Lkon Wayang Part 49


Brantalaras Rabi

Lakon ini mengisahkan perkimpoian Brantalaras anak Arjuna dari Dewi Larasarti, dengan Dewi Suryawati atau Karnawati putri Adipati Karna dari Kadipaten Awangga.

Perkimpoian ini dapat terlaksana setelah Brantalaras dapat memenuhi persyaratan yang diajukan Dewi Suryawati, yakni saat perkimpoiannya nanti Suryawati minta dirias atau alisnya minta dikerik dengan Kuku Pancanaka.

Persyaratan ini semula mrenjadi problem bagi Brantalaras karena yang mempunyai Kuku Pancanaka hanyalah Werkudara aklias Bima, padahal Bima justru membantu Kurawa dengan menyatakan bersedia menjadi juru periasnya Lesmana Mandrakumara.

Putra Duryudana dari Astina itu juga menginginkan Dewi Suryawati.
Namun berkat bantuan Wisanggeni , yakni anak Arjuna dari Dewi Dresanala, persyaratan Dewi Suryawati dapat dipenuhi, sebelum rombongan pengantin dari Astina datang di Awangga.

Untuk membantu Brantalaras, Wisanggeni minta bantuan Petruk untuk dirias sehingga ujud dirinya menjadi serupa dengan Bima. Wisanggeni juga meminjam Kuku Pancanaka milik Anoman untuk dikenakan di jari Petruk.

Dengan Kuku Pancanaka milik Anoman itu Petruk yang ujudnya sudah serupa dengan Bima, mengerik alis Dewi Suryawati. Dengan demikian terlaksanalah perkimpoian Brantalaras dengan Dewi Suryawati.

Bima yang datang bersama rombongan pengantin dari Astina akhirnya menyadari kesalahannya karena membantu Kurawa, dan bukan keponakannya sendiri.

Lenmana Mandrakumara yang gagal kimpoi menangis meraungraung, sedangkan para Kurawa yang marah mulai mengamuk. Namun, mereka dapat diusir oleh Wisanggeni dan Brantalaras.

Burisrawa Lena

Merupakan lakon yang menjadi bagian dari serial Baratayuda. Lakon ini tergolong lakon pakem yang mengisahkan tentang kematian Burisrawa oleh Setyaki dengan bantuan tak langsung Kresna dan Arjuna.

Sebelumnya, pada awal lakon ini diceritakan tentang sumpah Arjuna, yang akan mati bunuh diri untuk belapati gugurnya Abimanyu, bila tidak dapat membunuh Jayadrata pada esok harinya.

Karenanya, para Kurawa menyembunyikan Jayadrata, agar tidak terbunuh, dan dengan demikian Arjuna tentu akan mati bunuh diri, sesuai sumpahnya. Selain itu, ayah angkat Jayadrata menciptakan seribu Jayadrata jadi-jadian untuk mengelabuhi Arjuna.

Sewaktu matahari mulai menggelincir ke barat, Prabu Kresna merasa khawatir, jangan-jangan sumpah Arjuna itu akan dilaksanakan.

Prabu Kresna lalu melepaskan senjata Cakra ke langit, menutup matahari, sehingga suasana di medan perang menjadi redup, seperti senja hari. Semua yang terlibat perang mengentikan kegiatannya, dan semua menunggu untuk menyaksikan Arjuna bunuh diri. Demikian juga Jayadrata. Ia keluar dari persembunyiannya, untuk melihat. Namun pada saat itu Kresna memberi isyarat pada Arjuna, yang segera tanggap, dan melepaskan anak panah Pasopati, memenggal kepala Jayadrata.

Semua orang seolah akan menyalahkan Arjuna, yang dianggap melanggar sumpahnya sendiri. Namun, Prabu Kresna saat itu juga menarik senjata Cakranya, sehingga matahari bersinar terang kembali.

Penggalan kepala Jayadrata jatuh di pangkuan ayah angkatnya, Begawan Sapwani. Pertapa sakti itu lalu menyisipkan sebatang cis (tombak berkait) di antara gigi Jayadrata. Setelah itu, dengan ilmunnya, ia mengirim kepala Jayadrata kembali ke medan perang dan mengamuk membunuh banyak prajurit Pandawa.

Arjuna melepaskan Pasopati sekali lagi untuk menghancurkan kepala Jayadrata itu.

Setelah itu, barulah dikisahkan mengenai kematian Burisrawa.
Sebenarnya, pada perang tanding di antara Burisrawa dan Setyaki yang merupakan musuh bebuyutan, Setyaki sudah kewalahan.

Melihat hal itu, Prabu Kresna berupaya menolong adik iparnya itu. Ia lalu bertanya Arjuna yang sedang sedih karena kematian Abimanyu, apakah Arjuna masih sanggup memanah dengan tepat. Arjuna menjawab sanggup. Kresna lalu merentangkan sehelai rambut dan menyuruh Arjuna memanah rambut itu. Ternyata, Kresna sengaja mengarahkan panah yang dilepaskan Arjuna ke arah Burisrawa. Waktu anak panah itu dilepaskan, meluncur dan membuntungkan tangan kanan Burisrawa yang hendak memenggal kepala Setyaki.

Setyaki lalu memungut tangan lawannya yang masih menggenggam pedang itu dan membabatkan ke leher Burisrawa, mati seketika.

Candrageni

Pada suatu hari Nakula menyamar sebagai raja di Trancang Gribig dengan gelar Prabu Candrageni. Ia melayangkan surat tantangan kepada Prabu Anom Suyudana, Prabu Baladewa, dan Adipati Karna.

Ketiga raja itu setelah menerima surat tantangan. kemudian segera menyerangnya tetapi ketiganya dapat ditaklukkan serta ditawan di Trancang Gribig beserta permaisurinya yakni Banowati dan Surtikanti.

Sementara Prabu Yudistira dan adik-adiknya sangat khawatir karena kehilangan Nakula yang telah lima tahun hilang tanpa ada kabar beritanya. Atas perintah Begawan Abiyasa, mereka pergi ke Dwarawati menemui Sri Kresna.

Setelah Kresna menerima laporan dari Prabu Yudistira, segera memerintahkan untuk menyerang negara Trancang Gribig, sedangkan Arjuna telah mendahului berangkat yang disertai para panakawan. Setibanya di kerajaan, Arjuna langsung membebas-kan Prabu Suyudana, Prabu Baladewa, Adipati Karna serta Dewi Banowati dan Surtikanti tanpa sepengetahuan Prabu Candrageni maupun Dewi Setya Purnama, istri Candrageni.

Setelah itu Gatotkaca dan Abimanyu datang membawa surat untuk Candrageni, yang isinya bahwa raja Amarta akan menyerang kerajaannya. Maka peperangan terjadi; semua ksatria dan sentana Pandawa tidak ada yang kuat melawan kesaktian Candrageni. Akhirnya Kresna meminta Sadewa untuk menandingi, maka Candrageni yang berperang tanding dengan Sadewa itu berubah ujudnya semula menjadi Nakula dan bergabung kembali dengan kakak-kakaknya.

Danasalira

Perkimpoian Adipati Karna dengan Surtikanti mempunyai putra Warsa Kusuma dan telah dewasa. Pada suatu hari ia melamar putri Suyudana yang bernama Dewi Lesmanawati, serta mendapat keterangan bahwa ada syarat untuk mempelai pria yakni harus dapat mewujudkan bale kencana dengan delapan ratus tugu.

Untuk mendapatkan itu, Adipati Karna berpaling kepada Bima untuk memberikan pertolongan. Maka Bima memerintahkan Gatotkaca pergi ke Singgela untuk meminjam bale kencana yang dinginkan Dewi Lesmanawati. Gatotkaca melaksanakan perintah itu dan segera datang menemui Bisawarna yang memiliki bale kencana dan diberikannya.

Pada waktu dibawa ke Awangga lewat udara terlihat oleh Anoman yang dikira ada pencuri yang mengambil bale kencana, maka terjadilah perkelahian. Setelah saling mengenal maka Gatotkaca melanjutkan perjalanannya.

Sementara di Astina persiapan perkimpoian Warsa Kusuma dengan Dewi Lesmanawati telah siap, tetapi digemparkan dengan masuknya seorang pemuda yang mengadakan hubungan cinta dengan Lesmanawati. Ia bernama Bambang Danasalira dari Pertapaan Gambir Melati, cucunya Begawan Sidik Mulya. Ia diperintah kakeknya mencari ayahnya yakni Arjuna dan sebelum pergi ke Madukara diminta datang di Pringgadani. Oleh Arimbi semula bernama Bambang Saptarengga diganti nama Bambang Danasalira dan diperintahkan mengikuti Gatotkaca dalam perjalanan ke Singgela. Namun ia tersesat dan masuk ke negara Astina bertemu Dewi Lesmanawati dan terjalin hubungan cinta.

Mendengar berita ituAdipati Karna tersinggung dan sangat marah maka meminta Arjuna dan Bima datang di Astina. Sedangkan Kurawa menangkap Danasalira dan dihadapkan Prabu Suyudana serta akan dihukum mati di depan umum.

Namun, pada waktu akan dibunuh ternyata tidak ada senjata yang dapat melukai tubuhnya, tetapi akhirnya ia terbunuh oleh keris Pulanggeni milik Arjuna. Gatotkaca melihat peristiwa itu segera mengambil jenazahnya serta membawa terbang ke Dwarawati. Oleh Sri Kresna Danasalira dihidupkan kembali dengan bunga Wijayakusuma.

Danumaya

Prabu Setiwijaya dari Kerajaan Paranggumiwang mengutus Patih Mandanasraya untuk menculik Dewi Subadra. Saat itu, Arjuna memang sedang pergi meninggalkan Kasatrian Madukara.

Dengan cara menyamar sebagai Kresna, Patih Mandanasraya berhasil menculik Dewi Subadra. Dewi Srikandi gagal menghalangi penculikan ini, tetapi ia tetap mengejar sang Penculik. Di perjalanan Srikandi berjumpa dengan Bambang Madukusuma yang hendak mencari Arjuna, ayah kandungnya. Srikandi berjanji akan mempertemukan dengan Arjuna asal saja ksatria muda itu bisa merebut kembali Dewi Subadra.

Sementara itu di Kerajaan Jongparang, Prabu Danumaya mengatur rencana untuk membunuh Arjuna. Ia tahu, Arjuna yang pergi dari Madukara sebenarnya sedang menjadi raja di Kerajaan Tasikmadu. Bersama emban raseksi Ranjasa, Prabu Danumaya pergi ke Tasikmadu. Perang segara terjadi, Danumaya akhirnya tewas. Istri Arjuna yang bernama Dewi Gandawati berhasil dilarikan Emban Ranjasa. Un-tunglah Dewi Gandawati kemudian dapat dibebaskan oleh Bambang Madukusuma.

Sesudah Arjuna diberitahu Srikandi bahwa Dewi Subadra diculik raja Paranggumiwang, Arjuna menyusul ke negeri itu. Diam-diam ia berhasil me-nyusup ke istana dan membawa pulang Arjuna.

Sesudah tahu bahwa Dewi Subadra hilang dari istana, Prabu Setiwijaya memimpin bala tentaranya menyerbu Madukara. Namun serbuan ini dapat dipukul mundur, dan Prabu Setiwijaya akhirnya mati di tangan Bima.

Dewabrata Rabi

Syahdan atas usul ditya Arimuka dan Wahmuka, putri raja Gyantipura, yang bernama Dewi Ambika, Dewi Ambiki, dan Dewi Ambaini, disayembarakan prang. Prabu Dramamuka menyetujuinya, serta diundangkan ke seluruh pelosok negeri, siapa saja yang dapat mengalahkan ditya Arimuka, Wahmuka, dapat mempersunting ketiga-tiganya putrid raja Gyantipura.

Dewabrata, yang semula menolak anjuran ayahandanya, prabu Santanu dari Astina, akhirnya menurut juga untuk kimpoi, memasuki sayembara prang. Banyak sudah para raja yang menginginkan mempersunting putrid raja, tetapi ketika berhadapan dalam peperangan dengan Arimuka dan Wahmuka, kesemuanya kalah, termasuk raja dari Srawantipura, prabu Citramuka dengan segenap wadyanya. Mereka dapat diennyahkan, dan diundurkannya.

Berhadapanlah Arimuka dan Wahmuka dengan Dewabrata. Kemenangan ada di pihak Dewabrata. Setelah menerima usul Semar, dilepasilah musuhnya dengan anak panah yang diberi tanda daun teter dan iris-irisan (potongan-potongan) kunyit. Arimuka dan Wahmuka, berubah ujudnya menjadi kawah dan ari-ari. Raja menerima laporankekalahan putra-putranya. Dewabrata dipanggil, dan dipertemukan dengan ketiga putrinya.

Pada suatu ketika, masuklah keperaduan Dewabrata dan Dewi Ambika, tetapi pada suatu saat keluarlah Dewabrata dan menghampiri kedua istrinya lagi. Kepada Dewi Ambiki dan Dewi Ambaini disarankan untuk masuk ke cupumanik. Dan berangkatlah Dewabrata, dengan meninggalakan istrinya yang masih tidur. Bangun dari peraduan, Dewi Ambika mencari Dewabrata. Menyadari bahwa suaminya sudah pergi, maka disusullah ia ke tengan hutan. Dalam pertemuannya dengan Dewabrata, tak maulah Dewi Ambika ditinggal. Dewabrata menakut-nakuti dengan mengarahkan laras anak panahnya ke Dewi Ambika. Tetapi apa hendak dikata, lepaslah anak panah dari busurnya, dan menghabiskan nyawa dewi Ambika. Terdengarlah suara, yang mengumpat-umpat, “ Hai, Dewabrata, aku akan membalasmu, dalam prang Bratayuda, nantikanlah nantinya ada prajurit wanita, dari negara Pancalareja, aku akan menitis dalam diri prajurit itu”. Kembalilah Dewabrata ke Astina, kepada ayahandanya, prabu Santanu, dilaporkan tugasnya memasuki sayembara, dan diserahkannyalah juga, kedua putrid, Dewi Ambika dan Dewi Ambaini, kepada Prabu Santanu. Dewabrata bermohon akan melanjutkan kewadatannya, dan minta diri untuk pergi ke Talkanda. Putra lainnya, ialah Citragada dan Citrasena, oleh kehendak prabu Santanu, dikimpoikan dengan Dewi Ambiki dan Dewi Ambaini. Pada suatu hari, Hyang Girinata, utusan Hyang Narada, untuk mencabut nyawa Citragada, Citrasena sebagai kelengkapan jumlah dewa-dewa di Suralaya. Pergilah, hyang Narada ke Astina, menunaikan tugasnya, mencabut nyawa Citragada dan Citrasena.

Prabu Santanu menyadari keadaan tersebut. Akhirnya tampuk pimpinan negara Astina diserahkan kepada Begawan Abyasa, Dewi Ambiki dan Ambaini diperistri Abyasa. Selanjutnya prabu Santanu mengasingkan diri, menjadi pendeta, demikian pula Dewabrata.

Gandamana Luweng

Lakon ini mengisahkan usaha Harya Suman untuk bisa diangkat menjadi patih di Astina dengan cara menfitnah Patih Gandamana. Hal ini terjadi saat Patih Gandamana di utus Prabu Pandu Dewanata ke Pringgadani untuk mencari konfirmasi atas ketidakhadirannya Prabu Trembaka beberapa waktu ke Astina apakah ingin bersekutu dengan Astina apakah ingin memisahkan diri.

Perjalanan Gandamana ini menempuh jalan diplomasi atau perdamaian, maka saat ia pergi ke Pringgadani berangkat dengan sendirian supaya tidak menimbulkan kecurigaan Prabu Tremboko.

Namun perintah Pandu ini dimanfaatkan Harya Suman untuk menjebak Gandamana di Pringgada-ni, maka Suman secara diam-diam mengerahkan prajurit Astina untuk mengikuti Gandamana dan menyerbu Pringgadani. Pada saat gandamana tiba di Pringgadani menyampaikan niat baik Prabu Pandu tetapi tiba-tiba Pringgadani diserbu prajurit Astina, maka Prabu Tremboko mencurigai Gandamana dan menangkapnya lalu dimasukkan ke dalam luwengan lalu ditimbun dengan batu.

Harya Suman yang mengetahui peristiwa itu segera melaporkan kepada Prabu Pandu kalau Gan-damana telah tewas, maka sebagai ganti Suman diangkat menjadi patih di Astina, tetapi berkat kesaktian Gandamana dengan Aji Bandung Bandawasa ia dapat keluar dari luwengan dan kembali ke Astina melaporkan peristiwa yang sebenarnya, tetapi ditolak Pandu bahkan Gandamana diusir dari Astina.

Gandamana semakin sedih setelah mengetahui istrinya tewas bunuh diri karena akan dipaksa melayani Suman. Maka dengan kemarahan yang meluap Gandamana menghajar Suman sampai habis-habisan seluruh tubuhnya cacat, lalu bernama Sengkuni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s