Lakon Wayang Part 63


Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Ilmu Gaib Sanjiwini 1
Pada jaman dahulu kala, sering terjadi pertempuran-pertempuran panjang dan sengit antara para dewata dengan para raksasa. Mereka berebut ingin menguasai ketiga dunia. Para dewata dipimpin seorang resi bernama Wrihaspati yang sangat terkenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang kitab-kitab Weda, sedangkan para raksasa dipimpin Mahaguru Sukra yang arif bijaksana.

Wrihaspati dan Sukra sama-sama ahli perang yang sangat termasyhur. Tetapi, Sukra memiliki keunggulan yang sangat mengerikan, yaitu ilmu gaib Sanjiwini yang dapat menghidupkan siapa saja yang sudah mati. Jadi, setiap kali ada raksasa mati di medan pertempuran, Sukra dapat menghidupkannya lagi. Begitu berkali-kali, sehingga jumlah mereka tak pernah berkurang dan mereka dapat melanjutkan perang melawan para dewata. Akibatnya, para dewata selalu kalah melawan para raksasa.
Akhirnya, para dewata berunding, mencari akal untuk mengalahkan para raksasa. Diputuskanlah untuk menemui Kacha, putra Wrihaspati, dan meminta bantuannya.

Mereka berharap Kacha bisa menawan hati Sukra dan membujuknya agar ia diijinkan menjadi murid mahaguru itu. Dengan menjadi murid Sukra, para dewata berharap Kacha bisa menguasai ilmu gaib Sanjiwini, dengan cara mulia atau cara curang, sehingga para dewata bisa terhindar dari kekalahan terus-menerus.
Kacha menyanggupi permintaan para dewata itu. Ia lalu pergi menghadap Mahaguru Sukra yang tinggal di istana Raja Wrishaparwa, raja para raksasa.
Sampai di hadapan mahaguru itu, Kacha memberi salam hormat lalu berkata, Hamba ini cucu Resi Angiras dan anak Resi Wrihaspati. Hamba telah bersumpah menjadi seorang brahmacharin dan ingin menuntut ilmu di bawah asuhan Yang Mulia Mahaguru.”
Sesuai adat, seorang guru yang bijaksana tidak boleh menolak murid yang ingin berguru kepadanya. Maka Mahaguru Sukra berkata, Kacha, engkau adalah keturunan keluarga baik-baik. Aku terima kau sebagai muridku.
Dan ingatlah, aku terima kau karena aku ingin menunjukkan hormatku kepada Resi Wrihaspati, ayahmu.”
Demikianlah, Kacha pun menjadi murid Mahaguru Sukra. Semua tugas kewajiban yang diberikan oleh gurunya dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu tugasnya adalah menghibur putri Mahaguru Sukra yang bernama Dewayani. Mahaguru itu hanya memiliki seorang anak. Tak heran, Dewayani menjadi tumpahan kasih sayangnya. Semua keinginannya selalu dikabulkan.
Kacha diperintahkan menghibur Dewayani dengan menyanyi, menari atau mengajaknya bermain. Lama kelamaan, Kacha tertarik kepada putri itu. Tetapi, karena ia telah bersumpah menjadi brahmacharin yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk belajar ilmu agama di bawah bimbingan seorang guru dan mengamalkan segala kebajikan hidup tanpa menikah, ia menahan diri dan berusaha keras untuk tidak melanggar sumpahnya.
Sementara itu, para raksasa yang mengetahui bahwa pemimpin mereka mengambil anak Wrihaspati sebagai murid merasa cemas dan curiga. Jangan-jangan niat Kacha tidak tulus berguru. Jangan-jangan sebenarnya Kacha ingin mencari kesempatan untuk membujuk gurunya agar memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini. Karena itu, mereka berunding, mencari akal untuk membunuh Kacha.
Pada suatu hari, seperti biasa Kacha menggembalakan sapi-sapi gurunya ke padang rumput. Tiba-tiba datang beberapa raksasa, mereka menyergapnya lalu membunuhnya.
Mayat Kacha dicincang dan dibiarkan menjadi makanan anjing.
Sore harinya, sapi-sapi itu pulang ke kandang tanpa Kacha. Dewayani yang melihat hal itu merasa cemas. Ia segera menemui ayahnya. Katanya sambil menangis tersedu-sedu, Matahari telah terbenam, dan pedupaan untuk pemujaan malam Ayahanda telah dinyalakan, tetapi Kacha belum pulang. Sapi-sapi gembalaannya sudah pulang ke kandang. Ananda khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpa Kacha. Tolonglah dia, Ayah. Ananda sangat mencintainya dan tak dapat hidup tanpa dia.”
Mendengar permohonan putri kesayangannya, Mahaguru Sukra segera mengucapkan mantra. Dengan kesaktiannya, ia tahu Kacha sudah mati. Karena itu, untuk menghidupkan kembali dan memanggil pemuda itu, ia mengucapkan mantra gaib Sanjiwini. Seketika itu Kacha hidup kembali dan berada di hadapan mereka dengan wajah tersenyum. Dewayani bertanya, mengapa ia terlambat pulang. Kacha bercerita, ia diserang dan dibunuh para raksasa ketika sedang menggembalakan sapi. Tetapi, bagaimana ia bisa hidup kembali dan berada di hadapan mereka, ia tidak bisa menerangkannya.
Para raksasa kecewa melihat Kacha hidup kembali. Mereka terus memata-matai pemuda itu, mencari kesempatan untuk membunuhnya.
Suatu hari, Kacha pergi ke hutan, mencari bunga yang langka untuk Dewayani. Ketika sedang berada di dalam hutan lebat, ia disergap para raksasa lalu dibunuh. Mayatnya dicincang, dibakar, lalu abunya dibuang ke laut. Berhari-hari Dewayani menunggu, tetapi Kacha tak pulang-pulang. Akhirnya putri itu menghadap ayahnya dan mengadukan hal itu kepadanya. Sekali lagi, Resi Sukra menggunakan ilmu gaib Sanjiwini dan memanggil Kacha. Pemuda itu hidup kembali.
Para raksasa semakin geram. Ketika ada kesempatan, untuk ketiga kalinya mereka membunuh Kacha. Dengan cerdik mereka membakar mayatnya, lalu mencampurkan abunya ke dalam minuman anggur yang mereka persembahkan kepada Resi Sukra. Tanpa curiga, pemimpin mereka meminum anggur itu. Sore harinya, sapi-sapi itu pulang kandang tanpa gembalanya. Sekali lagi Dewayani menghadap ayahnya, menangis dan memohon agar ayahnya memanggil dan menghidupkan kembali Kacha.
Resi Sukra menghibur anaknya, Walaupun Ayah sudah dua kali menghidupkan Kacha, rupa-rupanya para raksasa sudah bertekad membunuhnya. Wahai, Anakku, kematian adalah hal biasa. Sungguh tidak pantas orang yang berjiwa besar seperti engkau menangisi kematiannya. Nikmatilah hidupmu yang dilimpahi berkah kegembiraan, kecantikan dan kemurahan hati serta penuh damai di dunia.”
Dewayani tak merasa terhibur oleh kata-kata ayahnya. Ia sangat mencintai Kacha. Demikianlah, sejak dunia tercipta, nasihat resi yang paling bijaksana pun tak pernah bisa menghilangkan duka hati seorang wanita yang kehilangan kekasihnya.
Dewayani berkata, Kacha, cucu Angiras dan putra Wrihaspati adalah pemuda yang tidak berdosa. Ia telah menyerahkan diri untuk melayani kita. Aku mencintainya sedalam lubuk hatiku. Tetapi sekarang ia mati dibunuh. Hidupku menjadi hampa dan tanpa cinta. Karena itu, wahai Ayahanda, aku akan mengikutinya. Setelah berkata demikian, Dewayani berpuasa, tidak makan dan tidak minum.

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Ilmu Gaib Sanjiwini 2

Resi Sukra tak tega melihat putri kesayangannya berduka. Ia marah kepada para raksasa yang telah membunuh Kacha. Pembunuhan terhadap brahmana adalah dosa terkutuk. Mereka pasti akan mendapat balasan yang setimpal.
Sekali lagi Resi Sukra mempergunakan ilmu gaib Sanjiwini untuk menghidupkan Kacha. Sekali lagi Kacha hidup kembali dari anggur yang sudah masuk ke lambung sang Mahaguru. Tetapi ia tidak bisa keluar karena berada di tempat yang sangat aneh. Ia hanya dapat menjawab dengan menyebutkan namanya dan mengatakan tempat ia berada.
Mendengar itu, Resi Sukra berkata dengan berang, Hai, Brahmacharin, bagaimana engkau bisa masuk ke dalam tubuhku? Apakah karena perbuatan para raksasa? Sungguh keterlaluan. Ingin rasanya aku membunuh semua raksasa dan menyatukan diriku dengan para dewata. Tetapi, sebelum itu kulakukan, ceritakan dulu semuanya kepadaku.”
Dengan susah payah, dari dalam lambung Resi Sukra, Kacha menceritakan apa yang dialaminya.
Resi mahasakti itu menyahut, Kini aku, Resi Sukra yang suci, luhur budi, dan termasyhur, menjadi geram karena ditipu dengan persembahan minuman anggur.
Karena itu, demi kebajikan dan peri kemanusiaan, kuperingatkan bahwa kesucian dan keluhuran budi akan meninggalkan siapa pun yang meminum anggur dengan tidak bijaksana. Orang yang demikian akan terkutuk.
Demikian pesanku dan hal ini akan dinyatakan dalam kitab-kitab suci sebagai larangan yang tak boleh dilanggar.”
Setelah berkata demikian, Resi Sukra memandang Dewayani sambil berkata, Anakku sayang, sekarang engkau harus memilih. Kalau kau ingin Kacha hidup kembali, ia harus keluar dari dalam tubuhku dan itu berarti kematian bagiku. Ia hanya bisa hidup di atas kematianku.”
Dewayani menangis tersedu-sedu sambil berkata, Oh Dewata, sungguh pilihan yang tak mungkin kupilih. Aku sangat menyayangi Ayahanda dan Kacha. Jika salah satu dari kalian mati, aku akan mati. Aku tak sanggup hidup tanpa kalian berdua.”
Sambil mencari jalan untuk menyelesaikan masalah berat itu, Resi Sukra berkata kepada Kacha, Wahai putra Wrihaspati, sekarang aku tahu apa sesungguhnya niatmu datang berguru kepadaku. Kau akan memperoleh apa yang kauinginkan. Aku akan menghidupkan kau kembali demi Dewayani dan demi dia pula aku tidak boleh mati. Satusatunya jalan adalah mengajarkan ilmu gaib Sanjiwini kepadamu. Dengan menguasainya, kau akan bisa menghidupkan aku kembali meskipun tubuhku hancur setelah mengeluarkan engkau. Berjanjilah untuk menggunakan ilmu gaib Sanjiwini yang akan kuajarkan kepadamu untuk menghidupkan aku kembali, agar Dewayani tidak berduka atas kematian salah satu dari kita.”
Dari dalam lambung gurunya, Kacha mengucapkan janjinya.
Demikianlah, Mahaguru Sukra memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini kepada Kacha. Seketika itu juga Kacha keluar dari dalam tubuh gurunya, sementara sang Resi langsung rubuh, wafat dengan tubuh hancur berkepingkeping.
Kacha memenuhi janjinya. Ia segera sujud di depan jenazah gurunya dan mempergunakan ilmu gaib Sanjiwini. Katanya, Guru yang ikhlas membagi ilmu kepada muridnya ibarat seorang ayah yang mengasihi putranya. Karena aku keluar dari tubuhmu, maka aku adalah anakmu juga.”
Beberapa tahun lamanya Kacha meneruskan hidupnya sebagai murid Resi Sukra, sampai tiba waktunya untuk kembali ke dunia para dewata. Ketika saat itu tiba, ia mohon diri kepada gurunya. Sang Resi merestuinya dan mengijinkannya pergi. Kemudian Kacha minta diri kepada Dewayani.
Putri jelita ini dengan hormat berkata, Wahai cucu Angiras, kau telah menawan hatiku dengan kesucian hati, hidupmu yang tidak bercacat, kemajuanmu dalam menuntut ilmu, dan asal-usulmu yang agung. Sejak lama aku mencintaimu dengan sepenuh hati, walaupun engkau tetap teguh menjalankan sumpahmu sebagai brahmacharin.
Tetapi, sudah selayaknya sekarang engkau menerima cintaku dan sudi membuatku bahagia dengan menikahiku.”
Kacha menjawab, Oh, Dewayani yang suci, engkau adalah putri mahaguruku yang selalu kusegani. Aku hidup kembali setelah keluar dari tubuh ayahmu. Karena itu, aku kini menjadi saudaramu seayah. Sungguh tidak pantas jika engkau memintaku agar sudi mengawinimu.”
Dewayani berkata, “Engkau anak Wrihaspati yang patut kuhormati dan bukan anak ayahku. Aku yang menyebabkan kau bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan mengharapkan engkau menjadi suamiku. Tidak pantas engkau meninggalkan aku yang tidak berdosa ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadamu.”
Kacha menjawab, “Jangan mencoba membujukku untuk melakukan hal yang tidak benar. Engkau sungguh jelita, dan semakin jelita dalam keadaan marah seperti sekarang, tetapi aku adalah saudaramu. Abdikanlah hidupmu untuk kebajikan dalam bimbingan ayahmu,
Mahaguru Sukra. Jalani hidupmu seperti dahulu. Berdoalah dan relakan aku pergi. Setelah berkata demikian, dengan lembut Kacha melepaskan diri dari pegangan Dewayani dan kembali ke dunia para dewata.
Sepeninggal Kacha, Dewayani selalu sedih dan murung.
Tak ada yang bisa menghiburnya, tidak juga Mahaguru Sukra, ayahnya.
***

Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Kutukan Mahaguru Sukra 1
Pada suatu sore setelah puas bermain di taman istana, Dewayani dan putri-putri Wrishaparwa, raja para raksasa, pergi mandi ke telaga di tepi hutan yang jernih
dan sejuk airnya. Sebelum menceburkan diri ke dalam air yang segar, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpan pakaian itu di tepi telaga. Tiba-tiba angin putting
beliung berembus kencang, menerbangkan pakaian mereka dan membuatnya menjadi satu tumpukan. Setelah mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Tanpa sengaja Sarmishta, putri Wrishaparwa, mengenakan pakaian Dewayani. Melihat itu Dewayani berkata, Alangkah tidak pantasnya putri seorang murid mengenakan pakaian milik putri gurunya.”
Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan lembut, Sarmishta merasa disindir dan tersinggung. Ia marah dan dengan angkuh berkata, Tidakkah engkau sadar bahwa ayahmu setiap hari dengan hinanya berlutut menyembah ayahku?
Bukankah ayahmu menggantungkan hidupnya pada belas kasihan ayahku?
Lupakah kau bahwa aku ini anak raja yang dengan murah hati memberikan tumpangan hidup bagimu dan bagi ayahmu? Hai, Dewayani, sesungguhnya kau hanya keturunan peminta-minta!
Lancang benar kata-katamu kepadaku.”
Memang benar apa yang dikatakan Sarmishta. Sebagai resi atau pandeta, Mahaguru Sukra berkasta brahmana. Sesuai adat, ia hidup dari belas kasihan orang lain. Jika memerlukan sarana hidup, seorang brahmana hanya boleh meminta-minta. Meskipun demikian, sesungguhnya bagi kasta brahmana hal itu dianggap perbuatan yang mulia. Dewayani tidak menanggapi kata-kata Sarmishta.
Sebaliknya, Sarmishta yang terbakar oleh kata-katanya sendiri, menjadi semakin marah. Tak dapat mengendalikan diri, tangannya terayun, menampar pipi Dewayani. Ia bahkan mendorong putri resi itu sampai jatuh ke parit yang dalam. Sarmishta, yang mengira Dewayani sudah mati, segera kembali ke istana.
Sementara itu, Dewayani merasa cemas dan sedih karena tidak bisa keluar dari parit yang dalam itu. Kebetulan, Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata, sedang berburu di tepi hutan dan melewati tempat itu.
Karena haus, ia mencari air. Dilihatnya ada parit berair jernih di dekat situ. Dia turun dari kudanya, mendekati parit itu, lalu membungkuk hendak mengambil airnya.
Ketika itulah ia melihat sesuatu yang bercahaya di dasar parit. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan terkejut melihat seorang putri jelita terpuruk di dalam parit.
Lalu ia bertanya, Siapakah engkau ini, hai putri jelita dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah indah?
Siapakah ayahmu?
Keturunan siapakah engkau?
Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam parit ini?
Dewayani menjawab sambil mengulurkan tangan kanannya, Namaku Dewayani. Aku putri Resi Sukra. Tolonglah aku keluar dari dalam parit ini. Yayati menyambut tangan yang halus itu lalu menolong Dewayani keluar. Dewayani tidak ingin kembali ke ibukota kerajaan raksasa. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi, lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmishta.
Karena itu, ia berkata kepada Yayati, Kau telah memegang tangan kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya. Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.
Yayati menjawab, Wahai putri jelita, aku seorang kesatria dan engkau seorang brahmana.* Bagaimana aku bisa mengawini engkau? Apa mungkin putri Resi Sukra yang disegani di seluruh dunia menjadi istri seorang kesatria seperti aku? Putri yang agung, kembalilah pulang.”
Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibukota kerajaannya.
Sepeninggal Yayati, Dewayani tetap bertekad untuk tidak pulang ke istana. Ia memilih tinggal di hutan, di bawah sebatang pohon.
Sementara itu, Resi Sukra sia-sia menunggu putrinya pulang. Beberapa hari berlalu, tetapi Dewayani tak kunjung pulang. Akhirnya Resi Sukra menyuruh seseorang mencari putri kesayangannya.
Utusan itu mencari ke mana-mana. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya dia menemukan Dewayani yang duduk di bawah sebatang pohon di tepi hutan.
Putri itu tampak sangat sedih. Matanya merah karena lama menangis. Wajahnya keruh karena marah. Utusan itu lalu bertanya, apa yang telah terjadi.
Dewayani menjawab, Kembalilah engkau dan sampaikan kepada ayahku bahwa aku tak sudi lagi menginjakkan kakiku di ibukota kerajaan Wrishaparwa.”
Setelah mohon pamit, utusan itu kembali ke istana untuk melaporkan hal itu kepada Resi Sukra.
Mendengar laporan utusannya, Resi Sukra sangat sedih. Ia segera menemui anaknya dan menghiburnya sambil berkata, Anakku sayang, kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan orang lain tidak akan mempengaruhi kita. Demikianlah Resi Sukra mencoba menghibur anaknya.
* Menurut tradisi kuno yang disebut anuloma, perempuan dari kasta kesatria boleh menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana. Tetapi, perempuan dari kasta brahmana tidak dibenarkan menikah dengan lakilaki dari kasta kesatria. Tradisi kuno yang disebut pratilonia ini untuk menjaga agar kaum wanita tidak direndahkan derajatnya ke status kasta yang lebih rendah. Hal ini dinyatakan dalam kitab-kitab suci Sastra.
Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur dengki, Ayahku, biarkanlah segala kebaikan dan keburukanku bersama diriku karena semua itu urusanku sendiri.
Tetapi jawablah pertanyaanku ini. Kata Sarmishta, anak Wrishaparwa, ayahku seorang budak penyanyi yang kerjanya hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Benarkah? Katanya, aku ini anak seorang peminta-minta yang hidup dari belas kasihan orang. Benarkah? Sarmishta sungguh kasar. Tidak puas mengata-ngatai aku, ia menampar dan mendorongku ke dalam parit. Aku bersumpah, aku takkan sudi hidup di wilayah kekuasaan ayahnya. Dewayani menangis tersedu-sedu.
Dengan tenang dan penuh martabat, Mahaguru Sukra berkata, Wahai anakku Dewayani, engkau bukan anak budak penyanyi raja. Ayahmu tidak hidup dengan meminta-minta, mengemis belas kasihan orang. Engkau putri seorang resi yang dihormati dan hidup dimanja di seluruh dunia. Batara Indra, raja semua dewa, tahu akan hal ini. Wrishaparwa tidak membutakan mata terhadap hutang budinya kepada ayahmu. Tetapi, orang yang bijaksana tidak pernah mengagung-agungkan kebesarannya sendiri.
“Sudahlah, Ayah tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang jasa-jasa Ayah. Bangkitlah, wahai mutiara nan kemilau. Kaulah yang paling jelita di antara semua wanita.
Engkau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu.
Bersabarlah dan marilah kita pulang.”
Seri Cerita Mahabharata versi India
MAHABHARATA
Kutukan Mahaguru Sukra 2
Tetapi Dewayani tetap berkeras tidak mau pulang.
Resi Sukra menasihatinya lagi, Sungguh mulia orang yang dengan sabar menerima caci maki. Orang yang dapat menahan amarah ibarat kusir yang mampu menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Orang yang dapat membuang amarah jauh-jauh seperti ular yang mengelupas kulitnya. Orang yang tidak gentar menerima siksaan akan berhasil mencapai cita-citanya. Seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci, orang yang tidak pernah marah lebih mulia daripada orang yang taat melakukan upacara sembahyang selama seratus tahun. Pelayan, teman, saudara, istri, anak-anak, kebajikan dan kebenaran akan meninggalkan orang yang tak mampu mengendalikan amarahnya. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda ke dalam hatinya.”
Mendengar itu, Dewayani bersujud menyembah ayahnya, Ayahanda, aku masih muda. Nasihat-nasihat Ayahanda masih sulit kupahami. Tetapi, sungguh tidak pantas bagiku untuk hidup bersama orang yang tidak mengenal sopan santun. Orang yang bijaksana tidak akan bersahabat dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan keluarganya. Orang jahat, walaupun kaya raya, sesungguhnya adalah hina dan tidak berkasta. Orang yang taat beribadah tidak pantas bergaul dengan mereka. Hatiku sangat marah karena keangkuhan anak Wrishaparwa.
Segores luka lambat laun akan sembuh, tetapi luka hati karena kata-kata tajam akan meninggalkan goresan pedih yang seumur hidup takkan hilang.”
Setelah gagal membujuk putrinya untuk pulang, Resi Sukra kembali ke istana Wrishaparwa. Sampai di hadapan Raja, dengan mata tajam ia memandangnya sambil berkata, Walaupun dosa seseorang tidak akan segera mendapat balasan, lambat laun dosa itu pasti akan menghancurkan sumber kekayaannya. Kacha, anak Wrihaspati dan seorang brahmacharin, telah menaklukkan pancaindranya dan tidak pernah berbuat dosa. Ia telah melayani aku dengan penuh kepatuhan dan tidak pernah melanggar sumpahnya. Para raksasa rakyatmu beberapa kali berusaha membunuh dia, tetapi aku menghidupkannya lagi. Kini, anakku yang memegang teguh susila dicaci-maki oleh anakmu, Sarmishta. Ia bahkan mendorong anakku sampai jatuh ke parit yang dalam. Ia tidak tahan lagi tinggal dalam lingkungan kerajaanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu.”
Mendengar itu, Wrishaparwa merasa terancam malapetaka.
Ia berkata, “Aku tidak mengerti mengapa engkau melontarkan tuduhan itu. Tetapi, kalau engkau pergi aku akan terjun ke dalam api.”
Resi Sukra menjawab, “Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan anakku. Aku tidak peduli nasibmu dan nasib para raksasa rakyatmu. Dewayani anakku satu-satunya, anak yang kukasihi melebihi hidupku sendiri. Engkau kuijinkan mencoba menenangkan dia dan membujuknya agar mau tetap tinggal di sini. Jika dia mau, aku tidak akan pergi.”
Maka pergilah Wrishaparwa diiringkan beberapa pengawal.
Mereka hendak menemui Dewayani di tepi hutan.
Sesampainya di depan gadis itu, Wrishaparwa menyembah dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.
Tetapi Dewayani berkata acuh tak acuh, Sarmishta, yang mengata-ngatai aku anak pengemis harus menjadi dayang-dayang di rumahku dan harus menjadi pengiringku waktu aku dinikahkan oleh ayahku.”
Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan pengiringnya menjemput Sarmishta. Putri raja itu mengakui kesalahannya, lalu menyembah sambil berkata, Baiklah aku akan menjadi dayang-dayang Dewayani seperti yang dikehendakinya. Tidak seharusnya ayahku kehilangan mahagurunya dan menerima balasan atas kesalahanku.”
Dewayani menerima permintaan maaf Sarmishta. Mereka berdamai dan semua kembali ke istana Wrishaparwa.
Pada suatu hari Dewayani bertemu dengan Yayati. Ia mengulangi permintaannya dan berkata bahwa Yayati harus mengawini dia karena pernah memegang tangan kanannya erat-erat. Yayati menolak. Katanya, sebagai kesatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita berkasta brahmana. Memang kitab-kitab suci Sastra tidak membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perkawinan itu sah.
Akhirnya, setelah mendapat restu dari Resi Sukra, Yayati bersedia menikahi Dewayani. Mereka hidup berbahagia bertahun-tahun lamanya. Sarmishta menepati janjinya.
Ia setia melayani Dewayani sebagai dayang-dayangnya, sampai pada suatu malam diam-diam ia menemui Yayati dan meminta pria itu mengawininya. Yayati tak kuasa menolaknya. Diam-diam Sarmishta dijadikan istrinya.
Ketika mengetahui hal itu, Dewayani marah sekali. Ia mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengutuk Yayati menjadi orang tua ubanan sebelum waktunya dan pria itu akan kehilangan masa mudanya.
Mengetahui dirinya dikutuk mertuanya yang sangat sakti, Yayati takut sekali. Ia pergi menghadap Resi Sukra, menyembah dan memohon ampun. Tetapi, Mahaguru Sukra belum lupa akan penghinaan yang pernah diterima anaknya.
Resi Sukra berkata, “Wahai, Tuanku Raja, engkau akan kehilangan masa mudamu dan kemegahanmu. Kutukpastu yang telah kulontarkan tak dapat dibatalkan. Tetapi, engkau bisa minta tolong seseorang yang bersedia menukar ketuaanmu dengan kemudaannya. Hal ini bisa terjadi. Demikianlah, sejak menerima kutukan mertuanya, Yayati berubah menjadi lelaki tua renta yang kehilangan keperkasaannya.***

Kidung Malam 76
Calon Raja yang Cantik
Arimbi dan Bima meninggalkan hutan Kamiyaka menuju Negara Pringgandani. Arimbi yang sudah menjelma menjadi seorang putri cantik tinggi perkasa adalah seorang putri raja yang bakal menggantikan Arimba kakaknya menjadi raja di Pringgandani. Maka tidak mengherankan jika Arimbi mempunyai berbagai ilmu tingkat tinggi, salah satunya adalah ilmu meringankan tubuh. Sehingga ia bisa terbang tanpa menggunakan sayap. Demikian juga Bima pasangannya walaupun badannya besar perkasa, ia mempunyai ilmu Angkusprana yang dapat menghimpun kekuatan angin dari Sembilan saudara tunggal bayu termasuk dirinya, yaitu: Dewa Bayu, Dewa Ruci, Anoman, Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira, dan Begawan Mainaka. Sembilan kekuatan angin tersebut membuat Bima dapat melompat sangat jauh seperti terbang. Sehingga dua sejoli itu laksana dua burung garuda perkasa terbang membelah langit biru.Sekejap kemudian mereka telah menginjakan kakinya di Negara Pringgandani. Arimbi mengamati suasana Kraton Pringgandani tempat ia lahir dan dibesarkan. Suasana duka atas meninggalnya Prabu Arimba masih nampak pada pemasangan bendera, umbul-umbul dan rontek. Arimbi merasa berdosa, karena gara-gara dialah Prabu Arimba gugur di tangan Bima. Selagi merenung dalam kesedihan, Prajurit jaga menghentikan langkah Arimbi dan Bima di pintu gerbang utama bagian luar kraton. Arimbi menjelaskan bahwa dia adalah Arimbi raseksi yang sudah menjadi putri berkat pertolongan Kunthi ibu Bima. Oleh karenanya Arimbi minta jalan mau masuk kraton menemui adik-adiknya. Namun penjelasan Arimbi tidak dengan serta merta dipercaya oleh prajurit jaga. Karena menurut aturan bagi orang asing yang ingin memasuki wilayah inti kraton harus tinggal beberapa waktu di bilik panganti untuk diperiksa oleh beberapa petugas yang ada. Namun Arimbi tidak mau melakukannya. Bahkan Arimbi menjadi jengkel atas sikap para perajurit jaga yang sudah tidak mengenalnya lagi dan besikeras menahannya.

Sebagai salah satu pewaris tahta Pringgandani, perlakuan prajurit jaga sungguh menyakitkan. Arimbi dan Bima dipaksa memasuki bilik panganti untuk diperiksa seperti yang diberlakukan bagi orang asing. Kesabaran Arimbi tidak tersisa lagi. Prajurit jaga yang berlaku kasar terhadap dirinya dilumpuhkan dalam sekejap. Melihat rekannya tersungkur tak berdaya prajurit jaga yang lain mengepung Arimbi. Belum sempat mereka bergerak, Arimbi mendahului menyerang mereka. Satu gebrakan sudah cukup bagi Arimbi untuk melumpuhkan beberapa prajurit jaga sekaligus. Melihat beberapa rekannya jatuh tak berdaya panglima jaga memerintahkan untuk menutup pintu gerbang dan salah satu prajurit diperintahkan melapor kepada Brajadenta, salah satu adik Arimbi. Sementara itu Panglima jaga mempersiapkan prajuritnya yang masih tersisa untuk menjadi palang terakhir yang menghalangi Arimbi dan Bima masuk gerbang utama.

Arimbi menoleh kepada Bima, untuk memohon persetujuan kepada kekasihnya bagaimana sebaiknya yang dilakukan untuk menghadapi prajurit jaga yang sudah siaga penuh. Bima menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui Arimbi melakukan kekerasan. Arimbi tersadar bahwa dirinya sudah bukan raseksi lagi. Arimbi adalah seorang dewi yang cantik jelita. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri dan juga malu kepada Bima. Bahkan dibalik itu ada rasa kawatir jika Arimbi berperangai kembali sebagai raseksi Bima akan segera meninggalkannya. Maka segeralah Arimbi menarik kembali amarahnya.

Ketika hatinya menjadi dingin, Arimbi diingatkan akan sebuah ilmu yang menyatukan anak-anak Prabu Tremboko yaitu aji pamomong. Dengan ilmu tersebut diantara anak-anak Tremboko dapat saling berhubungan saling mengingatkan dan saling menjaga walaupun mereka tidak berada dalam satu tempat. Sewaktu hidupnya, Prabu Tremboko menggunakan ajian pamomong untuk menyatukan anak-anaknya, mengetahui keberadaannya dan untuk melindunginya. Oleh karenannya Arimbi segera mengetrapkan aji pamomong untuk mengabarkan keberadaannya kepada adik-adinya. Para prajurit jaga siaga penuh mengira bahwa Arimbi sedang mempersiapkan serangannya. Namun lama ditunggu dalam ketegangan serangan tak kunjung datang. Bahkan dari pintu gerbang munculah adik-adik Arimbi mulai dari Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan yang bungsu adalah Kala Bendana. Mereka berhamburan menyambut Arimbi dengan gembira. Suasana berubah menjadi haru. Para prajurit jaga ikut hanyut dalam keharuan. Walaupun Arimbi sekarang sudah menjelma menjadi seorang dewi yang cantik jelita, mereka masih mengenali Arimbi lewat aji pamomong. Keenam adik-adik Arimbi tak berkedip dalam menatap Arimbi yang cantik. Terbayanglah diangan mereka, seorang raja putri yang cantik menawan yang bakal memerintah Negara Pringgandani untuk masa-masa yang akan datang.

Kedatangan Arimbi mengubah suasana duka menjadi gembira. Adik-adik Arimbi dan rakyat pringgandani yang sebagian besar adalah bangsa raksasa, akan terangkat derajatnya mempunyai pewaris tahta putri cantik bak bidadari kahyangan.

Namun ketika Arimbi mengenalkan Bima sebagai suaminya, Barajadenta dengan tegas menolak. Bima adalah musuh rakyat Pringgandani. Bima adalah pembunuh Prabu Arimba, maka harus dilenyapkan.

Pernyataan Brajadenta dengan cepat merubah suasana haru dan gembira menjadi tegang. Prajurit bersiaga kembali untuk mengamankan negara. Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Barajawikalpa dan Brajalamatan menantang Bima untuk mengadakan perhitungan atas meninggalnya Prabu Arimba. Bima sebelumnya sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. Maka dengan tenang Bima meladeni tantangan adik-adik Arimbi.

Namun sebelum perang terjadi Arimbi mendekati Bima sambil berbisik, “jangan lakukan kekerasan, Kakanda Bima”

Kidung Malam 77
Watak Ksatria
ika boleh memilih tentunya Arimbi akan memilh diantara Bima dan adik-adiknya tidak perlu bertempur. Karena jika hal itu terjadi hati Arimbi akan dihimpit rasa cemas dari dua penjuru, seperti yang pernah dirasakan ketika Bima bertempur melawan Arimba. Disatu pihak Arimbi mencemaskan Bima suaminya, dipihak yang lain Arimbi juga mengkawatirkan adik-adiknya. Namun apa boleh buat, untuk menundukkan adik-adiknya tidak ada jalan lain kecuali bertempur. Harapannya agar Bima dapat memenangkan pertempuran melawan adik-adiknya dengan tidak menyisakan luka, baik luka di badan maupun luka di hati.Dikarenakan tidak ada pilihan lain Bima pun meladeni tantangan adik-adik Arimbi. Dengan melangkah tenang namun berat Bima mendekati Brajadenta yang dipandang sebagai pimpinan diantara mereka. Sebelum Bima mendekat semakin dekat, Brajadenta telah memberi aba-aba kepada keempat adiknya untuk menyerang Bima secara serentak. Maka sebentar kemudian terjadilah pertempuran sengit. Bima dikeroyok oleh adik-adik Arimbi, kecuali Kala Bendana yaitu Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa dan Brajalamatan.

Arimbi yang menyaksikan pertempuran itu menilai bahwa pertempuran bakal berjalan seru dan dahsyat. Karena masing-masing dari mereka mempunyai ilmu-ilmu tingkat tinggi. Namun jika dibandingkan dengan Bima ilmu-ilmu yang dimiliki ke lima adik-adinya masih berada dibawahnya. Tetapi dikarenakan kekuatan kelimanya bergabung menjadi satu maka akan sungguh merepotkan Bima. Walaupun Bima merasakan bahwasannya tingkat ilmu adik-adik Arimbi masih berada di bawah Arimba, tidak ada niat di hati Bima untuk menganggap enteng serangan-serangan mereka. Bima selalu waspada menunggu serangan demi serangan yang dilancarkan adik-adik Arimbi jurus demi jurus secara bergantian. Bahkan kadang kala putra-putra Pringgandani tersebut melakukan serangan secara serentak. Menghadapi serangan beruntun Bima lebih memilih menunggu serangan dari pada mengambil inisiatif menyerang. Hal tersebut dilakukan karena Bima tidak berniat untuk menyakiti adik-adik Arimbi, seperti yang dibisikan Arimbi sebelumnya.

Setelah pertempuran berjalan cukup lama, adik-adik Arimbi yang pada mulanya membenci Bima sebagai seorang pembunuh Kakak Arimba, perlahan-lahan mulai mempertanyakan kebencian itu. Benarkah Bima seorang pembunuh yang kejam dan wajib dibenci dan dimusnahkan? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah mereka merasakan bahwa perilaku Bima tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya yaitu ganas dan kejam. Pada kenyataannya Bima adalah seorang kesatria sejati yang penuh tatakrama juga ketika Bima berada di medan laga. Dengan sifat Bima yang demikian dapat dimungkinkan bahwa gugurnya Arimba di tangan Bima akibat dari pembelaan diri Bima menghadapi serangan Prabu Arimba.

Watak ksatria yang melekat pada pribadi Bima telah mengusik watak ksatria anak-anak Pringgandani yang dahulu pernah ditanamkan oleh Prabu Tremboko. Dengan watak ksatria tersebut lalu munculah kesadaran bahwa ilmu mereka masih berada di bawah ilmu Bima. Walaupun mereka telah mengeroyok Bima, adik-adik Arimbi tersebut sulit untuk mengalahkannya. Bahkan kemudian munculah rasa malu di hati mereka karena mengeroyok seseorang adalah tindakkan yang jauh dari watak ksatria.

Oleh karenanya, seperti diberi aba-aba Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa dan Brajalamatan mengendorkan serangan, untuk kemudian menghentikan serangan. Para prajurit jaga pada heran melihatnya. Apa yang terjadi? Brajadenta dapat membaca apa yang diinginkan oleh keempat adiknya. Untuk itulah maka kemudian Brajadenta melangkah mendekati Bima. semua mata mengarahkan pandangannya kepada sosok Brjadenta. Apa yang akan diperbuat? Setelah tepat di depan Bima, Brajadenta berkata Kami mengaku kalah.”

Arimbi melonjak senang, tawaran damai yang dibawa Arimbi telah diterima oleh adik-adiknya. Selanjutnya terjadilah pemandangan yang mengharukan. Bima memeluk adik-adik Arimbi satu persatu. Mereka telah menerima Bima sebagai bagian dari keluarganya, tidak sebagai musuhnya.

Dengan menghidupi watak ksatria, para putra Pringgandani yang berparas rasaksa dapat ikhlas merelakan kematian Prabu Arimba dalam perang tading melawan Bima. mereka mengakui bahwa Bima memang seorang ksatria keturunan trah Girisarangan yang sakti. Maka dari itu ada rasa bangga di hati mereka ketika Bima telah menyunting Kakang Mbok Arimbi yang sudah menjadi jelita, dan menjadi satu keluarga di Pringgandani.

Dengan bergabungnya Bima di Pringgandani, para putra Pringgandani optimis menatap masa depan negara Pringgandani. Karena pasangan Bima dan Arimbi telah mampu menghidupi kembali watak ksatria yang telah diwariskan oleh para pendahulunya, tat kala membangun dan mendirikan negara Pringgandani. Karena dengan watak berani, bersih, jujur, dan tulus, yang menjadi ciri khas watak seorang ksatria, negara Pringgandani telah menjadi besar. Dan akan semakin besar dan jaya manakala nilai-nilai luhur yang telah diwariskan akan dihidupi dalam menjalankan pemerintahan negara Pringgandani.

Waktu merambat pelan, untuk beberapa waktu Bima tinggal di Pringgandani membantu dan mendampingi Arimbi dalam menata pemerintahan yang telah beberapa waktu komplang tanpa raja. Seiring dengan penataan kerajaan, kandungan Arimbi bertambah semakin besar. Ada secercah kebahagiaan dan harapan yang berkaitan dengan bayi yang dikandung. Tangan Bima dan Arimbi meraba lembut perut Arimbi dengan sebuah permohonan yang bulat dan utuh, jadikanlah anak ini seorang raja ksatria yang membawa kejayaan negara Pringgandani.

Suasana duka masih terasa sejak kepergian Raja besar Pringgandani untuk selamanya. Prabu Arimba telah mempercayakan negara Pringgandani kepada Arimbi. Senyum abadi yang ditinggalkan Prabu Arimba memberi semangat optimisme untuk mewujudkan harapan akan kebesaran dan kejayaan Negara Pringgandani.

Kidung Malam 78
Fajar Mulai Merekah
Berangsur-angsur mendung kesedihan yang menggelayut di langit Pringgandani tersibak. Negara mulai tertata dan pulih kembali seperti sebelum Prabu Arimba meninggal. Atas kesepakatan ke enam adik-adik Arimba, yang terdiri dari Prabakesa, Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan Kala Bendana, Arimbi sebagai saudara paling tua ditunjuk menggantikan Prabu Arimba untuk menjalankan pemerintahan Pringgandani.Beberapa bulan Bima menjalani hidup dengan Arimbi di Pringgandani. Jika menuruti perasaan hatinya Bima ingin mendampingi Arimbi, setidak-tidaknya sampai dengan kelahiran anak yang dikandung Arimbi. Namun hatinya gundah juga mengingat bahwa Bima telah berjanji kepada Ibu Kunthi untuk tidak meninggaklkan saudara-saudaranya terlalu lama. Kegundahan hati Bima diungkapkan kepada Arimbi, dan disepakati untuk sementara waktu Bima kembali menemui Ibu Kunthi dan saudara-saudaranya di hutan Kamiyaka. Dan jika sampai pada saatnya bayi yang dikandung Arimbi lahir, Bima akan kembali ke Pringgandani.

Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, Bima telah sampai di hadapan Ibu dan saudara-saudaranya. Mendengar cerita bahwa pada akhirnya Bima diterima sebagai saudara tua oleh adik-adik Arimbi dan menjadi bagian dari Negara Pringgandani, Kunthi dan saudara-saudara Bima dipenuhi dengan rasa suka cita.

Pagi itu udara sungguh cerah. Kehangatan sinar mentari mampu menembus lebatnya dedaunan hutan Kamiyaka. Kunthi memandangi sepasang burung prenjak yang berkicau bersautan, tak henti-hentinya. Kicau sepasang burung Prenjak jantan dan betina tersebut selain membangkitkan suasana keceriaan alam semesta juga dapat dibaca sebagai pertanda alam bagi manusia.. Jika sepasang burung Prenjak tersebut berkicau di arah barat rumah, itu pertanda jelek, akan ada tamu yang mengajak bertengkar. Jika sepasang burung Prenjak tersebut berkicau di arah Timur rumah, itu pertanda jelek juga, karena akan terjadi kebakaran. Jika sepasang burung Prenjak berkicau mengitari rumah, itu pertanda baik, akan mendapat rejeki dari jerih payahnya. Jika sepasang burung Prenjak, berkicau bersautan di arah selatan rumah, itu pertanda baik, akan ada tamu bangsawan yang berkendak baik. Jika sepasang burung Prenjak berkicau di arah utara rumah, itu pertanda sangat baik, akan ada tamu seorang guru memberi wangsit yang benar dan suci.

Benarkah akan ada tamu agung, seorang resi, pandita atau begawan yang datang di Hutan Kamiyaka ini? Dengan menengarai sepasang burung Prenjak yang tak henti-hentinya berkicau bersautan di sebelah utara rumah kayu ini. Jika benar pertanda tersebut, Kunthi tidak bisa memperkirakan siapakah sesepuh yang bakal datang. Karena selain Resi Bisma, Yamawidura, Begawan Abiyasa dan Semar tidak ada lagi orang yang dianggap agung dan suci. Namun apakah mungkin salah satu di antara empat orang agung tersebut datang ke Hutan Kamiyaka ini?

Semenjak peristiwa bale sigala-gala, Kunthi dan anak-anaknya sengaja mengasingkan diri menyamar sebagai orang sudra yang hidup menggembara dari hutan ke hutan. Kunthi menitipkan pesan kepada Kanana abdi setia Yamawidura yang berjasa membuat terowongan rahasia yang dipakai oleh Hyang Antaboga dan Nagatamala untuk menyelamatkan Kunthi dan Pandawa dari peristiwa Balesigala-gala. Pesan yang disampakai kepada Kanana adalah bahwa Kunthi dan anak-anaknya janganlah dicari untuk diajak pulang ke Panggombakan. Biarlah anak-anaknya terutama sikembar Nakula dan Sadewa melupakan trauma prahara Balesigala-gala.

Matahari telah bergeser condong ke ujung kulon, pertanda hari telah beranjak dari siang. Tamu agung yang dinanti Kunthi dalam hati belum juga datang. Seperti biasanya, setelah panas matahari berkurang, Arjuna selalu menyempatkan diri mengajari adiknya Nakula dan Sadewa untuk berolah senjata panah. Sedangkan Kunthi, Puntadewa dan Bima melihat dari kejauhan. Mereka cukup puas melihat kecerdasan dan ketrampilan Nakula dan Sadewa. Pada saat Kunthi melupakan pertanda yang dikabarkan kicau sepasang burung Prenjak di sebelah utara rumah, mendadak dari kejauhan, arah matahari tenggelam ada dua orang yang datang dengan langkah ringan, Mereka adalah Begawan Abiyasa dan pamomongnya yaitu Semar. Dapat dibayangkan betapa mengharukan pertemuan itu. Setelah bertahun-tahun mereka tidak saling berjumpa, sekarang bertemu di hutan yang kotor, beratap daun dan berlantai tanah. Namun satu hal yang disyukuri bahwa mereka berjumpa dalam keadaan selamat dan sehat walafiat.

Abiyasa adalah sosok mertua yang sangat dihormati Kunthi lebih dari Prabu Basukunthi ayahnya sendiri. Oleh karena kedatangannya di Hutan Kamiyaka yang tak dinyana sebelumnya sungguh membuat hati Kunthi dan para Pandawa merasa tentram dan damai. Kunthi sangat terharu atas usaha panjang yang dilakukan rama Begawan Abiyasa untuk menemukan dirinya dan anak-anaknya. Tidak Nampak keletihan yang disandang pada kedua orang tua tersebut. Wajahnya tetap ceria berwibawa dan suci.

Tentunya selain ingin mendapati menantu dan cucu-cucunya dalam keadaan selamat, ada hal khusus dan penting yang ingin disampaikan oleh Abiyasa dan Semar. Di ruang yang tidak begitu luas dengan diterangi oleh lampu minyak Begawan Abiyasa menyampaikan beberapa hal khusus kepada Kunthi dan Pandawa Lima.

“Kunthi dan cucuku Pandawa, semenjak peristiwa Balesigala-gala, Negara Hastinapura mewartakan kabar resmi, bahwa Kunthi dan Pandawa Lima telah mati terbakar, Hanya Yamawidura dan Kanana abdinya yang mengetahui keadaan kalian yang sesungguhnya. Namun keadaan kalian yang selamat dari peristiwa Balesigala-gala tidak diungkapkan oleh Yamawidura kepada Prabu Destarastra, dengan pertimbangan, agar para Kurawa tidak memburu kalian untuk dilenyapkan. Oleh karenanya aku sengaja tidak memanggil kalian untuk pulang di Panggomabakan. Tetapi tanpa sepengetahuan kalian, aku telah mengutus Semar untuk selalu memomong kalian dari kejauhan.

Namun saat ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan dirimu kepada kawula Hastinapura dan para Kurawa bahwa Pandawa Lima selamat tidak kurang sesuatu apa pun. Tentunya rakyat akan mengelu-elukanmu dengan gegap gempita. Dan meyakini bahwa kalian adalah titah terpilih yang diutus dewa untuk memayu hayuning bawana.”

“Kebetulan saat ini dibuka sayembara memanah di Cempalaradya, kata Semar.

Bukankah ndara Arjuna adalah ahli panah yang mumpuni. Itu artinya bahwa ndara Arjuna mendapat kesempatan emas untuk memenangkan sayembara. Pada hal bagi siapa yang berhasil akan mendapatkan putri Prabu Durpada yang bernama Durpadi.”
Kidung Malam 79
Durpadi Sayembara
Hari menjelang sore, suara kenthongan yang berasal dari pusat Kraton Pancalaradya atau Cempalaradya, menarik perhatian penduduk kotaraja. Seperti yang selalu ada di setiap banjar, pada sudut halaman ada bale duwur untuk menempatkan sebuah kentongan. Dengan kentongan tersebut setiap warga mendapatkan informasi mengenai kejadian penting untuk segera ditanggapi. Ada beberapa irama kentongan yang masing-masing irama menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung. Seperti irama khusus yang terdengar disore hari itu menandakan bahwa ada seorang gadis yang telah mengalami menstruasi atau datang bulang pertama. Artinya bahwa sang gadis tersebut telah menginjak usia dewasa, dan siap untuk dipinang seorang pria. Yang menarik perhatian bahwa suara kentongan tersebut berasal dari kotaraja. Tentunya ada gadis bangsawan yang menginjak dewasa dan siap dilamar. Lalu siapa gadis bangsawan tersebut? Akhirnya teka-teki pun terjawab bahwa Putri raja Cempalaradya tersebut adalah Dewi Durpadi, anak sulung Prabu Durpada.Menyusul bunyi kenthongan yang menandakan bahwa masa kedewasaan Dewi Durpadi telah tiba, Prabu Durpada berencana menggelar sayembara untuk memilih dan memilah menantu yang pantas bagi pendamping Dewi Durpadi. Bagi siapa saja yang memenangkan sayembara, berhak menyunting Dewi Durpadi. Sayembara yang diadakan adalah mengangkat, menarik busur atau gendewa pusaka dan melepaskannya anak panah pada titik sasaran yang di sediakan. Sayembara terbuka bagi siapa saja dan di mana saja.

Beberapa bulan kemudian, kabar diadakannya sayembara di negara Pancalaradya telah tersebar jauh di negara-negara tetangga, bahkan sampai di seberang pulau.

Sepekan menjelang sayembara, kota raja Pancalarayadya sudah ramai oleh pendatang-pendatang dari manca nagara yang ingin mengikuti sayembara. Kesibukan kota meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dinbanding dengan hari-hari sebelumnya.

Pada hari yang ditetapkan, para raja muda, ksatria, brahmana, para bangsawan dan rakyat kebanyakan tamplek blek penuh berjejal di alun-alun kotaraja Pancalaradya. Diantara mereka yang hadir tampaklah para Kurawa, Bima dan Arjuna, para raja seberang pulau termasuk beberapa raja dari Atasangin,

Gendewa pusaka atau busur pusaka Pancalaradya telah disiapkan di panggung kehormatan. Ukuran gandewa pusaka itu lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan gandewa pada umumnya. Dari ujung ke ujung gandewa tersebut tinretes emas murni, sehingga ketika ditimpa sinar matahari cahayanya gumebyar menyilaukan mata. Peserta sayembara yang dinyatakan lolos dan menang dalam sayembara adalah peserta yang mampu melepaskan anak panahnya tepat di tengah titik yang telah ditentukan.

Suasana menjadi riuh gemuruh ketika Prabu Durpada dan permaisuri mengapit dewi Durpadi naik ke atas panggung kehormatan, diikuti oleh Gandamana. Para raja dari seribu negara, sungguh terpana melihat kecantikan Dewi Durpadi secara langsung. Karena selama ini banyak diantara mereka yang melihat dan bertemu Dewi Durpadi hanya melalui mimpi.

Ditengarai dengan pemukulan gong beri sayembara pun di mulai. Satu persatu para peserta sayembara naik ke panggung dan mencoba mengangkat gandewa pusaka Pancalaradya. Beberapa peserta telah naik ke panggung kehormatan dan mencoba mengangkat gandewa pusaka. Namun hingga sampai peserta ke delapan belas baru ada empat orang yang kuat mengangkat gandewa pusaka. Namun tidak kuat menarik gendewa pusaka, apalagi untuk melepaskan anak panahnya,

Menjelang tengah hari belum ada orang yang dapat memenangkan sayembara. Satu persatu para raja dari seribu negara gagal memenangkan sayembara. Prabu Durpada dan prameswari yang didampingi Gandamana berharap cemas dalam menanti orang yang dapat memenangkan sayembara. Sedangkan Dewi Durpadi yang duduk di antara Ibunda Ratu dan Prabu Durpada menampakan raut muka yang tenang, bahkan sesekali Durpadi menebar senyum ketika ada peserta sayembara yang jatuh karena tidak kuat mengangkat gendewa pusaka.

Pada saat keraguan untuk mendapatkan pemenang sayembara menghampiri Prabu Durpada, tiba-tiba diantara orang banyak yang berjubel, melompatlah dengan ringannya seorang muda rupawan naik di atas panggung. Menilik dari pakaiannya bahwa pemuda tersebut dari golongan sudra atau rakyat biasa. Namun dengan menyakinkan seperti laiknya ksatria, ia melangkah mendekati gendewa pusaka. Diamati sejenak gendewa yang berada didepannya untuk kemudian diangkatnya. Semua mata memandang ke arah pemuda rupawan yang dengan ringannya mengangkat tinggi-tinggi gendewa pusaka. Sejenak kemudian tangan kakannya menarik tali gendewa perlahan-lahan. Maka yang terjadi gendewa ditangan kiri semakin melengkung dan melengkung dengan tajam. Anak panah telah diarahkan kesasaran. Ketegangan tampak pada setiap raut muka yang menyaksikan. Diiringi dengan detak ribuan jantug yang berdegup semakin cepat.

Namun sebelum anak panah tersebut meluncur dari gendewa pusaka, Dewi Durpadi yang berada beberapa langkah di depannya bereriak lantang katanya, Cukup! aku tidak mau sayembara ini dimenangkan oleh seorang sudra”

Pemuda rupawan itu terkejut, dan menampakkan raut muka yang tidak senang. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Maka untuk melampiaskan kejengkelannya anak panah yang telah siap meluncur tetap dilepaskan ke titik sasaran. Dan pemuda rupawan tersebut membuktikan bahwa ia pantas memenangkan sayembara. Anak panah menancap tepat di tepat di tengah sasaran. Sorak membahana gemuruh menyambutnya. Namun apakah keberhasilannya membidikkan panah tepat sasaran ini dinyatakan sebagai pepmenang atau tidak, ia tidak peduli. Yang terutama bagi dirinya bahwa ia yang adalah seorang sudra telah membuktikan kelebihannya dibandingkan dengan raja-raja seribu negara.

Kidung Malam 80
Pemuda RupawanSorak membahana ribuan manusia bergemuruh. Pohon-pohon beringin dan pohon-pohon Angsana di seputar alun-alun Cempalaradya tergetar karenanya. Beberapa daunnya berguguran, mengenai orang-orang yang berada di bawahnya. Bagaikan taburan bunga untuk menghormat pemuda rupawan yang telah berhasil melepaskan anak panahnya tepat ke titik sasaran.

“Tidak! Tidak! Aku tidak mau orang ini memenangkan sayemabara!” teriak Dewi Durpadi. Namun teriakan Dewi Durpadi tenggelam oleh gelombang suara gegap gempita. Tidak ada yang mendengar dan yang memperhatikan tingkah laku Durpadi. Yang menjadi pusat perhatian adalah pemuda rupawan yang dengan meyakinkan berhasil menarik busur pusaka dan melepaskan anak panahnya tepat ke sasaran.

Pemuda rupawan tersebut semakin jumawa menjadi pusat perhatian lautan manusia yang memenuhi alun-alun. Dengan tenang pemuda itu meninggalkan panggung kehormatan. Ia tidak memperdulikan penolakan Dewi Durpadi. Baginya dapat memenangkan sayembara merupakan kebanggaan tersendiri.

Dewi Durpadi yang sebelumnya menjadi satu-satunya pusat perhatian, kini tidak lagi. Satu-satunya pusat perhatian beralih kepada pemuda rupawan. Sejak melihat pertamakali, Dewi Durpadi tidak senang kepada orang sudra tersebut. Oleh karena ketika ia naik panggung kehormatan mengangkat dan menarik busur pusaka, Dewi Durpadi telah berteriak menolaknya. Namun pemuda rupawan tersebut sengaja tidak mendengarkan teriakan Dewi Durpadi. Anak panah tetap diluncurkan dari jemarinya yang halus. Dan hasilnya anak panah menancap tepat ke sasaran.

Suasana menjadi kacau. Orang-orang yang berada jauh dari panggung kehormatan menganggap bahwa sayembara telah selesai dan di menangkan oleh si pemuda rupawan. Namun bagi peserta sayembara yang berada di dekat panggung kehormatan mengetahui dengan jelas urut-urutan peristiwa. Bahwasannya Dewi Durpadi yang dijadikan hadiah sayembara sejak awal telah menolak pemuda rupawan untuk mengikuti sayembara. Namun pemuda rupawan itu nekat tetap menarik busurnya dan melepaskan anak panahnya ke sasaran yang telah disediakan. Oleh karenanya bidikan panah yang tepat mengenai sasaran tersebut dianggap tidak sah. Dalam situasi yang kacau tersebut Arjuna menghadang pemuda rupawan yang merasa tidak bersalah, pergi meninggalkan alun-alun Pancalaradya.

“Hei Ki Sanak berhentilah! cegat Arjuna. Pemuda rupawan tersebut berhenti, dengan masih tetap menunjukkan ketenangannya. Orang banyak mengerumuninya. Arjuna mendekatinya dan berkata

“Engkau ini siapa? telah berani membuat kacau sayembara yang digelar oleh raja besar Cempalaradya.”

“Aku tidak membuat kacau. Aku mengikuti sayembara dan berhasil, sanggah pemuda rupawan.

“Tetapi keberhasilanmu tidak sah, karena engkau tidak diperbolehkan ikut sayembara tetapi nekat.”

“Kenapa tidak boleh, itu tidak adil”

“Karena Sang Dewi Durpadi menolak orang sudra”

“ Aku tidak peduli apakah Dewi Durpadi mau menerimaku atau menolakku. Yang penting bagiku bahwa akulah satu-satunya orang di alun-alun ini yang dapat memenangkan sayembara.

Arjuna tidak dapat menerima kata-kata pemuda rupawan yang mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang dapat memenangkan sayembara. Karena sebelumnya Arjuna sangat optimis bahwa dirinyalah yang dapat memenangkan sayembara memanah. Karena semenjak wafatnya Ekalaya raja Paranggelung, satu-satunya orang yang dapat mengimbangi kemampuan Arjuna, tidak ada lagi orang yang dapat mengimbangi kesaktiannya dalam memanah. Apalagi Arjuna tahu bahwa busur pusaka negara Cempalaradya yang dibuat dari campuran besi dan tembaga tidak sembarang busur. Selain bobotnya ada kelebihan lain jika dibandingkan dengan busur-busur pusaka lainnya. Getaran enerjinya membuat orang yang mendekat tergetar hatinya. Oleh karenanya Arjuna berharap bahwa sebelum dirinya naik ke panggung sayembara belum ada orang yang mampu menarik busur pusaka. Namun perhitungan Arjuna meleset. Ada seorang pemuda rupawan yang dapat menggunakan busur pusaka dengan sempurna.

“Ki Sanak jangan dikira hanya engkaulah yang secara kebetulan mampu menarik busur pusaka dan memanahnya dengan tepat kata Arjuna dengan nada ejekan”

Pemuda rupawan tersebut terbakar hatinya. Ia ingin menunjukkan bahwa kemampuan memanahnya tidak secara kebetulan. Maka dengan amat cepat ditarikanya busur yang ada di genggamannya mengarah ke langit.

Sebentar kemudian orang banyak yang mengerumuni tercengang dibuatnya. Ada ratusan burung sriti jatuh tertembus panah.

Arjuna yang masih muda panas hatinya, busur yang ada pada genggamannya ditarik kuat-kuat untuk kemudian dilepaskan. Orang-orang dialun-alun semakain takjub menyaksikan kehebatan panah Arjuna. Ribuan anak panah keluar dari busur Arjuna. Suaranya seperti kombang mengarah ke pohon angsana di pinggir alun-alun. Sebentar kemudian pohon itu gundul tinggal rantingnya. Sementara daunnya berguguran ke tanah.

Kidung Malam 81
Pada Suatu Saat …Adu kesaktian memanah yang dipamerkan oleh Pemuda Rupawan dan Arjuna benar-benar mencengangkan semua orang yang memenuhi Alun-alun Cempalaradya. Lautan manusia yang semula ingin pulang karena sayembara dianggap sudah selesai mengurungkan niatnya. Malahan mereka terpaku pada tempatnya masing-masing ketika menyaksikan langit Alun-alun Cempalaradya hujan anak panah. Apa yang telah terjadi? Sebagian besar dari mereka belum tahu bahwa kemenangan Pemuda Rupawan tersebut ditolak Durpadi. Namun Pemuda Rupawan tersebut tidak peduli dengan penolakan Dewi Durpadi. Karena baginya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kesaktiannya di depan orang dalam jumlah besar sungguh menjadi kebanggaan tersendiri. Oleh karena tanpa beban Pemuda Rupawan tersebut ingin meninggalkan alun-alun Cempalaradya yang sudah tidak menarik lagi setelah keberhasilanan memenangkan sayembara. Tetapi sebelum benar-benar meninggalkan Alun-alun, ia dicegat oleh Arjuna. Bagi Pemuda Rupawan pencegatan Arjuna juga menjadi daya tarik baru, dikarenakan ia kembali mendapat kesempatan untuk memamerkan kesaktiannya.

“Hai Kisanak..! Lihatlah pohon Angsana yang telah kehilangan daunnya dalam sekejap. Lakukanlah seperti apa yang saya lakukan. Jika engkau mampu, engkau layak naik derajat menjadi seorang Ksatria, kata Arjuna dengan ketus kepada Pemuda Rupawan.

Pemuda Rupawan tersebut sepertinya tidak menanggapi tantangan Arjuna. Namun tangannya bergerak pelan menarik busur dan melepaskan anak panahnya. Sekejab setelah busur ditarik pelan penuh tenaga, ribuan anak panah lepas dari busurnya, mengarah ke pohon beringin yang berada di tengah Alun-alun. Bagaikan suara ribuan kombang gung yang mendengung memenuhi setiap pasang telinga, gerombolan anak panak itu menerabas pohon beringin. Suara kemerosak disusul dengan jatuhan hampir semua daun pohon beringin tersebut tinggal menyisakan ranting-rantingnya.

Seperti diberi aba-aba, lautan manusia tersebut menghadiahkan tepuk tangan dan teriak kagum kepada Pemuda Rupawan.

Di dasar hati terdalam, Arjuna mengakui bahwa si Pemuda Rupawan tersebut mempunyai kesaktian luar biasa, bisa menandingi kesaktiannya. Arjuna menjadi sangsi, benarkah pemuda rupawan tersebut seorang sudra? Namun di sisi lain sebagai lelaki muda, darah yang mengalir di sekujur tubuh Arjuna mendidih melihat sikap pemuda rupawan yang memandang sebelah mata kepada dirinya.

Melihat gelagat bahwa adu kesaktian memanah mengarah pada perang tanding, maka orang-orang yang berada di Alun-alun dengan sukarela saling memberi aba untuk mundur agar tercipta sebuah ruang lingkar yang leluasa untuk perang tanding antara dua orang sakti tersebut.

Dengan kejadian tersebut titik perhatian beralih dari panggung sayembara ke pinggir Alun-alun. Patih Gandamana yang menjadi penanggungjawab seyembara, naik pitam melihat kejadian demi kejadian yang tidak mengenakan, mulai dari penolakan Dewi Durpadi atas kemenangan Pemuda Rupawan, disusul dengan adu kesaktian antara Pemuda Rupawan dan Arjuna yang mengorbankan ratusan burung Sriti, merontokan daun pohon Angsana dan daun pohon beringin. Sehingga dengan demikian panggung sayembara yang belum selesai sudah tidak diperhatikan lagi. Sesuai sifatnya yang mudah meledak kemarahannya, kejadian-kejadian tersebut sudah sangat cukup untuk dijadikan alasan Gandamana melampiaskan kemarahannya.

Oleh karenanya sebelum Arjuna dan Pemuda Rupawan tersebut melanjutkan pertunjukkan kesaktiannya, Gandamana berteriak lantang dengan menggunakan tenaga dalamnya. Dada setiap orang yang berada di Alun-alun terasa di dodok mendengar suara Gandamana. Suara hiruk pikuk untuk sesaat cep diam, seperti orong-orong kepidak.

“Hai para raja, ksatria, brahmana dan siapa saja yang berada di Alun-Alun Cempalaradaya, bagi yang merasa dirinya sakti jangan memamerkan kesaktinmu di bawah panggung karena tidak semua orang dapat melihatmu. Ayo aku tunggu di atas panggung sayembara untuk memamerkan kesaktianmu berperang tanding melawan aku. Jika dapat mengalahkan aku, akan dinyatakan sebagai pemenang sayembara dan berhak memboyong Dewi Drupadi.”

Tidak ada yang berani protes bahwasannya dengan enaknya sayembara dirubah dari sayembara memanah menjadi sayembara perang tanding. Berdasarkan mandat yang telah diserahkan Prabu Durpada dan Dewi Durpadi, Gandamana berani mengambil langkakh taktis. Rupanya keputusan yang diambil oleh Gandamana tersebut merupakan langkah terbaik untuk mengendalikan keadaan agar tidak semakin kacau dan mengembalikan panggung sayembara menjadi pusat perhatian kembali. Bahkan perubahan sayembara tersebut dianggap sebagai peluang baru bagi yang sudah gagal mengikuti sayembara memanah untuk maju lagi mengikuti sayembara dengan berperang tanding melawan Gandamana.

Tidak perlu lama menunggu, seorang raja berbadan besar melompat dengan ringannya naik ke panggung untuk menghadapi Gandamana. Teriakan dan tepuk tangan mengiringnya untuk member semangat.

Pada sayembara babak baru ini Sengkuni dan Para Korawa tidak tertarik lagi untuk mengikuti sayembara, karena mereka tahu kesaktian Gandamana dan pernah dikalahnyannya. Maka mereka memutuskan untuk tidak ikut sayembara. Mereka lebih tertarik untuk mengadakan pendekatan dengan Pemuda Rupawan yang mampu mengimbangi kesaktian Arjuna. Duryudana mengajak Pemuda Rupawan tersebut menyingkir dari hadapan Arjuna, untuk kemudian meninggalkan Alun-alun Cempalaradya.

Si Pemuda Rupawan tidak menolaknya. Ia sengaja membiarkan dirinya berada di tengah-tengah para Kurawa untuk dibawa kemana, ia pun hanya pasrah. Hanya satu yang menjadi keinginannya bahwa pada suatu saat ia dapat bertemu kembali dengan Arjuna dalam perang tanding yang sesungguhnya. Ya pada suatu saat, entah kapan kata Pemuda Rupawan dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s