Lakon Wayang Part 57


Kidung Malam 73
Arimba Gugur
Perang tanding antara Prabu Arimba dan Bimasena tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan perang tanding sebelumnya. Ketika Prabu Arimba mulai mengetrapkan ajian andalanya yang dapat menyedot tenaga lawan, maka kekuatan Bimasena susut dengan cepat. Tidak hanya itu, selain dapat menyedot tenaga lawan, ajian andalan Prabu Arimba menjadikan kulitnya alot seperti janget, tidak luka oleh segala macam senjata tajam, termasuk juga kuku Pancanaka.

Bima menyadari bahwa lawannya mulai mengetrapkan ajian andalannya, yang dapat mencuri tenaga lawan dengan tidak diketahui dan dirasakan oleh lawannya. Dua kali Bima menjadi korban ajian tersebut, sehingga ia kehabisan tenaga di peperangan. Untunglah, pada saat itu Arimba tidak mengabiskan Bima pada saat Bima tak berdaya. Namun untuk perang tanding yang ke tiga ini, jauh berbeda dengan perang tanding sebelumnya. Prabu Arimba tidak lagi menampakkan sifat kesatrianya, tetapi menonjolkan naluri raksasa yang ganas. Sepak terjangnya tidak lagi tenang dan mantap, tetapi kasar dan nagwur. Maka jika kali ini Bima sampai kehabisan tenaga di peperangan, pastilah Arimba akan melumatkannya. Bima tidak mau jatuh di peperangan melawan Arimba untuk ke tiga kalinya. Oleh karenanya Bima telah mempelajari bagaimana cara menghadapi ilmu andalan Prabu Arimba, yaitu dengan mengurangi sentuhan langsung dengan badan Arimba. Terlebih pada saat mengeluarkan tenaga besar, karena tenaga yang akan tersedot juga besar.

Selain mengurangi benturan langsung, Bima mengetrapkan ajian Angkusprana, angkus artinya kait dan prana artinya nafas atau angin. Dengan mengetrapkan aji angkusprana, Bima dapat mengkait dan menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin yang dihimpun menjadi satu, membuat tenaga Bima mampu bertahan dan mengimbangi aji andalan Arimba. Sehingga perang tanding semakin panjang dan rame. Namun satu hal yang menggelisahkan Bima, bahwa Prabu Arimba tidak dapat luka oleh kuku pusaka Bimasena.

Menjelang tengah hari, Prabu Arimba meningkatkan serangannya dan sangat berambisi untuk segera menghabisi Bima. Bima kesulitan membendung serangannya dan mulai terdesak. Hantaman, tendangan dan gigitan acap kali menghampiri tubuh Bima. Hingga pada akhirnya Prabu Arimba berhasil menguasai Bimasena. Pada saat Bima akan dihabisi, tepat matahari bertahta pada puncaknya, Arimbi berteriak nyaring

“Bima..! Tusuk pusarnya…!!”

Keduanya sama-sama terkejut. Arimba memandang adiknya dengan ekspresi kemarahan. Jahanam Arimbi! engkau bocorkan titik kelemahanku. Sehabis hatinya mengumpat adiknya, Arimba memandang ke langit, kearah matahari yang persis berada di atas kepalanya. Pada saat itulah, Bima yang berada dalam cengkeramannya memanfaatkan kesempatan. Kuku ditangan Bima modot, muncul keluar dan segeralah ditusukkan di pusar Arimba. Raja raksasa sebesar anak gunung menggerang keras.. Bima kemudian menarik kukunya dan menjauhi lawannya.

Pusar Arimba menganga karena luka. Ia berjalan sempoyongan mendekati Arimbi adiknya. Bumi bergetar-getar karena langkahnya yang berat. Arimbi sangat kecemasan. Ia menanti dan pasrah apa yang akan dilakukan kakaknya, untuk menebus kesalahannya. Kunthi juga mencemaskan keselamatan Arimbi dan memberi isyarat kepada Arjuna untuk waspada. Semua mata tertuju kepada Arimba yang semakin gontai mendekati Arimbi.

Ketika tepat berada di depan Arimbi, raja Raksasa yang tinggi besar tersebut jatuh bertumpu pada dua tangan dan lututnya. Dugaan mereka yang mengamati peristiwa itu meleset. Prabu Arimba tidak menumpahkan kemarahannya kepada Arimbi. Dengan nada berat dan patah-patah ia berpesan kepada Arimbi, untuk menitipkan Negara Pringgandani dan merestui hubungannya dengan Bima yang sakti perkasa dan kesatria.

Tangis Arimbi memecah hutan Waranawata, mengiring gugurnya Kakanda Prabu Arimba, pengganti orang tuanya yang ia hormati dan cintai. Arimbi sangat bersedih, dirinya merasa berdosa, atas kepergian Kakanda Arimba ke alam keabadian

Siang hari itu, di saat matahari sedikit bergeser dari puncaknya, para pengawal Pringgandani membawa pulang rajanya yang sudah tidak bernyawa. Mereka tidak berani mengganggu Arimbi yang telah diwarisi kekuasaan Negara Pringgandani secara lesan oleh Prabu Arimba.

Sepeninggalnya para pengawal Pringgandani, Kunthi mendekati Arimbi, yang telah menyelamatkan nyawa Bimasena dan saudara-saudaranya. Sebagai tanda terimakasihnya, Kunthi membisikan mantra sakti ditelinganya. Dengan sepenuh hati Arimbi mendengarkan dan mngucapkan apa yang dibisikan Kunthi.

Sebentar kemudian keajaiban terjadi, Arimbi si raseksi perempuan berubah menjadi putri cantik, berkulit kuning langsat dengan postur tubuh yang tinggi besar. Naluri lelaki Bima terpana, ia mendekati Arimbi dan Arimbi pun segera menghaturkan sembah.

Semua mata memandang keduanya, dalam hati mereka berkata sungguh mereka adalah pasangan yang pantas dan ideal.

Kidung Malam 74
Bima dan Arimbi
Bima menundukkan kepalanya untuk menatap Arimbi yang bersimpuh menyembah dan memeluk kaki Bima. Raseksi Arimbi yang sudah menjelma menjadi seorang wanita nan cantik menawan mampu membuat Bima terpana. Jika menuruti nalurinya sebagai lelaki, Bima ingin membungkuk, memegang ke dua pundak Arimbi untuk diangkatnya dan kemudian dipeluknya erat-erat, agar payudaranya menghangatkan dadanya. Jika hal itu yang dilakukan, dapat dipastikan bahwa Arimbi bakal menyambut hangat pelukan Bima. Dikarenakan Arimbilah yang pada awal mula jatuh cinta kepada Bima.

Namun gejolak keinginan Bima tidak dengan serta merta dituruti. Sebagai seorang kesatria Bima berusaha untuk menjaga citranya. Maka dibiarkannya tangan Arimbi memeluk kakinya. Tidak seperti sebelumnya ketika masih berujud rakseksi, Bima merasa jijik dan selalu menghindari Arimbi.

Kunthi, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memandangi keduanya dengan perasaan senang. Dalam hati mereka sepakat bahwa pasangan Bimasena dan Arimbi merupakan pasangan yang serasi. Mereka juga bersyukur karena Bimasena tidak lagi membenci Arimbi yang telah banyak membatu Kunthi dan para Pandawa.

Arimbi merasa lega karena sembahnya diterima Bima. Titik terang mulai memancarkan harapan bahwa cinta Arimbi bakal diterima Bima. Ketika harapan mulai terbuka, Arimbi memberanikan diri untuk maju selangkah lagi dengan melakukan ngaras pada yaitu mencium kaki Bima. Ketika bibir Arimbi menyentuh kaki Bima, seluruh tubuh Bima bergetar, terutama detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Untuk menormalkan kembali detak jauntungnya, Bima memegang kedua pundak Arimbi, untuk di tarik ke atas, agar bibir yang basah bak delima merekah tidak lagi menempel dikaki Bima. Arimbi menuruti pundaknya diangkat Bima untuk berdiri berhadapan dengan Bima. Ke dua pasang mata saling menatap. Entah apa yang terbaca di palung hati mereka yang terdalam.

Hari-hari selanjutnya, Arimbi mengikuti penggembaraan Kunthi dan Pandawa di hutan Waranawata. Hubungan Arimbi dan Bima semakin intim. Kunthi mencoba membaca perasaan anak-anaknya selain Bima, terutama Puntadewa, apakah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya melihat semakin dekatnya hubungan Bima dan Arimbi.

Untuk memastikannya Kunthi menemui Puntadewa secara khusus.

“Puntadewa anakku, seperti yang kita lihat bersama bahwa pertemuannya Bima dan Arimbi bukan aku yang merencana. Demikian kedekatan mereka yang semakin dekat bukan pula karena aku.”

“Aku paham Ibunda Kunthi, bahwa semuanya itu telah diatur oleh Sang Hyang Widiwasa”

“Jika demikian tentunya engkau sebagai saudara sulung rela dan ikhlas seandainya adikmu Bima akan mempunyai dua isteri.”

“Sungguh Ibunda Kunthi aku rela dan ikhlas.”

Kunthi lega mendengar pernyataan Puntadewa, walaupun dibalik kelegaan ada rasa kasihan terhadap Puntadewa.

Hari berikutnya seluruh anggota keluarga termasuk Arimbi dikumpulkan oleh Kunthi. Hal tersebut dilakukan demi membicarakan hubungan Bima dan Arimbi. Pada kesempatan tersebut Kunthi menghendaki agar hubungan antara Bima dan Arimbi diresmikan menjadi suami isteri. Mengingat bahwa diantara keduanya telah terjalin benang asmara yang sedang bertumbuh, saling mengikat dan saling membutuhkan, sehingga jika dipisahkan akan melukai keduanya.

Semua saudara Bima menyetujui kehendak ibu Kunthi. Maka segera setelah memilih hari yang baik bagi pasangan Bima dan Arimbi, mereka diresmikan sebagai suami isteri dengan selamatan yang sederhana.

Perkimpoian Bima dengan Arimbi yang adalah bangsa raksasa menyusul perkawian Bima dengan Nagagini yang adalah bangsa ular merupakan wujud bahwa Pandawa Lima bisa manjing ajur ajer, luluh menjadi satu dengan semua golongan manusia. Bima kesatria yang gagah perkasa patuh, sederhana, berani, sakti, dan jujur memang pantas menjadi idaman banyak wanita. Oleh karena kejujuran dan kesederhanaannya Bima tak pernah berpikir yang macam-macam, tak pernah menolak dengan apa yang memang sudah menjadi tugasnya dan kewajibannya.. Hidup ini dijalaninya dengan apa adanya, mung saderma nglakoni hanya sebatas menjalani saja, karena sudah ada yang mengatur. Bagaikan air, Bima mengalir begitu saja sesuai dengan kehendakNya. Oleh karenanya ketika dipertemukan dengan Arimbi yang cantik Bima tak kuasa menolaknya.

Dengan pemahaman tersebut Bima tidak merasa bersikap kurang ajar terhadap Puntadewa kakaknya yang telah dua kali dilangkahi. Bima juga tidak merasa mengkianati Nagagini pada saat ia bercengkerama dengan Arimbi.

Sedangkan dipihak Arimbi Bima adalah segalanya. Hidup bersanding dengan Bima ibarat kejatuhan bulan di saat purnama, mendapat keberuntungan penuh. Oleh karenanya Arimbi tega mengorbankan Arimba Kakaknya demi cintanya kepada Bima.

Namun walaupun Arimbi telah bahagia bersanding dengan pujaan hati, hatinya sedih juga saat mengingat gugurnya Arimba yang sangat menyayangi dirinya. Sesungguhnya Arimbi tidak rela kalau dianggap membunuh kakanya melalui kekasihnya. Yang dilakukan adalah membela yang lemah tak berdaya. Jika akhirnya yang terjadi adalah kematian Kakaknya, itu sungguh diluar perhitungannya. Arimbi tahu bahwa jika Prabu Arimba ditusuk pusarnya ia akan lemas untuk sementara sehingga Bima dapat melepaskan cengkeramannya. Namun ia tidak tahu bahwa pada saat Arimbi berteriak “tusuk pusarnya” tepat pada saat bedug tengange, saat mata hari berada persis dipuncak ketinggian. Saat itulah kulit Arimba menjadi lunak seperti gethuk dan dengan mudah dikoyak dengan benda tajam. Dengan pembenaran tersebut Arimbi memperoleh keringanan beban hatinya.

Beberapa bulan berlalu, Bima dan Arimbi menjalani masa bualan madu.

“Kakanda Bima aku sunguh bahagia karena benih dari buah cinta kita berdua telah tumbuh di rahimku. Aku mendambakan anak laki-laki, agar nantinya dapat mewarisi Negara Pringgondani. Apakah Kanda Bima setuju?” tanya Arimbi manja. Bima menganguk-angguk sembari membetulkan posisi duduknya, agar Arimbi tidak jatuh dari pangkuannya. Angin hutan meniup perlahan mengusap sekujur tubuh mereka yang berpasihan.

Kidung Malam 75
Dendam Menjadi Cinta
Malam itu bulan penuh. Bintang bertaburan di langit yang tidak berawan, sehingga sinar bulan tak terhalang mencium bumi. Namun tidak untuk bumi di kawasan hutan Waranawata dan hutan Kamiyaka, karena lebatnya daun dan rapatnya ranting pepohonan, akibatnya sinar bulan mengalami kesulitan untuk menembusnya. Hanya sebagian kecil yang dapat menembus lebatnya hutan dan mencium bumi Kamiyaka. Dari sebagian kecil sinar bulan yang masuk hutan Kamiyaka itupun tidak semuanya mengenai tanah, ada beberapa yang terpaksa menerpa wajah dua sejoli yang sedang merenda cinta. Sementara itu Kidung malam yang timbul dari suara aneka macam binatang hutan dan aneka warna serangga membuat malam itu semakin syahdu.

Arimbi sangat bahagia bisa bersanding dan bersatu dengan Bima pujaan hatinya. Ia tidak meyangka sebelumnya bahwa Bima yang tinggi besar perkasa, kekar kaku, berotot, ternyata adalah sosok lelaki yang sangat lembut dan romantis. Saat-saat yang indah tersebut benar-benar ingin dinikmati sepenuh hati oleh Bima dan terutama Arimbi. Kehadiran pohon-pohon raksasa di hutan Kamiyaka ibaratnya payung agung yang memberi rasa aman dan keagungan bagi pasangan Bima Arimbi yang telah dipersatukan dalam cinta yang mendamaikan.Rasa damai di hati Arimbii diawali ketika pertama kali ia melihat Bima. Niatnya untuk membinasakan Kunthi dan Pandawa urung karena Bima telah lebih dahulu menghujamkan panah asmara ke hati Arimbi. Akibatnya Arimbi jatuh tidak berdaya. Ia bertekuk lutut di kaki Bima.

Rasa damai dengan keturunan Pandu yang ada di dalam hati Arimbi telah ditawarkan kepada kakaknya Arimba, namun dengan tegas Arimba menolak tawaran damai tersebut. Dan oleh karena penolakannya, Arimba gugur di tangan Bima.

Sesaat sebelum gugur, Arimba memasrahkan negara Pringgandani kepada Arimbi adik yang paling tua. Arimbi berjanji dalam hati, bahwa sebelum ia menggantikan Prabu Arimba menjadi raja di Pringgandani, ia akan mencoba menawarkan kedamaian kepada adik-adiknya di Pringgandani dengan keturunan Pandu.

“Kakanda Bima alangkah indahnya hutan ini ketika tidak ada permusuhan di dalam hati. Alangkah bahagianya setiap orang yang mampu menggubah permusuhan menjadi perdamaian, seperti yang kita alami, benarkah kakanda Bima?” kata Arimbi kepada Bima dengan nada manja.

“Iya benar Arimbi. Tetapi kalau ditanya caranya bagaimana?”

“Caranya merubah permusuhan menjadi perdamaian?” tanya Arimbi menandaskan.

“iya” jawab Bima mantap.

Arimbi tidak dapat menjawab. Karena ia sendiri tidak pernah mempunyai rencana untuk merubah permusuhan dengan keturunan Pandu menjadi perdamaian. Pencariannya Arimbi atas keturunan Pandu adalah untuk melampiaskan sebuah dendam kepada pembunuh orang tuanya. Namun ketika bertemu dengan yang di cari, tiba-tiba hatinya dirubah. Ada kuasa besar yang menggunakan Bima dan Kunthi untuk merubah hati Arimbi yang dendam menjadi cinta, bahkan cinta yang tulus.

“Saya tidak tahu Kakanda bagaimana caranya merubah dendam menjadi cinta. Tetapi saya merasakan bahwa yang merubah dendam menjadi cinta adalah…, adalah Kakanda Bima,” jawab Arimbi sembari memeluk manja. Bima menyambut hangat pelukan Arimbi sembari mengelus-elus kepala Arimbi dengan penuh sayang.

Setelah beberapa saat keduanya bermesraan, Arimbi melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Bima “Kalau yang merubah sikap permusuhan Kakanda Bima menjadi cinta kepadaku siapa Kakanda?”desak Arimbi. Walaupun sebetulnya sudah tahu jawabannya, Arimbi ingin mendengar jawaban itu keluar dari mulut Bima yang berkumis lebat.

Namun Bima tidak menjawab. Sebagai gantinya ia memeluk Arimbi dan menciumi pipinya yang ranum dengan penuh kegemasan. Arimbi tertawa kecil penuh suka-cita.

Keduanya bercengkerama di hutan yang lebat hingga malam, tidak ada yang mengganggunya. Satu dua kelelawar yang sering terbang rendah seakan-akan memberi selamat bagi pasangan yang berbahagia.

Pada kesempatan yang sangat baik itu tepatlah kiranya bagi Arimbi untuk mengeluarkan isi hatinya kepada Bima

“Kakanda Bima, sebelum usia kandungan anak kita ini semakin besar, dengan sangat aku memohon agar sudilah kira Kakanda menghantar aku ke Pringgandani, dengan tujuan untuk menawarkan perdamaian seperti yang telah aku lakukan kepada adik-adikku yaitu Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan Kala Bendana, dengan keturunan Pandu,. Selain itu aku juga ingin menata negara yang beberapa bulan ini komplang tidak mempunyai raja, karena gugurnya kakak Arimba. Bima menyanggupi permintaan Arimbi. Maka kebahagiaan Arimbi menjadi penuh.

Malam merambat pagi, Bima dan Arimbi sepakat untuk mengakhiri cengkerama malam itu. Keduanya menuju keperaduan. Sebentar kemudian mereka tidur pulas dalam kedamaian.

Beberapa hari kemudian Bima dan Arimbi memohon pamit kepada Kunthi dan saudara-saudaranya untuk mengantar pulang Arimbi di Pringgandani, dan beberapa waktu tinggal di Pringgandani. Kunthi memberi restu dan juga Puntadewa, Harjuna, Nakula dan Sadewa. Mereka menghantar Bima dan Arimbi sampai di mulut hutan Kamiyaka.

Sepeninggalnya Bima, Harjuna dipasrahi tanggunggjawab untuk menjaga keselamatan Kunthi, Puntadewa dan si kembar Nakula, Sadewa.

Wahyu Purbosejati
Raja Baladewa dating di Dwarawati menjumpai Kresna. Baladewa bercerita, bahwa dirinya menerima sasmita dari dewa. Dalam tidur bermimpi dilihatnya sinar memancar dikerumuni handaru. Krena diminta menjelaskan makna sasmita itu. Kresna tidak mau menerangkan sasmita, hanya dikatakan bahwa wahyu Purbasejati akan turun. Baladewa diajak mencari wahyu itu. Baladewa dan Kresna bersemedi di candi Gandamadana.Raja di negara Tawanggantungan bergelar Prabu Dasakumara (sukma Dasamuka) menyuruh Megayitna (sukma Indrajid) mencari Sembadra di Dwarawati. Megayitna membawa prajurit jin pergi ke Dwarawati.

Arjuna menghadap Resi Abiyasa di wukir Ratawu. Arjuna disuruh ke Gandamadana, sebab wahyu Purbasejati akan turun. Arjuna berangkat bersama panakawan. Ditengah perjalanan diganggu Jin, tetapi dapat dihalau.

Raja Puntadewa minta kepada Bima agar mencari Arjuna, sebab sudah lama meninggalkan Amarta.

Hyang Guru dihadap oleh Hyang Narada, Ramawijaya dan Lesmana (yang telah berbadan halus). Lesmana dan Ramawijaya disuruh turun ke dunia. Hyang Narada dan Hyang basuki mengawalnya.

Bima berjumpa Anoman menanyakan tempat penjelmaan Wisnu. Bima berkata, ramawijaya telah menjilma pada Kresna. Anoman minta agar Bima mau menghantar ke Dwarawati. Bima mau menghantarnya tetapi Anoman diajak mencari Arjuna dahulu.

Juru Kuunci candi Gandamadana bernama Jembawan dan Trijata. Mereka berdua menunggu Baladewa dan Kresna yang sedang bertapa. Wahyu berkitar di atas candi, kemudian masuk ke tubuh Baladewa dan Kresna. Narada membangunkan Baladewa dan Kresna memberi tahu bahwa wahyu telah turun pada mereka. Narada menerangkan, bahwa Wahyu Purba jatuh pada Kresna, wahyu wahdat jatuh pada Baladewa, sedang wahyu sejati jatuh pada Arjuna. Baladewa bertanya, apa sebab yang yang bertapa dua oirang, Arjuna juga memperoleh wahyu. Narada menerangkan, Arjuna telah lebih dahulu bertapa memperoleh wahyu .

Arjuna datang dan menghormat Narada. Bima dan Anoman dating bertemu Jembawan. Mereka saling bercerita sejak berpisah sesudah perang Alengka. Anoman ingin mengabdi di Dwarawati. Kresna menerimanya. Mereka pulang ke Dwarawati

Raja Dwarawati menerima laporan , bahwa Sembadra hilang dicuri penjahat. Arjuna segera pergi mengejar pencuri. Penjayhat terseut tidak lain Megayitna yang melarikan Sembadra. Arjuna mengejar dan merebutnya. Setelah Sembadra dapat direbut, Anoman masuk ke kancing ke kancing sanggul tempat sembadra. Megayitna bisa lolos dan pulang ke Tawanggantungan. Megayitna tidak tahu bahwa Sembadra telah diganti Anoman. Maka setiba di istana berkata kepada raja bahwa Sembadra telah berhasil dibawanya. Setelah dikeluarkan dari anggul bukan Sembadra yang dipersembahkan kepada Prabu Dasakumara, melainkan Anoman. Raja dasakumara marah terjadilah perang. Dasakumara dapat ditangkap, lalu dimasukkan penjara besi di Gunung Ngungrungan. Raja Kresna dan keluarga Pandawa dating, perang melawan Megayitna. Megayitna dan prajuritnya kalah. Anoman disuruh bertapa di Kendalisada. Raja Kresna dan Pandawa bersyukuran di Dwarawati.

Wahyu Sumarsana Wilis
Raja basurata ingin mewariskan takhta kepada Basuketi, dan kamunayasa akan dinobatkan di negara Purwacarita. Basuketi menjunjung parintah raja, tetapi Kamunayasa tidak mau , sebab ingin menjadi pendeta.Hyang Narada datang di Mandura, minta bantuan agar Kamunayasa membunuh Kala Iramba yang ingin menguasai kahyangan. Raja Basutara mengijinkan, dan kamunayasa menyanggupinya.

Janggan Asmara sedang bertapa. Tubuhnya memancarkan sinar dan menyilaukan tempat kanan kiri. Putut Supalawa iri hati, lalu mendatanginya, ingin membatalkan tapa janggan Asmara. Janggan Asmara diganggu lalu marah, terjadilah perkelahian. Gandarwa Maya datang memisahnyaa. Mereka dinasehati agar berhati suci dan sungguh-sungguh bertapa kelak akan memperoleh wahyu.

Batara Maya terancam oleh Kala saniskara. Dua muridnya bernama Nala Wucika dan dawala membela kehormatan gurunya. Kedua murid tidak mampu melawan kala saniskara. Batara Maya terpaksa melawn, dan kala saniskara kalah, terbuka rahasianya. Kala Saniskara menjadi Batari Kanastren. Batari kanastren ingin ikut Batara maya turun ke dunia. Batara maya tidak memperbolehkan turun bersama. Batari kanastren boleh turun di dunia setelah Batara maya lebih dahulu turun.

Raja Basutara dan basuketi datang di Repat Kepanasan memerangi kala Iramba. Keduanya kalah. Kamunayasa datang membantu tetapi juga kalah, bahkan digertak dan terlempar jauh.

Gaandarwa Maya, Janggan asmara dan Putut Supalawa menunggu pohon Sumarwana yang telah berbuah. Pohon Sumarsono memancarkan sinar, pertanda wahyu telah turun. Janggan Asmara dan Putut Supalawa berebut akan memetiknya. Mereka berkelahi.

Kamanayasa mengabdi kepada Batara Maya. Ketika berjalan-jalan manumayasa melihat buah pohon sumarsana. Buah akan dipetiknya, tetapi tiba-tiba hilang. Kamunayasa sedih. Batara Maya tahu kesediahan kamunayasa. Ketika buah Sumarsana lewat segera dipegang lalu dipuja menjadi wanita cantik diberi nama Sumarsana wilis. Kamunayasa disuruh memperistri Sumarsana wilis.

Gandarwa Maya, janggan Ansmara dan Putut Supalawa ingin mengabdi dan ikut menikmati wahyu yang diperoleh Kamunayasa. Janggan Asmara dabn Putut Supalawa disuruh mendirikan pertapaan wukir Retawu.

Kamunayasa kembali ke Repat Kepanasan dan mengalahkan Kala Iramba. Prajurit Kala Iramba datang hendak membalasa kematian Rajanya. Tetapi semua mati oleh Kamunayasa. Kamunayasa menghadap dewa Hyang Girinata memberi hadiah bumi wukir Retawu.

Wahyu Trihangga
Prabu Duryudana di negeri Astina mendapat ilham ( wangsit ) dari Dewa yang isinya dewa akan menurunkan wahyu Trihangga ke bumi, maka Patih Sengkuni dan Adipati Basukarna dan Begawan Durna ditugasi mencari wahyu tersebut, tiba -tiba datang tamu dari negeri Parang Gisik, Begawan Dursilawarna membawa putranya yang ingin mengabdi di negeri Astina.Prabu Kerata Dewa putra Begawan Dursilawarna dapat diterima sebagai pegawai di negeri Astina bila mampu menemukan dan memberikan Wahyu yang diturunkan dewa kepada raja Astina.

Prabu Kerata Dewa yang diiringi Begawan Dursilawarna menyanggupi, namun harus membinasakan keluarga Pandawa terlebih dahulu agar tidak menghalangi pekerjaannya.

Dengan diiringi bala tentara Kurawa pergilah Prabu Kerata Dewa yang didampingi Begawan Dursilawarna mencari keluarga Pandawa untuk dibinasakan. Di pertapaan Kendalisada Begawan Hanoman bermimpi bahwa Bima dan R.Arjuna di terjang badai, untuk itu ia lalu pergi ke kasatrian Jodipati menemui R.Bima dan menceriterakan perihal mimpinya dan bersedia menjaga keselamatan R.Bima dan R.Arjuna. Pada saat itu datanglah
utusan dari negeri Astina yang dipimpin Prabu Kerata Dewa, karena bermaksud tidak baik, terjadilah perkaslahian dan R.Bima dapat diringkus Begawan Dusilawarna dan R.Gatotkaca dapat melarikan diri untuk melapor kepada Prabu Puntadewa juga mencari R.Arjuna yang berada di hutan namun kenyataannya R.Arjuna dapat diringkus oleh Prabu Kerata Dewa.

Dengan adanya peristiwa itu, Ki Lurah Semar lalu menghadap Sang Hyang Wenang dan Batara Guru memerintahkan Ki Lurah Semar segera kembali ke Bumi dan Batara Narada ditugasi untuk menurunkan wahyu.

R.Gatotkaca yasng melaporkan keadaan R.Arjuna dan R.Bima yang ditawan di negeri Astina, sesuai petunjuk Prabu Kresna bala tentara Amarta menyerbu negeri Astina yang bertepatan dengan datangnya Ki Lurah Semar yang sedang mencari R.Bima dan R.Arjuna.

Prabu Duryudana lalu memberi tugas Begawan Dursilawarna menghadapi serbuan dari Amarta. Begawan Dursilawarna berperang melawan Ki Lurah Semar dan kembali kewujud aslinya yakni Batari Durga dan Prabu Kerata Dewa berubah ujud menjadi Batara Kala.

Dengan diselamatkannya R,Bima dan R.Arjuna Batara Narada lalu menurunkan wahyu Sejati dan diterima R.Arjuna, Prabu Puntadewa menerima Wahyu Rokhani serta Wahyu Jasmani diterima R.Bima. Dengan diterimanya wahyu tersebut Pandawa menjadi semakin kuat.

Wahyu Wasesa Tunggal
Raja Duryudana bercerita kepada pendeta Durna, dalam mimpinya raja melihat sinar bercahaya di angkasa. Pendeta Durna berkata, itu ilham dari dewa. Dewa memberi tahu bahwa wahyu wasesa Tunggal akan turun, akan diberikan kepada ksatriia yang kuat bersemedi di hutan Krendawahana. Raja Duryudana bersama putra mahkota akan mencari wahyu.Raja Dewasraya di Nusa Tembini menyambut kedatangan Batari Durga. Raja minta bantuan kepada Batari agar bisa memperoleh wahyu. Untuk bisa memperoleh wahyu harus bisa mengkhianati Pandawa, sebab Pandawa yang bisa memperoleh wahyu. B,menyanggupinya.

Prajurit Nusa Tembini yang dipimpin Patih Jaramaya bersama prajurit Kurawa. Terjadilah perang. Prajurit Astina ketakutan.

Di tengah hutan Suyudana berjumpa Begawan Lowana. Begawan Lowana ditanya tempat akan turunnya wahyu, tetapi tidak jijawabnya. Suyudana marah-marah, sang Begawan dibunuh dengan keris. Tubuh sang Begawan bergolek di tanah, kemudian hilang, dan etrdengar suara kutukan. Kelak dalam perang Baratayuda Suyudana akan remuk tubuhnya. Suyudana melanjutkan perjalanan.

Gatotkaca dan Panakawan mengawl Abimanyu di Hutan Krendawahana. Mereka berjumpa prajurit Siluman, terjadilah perang. Batari Durga datang membantu siluman. Gatotkaca dan Abimanyu dilempar dengan aji kemayan mereka berdua menjadi arca. Para Panakawan kembali ke negara melapoorkan nasib ksatria asuhannya. Arjuna setelah menerima laporan segera berangkat ke hutan. Di hutan berjumpa Endang silihwarni. Arjuna tertarik kecantikan putrid itu. Endanmg silihwarni hendak diperistri, tetapi sang putrid tiada menyambutnya. Arjuna hendak memaksa, snag putrid cantik emngutuk, Arjuna berubah menjadi Banteng, putrid cantik hilang dari pandangan. Banteng kembali ke Dwarawati.

Bima, nakula dan sadewa senagn menghadap Prabu Kresna. Mereka menanyakan kepergian Puntadewa. Krena memberitahu bahwa Puntadewa sedang bersamadi untuk emmperoleh wahyu dari dewa. Bima minta pamit akan menyusul kakanya. Nakula danm Sadewa mengikutinya.

Banteng bersama Panakawan datang di Dwarawati. Semar melapor peristiwa yang diderita oleh Arjuna. Kresna mmarah , lalu mengubah ujud pribadi menjadi anak bajang (kerdil) dan mengaku bernama Jaka Pengalasan. Banteng diberi nama Kyai Gumarang. Jaka Pengalasan, Kyai Gumarang dan Panakawan berangkat ke Nusa Tembini. Raja Dewasraya amat gembira, karena Abimanyu dan Gatotkaca dan Arjuna telah sengsara menjadi arca dan Banteng. Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang meengamuk. Raja Dewasraya dan Patih Jaramaya tidak mampu melawannya. Barati Durga datang membantu, jaka Pengalasan tidak mampu melawannya. Semar melawan bartari Durga. Batari Durga tidak mampu melawan Semar lalu menyerah. Semar minta agar Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang sembuh kembali. Batari Durga memberi sehelai rambut kepada Semar, Rambut digesekkan pada Jaka Pengalasan dan Kyai Gumarang seketika pulih kembali menjadi Kresna dan Arjuna. Kresna, Arjuna dan Panakawan melanjutkan perjalanan , mencari Puntadewa.

Puntadewa bersemedi ditengah hutan, di depan arca gajah putih. Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa tiba ditempat persemedian. Mereka ikut bersemedi. Tengah mereka bersemedi tengah terdengar suara bahwa undang-undang raja tersebut dalam tiga hal, sabda, do’a, kepercayaan. Sesudah suara hilang bercahayalah tubuh Puntadewa, demikian juga saudara-saudaranya . Puntadewa berhenti bersemedi . paraa Pandawa telah memperoleh wahyu wasesa Tunggal.

Kresna mengajak mencari gatotkaca dan Abimanyu yang telah menjadi arca. Setelah bertemu arca diusap dengan rambut Batari Durga, gatotkaca dan Abimanyu pulih kembali. Mereka meninggalkan hutan dan kembali negara. Ditepi hutan berjumap dengan Suyudana dan prajurit Kurawa. Suyudana minta Wahyu, Kresn amenerangkan bahwa wahyu bukan barang yang dapat diserahterimakan. Suyudana marah dan mengajak mulai perang Baratayuda. Werkudara matek aji. Prajurit Kurawa terbawa arus angin halilintar, tiba di negara Astina. Keluarga Pandawa berpesta ria di Amarta.

Watu Kurung
Dengan hilangnya Dewi Wara Sumbadra yang terkurung didalam hutan Trataban dan berada didalam batu yang disebut watu Kurung, negeri Amarta dan Mandura menjadi sedih. Untuk itu Prbu Baladewa dengan diiringi Kurawa pergi menuju ke hutan Trataban.Sementara itu di Tawang Gantungan, Prabu Dasayitma menugasi R.Trikaya dan R.Trikumara untuk mencari Titisan Dewi Widawati yakni Dewi Wara Sumbadra yang terkurung di Watu Kurung dikawasan hutan Trataban wilayah negeri Dwarawati. Namun R.Trikaya dan R.Trikumara dihadang oleh prajurit Dwarawati yang dipimpin R.Sentyaki dan R.Samba, dan keduanya melarikan diri mencari jalan lain menuju hutan Trataban.

Pada saat R.Trikumara dan R.Trikaya mencari jalan ke hutan Trataban, R.Gatotkaca, R.Abimanyu sedang mencari R.Arjuna yang hilang. Di tengah
Jalan bertemu dengan Prabu Baladewa yang sedang berusaha mengeluarkan
Dewi Wara Sumbadra dari dalam Watu Kurung, dan karena terjadi perselisihan paham R.Gatotkaca dan R.Abimanyu terlihat peperangan dengan Prabu Baladewa dan melarikan diri menhindari Prabu Baladewa.

R.Gatotkaca dan R.Abimanyu yang melarikan diri dari kejaran Prabu Baladewa bertemu dengan Ciptanggala Sandirupa yang sedang bertapa didalam bumi/tanah. Keduanya lalu diangkat anak oleh Ciptanggala Sandirupa. Maka ketika Prabu Baladewa mengejar, dan bertemu ia terlibat
peperangan dengan Ciptanggala yang melindungi R.Gatokaca dan R.Abumanyu, akan tetapi Baladewa kalah menghadapi Ciptanggala dan meceriterakan keadaan adiknya yang terkurung dalam Watu Kurung. Maka ketika Ciptanggala berkeinginan menolong Baladewa mengeluarkan Dewi Wara Sumbadra dengan syarat bila keluar dapat menjadi suaminya, Baladewa menyetujuinya.

Ketika itu di hutan Trataban, Baladewa yang disertai kurawa berusaha memecah batu yang mengurung Dewi Sumbadra tidak berhasil memecah Watu Kurung, begitu juga Prabu Dasayitma yang disertai R.Trikaya dan Trikumara.

Dengan tidak berhasilnya memecah batu tersebut, maka Ciptanggala yang disertai R.Abimanyu dan R.Gatokaca, lalu memecahkan batu tersebut yang mengurung Dewi Wara Sumbadra dan pecahlah batu tersebut dan keluarlah Dewi Wara Sumbadra dari dalam batu.

Setelah terbebas dari Watu Kurung Prabu Baladewa, Dewi Wara Sumbadra, R.Abimanyu dan R.Gatotkaca kembali ke Dwarawati. Ciptanggala Sandirupa yang melihat kesedihan Wara Sembadra, maka ia lalu kembali kepada wujud aslinya yakni R. Arjuna. Maka setelah diketahui bahwa R.Arjuna sudah berkumpul dengan istrinya pihak Kurawa dan Prabu Dasayitma ingin merebut Dewi Wara Sumbadra dari tangan Arjuna, namun dapat digagalkan oleh Begawan Kapiwara dan Haryasena.

Wisanggeni Rabi
R. Wisanggeni putra R.Arjuna dengan Dewi Dresanala jatuh cinta pada Dewi Mustikawati putri Prabu Mustikadarwa raja di kerajaan Sonyapura. Maka pergilah ia kehadapan Prabu Mustikadarwa untuk meminang putrinya
yang pada saat itu Raden Sitija atau Bomanarakasura juga meminang untuk diperistri.Untuk menentukan siapa yang berhak memboyong Dewi Mustikawati, diadakan sayembara tanding. Akhirnya pertarungan antara R. Wisanggeni dan R. Sitija Boma Nara Sora tak dapat dihindari, meskipun pertarungan ini membuat hati Prabu Mustikadarwa menjadi cemas sebab sang Prabu takut pertarungan untuk memperebutkan putrinya ini berakibat retaknya persaudaraan negeri Dwarawati dengan negeri Amarta. Agar tidak ada jatuh korban, Dewi Mustikawati mengadakan sayembara ” barang siapa yang dapat memberikan Cupumanik gambar jagad, ia akan bersedia menjadi istrinya dan dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menjadi suaminya “.

Mendengar syarat dan sayembara yang diajukan Dewi Mustikawati, R. Sitija pergi ke negeri Dwarawati memohon bantuan ayahandanya Prabu Kresna agar dapat memiliki Cupumanik gambar jagad, sedangkan R. Wisanggeni diantar R. Antasena pergi ke kahyangan menghadap Sang Hyang Wenang untuk diberi petunjuk dimana Cupumanik gambar jagad berada.

Atas kebijaksanaan Sang Hyang Wenang Raden Wisanggeni diberi Cupumanik gambar jagad dan langsung dibawa ke negeri Sunyapura untuk dipersembahkan kepada Dewi Mustikawati.

Setelah Dewi Mustikawati menerima Cupu Manik gambar jagad dari Raden Wisanggeni, maka Raden Wisanggenilah yang berhak menjadi suaminya dan dinyatakan sebagai pemenang sedang Raden Sitija kecewa dan marah oleh Prabu Kresna dinasehati dan diberi keterangan bahwa Dewi Mustikawati memang bukan jodohnya sebab yang namanya nasib, kelahiran dan kematian serta jodoh seseorang ada rahasia dewa dan dewalah yang menentukan.

Whisnu Nitis
Dalam persidangan di Kerajaan Mandura, Prabu Basudewa berembug dengan adik-adiknya, Haryaprabu Rukma dan Ugrasena. Basudewa mengeluh karena ketiga permaisurinya merengek ingin mendapat putra.Setelah mohon petunjuk para dewa di Sanggar Pamujan, Prabu Basudewa mendapat wisik agar berburu di hutan Kumbina. Diikuti adik-adiknya dan Patih Yudawangsa, raja Mandura itu pergi berburu.

Sementara itu di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru memerintahkan Batara Wisnu dan Batara Laksmanasadu agar segera menitis kembali ke dunia. Waktu Batara Wisnu dan Batara Laksmanasadu hendak turun ke dunia, Batara Basuki ikut.

Batara Wisnu menjelma sebagai harimau putih, sedangkan Batara Laksmanasadu dan Batara Basuki menyatu menjelma menjadi seekor naga. Mereka turun ke hutan Kumbina.

Waktu Basudewa menjumpai kedua binatang itu ia segera melepaskan panahnya. Harimau putih terkena panah, pecah menjadi dua. Raga harimau itu melesat masuk ke tubuh Dewi Mahindra, sedangkan badan halusnya masuk ke tubuh Dewi Kunti, istri Prabu Pandu Dewanata. Sedangkan sang Naga, tatkala terkena panah, lenyap dan kemudian menyatu dengan tubuh Dewi Rohini.

Setelah peristiwa itu Prabu Basudewa mendapat firasat tentang adanya peristiwa buruk yang terjadi di istana. Ia lalu memerintahkan Haryaprabu Rukma untuk menengok keadaan istana. Firasat Basudewa ternyata benar. Di Istana Mandura, Haryaprabu Rukma memergoki skandal yang dilakukan Dewi Maerah dengan Basudewa palsu yang ternyata Prabu Gorawangsa dari Kerajaan Guwabarong.

Sekembalinya dari perburuan, ketiga istri Basudewa telah mengandung. Namun karena adanya skandal itu, Dewi Maerah dibuang ke hutan. Kelak ia akan melahirkan Kangsa. Sedangkan Dewi Mahindra melahirkan Kresna, Dewi Rohini melahirkan Baladewa.

Yamawidura Krama
Syahdan, utusan dari Tunggulmalaya, yalah patih Baudenda membawa surat lamaran dari rajanya, yalah prabu Dewasrani, untuk raja Dipacandra, dari negara pangombakan. Surat lamaran tak dijawab, hanya dipesan, sang raja dipersilahkan datang melamar sendiri, kembalilah patih Baudenda ke negara Tunggulmalaya.Prabu Dipacandra segera memerintahkan putera raja, raden Endrakusuma, dan patih Jayalegawa untuk mencari bantuan, guna menanggulangi kemarahan rajalegawa untuk mencari bantuan, guna menanggulangi kemarahan raja Tunggulmalaya, yang nantinya diperkirakan tentu akan menjadi peperangan.Prabu Kresnadipayana, raja negara Astina, memerintahkan kepada puteranya, raden Yamawidura hendaknya dapat membantu kerajaan Pangombakan, dikarenakan, teramcam bahaya, mohon dirinya Yamawidura, laju berangkat dengan diiring Semar, Nalagareng, dan Petruk.

Di tengah hutan, bertemulah dengan utusan pangombakan, setelah hal ihwal diuraikan, bersedialah raden Yamawidura membantunya, dan berangkat bersama – sama menuju ke Pangombakan. Sebelum mencapai praja pangombakan, bertemulah raden Yamawidura dengan prajurit – prajurit Tunggulmalaya, peperangan tak dapat dihindari lagi, prajurit Tunggulmalaya kalah, sebagian mati, dan sebagian mengundurkan diri, untuk melapor.

Sesampainya di Pangombakan, diterima oleh prabu Dipacandra, tak lama kemudian datanglah berita, bahwasanya patih Tunggulmalaya, Baudenda, datang membawa prajurit, maksud meminta Dewi Padmarini sebagai jodohnya prabu Dewasrani, penolakan berarti peperangan. Baudenda dan prajuritnya dapat dikalahkan oleh raden Yamawidura, untuk kemenangannya, dikimpoikan dengan dewi Padmarini, hadir pula prabu Kresnadipayana dari negara Astina. Pada suatu ketika, dilaporkan bahwasanya sang Hyang Premuni membantu puteranya Prabu Dewasrani, untuk menculik penganten puteri, Dewi Padmarini, dan terlaksana maksud tersebut, sehingga seisi istana Panggobakan hiruk-pikuk mencarinya. Prabu Dewasrani yang jatuh cintapada Dewi Padmarini, sekarang terlaksana maksudnya untuk berkasih-kasihan dengan sang dewi, tetapi sang dewi menolaknya. Pada waktu dikejar-kejar, sang dewi lari keluar dari pesanggrahan, dan bertemu dengan Prabu Abiyasa, selanjutnya sang Dewi Padmarini Abiyasa, masuk ke cincin sang prabu. Dewasrani mengetahui adanya musuh, segera mengadakan perlawanan, Yamawidura setelah perang agak ramai, segera meninggalkan tempat peperangan, bersama-sama Prabu Abiyasa, menuju ke Panggombakan. Dewasrani dapat dikalahkan juga oleh Abiyasa, dan Yamawidura, demikian juga yang tak lain juga Hyang Pramuni, amanlah Praja Panggombakan.

Yudayana Ical
Lakon ini menceritakan tentang Prabu Parikesit memerintah dengan empat permaisuri yakni: Dewi Satapen, Dewi Dangan, Dewi Impun, dan Dewi Ganang. Ketiga permaisuri itu melahirkan putra masing-masing yaitu: Yudayana, Ramayana, dan Ramaprawa. Pada suatu ketika Yudayana ingin mengembara ia meninggalkan istana yang hanya disertai Semar, Gareng, dan Petruk.Ia pergi ke Gunung Manikmaya dan dididik ilmu pengetahuan oleh Begawan Sidikara. setelah me-nyelesaikan pendidikan ia pergi ke hutan bertemu dewa Kamajaya dan diperintahkan pergi ke Gunung Candramuka, menolong Dewi Gendrawati (anak Gendraparawa) yang diculik oleh raksasa Wagotara.

Sementara Gendrawati dalam sandra Wagotara, ia menuruti keinginannya asal dibawakan kepala satria bagus, dan Wagotara menyanggupi. Di perjalanan bertemu Yudayana dan perangtanding terjadi hebat yang akhirnya Wagotara terbunuh, serta Gendrawati kelak akan diserahkan ayahnya ke Astina.

Di sisi lain Ramayana dan Ramaprawa mencari Yudayana dan bertemu dengan Danyang Sumila di pertapaan Sidara. Mereka dididik ilmu. Setelah tamat sebagai imbalan jasa kedua ksatria itu diminta membunuh Begawan Sidikara, tetapi kedua pangeran itu tidak mampu dan kalah, tiba-tiba Yudayana datang menyembuhkan kedua adiknya itu. Selanjutnya ketiga pangeran dan Begawan Sidikara pergi ke Gunung Sidara mencari Danyang Sumila, maka peperangan terjadi. Danyang Sumila dibunuh Yudayana dengan Sarotama.

Yudayana kembali ke Astina bersama itu Gendraprawa juga menyerahkan Gendrawati kepada sang pangeran maka perkawinan berlangsung megah. Tiba-tiba Prabu Mandala dari Awu-awu Langit menyerang tetapi dapat diusir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s