Asal-usul Dajjal Al-masih


Dajjal Adalah Dari Suku Ashkenazi”

Di atas adalah pernyataan teori saya tentang asal usul Dajjal. Hipotesis ini dilakukan secara ringkas saja dari buku, jurnal dan internet. Di bawah ini saya ingin menjelaskan mengapa saya beranggapan Dajjal berasal dari suku Ashkenazi.

Apa itu Ashkenazi?

Ashkenazi ialah nama suku (tribe) dari salah satu cabang dari bangsa Yahudi. Yahudi itu berasal dari suku bangsa sebelah Siti Sarah yaitu istri Nabi Ibrahim A.s. Semua anak keturunan dari Siti Sarah adalah digelar Bani Israel.
Bani Israel ialah gelar kepada Nabi Yaqub A.s. yang mana semua keturunannya bermula dari Nabi Daud A.s, Nabi Sulaiman A.s hingga Nabi Musa A.s dan Nabi Isa A.s adalah berketurunan Yahudi yang dikenal dengan sebutan Bani Israel.

Populasi Suku Ashkenazi?

Populasi terbanyak adalah di Amerika Serikat dimana ditengarai sebesar 5-6 juta orang menetap di sana. Diikuti pula oleh negara Israel, sebesar 3-4 juta orang menetap di Israel.

Adakah Dajjal berketurunan Yahudi?

Pandangan peribadi saya ialah YA.
Tak ada hadist khusus menyebut Dajjal dari keturunan Yahudi. Saya berpegang kepada atas 2 fakta sahih di bawah:


(Pertama)
– Berdasarkan riwayat Ahmad dan Muslim dari Anas.

“Dajjal akan diikuti oleh 70,000 orang Yahudi Isfahan yang memakai toga.”

>
Orang-orang Yahudi mempunyai sifat yang sama yaitu hanya mempercayai orang sebangsa dengan mereka. Ini disebabkan semenjak zaman Nabi Ibrahim lagi umat Yahudi berpegang bahwa mereka adalah bangsa yang dipilih oleh Allah.

>
Yahudi Isfahan mengikut arahan Dajjal kerana mereka tahu pemimpin mereka adalah berbangsa Yahudi seperti mereka.
(Kedua) – Berdasarkan realiti dunia hari ini yang dikuasai golongan Yahudi.
betapa Yahudi sejak 300 tahun dahulu telah menguasai dunia dari pelbagai aspek seperti:

* Politik Antarabangsa
* Ekonomi Dunia * Hiburan dan Perfileman
Di atas dua fakta di atas saya amat berkeyainan Dajjal berketurunan Yahudi. Cuma dalam artikel ini saya ingin mengkhusus akan suku Yahudi itu.

(Ketiga) – Berdasarkan pendapat Janet Moser
Janet Moser seorang pengkaji konspirasi Yahudi berpendapat bahwa Dajjal (AntiChrist) adalah dari bangsa Yahudi.

Dalam artikelnya yang bertajuk “THE EARLY JEWISH & CHRISTIAN VIEW OF THE IDENTITY OF THE ANTICHRIST”, Moser mengambil fakta dari kitab Injil dalam bab 11 (Daniel) ayat ke-37, yang berbunyi:

“Neither shall he regard the God of his fathers . . .nor regard any god: for he shall magnify himself above all.”

Fakta 1: Tokoh-Tokoh Suku Ashkenazi

Ada beberapa sebab tertentu mengapa saya cenderung untuk mengatakan Dajjal berasal dari suku Ashkenazi. Fakta-fakta tersebut ialah, bahwa nama asli Dajjal adalah Musa Kamiri dan daerah Kamiri itu berada dalam Suku Ashkenazi…

* Kebanyakan tokoh-tokoh perang dunia berasal dari suku Ashkenazi.

* Tokoh-tokoh sains Eropah adalah dari bangsa Yahudi

* Tokoh-tokoh ekonomi dunia sekarang adalah berasal dari Yahudi suku Ashkenazi

* Kesemua tokoh berpengaruh dunia adalah berbangsa Yahudi Ashkenazi

Beberapa Latar Belakang Tokoh Ashkenazi yang perlu diketahui :

Baron Rothschild, John D. Rockefeller, Karl Marx dan Albert Einstein.

1. Albert Eistein,merupakan Yahudi suku Ashkenazi, beliau adalah saintis terulung yang diagung-agungkan oleh barat sehingga wataknya dimasukkan dalam program Microsoft Office pada ‘Office Assistant”. Tidak mengherankan , Bill Gates juga berbangsa Yahudi.

2. Karl Marx, juga berbangsa Yahudi suku Ashkenazi. Beliau menulis beberapa buku dan juga pengasas faham Nazi yang didukung oleh Adolf Hitler (juga seorang Yahudi, sebelah ibunya).

3. Henry Kensigger, bekas sekutu dagang Amerika Syarikat juga dari suku Ashkenazi. Sekarang ini menjadi salah seorang pemimpin The Bilderberg Group.

4. Keluarga Rothschild. Merupakan keluarga yang terkaya di dunia dan 50% kekayaan dunia sekarang adalah miliknya. Keluarga Rothschild adalah penyebab bagi segala peperangan dunia dari 1800-an hingga sekarang.

5. Keluarga Rockefeller, juga penguasa ekonomi dunia, dikatakan 40% kekayaan dunia sekarang adalah miliknya termasuk semua mesin-mesin carigali minyak disemua negara Arab. Rockefeller adalah pengasas Trilateral Commission malah mempunyai universiti sendiri. Dia memiliki konspirasi dan dia adalah orang yang berhubungan dengan Anti Christ (Dajjal).
Di atas hanya beberapa tokoh saja dari suku Yahudi Ashkenazi. Yahudi dari suku lain juga mungkin menguasai pelbagai dimensi sosial dunia. Cuma Dajjal berkemungkinan lebih cenderung untuk menaikkan saudara sukunya pada peringkat teratas.
“Yakni Dajjal mau tokoh-tokoh dari sukunya yaitu Ashkenazi menjadi pemimpin bagi semua tokoh-tokoh dari suku Yahudi yang lainnya”

Inilah asal usul yang selama ini kami kaji yang dapat saya paparkan. Benar atau tidak terpulang kepada anda untuk mengkaji lebih mendalam tentang fakta-fakta yang telah kami bawakan. Kami harap segala apa yang telah kami sampaikan ini dapat membuka wawasan anda-anda semua.

Hakikat Dajjal Al-Massih


Bissmillahirahmanirahim…syukur kehadirat Ilahi dengan limpah karunia ilmu yang tidak terputus-putus ini, akhirnya aku dapat kisah tentang Dajjal Al-Massih. Sekian lama aku mengkaji dan bertanya mencari identitas ataupun hakikat Dajjal Al-Masih akhirnya dapat juga pengertian dan menjadikan ini suatu titik perubahan kepada sekalian saudara-saudaraku sesama Muslim untuk waspada dan berjaga-jaga akan kedatangan Ad-Dajjal Al-Massih. Sebelum aku menguraikan siapakah Dajjal ini, aku akan mengutip sepotong hadist yang artinya:

..seandainya dia (Dajjal) keluar, sedangkan aku berada di kalangan kalian, maka akulah yang akan berhadapan dengannya untuk mewakili setiap umat Islam. Dan dia (Dajjal) keluar selepas kematianku, maka setiap kamu adalah penyelamat (bertangung jawab untuk melawannya) dan Allah sebagai penolong kamu sekalian”.

Siapakah Ad Dajjal Al-Massih?

Aku telah membuat beberapa kajian dan terbukti disini terdapat sepotong hadis yang menyatakan Dajjal ini bukanlah binatang maupun makhluk lain, bahkan dia adalah manusia seperti kita. Namun aku tidak mau anda-anda semua keliru dengan fakta yang aku dapatkan ini. Oleh karena itu mari fahami hadist hadist yang aku sediakan dibawah ini:
Hadist ini diriwayatkan Amir Ibnu Syarahil Shabi Shab Hamdan dari Fatimah binti Qais dan Fatimah mendengar hadis ini langsung dari baginda:

Setelah habis iddahku, aku mendengar suara adzan lalu aku pun pergi ke masjid untuk sholat bersama Rasulullah Saw. Aku berada di shaf wanita dan sangat berdekatan dengan shaf makmum lelaki. Selepas Rasulullah Saw sholat, baginda terus berkata: ” Hendaklah kamu semua duduk di tempat sholatmu. Tahukah kamu kenapa aku panggil kamu sekalian ke masjid?” Seorang sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lalu baginda menyambung: “Aku mengumpulkan kamu karena Tamim ad-Dari yang dahulunya seorang Nasrani datang kepadaku dan memeluk Islam. Dia (Tamim) menceritakan satu perkara yang pernah aku ceritakan kepada kamu semua perihal Dajjal.” “Dia (Tamim) memberitahukan kepadaku bahwa dia pernah belayar bersama 30 lelaki kabilah Lakhm dan Juzdam. Lalu mereka dipukul ombak selama sebulan sehingga mereka menemukan sebuah pulau di tengah lautan, tempat tenggelamnya matahari. Mereka kemudian berlabuh di pulau itu. Sesudah mendarat, mereka terkejut didatangi makhluk berbulu tebal, lalu mereka berkata: “Apakah kamu ini?”. Makhluk itu menjawab: “Aku penjaga rahasia (Jassasah)” Mereka bertanya lagi: “Menjaga apa?”. Makhluk itu menjawab: “Tak perlu bertanya lagi, pergilah berjumpa seorang lelaki di biara itu karena dia mau mendengar berita dari kalian.”

Tiba di biara itu, mereka melihat sebesar-besar manusia yang dirantai. Kedua tangan dipasung ke leher. Kaki dan lutut diikat besi hingga ke bahunya. Kemudian mereka bertanya: “Siapa kamu ini?” Lelaki yang dipasung itu menjawab: “Ceritakan kepadaku tentang kurma di Baisan.” Mereka menjawab: “Ia sudah hampir tidak berbuah lagi.” Lelaki dipasung itu bertanya lagi: “Bagaimana pula dengan Laut Thabariya ? (Laut Mati) Apakah airnya masih ada?” Lalu mereka jawab: “Airnya hampir kering.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana dengan Nabi orang-orang ummiyin ( Muhammad saw ), apakah dia telah lahir? Apa yang dikerjakannya?” Mereka menjawab: “Dia telah lahir di Makkah dan berhijrah ke Yathrib (Madinah).” Dia bertanya: “Apakah orang-orang Arab memeranginya lagi?” Mereka menjawab: “Ya. Mereka memeranginya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana perlakuan mereka?” Mereka jawab: “Dia (Muhammad) telah banyak mendapat kemenangan, hampir semua orang Arab kini mengikutinya.” Lelaki itu berkata: “Itu benar terjadi?” Mereka menjawab: “Benar. Itu yang benar terjadi” Lelaki itu berkata: “Kalau mereka mengikutinya, maka itulah yang lebih baik kepada mereka. Sekarang aku beritahukan kepada kamu semua. Aku adalah al-Masih ad-Dajjal. Sudah sangat dekat masa untuk aku diizinkan keluar. Bila aku keluar nanti, aku akan berjalan ke seluruh muka bumi, kecuali Makkah dan Thahibah (Madinah) karena aku dihalangi para malaikat.” Selepas diceritakan kepada semua yang berada di masjid itu, Rasulullah pun berkata: “Inilah Thahiba yakni Madinah. Bukankah aku pernah memberitahu kamu mengenai (Dajjal) ini? Sesungguhnya kisah yang Tamin ad-Dari sampaikan kepadaku bersesuaian benar dengan apa yang pernah aku sampaikan pesan kepada kamu sekalian. Dajjal itu berada di Laut Shyam atau Laut Yaman, di arah Timur” . Fatimah yang menceritakan kata-kata Nabi itu kemudian berkata kepada Amir: “Itulah yang aku dengar dari Rasullullah Saw.”

Hadis ini menjelaskan tentang satu kepastian kalau Dajjal adalah seorang manusia, bukan satu konsep bangsa atau golongan. Jika wujud satu golongan, maka itu adalah persoalan lain yang berkaitan dengan lelaki yang disebut Dajjal ini. Tidak mungkin Nabi Saw menyampaikan keterangan yang mempunyai maksud lain, Nabi Saw tidak mungkin membuat kesalahan, sedangkan hadist-hadist disampaikan bertujuan untuk menjelaskan suatu maksud secara konkrit. Maka, pernyataan bahwa Dajjal adalah manusia juga satu pernyataan konkrit.

Hadislain juga menjelaskan, masa munculnya Dajjal itu adalah seperti berikut:

– akan muncul pada akhir zaman

– mengaku bahawa dia adalah Tuhan

– menyebar fitnah dan dusta

– keluar selama 40 sebelum dibunuh Nabi Isa A.s (40 hari, 40 bulan, 40 tahun atau 40 abad tidak dijelaskan oleh Nabi Saw)

Siapakah dajjal?

  1. Telah bersabda Rasulullah Saw: “Ternyata ia adalah seorang laki laki yang berbadan besar, merah, berambut keriting dan bermata sebelah.” (HR. Bukhari)
  2. Telah bersabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya Al Masihuddajjal adalah seorang laki laki, ujung telapak kakinya berdekatan, sedangkan tumitnya berjauhan, berambut keriting, bermata sebelah dengan mata yang terhapus.” (HR. Abu Dawud dan Imam Ahmad)
  3. Telah bersabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya kepala dajjal itu dari belakang terlihat tebal dan berkelok-kelok.” (HR. Ahmad)
  4. Telah bersabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya dajal itu terhapus matanya yang sebelah kiri.” (HR. Ahmad)
  5. Telah bersabda Rasulullah Saw: “Pada matanya yang sebelah kanan, seakan akan ia adalah satu biji anggur yang terapung.” (HR. Bukhari)

Turunnya Isa Al Masih


Tanda – Tanda Qiyamah Kubro (Kiamat Besar) yang ketiga (Asyrootussaa’ah
Al Kubro
) yaitu turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.

Ada beberapa perkara dalam bahasan ini, yaitu :

  1. Landasan dan dalil bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun ke bumi, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
  2. Status Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
  3. Bagaimana para ‘Ulama Ahlus Sunnah menyikapi Hadits-hadits tersebut.
  4. Sifat Nabi ‘Isa عليه السلام dan apa yang akan dilakukannya.
  5. Tempat munculnya Nabi ‘Isa
    عليه السلام.
  6. Berapa lama Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup.
  7. Para ‘Ulama menyimpulkan terhadap Firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengenai turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام.
  8. Hikmah diturunkannya Nabi ‘Isa عليه السلام.

1.   Landasan dan Dalil

Berikut ini adalah berapa dalil yang menyatakan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi. Nabi ‘Isa عليه السلام yang akan diturunkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kembali ke bumi itu adalah Nabi ‘Isa عليه السلام yang dulu pernah Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan, dan dalam riwayat Nabi ‘Isa عليه السلام berusia 33 tahun. Sehingga ada ‘Ulama yang menyatakan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi dan hidup selama 7 (tujuh) tahun. Jadi jumlah umur beliau عليه السلام seluruhnya adalah 40 tahun. Dan ada pula penjelasan dari para ‘Ulama terhadap ke-shohiihan Hadits tersebut, sehingga berarti jumlah 40 tahun itu adalah umur 33 tahun ketika diangkat, dan ketika diturunkan kembali ke bumi selama 7 tahun.

Pertama, sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Az Zukhruf (43) ayat 61 :

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Artinya:

Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه menafsiirkan tentang ayat tersebut, bahwa yang dimaksud adalah keluarnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام sebelum hari Kiamat. Inilah yang menjadi dasar keyakinan para ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun menjelang hari Kiamat.

Kedua, juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat Muhammad (47) ayat 4 :

فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنّاً بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاء حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

Artinya:

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allooh menghendaki, niscaya Allooh akan membinasakan mereka; tetapi Allooh hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allooh, Allooh tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Seperti dijelaskan oleh Imaam Al Baghowy رحمه الله dalam tafsir beliau tentang ayat ini,  maka yang dimaksud dengan mengalahkan orang-orang musyrikin dengan dibunuh dan ditawannya mereka itu sehingga semua penganut ajaran di dunia ini akan masuk ke dalam Islam.  Dan semua dien hanya lah untuk Allooh سبحانه وتعالى maka tidak ada setelah itu jihad atau peperangan.

Kapankah hal itu terjadi?  Ialah ketika turunnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام.

Ayat tersebut, menurut beliau (Imaam Al Baghowy رحمه الله) menjelaskan bahwa perang tidak akan terjadi lagi setelah turunnya Nabi ‘Isa puteraMaryam عليه السلام, karena semua manusia ketika itu tunduk dan menganut Islam.

Ketiga, juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat An Nisaa’ (4) ayat 159 :

وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً

Artinya:

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Ayat tersebut ditafsirkan oleh Imaam Ibnu Jariir Ath Thobari رحمه الله, kata beliau dari Abu Maalik, bahwasanya yang dimaksud dari ayat tersebut adalah ketika turunnya Nabi ‘Isa putera Maryam عليه السلام, adalah tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab kecuali mereka akan beriman. Artinya, orang Yahudi dan Nasrani akan beriman karena Nabi ‘Isa عليه السلام telah turun dan itu diberitakan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam ayat tersebut.

Pelajaran terpenting dari ketiga ayat tersebut diatas adalah semuanya menjelaskan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan ada lagi, beliau عليه السلام akan turun lagi; dan Nabi ‘Isa عليه السلام akan berperan di akhir zaman untuk menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى baginya.

Dalam Hadits Shohiih diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 2476 dan Imaam Muslim no: 406 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, beliau berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

Artinya:

“Tidak akan tegak hari Kiamat sehingga akan turun di tengah-tengah kalian Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa عليه السلام), ia menjadi seorang hakim (penguasa) yang adil, dan akan mematah-matahkan (menurunkan) salib dan membunuh babi, serta akan menghentikan aturan jizyah (upeti, pajak).
Harta akan melimpah, tidak ada lagi orang yang membutuhkan (mau menerima)  harta.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, berarti Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah meyakini ke-shohiihan-nya, bahwa isi yang terkandung dalam Hadits tersebut adalah benar adanya. Kita harus membenarkannya. Yang tidak membenarkannya berarti ia tergolong Ingkar-Sunnah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Berarti Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun kembali ke bumi.

Juga dalam Hadits yang dirwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 7311 dan Imaam Muslim no: 5059, dari salah seorang Shohabat bernama Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia mendengar bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاََ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

Artinya:

“Senantiasa kelompok kecil dari umatku akan berperang diatas kebenaran (– berperang karena Allooh سبحانه وتعالى untuk meninggikan Laa Ilaaha Illallooh – pent.), mereka menang dan terus menerus seperti itu sampai terjadi hari Kiamat. Sedangkan mereka dalam keadaan menang.”

Juga terdapat penjelasan dalam Kitab “As Sunnan Al Waaridatu Fil Fitaani Wa Ghowaa-iliha Was Sa’aati Wa Asrootiha” V/1105 sebagai berikut ini:

فإذا كان يوم الجمعة من صلاة الغداة وقد أقيمت الصلاة فالتفت المهدي فإذا هو بعيسى بن مريم قد نزل من السماء في ثوبين كأنما يقطر من رأسه الماء فقال أبوهريرة إذا أقوم إليه يا رسول الله فأعانقه فقال يا أبا هريرة إن خرجته هذه ليست كخرجته الأولى تلقى عليه مهابة كمهابة الموت يبشر أقواما بدرجات من الجنة فيقول له الإمام تقدم فصل بالناس فيقول له عيسى إنما اقيمت الصلاة لك فيصلى عيسى خلفه(السنن الواردة في الفتن وغوائلها والساعة وأشراطها 5/1105

Artinya:

Maka pada hari Jum’at, ketika akan sholat Fajar dan Iqomat sudah dikumandangkan, maka Imaam Mahdi menengok, ternyata dilihatnya Isa bin Maryam عليه السلام telah turun dari langit, mengenakan dua baju, seolah dari kepalanya meneteskan air.”

Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Ya Rosuulullooh, jika aku menemuinya, aku merangkulnya.

Lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya keluarnya ini tidak seperti keluarnya (– Isa عليه السلام – pent.) yang pertama kali. Engkau akan menemui dia dalam keadaan berwibawa, dan disegani. Dia akan memberitahu kaum dengan tingkatan surga.” Lalu Imaam Mahdi mengatakan padanya, “Majulah anda dan jadilah Imaam (– sholat – pent.).”

Maka Isa عليه السلام berkata, “Sesungguhnya Iqomat telah dikumandangkan untukmu.”

Sehingga Nabi Isa عليه السلام pun sholat dibelakang Imaam Mahdi.”

Jadi dari hadits diatas, maka di akhir zaman nanti, ketika Imaam Mahdi sedang berada dalam barisan-barisan yang siap berperang dengan Ahlul Kitab, diantara mereka adalah orang-orang Yahudi dan Dajjal. Kemudian setelah siap hendak sholat, dan Iqomat telah disuarakan, maka Nabi ‘Isa عليه السلام
pun muncul.

Lalu Imaam Mahdi berkata: “Wahai ‘Isa عليه السلام, silakan engkau menjadi Imaam”.

Kata Nabi ‘Isa عليه السلام: “Engkau yang menjadi Imaam, karena Iqomat telah ditegakkan.

Maka Imaam Mahdi pun menjadi Imaam Sholat dan Nabi ‘Isa عليه السلام menjadi ma’mum-nya. Setelah sholat selesai, kemudian kepemimpinan barulah diambil alih oleh Nabi ‘Isa عليه السلام.

Hal ini adalah sebagaimana dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3449 dan Imaam Muslim no: 409, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Artinya:

Bagaimana dengan kalian, apabila ‘Isa bin Maryam عليه السلام turun kepada kalian, sedangkan Imaam kalian dari kalangan kalian sendiri.

Semua yang berkenaan dengan tanda Hari Kiamat adalah berita. Karena berita, maka berita itu harus valid dan shohiih. Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah tidak ada ruang bagi akal manusia untuk hal ini. Semua harus berdasarkan daliil,
oleh karena itu bahasan dipadatkan dengan daliil, agar kita yakin bahwa semua ini bukanlah dari perkataan manusia, melainkan berdasarkan Wahyu
yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan telah disampaikan kepada kita melalui Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 6820, dari Shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, beliau berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى الأَنْبِيَاءُ أَبْنَاءُ عَلاَّتٍ وَلَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَ عِيسَى نَبِىٌّ

 Artinya:

“Aku adalah orang yang lebih berhak diutamakan daripada ‘Isa عليه السلام. Para Nabi itu semuanya adalah anak-anak dari para ibu yang berbeda-beda, tetapi bapak mereka satu. Tidak ada Nabi antara aku dan ‘Isa
عليه السلام“. 

Hadits Shohiih tersebut bagi kita harus menjadi pegangan, sekaligus sebagai bantahan bagi orang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم seperti: Mirza Ghulam Ahmad, Ahmad Musadek dan lain-lain.

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selanjutnya pun bersabda bahwa:

Nabi ‘Isa
عليه السلام
akan turun. Jika kalian melihatnya maka kalian akan mengenalinya, orangnya berkulit putih kemerahan. Ia mengenakan dua baju. Rambutnya seolah-olah meneteskan air, meskipun tidak terkena basah“.

(Dalam Hadits lain disebutkan bahwa rambut Nabi ‘Isa عليه السلام keriting)

Lalu dalam Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 7665, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya Shohiih sesuai dengan Syarat Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

والذي نفسي بيده ليوشك ان ينزل فيكم بن مريم حكما عادلا وإماما مقسطا يكسر الصليب ويقتل الخنزير ويضع الجزية ويفيض المال حتى لا يقبلها أحد

Artinya:

Demi yang jiwaku ditangan-Nya, Isa bin Maryam عليه السلام akan turun ditengah-tengah kalian sebagai Penguasa yang Adil, akan mematahkan salib, membunuh babi, membebaskan dari hukum Jizyah (– Pajak / Upeti – pent.) dan harta akan melimpah sehingga tidak ada yang mau menerimanya seorang pun.”

Dan dalam Hadits Riwayat Imaam Al Hakim no: 4163, beliau berkata Hadits ini sanadnya Shohiih, hanya saja Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim tidak mengeluarkannya dan Imaam Adz Dzahaby dalam Kitab “At Tarkhiiskh” menyatakan bahwa Hadits ini Shohiih; dari Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

إن روح الله عيسى ابن مريم نازل فيكم فإذا رأيتموه فاعرفوه رجل مربوع إلى الحمرة و البياض عليه ثوبان ممصران كان رأسه يقطر و إن يصبه بلل فيدق الصليب و يقتل الخنزير و يضع الجزية و يدعو الناس إلى الإسلام فيهلك الله في زمانه المسيح الدجال و تقع الأمنة على أهل الأرض حتى ترعى الأسود مع الإبل و النمور مع البقر و الذئاب مع الغنم و يلعب الصبيان مع الحيات لا تضرهم فيمكث أربعين سنة ثم يتوفى و يصلي عليه المسلمون

Artinya:

Sesungguhnya Roh Allooh سبحانه وتعالى, ‘Isa عليه السلام, akan turun ditengah-tengah kalian. Maka jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Dia adalah berkulit putih kemerah-merahan dan mengenakan dua baju, seakan kepalanya meneteskan air dan basah. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan hukum Jizyah dan menyeru manusia pada Islam, membinasakan Dajjal dan meletakkan amanah (keamanan) diatas muka bumi sehingga singa dengan unta bergembala bersama, singa dengan sapi, serigala dengan kambing dan anak kecil bermain ular, tidak membahayakan mereka. Nabi ‘Isa عليه السلام akan menetap 40 tahun, kemudian meninggal dan disholati oleh kaum Muslimin.”

2.   Status Hadits

Intinya dalam Hadits tersebut bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan diturunkan kembali oleh Allooh سبحانه وتعالى, tidak boleh ada keraguan tentang hal ini.

Ada beberapa Kitab yang khusus membahas tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام. Hendaknya itu menjadi dasar bagi kita untuk meyakini kebenaran adanya peristiwa turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام tersebut.

Kata para ‘Ulama Ahlus Sunnah bahwa Hadits tentang turunya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah Muttawatir. Karena Haditsnya adalah Muttawatir, maka orang Mu’tazilah dan orang Rasionalis-pun, mereka akan membenarkan dan meyakininya.

3.   Sikap ‘Ulama Ahlus Sunnah Terhadap Hadits tersebut

Berikut ini apa yang dikatakan oleh Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله. Dalam Tafsiir Ibnu Katsiir, dikatakan bahwa Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام derajatnya adalah Muttawatir dari banyak Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم antara lain: Abu Hurairoh, ‘Abdullooh Ibnu Mas’uud, ‘Utsman bin Abdil ‘Ash, An Nuwwas bin Sam’an, ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al ‘Ash, dan Majma’ Libni Jaariyah, Abu Syarihah Hudzaifah Ibnu ‘Usaid رضي الله عنهم.

Itulah nama-nama para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang meriwayatkan tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام. Sehingga menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah bahwa apabila Hadits diriwayatkan oleh sekian banyak orang kepada sekian banyak orang, maka tidak mungkin adanya kesepakatan dusta atas-nama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian Hadits yang seperti itu disebut Hadiits Muttawatir. Hadits Muttawatir harus diyakini dan dibenarkan, karena derajatnya adalah sama dengan Al Qur’an.

Ijma’
adalah Kesepakatan. Dikemukakan oleh seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah bernama Imaam As Safaariiny رحمه الله dalam Kitab
Lawaami’ul Al Anwaar Al Bahiyyah“, beliau berkata: “Ummat Islam telah bersepakat terhadap turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, tidak ada seorangpun yang menyelisihi kesepakatan itu dari kalangan Ahli Syari’ah, yaitu Ahlus Sunnah. Yang mengingkari akan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah para ahli Filsafat, dan orang-orang yang menyimpang dari ajaran ini, yang tidak dianggap berarti jika mereka itu menyelisihi. Nabi ‘Isa عليه السلام akan turun dari langit dan akan tetap menjalankan hukum-hukum Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

4.   Sifat Fisik dan Tugas Yang Akan Dilakukan oleh Nabi ‘Isa عليه
السلام

Berdasarkan dalil-dalil yang tersebut diatas, bahwa diantara sifat fisik Nabi ‘Isa عليه السلام adalah :  Berkulit putih kemerahan, berambut keriting (ikal), dan berdada lebar.

Tugas Nabi ‘Isa عليه السلام:

Tugas Nabi ‘Isa عليه السلام yang paling pokok adalah mengerjakan lima perkara yaitu :

1.      Menghancurkan salib, sehingga tidak ada lagi salib di dunia ini.

2.      Membunuh babi.

3.      Membebaskan ummat dari hukum Jizyah (Pajak / Upeti),

4.      Menyeru kepada Al Islam, sehingga semua keyakinan di dunia ini ada dibawah Islam.

5.      Membunuh Ad Dajjal.

Semua itu adalah bagian bahwa Nabi Isa عليه السلام menetapkan, menjalankan dan men-dhohirkan Hukum-Hukum yang telah disunnahkan oleh Muhammad Rosuululloohصلى الله عليه وسلم

5.   Tempat Munculnya Nabi ‘Isa عليه
السلام

Di mana Nabi ‘Isa عليه السلام akan muncul ?

Dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 7560, dari Shohabat An Nuwwas bin Sam’an رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى إِنِّى قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِى لاَ يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِى إِلَى الطُّورِ. وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ. وَيُحْصَرُ نَبِىُّ اللَّهُ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهُمُ النَّغَفَ فِى رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِى الأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِىُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ فَيُرْسِلُ اللَّهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَطَرًا لاَ يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ فَيَغْسِلُ الأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلأَرْضِ أَنْبِتِى ثَمَرَتَكِ وَرُدِّى بَرَكَتَكِ.

فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنَ الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِى الرِّسْلِ حَتَّى أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنَ الإِبِلِ لَتَكْفِى الْفِئَامَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْبَقَرِ لَتَكْفِى الْقَبِيلَةَ مِنَ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنَ الْغَنَمِ لَتَكْفِى الْفَخِذَ مِنَ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

Artinya:

Ketika Dajjal sedang berbuat kerusakan seperti itu, Allooh Azza Wa Jalla mengutus ‘Isa Almasih bin Maryam. Lalu ‘Isa bin Maryam turun di dekat menara putih di sebelah timur Damaskus, dengan mengenakan pakaian dua warna, sambil meletakkan dua telapak tangannya pada sayap dua malaikat. Apabila dia menundukkan kepalanya, hujan pun turun. Apabila dia mengangkat kepalanya, maka butir-butir air (– seperti mutiara –) berjatuhan dari kepalanya. Orang kaafir tidaklah mencium bau nafasnya melainkan mati atau bau nafasnya bisa dicium sejauh mata memandang. Dia mencari Dajjal, sehingga ditemukannya di pintu gerbang kota Ludd, lalu Dajjal dibunuhnya.

Kemudian ‘Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dilindungi oleh Allooh dari Dajjal, lalu ‘Isa bin Maryam mengusap wajah mereka dan memberitahukan kepada mereka mengenai derajat mereka di surga. Ketika ‘Isa bin Maryam dalam keadaan begitu, Allooh mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak terkalahkan oleh siapa pun. Karena itu selamatkanlah hamba-hamba-Ku yang shoolih ke bukit.”

Kemudian Allooh mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj (mereka turun ke segala penjuru dari tempat yang tinggi (Al Anbiyaa’ ayat 96). Kelompok mereka yang pertama kali melewati telaga Thabariyyah / Thiber, kemudian mereka meminum airnya hingga habis. Kelompok mereka yang akhir lewat pula, lalu mereka mengatakan, “Sungguh di tempat ini dulu ada air.”

Nabi ‘Isa dan para Shohabatnya terkepung, sehingga pada saat itu sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada uang seratus dinar sekarang ini. Nabi ‘Isa bin Maryam dan para Shohabatnya berdo’a agar Allooh menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj beserta pengikutnya. Lalu Allooh menimpakan kepada mereka penyakit hidung seperti yang melanda hewan, sehingga mereka mati semuanya.

Kemudian Nabi ‘Isa dan para Shohabatnya tiba di suatu tempat di bumi. Mereka tidaklah mendapati sejengkal tanah melainkan penuh dengan bangkai-bangkai busuk, maka Nabi ‘Isa dan para pengikutnya berdo’a kepada Allooh Azza Wa Jalla. Sehingga, Allooh mengutus burung-burung sebesar punuk onta yang membawa bangkai-bangkai manusia tersebut, untuk dibuang di tempat yang dikehendaki oleh Allooh Azza Wa Jalla.

Kemudian Allooh menurunkan hujan yang menyirami setiap rumah di kota dan di desa, sehingga bumi menjadi bersih setelah tersiram hujan.

Lalu diperintahkan kepada bumi, “Munculkan buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu !”

Pada hari itu sekelompok keluarga bisa kenyang dengan memakan sebuah delima dan bisa berteduh di bawah kulit buah delima. Air susu juga penuh berkah, sehingga susu seekor onta cukup untuk sekelompok orang, susu seekor sapi cukup untuk orang satu kabilah, dan susu seekor kambing cukup untuk orang sekeluarga dekat.

Ketika mereka seperti itu, Allooh mengirimkan angin baik melewati ketiak mereka. Angin tersebut merenggut nyawa setiap mukmin dan muslim, sehingga tinggallah orang-orang yang jahat / jelek yang berhiruk-pikuk bagai hiruk-pikuknya keledai, maka terjadilah kiamat yang menimpa mereka.”

Jadi ketika barisan antara orang-orang dari kalangan Imaam Mahdi dan kalangan Dajjal, serta pengikutnya termasuk orang-orang Yahudi sudah berada dalam keadaan siap berperang, maka pada saat itu Allooh سبحانه وتعالى mengutus Nabi ‘Isa عليه السلام untuk turun di sebuah Menara Putih sebelah timur Damaskus (Syiria). Nabi ‘Isa عليه السلام meletakkan kedua tangannya pada kedua sayap malaikat, jika ia menggerakkan rambutnya maka akan meneteskan air dan bila mengangkat kepalanya seolah-olah seperti permata berlian. Kalau ada orang kaafir yang bertemu dengannya dan mencium bau nafasnya maka orang kaafir itu akan menjadi mati. Nabi ‘Isa عليه السلام akan menyeret Dajjal sampai ke pintu gerbang Kota Ludd, kemudian disana Dajjal dibunuh oleh Nabi ‘Isa عليه السلام.  Kemudian kepada Nabi ‘Isa عليه السلام, datanglah suatu kaum yang dijaga oleh Allooh سبحانه وتعالى dari Dajjal, lalu ‘Isa عليه السلام pun mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan kepada mereka derajat mereka di surga, dan seterusnya.

Ada penjelasan dari Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله dalam Kitab Tafsiir beliau رحمه الله yang berjudul An Nihaayah Fil Fitan wal Malaahim, kata beliau رحمه الله: “Keterangan yang termasyhur tentang dimana akan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, ialah di Menara Putih sebelah timur Damaskus, (di masjid sebelah timur Damaskus).”

Kata Imaam Ibnu Katsir رحمه الله: “Mudah-mudahan ini riwayat yang terpelihara (yang benar).”  Kata beliau رحمه الله selanjutnya: “Tidak ada di Damaskus disebut menara sebelah timur. Yang ada adalah di sebelah timur masjid ‘Umawi (kerjaan Mu’awwiyah).”

Inilah yang paling tepat karena: “Nabi ‘Isa
عليه السلام
akan turun sedang Iqomat sudah ditegakkan
.”

6.   Masa Hidup Nabi ‘Isa عليه
السلام

Masa Hidup Nabi ‘Isa
عليه السلام.

Ada dua versi dalam Hadits, pertama sebagaimana dalam Hadits Abu Hurairoh رضي الله عنه, yang telah dijelaskan diatas, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan tinggal selama 40 tahun, kemudian meninggal dan disholatkan oleh kaum Muslimin.

Kedua, dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 7568 bahwa berdasarkan riwayat ‘Abdullooh bin Amr bin Al Ash رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِى أُمَّتِى فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ – لاَ أَدْرِى أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ شَهْرًا أَوْ أَرْبَعِينَ عَامًا – فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ دَخَلَ فِى كَبَدِ جَبَلٍ لَدَخَلَتْهُ عَلَيْهِ حَتَّى تَقْبِضَهُ

Artinya:

Dajjal akan keluar pada ummatku, kemudian akan hidup 40 — saya tidak tahu 40 harikah, 40 bulankah atau 40 tahunkah – sehingga Allooh سبحانه وتعالى bangkitkan ‘Isa bin Maryam عليه السلام, dalam bentuk seperti ‘Urwah bin Mas’uud, mengejar dan membinasakannya. Kemudian manusia tinggal selama 7 tahun. Yang satu tidak memusuhi yang lain, kemudian Allooh سبحانه وتعالى turunkan angin yang dingin dari arah Syam, sehingga tidak ada yang tersisa di permukaan bumi ini seorang pun, yang ada didalam hatinya sebiji sawit kebaikan atau iman kecuali akan dicabut nyawanya, sehingg seandainya seorang dari kalian akan bersembunyi didalam sebuah gunung, maka angin itu pun akan memasukinya dan mencabut nyawanya.”

Jadi pada masa Nabi ‘Isa عليه السلام nanti, masyarakat akan damai sentausa.

Lalu sesudah 7 tahun, pada masa itu orang beriman akan mati dihempas oleh angin dingin yang Allooh سبحانه وتعالى kirimkan dari arah negeri Syam.

Yang menjadi masalah adalah, bahwa dalam Hadits tersebut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
menyebutkan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan tinggal selama 7 tahun. Sementara itu dalam Hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imaam Muslim bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup selama 40 tahun.

Dalam Musnad Imaam Ahmad no: 24511, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, menurut Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanadnya adalah Hasan.

ثم يمكث عيسى عليه السلام في الأرض أربعين سنة إماما عدلا وحكما مقسطا

Artinya:

Kemudian ‘Isa عليه السلام akan hidup di bumi ini selama 40 tahun, menjadi Imaam yang adil dan Penguasa yang adil.”

Kesimpulan dari kedua versi Hadits diatas adalah sebagaimana yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdullooh bin Sulaiman Al Ghufaily dalam Kitabnya Asyrootussaa’ah. Kata beliau, “Yang benar, sebagaimana yang didukung oleh riwayat Imaam Jalaaluddiin As Suyuuthi رحمه الله dalam Kitabnya Ad Durrul Mantsuur, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan hidup selama 40 tahun, tetapi 40 tahun itu seolah-olah seperti 4 tahun karena ketika itu hari sangat cepat berjalan.” Hadits tersebut adalah dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid.
7.   Kesimpulan Para ‘Ulama Tentang Turunnya Nabi ‘Isa عليه
السلام

Dibawah ini adalah pernyataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah, tentang keyakinan mereka terhadap Nabi ‘Isa عليه السلام.

Pertama, seperti dikatakan oleh Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله (setelah beliau رحمه الله menjadi seorang Salafi, ruju’
dari paham Mu’tazilah yang menyimpang kembali ke manhaj Salaf), yang mana beliau menulis Kitab yang berjudul Maqoolaat Al Islaamiyyiin Wakhtilaaf Al Musholliin, beliau mengatakan bahwa:

Menyatakan beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى, kepada para Malaikat-Nya, kepada Kitab-Nya, kepada rosuul-rosuul-Nya dan beriman pula kepada apa yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى, apa yang diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,
tidak menolak dari apapun semua itu dan mereka membenarkan tentang akan keluarnya Dajjal, bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام akan membunuh Dajjal, dan mengimani semua apa yang berasal dari kata-kata mereka.

Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله awalnya adalah seorang Asy’aariyyah, yang di Indonesia diyakini sebagai tokoh Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah. Sayangnya apa yang diyakini oleh sebagian kalangan kaum Muslimin Indonesia tersebut adalah keyakinan di masa ketika Imaam Abul Hasan Asy’aary رحمه الله masih berpaham Asy’aariyyah, jadi dimasa ketika beliau رحمه الله BELUM bertaubat dan belum kembali (ruju’) kepada
manhaj
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Akibatnya banyak terjadi kesalahan sebagian kalangan kaum Muslimin di Indonesia dalam memahami
Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah
manhaj Salafush Shoolih. Hal tersebut adalah akibat kesalahan dalam mengambil ‘ilmu dari Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله ini. Sehingga di Indonesia, yang banyak berkembang bukannya paham Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, melainkan adalah paham Asy’aariyyah. Hendaknya kaum Muslimin Indonesia mewaspadai hal ini, dan kembali kepada paham Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang benar.

Adapun perkataan beliau yang disampaikan diatas dalam kajian kita kali ini adalah perkataan Imaam Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله setelah beliau رحمه الله bertaubat dari paham Mu’tazilah-nya, atau dengan kata lain, ketika beliau رحمه الله sudah berposisi sebagai seorang Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.

Kedua, menurut ulama lain seperti Muhammad Siddiiq Hasan Khoon Al Qonuji, beliau mengatakan dalam Kitabnya Al
‘Idzaa’ah
, kata beliau, “Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah banyak. Disebutkan oleh Imaam Asy Syaukaany رحمه الله terdapat 29 Hadits antara Shohiih, Hasan dan Dho’iif  yang terdukung. Diantaranya adalah yang kami sebut dalam Hadits-Hadits tentang Dajjal. Bahkan ada yang disebut-sebut dalam Hadits tentang Imaam Mahdi. Semua itu satu-sama lain digabungkan, dan semua itu berasal dari para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan semuanya termasuk dalam hukum Hadits yang Marfu’, karena itu tidak ada satu kebolehan untuk ber-Ijtihad dalam perkara-perkara berita seperti tentang Nabi ‘Isa عليه السلام.

Kemudian dijelaskan tentang beberapa Hadits yang kata beliau adalah termasuk Hadits yang sampai pada derajat Muttawatir.

Semua itu adalah perkataan para ulama bahwa turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah pasti.  Termasuk ‘Ulama Ahlus Sunnah di zaman sekarang seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al Albaany رحمه الله, beliau berkata bahwa, “Hadits-Hadits tentang Dajjal dan Hadits-Hadits tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah Muttawatir. Wajib meng-imaninya dan jangan gentar dengan apa yang diklaim oleh orang-orang yang tidak meyakini Hadits Ahad. Sebab mereka adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak punya kemampuan untuk mengikuti jalan-jalan Hadits. Padahal kalau mereka melakukannya, maka mereka akan mengetahui bahwa Hadits-hadits tersebut adalah Muttawatir.”

8.   Hikmah Turunnya Nabi ‘Isa عليه
السلام di Akhir Zaman.

1.      Kita meyakini Nabi ‘Isa عليه السلام dan turunnya beliau عليه السلام merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi  bahwa mereka telah membunuhnya dahulu; dan juga bantahan kepada orang-orang Nasrani yang menjelmakan Nabi ‘Isa عليه السلام yang lalu kata mereka bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام telah terbunuh dikeroyok oleh Yahudi dan disalib. Karena yang disalib itu bukanlah Nabi ‘Isa عليه السلام
melainkan orang yang diserupakan oleh Allooh سبحانه وتعالى seperti Nabi ‘Isa عليه السلام. Sedangkan Nabi ‘Isa عليه السلام diangkat oleh Allooh سبحانه وتعالى ke langit. Dengan turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام, mereka akan terbantahkan karena ternyata Nabi ‘Isa عليه السلام masih hidup dan diturunkan kembali ke bumi oleh Alloohسبحانه وتعالى.

Perhatikanlah firman Allooh Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 157 :

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً

Artinya:

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rosuul Allooh”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.”

2.      Nabi ‘Isa عليه السلام wafat dan dikubur di dalam tanah. Nabi ‘Isa عليه السلام adalah manusia  berasal dari anak-cucu Nabi ‘Adam عليه السلام, seperti disebutkan dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6281, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَبي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِىٌّ

Artinya:

Para Nabi itu adalah bersaudara dari bapak yang sama, ibu mereka berbeda-beda, dien mereka adalah satu. Tidak ada Nabi diantara aku dengan ‘Isa عليه السلام.”

Berasal dari bapak yang sama, sedangkan ibunya berbeda-beda, maksudnya Syari’at mereka berbeda-beda, tetapi dien mereka satu.

Jadi Nabi ‘Isa عليه السلام adalah sama dengan nabi-nabi yang lain karena berasal dari tanah, maka meninggalnya pun kembali ke tanah. Maka seperti disebutkan dalam riwayat diatas, Nabi ‘Isa عليه السلام akan wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin dan akan dikuburkan. Dan itu berarti Nabi ‘Isa عليه السلام adalah sama dengan nabi-nabi yang lain.

3.      Turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام adalah membantah
orang-orang Nasrani yang mengatakan
bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام sudah berkorban menjadi
penebus dosa
dan rela mati untuk membalas dosa umatnya. Padahal Nabi ‘Isa عليه السلام
tidak meninggal, tetapi diangkat oleh Allooh سبحانه وتعالى ke langit.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 55:

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya:

“(Ingatlah), ketika Allooh berfirman: “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“.

4.      Adalah Mu’jizat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bahwa apa yang diberitakan beliau صلى الله عليه وسلم betul-betul akan terjadi. Sedang beliau صلى الله عليه وسلم bukanlah tukang sihir atau tukang ramal, melainkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم benar-benar menerima Wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى dan hanya menyampaikan saja kepada umatnya.

5.      Merupakan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى. Bahwa Allooh سبحانه وتعالى Maha Kuasa untuk menciptakan dan membuat jalan cerita bahwa Hari Kiamat itu ada yang Sughro
(Kiamat Kecil atau mati) dan yang Kubro (Kiamat Besar). Lalu turunnya Imaam Mahdi, Dajjal, ‘Isa عليه السلام, dan seterusnya. Semua itu dihancurkan termasuk Dajjal (yang mengaku dirinya sebagai Tuhan dan mengaku bisa menunjukkan bahwa ini surga dan ini neraka), ternyata Dajjal pun akan dibunuh oleh Imaam Mahdi dan ‘Isa bin Maryam عليه السلام dan itu merupakan pertanda bahwa tidak selayaknya manusia berlaku sombong kepada Allooh سبحانه وتعالى. Karena Allooh سبحانه وتعالى dapat menghinakan orang-orang yang sombong terhadap Syari’at-Nya.  Bukan saja di akhirat, melainkan di dunia saja dia sudah dihinakan oleh Allooh سبحانه وتعالى
.

Demikianlah tentang turunnya Nabi ‘Isa عليه السلام dan berikutnya insya Allooh kita akan bahas tentang Ya’juj
dan
Ma’juj
dan seterusnya sampai dengan akhir Tanda Hari Kiamat Kubro.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Diatas dijelaskan bahwa akhirnya semua manusia akan menjadi beriman, menjadi Muslim. Kemudian orang-orang muslim itu akan mati karena hembusan angin dingin. Tetapi di hari menjelang Kiamat itu akan muncul api yang menggiring manusia dan mereka akan dihempaskan ke laut.

Pertanyaannya, apakah ketika Nabi ‘Isa
عليه السلام itu turun, manusia menjadi muslim, lalu dimatikan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan kemudian bagaimana kelanjutan peristiwanya ?

Jawaban:

Kalau penjelasan diatas diperhatikan bahwa pada zaman Nabi ‘Isa عليه السلام, orang-orang Yahudi masuk Islam, orang-orang Nasrani masuk Islam, bahkan agama-agama lain menyatakan kalah dan tunduk. Sehingga karena mereka semua menjadi Muslim, maka Jizyah (upeti dari orang kaafir) menjadi dihapus. Karena orang kaafir-nya sudah tidak ada.

Berikutnya, bahwa ketika Nabi ‘Isa عليه السلام turun dan hidup kembali di dunia, bahkan wafat dan disholatkan oleh kaum muslimin, berarti kaum muslimin-nya masih hidup. Lalu orang-orang muslim yang masih hidup itu akan ditiup oleh angin (seperti dikatakan dalam Hadits) yang meniup semua manusia yang di dalam hatinya ada iman, sehingga mereka semua pun akan meninggal. Kemungkinan setelah itu masih ada orang-orang yang tidak beriman, sehingga kepada mereka lah akan ditegakkan Hari Kiamat.

Dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5066, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Amr bin Al Ash رضي الله عنه, bahwa beliau berkata,

عن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ َقَالَ : لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ هُمْ

Artinya:

Kiamat tidak akan terjadi, kecuali pada orang-orang yang paling jahat.

Orang-orang jahat itulah yang akhirnya digiring oleh api dalam proses hari Kiamat berikutnya.

Pertanyaan :

Dengan tidak mengurangi keimanan terhadap datangnya hari Kiamat, pertanyaannya adalah apakah ada keterangan mengapa yang turun justru Nabi ‘Isa عليه السلام, bukan Nabi yang lain?

Jawaban:

Sebagaimana kita ketahui bahwa semua Nabi sudah wafat. Ketika Allooh سبحانه وتعالى
menceritakan tentang Nabi ‘Isa عليه السلام (dalam Surat Al Baqoroh), bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى -lah yang mewafatkannya dan mengangkatnya, lalu kelak akan diturunkan kembali ke bumi. Dengan keterangan tersebut dalam Al Qur’an bahwa Nabi ‘Isa-lah عليه السلام yang Allooh سبحانه وتعالى pilih untuk menunjukkan bahwa ia tidak meninggal, melainkan beliau diangkat ke langit. Karena hanya Nabi ‘Isa عليه السلام yang masih hidup. Dan semua itu merupakan kehendak Allooh سبحانه وتعالى dan kita tidak bisa mengatakan apapun karena Allooh سبحانه وتعالى -lah yang Mencipta dan Dia-lah yang Memilih, sesuai dengan Kehendak-Nya.

Pertanyaan:

Ketika Nabi ‘Isa عليه السلام turun ke bumi apakah beliau sudah dalam kondisi dewasa, apakah Imaam Mahdi juga sudah dalam kondisi demikian?

Jawaban:

Tentunya ketika Imaam Mahdi menjadi pemimpin, penguasa, adalah orang yang sudah dewasa dan sudah matang dan seterusnya, dan dijelaskan oleh Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak sampai pada (tentang) umurnya, tetapi intinya orang itu sudah menjadi pemimpin dan dewasa dan bisa mengatur berbagai perkara. Demikian pula Nabi ‘Isa عليه السلام pun juga sudah dewasa.

Pertanyaan :

Mohon dijelaskan apakah arti Mu’tazilah, Khawarij dan ‘Asy’aariyyah ?

Jawaban :

Tiga sebutan tersebut adalah tergolong dalam kategori Firqoh (golongan). Seperti dijelaskan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 Firqoh (golongan). Satu golongan akan selamat dan selebihnya akan celaka. Munculnya firqoh itu pertama-tama dipelopori oleh 4 kelompok. Diantaranya oleh kelompok Jahmiyah, Khawarij, Syi’ah
dan
Qodariyyah
. Selanjutnya bertambah banyak lagi kelompok-kelompok lain termasuk diantaranya Mu’tazilah, Asy’aariyyah.

Mu’tazilah berkembang (terpecah) lagi, lalu menjadi
Asy’aariyyah.

Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله ketika usia mudanya, beliau dibesarkan oleh ayah tirinya, karena ibunya menikah dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Al Juba’i.

Selama 40 tahun
Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله menjadi tokoh
Mu’tazilah, yang merupakan hasil dari pengkaderan ayah tirinya. Tetapi Allooh سبحانه وتعالى memberikan petunjuk (hidayah) kepada beliau, sehingga akhirnya beliau bertaubat dan ruju’ (kembali) menjadi seorang Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.

Khawarij adalah kelompok (golongan) yang termasuk 73 Firqoh. Khawarij berasal dari kata “Khaarij” artinya “Keluar“. Mereka itu “keluar“, artinya tidak mau menerima apa yang ditetapkan dan disepakati oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang ketika itu telah memberikan suatu ketetapan sebagai kunci perdamaian. Mereka keluar dari ketetapan itu dan memprotes kepada pemerintahan yang sah, sehingga mereka disebut “Khaarij” atau golongan Khawarij.

Sampai sekarang, pokok-pokok keyakinan kaum Khawarij itu adalah
bahwa mereka melakukan oposisi terhadap pemerintah yang sah. Dalam teori Islam, dalam Pemerintah yang sah tidak boleh ada oposisi. Berbeda dengan paham demokrasi, oposisi merupakan bagian dari mekanisme demokrasi. Tetapi dalam Pemerintahan Islam tidak boleh ada oposisi. Orang yang melakukan perlawanan terhadap Pemerintahan yang sah disebut Khawarij dan itu adalah firqoh (golongan) yang sesat. Diantara kesesatannya adalah bahwa mereka meyakini apabila ada orang berbuat dosa (apalagi dosa besar), maka ia dihukumi sebagai kaafir. Misalnya ada orang berbuat zina, atau memakan riba, maka ia langsung disebut kaafir. Yang suka mudah mengkaafirkan orang berbuat dosa itulah kaum
Khawarij.

Asy’aariyyah adalah nisbah (dikaitkan) dengan nama Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله, karena memang (seperti disebutkan diatas) ia selama 40 tahun bergelimang di dalam paham Mu’tazilah. Kemudian Allooh سبحانه وتعالى memberikaan hidayah (petunjuk) padanya dengan menulis Kitab, diantaranya adalah Kitab
Maqoolaatul Islaamiyyiin
dan Kitab Al Imaamah sebagai pertanda bahwa beliau bertaubat dan telah ruju’ kepada Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, merevisi semua apa yang menjadi keyakinan beliau رحمه الله sebelumnya, yaitu ketika beliau رحمه الله masih berpaham Mu’tazilah. Dan beliau رحمه الله berhijrah kembali kepada ‘aqiidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.

Adapun apa yang diyakini oleh kebanyakan kaum Muslimin Indonesia, misalnya meyakini Sifat Duapuluh.
Itu salah satu ciri-cirinya paham
Asy’aariyyah. Menyatakan bahwa Sifat Yang Wajib bagi Allooh سبحانه وتعالى adalah 20, Sifat yang Mustahil 20 dan Sifat yang Ja’iz 1 (satu).

Sifat yang Wajib bagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ada 4, Sifat yang Mustahil bagi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ada 4 dan sifat Yang Ja’iz ada 1 (satu). Semua Sifat tersebut berjumlah 50. Orang yang meyakini seperti itu adalah orang yang ber-afiliasi kepada Firqoh Asy’aariyyah, karena yang seperti itu jelas bukan keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.

Karena Sifat Duapuluh itu merupakan ‘aqiidah dari Abul Hasan Al Asy’aary رحمه الله sewaktu beliau meyakini antara Mu’tazilah dan Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, yang disebut Madzhab Kullaabiyyah. Tetapi di akhir hidupnya, beliau kembali kepada Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah melalui tulisan beliau dalam Kitab
Al Imaanah
.

Hendaknya kita memprioritaskan diri untuk memahami Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah yang sebenarnya, daripada menghabiskan umur dengan melanglang buana meyakini firqoh-firqoh lain diluar Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Karena firqoh-firqoh itu sangat beragam. Misalnya: Shufi.  Firqoh Shufiyah ini ternyata di dalamnya juga sangat rumit, karena Shufi juga telah berpecah-pecah lagi menjadi berbagai sekte dan golongan.

Sementara, kalau kita mempelajari dan memahami tentang Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yang sebenarnya, maka dengan mengetahui yang satu itu saja insya Allooh akan. Diluar dari pemahaman Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, maka kita menyatakan bahwa mereka itu telah keluar dari Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Dengan demikian, umur kita lebih efektif; daripada kita melanglang buana kesana kemari mempelajari firqoh-firqoh yang membingungkan yang jumlahnya sangat banyak itu dan hal tersebut pun tidak ada manfaatnya.

Kuncinya adalah : Jangan coba-coba mempelajari
Filsafat, karena bila seseorang mempelajari Filsafat maka ia akan menjadi seorang Rasionalis,
yang pada akhirnya akan membantah Al Islam dengan melalui akalnya. Dan hal itu adalah tidak benar.

Pertanyaan:

Dijelaskan bahwa ketika turun Nabi ‘Isa عليه السلام, maka semua manusia akan menjadi muslim. Berarti mereka calon masuk surga. Apakah demikian? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Kalau seseorang muslim maka akhirnya akan masuk surga, dan semua itu adalah aturan Allooh سبحانه وتعالى. Tetapi setelah masa-masa Nabi ‘Isa عليه السلام wafat, kekufuran muncul kembali. Maka dalam Hadits (seperti disebutkan diatas), mereka akan digiring oleh api menuju tempat berkumpulnya mereka. Itu menunjukkan bahwa ada masa lagi setelah Nabi ‘Isa عليه السلام wafat.  Dan kita tidak tahu ketika setelah Nabi ‘Isa عليه السلام turun lagi itu kualitas muslimnya seperti apa. Tetapi yang penting dalam Hadits diberitakan bahwa bila seseorang yang di dalam hatinya ada iman meskipun sebiji sawi maka ia akan dihempaskan oleh angin yang dingin dan mereka akan mati.

Tentu derajat surga hanya Allooh سبحانه وتعالى yang Maha Tahu. Kita tidak tahu apakah akan mengalami masa Imaam Mahdi, Dajjal dan Nabi ‘Isa عليه السلام; namun cukuplah kiranya dengan apa yang sudah kita alami. Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى meng-Istiqomahkan kita dalam dien
sehingga kita meninggal dalam keadaan Husnul Khootimah.

Ingat, Imaam Mahdi yang kita pahami tersebut diatas (di dalam keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah), bukanlah Imaam Mahdi sebagaimana yang dipahami oleh kaum Syi’ah sebagai bagian dari Imaam mereka yang duabelas.

 Pertanyaan:

Mohon penjelasan tentang Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Jawaban:

Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم jumlahnya ada ratusan mu’jizat. Oleh para ‘Ulama bahkan ditulis suatu Kitab berjudul
Mu’jizatturrosuul
, yakni suatu Kitab yang memuat tentang Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang jumlahnya ratusan. Dan salah satu mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Al Qur’an. Mu’jizat-mu’jizat beliau صلى الله عليه وسلم terlalu panjang untuk diuraikan satu demi satu sekarang, karena waktu kajian kita terbatas.
Pertanyaan:

Tentang kalahnya Dajjal oleh Nabi ‘Isa عليه السلام, bagaimana bentuknya? Apakah ia mati dibunuh atau dipenggal kepalanya, ataukah begitu Dajjal bertemu Nabi ‘Isa عليه السلام langung lemas dan akhirnya mati?

Jawaban:

Seperti yang ditemui dalam Hadits, Dajjal ketika bertemu dengan Nabi ‘Isa عليه السلام menjadi seperti garam yang larut dalam air (mencair). Demikian digambarkan dalam Hadits. Bentuknya Walloohu a’lam.

Pertanyaan;

Bagaimana tentang paham (keyakinan) Syi’ah?

Jawaban:

Salah satu diantaranya, kalau dilihat dari segi hukumnya, para Imaam Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah  menyatakan bahwa Syi’ah Ja’fariyah tergolong kaafir, karena mereka mengingkari Al Qur’an, mengingkari Khulafaa’ur rosyidiin, mengkafirkan para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dsbnya. Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah, mereka terhukumi sebagai Kaafir.

Ada diantara Syi’ah yang tidak kaafir, tetapi tergolong Bid’ah yaitu yang disebut dengan paham Azza’idiyyah, tetapi sekarang Azza’idiyyah ini sudah rapuh dan semakin hilang.

Sekian bahasan kita mudah-mudahan bermanfaat, dan bila kita mengingat Hari Kiamat, maka seperti ketika Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menjawab pertanyaan Shohabatnya tentang kapankah Hari Kiamat, maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda dengan pertanyaan pula:  “Apa yang sudah engkau siapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?”

Teori atau pelajaran tentang hari Kiamat harus diimani. Dan yang paling penting bagi kita adalah: “Apa yang sudah kita persiapkan menjelang Hari Kiamat“, karena Kiamat itu datangnya secara tiba-tiba.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Imam Mahdi


Pada menjelang kiamat akan turunlah Imam Mahdi. Ia tidak lain adalah keturunan dari Nabi Muhammad Saw dari Fathimah binti Muhammad. Kedatangan Imam Mahdi akan membuat keadilan di seluruh dunia. Dunia akan menjadi aman dan tenteram sehingga domba dan serigala dapat digembalakan dalam tempat yang sama.
Imam Mahdi memiliki sifat seperti leluhurnya yakni Nabi Muhammad. Ia memiliki tanda kenabian di pundaknya seperti Nabi Muhammad Saw.
Imam Mahdi akan bertemu dengan Nabi Isa A.s dan Nabi Isa sholat dibelakang Imam Mahdi. Ada beberapa tanda-tanda kemunculannya seperti:

  1. Sungai Eufrat akan tersedot dan di situ terlihat gunung emas
  2. Gerhana Bulan pada awal malam bulan Ramadhan dan Gerhana Matahari pada pertengahannya. Dua kejadian ini belum ada sejak penciptaan langit.
  3. Kemunculan tanduk Dzu As-Sinin
  4. Terbitnya bintang berekor yang bersinar
  5. Api besar menyala dari arah timur selama tiga atau tujuh malam.
  6. Langit menjadi gelap
  7. Warna merah menyebar di langit, tetapi merahnya tidak seperti ufuk biasa.
  8. Seluruh penduduk bumi dipanggil
    Al Mahdi akan menegakkan agama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Ia akan menguasai seluruh dunia sebagaimana Dzulqarnain dan Sulaiman.

Pada Zaman Al Mahdi seluruh dunia dalam kemakmuran.
Ada perbedaan pandangan mengenai Al Mahdi. Ahlus Sunnah dan para ahli Hadist dan Ulama- ulama Sufi, Tasawwuf meyakini Al Mahdi sesuai dengan hadist yang shahih Sementara itu kaum Syiah mempercayai Imam Mahdi ada di sesuatu tempat yang tak terlihat. Demikian juga keyakinan orang- orang Ahmadiyah tentang Al Mahdi, dimana Gulam Ahmad mengatakan dirinya sebagai Al-Mahdi. Ini tidak sesuai dengan Qur’an dan hadist yang shahih.
Al Mahdi akan membawa 70,000 tentara berbendera hitam yang datang dari Khurasan. Khurasan adalah wilayah yang terbentang antara Afghanistan dan Iran.

Mahdi, yang Diimani dan Dinanti

Keyakinan terhadap Imam Mahdi adalah salah satu tonggak penting dari pilar-pilar keimanan yang mesti kita imani. Sebab, kemunculannya di penghujung zaman menjadi salah satu penanda besar akan datangnya hari kiamat. Tinggal bagaimana kita menerjemahkan keyakinan itu dalam bingkai akidah yang lurus.

Bagi seorang muslim, tentu bukan satu yang asing bila disebutkan kepadanya tentang rukun-rukun iman. Sudah menjadi tradisi dalam lingkup pendidikan Islam, rukun-rukun iman diajarkan bahkan dihafal semenjak usia bocah. Rukun-rukun iman merupakan perwujudan dari dasar-dasar akidah Islam. Salah satu unsur dalam rukun-rukun iman tersebut yaitu adanya keimanan terhadap Hari Akhir.

Beriman kepada Hari Akhir merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda keimanan kepada perkara ghaib. Satu perkara yang sulit dijangkau oleh akal, ilmu pengetahuan, dan hanya bisa melalui pendekatan keimanan yang sempurna melalui pemahaman nash dari jalan wahyu.

Masalah Hari Akhir ini merupakan perkara yang teramat penting. Ayat-ayat dalam Al-Qur`an pun banyak mengangkat tema ini saat membicarakan masalah yang bersifat keimanan. Sebagai misal:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, Hari Akhir….” (Al-Baqarah: 177)

Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir….” (Ath-Thalaq: 2)

Hidup, dalam pandangan Islam, tak sekadar berkutat dalam alam mayapada ini, yang fana, singkat dan terbatas sekali. Sesungguhnya, hidup, dalam pandangan Islam merupakan satu masa yang panjang yang berada dalam zaman keabadian, yang menempati ruang (dan waktu) di alam lain, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi, atau neraka yang dahsyat siksanya.

Sesungguhnya beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Hari Akhir serta apa yang ada di dalamnya, yaitu menyangkut pahala dan siksa, mampu mengarahkan tingkah laku manusia untuk berbuat kebajikan. Tak ada satu pun sistem perundangan yang dibuat manusia yang mampu mengarahkan perilaku manusia ke arah semacam itu, kecuali dengan menanamkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Hari Akhir.

Inilah yang membedakan bentuk perilaku pada manusia. Seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Hari Akhir, mengetahui bahwa dunia ini hanya sekadar ladang akhirat, sedangkan amal-amal yang shalih merupakan sebaik-baik bekal untuk akhirat. Tentu akan berbeda dengan seorang yang tanpa keimanan tersebut.

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)

Sebagaimana telah diperbuat seorang sahabat mulia, ‘Umair ibnul Humam Al-Anshari R.a yang memperoleh kesyahidan dalam perang Badr. Kurma yang ada padanya dibuang tatkala Nabi Saw berkata, “Bangkitlah, menuju surga seluas langit dan bumi.”

“Wahai Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?” ‘Umair balik bertanya. Jawab Rasulullah Saw, “Ya.”

Kata ‘Umair, “Bagus, bagus.” Rasulullah Saw lantas bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan ‘bagus, bagus’?”

“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah, melainkan karena saya menaruh harapan menjadi penghuni surga itu,” jawab ‘Umair. Kata Rasulullah Saw, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.”

Maka dia lantas mengeluarkan beberapa butir kurma dari kantung anak panahnya. Dia pun memakan sebagian kurma itu lantas berucap, “Jika saya hidup hingga memakan kurma-kurma itu, sungguh yang demikian ini sekadar (menunda) untuk hidup lebih lama lagi.”

Diapun bergegas seraya melempar butir-butir kurma tersebut, dan tandang ke gelanggang medan pertempuran Badr. Dia terbunuh dalam pertempuran tersebut. (Shahih Muslim, dengan syarah Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, Kitab Al-Jihad, Bab Tsubut Al-Jannah lisy Syahid, no. 4892)

Maka, nampak beda. Perilaku seorang yang tidak didasari keimanan kepada Allah Swt dan Hari Akhir dengan seorang yang hatinya diliputi keimanan. Beda. Seorang yang mengimani adanya pahala dan siksa, yang menatap jauh ke depan akan adanya timbangan langit, bukan timbangan bumi, adanya hisab akhirat bukan lantaran perhitungan dunia. Karenanya, dia akan memiliki sikap hidup tersendiri. Akan terpancar padanya sikap istiqamah, luas pandangan dan memiliki kekokohan ilmu. Teguh saat menghadapi beratnya hidup, sabar tatkala musibah mendera. Yang diharapkan hanyalah ganjaran dan pahala. Dia akan benar-benar mengetahui dan yakin bahwa apa yang di sisi Allah Swt adalah lebih baik dan kekal. (Asyrath As-Sa’ah, Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, hal. 27-28)

Inilah buah keimanan terhadap Hari Akhir. Bagi seorang mukmin, ia akan mengarahkan setiap langkahnya dalam kehidupan di dunia ini guna kehidupan di akhiratnya kelak. Dirinya mengharap dan senantiasa berupaya agar di Hari Akhir nanti tak muncul penyesalan sebagaimana digambarkan ayat berikut:

Agar jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedangkan aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olok (agama Allah)’. Atau, supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa.’ Atau, supaya jangan ada yang berucap saat melihat adzab: ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang yang berbuat baik’.” (Az-Zumar: 56-58)

Penyesalan tinggallah penyesalan. Kala Hari Akhir itu tiba, maka tiada guna lagi penyesalan. Semua petaka itu terjadi karena diri larut dalam hawa nafsu, menjauh dari nilai-nilai syariat. Setiap keterangan yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya ditentangnya. Dia berupaya menampik apa yang telah dikabarkan Allah Swt dan Rasul-Nya dengan alasan ‘tidak rasional’ atau ‘tidak masuk akal’. Seakan-akan nilai Islam hanya sebatas kapasitas akalnya. Sesuatu yang di luar akalnya, ditolak dan ditentangnya meski itu berasal dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Keimanan tiada lagi tertancap di hatinya. Dia sombong dan mendustakan keterangan-keterangan Allah Swt dan Rasul-Nya.

“(Bukan demikian) sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (Q.S Az-Zumar: 59)

Bagi seorang muslim, ia harus mengedepankan keimanannya. Termasuk dalam mengimani tanda-tanda yang bakal muncul menjelang terjadinya Hari Kiamat. Satu di antara tanda-tanda itu adalah akan munculnya Al-Mahdi.

Al-Mahdi akan muncul pada akhir zaman, sebelum Nabi ‘Isa A.s turun. Dia seorang laki-laki keturunan ahlul bait. Melalui dia, Allah Swt kokohkan agama. Dia akan berkuasa selama tujuh tahun. Pada masanya bumi ditaburi dengan keadilan sebagaimana kelaliman dan kezhaliman sempat meliputi bumi sebelumnya. Umat merasakan nikmat di bawah kekuasaannya dan belum pernah ada kenikmatan yang dirasakan seperti itu. Bumi mengeluarkan tetumbuhan, langit mengguyuri dengan hujan. Kala itu, harta diberikan tanpa batas. (Asyrath As-Sa’ah, Yusuf bin Abdillah Al-Wabil, hal. 249, At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, Al-Qurthubi, hal. 517)

Al-Mahdi adalah seorang laki-laki yang bernama seperti Rasulullah Saw. Nama ayahnya seperti nama ayah Nabi Saw. Maka, dia bernama Muhammad bin Abdillah. Dia dari keturunan Fathimah bintu Rasulillah Saw, kemudian berasal dari Al-Hasan bin ‘Ali R.a. Menurut Ibnu Katsir rahimahullahu dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim (hal. 45), disebutkan nama Al-Mahdi adalah Muhammad bin Abdillah Al-’Alawi Al-Fathimi Al-Hasani.

Berbeda dengan Syi’ah. Al-Mahdi di kalangan mereka adalah penghuni bangunan di bawah tanah, yaitu imam keduabelas dari silsilah al-imamiyyah al-itsna ‘asyariyyah. Dia bernama Muhammad bin Al-Hasan Al-’Askari, seorang imam al-muntazhar (yang ditunggu) kemunculannya dari tempat persembunyiannya di Samarra`. (lihat Kitabul Imamah war Radd ‘alar Rafidhah, karya Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahani rahimahullahu, hal. 116)

Maka, sosok Al-Mahdi yang disebutkan kalangan Syi’ah Rafidhah adalah sosok yang batil. Demikian juga sosok Imam Mahdi menurut Ahmadiyah ( Gulam Ahmad ) Ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih sebagaimana dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, Rasulullah Saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud R.a:

Andai tak tersisa lagi di dunia kecuali satu hari yang Allah panjangkan hari itu sehingga akan muncul seorang laki-laki dari keturunanku atau dari ahli baitku, yang namanya sama dengan namaku, nama ayahnya sama dengan nama ayahku, (saat itu) bumi dipenuhi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya yang diliputi dengan kelaliman dan kezhaliman.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad)

Maka sesungguhnya lafadz:

Namanya sama dengan namaku, nama ayahnya sama dengan nama ayahku.” (menunjukkan) bahwa Al-Mahdi yang dikabarkan Nabi Saw namanya Muhammad bin Abdillah bukan Muhammad bin Al-Hasan. Dan Bukan pula Gulam Ahmad (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah fi Naqdi Kalami Asy-Syi’ah Al-Qadariyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu hal. 95)

Orang-orang Syi’ah berkeyakinan bahwa Al-Mahdi tengah sembunyi. Sebagaimana dinyatakan Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahani rahimahullahu yang mengutip pernyataan Al-Kulaini (seorang ulama terkemuka Syi’ah) dalam kitabnya Al-Kafi, bahwa Al-Mahdi yang diyakini kaum Syi’ah terhalangi kemunculannya karena takut dibunuh. Lantas, dia akan muncul dari dalam bangunan bawah tanah Samarra. (Kitabul Imamah war Radd ‘ala Ar-Rafidhah, hal. 116)

Maka perkataan kaum Syi’ah yang meyakini Al-Mahdi menetap dalam bangunan bawah tanah Samarra merupakan waham dan sekadar mitos belaka. Sama halnya dengan penyataan Gulam Ahmad yang mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi sangatlah dholim. Seperti diungkapkan Ibnu Katsir rahimahullahu dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim (hal. 44), satu bentuk igauan yang hina dari setan. Sebab, tidak ada dalil maupun keterangan sama sekali baik dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah. Tidak pula dari akal yang shahih dan istihsan.

Menukil pernyataan Asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbad dalam risalah beliau Ar-Raddu ‘ala Man Kadzaba bil Ahadits Ash-Shahihah Al-Waridah fil Mahdi wa ‘Aqidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdi, disebutkan bahwa jumlah sahabat yang telah meriwayatkan hadits-hadits tentang Al-Mahdi sebanyak 26 orang sahabat. Beliau pun menyebutkan nama-nama sahabat tersebut. Lantas diikuti dengan nama-nama para imam yang meriwayatkan hadits-hadits dan atsar al-waridah tentang Al-Mahdi yang terdapat dalam kitab-kitab mereka sejumlah 36 imam. Kemudian disertakan juga nama-nama yang menulis kitab tentang masalah Al-Mahdi.

Disebutkan juga oleh beliau bahwa hadits-hadits tentang Al-Mahdi berjumlah banyak yang telah dituliskan oleh para penulis. Hadits-hadits tersebut diungkapkan dalam bentuk mutawatir di kalangan jamaah. Keyakinan yang wajib, di kalangan Ahlus Sunnah dan selainnya seperti Asya’irah, menunjukkan kenyataan yang kuat dan tidak diragukan lagi. Berita tentang Al-Mahdi itu benar-benar akan terjadi di akhir zaman. Dan tidak ada kaitan sama sekali secara hakikat yang kuat (Al-Mahdi) di kalangan Ahlus Sunnah dengan akidah Syi’ah. Karena, keyakinan Syi’ah, bahwa (Al-Mahdi) yang akan keluar adalah Mahdi Al-Muntazhar (yang ditunggu kemunculannya) bernama Muhammad bin Al-Hasan al-’Askari dari garis keturunan Al-Husain R.a. Maka, apa yang diyakini kaum Syi’ah ini secara hakiki tidak ada. Keyakinan mereka yang dinisbatkan terhadap Al-Mahdi menurut versi mereka tidak ada asal-usulnya. Secara hakikat, Al-Mahdi yang menjadi keyakinan kaum Syi’ah dibangun atas dasar akidah waham. Tidak nyata, tidak ada wujudnya. Kecuali masalah keimamahan ‘Ali bin Abi Thalib dan puteranya, Al-Hasan R.a. Dan keduanya, ‘Ali bin Abi Thalib dan Al-Hasan, berlepas diri dari kaum Syi’ah dan segala bentuk keyakinan mereka tanpa diragukan lagi. (Lihat Kitabul Imamah war Radd ‘ala Ar-Rafidhah, Al-Hafizh Abu Nu’aim Al-Ashbahani, tahqiq dan ta’liq Dr. ‘Ali bin Muhammad bin Nashir Al-Faqihi, hal. 120)

Mengenal Al-Imam Al-Mahdi

Syariat sejatinya telah gamblang menjelaskan definisi dan menyuguhkan gambaran akan sosok Al-Imam Al-Mahdi. Namun bersemainya penyimpangan tak pelak menjadikan gambaran Al-Imam Al-Mahdi itu menjadi kabur.

Beriman akan Munculnya

Telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengimani segala yang diberitakan oleh Nabi kita Muhammad Saw, di mana ini menjadi konsekuensi persaksian kita: “Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Dari Abu Hurairah R.a, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar melainkan Allah dan agar mereka beriman kepada apa yang kubawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya. Adapun perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim, Kitabul Iman Bab Al-Amru bi Qitalin Nas Hatta.)

Bahkan Allah Swt telah tegaskan:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)

Ini menunjukkan wajibnya beriman dengan segala yang diberitakan Rasulullah Saw, baik berita yang terkait dengan apa yang telah lalu atau yang akan datang. Termasuk di antaranya adalah akan munculnya Al-Imam Al-Mahdi.

Berita akan munculnya sosok penegak sunnah nan adil itu telah disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam banyak hadits. Bahkan tak sedikit dari para ulama yang menyatakan bahwa haditsnya mencapai derajat Mutawatir secara makna, sehingga tiada lagi celah bagi siapapun untuk mengingkarinya. Di antara ulama yang menyatakan kemutawatiran hadits-haditsnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain As-Sijzi (wafat 363 H), Muhammad Al-Barzanji (wafat 1103 H), As-Safarini, As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Al-Kattani, dan lain-lain rahimahumullah.

Dan para ulama yang menyebutkan keshahihan hadits tentang Al-Mahdi sangat banyak, dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu telah menyebutkan sebagian nama mereka, di antaranya 16 ulama yang saya sebutkan sebagiannya: Abu Dawud, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Hajar rahimahumullah.

Sehingga ini menjadi salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Safarini mengatakan: “Telah banyak riwayat yang menyebutkan akan munculnya Al-Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan itu telah tersebar di kalangan Ahlus Sunnah sehingga teranggap sebagai aqidah mereka….” –beliau menyebut hadits, atsar serta nama para sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata– “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat yang disebutkan dan selain mereka dengan riwayat yang banyak, juga dari para tabi’in setelah mereka, yang dengan semua itu memberi faedah ilmu yang pasti. Maka mengimani munculnya Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama dan tertulis dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, 2/84)

Beberapa Hadits tentang Al-Imam Al-Mahdi

1. Dari Abdullah bin Mas’ud R.a, dari Nabi Saw, beliau bersabda:

Bila tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari –Za`idah (salah seorang rawi) mengatakan dalam haditsnya– tentu Allah akan panjangkan hari tersebut, sehingga Allah utus padanya seorang lelaki dariku –atau dari keluargaku–. Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya seperti nama ayahku. Ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kedzaliman dan keculasan.” (Hasan Shahih, HR. Abu Dawud, Shahih Sunan no. 4282; sanadnya jayyid menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam Al-Manarul Munif; At-Tirmidzi no. 2230, 2231; Ibnu Hibban no. 6824, 6825)

2. Dari ‘Ali (bin Abi Thalib) R.a dari Nabi Saw, ia mengatakan:

Bila tidak tersisa dari masa ini kecuali satu hari, tentu Allah akan munculkan seorang lelaki dari ahli baitku (keluargaku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kecurangan.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4283 Kitab Al-Mahdi dan ini adalah lafadznya, Ibnu Majah no. 4085, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi)

3. Dari Ummu Salamah R.ha, ia mengatakan: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

Al-Mahdi dari keluargaku dari putra Fathimah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan ini lafadznya, Shahih Sunan no. 4284, Ibnu Majah no. 4086, dan Al-Hakim no. 8735, 8736)

4. Dari Abu Sa’id Al-Khudri R.a, ia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda:

Al-Mahdi dariku, dahinya lebar, hidungnya mancung, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kedzaliman, berkuasa selama 7 tahun.” (Hasan, HR. Abu Dawud no. 4285 dan ini lafadznya, Ibnu Majah no. 4083, At-Tirmidzi, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a Fil Mahdi no. 2232, Ibnu Hibban no. 6823, 6826 dan Al-Hakim no. 8733, 8734, 8737)

5. Dari Abu Hurairah R.a, ia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda:

Bagaimana dengan kalian jika turun kepada kalian putra Maryam, sementara imam kalian dari kalian?” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitab Ahaditsul Anbiya` Bab Nuzul ‘Isa ibni Maryam, no. 3449; Muslim dalam Kitabul Iman Bab Fi Nuzul Ibni Maryam, 2/369, 390)

6. Dari Jabir bin Abdillah R.a, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda:

Masih tetap sekelompok dari umatku berperang di atas kebenaran. Mereka unggul sampai hari kiamat, lalu turun ‘Isa putra Maryam. Maka pemimpin mereka mengatakan: ‘Kemari, jadilah imam kami.’ Ia menjawab: ‘Tidak, sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.” (Shahih, HR. Muslim dalam Kitabul Iman Bab La Tazal Tha`ifah min Ummati, 2/370, no. 393)

Hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim ini menunjukkan dua hal:

Pertama: Ketika turunnya ‘Isa bin Maryam dari langit, yang memegang kepemimpinan muslimin ketika itu adalah seorang dari mereka.

Kedua: Keberadaan pemimpin mereka untuk shalat, lalu ia mengimami muslimin, serta permintaannya kepada Nabi ‘IsaA.s saat turunnya untuk mengimami mereka. Ini semua menunjukkan keshalihan pemimpin tersebut dan bahwa ia berada di atas petunjuk.

Dan (dalam hadits) itu walaupun tidak ada penegasan dengan lafadz Al-Mahdi, tetapi menunjukkan sifat orang yang shalih yang mengimami muslimin di waktu itu. Dan terdapat hadits-hadits dalam kitab-kitab Sunan maupun Musnad serta lainnya, yang menerangkan bahwa hadits-hadits yang ada dalam dua kitab shahih itu menunjukkan bahwa orang shalih tersebut bernama Muhammad bin Abdullah dari keturunan Al-Hasan bin ‘Ali, yang disebut dengan Al-Mahdi. Dan hadits Nabi Saw itu sebagiannya menerangkan sebagian yang lain. Di antara hadits yang menunjukkan hal itu adalah hadits yang diriwayatktan oleh Al-Harits ibnu Abi Usamah dalam Musnad-nya dengan sanadnya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

Isa putra Maryam turun, lalu pemimpin mereka Al-Mahdi mengatakan: ‘Imamilah kami’. Ia menjawab: ‘Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kemuliaan dari Allah untuk umat ini’.”

Hadits ini dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitabnya Al-Manarul Munif: “Sanadnya bagus.” (Abdul Muhsin Al-’Abbad, ‘Aqidatu Ahlil Atsar. Lihat pula Ash-Shahihah, no. 2236)

Nama Al-Imam Al-Mahdi dan Nasabnya

Nama beliau adalah Muhammad bin Abdullah. Seperti dalam hadits yang lalu, Nabi Saw menyebutkan: “Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku.”

Dia dari keturunan Nabi Saw, di mana disebutkan dalam riwayat: “Dari ahli baitku.” (HR. Abu Dawud, no. 4282 dan 4283). Dalam riwayat lain: “Dari keluarga terdekatku (‘itrah-ku).” (HR. Abu Dawud, no. 4284). Dalam riwayat lain: “Dariku.” (HR. Abu Dawud no. 4285) dari jalur perkawinan ‘Ali bin Abu Thalib dan Fathimah bintu Rasulillah. Sebagaimana dalam hadits yang lalu dikatakan: “Seseorang dari keluargaku” dan “dari anak keturunan Fathimah.” (HR. Abu Dawud no. 4284)

Oleh karenanya, Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dia adalah Muhammad bin Abdillah Al-’Alawi (keturunan Ali) Al-Fathimi (keturunan Fathimah) Al-Hasani (keturunan Al-Hasan). Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaikinya dalam satu malam yakni memberinya taubat, taufik, memberinya pemahaman serta bimbingan padahal sebelumnya tidak seperti itu.” (An-Nihayah fil Malahim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)

Sifat Fisiknya

Di antara sifat fisiknya adalah sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abu Dawud (no. 4285) dan yang lain:

أَجْلَى الْجَبْهَةِ Artinya, “Tersingkap rambutnya dari arah kepala bagian depan,” atau “Dahinya lebar.”

أَقْنَى اْلأَنْفِ “Hidungnya mancung, ujungnya tajam, bagian tengahnya agak naik.”

Al-Qari mengatakan: “Maksudnya, beliau tidak pesek, karena yang demikian adalah bentuk yang tidak disukai.”

Menebar Keadilan

Di antara sifat Al-Mahdi adalah bahwa ia menebar keadilan dan melenyapkan kedzaliman serta keculasan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezhaliman.” (HR. Abu Dawud no. 4282, 4283, 4285)

Sehingga disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri R.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Akan datang pada umatku Al-Mahdi bila masanya pendek maka tujuh tahun, kalau tidak maka 9 tahun. Maka umatku pada masa itu diberi kenikmatan dengan kenikmatan yang tidak pernah mereka rasakan yang semacam itu sama sekali. Mereka diberi rizki yang luas. Mereka tidak menyimpan sesuatu pun. Harta saat itu berlimpah sehingga seseorang bangkit dan mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku.’ Diapun menjawab: ‘Ambillah’.” (Hasan, HR. Ibnu Majah no. 4083, Kitabul Fitan Bab Khurujul Mahdi, 4/412, dan Al-Hakim no. 8739. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menghasankannya)

Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan:

Sehingga datang kepadanya seseorang seraya mengatakan: ‘Wahai Mahdi, berilah aku, berilah aku.’ Nabi mengatakan: “Maka Mahdi menuangkan untuknya di pakaiannya sampai ia tidak dapat membawanya.”

Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Di masanya, buah-buahan banyak. Tanam-tanaman lebat, harta benda melimpah. Penguasa benar-benar berkuasa, agama menjadi tegak, musuh menjadi hina, kebaikan terwujud di masanya terus-menerus.” (An-Nihayah Fil-Malahim 1/18, Program Maktabah Syamilah)

Dalam riwayat Al-Hakim, disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda:

“Muncul di akhir umatku Al-Mahdi. Allah menyiramkan hujan, sehingga bumi mengeluarkan tanamannya. Ia membagi harta secara merata. Binatang ternak semakin banyak, umat pun menjadi besar. Ia hidup selama 7 atau 8 –yakni tahun–.” (HR. Al-Hakim, Kitabul Fitan wal Malahim no. 8737. Beliau mengatakannya sebagai hadits yang shahih sanadnya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Khaldun. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Sanadnya shahih.” Lihat Ash-Shahihah, 4/40, hadits no. 1529)

Waktu Munculnya

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi disebutkan: “Ketahuilah, yang sudah dikenal di kalangan seluruh pemeluk Islam sepanjang masa bahwa di akhir zaman pasti muncul seorang dari ahlul bait (keluarga Nabi Saw) yang membela agama dan menebarkan keadilan, serta diikuti oleh muslimin. Ia juga menguasai kerajaan-kerajaan Islam. Ia dijuluki Al-Mahdi. Juga tentang keluarnya Dajjal serta tanda-tanda kiamat sesudahnya yang terdapat dalam kitab Shahih, muncul setelahnya. Dan bahwa kemunculan ‘Isa juga setelahnya, kemudian beliau membunuh Dajjal. Atau ‘Isa turun setelahnya lalu membantunya untuk membunuh Dajjal kemudian bermakmum kepada Mahdi dalam shalatnya.” (Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi)

At-Tirmidzi rahimahullahu meriwayatkan dari Zir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Dunia tidak akan lenyap hingga seorang dari keluargaku menguasai bangsa Arab. Namanya sesuai dengan namaku.” (HR. At-Tirmidzi no. 2230, Kitabul Fitan Bab Ma Ja`a fil Mahdi, 4/438 dan beliau mengatakan: “Hasan shahih.” Demikian pula yang dikatakan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Dari sini, berarti munculnya Al-Imam Al-Mahdi adalah di akhir zaman sekaligus mengawali tanda-tanda besar akan datangnya kiamat. Namun sebagian ulama sempat ragu, apakah Mahdi ini sebagai awal tanda yang besar atau tanda yang lain. Sebagian ulama menyatakan dengan yakin bahwa Mahdi sebagai tanda pertama, lalu berturut-turut datang tanda yang lain. Di antara yang menyebutkan dengan tegas yang demikian adalah Muhammad Al-Barzanji rahimahullahu (wafat 1103 H). Beliau mengatakan dalam bukunya Al-’Isya`ah li Asyrath As-Sa’ah: “Bab Ketiga, tanda-tanda besar dan tanda-tanda yang dekat, yang setelahnya tibalah hari kiamat, dan itu juga banyak. Di antaranya Al-Mahdi, dan itu yang pertama.” (dinukil dari ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Atsar fil Mahdi Al-Muntazhar)

Adapun Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Munculnya, nanti di akhir zaman. Dan saya kira, keluarnya adalah sebelum turunnya ‘Isa bin Maryam, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang berkaitan dengan hal itu.”

Masa Kekuasaannya

Terdapat dalam Sunan At-Tirmidzi:

“Sesungguhnya pada umatku ada Al-Mahdi. Ia muncul, hidup (berkuasa) 5 atau 7 atau 9.” –Zaid (salah seorang rawi/periwayat) ragu–. Abu Sa’id mengatakan: “Apa itu?” Beliau menjawab: “Tahun.”

Akan datang pada umatku Al-Mahdi, bila masanya pendek maka 7 tahun, kalau tidak maka 9 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4083)

Dengan perbedaan riwayat ini, maka Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Ini menunjukkan bahwa paling lama masa tinggal (kekuasaan)-nya adalah 9 tahun, dan sedikitnya 5 atau 7 tahun.” (An-Nihayah Fil Malahim wal Fitan, 1/18, Program Maktabah Syamilah)

Sementara Al-Mubarakfuri mengatakan: “Yakni, keraguan itu berasal dari Zaid. Sementara dari shahabat Abu Sa’id dalam riwayat Abu Dawud: ‘dan menguasai selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Demikian pula dalam hadits Ummu Salamah dalam riwayat Abu Dawud dengan lafadz ‘maka dia tinggal selama 7 tahun’ tanpa keraguan. Maka riwayat yang tegas lebih dikedepankan daripada yang ragu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 6/15, Program Maktabah Syamilah)

Asal Munculnya

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa munculnya dari arah timur atau Al-Masyriq. Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan:

Munculnya Mahdi dari negeri-negeri timur bukan dari gua Samarra, seperti disangka oleh orang-orang bodoh dari kalangan Syi’ah.” (An-Nihayah Fil Malafim wal Fitan, 1/17, Program Maktabah Syamilah)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan:

Tatkala kami berada di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba datang sekelompok pemuda dari Bani Hasyim. Ketika Nabi Saw melihat mereka, kedua mata beliau berlinang air mata dan berubahlah roman mukanya. Maka aku katakan: ‘Kami masih tetap melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak kami sukai.’ Lalu beliau menjawab: ‘Kami ahlul bait. Allah Swt telah pilihkan akhirat untuk kami daripada dunia. Dan sesungguhnya sepeninggalku, keluargaku akan menemui bencana-bencana dan pengusiran. Hingga datang sebuah kaum dari arah timur, bersama mereka ada bendera berwarna hitam1. Mereka meminta kebaikan namun mereka tidak diberi, lalu mereka memerangi dan mendapat pertolongan sehingga mereka diberi apa yang mereka minta, tetapi mereka tidak menerimanya. Hingga mereka menyerahkan kepemimpinan kepada seseorang dari keluargaku. Lalu ia memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana orang-orang memenuhinya dengan kezhaliman. Barang siapa di antara kalian mendapatinya maka datangilah mereka, walaupun dengan merangkak di atas es’.” (HR. Ibnu Majah no. 4082, sanadnya hasan lighairihi menurut Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Adh-Dha’ifah, 1/197, pada pembahasan hadits no. 85)

As-Sindi mengatakan: “Yang nampak, kisah itu merupakan isyarat keadaan Al-Mahdi yang dijanjikan. Oleh karena itu, penulis (Ibnu Majah) menyebutkan hadits ini dalam bab ini (bab keluarnya Al-Mahdi).”

Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Dan orang-orang dari timur mendukung (Al-Mahdi), menolongnya dan menegakkan agamanya, serta mengokohkannya. Bendera mereka berwarna hitam, dan itu merupakan pakaian yang memiliki kewibawaan, karena bendera Rasulullah berwarna hitam yang dinamai Al-Iqab.” (An-Nihayah fil Malahim, 1/17, Program Maktabah Syamilah)

Beliau juga mengatakan: “Maksudnya, Al-Mahdi yang terpuji yang dijanjikan keluarnya di akhir zaman asal munculnya adalah dari arah timur, dan diba’iat di Ka’bah seperti yang disebutkan oleh nash hadits.” (idem, 1/17)

Tentang tempat bai’atnya telah diisyaratkan oleh hadits Abu Hurairah R.a, Nabi Saw bersabda: “Seseorang dibai’at di antara rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim).” (HR. Ibnu Hibban no. 6827, Ahmad, dan Al-Hakim; dan beliau menshahihkannya)

Proses Munculnya Al-Imam Al-Mahdi

Munculnya Al-Imam Al-Mahdi bukan bak sulap batil, yang seolah muncul tanpa sebab dan tiba-tiba. Namun munculnya tentu mengikuti sunnatullah pada alam ini, yakni melalui proses yang menuju ke arah sana.

Menjelaskan hal itu, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “…Nabi memberikan kabar gembira tentang akan datangnya seseorang dari keluarganya dan beliau menyebutkannya dengan sifat-sifat yang menonjol. Di antara yang sifat terpenting adalah bahwa beliau berhukum dengan Islam dan menebarkan keadilan di antara manusia.

Jadi, pada hakikatnya beliau termasuk para mujaddid yang Allah Swt munculkan di penghujung tiap 100 tahun, sebagaimana telah shahih berita (tentang hal ini) dari beliau Saw. Ini (keberadaan mujaddid di tiap satu abad) juga bukan berarti tidak perlu berupaya mencari ilmu dan mengamalkannya untuk memperbarui agama. Sehingga, akan keluarnya Al-Mahdi tidaklah berarti bermalas-malasan karenanya, serta tidak bersiap atau beramal untuk menegakkan hukum Allah Swt di muka bumi. Bahkan sebaliknya (beramal) itulah yang benar, karena Al-Mahdi tidak mungkin upayanya lebih dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selama 23 tahun berbuat untuk mengokohkan pilar-pilar Islam dan menegakkan negaranya.

Maka kira-kira apa yang akan dilakukan Al-Mahdi seandainya ia muncul dan mendapati kaum muslimin dalam kondisi terpecah, berkelompok-kelompok dan ulama mereka (muncul) –kecuali sedikit dari mereka– (karena) orang-orang telah menjadikan mereka sebagai para pemimpin. Tentu (Al-Mahdi) tidak akan dapat menegakkan negara Islam kecuali setelah mempersatukan kalimat mereka dan menyatukan mereka dalam satu barisan serta dalam satu bendera.

Dan ini –tanpa diragukan– membutuhkan waktu yang panjang, Allah Maha Tahu tentangnya. Syariat serta akal, keduanya mengharuskan agar orang-orang yang ikhlas dari kalangan muslimin menjalankan kewajiban ini. Sehingga manakala Al-Mahdi keluar, tiada kebutuhan kecuali tinggal menggiring mereka kepada kemenangan. Kalaupun belum keluar, maka mereka pun telah melakukan kewajiban mereka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan katakanlah: ‘Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalan kalian itu’.” (At-Taubah: 105) [Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/42-43]

1 Ibnu Katsir rahimahullahu mengatakan: “Bendera itu bukanlah yang dibawa Abu Muslim dari Khurasan yang kemudian menghancurkan dinasti Bani Umayyah pada tahun 132 H. Namun bendera hitam lain, yang datang mengiringi Al-Mahdi.” (An-Nihayah, 1/17)

Bukan pula pasukan Thaliban yang di Afghanistan, Gulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, dan juga yang disebut dalam poster berjudul Huru-Hara Akhir Zaman karya Amin Muhammad Jamaludin yang laris itu. Selebaran itu sendiri sarat dengan berbagai ramalan dan takwil (baca: penyelewengan makna) hadits-hadits Nabi Saw tentang tanda-tanda hari kiamat. Hendaknya kaum muslimin tidak lekas terkesima dengan takwil semacam itu. Sebagaimana pula hal ini tidak berarti mengingkari hadits-hadits Nabi Saw tentang peristiwa akhir zaman.

Pengertian dan Hakikat Al-Asma Al Husna


Pengertian dan Hakikat Al-Asma Al Husna. Al-Asma berarti nama dan Al-Husna berarti yang paling baik, sehingga Al-Asma Al Husna berarti nama – nama yang paling baik dan paling mulia yang hanya ditujukan kepada Tuhan Rabb Al ‘Alamin saja, dimana dengan nama – nama tersebut Tuhan telah memperkenalkan Zat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya kepada setiap makhluk yang diingini-Nya, sehingga seluruh nama yang temuat dalam Al-Asma Al-Husna bukan merupakan pemberian makluk sebagai bentuk pemujaan kepada Tuhanya, tetapi merupakan penamaan sendiri oleh Tuhan terhadap Diri-Nya dan tidak ada hak dari makhluk untuk menambah atau menguranginya

” Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang Ghaib dan yang Nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai Asmaaul Husna. bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “. ( QS : 059 : Al Hasyr : Ayat : 022 – 024 )

Masing – masing nama yang Tuhan berkenan dengan nama tersebut merupakan suatu penamaan sifat yang dikuasakan atas Zat yang dengan nama itu Dia disebut dan diseru, sehingga dikatakan Al-Husna, adalah juga karena ia merupakan suatu sifat yang tidak ada bandingnya atau termasuk sifat – sifat yang Qadim ( azali ) yang bukan merupakan pemberian manusia atau makhluk, tetapi Tuhan SWT sendirilah yang menamakan Zat-Nya dengan itu dari awal sampai seterusnya

Pensifatan Al-Asma dengan Al-Husna yang berarti yang paling baik tersebut meliputi atas aspek kesempurnaan kebaikan dan kemuliaan dari hakikat makna dan hikmah yang terkandung dari nama tersebut. Jika Tuhan diseru dengan salah satu atau beberapa nama dari nama – nama tersebut, maka pada hakikatnya merupakan perujudan dari semua kebaikan dan kemuliaan dari Sifat dari -Zat Tuhan SWT yang diwakili oleh nama – nama tersebut ( bukan satu nama mewakili satu Zat Tuhan )

Ketahuilah bahwa sesungguhnya nama – nama Allah SWT tersebut sangat banyak. Ada yang mengatakan tiga ratus nama, ada yang mengatakan seribu satu nama dan ada yang mengatakan nama Allah SWT tersebut jumlahnya sama dengan jumlah para nabi  Alaihi-salam atau sebanyak seratus dua puluh empat ribu nama dengan alasan bahwa setiap nabi mempunyai nama – nama tambahan selain dari namanya sendiri. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa nama Allah SWT itu ada dalam jumlah yang tak terhingga, tak ada batasnya

Namun nama- nama yang paling mulia dan paling agung adalah nama – nama yang termuat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Musa, Turmizi dari Abu Hurairah r.a, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : ” Sesungguhnya Allah SWT mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, Barang siapa yang menghimpunya, maka ia kan masuk surga. “

Semua nama tersebut, baik yang termuat dalam Hadist ataupun yang tidak termuat dalam Hadist pada hakikatnya dihimpunkan atas tiga bagian yitu :

  1. Nama Zat. Yaitu nama – nama yang ditujukan kepada Zat Allah
  2. Nama Sifat. yaitu nama – nama yang ditujukan kepada Sifat Allah
  3. Nama Perbuatan. yaitu nama – nama yang ditujukan kepada Perbuatan Allah

Sedangkan pengertian, bahwa ” Barang siapa yang menghimpunkannya akan masuk surga “ adalah menghafalkannya, memahaminya dan beribadah dengannya baik secara lahir atau pun batin, dikala sendiri atau pun di tengah ramai, dikala senang ataupun dikala susah, siang atau pun malam karena kalau berarti hanya menghafalnya saja, maka dengan jumlah yang hanya sembilan puluh sembilan itu, tentunya tidak akan memerlukan waktu yang terlalu lama untuk menghafalkannya.

Ketahulah bahwa sesungguhnya tingkatan surga itu tidak berhak dicapai kecuali dengan pengorbanan yang jauh lebih besar dari pada itu yaitu pengorbanan jiwa dan raga serta harta di jalan Allah. Tentulah akan mustahil menurut akal apabila tingkatan surga dapat dicapai hanya dengan menghafal dan menghitung jumlah lafal yang bisa dilakukan manusia dalam waktu yang relatif pendek tersebut

Jadi hakikat dari Al-Asma Al-Husna adalah suatu kemuliaan yang diberikan Tuhan kepada hamba – hamba yang diinginkan-Nya yang dengan kemuliaan itu Tuhan hadir dalam setiap ritual ibadah dan kehidupan sang hamba dengan cara mengembalikan semua sebab hanya kepada Zat Yang Wajib Ujud saja yaitu Allah. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua dan silahkan menyampaikan bantahan, sanggahan, komentar saran dan kritikan atau pertanyaan anda seputar topik ini pada kotak komentar yang tersedia. [ Al-Asma Al-Husna ]