Lakon Wayang Part 62


Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga 1
Wahai Dewiku, maukah engkau menjadi istriku..?
Aku tidak peduli siapa pun engkau. Aku terpesona oleh kecantikanmu dan jatuh cinta padamu.
Siapakah engkau dan dari manakah asalmu..? kata Raja Santanu kepada seorang gadis jelita yang berdiri di hadapannya.
Sesungguhnya gadis itu adalah Dewi Gangga, bidadari kahyangan yang turun ke bumi dalam wujud manusia. Parasnya yang cantik, lekuk tubuhnya yang indah, dan tindak-tanduknya yang halus membuat Raja Santanu terpikat dan bangkit gairah asmaranya.
Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh cinta, kekayaan, dan kerajaannya bahkan seluruh
hidupnya kepada gadis jelita itu. Tanpa curiga atas pertanyaan Raja Santanu, gadis itu menjawab, Wahai Raja perkasa, hamba bersedia menjadi istri Paduka asalkan Paduka berjanji memenuhi syarat-syarat hamba.”
“Apakah itu? tanya Raja Santanu tak sabar.
“Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa
sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba.
Kedua, apa pun yang hamba lakukan baik atau buruk, benar atau salah, wajar atau ganjil Paduka tidak boleh menghalang-halangi.
Ketiga, Tuanku tidak boleh marah kepada hamba dengan alasan apa pun.
Keempat, Paduka tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat perasaan hamba tidak enak.
“Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu walau hanya satu hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia berjanji untuk tidak melanggarnya?”
Tanpa berpikir panjang, Raja Santanu yang sedang dimabuk asmara langsung bersumpah akan memenuhi semua syarat yang dikatakan si gadis jelita.
Demikianlah, tanpa mengenal siapa namanya dan tanpa mengetahui dari mana asal-usulnya, Raja Santanu mempersunting gadis jelita yang ditemukannya di tepi Sungai Gangga. Dibawanya gadis itu ke istana dan dinobatkannya menjadi permaisurinya.
Hari demi hari berlalu. Raja Santanu semakin mencintai permaisurinya yang jelita, lebih-lebih karena selain cantik, permaisurinya itu sangat berbakti kepadanya dan halus tutur katanya. Kebahagiaan Sang Raja semakin lengkap ketika tahu permaisurinya mengandung.
Sembilan bulan mereka lewatkan dengan penuh bahagia. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tibalah saatnya Dewi Gangga melahirkan. Sang Dewi pamit kepada suaminya, mengatakan bahwa dia akan pergi menyendiri dan melahirkan di tepi Sungai Gangga. Dia tak mau ditemani siapa pun, tidak juga sang Raja.
Maka pergilah Dewi Gangga seorang diri. Sampai di tepi sungai, dia mencari tempat yang teduh dan terlindung untuk melahirkan. Bayi yang dilahirkannya langsung dibuangnya ke sungai. Setelah membersihkan diri, sang Dewi kembali ke istana dengan wajah berseri-seri, seolaholah tak terjadi apa-apa.
Raja Santanu menyambutnya dengan penuh harap.
Hatinya bahagia akan menyambut sang bayi, buah kasihnya dengan permaisuri yang dicintainya. Tetapi, betapa kecewanya Raja melihat Dewi Gangga datang tanpa sang bayi. Perasaan Baginda campur aduk. Heran, melihat istrinya kembali tanpa sang bayi. Cemas, memikirkan nasib sang bayi. Murka, karena permaisurinya tampak tenang dan tidak merasa bersalah. Raja merasa berdosa, karena tak kuasa berbuat apa pun kecuali diam seribu bahasa.
Tak berani bertanya. Tak berani melanggar sumpah yang telah diucapkannya.
Raja Santanu, yang terlanjur mencintai dan terpesona oleh kecantikan permaisurinya, tak berani bertanya sepatah kata pun. Disambutnya sang Dewi dengan mesra, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan kehidupan seperti biasa.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dewi Gangga kembali hamil dan ketika tiba saatnya melahirkan, sekali lagi dia mohon diri hendak menyepi di tepi Sungai Gangga. Syarat yang diajukannya tetap sama: tak seorang pun boleh mengikutinya.
Hal yang sama terulang. Sang Dewi kembali ke istana tanpa menggendong bayi. Sang Raja, dengan perasaan tertekan, menyambut istrinya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Demikianlah, kejadian itu berulang sampai tujuh kali. Tetapi, pada kehamilan yang kedelapan, Raja Santanu tak kuasa menahan diri lagi. Sudah lama ia bertanya-tanya dalam hati, siapa dan dari mana asal perempuan kejam yang menjadi istrinya itu. Di mana semua anak yang telah dilahirkannya?
Sungguh kejam ibu yang menelantarkan bayi-bayinya.
Diam-diam Raja membuntuti istrinya ke tepi Sungai Gangga. Alangkah terkejutnya Baginda melihat sang Dewi mengangkat bayi yang baru dilahirkannya dan siap menceburkannya ke dalam sungai. Tanpa berpikir panjang dan lupa akan sumpahnya, Baginda berteriak lantang,
Hentikan..!
Ini pembunuhan kejam..!
Rupanya kau tega membunuh bayi-bayimu yang tidak berdosa..!
Sambil berteriak demikian, Raja mencengkeram tangan Dewi Gangga, menahannya agar tidak melaksanakan perbuatan terkutuk itu.
“Wahai, Raja yang Agung! Kau telah melanggar janjimu padaku karena hati dan perasaanmu telah tertambat pada bayi ini. Itu artinya, engkau tidak menginginkan aku lagi.
Baiklah, aku tidak akan membunuh bayi ini..!
Tetapi sebelum aku pergi dan sebelum engkau menyimpulkan sesuatu tentang aku, dengarkanlah ceritaku ini.
Aku adalah bidadari yang dipaksa memainkan lakon duka ini karena sumpah Resi Wasistha. Sesungguhnya aku ini Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia.
Resi Wasistha telah menimpakan kutuk-pastu kepada delapan wasu yang akan terpaksa lahir ke bumi ini. Para wasu itu kemudian memohon agar aku bersedia menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, Raja Santanu, aku melahirkan mereka ke dunia, sebagai anak-anakmu.
Sebagai balas budi karena telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang mulia tinggi di alam baka.
Sekarang, aku akan membawa bayi ini dan mengasuhnya sampai dia cukup besar dan tiba waktunya untuk kuserahkan kembali kepadamu. Anak ini akan menjadi lambang dan kenangan atas cinta kita berdua.”
Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayinya. Kelak, bayi itu dikenal dengan nama Bhisma dan menjadi kesatria sakti yang termasyhur.
***

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga 2
Terkisahlah bagaimana asal mulanya hingga para wasu itu menerima kutuk-pastu dari Resi Wasistha. Pada suatu hari, kedelapan wasu itu berjalan-jalan di pegunungan bersama istri-istri mereka. Di pegunungan itu
terdapat pertapaan Resi Wasistha. Mereka masuk ke pertapaan itu, tetapi sang Resi tidak ada. Di pelatarannya, seorang wasu melihat Nandini, sapi kepunyaan sang Resi, sedang makan rumput. Nandini tampak indah, sehat dan menawan.
Istri-istri para wasu itu terpesona oleh keelokan Nandini. Salah seorang dari mereka meminta suaminya menangkap sapi itu.
Suaminya berkata, Apa gunanya sapi itu bagi kita para Dewa? Nandini adalah kepunyaan Resi Wasistha yang menguasai daerah ini. Karena kesaktian sang Resi, susunya akan membuat orang yang meminumnya hidup abadi.
Tapi, apa gunanya bagi kita karena sebagai dewa kita sudah ditakdirkan hidup abadi?
Janganlah kita serakah. Biarkan sapi itu tenang merumput. Lagi pula, kalau celaka kita bisa kena kutuk-pastu dan murka Resi Wasistha  hanya karena menuruti hasrat dan kesenangan belaka.”
Tetapi istrinya tak mengindahkan hal itu. Ia berkata, Aku punya teman yang sangat kukasihi. Dia manusia
biasa. Aku ingin memberikan susu Nandini kepadanya agar ia bisa hidup abadi. Demi dialah aku memintamu menangkap Nandini. Sebelum Resi Wasistha kembali ke pertapaan ini, kita sudah pergi jauh dari sini sambil membawa sapi itu. Lakukanlah demi keinginanku, karena permintaanku ini sangat berharga bagiku.”
Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu melarikannya jauh-jauh. Ketika Resi Wasistha kembali ke pertapaan, Nandini dan anaknya tak dilihatnya. Sapi kesayangannya itu hilang bersama seekor anaknya. Sapi yang selama ini memberinya hidup dan tak dapat dipisahkan kegunaannya dalam upacara persembahan setiap hari.
Berkat kekuatan yoganya, sang Resi mengetahui apa yang telah terjadi. Alangkah murkanya dia. Dengan lantang ia mengucapkan kutuk-pastu, mengutuk para wasu.
Karena kutukan itu, para wasu akan terlahir ke dunia dan hidup sebagai manusia yang menderita. Itulah hukuman bagi mereka yang telah merampas satu-satunya harta berharga miliknya.
Ketika para wasu tahu bahwa mereka kena kutukpastu, mereka sangat menyesal. Tapi… penyesalan selalu
datang terlambat. Segera mereka kembali ke pertapaan Resi Wasistha, mengembalikan Nandini dan anaknya, lalu bersimpuh di depan sang Resi, memohon ampun atas dosa mereka.
Resi Wasistha berkata, “Kutuk-pastu telah terucapkan dan akan berlaku pada waktunya. Wasu yang melarikan sapiku akan hidup lama di dunia dalam kemewahan dan kesenangan duniawi, tetapi wasu-wasu lain akan terlepas dari kutuk ini segera setelah dilahirkan sebagai manusia.
Aku tak bisa menarik kutukanku, tetapi aku bisa melunakkannya.”
Kemudian Resi Wasistha bersemadi. Diatur napasnya, ditenangkan pikirannya, dan diredakan amarahnya.
Sesungguhnya, seorang resi yang sedang ber-tapabrata memang bisa memperoleh kesaktian untuk mengutukpastu.
Tetapi, setiap kali ia menggunakan kesaktiannya untuk melontarkan kutuk-pastu, derajat kesucian yang
telah berhasil dicapainya akan berkurang.
Para wasu merasa lega karena ada kemungkinan kutukan itu akan dilunakkan. Kemudian pergilah mereka
menghadap Dewi Gangga dan memohon, Kami datang memujamu, Batari. Kami mohon, sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Kami mohon agar Batari bersedia turun ke mayapada dan menikah dengan seorang raja. Kelak, satu per satu dari kami akan terlahir lewat rahim Paduka.
Dan, segera setelah kami lahir, buanglah kami ke dalam sungai agar kami terbebas dari kutuk-pastu.”
Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi, di tepi Sungai Gangga. Di sana ia bertemu dengan Raja Santanu yang kemudian menyuntingnya menjadi permaisurinya.
***
Kembali ke kisah Dewi Gangga yang meninggalkan Raja Santanu. Sang Dewi menghilang bersama bayinya yang kedelapan dan tidak pernah muncul kembali. Sejak itu, sang Raja meninggalkan kesenangan duniawi dan memerintah kerajaannya dengan lebih bijaksana serta didasari semangat kerokhanian.
Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi Sungai Gangga. Ia melamun, mengenangkan saat-saat pertemuannya dengan Dewi Gangga. Sungguh kenangan yang sangat indah namun meninggalkan kepedihan di hati.
Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki yang dikelilingi aura kemegahan dan keagungan dari Dewendra, raja dari segala dewa dan batara, anak kecil yang sedang tumbuh menjadi remaja. Anak itu sedang bermain panah.
Berkali-kali ia melepas anak panah-anak panah dari busurnya, mengarahkannya ke seberang Sungai Gangga.
Tak terlihat siapa-siapa di dekatnya. Begitu pula di seberang sungai. Raja Santanu takjub dan terharu melihat ketampanan dan ketangkasan anak itu. Raja mendekati anak itu, ingin bertanya padanya. Tetapi… tiba-tiba dia melihat Dewi Gangga muncul di hadapannya.
Dewi Gangga berkata dengan lemah lembut, Wahai, Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Dia kunamai Dewabrata dan kuasuh hingga mahir berolah senjata, menguasai ilmu perang dan memiliki kesaktian yang setara dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda dan falsafah Wedanta dari Resi Wasistha. Kecuali itu, ia juga menguasai kesenian, kebudayaan dan ilmu gaib Sanjiwini yang dikuasai Sukra. Sambutlah anak ini. Terimalah dan asuhlah dalam istanamu. Kelak dia akan menjadi kesatria besar, ahli siasat perang dan senapati agung.”
***

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma

Dengan hati bahagia Raja Santanu menyambut putranya dan membawanya ke istana. Anak yang dikelilingi aura keagungan dan menunjukkan watak-watak kesatria sejati itu dinobatkannya menjadi putra mahkota. Dewabrata diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota yang bertugas mendampingi Raja dalam memerintah. Dia pula yang akan mewarisi kerajaan ayahnya, kelak setelah ayahnya mengundurkan diri dengan bijaksana.
Empat tahun berlalu. Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi Sungai Yamuna. Tiba-tiba angina berhembus dan terciumlah olehnya keharuman yang memenuhi udara. Raja mencari sumber keharuman yang suci itu dan melihat seorang gadis cantik jelita, secantik bidadari kahyangan, duduk melamun di tepi sungai.
Sejak Dewi Gangga meninggalkannya, Raja Santanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsunya dan berusaha hidup dengan sepenuhnya mengutamakan kebajikan. Tetapi, kecantikan wajah dan keharuman tubuh gadis itu membuatnya lupa akan tapabrata-nya. Hatinya bergejolak, dilanda cinta asmara yang meluap-luap. Raja Santanu meminang gadis itu agar mau menjadi permaisurinya. Wahai gadis jelita, siapakah namamu dan dari mana asalmu?
Aku terpesona oleh kecantikanmu. Maukah engkau kupersunting menjadi istriku..? kata sang Raja.

Berkatalah sang juwita, Daulat Tuanku, nama hamba Satyawati. Hamba seorang penangkap ikan. Ayah hamba kepala kampung nelayan di sini. Hamba persilakan Paduka membicarakan permintaan itu dengan ayah hamba. Semoga dia menyetujuinya. Satyawati mengantarkan sang Raja ke rumah orangtuanya di kampung nelayan yang agak jauh dari tempatnya mencari ikan. Sampai di rumah, sang Raja dipersilakan untuk mengutarakan niatnya.
Kata Raja Santanu, Wahai Bapak nelayan, aku temukan putrimu yang jelita ini di tepi sungai sedang mencari ikan. Aku sangat terpesona oleh kecantikan dan tutur katanya yang lembut. Aku ingin mempersunting dia menjadi istriku dan memboyongnya ke istanaku.”
Ayah gadis itu orang yang cerdik. Ia menyembah Raja Santanu dan berkata, Daulat Tuanku. Memang sudah waktunya anak hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka Tuanku adalah raja yang mulia dan berkedudukan jauh di atas dia. Hamba tidak keberatan jika anak hamba Paduka persunting. Tetapi, sebelum Satyawati hamba serahkan, Paduka harus berjanji.”
Kata Raja Santanu, “Apa pun syarat yang kauajukan, aku akan memenuhinya.”
Kepala kampung nelayan itu memohon, Jika anak hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan kerajaan ini kepadanya.”
Meskipun tergila-gila pada anak gadis kepala kampong nelayan itu, namun Raja Santanu tak dapat menyanggupi persyaratan itu. Ia sadar, jika dia memenuhi semua syarat yang diajukan ayah si gadis, berarti ia harus menyingkirkan Dewabrata yang sudah dinobatkannya menjadi Yuwaraja dan berhak atas tahta kerajaannya kelak. Terlalu besar yang harus ia pertaruhkan untuk mempersunting Satyawati. Sungguh tidak pantas dan memalukan, jika ia menuruti kata hatinya. Setelah bergulat dengan perasaannya, Raja Santanu kembali ke istananya di Hastinapura.
Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapatrapat.
Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan oleh Dewabrata.
Mengetahui hal itu, suatu hari Dewabrata bertanya kepada ayahnya, Ayahanda mempunyai segala sesuatu yang mungkin diinginkan oleh seorang manusia.
Tetapi mengapa Ayahanda kelihatan begitu murung?
Apa sebabnya Ayahanda berduka demikian rupa? Wajah Paduka seakan-akan menyimpan rahasia dan menanggung beban
berat.”
Jawab Baginda, Anakku sayang, apa yang kau katakan itu benar. Sesungguhnya Ayahanda sedang tersiksa oleh perasaan duka dan cemas. Engkau putraku satu-satunya.
Engkau selalu sibuk mengurus kerajaan dan melatih para prajurit agar mahir berperang. Hidup di dunia ini tidak pasti dan tidak kekal. Perang dan damai silih berganti tiada henti. Jika kau mati tanpa punya anak, maka garis keturunan kita akan putus, habis.
“Sudah tentu seorang anak apalagi anak tunggal sama berharganya dengan seratus anak. Para tua-tua cendekia yang mahir akan makna kitab-kitab suci berkata, Di mayapada atau di dunia ini, punya anak hanya seorang sama dengan tidak punya anak sama sekali. Sungguh sayang jika kelangsungan hidup keluarga dan keturunan kita hanya bergantung pada seorang saja. Sebenarnya, Ayahanda memikirkan kelangsungan garis keluarga dan keturunan kita sampai beratus-ratus tahun kelak. Itulah yang membuatku gelisah dan berduka.”
Raja Santanu berusaha keras untuk menyembunyikan isi hatinya yang sesungguhnya karena ia malu pada putranya.
Dewabrata yang bijaksana dan setia kepada ayahnya menyadari hal itu. Ia tidak mau mendesak agar ayahnya mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakannya dan menyebabkannya berlaku seperti itu, selalu murung dan gelisah.
Dewabrata kemudian bertanya kepada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu bahwa belum lama ini ayahnya berkenalan dengan seorang gadis cantik penangkap ikan di tepi Sungai Yamuna, bahwa ayahnya kemudian meminang gadis itu, dan bahwa ayahnya tak sanggup memenuhi syarat-syarat yang diajukan ayah si gadis.
Mendengar itu, Dewabrata memutuskan untuk menemui kepala kampung nelayan itu dan meminang putrinya atas nama ayahnya.
Kepala kampung nelayan itu berpegang teguh pada pendiriannya, Wahai sang Putra Mahkota, sesungguhnya anak hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda Paduka.
Karena itu, sungguh wajar jika kelak anaknya dinobatkan menjadi raja, menggantikan ayahanda Paduka. Apakah Tuanku sependapat dengan hamba?
“Hamba tahu, Paduka telah dinobatkan menjadi yuwaraja dan dengan sendirinya kelak akan menggantikan beliau. Demi anak hamba, jangan sampai hal itu terjadi.”
Kata Dewabrata, Baiklah. Ingat baik-baik kata-kataku ini: Jika anakmu melahirkan seorang anak lelaki, anak itu kelak akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela turun takhta
demi keinginan ayahanda Raja Santanu untuk melanjutkan keturunannya.”
Mendengar kata-kata Dewabrata, nelayan itu bersujud, Wahai Putra Mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, apa yang Tuan lakukan sungguh berani dan belum pernah dilakukan orang sebelumnya. Tuanku seorang pahlawan besar. Silakan Tuanku membawa anak hamba untuk dipersembahkan kepada ayahanda Paduka.
“Hamba yakin, Tuanku pasti akan memenuhi janji.
Tetapi, apa yang dapat hamba pakai sebagai pegangan yang menguatkan harapan hamba?
Bagaimana putraputra yang lahir sebagai keturunan Tuanku akan rela menyerahkan hak-hak mereka sebagai ahli waris kerajaan?
Putra-putra Tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar seperti Tuanku sendiri. Tuanku pasti sulit menjelaskannya kepada mereka. Pasti sulit menghalangi keinginan mereka untuk kembali memiliki kerajaan entah dengan kekerasan atau secara baik-baik. Inilah keraguan hati hamba yang selalu membuat hamba cemas.”
Mendengar pertanyaan yang sangat sulit dijawab itu, Dewabrata dengan penuh niat suci memutuskan untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi, demi ayahnya. Kemudian ia bersumpah di hadapan ayah si gadis penangkap ikan, Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan kerajaan dan untuk kesucian.”
Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu, Bhisma… bhisma… bhisma….”
Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan benar-benar melaksanakannya. Dewabrata memenuhi syarat-syarat itu.
Sejak itu, Dewabrata melepas gelar yuwaraja dan tidak lagi berkedudukan sebagai putra mahkota. Kemudian dia digelari dengan nama Bhisma, sebagai penghormatan akan kesetiaannya kepada ayahnya dan keteguhan hatinya yang suci.
Demikianlah, Dewabrata putra Dewi Gangga memboyong Satyawati ke Hastinapura untuk diserahkan kepada ayahnya, Baginda Raja Santanu.
Dari perkimpoiannya dengan Satyawati, Raja Santanu mempunyai dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya.
Chitranggada meninggal lebih dulu daripada adiknya, tanpa meninggalkan seorang putra pun; sedangkan Wichitrawirya mempunyai dua putra, yaitu Dritarastra dan Pandu dari dua permaisurinya, Ambika dan Ambalika setelah di peristri oleh Abyasa.
Dritarastra berputra seratus orang; mereka dikenal sebagai Kaurawa. Pandu berputra lima orang, mereka termasyhur sebagai Pandawa. Adapun Bhisma, sebagai kakek-paman dan sesepuh anak-cucu Raja Santanu, hidup sampai usia tua, disegani dan dihormati oleh seluruh sanak keluarganya. Kelak Bhisma meninggal sebagai senapati dalam perang besar Bharatayuda di padang Kurukshetra.
***

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Amba, Ambika, dan Ambalika 1
Chitranggada, putra Satyawati, tewas dalam pertempuran melawan gandarwa. Karena ia tewas dalam peperangan tanpa memiliki anak, maka Wichitrawirya, adiknya, dinobatkan menjadi raja menggantikannya. Tetapi, karena waktu naik takhta dia belum dewasa, tampuk pemerintahan untuk sementara dipegang oleh kakaknya dari lain ibu, yaitu Dewabrata alias Bhisma, sampai dia dewasa.
Ketika Wichitrawirya telah cukup dewasa untuk menikah, Bhisma mencarikan calon istri yang pantas bagi adiknya itu. Ia mendengar bahwa tiga putri Raja Kasi akan memilih calon suami menurut adat-istiadat kaum bangsawan, yaitu dengan mengadakan sayembara. Bhisma memutuskan mengikuti sayembara itu agar bisa memboyong putri-putri Raja Kasi untuk adiknya.
Pada hari sayembara, di alun-alun Kerajaan Kasi berkumpul putra-putra mahkota dari Kerajaan Kosala, Wangsa, Pundra, Kalingga dan lain-lain. Mereka semua berminat mempersunting putri-putri Raja Kasi yang sangat terkenal kecantikan dan keanggunannya. Karena ada tiga putri yang diperebutkan, sayembara itu diselenggarakan
secara besar-besaran. Meskipun datang dengan semangat tinggi, banyak juga putra mahkota yang merasa cemas, takut menanggung malu jika gagal memenangkan sayembara; lebih-lebih ketika melihat Bhisma hadir di antara mereka.
Bhisma terkenal sakti dan mahir menggunakan segala macam senjata perang. Kecuali itu, karena kesetiaan dan keteguhan hatinya, semua orang segan padanya.
Semula para putra mahkota menyangka Bhisma datang hanya untuk menyaksikan jalannya sayembara karena pangeran itu telah bersumpah takkan pernah menikah.
Tetapi, ketika mengetahui bahwa Bhisma mengikuti sayembara, sangatlah kecut hati mereka. Tak ada yang menyangka bahwa Bhisma datang untuk maksud yang sama. Dan tak seorang pun tahu bahwa ia datang demi saudaranya yang lebih muda, Wichitrawirya.
Para putra mahkota itu berbisik-bisik, membicarakan Bhisma. Seseorang berkata, Dia memang keturunan Bharata yang sakti dan bijaksana. Sayang sekali, ia lupa diri. Tak sadar bahwa sudah tua dan lupa akan sumpahnya untuk hidup sebagai brahmacarin yang seumur hidup tidak akan kimpoi. Untuk apa dia ikut sayembara ini?
Dasar pangeran tak tahu malu!”
Putri-putri Kasi yang hendak memilih calon suami mereka sama sekali tak menghiraukan kehadiran Bhisma. Mereka menganggapnya pemuda tua yang tidak menarik.
Mereka berbisik-bisik mengolok-olok jagoan tua itu sambil membuang muka, tak mau memandangnya. Bhisma, yang merasa diejek dan dipermainkan, menjadi berang. Ditantangnya semua putra mahkota untuk berperang-tanding dengannya. Tak ada yang berani menolak meskipun sadar semua takkan mampu mengalahkan kesatria tua itu. Tak ada yang mau dipermalukan di depan putri-putri jelita idaman mereka.
Satu per satu mereka berperang-tanding melawan Bhisma. Semua kalah. Segera setelah mengalahkan semua putra mahkota, Bhisma menyambar ketiga putri jelita itu dan melarikan mereka dengan keretanya yang termasyhur.
Begitu kencang laju kereta itu hingga seakan-akan mereka terbang meninggalkan gelanggang sayembara, menuju Hastinapura. Belum lagi jauh dari arena sayembara Kerajaan Kasi, mereka dihadang Raja Salwa dari Kerajaan Saubala. Raja itu menantang Bhisma untuk bertarung.
Sebenarnya, Raja Salwa sudah menjalin kasih dengan Amba dan Amba yang jelita telah memilih Salwa sebagai calon suaminya. Setelah perkelahian sengit, Salwa takluk.
Menyerah. Bhisma mengangkat senjata, hendak membunuh, tetapi dicegah oleh Amba. Karena permintaan putri itu, Bhisma urung membunuh Salwa.
Setibanya di Hastinapura, Bhisma segera mempersiapkan pernikahan Wichitrawirya. Ketika tamu-tamu mulai berdatangan, Amba berkata kepada Bhisma dengan nada mencemooh, Wahai putra Dewi Gangga yang masyhur, Tuan pasti tahu yang terkandung dalam kitab-kitab suci yang kita hormati dan muliakan. Seharusnya Tuan juga tahu bahwa aku telah memilih Salwa, Raja Kerajaan Saubala, untuk menjadi suamiku. Tuan memaksa diriku menerima pernikahan ini. Bila Tuan mengerti akan hal ini, bertindaklah sesuai dengan ajaran kitab suci.”
Sementara pernikahan Ambika dan Ambalika, adik-adik Amba, dengan Wichitrawirya berlangsung dengan baik dan penuh kebesaran, Bhisma mengantarkan Amba kepada
Raja Salwa. Hal itu dilakukan Bhisma karena memahami maksud putri itu dan demi menaati apa yang tertulis dalam kitab suci. Diiringkan sejumlah pengawal kehormatan yang pantas, diantarkannya Amba ke istana Kerajaan Saubala.
Sampai di sana, Bhisma menghadap Raja Salwa dan menyerahkan Amba kepadanya. Segera sesudah itu, pangeran tua itu kembali ke Hastinapura.
Dengan perasaan gembira dan mesra, Amba menceritakan semua yang telah terjadi kepada Raja Salwa. Setelah itu ia berkata, Sejak semula hamba telah tetapkan hati untuk mengabdikan diri, lahir dan batin kepada Tuanku.
Pangeran Bhisma menerima penolakan hamba dan mengantarkan hamba ke hadapan Tuanku. Jadikanlah hamba permaisuri Tuanku menurut ajaran kitab-kitab suci sastra.”
Maharaja Salwa menjawab, Bhisma telah menaklukkan aku dan telah melarikan engkau di depan umum. Aku merasa sangat terhina. Karena itu, aku tidak bisa menerima engkau menjadi istriku. Sebaiknya engkau kembali kepada Bhisma dan lakukan apa yang ia perintahkan.”
Setelah berkata demikian, Raja memanggil beberapa pengawal dan memerintahkan mereka untuk mengawal Amba kembali kepada Bhisma.
Sampai di Hastinapura, Amba menceritakan apa yang telah terjadi kepada Bhisma. Pangeran tua itu kemudian membujuk adiknya agar mau menikahi Amba. Tetapi, Wichitrawirya tegas-tegas menolak, karena putri itu telah memberikan hatinya kepada orang lain. Penolakan Wichitrawirya merupakan beban berat bagi Bhisma, karena dia sendiri telah bersumpah tidak akan pernah menikah. Tak mungkin dia melanggar sumpahnya sendiri. Lebih-lebih karena ia keturunan bangsawan yang terhormat. Ia iba kepada Amba, tetapi tak kuasa berbuat apa-apa. Beberapa kali dicobanya membujuk Wichitrawirya, tetapi adiknya itu tetap pada pendiriannya. Tak ada jalan lain. Ia terpaksa menasihati Amba agar kembali lagi kepada Salwa.
Hal itu sungguh sangat berat bagi Amba. Karena tak berani kembali ke Kerajaan Saubala, selama beberapa waktu Amba terpaksa bersembunyi di Hastinapura. Akhirnya dengan perasaan berat, Amba mencoba kembali kepada Raja Salwa.

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Amba, Ambika, dan Ambalika 2
Sekali lagi, dengan suara yang keras dan tegas, Raja Salwa menolak Amba.
Demikianlah, Amba yang jelita kemudian terpaksa melewatkan hari-harinya dalam kemurungan. Hampir enam tahun lamanya ia hidup tanpa cinta, penuh duka, dan tanpa harapan. Parasnya yang segar dan jelita menjadi layu dan kisut. Hatinya yang menderita berubah, berisi kepahitan dan kebencian kepada Bhisma yang menurutnya telah menghancurkan hidupnya. Sia-sia ia berusaha mencari seorang kesatria tangguh untuk bertarung melawan Bhisma dan kalau bisa … sekaligus membunuh pangeran tua itu. Tak seorang kesatria pun berani bertarung dengan Bhisma yang termasyhur sakti dan perkasa.
Akhirnya, Amba pergi ke hutan dan bertapa dengan sangat tekun. Ia memohon kepada Dewa Subrahmanya agar membantunya menghancurkan Bhisma. Dewa itu menghadiahkan seuntai kalung bunga teratai segar yang sudah diberi restu-pastu. Orang yang berkalung bunga teratai segar itu akan menjadi sakti dan dengan kesaktiannya ia akan mampu mengalahkan Bhisma.
Amba menerima kalung bunga teratai itu. Kemudian sekali lagi ia mencari seorang kesatria yang mau memakai kalung bunga hadiah Dewa Subrahmanya, dewa sakti berwajah enam. Sayang sekali, tak seorang kesatria pun mau menerimanya. Tak seorang kesatria pun berani melawan Bhisma yang termasyhur kesaktiannya. Kemudian Amba menghadap Raja Drupada. Raja ini juga menolaknya.
Akhirnya, Amba meninggalkan kalung bunga itu di pintu gerbang istana Raja Drupada lalu pergi mengembara ke dalam hutan.
Kepada beberapa pertapa yang ditemuinya di hutan, Amba menceritakan pengalamannya yang menyedihkan itu. Mereka menasihatinya agar menghadap Parasurama.
Amba menuruti nasihat mereka, ia pergi menghadap Parasurama.
Mendengar cerita Amba, Parasurama merasa kasihan. Ia berkata, Wahai anakku yang jelita, apa yang kaukehendaki sekarang? Aku dapat meminta Salwa untuk mengawinimu jika engkau mau.”
Amba menjawab dengan hati teguh, Tidak, saya tidak menginginkan itu lagi. Saya tak punya hasrat lagi untuk menikah atau mencari kebahagiaan. Satu-satunya yang saya inginkan dalam hidup ini adalah membalas dendam kepada Bhisma. Saya bersumpah, yang saya inginkan tak lain hanyalah kematian Bhisma.”
Parasurama mendengarkan kata-kata Amba dengan penuh perhatian. Ia sendiri amat membenci golongan kesatria.
Karena itu, ia memutuskan untuk menolong Amba dan bertarung melawan Bhisma. Pertempuran mereka sangat hebat dan berlangsung lama. Dua-duanya setara kesaktian dan kemahirannya dalam olah senjata. Tetapi, akhirnya Parasurama harus mengakui keunggulan Bhisma.
Setelah dikalahkan Bhisma, ia menemui Amba dan berkata, Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkan dan menghancurkan Bhisma, tetapi aku kalah. Satu-satunya jalan bagimu adalah kembali kepadanya dan menyerahkan nasibmu kepadanya. Hanya itu
yang dapat kaulakukan.”
Dengan membawa duka, sakit hati, dendam, dan kebencian, akhirnya Amba pergi ke kaki Gunung Himalaya untuk bertapa. Dengan khusyuk ia bertapa dan terusmenerus melakukan penyucian diri agar dapat menerima karunia Batara Shiwa karena di dunia tak ada lagi manusia yang bisa menolongnya.
Setelah lama bertapa dengan sangat khusyuk, Batara Shiwa muncul di hadapannya dan memberinya restu: dalam inkarnasinya yang akan datang, Amba dapat membunuh Bhisma’.
Amba tidak sabar menunggu hingga masa inkarnasinya yang akan datang. Karena itu, ia membuat api unggun besar dan melakukan satya, mengorbankan diri dengan terjun ke dalam api yang berkobar-kobar. Dengan satya, badannya akan hangus terbakar.
Atas pertolongan Batara Shiwa, Amba berinkarnasi, terlahir kembali sebagai putri Raja Drupada. Ajaib! Beberapa tahun kemudian ia menemukan kalung bunga teratai yang dahulu ia gantungkan di pintu gerbang istana Raja Drupada. Kalung bunga itu masih elok dan segar, seakan-akan tak pernah disentuh orang. Maka dikalungkanlah untaian bunga itu di lehernya. Melihat perbuatannya yang gegabah itu, Raja Drupada menjadi cemas karena ingat bagaimana dahulu Amba mengalungkan untaian bunga itu di situ sebelum meninggalkan istana Hastinapura dengan hati penuh dendam. Putri yang mendendam itu kemudian bertapa di hutan yang lengang dan sunyi.
Begitulah, putri Raja Drupada mengambil untaian bunga itu dan mengalungkannya di lehernya. Ajaib! Lama kelamaan, kelamin putri Raja Drupada itu berubah. Ia menjadi seorang laki-laki dan kemudian termasyhur dengan nama Srikandi, artinya pahlawan perang.”
Kelak dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi bertempur di depan kereta Arjuna melawan Bhisma. Dalam perang di padang Kurukshetra itu, Bhisma tahu benar bahwa Amba telah lahir kembali dalam wujud Srikandi, yakni perempuan yang berubah menjadi laki-laki dan karena penampilannya yang tetap seperti wanita, menurut tata krama, aturan perang dan sumpahnya sendiri, dalam keadaan apa pun Bhisma tidak boleh melawannya. Dalam keadaan apa pun Bhisma tidak akan bertempur melawan Srikandi yang termasyhur dan gagah berani.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s