Lakon Wayang Part 52


Resi Seta Gugur
Perang besar Baratayuda akan dimulai maka Prabu Suyudana mengangkat Resi Bisma sebagai mahasenapati. Di Tegal Kurusetra kedua barisan Pandawa dan barisan Kurawa saling berhadap-hadapan, barisan Pandawa dipimpin Utara, Wratsangka dan Seta sebagai senapati.

Utara perangtanding melawan Resi Bisma dan mati terbunuh. Wratsangka maju ke medan perang tetapi mengalami nasib yang sama terbunuh oleh Bisma.

Melihat adik-adik terbunuh Resi Seta sangat marah segera maju ke medan pertempuran melabrak Bisma, karena kehebatannya Bisma yang dibantu tujuh raja sekutu Kurawa terpaksa melarikan diri. Tiba-tiba Sentanu ayah Resi Bisma datang serta memberikan senjata yang luar biasa ampuhnya untuk membunuh musuh.

Sementara pangeran dari Mandraka, Rukmarata datang di pertempuran ia melepaskan panah ke arah Seta dan membuatnya jatuh berpura-pura mati. Maka Rukmarata mendekati dengan menantang, seketika Seta bangkit dan membunuhnya. Sekarang Bisma kembali ke medan perang dengan membawa senjata yang sakti dilepaskannya tepat mengenai sasaran seketika itu Seta gugur dan terjadi kegemparan yang hebat di kubu Pandawa.

Atas petunjuk Kresna, Dewi Wara Srikandi diangkat sebagai panglima perang untuk melawan Bisma, tetapi ia kalah karena mahir dalam olah perang. Pada saat itulah arwah Dewi Amba menjelma pada Srikandi, ia akan menyelesaikan perhitungan lama dengan Dewabrata. Selanjutnya Arjuna memberikan panah Pasopati kepada Srikandi untuk menghadapi Bisma yang sampai saat itu belum terkalahkan.

 

Sadewa – Krida
Di Negeri Dwarawati sedang bersidang membicarakan perginya Janaka, Dewi Sumbadra dan R. Abimanyu yang tak satupun keluarga Pandawa tahu kemana mereka pergi, namun persidangan menjadi terganggu dengan datangnya tamu utusan dari negeri Tawanggantungan yang menyampaikan maksudnya ingin membawa Dewi Sumbadra untuk dijadikan permaisuri di negeri Tawanggantungan. Keinginan raja Tawanggantungan ditentang yang akhirnya terjadilah peperangan dan utusan dari Tawanggantungan kalah menghadapi prajurit Dwarawati, akhirnya melarikan diri kembali ke Tawanggantungan.

Sementara itu Resi Dewakusuma yang bersemayam di pertapaan Glagahwangi sedang menerima 2 tamu yaitu seekor harimau putih dan burung garuda. Pertemuan Resi Dewakusuma tergantung dengan kedatangan R. Abimanyu yang tersesat mencari ibunya. Karena Resi kasihan melihat R. Abimanyu, maka dengan diiringi seekor harimau putih dan garuda kencana pergi mencari ibunda R. Abimanyu.

Dewi Sumbadra dapat dibebaskan Resi Partakusuma, tetapi Dewi Sumbadra direbut lagi oleh Resi Dewakusuma dan dipersatukan dengan R. Abimanyu. Perbuatan Resi Dewakusuma membuat Resi Partakusuma marah, akhirnya keduanya terlibat peperangan dan Resi Partakusuma kalah. Kekalahan Resi Partakusuma menjadi gusar dan pergi untuk mencari jalan kematian namun di hutan ia bertemu dengan punakawan yang mengiringi satria yang sedang mencari Ayahandanya R. Arjuna, maka resi Partakusuma akan mempertemukan satria yang bernama R. Gandakusuma dengan ayahandanya
Bila dapat mengalahkan resi Dewakusuma yang merebut Dewi Sumbadra. R.Gandakusuma pergi menghadang resi Dewakusuma dan dapat Mengalahkan sang resi dan terbukalah tabirnya resi Dewakusuma adalah R. Sadewa. Melihat resi Dewakusuma dikalahkan R.Gandakusuma harimau putih yang mengiringinya membela dan dibunuh oleh R. Gandoakusuma berubah ujud menjadi Resi Anoman. Sang Garuda Kencana ikut membela diri namum R. Gandakusuma tak dapat ditandinginya dan semua putra Pandawa tak dapat mengalahkan. Akhirnya Resi Partakusuma dengan aji pengasihan yang dimilikinya dapat mengalahkan Garuda Kencana yang berganti rupa menjadi Dewi Srikandi begitu juga Resi Partakusuma terbongkar rahasianya menjadi R. Arjuna.

Ketika R. Arjuna, Dewi Wara Sumbadra, Dewi Srikandi, R. Abimanyu, R.Gandakusuma dan punakawan kembali ke Amarta di hadang Raja Pura Gantungan. Melihat rintangan yang dihadapi keluarga Pandawa Resi Hanoman maju memerangi raja Tawanggantungan dapat dikalahkan dan mengembalikan sukmanya Dasamuka ke gunung Sumawana sebab raja Tawanggantungan terjadi dikarenakan sukmanya Dasamuka dapat keluar dari himpitan gunung Sumawana. Maka lengkaplah anggota Pandawa, akhirnya negeri Amarta menjadi tenteram kembali.

 

Samba Ngengleng
Di kerajaan Dwarawati, prabu Kresna menerima kedatangan raja Mandura prabu Baladewa, menghadap pula raden satyaka, da raden Setyaki. Sang raja membicarakan dengan prabu Baladewa perihal lolosnya putera mahkota Dwarawati raden Samba, kepada kakandanya ialah prabu Baladewa, dibebankannya untuk menemukan dan membawanya kembali ke kerajaan Dwarawati, di mana kabar mencaritakan raden samba
berada di gadamadana, dan disanggupi. Pula, raja mengutus raden setyaka untuk pergi ke praja Madukara, menyerahkan permasalahannya kepada raden Janaka. Manakala raja kembali bertemu dengan permaisuri Dewi setyaboma, Dewi Jembawati dan Dewi rukmini di kraton, masanggrahlah prabu Baladewa di Kadiapten Dwarawati. Raden Setyaka, raden setyaki dan Patih Udawa mempersiapkan keberangkata ke kerajaan Mandura beserta wadyabala.

Di kerajaan trajutrisna, Prabu Bomanarakasura memerintahkan kepada wadyabalanya, untuk mencari seekor kijang tutul (berbintik-bintik) sesuai dengan permintaan istrinya, Dewi hagnyanawati. Dipertengahan jalan bertemulah wadyabala Trajutrisna dengan wadyabala Dwarawati, terjadilah perselisihan pendapat, dan peerangan. Paara wadyabala Trajutrisna melarikan diri bersembunyi di hutan, wadyabala Dwarawati meneruskan perjalanannya menuju praja Madukara.

Raden Janaka, menerima kedatangan utusan Sri Kresna, raden setyaka yang menceritakan perihal llosnya raden samba, sri Kresna membebankan tgas, membujuk raden samba supaya kembai ke kerajaan Dwarawati, dan disanggupimya.
Kembalilah raden Setyaka, kepada Dewi Subadra dan Dewi Srikandi. Raden Janaka mencaeriterakan perihal akan kepergiannya ke pertapaan Gadamadana, kedua-duanya sangat bersuka-cita berangkatlah raden Janaka diringkan oleh kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Di tengah hutan, bertemu dengan raksasa dari Trajutrisna, dan terjadi peperangan, wadya yaksa dapat dikalahkan, raden Janaka melanjutkan perjalanannya.

Di pertapaan Gandamadana, tampak raden Samba beserta raden Gunadewa, kedua-duanya sedang membicarakan perihal cara-cara bertapa. Datanglah raden Janaka, menceriterakan maksud kedatangannya.Menangislah raden Samba, memohon dapat dipertemukannya dengan Dewi Haghyanawati. Raden Janaka segera memerintahkan kepada kyai Semar, Nalagareng dan Petruk untuk segera berangkat mengiringkan raden Samba,sebab dengan itulah nanti akan bertemu dengan Dewi Hagnyanawati, adapun raden Janaka langsung pergi ke kerajaan Dwarawati.
Konon, di kerajaan Trajutrisna,Dewi Hagnyanawati mengajukan permohonan kepada prabu Boma, untuk dicarikannya kayu yang bernama Dewandaru, dan disanggupinya. Pergilah prabu Boma ke Suralaya bersabda kepada hyang Girinata.

Hyang Girinata di Suralaya bersabda kepada hyang Narada, hendaknya Dewi Wilutama diperintahkan umencari titisannya batara Drema dan batari Dremi, untuk selanjutnya diperjodohkan. Turunlah ke bumi Dewi Wilutama, melaksanakan tugas mencari titisannya batara Drema dan batari Dremi.

Raden Samba yang tengah berjalan di tengah hutan, melihat sasmita dewa, yang terpampang, di batu berupa tulisan, yang menyatakan maksud bahwasanya titisannya batara Drema sudah masakalanya akan bertemu dengan titisannya batari Dremi. Datanglah Dewi Wilutama kepada radenSamba, dijelaskan maksud dan keperluannya turun ke bumi, dan diuraikan pula, bahwasanya raden Samba adalah titisannya batara Drema, untuk itu sesuia dengan perintah hyang Girinata, akan dipertemukan dengan titisannya batari Dremi. Pergilah raden Samba mengikuti Dewi Wilutama ke kerajaan Trajutrisna.

Di taman Trajutrisna, raden Samba bertemu dengan Dewi Hagnyanawati, dan kepadanya diajak untuk pergi ke kerajaan Dwarawati. Sebelum melaksanakan maksudnya, raksasa wanita yang bertugas menunggu taman melihat gerak-gerik raden Samba, yang sangat mencurigakan, segeralah raden Samba dikejar, untuk ditangkap. Waspada akan datangnya bahaya. Raden Samba pergi meninggalkan taman Trajutrisna, bersama Dewi Hagnyanawati. Emban Sarwini, raksasa wanita si penjaga taman, merasa gagal usahanya menangkap raden Samba, segera melapor kepada raja.

Di kerajaan Dwarawati, prabu Kresna menerima kedatangan raja Mandura prabu Baladewa, menghadap pula raden Satyaka dan Setyaki. Tak lama datanglah raden Janaka. Segera melapor bahwasanya raden Samba berkehendak supaya dipertemukan dengan Dewi Hagnyanawati. Datang pula raden Samba bersama Dewi Hagnyanawati, yang melpor segala hal ihwalnya, prabu Kresna dapat memmahami apa telah diceritakan oleh puteranya raden Samba.

Prabu Pyntadewa raja Amarta, memerintahkan kepada adiknya raden Wrekudara dan kemenakannya raden Gatutkaca, untuk menyusul kepergian raden Janaka, ke kerajaan Dwarawati, dan segera berangkatlah mereka menunaikan tugasnya.

Syahdan, prabu Bomanarakasura yang sedang di repat kepanasan Suralaya, untuk mendapatkan kayu Dewandaru disusul oleh embannya yang bernama Sarwini, datang melapor bahwasanya prabu Baladewa mengamuk, memecah jembangan air di taman Trajutrisna, sedangkan Dewi Hagnyanawati dilarikan oleh raden Samba. Semula prabu Bomanarakarura akan langsung mengejar raden Samba, akan tetapi disarankan kalau sebaiknya para wadyabala raksasa saja ditugaskan menyelesaikan pengejaran tersebut, kembalilah raja Bomanarasura ke kerajaan Trajutrisna, para wadyabala menunaikan tugas ke martyapada, mengejar raden Samba.

Prabu Bomanarakasura yang telah kembali ke praja Trajutrisna, segera mengetap wadyabalanya, untuk segera menyerang praja Dwarawati, sesampainya di praja Dwarawati, para Pandawapun telah bersiap-siap, terlihat antaranya raden arya Wrekudara, raden Samba, dan Dewi Hagnyanawati, prabu Baladewa, raden Janaka, dan raden Gatutkaca.

Pertempuran terjadi, wadyabala Trajutrisna dapat diundurkan oleh raden Arya Wrekudara, raden Janaka dan raden Gatutkaca, Seundurnya para wadyabala raksasa Trajutrisna, sri Kresna mengucapkan syukur, bahwasanya raden Samba telah kembali dengan selamat, dan menetapi sabda dewa, dipertemukannya titisannya batara Drema dan batari Dremi. Seluruh istana dwarawati, turut bersuka cita.

 

Sardula Buda Kresna
Menceritakan tentang perkawinan Setyaki dengan Dewi Trirasa, putri Begawan Bratadarsana pertapa dari Candiatar, yang sebenarnya sudah diatur para dewa.

Pada waktu Setyaki bertapa untuk mendapatkan jodohnya, Batara Narada datang menjumpainya. Kata Narada, jodoh Setyaki dapat ditemukan di Pertapaan Candiatar dan putri yang menjadi jodohnya bernama Dewi Trirasa.

Sesuai petunjuk Batara Narada itu, Setyaki pergi ke Pertapaan Candiatar, tetapi ternyata usahanya memperistri Dewi Trirasa tidak mudah karena untuk mempersuntingnya, ia harus lebih dulu membunuh seekor macan kumbang bernama Sardula Buda Kresna.

Macan yang pandai bertutur kata bahasa manusia itu ternyata amat sakti. Sebelum Setyaki, para Kurawa di bawah pimpinan Adipati Karna lebih dulu mencoba membunuh Sardula Buda Kresna, juga gagal.

Kurawa berusaha mempersunting Dewi Trirasa untuk dijodohkan dengan Dursasana.

Untunglah, Arjuna kemudian membantu Setyaki. Ia membunuh Sardula Buda Kresna, yang ternyata penjelmaan Prabu Kresna. Dengan demikian, Setyaki dapat kawin dengan Dewi Trirasa.

 

Sasikirana
Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Kerajaan Astina mendengar bahwa Dewi Pregiwa telah melahirkan putra. Berita itu membuatnya teringat lagi niatnya untuk mengawini putri Arjuna itu. Karena cintanya sangat hebat sehingga ia jatuh sakit dan tidak dapat bergerak meninggalkan kamar tidur.

Suyudana mengetahui kondisi putranya itu segera mengutus Adipati Karna diiringi para Kurawa lainnya untuk membawa Lesmana Mandrakumara dengan tandu ke Kerajaan Pringgadani, guna menjumpai Dewi Pregiwa. Kebetulan waktunya tepat, sebab Gatotkaca saat itu sedang sembuh dari sakitnya dan beristirahat untuk memulihkan kesehatannya di Tunggulpamenang, di tempat ibunya. Setibanya di Pringga-dani, Adipati Karna dan Kurawa tidak mengalami kesukaran dan menguasai Dewi Pregiwa dan putranya Sasikirana.

Ki Lurah Semar dan anak-anaknya yang menyaksikan tindakan Kurawa itu segera pergi ke Tunggulpamenang melaporkan apa yang terjadi.

Gatotkaca yang menerima laporan dari Semar segera mengejar para Kurawa, dan berusaha merebut anak istrinya kembali, tetapi ia kehabisan tenaga jatuh ditanah. Dengan segera para Kurawa menimbuni badan Gatotkaca dengan batu-batu besar.

Semar,Gareng, dan Petruk, serta Bagong tidak dapat menghindar akhirnya terjun ke sungai dan me-reka hanyut.

Sementara Begawan Pramanasidi dari Pertapaan Gebangtinatar dihadap cucunya yakni Nila Suwarna dan Dewi Nilawati yang menanyakan siapa sebenarnya ayahnya. Sang Begawan menjelaskan bahwa ayahnya adalah Arjuna dari Kasatrian Madukara.

Selanjutnya Nila Suwarna dan Nilawati berusaha mencari ayahnya ditemani Wignyagati. Di tengah jalan Nila Suwarna dibunuh oleh Wignyagati karena ingin menguasai Nilawati. Namun niatnya tidak tercapai karena Dewi Nilawati berhasil bersembunyi di semak belukar.

Di Kerajaan Paranggumiwang Prabu Janaka pada suatu hari pergi ke ke tepi sungai untuk menyaksikan penangkapan ikan. Bahkan sang raja sendiri mencoba melemparkan jala dan beruntung mendapat tiga ikan besar, ternyata yang dijala adalah Semar dengan anak-anaknya.
Prabu Janaka mengharapkan mereka mengabdi kepadanya dan ketiganya sanggup serta diperintah untuk mencari bunga pamuketingmanah dan Patih Jayasantika diutus mencari bunga Sumarsana.

Dalam perjalanan Jayasantika menemukan Nilawati yang dikejar Wignyagati serta memberikan pertolongan. Sedangkan Semar dan anak-anaknya bertemu dengan Nilasuwarna dan dibawa menghadap Janaka. Keduanya diterima Janaka dan selanjutnya bersama-sama menuju ke Astina.

Setelah sampai di kedaton Janaka bertemu dengan Banowati dan Nila Suwarna bertemu dengan putri raja yakni Lesmanawati.

Sementara Bima mendapat petunjuk dari Anoman untuk menolong Gatotkaca yang mati terbunuh di hutan. Setelah jenazah ditemukan segera dihidupkan kembali dan keduanya menuju ke Astina.

Di perjalanan Bima menemukan Sasikirana yang dapat lolos dari kepungan Kurawa, segera anak tersebut dimandikan dan menjadi tumbuh dewasa dan ketiganya menuju ke Astina.

Dewi Pergiwa yang berada di Astina selalu dirayu oleh Lesmana Mandrakumara, tetapi ia menolaknya, ia terus mendesak tiba-tiba Gatotkaca datang dan melempar Lesmana yang jatuh di depan Suyudana. Selanjutnya Dewi Pregiwa dibawa kembali ke Pringgadani bersama Pandawa.

 

Sawitri
Kisahnya terjadi di Kerajaan Mandrapura. Putri raja negri itu, Dewi Sawitri menikah dengan Bambang Setiawan, putra Begawan Jumiatsena, walayupun para peramal di Kerajaan Mandrapura telah memberitahu bawa umur Setiawan hanya tinggal tiga hari lagi.

Setelah perkimpoian, Setiawan membawa istrinya pulang ke Pertapaan Argasari.

Dalam perjalanan, di Hutan Wiramartani yang angker, pengantin baru itu memadu kasih. Mereka lupa, bahwa di hutan itu ada larangan tidak boleh berolah asmara.

Akibatnya, datanglah Batara Yamadipati, dewa pencabut nyawa, hendak mencabut nyawa Bambang Setiawan. Dewi Sawitri protes, jika Setiawan dicabut nyawanya, maka ia pun harus juga dicabut nyawanya, sebab perbuatan yang mereka lakukan di hutan itu bukan tanggung jawab Setiawan seorang.

Batara Yamadipati menjawab, bahwa tugasnya hanya mencabut nyawa Setiawan, bukan Sawitri. Namun, Sawitri tetap akan ikut ke manapun Setiawan dibawa.

Akhirnya, Yamadipati berkata bahwa Sawitri boleh mengajukan permintaan apa saja, asal jangan mengikuti Setiawan. Sawitri setuju.

Sawitri minta agar ia bisa melahirkan 40 orang anak. Yamadipati mengabulkan.

Namun, ketika Yamadipati hendak membawa Setiawan, Sawitri bertanya, bagaimana dia bisa punya 40 orang anak jika Setiawan dibawa?

Batara Yamadipati merasa kalah berdebat, akhirnya membiarkan Setiawan hidup.

Sesampainya mereka di pertapaan, datanglah Prabu Kalapracima dari Kerajaan Karangkencana yang menginginkan Dewi Sawitri. Terjadi perang, dan ternyata Setiawan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

Pasangan Sawitri dan Setiawan hidup sampai tua, sampai anaknya berjumlah 40 orang.

 

Semar Mbarang Jantur
Dalam lakon ini diceritakan tentang hilangnya Dewi Erawati, putri Prabu Salya, raja Mandraka, dari Keputren. Waktu itu Prabu Salya mengadakan sayembara, siapa yang dapat menemukan putrinya akan dinikahkan dengan Erawati.

Arjuna ikut membantu mencari putri itu, tetapi bukan sebagai peserta sayembara. Dalam perjalanan Arjuna merasa lapar, dan minta pada para panakawan agar mencarikan nasi baginya. Untuk keperluan itu, Semar dan anak-anaknya pergi ke Kademangan Widarakandang, lalu mbarang jantur yakni mengamen mengadakan pertunjukan dengan menggunakan sebuah penyu sebagai peraga.

Sebagai upah, Semar minta sebungkus nasi. Penghuni Widarakandang, yakni Dewi Lara Ireng, memberinya sebungkus nasi dengan lauk pauknya, ditambah dengan jajan pasar (kue-kue kecil). Semar minta agar semua itu dicampur menjadi satu bungkus saja.

Waktu Arjuna menerima nasi bercampur baur tidak keruan bentuknya, ia marah. Arjuna segera minta diantar pada orang yang telah memberikan nasi dengan cara seperti itu.

Di Widarakandang Arjuna akhirnya bertemu dengan Dewi Lara Ireng dan kakak sulungnya, Wasi Jaladara alias Kakrasana. Arjuna tidak jadi marah melihat kecantikan Lara Ireng, selain juga karena sungkan pada Kakrasana yang sudah dikenalnya.

Pada pertemuan itu, mereka juga menyarankan agar Kakrasana alias Wasi Jaladara mengikuti sayembara yang diadakan oleh Prabu Salya.

Akhirnya berkat bantuan Arjuna, Kakasrana dapat menemukan Dewi Erawati yang diculik Kartapiyoga dari Kraton Tirtakadasar dan membunuhnya. Selanjutnya Kakasrana dikimpoikan dengan Dewi Erawati.

Semar Gugat
Semar merasa sakit hati atas perlakuan Arjuna yang berani memegang dan mengelus-elus kuncungnya. Semar lalu meninggalkan Kerajaan Amarta, diikuti Bagong, menuju Pertapaan Wukiratawu guna mengadukan perlakuan Arjuna pada Begawan Abiyasa. Kakek Arjuna itu mencoba memintakan maaf, tetapi Semar belum puas dan pergi lagi mengembara entah kemana.Hal ini amat mengkhawatirkan Begawan Abiyasa, karena pertapa itu tahu benar jika Semar meninggalkan Amarta, berarti kerajaan itu akan mendapat mara bahaya.

Semar ternyata pergi ke Jonggring Kalasa (Jong Giri Kelasa) untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Selain itu ia juga menuntut agar dikembalikan pada ujud aslinya, yaitu tampan dan gagah. Sia-sia saja Batara Guru dan Batara Narada mencoba menyadarkan Semar, bahwa takdir Semar memang berwajah demikian. Karena Semar bersikeras, para dewa lalu membantunya mengubah ujud semar menjadi ksatria perkasa. Ia menamakan dirinya Bambang Dewalelana, sedangkan Bagong yang juga menjadi tampan, dinamakan Bambang Lengkara.

Mereka turun ke dunia, menaklukkan Prabu Setiwijaya, dan mengambil alih Kerajaan Pudaksategal. Prabu Dewalelana lalu memerintahkan Patih Dasapada mencuri Jamus Kalimasada, pusaka Amarta.

Dengan petunjuk Kresna, para Pandawa lalu datang ke Pudaksategal, mohon maaf pada Dewalelana, yang seketika itu berubah bentuk pada ujudnya semula sebagai Semar. Dengan senang hati Semar menyerahkan kembali Jamus Kalimasada pada Prabu Puntadewa.

Semar Tambak
Semar yang berada di Dukuh Klampisireng, pada suatu hari sedang duduk di pendapa dihadap Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kesejahteraan rakyat Klampisireng, yang akhir-akhir ini terus merosot. Maka Semar mempunyai ide untuk membangun dam atau bendungan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian penduduk. Untuk itu Semar mengutus Petruk pergi ke Amarta guna meminta dukungan moral maupun pembiayaan. Setelah tiba di Amarta, Petruk melaporkan apa yang direncanakan Kyai Semar dan para Pandawa mendukung rencana itu serta memberikan dukungan dana.Sementara Prabu Suyudana yang dihadap Patih Sengkuni, Karna, Drona dan Kartamarma, mendengar rencana Semar akan membangun bendungan di Klampisireng merasa khawatir, sebab bilamana rakyat Klampisireng makmur berarti akan menambah kekuatan Pandawa dan kelak dalam perang Baratayuda akan menambah barisan perang pihak Pandawa.

Untuk itu ia memerintahkan Karna dan Kurawa agar mengacau serta menggagalkan rencana Semar itu. Niat Kurawa itu mendapat perlawanan rakyat Klampisireng yang dipimpin Petruk serta dibantu Pandawa. Walaupun mendapat gangguan dan rintangan dari pihak Kurawa akhirnya bendungan terwujud dan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Klampisireng.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s