Lakon Wayang Part 54


Sugatawati Rabi
Raja Astina prabu Duryudana, dihadap oleh resi Durna, patih arya Sakuni, dipati Karna, para Korawa tampak antaranya raden arya Dursasana, raden arya Kartamarma, raden arya Durmagati,raden arya Jayadrata, raden arya Citraksa dan raden arya Citraksi. Raja berkenan menyampaikan maksudnya, akan pergi ke praja Madukara memenuhi undangannya raden Janaka, mempunyai hajad mengawinkan putrinya Dewi Sugatwati dan raden Samba. Seluruh nalapraja yang hadir diperintahkannya untuk mempersiapkan diri, beserta barang-barang bawaan untuk disumbangkan.Permaisuri ratu, Dewi Banowati pun ikut serta dalam perjalanan raja ke praja Madukara. Wadyabala Astina mengiringkan kepergian raja beserta permaisuri ke praja Madukara.

Di kerajaan Garbaruci, raja yaksa bernama prabu Durgangsa, dihadap oleh pengasuhnya emban Kepetmega dan patih Duryasa. Raja menceritakan perihal keinginannya untuk mempersunting Dewi Sugatawati putrinya raden Arjuna, demikian tutur raja sesuai dengan hasil impiannya. Semula untuk mencapai maksudnya, raja berkehendak akan menyerang praja raden Arjuna, bahkan dengan maksud akan meluaskan jajahannya sekaligus, akan tetapi maksud demikian itu dihalang-halangi oleh patih Duryasa, sebaiknya mengutus saja wadyabala untuk menyampaikan lamaran ke Dewi Sugatawati. Raja menyetujuinya, dan kepada wadya yaksa Kalapragangsa, Kaladirgasa, dan Kaladurmeya, beserta pandunya kyai Togog dan Sarawita, diberi tugas ke Madukara, menyampaikan surat lamaran ke raden Arjuna. Perjalanan mereka di tengah jalan, bertemu dengan wadyabala Astina, terjadilah perselisihan, dan peperangan. Mereka masing-masing berusaha untuk menghindarkan diri dari keterlibatan yang tidak henti-hentinya, akhirnya terlerai juga, dan mereka menruskan perjalanannya masing-masing.

Di pertapaan Retawu, begawan Abyasa menrima kedatangan cucundanya raden Abimanyu, yang diutus oleh raden Janaka untuk menyampaikan permohonan kehadiran resi Abyasa, dalam rangka perkimpoian putri raden Janaka dari Tasikmadu, yang bernama Dewi Sugatawati dan raden Samba, putra mahkota kerajaan Dwarawati. Sang begawan menyanggupi diri, untuk hadir, segera raden Abimanyu memohon diri, untuk kembali, diikuti oleh para panakawan, kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk.

Di tengah hutan Gandamayu, raden Abimanyu terlibat peperangan dengan wadyabala raksasa dari Garbaruci, kemenangan ada dipihak yaksa Garbaruci dapat dimatikan kesemuanya. Lajulah raden Abumanyu, diikuti oleh kyai Lurah Semar, Nalagareng, dan Petruk.

Konon di kerajaan Dwarawati, sri Kresna mempersiapkan diri, bersama-sama dengan permaisuri raja, sri Baladewa, pamandanya raden arya prabu Bismaka dan raden arya Ugrasena , dalam mempersiapkan iring-iringan keberangkatan temanten. Setelahselesai segala sesuatunya, berangkatlah iring-iringan temanten. Sungguh suatu tontonan yang jarang terjadi bagi warga kerajaan Dwarawati.

Demikian pula, di kerajaan Tasikmadu, prabu Madusudana beserta kakandanya retna Gandawati, dihadap putra mereka raden Gandawardaya, raden Gandakusuma, dan dyah Gandawati. Setelah segala upeti dipesiapkan, berangkatlah segera raja Tasikmadu ke praja Madukara.

Raja Garbaruci, prabu Kaladurgangsa menerima laporan Kyai Togog dan sarawita, bahwasanya duta raja mati dibunuh oleh seorang kesatria di tengah perjalanannya. Marahlah raja, kepada wadyabala Garbaruci diperintahkan bersiap-siap untuk mengikuti raja ke tanah Jawa. Berangkatlah mereka, tak ketinggalan patih Duryasa dan emban Kepetmaja.

Di kerajaan Trajutrisna, Prabu Bomanarakasura sedang merenungkan kesedian hatinya, menurut perkiraan prabu Bomanarakasura, ayahnya prabu Kresna, melupakannya. Patih Pancadnyana dan Yayahgriwa selalu menghiburnya, mengatakan kepada raja, bahwasanya sri Kresna tak mungkin lupa kepada prabu Bomanarakasura, sebab sudah menjadi kewajiban orang tua, untuk menjodohkan putra-putra lainnya pula. Sadarlah prabu Bomanarakasura dan memerintahkan untuk segera mempersiapkan sumbangan, yang akan dibawa ke praja Madukara, akan tetapi diperintahkannya untuk menuju terlebih dahulu ke praja Amarta, segera raja berangkat, diikuti oleh segenap wadyabalanya.

Denikian pula raja Amarta, Sri Yudhistira mempersiapkan diri untuk berangkat ke praja Madukara, bersama-sama dengan prabu Drupada,arya Sena, arya Gatutkaca, Dewi Arimbi, beserta Dewi Drupadi.

Di praja Madukara, telah lengkap hadir pata pinisepuh dan tamu-tamu agung lainnya, tampak antaranya resi Abyasa, prabu Suyudana dari Astina, prabu Spalya dari Mandraka, prabu Sadana dari Tasikmadu, prabu Bomanarakasura dari Trajutrisna, adipati Awangga, dari Wirata tampak arya Seta, Untara dan Wratsangka, juga kelihatan resi Dewabrata, dan prabu Drupada. Datanglah sudah saat temanten lelaki arya Samba dipertemukan, sungguh suatu suasana yang sangat khusuk, Dewi Sugatawati berjajar dengan raden Samba, tak ubahnya mereka bagaikan Dewa Ratih beserta permaisurinya Dewi Ratih, sungguh suatu pasangan temanten yang sangat serasi, seluruh praja Madukara diliputi suatu suasana yang sungguh menggairahkan.

Sedang mereka merayakan hajad perkimpoian agung itu, dan lagi enak-enaknya mereka bersantap bersama-sama, datanglah melapor wadya Madukara bahwanya musuh dari kerajaan Garbaruci datang, dipimpin oleh rajnya sendiri prabu Kaladurgangsa. Raden Arya Wrekudara, raden Janaka, prabu Boma, raden arya Setyaki dan arya Gatutkaca menerima perintah dari prabu Dwarawati, untuk menyongsong kedatangan musuh. Keluarlah mereka menjemput kadtangan prabu Kaladurgangsa, dan dapat membunuhnya, arya Sena mengalahkan patih Garbaruci Duryasa, emban Kepetmega dipukul mundur oleh raden arya Gatutkaca, wadyabala diobrak-abrik oleh raden arya Setyaki, sisa prajurit Garbaruci lari tunggang- langgang .

Kembalilah mereka yang menang perang, malpor kepada sri Kresna, kembali suasana di praja Madukara damai, seluruhnya bersyukur telah terhindar dari marabahaya.

Tugu Wasesa
Di Kerajaan Gilingwesi yang berkuasa Prabu Tugu Wasesa dihadap putranya yakni Antasena, ia bermaksud menaklukkan Kerajaan Astina. Segera memerintahkan seluruh balatentaranya pergi ke Astina, setelah tiba terus melakukan penyerangan. Prabu Suyudana tidak kuat melawan musuh maka melarikan diri dengan Dewi Banowati. Demikian juga Karna dengan istrinya, Surtikanti juga ditangkap dan dipenjara di Gilingwesi.Sementara itu Suyudana terluka di bawah pohon beringin di hutan, tiba-tiba Arjuna, Gatotkaca dan Angkawijaya datang bersama Samba dan Setyaki. Mereka memberikan pertolongan kepada Suyudana. Selanjutnya raja Astina itu bersama istrinya dibawa ke Mandura oleh Samba dan Setyaki untuk mencari tempat yang aman. Para raksasa utusan Antasena datang menyerang tetapi dapat diusir oleh Angkawijaya dan Gatotkaca.

Antasena mengetahui bahwa tentaranya terbunuh segera maju ke medan perang dan kena panah Arjuna terlempar jauh. Selanjutnya ketiga ksatria itu menuju ke Gilingwesi, disana Angkawijaya dapat memikat Antawati adik Antasena. Sedangkan Arjuna membebaskan Adipati Karna dan Dewi Surtikanti serta dapat memikat para istri raja yakni: Dewi Nawangsih, Nawang Wulan, Nawang Kencana, dan Nawang Resmi yang kemudian dibawanya ke Mandura.

Arjuna melepaskan panah pada mahkota Tuguwasesa dan berubah ujud Bima, sedangkan Anoman kembali ke Kendalisada. Demikian juga Antasena dipeluk Gatotkaca karena sebagai saudaranya.

Ugrasena Rabi
Syahdan bertitahlah Hyang Girinata kepada Hyang Narada, mencari Raden Arya Ugrasena, tak lain Kahyangan Suralaya terancam bahaya, Prabu Garbaruci raja Paranggubarja, mohon jodoh bidadari Dewi Wresini, jika tak diluluskan permintaannya, kahyangan akan dihancurkan. Hyang Narada segera turun ke bumi mendapatkan Raden Arya Ugrasena, yang kala itu ditengah hutan, sedang merenungi nasibnya, lolos dari negara Mandura, kepadanya dimintakan untuk kimpoi dari kakandanya Prabu Basudewa, tetapi enggan menurutinya. Tak lupa, oleh Hyang Narada dijelaskan segala maksud Hyang Girinata, raden Arya Ugrasena menyanggupkan diri, demikian pula Prabu Pandudewanata, yang semula menemukan Raden Arya Ugrasena dihutan, juga menyanggupkan diri kepada Hyang Narada untuk membantunya.Berhadapan dengan wadyabala dari Paranggubarja, Patih Kalaruci dan segenap raksasany ayang sedang mengamuk, untuk kali iniArya Ugrasena tak dapat melawannya, ternyata dalam peperangan dapat dihempaskan dengan hembusan angin, terbawa melayang jauh. Akan tetapi , Prabu Pandudewanata yang senantiasa dibelakannya, akan selalu membantunya, ternyata Hyang Narada mewaluyakan Raden arya Ugrasena, dan setelah itu Prabu Pandudewanata diberi sumping dan diberi wejangan-wejangan, berhadaplah lagi raden Arya Ugrasena, Patih paranggubarja, dapat dimatikan, demikian pula sisa prajuritnya yang terkalahkan dan masih hidup lari tunggang langgang melaporkan kehadapan Prabu Garbaruci. Tak ayalah lagi, sang prabu mengerahkan segenap wadyabalanya menuju Suralaya, menggempurnya, dan menuntut balas kekalahan, dan metinya prajurit-prajuritnya. Raden Arya Ugrasena dan Prabu Pandudewanata, akhirnya juga dapat mematikan Prabu garbaruci, demikian pula sisa prajurit-prajuritnya, terkikis smeua. Sesuai dengan keinginan Hyang Girinata, kepada Raden Arya Ugrasena dijodohkan dengan bidadari kahyangan, Dewi Wresini, dan mohon dirilah raden Arya Ugrasena beserta istrinya, demikian pula Prabu Pandudewanata, dengan diiringi oleh para jawata menuju kenegara Mandura.

Prabu Basudewa, sepeninggal adiknya Raden Arya Ugrasena, telah mengutus pepatihnya, saragupita untuk mencari dan memohonkan bantuan pencarian ke Prabu Pandudewanata, kedatangan nya dibarengi dengan datangnya raden Asrya Ugrasena, Prabu Pandudewanata dan para jawata. Prabu Basudewa senang sekali melihat raden Arya Ugrasena telah mendapatkan jodoh, Dewi Wresini seluruh istana Mandura bersuka cita.

Utara dan Wratsangka Rabi
Prabu Tasikraja dari negara tasikretna menyarankan sehubungan dengan musnanya putrinya Dewi Tirtawati, maka untuk itu perlu diundangkan adanya sayembara, kepada siapa saja yang menemukannya, akan dijodohkan dengan sang Dewi.Prabu Abiyasa dari negara Astina, menerima kedatangan resi Narada yang menyampaikan pesan Hyang Girinata kepadanya dimintakan bantuannya untuk mengawinkan raden Utara dan wratsangka putera-putera dari negara Wirata. Demikian pula Prabu Abiyasa menerima kedatangan raden Wratsangka tak lain emnceritakan lolosnya raden Utara, untuk itu prabu Abiyasa diminta bantuannya untuk menemukan kembali, dan berangkatlah untuk mencarinya. Bertemulah merejka ditengah hutan dengan raden Utara, prabu Abiyasa menyarankan kepada raden Utara untuk mencari puteri di tasikretna, dengan iringan adiknya Wratsangka, berangkatlah raden Untarea menuju negara tersebut.

Syahdan sipencuri ulung, namanya raden Girikusuma, putera prabu Prawata dari negara Bulukapitu, sedang berusha mendekati Dewi Tirtawati. Dewi tirtawati berkata, akan bersedia melayani segala maksud raden Girikusuma, tetapi minta dimadu dengan adiknya Dewi Sindusari, hal itu disanggupi oleh raden Girikusuma, dan berangkatlah menuju negara Tasikretna.

Prabu tasikraja, menerima kedatangan raden Untara dan raden Wratsangka, yang menyatakan bahwa kedatangan mereka atas anama prabu Abiaysa yang memenuhi permintaan bantuan dari raja Tasikretna, dan kepada sang prabu , oleh raden Untara diuraikannya, bahwasanya malam nanti si pencuri julig, akan memasuki istana lagi, untuk tertangkapnya sipencuri, kepada raden Untara dan Wratsangka, ditugaskan untuk menyelesaikannya.

Pada malam hari, raden Girikusuma, yang akan mencuri Dewi Sindusari, dapat ditangkap oleh raden Untara, Wratsangka, terjadilah peperangan. Girikusuma dapat dienyahkan dan melarikan diri.

Prabu Abiyasa memerintahkan kepada Untara Wratsangka untuk mengejarnya, dan di Bulukapitu raden Girikusuma dapat dikalahkan oleh kedua ksatria Wirata, demikian pula Dewi tirtawati diselamatkan oleh Prabu Abiyasa . Ayahandanya Girikusuma prabu Prawata, mengamuk atas kematian anaknya, tetapi juga dapat dikalahkan oleh raden Untara, Wtarsangka.

Prabu tasikraja, menepati janjinya,. Dewi Tirtawati dikimpoikan dengan raden Untara, Dewi Sindusari dengan raden Wratsangka. Demikian pula kedatangan musuh lainnya, dari negara Binggal adapoat ditumpas.

Wahyu Dewandaru
Wahyu Dewandaru yang akan turun ke dunia. Wahyu itu berujud manusia, yang terkadang bisa dilihat, tapi ada kalanya tak dapat dilihat.Untuk memperolah wahyu yang konon berada di Gunung Mahendra itu, Duryudana meminjam Aji Candrabirawa pada Prabu Salya. Mulanya Salya berkeberatan, tetapi setelah Begawan Drona mem-bujuknya, Aji Candrabirawa diserahkan.

Setelah itu Drona menyuruh Burisrawa untuk beralih ujud menjadi wanita cantik bernama Sri Sumilih. Tugasnya adalah menggoda Arjuna, agar Arjuna tidak bisa mendapatkan Wahyu Dewandaru.

Sementara itu di Kerajaan Tawang Gantungan, Prabu Godayitma merasa dengki pada Arjuna yang sering mendapat wahyu. Karena itu Prabu Godayitma lalu beralih ujud menjadi Arjuna, agar ia mendapat Wahyu Dewandaru.

Dalam perjalanan, Arjuna palsu bertemu dengan Sri Sumilih, tergoda akan kecantikannya dan mengejar wanita itu. Sri Sumilih lari ke hadapan Duryudana dan minta pertolongan. Duryudana melepaskan Aji Can-drabirawa sehingga Arjuna palsu berubah ujud menjadi Prabu Godayitma, yang lalu lari pulang ke Tawang Gantungan.

Wahyu Dewandaru sebenarnya bersemayam di pribadi Resi Dewandaru, di puncak Gunung Mahendra. Arjuna datang meminta wahyu itu, tetapi tidak diberikan. Terjadi perang tanding, Arjuna kalah dan lari pulang ke Kerajaan Amarta. Resi Dewandaru mengejar.

Di Amarta, Resi Dewandaru berhadapan dengan Prabu Puntadewa, dan kalah. Ia lenyap masuk ke pohon beringin di alun-alun Amarta.

Tak lama kemudian datang Duryudana yang meminta wahyu itu. Terjadi perang tanding antara Duryudana dengan Puntadewa. Duryudana mele-paskan Aji Candrabirawa, tetapi karena berhadapan dengan Puntadewa yang berdarah putih, Candra-birawa takut dan lari pulang kepada Prabu Salya.

Karena merasa tidak sanggup menghadapi Puntadea, Duryudana dan para Kurawa segera lari pulang ke Astina.

Wahyu Jatiwasesa
Menceritakan tentang wahyu yang membuat siapa pun yang memilikinya akan menurunkan raja-raja yang berkuasa. Wahyu yang disebut Jatiwasesa itu dikuasai oleh Resi Mayangkara, yakni Anoman. Yang berusaha mendapatkan wahyu itu di antaranya adalah para Kurawa dan putra-putra Pandawa. Pihak Kurawa dipimpin Begawan Drona dan Adipati Karna, sedangkan para putra Pandawa diwakili Gatotkaca dan Wisanggeni.Resi Mayangkara memberi syarat, barang siapa dapat memanah sasaran “mandrakresna” atau sasaran hitam dengan menggunakan gendewa yang tersedia, boleh mengambil Wahyu Jatiwasesa. Ternyata semuanya gagal.

Kegagalan ini tidak membuat Drona berputus asa. Ia berniat mencuri kendaga (peti kecil) tempat penyimpanan wahyu itu. Niat ini diketahui oleh Wisanggeni. Karenanya, Wisanggeni lalu mencipta sebuah kendaga tiruan dan ia masuk kedalamnya. Kendaga tiruan itulah yang akhirnya dicuri Drona.

Sementara itu, Resi Mayangkara memberitahukan kepada Gatotkaca, bahwa yang akan sanggup memanah mandrakresna hanyalah Abimanyu. Ternyata benar. Abimanyu sanggup melepaskan anak panah tepat ke sasaran, dan seketika itu mandrakresna berubah ujud menjadi Prabu Kresna, sedangkan gendewanya beralih rupa menjadi Arjuna. Saat itu pula Wahyu Jatiwasesa masuk ke tubuh Abimanyu.

Di Kerajaan Astina, dengan gembira Drona melapor pada Prabu Anom Duryudana bahwa tugasnya berhasil. Dengan bangga ia membuka kendaga tiruan, … ternyata isinya adalah Wisanggeni. Karena merasa dipermalukan Drona lalu mengutuk Wisanggeni, anak Arjuna itu akan mati muda sehingga tidak sempat menyaksikan Baratayuda.

Sebaliknya, Wisanggeni juga mengutuk Begawan Drona, kelak dalam Baratayuda akan mati berdiri.

Wahyu Jayaningrat
Wahyu Jayaningrat juga dikenal Wahyu Senapati, yaitu wahyu yang diterima oleh Gatotkaca dan Abimanyu. Sedang jalan ceritanya :Pendeta Durna usul kepada raja Suyudana agar Gatotkaca dibunuh dan Adipati Karna yang bertugas membunuhnya dengan Kunta. Usul itu disetujui raja. Adipati Karna naik kereta Kyai Jatisura bersama Patih Sengkuni menuju ke Poringgadani. Prajurit Kurawa mengawalnya.

Gatotkaca pergi dari pringgadani menyepi ke gunung Kelasa bersama Abimanyu. Antareja, Wisanggeni, Kala Bendana dan Braja Mikalpa tinggal di Pringgadani. Rencana pembunuhan terhadap gatotkaca telah mereka dengar. Wisanggeni mengusulakan agar Antarja menghalangi rencana Suyudana. Antarja oleh Wisanggeni diberi pakaian raksasa dan berganti nama Prabu Nagabagenda,. Kemudian menghadang prajurit Astina. Kalabendana dihias serupa gatotkaca dan Wisanggeni berhias serupa Abimanyu kemudian hendak membuat huru-hara di negara Amarta Dwarawati dan Astina, agar mereka tidak memperhatikan wahyu . Prabu Nagabagenda menghadapi Adipati Karna dan prajurit Kurawa. Setelah prajurit kurawa datang Prabu Nagabagenda triwikrama. Datanglah prajurit naga berikut pemimpinnya, beribu-ribu jumlahnya. Prajurit Kurawa lari tunggang-langgang dan bersembunyi ke Amarta.

Hyang Wenang berkenan menurunkan wahyu Jayaningrat kepada Gatotkaca dan Abimanyu, dua berkas cahaya turun dan masuk ke jasmani kedua ksatria. Gatotkaca dan Abimanyu telkah merasa memperoleh wahyu, mereka turun dari Gunung Kelasa, pulang ke negara.

Prajurit Kurawa tiba di Amarta, mencari perlindungan. Werkudara, Arjuna dan prajurit Amarta tidak mampu melawan serangan ular naga. Warga Kurawa dan Amarta hendak mengungsi ke Dwarawati, tetapi Dwarawati telah kedatangan musuh. Musuh tersebut amat sakti dan bisa beralih rupa sama dengan rupa lawan yang dihadapinya. Setyaki, Kresna, Werkudara dan Arjuna tidak mampu melawan. Kressna berusaha mencari bantuan. Di jalan berjumpa dengan gatotkaca dan Abimanyu./ Gatotkaca danAbimanyu bercerita, bahwa baru emmperoleh wahyu, dan berjanji akan menjaga keselamatan negara. Kresna minta agar Gatotkaca dan Abimanyu membantu melawan musuh yang sedang mengamuk di Dwarawati. Gatotkaca dan Abimanyu disambut musuh yang serupa Gatotkaca dan Abimanyu pula. Akhirnya Gatotkaca dan Abimanyu palsu berubah menjadi Kalabendana dan Wisanggeni.

Prabu Nagabagenda datang di Dwarawati bersama-beribu-ribu naga. Gatotkaca melawan Prabu Nagabagenda. Akhirnya Prabu Nagabagenda berubah menjadi Antarja. Naga-naga kembali ke asal kediamannya.

Wisanggeni matek aji, prajurit kurawa tertiup angin, kembali ke Astina. Warga Dwarawati dan Amarta bersuka-ria atas jatuhnya wahyu pada Gatotkaca dan Abimanyu.

WAHYU KAYU MANIK IMANDOYO KUMOLO SARI
Di Negeri Dwarawati menerima tamu dari negeri Trajutrisna Prabu Narakusuma yang berkeinginan mencari wahyu penguat negeri, tetapi belum selesai pembicaraannya muncul Pendeta Durna utusan dari Astina untuk meminjam kaca Paesan (cermin) milik raja Dwarawati untuk melihat dimana wahyu akan diturunkan Dewa. Keinginan Durna tak dikabulkan justru menjadi pertengkaran, yang akhirnya Pendeta Durna dan pengiringnya diusir dari Dwarawati.Rombongan Pendeta Durna tidak kembali ke Astina, tetapi menghadap Batari Durga di kahyangan Kondowaru untuk menanyakan dimana wahyu berada. Setelah mendapat keterangan Batari Durga, Durna dan rombonganya menuju ke pertapaan Guwa Pintu tempat bersemayamnya Begawan Sukmaningrat. Sementara itu R. Sadewa dihutan bertemu seekor Harimau putih jelmaan Batara Kamajaya yang membeberkan isi teka-teki Begawan Sukmaningrat agar Sadewa mampu menebak dan memiliki wahyu yang akan diturunkan Dewa. Maka R.Sadewa pergi menuju pertapaan Guwa menghadap Begawan Sukmaningrat dan mengutarakan maksud dan tujuan ia menghadap sang Begawan.

Setelah R.Sadewa mampu menjawab teka-teki yang diajukan sang Begawan, akhirnya R.Sadewa berhak menerima wahyu tersebut setelah memberikan wahyu tersebut kepada R.Sadewa, Begawan Sukmaningrat yang ternyata Sang Hyang Wenang kembali ke Kahyangan. Dengan memiliki wahyu, R.Sadewa kembali ke Amarta namun diperjalanan ia bertemu dengan R.Sutejo yang meminta agar wahyu diberikan, tetapi dipertahankan maka terjadilah perkelahian keduanya, dan R.Sadewa melarikan diri, tetapi Pendeta Durna menghadang dan merebut wahyu yang dimiliki R.Sadewa. Dengan memiliki Wahyu dengan jalan merampas dan merebut, atas kehendak dewa Pendeta Durna menjelma menjadi seekor babi hutan dan ketika para Kurawa mencari pendeta Durna diberitahu pendeta Durna dimangsa babi hutan yang ada didepannya. Akhirnya babi hutan jelmaan Durna dikejar akan dibunuh oleh para Kurawa dan melarikan diri masuk istana Amarta untuk menyerahkan diri dan mengembalikan wahyu kepada R. Sadewa. Setelah wahyu diserahkan dan mohon ampun atas segala kesalahannya, pendeta Durna beralih rupa seperti sediakala, tetapi tiba-tiba datang Kresna yang beralih raksasa untuk merebut kembali wahyu untuk diserahkan kepada R.Sutejo. Prabu Puntadewa yang berwatak jujur sangat marah dituduh pihak Pandawa merampas wahyu yang bukan miliknya, akhirnya Puntadewa karena amarahnya membuat dirinya berubah ujud menjadi raksasa besar, namun tak ada yang kalah dan menang. Melihat situasi ini, diturunkanlah dewa ke bumi untuk melerai peperangan dua raksasa, melihat kehadiran Sang Hyang yang menjelma dan masuk ke sukma Kyai Semar yang memberitahu kepada Batara Kresna bahwa yang berhak memiliki wahyu adalah R.Sadewa karena R.Sadewalah yang mampu memenuhi syarat-syarat yang diajukan Dewa dan R.Sadewalah yang menerima langsung wahyu dari tangan dewa yang bertugas menurunkan wahyu. Melihat kekeliruannya, Prabu Kresna meminta ma’af ke pihak Pandawa, karena telah bertindak salah tanpa ditelusuri dulu kebenarannya.

Maka dengan berdiamnya wahyu di istana Amarta negeri menjadi aman, tenteram dan damai.

Wahyu Panca Budaya
Keluarga Pandawa sedih karena Parikesit pergi tampa pamit, Kresna menasehati agar kepergian Parikesit tidak dirisaukan lagii . Parikesit pergi mencari pengalaman. Keluarga Pandawa ingin mencari Parikesit.Bogawikalpa (anak Bogadenta) akan membalas kematian ayahnya, dibantu oleh Kartiwindu (anak sengkuni) dan Susela (anak Aswatama).

Parikesit hidup di huttan bersama panakawan. Susela dan prajurit berjumpa parikesit di hutan. Parikesit dibunuh oleh Susela.

Di hutan itu para panakawan kebingungan.

Di kahyangan terjadi huru-hara, sebab Begawan Sabdajati tidak mengakui kekuasaan di kahyangan. Batara Narada disuruh menjatuhi hukuman kepada Begawan sabdajati. Batara Narada dan para dewa datang di padepokan Budiseta. Para Dewa akan menangkap Begawan Sabdajati, tetapi semua dewa kalah. Batara Guru turun tangan, tetapi tak mampu melawannya, lalu minta tolong kepada Pandawa bernama batara Narada.

Kresna, Bima, dan Arjuna ditemui Batara Guru, dan diminta membantu melawan Begawan sabdajati. Mereka berangkat ke pertapaan Budiseta. Ditengah perjalanan berjumpa Panakawan. Panakawan memberitahu kematian parikesit. Parieksit dihidupkan kembali oleh Kresna lalu diajak ke Budiseta.

Begawan sabdajati diserang oleh Bima, Arjuna dan Parikesit, tetapi semua kalah. Kresna tampil ke depan melawannya. Begawan sabdajati dicakranya hilanglah dari pandangan. Tiba-tiba muncul cahaya sebesar kelapa. Berputar-putar diangkasa, kemudian lenyap diatas Pparikesit. Mereka kebingungan. Batara Guru berkata, bahwa cahaya itu wahyu keraton bernama wahyu Pancabudaya dan telah masuk ke tubuh Parikesit. Para Pandawa dan parikesit disuruh kembali ke Astina . batara Guru dan narada kembali ke kahyangan.

Puntadewa menerima kedatangan Kresna bersama Bima, Arjuna dan Parikesit.

Prajurit Malaakapura datang mengamuk dan akan memusnahkan Pandawa. Brahoya, susela dan Bogawikalpa memimpin perang tetapi dikalahkan oleh para Pandawa.

Parikesit dan keluarga pandawa berpestaa menyambut anugerah Wahyu Pancabudaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s