Raden Karna. Begawan Druwasa berpesan kepada sang prabu Kuntiboja, bahwa kelak Dewi Kunti akan menjadi wadah menurunkan raja-raja, tetapi kepada siapapun sang dewi kelak akan diperistrikan, ia tak akan dapat melahirkan anak lagi. Bayi yang bernama raden Karna dibawa oleh Begawan Druwasa, diletakkan di suatu tempat di atas sebuah batu, dengan diberi secarik kertas bertuliskan namanya raden Karna”.

Prabu Radeya dari negara Petapralaya menemukan raden Karna, diserahkan kepada istrinya yang sangat merindukan anak, berbahagialah prabu Radeya beserta istrinya.

Syahdan, terlaksanalah impian Dewi Pujawati untuk bertemu dengan raden Narasoma. Atas jasa-jasa ayahandanya, Begawan Bagsaspati dari pertapaan Argabelah. Jadilah merekan suami istri dengan bergati nama Raden Narasoma menjadi Salya, Dewi Pujawati menjadi Setyawati. Berkatalah pada suatu saat raden Narasoma kepada Dewi Pujawati,” Duhai, dinda Pujawati, sampaikanlah kepada ayahanda Begawan Bagaspati, kanda mempunyai teka-teki, jika kanda melihat ke arah Timur terang tampaknya, tetapi sebaliknya gelap yang terlihat di sebelah Barat. Menghadaplah Dewi Pujawati. Oleh ayahandanya diperintahkanlah, hendaknya raden Narasoma dating, dan dimulailah jawaban teka-teki oleh bagawan Bagaspati, raden, apa yang raden kandung dalam hati, sebenarnya kami mengetahuinya, baiklah raden, hanya kami memohon kepada raden hendaknya berganti nama Salya, demikian pula Pujawati, kami beri nama Setyawati. Begawan Bagaspati rela mati di tangan menantunya sendiri Narasoma, karena raden Narasoma malu mengaku sang Begawan sebagai menantunya. Sulitlah matinya bagawan Bagaspati oleh raden Narasoma, tetapi setelah melepas aji Candhabirawa, akhirnya matilah bagawan Bagaspati. Lalu tercetuslah kata-katanya, Wahai raden Narasoma, kelak pembalasanku akan terlaksana dalam perang Baratayuda. Raden Narasoma yang telah memiliki Dewi Pujawat, juga memiliki aji Candhabirawa, keduanya langsung menuju kerajaan ayahanda raden, di Mandraka. Dihadapan ayahandanya prabu Mandrapati, raden Narasoma menyatakan bahwa tak berayah dan berbunda, sehingga hal tersebut menimbulkan kemurkaan ayahandanya, sang prabu Mandrapati, katanya, Hai Narasoma, jika kau merasa diperanakkan, sudah selayaknya Pujawati tentu berayah dan berbunda, tetapi kau telah menipu aku, tak mempunyai rasa malu, enyahlah dari pandanganku. Pergilah raden Narasoma, atas Semar ke Mandura, untuk memasuki sayembara. Kata orang putrid raja yang bernama Dewi Kunti akan dikimpoikan. Adik raden Narasoma, yang bernama Dewi Madrim turut mengikuti kepergian kakandanya ke Mandura. Setibanya di Mandura, banyak sudah raja-raja yang juga memasuki sayembara, tak seorangpun berkenan di hati sang Dewi Kunti. Tibalah giliran raden Narasoma, sayembara akhirnya dimenangkan oleh raden Narasoma, selanjutnya sang prabu Kuntiboja berkenan mempertemukannya. Di tepi Begawan Silugangga, raden Narasoma yang tengah akan melakukan niat mandi sesuci diri, bertemu dengan Prabu Abiyasa beserta putra beliau raden Pandu, dan berkatalah raden Narasoma,” Sayembara pilih di negara Mandura telah selesai, sayalah pemenangnya, tetapi jika putra sang prabu bisa mengalahkan saya, relalah Dewi Kunti akan saya serahkan kepadanya, selanjutnya terjadilah peperangan. Prabu Abiyasa berakta kepada raden Pandu, Jika kau berhadapan dengan raden Narasoma, janganlah kau lawan, berdirilah tegak dan tenanglah. Raden Narasoma memasang Aji Candhabirawa, kali ini aji tak dapat menguasai raden Pandu, akhirnya peperangan dimenangkan oleh raden Pandu. Kecuali Dewi Kunti, Dewi Madrim adik raden Narasoma juga diserahkan kepada raden Pandu. Sekembalinya dari memenangkan sayembara, dipertengahan jalan, raden Pandu bertemu dengan raden Hanggendara, yang berkata, Hai, Pandu, jika kenyatannya kau memenagkan sayembara pilih dari negara Mandura, dengan ini Dewi Kunti kuminta, jika engkau menolak permintanku, akan kubunuh kau, terjaldilan peperangan. Dewi Hanggendari menangis tersedu-sedu memintakan ampun kepada raden Pandhu, hendaknya kakandanya raden Hanggendara jangan dibunuh, untuk itu relalah Dewi Hanggendari menyerahkan diri kepada raden Pandhu, arya Dhastharastra dipersilahkan memilih satu diantara tiga putri boyongan, pilihan jatuh pada Dewi Hanggendari, seraya berkata, Inilah yang kupilih, wanita yang kelak akan mempunyai banyak anak. Kepada raden Pandhu Dewi Madrim memohon, dapat diwujudkannya kerbau Handini, konon milik hyang bathara Guru, dan disanggupi.

Palguna-Palgunadi
Lakon ini menceritakan tentang usaha Prabu Palguna alias Bambang Ekalaya untuk dapat berguru pada Begawan Drona. Karena Drona menampiknya sebagai murid, ia belajar sendiri. Ternyata keahliannya memanah bisa melebihi kemahiran Arjuna, sehingga Arjuna marah pada Drona.

Suatu hari ketika Ekalaya sedang berlatih memanah, seekor anjing berburu menggonggonginya. Karena dianggap mengganggu, diambilnya tujuh buah anak panah, dipasangnya pada busurnya, dan dengan sekali bidik, ketujuh anak panah itu melesat lalu menancap tepat ke moncong anjing itu.

Tidak lama kemudian, datanglah pemilik anjing itu. Ia ternyata Arjuna. Waktu itu Arjuna memang sedang berburu ditemani anjingnya. Ketika melihat anjingnya mati dengan tujuh buah anak panah menancap sekaligus di moncongnya, ia marah. Namun, selain marah Arjuna juga merasa keahliannya memanah kini tersaing oleh seseorang. Sebagai orang yang selama ini dikenal paling ahli memanah, Arjuna tidak sanggup membidik sasaran dengan sekaligus tujuh buah anak panah seperti yang dilakukan oleh pembunuh anjingnya. Karena itu dengan hati amat penasaran Arjuna mencari orang itu. Setelah berjumpa dengan orang, yang ternyata tampan, itu Arjuna mendapat keterangan bahwa si Pemanah bernama Ekalaya dari negeri Nisada. Ekalaya juga mengaku, keahliannya memanah didapat dari Begawan Drona, yang dianggap sebagai gurunya.

Hal ini membuat Arjuna kemudian menuduh, Begawan Drona telah menyalahi janjinya untuk memberikan seluruh ilmunya hanya pada Arjuna. Untuk meyakinkan Arjuna bahwa Ekalaya bukan muridnya, Drona lalu menipu putra raja Paranggelung itu. Ekalaya disuruh memotong ibu jarinya sendiri, sebagai tanda bakti seorang murid pada gurunya. Pada ibu jari tangan kanan Ekalaya sejak lahir terpasang cicin Mustika Ampal pemberian dewa. Karena Ekalaya memang ingin sekali berbakti pada Resi Drona, permintaan itu dipenuhi. Ibu jari tangan kanannya dipotong dan diserahkan pada Drona. Namun dengan demikian sejak itu Ekalaya tidak dapat lagi memanah dengan baik.

Secara kebetulan suatu saat Arjuna berjumpa dengan Dewi Anggraini, istri Prabu Palgunadi. Melihat kecantikannya, Arjuna jatuh cinta, tetapi wanita cantik itu ternyata tidak melayani rayuan Arjuna. Ketika Arjuna mengejar-ngejar Dewi Anggraini, perbuatannya dipergoki oleh Aswatama, putra Begawan Drona. Aswatama menegur Arjuna, tetapi ksatria tampan itu tidak peduli, dan mereka pun berkelahi.

Kesempatan itu digunakan Anggraini untuk lari pulang ke Kerajaan Paranggelung dan mengadukan perbuatan Arjuna terhadap dirinya. Namun, Palgunadi tidak percaya. Sepengetahuannya Arjuna adalah ksatria utama, tidak mungkin melakukan perbuatan nista seperti yang dilaporkan istrinya. Palgunadi bahkan menuduh Anggraini sengaja mengadu-adu dirinya agar bermusuhan dengan Arjuna, dan bilamana ia mati akan ada alasan bagi Anggraini untuk bisa diperistri Arjuna. Prasangka buruk Palgunadi kepada Anggraini ini akhirnya lenyap setelah Aswatama datang dan membenarkan pengaduan istri Palgunadi itu.

Karena sudah jelas persoalannya, Palgunadi lalu mendatangi Arjuna dan menantangnya. Tantangan ini dilayani, walaupun sebenarnya hati kecil Arjuna merasa bersalah. Palgunadi alias Ekalaya akhirnya gugur dalam perang tanding itu, dan Dewi Anggraini bunuh diri sesudah mendengar berita kematian suaminya.

Sebelum gugur, Palgunadi sempat mengucapkan kutukan tertuju pada Drona, bahwa guru besar itu akan mati dalam Baratayuda.

Pancawala Kalarung
Prabu Suyudana berkata kepada Raden Lesmana, Hai Lesmana, enyahlah kau dari pandanganku, pergilah dari istana Astina. Seluruh isi negeri Astina, tak kuperkenankan menerima, membantu dalam bentuk apapun juga kepada Lesmana. Siapa yang melanggar perintahku ini, akan kuhukum. Pergilah raden Arya Lesmana dari istana Astina. Pada mulanya tak tahu mana yang akan dituju, akhirnya ke Banjarjungut, tempat kediaman pamandanya, raden arya Dursasana. Segala hal ihwal yang menimpa dirinya telah diutarakn. Arya Lesmana tak menyetujui maksud baik ayahandanya, Prabu Kurupati, pergi ke Amarta untuk memberikan sumbangan kepada Yudistira yang akan mengawinkan puteranya, Pancawala, dengan Dewi Pregiwati, putera Raden Arya Arjuna dari Madukada. Raden Arya Dursasana bersepakat dengan raden Lesmana untuk pergi bersama-sama. Di hutan ditemuilah mereka oleh Hyang Batari Durga, yang berkata, Hai Lesmana, jangan berkecil hati, akan terkabullah maksudmu. Perihal matinya si Angkawijaya, baiklah, pergilah kau ke amarta, bunuhlah dia. Akan terlaksana maksudmu, berangkatlah Arya Lesmana ke Amarta, dengan dikawal oleh Bajobarat. Di Madukara, raden Janaka telah bersiap-siap menanti kedatangan temanten lelaki, raden Arya Pancawala. Tak lama kemudia datanglah Sri Yudistira beserta temanten lelaki, demikian pula telah berkumpul juga saudara-saudaranya. Selesailah sudah raden Arya Pancawala dikimpoikan dengan Pregiwati

Raden Lesmana datang ke pesanggrahan Raden gatotkaca, yang kelihatannya sedang tidur pulas dengan Dewi Pregiwa, dihunuslah Kyai Kalanadhah, keris raden Arya Gatotkaca. Dengan pusaka itu raden Pancawala yang dikira Raden Angkawijaya dan sedang tidur dengan Pregiwati dibunuh. Gegerlah seluruh istana, raden gatotkaca didakwa membununh Pancawala, hukuman dijatuhkan kepadanya, raden Gatotkaca dengan dibelenggu dibuang ke tengah-tengah hutan, Dewi Pregiwa turut dengannya, demikian pula Semar, Gareng dan Petruk. Kepada para panakawan diperingatkan tak diperkenankan memberikan makan dan minum kepada Gatotkaca selama menjalani hukuman. Berangkatlah gatotkaca, Pregiwa menuju ke tengah-tengah hutan.

Raden Lesmana merasa sudah dapat membunuh raden angkawijaya, di angkasa dalam perjalanan pulang ke Astina, melihat Dewi Pregiwa yang sedang mencari air untuk Raden gatotkaca. Dewi Pregiwa dilarikan Raden Lesmana. Raden gatotkaca yang mengetahui istrinya Dewi Pregiwa hilangh mengira dewa yang membawanya, marahlah ia. Rantai yang membelenggu dirinya diputuskan lalu pergi untuk mengadu ke Suralaya. Bertemulah uia dengan Hyang Narada, kata beliau, Wahai, gatotkaca, bukan dewa yang melarikan istrimu Pregiwa, melainkan si Lesmana. Kejarlah dia ke astina”. Lajulah Arya Gatotkaca menuju ke astina.

Sekembalinya raden Werkudara dari bertemu dengan begawan Anoman dari Wukir Kendalisada, di tepi sungai Silugangga ditemukan sebuah kandhaga. Segera dibukannya, dan ternyata berisi mayat raden Pancawala dan atas kesaktian Werkudara, Pancawala hidup kembali. Dari mula hingga akhir diceritakan oleh raden Arya Pancawala kepada pamandanya raden werkudara, dan berangkatlah mereka ke madukara.

Dihadapan prabu Yudistira, raden Arya Werkudara berkata, Inilah putramu si Pancawala, tanyakan kepadanya hal ihwalnya, siapa yang membunuhnya. Belum selesai mereka berbincang-bincang, Semar datang menghadap dan melaporkan, bahwa Dewi Pregiwa, dilarikan raden Lesmana. Diputuskanlah, raden Arjuna dan raden Angkawijaya untuk mencari Dewi Pregiwa ke Astina. Demikian pula Werkudara tak ketinggalan. Di Astina, Suyudana menerima kedatangan raden Lesmana yang membawa Pregiwa. Dan mendadak menerima pula laporan, permaisuri raja dan puterinya, Dewi banowati dan Dewi Lesmanawati hilang.

Suyudana memerintahkan kepada para Korawa untuk menangkap siapa yang telah berani melarikan Dewi banowati dan Lesmanawati. Ramailah peperangan yang terjadi. Raden Lesmana dihajar gatotkaca, raden Angkawijaya Werkudara mengamuk menghantam para Korawa. Raden werkudara mengajak Raden Arjuna, Angkawijaya gatotkaca Pergiwa untuk kembali ke Madukara.

Pregiwa – Pregiwati
Di negara Dwarawati, Prabu Kresna menerimakedatangan Prabu Baladeawa yang ditutus raja Astina untuk mengawinkan Siti Sundari dengan Lesmana mandrakumara. Tapi Siti Sundari minta syarat patah wanita sakembaran yang cantik. Prabu Baladewa menyanggupinya untuk mencari.

Di lain tempat di Pertapan Andong Sumawi, sang Begawan Sidikwacana, dihadap oleh kedua cucunya yakni Endang Pregiwa dan Pregiwati serta Cantrik Janaloka. Endang Pregiwa menanyakan ayahnya. Dikatakan bahwa Pregiwa dan Pregiwati merupakan anak Arjuna dari kasatriyan Madukara, selah emngetahui ayahnya kedua puteri itu akan mencari Ayahnya ke Madukara diikuti leh Cantrik Janaloka.

Para kurawa yang sedang mencari patah dalam perjalanan bertemu dengan Pregiwa dan Pregiwati serta Cantrik Janaloka. Cantrik dibunuh Kuarwa sedang Pregiwa dan Pregiwati melarikan diri.

Di dalam hutan, Raden Abimanyu dan Gatotkaca bertemu dengan Pregiwa dan Pregiwati yang sedang dikejar-kejar Kurawa. Para Kurawa dapat diusr Gatotkaca. Raden Gatotkaca tertarik kecantikan Pregiwa. Kedua puteri diantar Abimanyu pulang ke Madukara.

Para kurawa yag sedang mencari patah melaporkan pada Suyudana kalau sudah mendapatkan patah namun direbut Gatotkaca dan Abimanyu, Baladewa tidak terima maka Lesmana supaya segera dibawa ke Dwarawati.

Di Madukara Arjuna menerima kedatangan kedua puterinya setelah itu bersama dengan Saudara-saudaranya berangkat ke Dwarawati.

Di Negara Dwarawati kedatangan para tamu baik Pandawa maupun rombongan penganten dari Astina. Sedang di dalam puri Dewi Siti Sundari bertemu dengan Pregiwa dan Pregiwati. Prigiwati diutus untulk menyampaikan pakaian kepada Abimanyu namun dalam perjalanan bertemu dengan Lesmana, dipegang tangannya dan akan diperkosa. Pregiwati menjerit, Abimanyu datang, Lesmana ditangkap dan dihadapkan pada janaka. Di lain tempat Pregiwa yang sedang mandi bertemu dengan Gatotkaca keduanya menjalin cinta ketahuan parekan dilaporkan pada Janaka.

Dalam Pendapa Janaka menerima kedatangan Abimanyu yang membawa lesmana, atas perbuatannya itu Lesmana mendapat hukuman , tak lama kemudia datang parekan yang melaporkan kalau ada pencuri setelah dicari ditemukan Gatoykaca yang bersama pergiw asemula akan dimarahi Werkudara namun dijegat Arjuna kalau itu memang sudah jodohnya. Kurawa akan mebuat kerusuhan namun dapat diusir Werkudara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s