Lakon Wayang Part 60


Gatotkaca Winisuda
Di negara Astina Prabu Duryudana sedang mengadakan persidangan dengan patih Harya Suman, Narpati Basukarna dan Prabu Baladewa mengenai usaha menyatukan negeri Pringgondani dengan Astina mengingat negeri Pringgondani sedang goncang dengan ditinggal mangkat rajanya, Prabu Arimba. Dengan diiringi bala tentara Kurawa, Prabu Karna ditugasi menyerbu Pringgondani namun ditengah perjalanan bertemu dengan rombongan Prabu Kala Pustaka raja Tunggarana yang mempunyai maksud sama, sehingga keduanya terlibat peperangan dan rombongan Prabu kalah dan melarikan diri.

Sementara itu Prabu Yudistira sedang bersidang di negeri Amarta dengan para kerabat dan pejabat Pandawa untuk memikirkan tahta Pringgondani yang kosong sepeninggalnya Prabu Harimba, untuk maksud tersebut R.Arjuna ditugasi pergi kekhayangan untuk menanyakan siapa yang berhak atas tahta negeri Pringgondani, sedangkan R. Werkudara dan Prabu Kresna pergi ke negeri Pringgondani.

Di negeri Pringgondani Dewi Arimbi sedang mengadakan persidangan dengan pejabat negara untuk membicarakan suksesi negeri Pringgondani, tiba-tiba datang R. Werkudara dan Prabu Kresna juga Janaka yang diiringi Batara Narada yang mengutarakan perihal siapa yang berhak menduduki tahta Pringgondani. Akhirnya disepakati semua pihak, maka R. Gatotkacalah yang berhak menduduki tahta mengganti Prabu Arimba. Dengan disepakati semua pihak, maka R. Gatotkaca dinobatkan menjadi raja di negara Pringgondani dengan bergelar Prabu Kacanegara. Kedatangan bala tentara Kurawa terlambat, sesampainya mereka di negara Pringgondani ternyata di negeri Pringgondani baru saja diadakan penobatan R. Gatotkaca menjadi raja bergelar Prabu Kacanegara. Mengetahui hal ini rombongan Kurawa tidak dapat menerima, akhirnya terjadilah peperangan, namun dapat dilerai oleh Batara Narada dan rombongan Kurawa yang dipimpin Adipati Karna kembali ke Astina sedangkan bala tentara Prabu Kala Pustaka raja negeri Tunggarana dapat diatasi oleh R.Werkudara dan putra-putra Pandawa.

Maka dengan diwisudanya R. Gatotkaca menjadi raja di Pringgondani keadaan negara pulih kembali menjadi aman, tentram , damai dan sejahtera.

Jamurdipa
Prabu Basumurti dari Wirata pada suatu hari menjelaskan kepada Patih Jatikanda, Arya Kandaka dan Resi Wikiswara bahwa sang Raja akan berburu ke hutan. Jatikanda bersama Basukesti, Basunanda dan Brahmana Kestu mengadakan persiapan di hutan. Sebelum berburu Prabu Basumurti mengadakan pesta di Hutan Mandeki, serta memberikan hadiah kepada rakyat di sekitar hutan tersebut. Namun diantara penduduk itu ada salah seorang yang bernama Janaloka tidak mau menerima hadiah dari rajanya oleh karena ia sebagai penjaga pohon sriputa. Adik raja yang bernama Basukesti menebang pohon keramat tersebut dan keluarlah cahaya sinar yang merasuk ke badan Basukesti. Selanjutnya Janaloka menghormat dengan Basukesti serta mengatakan bahwa kelak sang Pangeran akan menjadi raja.

Tak lama kemudian Basukesti menerima berita dari Dewi Jatiswari istri Prabu Basumurti bahwa sang Raja sakit keras. Segera sang Pangeran menjenguk kakaknya, tetapi ketika ia tiba di istana kakaknya telah wafat. Selanjutnya Basukesti dinobatkan menjadi raja dan ramalan Janaloka menjadi kenyataan.

Setelah naik takhta, sang Raja memerintahkan untuk membuat instrumen gamelan yang digunakan dalam peperangan antara lain: gurnang, thang-thong grit, paksur, teteg, kendang, bendhe, gong dan beri. Pada suatu hari Patih Jatikanda melaporkan bahwa Brahmana Deta dan Brahmana Kestu menghilang dan di rumahnya tumbuh Jamurdipa yang memancarkan sinar. Prabu Basukesti melihat hal yang aneh, setelah sampai di rumah itu maka sinar terang yang ada pada Jamurdipa merasuk di kepalanya Basukesti.

Kakrasana-Narayana Lahir
Syahdan, di Jonggringsalaka, Hyang Guru diharap oleh Hyang Narada. Kepadanya ditanyakan apa yang menjadi sebab huru-hara di kahyangan. Hyang Narada melaporkan, bahwa Hyang Wisnu dan Basuki akan turun ke marcapada, tak lain berkehendak akan sejiwa dengan putera-putera Basudewa, raja Mandura, yang akan lahirt. Hyang Guru bersabda,”Kakanda Narada, Dewi Maera akan melahirkan putera gondang kasih-kasih, yang terdahulu lahir itulah yang muda, yang tua, yang lahir kemudian. Baiklah, Wisnu dan Basuki supaya menitis ke kedua putera Basudewa. Berilah yang muda nama, sesuai dengan wujudnya yang hitam, si Kresna. Kemudian yang putih si Seta”. Berangkatlah Narada ke Marcapada, dengan membawa Wisnu dan Basuki, diiringkan para widadari, membawa perlengkapan untuk membantu kelahiran sang bayi dari Dewi Maera.Di Mandura, telah berkumpul prabu Basudewa, prabu Pandudewanata. Tak lama kemudian datanglah Hyang Narada beserta bidadari-bidadari. Dewi Maera lalu melahirkan bayi, yang terdahulu berwujud putih, dinamakan Seta, juga Kakrasana. Yang kemudian berwujud hitam dinamakan Kresna, juga Narayana. Segera bayi dipuja oleh Narada, dimandikan dengan air gege oleh pada bidadari, jadilah besar bayi-bayi tersebut. Kepada Basudewa diberitakan, bahwa besok Mandura akan dilanda musuh, untuk itu ajukan si Narayana dan Kakrasana. Narada dan bidadari-bidadari kembali ke kahyangan.

Tersebutlah raja Awangga, bernama Karnarudraka, mengerahkan segala prajuritnya menggempur negara Mandura. Mereka akan menuntut balas kematian kakandanya, prabu Gorawangsa. Prabu Nbasudewa dilapori tentang kedatangan musuh dari Awangga, sesuai dengan sabda Hyang Narada. Kakrasana dan Naradalah yang melawan musuh-musuh itu, akhirnya semua prajurit awangga dapat dikalahkan. Demikian pula Prabu Karnarudraka dapat dibunuh oleh kedua satria Mandura.
Prabu Basudewa bersama prabu Pandudewanata dan segenap keluarga istana Mandura, merayakan kemenangan.

Kandihawa
Kisahnya mengenai Dewi Srikandi yang pergi dari Kerajaan Amarta dan berubah ujud sebagai ksatria, bernama Bambang Kandihawa. Sebagai pria, Bambang Kandihawa memperistri Dewi Durniti, putri Prabu Dike dari Kerajaan Manimantaka.Karena ternyata Bambang Kandihawa bukan laki-laki, maka Dewi Durniti melapor pada ayahnya. Prabu Dike marah, lalu menghajar Bambang Kandihawa, kemudian melemparnya jauh-jauh.

Bambang Kandihawa alias Dewi Srikandi jatuh di hadapan pendeta raksasa bernama Begawan Amintuna dari Parang Gumiwang yang sedang bertapa. Mereka kemudian bertukar kelamin. Sesudah menjadi laki-laki, Bambang Kandihawa kembali ke Kerajaan Manimantaka. Dewi Durniti menerima Bambang Kandihawa dengan baik sehingga mereka mendapat seorang anak, yaitu Nirbita, yang setelah dewasa kelak lebih dikenal dengan nama Prabu Niwatakawaca.
Setelah melahirkan, Dewi Durniti meninggal.

Bambang Kandihawa lalu ingin menikah lagi. Pilihannya jatuh pada Dewi Subadra, istri Arjuna. Nirbita lalu melamarkan Dewi Subadra bagi Bambang Kandihawa. Dewi Subadra minta syarat Kembang Dewandaru, dan ternyata Nirbita dapat memenuhi mahar itu. Dengan membawa Kembang Dewandaru, Bambang Kandihawa datang ke Dwarawati.

Namun, Kandihawa tidak dapat mempersunting Dewi Subadra, karena harus berhadapan dahulu dengan Arjuna. Terjadilah perang tanding. Nirbita kalah dan pulang ke Manimantaka, sedangkan Bambang Kandihawa berubah ujud kembali menjadi Dewi Srikandi.

Karna Tanding
Yang terkadang disebut Adipati Karna Lena, merupakan bagian dari serial lakon Baratayuda. Lakon ini menceritakan pengangkatan Adipati Karna sebagai mahasenapati Kurawa. Karna bersedia menerima jabatan itu jika Prabu Salya mau menjadi sais kereta perangnya. Ini terjadi setelah Resi Bisma tak berdaya lagi, terkena panah Dewi Srikandi.Pengangkatan Adipati Karna sebagai senapati pihak Kurawa menimbulkan ketegangan dengan mertuanya, Prabu Salya. Apalagi kemudian Adipati Karna minta agar Prabu Salya yang menjadi sais kereta perangnya.

Prabu Salya menganggap Karna sebagai orang yang sombong, padahal ia hanya anak seorang sais kereta. Karna juga dinilai sebagai orang yang mengobar-ngobarkan semangat perang para Kurawa.

Arjuna yang menjadi lawan Karna, semula ragu untuk menghadapinya. Sesudah Prabu Kresna memberikan wejangan panjang lebar, barulah Arjuna sadar bahwa sebagai ksatria ia memang mengemban tugas yang tidak boleh ragu bertindak.

Adipati Karna akhirnya tewas terkena panah Pasopati ketika berhadapan dengan Arjuna. Waktu itu Arjuna mengendarai kereta perang yang dikendalikan oleh Prabu Kresna.

Begitu Karna tewas, kerisnya yang bernama Kaladite keluar dari warangkanya dan menyerang Arjuna, tetapi gagal karena Arjuna waspada dan menangkis serangan itu.

Selain itu, seekor naga bernama Ardawalika juga menyerang Arjuna, tetapi ia justru terbunuh oleh panah ksatria Pandawa itu.

Kenyawibawa
Lakon ini menceritakan Burisrawa yang sedang sakit rindu dan ingin mengawini Ratu Kenyawibawa dari Glagahwangi.Ada syarat dari Kenyawibawa bahwa para pelamar yang dapat mengalahkan binatang piaraannya yakni Surakadru, Sarwinta, dan Saraplawaga berhak memperistrinya.

Sementara itu Begawan Partawarana di Pertapaan Argawilis yang sedang sakit ditunggui Bambang Subandria dan minta diobati bunga Cepaka Mulya yang tumbuh di Glagahwangi.

Dalam pada itu Prabu Puntadewa juga memerlukan bunga tersebut untuk kesejahteran dan kemakmuran rakyatnya.

Di perjalanan Prabu Kresna bertemu Subandria dan dimintai tolong untuk menghabisi Partawarana. Kresna sanggup asalkan dicarikan bunga Cepaka Mulya.

Subandria datang di Glagahwangi berhadapan dan perang dengan Surakadru ia mati terbunuh. Prabu Kresna marah demikian juga Partawarana maju perang melawan Kenyawibawa dan Surakadru, Kenyawibawa. alam perang tanding itu Ratu Kenyawibawa berubah menjadi Dewi Subadra, Partawarana menjadi Arjuna, Surakadru, Sarawinata mejadi senjatanya Arjuna. Burisrawa datang tetapi dapat dikalahkan Pandawa.

Kresna Kembang
Lakon ini terkadang disebut Narayana Maling. Begawan Drona hendak menikah dengan Dewi Rukmini, putri Prabu Bismaka dari Kerajaan Kumbina.Rencana perkimpoian ini akhirnya gagal karena Dewi Rukmini dilarikan oleh Narayana, yakni Kresna di kala muda. Dengan bantuan para Kurawa, Begawan Drona berusaha merebut kembali Rukmini, tetapi tidak berhasil.

Prabu Bismaka yang merasa sakit hati kemudian meminta bantuan para Pandawa untuk menangkap Narayana. Terjadilah perang tanding antara Narayana dan Pandawa. Pada perang tanding itu Puntadewa dan Bima tewas. Perang tanding antara Arjuna dan Narayana berjalan seru dan seimbang.

Karena tidak satupun yang kalah, keduanya lalu melakukan triwikrama. Akibatnya kahyangan geger. Batara Narada lalu turun ke dunia untuk melerai mereka yang berperang tanding, lalu menjelaskan pada Arjuna, bahwa Dewi Rukmini memang jodoh Narayana.

Dengan demikian akhirnya Dewi Rukmini menjadi istri Nayarana alias Kresna.

Puntadewa dan Bima yang semula tewas, dihidupkan kembali oleh Narayana dengan Kembang Wijayakusuma.

Kunti Pilih
Di Kerajaan Mandura sedang menghadapi kebingungan karena banyaknya raja ingin mempersunting Dewi Kuthi. Untuk mengatasi hal tiu akhirnya diputuskan adanya sayembara pilih, dengan mengadu kesaktian dan bagi yang menang berhak mempersunting Dewi Kunthi.Sebelum Prabu Basukethi selesai membicarakan akan permintaan putrinya, datanglah utusan dari negara Plasajenar Raden Arya Suman, melihat tingkah laku Raden Arya Suman yang tidak sopan Raden Basudewa marah dan bertarunglah Raden Basudewa melawan Raden Arya Suman. Pada saat Raden Basudewa sedang perang melawan Raden Arya Suman, Raden Rukma bersiap siaga mengamankan negara Mandura sekaligus mewartakan tentang adanya sayembara pilih.

Di Pertapaan Argabelah Dewi Pujawati menghadap ayahandanya Begawan Bagaspati agar dipertemukan dengan Raden Narasoma seperti didalam mimpinya itu. Karena sayangnya, maka Begawan Bagaspati melalang buana terbang diangkasa mencari Raden Narasoma. Akhirnya dapat diketemukan. Atas permintaan Begawan Bagaspati agar Narasoma bersedia menjadi menantunya, namun kehendak Bagawan Bagaspati ditolak, akhirnya keduanya terlibat peperangan.

Narasoma dikalahkan dan dibawa ke Pertapaan Argobelah dipertemukan dengan Dewi Pujawati. Narasoma jatuh hati kepada Dewi Pujawati dan bersedia menjadi menantu asal dengan imbalan nyawa Begawan Bagaspati, sebab Raden Narasoma malu mempunyai mertua Raksasa.

Setelah kematian Bagawan Bagaspati Dewi Pujawati dibawa pulang ke Mndaraka. Bersamaan dengan itu di Mandura sedang ada sayembara pilih dan Raden Narasoma turut dalam sayembara namun tidak berhasil.

Lepen Serayu
Pandawa minta setengah dari Negara Amarta seperti yang telah dijanjikan, Kurupati akan memberikan bila dalam pertandingan membuat sungai Pandawa lebih dahulu selesai. Kurupati yakin akan menang karena mereka berseratus, sedangkan Pandawa hanya berlima. Lalu mulailah mereka membuat sungai, Kurawa segera bekerja, masing-masing mencangkuli tanah. Sungai yang dibuat Kurawa sudah hampir sampai ke Laut Selatan.Pandawa berunding dengan Narayana bagaimana caranya mereka dapat memenangkan perlombaan itu. Narayana minta agar Wijasena (Bima) terjun ke Sumur Jalatunda dan seterusnya ke Saptapratala untuk menemui nagaraja dan memintanya datang ke tempat Pandawa.Setelah nagaraja datang, Narayana menceritakan tentang perlombaan itu dan minta agar nagaraja mau membantunya dengan cara berjalan di bawah tanah menuju Laut Selatan, sehingga membuat lorong di bawah tanah. Sedangkan Wijasena diminta berlari di atasnya ( di atas permukaan tanah). Lalu Narayana mengeluarkan Dewi Sembadra yang disimpannya di dalam cincinnya. Kepada Dewi Sembadra diceritakan tentang permohonan itu, dan ia diminta membantunya dengan cara duduk di atas phallus Wijasena.Dewi Sembadra menurutinya.Maka mulailah nagaraja berjalan di bawah tanah, Wijasena berlari di atasnya dengan membawa Dewi Sembadra di atas phallus-nya.Dalam sekejap mata jadilah sungai itu sampai ke Lau Selatan dan dinamakan Sungai Serayu. Namun tiba-tiba Wijasena pingsan. Kresna datang menolong. Ketika Wijasena siuman Kresna menanyakan sebabnya ia pingsan, dijawabnya bahwa phallus-nya ducapit oleh udang betina.

Dengan selesainya pembuatan sungai itu, sekali lagi para Pandawa menagih janji, namun Kurawa selalu mengelak dengan cara minta diadakan perlombaan lainnya.

Lesmana Mandrakumara Lair
Lakon ini termasuk lakon carangan, yang mengisahkan kelahiran Lesmana Mandrakumara anak sulung Prabu Duryudana raja Astina. Pada saat Dewi Banowati mengandung tua, Prabu Duryudana mencurigai istrinya itu telah berbuat serong dengan Arjuna, maka ia mengancam istrinya itu jika kelak melahirkan anak perempuan jelas itu anak Arjuna dan ia akan diusirnya, tetapi jika nanti lahir laki-laki akan diakuinya sebagai anaknya.Tuduhan Duryudana itu dilaporkan Banowati kepada Kresna dan minta jalan pemecahannya ternyata betul kata Duryudana, Banowati telah melahirkan anak perempuan, tetapi saat Prabu Duryudana belum melihat anak Banowati itu, Prabu Kresna telah mencari akal anak Banowati itu dititipkan di Pertapan Andong Sumiwi dan diberinama Endang Pergiwati dan untuk mengelabuhi Duryudana, anak Dewi Banowati itu diganti dengan seorang anak gandarwa sebangsa jin laki-laki sehingga anak itu akhirnya diakui Duryudana dan diberi nama Lesmana Mandrakumara serta Banowati tidak jadi diusirnya.

Lesmana Mandrakumara Rabi
Lesmana Mandrakumara, Putra Mahkota Astina dengan Dewi Bogawati, putri Bogadenta dari Kerajaan Turilaya. Perkimpoian ini dapat terlaksana dengan bantuan Arjuna.Dewi Bogawati minta sayarat, untuk perkimpoian itu Lesmana Mandra Kumara harus membawa senjata pusaka Jungkat Penatas yang dimiliki Arjuna. Karena permintaan ini, ibu Lesmana Mandrakumara, yaitu Dewi Banowati pergi ke Kasatrian Madukara untuk merayu Arjuna.

Berkat rayuan Banowati itu Arjuna menyerahkan Jungkat Penatas. Dengan begitu maka Lesmana berhasil mempersunting Dewi Bogawati.

Namun, perkimpoian itu membuat Aswatama kecewa, karena sebenarnya ia juga mengharapkan akan dapat mempersunting Dewi Bogawati. Peristiwa itu membuatnya lebih dendam pada Dewi Banowati yang dianggap sebagai biang keladi kegagalannya.

Merak Mas
Lakon ini menceritakan di Astina kedatangan pendeta Begawan Sabdajati yang sanggup membunuh Pandawa. Namun, untuk membunuh mereka, ada syaratnya, yaitu agar dicarikan merak mas.Para Kurawa mencari merak mas itu ke negara Sabrang. Di Kerajaan Sabrang Prabu Indrasekti memiliki merak mas dapat dibawa asal dapat mengalahkan debat dengan burung merak yang dapat berbicara, dan ternyata para Kurawa tidak berhasil.

Sementara itu Arjuna setelah menerima petunjuk dari Batara Kamajaya untuk membunuh Sabdajati yang berada di Astina, dengan syarat harus membawa burung merak. Arjuna datang di kerajaannya In-drasekti dan meminta burung merak tetapi tidak berhasil sebab ia kalah debat.

Arjuna lalu melepaskan panah, burung merak menjadi Puntadewa, kurungannya menjadi Bima, makanan dan minuman burung menjadi Nakula dan Sadewa, semua menuju ke Astina.

Begawan Sabdajati dikejar-kejar Ki Lurah Semar dan berubah menjadi Batari Durga.

Mustikadewi
Lakon ini menceritakan Prabu Suyudana akan memboyong Kunti ke Astina serta melantik Lesmana Mandrakumara menjadi raja di Amarta, sebab para Pandawa telah lama meninggalkan Amarta. Berkat bantuan Begawan Mustikajati, Patih Sengkuni dapat membawa Dewi Kunti, dan Lesmana Mandrakumara dinobatkan menjadi raja di Amarta.Sementara Batara Ismaya menghadap Sang Hyang Wenang dan diberitahu bahwa Mustikajati yang berada di Astina itu sebagai perwujudan wahyu dan akan masuk ke tubuh Dewi Kunti.

Begawan Mulyasejati merias Gareng, Petruk dan Bagong menjadi putri dan diperintah menggoda Lesmana Mandrakumara yang berada di Amarta. Mereka berhasil memperdaya Lesmana.

Gatotkaca, Abimanyu dan Antareja yang dipenjara di Astina dapat ditolong Semar, hal ini membuat marah Mustikajati. Semar membawa Dewi Kunti untuk menghadapinya. Akhirnya Mustikajati merasuk ke badan Kunti, dengan sesebutan atau nama Kanjeng Ratu Prita atau Mustikadewi.

Nirbita
Prabu Dike di Manikmataka merasa sudah lanjut usia dan akan menyerahkan pemerintahan kepada cucunya yakni Nirbita. Namun sebelum ia dikukuhkan sebagai raja terlebih dahulu harus minta restu kepada ayahnya Kandihawa di Amarta. Maka Nirbita segera pergi ke Amarta, dan diperjalanan ditemui Narada yang menerangkan bahwa ia diperkenankan sebagai raja di Sabrang, selanjutnya ia meneruskan perjalanannya.Setibanya di Amarta ia bertemu para Pandawa bersama para putranya yang sedang mempersiapkan perkimpoian putri Arjuna denga putra mahkota, Samba dari Dwarawati. Nirbita ternyata bukan tamu yang diterima dengan baik, ia baru saja datang, diusir oleh Abimanyu, Gatotkaca serta Sumitra. Namun putra Pandawa sia-sia tidak berhasil karena Nirbita musuh yang terlalu kuat dan tangguh, demikian juga Bima tidak dapat mengusirnya. Arjuna keluar untuk menghadapi dan atas nasehat Kresna, agar supaya Nirbita dipanah salah satu matanya.

Arjuna mengindahkan nasehat itu dan segera memanah mata musuhnya. Dengan menggeram Nirbita terluka serta berseru kepada Arjuna bahwa kelak akan membalas dendam lewat perantaraan putranya yakni Niwakatawaca. Selanjutnya Nirbita kembali ke Kerajaan Manimantaka dan memutuskan bertapa untuk menebus dosanya agar mendapatkan kesaktian yang cukup untuk berperang mendatang.

Palgunajati
Prabu Duryudana dan Gendari pergi dari Astina. Demikian juga Arjuna pergi dari Madukara. Kresna memberitahukan kepada Baladewa bahwa sepeninggal Suyudana di Astina ada raja yang menduduki istana yaitu Palgunajati. Baladewa marah dan akan melabraknya tetapi dalam peperangan Prabu Baladewa kalah.Sementara itu Duryudana menghadap Batari Durga dan minta agar Dewi Banowati tidak menyenangi Arjuna. Oleh Batari Durga, Suyudana dirias menjadi Arjuna, Dewi Gendari menjadi Semar: Sedangkan Begawan Drona serta Patih Sengkuni menjadi Gareng dan Petruk. Mereka diperintah untuk membunuh Palgunajati yang berada di Keraton Astina.

Namun Suyudana tidak pergi ke Astina, melainkan menuju Madukara ingin merayu Dewi Subadra dan Srikandi. Keinginannya ditolak, kedua istri arjuna itu lari, dan bertemu Prabu Kresna. Oleh raja Dwarawati itu, Dewi Subadra dan Srikandi diajak ke Astina bersama Janaka palsu.

Setelah sampai di Astina, Arjuna dibunuh Kartamarma dan dihadapkan kepada Palgunajati. Akhirnya kedok Duryudana terbongkar, dan Palgunajati kena senjata Kresna, seketika berubah menjadi Arjuna.

Pamuksa
Prabu Pandudewanata yang mempunyai istri Dewi Kunti dan Dewi Madrim, pada suatu ketika Dewi Madrim berkeinginan pesiar naik lembu Nandi kendaraan Sang Hyang Manikmaya.Prabu Pandudewanata karena cinta kasihnya kepada istrinya, lalu berangkat ke kahyangan untuk meminjam lembu Nandi kendaraan Sang Hyang Manikmaya. Mengingat jasa-jasa Pandu, Batara Guru terpaksa mengabulkan permintaan Prabu Pandu, walaupun sesungguhnya kelakuan/tindakan Prabu tersebut menyimpang dari tata kesopanan seorang titah terhadap dewa. Batara Guru amat murka pada Pandudewanata yang secara lancang berani meminjam Lembu Nandi (Andini) demi menuruti permintaan istri yang sedang ngidam. Batara Guru yang dengan terpaksa menyerahkan Lembu Nandi kepada Prabu Pandu, tetapi kutukan, bahwa Pandu akan mati bila anakya lahir.

Ternyata Dewi Madrim melahirkan bayi kembar, Nakula dan Sadewa yang membuat seluruh keluarga istana bergembira dan negara Astina pun tenggelam dalam pesta. Dalam suasana yang menggembirakan itu, tiba-tiba datang utusan dari Pringgondani, Harimba dan Brajadenta mengundang Prabu Pandu ingin syukuran karena tapa bratanya selesai.

Rupanya kedua belah pihak saling salah paham, hingga terjadi peperangan yang kemudian membesar melibatkan antar negara. Dalam peperangan ini Prabu Pandudewanata dan Raja Pringgondani Prabu Arimba tewas dan keduanya muksa.

Dewi Madrim yang mengetahui suaminya telah tewas, ikut bela pati dengan jalan bunuh diri dengan meninggalkan bayi kembar yang selanjutnya diasuh oleh Dewi Kunti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s