Lakon Wayang Part 58


Seri Cerita Ramayana
Dasarata Rabi
Prabu Sumaresi dari Kerajaan Benggala atau Kerajaan Suwelareja mempunyai dua orang putri cantik, masing-masing bernama Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati. Prabu Sumaresi juga mempunyai abang, seorang pertapa sakti bernama Resi Kala.

Sewaktu kedua putri itu menanjak dewasa, banyak raja yang datang melamar. Karena bingung siapa yang harus dipilih, Resi Kala lalu menyuruh adiknya lalu membuat sayembara, siapa yang sanggup mengalahkan Resi Kala, boleh memperistri kedua putri Raja Suwelareja.

Belasan orang raja memberanikan diri mencoba kesaktian Resi Kala, tidak satu pun yang berhasil mengalahkan pertapa sakti itu. Akhirnya datanglah Kumbakarna, adik Prabu Dasamuka, hendak melamar kedua putri cantik itu. Ia datang ke sayembara itu atas perintah abangnya, Prabu Dasamuka.

Seperti pelamar yang lain, Kumbakarna pun harus berhadapan dengan Resi Kala. Ternyata keduanya sama-sama sakti. Sesudah berhari-hari mereka berperang tanding, mengadu kesaktian, barulah Kumbakarna menyerah kalah. Dengan tubuh penuh luka raksasa itu pulang ke Alengka.

Akhirnya, Resi Kala dikalahkan oleh Prabu Dasarata, raja Ayodya. Namun,, sebelum menikah dengan kedua putri itu, Dewi Kekayi minta syarat tambahan, agar kelak jika ia melahirkan seorang putra, Dasarata harus mengangkatnya sebagai putra mahkota.

Seri Cerita Ramayana
Wibisana Tundung
Dalam lakon yang termasuk serial Ramayana ini, dua orang adik Prabu Dasamuka, yakni Gunawan Wibisana dan Kumbakarna mencoba mengingatkan bahwa penculikan Dewi Sinta merupakan perbuatan salah. Prabu Dasamuka diminta mengembalikan Sinta pada suaminya, Ramawijaya.

Peringatan itu membuat Dasamuka marah. Setelah dikata-katai, kedua adiknya itu diusir.

Karena pengusiran itu Kumbakarna meninggalkan Keraton Alengka, pergi ke Gunung Gohkarna untuk bertapa tidur, sedangkan Wibisana pergi meninggalkan Alengka, dengan niat hendak mengabdi pada Ramawijaya. Pengabdian Gunawan Wibisana diterima dengan baik oleh Ramawijaya.

Sementara itu, untuk melemahkan semangat Dewi Sinta, Prabu Dasamuka membunuh dan kemudian memenggal kepala Prabu Kalaseti dan Prabu Trikala, kakak beradik taklukan Alengka. Keduanya mirip dengan Rama dan Laksmana. Kepala kedua orang itu diperlihatkan pada Dewi Sinta.

Sinta tidak yakin kalau kepala itu adalah kepala suami dan adik iparnya. Ia menyuruh Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana, untuk pergi ke Pasanggrahan Mangliawan guna membuktikan Rama dan Laksamana masih hidup.

Setelah Trijata menunaikan tugas itu, ternyata Rama dan Laksmana memang masih hidup.

Seri Cerita Ramayana
Rama Gandrung
Lakon ini menceritakan tentang Regawa alias Ramawijaya akan menjadi raja untuk menggantikan Dasarata, tetapi dari Dewi Kekayi menuntut agar anaknya yang bernama Branta (Barata) lah yang dijadikan raja.

Branta menolak naik takhta dan minta agar Regawa tetap berada di Ayodya, tetapi Regawa tetap pada pendiriannya semula, lalu ia pergi dari Ayodya bersama istrinya menjalani masa pembuangan di Hutan Dandaka.

Di tengah hutan Regawa bertanding melawan dengan Karadusana yang menjadi utusannya Sarpakenaka, adik Dasamuka. Karadusana kalah. Setelah itu Regawa melanjutkan perjalanan ke Gunung Argasoka, dan diterima baik oleh Sutignayogi.

Di halaman tersebut terlihatlah seekor kijang kecil.
Karena Sinta menginginkannya maka binatang itu, dipanahnya, tidak lama kemudian berubah menjadi seekor raksasa besar, penjelmaan Kalamarica.

Dewi Sinta yang tanpa dikawal oleh seorangpun lalu diculik oleh Dasamuka. Atas petunjuk Jatayu maka Regawa tidak dapat mengejarnya dan Jatayu hampir mati karena kelelahan. Regawa merasa sedih karena telah kehilangan pengikut yang setia.

Seri Cerita Ramayana
Indrajid Lena
Lakon ini menceritakan tentang kegusaran Prabu Dasamuka, karena senapati Alengka sudah banyak yang mati. Senapati terakhir adalah Kumba-kumba dan Aswani Kumba, keduanya putra Kumbakarna, telah gugur karena kepala mereka diadubenturkan oleh Anoman.

Kini tinggal Megananda yang masih hidup dan yang menjadi harapannya, disamping Narataka. Keduanya harus berhadapan dengan Jaya Anggada.

Indrajit maju ke medan laga didampingi kedua adaknya, Begasura dan Kuntalabahu.

Panah Nagapasa semula bisa membunuh Laksmana, tetapi adik Ramawijaya itu bisa hidup lagi berkat kesaktian Rama. Akhirnya Narataka, anak Dasamuka yang tersisa, dibunuh oleh Jaya Anggada dan panah pusaka Guwawijaya milik Rama bisa menghancurkan Megananda.

Begitu terkena panah, badan Indrajit musnah menjadi mega yang melayang di antara awan.

Seri Cerita Ramayana
Rama Obong
Dewi Trijata adalah abdi setia Dewi Sinta sejak pada waktu berada di Alengka lalu mengikuti Sri Rama sampai di Ayodya. Kapi Jembawan, seorang kera tua, jatuh cinta kepadanya dan merubah ujudnya sebagai Lesmana agar dapat bertemu dengan Trijata. Namun perbuatannya dapat dibongkar oleh Anoman maka berubah ujud semula Jembawan. Peristiwa ini dilaporkan kepada Sang Rama, yang selanjutnya Kapi Jembawan diperintahkan pergi ke Gunung Kutarunggu bersama Dewi Trijata.

Di perjalanan ia bertemu dengan Mayaretna anak Prabu Janaka dari Kerajaan Mantili yang jatuh cinta kepada Dewi Sumekar. Dalam mimpinya ia melihat wanita muda yang cantik dan dikira Dewi Sinta. Atas petunjuk Kapi Jembawan pangeran itu diminta mene-mui Rama dan bergabung.

Ramawijaya kemudian memutuskan akan masuk ke dalam api pembakaran dan meninggalkan pesan yang terakhir kepada Wibisana agar memerintah negeri Alengka. Ramawijaya juga mengatakan bahwa Anoman akan berumur panjang dan diminta bertempat tinggal di Gunung Kendalisada guna menjaga Gunung Somawana sebagai kuburan Rahwana. Sedangkan Laksmana menjelaskan bahwa kelak ia akan menjelma pada Kakrasana, seorang pangeran dari Madura.

Setelah semuanya siap maka Ramawijaya, Dewi Sinta dan Laksmana masuk ke dalam perapian. Demikian juga Mayaretna bersama Dewi Sumekar juga mengikuti Rama masuk ke perapian. Sedangkan kendaraan Mayaretna yaitu gajah Jaka Mruta serta kuda Balang Anteban masuk ke dalam Hutan Sokarembe.

Seri Cerita Ramayana
Rama Tundung
Setelah memboyong Dewi Sinta, putri Mantili, sebagai istrinya ke Kerajaan Ayodya, ayah Rama, yaitu Prabu Dasarata berniat mengangkatnya sebagai raja.

Namun niat Dasarata ini dihalangi Dewi Kekayi, istri ketiga sang Prabu. Dasarata diingatkan bahwa raja itu pernah berjanji akan meluluskan dua permintaan Dewi Kekayi.

Adapun permintaan Kekayi adalah agar Dasarata mengangkat Barata, anaknya, sebagai raja. Yang kedua, mengusir Ramawijaya dari Kerajaan Ayodya dan harus hidup sebagai orang buangan di Hutan Dandaka selama 12 tahun. Kepergian Rama dan Sinta diikuti oleh Laksmana, adik tirinya.

Walaupun tidak setuju, Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan itu. Setelah membatalkan pengangkatan Ramawijaya sebagai putra mahkota dan mengusirnya bersama istrinya, raja Ayodya itu sangat menyesal, sehingga meninggal dunia. Ternyata Barata tidak mau naik takhta menggantikan ayahnya, bahkan menyusul Rama dan Laksmana di Hutan Dandaka.
Setelah bertemu, Rama menganjurkan Barata menjadi raja, dengan membekalinya ajaran Hasta Brata.

Seri Cerita Ramayana
Rama Tambak
Ramawijaya setelah menerima laporan mengenai kekuatan musuh maka ia memerintahkan untuk segera menyerang Alengka. Namun ada kesulitan karena harus menyeberangi lautan, maka ia memerintahkan kepada Sugriwa dan Anoman membuat bendungan.Para prajurit kera dikerahkan untuk mengambil batang pohon dan batu yang berada di Pasanggrahan Maliawan, tetapi mereka mendapat gangguan sekelompok kera hitam di bawah pimpinan Endang Suwareh dan Bambang Suweda, anak Suwareh, tapi gangguan itu dapat dikalahkan, bahkan kemudian dipaksa membantu membuat bendungan.

Setelah bendungan menjelang selesai tiba-tiba diterjang gelombang besar sehingga batang-batang pohon itu hanyut. Hal ini membuat Sri Rama marah
maka ia melepaskan anak panah Suwarah Geni ke dalam laut dan seketika itu air surut.

Tak lama kemudian Sang Hyang Baruna menampakan diri serta berjanji akan membantu dalam pembuatan bendungan, asalkan Rama mengembalikan air laut yang surut itu, sehingga makhuk di laut tidak mati. Dalam waktu yang singkat bendungan dapat diselesaikan serta para bala tentara kera mulai menyeberang menuju ke Alengka.

Diperjalanan tentara Rama dihadang oleh raksasa dari Alengka yakni Agsraba, Rahibaya, Yuyurumpung dan Rahirebata. Mereka menyerang bala tentara kera sehingga menjadi kalang kabut.

Para raksasa dari utusan Rahwana itu akhirnya dapat dibunuh oleh prajurit kera yang bernama Kapi Yasraba, Kapi Rekata dan Kapi Menda. Pada waktu itu keadaan bendungan sangat mengkhawatirkan karena adanya gangguan dari prajurit Alengka. Sementara Anoman sangat khawatir akan keselamatan tentara yang melewati bendungan itu, maka Anoman melakukan triwikrama, tubuhnya menjadi besar dan membawa para prajurit kera ke daratan Alengka dan membangun Pesanggrahan di Swelagiri.

Sementara itu Rahwana membuat tipu muslihat kepada Sinta untuk meyakinkan bahwa Rama dan Laksmanatelah mati, ia memenggal kepala Trikala dan Kalasekti, yaitu dua orang raja taklukannya.

Setelah melihat penggalan dua kepala ksatria itu Dewi Sinta sangat sedih. Namun, Dewi Trijata yang setia kepada menaruh curiga dan mengadakan penyelidikan, ia pergi ke Swelagiri dan bertemu dengan Anoman. Trijata mendapat penjelasan bahwa Rama dan Laksmana masih segar bugar. Dengan demikian ia akan dapat menentramkan hati Sinta.

Sarpakenaka juga ikut mencampuri urusan ini, ia mengutus Anggrisana ke Swelagiri dan membaur sebagai kera, dengan tujuan membuat kekacauan serta huru-hara. Tindakannya itu dapat diketahui Anoman maka Anggrisana ditangkap dan telinganya dipotong dan diminta kembali ke Alengka.

Setelah tiba di Alengka, Sarpakenaka sangat marah melihat utusannya terluka, ia pergi melawan Anoman sendiri, tetapi akhirnya ia terbunuh oleh Anoman.

Seri Cerita Ramayana
Sayembara Mantili
Lakon ini menceritakan tentang perkimpoian Regawa, putra Dasarata dengan Raguwati, yang lebih dikenal dengan Ramawijaya.Kisahnya dimulai dengan pertolongan yang diberikan Ramawijaya dan Laksmana pada penduduk di Pertapaan Yogiswara, yang dijarah bala tentara Dasamuka.

Oleh para pertapa, Regawa kemudian dianjurkan untuk mengikuti sayembara yang diadakan untuk memperebutkan putri raja Mantili yang bernama Dewi Sinta. Ramawijaya alias Regawa mengikuti saran itu, dan berhasil memenangkan sayembara memanah dengan menggunakan gendewa pusaka Kerajaan Mantili.

Setelah itu dalam perjalanan pulang ke Kerajaan Ayodya, Regawa masih harus melawan Rama Bargawa, dan berhasil memecahkan senjata Bargawastra, Rama Bargawa menghilang dan menjelma pada diri Regawa.

Arjuna Wibawa
Prabu Matswapati yang berkuasa di Wirata sedang duduk di singgasana dihadap permaisuri Dewi Rekatawati, putrinya yakni Dewi Utari serta putranya yakni: Seta, Untara dan Wratsangka serta kedua patihnya yaitu Jaya Nirbita dan Nirmala. Pada per-temuan itu tiba-tiba datangnya Patih Sengkuni sebagai utusan Prabu Suyudana yang mengatakan bahwa raja Wirata ditunggu kehadirannya di Astina.Prabu Matswapati merasa sakit hati karena kecongkakan Prabu Suyudana itu maka ia menolak undangan itu, dan terjadi peperangan. Prabu Mats-wapati mendapat bantuan Prabu Arjunawibawa dari Sriwedari serta Prabu Danumurti dari Rajegwesi. Dalam peperangan itu Kurawa sungguh hebat kedua raja suruhan itu kalah dan dipaksa untuk melawan raja Wirata.

Di tengah perjalanan Danumurti bertemu dengan Angkawijaya dan Gatotkaca, maka terjadi perselisihan, tetapi raja dari Rajegwesi itu kalah. Arjunawibawa yang semula dipihak Wirata sekarang akan menyerang Prabu Matswapati.

Pada waktu Prabu Yudistira, Kresna, Bima, Nakula dan Sadewa menjadi tamu Kerajaan Wirata, tiba-tiba Arjunawibawa menyerang Kerajaan Wirata, tetapi Kresna bertindak cepat serta memerintahkan Bima untuk membuka secara paksa pakaian Arjunawibawa dari Sriwedari itu, maka berubah ujud Arjuna. Raja Wirata dan Pandawa gembira sedangkan para Kurawa dapat diusir Bima.

Bambang Jinggata (Senggata)
Dewi Ulupi yang melahirkan putra diberi nama Irawan dan menjadi teman Antasena, putra Bima. Atas perintah Jayawilapa Bambang Irawan diperintahkan pergi ke Kasatrian Madukara, untuk mengikuti Sabung Ayam yang diadakan anak Arjuna yang bernama Bambang Senggata (Jinggata). Selamanya ayam jago Senggata selalu menang, tetapi setelah Irawan datang, jagonya dikalahkan ayam jago milik Bambang Irawan.Terjadilah hal yang aneh, Bima membunuh Seng-gata dan atas perintah Kresna, Dewi Ulupi juga dibunuh Gatotkaca dan berubah menjadi raksesi (raksasa putri). Keduanya, Senggata dan itu raksesi ternyata adalah penipu.

Sementara Bambang Irawan dan Antasena mengembara sampai di Kerajaan Astina. Di negeri itu mereka merampas kuda kerajaan dan Antasena membawa gajah dan bendera ke Pertapaan Yasarata.

Begawan Drona melaporkan bahwa pencurinya Angkawijaya dan Gatotkaca, maka Suyudana menyerahkan masalah itu kepada Yudistira.

Bambang Partadewa
Lakon ini mengisahkan usaha Pandawa mencari Arjuna karena setelah dapat membunuh Prabu Niwatakawaca dan mendapatkan panah Pasopati. ksatria itu belum pulang ke Amarta.Kekosongan kekuasaan di Keraton Amarta ini akan dimanfaatkan oleh pihak Kurawa untuk menguasai Amarta dengan mendudukkan Kartamarma sebagai raja. Namun usaha dan rekayasa Kurawa ini dapat digagalkan Bambang Partadewa, yakni pen-jelmaan Batara Kamajaya yang tiba-tiba muncul di Amarta.

Tidak pulangnya Arjuna ke Amarta ternyata disebabkan karena ia telah dinobatkan menjadi raja di Kahyangan Sonyaruri, dengan gelar Prabu Kiriti atau Kiritin, dengan memperistri para bidadari. Ini terjadi setelah Arjuna membunuh musuh para dewa, yakni Prabu Niwatakawaca dari Kerajaan Manimantaka.

Ketidak pulangan Arjuna ini juga menimbulkan kegelisahan istrinya yakni Dewi Wara Subadra, maka dengan bimbingan Prabu Kresna ia menyusul Ajuna ke kahyangan. Akhirnya Arjuna sadar akan kewajibannya sebagai seorang ksatria, serta ingat akan anak dan istrinya di dunia, lalu pulang ke Amarta dan bertemu dengan saudara-saudaranya.

Begitu juga Bambang Partadewa setelah mengetahui Pandawa telah kembali ke Amarta ia segera menjelma menjadi Batara Kamajaya dan kembali ke kahyangan.

Basudewa Grogol
Pada suatu hari Prabu Basudewa di Mandura menerima tamunya Prabu Pandu Dewanata, Arya Prabu Bismaka dan Ugrasena, sang Raja berniat untuk berburu ke hutan.Kesempatan ini digunakan oleh Prabu Gorawangsa dari Guwabarong untuk mencuri salah satu permaisurinya dengan cara masuk ke Istana Mandura yang mengubah ujudnya seperti Basudewa. Tipudaya Gurawangsa itu berhasil dan ia dapat merayu Dewi Maerah. Karena ia berujud Prabu Basudewa maka segala permintaannya dilayani sampai tuntas. Waktu itu Arya Prabu diutus Basudewa untuk menjemput para permaisurinya yang masih berada di kedaton, tetapi ia terkejut melihat raja basudewa telah berada di kamar Dewi Maerah. Ia marah kepada rajanya sehingga terjadi perkelahian dan Basudewa palsu berubah ujud semula dan mati terbunuh.

Peristiwa ini dilaporkan kepada Prabu Basudewa dan diperintahkan agar Maerah dibawa ke tengah hutan serta dibunuh. Arya Prabu melaksanakan perintah rajanya tetapi Dewi Maerah karena telah mengandung hanya tinggal sendirian di hutan. Begawan Anggawangsa menemukan Maerah dan dirawat serta dibawa ke pertapaannnyadi Wirengga, di sana sang Dewi melahirkan seorang putra dan diberi nama Jaka Maruta.

Setelah dewasa ia pergi ke Guwabarong dan oleh Pancatnyana patihnya Gurawangsa, Jaka Maruta dinobatkan menjadi raja. Selanjutnya ia pergi ke Mandura untuk mencari ayahnya yaitu Basudewa. Sang Raja merasa dikhianati oleh Gorawangsa maka dengan berat hati terpaksa mengakui Jaka Maruta atau Prakangsa atau Kangsa sebagai anaknya.

Bima Kacep
Dewi Arimbi merasa kesal hatinya karena sudah lama suaminya, Arya Werkudara, belum kembali. Ia merencanakan akan mencarinya dengan Kalabendana. Adiknya menyarankan agar ditanyakan kepada Batara Guru, tentu Batara Guru mengetahui apakah ia masih hidup atau mati. Kalabendana menolak ketika disuruh menghadap Batara Guru sendirian, ia minta Dewi Arimbi ikut serta. Agar dapat segera sampai, maka Dewi Arimbi didukung oleh Kalabendana dan dibawa terbang.Di kahyangan Tinjamaya Dewi Uma dihadap oleh Emban Suntul Kenyut: ia bermuran durja karena sedang jatuh cinta kepada satria Jodipati, Arya Werkudara. Ia bingung bagaimana jika hal itu samapai diketahui oleh Hyang Girinata. Meskipun demikian ia akan tetap mencarinya . Dalam pembicaraan dengan pelayannya diketahui bahwa Bima (Arya Werkudara) sedang tidak ada di Jodipati. Ia sedang bertapa dengan cara tidur di Pucang Sewu. Karenannya pelayannya menyarankan agar Dewi Uma menggoda Arya Werkudara. Dewi Uma merasa lega, pelayannya tetap diminta ikut untuk menunjukkan jalan ke Pucang Sewu. Lalu keduanya berangkat dengan memperhatikan keempat penjuru angin dan pusatnya, demikian pula diperhatikan barangkali terlihat sinar (teja) yang berasal dari tubuh Bima. Ketika telah diketahui tempat pertapaan Bima, pelayanannya menyarankan agar dapat cepat sampai ke tujuan Dewi Uma akan didukung saja oleh Emban Suntul dan dibawanya terbang.

Di kahyangan Junggring Selaka Batara Guru dihadap oleh Hyang Kanekaputra serta para dewata. Batara Guru merasa terpukul dan heran atas kepergian Dewi Uma yang tanpa minta diri. Ia menanyakan kepada Batara Narada di mana Dewi Uma berada. Batara Narada memberitahu agar dicari ke Pucang Sewu. Batara Guru menuruti saran Batara Narada dan keduanya segera berangkat menuju Pucang Sewu, sedangkan para Dewata yang lain agar menjaga kahyangan.

Di Pucang Sewu Arya Werkudara sedang bertapa dengan jalan tidur, ia berada sendirian. Ia bertapa agar pada perang besar nanti dapat memenagkan peperangan. Ia telah bertapa selama lima belas hari dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Karena telah merasa cukup lama namun belum ada tanda-tanda bahwa permohonannya akan terkabul, ia merasa sedih. Karena kuatnya bertapa. Kahyangansamapi tergetar, hal itu berakibat Dewi Uma dan para bidadari lainnya terpengaruh.

Dewi Uma yang didukung oleh Emban Suntul Kenyut sampai di atas Pucang Sewu dan telah melihat sinar (teja) yang keluar dari tubuh Bima. Mereka mencari akal bagaimana mendekatinya. Atas saran pelayannya, Dewi Uma memberanikan diri menuju tempat Bima bertapa. Dewi Uma memegang kakinya untuk membangunkannya. Bima terkejut karena merasa kakinya oleh seorang wanita, heran sekali marena yang menungguinya seorang bidadari. Bima lalu menanyakkan apakah yang dikehendaki (Dewi Uma). Dewi Uma menjawab bahwa ia ingin membantu terlaksannya keinginan Bima, sebaliknya Dewi Uma menanyakan apa keinginan Bima sehingga ia melakukan tap tidur itu. Bima menjawab agar ia dapat memenangkan perang yang akan terjadi. Dewi Uma sanggup membantu terlaksananya hal itu dengan disaksikan oleh embannya . Bima merasa tertarik kepada Dewi Uma karena Dewi Uma sengaja menggodanya. Keduanya lupa diri.

Batara Guru yang sampai di tempat itu amat marah karena menemukan mereka sedang memadu kasih. Dengan membawa pusaka Kyai Cis Jaludara Batara Guru mendekati mereka agar berpisah, namun keduanya tidak dapat berpisah. Maka pusaka Cis Jaludara itu dikenakan antara keduanya, dengan tak disangka-sangka senjata itu memotong phallus Bima yang karena mantra Batara Guru berubah menjadi senjata Angking Gobel. Bima merasa malu sekali, demikian pula Dewi Uma. Bima minta ampun kepada Batara Guru dan berjanji tidak akan berbuat demikian lagi. Bima lalu disuruh kembali ke negaranya. Demikian pula Dewi Uma kembali ke Suralaya; ia hamil dan nanti melahirkan anak yang dinamakan Bimadari, anak inilah nanti yang akan menolong Bima dalam perang besar Barata.

Batara Guru menjelaskan kepada Batara Narada bahwa Angking Gobel itu nanti dapat dipakai untuk membaasmi hama padi Ginjah Klepon.

Setelah Bima dan Dewi Uma pergi, Batara Guru menanyakan kepada Batara Narada bagaimana caranya dapat membalas dendam. Batara Narada menyarankan agar Batara Guru menggoda Dewi Arimbi, apalagi Bima sudah tidak mempunyai kejantanan lagi. Batara Guru menurut akan nasehat Batara Narada,namun di mana ia dapat menemui Dewi Arimbi ? Batara Narada mengatakan bahwa Dewi Arimbi yang ditinggal Bima sekarang sedang mencarinya bersama Kalabendana. Batara Guru harus mencarinya, dan agar keinginannya terlaksana ia harus mengubah diri menjadi Bima, Batara Narada memisahkan diri agar Batara Guru dapat menggoda Dewi Arimbi.

Kemudian mereka bertemu, Dewi Arimbi didukung oleh Kalabendana, Kalabendana merasa girang sekali ketika malihat Bima (gadungan) itu. Demikian juga Bima (gadungan), ia memberitahu agar Kalabendana memisahkan diri. Dewi Arimbi yang merasa telah lama tidak bertemu dengan suaminya , tidak menolak ketika diajak memadu kasih oleh Bima, tanpa mengetahui bahwa itu Bima gadungan.

Ketika Bima (yang asli) lewat di tempat itu, ia marah sekali melihat Dewi Arimbi bersama Bima (yang lain). Dewi Arimbi juga heran mengapa ada dua Bima. Kadua Bima itu lalu bertengkar dan berkelahi. Lama kelamaan Bima gadungan tidak dapat menghadapi Bima asli, sehingga ia berubah kembali menjadi Batara Guru. Bima terkejut dan bertanya mengapa Batara Guru menginginkan isterinya. Dijawab oleh Batara Guru bahwa perbuatannya itu hanya untuk membalas dendam. Setelah jelas persolannya, mereka semua pulang ke tempat masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s