Lakon Wayang Part 53


Sentanu Rabi
Palasara yang dibantu anak-anaknya yang tercipta pada saat ia mengobati sakitnya Dewi Rara Amis ( Dewi Durgandini ) berhasil mengubah hutan balantara Gajahoya menjadi kerajaan. Binatang-binatang yang menghuni di hutan dicipta menjadi manusia-manusia dan diangkatt menjadi punggawa kerajaan.Pada saat yang sama di Astina sedang dirundung duka dengan kepergiannya Dewi Gangga istri Prabu Sentanu yang meninggalkan seorang bayi yang diberi nama Dewabrata. Palasara dengan Dewi Durgandini berputra Abiyasa, kedatangan Prabu Sentanu ke negeri Gajahoya untuk meminta kerelaan Palasara agar istrinya dapat dan diijinkan menyusui anaknya, sementara itu juga harus menyusui Abiyasa.

Palasara yang terkenal halus budi pekertinya dan penuh rasa asih kepada sesama, justru Dewi Durgandini diijinkan untuk menjadi istrinya dan Abiyasa dibawa Palasara ke pertapaan yang ia bangun.

Melihat keikhlasan Palasara memberikan istrinya untuk menyusui anaknya dan sekaligus sebagai istrinya merasa terharu, namun Dewi Durgandini yang merasa berhutang budi dan sekaligus sangat menyayangi Palasara karena Palasaralah yang mengangkat dan menyembuhkan penyakitnya dengan ikhlas memberikan istrinya demi menolong sesama, menolak menjadi istri Prabu Sentanu. Akhirnya atas desakan dan nasehat Palasara, Dewi Durgandini bersedia menjadi istri Prabu Sentanu dengan syarat kelak yang menjadi putra mahkota dan menggantikan raja di Astina adalah anak dari keturunannya.

Prabu sentanu keberatan dengan permintaan itu, namun Dewabrata yang mengetahui ayahnya sangat mencintai Dewi Durgandini dan Dewabrata merasa berhutang budi kepada Dewi Durgandini, akhirnya bersumpah bahwa ia tidak akan beristri sampai kapanpun dan rela melepaskan kedudukan putra mahkota kepada anak keturunan Prabu Sentanu dari Dewi Durgandini. Mendengar sumpah yang diucapkan Dewabrata, Dewi Durgandini lalu bersedia diperistri Prabu sentanu.

Senawangi
Lakon ini menceritakan Bima yang menghilang dari kesatrian Jodipati, sehingga membuat prihatin dan susahnya Gatotkaca, Antareja, dan Wisanggeni.Tiba-tiba datangnya Dorawicara di Pringgadani, yang mengenalkan jimat Kantong wasiat, yang dapat digunakan untuk melihat perjalanan hidup manusia. Gatotkaca ingin mengetahui nasib Bima lewat Kantong wasiat, tetapi ditipu oleh Dorawicara dan Gatotkaca dibawa pergi ke hutan Pringgabaya untuk dibunuh. Antareja dan Wisanggeni segera mengejarnya tetapi tidak berhasil, karena dihalang-halangi para Kurawa.

Sementara itu Abimanyu disertai panakawan menghadap Abiyasa dan menanyakan hilangnya Bima, dan Abiyasa memerintahkan untuk pergi ke hutan Pringgabaya.

Pada saat yang sama, Dewi Pregiwa menerima Gatotkaca palsu yang merayu, tetapi ditolak dan Pregiwa lari. Di perjalanan ia bertemu Angkawijaya sehingga terjadi peperangan dengan Gatotkaca palsu, sehingga Gatotkaca palsu lari.

Puntadewa dan Prabu Kresna tidak sabar menunggu Abimanyu yang diutus ke Sapta Arga, maka kedua raja itu pergi mencari Bima. Di Pringgabaya bertemu dengan Pendeta Senawangi. Demikian juga Abimanyu juga datang di pertapaan. Sementara Begawan Dorawicara akan membunuh Gatotkaca, tiba-tiba Anoman menolongnya, sehingga Gatotkaca terhindar dari maut.

Di Pringgadani, Dorawicara bertemu Gatotkaca palsu yang memberitakan kegagalannya, tiba-tiba Gatotkaca asli datang bertemu Begawan Senawangi, peperangan terjadi Senawangi berubah Bima, Gatotkaca palsu menjadi Lesmana Mandrakumara, dan Dorawicara berubah Durga dan kembali ke Setragandamayit.

Setyaki Rabi
Konon prabu Kasendra dari kerajaan Tunjungpura, sangat bersedih hati memikirkan lolosnya putri kerajaan Dewi Karsini. Kepada putra mahkotanya yang bernama raden Kasena, beserta patih Dendabahu diperintahkan untuk mengundangkan pengumuman raja, barang siapa dapat menemukan dan membawa kembali putri raja Dewi Karsini, raja berkehendak kepadanya akan dijodohkan dengan sang dewi. Raden Kasena beserta patih Dendabahu segera memohon diri, di paseban luar mereka segera memerintahkan kepada segenap wadyabala Tunjungpura, sebagian dipersiapkan menunggu kerajan, sebagian turut serta mengundangkan kehendak raja, segera mereka berangkat menunaikan tugas masing-masing.Raja bertemu dengan permaisurinya Dewi Warsini, dijelaskan apa yang telah dibicarakan dipertemuan, dan tindakan apa yang telah diambilnya, yang tak lain mengundangkan kepada seluruh negeri sayembara, barang siapa dapat menemukan dan membawa kembali Dewi Karsini, berhak menjadi jodohnya. Segera mereka bersama-sama bojana di dalam ruangan santap kraton.

Syahdan, raja Suwelabumi prabu Kalakambana, sangat suka hatinya akan hasil utusannya, ialah melarikan Dewi Karsini, ucapan terimakasih diberikan kepada embannya yang telah menunaikan tugas tersebut, yang bernama Karendhi. Agaknya Dewi Karsini, tak sudi melayani segala kehendak raja, untuk itu raja bermaksud melepaskan maksudnya, harus berhasil merayu Dewi Karsini, kepada segenap wadyabala Suwelabumi, diperintahkan untuk berjaga-jaga, jangan sampai kemasukan prajurit-prajurit dari lain kerajaan, yang datang sengaja akan merongrong kewibawaan ratu,mereka berangkat menunaikan tugas masing-masing. Adapun raja Kalakambana, masuk ke dalam istana bermaksud akan menemui Dewi Karsini. Perjalanan wadyabala Suwelabumi, yang dipimpin oleh pandu perjalanan, kyai Togog dan Sarawita, dipertengahan perjalanan, bertemu dengan prajurit-prajurit Tunjungpura, terjadilah perselisihan pendapat, dan akhirnya mereka berperang. Wadyabala Suwelabumi, maupun wadyabala Tunjungpura, kedua-duanya menghindar peperangan, sehingga terlerailah untuk sementara.

Di praja Madukara, raden Janaka berkata kepada istrinya, bahwa telah didengarnya, putri Tunjungapura hilang dari tempat peraduannya. Sayembara telah diundangkan, barang siapa dapat menemukan dan membawanya kembali, akan diperjodohkan dengan sang dewi. Raden Janaka berpamitan, untuk pergi mencarinya, sang istri meluluskan maksud raden Janaka, mereka berangkat bersama kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk. Di tengah hutan, raden Janaka bertemu dengan wadyabala Suwelabumi, terjadilah perselisihan dan peperangan. Para raksasa dari Suwelabumi dapat ditumpas kesemuanya, raden Janaka dengan diiringi para panakawan, melanjutkan perjalanannya.

Di kahyangan Jonggringsalaka, hyang Girinata bersabda kepada hyang Narada dan hyang Yamadipati, bahwasanya kepada raden Setyaki yang sedang menggentur tapa di tepi sungai Silugangga, akan diberi anugerah senjata sakti nerujud gada, dam dijelaskannya pula bahwa kelak dikemudian hari, raden Setyaki akan diperjodohkan dengan putri Tunjungpura. Hyang Narada dengan diiringi hyang Yamadipati segera bermohon diri, untuk turun ke nreyapada menunaikan tugasnya.

Tresebut raden Setyaki yang sedang bertapa ditepian sungai Silugangga, selama 40 hari mengerjakan tapabrata, manakala air sungai Silugangga pasang, terjepitlah raden Setyaki pada batu yang sangat besar, tak lain yang dikerjakan hanya mengaduh kesakitan.

Datanglah hyang Narada beserta hyang Yamadipati, bersabda mereka datang menemuinya, untuk menunaikan sabda Girinata, menghadiahkan senjata sakti berujud sebuah gada. Diterimanya pemberian dewa berujud gada, seketika itu juga bertambahlah kekuatannya raden Setyaki, sehingga batu yang selama 40 hari menjepitnya, dengan mudah dapat ditendang, bebaslah sudah adri jepitan batu-batu. Segeralah raden Setyaki menyembah kepada hyang Narada dan hyang Yamadipati, bahkan dijelaskannya oleh para dewa, bahwa dijelaskannya oleh para dewa, bahwa kelak kemudian hari raden Setyaki akan diperjodohkan dengan putri Tunjungpura yang bernama Dewi Karsini. Hendaknya ini diketahui, dan bahwasanya keadaan Dewi Karsini ditawan oleh raja Suwelabumi, yang telah berhasil melarikan sang dewi, dari tempat peraduannya. Setelah tugas selesai, hyang Narada dan hyang Yamadipati pulang ke kahyangan, raden Setyaki segera berangkat mencari Dewi Karsini.

Raden Janaka dalam perjalanannya menuju palacakan hilangnya Dewi Karsini, bertemu dengan putra mahkota kerajaan Tunjungpura, raden Kasena. Setelah berkenalan, dan berbincang-bincang, raden Janaka berpamitan, untuk mencari Dewi Karsini, adapun raden Kasena melanjutkan tugasnya, malapor kembali kepada ayahandanya raja Tunjungpura.

Prabu Kalakambana menerima laporan kyai lurah Togog dan Sarawita, bahwasanya wadyabala Suwelabumi mati oleh ksatriya Madukara, bernama raden Janaka. Selagi mereka berbincang-bincang, terdengarlah suara menggelegar, menantangnya untuk berkelahi. Prabu Kalakambana marah, dan keluar, segera mereka campuh prang. Raden Janaka dapat digertaknya, sehingga terbucang jauh dari peperangan. Prabu Kalakambana segera masuk ke dalam kraton, untuk menemui Dewi Karsini, akan tetapi sangat terperanjat hatinya, melihat ada seorang ksatriya telah mendapinginya, yang tak lain raden Setyaki. Prabu Kalakambana tak dapat lagi menguasai dirinya, sehingga peperangan dengan raden Setyaki terjadi pula. Raden Setyaki segera menghantamkan gada sakti pemberian dewa, ke tubuh prabu Kalakambana, dan matilah raja Suwelabumi dari tangan raden Setyaki. Kepada Dewi Karsini, yang telah menyanggupkan diri, bersedia diperistri raden Setyaki, segera diantarkan kembali ke kerajaan Tunjungpura,untuk diserahkan kepada raja Kasendra. Adapun wadyabala Suwelabumi yang mengetahui rajanya mati, mengejar raden Setyaki.

Didalam perjalanannya menuju ke kerajaan Tunjungpura, raden Setyaki dan Dewi Karsini bertemu dengan saudaranya yang bernama raden Kasena, amat sukalah mereka. Tak lama datanglah raden Janaka, yang menanyakan kepada raden Setyaki, siapakah gerangan wanita yang disampingnya. Dijawabnya tak lain adalah saudaranya raden Kasena, putri Tunjungpura, Dewi Karsini. Kepadanya, raden Janaka menjelaskan, bahwa dialah yang diminta bantuanya untuk mendapatkan, menyerahkan kembali Dewi Karsini, persesuian pendapat tak ada. Sehingga terjadilah peperangan, antara raden Setyaki dan raden Janaka.

Selagi mereka berkelahi, saudara-saudaranya raden Janaka, tampak antaranya raden Wrekodara, pula terlihat sri Kresna, datang melerainya. Dijelaskannya oleh Kresna, Janaka hendaknya menerima kenyataan, bahwasanya Setyaki adalah jodohnya Dewi Karsini, sri Kresna segera memerintahkan kepada raden Setyaki bersama-sama Dewi Karsini, untuk segera berangkat menuju kerajaan Tnjungpura, diikuti oleh patih Dendabahu dan raden Kasena. Kedatangan mereka dikerajaan Tujungpura, disambut dengan kebahagiaan oleh raja Kasendra, ucapan terimakasih ditujukan kepada sri Kresna, khususnya kepada raden Setyaki. Sesuai dengan sayembara yang diundangkan, raden Setyaki tetap dijodohkan dengan Dewi Karsini. Selagi mereka bersuka-ria, wadyabala dari kerajaan Suwelabumi datang menyerang raden Setyaki dan raden Kasena memmukulnya, sehingga wadyabala musuh kocar-kacir,amanlah sudah kerajaan Tujungpura dari ancaman musuh. Seluruh warga iastana Tunjungpura, bersuka-ria, berpesta-pora.

Sindusena
Lakon ini menceritakan Dewi Subadra yang ditinggal suaminya yakni Arjuna dalam keadaan sedih, karena telah beberapa tahun suaminya itu tidak ada beritanya.Dalam situasi itu banyak para pangeran dan ksatria yang mencoba melamarnya, termasuk pangeran Mandraka yakni Burisrawa lewat perantara Baladewa.

Prabu Kresna telah menerima lamaran dari Sindusena yang berada di Kendalisada yang mengabdi Anoman. Sehingga Prabu Kresna mengatakan bahwa lamaran Baladewa itu akan dapat diterima asal saja para Kurawa dapat mengalahkan Sindusena.

Para Kurawa beramai-ramai pergi ke Dwarawati dimana Sindusena dan Kapiwara (Anoman) telah datang di tempat itu. Di alun-alun dibuat garis untuk peraturan dalam perang tanding dan barang siapa melewati garis itu, berarti kalah. Pertama Kertamarma, lalu Dursasana, Jayadrata dan Adipati Karna, mereka jatuh pingsan. Kemudian Prabu Baladewa maju perang ternyata melewati garis itu. Karena ia malu maka mengeluarkan senjata Nenggala, tetapi dapat ditangkap Anoman. Kresna kemudian membawa pergi Prabu Baladewa.

Menurut petunjuk dari dewa, Dewi Subadra harus mencari pertolongan kepada Partakusuma dari Pertapaan Arga Dumilah, maka Rarasati diperintah untuk menemuinya. Ternyata Partakusuma sanggup dan sebelum bertanding ingin bertemu dengan Dewi Subadra, nampaknya Partakusuma mengerti bahwa ia telah dikenal oleh Dewi Subadra maka setelah menerima Pasupati dan Pulanggeni segera ia pergi ke medan perang. Peperangan terjadi, Partakusuma berubah ujud menjadi Arjuna dan Sindusena berubah Bima dan Begawan Darmasuyasa dari Arga Dumilah berubah menjadi Yudistira.

Sitija Takon Bapa
Sebuah lakon yang menceritakan perjalanan Sitija, putra Dewi Pertiwi mencari ayahnya, Prabu Kresna. Sebelum berangkat, Batari Pertiwi memberinya bekal berupa Tirta Panggesangan.Dalam perjalanan ke Kerajaan Dwarawati, Sitija menjumpai sebuah ancak bekas sesaji. Dengan Tirta Panggesangan, acak tersebut berubah ujud menjadi raksasa, dan diberi nama Ancakogra.

Sitija kemudian bertemu dengan Garuda Wimana yang luka karena serangan Garuda Widata, saudara kembarnya.

Sitija membela Wimana sehingga Widata lari. Daruda Widata lalu minta perlindungan Gatotkaca.

Akhirnya, ketika peperangan antarburung garuda itu berhenti karena mereka sadar, Garuda Wimana menjadi tunggangan Sitija; sedangkan Widata menjadi tunggangan Gatotkaca.

Selanjutnya Sitija melewati Kerajaan Trajutrsina. raja negeri itu bernama Prabu Bomantara dibunuhnya, dan kemudian ia bergelar Prabu Boma Narakasura.

Setalah berjumpa, Prabu Kresna mengakui sebagai anaknya.

Sri Mulih
Prabu Kresna, R. Samba, R. Setyaki, Patih Udawa dan R.Gatotkaca sedang membicarakan perginya Kanjeng Eyang Sri Babu, tiba-tiba datang utusan dari negeri Atasangin, Prabu Bandaswalapati yang ingin meminjam senjata Kembang Cangkok Wijayakusuma, namun tidak diijinkan oleh Prabu Kresna yang mengakibatkan peperangan dan Prabu Bandaswalapati kalah melawan prajurit Dwarawati, melarikan diri kembali ke negara Atasangin serta melaporkan kegagalannya meminjam Kembang Cangkok Wijayakusuma kepada Raja Prabu Ngataswara. Setelah gagal meminjam senjata Prabu Kresna, Prabu Ngataswara beralih tujuan ingin memperistri Dewi Sri Babu.Di Pertapaan Pandan Arum, Dewi Ngataswati menghadap ayahnya, Begawan Gembung Tanpa Sirah agar dicarikan suami, satria yang bernama R. Praba Kusuma, mendengar permintaan anaknya Begawan Gembung Tanpa Sirah lalu pergi untuk menuruti kehendak putrinya.

Di tengah hutan R. Prabakusuma yang diiringi para punakawan sedang mencari jalan ke negara Amarta untuk mencari ayahnya, tapi belum sampai tujuan ia didatangi Sang Begawan dan diutarakan maksudnya mencegat perjalannya. Mengetahui Sang Begawan ingin mengambil mantu, R. Prabakusuma menolak keinginan Sang Begawan yang akhirnya menjadi peperangan dan R. Prabakusuma dapat dikalahkan Sang Begawan dan dibawa kepertapaan Pandan Arum. R. Prabakusuma akhirnya bersedia memperistri putri Sang Begawan apabila cita-citanya bertemu dengan ayahandanya telah terkabul. Sementara itu di negeri Amarta para Pandawa sedang berkumpul di Balairung Istana untuk membicarakan penyakit Dewi Sumbadra, tiba-tiba datanglah R,Prabakusuma untuk menanyakan ayahnya yang bernama R. Arjuna.

R.Arjuna bersedia mengakui R. Prabakusuma sebagai anaknya bila dapat menyembuhkan penyakit Dewi Sumbadra karena ditinggal oleh sukmanya Dewi Sri, maka R. Prabakusuma mencari Dewi Sri yang sedang diculik seseorang, atas pertolongan calon mertuanya Sang Begawan Gembung Tanpa Sirah, Dewi Sri dapat diketemukan dan Dewi Sumbadra kembali sehat pulih seperti sediakala. Penculik Dewi Sri, Prabu Ngataswara marah ketika Dewi Sri diboyong kembali ke negeri Amarta, sebagai balasan Prabu Ngataswara mengamuk dan merusak negeri Amarta, tetapi dapat dibinasakan oleh Begawan Gembung Tanpa Sirah dan dikutuk menjadi hewan serangga pemakan padi.

Setelah R. Arjuna mengakui bahwa R. Prabakusuma adalah anaknya dari istrinya yang bernama Dewi Supraba, R. Prabakusuma meminta diri untuk sementara waktu untuk menemui Dewi Ngataswari di pertapaan Pandan Arum guna melaksanakan perkimpoiannya. Maka dengan kembalinya Dewi Sri ke negara Amarta, negeri menjadi aman, makmur dan sejahtera.

Sri Pepitu
R.Samba, R. Setyaki, Patih Udawa dan Prabu Kresna di kerajaan Dwarawati sedang mengadakan persidangan yang intinya ingin membantu pihak Pandawa yang menginginkan Sri Pepitu.Sementara itu Prabu Dasa Wasesa, Patih Gerjitapati serta diiringi bala tentara Pracimalayantaka menuju ke negeri Amarta untuk meminta Dewi titisan Sinta, Dewi Wara Sumbadra namun ditengah perjalanan bertemu dengan R.Angkawijaya menjadi murka setelah mengetahui orang yang dihadapannya akan membuat masalah di negerinya sehingga terjadilah peperangan yang dimenangkan rombongan Prabu Dasa Wasesa. Maka dengan kekalahan itu, R. Angkawijaya melarikan diri ke kahyangan memohon kepada dewa agar Sri Pepitu diijinkan dibawa ke Amarta.

Setelah semua Dewa setuju, maka R. Angkawijaya diijinkan membawa Sri Pepitu ke negeri Amarta. Prabu Kresna, para Pandawa bersuka cita mengetahui R. Angkawijaya berhasil membawa pulang Dewi Sri Pepitu, tiba-tiba datanglah rombongan dari negeri Pracimalayantaka yang dipimpin langsung rajanya Prabu Dasa Wasesa yang berkeinginan memboyong Dewi Sumbadra untuk diperistri. Kedatangan dan maksud Prabu Dasa Wasesa menjadikan perselisihan yang akhirnya peperangan tak dapat dihindari. Patih Gerjitapati dan bala tentara negeri Pracamalayantaka dapat dikalahkan pihak Pandawa namun rajanya Prabu Dasa Wasesa tak dapat dikalahkan oleh Senapati dam prajurit Pandawa maka dipanggilah Resi Hanoman untuk mengalahkan Prabu Dasa Wasesa. Menghadapi Resi Hanoman Prabu Dasa Wasesa tak dapat berkutik dan dapat dibinasakan.

Pada saat jasad Prabu Dasa Wasesa diam tak berkutik, Resi Hanoman bersiap-siap menggempur dengan Aji Mundri agar hancur berkeping-keping, tetapi sebelum aji Mundri mengenai tubuh Prabu Dasa Wasesa, menjelmalah
Sukma Dasa Muka raja Rahwana negeri Alengka yang telah dikubur ditimbun gunung Kendalisada.

Begitu sukma Dasamuka hilang, Hanoman kembali ke pertapaan Kendalisada untuk menjaga agar sukma Dasmuka tidak menganggu Pandawa.

Sri Tanjung
Di Kadipaten Sukadana Adipati Hadi Silah Krama, Patih Sidapeksa dan Tumenggung Gunasanta sedang dalam persidangan untuk mencarikan obat bagi penyakit Sang Hadipati. Untuk itu Patih Sidapeksa mendapat tugas mencarikan obat tersebut, sebelum berangkat Patih Sidapeksa berpamitan dengan istrinya Sri Tanjung dan Temenggung Gunasanta mengatur siasat dengan menyuruh orang-orang kepercayaannya agar mencari pembunuh bayaran untuk membayangi perjalanan Patih Sidapeksa dan membunuhnya, disisi lain Tumenggung Gunasanta membujuk Adipati Hadi Silah krama agar datang ke Taman Kepatihan untuk menemui Sri Tanjung memberitahukan bahwa suaminya Sidapeksa telah meninggal di perjalanan juga Adipati Hadi Silah Krama merayu Sri Tanjung agar mau diperistri. Sri Tanjung dengan tegas menolak keinginan Sang Hadipati dan tetap menunggu kembalinya suaminya Patih Sidapeksa. Dengan gegalannya itu Sang Hadipati lalu menugaskan Tumenggung agar Patih Sidapeksa dicari dan diberitahu bahwa istrinya telah diperistri Sang Hadipati.Dipertapaan Perang Mas, Begawan Tamba Petra dikunjungi Patih Sidapeksa yang ingin mencari obat untuk junjungannya, namun hal ini dijelaskan oleh Sang Begawan bahwa apa selama ini terjadi dan diperbuat oleh Patih Sidapeksa hanyalah siasat Tumenggung Gunasanta yang ingin menggeser kedudukannya sebagai Patih di Kadipaten Sukadana. Patih Sidapeksa segera memohon pamit kembali pulang ke Kadipaten Sukadana, namun diperjalanan dihadang oleh sekelompok orang bertopeng yang menginginkan nyawanya, namun semua orang yang menghadang dan ingin membunuhnya dapat dikalahkan oleh Patih Sidapeksa.

Sesampainya di Kadipaten Sukadoana, Patih Sidapeksa mendapat berita keadaan istrinya dari Tumenggung Gunasanta namun tidak percaya, akhirnya ia menghadap Sang Hadipati dan menunjukkan kekeliruan perilaku Sang Hadipati dan Tumenggung Gunoasanta.

Akhirnya Hadipati Hadi Silah Krama mengakui kekeliruannya begitu juga Tumenggung Gunasanta. Dengan demikian Sri Tanjung tetap menjadi istri Patih Sidapeksa, yang sebelumnya sempat mati dibunuh oleh suaminya dan dihidupkan kembali oleh ayahandanya Begawan Tamba Petra dengan air Suci Tirta Kamandanu.

Sridenta
Pada suatu hari Prabu Yudistira menerima kedatangan Prabu Sridenta dari Kerajaan Jumapala yang menyaru sebagai Batara Narada. Ia datang untuk meminjam jimat Kalimasada, tanpa dipikir Yudistira memberikan dan Narada palsu segera meninggalkan Amarta.Baru saja Narada pergi Prabu Kresna datang berkunjung di Amarta serta menerima laporan dari Yudistira mengenai kedatangan Batara Narada. Mendengar apa yang telah terjadi Prabu Kresna curiga serta memerintahkan Bima, Nakula dan Sadewa mengejarnya.

Akhirnya perampok itu dapat ditangkap tetapi Bima tidak kuat melawan kesaktian Sridenta, ia dibanting dan tertanam di dalam tanah dan tidak dapat bergerak.

Melihat kejadian itu Nakula dan Sadewa segera minta pertolongan Arjuna di Madukara. Seketika Arjuna berangkat dengan putranya yakni Jaya Windu, cucu dari Begawan Sidimulya dari Andong Wilis.

Sridenta sangat senang karena dapat memiliki Kalimasada, dalam perjalanan ia singgah di tempat mertuanya yakni Begawan Ciptarasa di Pertapaan Ringin Putih.

Setelah mengakui bahwa menantunya berhasil membawa jimat sakti, ia ingin mengetahuinya dan memegangnya, maka setelah menerima Kalimasada seketika Ciptarasa berubah ujud menjadi Jaya Windu, maka perang tanding terjadi. Namun Jaya Windu tidak kuat melawannya segera Arjuna memberi pertolongan dan Sridenta lari meninggalkannya.

Tiba-tiba Gatotkaca datang mencari ayahnya dan menemukan di dalam lumpur serta berusaha menariknya ke luar dari dalam tanah. Setelah itu semua pergi ke Jumapala. Setibanya di keraton, Arjuna dapat memikat Dewi Ciptawati istri Sridenta, sedangkan Sridenta dan Ciptarasa mati terbunuh oleh Bima.

Sucitra Krama
Pada suatu hari Sucitra saudaranya raja pendeta Resi Baratmaja yang berkuasa di Argajembangan, mendengar berita bahwa di Cempalareja diadakan sayembara perang untuk memperebutkan putri raja yang bernama Gandawati. Yang bertindak sebagai jago adalah kakaknya yakni Gandamana, maka Sucitra pergi ke Jawa untuk mengikuti sayembara perang tanding.Sementara di Cempalareja telah dimulai sayembara perang dan sebagian dari alun-alun dikelilingi dengan garis, sedangkan di luar garis digali beberapa lubang untuk mengubur jago yang terbunuh.

Di antara yang mengambil bagian sayembara itu terdapat Bambang Sucitra dari Kerajaan Atasangin. Ia berperang tanding melawan Gandamana dengan menggunakan gada serta berlangsung sengit dan cukup memakan waktu yang lama. Akhirnya ia berhasil melemparkan Gandamana ke luar garis dan jatuh di tempat yang jauh. Patih Trustaketu segera lari ke tempat jatuhnya Gandamana dan selanjutnya ia memberi isyarat agar Sucitra dikimpoikan dengan Gandawati serta diangkat sebagai raja di Cempalareja. Sedangkan Gandamana tidak kembali ke istana, tetapi ia masuk ke hutan.

Sudamala
Batara Guru dan Batari Uma, yang sedang melanglang buana, busana Batari Uma tersingkap oleh angin, sehingga tergugah hasrat Batara Guru. Namun kenginan batara Guru ditolak oleh Batari Uma, maka batara Guru mengutuk batari Uma menjadi raseksi bernama Batari Durga, dan tinggal di hutan Setra ganda Mayit menguasai jin dan setan. Untuk merubah wujud Batari Durga kembali semula harus diruwat oleh sadewa.Di Negara Astina, kedatangan dua orang raksasa Kolonjaya dan kalantaka yang bersedia membantu menumpas Pandawa bersama para prajurit astina. Di tengah perjalanan dihadang oleh Raden gatotkaca dan para putra Pandawa, sehingga terjadi pertempuran yang dimenangkan para Kurawa.

Para Pandawa yang sedang bermuram durja, dihadapkan Prabu Kresna membicarakan perihal Dewi Kunti yang sedang menderita sakit dan belum ditemukan cara penyembuhannya, sedangkan Raden sadewa yang diutus untuk menghadap Resi Abiyasa, belum kunj*ung tiba. Tak lama kemudian dating Raden Sadewa yang menghaturkan sabda Resi Abiyasa, hingga Prabu Kresna mengusulkan agar para Pandawa mengucapkan nadar (janji) yang ditujukan kepada Dewi Kunti yang kemudian mengikuti Raden sadewa meninggalkan Amarta, Nakula mohon pamit untuk menyusul. Bersamaan dengan ini dating musuh yang ingin menumpas para Pandawa hingga terjadi pertempuran, Bima ditelan oleh raksasa Kolonjaya dan Kalantakja.

Dewi Kunti yang sedang akit jiwanya pergi bersama Raden sadewa dari Kerajaan Amarta menuju ke tengah hutan, Dewi Kunti dimasuki roh Jim Kalika utusan Batari Durga yang menyatakan cintanya kepada Raden sadewa.

Batari Durga dating dan meminta Sadewa untuk meruwat dirinya agar ujudnya kembali menaji cantik jelita, namun sadewa menolak permintaan batari Durga, maka murkalah batari Durga. Pada saat itu batara Guru memasuki raga sadewa hingga batari durga lunglai dan memasrahkan diri. Maka diruwatlah oleh raden sadewa. Atas keberhasilan Raden sadewa meruwat batari Durga, Batara Guru memberikan anugerah nama dengan sebutan raden Sudamala dan memperoleh jodoh putrid dari pertapaan Prang Alas bernama Endang Soka, anak dari Begawan Tamba Petra. Batara Guru dan Batari Durga kembali ke kahyangan.

Begawan Tamba Petra dan kedua putrinya, membicarakan perihal mimpi berteemu dengan raden nakula dan sadewa.

Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa yang mencari kepergian Dewi Kunti dan raden sadewa, pada saat itulah datanglah Kalanjaya dan Kalantaka sehingga terjadi pertempuran seru, akhirnya kedua raksasa berubah ujud menjadi Batara Citragada dan Citrasena.

Sugatawati (Endrasekti)
Di kerajaan Dwarawati, prabu Kresna menerima kedatangan prabu Baladewa raja Mandura, meghadap pula putra mahkota Dwarawati, raden arya Samba, raden Partadyumna, ipar raja raden Arya Setyaki.Pemikiran Prabu Kresna, berkisar membicarakan lolosnya iparnya ialah Satriya Madukara, raden janaka. Prabu Baladewa memberitakan, sepanjang pendengarannya, bahwa satruya madukara sekarang merajakan dirinya di Bulukatiga, untuk itu prabu Baladewa berkehendak akan menyusulnya, untuk diajak kembali ke kerajaan Dwarawati. Gagasan prabu Baladewa disetujui oleh Prabu kresna.

Selesailah pertemuan hari itu, prabu Baladewa mengerahkan segenap wadyabalanya, diperintahkannya kepada patih Udawa untuk segera berangkat ke Bulukatiga, demikian pula tak ketinggalan turut serta raden arya Wisata, raden samba dan patih Pragota, Prabawa.

Di dalam keraton, Prabu Kresna menjelaskan kesemuanya kepada permaisuri. Dewi Jembawati, Dewi Rukmini dan Dewi Setyabona kesemuanya menghiyakan atas kehendak prabu Baladewa, menyongsong raden janaka ke Bulukatiga.

Di kahyangan batari Pramuni, ialah setragandamayu, Batara kala yang berujud raden Janaka jadian, mengutarakan maksudnya kepada batari Pramuni, bahwasanya dia merajakan dirinya sebagai raden Janaka di Bulukatiga, tak lain dengan maksud akan sekedar mendapatkan sebaguian kewibawaan yang didapat Hyang Wisnu, sebagai saudara tuanya akan tetapi dirasanya sangat sulit dan sukar. Hyang Pramuni segera memerintahkan kepada batara Kala, untuk segera kembali ke kerajaan Bulutiga, diberinya bantuan wadyabala raksasa siluman. Tujuan raden Janaka jadian, akan menyerang kerajaan Dwarawati, setelah didapatnya bantuan wadya siluman, diperintahakannya untuk segera berjaga-jaga di sekitar telatah Dwarawati, dan berangkatlah mereka menunaikan tugasnya masing-masing.

Wadyabala silumannya batara Kala, Jaramaya, Jurumeya dan Rinumaya di tengah jalan, bertemu dengan wadyabala Mandura, terjadilah peperangan. Keduanya segera menjauhkan dari keterlibatan peperangan yang lebih parah,sehingga masing-masing berusaha melanjutkan perjalanannya.

Di pertapaan Endragiri, bagawan Endrasekti yang sedang menderita sakit, seluruh badannya kelihatan membengkak, dihadap oleh kedua putranya, Bambang Endrakusuma dan Endang Sugatawati, tak lupa menghadap pula Kyai Semar,Nalagareng dam Petruk. Begawan Endrasekti segera memerintahkan kepada putranya Bambang Endrakusuma dan Endang Sugatawati, untuk pergi menemui retna wara Sumbadra ke Banoncinawi, untuk meminta petuah dan saran bagaimana sang begawan Endrasekti akan dapat sembuh dari penderitaan sakitnya. Kepergian kedua putranya, diberinya makan berupa jenang madurasa, untuk dipersembahkan kepada retna wara Sumbadra. Mohon dirilah mereka, untuk segera pergi ke taman Banoncinawi, dengan diiringkan kyai Semar, Nalagareng dan Petruk.

Di pertengahan perjalanannya, mereka bertemu wadyabala siluman dari hutan Krendayana , terjadilah peperangan, Wadyabala raksasa siluman dari hutan Krendayana, dapat ditumpas oleh Bambang Endrakusuma. Lajulah mereka meneruskan perjalanan nya.

Di Kerajaan Bulutiga, raden Janaka jadian berbincang dengan patih Kuntalabahu, maksudnya tak lain bagaimana cara yang harus ditrapkan dan diusahakan dalam menempuh untuk membunuh prabu Kresna, raja Dwarawati. Agaknya jalan yang aman, ialah dengan mengabdikan dirinya ke prabu Kresna, dengan demikian terbukalah jalan untuk lebih banyak kesempatannya membunuh raja Kresna. Belum selesai mereka berembug, datanglah Baladewa, yang sebenarnya tidak merasa bahwasanya raden Janaka yang dihadapinya palsu. Janaka jadian merasa bahagia sekali ketamuwan prabu Baladewa, segeralah menyembah, dan menghaturkan bekti. Prabu Baladewa mengutarakan maksudnya, akan memboyongi raden Janaka, dan tak keberatan. Segera raden Janaka jadian diboyong oleh prabu Baladewa ke kerajaan Dwarawati.

Di taman Banoncinawi, retna wara Sumbadra dihadap oleh retna wara Srikandhi, dyah Rarasati, dan dyah Sulastri. Pembicaraab berkisar perihal kepergian raden Janaka, yang sudah lama tak kunjung kabar maupun beritanya. Menghadaplah Endang Sugatawati, menguraikan maksud dan tujuannya, yang tak lain diutus oleh ayahanda Begawan Endrasekti dari pertapaan Endragiri untuk menyampaikan makanan yang berwujud jenang madurasa serta memohon sarana obat penyembuh dari sakitnya sang begawan. Jenang Madurasa yang dibuntel daun upih diterima oleh Dewi Srikandhi, dan segera dihaturkan kepada retna Wara Sumbadra, tampaklah bukan makanan yang berupa jenang didalamnya, akan tetapi seperangkat busana, yang berwujud dodot limar katangi, yang tak lain, sebenarnya busananya raden Janaka, kesatriya Madukara.

Setelah dodot (kain) dibuka, didalamnya terselip sepucuk surat yang berbunyi ,” Dinda yang kusayang, kudoakan kepada dinda semoga bahagia. Kanda bermohon diri untuk kembali ke alm baka.” Retna Wara Sumbadra jatuh pingsan, seluruh isi Banoncinawi geger, segera Dewi Sumbadra diberikan pertolongan pertama, Dewi Srikandhi melapor ke kerajaan Dwarawati. Endang Sugatawati yang melihat Dewi Sumbadra jatuh pingsan, segera melarikan diri keluar dari Banoncinawi.

Di kerajaan Amarta, prabu Yudistira dihadap oleh raden Wrekudara, raden arya Nakula dan arya Sadewa. Arya Wrekudara diutus oleh kakandanya prabu Puntadewa, untuk segera berangkat mencari raden Janaka.

Prbu Kresna raja Dwarawati, menerima kedatangan prabu Baladewa yang menyerahkan kembali raden Janaka yang merajakan dirinya di Bulukatiga. Kepada raden arya Samba, diperintahkan untuk menempatkan raden Dananjaya (Janaka) jadian ke pesanggrahan kadipaten Paranggaruda. Datanglah retna wara Srikandhi, melapor kepada prabu Baladewa, dan prabu Kresna segala ihwal yang baru saja terjadi di Banoncinawi.
Prabu Baladewa setlah mendengar laporan tersebut, segera pergi untuk mencari Endang Sugatawati, yang menjadi huru-hara di Banoncinawi.Bertemulah prabu Baladewa dengan Endang Sugatawati segera dibunuhnya, bangkai ditinggal. Raden arya Samba, menemukannya, segera jenazah Endang Sugatawati diangkutnya, dan dioukulnya tanda, bahwa ada pembunuhan.

Bambang Endrakusuma, yang menanti adiknya di luar, mendengar suara bertalu-talu bunyi titir, segera mendapatkan keterangan bahwasanya adiknya, Endang Sugatawati dibunuh oleh prabu Baladewa, segeralah pergi meninggalkan kerajaan Dwarawati, untuk melapor keayah keayahandanya begawan Endrasekti di pertapaan Endragiri.

Raden Arya Wrekudara menerima penelasan dari sang wiku Kapiwara (Anoman), bahwasanya raden Janaka akan timbul di kerajaan Dwarawati, untuk menyongsongnya raden arya Wrekudara bermohon diri, laju ke kerajaan Dwarawati.

Di pertapaan Endragiri, begawan Endrasekti menerima laporan dari Bambang Endrakusuma, perihal kematian Endang Sugatawati dari tangan prabu Baladewa. Kemarahan begawan Endrasekti, menjadikan dirinya kuasa untuk duduk, berdirilah begawan Endrasekti dipapah oleh Bambang Endrakusuma, dan para panakawan. Selangkah, musnahlah begawan Endrasekti dengan keseluruhan raganya, Bambang Endrakusuma yang menyadari bahwa ayahandanya musna, segera menyusul ke kerajaan Dwarawati, diikuti oleh para panakawan. Prabu Kresna, menerima raden arya Samaba, yang membawanya untuk menghidupkan lagi, dengan kesaktian bunga Jayakusuma, Endang Sugatawati hidup kembali. Raden Samba diperintahkan untuk memboyong Endang Sdugatawati, masuk ke keraton.

Raden Janaka jadian, memohon kepada prabu Baladewa, untuk bertemu dengan istrinya retna Wara Sumbadra, dan diijinkan. Sementara di taman Banoncinawi, retna Wara Sumbadra telah bangkit dari kepingsannya. Begawan Endrasekti bertemu dengan raden Janaka jadian dalam pertengahan perjalanannya, terjadilah peperangan. Janaka setelah dilepasi oleh begawan Endrasekti dengan senjata saktinya, babar wujud batara Kala, dan melarikan diri.

Raden arya Wrekudara melapor ke prabu Kresna, dan prabu Baladewa, sementara mereka berbincang, datanglah wadyabala Dwarawati, melapor musuh dari Bulutiga mengamuk.
Raden arya Wrekudara mengundurkan wadyabala Bulutiga, Sri Kresna menjelaskan kepada raden arya Wrekudara segala hal ihwal yang telah terjadi, bahwasanya raden Janaka telah kembali dengan selamat, sekarang berada dengan istrinya Dewi Sumbadra, di taman Banoncinawi. Bersukacitalah seluruh Dwarawati, bersyukur kepada dewa, Janaka telah kembali berkumpul dengan istrinya, Dewi Sumbadra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s