Syariat, Tarekat, Hakekat, dan Makrifat


Di zaman saat ini seorang muslim terkadang telah dipusingkan atau dikotak-kotak dalam perbedaan antara Syari’at, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat. Sebenarnya apa itu semua, Apakah itu sebuah kajian akademik ataukah sebuah dogma.

  • Syari’at adalah ilmu tentang perintah dan larangan Allah Swt yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah Swt maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril A.s. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam A.s hingga nabi kita Muhammad Saw adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa A.s dari Nabi Khidir A.s.
    Allah Swt berfirman tentang Khidhir A.s:
    “Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” ( Q.S Al-Kahfi: 65)Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidir A.s berkata kepada Nabi Musa A.s :
    “Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.” 
    Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap Mukallaf (baligh dan Mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.
  • Tarekat (Bahasa Arab: طرق, transliterasi: Tariqah) berarti “Jalan” atau “Metode”, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme/ mistisme Islam. Di zaman sekarang ini, Tarekat merupakan jalan (pengajian) yang mengajak ke jalan illahiyah dengan cara Suluk (Taqarrub) yang biasanya dilakukan oleh Salik.
  • Hakikat (Haqiqat) adalah kata benda yang berarti kebenaran atau yang benar-­benar ada. Yang berasal dari kata Hak (Al-Haq), yang berarti milik (ke­punyaan) atau benar (kebenaran).
    Kata “Haq“, secara khusus oleh orang-orang sufi sering digunakan sebagai istilah untuk Allah Swt, sebagai pokok (sumber) dari segala kebenaran, sedangkan yang berlawanan dengan itu semuanya disebut bathil (yang tidak benar).
  • Ma’rifat yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan Kasyf (wahyu ilham/ terbukanya tabir ghaib) atau Ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu Laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau di amalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi disini bisa berbentuk menentang, menambah, atau mengurangi. Ma’rifat juga berarti pengetahuan yang hakiki tentang illahiyah. Dengan orang menjalankan Syari’at, masuk Tarekat, kemudian ber-Hakikat untuk mendapatkan Makrifatullah sehingga menjadi hamba yang selalu mendekatkan diri setiap detik hanya ke Allah Swt.

Lantas bagaimana jalannya

Seharusnya orang yang mengaku ber-Tarekat, ber-Hakikat dan ber-Makrifat harus berada didalam Syari’at. seharusnya perjalan spritual berasal dari Makrifat yang berarti berpengetahuan meluas dalam memahami Islam baik dalam Al-Qur’an, Hadist, Ushul Fiqih, Balaghoh, ‘Ard, dan Bahasa. Dengan keluasan makrifat orang akan mendapat Hakikat illahiyah yang melahirkan gerakan tarekat dan berujung pada inti Islam yang tidak lain Syari’at.

Perjalan Nabi Muhammad Saw dimulai dari Ma’rifat, Tarekat, Hakikat, dan akhirnya sampai pada Syari’at.
Ma’rifat adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki, yang disimbolkan saat Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Malaikat Jibril A.s, Hakikat saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk Iqra, Tarekat saat Muhammad Saw berjuang untuk menegakkan jalannya dan Syari’at adalah saat Muhammad Saw mendapat perintah untuk sholat saat Isra’ Mi’raj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.
Munculnya istilah Tarekat, Hakikat, dan Makrifat dalam akademisi kajian Islam jauh setelah wafatnya Rasulullah Saw sekitar abad 5 Hijriyah. Sekitar zaman Hujjatul Islam Syekh Imam Al-Ghazali Asy-Syafi’i yang menyendiri dari kajian ilmiah (falsafah) setelah menulis Tahafut al-Falasifah. Kemudian Al-Ghazali menjadi Sufi Sejati dengan menulis kitab sufi Ihya Ulumuddin. kemudian dunia Islam Timur Tengah tenggelam dalam sufi. Dan kemajuan Islam hanya di daerah Mongol, Turki, dan Spanyol yang diprakarsai oleh Ibn Rusdi.

Tidak seharusnya seorang muslim sejati mengkotak-kotakkan ini Syari’at, ini Tarekat, ini Hakekat, ini Ma’rifat, karena yang berkata demikian hanyalah orang yang tidak banyak mengetahui ke-ilmuan Islam secara holistik.

RAHASIA MA’RIFAT

Sangat sulit menjelaskan hakikat dan ma’rifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syari’at saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah Saw memperoleh pengetahuan yang luar biasa langsung dari Allah Swt.
Hafalan tetaplah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah Swt, otak itu baru sedangkan Allah Swt itu adalah Qadim sudah pasti Baru tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah Swt dengan dalil yang anda miliki maka PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.

Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah berma’rifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah Saw, dan melihat Allah Swt, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli ma’rifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadang kala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Ma’rifat cuma sayangnya mata hati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebut “Khatamallahu ‘ala Qulubihim” (Tertutup mata hati mereka) itulah Hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.

Rasulullah Saw menggambarkan Ilmu hakikat dan ma’rifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”.
Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah R.a bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang di umpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seorangpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah Swt)”
(H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy).

Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi Muhammad Saw bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu hanya berdzikir kepada Allah Swt dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.

Masih ingat kita cerita Nabi Musa A.s dengan Nabi Khidir A.s yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan ma’rifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu Syari’at yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.

Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah R.a sebagai berikut :
“Aku telah hafal dari Rasulullah Saw dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebar luaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebar luaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebar luaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku).”
(HR. Thabrani).

Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat?
Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat Rasulullah Saw saja tidak di izinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Rasulullah Saw, dari nabi izin tersebut diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.

Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait dzikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syari’at semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat, dan Ma’rifat adalah Bid’ah Dlolalah.

Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas di ingkari oleh Syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari dari ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu inti sari dari Ilmu Syari’at.

Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat, dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan Taslim dan Tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.

Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah Swt dengan segala sifat-sifat-Nya. Padahal sifat-sifat Allah Swt sangat terkait erat dengan ayat-ayat Kauniyah-Nya yang terhampar di atas muka bumi-Nya.
Betapa Allah Swt melalui ayat-ayat Kauniyah-Nya- memang ingin menunjukkan ke-Maha Kuasaan-Nya dan ke-Maha Besaran-Nya agar hamba-hamba-Nya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku agar tidak mengundang turunnya sifat Jalilah-Nya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapa pun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allah Swt-lah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhluk-Nya.

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an secara berurutan, terdapat paling tidak empat ayat yang menyebut sifat-sifat Jamilah dan Jalilah Allah Swt secara berdampingan, yaitu:
Pertama, surah Al-Ma’idah [5]: 98, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Kedua, akhir surah Al-An’am [6]: 165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ketiga, surah Ar-Ra’d [13]: 6, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka dzalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”.
Dan keempat, surah Al-Hijr [15]: 49-50, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih”.

Pada masing-masing ayat di atas, Allah Swt menampilkan Diri-Nya dengan dua sifat yang saling berlawanan; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang merupakan esensi dari sifat Jamilah-Nya, namun pada masa yang sama ditegaskan juga bahwa Allah Swt amat keras dan pedih siksaan-Nya yang merupakan cermin dari sifat Jalilah-Nya.
Menurut Ibnu Abbas R.a, seorang tokoh terkemuka tafsir dari kalangan shahabat, ayat-ayat tersebut merupakan ayat Al Qur’an yang sangat diharapkan oleh seluruh hamba Allah Swt (Arja’ Ayatin fi Kitabillah).
Karena menurut Ibnu Katsir R.a – ayat-ayat ini akan melahirkan dua sikap yang benar secara seimbang dari hamba-hamba Allah Swt yang beriman, yaitu sikap harap terhadap sifat-sifat Jamilah Allah dan sikap cemas serta khawatir akan ditimpa sifat Jalilah Allah (Ar-Raja’ wal Khauf).

Sementara Imam Al-Qurthubi memahami ayat tentang sifat-sifat Allah Swt semakna dengan hadits Rasulullah Saw yang menegaskan,
“Sekiranya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah Swt dari ancaman adzab-Nya, maka tidak ada seorangpun yang sangat berharap akan mendapat surga-Nya.
Dan sekiranya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah Swt dari rahmat-Nya, maka tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmat-Nya”.
( HR. Muslim)

Dalam konteks ini, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang tokoh tafsir berkebangsaan Mesir mengelompokkan sifat-sifat Allah Swt yang banyak disebutkan oleh Al Qur’an kedalam dua kategori, yaitu Sifat-sifat Jamilah dan Sifat-sifat Jalilah. Kedua sifat itu selalu disebutkan secara beriringan dan berdampingan. Tidak disebut sifat-sifat Jamilah Allah, melainkan akan disebut setelahnya sifat-sifat Jalilah-Nya. Begitupula sebaliknya.
Dan memang begitulah Sunnatul Qur’an selalu menyebutkan segala sesuatu secara berlawanan; antara surga dan neraka, kelompok yang dzalim dan kelompok yang baik, kebenaran dan kebathilan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan sebuah pilihan yang berada di tangan manusia, karena manusia telah di anugerahi oleh Allah Swt kemampuan untuk memilih, tentu dengan konsekuensi dan pertanggung jawaban masing-masing.
“Bukankah Kami telah memberikan kepada (manusia) dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; petunjuk dan kesesatan”. (QS. Al-Balad: 8-10)

Sifat Jalilah yang dimaksudkan oleh beliau adalah sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan, kehebatan, cepatnya perhitungan Allah Swt dan kerasnya ancaman serta adzab Allah Swt yang akan melahirkan sifat Al-Khauf (rasa takut, khawatir) pada diri hamba-hamba-Nya. Manakala Sifat Jamilah adalah sifat-sifat yang menampilkan Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rejeki, dan sifat-sifat lainnya yang memang sangat dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap hamba Allah Swt tanpa terkecuali. Dan jika dibuat perbandingan antara kedua sifat tersebut, maka sifat jamilah Allah Swt jelas lebih banyak dan dominan dibanding sifat jalilah-Nya.

Pada tataran Implementasinya, pemahaman yang benar terhadap kedua sifat Allah Swt tersebut bisa ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik R.a.
Anas menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Saw bertakziyah kepada seseorang yang akan meninggal dunia.
Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?”,
Ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas”.
Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah Saw bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah Swt akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan”. (HR. At Tirmidzi dan Nasa’i).

Sahabat Abdullah bin Umar R.a seperti dinukil oleh Ibnu Katsir memberikan kesaksian bahwa orang yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah Utsman bin Affan R.a. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bin Affan R.a bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Al Qur’an dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah R.a meriwayatkan bahwa Utsman bin Affan R.a terkadang meng-khatamkan bacaan Al Qur’an dalam satu rakaat dari sholat malamnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah Swt yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman adzab Allah Swt dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepada-Nya. Disamping tetap mengharapkan rahmat Allah Swt melalui amal sholehnya.

Betapa peringatan dan cobaan Allah Swt justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaran-Nya, agar kita semakin menyadari akan keberadaan sifat-sifat Allah Swt yang Jalillah maupun yang Jamilah untuk selanjutnya perasaan harap dan cemas itu terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi saat ini Allah Swt masih berkenan hadir dengan sifat Jamilah-Nya dalam kehidupan kita karena kasih sayang-Nya yang besar, namun tidak tertutup kemungkinan karena dosa dan kemaksiatan yang selalu mendominasi perilaku kita maka yang akan hadir justru sifat Jalilah-Nya. Na’udzu Billah.
Memang hanya orang-orang yang selalu waspada yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari sifat Jalilah Allah Swt dan senatiasa meraih sifat jamilah-Nya.
Dan itulah tipologi manusia yang dipuji oleh Allah Swt dalam firman-Nya yang maksudnya,
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran”
. (QS. Az-Zumar [39]: 9)

Semoga kasih sayang Allah Swt yang merupakan cermin dari sifat Jamilah-Nya senantiasa mewarnai kehidupan ini dan menjadikannya sarat dengan kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dan pada masa yang sama, Allah Swt berkenan menjauhkan bangsa ini dari sifat Jalilah-Nya yang tidak mungkin dapat dibendung dengan kekuatan apapun karena memang mayoritas umat ini mampu merealisasikan nilai iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

APABILA TUHAN MEMBUKAKAN BAGIMU JALAN UNTUK MA’RIFAT, MAKA JANGAN HIRAUKAN TENTANG AMALMU YANG MASIH SEDIKIT KARENA ALLAH SWT TIDAK MEMBUKA JALAN TADI MELAINKAN DIA BERKEHENDAK MEMPERKENALKAN DIRI-NYA  KEPADA KAMU.

Pengertian Amal, Qada, Qadar, Tadbir, Ikhtiar, Do’a, dan Janji Allah Swt,  semuanya itu mendidik rohani agar melihat ke dalam diri betapa kecilnya apa yang datang dari seorang hamba dan sebaliknya betapa besar apa yang dikaruniakan oleh Allah Swt.

Rohani yang terdidik seperti ini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu, tapi sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia dari Allah Swt yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah Swt tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayah dari Allah Swt.

Orang berpikiran jernih akan menuju kepada kesucian hati dan akan mudah menerima pancaran Nur Sirr.  Mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah Swt, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci, dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia sendiri yang ingin ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah Swt.
Allah Swt hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan  ‘diri-Nya’. Penemuan kepada hakikat bahwa “tidak ada jalan yang terjulur kepada gerbang  ma’rifat” merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu.
Karena “pengertian” itu tidak ada dalam Ilmu apapun. Ilmu tidak mampu menelurkan pengertian itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa “tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah Swt” maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah Swt.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang ma’rifat dengan do’anya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun, hingga akhirnya membawa kepada berputus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah Swt bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima karunia Allah Swt tersebut sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang ma’rifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan berasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan mencari ma’rifat, seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat, dan berputus asa.  Hal itu menandakan dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah Swt.
Hamba tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Allah Swt, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya.
Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah Swt. Menyerahkan diri atau Aslim kepada Allah Swt itulah yang dapat membawa kehadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian Aslim ini yang berkemungkinan menerima karunia berupa makrifat.

Allah Swt menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah makam tertinggi untuk menghampiri Allah Swt. Seseorang yang sampai kepada makam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah Swt kehendaki dari makam inilah hamba diangkat ke Hadirat-Nya.

Jalan Aslim menuju pintu gerbang makrifat pada umumnya terbagi menjadi dua, yaitu;

1. Jalan orang yang mencari, dan
2. Jalan orang yang dicari.

1. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan Mujahadah (perjuangan/usaha), Berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadah, dan gemar menuntut ilmu.
Dzohirnya sibuk melaksanakan tuntutan Syari’at dan bathinnya memperteguhkan iman. Dipelajarinya tarekat tasawuf, mengenal sifat-sifat yang tercela, dan berusaha mengikiskannya dari dirinya. Kemudian di isikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar semakin lepas dari nafsunya itu agar menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang di ridhai oleh Allah Swt. Inilah orang yang dimaksudkan Allah Swt dalam firman-Nya :

“Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta memperoleh keridhaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah beserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.” ( Ayat 69 : Surah al-‘Ankabut )

 “Wahai manusia ! Sesungguhnya engkau sentiasa bermalasan – (menjalankan keadaan hidupmu) dengan segala upayamu sehingga sampai (semasa engkau) kembali kepada Tuhanmu, dan engkau akan tetap  menemui balasan apa yang telah engkau usahakan itu (tercatat semuanya).” (Ayat 6 : Surah al-Insyiqaaq )

Orang yang ber-Mujahadah pada jalan Allah Swt dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadat, berdzikir, menyucikan hati, maka Allah Swt menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayat sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah Swt tanpa ragu-ragu dan ridha dengan aturan/perlakuan Allah Swt. Dia akan dibawa kedekat pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah Swt saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadirat-Nya ataupun tidak, dikaruniakan ma’rifat ataupun tidak.

2. Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan ber-Mujahadah. Tetapi, Allah Swt telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan menyeretnya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang antaranya dengan Allah Swt.

Semisalnya dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah Swt, maka Allah Swt mencabut kerajaan itu darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan saat itu juga timbul satu ke-insyafan di dalam hatinya, yang membuatnya menyerahkan diri kepada Allah Swt dengan sepenuh hatinya. Sekiranya dia seorang hartawan takdir akan memupuskan hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Sekiranya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut kemuliaan yang dimilikinya dan digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah Swt.

Orang dalam golongan kedua ini dihalangi oleh takdir daripada menerima bantuan dari makhluk.  Sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah Swt dan timbullah dalam hatinya suasana penyerahan atau Aslim yang benar-benar terhadap Allah Swt.

Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa daripada makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan Allah Swt. Suasana seperti ini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana dan tetap dalam istiqamah (ridha dalam perlakuan Allah Swt) akan lebih cepat sampai ke pintu gerbang ke-ma’rifat-an.

Abu Hurairah R.a menceritakan, yang beliau dengar Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya : “Allah Swt berfirman:Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu dan dia boleh memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua’.”

Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah Swt, lalu Allah Swt dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan berhampiran dengan Allah Swt.

Jadi ternyata bukan sekedar “Ngelmu-ngelmuan dan atau berharap dari amal-amalan” tapi sesungguhnya memang seperti uraian-uraian pengertian diatas.  Kalau boleh saya ringkaskan bahwa Jalan tertinggi dalam makam ber-Ma’rifatullah adalah “bersabar dalam perjuangan dengan segala Ujian-ujian (perlakuan-Nya)” – yang sering kita dengan sebutan RIDHA.

Untuk mengerti makna dari tulisan ini hendaknya membacanya harus “lepas” dari nafsu dan dari segala ke“ILMU”an yang ada di diri.  Harus dengan kehati-hatian dan setenang-tenangnya dalam rasa cinta kepada Allah Swt.

Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidir A.s berkata kepada Nabi Musa A.s: “Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”

Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap Mukallaf (baligh dan Mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.
Imam Malik berkata, “Barang siapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi Zindik. Barang siapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Untuk melaksanakan Syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilakukan Rasulullah Saw sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh sederhana, Allah Swt memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi Muhammad Saw melaksanakannya, para sahabat mengikuti. Nabi Muhammad Saw mengatakan, “Shalat-lah kalian seperti aku shalat”.
Tata cara shalat Nabi Muhammad Saw yang disaksikan oleh sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan oleh Ulama, maka kita kenal sebagai rukun shalat yang 13 perkara. Kalau hanya sekedar shalat maka aturan 13 itu bisa menjadi pedoman untuk seluruh ummat Islam agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, dalam rukun shalat tidak diajarkan cara supaya khusyuk dan supaya bisa mencapai tahap makrifat dimana hamba bisa memandang wajah Allah Swt.

Ketika memulai shalat dengan “Wajjahtu Waj-Hiya Lillaa-dzii Fatharas-samaawaati Wal-ardho Haniifam-muslimaw- Wamaa Ana Minal-Musy-rikiin..”
Kuhadapkan wajahku kepada wajah-Nya Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik.
Seharusnya seorang hamba sudah menemukan channel atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahnya yang Maha Agung, sehingga kita tidak termasuk orang musyrik menyekutukan Tuhan. Kita dengan mudah menuduh musyrik kepada orang lain, tanpa sadar kita hanya mengenal nama Tuhan saja sementara yang hadir dalam shalat wajah-wajah lain selain Dia. Kalau wajah-Nya sudah ditemukan di awal shalat maka ketika sampai kepada bacaan Al-Fatihah, disana benar-benar terjadi dialog yang sangat akrab antara hamba dengan Tuhannya.

Syariat tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal dengan Tariqatullah jalan kepada Allah yang kemudian disebut dengan Tarekat.
Jadi Tarekat itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang mengamalkan dzikir. Nama Tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman Nabi Muhammad Saw yaitu Tariqatussiriah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah.
Munculnya perkumpulan Tarekat dikemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan terorganisir seperti nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.a, “Kejahatan yang terorganisir akan bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.

Kalau ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak dilaksanakan dengan metode yang benar (Thariqatullah) maka ibadah akan menjadi kosong hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya mengikuti rukun-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana kemana-mana. Sepanjang shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum sampai ke alam Rabbani.

Ibadah haji yang merupakan puncak ibadah, diundang oleh Maha Raja Dunia Akhirat, seharusnya disana berjumpa dengan yang mengundang yaitu Pemilik Ka’bah, pemilik dunia akhirat, Tuhan seru sekalian alam, tapi yang terjadi yang dijumpai disana hanya berupa dinding dinding batu yang ditutupi kain hitam. Pada saat wukuf di arafah itu adalah proses menunggu, menunggu Dia yang dirindui oleh sekalian hamba untuk hadir dalam kekosongan jiwa manusia, namun yang ditunggu tak pernah muncul.

Disini sebenarnya letak kesilapan kaum muslim diseluruh dunia, terlalu disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat itu dengan benar yaitu Tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan bahkan sebagian orang bodoh menganggap ilmu warisan nabi ini sebagai bid’ah maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusuk beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman Neraka Wail. Harus di ingat bawah “Lalai” yang di maksud disana bukan sekedar tidak tepat waktu tapi hati sepanjang ibadah tidak mengingat Allah. Bagaimana mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah Swt kalau diluar shalat tidak di latih ber-Dzikir (mengingat) Allah?
Dan bagaimana mungkin seorang bisa berdzikir kalau jiwanya belum disucikan?
Urutan latihannya sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an surat Al ‘Ala, “Beruntunglah orang yang telah disucikan jiwanya/ruhnya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan kemudian menegakkan shalat”.

Kesimpulan dari tulisan singkat ini bahwa sebenarnya tidak ada pemisahan antara ke empat ilmu yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat, ke empatnya adalah SATU. Iman dan Islam bisa dijelaskan dengan ilmu syariat sedangkan maqam Ihsan hanya bisa ditempuh lewat ilmu Tarekat. Ketika kita telah mencapai tahap Makrifat maka dari sana kita bisa memandang dengan jelas bahwa ke empat ilmu tersebut tidak terpisah tapi SATU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s