PRAKTEK DALAM TAFAKUR DAN MASALAH URAIAN TAFAKUR.


  • Dalam Tafakur dihilangkan Sifat Basariah (Baharu)
    seperti : Haus, Lapar, Panas, Sejuk dan lain-lain , semua itu hendak dihilangkan sampai Wujud Lahiriah kita , sehingga merasalah Batin kita itu yang dirasakan hanya Allah “LA MAUJUDUN ILLALLAH “
    Yang dikehendaki Ma’rifat hilang ujud Lahir Batin hanya satu saja semuanya hilang kembali kepada yang punya Hak.
    Dalam Tafakur Mengosongkan atau Mengesakan diri timbulkan kesadaran hanya Allah saja, duduk sehening-heningnya kesadaran hanya Allah saja yang ada.Tasawwuf itu Keulamaan, Tuhan tidak dapat dirasa-rasa melainkan hendak di Kenal, inilah bekal yang dibawa mati,
    Amalkan saja Tafakur setiap hari dimana saja kita berada Tafakurlah.

    Dalam Tafakur tanamkan perasaan mu disitulah letaknya Disama tengah hatimu, yaitu pusatmu, semua pikiran perasaan-perasaan, segala ingatan-ingatan dan zikir-zikir hendaklah ditanam pada perasaan yang ada Disama tengah hati, ini perhimpunan diri.
    Semua berhimpun pada Rohulqudus, itulah Rahasia yang Maha Kuasa yang Berkuasa pada sekalian diri manusia.

    Rasa takut itu ada dua macam : Rasa takut siksaan dan rasa takut kehebatan Wibawa (Jalal).

    Yang pertama dapat dirasakan oleh ahli zahir, yaitu orang-orang yang baru dapat merasakan lahiriah saja,kaum muslimin yang hanya mengenal barang konkrit, dan para ulama yang belum begitu dalam Rasa Ma’rifatnya.

    Sedangkan yang kedua, dapat dirasakan oleh Ahlul Qulub : orang-orang yang mengutamakan kebersihan batin (hati), yang sering menghadirkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah.Swt.inilah yang di sebut dan dikenal Ahlul Ma’rifat atau Al-Arifin.

    Yang pertama rasa takut siksaan bisa dan dapat hilang, sedangkan yang kedua rasa takut kehebatan Wibawa ( Jalal ) kekal dan tidak bisa hilang.
    Allah Swt berfirman :
    (QS. Yunus 62-64)

    أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

    (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

    لَهُمُ ٱلْبُشْرَىٰ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

    Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

    (QS. Fushshilat, 30-32)

    إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

    Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.

    نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِىٓ أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

    Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

    نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ

    Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    (QS. Al – Baqarah 38)

    قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

    Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

    (QS. Al – Baqarah, 112)

    بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجْرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

    (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    (QS. Al-Maidah, 69)

    إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلصَّٰبِـُٔونَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

    Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    Pada pokoknya ayat-ayat di atas menunjukan bahwa seorang manusia apabila merasa takut kepada Khaliq-nya ketika ia hidup di dunia ini, dan sangat berhati – hati untuk tidak melihatkan dirinya dalam kejahatan, kedurhakaan dan maksiat, akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadaan aman, tentram tidak merasa takut maupun cemas, malah ia akan mendapat sukses dan kemenangan Rahmat Allah Swt .serta Keridhoan-Nya.

    Marilah kita panjatkan do’a, memohon Ke-Hadirat-Nya agar Dia menghiasi hati dan batin kita dengan rasa takut dan rasa kehebatan Wibawa-Nya. Sebaliknya kita memohon agar Dia menjauhkan kita dari takut dan rasa kegoncangan jiwa pada hari pertemuan dengan-Nya.

    INNAAHU NI’MAL MAULA WANI’MAN-NASHIR.

    Musyahadah atau penyaksian terhadap Al-Haq (TUHAN) tentu mengharapkan tembusan sinar kebenaran yang menyelusup kedala jiwa, perasaan dan hati, sinar yang dinamakan “Nur-Ma’rifat”.
    Dengan Nur -Ma’rifat itulah seorang ‘Arif bermusyahadah.Untuk itu suatu penyaksian (musyahadah) terdapat tiga macam alat batin :

    1.Bashirah (pandangan batin)
    2.’Ainul -Bashirah (mata pandangan batin)
    3.Sy’a-ul Bashirah (nyala pandangan batin)

    Banyak faktor yang bisa menutupi pandangan batin sehingga sulit untuk melihat dan menyaksikan kebenaran yang Hakiki. Lebih-lebih bila syahwat dan kenafsuan sudah menguasai terlalu dalam terhadap diri. Sudah “Mukabbalun Bisyahwatihi” (ditunggangi oleh syahwatnya).

    Imam Ghazali r.a. memisalkan hati sebagai kepingan baja hitam.
    Meskipun bagaimana hitamnya kepingan baja itu, bila dia diasah secara tekun dan terus-menerus pasti akan menjadi putih licin, bersih, dan mampu menerima bayangan dari arah manapun juga. Demikianlah keadaan hati bila dijaga dengan baik dan benar, dibersihkan dari karat-karat yang melekat dan meletakkan arahnya dalam keadaan yang tepat dan benar pula, maka hati akan sanggup menerima bayangan tulisan yang ada pada Lahut Mahfuzh.
    Dalam suatu hadist qudsy yang di riwayatkan oleh Imam Ahmad Ibnu Umar RA.

    INNAS SAMAA WATIWAL ARDA DA’UfAT LAN TASA’ANI WAWASI’ANI QALBU MUKMIN.

    “Sesungguhnya langit dan bumi tidak mampu untuk menampung Aku. Hanya hati orang yang beriman yang sanggup menerima”.

    Dalam Al- Qur’an Allah Swt berfirman :
    Al-Ahzab ayat 72.

    إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

    Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

    Berat tanggung jawab manusia, dan berat pula untuk menerima Al-Haq (TUHAN).
    Tetapi disatu pihak Allah Swt berikan kemampuan untuk menerimanya, suatu pemberian dan anugerah yang amat mulia dan paling berharga.

    Firman Allah dalam Al Qur’an : Al – Baqarah ayat 286.

    لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

    Dalam Kitab Tanwirul Qulub dijelaskan jiwa manusia pada asalnya adalah “Lathifah-Rabbaniyah” (Cahaya Ketuhanan)
    dan dekat sekali hubungan dengan Allah. Swt. Selalu memuja dan memuji serta Tasbih, yang diketahuinya hanya Allah semata-mata.
    Akan tetapi setelah jiwa itu berhubungan dengan jasad barulah jiwa itu mengerti bahwa ada yang lain lagi selain Allah Swt. Di sinilah titik awal dari apa yang di sebut “Lupa”.
    Lupa terhadap keaslian dirinya sebagai “Lathifah Rabbaniyah”, lupa terhadap tugas yang harus di embannya. Karena segala yang lain selain dari Allah Swt.
    (Ka-inat, kaun/aghyaar).
    Yang baru diketahuinya itu telah mampu menguasai jiwanya.
    Munthabi’atan Fi Mir’atihi”
    (Melekat pada lensa mata hatinya)

    Disinilah perlunya peringatan yang dibawa oleh para Rasul, juga peringatan yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

    Firman Allah : Adh-Dhariyat ayat 55.

    وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

    Melaksanakan apa yang diingatkan oleh Rasulullah Saw, berupa larangan dan perintah merupakan pembersihan hati, jiwa dan perasaan yang paling tepat dan berguna.

    Jiwa yang tadinya sebelum dibungkus dengan jasad dalam keadaan bersih dan suci, dengan pembersihan itu akan kembali seperti semula dapat menyaksikan Al-Haq (TUHAN) seperti dahulu.

    Selanjutnya dapat pula menyaksikan ‘Arsy, Kursy dan lain-lain dalam alam Malakut.

    “Penyaksian/ pandangan Yang Esa pada jumlah yang banyak.
    Penyaksian/pandangan terhadap yang banyak pada Yang Esa.

    “Al-Musyahadah adalah kehadiran Al-Haq
    (TUHAN) tanpa adanya prasangka”.

  • Rasulullah bersabda semudah -mudahnya hamba Allah yang menuju kepada Allah. Hendaklah mengetahui dan memahami baik-baik jangan salah paham .
    Sabda Nabi : ” Qalbu Mukmin Baitullah”.
    “Hati orang mukmin itu istana Allah”
    Dan kenapa hati istana Allah ? Karena hati itu tempat kita mengenal Allah, jangan salah paham bukan Allah berdiam dihati karena hati itulah tempat memutuskan hati kita kepada Allah, Zat Allah yang Wajibal Ujud.
    Adapun pengenalan kita kepada Zat Allah seperti firman Allah : ” Laisa kamislihi syaiun. “
    “Ujud Allah itu tiada seumpama dengan sesuatu.”Sabda Nabi : Inallaha Laisa Maqama Laisa Zaman, Laisa kamislihi syaiun.
    ” Bahwasanya Zat Allah atau ujud Allah Taala itu tiada bertempat dan tiada seumpama kepada sesuatu.”

    Ujud Allah itu ada terbagi dua (2) :
    Ujud yang Wajibal Ujud
    Ujud Jaijal Ujud
    Yang dikatakan Ujud Wajibal Ujud itu Ujud Allah Taala yakni yang wajib adanya, dan adanya dengan sendirinya. Dan Zat Allah atau ujud Allah, Diri Allah disifatkan dengan Sifat Qidam artinya Sedia, terdahulu Sedia adanya dari segala sesuatu, dan Diri Allah atau Zat Allah disifatkan dengan Sifat Baqa Kekal adanya tidak rusak binasa. Ujud Allah atau Diri Allah disifatkan dengan Mukhalafah tidak ada persamaan dengan yang diciptakan-Nya.Dan Zat Allah Diri Allah disifatkan dengan Qiyamuhu Binafsi, tidak bertempat. Dan Zat Allah itu disifatkan dengan Wahdaniah (Esa) tidak bersuku-suku, tidak ada depan belakang.

    Ujud Jaijal Ujud.
    Ujud sekalian baharu yang dijadikan Allah dengan sekehendak – Nya. Maka dalam beramal ibadah jangan lagi menduakan Allah. Dalam Tauhid dinamakan Syirik Khafi artinya : Menduakan Allah dengan tersembunyi , karena belum benar pengenalanya kepada Zat Allah atau Ujud Allah. Sebab belum dihapus sifat baharunya masih ada hawa nafsunya , ingatan dunia yang merusak. Pengenalan orang yang sudah mengenal Allah dikatakan Arif Billah. Arif Billah ini tidak ada kekalnya lagi kepada sesuatu karena kekalnya hanya kepada Allah Ta’ala.
    Pada maqam inilah diperoleh lezatnya yang tidak pernah terlintas di dalam hati manusia. Di sinilah sehabis-habis pengetahuan makhluk.

    Maqam Tauhidul Zat inilah setinggi-tinggi maqam dan tidak ada lagi maqam di atas ini. Di sinilah kesudahan pengetahuan makhluk dan pada maqam ini juga kesudahan musyahadah arif billah dan perhentian penjelasan pengetahuan mereka. Pada maqam inilah diperoleh lezatnya yang tidak pernah terlintas di dalam hati…

  • TINGKAT HAKIKAT.
    Orang yang bermutabat hakikat adalah orang yang melulu memperhatikan serta memikirkan Allah Swt. saja.Ia sangat rindu kepada Allah dan ingin ia bertemu kepada Allah.
    Ia sudah kenal kepada Allah, karena ia sudah melihat penzahiran dan penjelmaan dari Allah Swt. Orang yang demikian disebut jenazah berjalan diatas bumi seperti Hakikatnya Saiyidina Abubakar Siddik Radiallahhuanhu.
    Beliau sudah mencapai puncak pengenalan, maka dari itu ia dihadiahi bermacam – macam Karunia, seperti tiada jarak antara satu dengan yang lain, tiada yang terlindung dari pandangannya, bisa terbang keudara dan mengetahui jalan pikiran orang lain , hanya saja dia tak mau mengucapkannya terhadap orang lain.
    Jauh dan dekat baginya sama saja, tidak membedakan antara pangkat orang kecil maupun orang besar kecuali Allah saja yang dianggapnya yang Maha Tinggi dan Maha Besar.Allah Swt. berfirman,

    INNA MALL MU’MINUNALLAZINA IZAZUKIRALLAHU WAJILAT QULUBUHUM.

    “Orang- orang yang beriman itu apabila diingatkan Allah bergetarlah hati mereka. “

    Orang-orang yang larut perenunganya hanya Allah saja dalam ingatannya disebut Allah (Khalik).Bagaimana renunganya itu tidak seorangpun yang tahu, hanya orang yang mengadakan perenungan itu yang tahu akan Hakikat yang didapatnya.Karena pertemuan itu antara yang zahir dan yang graib, karena Allah Swt. adalah graib dan manusia adalah zahir, dan hanya merekalah yang terpilih yang bisa tahu bagaimana pertemuan dengan yang graib itu.
    Orang yang demikian disebut “Maarifat”
    (Tembus pandang zahir kepada yang batin).
    Orang yang bertemu dengan Allah pasti hilang kesadarannya, karena ia memakai gerak Allah, berjalan Allah, berkata-kata Allah dan berbuatpun hanya Allah pada dirinya.

    Firman Allah :

    ” YADULLAHI FAUQA AYDIIHIM.

    “Tangan Allah diatas tangan mereka.”

    Dalil sembahan orang hakikat dikemukakan didalam hadist qudsy :

    WAMAN TARAKAL ISMA WALMA’NA NAHUA MU’MINUNA NAHAQAN

    “Dan barang siapa meninggalkan nama dan ma’na bahwasanya mukmin yang sebenarnya. “

    Maksudnya yang menyembah dan disembah itu adalah satu . Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Swt. menjadikan kita dari tiada kepada ada, tiada nama diberiNya nama, tiada rupa diberiNya rupa, lengkap dengan tubuh dengan hati dengan nyawa serta budi pekerti yang baik dan mulia .Oleh karena itu kita cari dan kita kenallah Tuhan itu dengan hakikat atau Maarifat dengan melalui guru yang sempurna mengenal akan Allah.
    Tetapi jika sudah mengenal yang dikatakan “laisa kamislihi ” jangan sekali – kali meninggalkan pekerjaan sariat baik berusaha maupun ibadah lainnya, karena jika ditinggalkan semua amal ibadah serta usaha menjadi sia -sia atau batal
    (Percuma).

    Dalam hadist qudsy :

    WALHAQIQATU BILA SYARIATI BATILATUN.

    “Bermula ilmu hakikat (yang tinggi) tiada mau mengerjakan syariat adalah batal (percuma).”

    Maka berkata ahli hakikat mengerjakan segala amal yang dituntut :

    WAL ILMU MAAL AMALIN NURUN ALA NURIN

    “Bermula ilmu beserta diamalkan mendapat cahaya dari cahaya yang amat gilang gemilang. “

    Inilah yang dibenarkan oleh hukum agama yang kita tuntut serta kita amalkan .

    Firman Allah :

    LIKULLI DARAJATIN MIMMA A’MILU.

    “Bagi tiap-tiap pangkat/derajat, tercapai dari sebab amal perbuatan mereka. “

    Sudah barang tentu amal anak Adam tidak sama dan tidak serupa , berbeda-beda sebagaimana tingkat dan kedudukannya manusia didunia sesuai hasil amal perbuatan mereka.
    Pahala seorang Nabi tentu tidak sama dengan seorang Wali , pahala seorang Wali tentu tidak sama dengan seorang mukmin, pahala seorang mukmin tentu tidak sama dengan seorang mukmin yang lainya dan surga itu disediakan untuk bagi orang – orang yang bertakwa.
    Firman Allah dalam Al Qur’an :

    UIDDAT LIL MUTTAQIN.

    “Surga itu disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. “

    TINGKATAN/ DERAJAT MENGENAL JALAN KEPEDA ALLAH S.W.T.

    Tingkat /derajat jalan mengenal Allah yaitu :
    -Tingkat/ derajat Sariat.
    -Tingkat/ derajat Tharikat
    -Tingkat/derajat Hakikat.

    -Tingkatan Syariat.
    Orang yang hidup sesuai dengan hukum Allah Swt. Seperti mengetahui sah, batal, haram, makruh, mubah sunah, fardu, wajib, mustahil, harus dan lain-lain yang terkandung didalam hukum syara dan mengerjakan apa yang diperintah serta meninggalkan segala apa yang dilarang, hidup berdampingan dengan rukun dan damai serta selalu berusaha dan beribadah minta kelimpahan dari Allah agar permintaannya di kabulkan.
    Tetapi jika beribadah ingin disanjung atau minta pujian dari orang lain, kemudian melakukan hal-hal licik memberikan uang atau sejenisnya kepada orang banyak atau pendukungnya agar kedudukannya bisa dipertahankan, amal ibadah seperti tersebut tidak diterima oleh Allah
    dikarenakan ia tidak mengenal sama sekali bayangan ujud Allah SWT.
    Hanya mulutnya saja yang memuji Allah, tetapi hatinya menerawang entah kemana tidak khusu’ ibadah sholatnya, dikarenakan tiada mengenal Tuhan yang disembahnya.Yang diterima oleh Allah Swt. Hanya amal jariahnya saja, itu pun jika ia memberikan dengan ikhlas serta bersih lagi halal. Niat ibadah orang seperti itu hanya bergantung pada bacaan saja. Atas penyembahan orang-orang tersebut di atas diterangkan oleh hadist yang diriwayatkan oleh sahabat seperti :

    MAN AFDAL ASMA ADUNAL MA’NA FAQAD KAFAR.

    “Barang siapa menyembah nama tiada menyembah ma’na maka sesungguhnya kafir. “

    Dilain hadist mengatakan

    MAN AFDAL MA’NA DUNALL ISMI PAHUWAL MUSRIKUN .

    “Barang siapa menyembah ma’na tiada dengan nama maka sesungguhnya musyrik.”

    Maka jelaslah jikalau penyembahan kita masih termasuk kafir dan musyrik tidak akan masuk surga, karena surga itu adalah tempat bagi orang-orang yang bersih serta mengenal Allah dengan sempurna.
    Martabat orang sariat itu dinamakan martabat Mubtadi tingkat orang yang baru pertama belajar untuk mengenal Allah .Jikalau sampai akhir hayat masih mempertahankan pelajaran seperti ini, maka ia tidak akan masuk surga, karena perjalanan mereka masih kosong tentang ilmu Hakikat (Batin).

    Di katakan didalam hadist qudsy :

    WASSARIA’TI BILA HAKIKATIN A’TILATUN.

    “Bermula ilmu syariat dengan tiada menuntut ilmu hakikat adalah hampa (Kosong) “

    -Tingkatan Tharikat.
    Tingkat orang tharikat itu adalah itu adalah orang-orang yang mengerjakan syariat dengan sempurna sesuai dengan ketentuan hukum syara, kemudian menambah lagi dengan ilmu hakikat untuk dasar pertama ia belajar tawakal
    ( Orang yang menyerahkan diri kepada Allah )
    Menerima segala takdir Allah, sabar didalam kesukaran, takut kepada Allah, ia merasa malu terhadap Allah dan belajar memerangi hawa nafsu, ia tahu bahwa Allah melihat lubuk hatinya sehingga ia takut menyimpang dari larangan yang di perintahkan oleh Allah.
    Orang yang berjalan ditingkat tharikat itu bermacam – macam ada yang mengamalkan dikarenakan Orang banyak, ada yang suka menyendiri masing-masing dengan kesenangannya. Orang yang benar-benar menjalankan tharikat banyak mendapat berkah dari Allah Swt. Segala yang hidup di dunia terutama dunia binatang takluk dan tunduk serta mengikuti perintahnya.
    Ibadah orang tharikat soal hatinya sudah bersih, tetapi masih sedikit tentang hakikat penyembahan masih syirik walaupun sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang sariat. Karena dalam ia berzikir atau mengingat Allah ia meletakkan Allah dilubuk hatinya seolah-olah Allah berhadapan dengan dia inilah maka ia syirik.
    Oleh karena itu orang tharikat dinamakan dengan martabat “Mutauwasith” jalan kedua untuk menuju Allah Swt.

    Didalam hadist qudsy dikatakan :

    MAN AFDAL ASMA WAL MA’NA FA HUWA MUNAFIQUN.

    “Barang siapa menyembah nama dan ma’na maka ia munafik.”

    Orang seperti ini masih dapat berkahnya dari Allah, masih dapat keringanan nanti diyaumil akhirat. Sebab hakikat orang seperti ini sudah bersih dan hampir ia kepada Allah Taala. Tetapi belum tembus pandangan hatinya terhadap Allah masih bayang -bayang hanya taat saja melaksanakan perintah syariat serta amalan-amalan lainnya. Tetapi janganlah kita mempertahankan martabat  ini sebab masih syirik, jika masih syirik tentu tidak akan masuk surga.

    Dalam riwayat disebutkan :

    LATASIU’L IBADATU ILLA BI MA’ARIFATIL MA’BUDI

    “Tiada syah amal ibadah , kecuali mengenal siapa yang disembah. ”

  • Wa fiam fusikum wafala tursium artinya dan didalam diri kamu mengapa tiada engkau perhatikan.
    Wahuwa mahakum aimakuntum artinya dan allah berserta kamu dimana saja kamu berada
    latahaf walatahsan inallah ha alakuli syaindmuhid
    artinya jangan takut jangan gentar bahwasanya allah atas segala sesuatu(meliputi)
    zaharaila syaind fahuwa batilu artinya nyata allah pada sesuatu maka ia batal. Tasabanahum jamian walkadulum syabatan artinya duduk sama-sama mereka dan hati mereka berlainan
    usahali ankartuh artinya jika aku sholat inkar aku ..
  • BUKAN TAJALLI ALLAH, MELAINKAN TAJALLI  NUR ILAHI

    Luruskan kembali pemahaman kita soal tajalli. Yang tajalli itu Nur Allah, bukan Allah-nya.
    Nur Allah bukan Allah.
    Kalau Allah yang tajalli, kiamat tanpa sangkakala namanya. Hapus sekalian alam beserta isinya, kembali ke Ahadiyat:  ALLAH  SAJA ADA.
    Yang ditajallikan Allah pada Bukit Thursina sehingga hancur pada era Musa a.s. itu Nur Ilahi berupa pancaran budduhun dari dahi Musa a.s.Dan tatkala Musa datang untuk [munajat dengan Kami] pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman [langsung] kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah [diri Engkau] kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya [sebagai sediakala] niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu [4], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Q.S. Al-A’raaf:143)

    LIHATLAH KE BUKIT ITU = ARAHKAN DAHIMU KE BUKIT ITU

    Cahaya Tuhan bukan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s